CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
THE SARANG
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #9151
« previous
next »
Print
Pages:
1
2
3
[
4
]
5
6
7
Go Down
Author
Topic: THE SARANG (Read 7951 times)
Be my self
Admin
Hero
Posts: 7360
that winkkkk!!! *fainted
Re: THE SARANG
«
Reply #45
on:
June 18, 2010, 09:48:42 am »
CHAPTER 19
Salju pertama di musim dingin ...
Hari ini hari minggu. Setelah berkutat selama tiga bulan dengan pekerjaannya, akhirnya Mino meliburkan dirinya sehari. Masalah perusahaan sudah terselesaikan. Para investor dan para pegawai bersedia mengambil jalan tengah dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi. Pembukuan yang bermasalah juga sudah beres semua.
Aku berdiri di luar apartement yang bersuhu di bawah 10 derajat celcius. Udara sangat dingin. Salju mulai turun. Tubuhku mengigil. Kusilangkan jaket yang kukenakan rapat-rapat di depan dada, berusaha untuk mengusir hawa dingin yang mengigit. Asap tipis mengepul dari hidung dan bibirku.
Aku berjinjit di tempat dan menajamkan pandangan ke dalam apartement yang terselibut kabut tipis. Aku tidak melihat Mino di sana. Kuhembuskan nafas kuat-kuat. Mino menyuruhku menunggunya di situ, sedangkan dia sendiri belum keluar dari dalam rumah. Aku melirik jam tangan kecil yang melingkar di tangan kiriku dan ..... 10 menit sudah berlalu, Mino masih belum menampakkan dirinya.
Mr. Kang menghampiriku setelah menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang berada di depan apartement. Dia membungkuk dengan sikap hormat.
"Tuan muda meminta nona menunggunya di dalam mobil ...."
Aku berpaling ke Mr. Kang. Kekesalanku mulai timbul.
"Mr. Kang .. apa yang dilakukan tuan mudamu di dalam sana?", tanyaku dengan suara yang cukup keras.
"Ada sesuatu yang tertinggal, Hyesun Ssi ... dan ..ohhh ... itu dia, tuan muda sudah keluar ...", Mr. Kang mengarahkan telunjuknya kearah depan. Aku mengikuti arah yang ditunjuk Mr. Kang. Mino tampak berlari keluar dari dalam rumah.
"Lee Min Ho!! .. kamu ingin melihat saya mati kedinginan, ya?", teriakku dengan suara parau. Udara dingin membuat pernafasanku agak tersumbat.
Mino tidak menghiraukan teriakanku. Dia terus saja berlari kearahku. Setelah dekat dia menyambar tanganku dan memaksaku memasuki mobil yang terparkir di pinggir jalan. Mr. Kang mengikuti kami dari belakang. Mino melepaskan pengangannya di tanganku setelah berada dalam mobil yang bersuhu hangat.
"Miane, tadi ada yang ketinggalan ..", kata Mino lembut, menjawab pertanyaanku yang belum dijawabnya tadi. Kemudian dia berpaling kearah Mr. Kang yang sudah berada di depan kemudi.
"Menuju Central Park, Mr. Kang ..."
"Ya, tuan muda ..", jawab Mr. Kang dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Mesin mobil dihidupkan. Perlahan Cadilac hitam itu bergerak kedepan, membelah jalanan yang agak basah dan licin oleh salju.
**************
Aku duduk terdiam di samping Mino. Tanganku kugosok-gosokkan guna mengusir aura dingin yang masih terasa. Sedangkan Mino sendiri mengarahkan pandangannya keluar jendela.
"Salju pertama .... ", gumamnya pelan.
"Hahhh ??", pertanyaan tak bermakna itu langsung meluncur keluar dari mulutku begitu mendengar gumamannya yang lirih.
Mino mengalihkan pandangannya dari pemandangan di luar kearahku. Dia menatapku lekat-lekat.
"Salju pertama di musim dingin .. indah, kan? .. kamu lihat di sana, dedaunan belum gugur semua ditambah dengan hamparan salju putih .. berasa di dunia lain .."
Aku mengeser dudukku menjauhi Mino. Kegelisahan menyerangku ketika kusadari tatapannya masih tertuju kepadaku. Untuk meredakan perasaan serba salah yang menyerang, kuikuti telunjuk Mino yang terarah keluar jendela mobil. Memang benar pemandangan di luar sangat mempesona.
"Ini pertama kalinya .. saya .. saya menyaksikan salju di New York ..", kegugupan membuatku mengeluarkan perkataan yang terdengar bodoh itu. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya aku tinggal di New York, jadi tentu saja ini untuk pertama kalinya aku melihat salju di kota besar ini.
Mino tidak tertawa mendengar perkataanku. Tidak juga mengeluarkan ejekannya. Ini sangat aneh. Biasanya paling tidak dia akan mencibirkan bibirnya. Aku berpaling ke samping dan kulihat Mino sudah melemparkan pandangannya keluar jendela lagi. Ada yang sedang dipikirkannya.
Karena takut dia mendadak berpaling kepadaku, aku segera menundukkan kepala ke bawah. Dengan sudut mataku, aku meliriknya dengan sembunyi-sembunyi. Dia tetap terlihat sempurna. Mantel panjang berwarna putih yang dikenakannya dipadu dengan dalaman sweater hitam berkerah tinggi, celana ketat dari kulit, juga sepatu kulit yang berwarna senada, membuat badannya kelihatan semakin menjulang. Mino menghela nafas perlahan. Aku segera menunduk dalam-dalam, tidak berani meliriknya lagi.
**************
Mr. Kang memarkir mobil di depan Central Park yang sudah ramai oleh para pengunjung. Aku mengikuti Mino keluar dari mobil dengan terpaksa. Aku sudah mulai kesal padanya karena membawaku ke taman yang berhawa dingin. Aku lebih memilih menghabiskan liburan hari ini di dalam ruangan yang dilengkapi mesin penghangat.
Mino tidak memperdulikan keberatanku. Dia menarik tanganku dan memaksaku mengikuti langkahnya. Tangannya yang sebelah kanan menjinjing tas besar dari kulit berwarna hitam sedangkan tangan kirinya mengenggam erat tanganku. Aku sempat penasaran dengan isi dari tas yang dibawanya. Aku ingin membukanya tadi, tapi Mino melarang keras. Masih rahasia, katanya.
Jalanku terseok-seok di belakang Mino. Dia terus saja menarikku tanpa menyadari posisiku yang memprihatinkan. Dan terakhir, karena tidak tahan kutepiskan tangannya kuat-kuat.
"Yaaaa ... sakit ... ", teriakku dengan nada memelas.
Mino menghentikan langkahnya dan berbalik kearahku. Tampangnya berubah sendu ketika melihatku meringis kesakitan. Dia mendekatiku, meraih tanganku dan mengulung lengan jaketku keatas. Pergelangan tanganku terlihat memerah di bagian yang digenggamnya tadi. Dengan hati-hati dia mulai mengosok pergelangan tanganku. Aku agak terperangah dan jengah dengan yang dilakukannya. Dengan segera aku menarik kembali tanganku dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Saya .. saya baik-baik saja ...", kataku dengan nada gugup.
Mino tidak mengeluarkan suaranya melihat penolakanku itu. Dia masih saja menatapku dengan tatapan yang dalam. Aku semakin tidak mengerti dengan tingkah lakunya hari ini. Dia kemudian mendekatiku dan meraih tanganku sekali lagi. Kali ini dia menyisipkan jemarinya di antara jemariku. Hawa hangat dari telapak tangannya mengalir masuk ke dalam hatiku melalui kontak tangan itu.
"Ayo kita lanjutkan lagi perjalanan ini ...", katanya dengan lembut sambil mengajakku mengikuti langkahnya.
"Mau kemana?", tanyaku penasaran.
"Kamu ikut saja ..", jawab Mino pendek.
Aku mengangkat bahu dan tidak bertanya lebih lanjut. Kuikuti langkahnya dengan jemari yang masih terselip di antara jemarinya. Tubuhku terasa hangat walaupun udara di luar sangat dingin. Aku memang belum memakai sarung tangan setelah keluar dari mobil yang berhawa hangat tadi. Sepasang sarung tanganku yang terbuat dari wol itu masih tersimpan di saku jaketku. Begitu juga dengan Mino.
Aku bergerak perlahan dan Mino menyelaraskan langkahnya di sampingku. Dia tidak menarikku lagi seperti tadi. Mungkin dia takut menyakitiku. Hal ini semakin membuatku tidak habis pikir. Apa sebenarnya maksud dari semua ini? Mengapa dia kelihatan begitu berbeda dari biasanya? Berbagai pertanyaan bercampuraduk dalam pikiranku. Aku sudah tidak memperhatikan keadaan di sekitar lagi. Kakiku hanya mengikuti kemana Mino membawaku. Lima menit kemudian dia menghentikan langkahnya.
"Lihat, itu tempat yang kita tuju .. ", kata Mino dengan nada gembira.
Aku berhenti disampingnya. Perlahan kuangkat wajahku, mengikuti arah yang ditunjuknya dan .... aku tertegun ... lapangan iceskating yang luas terhampar di depan mata. Cukup banyak orang yang sedang bermain di sana.
"Kamu .. kamu sudah gila, ya? .. kamu tidak bermaksud ikut bermain di dalamnya, kan?", tanyaku dengan suara keras. Kekagetan yang luar biasa membuatku tidak bisa mengendalikan emosi lagi. Mataku melebar dengan pandangan menusuk kearah Mino.
Mino tersenyum. Sekali lagi dia kelihatan lain dari biasanya. Dia tidak kesal melihat kemarahanku. Dia malahan menjawab pertanyaanku dengan nada ringan.
"Kamu jangan khawatir .. saya tidak akan melakukan gerakan yang membahayakan kakiku .. cukup meluncur saja .. kamu sudah lama tidak melihatku bermain iceskating, kan? .. ayo, kamu juga ikut bermain denganku .. sepatu skatemu sudah saya sediakan .."
Aku bersiap membantah, tapi Mino tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk mengeluarkan suara. Dia menarik tanganku dan membawaku ke pinggir lapangan, dimana terdapat beberapa bangku panjang yang disediakan bagi para pengunjung. Dia kemudian menekan pundakku sehingga aku terduduk di salah satu bangku tersebut. Aku bersiap memprotes lagi tapi tertahan ketika dia berjongkok di depanku. Dia mulai melepaskan boots yang kukenakan dan mengantinya dengan sepasang sepatu skates yang diambil dari tas besarnya. Aku langsung membisu. Mino tersenyum puas setelah sepatu skates tersebut terpasang di kakiku.
"Pas sekali ..", katanya dengan bangga.
Mau tidak mau aku dibuatnya tersenyum dengan sikap kekanak-kanakannya. Mino lalu menganti sepatunya sendiri. Setelah selesai dia meraih tanganku dan mengajakku ke lapangan.
"Ayo, ikuti gerakanku ... jangan takut, aku akan berada disampingmu ..."
Aku mengikuti Mino meluncur kedepan dengan perasaan takut. Aku tidak pandai dalam permainan ini, dan Mino mengetahuinya, karena waktu kencan pertama kami, aku bahkan tidak berani melakukannya sama sekali. Mino meluncur disampingku. Dia mengelilingi dan menjagaku. Ketika aku hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan, dia segera menyanggaku. Aku merasa aman berada disampingnya. Perasaan ini selalu ada jika dia ada.
Kami sangat menikmati liburan hari ini. Kami bisa tertawa lepas setelah ketegangan selama beberapa bulan terakhir. Dan keadaan Central Park sangat mendukung semuanya. Setelah bermain selama dua puluh menit, akhirnya kami menghentikan permainan kami.
"Bagaimana menurutmu?", tanya Mino dengan mata berbinar.
"Indah .. sangat indah .... terasa di dunia lain ..", jawabku dengan senyum di bibir.
Mino juga tersenyum. Matanya perlahan terarah ke tangan kananku.
"Ada sesuatu yang ingin saya berikan kepadamu ..."
Mataku melebar mendengar perkataan Mino.
"Untukku? .. apa itu ?", tanyaku penasaran.
"Hmmm .. berikan Sarang padaku dan tutup matamu ...", perintah Mino.
Aku terdiam. Apakah aku tidak salah dengar? Sarang .. benarkah yang dibicarakannya tadi adalah Sarang? Dia masih ingat kepada Sarang .......
"Kamu ... kamu ... masih mengingat Sarang ...?", tanyaku dengan suara bergetar.
Mino menatapku lekat-lekat. Dia meraih tanganku dan berkata dengan suara yang lembut.
"Tentu saja, dia akan selalu ada dalam hatiku ...."
"Tapi .. kamu .. kamu tidak pernah menyinggungnya lagi setelah .. setelah tersadar dari koma ...", kataku terbata-bata.
"Saya tidak menyinggungnya karena memang percuma saja saya menyinggungnya .. untuk apa? bukankah Sarang memang selalu bolak balik dari tangan kita berdua .. apapun yang terjadi dia tidak pernah lari dari genggaman kita, kan?", kata Mino dengan nada suara yang sama.
Aku mengangguk. Memang benar yang dikatakan Mino. Untuk apa membahas sesuatu yang sudah pasti jawabannya. Perlahan aku melepaskan tali yang mengantung Sarang dan memberikannya kepada Mino. Dan sesuai permintaannya aku mulai memejamkan mata. Detik demi detik, menit demi menit berlalu. Entah sudah berapa lama aku menunggu, sampai akhirnya suara Mino menyadarkanku.
"Sekarang buka matamu ...."
Sedikit demi sedikit mataku terbuka. Perhatianku langsung tertuju ke tangannya. Dan .. sesuatu yang digengamnya, sesuatu yang mengantikan tali itu, sesuatu yang mengantung Sarang membuatku terpana.
"Itu ... bagaimana? .... bagaimana mungkin ...", aku tidak mampu meneruskan perkataanku lagi.
Mino menyodorkan tangannya yang memegang Sarang kepadaku. Sebuah rantai gelang yang tidak asing bagiku melingkari Sarang.
"Saya melihat kamu tertarik dengan sesuatu yang terpajang di toko dekat pinggir jalan itu sebulan yang lalu dan saya menebak gelang ini yang menarik perhatianmu .. hmm .. entah mengapa bisa begitu, mungkin ini yang dinamakan ikatan batin, entahlah ... yang jelas saya lalu menyuruh Mr. Kang membelikannya untukku, untung tebakanku benar .... "
Aku memperhatikan gelang yang merantai Sarang yang sudah berada dalam tanganku. Mataku meredup antara sedih dan terharu.
"Gelang ini ... mama pernah memakai gelang yang sama persis dengan ini di fotonya .. gumawo Mino aaa .. seperti juga Sarang, gelang ini sangat berharga bagiku, cuma dua barang ini yang mempunyai kaitannya dengan mama ... tidak kusangka akan menemukannya disini .."
Aku meremas kedua benda itu dalam gengamanku. Air bening mulai mengalir keluar dari sudut mataku. Aku mendengar langkah Mino mendekatiku. Dia meletakkan kedua tangannya di pundakku dan menatap lekat ke mataku.
"Jangan menanggis .. mulai sekarang tidak ada yang perlu untuk ditanggisi ... "
Mino menghapus airmataku. Dia berada begitu dekat denganku. Aku bisa merasakan nafas hangatnya mengenai wajahku. Mataku terpejam. Jantungku berdebar tak karuan. Pipiku mulai memanas walaupun udara di sekeliling begitu membeku. Aku bermaksud membuka mata ketika sesuatu yang lembut dan hangat menempel di bibirku. Badanku langsung mengejang. Ada apa ini?
Perlahan aku membuka mataku dan mendapati wajah Mino menempel di wajahku begitu juga bibirnya. Aku sangat terkejut. Mulutku tergangga. Dapat kurasakan bibir bawah Mino memasuki mulutku begitu juga dengan lidahnya. Nafasku langsung memburu. Apa yang harus kulakukan? Apa maksudnya semua ini? Apa arti dari hubungan kami? Masih sepasang kekasihkah?
Aku berdiri kaku di tempat, membiarkan bibir Mino melumat bibirku. Aku tidak membalas tapi juga tidak menolaknya. Aku binggung, tidak tahu harus berbuat apa. Yang bisa kulakukan hanya membiarkannya saja. Mino menciumku hanya dalam waktu setengah menit. Dia kemudian menarik wajahnya ke belakang. Wajahnya memancarkan kekecewaan yang mendalam. Aku bermaksud mengeluarkan suara tapi tidak jadi. Aku hanya bisa berdiam diri dengan perasaan bersalah. Mino melemparkan pandangannya jauh ke belakangku. Dia menghela nafas panjang, kemudian menundukkan wajahnya. Kakinya mengores-gores timbunan salju tipis di tanah.
***************
Kediaman Soeun ....
Joongie berdiri di ruang tamu dengan kepala dijulurkan kedepan, mengarah ke lorong dalam, dimana kamar Soeun berada. Tidak ada reaksi dari dalam kamar. Joongie menarik nafas. Diliriknya jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Eun!! ... sudah selesai belum? .. kita sudah terlambat nih ...", teriak Joongie keras.
"Sebentar ...", balas Soeun dari dalam kamar.
Sesaat kemudian pintu kamar terbuka dan Soeun berlari keluar dari sana. Dandanannya membuat Joongie langsung terpana. Soeun kelihatan sangat lain dari biasanya. Anggun dan cantik. Gaun panjang berwarna putih dengan bagian bahu yang terbuka membalut ketat tubuhnya. Pita berwarna merah darah mengikat pinggang rampingnya sehingga mengambar jelas bentuk tubuhnya yang sempurna. Rambutnya yang hitam dan panjang tergulung keatas dengan beberapa untai rambut yang agak keriting menjuntai indah disudut telinga. Pipinya merah merona. Mata Joongie semakin melebar dengan kecantikan Soeun.
"Joong ... apa yang kamu perhatikan? Ada yang aneh?", tanya Soeun dengan kening berkerut. Dia menunduk dan memperhatikan gaun yang dikenakannya.
"Ti .. tidak ... saya .. saya hanya memikirkan acara yang akan kita hadiri nanti ...", jawab Joongie gugup.
Soeun mengangkat bahu. Sebentar saja dia sudah melupakan keanehan sikap Joongie.
"Oh ya, apakah Joong tahu bagaimana kelanjutan hubungan oppa dan Hyesun onnie? ... maksudku ... masalah yang mereka hadapi belum selesai, kan?"
Joongie langsung tertawa mendengar pertanyaan Soeun. Matanya menatap lekat ke mata Soeun.
"Kamu jangan khawatir dengan hubungan noona dan tuan muda .. mereka akan baik-baik saja, ... sudah banyak rintangan yang mereka lewati dan cinta mereka juga sudah teruji, jadi mereka akan bersatu .. percayalah padaku ..."
Soeun mengangguk. Dia percaya penuh dengan perkataan Joongie. Bukan hanya karena penjelasannya keluar dari mulut Joongie tapi juga karena dia telah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Sudahlah ....jangan dipikirkan lagi .... kita harus berangkat sekarang, jika tidak kita akan terlambat menghadiri pesta pernikahan temanmu ... ", kata Joongie dengan senyum di bibir.
Soeun ikut tersenyum. Dia bermaksud melangkahkan kakinya ketika Joongie menghentikan langkahnya. Joongie menepuk pelan pundak Soeun. Ada sesuatu yang terlupakan olehnya.
"Tunggu sebentar ....", Joongie berbalik ke kamar Soeun.
Soeun memandanginya dengan kening berkerut. Tiga menit kemudian Joongie keluar dari kamar dengan jubah bulu berwarna putih halus tersampir di lengannya.
"Pakai ini .. diluar sangat dingin .. jangan sampai kamu terserang flu ...", kata Joongie lembut.
Sekali lagi Soeun tersenyum. Joongie membantu Soeun mengenakan jubah bulunya dengan penuh kasih sayang. Hati Soeun berbunga-bunga dengan semua perhatian Joongie. Sesaat kemudian Joongie menjulurkan tangannya ke Soeun. Mereka keluar dari ruang tamu dengan bergandengan tangan.
***************
Sehari sebelum natal ....
Aku berdiri di lantai tiga dekat jendela. Pandanganku terarah ke pemandangan di luar. Salju sedang turun dengan lebat. Jalan yang ada dibawah, beserta pepohonan dan atap-atap rumah berselimut salju tebal. Aku agak mengigil. Walaupun jendela di hadapanku tertutup rapat, angin dingin merambat masuk juga lewat celah kecil di antara bingkai dan jendela.
Apartement ini sangat sepi malam ini. Para pelayan sudah memulai liburannya dan mereka semua telah kembali ke keluarganya masing-masing guna menghabiskan liburan natal bersama. Mr. Kang juga sudah tertidur di kamarnya karena kecapekan setelah membantuku mempersiapkan segala sesuatu buat keperluan natal sejak dua hari yang lalu. Sedangkan Mino ada janji makan malam di luar dengan Mr. Maldrum dari perusahaan Sunrise.
Aku melirik sekilas jam kecil di atas perapian, waktu menunjukkan pukul 8 malam. Setelah kelelahan dengan semua dekorasi natal, aku sempat ketiduran tadi. Tapi belum sampai setengah mataku terpejam, aku sudah terbangun lagi. Sesuatu membuatku tidak bisa memejamkan mata kembali. Aku bermimpi. Mimpi yang sangat aneh.
Aku berada di sebuah taman yang indah. Bunga beraneka-ragam dan berwarna-warni mengelilingi hampir seluruh sudut taman. Cahaya terang menyilaukan mataku. Segala sesuatu terlihat sempurna di sini. Udara bersih, dan mengundang kebahagiaan bagi siapa dan apapun yang tinggal di dalamnya.
Aku tersenyum. Tempat ini membuatku betah. Kulayangkan pandanganku jauh kedepan. Semua yang terlihat sama saja. Sejauh mata memandang cahaya silau mengelilingi ladang bunga. Harum semerbak memasuki hidungku. Aku berpaling kesamping. Pemandangan yang tertangkap olehku sama juga. Kemudian aku berpaling ke belakang dan .... aku tertegun....
Kulihat dunia yang lain dihadapanku. Kesuraman menyelimuti sekitarnya dan .. seseorang duduk membelakangiku di bangku rapuh. Walaupun orang itu tidak menghadap kearahku, aku dapat menebak siapa dia karena aku hapal betul dengan bentuk tubuhnya, dia adalah Mino.
"Minooooo!!!!!", teriakanku membahana.
Aku berlari kearahnya, bermaksud memasuki dunianya. Tapi sebuah kaca besar menghalangi langkahku. Mino tidak berbalik. Dia tidak mendengar teriakanku. Aku mengarahkan pukulan secara bertubi-tubi ke kaca yang tidak tampak oleh mata itu, sambil terus meneriakkan namanya. Perbuatan itu aku lakukan berulangkali.
Mino berpaling ke samping. Wajahnya terlihat sangat sayu. Perlahan dia menunduk. Teriakanku masih tidak
terdengar olehnya.
"Minoooo aa ..", pukulanku pada kaca transparan di depan sudah memelan. Suaraku sangat serak.
"Percuma kamu berbuat begitu, sayangku ....", suara lembut yang penuh perasaan itu segera membuatku berbalik dan ... aku tertegun ....
"Junki ....", panggilan pelan keluar dari mulutku.
Junki tersenyum. Dia kelihatan sangat berbeda dari biasanya. Seluruh tubuhnya terbalut pakaian serba putih. Cahaya yang menyilaukan memancar keluar dari badannya. Dia terlihat sangat suci dan maya. Dia mendekatiku, tidak berjalan melainkan seperti melayang kearahku. Aku terpana. Entah mengapa melihat semua itu, tidak terbersit sedikitpun perasaan takut dalam hatiku. Junki menatapku dengan pandangan kasih yang tulus. Aku dapat merasakan perasaan nyaman dan sejuk merasuki hatiku.
"Dunia ini terpisah dari dunia yang dihuni Mino ..", kata Junki dengan nada lembut. Pandangannya sekarang terarah ke Mino.
Aku mengeleng dengan cepat. Aku tidak mempercayai kata-katanya. Teriakan histeris keluar dari mulutku.
"Tidakkk !! tidak mungkin begitu ... kami baru saja menghabiskan waktu bersama sepanjang hari ini dan dia hanya ada janji makan malam di luar, dia akan segera kembali ... dunia kami tidak mungkin terpisah ... tidak mungkin .... ", gelengan kepalaku semakin menjadi, dan suaraku terdengar sangat parau.
Junki mengembalikan perhatiannya kepadaku. Sinar matanya yang penuh kasih tidak berubah. Suara masih terdengar lembut di telingaku.
"Jika kalian memang tidak mungkin terpisah, mengapa harus menghindar? mengapa tidak berani menghadapi perasaanmu sendiri? ... cinta kalian sudah teruji, kan? jadi sekarang ada masalah apa lagi? kamu harus mengambil jalan keluarnya Hyesun aa .. kalian tidak bisa terus-terusan begini ...."
Mataku meredup. Perlahan kualihkan pandangan ke Mino. Dia masih berada dalam posisi serupa. Aku melangkah kedepan dan menempelkan tangan ke kaca yang memisahkan dunia kami. Airmataku mengalir keluar.
"Saya tidak ingin begini .. sungguh .. saya tidak ingin seperti ini .... ", isak tanggis mulai terdengar dari mulutku. Sekali lagi aku berusaha menembus kaca maya itu tapi tetap saja tidak bisa.
Junki mendekatiku. Dia tersenyum. Tangannya diangkat dan ditempelkan ke punggungku. Dengan satu hentakan dia mendorongku ke depan. Aku terkejut. Karena kehilangan keseimbangan aku tersungkur ke depan dan menembus kaca tidak tampak yang menghalangiku dengan Mino. Pada saat yang hampir bersamaan aku tersentak bangun dari tidurku dengan keringat yang bercucuran dan wajah yang basah oleh airmata.
Dengan gugup aku mengarahkan pandangan ke sekeliling ruangan. Keadaan sekitar sangat buram. Aku memang mempunyai kebiasaan memadamkan lampu sebelum tidur. Penerangan satu-satunya hanya didapat dari perapian di tengah pojok ruangan. Itupun hanya sedikit, karena kayu yang dibakar sudah hampir habis.
***************
Deritan pelan dari pintu di belakang, membuatku berpaling. Keadaan sekitar ruang tamu ini agak buram. Cahaya lentera yang redup memantulkan bayanganku memanjang sampai ke tengah ruangan. Sebatang pohon natal yang cukup tinggi berkerlap kerlip di pojok kanan dekat jendela. Pintu terbuka dan Mino memasuki ruangan. Dia kelihatan kedinginan. Tubuhnya mengigil dengan mantel panjang yang berlapis salju tipis. Mino mengibaskan serpihan salju putih itu dari longcoat hitamnya. Semakin dirapatkannya mantel itu ke tubuhnya.
Aku memperhatikan semua tingkahlakunya tanpa mengeluarkan suara . Mino mengalihkan pandangan kearahku, begitu selesai dari kesibukan dengan mantelnya yang berlepotan salju.
"Jangan berdiri terlalu lama di dekat jendela ..... udara di luar sangat dingin, nanti kamu bisa sakit .... kemarilah! .... akan kutambahkan kayu bakar untuk menghangati tubuhmu ..."
Mino mendekati perapian bata di pojok kiri dekat pintu. Dilemparnya beberapa batang kayu bakar ke perapian itu. Suara berkerak-kerik terdengar ketika api mulai melahap kayu di dalamnya. Mino menjulurkan sepasang tangannya ke perapian. Digosokannya sepasang tangan tersebut dengan maksud untuk menghangatkannya. Dua menit kemudian Mino melepaskan mantelnya dan mengantungkannya ke tempat yang dipergunakan untuk mengantung jas dan mantel yang tersedia dekat perapian.
Aku masih berdiri kaku di tempat. Tidak kuturuti permintaan Mino tadi. Kuhembuskan nafasku yang beruap setelah menariknya panjang-panjang. Aku berbalik lagi kearah jendela. Samar-samar terdengar olehku suara televisi yang dinyalakan. Cuaca di luar semakin memburuk. Sepertinya bakal ada badai salju. Angin berhembus kencang menerbangkan serpihan-serpihan salju ke udara.
Perhatianku terus tertuju ke luar jendela, sehingga tidak memperdulikan lagi apa yang dilakukan Mino. Beberapa waktu berlalu. Entah sudah berapa lama aku berdiri dalam posisi yang sama. Dan keheningan yang tiba-tiba mencekam itu menyadarkanku dari lamunan. Dahiku berkerut. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Tidak terdengar olehku suara televisi yang tadi dinyalakan Mino. Hening dan sunyi sekali.
Aku berbalik kearah Mino tadi berada. Tidak ada siapapun disana. Begitu juga seisi ruangan. Hanya bayanganku yang menemani di dalam kesunyian. Suara detak detik jam meja di atas perapian terdengar jelas ..tak .. tik .. tak .. tik ...
Kecemasan mendadak menghinggapiku. Mimpi aneh tadi berkelebat dalam pikiranku. Nafasku menjadi sesak. Aku takut. Sangat takut. Takut jika sesuatu terjadi padanya.
"Minooo aaa ...", maksudku ingin teriak, tapi yang keluar hanya panggilan tertahan.
Sepasang kakiku bergetar hebat. Dengan sekuat tenaga aku mengendalikan gerak kakiku dan menghambur keluar dari ruang tamu.
*************
Aku berhenti di depan pintu. Pandanganku berputar ke setiap sudut lorong diluar ruangan. Aku kebinggungan sendiri, tidak tahu harus berbuat apa. Kuperhatikan satu persatu pintu kamar yang berada di kanan kiri lorong dari tempatku berdiri. Aku mengeleng perlahan. Semua kamar yang berada di lantai tiga ini hanya diperuntukkan bagi para pelayan termasuk Mr. Kang, jadi tidak mungkin Mino berada dalam kamar-kamar tersebut.
Dengan segera aku berlari menuruni tangga menuju lantai dua. Kesuraman di sekitar membuatku sedikit merinding. Penerangan sekadarnya hanya di dapat dari dua bola lampu di ujung tangga. Sunyi dan mati. Langkah kakiku terdengar nyaring mengema di sekeliling lorong kelam.
Aku sampai di lantai dua dengan nafas sedikit memburu. Kuperhatikan keadaan sekitar. Keheningan membuat telingaku mengiang. Aku menuju pintu kamar pertama di sebelah kanan, dekat tangga. Ini adalah kamar tidur Mino. Kuletakkan tangan di gagang pintu dan memutarnya. Pintu kamar ternyata tidak dikunci. Dengan satu hentakan pintu tersebut terbuka ke dalam.
Kamar itu sangat gelap dan dingin. Lampu tidak dinyalakan, begitu juga dengan mesin penghangat listrik yang terletak di dekat tempat tidur. Satu-satunya penerangan didapat dari lampu-lampu hiasan di luar apartement yang menyorot masuk lewat jendela kaca yang tirainya tidak tertutup rapat. Setelah terbiasa dengan cahaya yang terbatas itu, kuperhatikan seluruh pojok ruangan. Tidak ada bayangan seorangpun dalam kamar ini. Keadaannya menunjukkan kalau tidak ada yang memasukinya dalam waktu terdekat.
Perlahan aku mundur kebelakang dan menutup pintu. Aku berjalan ke kamar sebelah dengan perasaan campuraduk. Ini adalah kamar yang dijadikan ruang kerja oleh Mino. Kubuka pintunya yang ternyata juga tidak dikunci. Keadaannya sama dengan kamar sebelah. Dingin dan mati. Tidak ada tanda kamar ini pernah dijamah orang. Hatiku bertambah gelisah. Kemana Mino? Aku menghembuskan nafas panjang dan keluar dari kamar tersebut.
Kemudian aku berbalik ke belakang. Keraguan menghinggapiku. Ruangan di depan kedua kamar pertama itu merupakan satu-satunya kamar yang tidak terpakai. Aku cuma memasukinya sekali ketika pertama kali menginjakkan kakiku di sini. Ruang ini sebenarnya hanya dipergunakan untuk menampung semua barang yang tidak berguna lagi. Lebih tepatnya kalau disebut sebagai gudang. Tapi entah mengapa ketika kutaruh tangan di gagang pintu kegelisahan semakin merasuki hatiku. Ada perasaan ngeri yang membuatku segera berpaling ke samping.
Aku bermaksud berlari dari situ ketika mimpi itu kembali bermain dalam pikiranku. Tidakkkk!!! aku harus menyelidiki semua sudut apartement ini, tidak terkecuali. Mino harus kutemukan. Dengan tekad bulat aku berbalik lagi kearah ruangan yang kelihatan suram itu. Kuputar gagang pintu dan mendorongnya ke depan. Pintu kamar terbuka dan .. aku langsung tertegun.
Ruangan itu terang benderang oleh sinar lampu kristal di atas langit kamar. Mataku terpejam karena cahaya yang menyilaukan itu. Karena terlalu lama berada dalam kegelapan, sepasang mataku belum terbiasa dengan cahaya yang terlalu terang seperti itu. Setelah mataku bisa bekerja dengan baik, kuarahkan pandangan keseluruh ruangan.
Semua yang ada disana berbeda dari perkiraanku semula. Barang rongsokan yang semula tergeletak sembarangan sudah tersusun rapi di sudut ruangan. Sebuah meja panjang dari aluminium berkilat terkena cahaya lampu di tengah ruangan. Bermacam panci, piring, sendok dan lainnya, dari berbagai ukuran tertata rapi di atasnya. Begitu juga dengan sebuah oven dan kompor gas. Melihat semua itu dahiku berkerut. Semakin banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku. Kekhawatiranku semakin menjadi. Tanganku bergetar.
"Mino aaa ...", ujarku lirih.
Tiba-tiba ketakutan itu kembali merasuki hatiku. Aku berbalik dan menghambur keluar. Aku terus berlari menuju lantai bawah. Tetap saja kesunyian yang menyambutku. Aku menerjang masuk ke kamarku sendiri dengan airmata yang mulai mengalir keluar dari sudut mataku. Pandanganku beredar ke sekeliling ruangan setelah berada di dalam sana. Keadaan di kamar itu sama saja dengan ketika kutinggalkan setengah jam yang lalu. Aku mendesah. Perlahan aku mundur kebelakang, berbalik dan berlari keluar dari sana.
Beberapa saat kemudian aku sampai di dapur yang berada di sebelah kamarku. Dapur itu kelihatan bersih dan tidak dipakai lagi setelah ditinggal para pelayan tadi pagi. Nafasku memburu. Isak tanggis mulai keluar dari mulutku. Aku keluar dari dapur dengan lesu. Langkahku terhenti begitu tiba di ruang makan yang pintunya tertutup. Aku menarik nafas dengan isak tertahan. Ruangan ini merupakan harapan terakhirku. Kuputar gagang pintu dan membuka pintu yang tidak terkunci itu. Berpuluh kecil cahaya menyorot keluar begitu pintu kamar terbuka. Aku terpana. Mino berdiri di depanku dengan sebuah kue ulang tahun yang dihiasi berpuluh batang lilin di atasnya.
"Saengil chukae, Hyesun aaa ...", kata Mino dengan senyum tersungging di bibir dan mata berbinar-binar.
Mataku terbelalak. Hanya sesaat aku melirik kue ulangtahun yang dipegangnya. Melihatnya berdiri di depanku lagi membuat tanggisku langsung meledak.
**************
Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ...
keeps it strong!!!
Our MinSun
Print
Pages:
1
2
3
[
4
]
5
6
7
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
THE SARANG
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #9151