Author Topic: THE SARANG  (Read 7826 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« on: May 27, 2010, 10:52:53 am »
CHAPTER 4


Aku memandangi Mino tanpa berkedip. Dia meletakkan satu set makanan yang terdiri atas soup ayam dari ginseng, kimchie dan nasi putih dihadapanku. Sekali lagi dia mengambil keputusan tanpa meminta persetujuanku. Setelah membawaku ke restoran fast food ini, sekarang dia memesan makanan tanpa menanyakannya terlebih dahulu kepadaku.

Antara kesal, karena tindakannya yang seenaknya sendiri dan senang, karena ternyata makanan yang dipesannya merupakan makanan kesukaanku, aku hanya bisa duduk membisu ditempatku.

"Ayo, cepat dimakan makanannya! kalau sudah dingin tidak enak lagi .. dua puluh menit lagi kita akan pergi ke tempat lain!!", Mino mulai melahap makanannya yang terdiri atas daging sapi panggang dan nasi putih.

"Mau kemana?", tanyaku kepadanya.

Mino tidak menjawab. Dia masih saja melahap makanannya dengan nikmat. Aku melotot melihat sikapnya yang ajaib itu. Ingin rasanya aku mengetok kepalanya. Tapi, tentu saja aku tidak mampu melakukannya. Aku selalu berubah menjadi wanita bodoh dihadapannya.

Mungkin karena lapar, aku menyapu makanan tersebut sampai bersih. Dua puluh menit kemudian, Mino berdiri dari tempat duduknya.

"Sudah selesai? ... Ayo, pergi !!", Mino keluar dari restoran fast food itu tanpa menungguku lagi.

"Heiiiii ... mau kemana ?", aku mengikutinya dari belakang dengan terburu-buru.

Mino melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

"Hmmmm ... masih ada waktu ... mau nonton denganku?"

Aku sangat terkejut mendengar tawarannya. Sebelum sempat kujawab, suara teriakan dibelakang membuat kami segera memalingkan muka kearahnya.

"Minoooo opppaaaaaa!!! ohhhh ... bagaimana mungkin dapat bertemu dengan oppa disini?"

"Oppa .. apa yang oppa lakukan disini?"

Dua cewek centil berlari kearah kami. Mereka mengapit Mino dikanan kiri dan langsung melingkarkan tangannya di lengan Mino.

"Apa yang kalian lakukan ? Yaaaaaa .......... lepaskan tangan kalian !!!!", Mino menepis kedua tangan yang melingkar dilengannya dan memandangi kedua cewek centil tersebut dengan jengkel.

"Oppa .. kenapa oppa bisa berkata begitu? kami sangat merindukan oppa sejak kelulusan oppa seminggu yang lalu ..", kata cewek yang satu.

"Benar kata Yumi, kami sangat berharap bisa bertemu kembali dengan oppa .. karenanya kami sangat senang melihat oppa tiba-tiba muncul disini ... ohhhhhh .. apa sebenarnya yang oppa lakukan disini?", tanya cewek yang lain.

Mino tidak segera menjawab pertanyaan mereka. Dia berjalan kearahku dan menatapku sejenak. Disaat yang lain, dia tiba-tiba melingkarkan tangannya kepinggangku dan menarikku ke dalam pelukannya.

"Kalian tidak melihat kalau saya sedang berkencan ?"

Aku sangat terkejut dan berusaha melepaskan diri dari dekapannya. Tapi tangannya yang merangkulku begitu kuat. Aku tidak mempunyai tenaga yang cukup untuk melawannya.

"Apaaaaa ? Sejak kapan oppa punya pacar dannn........ cewek ini kelihatannya tidak begitu senang dipeluk oleh oppa ..", cewek yang bernama Yumi itu berkata sambil melirik kearahku.

"Benarrr.. lagipula dia tidak serasi dengan oppa .. tidak cantik dan kelihatan lebih tua dari oppa !", sambung cewek yang satunya lagi, yang tidak kuketahui namanya.

Mendengar perkataan dua cewek centil yang kurang ajar itu, aku menjadi berang.

"Apa urusannya dengan kalian kalau saya tidak cantik dan kelihatan lebih tua ? dan yang jelas oppa kalian lebih memilihku daripada kalian!!!", teriakku keras.

Kedua cewek itu mundur beberapa langkah kebelakang. Mereka tidak menyangka kalau aku akan segalak itu. Dengan segera mereka berlari terbirit-birit meninggalkan kami berdua. Mino tersenyum nakal melihat kemarahanku. Aku melotot padanya. Tangannya masih melingkar di pinggangku dan aku belum menyadarinya.

"Kenapa kamu selalu seenaknya saja?"

Mino mengangkat bahunya. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya menatapku lekat-lekat. Karena jarak wajah kami sangat dekat, aku baru menyadari bahwa aku masih berada dalam pelukannya. Dengan cepat kudorong dia kebelakang.

"Apakah kamu selalu bersikap seperti ini terhadap siapa saja ? Selalu melakukan segala sesuatu tanpa meminta ijin terlebih dahulu ?"

Mino melemparkan pandangannya kearah lain .. kemudian menjawab pertanyaanku ..

"Saya tidak begitu! Terhadap yang lain, saya tidak pernah mau melakukan apapun .."

"Maksudmu apa ?", tanyaku tidak mengerti.

"Terhadap orang lain, saya sama sekali tidak berminat melakukan apapun .. tapi terhadapmu... apapun sudah kulakukan terlebih dahulu ..", jawab Mino tanpa ujung pangkalnya. Bagi yang tidak mengenal sifatnya pasti akan mengira kalau dia agak tidak beres pikirannya. Aku hanya bisa tercengang mendengar jawabannya. Perasaan risih dan serbasalah menghinggapiku.

"Heiiiii ... saya ini calon kakak iparmu !!!! .. tidak seharusnya kamu bercanda seperti itu padaku "

Mino menatap tajam kepadaku. Dia tidak bercanda. Itu aku ketahui dengan pasti.

"Saya tidak suka kamu bersikap layaknya seorang noona terhadapku !!!!!!!"

"Tapiiiiiii ..... saya benar-benar seorang noona bagimu ", jawabku pelan.

Mino menghembuskan nafasnya. Dan tanpa permisi terlebih dahulu kepadaku, dia meninggalkanku seorang diri di tengah jalan yang sudah mulai sepi itu.

"Yaaaaaaaa ........ kamu mau kemana ?", teriakku.. tapi, dia tidak mempedulikanku.

Mino terus saja berjalan ke mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Sesaat kemudian mobil sport merah tersebut sudah melaju di jalan yang sepi.

Aku berdiri terpaku ditempatku. Pemuda berengsek itu benar-benar meninggalkanku seorang diri. Perasaan jengkel dan dongkolku semakin bertambah. Hari sudah semakin larut. Aku berlari ke tengah jalan raya dan menyetop taxi yang melintas kemudian masuk kedalamnya. Taxi tersebut membawaku sampai ke rumah dengan selamat.


****************


Dua bulan sudah berlalu semenjak pertemuanku yang terakhir dengan Mino. Selama dua bulan ini, Junki tidak pernah lagi menyuruh dongsaengnya untuk menemaniku bila dia tidak dapat menepati janjinya. Dia lebih memilih mengirimiku bunga atau kado-kado . Mungkin dia tahu bahwa aku tidak suka bila dia melakukan itu.

Malam itu, pukul tujuh, sehari sebelum pernikahanku. Aku berjalan perlahan menuju kamar Joongie yang terletak di tengah ruangan, bersebelahan dengan kamarku. Aku ingin memintanya untuk menghadiri pesta pernikahanku besok. Aku akan merasa sedih sekali kalau besok dia sampai tidak muncul di hari yg paling bersejarah dalam hidupku itu.

Aku berhenti tepat di depan pintu kamar Joongie. Aku bermaksud mengetuk pintu kamarnya ketika suatu pembicaraan yang melibatkanku, terdengar dari celah pintu.

"Apa yang akan kamu lakukan, Joongie ? Noonamu benar-benar akan menikah besok ", terdengar suara bibi dari dalam kamar Joongie.

"Apa maksud dari pertanyaan mama?", Joongie balas bertanya kepada bibi.

"Kamu tidak bisa membohongi mamamu ini .... mama dan papa sudah menyadari dari dulu bahwa kamu memendam perasaan cinta kepada noonamu .."

Grrrrrrrrrrrrr ............. perkataan bibi seperti petir menyambar di siang hari. Aku sangat terkejut. Sekujur tubuhku bergetar hebat. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Joongie bisa sampai mencintaiku?

Bayangan masa lalu kembali terlukir dengan jelas di benakku. Perhatian-perhatian yang diberikan Joongie sejak dulu .. apakah memang bukan sekedar perhatian seorang dongsaeng kepada noonanya? ... Aku menekan kepalaku. Lantai yang kupijak seakan bergoyang keras. Aku mundur beberapa langkah kebelakang, membalikan tubuh dan berlari cepat dari sana.

Aku terus berlari... berlari ... dan berlari .. tanpa tahu arah tujuan yang pasti. Yang jelas aku ingin meninggalkan semuanya ...
Akhirnya .. aku terduduk lemas di bangku panjang yang tersedia buat penunggu bis di pinggir jalan. Nafasku terengah-engah .. rasa capek dan lelah membuatku memejamkan mataku rapat-rapat.


***************


Suara berisik disekitar membuatku membuka mataku. Aku memalingkan muka kearah suara tersebut berasal. Seseorang tampak sedang dikeroyok oleh beberapa orang di taman kecil yang ada dibelakangku. Aku menajamkan pandanganku. Sosok jangkung itu sepertinya tidak asing bagiku. Dan .... oh tuhanku .. tidak salah lagi, pemuda yang sedang dikeroyok itu adalah Mino.

Bergegas aku berlari kearah mereka. Mino berdiri terhuyung-huyung di tempatnya. Darah segar menetes dari sudut bibirnya.

"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan ??", teriakku histeris.

Salah satu dari penyerang itu mendekatiku. Aku mundur beberapa langkah kebelakang dengan ketakutan. Kukeluarkan ponselku dari dalam tas dengan tangan gemetar.

"Aa ..a .. paaa .. mau... muuu? Jangan .. men..de..kat.. jika.. tidak .. aku.. aku .. akan menelepon ..po..lisi ..", kataku tergagap-gagap.

Orang itu menghentikan langkahnya. Dia memperhatikanku dengan pandangan menusuk.

"Ok .. kalian menang sekarang tapi .. sebaiknya kalian berhati-hati ..", kemudian dia berpaling ke yang lain dan berkata lagi ..
"Ayo .. pergi guys!!!", mereka berempat kemudian berlalu, meninggalkan kami di tempat.

Aku berlari kearah Mino dan membantu menyangga tubuhnya yang hampir ambruk ke depan.

"Bagaimana? kamu baik-baik saja kan ?"

Mino tidak menjawab pertanyaanku. Matanya terpejam dan kepala menyampir di pundakku. Aku menarik nafas panjang melihat keadaannya. Kuambil saputangan dari saku celanaku dan menghapus darah yang ada dibibirnya dengan pelan.

"Acchhhhhhhhhhh...", teriak Mino kesakitan.

"Ohhhhh ... maaf.. apakah.. apakah saya menyakitimu? .. tapi salahmu sendiri .. mengapa sampai berurusan dengan para berandalan itu ?"

"Bukan urusanmu !!!", Mino mendorongku kebelakang dengan tiba-tiba.

Aku mendelik padanya. Kesabaranku sudah mulai habis dengan perbuatannya yang tidak masuk akal ini.

"Kenapa kamu selalu bersikap begitu terhadapku? bagaimanapun juga saya ini adalah calon kakak iparmu .. tidak seharusnya kamu bersikap tidak sopan begitu .."

"Hentikan!!!! Aku tidak mau mempunyai seorang kakak ipar sepertimu!!!"

Aku terkejut melihat kemarahan Mino. Bibirku terkatup rapat, tidak mampu untuk mengeluarkan bantahan.

"Mengapa kamu hadir dengan tiba-tiba dalam kehidupan kami? ...Saya sudah menunggu kesempatan ini bertahun-tahun yang lalu... setelah saya sampai pada waktunya untuk melakukannya, kamu datang dengan tiba-tiba dan menghancurkan semuanya .."

Aku semakin tidak mengerti dengan perkataan Mino.

"Maksudmu apa?"

"Saya sudah mengira bahwa setelah tamat kuliah, saya dapat melakukan semua keinginanku tapi begitu kedatanganmu yang tiba-tiba .. hyung harus menikah dan menetap di Amerika bersamamu, sedangkan aku .. aku diharuskan mengurus pusat perusahaan disini yang sama sekali tidak kuingini .."

Aku termangu dengan perkataan Mino tanpa mampu untuk memberikan tanggapan.

"Semula saya mengira, semuanya akan baik-baik saja .. paling tidak, saya bisa melakukan apa yang saya sukai sambil membantu mengurus perusahaan keluarga .. tapi saya salah .. ada sesuatu .. sesuatu yang tidak bisa saya hindari ....", sambil berkata begitu Mino menatapku lekat-lekat.

Aku berusaha menghindar dari tatapannya, tapi tidak bisa. Pandangannya begitu dalam dan mengetarkan jiwa. Mino mendekatiku dengan lambat. Kedua tangannya memegang wajahku dan secara perlahan tapi pasti, dia menempelkan bibirnya ke bibirku.

Aku tergangga. Tidak pernah ada seorang priapun yang memperlakukanku seperti ini, tidak juga Junki. Tapi.. sesaat kemudian, Mino seperti tersadar akan kelakuannya sendiri. Dia segera melepaskan pengangannya di wajahku dan mundur ke belakang sambil mengelengkan kepala. Aku memandanginya terus dengan mata tak berkedip. Dia masih saja mengeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian dia berbalik, berlari meninggalkanku sambil berteriak keras.

"Tidakkkkkkkkk !!!!!!!!!! ........ saya sudahhhhhh gilaaaaaaaaaa !!!!!!!!!!!"


*****************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun