Author Topic: THE SARANG  (Read 7769 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« on: June 07, 2010, 06:03:58 am »
CHAPTER 8


Malam sudah sangat larut ketika Mino menaiki anak tangga yang menghubungkan rang tamu dengan kamarnya di lantai atas.

"Mino!!!!", suara panggilan yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Mino membalikkan badan kearah datangnya panggilan tersebut. Mrs. Lee berdiri di lantai bawah, dekat tangga, sambil memandanginya.

"Ada yang ingin mama bicarakan denganmu...", kata Mrs. Lee lebih lanjut.

Mino menuruni anak tangga dan mengikuti Mr. Lee menuju tempat dukuk yang ada di ruang tamu. Mereka kemudian duduk di ssana dengan posisi saling berhadapan.

"Akhir-akhir ini kamu sangat sibuk, ya?", Mrs. Lee memulai pertanyaannya.

"Ya... banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan ..", jawab Mino pelan, sambil melemparkan pandangannya ke luar jendela.

"Oh ya? .. tapi dari yang saya dengar, kamu tidak pulang dari kantor selarut ini.... apakah kamu punya kegiatan lain diluar?"

Mino memandangi mamanya dengan perasaan tidak senang. Dia merasa apa yang dilakukan oleh mamanya ini sudah melanggar hak pribadinya. Tapi, walaupun tidak suka, Mino tetap tidak mengeluarkan pendapatnya.

"Sebenarnya .. masalah yang ingin mama bicarakan ini tidak seharusnya mema mengutarakannya secepat ini kepadamu, akan tetapi.. melihat tingkah lakumu selama ini, sebaiknya mama membicarakannya sekarang juga denganmu .."

Mino memandangi Mrs. Lee dengan penuh tanda tanya.

"Apa maksud dari perkataan mama?"

"Mama tidak tahu apa yang kamu perbuat selama satu bulan terakhir ini? ... mungkin kamu sudah punya pacar dan selalu menghabiskan waktu bersamanya sehabis pulang dari kantor, sehingga bisa pulang sampai larut malam setiap harinya ... mama sebenarnya tidak begitu peduli dengan semua itu selama kamu tidak menganggap serius .. akan tetapi, mama perlu mengingatkanmu bahwa sejak dulu keluarga kita mempunyai tradisi bahwa perjodohan ada di tangan orangtua .."

Mino sangat terkejut mendengar perkataan Mrs. Lee. Matanya terbelalak lebar, seakan-akan tidak mempercayai apa yang di dengarnya.

"Apa pula maksudnya ini "

"Seperti juga hyungmu, kamu sudah dijodohkan sejak kecil .."

Mino semakin terkejut mendengar penjelasan Mrs. Lee. Dia terlonjak dari duduknya. Kepalanya digeleng-gelengkannya berkali-kali sebagai pertanda tidak dapat menerima semua kenyataan ini.

"Omong kosong!!!!!!!!"

"Ini semua benar adanya... kamu masih ingat dengan adik sepupumu, Soeun? Dia adalah tunanganmu!!"

Mino segera mengibaskan tangannya dan berteriak keras.

"Persetan dengan dia!!!!!!!! saya tidak mau yang lain, saya hanya ......"

Sampai disini, Mino menghentikan teriakannya. Suatu pembicaraan beberapa waktu yang lalu terlintas di benaknya. Dengan segera dia terdiam di tempatnya. Secara perlahan dia menjatuhkan dirinya kembali ke kursi yang ada di belakangnya.

"Hanya apa? Siapa yang kamu inginkan? Pacarmu yang sekarang?", tanya Mrs. Lee bertubi-tubi.

Mino tidak menjawab. Dia hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Dia kelihatan tertekan sekali. Ingin sekali dia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tapi janji yang telah diucapkan, membuatnya harus menutup mulutnya rapat-rapat.

"Mengapa tidak menjawab pertanyaan mama?", Mrs. Lee memandang tajam ke Mino. Tapi Mino tetap saja tidak mengeluarkan suaranya.

"Baiklah, jika kamu memang tidak ingin menjawab pertanyaan mama, lupakan saja!, tapi perlu mama beritahukan kepadamu bahwa mulai minggu depan Soeun akan tinggal bersam kita.. dia akan memindahkan kuliahnya dari Australia ke sini, dan orangtuanya yaitu bibi dan pamanmu juga sudah menyetujuinya .."

"Apa??? kenapa mesti begitu???", teriak Mino lebih kaget lagi.

"Karena mama dan papa sudah mendiskusikannya dengan paman dan bibimu, dan ini akan merupakan jalan terbaik bagi kalian berdua untuk saling memahami satu sama lain ...", jawab Mrs. Lee.

Sekali lagi Mino mengibaskan tangannya. Sambil berdiri dari tempat duduknya, dia berkata dengan nada tajam...

"Saya tidak peduli apa yang kalian inginkan. . yang jelas saya hanya mencintai pacar saya dan saya akan menikah dengannya kelak.. tidak ada seorangpun yang mampu mengantikan posisinya di hatiku    "

Setelah berkata begitu, Mino beranjak dari tempatnya.

"Mino yaa .. lalu siapa sebenarnya pacarmu itu? apakah mama mengenalnya? Mino yaa..."

Mino tidak menghiraukan teriakan Mrs. Lee dibelakangnya. Dia terus saja melangkah dan menaiki anak tangga, satu demi satu, menuju lantai atas.


****************


Mobil yang kukemudikan dengan perlahan memasuki tempat parkir yang terletak di sebelah gedung besar yang menjadi pusat "LKH Group". Setelah memarkir mobil di tempat yang tersedia di sana, aku segera berlari ke pintu depan gedung yang terbuat dari kaca besar, yg terpasang dari atas sampai lantai gedung.

Saat ini, aku ada janji makan siang dengan Mino. Sebenarnya dia berjanji akan menjemputku di kantor, tapi karna dia ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkannya untuk satu jam kedepan, maka aku menganjurkan untuk menunggu di kantornya saja.

Begitu sampai di lobby depan yang luas, aku segera disambut oleh seorang wanita yang berpakaian sangat rapi.

"Apakah anda nona Goo Hye Sun?", tanya wanita tersebut sambil membungkukkan badannya.

"Ehhh... i ya ..", jawabku dengan gugup.

Wanita itu tersenyum. Dia sepertinya tahu penyebab dari kegugupanku.

"Saya diminta oleh tuan muda Lee untuk menjemput dan membawa nona ke ruang kantornya yang ada di lantai paling atas "

"Oh .. jadi, Mino yang menyuruhmu? ..hmmm.. lalu bagaimana seharusnya saya memanggilmu?"

"Panggil saja saya Yoona, nona.."

"Baiklah Yoona,  dan .. terimakasih atas segalanya.."

Sekali lagi Yoona membungkukkan badannya. Dia berjalan di depanku dengan berwibawa. Aku hanya mengikutinya saja, dari lantai bawah sampai tingkat paling atas gedung, hingga tiba di depan pintu ruang kantor yang besar. Yoona mengulurkan tangannya mengetuk pintu yang terbuat dari kayu berwarna coklat itu ..
tok.. tok...tok ...

"Masuk!!!!!"

Yoona membuka daun pintu dengan perlahan. Ruangan itu sangat luas dan nyaman. Jendela-jendela yang ada disana terbuat dari kaca besar yang terpasang dari atap sampai lantai ruangan yang menampakan pemandangan laut yang luar biasa. Permadani yang mengalasi lantai terbuat dari bulu yang tebal dan indah, tempat duduk yang lebar dan empuk di padu dengan meja yang panjang dan berkilap, menjadikan ruangan itu benar-benar ruang kantor yang sempurna.

Mino sedang duduk di kursi di dekat jendela ketika kami memasuki ruangan. Dia tersenyum kepada kami, kemudian menganggukkan kepada Yoona.

"Kamu boleh pergi sekarang, Yoona. ."

Yoona membungkukkan badannya kearah kami. Dengan perlahan dia mundur ke belakang dan menutup pintu yang ada di depan kami.

"Jadi bagaimana sekarang?", tanyaku kepada Mino.

Dia tidak segera menjawab pertanyaanku. Ditaruhnya pulpen yang sejak tadi dipegangnya ke tempat semula, lalu berjalan kearahku. Dengan lembut dia melingkarkan tangannya di pinggangku dan menarikku ke dalam pelukannya.

"Yaa.. kamu mau apa?", tanyaku gugup.

Mino tersenyum. Dia semakin mempererat pelukannya. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya secara perlahan memasuki tubuhku.

"Untuk saat ini .. saya hanya ingin memelukmu seperti ini.."

Setelah itu kami sama-sama tidak mengeluarkan suara. Ku sandarkan kepalaku di dada Mino, memejamkan mata dan merasakan segala kehangatan yang diberikannya. Mino mengelus rambutku dengan lembut. Hembusan nafasnya terasa sangat halus ditelingaku. Saat ini aku merasa menjadi wanita yang paling berbahagia di dunia.

"Kamu harus menungguku setengah jam lagi. . tapi soal acara makan siang ini, kamu jangan khawatir.. sekretaris pribadiku sudah menyiapkan segalanya .."

Baru saja Mino selesai mengatakan ini, suara ketukan di pintu terdengar ...
tok...tok...tok..

"Nah.. itu dia datang .. masuklah!!!!"

Secara perlahan daun pintu terbuka dannnnnnnn ...................

"Joongieeeeeee !!!!!!!!!!!!!!!"

"Noonaaaa!!!!!!!!!!!!"

Teriakkan yang hampir berbarengan keluar dari mulut kami.

Joongie membelalakan matanya kearahku. Aku tidak kalah terkejutnya. Dengan gugup aku mendorong Mino ke belakang.

"Kalian saling mengenal?", Mino memandangi kami secara silih berganti. Aku mengigit bibir dan melemparkan pandangaku ke Mino, sedangkan Joongie masih terpaku di tempatnya.

"Ada yang bisa menjawab pertanyaanku?", tanya Mino lagi dengan nada suara curiga.

"Ehemmmmm ... Joongie adalah adik sepupuku ..", akhirnya aku mulai bisa menguasai perasaanku.

"Adik sepupumu? tapi, dia sekarang adalah sekertaris pribadiku .. apakah kalian berdua tidak mengetahui semua ini?", tanya Mino lebih lanjut.

"Tidak! saya tidak mengetahuinya ..", jawabku cepat.

Joongie yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara, menatapku dengan tajam.

"Mengapa noona tiba-tiba bisa berada di sini?"

Sebelum saya menjawab pertanyaan itu, Mino mengeluarkan suaranya.

"Saya rasa kalian perlu membicarakannya berdua saja ..Hyun Joong, masih ada beberapa file yang harus diperiksa ulang di atas meja sana, dan.... Hyesun, tiga puluh menit lagi saya akan kembali dan menjemputmu ke restoran yang telah di persiapkan oleh Hyun Joong .. tunggu saya ..", Mino mengedipkan matanya, mengelus wajahku, kemudian berjalan keluar.

Aku merasa gugup dengan perlakuan Mino tersebut. Joongie memperhatikan semua adegan kami dengan pandangan tidak senang. Aku ingin mengeluarkan suara tapi semuanya tersangkut di tenggorokan. Joongie juga hanya diam ditempatnya. Ruangan besar itu menjadi hening dan sunyi seketika.


*********************


"Jadi .. apa maksudnya semua ini? Setelah hyungnya sekarang dengan dongsaengnya? Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran noona?..", pertanyaan Joongie yang bertubi-tubi memecahkan kebisuan yang terjadi di antara kami.

Aku tersentak ketika mendengar nada tajam dan agak menyindir dalam pertanyaan Joongie. Kupandangi dia dengan mata mendelik. Aku tidak senang dia bersikap begitu terhadapku.

"Yaa.. apa maksud dari pertanyaanmu?"

Joongie segera melemparkan pandangannya ke luar jendela ketika melihat perubahan sikapku. Pandangannya begitu tajam tertuju ke langit biru di luar, ada kemarahan terpancar dari sepasang matanya.

"Keluarga Lee memang merupakan pengusaha terkaya di Korea .. tapi apakah hanya karena itu noona harus melakukan hal seperti ini ? ..setelah tidak berhasil menikah dengan hyungnya, sekarang mengincar dongsaengnya?"
plakkkkkkkkkk ............ tamparan yang keras mendarat di pipi kiri Joongie ..

"Kim Hyun Joonggg!!!!! hati-hati dengan perkataanmu !!!!!!", teriakku histeris.

Joongie kelihatan terkejut melihat kemarahanku yang besar. Dia memegang pipi kirinya yang memerah akibat tamparanku tadi. Dia sama sekali tidak menyangka aku bisa semurka itu.

"Sejak kapan kamu menganggap noonamu ini hanya tertarik dengan harta dan kekayaan  .. sudah 24 tahun kita tinggal, hidup dan bermain bersama .. tapi kamu masih mempunyai pikiran seperti itu terhadapku ...", sambil mengatakan ini, mataku mulai memerah.

Joongie tertegun di tempatnya. Dia memandangiku dengan perasaan menyesal dan bersalah. Dengan perlahan dia menepuk pundakku.

"Noona... maafkan saya.. saya..saya .. tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu .. saya hanya tidak habis pikir, mengapa noona bisa bersama dengan majikan baru saya yang juga merupakan mantan calon adik ipar noona sendiri ...."

"Karena saya mencintainya!", jawabku dengan penuh keyakinan.

Joongie terkejut mendengar jawabanku yang cepat itu. Sebenarnya aku juga merasa heran mengapa kata-kata itu bisa meluncur begitu saja dari mulutku.

"Mencintainya? lalu.. bagaimana dengan tuan muda Junki? dulu, noona bersedia menikah dengannya, bukankah juga karena noona mencintainya?"

Aku mengeleng dengan cepat ketika mendengar pertanyaan Joongie.

"Tidak! sejak dari pertama yang saya cintai adalah Mino....... saya tahu saya bersalah kepada Junki tapi.. saya tidak mampu melawannya ... perasaan itu begitu kuat dan .. saya tahu bahwa ini hanya akan saya rasakan untuk pertama kalinya selama hidupku .. selain Mino, tidak ada lagi yang mampu menghuni di hatiku yang paling dalam .."

Joongie kelihatan terpana dengan kata-kata yang terucap dari mulutku. Dia memandangiku dengan putus asa. Aku membalas pandangannya dengan tidak berkedip. Aku ingin dia tahu bahwa selain Mino, aku tidak akan dapat mencintai yang lain.

"Noona kelihatan yakin sekali dengan perkataan itu ....lalu bagaimana dengan "Sarang"? bukankah dia merupakan boneka jodoh? .. tuan muda junki yang menemukan dan yang kemudian mengembalikannya kepada noona .. itu kan berarti tuan muda Junki adalah jodoh noona? dan yang dicintai oleh noona seharusnya juga dia .... bukankah begitu seharusnya? .."

"Tidak!! bukan, .. "Sarang" bukan ditemukan oleh Junki tapi oleh Mino.."

"Hahhhhhhhh ........?", Joongie sangat terkejut mendengar jawabanku.

"Sejak itu, saya sering berpikir .. apakah kematian Junki juga ada hubungannya dengan "Sarang"? mungkin juga i ya tapi .. saya berharap tidak ... yang saya herankan adalah .. begitu banyak orang di rumah itu, para pelayan membersihkan rumah setiap hari, mengapa tidak ada seorangpun yang melihatnya? mengapa hanya Mino yang melihatnya dan .. mengapa pula dia tidak membuangnya dan juga mengapa saya yang menemukannya berada di kamar Mino.. mengapa Mino mengembalikannya kepadaku tanpa bertanya terlebih dahulu mengapa saya sampai tertarik dengan boneka kumal itu, mengapa, mengapa .. begitu banyak pertanyaan yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat ... sekarang saya hanya mempercayai satu hal, bahwa "Sarang" yang menyatukan kami dan.. kami juga saling mencintai, ini adalah kenyataannya .."

Penjelasanku yang panjang lebar membuat Joongie diam seribu bahasa. Dia kelihatan tidak berminat untuk melanjutkan pembicaraan kami. Dia kemudian berjalan ke meja panjang yang terletak di dekat jendela dan mengambil setumpuk file yang ada di sana, lalu berjalan keluar ruangan tanpa pamitan terlebih dahulu kepadaku.

Aku menghembuskan nafas kuat-kuat dan terhenyak di kursi belakang dengan pikiran kacau.


***********************


Aku dan Mino duduk berhadapan di restoran yang menyediakan makanan Perancis, satu jam kemudian. Suasana di ruangan ini sangat nyaman dan tenang. Samar-samar terdengar alunan musik lembut yang diputar dari sudut ruangan.

Sepuluh menit kemudian, makanan terhidang di atas meja. Mino tersenyum kepadak sambil mengangkat gelas yang berada dalam pegangannya.

"Cheers!!"

Aku mengangkat gwlas yang terletak di depanku dan membenturkannya dengan pelan ke gelas dalam genggaman Mino sehingga menimbulkan suara dentingan nyaring ........ tingggggggg ......

"Cheers!!", kataku juga.

Setelah itu kami menyantap makan siang yang terhidang di atas meja dengan tanpa bersuara. Dua puluh menit kemudian, kami menghabiskan makanan-makanan yang lezat tersebut. Piring-piring yang ada di atas meja juga mulai disingkirkan.

"Sudah kenyang sekarang?... hmmm... jadi apakah ada yang akan kamu jelaskan kepadaku?", Mino memulai pembicaraan antara kami.

"Tentang apa?", tanyaku tidak mengerti.

"Tentu saja tentang Kim Hyun Joong .. apakah benar dia adik sepupumu?"

"Oh..itu ... ya, benar!", aku terdiam sejenak sebelum kemudian melanjutkan kembali perkataanku..
"Sebenarnya ada sesuatu dengan dia .. hmm ... sehari sebelum rencana pernikahanku dengan Junki, aku tidak sengaja mendenga pembicaraannya dengan bibi dan... dari situ saya mengetahui bahwa ternyata... ternyata Joongie mempunyai perasaan khusus kepadaku ..."

Mino terperanjat dari duduknya. Dia kelihatan sangat terkejut dengan perkataanku.

"Maksudmu .. dia mencintaimu?"

"I ya... begitulah kira-kira ...", jawabku pelan.

"Lalu .. bagaimana denganmu?", tanya Mino lagi.

"Saya? tentu saja saya tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya ... bagi saya dia hanyalah seorang dongsaeng .. tidak lebih dari itu..", jawabku cepat.

Mino tertawa terbahak-bahak mendengar pembelaanku yang sengit.

"Ha...ha...ha... bukan itu maksudku.. saya tahu kamu hanya mencintaiku seorang .. he...he.. yang saya maksudkan adalah bagaimana kamu akan bersikap terhadapnya. ."

Mino masih terbahak-bahak ketika kulayangkan pukulanku ke tangannya yang berada di atas meja.

"Akhhhhhhhh.....", teriaknya dengan keras sehingga menyebabkan orang-orang yang berada di meja-meja sebelah menoleh ke arah kami.

Aku tersenyum lebar melihat wajahnya yang tampan itu berkerut dengan bibir bawah yang agak ditekuk. Walaupun tampangnya agak aneh dibuat begitu, akan tetapi bagiku dia tetap lucu dan menawan.

"Makanya, kalau bicara jangan seenaknya! he..he.. mengenai masalah Joongie itu, sampai sekarang saya masih bersikap seolah-olah saya tidak pernah mendengarnya ... Joongie tidak mengetahui bahwa sebenarnya saya mengetahui bahwa dia mencintaiku .."

Aku mengangkat gelas di depanku dan meneguk isinya sampai habis.


*******************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun