Author Topic: September's blue : My Rainy Days ~CHP 5 Part (iii) FINAL~6 Feb'11  (Read 20543 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile



ADDITIONAL CAST :


Jerry Yan as dokter Kim Dae Won
 
"Karena itu tuan, kembalilah lain kali. Pada hari hujan!",, " ... Tuan!!"

Panggilan-panggilan tersebut semakin mengeras dan tepukan mendarat berulangkali di lengan kanan Jung-Min, menyadarkannya dari lamunan. Dengan cepat dia berpaling ke ibu muda dihadapannya.
"Mwo? Apa katamu?"

"Kataku. Datanglah lagi pada hari hujan ....", ulang wanita itu.

"Ohh .. ne .. ". Jung-Min mengangguk pelan. "Jadi .. agashi juga tidak tahu mengapa dia hanya keluar pada hari hujan?", tanya Jung-Min putus-asa. Dia tidak berharap banyak dari pertanyaan ini karena penjelasan yang diberikan wanita ini sudah sangat jelas.

"Ne .. "

"Dia sendirian sekarang?", pertanyaan ini seperti diajukan pada diri sendiri. Sangat pelan dan hanya berupa desahan.

"Mwo?". Mata ibu muda itu melebar kearahnya. "Apa yang tuan katakan tadi?"

"O aniyo .. ", Jung-Min tersenyum kaku. "Ghamsamida buat keterangannya, agashi .. "

"Sama-sama. Dan kalau saya boleh memperingati tuan, sebaiknya tuan jangan sekali-kali menginjakkan kaki ke dalam pondok itu.", perlahan perhatiannya terarah ke pintu kayu yang membatasi pandangan ke pondok yang dimaksud. "Everlasting! Nama yang bagus.  Kekal dan abadi. Tapi menjanjikan berjuta pengkhianatan dan penderitaan!  .. Mungkin itu juga arti dari nama itu yang sesungguhnya. Begitu kamu menginjakkan kaki di situ, kamu akan tinggal selamanya. Tidak dapat keluar lagi. ..", katanya pelan.


"Hah? Mwo?". Kedua mata Jung-Min melebar.

“A aniyo ..”, wanita itu langsung mengelengkan kepala sambil tersenyum lebar. “Lupakan perkataanku itu .. “

Jidat Jung-Min berkerut,. Apa sebenarnya yang dikatakan wanita ini tadi? Kata-katanya yang teramat pelan tersebut mengalun halus tanpa dapat ditangkap pendengarannya.

“Omma!! Bi lapar nih ..”. Anak kecil yang dari tadi sibuk dengan kegiatannya mengorek-ngorek lubang kecil di tanah dekat tangga batu mulai merengek ke ommanya sehingga membuat Jung-Min yang berniat bertanya lebih lanjut segera mengatup bibirnya rapat-rapat.

Bi berdiri dan menarik tangan ommanya, “Ayo pergi!! Tadi omma bilang mau makan sushi ..!!”, rengeknya lebih keras lagi.

“Iya iya .. “, jawab si ibu. Lalu dia berpaling pada Jung-Min, “Saya pergi dulu tuan, dan .. ingat apa yang saya katakan tadi .. “, pandangannya kembali diarahkan ke gerbang tua di depan, “ .. sedapat mungkin hindari …”

“OMMAAA!!!”, teriakkan Bi menghentikan perkataannya.

“Iya, iya, bersabarlah sebentar!!”, protes wanita tersebut. “O saya benar-benar harus pergi sekarang, kalau tidak anak ini bisa-bisa menghebohkan pemukiman sini dengan suaranya yang melebihi ledakan petasan.. “, katanya pada Jung-Min, “Permisi tuan .. “

Jung-Min menganggukan kepalanya, “Ne ..”

Bi dan ibunya meninggalkan Jung-Min seorang diri, masih dengan posisi terpaku menghadap pintu gerbang Everlasting.    

Setelah mengulangi usahanya mengetuk pintu tersebut beberapa kali dan tetap tidak memperoleh jawaban, akhirnya Jung-Min berlalu dengan putus asa.

------------------------------


prakkkk ....., suara kuas jatuh ke lantai.

Tubuh Jie-Ah perlahan-lahan tersungkur ke depan. Bergeser dari kursi pendek yang didudukinya dan tergolek lemah di lantai. Sepasang tangannya menekan erat bagian dada dan nafasnya terengah-engah. Matanya terasa berat dan mulai gelap. Sedangkan suara halus dari AC dalam kamar tersebut terdengar semakin samar, menjauh .. dan menjauh ... sampai lenyap sama sekali. Kegelapan menyelimuti sekelilingnya.

Tiba-tiba setitik sinar muncul dihadapan Jie-Ah. Titik itu semakin lama semakin besar, sehingga membentuk sebuah lingkaran cahaya yang sangat terang. Kening Jie-Ah berkenyit. "Apa itu? tidak, ... Siapa itu?".

Seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahun terbaring di lantai dengan mata terpejam. Gaun panjang warna putih lembut menyelimuti tubuh mungilnya.


Jie-Ah berusaha memicingkan mata ke depan. Tapi sepanjang matanya memandang yang didapati masih pemandangan yang sama. Lalu, samar-samar seberkas asap tipis melayang-layang di udara, dan mulai membentuk tiga sosok tubuh.

"Jie-Ah sayang, bangunlah. Jangan tidur di lantai sayang, nanti kamu sakit .. ", suara yang sangat lembut dan agak mengaung terdengar dari salah satu sosok yang sudah terbentuk menjadi seorang wanita berparas cantik.

"Bukalah matamu sayang ... ", sahut sosok satunya lagi. Suaranya agak sengau dan dalam. Suara yang begitu dikenalnya. Lalu seorang pria berbadan kekar mulai terbentuk.

"Dongseng-a ... ", sosok ketiga, seorang pemuda tampan berusia sekitar duapuluh tahun, berjongkok dihadapan gadis kecil itu sambil tersenyum manis, "Lihat apa yang oppa bawa untukmu?!", tangannya yang memegang sesuatu terjulur ke depan, "Boneka yang oppa janjikan dulu ... "

Gadis kecil itu bergerak perlahan. Tangan mungilnya meraih boneka tersebut. "Hwan oppa ...", panggilnya lemah. "Sa .. saya .. ingin ikut kalian. Bawa saya pergi ... "

"Tidak sayang. Buka matamu sekarang juga! Jangan tidur lagi anak malas .. ", perintah si sosok wanita.

Gadis kecil itu mengeleng keras-keras. "TIDAKK!!!"

Jie-Ah tersentak bangun. Sepasang matanya terbelalak lebar-lebar. Sebuah kekuatan, entah dari mana, mendorongnya keluar dari alam bawah sadar dengan daya luar biasa. Sekuat tenaga Jie-Ah menarik nafas dalam-dalam, berusaha memenuhi paru-parunya dengan udara yang sudah hampir habis.


Setelah agak tenang, dia berdiri dari lantai. Dengan sempoyongan dia berjalan ke meja panjang di tengah ruangan dan mengambil kotak kecil berisi pil yang terletak di sana.

Tergesa dia menuang pil-pil tersebut ke tangan dan membawanya ke mulut, setelah itu dia menelannya. Habis itu dia baru menuang segelas air dan meneguknya sampai habis.

Jie-Ah menjatuhkan diri ke kursi kayu di samping meja. Nafasnya masih tidak teratur dan wajahnya terlihat pucat. Dia memperhatikan dengan seksama kotak kecil yang sudah kosong dalam genggamannya. "Pil-pil terakhir .. ", gumam Jie-Ah halus.

Air bening kembali mengalir dari pelupuk matanya. "Omma, appa .. Hwan oppa, mengapa kalian membiarkanku seorang diri di dunia ini? Mengapa tidak mengijinkanku pergi bersama kalian? Mengapa? Huhh ... huhhh ... ". Perlahan, dia menelungkup ke meja. Dan untuk pertama kali seumur hidupnya, Jie-Ah menanggis tersedu-sedu. Meratapi nasibnya yang sebatang kara dan hidup dari ketergantungan pada obat-obatan yang sangat dibencinya.

------------------------------


“SAYA INGIN KETEMU MIN OPPA!!”

“TIDAK BISA HYE-MI A. JUNG-MIN SEKARANG SEDANG SIBUK!!”

“ …………….”

“ …………………”

Alis Jung-Min berkenyit. Keributan-keributan di luar ruangan mulai mengusik ketenangannya.


Kemudian …

BRAKKK …………, pintu ruang kantornya yang tidak dikunci didobrak dari luar.

Jung-Min mengangkat wajah dari sketsa-sketsa di meja dan mengarahkan pandangan ke pintu.

“Min oppa!!!”. Jung Hye-Mi, adik angkatnya, berlari kearahnya dengan diikuti Seung-Gi dari belakang. “Mengapa oppa pindah keluar? Dan mengapa message-message dari saya tidak oppa balas? Oppa menghindariku ya?”, tanya Hye-Mi bertubi-tubi.

Jung-Min melirik Seung-Gi dengan pandangan bertanya. Dia berusaha meminta penjelasan lewat pandangannya, mengapa Seung-Gi sampai membiarkan Hye-Mi memasuki ruang kantornya. Yang dilirik hanya bisa mengangkat tangan pasrah. Jung-Min menghembuskan nafas perlahan. Seung-Gi tidak bisa disalahkan, karena sejak dulu titik kelemahannya adalah Hye-Mi. Jika sudah berhadapan dengan adik angkatnya ini, jawabannya selalu boleh, iya, tidak boleh tidak, dan tidak akan tidak.

“Oppa!! Saya bertanya padamu??!!!”, suara cempreng Hye-Mi mengema lagi.

Jung-Min meletakkan pensil di tangannya, kemudian mulai merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja. “Kamu sudah dewasa, Hye-Mi a. Bisakah kamu tidak mengikuti oppa terus?”, kata Jung-Min, tanpa mengalihkan perhatian dari kesibukkannya.

“Antwe!!!”, jawab Hye-Mi keras. “Saya ingin berada di sisi oppa terus. Lagipula oppa sudah berjanji akan menjaga Hye-Mi terus .. “

Jung-Min menghentikan kesibukkannya. Digesernya tumpukan kertas yang sudah sebagian tersusun rapi ke sudut kanan meja, kemudian berdiri dari kursinya. Dia memutari meja dan berhenti tepat di hadapan Hye-Mi. Tubuhnya menyandar ke sisi meja dengan sepasang tangan terlipat di depan dada. Dia menatap lekat ke mata Hye-Mi.


“Oppa akan selalu menjagamu Hye-Mi a. Jika kamu memerlukan bantuan oppa, dalam keadaan apa dan bagaimanapun, oppa akan selalu ada untukmu, tapi bukan dalam arti .. seorang pria terhadap seorang wanita. Lebih menjurus ke hubungan oppa dan dongseng, araso?”

Hye-Mi tidak mampu menjawab. Sepasang matanya mulai memerah.

“Lagian, daripada mengikuti oppa terus, mengapa kamu tidak mencari pekerjaan saja? Sudah lebih dari dua bulan kamu tamat kuliah kan?”, Jung-Min buru-buru mengalihkan pembicaraan kearah lain begitu melihat air bening sudah menari-nari di pelupuk mata Hye-Mi.

“Saya sudah memikirkannya. Saya akan bekerja pada oppa. Di sini!!”, jawab Hye-Mi cepat.

“He .. he … “, Jung-Min tertawa perlahan, “ .. dan apa yang kamu bisa? Mengambar kotak dan garis?”

“OPPA!!!”, teriak Hye-Mi kesal.

“Oppa serius!! Pekerjaan ini tidak cocok untukmu ..”. Jung-Min berbalik ke meja kerjanya dan kembali menghadapi tumpukan sketsa-sketsa yang belum selesai. “Banyak yang harus oppa kerjakan jadi saya harap kamu bisa keluar sekarang .. “

“Oppa??!!”, protes Hye-Mi.

Tapi Jung-Min sudah tidak memperdulikannya lagi. Dia sudah tenggelam dalam dunianya sendiri. Dunia khayal yang berisi pribadi-pribadi maya yang tergores dari keterampilan tangannya.

“Op … “, perkataan Hye-Mi terpotong oleh tarikan Seung-Gi di lengannya.

Hye-Mi segera berpaling pada Seung-Gi. Dahinya berkenyit, dan dia sudah bermaksud mengeluarkan suara ketika Seung-Gi mengelengkan kepala perlahan. Sekali lagi Seung-Gi menarik lengannya.
“Ayo keluar ..”, bisik Seung-Gi halus.

Hye-Mi membuka mulut, ingin membantah lagi, tapi tatapan Seung-Gi akhirnya membuatnya menurut. Tanpa menimbulkan suara, mereka meninggalkan Jung-Min berkutat dengan dunianya.

“Mengapa oppa mencegahku memaksa Min oppa untuk mempekerjakanku di sini?”. Hye-Mi bersungut-sungut ketika berada di luar kantor Jung-Min.

“Kamu serius?”, tanya Seung-Gi tidak percaya, “Saya mengira itu hanya senjatamu untuk membuat Jung-Min pulang ke rumah ..”

“Tentu saja bukan!!”, jawab Hye-Mi tegas, “Saya sangat serius! Saya butuh pekerjaan dan jalan terbaik supaya bisa dekat dengan oppa adalah bekerja di sini .. “


“Tapi ..”, agak ragu-ragu Seung-Gi meneruskan perkataannya, “ .. benar kata Jung-Min. Apa yang kamu ketahui tentang gambar-mengambar dan sketsa-sketsa manga?”

“Oppa!!”, teriak Hye-Mi kesal, “Saya kan tidak bilang menjadi seorang penulis manga seperti oppa. Saya bisa menjadi sekretaris atau asisten oppa .. “

“Jung-Min tidak memerlukan sekretaris ataupun asisten, Hye-Mi a. Begitu juga kami. Ini hanya kantor kecil dan kami bisa melakukan segala sesuatunya sendiri .. “, jelas Seung-Gi sambil tersenyum.

Hye-Mi kehilangan kata-katanya. Dia bermaksud membantah lagi, seperti yang sering dilakukannya, tapi kali ini dia benar-benar terpepet. Dia tidak punya alasan yang kuat untuk memprotes atau memaksa.

“Kalau begitu saya permisi sekarang oppa ..”, akhirnya hanya keputusan itu yang bisa diambilnya. Meninggalkan kantor ‘Sketch Your Dream’ dengan hati terpaksa.

----------------------------------


Sebuah BMW perak berhenti tepat di depan pintu gerbang Everlasting. Pintu mobil dibuka dan seorang pria bertubuh kekar berusia sekitar 27 tahun turun dari mobil. Dia mengedarkan pandangan berkeliling, kemudian perhatiannya jatuh ke pintu gerbang dari kayu tua yang masih terlihat kokoh itu.

Pria tersebut melangkahkan kakinya, mendekati pintu gerbang. Setelah menaiki tangga pendek dari bata yang membatasi Everlasting dan jalan tanah, dia berhenti. Beberapa saat dia mengamati kertas kecil dalam tangannya. Kemudian mengangkat wajah dan menatap lurus ke pintu gerbang.
"Benar di sini ...", gumamnya.

Lalu dia meraih pengangan pintu dari besi dan mengetokkannya.

tok ... tok ....  tok ...., tidak ada reaksi. Dia menunggu sebentar kemudian mengulanginya lagi.

tok ... tok .... tok ..... Dia berhenti. Memasang telinga dan mendengarkan dengan seksama. Tidak ada bunyi sedikitpun.

Pemuda itu mendesah perlahan. Mengamati lagi alamat yang tertulis di kertas kecil dalam tangannya. Setelah itu mengulangi kembali apa yang dilakukannya tadi.

tok .. tok ... tok ... tok ......, begitu, berulangkali ....

Lima menit kemudian, pria itu menghentikan perbuatannya. Dia menunggu tapi tetap tidak ada orang membukakan pintu itu. Setelah berpikir beberapa saat, dia berbalik ke mobilnya. Membuka pintu, mengambil kertas dan pen dari jok depan. Kemudian menuliskan sesuatu di sana.



Tuan dan nyonya Goo,

Saya tidak tahu mengapa kalian tidak membawa Goo Jie-Ah ssi memeriksakan diri sesuai dengan jadwal yang sudah dijanjikan seminggu yang lalu. Mungkin anda terlalu sibuk, atau mungkin ada kegiatan lain. Sesungguhnya saya tidak mengerti. Biasanya kalian sangat memperhatikan penyakitnya.

Tapi apapun alasannya, saya harus minta maaf atas kelancangan saya kemari. Mulai besok saya akan berada di luar kota selama seminggu, dan saya tahu persediaan obat Jie-Ah ssi sudah habis dan karena setelah menunggu selama satu minggu kalian belum datang juga jadi saya memberanikan diri membawa obat-obatan yang diperlukan putri anda. Pil-pil ini berbeda dari pil-pil yang biasa dikonsumsinya. Ini obat baru dan saya berharap bisa memberi dampak yang lebih baik bagi penyakit Jie-Ah ssi.

Selama saya tidak ada, kasus Jie-Ah ssi akan ditangani dokter Song. Saya sudah menjelaskan secara terperinci segala gejala penyakitnya pada dokter Song jadi kalian tidak perlu khawatir. Ingat, Jie-Ah ssi mesti menghindari udara panas, begitu juga suhu yang terlalu beku. Jaga temperatur antara 13 sampai 20 derajat celcius. Jika ada pertanyaan lanjut, anda bisa menghubungi saya di nomor +37784112499.

Salam,
Dokter Kim Dae Won.

Pemuda yang rupanya dokter pribadi Jie-Ah, bernama Kim Dae Won, memperhatikan beberapa lama kata-kata yang baru selesai ditulisnya. Setelah itu dia mengambil sebuah bungkusan dari jok belakang, lalu keluar dari mobil. Dia berjalan kearah pintu gerbang itu lagi dan membuka kawat pengait sebuah kotak surat kecil yang terdapat di pilar paling pinggir, sebelah kiri pintu gerbang kemudian memasukkan bungkusan dan kertas di tangannya ke dalam kotak. Setelah itu dia menutup kembali kotak surat tersebut. Beberapa menit dia berdiri termangu di situ. Berharap-harap cemas seseorang akan membukakan pintu baginya. Tapi lima menit berlalu sudah dan hanya keheningan menyelimuti pemukiman kuno yang jarang penduduknya itu.

Dae Won kemudian berbalik ke BMW peraknya. Tidak berapa lama, mesin mobil dihidupkan. Setelah meraung-raung sebentar mobil itu bergerak perlahan, melindas jalan tanah berkerikil yang sudah sangat kering akibat terjemur sinar matahari selama seminggu terakhir.

------------------------------------


Jung-Min mengalihkan perhatian dari kesibukan di meja kerja ke jendela-jendela kaca di depan. Sesuatu di luar sana menarik perhatiannya. Garis-garis air dan rintik-rintik halus mulai mengalir turun dari deretan jendela tersebut. Semakin lama semakin lebat dan membentuk riakan-riakan ombak kecil.


Jung-Min tersenyum perlahan. Dengan segera dia berdiri dari kursi dan berjalan kearah Seung-Gi.

“Hyung, pinjam payungnya .. “

Jung-Min meraih payung yang bersandar di meja kerja Seung-Gi dan berjalan ke pintu.

“Pa .. payung?”. Seung-Gi tersentak kaget. Payung? Apa tidak salah? Benarkah yang berdiri dihadapannya tadi Lee Jung Min? Pinjam payung padanya? “Heyy kamu mau kemana?”

“Saya ada keperluan mendadak ..”, jawab Jung-Min dari ambang pintu.

“Di luar sedang hujan deras lho .. “.

Perkataan Seung-Gi mengantung di udara karena Jung-Min sudah lenyap dari pandangannya.

“Jung-Min keluar saat hujan dan .. membawa payung? Aneh sekali!! Apa anak itu salah minum obat ya??”, Seung-Gi mengeleng-gelengkan kepalanya.

-----------------------------
« Last Edit: July 12, 2010, 05:09:57 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun