Author Topic: THE SARANG  (Read 7939 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #45 on: June 16, 2010, 08:14:04 am »
CHAPTER 17

 

Sebulan kemudian ...
Mino duduk di ranjang dengan posisi menghadap kearahku. Kedua tangannya memegang kaos bagian depan yang dikenakannya, yang tergulung sampai ke dada. Aku sedang memeriksa luka di bagian perutnya dengan teliti. Seperti kata dokter Hyunbin, luka itu sudah sembuh total dan aku sangat bahagia melihatnya. Tapi ada satu yang kusesalkan. Luka itu telah meninggalkan bekas yang sangat panjang di bagian pingang sampai bagian tengah perutnya. Aku sedang sibuk dengan kegiatan itu sehingga tidak sadar kalau Mino memperhatikanku sejak tadi. Kepalanya tertunduk dan matanya tertuju ke wajahku. Suara hembusan nafasnya yang berat membuatku mendongak.

"Apakah .. kamu masih merasa sakit ..?", tanyaku cemas.

Mino mengeleng perlahan. Pandangannya yang tajam masih terarah kepadaku.

"Kemana kalung yang kuberikan kepadamu dua minggu yang lalu? .... Mengapa kamu tidak memakainya?", tanya Mino dengan sinar mata yang mulai meredup.

Aku langsung terpaku mendengar pertanyaan itu. Sepasang tanganku yang masih bertumpu di pahanya mulai basah oleh keringat. Sedangkan mataku tidak sanggup untuk membalas tatapannya. Aku menjadi salah tingkah.

"Itu ... itu .. saya taruh .. di .. kamar ..", jawabku gugup.

"Kamu tidak menyukainya?", tanya Mino lagi.

"Tidak!! .. bukan ... hmmm ... bukan itu maksudku .. aku takut menghilangkannya .. kalau .. kalau sampai hal itu terjadi .. kamu .. pasti akan membunuhku ...", jawabku terpatah-patah tapi dengan maksud serius.

Mino terdiam sejenak. Wajahnya mulai terlihat ceria setelah mendengar jawabanku. Aku tidak mengerti mengapa bisa begitu. Jawaban yang kuberikan bukanlah jawaban yang menyenangkan tapi dia terlihat bahagia begitu mendengarnya.

"Sebenarnya kamu tidak perlu berbuat begitu .. kalung itu hanya kalung biasa .. saya tidak akan membunuhmu jika kamu sampai menghilangkannya ...ha ..ha.."

Aku semakin binggung ketika melihat Mino tertawa terbahak-bahak sehabis mengatakan perkataan itu. Keningku berkerut. Aku mulai merasa kesal kepadanya. Melihat perubahan wajahku, Mino sadar bahwa yang dikatakannya telah menyulut api kemarahanku. Dengan segera dia berpaling kearah lain dan mengalihkan pembicaraan ke masalah yang lain.

"Besok saya akan bekerja kembali .."

"Saya tahu itu ..", jawabku pendek.

Mino menoleh lagi kearahku ketika mendengar jawabanku yang tidak bersemangat. Dari raut wajahku dia tahu bahwa aku masih kesal kepadanya.

"Jadi .. karena itu pula sudah saatnya saya mengajukan permintaan kedua ..", kata Mino kemudian sambil menatap lekat ke mataku.

Mendadak kecemasan merasuki hatiku. Apa yang akan dikatakannya?, apa pula yang diinginkannya?, pasti tidak ada yang benar ....Pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti bermain dalam pikiranku.

"Apaaa ... apa yang ingin kamu lakukan sekarang ?", tanyaku curiga.

"Berhentilah dari pekerjaanmu dan pindahlah ke LKH Group sebagai sekretaris pribadiku ..", jawab Mino tenang seakan menjawab semua pertanyaan dalam pikiranku.
 
"Apaaaaa ...?"
 
Mataku terbelalak lebar. Aku sangat terkejut mendengar permintaan keduanya itu. Berpuluh-puluh bintang tiba-tiba berputar-putar dan menari-nari dalam kepalaku. Mataku agak berkunang-kunang. Kupertajam pendengaranku, takut kalau yang kudengar itu hanya halusinasi saja. Tapi melihat keseriusan tampang Mino, aku yakin bahwa tidak ada yang salah dengan indra pendengarku itu.
 
"Tidak bisa begitu ... masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan di Goo Group .. lagipula papa tidak akan mengijinkannya ...", teriakku sengit.
 
Mino tidak mempedulikan reaksiku yang luar biasa itu. Melihat bantahanku tampangnya langsung cemberut dengan bibir yang agak dimonyongkan. Dia tetap berkeras dengan keinginannya.
 
"Mengapa tidak bisa? kamu sudah berjanji untuk memenuhi tiga permintaanku ...", katanya dengan nada memaksa.
 
Aku terdiam sejenak. Perkataannya ada benarnya, tapi aku tetap tidak mau mengalah begitu saja.
 
"Kamu ajukan permintaan yang lain saja ... pokoknya yang ini tidak bisa!!"
 
"Saya tidak mau permintaan yang lain .. sekarang saja kita sudah jarang bertemu, apalagi kalau saya sampai bekerja lagi .. jadi kamu harus bekerja di perusahaan yang sama denganku ...", Mino berkeras dengan permintaannya.
 
Penjelasan Mino membuatku terpaku. Apakah hanya perasaanku saja, ataukah .. memang benar dia masih menginginkan aku terus berada di sisinya? Dipandang seperti itu olehku, Mino menjadi serba salah. Mendadak dia sadar bahwa dia telah keceplosan dalam perkataannya.
 
"Apapun .. apapun .. alasannya .. yang jelas kamu harus memenuhi permintaanku .. kamu sudah berjanji untuk itu .. kamu tidak bermaksud mengingkarinya, kan?", kata Mino gelisah. Dia berusaha menutupi kesalahannya tadi.
 
Mendengar pertanyaannya itu, gantian aku yang menjadi salah tingkah.
 
"Tentu saja saya tidak akan mengingkarinya .. tapi, permintaan yang satu ini ...", perkataanku terputus oleh sinar mata yang menyorot tajam dari Mino.
 
"Tapi apa ? .. jika kamu tidak mau melakukannya tetap saja menghindar namanya .."
 
Suara Mino mulai mengeras. Dia tidak akan menyerah. Aku tahu itu. Aku terlalu mengenalnya. Kalau dia sudah seperti ini, tidak ada seorangpun yang dapat mencegah keinginannya.
 
"Huhhhh .. huhhhh ... araso ..... saya ... saya akan mencoba membicarakannya dengan papa ..", jawabku, akhirnya menyerah juga.
 
Mino langsung tersenyum. Sudut bibirnya tertarik keatas sehingga memunculkan sepasang pipi yang dalam di pipinya yang terpahat sempurna. Aku tidak bergerak di tempat. Hatiku masih kesal. Tapi ketika mataku melirik kearahnya dan melihat senyumnya, entah mengapa, ada perasaan sejuk yang merambat  masuk kedalam hatiku.
 

***************

 
Papa memandangiku dengan tampang berkerut. Aku baru saja mengajukan permintaan untuk pindah ke LKH Group kepadanya. Papa tidak setuju dengan tindakanku itu, begitu juga dengan Mrs. Goo. Menurut papa, aku sudah melakukan apa yang terbaik dan itu sudah lebih dari cukup. Tapi aku tetap berkeras. Janjiku kepada Mino tidak bisa kuingkari. Aku tidak ingin menjadi orang yang tidak bertanggungjawab.
 
"Kamu masih kukuh dengan pendirianmu?", tanya papa dengan nada tajam.
 
Aku mengangguk perlahan, tidak berani membalas pandangan papa. Aku merasa bersalah. Keegoisanku tentu akan menimbulkan sedikit kesulitan kepadanya.
 
"Jadi apapun kata papa, tidak ada gunanya?", tanya papa lagi. Keputusasaan mulai terdengar dari suaranya.
 
"Miane .. appa ..", jawabku dengan penyesalan yang mendalam.
 
Papa menghembuskan nafas panjang. Kepalanya digelengkan perlahan. Beliau memahami kalau aku sudah memutuskan sesuatu pasti tidak bisa diganggugugat. Melihat tampangku yang memelas, hatinya juga tidak tega.
 
"Baiklah .. papa tidak akan mendesakmu lagi .. kamu pasti sudah pusing dengan semua masalah Mino ... "
 
Perkataan papa yang lembut membuatku mengalihkan pandangan kearahnya. Mata papa memancarkan sinar kasih sayang. Hatiku terasa tenang melihatnya. Perlahan aku menghampiri beliau dan menyentuh tangannya.
 
"Gumawo appa ..... "
 
"Anak bodoh ... papa akan mendukungmu .. apapun yang kamu lakukan, papa akan selalu berada di pihakmu .."
 
Papa tersenyum lembut. Tangannya terangkat dan menyentuh rambutku. Mataku terpejam perlahan. Kusandarkan kepalaku didada beliau yang masih bidang.
Mrs. Goo yang sejak tadi tidak mengeluarkan suaranya ikut tersenyum bahagia melihat kedekatanku dan papa. Hari ini merupakan hari yang paling membahagiakan bagiku setelah semua peristiwa tidak menyenangkan yang aku alami selama ini.
 

******************

 
Tangan Soeun yang mengenggam ponsel bergetar hebat. Wajahnya sedikit pucat. Dia baru saja mendapat telepon dari mamanya yang ada di Australia. Papa dan mamanya menginginkan dia pulang ke Australia dan melanjutkan kuliah semestar akhirnya disana setelah mengetahui kegagalan pertunangannya dengan Mino.  Hati Soeun sangat kacau. Ada sesuatu yang menganjal di hatinya. Hal ini sudah diduganya semula. Tapi tetap saja dia merasa tidak rela. Mengapa bisa begitu? Perlahan tapi pasti bayangan Joongie muncul dalam pikirannya.
 
Soeun menatap ponsel yang masih tergenggam dalam tangannya. Dia memencet beberapa nomor, tapi kemudian keraguan menghinggapinya. Apakah pantas jika dia melakukan ini? Untuk beberapa lama dia terdiam di tempat dengan nomor telepon yang setengah terpencet di ponselnya. Lima menit berlalu setelah dia mengambil keputusan nekat itu. Soeun melanjutkan memencet nomor telepon yang tersisa, kemudian mendekatkan ponsel itu di telinganya. Suara telepon yang terhubung terdengar.
 
"Yeoboseyo ...", suara Joongie terdengar dari seberang.
 
"Joong .....", Soeun memulai dengan ragu.
 
"Ya ... oh, nona ? .. ada apa?"
 
"Ada yang ingin saya bicarakan .... bisakah ... bisakah kita makan siang bersama ?", tanya Soeun serba salah.
 
"Hmmm .... baiklah ... apakah kamu perlu saya jemput?", tanya Joongie.
 
"Ya, kamu dapat menjemputku jam 12 siang nanti ....", jawab Soeun. Dia agak heran dengan Joongie yang segera memenuhi permintaannya.
 
"Ok, saya jemput nanti .. sudah ya, saya sibuk sekarang ..", Joongie memutuskan pembicaraan mereka dengan segera.
 
"Ok, bye .. hei joong ... hello? Joong .... ", Soeun berteriak ketika sadar dia belum memutuskan restoran mana yang akan dijadikannya tempat makan siang oleh mereka,  tapi Joongie sudah menghilang dari sambungan telepon.
 
"Dasarrrrrrrrr ......". Dengan kesal Soeun melempar ponsel dalam genggamannya ke atas ranjang.
 

*****************

 
Restoran Cina dengan dekorasi klasik itu menimbulkan perasaan tenang dan nyaman bagi siapa saja yang makan di sana. Soeun dan Joongie sedang menikmati makan siang mereka di salah satu meja di pojok ruangan dekat jendela yang terdiri dari kaca dengan bingkai yang terbuat dari kayu berwarna merah tua yang terpahat bunga teratai. Mereka makan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Joongie sedang menunggu Soeun mengutarakan maksud dari permintaan makan siangnya hari ini. Tapi Soeun tidak mengatakan apapun. Dia terus dengan kesibukannya menghabiskan makanan yang ada di atas meja.
 
"Hei, nona ... apakah kamu sudah dapat mengutarakan maksudmu dari makan siang ini sekarang? Jangan hanya asyik dengan makanan-makanan ini ..."
 
Akhirnya Joongie yang tidak sabar terlebih dahulu. Pertanyaannya meluncur begitu saja tanpa dapat dicegahnya. Soeun mengangkat wajah dari makanan yang ada di depannya. Ditatapnya Joongie dengan pandangan sendu. Joongie agak terkejut melihat sinar mata Soeun. Mulutnya langsung terkatup rapat.
 
"Kamu selalu tidak sabar menghadapiku ya, Joong? .... dan .. bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan nona? .... saya tidak suka mendengarnya ..", suara Soeun terdengar sedikit serak.
 
Joongie menjadi serba salah menghadapi sikap Soeun yang tidak biasanya. Ditatapnya Soeun dengan pandangan bertanya.
 
"Saya .. tidak bermaksud begitu .. kamu jangan salah paham ... hmmm dan soal panggilan itu ... saya memanggilmu nona karena saya hormat kepadamu .."
 
Soeun mengeleng cepat. Dia menjadi agak emosi mendengar jawaban Joongie.
 
"Saya tidak memerlukan sikap hormat darimu  .... yang saya inginkan kita dapat berteman dengan perasaan bebas, tanpa ada perasaan sungkan dan segan  ... saya ingin kamu memanggilku dengan panggilan yang lebih akrab supaya hubungan kita bisa lebih baik dari sekarang .."
 
Joongie tertegun. Dia tidak menyangka gadis di depannya ini dapat mengeluarkan perkataan sebebas itu.
 
"Lalu .. kamu ingin saya memanggilmu dengan sebutan apa?", tanyanya ingin tahu.
 
"Eun Eun!! ... sudah lama saya ingin ada orang yang memanggilku Eun Eun ...", jawab Soeun ceria.
 
"Omong kosong!!! ", teriak Joongie cepat, kemudian melanjutkan lagi perkataannya dengan keras ,"Panggilan itu terlalu kekanak-kanakan dan .. jangan berharap saya akan melakukannya ... saya tidak ingin ditertawakan oleh orang lain..."
 
Soeun langsung cemberut. Kekecewaan terbayang jelas dari wajahnya.
 
"Kenapa tidak bisa? ... untuk terakhir kalinya, kenapa kamu tidak bisa melakukannya untukku?", tanya Soeun dengan mata yang mulai terlapis air.
 
"Terakhir kalinya? apa maksudmu?", tanya Joongie kaget. Matanya terbelalak lebar. Dia mengira telah salah dengar.
 
"Ya, terakhir kalinya .. karena saya akan kembali ke Australia dan meneruskan kuliahku di sana ... saya ... saya tidak akan pulang ke Korea lagi .. kecuali kalau ada libur ......", jawab Soeun dengan mata berkaca-kaca.
 
Joongie terdiam. Tubuhnya terhenyak di kursi yang di dudukinya. Matanya terpejam. Tapi, itu hanya sesaat. Waktu selanjutnya dia sudah bisa mengendalikan dirinya dari keterkejutannya tadi.
 
"Kapan kamu akan berangkat?", tanyanya pelan.
 
"Dua hari lagi ...", jawab Soeun dengan dua butir airmata yang mengalir keluar dari matanya.
 
Joongie mengangguk. Dia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dia mulai melanjutkan makan siangnya tanpa memandang ke Soeun. Dia tidak menyadari bahwa Soeun terus memperhatikannya dengan perasaan berharap. Ya, berharap satu perkataan darinya. Berharap kata "tinggallah" terucap dari bibirnya. Tapi Joongie tidak mengucapkannya. Dia terus saja sibuk menghabiskan makanannya. Setelah selesai, dia berteriak ke seorang pelayan dan membayar bon yang disodorkan pelayan itu kepadanya.
 
Joongie masih tidak mengeluarkan suara ketika dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari restoran Cina itu. Soeun mengikutinya dari belakang dengan perasaan hancur. Dia tidak menanyakan apa-apa lagi kepada Joongie. Semuanya sudah jelas baginya. Joongie tidak mengingikannya tinggal dan dia harus meninggalkan semuanya, rela atau tidak rela hubungannya dengan Joongie tidak akan berjalan ke tingkat yang lebih lanjut.
 

*******************

 
Dua hari kemudian Soeun berangkat ke Australia dengan diantar oleh aku, Mino, papa dan Mrs. Goo. Aku sudah menelepon Joongie tapi dia tidak datang. Joongie bilang terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Dia baru saja bekerja untuk Mr. Lee dan dia ingin melakukan yang terbaik. Tapi Mr. Lee tidak berkata demikian. Hari ini jadwal kerja Mr. Lee sedikit jadi tidak mungkin kalau Joongie sesibuk itu.
 
Soeun tertunduk selama perjalanan dari rumah sampai bandara. Hatinya sangat sedih. Dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Wajahnya sudah pucat dari tadi pagi. Aku memperhatikannya dengan seksama. Tentu ada sesuatu yang terjadi. Aku menanyakannya tapi Soeun tidak mau menjawab. Pasti semua itu ada hubungannya dengan ketidakhadiran Joongie. Ada sesuatu yang terjadi dengan mereka. Aku membisikkan itu ke telinga Mino dan Mino sependapat denganku.
 
Setelah menunggu selama setengah jam akhirnya Soeun memasuki gate dengan gontai. Kami semua melambai kearahnya. Soeun berbalik dan membalas lambaian kami tanpa senyuman di bibir. Kemudian dia menghilang di balik tikungan pintu gerbang. Aku dan Mino saling berpandangan sambil mengelengkan kepala. ~masalah sendiri aja belum beres, sempat2nya memusingkan masalah orang lain hehehe ..   
 

*********************

 
Selama menjadi sekretaris Mino selama dua minggu ini hubungan kami sedikit berubah. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak mempunyai waktu untuk mempermainkanku. Kehidupanku menjadi lebih tenang dalam dua minggu terakhir. Hubunganku dengan Mino lebih mirip hubungan seorang majikan dengan bawahannya dan aku menyukai ikatan ini. Walaupun biasa tapi setidaknya kami tidak bertengkar lagi.

Minggu lalu kami mendapat kabar bahwa anak perusahaan di New York mendapat sedikit masalah. Para investor yang ada di sana sudah datang kemari dan sudah beberapa kali pembahasan kami lakukan, tapi pemecahan masalah itu belum kami temukan. Mino sangat dipusingkan dengan masalah ini. Dia sering pulang larut malam karena itu. Semua tanggungjawab perusahaan di New York sekarang sudah sepenuhnya berada di dalam tangannya.

Malam itu, malam minggu, aku baru saja pulang dari makan malam dengan papa, Mrs. Goo dan Joongie. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku memasuki kamar dan merebahkan tubuh ke atas ranjang. Badanku terasa capek. Tapi karena aku belum membersihkan diri, maka dengan perlahan aku bergerak dari ranjang. Baru saja aku bermaksud bangun dari tempatku, Mino sudah memasuki kamar dan berjalan kearahku. Dia meraih tanganku dan berkata dengan serius.

"Saya memerlukanmu sekarang juga !!"

Aku melongo di tempat. Seperti orang bodoh aku menatapnya. Mataku melebar dan mulutku terbuka.

"Apa ....?" tanyaku gugup.

"Ikut saya ....". Mino menarik tanganku yang masih dipegangnya sejak tadi.

Aku ingin membantah, tapi tarikannya terlalu kuat. Aku tersentak bangun dari ranjang dan terseret di belakangnya. Mino terus menarikku hingga masuk ke kamarnya yang ada di sebelah. Aku tertegun setelah sampai di sana. Pakaian-pakaian Mino berserakan di atas ranjang. Sebuah koper besar juga tertaruh di sana.

"Yaa ada apa ini? .. habis berperang ya?", tanyaku heran.

"Saya berusaha melakukannya sendiri tapi saya menemui kesulitan untuk memasukan semua pakaian itu ke dalam koper ..", jawab Mino polos.

"Kamu mau berpergian?", tanyaku lagi.

"Tidak  ... bukan seperti perkiraanmu ... saya akan berangkat ke New York besok .. pemogokan karyawan dan investasi yang bermasalah masih belum terselesaikan dan saya harus terbang ke sana untuk membereskan semuanya ...", jawab Mino lagi sambil memperhatikan tumpukan pakaian di atas ranjang dengan bibir berkerut.

Aku terhenyak mendengar jawabannya.
"New York? ... berangkatnya besok katamu? .... lalu ... lalu berapa lama kamu akan tinggal di sana?", suaraku terdengar mulai bergetar.

"Mungkin beberapa bulan .. mungkin juga bisa sampai setahun .. tapi entahlah, saya juga tidak tahu  .. itu tergantung berapa lama masalah itu terselesaikan ... sudahlah jangan banyak bertanya lagi .. hari sudah malam .. tolong bereskan semuanya untukku ..."

Aku mendekati ranjang Mino dan mulai memasukan pakaiannya satu persatu ke dalam koper. Aku melakukannya dengan airmata yang tertahan. Hatiku sakit ketika mendengar rencana kepergiannya yang begitu lama. Masihkah dia akan mengingatku setelah perpisahan kami yang lama ini? Telapak tanganku mulai berkeringat dan pandanganku mulai kabur oleh airmata yang sudah tidak terbendung lagi. Dengan cepat aku menghapus airmata itu dengan punggung tanganku sebelum dilihat oleh Mino. Setelah menyelesaikannya aku mundur ke belakang dan membungkuk ke arah Mino.

"Hebat! ... cuma kamu yang bisa melakukannya dengan baik ..", Mino mengacungkan jempolnya kearahku.

Aku berusaha tersenyum kepadanya, tapi tidak berhasil. Mino memperhatikan koper yang ada di atas ranjang dan tersenyum manis. Dia sangat puas dengan semua pakaiannya yang sudah tersimpan dengan rapi di dalam koper. Sesaat kemudian dia berbalik kearahku. Dahinya langsung berkerut.

"Mengapa kamu masih disini? .. sudah bereskah semua bawaanmu?"

Aku mengganga kearah Mino. Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari pertanyaannya.

"Bawaanku? .. maksud kamu apa?", tanyaku heran.

"Pabo yaa ... tentu saja persiapan untuk keberangkatan besok ..", jawab Mino kesal.

"Hahhhhh ....?", mataku terbelalak lebar oleh kejutan yang dikatakan Mino.

"Kamu tidak mengira saya akan pergi sendiri, kan? .. kamu adalah sekretaris pribadiku, tentu saja kamu harus ikut denganku ke Amerika ... cepat pergi sana! .. persiapkan semua keperluanmu .... "

Mino melangkah kearahku, yang masih terbengong di tempat. Dia membalikan tubuhku kearah pintu, kemudian mendorongku keluar dari kamarnya. Sesampai di luar aku berbalik kearahnya. Aku semakin binggung ketika melihatnya sedang tersenyum sambil meraba koper yang tergeletak di ranjang.


******************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun