Author Topic: *SEARCHING MY DESTINY* ON HIATUS  (Read 9333 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile









Introduction of : Saint Lee Jee-Han, 27 years old
Place : Avalon Riverview, - New York, USA



“Korea?”

“Ya.”

“Seoul?”

“Bukan!”

“Lalu?”

“Intinya Korea.”

Kedua mata coklat Ajay membesar. Lalu mulutnya membentuk huruf ‘0’. Dan ia menatap Jee-Han dengan raut terkaget-kaget, tunggu, lebih tepatnya raut yang ‘sengaja dibuat sedang terkaget-kaget’.

“Aje! Jangan bertingkah seolah-olah kau tidak pernah mendengar kata ‘Korea’ dan ‘Seoul’ selama kita tinggal bersama,” seru Jee-Han datar, tanpa menolehkan kepala pada teman sekamarnya. Popcorn asin ditambah film laga akan membuat mata Jee-Han tertahan pada layar LCD 32inch dan membuat tangan Jee-Han meraup jagung berondong dengan rakusnya selama dua jam penuh.

“Ini masalah serius Jee-Ahn, bisakah kau berhenti menonton sebentar saja,” bujuk Ajay, mencubit kecil sweater hitam sahabatnya untuk membuatnya berhenti. Tapi logat India menggelikan dan cubitan itu tak kunjung mempengaruhi Jee-Han.

“Tak bisa. Dan tidak ada apapun yang dapat dipermasalahkan dengan serius tentang kepulanganku ke Korea. Dan satu lagi, namaku Jee-Haaan. Bukan Jee-Ahhhn. Get it?” protesnya, membetulkan nama ‘Jee-Han’ yang diplesetkan menjadi ‘Jee-Ahn’. Walaupun ia tahu Ajay tak akan pernah berhenti tentang ‘Jee-Ahn’, sejak awal perkenalan mereka lidah Ajay memang begitu. Dan hal-hal sepele seperti ini, lagi-lagi membuat Jee-Han tidak ingin kembali, tapi ia sudah bersikeras dalam hati. Ia harus pulang ke negaranya.

“No, Jee-Ahn. Tentu saja ini masalah serius.” Ajay duduk lebih dekat, masih berusaha menarik perhatian Jee-Han pada pembicaraan ini.

“Erh?” Jee-Han mendesah keras, memberi tanda pada Ajay untuk meninggalkannya sendiri saja di ruang tamu. Ia sangat sangat ingin menghabiskan waktu dua jam yang terasa singkat ini sebelum kembali ke kamar dan membereskan semua barang-barangnya. Besok. Jee-Han akan pulang besok tetapi ia belum berkemas sama sekali. Tidak, tidak berarti dia malas, hanya saja pekerjaan yang berlari-lari mengejarnya membuat Jee-Han harus lembur. Hampir satu minggu terakhir ini ruang kerjanya di kantor disulap menjadi kamar tidur.

“Jee-Ahn. Pikirlah. Siapa yang akan membersihkan apartemen kalau kau tidak ada? Lalu siapa yang akan mencuci toilet? Lalu piring-piring di dapur? Oh, nasib LCD ini juga, bagaimana? Tidak akan ada yang menyanyangi LCD ini lagi dengan membersihkannya setiap hari!!” Ajay berkata, membabi-buta seraya berdiri di depan Jee-Han yang terlihat santai, kedua matanya lurus menatap layar yang memperlihatkan pertarungan kedua Master Kung Fu.

Jee-Han bergumam kesal, ‘Kau kira aku pembantu’ dalam bahasa Korea. Batinnya mengeluh, ocehan Ajay tak diragukan sangat menggangu, tapi Jee-Han tak kuasa marah pada temannya yang lugu itu.

“Jee-Ahn. Dear! Bisakah kau meyakinkanku sekarang, kalau kau bukanlah patung duduk yang dibeli Chris untuk meramaikan apartemen kita?! Tolong beri penjelasan sejelas-jelasnya tentang kepergianmu,”kata Ajay pada Jee-Han dengan raut memelas. Dahi dan alisnya membentuk guratan-guratan seperti anjing pug yang malang, sambil kedua tangannya menguncang bahu Jee-Han.

“Apa yang kubeli?” tanya Chris yang baru muncul dari balik pintu.

“Chris! Bhagavaan ka shukra hai!”

“Ha?” Chris yang lusuh mengeriyitkan alis mendengar ucapan Ajay. “Ajay, ini bukan India!” kata Chris memperingati.

“Chris, aku percaya Sang Hindu menyuruhmu pulang untuk membantuku!” Ajay berlari kecil menghampiri Chris, kemudian menarik kemeja putihnya untuk memasuki sebuah ruangan berukuran kecil dengan nuansa minimalis mewah yang mereka sebut sebagai ruang tamu selama bertahun-tahun.

“Ajay. Kita sudah tinggal bersama dalam kurun waktu tiga tahun. Dan dari dulu sampai sekarang, jika jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, tentu saja aku akan berada disini. Bukan Sang Hindu yang menyuruhku pulang.” Chris tertawa pahit sebelum ia merebahkan badan di sofa dan bergabung bersama Jee-Han, menonton film. Terkadang kelakuan aneh Ajay menciptakan kebingungan tersendiri. Jee-Han kewalahan, ia juga. Tapi Ajay merupakan hiburan yang asik. Ajay sangat mudah dikerjai, bahkan ia pernah meminum jus stroberi cabai tipuan dari teman kampusnya, membuat Chris dan Jee-Han akhirnya repot selama tiga hari karena waktu itu Ajay terserang sindrom ‘pergi-pulang ke toilet lima menit sekali’. Betapa menyedihkan anak itu.

“Chris. Percayakah kau, tadi Jee-Ahn bilang padaku, ia akan pulang ke Korea,” papar Ajay yang sekarang terduduk di lantai kayu ruang tamu mereka.

“Apa yang salah? Lagipula ia sudah pulang ke Korea berkali-kali sebelumnya.” Kata Chris ringan disambut anggukan Jee-Han yang sekarang sedikit tersenyum karena merasa terbantu akan kepulangan Chris. Yang berarti, Ajay mempunyai teman untuk diajak berdebat selain dirinya.

“Masalahnya ia tidak akan pernah kembali dan tinggal bersama kita.” Jawab Ajay sedih.

“Ajay kau sedang dibohongi.” Chris menyunggingkan secercah senyuman, memikirkan betapa konyolnya Ajay mempercayai kata-kata Jee-Han. Jee-Han memiliki karir yang boleh dibilang sukses disuatu perusahaan. Yang terpenting, ini adalah kota New York, dimana tidaklah gampang meraih suatu kesuksesan seperti Jee-Han karena ia juga mengalami hal yang sama sebelum perusahaan konstruksinya mencapai puncak, apa yang ia namakan ‘meniti karir dari nol’. Jee-Han tidak mungkin meninggalkan kota New York, Chris yakin itu. Jantung Jee-Han telah melekat pada New York dirasanya, hampir seumur hidupnya Jee-Han menapaki kota metropolitan ini, banyak sahabat juga kenalan, seluk beluk New York pun diketahuinya. Hanya satu yang kurang, wanita. Jee-Han tak pernah memiliki wanita spesialnya.

“Hey Saint, apakah kau ingin mencari keberuntungan di Korea?” goda Chris pada Jee-Han.

“Excuse me?”

“Maksudku. Wanita.”
 
Jee-Han terkekeh. Tak habis pikir, Chris menanyakan hal macam itu…, lagi. Disaat ia sudah tahu kenyataan tentang Jee-Han yang memiliki sifat sedikit ‘aneh’.

“Aku tidak suka…,”

“Hubungan yang tidak memiliki kepastian! Bagaimana kalau wanita itu mendampratku di tengah jalan? Memalukan bukan? Terkadang wanita bisa menjadi sangat aneh. Dan tentang cinta, mungkin seluruh orang di dunia merasakannya, kecuali aku yang sampai sekarang masih beruntung karena tidak merasakan apa yang mereka namakan cinta. Cinta itu lebih banyak menyakitkan daripada menyenangkan. Kupikir begitu,” Chris menyelesaikan kalimat Jee-Han yang sudah dihafalnya dari dulu.

“Right!” Jee-Han menyikut bahu Chris pelan sementara Ajay memandang kedua temannya, merasa tak mengerti.

“Ajay selalu tidak mengerti tentang cinta.” Sahut Chris prihatin, seolah membaca pikiran Ajay.

“Semoga ia akan mengerti. Dan kurasa kalian berdua berhasil merecohkan waktu tenangku.” Papar Jee-Han, meraih remot dan memencet tombol merah, tepat saat itu juga gambar di layar menghilang.

“Great Saint! I’m watching!” Keluh Chris ikut bangkit bersama Jee-Han .

“Aku harus segera mengembalikan filmnya ke rental sebelum membereskan barang dan mengantuk.” Kata Jee-Han, mengambil CD didalam player bewarna metalik.

“Mengembalikan? Kau di Korea berapa lama? Biasa juga terlambat mengembalikan, ada hawa apa yang membuatmu seperti itu?” tanya Chris heran, juga was-was, mulai takut pernyataan Ajay tadi benar. Karena biasa Jee-Han tak pernah mengembalikan pinjaman kaset tepat waktu ke rental, sekalipun ia lama di Korea, toh Jee-Han tetap akan kembali ke New York.

“Pal, kau tidak mengharapkanku didenda selamanya kan?” kata Jee-Han bertemu pandang dengan kedua mata biru Chris.

“Selamanya? Jadi kata Ajay tadi benar?” Chris membelalak, tidak percaya.

“Chris. Sudah waktunya aku pulang, understand?” Jee-Han mengambil beberapa kaset lainnya di rak kecil dekat LCD untuk ikut serta dikembalikan.

“But, New York is your home,” sanggah Chris tak habis pikir.

Ajay bangkit dan berdiri di belakang Chris, bersiap kalau-kalau bantuannya untuk membujuk Jee-Han tetap tinggal diperlukan.

“Ya Jee-Ahn. Kau tega meninggalkan kami berdua disini,” kata Ajay berusaha membantu Chris. Tapi Chris merasa tak peduli, ia sibuk berdebat dengan Jee-Han dan pikirannya sendiri.

“When?” Chris mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kenyataan terburuk, kehilangan salah satu sahabat terdekatnya. Maksud Chris, Korea dan New York, sejauh apa itu!?

“Tomorrow.”

Nafas Chris tertahan. Secepat itu?

“Lalu karirmu?”

“I will start everything from the beginning.”

“Apakah itu Seoul?”

“Nope. A small village.”

“Village for God sake Saint.! Apa kurangnya hidupmu disini!?”

Jee-Han memasukkan seluruh CD pinjamannya kedalam kantong hitam besar. Kalau ditotal, berapa denda yang harus dibayarnya? Jee-Han tersenyum, mungkin jika ia pulang nanti, tidak ada lagi bibi yang mengamuk karena banyaknya denda dari CD yang dipinjamnya. Tidak akan ada juga perdebatan antaranya dan Chris. Lalu tidak ada Ajay, Ajay yang lugu itu hendak ditinggalkannya, bagaimana nasib Ajay!?  Memang perkataan Chris tadi benar, New York adalah rumahnya. Rumah yang sebenarnya bagi diri Jee-Han.

“I just…, can’t. Aku harus pulang. Lagipula, Korea adalah negaraku. Desa itu juga merupakan tempat lahirku. Sedangkan aku sendiri, seperti menghianati dengan menghabiskan hampir seluruh hidupku di New York.” Kata Jee-Han beralasan.

“Aku tahu, kau, satu-satunya pujaan hatimu adalah alam pedesaan tempatmu lahir, tapi aku hanya tidak habis pikir, desa itu memenangkan hatimu, dibandingkan dengan New York. NYC Saint, semua orang tentu ingin tinggal disini!”

“Chris, hatiku akan tetap bertahan memilih desa itu. Lagipula New York terlalu berpolusi, si McCoughty sudah mewanti-wanti tentang asmaku!”

****! Ada apa dengan dokter gendut itu?” tanya Chris marah.

Ajay membawa dirinya duduk di sofa. Menghindari Chris yang mulai ‘panas’. Ia tak heran. Chris adalah sahabat Jee-Han dari kecil. Jee-Han bisa dibilang adik yang sangat dipercayainya, tak pernah mereka berpisah begitu lama, dan sekarang vonis perpisahan selama-lamanya datang begitu saja? Bukan, memang masih akan bertemu, tapi itu berbeda. Tidak akan ada lagi yang dapat diandalkan Chris, juga menjadi teman bicaranya. Kalau Ajay, ia lebih seperti asuhan yang selalu merepotkan keduanya, Chris dan Jee-Han.

“Sudahlah Chris. Ini sudah keputusanku. Kita masih bisa keep contact.”

“Jadi kau benar-benar tidak akan kembali?” tanya Chris serius.

Jee-Han memakai kedua sandal, tangannya memegang sekantong CD, dan tangan lainnya hendak membuka gagang pintu hendak bergegas ke rental setelah ia menjawab dengan yakin, “Ya.”

Hari baru Jee-Han mulai besok, tanpa Chris dan Ajay. Juga hari baru Ajay dan Chris, tanpa Jee-Han.


=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=





Introduction of : Goo Min-Hye, 22 years old
Place : Goo’s Mansion, – Seoul, South Korea



Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan tepat ketika Min Hye masih berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerja yang terhubung langsung dengan kamar tidurnya. Min Hye menatap layar laptop dengan tatapan nanar, memicing sedikit, matanya sebenarnya sudah tidak mampu lagi melihat cahaya yang dipancarkan dari layar laptop itu, tapi, bukan Goo Min Hye namanya kalau memutuskan menyerah dan merangkak ke tempat tidur selagi pekerjaannya masih menumpuk.
   
Beberapa email masih terus berdatangan, sedangkan untuk menganalisis sebuah desain busana yang akan digunakan untuk peragaan busana GooCee’s Spring Collection bulan Februari nanti membutuhkan waktu hampir setengah jam lamanya untuk orang seprefeksionis dirinya.
   
Setelah selesai mengamati desain busana bersama polanya itu dengan seksama, Min Hye mengirim email balasan ke orang yang dari tadi tak henti-hentinya mengirim email kepadanya itu.


  Dear C—

   Desain pertama, agak melenceng dari konsep musim semi. Desain kedua agak terkesan murahan dan tidak mencerminkan image GooCee’s. Desain ketiga ini bagus.Tapi, kupikir kita akan menghabiskan dana yang cukup besar untuk desain yang ini. Bisa tolong direvisi kembali? Aku akan lihat desain yang lain.

   MH



Email itu dikirimnya dan tangan kanannya kembali menggerakkan mouse sentuh di laptopnya. Ia membuka email yang berisi desain lainnya. Baru saja ia ingin memperhatikan dengan teliti isi dari email itu, sebuah kotak dialog muncul di layar laptopnya.


  Clementine ‘이진애’ is calling you via webcam…


Min Hye memicingkan matanya sekali lagi, menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Ia tak pernah suka jika ada seseorang yang mengganggunya ketika ia sedang melakukan pekerjaannya, siapa pun orang itu, ia tak pernah suka, termasuk juga jika Clementine atau Lee Jin Ae, relasi sekaligus teman baiknya, menelpon dan menginterupsinya dari aktivitasnya.
   
Tapi, Min Hye memaksakan jari telunjuknya untuk mengarahkan mouse sentuh itu ke arah kotak dialog ‘Accept’.
   
“Wae?”Min Hye menatap ke arah webcam. Wajahnya serius seperti biasa, matanya yang memakai soft lens warna coklat gelap memancarkan sinar mata yang keras, tangguh, penuh wibawa, dan penuh dengan kebanggaan diri.
   
“Jangan terlalu banyak bekerja—“Jin Ae menatap webcam itu sungguh-sungguh dengan mata bulatnya. Min Hye dapat melihat keadaan belakang kamar Jin Ae yang berlatar warna kuning cerah, sebuah tank top warna ungu melekat dengan ketat pada tubuhnya yang subur, rambut coklat mudanya dikuncir ke atas tinggi-tinggi. “Aku khawatir tadi aku mengirimimu banyak email untuk dicek—Tuh, kan, ternyata benar—Matamu sudah merah begitu—Tidak apa-apa, kan, kalau tidak diselesaikan malam ini?“
   
“Gwenchanayo, Jin Ae-ya—“jawab Min Hye, dengan wajah kusut dan nada yang datar. “Aku akan lembur hari ini—“
   
“Tapi, seminggu lagi itu hari pernikahanmu dengan In Jung—Kalau begini, kau bisa jatuh sakit pada hari H—“Jin Ae menasihati. “Min Hye, jangan terlalu memforsir dirimu, bisa tidak, sih—Aku tahu kamu memang sudah workaholic dari kecil—Tapi, masa kau tidak bisa mengurangi waktu bekerjamu—“
   
“Lee Jin Ae, pekerjaan tak ada hubungannya dengan pernikahanku—“potong Min Hye dengan tegas. “Lagipula, aku tahu kondisiku, pernikahan juga pernikahanku. Kau tak perlu repot-repot memikirkanku…”
   
Kata-kata Min Hye segera terputus ketika ponselnya sekarang berdering nyaring, menjerit-jerit minta diangkat, dari kamar tidurnya di sebelah.
   
“Chakaman. Aku mau lihat siapa yang telepon dulu—“Min Hye bangkit dari kursinya, berjalan dengan cepat dan mantap ke kamar tidurnya. Badannya tegap, meskipun tidak terlalu tinggi. Sepasang piayama abu-abu melekat pada badannya yang mungil. Rambut coklatnya diikat ekor kuda. Wajahnya putih bersih, penuh wibawa, tidak main-main, wajahnya selalu terlihat seperti merendahkan orang-orang di depannya. Sepasang sandal warna putih dan sederhana ber-brand Nike menumpu tubuhnya menuju kamarnya.
   
Min Hye melirik ponselnya yang masih berdering itu, ia melihat caller ID-nya dengan seksama.
   
So In Jung
   
“Halo?”Suara Min Hye terdengar serius, tidak menunjukkan perasaan apa-apa, padahal sebentar lagi ia akan menikah dengan In Jung, tunangannya yang telah ia kenal sejak bertahun-tahun lalu itu.
   
“Anyeong, Min Hye-a—“Suara In Jung yang ramah dan enak didengar terdengar dari seberang sana. “Bogosipoyo—Hari-hari di New York tanpamu benar-benar berat—Kamu bagaimana? Hari-harimu menyenangkan di sana?“
   
“Begitulah—“Min Hye membalas dengan nada datar, ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Otot-ototnya direlaksasikan kali ini, setelah dari tadi mati-matian memaksakan diri menatap layar komputer itu.
   
“Begitulah bagaimana? Kau masih bekerja keras di saat-saat seperti ini?”
   
“Tidak juga—“jawab Min Hye datar. “Hanya banyak pekerjaan yang membuatku agak kerepotan akhir-akhir ini.”
   
“Di sini juga begitu—Beraaaatttt sekali hari-hariku akhir-akhir ini—Rapat hampir setiap hari—“In Jung berkata lagi di seberang sana, suaranya terdengar gembira, ceria, dan segar, seakan-akan kekusutannya akhir-akhir ini sudah menguap tak berbekas ketika ia mendengar suara gadis yang dicintainya ini, walaupun dia sendiri juga tidak yakin apakah Min Hye juga mencintainya selama ini.
   
“Min Hye-a—“panggil In Jung pelan ketika ia mulai menyadari Min Hye mulai tidak berbicara lagi. “Sudah tidur?”
   
“Belum. Hanya saja—“
   
“Hanya saja?”ulang In Jung.
   
“Tidak ada lagi hal yang bisa dibicarakan—“sambung Min Hye blak-blakan.
   
“Kalau aku ada—“jawab In Jung dengan lembut, suara itu mampu membuat semua perempuan meleleh di tempat, semua perempuan, kecuali Min Hye. “Jangan bekerja terlalu keras lagi, ya, Sayang—Kamu sebentar lagi akan menjadi Nyonya So, jadi jangan membuat dirimu sendiri jatuh sakit di saat-saat seperti ini.“
   
Min Hye menghembuskan nafasnya dengan agak kesal. “Kalau bukan aku yang mengerjakan pekerjaanku, kau mau mengerjakannya?“
   
“Min Hye—“
   
“Stop! Tidak usah bicara lagi!”Min Hye kemudian bangkit dari posisi tidurnya, ia duduk di pinggir tempat tidurnya sekarang. “Aku tahu kemampuan diriku sendiri dan aku bisa menangani segalanya sendiri! Lagipula pekerjaan ini adalah tanggung jawabku, jadi aku tidak bisa lepas tanggung jawab hanya dengan alasan akan menikah sebentar lagi—”
   
Dengan nada keras, tegas, kelewat percaya diri, tapi serius dan tidak main-main di saat yang bersamaan, suara Min Hye sempat membuat In Jung terdiam untuk beberapa detik, ia salah tingkah, Min Hye terdengar sedang emosian sekali, bukan, bukan sedang. Min Hye memang emosian setiap saat, menyangkut hal apa pun, ia kelewat keras kepala untuk dibantah, pemikiran dan gagasannya adalah yang paling benar, yang tak dapat diubah oleh siapa pun juga, sekalipun oleh tunangannya, atau bahkan orang tuanya.
   
“Min Hye—Please, tadi itu aku hanya menasihatimu—Jangan emosian begini, ya—“rayu In Jung dengan agak kaku. “Ok. Terserah kamu ingin melakukan apa saja. Min Hye-ya—Jangan marah, ya—”
   
“Kalau tidak ada sesuatu yang penting lagi, aku akan melanjutkan pekerjaanku—“kata Min Hye dengan tegas.
   
“Apakah kamu akan menjemputku lusa nanti di bandara?”tanya In Jung.
   
“Ne.”jawab Min Hye singkat. “Tidak ada apa-apa lagi, kan?”
   
“Ada—“kata In Jung cepat-cepat sebelum Min Hye dapat memutuskan sambungannya. “Saranghae—“
   
“Sudah tidak ada lagi, kan?”tanya Min Hye sekali lagi. “Jal isseo—“
Hal yang dilakukan Min Hye kemudian adalah menekan tombol merah di ponsel itu dan membanting ponselnya ke atas tempat tidurnya.


=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=





Introduction of : Goo Seung-Hyun, 25 years old
Place : Kabukicho, - Tokyo, Japan



“Otsukaresama, bersulang”

“Bersulang”

Suara gelas berisi sake saling berdenting. Sekelompok pemuda sedang bersenang-senang merayakan kemenangan tim mereka, salah satunya terlihat Seung Hyun disana. Mereka berkumpul disebuah bar kecil daerah Kabukicho di salah satu distrik di kota Tokyo, Jepang.

Bar kecil yang biasanya sepi, kali ini menjadi ramai oleh kunjungan para anggota Goo’s Taekwondo Spirit, yang baru saja kembali dari pertandingan Taekwondo tingkat nasional yang disponsori oleh salah satu perusahaan elektronik terkemuka di Jepang. Wajah-wajah mereka terlihat senang dan bangga, sepanjang perjalanan mereka bercanda dan bergembira.

“Ketua, selamat dengan ini kita telah memegang rekor kemenangan 7 kali berturut-turut dalam 7 tahun terakhir ini, kalau terus begini olimpiade nanti aku yakin sunbae bisa mendapatkan medali emas dengan mudah” celoteh salah seorang pemuda Jepang yang juga salah satu anggota tim Goo Spirit bangga.

Seung Hyung yang mendengarnya hanya tersenyum kecil seraya berkata. “Masih panjang perjuangan yang harus kita tempuh, ingat lawan kita semakin lama semakin kuat. Terutama tim dari China kita tidak boleh meremehkan mereka, untuk itu aku harap kalian tetap berlatih lebih giat dari biasanya dan tetap menjaga kekompakan tim. Tanpa itu semua, kemenangan ini tidak ada artinya sama sekali” jawab Seung Hyun tenang diikuti anggukan setuju dari semua anggota Goo’s TW Spirit yang bergabung untuk berpesta malam itu.

“Bersulang” Seung Hyun kembali mengangkat botolnya diikuti oleh para anggotanya.


Sebagai ketua Goo’s TW Spirit yang telah berhasil memegang sabuk hitam dari usia 16 tahun, ia dijuluki si naga jenius dari Korea karena kehebatannya. Semua mengakui kemampuan Seung Hyun yang ditakuti oleh lawan-lawannya. Tidak hanya hebat dia juga punya wajah yang tampan, karena itulah ia menjadi idola para wanita tidak hanya di Jepang, tapi juga di Korea, negara asalnya. 

Seung Hyun duduk agak di pojokan, ia ingin “menyendiri” hanya memperhatikan murid-muridnya yang sedang berpesta kecil malam itu. Sekali-sekali ia meneguk botol sake yang ada di genggamannya.

“Ketua, sekali lagi selamat”

“Oh, Kyo-san. Arigatou gozaimasu” sahut Seung Hyun tersenyum lebar memamerkan sederetan giginya yang putih dan rapi.

Pemuda bernama Kyo tersebut kemudian duduk disamping Seung Hyun.

“Kudengar ketua mau pulang ke Korea”

“Hmm” gumam Seung Hyun pelan. “Aku harus menghadiri pernikahan adikku” sahutnya kembali cuek.

“Adikmu? Princess Min Hye? Menikah?Diumur semuda itu?” Tanya Kyo dengan nada kagetnya, Seung Hyun terkekeh melihat ekspresi kaget Kyo

“Yya, Kyo-san, kenapa?”

“Hah, sayang sekali bagaimana calon suaminya, apa dia tampan?”

Sekali lagi Seung Hyun tertawa mendengar pertanyaan hubae-nya itu.

“Aku tidak begitu kenal dengan calon suaminya” jawabnya cuek dan tenang

“Woo? Ketua ini bagaimana sih, adikmu satu-satunya akan menikah tapi kau malah tidak begitu mengenal calon adik iparmu. Bagaimana kalau dia ternyata orang yang brengsek, oh Tuhan aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Princess Min Hye jika sampai hal itu terjadi” celoteh Kyo

“YYa…Yya.. kau ini sedang membicarakan siapa. Min Hye atau kau sendiri hahahhaa” sahut Seung Hyun tertawa “Lagipula kalau kau salah kalau kau mengkhawatirkan Min Hye, harusnya kau lebih mengkhawatirkan calon suaminya hahaha” Kyo mengerutkan alisnya bingung, ia sangat heran dengan jawaban dari Seung Hyun namun Seung Hyun seolah-olah menikmati kebingungan Kyo dengan tidak memberikan penjelasan lagi dan hanya tertawa misterius.

Mereka kemudian kembali larut dalam suasana pesta malam itu, dan tidak terasa waktu sudah menunjukkan pulul 10 malam. 4 jam lebih mereka berada didalam bar tersebut saat mereka membubarkan diri. Saat Seung Hyun berjalan keluar ia tidak memperhatikan jalan karena ada sms yang masuk ke handphonenya dan ia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita yang baru masuk ke dalam bar itu sehingga menyebabkan handphone yang dipegangnya terlepas dari genggamannya dan jatuh tepat dibawah kaki wanita tersebut. Seung Hyun spontan berjongkok mengambil handphonenya.

“Sumimasen… ” Seung Hyun spontan meminta maaf. Ia berdiri menatap wanita yang hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kecil dan berkata pelan “Daijoubu?” Seung Hyun balas mengangguk, wanita itu kembali tersenyum kemudian kembali berjalan masuk ke dalam bar.

“Ketua, daijoubu deska?” Tanya Kyo yang kebetulan masih berada disana dan memperhatikan semuanya.

“Hmm, aku baik-baik saja” jawab Seung Hyun masih menatap punggung wanita tadi sampai menghilang. Kyo tersenyum iseng melihat kelakuan Ketuanya itu, memang selama ini ketuanya dikenal sebagai seorang playboy yang selalu berganti-ganti wanita. Sadar ditatap oleh Kyo, Seung Hyun kemudian berkata dengan cueknya.

“Kakinya indah” sahutnya pelan

“Tentu saja indah, dia itukan seorang penari. Ketua anda suka dengan dia?” jawab Kyo terkekeh

“Mwo? siapa? Aku? ah tidak, biasa saja”

“Benarkah? Tapi mata anda mengatakan lain” sahut Kyo menggoda Seung Hyun. Ia selalu suka menggoda “gurunya” itu jika sudah berurusan dengan wanita.

“Tapi kurasa anda tidak akan bisa semudah itu mendapatkan dia, dia itu wanita yang istimewa dan tidak mudah ditaklukkan” sahut Kyo kembali melirik kearah Seung Hyun yang terlihat mulai tertarik dengan ceritanya. Ia suka dengan ekspresi Seung Hyun saat-saat seperti ini, ekspresi yang berpura-pura tidak berminat diluar namun didalamnya sangat penasaran.

“Ia seorang penari yang hebat dan berbakat, anda pasti suka melihatnya menari. Sangat lincah seperti seekor kucing betina, karena itu ia dijuluki catwoman oleh penggemarnya” Kyo kembali menjelaskan.


“Catwoman? Hahaha lucu sekali, apa benar seperti itu? Wanita mana yang tidak bisa ditaklukkan terutama olehku hahaha” sahut Seung Hyun sesumbar, ia kemudian menepuk bahu Kyo pelan. “Hey, dongsaeng aku tidak tertarik dengan penari lagipula Yuri sudah menungguku, aku harus pergi sekarang hahahaha”  jawab Seung Hyun santai sembari tertawa.

“Yuri??? Bukannya Minami” guman Kyo bingung “Ketua??” tanyanya kembali seraya melihat kearah Seung Hyun. Seung Hyun terkekeh ia tidak menjawab hanya mengangkat tangannya dan menempatkan 4 buah jarinya di depan mata Kyo. Kyo yang masih setengah kebingungan berusaha mencerna arti dari jawaban Seung Hyun

 “Empat? Empat hari? Benarkah sudah…”

“Hmmm, kau benar” potong Seung Hyun santai. Ia kembali tertawa lebar. “Aku pergi dulu” pamit Seung Hyun menepuk bahu Kyo pelan, ia kemudian berlari meninggalkan Kyo yang masih kebingungan. Kyo memang tahu kelakuan dari sunbaenya itu terhadap wanita.

Seung Hyun orang yang tidak pernah serius dengan satu wanita, baginya wanita itu hanya sekedar hiburan dan hubungan yang dijalani dengan wanita-wanitanya hanya paling lama sekitar 4 hari, awalnya ia tidak percaya, namun ia sudah banyak melihat kenyataan. Ia kemudian hanya bisa menghela nafasnya berat dan menggeleng-gelengkan kepalanya menatap sunbaenya yang sudah menghilang tersebut, entah kemana yang jelas pasti tidak jauh-jauh dengan wanita.


=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=





Introduction of : Liu Jing Djia, 22 years old
Place : Beijing's Dance Ass., Beijing, China



plok ... plok .... plok ....

"Ok, latihannya sampai di sini!! Sekarang, kalian beristirahatlah. Persiapkan diri buat pertunjukan amal nanti malam!!". Suara pelatih Kuo mengelegar di ruang latihan sanggar tari Beijing's Dance Ass.

Djia-Djia menarik nafas lega, kemudian menjatuhkan dirinya ke bangku panjang dari kayu yang terletak di pojok kanan ruangan. Nafasnya terengah-engah akibat latihan keras tadi. Keringat juga bercucuran dari wajah dan sekujur badannya.

Setelah mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat, Djia-Djia menyandarkan kepalanya ke dinding. Tapi itu hanya sesaat. Dia kemudian menegakkan badannya lagi, sambil meraih handuk kecil dari tas besar yang tergeletak di lantai dan mulai menghapus keringat dari wajah dan lehernya.

Tiba-tiba sebuah tangan yang memegang sebuah amplop persegi panjang berwarna keperakan terjulur padanya. Perlahan, Djia-Djia mengangkat kepala ke atas.

"Kuo Lao Xi (guru Kuo) ... "

"Ini untukmu!!", pelatih Kuo menyodorkan amplop tersebut.

Djia-Djia menerimanya dengan pandangan bertanya.
"Apa ini?"

"Dari suster Maria .. ", Jawab pelatih Kuo.

Djia-Djia segera menaikkan alisnya, "Mother Maria?"

Pelatih Kuo mengangguk sambil mengamati reaksi gadis itu. Kemudian dia menjatuhkan diri di samping Djia-Djia.

Tergesa, gadis itu merobek amplop tersebut, dan mengeluarkan sebuah kartu dari dalamnya. Dia membuka kartu itu dan mulai mengamati isinya. Kemudian, dia tersenyum perlahan.

"Ada apa?"

Pertanyaan itu membuatnya berpaling. Dia mengangkat kartu tersebut ke atas, ke depan pelatih Kuo.

"Kartu ucapan selamat ulangtahun dari saudara-saudariku di gereja panti asuhan Santa Maria .. "

Pelatih Kuo langsung menepuk jidatnya, "Oh, benar .. ulangtahunmu sebentar lagi ya?"

Djia-Djia mengangguk, "Dua hari lagi .. "

Pelatih Kuo kemudian mengulurkan tangannya kepada Djia-Djia. Senyuman terhias di wajahnya yang keras. "Selamat ulangtahun Liu Jing-Djia. Semoga kamu semakin sukses, baik dalam karir maupun .. cinta .. "

Wajah Djia-Djia memerah begitu mendengar kata terakhir. Cinta? Dia tidak pernah mengerti arti kata itu.

"Bagaimana persiapan buat acara nanti malam?", sambung pelatih Kuo.

"Beres!". Djia-Djia mengacungkan tangan ke atas, sambil mengedipkan sebelah matanya.

Pelatih Kuo mengangguk dengan senyum puas. "Bagus .. ", katanya.
"Oh ya, saya hampir lupa .. ", pelatih Kuo kembali menepuk keningnya. Entah mengapa ingatannya agak payah akhir-akhir ini! Tangannya merogoh ke dalam tas yang di taruh di bangku, kemudian mengeluarkan selembar kertas seukuran A4 dan menyodorkannya kepada Djia-Djia, " .. anggap saja ini hadiah ulangtahunmu ..", lanjutnya.

"Apa ini?". Djia-Djia menerima kertas tersebut dan mulai menelitinya.

"Surat kontrak buat pertunjukkan selanjutnya."

Djia-Djia mengangkat wajah dan mengamati pelatih Kuo, "Pertunjukkan selanjutnya?"

"Iya-", jawab pelatih bertampang kaku itu. Lalu dia melanjutkan perkataannya lagi, "Peran utama buat opera tari 'Hamlet', berpasangan dengan Leonardo Zlot, penari muda paling berbakat di Amerika sekarang ini. Lao Xi yakin kamu sudah mendengar tentang dia kan? Pertunjukan tersebut akan dilaksanakan tiga bulan mendatang, jadi persiapannya akan dilaksanakan segera. Dua hari lagi kamu harus terbang ke Inggris untuk memulai latihan di sana. Jadi Djia-Djia, persiapkan dirimu sekarang juga ..."

"Berangkat lusa?". Suara Djia-Djia terdengar sangat lirih. "Apakah harus secepat itu?"

"Tentu saja!", jawab pelatih Kuo tegas. "Dari club kita, hanya kamu yang terpilih. Lagipula, pertunjukan ini merupakan pertunjukan terbesar tahun ini, jadi kamu tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini."

"Tapi .. saya berniat libur panjang setelah acara amal nanti malam ..", ujar Djia-Djia. Terdengar memelas.

"Tidak bisa! Dengar baik-baik Liu Jing Djia, kesempatan emas ini tidak datang begitu saja. Jika kamu melepaskannya, kamu pasti akan menyesal kelak ..". Pelatih Kuo memandang tajam Djia-Djia. Membuat gadis itu tidak berkutik. "Mengerti?", lanjutnya tegas.

Akhirnya, Djia-Djia hanya bisa mengangguk pasrag. "Iya-"

Untuk beberapa saat pelatih Kuo masih memperhatikannya. Sepasang mata gadis itu melirik kesana kemari dengan gelisah. Agak mencurigakan. Dan pelatih Kuo sangat mengenal watak gadis ini. Dia sangat nekat dan kadang-kadang sangat agresif. "Jangan melakukan yang tidak-tidak, Djia-Djia!!!". Pelatih Kuo mengeluarkan peringatannya.

"Iya, saya tahu .."

Pelatih Kuo masih memandanginya dengan curiga ketika berlalu dari tempat itu. Bibir Djia-Djia mencibir perlahan. Bawaan Kuo Lao Xi curiga melulu. Selama beberapa saat, Djia-Djia berkutat dengan pikirannya. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Dia sudah capek dan muak dengan semua kesibukan selama ini. Setiap hari hanya latihan, latihan .. pertunjukan dan pertunjukan .. yang harus dilakukan dan diselesaikannya dengan sempurna. Sungguh sangat membosankan. Dia ingin pergi dari semua ini. Melarikan diri dari tempat ini. Melepaskan diri dari semua kegiatan-kegiatan menjemukan itu. Apapun resikonya, dia berani menanggungnya.

Lalu .. Seurat senyuman tersungging di bibirnya. "Mengapa tidak?", tanyanya dalam hati.

Segera dia meraih buku surat dan pen dari dalam tasnya. Dia menuliskan sesuatu di kertas surat tersebut selama duapuluh menit. Setelah merobek dan melipatnya menjadi empat bagian, dia melambaikan tangan kepada salah seorang gadis muda yang sedang bergerak luwes di tengah ruangan.

"Mei-Mei!!"

Gadis itu menoleh kepadanya. “Oh iya .. “. Terburu-buru dia berlari kearah Djia-Djia. “Ada apa Djia ce (kak Djia)?”

Djia-Djia memberikan surat ditangannya pada Mei-Mei. Gadis belia itu menerima surat tersebut dengan pandangan bertanya-tanya.

“Berikan surat ini pada Kuo lao Xi lusa nanti .. “, jelas Djia-Djia. Tapi setelah berpikir sejenak dia segera meralatnya, “Tidak! Jangan lusa! Berikan besok sore saja ..”

“Memangnya Djia ce mau kemana?”. Mei-Mei akhirnya berhasil mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi bermain dalam pikirannya.

Djia-Djia segera mengigit bibir begitu mendengar pertanyaan tersebut. Dia merasa menyesal telah meminta bantuan gadis ini. Mei-Mei memang terkenal dengan sifat ingin tahunya yang besar. “Seharusnya saya minta bantuan Thian saja. Dia lebih bisa dipercaya ..”, Djia-Djia menghembuskan nafas perlahan.

“Djia ce?”

“Besok saya ada janji di luar, .. jika lao xi mencariku, katakan saja kamu tidak tahu .. “

“Tapi saya tidak biasa berbohong ..”, protes Mei-Mei.

“Lalu apakah kamu tahu besok saya akan kemana?”, tanya Djia-Djia judes.

“Tidak!!”

“Jadi beres kan? Kamu tidak bisa dianggap bohong buat sesuatu yang tidak kamu ketahui!!”. Tanpa mengindahkan Mei-Mei lagi, Djia-Djia mulai membereskan semua peralatannya.

“Tapi .. “

Bantahan Mei-Mei segera diputuskan Djia-Djia dengan segera berpaling kearahnya. “Tidak ada tapi-tapian! Jika kamu tidak ingin melakukannya, kembalikan surat itu dan saya akan meminta Thian melakukannya .. “

Pandangan dan perkataan tajam dari Djia-Djia membuat Mei-Mei gentar. Gadis itu tergopoh-gopoh berlalu dari hadapannya. “Iya, saya akan melakukannya .. “, jawabnya dari kejauhan.

Djia-Djia kembali ke kesibukannya. Memasukkan semua barang-barang miliknya ke dalam tas besar di lantai. Mengingat rencana yang sudah direncanakan untuk hari-hari mendatang, dia tersenyum-senyum sendiri.

Pertama, dia akan mengunjungi suster Maria dan saudara-saudari dari gereja santa Maria di Sichuan city besok. Dilanjutkan, berkeliling Shanghai selama sepuluh hari. Kemudian .. memberi kejutan kepada sahabat dari luar negeri satu-satunya yang dikenal melalui internet, dan yang dijumpainya sekali, waktu melakukan pertunjukan opera tari ‘Romeo and Juliet’ di New York city, Amerika.     


=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun