Author Topic: DREAM chapter 1 part 2 update 26 juni 2010  (Read 2925 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: DREAM
« Reply #15 on: June 25, 2010, 04:01:37 am »
CHAPTER 1 : What a Wonderful World

Matahari panas terik bagai membangkar seluruh organ-organ tubuhku. Peluh membanjiri seragamku. Kuedarkan pandanganku kesegala penjuru. Disebelah kananku hanya terdapat dinding kayu berlumut, sedang di sebelah kiriku terdapat dua makhluk biadab yang menyebabkanku terkurung di suatu tempat mengerikan ini. Dibelakangku ada sebuah peti besar terbuka yang berisi ikan-ikan busuk, dan di depanku juga terdapat peti besar –lebih besar dari peti yang dibelakangku, dan berisi ikan-ikan yang juga lebih busuk.

Aku mengumpat pelan dalam hati. Jika mulutku tidak di sumpal oleh Hye Kyo sudah kupastikan sumpah serapah akan meluncur dengan manisnya dari mulutku.

Aku memandanginya dengan tatapan ini-semua-salahmu.

Hye Kyo balik memandangku; enak-saja!-ini-juga-salahmu.

Aku memandanginya lagi; pokoknya-ini-salahmu.

Hye Kyo memelototkan matanya dan memandangiku; ini-juga-salahmu-idiot!.

Kemudian masuk pemain baru; Eun Hye, yang memandangi kami diam-atau-kujejalkan-ikan-tak-pernah-mandi-ini-ke-mulut-kalian-berdua.

Serempak aku dan Hye Kyo memutar kedua bola mata kami. Memangnya kami membuat keributan sampai di suruh diam?

Pikiranku melayang ke kejadian yang menyebabkan kami bertiga terkurung disini.

FLASBACK : ON

Kepalaku terasa pening berkat soal-soal fisika tadi. Uh, kenapa harus ada pelajaran seperti itu di sekolah? (pengalaman pribadi nih! [hmpfh]). aku mengedarkan pandanganku ke segala arah, berharap menemukan Hye Kyo dan Eun Hye di sekelilingku, tapi nihil. Kelasku dan kelas Hye Kyo dan Eun Hye memang berbeda, tapi kami sudah sepakat untuk bertemu jam istirahat nanti.

Aku bertanya pada salah satu teman sekelas Eun Hye, tapi ia bilang Eun Hye tidak kelihatan batang hidungnya sejak jam ketiga. Apa?? Eun Hye gila!. Aku beranjak kekelas Hye Kyo, dan mendapati bahwa Hye Kyojuga tidak masuk sejak pada jam ketiga. Aku mengerutkan keningku. Hye Kyo dan Eun Hye tidak hadir secara bersamaan. Bolos. Pasti itu. Awas kalian.

Derap langkah kaki seperti orang yang berlarian memaksa semua orang yang ada di koridor ini menoleh. Dan itu mereka, Hye Kyo dan Eun Hye yang berlarian seperti orang gila. Sekitar lima puluh meter di belakang mereka ada Mr. Jung, guru astronomi kami, ia juga berlari bak orang kesetanan, bedanya ia membawa tongkat sedangkan Hye Kyo dan Eun Hye tidak.

Hye Kyo dan Eun Hye berlari kencang ke arahku, dan tanpa kuduga Hye Kyo menarik tanganku, memaksaku untuk ikut berlari dengan mereka. Aku yang tidak tahu apa-apa juga langsung tancap gas, seperti orang bodoh, ikut-ikutan berlari di belakang mereka.

Kami bertiga terus berlari. Didepan ada Eun Hye, si mungil tapi sprinter kebanggan sekolah kami. Deretan kedua ada Hye Kyo, di susul olehku yang sepertinya akan sekarat. Kakiku terasa kram, perutku sakit, dan baju seragamku sudah basah. Sekarang kami sudah tidak berada di lingkungan sekolah lagi, kami sekarang berada di pasar ikan. Entah apa yang kami lakukan disini, yang jelas kami sedang menghindari kejaran Mr. Jung.

Hiruk pikuk di sekeliling tidak kami hiraukan. Kami terus berlari. Menabrak orang-orang yang berlalu-lalang, menjatuhkan dagangan yang terpampang, merusak keramik-keramik yang sedang diskon, menghamburkan ikan-ikan yang sedang menggelepar, dan masih banyak lagi kekacauan yang kami lakukan. Tapi kami tidak peduli. Hanya berlari yang kami lakukan sekarang. Beberapa orang yang melihat kami berlari hanya melongo heran, tentu saja. Jam sekarang masih jam sekolah, tapi kami sudah berlarian dipasar.

Tepat didepan gudang ikan aku menarik paksa tangan Hye Kyo dan Eun Hye untuk berhenti. Aku ngos-ngosan tak karuan, dengan cepat aku melihat sekeliling, mencari kalau-kalau Mr. Jung sudah menemukan kami.

“Kenapa berhenti, Sun-a? Ayo lari lagi”, ujar Eun Hye sambil menggoyang-goyangkan lengan kiriku.

Aku mendelik kepadanya, “Kau ingin membunuhku?”

Hye Kyo yang melihat wajahku sudah memerah akhirnya menyuruh kami beristirahat sejenak.

“Sebenarnya apa yang terjadi?”, tanyaku setelah kami duduk di salah satu tong yang ada disitu.

“Hehehe...kau tidak akan percaya ini, Sun-a”, ujar Hye Kyo sambil memperlihatkan cengirannya.

Aku mengerutkan keningku, “Memangnya apa yang sudah kalian lakukan?”

“TADAAA....”, Eun Hye berteriak sambil memperlihatkan tiga lembar kertas.

“Apa ini?”, tanyaku sambil mengambil kertas-kertas itu.

“KALIAN GILA!!”, teriakku setelah membacanya, mataku membelalak ketika mengetahui isi kertas itu. Soal-soal semester mata pelajaran Fisika.

“Bagaimana? Ha? Ha? Ideku bagus bukan. Hye Kyo”, ujar si bodoh itu sambil mendirikan kerah seragamnya, berlagak seperti jagoan.

Aku mendengus keras, “Bagaimana kalau sampai ketahuan, bodoh!”

Eun Hye tersenyum geli melihatku marah, “Tidak akan ketahuan, Sun-a. Dewan guru tadi sedang sepi, semua guru  sedang makan-makan di ruangan kepala sekolah. Tidak ada yang mengetahui kami mengambil soal-soal itu”

“Mm..benar!”, Hye Kyo mengangguk penuh semangat.

“Mr. Jung tadi?”

“He he he”, Hye Kyo cengengesan gila, ia kemudian mengeluarkan sebuah tas plastik hitam.

“Apa lagi itu?”, tanyaku sambil memandangnya was-was.

“Novelmu yang ditangkap Mr. Jung kemarin. Kau ingat? Dia menangkapku mengambil ini dari mejanya. Ini”, ujarnya sambil menyodorkan kresek hitam itu padaku.

Aku memandangnya diam. Ia semakin memperlebar cengirannya.

Tiba-tiba dari arah lorong tak jauh dari tempat kami beristirahat terdengar langkah kaki orang berlari. Sontak kami bertiga turun dari tong dan saling berpandangan panik. Eun Hye langsung mengambil kertas soal-soal ujian tadi dan langsung menyembunyikannya dibalik seragamnya.

“Bagaimana ini?”, Eun Hye panik bukan main. Memang diantara kami bertiga, ia yang gampang panikan.

Aku memandang sekeliling, dan pandanganku jatuh di gudang ikan itu. Aku menarik tangan kedua sahabatku, mereka yang memang sudah panik hanya mengikutiku dengan harapan bisa lolos.

FLASHBACK : OFF

Dan disinilah kami, terperangkap dengan ikan-ikan yang tak pernah mandi.

Kupingku berdiri. Aku mendengar suara langkah kaki berat sedang mendekat ke arah kami. Aku melirik ke arah dua sahabatku, kulihat mereka berdua juga sangat ketakutan. Langkah-langkah kaki itu semakin mendekat, sepatu mengkilap khas seorang guru. Dengan gemetar aku melihat keatas, dan itu dia. Jenggot yang memenuhi dagunya, alis mata yang tebal, tangan yang mengenggam erat tongkat rotan, plus sumpah serapah dari mulutnya.

“Anak kurang asam! Kalau sampai aku menemukan mereka, ku goreng nanti!”, maki orang itu.

Aku menelan ludah gugup. Bau asin yang menyeruak di depanku terkalahkan oleh rasa takutku. Tanganku bertambah gemetar memegang ujung rokku. Aku melirik Hye Kyo lagi, dan kulihat ia tengah berpikir keras –ditandai dengan kempang-kempis hidungnya seperti babi.

Tiba-tiba kedua bola matanya membesar, dan tanpa disangka-sangka ia menoleh ke arahku dan tersenyum manis –yang menurutku seperti menyeringai. Aku menautkan kedua alisku. Berita buruk!. Hye Kyo pasti akan minta yang macam-macam padaku.

“Sun-a”, ia berbisik sangat pelan, takut terdengar si kumis.

Aku hanya memandangnya dengan perasaan was-was. Kalau sampai anak ini memintaku melakukan yang tidak-tidak, aku bersedia menggantikan pak kumis menggorengnya.

Jari telunjuknya mengarah ke depan. Aku mengikutinya, dan hanya mendapati peti besar berisi ikan-ikan yang sudah membusuk. Aku mengarahkan pandanganku lagi ke arahnya, mendapati ia sedang mengangguk-angguk penuh semangat layaknya anjing yang meminta tuannya melempar sebuah mainan untuknya.

Aku mengangkat bahuku penuh tanda tanya. Ia kemudian mendekat dan membisikkan sesuatu di telingaku.

“Kita bersembunyi di peti itu. Sebentar lagi akan ada orang yang mengangkatnya, dan kita akan lolos”, ujarnya sambil meyakinkanku.

Aku menatapnya, menimbang-nimbang apakah rencana ini baik atau tidak. Kuarahkan kembali pandanganku kedepan, pak kumis itu berjalan sedikit menjauh ke depan dan kesempatan itu digunakan oleh Hye Kyo untuk memaksaku masuk ke dalam peti.

“Sial! Kenapa harus aku yang duluan?”, aku berbisik pelan, sangat pelan.

Hye Kyo memandangiku seakan-akan ia menang. Awas kau!.

Kemudian berturut-turut Hye Kyo dan Eun Hye masuk ke dalam peti, dan sekarang di atasku sudah ada dua makhluk idiot yang dengan santainya bertelungkup tanpa memikirkan penderitaanku. Aku melihat seragamku yang sekarang tengah beradu dengan ikan-ikan busuk itu. Oh, kupastikan omma akan menggantungku sepulang nanti.

Hye Kyo kembali melirikku yang terjepit tak berdaya.

Ideku fantasis bukan?”, mungkin itu maksud dari lirikkannya.

Kadang aku merasa kagum akan kepribadian Hye Kyo, dia memandang dunia ini sangat indah. Aku memandangnya, tatapanku menghujam bola matanya,menyusupi lensa, selaput jala, dan iris pupilnya, lalu tembus kedalam lubuk hatinya, ingin kulihat dunia dari dalam jiwanya. Tiba-tiba aku merasa berdiri di balik pintu, pada sebuah twilight, mengamati ibuku yang sedang merawat ayahku yang sedang sakit, ibuku tersenyum lembut penuh kasih sayang. Sebuah radio tua menyala di bawah kaki ayahku, dan lagu “ What a Wonderful World” mengalir pelan. Seiring alunan lagu itu dari celah-celah peti kusaksikan pasar yang kumuh menjadi memesona. Anak-anak kecil melompat-lompat harmonis bermain tali dikelilingi gelembung-gelembung busa. Lalu lalang kenderaan terlihat seperti serpihan cahaya yang melesat-lesat menembus fatamorgana aurora. Burung-burung camar mematuki cumi yang berjuntai di lubang-lubang peti, terbang labuh. Sayap-sayap kumbang bagai berkilauan terbias warna-warni dedaunan maranta. Demikian indahkah hidup jika dilihat dari mata Hye Kyo? Apa beginikah seorang pemimpi seperti dirinya memandang dunia?

Tiba-tiba aku merasa tubuhku terangkat. Ah, bukan. Peti ini yang terangkat. Aku berdoa dalam hati semoga tangan orang yang mengangkat peti ini tidak patah. Ditambah berat Hye Kyo, kemungkinan besar berat peti ini mencapai 100 ton.

***

Aku dan Hye Kyo mengendap-endap masuk kedalam rumah. Berusaha untuk tidak membuat suara sedikitpun. Kalau sampai ketahuan oleh ibuku bahwa seragam kami sudah kucel, ia akan memarahi kami habis-habisan. Dan untunglah ibuku sedang tidak ada di rumah, ia hanya meninggalkan secarik kertas.

Hye Sun Hye Kyo,
Ibu sedang pergi bersama ayah kalian ke Seoul, ibu membantu ayah kalian berdagang di sini. Besok ibu kembali. Menginaplah di rumah Eun Hye malam ini, ibu sudah meminta tolong pada istri pendeta Geun, Lovelyn untuk mengurusi kalian selama ibu tidak ada.

Jangan nakal.

Ibu.


Aku dan Hye Kyo berpandangan sesaat, tak berapa lama kami melompat-lompat bagai orang yang baru memenangkan lotre. Menginap dirumah Eun Hye adalah kesenangan tersendiri untuk kami berdua. Lovelyn [laughing], ibu angkat Eun Hye orangnya sangat pendiam, bicaranya hanya satu dua patah kata, selebihnya ia hanya diam, menunggu orang berikutnya bertanya. Aku dan Hye Kyo sangat nyaman berada dirumah Eun Hye, orang tua angkatnya tidak pernah mengganggu privasi kami selaku anak muda.

Dengan cengiran yang semakin lebar, kami mempersiapkan diri untuk menginap. Baju-baju sudah dimasukkan kedalam tas, seragam kami pun sudah di cuci bersih, dan kami juga sudah membersihkan diri, sekarang tinggal menunggu jemputan. Dari kejauhan kami melihat Eun Hye berlari-lari kegirangan, ia melambaikan tangannya ketika melihat kami. Kami membalasnya, dan dengan semangat ’45 aku dan Hye Kyo mengangkat tas-tas berisi pakaian kami dan kemudian menyambutnya di depan pagar rumahku.

-skip time-

Matahari sudah memasuki peraduannya sejak tadi, sekarang aku, Hye Kyo, dan Eun Hye sedang bersiap-siap menghadap Tuhan. Peraturan di rumah Eun Hye adalah setiap selesai makan malam harus segera menghadap Tuhan, berdoa dalam arti sebenarnya.

Hye Kyo yang paling khusuk berdoa diantara kami. Aku memperhatikannya dari belakang. Hye Kyo seperti remaja cewek kebanyakan. Cewek seperti ini suka dandan tapi tidak berlebihan, suka ngerumpi (bahasa bakunya apa ya? [what]) dengan teman-teman cewek yang lain tentang para cowok di sekolah, kalau polisi menciduk kriminal yang berlalu lalang di pasar, Hye Kyo pasti akan segera di ciduk dan diangku ke mobil pick up, mungkin Hye Kyo akan dituduh sebagai pelacur karena wajahnya yang cantik. Dan jika menonton NHK (ini beneran stasiun tv nasional di Korea kan? [what]), kita biasa melihat orang seperti Hye Kyo meloncat-loncat dibelakang presiden agar tampak oleh kamera.

Aku teringat, beberapa hari setelah ayahnya pergi ke Jepang, aku dan ayahku dengan menumpang truk pengangkut ikan menjemput Hye Kyo. Sore itu ia sudah menunggu kami di depan gubuk reyotnya, berdiri sendirian ditengah-tengah halaman rumahnya yang sudah tak terurus. Anak kecil itu mengapit di ketiaknya cermin kecil yang tangkainya sudah kusam, di tangan kanannya tergenggam erat bingkai plastik murahan berisi foto hitam putih ayah dan ibunya ketika pengantin baru, ditangan kirinya tergenggam tas kusam yang tidak terlalu besar, ditelinganya terselip penggaris kayu yang sudah uzur, dan diantara kedua pahanya terselip buku-buku yang sampulnya sudah robek. Baju dan rok selututnya lusuh. Itulah seluruh harta bendanya. Sudah berjam-jam ia menunggu kami.

Tampak jelas wajah cemasnya menjadi lega ketika melihat kami. Aku membantunya membawa buku-bukunya dan kami meninggalkan gubuk kecil itu dengan pintu dan jendela terbuka lebar, karena dipastikan takkan ada seorang pun yang bisa mengambil apapun di dalamnya. Laksana terumbu karang yang menjadi rumah ikan di dasar laut, gubuk itu akan segera menjadi sarang luak, atapnya akan menjadi lumbung telur burung-burung, dan tiangnya akan menjadi istana liang kumbang.

Kami menyusuri jalan setapak menuju jalan raya tempat mobil tumpangan kami menunggu. Hye Kyo menengok kebelakang untuk melihat gubuknya terakhir kalinya. Ekspresinya datar.  Lalu ia berbalik cepat dan melangkah dengan tegap. Anak sekecil itu telah belajar menguatkan dirinya. Ayahku berlinangan airmata, dipeluknya kuat-kuat bahu Hye Kyo.

Sepanjang perjalanan aku tidak banyak bicara. Hatiku perih memikirkan nasib malang sepupuku ini. Ayahku duduk diatas sebuah peti berisi ikan, sedangkan aku dan Hye Kyo duduk berdampingan dipojok bak truk yang terbanting-banting diatas jalan sepi berbatu-batu. Aku mengamati Hye Kyo. Kelihatan jelas kesusahan telah menderanya sepanjang hidup. Ia sesusia denganku, tapi tampak lebih dewasa. Sinar matanya jernih, polos dan bercahaya. Tak dapat kutahan, air mataku menganak sungai dikedua pipiku. Tak dapat dipercaya bagaimana anak sekecil itu bisa setegar ini. Hye Kyo mendekatiku dan kemudian menghapus air mataku dengan lengan bajunya yang kumal. Tindakan itu membuat airmataku semakin deras mengalir. Sempat kulirik ayahku yang mencuri pandang kearah kami, dan tampaklah matanya memerah, bengkak. Melihat hatiku pilu, kupikir Hye Kyo akan terharu, tapi sebaliknya ia malah tersenyum dan pelan-pelan ia merogoh saku roknya. Dan sekarang ditangannya tampak dua buah boneka kumal, ia mengambil salah satu boneka tersebut, dan sekarang dikedua tangannya terdapat boneka kumal. Ia bermain-main dengan boneka itu. Boneka ditangan kirinya dinamai Hye Kyo, sedangkan di tangan kanannya Hye Sun. Setelah bermain cukup lama dengan boneka itu, ia kemudian merogoh lagi kantong dibajunya, dan tampaklah sebuah kumbang. Kumbang itu terlihat sangat cantik, ia menarik tanganku agar berdiri. Dan tanpa disangka-sangka ia melepaskan kumbang itu. Di tiup angin kencang diatas truk kumbang itu meregangkan sayap-sayapnya, mengapung sebentar, kemudian berputar-putar seolah-olah merayakan kemerdekaan lalu melesat menembus pohon-pohon ditepi jalan. Lalu Hye Kyo melangkah maju menuju depan bak truk, ia masih menggenggam erat tanganku. Pelan-pelan ia meregangkan kedua tangannya dan membiarkan angin menerpa wajah cantiknya. Agaknya ia juga bertekad memerdekakan dirinya dari duka yang mengurungnya. Ia telah berdamai dengan kepedihan dan siap menantang nasibnya. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya bak rajawali diangkasa luas.

“Duniaa...!! Sambutlah aku..! Aku, Song Hye Kyo, datang untuk menantangmu!!”, pasti itu maksud dari sikapnya barusan.

Tbc...

Whoa, fic pertama gw yang super duper panjang!!
 [on] [on] [clap]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME