Author Topic: DESTINY HIATUS  (Read 20915 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: DESTINY (changed from Orion) hehehe
« Reply #15 on: June 16, 2010, 10:34:16 am »
CHAPTER 2

Pagi mulai menyambut sang Raja, sinarnya berkilauan bagai memberantas habis sisa kegelapan malam. Di suatu flat sederhana, tampak gundukan besar di balik selimut tebal di atas tempat tidur. Gundukan itu adalah aku. Goo Hye Sun, atau Han Ji Eun. Sinar sang Raja menerobos masuk melewati tirai-tirai, memaksaku untuk membuka mata dan memulai kembali hari membosankan ini.
Dering posel mengagetkanku dari semedi mengumpulkan nyawa-nyawaku yang entah sebagiannya terbang kemana.

DADDY

Damn!!

Dengan menggerutu tak karuan dalam hati aku mengangkat ponselku.

“Hello, Sun-a”, suara Daddy terdengar di seberang nun jauh di sana.

“Hello, daddy. Ada apa menelponku pagi-pagi begini?”, tanyaku dengan suara super mengantuk.

“What?? Honey, are you okay? Pagi? Darling, ini sudah hampir pukul 7 malam. Kau ada di mana sekarang?”, tanya ayahku.

“Ap...apa?? pukul 7 malam?”
, dengan panik aku melirik ke arah jam weker di meja rian Ji Eun. Sial!! Gara-gara nyawaku belum terkumpul aku malah kelepasan.

“Oh..oh yeah, dad. Ini sudah pukul 7 malam. Gorden kamarku tertutup dan jam wekerku ternyata rusak. Hehehe... maaf. Aku salah”, damn! Aku mengetok kepalaku sendiri dengan jam weker yang ku ambil tadi.

“Ya ya ya... kau memang sering ceroboh. Hahaha... oh iya, daddy ada di Paris sekarang. Can we meet today?”, tanya ayahku lagi yang sukses kembali membangkitkan rasa panikku.

“Uh, um, um, i’m sorry dad. I think i can’t. Um, my schedule is very crowded lately. How about next saturday?”, tanyaku sambil berusaha menyembunyikan ekspresi gugupku. Bisa gawat kalau sampai ayah dan ibuku tahu bahwa aku tidak berada di Paris. Tidak akan pernah bertemu Jae Ha dan Ji Eunlah hukuman yang di berikan padaku kalau sampai aku tertangkap basah.

“Daddy only has time until Thursday tomorrow, honey. Oh, come on.”, bujuk ayahku.

“But..but..”, chiken butt!! Ayo cari alasan Goo Hye Sun yang pintar. Cari!!

“I'll be waiting at the restaurant where we usually meet. Pukul 8. Don’t be late. Bye, sweatheart”, dan dengan dimatikannya ponsel di seberang sana langsung memacu hormon adrenalinku semakin cepat.

Ayolah. Siapa yang bisa dihubungi sekarang. Aku hanya punya waktu satu jam. Dan sangat tidak mungkin aku bisa sampai di Paris kurang dari satu jam. ****!!. Ayo, Hye Sun. Mana kerja otakmu. Kenapa bisa selambat ini??.

Mr. Park. Sekretaris ayahku yang supeeeeeerr baik. Dia tahu bahwa aku sekarang sedang menyamar. Bagus. Bujuk dia. Dan semuanya beres. Hohohoho... Hye Sun-a kau sangat jenius.

Aku langsung mengambil ponselku yang tergeletak asal di atas tempat tidur. Dengan gerakan cepat aku menscroll nama-nama yang sudah terformat dalam ponselku. Dan ini dia. Aha!

Mr. Park Cute [laughing]

Dan tanpa basa-basi aku langsung menghujam Mr. Park dengan permohonan-permohonan. Aku tahu, di seberang sana Mr. Park pasti sedang tersenyum. Yah, dia mengenalku sejak aku masih dalam kandungan. Dan dia sangat mengenal sifatku yang keras kepala -ehm, juga ceroboh-.

Setelah menelpon Mr. Park aku menunggu dengan cemas. Menyilangkan kedua jari telunjuk dan jari tengahku.

Dan dua puluh menit kemudian...

Daddy kembali menelponku dan mengatakan bahwa dinner kami batal. Dengan suara yang ku buat sekecewa mungkin aku membuat Daddy tambah merasa bersalah dan berjanji akan meluangkan waktu untukku lain kali.

Fiuuh... aku menghela napas lega. Mr. Park kau benar-benar cute. [hmpfh]

***

Aku tidak mengerti kenapa aku mau melakukan ini. Menggantikan kedudukan Ji Eun sebagai murid baru disekolahku sendiri hanya untuk melihat senyum bahagia Ji Eun. Alasanku logis dan sangat masuk akal : itulah kekuatan persahabatan.

Tapi bagi sebagian orang -dalam konteks ini ialah para pengawalku- menganggap bahwa aku sudah gila. Melepaskan seluruh kemewahan dan hidup di tengah-tengah kerasnya hidup yang selama ini hanya kudengar melalui televisi demi melihat senyum sahabatku. Gila. Tidak waras. Aneh.

Sebagai manusia normal tentu saja aku tidak ingin di salahkan sendiri. Kalian juga perlu menyalahkan Ji Eun. Semua ide sandiwara konyol ini berasal dari dia. Supaya bisa satu sekolahan dengan sang pujaan hati, siapa lagi kalau bukan sang pemimpin geng kuntilanak-yang-tertawa-bagaikan-kejepit-lift itu : Lee Min Ho sialan!, dia membujukku gila-gilaan dengan cara menampilkan senyum manisnya itu -oh, aku paling tidak tahan jika sudah dihadapkan pada senyum manis Ji Eun-.

Tapi sudahlah. Toh semuanya sudah terjadi. Aku berada di sekolah ini sekarang. Menyaksikan betapa rendahnya siswa-siswa di sekolahku ini begitu menyembah-nyembah uang -masih mending kalau hasil sendiri, yang ada mereka cuman memperalat harta kekayaan ayah ibu mereka!-..

“Ji Eun...”, suara keras seseorang yang memanggil nama (samaran)-ku mengusik pendengaranku.

Suara yang tidak asing lagi. Jae Ha.

Aku menengok ke belakang. Jae Ha terlihat seperti tertelan lautan manusia. Memang sekarang ini aku sedang berada di taman sekolah, dan sekarang juga sudah waktunya istirahat, jadi wajar saja Jae Ha kesulitan untuk menghampiriku. Dia melambai-lambaikan kedua tangannya ke atas. Menyuruhku menghampirinya? Enak saja! Dia yang perlu kenapa aku yang repot?

Aku kembali mengarahkan pandanganku ke depan. Bersiap melanjutkan apa yang ku pikirkan tadi. Sampai dimana tadi? Oh iya, para siswa disini juga....

“Ji Eun”, tepukan keras di pundakku kembali memaksaku menengok kebelakang.

“Jae Ha. Ada apa?”, tanyaku dengan nada malas-malasan. Tidak biasanya aku seperti ini. Gampang marah. Gampang sensitif. Gampang tersinggung. Pokoknya ciri-ciri seorang perempuan yang sedang PMS (pra menstruasi syndrom). Jadi kalau Jae Ha menanyakanku kenapa aku sebegitu sensitifnya hari ini, aku tinggal menjawabnya : maaf, aku sedang PMS. Aargghh...pikiranku mulai meracau. Yah, salah satu ciri perempuan yang sedang PMS : selalu berpikir hal-hal yang tidak penting.

“Ada kabar buruk”, ujar Jae Ha sambil mendudukkan dirinya di sampingku.

“Kabar buruk apa yang lebih buruk daripada berita Yu Mi yang bermaksud menjadi Miss Universe?”, balasku sambil mengalihkan pandanganku ke tempat Yu Mi and the gank yang sedang asyik bercekikikan-ria.

“Aku serius, Sun-a”, kata Jae Ha sambil menatap dalam mataku.

“Baik. Aku serius. Sekarang, apa kabar buruknya?”

“Penyakit Ji Eun semakin parah. Para dokter sudah mulai angkat tangan”, lanjut Jae Ha sambil berbisik pelan ditelingaku.

Aku terdiam.

Brengsek!! Apa gunanya aku membayar mahal-mahal kepada para dokter sialan itu kalau bukan untuk melihat kesembuhan Ji Eun. Pernahkah aku menceritakan pada kalian penyakit apa yang sedang di derita Ji Eun?.

Non Hodgkin Lymphoma (NHL)

Suatu penyakit jenis kanker yang berpengaruh dalam sistem limfatik, sistem kekebalan tubuh yang berperan penting dalam pertahanan kanker dan infeksi sebagainya. Penyakit ini bisa disebabkan keturunan, infeksi, bakteri seperti HIV atau kelainan sistem kekebalan tubuh. Dan Ji Eun mengidap penyakit ini karena keturunan.

“Akan kupastikan para dokter kampret itu tidak akan pernah meninggalkan Ji Eun sedikitpun sampai Ji Eun benar-benar sembuh”, ujarku dingin.

Jae Ha hanya mengangguk dan menghela napasnya. Setiap orang pasti tahu, NHL bukanlah suatu penyakit yang gampang di sembuhkan. Penyakit ini sama seperti HIV, belum ditemukan obat yang pasti. Obat yang dikonsumsi Ji Eun hanyalah obat-obat penghilang rasa sakit. Kami semua sudah mencoba segalanya, kemotrapi dan pencangkokan sum sum tulang belakang, tapi semuanya sia-sia. Justru kondisi Ji Eun semakin memburuk. Dan aku tidak cukup kuat untuk berbaikan dengan kenyataan itu. Aku akan membuat Ji Eun sembuh. Apapun caranya. Dan Jae Ha pun sama sepertku, tidak punya cukup kemauan untuk menghentikanku yang berusaha menyembuhkan Ji Eun, karena bagaimanapun juga dia pasti ingin melihat Ji Eun sembuh.

“Aku akan ke rumah sakit sepulang sekolah nanti. Kau mau ikut?”, tanya Jae Ha setelah kami terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing.

“Sure. I have not visited her. Thanks to the tasks that pile up like mountains”, ujarku sambil memutar kedua bola mataku.

Dan ketegangan sedikit mencair. Aku dan Jae Ha kemudian tertawa bersama-sama.
[/size]

Tbc...
Pendek lagi ya?? Maap, ngetiknya tengah malem sih *lirik-lirik jam*
« Last Edit: June 16, 2010, 10:40:32 am by voldi »
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME