Lima menit berlalu. Bayangan dalam pondok tua yang sedari tadi hanya berdiam diri dengan sepasang pundak naik turun akibat menahan gejolak perasaan, bergerak dari posisinya. Dia meraih kuas terkecil dengan ujung lancip dari mangkuk kaca di atas lantai. Sebagai sentuhan terakhir, gadis muda berparas lembut dengan sepasang mata sendu itu menorehkan sebuah nama di sudut kiri paling bawah lukisan 'seorang pria yang sedang memayungi wanita dalam rangkulannya. Berusaha melindungi bidadarinya dari siraman deras air hujan, dengan posisi memungungginya.' -GOO JIE AH-
--------------------
Pemuda jangkung itu mengulurkan tangan ke depan. Segera saja, air deras langsung menerpa telapak tangannya. Dia langsung menghembuskan nafas panjang-panjang. Hujan lebat belum juga mereda. Langit sangat kelam. Guntur dan petir menyambar silih berganti. Pakaiannya sudah basah kuyup. Begitu juga kumpulan sketsa dalam genggaman tangannya.
----------------------
Jie Ah berdiri dari kursi. Setelah mengamati lukisan dihadapannya untuk terakhir kali, dia berjalan ke deretan jendela panjang dari kaca di ruang depan. Memonitori keadaan luar lewat gorden jendela yang terbuka dengan sepasang mata sendunya. Cuaca di luar semakin memburuk.

Guntur bergemuruh sahut-menyahut, diiringi petir yang saling menyambar, menimbulkan kebisingan luar biasa. Kegelapan mulai menyelimuti jagat raya, walaupun waktu itu baru menunjukkan pukul 5 sore. Pohon-pohon besar di halaman depan meliyuk-liyuk, bergoyang dengan keras tertiup angin kencang.
Perlahan, Jie Ah bergerak dari jendela, menuju pintu depan. Setelah meraih payung yang disandarkan di dekat sana, dia membuka pintu dan melangkah keluar.
Air hujan yang terbawa angin langsung menerpa tubuhnya. Terburu, Jie Ah membuka payung dan berusaha melindungi diri dari terpaan air hujan.
Tanpa ragu dia memajukan langkah ke depan. Sekitar tiga meter, dia berhenti, tepat di depan serumpun mawar liar yang sudah tergenang air. Agak berjongkok, dia menarik beberapa batang dari rumpun mawar tersebut, sampai ke akar-akarnya.
"Akhhh ...", rintihnya pelan ketika dirasakan duri-duri tajam dari batang-batang mawar liar tersebut mengores telapak tangannya.
Jie Ah mengigit bibir bawah keras-keras. Sepasang matanya terpejam. Dengan usaha keras, dia menahan rasa sakit dan nyeri yang menyerang telapak tangannya. Yang perlahan menjalari lengan, dan naik ke seluruh tubuhnya. Darah segar mulai mengalir keluar dari goresan-goresan panjang yang terbentuk oleh sayatan duri-duri tajam dari serumpun mawar liar di tangannya. Selain rintihan pelan tadi, tidak ada suara lain terlontar dari bibir gadis itu. Jie Ah membuka matanya lagi.

Perlahan, air hujan mulai merembes masuk ke dalam pakaian yang dikenakannya. Hawa dingin menjalari tubuh, mulai dari kaki, naik sampai keatas kepala.
---------------
Pemuda berparas sempurna itu menengadah ke langit untuk kesekian-kalinya. Tidak ada tanda hujan akan berhenti. Angin bertiup semakin kencang. Membawa bulir-bulir air sebesar butiran beras kearahnya.
"Grrrr .....!!!". Si pemuda berusaha merapatkan jaketnya. Hawa dingin terasa mengigit sampai ke tulang.
"Huhhh sial benar!!!", makinya.
Terjebak di tempat asing selama setengah jam membuat perasaannya mulai tidak tenang. Ditambah lagi, rasa perih di wajah yang semakin terasa akibat goresan air hujan yang mengiris kulit wajahnya.
"Cuaca apa ini??!!", dengusnya, kesal.
Mendadak, angin yang teramat kencang mengulung genangan air dari tanah kearahnya.
"Ahhh ....!!!", dia berteriak keras, dan spontan mundur ke belakang. Agak memojok ke tepi paling sudut, pintu dari kayu tua yang memagari pondok di dalamnya.
Wajahnya berhasil diselamatkan dari Semprotan keras tadi. Tapi sekujur badannya tidak dapat menghindar lagi, basah semua oleh air hujan bercampur tanah.
"Aishhhhh!!!!!!". Dia mengibaskan tangan ke baju yang melekat di tubuhnya berkali-kali. Udara terasa semakin dingin. Giginya mulai bergemelatuk pelan. Kumpulan sketsa di tangannya sudah tidak berbentuk lagi. Gambar-gambar yang digores dengan pencil, memudar karena siraman air hujan.
Klekkk ......
Deritan halus dari sebelah, membuatnya berpaling. Pintu kayu yang sudah tua tapi terlihat tetap kokoh itu terbuka perlahan. Pemuda itu mengerutkan alisnya. Mengapa penghuni rumah ini keluar di cuaca seburuk ini?
Dia menunggu selama beberapa detik. Keheningan menyelimuti pintu gerbang yang dibuka dari dalam tersebut. Tidak ada reaksi sedikitpun dari dalam sana. Dia sudah bermaksud bergerak dari posisinya ketika sebuah kaki tiba-tiba terjulur keluar. Kaki itu sangat putih dan mulus tanpa cacat. Mulutnya mengangga perlahan. Untuk pertama kalinya dia melihat kaki seindah itu.
Kemudian, pemilik kaki sempurna itu tampil dihadapannya. Dengan sebuah payung melindungi kepala dan badan dari siraman air deras, sedangkan tangan yang satu mengenggam beberapa batang mawar yang sudah layu. Perhatian pemuda itu masih tertuju pada sepasang kaki yang terbalut boots karet. Keindahan itu terbentang di depan matanya hanya dalam lima detik. Gaun putih panjang bergelombang langsung terjuntai, menutupi sepasang kaki mulus itu.
Pemuda jangkung itu menegakkan tubuh dan mengamati orang dihadapannya. Dia seorang gadis berdandanan sederhana. Kaos dan rok panjang berwarna putih, dengan syal abu-abu melilit bagian lehernya. Rambut hitam bergelombak yang teramat panjang, menjuntai sampai ke pinggang. Wajah tersebut teramat putih, seakan bersinar di kekelaman senja itu. Sepasang matanya tak terpusat, hampa dan tidak melukiskan perasaannya.

Tanpa menoleh padanya, gadis itu bergerak perlahan. Kelihatannya dia tidak menyadari keberadaan seseorang di sekitar tempat itu. Kakinya bergerak, membelah genangan air di jalanan tanah yang terbentang sampai ke ujung bukit.
Pemuda itu memperhatikan punggung gadis yang mulai menjauh dari pandangannya. Matanya menyipit. Apakah dia tidak salah lihat? Entah mengapa, samar-samar .. dia melihat daun telinga gadis itu mulai memanjang dan ujungnya melancip ke atas. Sepasang sayap transparan dan indah menyembul keluar dari balik kaos yang dikenakannya.
Seperti terhipnotis, pemuda tersebut mulai mengikuti langkah gadis itu. Jarak di antara mereka sekitar tujuh meter. Jalanan mulai menanjak ke atas. Dan hujan masih turun dengan derasnya. Tubuh pemuda itu sudah basah semua, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tapi dia tidak perduli. Langkahnya tidak berhenti. Terus mengikuti langkah gadis itu, seperti tertarik seutas tali kuat dan kekal yang tidak tampak.
Matanya berkedip berulangkali, guna mempertajam pandangan ke depan, dan mengusir air hujan yang memasuki matanya. Dia mengelengkan kepala keras-keras. Telinga yang panjang dan lancip, juga sepasang sayap yang sangat indah dan transparan itu sudah menghilang dari postur gadis itu. Dia menghembuskan nafas perlahan. Khayal, dia sudah mengkhayal terlalu banyak!!!
Tanjakan yang mereka lewati semakin tajam, mengarah ke atas bukit. Tidak banyak pohon tumbuh di sana. Rerumputan lebih mendominasi bukit kecil tersebut. Gadis itu belum menghentikan langkahnya. Tanpa disadari, hujan mulai mereda walaupun belum benar-benar berhenti. Selama sepuluh menit mereka mendaki bukit kecil yang terhampar di depan mata.

Tiba-tiba gadis mungil itu menghentikan langkahnya. Pemuda itu sangat terkejut. Spontan, dia mundur ke balik pohon yang tumbuh dekat situ. Dia berusaha menajamkan pandangan ke depan. Apa yang akan dilakukan gadis itu?
Perlahan, gadis itu menaruh batangan mawar di tangannya ke tanah. Tunggu dulu! Bukan tanah, tapi gundukan tanah. Ada tiga gundukan tanah di depannya. Tiga buah nisan yang masih baru.
Pemuda itu tertegun. Tangannya terangkat, menghapus air hujan dari wajahnya. Mengapa ada nisan di bukit ini? Gadis di hadapannya sangat aneh!!
Gadis itu tidak bergerak dari posisinya selama beberapa menit. Dia mengamati ketiga nisan itu. Kehampaan dan kesenduan terlukis jelas dari wajahnya. Hanya bayangan sekilas itu yang berhasil tertangkap oleh pandangan pemuda di belakangnya. Setelah itu, gadis tersebut mulai bergerak dari tempat itu. Menuruni bukit dengan langkahnya yang lamban dan seakan meluncur di permukaan tanah basah yang tergenang air hujan.
Pemuda jangkung itu mendekati ketiga nisan tersebut. Dia menunduk, dan terbaca olehnya beberapa nama, GOO HYUNG BUN, JUNG GAE IN, dan GOO SI HWAN. Dia mengangkat kepala perlahan, dan menoleh ke belakang. Bayangan gadis tadi sudah mengecil dari pandangannya. Hampir menghilang di kaki bukit, di mana perumahan yang tadi disinggahinya, dan tempat tinggal gadis itu berada.
-------------------------
bersambung ke PART (ii) .....
« Last Edit: June 02, 2010, 10:03:33 am by mrs. Lee Min Ho »

Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ... keeps it strong!!!
Our MinSun