Author Topic: THE SARANG  (Read 7892 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #45 on: June 17, 2010, 07:04:58 am »
CHAPTER 18

 
Aku dan Mino tiba di New York, Amerika, pada pertengahan musim gugur. Mobil yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang di jalanan yang tidak begitu ramai. Daun-daun berwarna kuning kecoklatan mulai berserakan di sepanjang jalan yang kami lewati. Aku menjulurkan leher dan mengarahkan pandangan ke luar jendela mobil yang tertutup. Pemandangan di luar sangat luar biasa. Pepohonan dengan daun-daun kuning kecoklatan yang mulai menipis dipadu dengan cahaya matahari keemasan yang menimpa langsung, menimbulkan kesan romantis yang mendalam. Mataku melebar dan aku terpesona dengan semua keindahan alam ciptaan Tuhan ini.

Mino mengeser duduknya lebih ke dekatku. Kepalanya dijulurkan kesampingku, kemudian mengikuti arah pandanganku. Bibirnya agak dimonyongkan ketika tidak mendapatkan sesuatu yang menarik di luar sana.
 
"Ada yang aneh?", tanyanya sambil memutar sepasang mata beningnya ke depan dan belakang.
 
Aku mendelik dan mendorongnya ke samping. Posisinya tadi agak memojokkanku. Aku sampai tidak dapat bergerak gara-gara terhimpit oleh pintu mobil dan dia.
 
"Tidak ada yang aneh jadi jangan mendempetku seperti itu ....", jawabku kesal.
 
Mino semakin memperpanjang bibirnya begitu mendengar jawabanku.
 
"Jika tidak ada yang aneh mengapa kamu memandang keluar tanpa berkedip?", bela Mino.
 
Sekali lagi aku melotot kearah Mino. Dia selalu saja membuat perasaanku yang sedang senang menjadi kesal. Selalu saja begitu. Dan yang paling menyebalkan adalah dia sama sekali tidak merasa perbuatannya itu menyebabkan kedongkolanku.
 
"Ini untuk pertama kalinya saya keluar negeri dan begitu melihat pemandangan indah di luar tentu saja saya memandanginya tak berkedip ........ puas dengan jawabanku?", teriakku tanpa ingin berbasa-basi lagi.
 
Mino terdiam. Dia menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kutafsirkan. Dan seperti biasa, aku tidak bisa melanjutkan pelampiasan amarahku lagi jika sudah ditatap seperti itu oleh dia. Kami berpandangan tanpa bersuara. Suara musik klasik yang diputar sejak tadi mengalun lembut menyejukkan hati. Pemandangan di luar masih sama. Pepohonan di sana sini dengan warna yang sama, hanya saja sinar keemasan dari matahari pagi sudah terganti dengan sinar menyilaukan yang menyengat.
 
"Menjadi sekretarisku kamu akan bisa terbang ke mana saja .. saya tidak akan membiarkanmu sendiri di Korea ...", perkataan ini perlahan meluncur dari mulut Mino.
 
Aku sangat terkejut mendengar pengakuannya yang tiba-tiba itu. Mataku melebar dan memandang lurus kearahnya.
 
"Hahhhhh ...?", pertanyaan yang hanya berupa kata tak berarti itu meloncat keluar dari mulutku.
 
Mino tersentak. Dia baru sadar bahwa perkataannya tadi tidak pada tempatnya. Dengan cepat dia mengalihkan perhatianku dengan suara mengejek.
 
"Maksudku mana ada orang segede kamu yang tidak pernah keluar negeri .. di jaman sekarang bayi-bayi saja sudah pergi kemana ... akchhhhh ...."
 
Sebelum Mino menyelesaikan perkataannya, tinjuku sudah bersarang di dadanya. Mino berteriak kesakitan. Dia mendelik kearahku dengan bibir yang ditarik keatas. Aku mengalihkan pandangan ke depan seolah-olah tidak ada kejadian serius yang terjadi antara kami. Mr. Kang, sopir pribadi Mino yang dibawa serta dari Korea, hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah laku kami.
 

***************

 
Setengah jam kemudian, kami sampai ke tempat tujuan. Aku dan Mino turun dari mobil dengan dibantu oleh Mr. Kang. Apartement yang dibeli Mino membuatku terpana. Tempat dengan tingkat tiga itu sangat besar dan memiliki sarana yang lebih dari cukup.

Sebenarnya tempat itu bukan tempat tinggal impian buat Mino. Dia mengatakan bahwa dia menginginkan sebuah rumah berdekorasi klasik lengkap dengan kebun bunga yang luas di halaman depan. Tapi karena kota besar seperti New York tidak mengijinkan untuk itu dan juga karena alasan kemudahan menjangkau gedung di mana LKH Group berada, dia memutuuskan untuk tinggal di apartement di pusat kota, dekat dengan perusahaan LKH Group.

Ternyata, tanpa sepengetahunku, dia sudah memikirkan dan mempersiapkan semuanya sebelum pemberangkatan ke New York seminggu yang lalu. Kami akan menempati apartement yang sama. Aku tinggal di kamar lantai satu dan Mino menempati kamar lantai dua, sedangkan lantai tiga diperuntukkan bagi para pelayan.

"Bagaimana menurutmu ..?", tanya Mino dengan berkacak pinggang dan senyum cerah yang menggoda  setelah kami mengelilingi dan memeriksa seisi rumah.

"Bagus .. ini lebih bagus daripada idemu tentang rumah klasik dengan taman bunga luas itu ...", jawabku seenaknya.

"Yaaaaaaaa ... dapatkah kamu memberikan jawaban yang lebih menyenangkan dari itu?", tampang Mino langsung berubah melihat sikap cuekku.

Aku mengangkat bahu dan berlalu dari hadapannya. Mino mengangga. Kaget dengan sikapku yang berubah drastis.

"Yaaaaaaaa .......... mau kemana ... Hyesun yaa .......... yaaaaaaaaa .........?"

Aku tidak menghiraukan teriakkan Mino yang mengelegar itu. Seisi rumah dari Mr. Kang sampai beberapa pelayan asing berpaling ke arah kami. Aku berjalan ke kamarku yang berada di ujung lorong tanpa berpaling sekalipun kearah Mino. "Rasakan ..", batinku dalam hati. Aku masih kesal dengan perkataannya  waktu perjalanan dari bandara tadi. Hari ini aku tidak mempunyai mempunyai keinginan untuk memaafkannya.


****************


Bulan pertama merupakan hari-hari yang melelahkan bagi aku dan Mino. Berbagai masalah yang dihadapi LKH Group ternyata tidak seringan yang kami kira. Pemogokan yang dilakukan oleh para pegawai dari tingkat rendah sampai menengah yang tidak puas dengan bayaran yang diberikan masih terus berlanjut, ditambah lagi dengan kekukuhan para investor yang tidak mau menambah gaji sedikitpun sesuai dengan permintaan para pegawai tersebut. Belum lagi beberapa perhitungan pemasukan dan pengeluaran LKH Group yang tidak sesuai dengan data yang sudah ada. Semua itu membuat kami sama sekali tidak mempunyai waktu untuk melakukan kegiatan sendiri. Semua waktu kami habis untuk LKH Group.

Rapat buat semua pemecahan masalah terus dilakukan, tapi sampai akhir bulan belum juga didapat cara penyelesaian terbaik untuk semua masalah ini. Mino sering pulang larut malam karena kegiatan yang tidak ada batas waktunya itu. Kadang-kadang aku menemaninya menemui para partner bisnis di luar jam kerja. Tapi, itu hanya beberapa kali. Mino sering menolak kutemani kalau dia harus mendiskusikan masalah perusahaan sampai larut malam dengan para partner bisnisnya itu. Apalagi jika pembicaraannya dilakukan di pub atau bar malam yang banyak orang asing dan pemabuknya, dia lebih keras lagi menentangnya.

Hari itu pukul 7 pagi waktu New York, kami terkepung oleh kemacetan lalu lintas yang menyesakkan. Suara klakson yang dibunyikan dari berbagai arah [bigno]akkan telinga. Mino mengerutkan alis. Tangannya menyentuh dahi dengan tampang kesal. Kesabarannya sudah mulai diuji. Dia berpaling ke belakang, puluhan kendaraan berbaris tak beraturan di sana.

"Ada apa ini?", Mino mengalihkan perhatiannya ke depan, ke Mr. Kang yang memegang kemudi.

"Ada kecelakaan di depan, tuan muda ... harap tuan bersabar dulu .... ", jawab Mr. Kang dengan sikap hormat.

"Mau menunggu sampai kapan? .. saya sudah terlambat sekarang ..", Mino melirik jam tangannya. Dia mengumam perlahan. Kemudian diraihnya  tas hitam dari kulit yang ditaruh di pojok dekat jendela mobil  dan menarik tanganku sambil membuka pintu yang ada di sampingnya.

"Heiii!!! .. mau kemana?", teriakku begitu keluar dari mobil.

Mino tidak segera menjawab pertanyaanku. Dia mengetuk jendela mobil di samping Mr. Kang. Jendela dari kaca itu diturunkan dan Mr. Kang menatapnya, masih dengan sikap hormat yang sempurna.

"Kami akan jalan kaki ke kantor, Mr. Kang .... jarak dari sini ke sana sudah tidak jauh lagi .. kamu bawa saja mobil ini ke kantor, saya membutuhkannya nanti siang .."

"Baik, tuan muda Lee ...", jawab Mr. Kang sambil menundukkan kepalanya.

Mino termangu sebentar. Dia berputar di tempat dengan tampang binggung. Setelah semenit berlalu dia berbalik kearah kanan. Dengan satu tangan memegang tas dan tangan lain yang masih mengenggam erat tanganku, Mino berjalan dengan langkah lebar ke jalan kecil yang dikhususkan buat pejalan kaki.

"Yaaaaaaa .... benar mau jalan kaki ke kantor?", tanyaku dengan susah payah. Nafasku memburu karena harus mengikuti langkah lebar dari sepasang kaki panjangnya.

"Kamu ada ide yang lebih baik dari ini?", Mino balik bertanya dengan tampang cemberut.

Aku langsung terdiam. Memang ide ini lebih baik daripada menunggu di mobil, yang tidak diketahui pasti kapan jalannya dibuka lagi.


********************


Mino yang tidak sadar kalau langkahnya yang cepat dan lebar itu membuatku kesusahan mengikutinya, masih saja  menyeretku dari belakang. Nafasku hampir habis karena kelakuannya itu. Dengan kasar aku menepiskan tangannya. Kutarik nafas dalam-dalam untuk memenuhi paru-paruku yang sesak. Mino berbalik kearahku. Dia sangat terkejut melihat kepucatan wajahku.

"ohhh ada apa? ... baik-baik saja, kan?", tanyanya cemas.

"You .... berengsek  ... hhhh ...... kamu ...hhhh .. kamu  .. hampir membuatku ..hhh .. tidak bisa .. bernafas .. hhhh ..", jawabku dengan susah payah.

Mino tertegun. Wajahnya menunjukkan penyesalan. Dia mendekatiku dan menaruh tangan di punggungku. Dengan perlahan dia mengelus punggungku.
Dia memandangiku dengan tampang  bersalah dan khawatir.

"Agak baikan? ... miane ...  "

Aku mengangguk. Kumajukan tubuhku beberapa langkah kedepan sehingga tangan Mino terlepas dari punggungku. Wajahku bersemu merah. Aku merasa risih dengan perhatiannya yang tiba-tiba itu.

"Saya baik-baik saja .. sebaiknya kita berjalan lebih cepat jika tidak kita bener-bener akan sangat terlambat ...", kataku sambil melangkah ke depan, tanpa memperdulikan Mino lagi.

Beberapa detik kemudian aku mendengar langkah dari belakang dan .. Mino lewat di sampingku tanpa berkata apa-apa. Aku mendengus pelan. Tinjuku terangkat dan tertuju kearahnya. Tapi tentu saja dia tidak melihatnya karena dia tidak berbalik kearahku.

Aku menunduk dan mulai mengikuti langkah Mino dari belakang. Begitu sampai didepan sebuah toko berdinding dan beretalase kaca besar, entah apa yang mendorongku, secara reflek aku berpaling kearah itu. Dan ... aku tertegun. Sesuatu yang dipajang di sana menarik perhatianku. Aku mendekati toko dengan dekorasi dari kaca itu secara perlahan.

"Heiiii ... mengapa kamu berhenti disitu?"

Teriakan Mino membuatku berpaling. Dia berjalan kearahku dan ikut berdiri di sampingku. Pandangannya mengikuti arah pandangku.

"Tidak ada apa-apa ... ayo .. kita pergi ...", aku melangkah ke depan tapi mataku untuk terakhir kalinya melirik barang yang mempesonaku itu.

Mino manggut-manggut. Matanya menatap lurus ke barisan barang yang tertata rapi di etalase toko. Sesaat kemudian dia tersenyum. Lalu dia berbalik mengikuti langkahku sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

"Aaa .. Mr. Kang ...", sapa Mino begitu hubungan telepon tersambung.

*pembicaraan ini masih rahasia, silahkan menebaknya sendiri, tapi saya yakin kalian semua pasti sudah bisa menebaknya ....


******************


Soeun berdiri di belakang rumahnya yang menghadap laut. Dua bulan sudah sejak kepulangannya dari Korea. Hal yang dikira akan mudah dilupakan olehnya ternyata masih saja membekas di hati. Bahkan perasaan itu makin lama semakin dalam. Soeun menghembuskan nafas berat. Tangannya terangkat dan menghapus dua butir airmata yang mengalir keluar dari sudut matanya.

"Sayang ... apa yang kamu lakukan disitu? .. masuklah kemari .. angin laut terlalu kuat, itu tidak baik bagi kesehatanmu ..."

Teriakkan itu membuat Soeun berpaling. Omma sedang berdiri di gerbang belakang dengan pagar tinggi yang mengelilingi rumah besar keluarga Kim yang berwarna putih bersih. Soeun tersenyum sambil melambaikan tangannya kearah omma.

"Saya baik-baik saja ma ... nanti saya akan masuk kedalam .. sekarang saya ingin berdiri disini dan menyendiri .."

"Jangan keras kepala, nak .. masuklah kedalam .. paman Lee mu ingin berjumpa denganmu ... beliau baru saja tiba dari Korea dengan salah satu bawahannya ...", bujuk omma dari tempat berdirinya.

"Paman Lee??", Soeun sangat kaget dengan berita ini.

Dengan segera dia berlari kearah omma. Soeun menarik tangan omma untuk diajak masuk ke dalam rumah. Dia sudah rindu sekali dengan keluarga sepupunya itu. Makanya begitu mendengar nama paman Leenya disebut dia merasa bahagia sekali.


**************


Lima menit kemudian Soeun dan omma sampai di ruang tamu. Appa dan Mr. Lee sedang berbincang-bincang di sofa yang dilapisi kulit berwarna putih. Hampir semua isi ruangan itu  di dominasi oleh warna putih. Hanya ada beberapa lukisan dan karpet  yang berbeda dari warna aslinya. Warna krem lembut yang di kolaborasi dengan warna putih membuat ruangan itu menimbulkan suasana nyaman bagi yang berada di dalamnya.

Di sudut ruangan dekat jendela kaca yang menghadap laut, tampak seorang pria sedang asyik dengan kegiatannya mengamati beragam piala yang terpajang di lemari hias dari kaca. Orang itu memunggungi mereka semua. Soeun menyipitkan matanya. Dia merasa tidak asing dengan bentuk tubuh itu.

"Hyun Joong!! duduklah di sini .. jangan hanya asyik dengan piala-piala itu ..."

Panggilan dari Mr. Lee itu membuat pemuda di depannya berbalik. Dan mata Soeun langsung terbelalak lebar. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pemuda yang ternyata memang joongie itu menghadap kearahnya. Menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa dimengertinya. Kemudian perlahan tapi pasti Joongie tersenyum kepadanya.

"Annyong, nona ....."

"Joonggggggggg ...............!!!!!!!!!!", teriak Soeun.

Dia sangat bahagia. Senyuman yang selama ini hilang dari wajahnya langsung merebak. Soeun berlari kearah Joongie. Dia merentangkan tangannya. Tapi, begitu sampai di depan Joongie, kejadian dua bulan yang lalu berkelebatan dalam pikirannya. Soeun menghentikan langkahnya. Wajahnya langsung berubah keras.

"Mengapa kamu berada di sini? .... setelah dua bulan tidak ada kabar .... mengapa harus muncul di depanku lagi? mengapa? .. Kim Hyun Joong!! .. saya tidak ingin ketemu lagi denganmu ..", Soeun berkata dengan penuh tekanan, airmata yang sudah akan mengalir keluar dibendungnya dengan susah payah.

"Nonaaa .....", desah Joongie.

Joongie tidak mengira Soeun semurka itu. Dia tertegun di tempat. Sedangkan mata Soeun sudah sangat merah. Omma, appa dan Mr. Lee memperhatikan ketegangan di antara mereka dengan pandangan bertanya. Soeun berbalik kearah pintu dan menghambur keluar.

"Nonaaaaaaaaa !!!! ...."

 Joongie berteriak keras dan ikut menghambur keluar. Tapi sampai di ambang pintu dia teringat sesuatu. Joongie berbalik kearah mereka yang ada di dalam ruangan dan membungkukan badannya. Setelah itu dia berlari keluar rumah, mengejar Soeun yang sudah menghilang di tikungan depan.
"Ada apa dengan mereka?", tanya appa dengan kening berkerut..

"Ha..ha..ha.. biasa .. saya rasa hanya masalah anak muda .... kita juga pernah muda, kan?", kata Mr. Lee sambil tertawa. Matanya dikedipkan. Yang lain ikut tertawa setelah memahami maksud perkataannya.


**************


Soeun melintasi ruang belakang, membuka pintu kokoh bercat putih dan menghambur keluar rumah. Berlari sepanjang taman kecil di belakang rumah, melewati pagar besi bergerigi tajam dan menyeruak rumput-rumput liar yang tumbuh di sepanjang lereng terjal yang memisahkan laut dan rumahnya.  Teriakan-teriakan dari belakang tidak diperdulikannya. Joongie mengejarnya dari belakang dengan perasaan kacau. Dia sangat takut Soeun salah pijak. Lereng yang menjorok kelaut itu memang agak membahayakan. Bebatuan yang terdapat di sana tidak bisa dijadikan tempat berpijak yang aman.

"Nonaaaaaaaa ....."

Joongie menarik Soeun ke belakang setelah berhasil meraih tangannya. Diguncangnya tubuh Soeun untuk menenangkannya. Tapi Soeun sudah kehilangan kendali. Ditepisnya tangan Joongie dengan wajah yang basah oleh airmata.

"Lepaskan saya ... huhh .. huhh .. puas kamu sekarang? ... puas melihat pendiritaanku? huhhh .. huhhh ..."

Joongie menutup matanya rapat-rapat. Hatinya hancur melihat keadaan Soeun. Perasaan menyesal yang amat sangat merasuki hatinya. Dengan kilat ditariknya Soeun kedalam pelukannya.

"Miane .. saya tidak bermaksud menyakiti hatimu .. saya benar-benar menyesal .. menyesal sejak kepergianmu ... menderita sejak keberangkatanmu .. merana sejak kamu bilang akan pergi dariku ..."

Mata Soeun berkejap-kejap dalam pelukan Joongie. Ada perasaan sejuk merasuki hatinya. Tapi dia masih tidak mempercayai pendengarannya sendiri.

"Kamu .. bohong ... kamu sama sekali tidak memberiku kabar ...", kata Soeun pelan.

"Saya tidak berbohong ... waktu itu saya sungguh ingin memintamu tinggal di sisiku ... tapi saya tidak bisa ... tidak yang bisa saya berikan kepadamu .. saya hanya merupakan karyawan kecil, saya tidak pantas bersanding denganmu ... tapi sekarang saya sudah mencapai puncak, saya sudah bisa menegakkan kepala di hadapanmu ..."

Joongie melepaskan pelukannya. Diperhatikannya Soeun dengan seksama. Berharap pengertian darinya.

"Maksudmu?", tanya Soeun dengan sisa airmata yang tertahan.

"LKH Group akan membuka cabang perusahaan disini dan tuan besar mempercayakannya kepadaku ... jadi saya bisa tinggal disini .. menemanimu ..", jawab Joongie tegas.

Soeun melebarkan matanya. Ketidakpercayaan masih terlukis jelas di wajahnya. Tapi begitu melihat senyuman di wajah Joongie, dia percaya. Joongie tidak akan berbohong padanya. Soeun melingkarkan tangannya di leher Joongie dan berteriak bahagia.

"Yeahhhhh ............", karena kegembiraannya yang meluap, tiba-tiba Soeun mendaratkan ciuman di bibir Joongie.

Kekagetan Joongie segera menyadarkan Soeun dari kegilaannya. Joongie menatapnya dengan mata terbelalak lebar. Soeun tersipu malu setelah itu. Matanya berputar-putar dengan gelisah. Kedua pipinya berubah semerah tomat. Soeun sudah akan berlari dari sana ketika Joongie melingkarkan tangan di pinggangnya dan menariknya kedalam pelukan. Mata mereka bertemu. Joongie tersenyum perlahan. Dengan lembut dia mendaratkan ciuman di bibir mungil Soeun.

Tubuh Soeun menegang ketika Joongie melumat bibirnya. Mata Soeun terpejam. Dia mulai menikmati lumatan Joongie di bibirnya. Secara perlahan dia membalas ciuman Joongie. Desahan tertahan mulai terdengar dari sepasang kekasih yang dibuai asmara itu.


****************

 
Memasuki permulaan musim dingin.
Aku menuruni tangga dengan perasaan gelisah. Tidak kudapatkan Mino dimanapun juga. Baru saja aku dari kamarnya di lantai atas. Semua yang ada disana belum terjamah sedikitpun. Seprai di pembaringan masih rapi, perapian bata di tengah ruangan belum menyala, teh yang terhidang di atas meja juga belum tersentuh. Semuanya menandakan kalau dia belum pulang ke rumah sejak jam kerja selesai. Aku melirik jam dinding yang terdapat di ruang bawah. Sudah pukul 11 malam.

Di ruang bawah aku menghentikan seorang pelayan yang sudah bersiap untuk tidur.

"Joan, where is Mr. Lee?", tanyaku kepadanya.

Joan membungkuk kepadaku dan menjawab dengan hormat.

"Mr. Lee said he had a meeting with Mr. Heat from New Landers Corporation, Miss Goo .."

"Do you know where did he go?... did he tell that to you?", tanyaku lagi.

"No, Miss Goo ..", jawab Joan.

Aku mengangguk. Kemudian aku memberi isyarat kepadanya supaya meninggalkanku sendiri. Sekali lagi Joan membungkukan badannya. Dia menaiki tangga dengan lentera kecil terpegang di tangan. Sekali lagi aku melirik ke jam yang terpasang di dinding. Kuhembuskan nafasku. Hari ini Mino memberi liburan satu hari kepadaku. Setelah sebulan lebih keadaan perusahaan sudah mulai terkendali. Jadi sepanjang hari ini aku habiskan dengan berjalan-jalan di luar dengan ditemani Joan. Setelah pulang aku kecapean sehingga tertidur sampai jam setengah sebelas malam.

Baru saja aku akan memasuki kamarku ketika suara berisik di ruang depan menarik perhatianku. Aku berlari keluar. Mino sedang memasuki ruangan dengan dipapah oleh Mr. Kang. Dia kelihatan mabuk berat.

"Apa yang terjadi Mr. Kang?", tanyaku dengan suara tajam.

"Tuan muda minum terlalu banyak, nona Goo ..", jawab Mr. Kang dengan agak terengah. Dia kesusahan menopang tubuh Mino yang jangkung itu.

"Sebaiknya bawa dia ke kamarku saja, Mr. Kang ... akan keberatan kalau harus membawanya ke lantai atas ..."

Mr. Kang melakukan perintahku. Dengan susah payah kami membawa Mino ke kamarku. Setelah membaringkannya di ranjang, aku menyuruh Mr. Kang menyediakan handuk dan air hangat untuk mengompres kepala Mino. Lima menit kemudian Mr. Kang meninggalkan kami berdua di dalam kamar. Aku memasukan handuk ke dalam air hangat, kemudian mengeringkannya. Perlahan aku menaruh handuk yang sudah basah itu ke kening Mino.

Aku duduk di pembaringan sambil menatap wajahnya. Dia kelihatan tidak tenang. Mulutnya komat kamit tanpa suara yang keluar. Dia sangat menderita, saya tahu itu. Mino bukanlah peminum. Semenderita apapun dia, tidak pernah dia mau mabuk-mabukan seperti ini. Tapi kali ini lain. Yang dia hadapi adalah sebuah perusahaan yang menunjang hidup bermilyar karyawan beserta keluarganya. Dia harus melakukannya walaupun bagaimana tidak setujunya. Dan minum-minum sudah merupakan sarana bagi para pengusaha untuk menjalin hubungan kerja.

Aku sudah akan bangun dari tempatku ketika tanganku digenggam oleh Mino.

"Jangan pergi!! .. saya mohon .. jangan pergi .. tanpamu .. saya tidak dapat melakukan apapun  .. Hyesun aaa ..", Mino mengingau dalam tidurnya.

Aku terpana. Dia membutuhkanku? benarkah? bukankah dia membenciku setelah menyebabkan begitu banyak penderitaan dalam hidupnya? Aku menatap wajahnya. Mulut Mino masih bergerak-gerak.  Aku bermaksud bangkit dari tempatku lagi, ketika tiba-tiba Mino bangun dari tidurnya dan menjatuhkan diri kearahku. Sebelum dia benar-benar roboh di pundakku, wajahnya menabrak wajahku dan bibirnya mendarat tepat di bibirku.

Aku tersentak. Sangat terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu. Aku berpaling ke samping. Kening Mino berkerut. Dia kelihatan sangat menderita. Alkohol yang memasuki tubuh yang menjadi penyebabnya. Dengan sekuat tenaga aku membaringkannya lagi di ranjang. Kemudian kuperbaiki selimut tebal yang menyelimutinya. Aku memperhatikannya dengan seksama. Wajahnya yang menawan terlihat pucat. Kujulurkan tanganku dan menyentuh wajahnya dengan lembut.


**************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun