Author Topic: THE SARANG  (Read 7769 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« on: June 07, 2010, 06:05:50 am »
CHAPTER 9


Aku melirik jam tangan kecil yang melingkar di tangan kiriku, hmmm.... waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan hari ini hari selasa. Tidak biasanya Mrs. Lee memintaku datang ke rumahnya pada hari dan saat seperti ini.Pintu depan dibukakan oleh seorang pelayan yang kemudian membawaku ke ruang tamu, dimana Mrs. Lee berada. Aku sangat gugup ketika berhadapan dengannya. Tidak seperti biasanya dia bersikap begitu resmi dan pandangannya begitu tajam.

"Hyesun ... ", Mrs. Lee menyapaku dengan nada datar.

"Ehh.. bibi Lee, se..lamat malam ...", balasku dengan serbasalah.

"Duduklah..."

Aku membungkuk kearah Mrs. Lee kemudian duduk di sofa yang dialasi kain sutera berwarna emas, yang ada di belakangku.

"Kamu pasti merasa heran mengapa bibi mengundangmu datang kesini pada hari yang tidak biasanya, kan? sebenarnya ada yang ingin bibi diskusikan denganmu .."

Aku menatap Mrs. Lee dengan heran. Aku tidak merasa ada masalah yang perlu didiskusikan dengannya.

"Bibi mengetahui hubunganmu dengan Mino!"

Aku tersentak di tempat. Perkataan itu begitu mengejutkanku. Mataku terbelalak lebar dan perasaanku sangat kacau. Mrs. Lee lalu melanjutkan perkataannya lagi tanpa peduli dengan ekspresi wajahku yang memelas.

"Kamu pasti merasa heran dari mana bibi mengetahuinya .. bibi menyuruh orang melacaknya setelah Mino bersikeras membungkam terhadap hubungan kalian.."

Perlahan bola mataku meredup. Aku mengangguk dan tersenyum pahit. Ya, apa susahnya bagi seseorang yang mempunyai kekuasaan sebesar itu untuk melacak hal sepele seperti ini.

"Maafkan bibi jika kamu merasa bibi tidak punya hak untuk melakukan semua ini.. tapi.. perlu kamu ketahui bahwa keluarga Lee merupakan keluarga terkenal dan terpandang di seluruh Korea, jadi bibi tidak akan mengijinkan aib yang memalukan sampai menjatuhkan dan menghancurkan nama keluarga besar Lee.."

Aku terus membisu di tempat mendengar perkataan Mrs. Lee. Seperti dugaanku semula, semua ini sangat sulit. Aku ingin membantah, tapi itu tidak sanggup kulakukan.
Sesungguhnya aku mengerti dan memahami posisinya yang ingin menjaga kebersihan nama keluarga.

"Bibi dan paman sangat menyukai dan menyayangimu, Hyesun.. sungguh...dan sebenarnya kami juga sangat berharap kamu bisa menjadi menantu kami, tapi bukan untuk Mino ... tidak! untuk yang satu ini tidak bisa.. bukan saja karena Mino sudah bertunangan tapi.. kebersihan nama keluarga yang mesti bibi pertimbangkan.."

Mrs. Lee memandangiku tanpa berkedip. Aku tahu dia berusaha meminta pengertian dariku. Aku menunduk, tidak berani untuk bertatapan mata dengannya. Bibirku bergetar hebat, kemudian pertanyaan terbata-bata keluar dari mulutku.

"Ber... ber..tu..nangan??"

"Benar, seperti juga kamu dan Junki, Mino dan adik sepupunya, Kim So Eun, sudah ditunangkan sejak kecil.."

"Ohhhh...".

Aku menjadi lunglai di tempatku. Wajahku mendongak ke langit-langit ruangan yang tinggi dengan pandangan hampa.

"Bibi ingin kamu yang mengambil inisiatif meninggalkan Mino, karena jika menyuruh dia yang meninggalkanmu itu tidak mungkin .. kamu tahu sendiri seberapa keras kepalanya dia ... Hyesun, bibi tahu ini sangat menyakitkan.. bibi juga tidak ingin berbuat begini.. tapi.. anggap saja bibi memohon padamu.. tinggalkan Mino, jangan sampai semua masalah  ini menghancurkan karirnya..."

Airmata mulai mengalir keluar dan jatuh di kedua tanganku yang bergetar hebat. Hatiku hancur berkeping-keping. Membayangkan wajah Mino yang menderita sepeninggalanku, membuatku semakin terpuruk. Hatiku ingin memberontak dan berteriak keras kepada Mrs. Lee bahwa bagaimanapun aku tidak akan meninggalkan Mino. Tapi, logika melarangku untuk melakukannya. Benar kata Mrs. Lee, karir dan masa depan Mino yang paling penting. Walaupun Mino mungkin akan meninggalkan semuanya demi aku, tapi aku juga tidak akan pernah mengijinkannya melakukan semua itu.

Dengan mengerahkan segala tenaga, aku berdiri dari tempat dudukku. Membungkukkan badan kearah Mrs. Lee dan memutar tubuh ke pintu ruang tamu yang terbuka.

"Hyesun!!! berjanjilah kepada bibi !!", teriak Mrs. Lee di belakangku.

Aku tidak menjawab, hanya bisa menganggukan kepalaku. Dengan perlahan aku berjalan keluar dari ruangan itu. Sampai disana makin kupercepat langkahku dan .. akhirnya aku berlari keluar dari rumah besar itu dengan isak tanggis dan airmata yang bercucuran dari kedua mataku.


************************


Aku terus berlari... berlari ... dan berlari, tanpa memperdulikan lagi mobilku yang terparkir di depan rumah Lee, tanpa memperdulikan lagi pandangan dari orang-orang yang berlalu lalang, tanpa memperdulikan lagi gerimis yang mulai jatuh ke bumi, tanpa memperdulikan lagi .. segala yang terjadi di sekelilingku. Yang ada dalam pikiranku dan yang tergiang-ngiang di telingaku sekarang hanyalah permintaan Mrs. Lee supaya meninggalkan Mino.

Setelah pelarian yang jauh dan panjang itu, akhirnya aku terduduk lemas di pinggir jalan raya. Hari sudah sangat larut dan jalanan sudah mulai sepi. Gerimis yang turun sekarang sudah digantikan oleh hujan lebat yang turun seperti air yang ditumpahkan dari langit. Udara sangat dingin. Aku mendekap erat kedua tangan di depan dada. Tubuhku bergetar hebat. Airmataku mengalir deras bercampur menjadi satu dengan air hujan yang turun. Aku semakin menyusut dalam dudukku.

Kudongakan kepalaku keatas. Air hujan seperti jarum-jarum yang tajam terasa menusuk wajahku. Duniapun seakan ikut menanggis melihat penderitaanku. Dengan perlahan kuusap wajahku yang basah dengan kedua tangan, bermaksud menjernihkan pandanganku ke langit kelam, walaupun itu sia-sia saja. Ketika aku melakukan ini, tertangkap olehku pandangan "Sarang" yang tergantung di tangan kananku. "Dia" memandangiku dengan sedih, sepasang matanya yang mati seakan-akan ikut mengalirkan airmata.

"Mengapa?.... hu...hu...kamu me..mandangiku seperti itu?....", tanyaku sambil terisak-isak.

"Kamu sedih?.. ternyata... ternyata kekuatanmu.. tidak sebesar yang kamu bayangkan, kan?... hu...hu...", isak tanggisku semakin menjadi-jadi.

Aku meremas-remas "Sarang" dalam genggamanku.

"Mengapa kamu harus mempertemukan dan menyatukan kami .. jika ternyata... ternyata .. kamu tidak .. tidak mempunyai kekuatan yang cukup.. untuk menjaganya? Mengapa..? Mengapa...? hu...hu...hu....?

Aku semakin terpuruk dalam tanggisku. Aku tidak kuasa lagi untuk bertahan. Tubuhku roboh di jalanan yang basah oleh air hujan. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku membuka separuh mataku dan memandangi "Sarang" yang terlihat terluka dalam pandanganku.

"Kamu lihat.... dua pasangan yang kamu satukan ternyata.. ternyata sangat menderita karenanya....", kata-kata ini keluar dengan pelan dan tidak bertenaga dari mulutku.

Orang-orang di sekitar mulai mengelilingiku. Secara perlahan kesadaranku mulai melemah, melemah .. dan akhirnya aku tidak sadarkan diri di tempatku. Sedangkan hujan lebat masih saja turun dan menguyur bumi.


***********************************


Ketika sadar, aku sudah berada di kamarku. Papa, Mrs. Goo, bibi, paman dan Joongie mengelilingiku dengan perasaan khawatir. Semua itu tergambar jelas dari mimik muka mereka. Dengan perlahan kukedipkan mataku berkali-kali. Pandanganku masih agak kabur, hal ini disebabkan oleh keadaan fisikku yang lemah.

"Hyesun.. bagaimana rasanya sekarang? sudah agak baikan?", nada kekhawatiran terdengar dalam suara bibi.

Aku tersenyum kearah mereka. Dengan susah payah aku merubah posisi tidurku sehingga agak menyandar di papan depan ranjang.

"Apa yang terjadi denganmu, Hyesun? mengapa kamu bisa sampai pingsan di pinggir jalan dalam keadaan hujan lebat seperti itu?", pertanyaan yang ini dilontarkan oleh papa.

Karena keadaanku yang masih lemah, jawaban yang kemudian keluar dari mulutku terdengar pelan dan tidak bertenaga.

"Saya lupa dengan mobilku yang terparkir di rumah Lee.."

"Noona.. apakah ada masalah yang serius?", Joongie mengeluarkan pertanyaannya setelah berdiam untuk waktu yang cukup lama.

Aku tidak menjawab pertanyaan Joongie. Dengan tangan kanan aku memijat-mijat kepalaku yang terasa pening.

"Ada sesuatu yang terjadi antara noona dan tuan....."

"Joongieeeeee .................", teriakkanku menghentikan pertanyaan Joongie.

Aku mengeleng dengan lemah kearahnya. Papa, Mrs. Goo, paman dan bibi memperhatikan reaksiku dengan curiga.

"Ada masalah apa? Ada yang kalian rahasiakan dari kami?", bibi bertanya kepada kami diikuti dengan pandangan ingin tahu dari yang lain.

"Tidak .. tidak ada yang kami sembunyikan .. hanya saja..."

"Hanya apa?", tanya bibi lagi.

Aku menghela nafas dengan pelan, kemudian memandangi papa dengan serius.

"Papa ... saya...hhhhh... ijinkan saya pergi dari sini... saya .. saya ingin kembali ke desa Jeja.."

"Apaaaaaaaaaaa???", teriak mereka hampir berbarengan.

Semua pasang mata memandangiku dengan terkejut. Papa menghampiriku, untuk kemudian duduk di tepi ranjang, di sampingku.

"Mengapa? mengapa kamu punya keinginan itu?"

"Capek.. dan letih...", jawabku pelan.

Sepasang mataku meredup ketika mengucapkan ini.

"Capek dan letih? tapi mengapa? mengapa bisa begitu? Selama ini papa lihat kamu baik-baik saja .. papa tidak melihat ada masalah yang kamu hadapi baik dalam keluarga maupun pekerjaan ... setelah peristiwa yang terjadi dengan Junki, papa lihat kamu sudah benar-benar beradaptasi kembali dengan kehidupan disini ...", papa berbicara dengan bertubi-tubi.

Pandangannya mengarah tepat ke bola mataku. Aku tidak sanggup untuk membalas tatapan papa. Aku merasa bersalah kepadanya. Apapun yang akan kukatakan kemudian, semuanya adalah kebohongan.

"Tidak! saya tidak baik-baik saja.. dari pertama saya sangat lelah dan letih .. kehidupan disini sangat cepat, saya selalu merasa sesak nafas dalam menjalaninya .. apalagi ditambah dengan peristiwa yang terjadi dengan Junki,.. saya..saya sudah tidak tahan lagi.. saya...saya merasa sudah akan meledak... papa, saya mohon .. ijinkan saya pergi...", permintaan yang keluar dari mulutku terdengar begitu menyayat.

Aku memegang tangan papa dan menatapnya dengan penuh harap. Bibirku bergetar hebat. Saat ini, aku merasa benci sekali dengan diriku sendiri. Papa mengulurkan tangannya, mengelus wajahku dan.. tanpa dapat ditahan lagi airmata jatuh dari pelupuk mataku.

"Kamu sangat pucat ... begitu menderitakah kamu? mengapa kamu tidak mengatakannya sejak semula kepada papa? Walaupun papa sangat ingin kamu tinggal disini, tapi jika kamu memang sangat tidak bahagia dan tersiksa karenanya, papa tidak akan memaksamu .. perlu kamu ketahui, kamu merupakan satu-satunya milik papa dan mama yang paling berharga .. kebahagiaanmu merupakan hal yang paling penting bagi kami ..."

"Papaaa..."

Saat itu juga pertahananku roboh. Aku menjatuhkan diri dalam pelukan papa. Airmata mengalir dengan deras dari mataku. Papa mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. Suara yang keluar dari mulutnya kemudian terasa lembut dan menenangkan.

"Anak bodoh ... lain kali jangan begitu lagi, jangan menyimpan apapun dalam hati, ingat, masalah apapun dapat diselesaikan bersama .. sudah jangan menanggis lagi.. hapus airmatamu.."

Aku tersenyum dan meraih saputangan yang disodorkan oleh papa. Kuhapus airmataku dengan perlahan, dengan isak tanggis yang tersisa.

"Terimakasih, pa .. dan maafkan saya karena harus meninggalkan papa ... saya berjanji akan selalu berhubungan dengan papa dan jika ada waktu saya akan mengunjungi papa disini ..."

Papa mengangguk dan tersenyum kepadaku. Aku tahu ada bayangan pahit dari balik senyumnya. Tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk itu. Aku harus melakukan semua ini, harus.. jika tidak, masalah yang terjadi antara aku dan Mino tidak akan terselesaikan. Dengan perlahan kualihkan pandanganku dari papa. Aku terkejut ketika pandangan Joongie yang tajam tertangkap oleh mataku. Tatapannya begitu dalam dan menusuk. Aku menjadi sadar bahwa dia mengetahui atau paling tidak bisa menebak semua kebohonganku.

Kuhembuskan nafas dengan berat, mataku terpejam, aku merasa semakin terpuruk. Nafasku sangat sesak. Duniaku terasa hancur.


*******************************


Aku memandangi telepon seluler berwarna putih yang berada dalam genggamanku dengan perasaan ragu-ragu. Hatiku memberontak antara menelepon atau tidak. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Hari ini saya tidak masuk kantor karena keadaanku yang masih lemah. Setelah terdiam dalam waktu yang cukup lama akhirnya aku mengambil tekad bulat.

Aku menekan beberapa tombol nomor yang dituju dan mendekatkan telepon seluler itu ke telinga kananku dengan bibir bawah yang digigit.

"Hallo ...", terdengar suara  Mino diseberang.
"Hallo.. Mino , apakah kamu bisa menjemputku sekarang?"
"Hyesun? sekarang? tapi saya ada rapat sebentar lagi .."
"Saya ingin bertemu denganmu ..."
"Hmmm ... ada apa? kedengarannya sangat serius ..."
"Tidak .. sebenarnya tidak ada yang serius ..hanya saja...saya...saya ingin bertemu denganmu.."
"Saat ini?"
"Ya, sekarang juga ... apakah kamu bisa datang sekarang juga?"
"Sebenarnya tidak bisa... tapi... untukmu apapun akan saya usahakan .. kamu tunggu saya .. apakah kamu ada di kantor sekarang?"
"Tidak! saya ada di rumah.."
"Apakah kamu sakit?"
"Tidak .. saya baik-baik saja.. saya hanya merasa sedikit capek sehingga harus beristirahat di rumah .. tapi sekarang saya merasa bosan .. kapan kamu akan tiba disini?
"Saya akan tiba setengah jam lagi dan kita akan makan siang bersama setelah itu.."
"Baiklah, saya tunggu ... bye..."

Aku memutuskan hubungan telepon dengan lesu. Sudah kulakukan, akhirnya aku benar-benar melakukannya. Sekarang tinggal menjalani akhir-akhir kebersamaan kami sebelum aku meninggalkan semuanya.


*******************************


Mino menjemputku tepat pada waktu yang dijanjikan. Aku kemudian memintanya membawaku ke restoran fast food yang kami kunjungi untuk pertama kalinya buat makan siang pada pertemuan kami yang keempat. Mino merasa heran dengan permintaanku yang aneh. Tapi melihat keseriusanku, dia memenuhi keinginanku itu tanpa bertanya lebih lanjut.
Disana kami memesan makanan yang sama. Semua itu mengingatkanku akan keisengannya yang pertama kali ketika dia mengakui aku sebagai pacarnya di hadapan dua adik kelas yang merayunya. Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Sikapnya selalu seenaknya saja. Ini yang membuatku kesal dan sekaligus cinta mati padanya.

"Mengapa kamu tersenyum seperti itu?", Mino memandangiku dengan senyum simpul tersungging di wajahnya.

Sepasang lesung pipi yang menghias wajahnya ketika tersenyum membuatnya semakin mengemaskan.

"Tidak ada apa-apa..", jawabku pendek.

Mino memandangiku dengan kening berkerut. Dia mungkin heran dengan tingkah lakuku yang tidak seperti biasanya hari ini.

"Ada sesuatu yang terjadi?"

"Tidak!", jawabku cepat.

Mino mengangguk. Dia tidak bertanya lebih lanjut walaupun dia tahu ada sesuatu yang mengelisahkanku.

"Saya hanya ingin kamu ketahui bahwa dulu kamu membawaku kesini dan memesan makanan yang sama seperti ini, saya sangat menyukainya.."

Mino tersenyum lagi ketika mendengar perkataanku. Dia kelihatan ingin mengatakan sesuatu akan tetapi aku mendahuluinya.

"Mino .. bisakah kamu membawaku ke suatu tempat?"

Keheranan tergambar di wajah Mino ketika mendengar permintaanku.

"Kemana?"

"Terserah .. kemanapun, saya akan ikut denganmu..", jawabku pelan.

Mino semakin tenggelam dalam ketidakmengertiannya ketika melihat sikapku. Tapi dia tetap tidak menanyakan masalah itu lebih lanjut. Sebenarnya ini juga yang membuat aku begitu tertarik kepadanya. Dia selalu tahu kapan aku benar-benar tidak berkeinginan untuk melakukan sesuatu. Setelah menghabiskan makanan yang kami pesan sepuluh menit kemudian, kami beranjak dari restoran fast food yang mulai ramai oleh orang-orang yang  berdatangan.


*************************


Mino membawaku ke suatu tempat yang benar-benar tidak pernah kubayangkan sebelumnya, setelah acara makan siang itu. Dia tidak mengajakku nonton film, tidak mengajakku melihatnya bermain iceskating seperti kencan kami yang pertama, tidak juga membawaku ke tempat-tempat terkenal lainnya di Korea. Sebenarnya ketika dia menanyakannya kepadaku, aku sudah sangat terkejut dan tertarik dengan tempat itu.

"Hmmm ... kamu tahu tidak kalau di sudut kota besar dan ramai ini terdapat sebuah danau kecil yang indah?", tanya Mino kepadaku beberapa saat yang lalu.

Aku memandanginya dengan mata terbuka lebar. Dia tertawa perlahan melihat tatapanku yang tidak percaya.

"He..he..he.. sebenarnya itu hanya sebuah danau kecil, bahkan sangat kecil untuk disebut sebagai danau, .. lebih..hmmm... lebih mirip sebuah kolam, tapi pemandangan disana benar-benar indah apalagi saat matahari terbenam... kamu akan melihat bagaimana sinar mentari senja yang lembut dan kekuningan itu menyirami bunga-bunga yang beraneka warna, rumput-rumput liar dan pepohonan yang tumbuh mengelilinginya itu akan membuatmu berasa di dunia lain.. tempat itu tidak begitu dikenal, tapi saya sangat menyukainya, itu merupakan tempat yang sering kudatangi setiap aku mempunyai masalah .."

Saat mendengar perkataan Mino, bayangan bukit kecil di desa Jeja langsung masuk ke dalam pikiranku. Dulu... di saat aku mendapat masalah yang tidak terselesaikan, aku selalu menenangkan diri di bukit kecil itu, dan tidak kusangka ternyata Mino juga mempunyai persamaan denganku dalam hal ini.

Sekarang kami berdua sudah berdiri di pinggir danau yang dimaksud. Pemandangan yang terhampar di depan kami sangat luar biasa. Mino tidak berbohong kepadaku. Walaupun saat ini hari masih siang, dan matahari bersinar dengan terik tapi justru itu memberikan nuansa yang lain dari danau itu.

Keadaan sekitar sangat sepi. Hanya ada dua pasang kekasih yang sedang duduk bermesraan di dua bangku berbeda yang tersedia di sana. Pasangan yang satu ada di posisi kiri kami dan pasangan yang lainnya lagi duduk agak di belakang kami.Aku menatap ke depan dengan mata tak berkedip. Banyak sekali masalah yang memasuki pikiranku saat ini. Kuhembuskan nafas dengan perlahan ketika Mino tiba-tiba memelukku dari belakang. Aku sangat terkejut, tapi dia tidak memberi kesempatan kepadaku untuk melepaskan diri. Dekapannya di pinggang dan pundakku semakin erat.

"Apakah kamu tahu bahwa yang paling membahagiakanku adalah mendekapmu seperti ini?", tanyanya dengan lembut.

Desahan nafasnya yang halus di antara leher dan telingaku membuatku sedikit merinding. Tanpa terasa dua butir air bening keluar dari mataku dan mengalir sepanjang pipiku. Dengan cepat kuhapus airmata yang mengalir keluar itu dengan tangan kananku. Aku tidak ingin Mino sampai melihat kesedihanku.

"Apakah kamu suka dengan tempat ini?", tanya Mino lagi dengan nada suara yang tidak berbeda.

Aku mengangguk. Mataku berkaca-kaca dan .. airmata yang kutahan dengan susah payah akhirnya tumpah lagi. Dengan segera kuangkat kedua tanganku, menghapus airmataku lagi.

Mino sudah ingin mengatakan sesuatu ketika aku membalikan badan dengan cepat dalam pelukannya, sehingga wajah kami saling berhadapan. Dia kelihatan agak terkejut melihat mataku yang sedikit memerah. Tapi, aku tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk bertanya lebih lanjut. Kuulurkan tanganku, memegang kerah kemejanya, dan menariknya sehingga wajahnya berada dekat dengan wajahku. Sebelum Mino hilang dari keterkejutannya, aku sudah menempelkan bibirku di bibirnya.

Mino terpaku di tempatnya, sepasang matanya terbelalak lebar menatap mataku yang masih terbuka. Aku tahu  hal ini sangat mengemparkan hatinya, karena tidak pernah sekalipun aku memulai tindakan yang seberani ini. Tapi.. aku sudah tidak perduli lagi. Ini akan merupakan kebersamaan kami yang terakhir kalinya. Besok pagi-pagi sekali aku sudah akan meninggalkan kota Seoul bersama paman dan bibi.

Dengan perlahan kututup mataku dan mulai melumat bibirnya. Beberapa saat aku tidak merasa balasan dari tindakanku itu. Mungkin Mino masih belum sadar dari keterkejutannya. Aku semakin mempercepat permainan bibirku di bibirnya. Sesaat kemudian aku mulai merasakan bibirnya mulai membalas lumatan-lumatanku yang semakin dalam. Kedua tangannya mendekapku dengan erat.

Kami berciuman lebih dari lima menit lamanya. Nafas kami masih memburu ketika kami melepaskan lumatan dari bibir kami masing-masing.

Mino membuka mulutnya lagi, seperti ingin mengatakan sesuatu ketika dia sudah berhasil mengendalikan pernafasannya. Tapi, aku mengeleng dengan cepat dan memeluknya dengan erat. Kusandarkan kepalaku di dadanya yang bidang, dan bisa kudengar dengan jelas degupan jantungnya yang kencang. Melihat tindakanku, Mino mengurungkan niatnya semula.
Kami terus berada dalam posisi yang sama selama setengah jam. Setelah itu Mino mengantarku pulang tanpa bertanya apa-apa lagi.


*********************


Aku sedang membereskan semua barang-barang dan menaruhnya ke dalam koper ketika Joongie memasuki kamarku, malam harinya.

"Noona benar-benar akan pergi?"

Pertanyaan Joongie tidak kujawab. Aku masih tetap sibuk dengan barang-barang yang berserakan di atas ranjang.

"Pasti ada sesuatu yang terjadi, kan?"

Aku segera menegakkan tubuhku yang agak membungkuk di atas ranjang dan berbalik kearah Joongie.

"Apakah ada bedanya? dari semula kita sudah menduganya, cepat atau lambat semua ini akan terjadi  juga .."

"Maksud noona... hubungan noona dan tuan muda Mino sudah diketahui oleh Mr dan Mrs. Lee?", tanya Joongie lagi.

Aku mengangguk. Dengan lesu, aku menjatuhkan diri di ranjang dan menutup mataku.

"Mereka melarangnya? ya ... tentu saja itu sudah kita duga dari semula .... dan karena itu noona harus pergi dari sini .. kalau begitu apakah saya perlu menemani noona?"

"Tidak!!! ... jangan lakukan itu !!!", teriakku cepat.

Joongie memandangiku. Dia kelihatan heran dengan sikapku. Tapi aku tidak mempedulikannya. Aku melanjutkan kembali kata-kataku dengan serius.

"Mino masih baru dalam pekerjaannya dan dia membutuhkan seseorang yang mampu menolongnya .. aku mempercayaimu .. jadi Joongie, kamu harus tetap tinggal disini ... dan kamu jangan khawatir dengan noona .. paman dan bibi akan menemaniku .."

Joongie ingin membantah, tapi aku segera mengangkat tanganku dan menunjuk kearah pintu sebagai tanda memintanya keluar dari kamarku. Joongie tidak bisa berbuat apa-apa melihat kekerasan sikapku. Dengan perlahan dia berjalan kearah pintu. Sekali lagi dia melirik kearahku ketika sudah sampai di ambang pintu. Dan karena aku masih tidak beraksi apa-apa, akhirnya dia menutup pintu yang ada di belakangnya secara perlahan.


****************************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun