Author Topic: THE SARANG  (Read 7814 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« on: June 07, 2010, 06:02:05 am »
CHAPTER 7


Tiga minggu kemudian ..
Kringgg......... kringggggggggg... kringgggggggg .... telepon di ruang tamu berdering dengan nyaring. Dengan terges-gesa aku berlari ke sana, meraih dan menempelkan gagang telepon itu ke telinga.

"Hallo... benar! saya sendiri .. a...a...apa??"

Brakkkkkkkkkkkk .......... gagang telepon yang kugenggam terjatuh ke lantai. wajahku langsung pucat. Bibirku bergetar dengan hebat. Kabar yang baru kuterima begitu mengejutkan. Seperti orang yang sudah kehilangan akal sehat, aku berlari ke pintu depan tanpa menganti pakaian terlebih dahulu. Aku membuka pintu depan dengan segera dan langsung melesat keluar. Seseorang yang sudah berdiri di sana tertabrak olehku dengan keras .. brakkkkkkkkkk .....

"Ackhhhhhhhhhh ...", teriakan bersamaan keluar dari mulut kami.

Aku mengusap-usap dahi dan hidungku yang memerah. Kuperhatikan orang di depanku dengan seksama. Aku sangat terkejut ...

"Minoooo !!!!!!!!!!", teriakku dengan mata terbelalak lebar.

Aku sungguh tidak mempercayai semua ini. Telepon yang baru saja kuterima mengatakan bahwa dia mengalami kecelakaan yang sangat parah, yang hampir merenggut nyawanya. Tanpa kusadari, airmata mengalir keluar dari pelupuk mataku. aku merangkulnya dengan erat. Hatiku sangat lega dan bersyukur karena berita itu tidak benar.

"Kamu lihat sendiri kan? betapa berartinya saya bagimu .."

Perkataan Mino langsung menyadarkanku akan sesuatu. Aku mundur kebelakang dan memperhatikannya. Sungguh, pada saat ini juga dia kelihatan begitu mempesona. Kemeja putih lengan panjang yang digulung keatas dengan kancing yang agak terbuka di bagian dada, dipadu dengan rompi berwarna abu-abu dan celana ketat berwarna hitam, dia tetap kelihatan sempurna.

Tapi ... bukan itu saja yang menarik perhatianku. Dia kelihatan sehat dan tidak kekurangan apapun. Ini membuatku sadar bahwa telepon yang kuterima datangnya dari pihak dia.

"Kamu sengaja berbuat begitu? kamu yang meneleponku?", tanyaku dengan pandangan menyelidik.

"Saya menyuruh sopirku meneleponmu .... bagaimana? saya lihat kamu sangat sedih dan takut begitu mendengar sesuatu terjadi padaku ...."

Plakkkkkkkkkkk ............ tamparan yang keras mendarat di pipi Mino. Airmata masih mengalir keluar dari sudut mataku. tapi emosiku sudah tidak dapat kubendung lagi. Mino sampai tertegun melihat kemarahanku yang memuncak dan tampangku yang berubah keras.

"Kamu suka bercanda? ......... kamu senang melihat kekhawatiran dan ketakutanku? .. tahukah kamu bahwa saya ketakutan setengah mati.. saya benar-benar takut ... saya takut kalau kejadian yang menimpa Junki juga terjadi kepadamu ... saya .. saya .. takut kalau .. kalau saya tidak dapat bertemu kembali denganmu ... saya ..huuuu... saya ...huuu...", aku menutup wajah dengan kedua tangan tanpa mampu menahannya lagi, aku menanggis terisak-isak di depan Mino.

Mino mendekatiku, mengulurkan tangannya dan membawaku kedalam pelukannya.

"Maafkan saya .. saya tidak bermaksud berbuat sesuatu yang akan mengingatkanmu pada hyung ... saya hanya.. hanya ingin membuktikan kepadamu bahwa saya mempunyai tempat yang istimewa di dalam hatimu .."

Aku segera melepaskan diri dari pelukan Mino dan menatap lurus ke matanya.

"Walaupun begitu .. hubungan kita tetap mustahil ..."

"Mengapa? .. saya tidak akan menyerah kecuali kamu mengatakan bahwa kamu tidak mencintaiku .."

Mino menatapku dengan sungguh-sungguh. Aku menghela nafas panjang. Aku tahu Mino menyadari jawaban dari pertanyaannya. Aku tidak sanggup mengatakannya karena aku mencintainya. Sejak pertemuanku yang pertama dengannya, bayangannya sudah tertancap dalam hatiku.

"Jika kamu tidak sanggup untuk mengatakannya, maka saya menganggap kamu sudah bersedia menjadi pacarku!"

"Hahhhhhhhhh .......??", aku membelalakkan mataku. Mino kembali lagi ke sifatnya yang suka mengambil keputusan seenaknya.

"Ayo, pergi !!!", Mino meraih dan menarik tanganku.

"Kemana??", tanyaku binggung.

"Kencan ...", jawabnya, sambil tersenyum nakal dan mengedipkan sebelah matanya.

Aku terkejut, tapi sebelum sadar dari keterkejutanku, Mino sudah memaksaku masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sini, dengan cara menarik tanganku.

"Yaaaaaaaaaa .... aku belum berganti pakaian !!"

"Ha...ha....ha.. kamu terlihat sexy kok dengan baju kaos dan celana pendek ini ..", Mino terbahak-bahak dengan leluconnya sendiri. Sedangkan aku ... hanya bisa cemberut di sampingnya. Mobil yang kami tumpangi secara perlahan melaju, meninggalkan tempat itu.


***************


Ini adalah kencanku yang sebenarnya dengan Mino. Walaupun semula aku hanya dipaksa olehnya tapi aku merasa bahagia dengan kencan pertama kami.

Mino mengajakku ke berbagai tempat yang belum pernah ku kunjungi. Kami makan, nonton dan bermain dengan gembira, layaknya anak-anak kecil yang baru terlepas dari penjagaan ketat orangtua.

Dan untuk pertama kalinya Mino memperlihatkan keahliannya dalam permainan iceskating kedapaku. Walaupun gerakan-gerakan sukar tidak dapat dilakukan, akibat dari kakinya yang tidak mengijinkan untuk itu, permainannya tetap kelihatan sempurna. Dia benar-benar memiliki bakat alam dalam bidang yang satu ini. Putaran-putaran yang dilakukannya, gerakan-gerakan kakinya yang panjang, ekspresi-ekspresi dari wajahnya yang sangat menikmati permainan tersebut, dapat membuat semua penonton terpukau di tempat.

Ada satu hal yang baru kusadari saat ini. Mino pasti sangat terpukul ketika mengetahui bahwa dirinya tidak bisa bermain ice skating lagi. Aku teringat kembali bagaimana ekspresi wajahnya ketika memperhatikan sepasang sepatu ice skate di kamarnya dua bulan yang lalu.

"Mengapa melamun? hmmm... bagaimana permainanku tadi?"

Pertanyaan MIno menyadarkanku dari lamunan. Dia memandangiku dengan mata berbinar-binar.

"Perfect   .. kamu sangat menyukainya, kan?"

"Ya, tapi.. sekarang saya lebih menyukaimu ..."

Aku terdiam mendengar jawaban Mino. Hatiku berdegup kencang.

"Dulu .. ice skating adalah segalanya bagiku.. tapi sekarang, saya rela melepaskannya, karena kamu lebih penting bagiku.. saya akan belajar keras untuk memajukan LKH Group demi kamu .. karena kamu, saya sudah mulai mencintai pekerjaanku yang sekarang .."

Aku tertunduk. Perasaan malu dan bahagia bercampuraduk dalam hatiku.

"Saya melakukan semua ini bukan hanya demi papa, mama dan hyung, yang terutama demi kamu .. akan saya buktikan kepada semua orang bahwa saya tidak hanya bisa main, tapi saya juga bisa menjadi orang yang bertanggungjawab..", setelah berkata begitu, Mino berlutut didepanku.

Pandangannya terarah lurus kemataku, dan ... ohhh .. aku tidak bisa memalingkan wajahku. Tatapannya begitu dalam, dan aku bisa merasakan semua perasaan sayang dan cinta dari tatapannya itu.

Secara perlahan tangan Mino terulur memegang wajahku. Elusannya yang lembut membuat mataku terpejam dengan sendirinya. Lima detik kemudian bibirnya yang lembut menempel di bibirku. Secara perlahan bibirnya terbuka dan mulai melumat bibirku. Selama beberapa detik aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya membiarkannya saja melumat bibirku. Tapi .. sesaat kemudian, tanpa sadar, bibirku terbuka dan mulai membalas lumatan-lumatannya yang mulai menganas.

Kami saling melumat dan berangkulan dengan erat. Aku bisa merasakan lidahnya bermain di dalam mulutku. Lima menit kemudian, kami kehabisan nafas dan terengah-engah setelah ciuman yang panjang itu. Mino memandangiku dan tersenyum nakal di tempatnya sedangkan aku segera membuang muka kearah lain dengan wajah merah padam. Aku malu sekali karena sudah seagresif itu.


******************


Aku sedang berdandan di depan kaca ketika Joongie melintas di depan kamarku, tiga hari kemudian.

"Noona mau keluar?", tanya Joongie sambil memasuki kamarku. Aku berpaling kepadanya dan tersenyum simpul.

"Akhir-akhir ini noona kelihatan lebih bahagia dari biasanya .."

"Kamu berpendapat begitu?"

"Ada sesuatu yang terjadi dengan noona?", tanya Joongie penasaran.

"Hmmm .. mungkin benar, tapi .. belum saatnya saya memberitahukannya kepadamu .. dan .. bagaimana denganmu? kamu sudah tidak begitu sibuk lagi ya ? saya lihat akhir-akhir ini kamu tidak perlu bekerja sampai larut malam lagi .."

"Iya, karna sekarang saya sudah menjadi sekretaris pribadinya atasan baru saya jadi saya tidak perlu lagi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya "

Aku mengangguk dan sekali lagi aku tersenyum kepadanya.

"Jadi benar, noona mau keluar malam-malam begini?", tanya Joongie lebih lanjut.

"Ya, saya ada janji makan malam dengan seseorang..", jawabku kemudian, dengan senyum yang masih menghias di wajah.

"Makan malam? dengan siapa?", tanya Joongie lagi, sambil mengerutkan alisnya. Dia kelihatan tidak begitu senang dengan jawabanku.

"Ehemmmmmmmmm ... lain kali saja kita membicarakannya.. saya...saya harus keluar sekarang ..", dengan tergesa-gesa aku meraih tasku yang tergeletak di meja rias dan berlari keluar.

"Yaaaaa ... noona! ... noona ...!!!!"

Teriakan Joongie begitu keras di belakangku. Tapi aku tidak memperdulikannya. Aku terus saja berlari menuju ke jalan depan, dimana mobil Mino terparkir.


*****************


Makan malam kali ini benar-benar istimewa bagiku. Mino sengaja membawaku ke sebuah rumah makan pribadi yang menyediakan makanan-makanan khas Korea. Aku menjadi teringat kembali akan masa-masa di desa Jeja. Perasaan rindu membuat mataku berkaca-kaca.

"Enak?"

"NNNNNNNNNNgggggggggg ...", anggukku.

Mino memperhatikan gerak-gerikku. Dia kelihatan sedikit gugup melihat mataku yang berair.

"Hmmm.. kamu tidak suka ?"

"Tidak ... aku sangat menyukainya.... terimakasih ..", jawabku cepat.

"Jika begitu, mengapa kamu kelihatan sedih?", tanya Mino, tidak mengerti.

Aku tersenyum kepadanya, berusaha untuk menyakinkannya bahwa saya menyukai kejutan yang diberikannya kepadaku.

"Saya sangat menyukainya, sungguhhhhh ... saya bukan sedih, saya.. saya hanya terharu karena semua ini mengingatkanku ke kehidupanku yang tenang setengah tahun yang lalu ..."

Mino membisu untuk beberapa saat. Dia kelihatan sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang dipikirkannya.

"Jadi .. kamu sangat menyukai kehidupanmu dulu?", tanyanya kemudian dengan suara pelan.

"Ya, saya sangat menyukai dan mencintai kehidupanku yang dulu .. tapi, itu sebelum... sebelum perjumpaanku denganmu?", aku menundukkan wajahku setelah berkata ini.

Mino terkejut. Dia mungkin tidak menyangka aku akan berkata begitu. Sepasang matanya langsung berbinar-binar dan wajahnya berseri-seri. Aku sangat gugup. Aku merasa menyesal setelah berkata begitu. Tanganku meremas-remas boneka "Sarang" yang sudah kupakaikan kembali di tanganku, setelah di kembalikan Mino beberapa waktu yang lalu. Mino mengikuti arah permainan tanganku dan tersenyum simpul.

"Sebenarnya sudah lama saya ingin bertanya kepadamu?"

"Apa?"

"He..he.. mengapa kamu memakai boneka itu di tanganmu? bukankah masih banyak gelang yang lebih menarik di bandingkan boneka kumal itu?"

Aku memandangi Mino dengan serius. Kali ini tidak ada lagi perasaan gugup dan malu yang menghinggapiku tadi.

"Bagiku dia bukanlah boneka biasa, dia merupakan sesuatu yang istimewa, yang telah mempertemukan dan menyatukan mama dan papa .."

Mendengar perkataanku, Mino langsung tertegun di tempatnya.

"Maksudmu .. maksudmu dia.. dia sejenis boneka jodoh?"

"Hhhhh ... entahlah, saya juga tidak tahu .. tapi .. yang jelas pada saat kunjungan pertamaku ke rumahmu, aku menjatuhkannya dan kemudian yang menemukan dan mengembalikannya kepadaku adalah kamu .."

Aku mengamati Mino dengan seksama, berusaha untuk mendapatkan reaksi atas perkataanku tadi.

"Apakah kamu percaya bahwa dia mempunyai kekuatan itu?", tanyaku dengan pandangan menyelidik.

Mino memandangiku, lalu dia meletakkan tangannya di tanganku.

"Jika kamu percaya, maka saya juga akan percaya ..", jawabnya sungguh-sungguh.

Aku tersenyum. Perkataannya menyejukkan hatiku.

"Kamu sekarang sudah berubah .. saya ingat pertemuan pertama, kamu begitu dingin dan pandanganmu begitu menusuk ".

Mino lansung tertawa mendengar perkataanku.

"Ha...ha...ha.. menusuk, katamu? padahal pada saat pertemuan pertama itu saya sudah menaruh perhatian kepadamu .."

"Hahhhhhh ??",aku terbelalak mendengar perkataan Mino.

Aku sama sekali tidak merasa bahwa pada pertemuan pertama itu, dia memperhatikanku. Yang paling kuingat saat itu, dia kelihatan tidak begitu senang dengan kehadiranku.

"Benar, saya sudah menyukaimu sejak pertemuan pertama, sebenarnya .. jika saya tidak tertarik dengan seorang gadis, memandangnya saja saya sudah tidak mau apalagi memperhatikannya ...hmmm.. saya masih ingat dengan jelas kamu tertunduk malu di hadapanku ..", senyum nakal tersungging di wajah tampannya Mino.

Aku sangat kaget mendengar perkataannya. Wajahku memerah seketika. Aku tidak tahu bahwa saat itu dia begitu memperhatikanku.

"Yaaaaa ......... kamu .........."

"Ha ... ha...ha.. kamu tidak tahu, kan? .. tapi ada sesuatu yang menganjal waktu itu .. bukan saja karena kamu datang pada saat yang tidak tepat, sekarang baru kusadari bahwa kamu datang sebagai tunangan hyung itulah yang selalu menganjal di hatiku ..."

Perkataan Mino membuatku teringat kembali kepada Junki. Aku merasa bersalah kepadanya.

"Pada malam sebelum pernikahan kalian, hatiku sangat kacau .. pada saat yang menentukan keesokan harinya, saya sempat berpikir ... tidak! waktu itu, sebelum mobil berengsek tersebut menabrak mobil yang kami tumpangi, saya benar-benar bermaksud mengatakannya kepada hyung kalau saya mencintaimu .. dan saya juga yakin bahwa kamu mempunyai perasaan yang sama denganku .."

Untuk sesaat kami terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kejadian-kejadian tragis itu kembali mamasuki pikiran kami.

"Tapi ... bagaimana kamu bisa yakin bahwa .. bahwa saya .. saya juga mencintaimu?", akhirnya aku mengeluarkan pertanyaan itu.

"Ciuman itu ... kamu tidak menolak sewaktu saya menciummu, itu sudah jelas bagiku .."

Setelah itu kami kembali membisu. Beberapa saat kemudian, Mino mengeluarkan permintaan yang mengejutkanku.

"Saya ingin mempertemukan dan mengenalkanmu sebagai pacarku, bukan sebagai mantan calon istri hyung, kepada papa dan mama ".

"Tidak! jangan lakukan itu ..", teriakku kaget.

"Mengapa? kita sudah pacaran selama satu bulan, mengapa tidak boleh mengatakan yang sejujurnya kepada yang lain?", tanya Mino sengit.

"Karena.. karena saya belum siap .. saya belum siap untuk berpisah darimu ... jika mereka tidak mengijinkannya.. saya....saya tidak tahu harus bagaimana .."

Mino tertegun. Melihat kegelisahanku, akhirnya dia menganggukan kepalanya bertanda menerima permintaanku. Dia menjulurkan tangannya, memegang wajahku. Aku hanya bisa memejamkan mata untuk itu.

"Aku ... aku .. takut ..", kataku dengan bibir gemetar.

"Jangan takut, .. ini akan menjadi akhir dari penderitaan kita ....percayalah .. lagipula, bukankah masih ada dia .. dia akan menjaga hubungan kita ...", Mino menjulurkan tangannya dan menyentuh boneka "Sarang" yang tergantung di tangan kananku.

Aku memperhatikan "Sarang" dengan senyum pahit. Akhir penderitaan menurut Mino? entahlah ... yang lebih terasa dalam hatiku saat ini, semua akan merupakan awal dari penderitaan kami dan bukan akhir dari penderitaan kami, seperti yang dikatakan Mino.


********************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun