Author Topic: THE SARANG  (Read 7866 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« on: June 07, 2010, 06:00:13 am »
CHAPTER 6


Aku berdiri di lantai atas kediaman Lee dengan perasaan campuraduk. Kamar-kamar yang berjejer di kanan kiri lorong itu kelihatan sunyi dan mati. Keheningan menyelimuti keadaan sekitarnya. Ada perasaan merinding merasuki hatiku. Dengan perlahan kulangkahkan kakiku ke kamar yang terletak paling ujung.

Akan tetapi, langkahku terhenti di depan pintu kamar Junki ketika samar-samar tertangkap oleh pandanganku sesosok bayangan yang sedang menunduk di ranjang kamar depan, melalui celah pintu, yang tidak tertutup rapat. Aku tidak jadi memasuki kamar Junki. Kualihkan langkahku ke kamar yang berada di depan kamar Junki dan mengintip melalui celah pintu yang agak terbuka.

Mino terlihat sedang mengamati benda yang berada ditangannya dengan seksama. Tampangnya kelihatan sedih dan merana. Aku memperhatikannya selama lima menit, tetapi dia masih saja berada dalam posisi yang sama. Aku menjadi penasaran dengan benda yang dipegangnya.

Dengan perlahan kudorong pintu kamar tersebut sehingga terbuka lebar. Aku mendekati Mino yang masih belum bergerak di tempatnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Mino tidak menyadari kehadiranku disitu. Pandangannya masih berpusat ke barang yang dipegangnya, yang ternyata adalah sepasang sepatu ice skate, yang sekarang terlihat jelas olehku.

"Jadi.. itu sebabnya kamu menolak mengurus LKH Group?"

Mino segera mengalihkan pandangannya kepadaku. Dia kelihatan sangat terkejut dengan kehadiranku. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga lebar.

"Yaaaaaaaaaa ....... kenapa kamu ada disini?"

"Jika memang mempunyai cita-cita sendiri, kenapa tidak mengatakannya kepada Junki?"

Mino kelihatan tidak senang dengan pertanyaanku. Dilemparnya sepasang sepatu iceskate yang dipegangnya ke sudut kamar dekat jendela ............ brakkkkkkkkkkkk ...............

"Apa urusannya denganmu?"

"Jika kamu menceritakannya, saya yakin Junki akan mendukungmu .... Dia memintamu untuk belajar mengurus LKH Group karena dia takut sepak terjangmu makin tidak terkendali .. jika...jika saja dia mengetahui kalau kamu memiliki sesuatu yang positif untuk dilakukan .. saya yakin dia akan mendukungmu ... dia sangat menyayangimu ..."

Mino menundukkan wajah dalam-dalam, aku ikut merasakan perasaan yang bergejolak dalam dadanya.

"Apakah ada bedanya sekarang? semuanya sudah berlalu ... hyung..hyung.. sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya .. lagipula ...", Mino tidak melanjutkan kata-katanya. Tangannya yang gemetar meremas-remas sepasang kakinya yang masih tidak bisa digerakkan.

Aku mengerti maksud dari perkataan Mino. Kakinya setelah sembuh belum tentu dapat digunakan dengan normal apalagi harus bermain olahraga yang sebagian besar mempergunakan kaki seperti ice skating.

"Maafkan saya ...", kata Mino tiba-tiba. Aku segera tersentak dari lamunan mendengar permintaan maafnya yang tiba-tiba itu.

"Apa? Mengapa kamu minta maaf kepadaku?"

"Malam itu ... di taman kecil itu .. saya.. saya seharusnya tidak berbuat seperti itu.. sekali lagi, maafkan aku .."

Aku terdiam. Terbayang kembali olehku bagaimana dengan tiba-tiba Mino mendaratkan ciumannya di bibirku. Aku tidak mampu untuk mengusir bayangan itu dalam pikiranku. Aku bisa merasakan pipiku yang mulai memerah. Dengan segera kualihkan pandanganku ke lemari rias yang ada di samping Mino.

Dan... sesuatu yang dipajang di sana membuatku berteriak keras ......

"Ahhhhhhhhhhhhhh .... kenapa bisa ada disitu?", jari telunjukku kuarahkan berkali-kali ke lemari hias yang ada disana.

Mino kelihatan bingung dengan keterkejutanku yang luar biasa. Dengan segera dia mengikuti arah yang kutunjuk.

"o .. maksudmu boneka kumal itu? saya mendapatkannya di ruang tamu lantai bawah.. semula akan kubuang tapi.. entah mengapa pandangan darinya seakan-akan hidup dan memintaku untuk tidak melakukannya .."

Aku mengangga. Kupandangi Mino dengan seksama. Apakah benar yang dikatakannya? Bagaimana mungkin dia juga dapat melihatnya? Padahal selama ini aku mengira hanya aku seorang yang bisa merasakan aura dari "Sarang".

"Apakah kamu menyukainya?", dengan susah payah Mino meraih "Sarang" dan kemudian menyodorkannya padaku.

"Nahhh .."

"Hahhhhhhhhh", aku membelalakkan mata karena tidak mengerti maksudnya.

"Untukmu ...."

Aku mengambil "Sarang" dari genggaman Mino dengan tangan gemetar. Akhirnya barang paling berharga peninggalan mama kembali lagi ke tanganku.

"Yaaa .. itu hanya boneka biasa, mengapa kamu sangat terharu seperti itu?", Mino menatapku heran. Aku tersenyum kepadanya sambil mengelengkan kepala.

"Oh ya, ada keperluan apa kamu datang kesini?"

Aku terkejut. Pertanyaan Mino menyadarkanku akan tujuanku semula. Dengan cepat aku berbalik dan berlari kearah pintu sambil melambaikan tangan kepadanya.

"Aku pergi dulu .. sampai ketemu lagi dan .. semoga kamu cepat sembuh .."

Aku menutup pintu kamar Mino dan masuk ke kamar depan, kamar Junki, untuk mengambil kotak-kotak yang dimaksud Mrs. Lee.


***************


"Apa itu?"

Pertanyaan Joongie mengagetkanku. Dengan segera kumasukkan barang-barang yang berserakan di ranjang ke dalam dua kotak kecil berwarna abu-abu. Joongie memasuki kamarku dengan penuh tandatanya.

"Bukan apa-apa .. hanya.. hanya .. barang-barang peninggalan Junki ...", jawabku pelan.

Joongie terdiam. Suasana yang sunyi menimbulkan perasaan tidak enak dalam hatiku. Walaupun aku sudah mencoba untuk bersikap biasa kepada Joongie, tapi .. perbincangannya dengan bibi itu selalu saja terbayang-bayang dalam ingatanku.

"Hmmm.. bagaimana dengan pekerjaanmu?", aku berusaha mengusir kediaman antara kami dengan pertanyaan itu.

"Pekerjaanku? .. baik, dengan usaha kerasku, akhirnya atasanku akan menjadikanku sebagai sekretaris pribadinya "

Aku mengangguk. Ya, Joongie pantas untuk mendapatkan jabatan itu.

"Bagus kalau begitu .."

"Noona sudah agak baikan kan sekarang?"

"Ya, tentu saja .. saya baik-baik saja .."

Sekali lagi kami terdiam. Suasana semakin kaku.

"Sudah saya katakan kan? Saya akan membuktikan kepada noona bahwa saya bisa menuju puncak dengan usaha sendiri "

Joongie mengatakan ini dengan penuh perasaan. Pandangannya terarah lurus ke mataku. Aku menjadi serba salah. Yang bisa kulakukan hanya tertawa-tawa dengan paksa.

"Ha..ha...ha.. bagus kalau begitu .."

Setelah itu, aku segera melarikan diri dari situ. Aku tidak tahan kalau harus berlama-lama berduaan dengan Joongie di kamar itu.


*****************



Dua bulan sudah berlalu sejak kematian Junki. Aku sudah mulai dapat melupakan bayangannya dalam pikiranku. Walaupun begitu segala kebaikkannya akan terus tertanam dalam hatiku. Aku mulai bekerja lagi sejak dua minggu yang lalu. Kehidupanku boleh dikatakan sudah berjalan dengan normal kembali.

Mino juga sudah tidak perlu lagi duduk di kursi rodanya. Menurut dokter yang merawatnya, suatu keajaiban dia dapat berjalan dengan normal lagi dalam waktu yang sangat singkat. Dia mulai belajar mengelola LKH Group setelah keadaannya benar-benar sehat. Aku sangat senang mendengar kabar tentangnya dari Mrs. Lee.

Walaupun aku tidak berhasil menjadi menantu keluarga besar Lee, aku tetap dianggap sebagai keluarga sendiri oleh mereka. Seminggu sekali Mr dan Mrs Lee akan mengundangku makan malam bersama di rumah mereka. Selama tiga minggu terakhir aku tidak pernah bertemu lagi dengan Mino.

Mr dan Mrs Lee mengatakan bahwa dia sekarang selalu sibuk dengan pekerjaan barunya di LKH Group. Dia selalu pulang di kala hari sudah larut malam. Jadi walaupun selama beberapa minggu ini aku selalu berkunjung kerumahnya, kami tidak pernah saling bertemu sekalipun.

Malam ini, hari Sabtu, dan seperti biasanya Mrs Lee mengundangku untuk makan malam bersama di rumahnya. Mobil yang kukendarai menembus kegelapan malam sepanjang jalan raya yang menuju kediaman keluarga Lee. Pikiranku sangat penat. Pekerjaan yang mesti kuselesaikan hari ini sangat banyak. Kekuatanku terkuras semua. Tidak pernah kusangka bahwa putaran waktu di kota besar ini begitu cepat dibandingkan di desa. Aku merasa capek. Ingin sekali aku kembali lagi ke kehidupan beberapa bulan yang lalu. Kehidupan yang tenang dan damai.

Tiba-tiba perhatianku tertarik oleh perkelahian yang terjadi di pinggir jalan depan. Aku memperpelan laju mobilku dan memperhatikan adegan tersebut dengan penuh perhatian. Aku tersentak kaget dan menginjak rem mobil tanpa sadar .............grrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr ............... mobil yang kukemudikan berhenti dengan mendadak .........

Mino sedang dikeroyok oleh beberapa orang dihadapanku. Aku segera membuka pintu mobil dan berlari kearah mereka. Dengan kalap kudorong beberapa orang yang sedang mengeroyok Mino. Aku tidak menyadari bahwa salah seorang dari mereka memegang pisau ditangannya. Begitu melihat kekalapanku, orang tersebut mengarahkan pisaunya kedadaku...

"Awasssssssssssss !!!!!!!", teriakan Mino menyadarkanku akan bahaya yang menyerang.

Tapi aku sudah terlanjur terpaku di tempatku. Melihat itu, Mino mengulurkan tangannya menangkis serangan tersebut .
Crattttttttttttt ............... darah segar memuncrat keluar dari tangan Mino yang tertancap pisau.

"Ahhhhhhhhhhhhhhhhhh ............."

Teriakanku menarik perhatian semua orang yang berlalu lalang. Mereka semua mulai mengerumuni kami. Para berandalan yang mengeroyok Mino tadi, memperhatikan keadaan sekitar dengan perasaan gentar.

"Guyssssss ....... ayo pergi !!!", teriak salah seorang dari mereka, yang sepertinya adalah pemimpinnya. Mendengar itu, para penyerang yang lain segera berlari mengikuti pemimpin mereka yang sudah melarikan diri duluan.

Aku berlari kearah Mino yang terduduk di pinggir jalan. Pisau yang semula tertancap di tangannya sudah dicabut olehnya. Darah segar mengalir dengan deras dari luka ditangannya. Dengan gugup aku menekan luka tersebut, dengan maksud untuk menghentikan pendarahannya.

"Akhhhhhhhhhh .....", Mino berteriak keras ketika ternyata tekananku di tangannya terlalu keras.

Aku terbelalak, dengan cepat kusingkirkan tanganku dari luka ditangannya.

"Ohhhhhhhhh.... bagaimana .. apa.. apa .. yang harus kulakukan..?"

Aku kebinggungan sendiri di tempatku. Perasaanku sangat kacau. Kembali kujulurkan tanganku bermaksud untuk menekan lukanya, tapi melihat Mino meringgis kesakitan, kutarik kembali tanganku kebelakang. Aku mengacak-acak rambutku. Aku tahu saat ini tingkahku sudah seperti orang gila.

Mino menatapku. Dia berusaha tersenyum walaupun sangat terpaksa. Aku tahu  dia berusaha untuk menenangkanku.

"Ambil kain dan.. ikatkan di atas lukaku supaya darahnya tidak mengalir lagi ..", kata Mino kemudian.

Dengan gugup aku mengeluarkan saputangan dari saku celana dan mengikatkannya di tangan Mino, seperti yang diajarkannya.

"Kenapa kamu selalu berurusan dengan berandalan-berandalan  seperti itu?", tanyaku kesal.

"Aku tidak mempunyai urusan dengan mereka .. hanya saja.. mereka berusaha memaksaku untuk membantu mereka ..."

"Membantu? apa maksudmu dengan perkataan itu?", tanyaku heran.

"Mereka merupakan suatu perkumpulan yang mengkhususkan diri mengadakan pertandingan-pertandingan gelap, dan saat ini yang paling digemari dalam perkumpulan tersebut adalah iceskating ... beberapa bulan yang lalu saya pernah mengikuti pertandingan yang mereka selengarakan dan saya memenangkannya .. mereka lalu mengajukan tawaran kepada saya untuk bertanding mewakili perkumpulan mereka .. tapi saya menolaknya, lalu mereka ..."

"Memukulmu seperti itu?", sambungku cepat.
"Apa yang ada dalam otakmu? tahukah kamu bahwa berhubungan dengan orang-orang seperti mereka sangat berbahaya? mereka bisa merenggut nyawamu kapan saja ...", lanjutku lagi dengan keras.

Mino terpaku melihat emosiku yang besar. Aku sendiri juga tidak tahu mengapa bisa begini.

"Kamu jangan khawatir .. saya tidak akan membiarkan mereka sampai merenggut nyawaku karena .. karena saya masih harus menjaga dan melindungimu seperti .. seperti janjiku kepada hyung.. di saat-saat terakhirnya ..."

Aku tertegun mendengar perkataan Mino. Bukan saja soal menjaga dan melindungiku yang membuatku begitu tapi karena nama Junki yang disebut-sebut dalam pembicaraannya.

"Apa maksud dari perkataanmu? .. Junki menyuruhmu untuk melindungiku di saat-saat terakhir .. maksudmu .. apakah..apakah .. saat kecelakaan  itu?"

Mino mengangguk dengan perlahan. Dia tidak berusaha untuk memandangku. Aku terduduk lemas disamping Mino. Bayangan Junki kembali memenuhi pikiranku.

"Tapi .. ada satu hal yang perlu kamu ketahui .. saya melakukan semua ini bukan hanya karena janjiku kepada hyung tapi karena .. saya.. saya mempunyai perasaan tertentu terhadapmu ..", suara Mino terdengar lembut di telingaku. Dia seolah mengharapkan jawaban dariku.

Aku memalingkan wajah kearah lain, berusaha menghindar dari tatapan Mino yang mempunyai daya tarik magnet. Aku tahu bahwa aku tidak bisa menghindar dari dia tapi aku masih berusaha, dengan cara mengalihkan pembicaraan kearah lain.

"Hmmmm ... lukamu sudah agak baikan sekarang, darahnya sudah berhenti mengalir .. lain kali kalau kemana-mana kamu harus ada yang mengawal dan ...", perkataanku terhenti oleh sentuhan Mino yang tiba-tiba ditanganku.

"Jangan menghindar ...saya tahu bahwa kamu juga mempunyai perasaaan yang sama denganku .."

Aku terdiam. Dengan perlahan kusingkirkan tanganku dari tanganya Mino. Kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulutku terdengar penuh tekanan.

"Tidak ada gunanya ... bagaimanapun perasaanku kepadamu, kita tidak akan mungkin bersama .. akan merupakan sesuatu yang memalukan jika seorang mantan calon kakak ipar yang hampir saja menjadi kakak ipar yang sebenarnya,  mempunyai hubungan dengan dongsaeng dari orang yang hampir menjadi suaminya sendiri .... ini adalah hal yang tidak bisa diterima .."

"Omong kosong!!!", teriak Mino, "Saya tidak pernah peduli dengan omongan orang-orang .. yang saya inginkan sekarang adalah kamu !", lanjut Mino sambil memandangiku dengan penuh harap.

Aku berdiri dari tempatku terduduk tadi. Kubersihkan celanaku yang agak kotor karena terduduk di pinggir jalan raya itu. Aku memalingkan mukaku kearah lain. Perkataan yang keluar dari mulutku kemudian akan mengecewakan Mino, aku tahu itu.

"Tidak bisa .. bagaimanapun... bagaimanapun ..saya tidak dapat menerimanya ..", dengan bergegas aku meninggalkan Mino, yang masih terduduk di tempatnya.

"Hyesunnnnnnnnn-a ............!!!!!!!!!!!!!"

Teriakan itu menghentikan langkahku. Untuk pertama kalinya dia memanggilku. Bukan noona, dan tidak memakai embel-embel yang lain, Mino memanggilku dengan sebutan nama saja. Aku tersenyum. Itu sudah lebih dari cukup bagiku. Kuteruskan langkahku lagi tanpa mempedulikan teriakannya yang lebih lanjut.


*******************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun