« on: June 07, 2010, 05:56:31 am »
CHAPTER 5
Hari pernikahanku keesokan harinya ...
Kami sedang menunggu kedatangan rombongan Junki yang akan menjemputku ke gereja, dimana aku dan Junki akan mengucapkan sumpah sehidup semati disana. Aku duduk di kursi panjang ruang tamu dengan gaun pengantin serba putih lengkap dengan kerudungnya. Pikiranku sangat kacau. Kejadian-kejadian semalam terbayang lagi dalam otakku. Pembicaraan antara bibi dan Joongie yang masih tidak dapat kupercayai. Joongie mencintaiku. Tidak!! aku masih tidak bisa menerima kenyataan ini.
Bagaimana mungkin Joongie bisa mencintaiku? Aku hanya menganggapnya sebagai seorang dongseng saja. Dan Mino ... deg..deg...deg...hatiku berdegup kencang ketika mengingat perbuatannya semalam. Tanpa kusadari tangan kananku terangkat dan menyentuh bibirku. Aku menggigit bibir dengan perasaan yang lebih kacau. Kugelengkan kepalaku keras-keras. Tidakkkkkkk!!! .. aku tidak boleh memikirkannya. Tidak boleh untuk saat ini dan juga waktu yang akan datang.
"Hyesun .. kamu kenapa? kelihatannya ada yang mengelisahkanmu..", pertanyaan bibi menyadarkanku dari lamunan.
"Ohhh... tidak ! .. saya tidak apa-apa, bi!", jawabku tergagap-gagap.
Bibi memandangku khawatir. Aku tersenyum dan mengelengkan kepala. Aku tidak ingin bibi sampai dibuat gelisah oleh keadaaanku. Joongie dari tadi belum kelihatan kedatangannya. Mungkin dia kecewa dan menghindar lagi. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Aku sungguh tidak ingin menyakiti hati dongsaengku yang telah bersama dan menjagaku sejak kecil.
Suara dering telepon terdengar dari sudut ruangan. Dengan terburu-buru Mrs. Goo mengangkatnya.
"Hello .. benar disini kediaman keluarga Goo ... Aaapaaaaaaaaaa? a..a..a pa katamu ? ..ohhhhh ............"
Mrs. Goo menjatuhkan teleponnya ke lantai .... brakkkkkkkkk ...........
Dia berdiri terpaku disana. Pandangannya semu. Aku memperhatikan reaksinya dengan seksama, begitu juga dengan puluhan pasang mata yang ada di ruangan ini ..
Mrs. Goo menatapku. Bibirnya bergetar, airmata mengalir keluar dari sudut matanya. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi suaranya tidak keluar.
"Mama, ada apa? Siapa yang menelepon tadi", tanyaku penasaran.
"Hyesun ... Junki ... Junki ...dia ...". Hanya itu yang keluar dari mulut Mrs. Goo.
Aku mengerutkan alis, semakin tidak mengerti dengan perkataannya. Tiba-tiba Mrs. Goo berlari kearahku dan memelukku erat-erat. Aku tertegun, sementara yang lain memperhatikan kami dengan pandangan bertanya-tanya.
"Mama.. ada apa sebenarnya?", aku berusaha untuk menenangkannya.
"Junki... Junki.. mengalami...mengalami kecelakaan .. dalam perjalanannya kemari ..", jawab Mrs. Goo terisak-isak.
"Kecelakaan? Kenapa bisa begitu? lalu...lalu bagaimana keadaannya?", aku menguncang-guncang tubuh Mrs. Goo dengan keras tanpa kusadari.
"Hyesun .. kamu ..kamu harus tenang mendengar berita ini ...huuu..huuu .. mobil yang ditumpangi Junki bersama dongsaengnya ... bertabrakan dengan mobil lain..dan .. dan Junki ... Junki .. meninggal seketika dalam... dalam.. kecelakaan itu ..."
Grrrrrrrrrrrrr ............ bumi yang kupijak terasa bergetar hebat. Kepalaku berkunang-kunang dan pandanganku menjadi kabur. Dalam hitungan detik aku .........brukkkkkkkkkkkk ....... ambruk ke lantai .............
*****************
Aku membuka mata dengan perlahan. Samar-samar teringat olehku perkataan Mrs. Goo. Tidak!! itu pasti cuma mimpi. Bukankah aku baru bangun dari tidur? Benar, itu semua pasti hanya mimpi buruk semata.
Tapi .. tidak !!! saat mataku terbuka, tertangkap oleh pandanganku wajah papa, Mrs. Goo, bibi, paman dan Joongie, yang sudah berada disitu, kelihatan sedih dan sendu.
"Tidakkkkkkkkk .... ini tidak benar... huuuuu .. huuuuuuu.... tolong... tolong .. katakan pada saya bahwa semua ini hanya mimpi ...", isakku dengan penuh pengharapan.
Semua yang berada diruangan itu langsung mengalihkan perhatiannya kepadaku begitu mendengar suara yang keluar dari mulutku. Bibi memelukku erat-erat. Isak tanggis mulai keluar dari mulutnya.
"Kamu harus tabah sayang.. huu..huu.. mungkin Junki bukan jodohmu ... huuuu .. apapun yang terjadi kami akan selalu berada disampingmu ..huuu.."
Mendengar perkataan bibi, airmata mengalir keluar dari pelupuk mataku. Aku merasa lelah. Aku ingin tidak mempercayai semuanya, dan yang dapat kulakukan sekarang adalah menanggis kesenggukan dalam pelukan bibi.
"Huuuuuu ... huuuu...huuu.. mengapa bisa begini ... huuu.. aku...aku ... belum berterimakasih ... untuk..huuu... untuk semua kebaikkannya selama ...huuu.. ini ..huuuuu ..."
Bibi semakin mempererat pelukannya. Punggungku dielus-elusnya dan aku dapat merasakan dengan pasti semua perhatiannya. Sementara yang lain hanya bisa memandangiku dengan wajah sedih.
"Semua akan berakhir , sayang... huuu... kamu akan bisa melupakan semuanya ... percayalahh.."
Aku melepaskan diri dari pelukan bibi secara perlahan. Kupandangi wajah mereka satu persatu. Mereka kelihatan sangat khawatir dengan keadaanku.
"Huuu.. huuuuu... aku tidak apa-apa .. aku ... aku masih bisa bertahan ..huu... bibi ... dapatkah bibi membawaku ke tempat Junki ..?"
"Tapi.. keadaanmu..?
Aku mengangkat tanganku sebagai tanda baik-baik saja.
"Baiklah ....mayatnya sudah dipindahkan ke rumah sakit .. begitu juga dengan dongsaengnya yang terluka parah .."
"Dongsaeng???..ahhhhhhhhh ... benar.... ya.. tuhanku...lalu... lalu... bagaimana keadaannya?", tanyaku dengan mata terbelalak.
Baru teringat olehku perkataan Mrs. Goo bahwa Junki dan Mino berada dalam mobil yang sama ketika kecelakaan itu terjadi. Semua yang berada disitu melihat keterkejutanku yang amat sangat. Tapi, tidak ada seorangpun yang menyadari mengapa saya bisa begitu. Aku sendiripun tidak menyadari mengapa reaksiku bisa seluar biasa itu.
"Kata Mrs. Lee luka Mino sangat parah ... dia dalam keadaan koma sekarang ... kakinya patah dan sepertinya harus dioperasi dengan segera ...", kali ini Mrs. Goo yang menjelaskannya kepadaku.
Aku terhenyak di ranjang dengan airmata yang kembali bercucuran dari mataku.
*****************
Beberapa jam kemudian, aku diantar oleh papa kerumah sakit "Don Hyeon", dimana jasad Junki terletak dan Mino dirawat. Melihat keadaanku yang lemah seperti itu, sebenarnya papa dan yang lainnya tidak setuju dengan rencanaku kerumah sakit. Tapi karena aku memaksa terus, mereka jadi tidak bisa berbuat apa-apa.
Mr. dan Mrs. Lee saling berpelukan dan menanggis kesenggukan di sebuah kamar dimana mayat Junki terbaring disana. Aku melangkah dengan pelan mendekati mereka. Kuperhatikan wajah Junki yang pucat dan agak lecet di bagian dagu dan pipinya. Aku memejamkan mata rapat-rapat dan airmata tidak terbendung lagi, mengalir dari sudut mataku. Aku tidak percaya Junki akan meniggal setragis itu. Aku tidak sanggup untuk menatapnya lagi.
"Huuuuu ...huuu..huuu kenapa.. kenapa bisa begini?.... Junki... Junki .. anak yang baik ... mengapa .. mengapa .. dia .. diambil begitu saja... dariku ..huuu ..huuuu... dan Mino... ohhh... Mino .. tidak tahu pula...huuu...bagaimana.. bagaimana nasibnya...huuu...ohh... tuhanku .. mengapa huuu.. mengapa tidak... mengambil nyawaku ..saja .. huuuuu ..?", Mrs. Lee terisak-isak dalam pelukan Mr. Lee, suaranya begitu menyayat hati.
Mr. Lee memeluk istrinya erat-erat sementara airmata juga mengalir dari sudut matanya. Aku menatap mereka dengan isak tanggis yang mulai terdengar. Adegan ini begitu menusuk hatiku. Aku merasa tidak sanggup untuk berdiri terus disini. Aku lalu mendekati mereka.
"Jangan khawatir, paman dan bibi Lee ... tuhan tidak akan mengambil dua anak dari paman dan bibi sekaligus ...huuu... Mino.. Mino .. dia akan baik-baik saja .. percayalah akan hal itu .."
Mr dan Mrs. Lee mengalihkan pandangannya kepadaku. Mereka sepertinya baru menyadari kehadiranku.
"Hyesun? oh.. Hyesun... huuu....huuu.. Junki... Junki ... dia..", Mrs. Lee terisak-isak kembali tanpa mampu melanjutkan kata-katanya lagi.
"Junki akan tenang dalam tidurnya ....kalian juga .. jangan terlalu bersedih .. dia.. dia tidak akan senang jika melihatnya ...setidaknya... dia.. dia tidak terlalu menderita dalam kejadian ini...huuu.. itu yang paling penting ..bukan ?"
Aku berusaha untuk menghibur mereka walaupun hatiku sendiri terasa sakit.
"Huuu..huuuuu... mungkin benar katamu ... kami ... kami harus melepaskannya dengan rela ... huuuu .. kami akan.. melihat Mino .. apakah .. apakah kamu mau ikut dengan kami?"
Aku mengeleng dengan cepat. Mr. dan Mrs. Lee memandangi jasad Junki sekali lagi, setelah itu baru keluar dari ruangan itu dengan saling menuntun satu sama lain. Aku memberanikan diri sekali lagi menatap jasad Junki. Mulutku mengeluarkan suara dengan bibir gemetar.
"Aku ... aku seharusnya berterimakasih sejak dulu kepadamu atas.... atas semua perhatian dan kasih sayangmu ... tapi ...aku juga ingin meminta maaf kepadamu ... atas.. atas segala keragu-raguan yang kurasakan dalam... dalam .. hubungan kita .. aku..aku tidak mengerti mengapa bisa begini... maafkan aku .. Junki .. maafkan aku .. di hari yang menentukan ini... aku... aku sempat berpikir.... bahwa....bahwa pernikahan kita ... ini salah... aku.. aku seharusnya tidak berpikir begitu ... sekali lagi... sekali lagi ... maafkan aku... huuuuu....huuuu..", aku menundukkan wajahku di sudut ranjang Junki dan isak tanggis kembali meledak dari mulutku.
**********************
Tiga minggu telah berlalu sejak peristiwa mengenaskan itu. Waktu terasa berjalan dengan lambat. Segala persiapan buat pemakaman Junki telah dilakukan sejak tiga minggu yang lalu.
Mino sudah sadar dari komanya dua minggu yang lalu. Operasi yang dijalaninya berjalan dengan lancar. Walaupun kakinya masih belum bisa digunakan dan dia harus duduk di kursi roda, tapi keadaannya sudah baik dan sehat. Semua kabar itu hanya saya dapat dari Mrs. Lee karena sejak malam sebelum pernikahan itu aku belum berjumpa lagi dengannya.
Hari ini adalah hari pemakaman Junki. Semua tamu dan kerabat yang hadir mengenakan pakaian serba hitam. Wajah-wajah mereka semua terlihat sedih dan ikut berdukacita. Mr. dan Mrs. Lee lagi-lagi menanggis kesengukan diantara para tamu yang menghiburnya.
Melihat adegan itu, perasaanku kembali tersayat. Luka yang sudah berusaha kuobati selama tiga minggu ini terkoyak kembali. Aku melangkah dengan gontai melewati para tamu yang berkerumun di ruangan itu menuju taman belakang yang terhubungkan dengan ruang belakang tadi.
Disana aku mendapati Mino sedang terduduk lemas di kursi rodanya. Wajahnya tertunduk dalam-dalam. Aku terpaku. Aku seakan bisa merasakan apa yang dirasakannya. Rasa dingin, kesepian, sedih dan kecewa, tersirat dengan jelas dari cara duduknya. Ingin rasanya aku berlari kearahnya, memeluknya, dan memberi kehangatan kepadanya supaya dia tidak kedinginan lagi dan menghiburnya agar semua penderitaannya berakhir.
Tapi... tentu saja aku tidak dapat melakukan itu. Berpuluh-puluh pasang mata akan memperhatikan kami jika aku melakukannya. Akhirnya aku berjalan kearahnya, membuka jaketku dan menyampirkannya ke punggungnya. Ketika aku bermaksud berlalu dari situ, tangan Mino terangkat dan mengenggam tanganku dengan erat. Aku bisa merasakan tangannya yang sedingin es ditanganku.
"Jangan pergi .. aku mohon... dingin... sangat dingin disini ...", suara pelannya terdengar penuh harap.
Aku tertegun di tempatku. Kutatap wajahnya dengan perasaan sendu. Dia tidak melihat kearahku. Wajahnya masih tertunduk tapi pegangannya ditanganku tidak dilepaskannya. Aku menarik nafas panjang dan dengan patuh berdiri disampingnya, tanpa perlu diminta untuk kedua kali. Kami berada dalam posisi itu dan saling melengkapi untuk waktu yang cukup lama sebelum acara pemakaman Junki dilaksanakan.
*********************
Seminggu setelah pemakaman Junki, aku diminta untuk datang ke rumah oleh Mrs. Lee. Dia sedang duduk di ruang tamu ketika aku diantar oleh seorang pelayan kepadanya.
"Ohh.. Hyesun, akhirnya kamu datang juga .. hmmm.. begini.. tadi pagi, bibi membereskan kamar Junki dan .. bibi menemukan beberapa kotak yang bagian atasnya tertulis namamu .. mungkin semua itu merupakan hadiah dari Junki untukmu .. bibi belum membukanya karena .. bibi merasa tidak punya hak untuk itu .. maka itu bibi memintamu untuk datang kemari .."
Aku terkejut mendengar perkataan Mrs. Lee.
"Hadiah? dari Junki ... untukku ?"
"Iya .. saya rasa kamu lebih berhak untuk memilikinya .... oh.. ya .. kotak-kotak tersebut masih berada di kamar Junki .. apakah perlu bibi mengantarmu kesana?"
"Oh.. tidak.. bibi tidak perlu melakukan itu jika bibi masih ada urusan lain .. saya akan mengambilnya sendiri "
Mrs. Lee mengangguk dan kemudian meninggalkanku sendiri. Aku berdiri di bawah tangga yang menghubungkan ruang tamu dan kamar-kamar di lantai atas dengan ragu-ragu. Aku tidak begitu berani melangkahkan kakiku keatas. Aku takut kalau bayangan Junki akan kembali mengikutiku. Setelah berusaha dengan sekuat tenaga mengobati luka ini, aku tidak ingin membuatnya berdarah lagi. Tapi akhirnya aku menguatkan diriku dan mengerahkan semua kemampuanku untuk melewati langkah demi langkah, tangga demi tangga, menuju tempat yang penuh kenangan akan Junki itu.
******************
« Last Edit: June 07, 2010, 05:58:28 am by mrs. Lee Min Ho »

Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ... keeps it strong!!!
Our MinSun