Author Topic: DREAM chapter 1 part 2 update 26 juni 2010  (Read 2917 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: DREAM chapter 1 update 25 juni 2010
« Reply #15 on: June 26, 2010, 03:30:59 am »
Part 2 ini cuman seputar pandangan Hye Sun ke Hye Kyo, jadi cuman pendek

Chapter 1 Part 2 : Soulmate

Aku dan Hye Kyo ditakdirkan seperti sebatang jarum diatas meja dan magnet dibawah. Sejak kecil kami selalu bersama, melekat kesana kemari seperti prangko. Aku semakin dekat dengannya karena jarak antara aku dan kedua kakakku sangat jauh. Hye Kyo adalah saudara sekaligus sahabat buatku. Dan meskipun kami seusia, Hye Kyo adalah onnie dari onnie manapun di dunia. Ia selalu melindungiku. Sikap itu tercermin dari hal-hal yang paling kecil. Jika kami bermain dengan boneka, ia bersikeras mengambil boneka yang paling kumal. Dalam pementasan drama di sekolah, ia akan menjadikanku putri salju sedangkan ia ngotot ingin menjadi ratu yang jahat. Kalau ayahku membelikan kami baju baru ia mau yang paling jelek, dan memberikan yang paling bagus dan mahal untukku. Jika sedang bermain bersama teman-teman yang lain mengejar layangan, ia akan mengejar layangan itu dan berusaha mendapatkannya untukku. Jika aku melihat buah mangga yang masak dipohonnya, ia akan memanjatkannya untukku. Sering bangun tidur aku menemukan kuaci, permen, atau mainan kecil dari tanah liat sudah ada di saku bajuku. Hye Kyo diam-diam membuatkannya untukku.

Sejak melihat aksi Hye Kyo di truk ikan tempo hari, aku langsung mengerti bahwa Hye Kyo adalah pribadi yang istimewa. Meskipun perasaannya telah luluh lantak pada usia yang sangat muda tapi ia selalu positif dan berjiwa seluas langit, aku sangat kagum pada kepribadian dan daya hidupnya. Kesedihan hanya tampak padanya ketika ia sedang menghadap pada Tuhan. Telapak tangan yang saling ditautkan dan mata yang terpejam, ia seperti orang yang sedang mengadu, seperti orang yang takluk, seperti orang yang kelelahan berjuang melawan rasa kehilangan seluruh orang yang dicintainya. Jika Hye Kyo berdoa pikiranku lekat pada seorang anak kecil berbaju lusuh, yang menjepit buku-buku yang sudah tidak bersampul diantara kedua pahanya, berdiri sendirian di tengah halaman tak terurus, cemas menunggu harapan menjemputnya.

Karena berkepribadian terbuka dan memiliki mentalitas selalu ingin tahu dan banyak bertanya, Hye Kyo berkembang menjadi anak yang pintar. Ia selalu mencoba sesuatu hal yang baru. Pernah suatu kali, waktu itu aku dan Hye Kyo masih duduk di SMP. Mengecat rambut menjadi trend kala itu.

“Sun-a, kau lihat ini? Oh, BoA sangat keren. Kau lihat rambutnya? Gaya rambutnya sudah menjadi trendsenter. Aiih...”, seru Hye Kyo sambil mengagumi poster BoA yang ia tempelkan pada buku Geografinya.

“Trendsetter, Hye Kyo. Bukan trendsenter”, ujarku.

Seperti biasa, ia tidak akan memedulikan ucapanku. Hye Kyo masih terus mengelus-elus poster idola kesayangannya itu. Aku melihat ke arah rambutnya. Sudah satu minggu ini ia menerapkan sistem mengecat rambut dan tak seditpun kulihat nilai tambah pada wajahnya. Ibuku juga tidak memarahinya.

Selama dua hari penuh ia menghasutku.

“Ayolah Sun-a, kau akan terlihat sangat cantik jika mengikuti gaya rambut BoA. Semua orang akan memandangmu. Semua laki-laki akan memujimu cantik”, demikianlah hasutan Hye Kyo. Awalnya aku menolak mentah-mentah, tapi karena Hye Kyo dianugerahi bakat menghasut, maka aku temakan omongannya juga. Ketika bercermin, aku sempat tidak mengenali wajahku sendiri. Aku sangat gugup saat pertama kali keluar dari dalam kamarku dengan rambut bak sarang burung.

“Ha ha ha! Yya... Sun-a, rambutmu bisa dijadikan tempat bertelur si Okman [hmpfh]”, ejek kedua kakakku. Mereka bersahut-sahutan seperti lutung berebut ketela rambat. Okman adalah burung merpati milik kakak keduaku [laughing] [laughing].

Rasa-rasanya aku ingin sekali berlari masuk kembali ke dalam kamarku. Aku tidak menyalahkan mereka karena memang rambutku sekarang cocok sekali untuk tempat bertelur burung. Rambutku yang panjang di cat warna-warni oleh Hye Kyo, ada warna biru, merah, dan hijau. Warna biru adalah warna kesukaanku, merah milik Hye Kyo, dan hijau punya Eun Hye. Dia bilang ini melambangkan persahabatan. Rambut yang tercat warna biru disasaknya hingga menyerupai sarang burung, sedangkan kedua warna lainnya dibiarkan tergerai.

Aku menyesal setengah mati telah mengubah warna rambutku, dan di ambang pintu kamarku aku demam panggung sebelum memperlihatkan penampilan baruku pada dunia. Tapi pada saat aku mau melangkah mundur, Hye Kyo menghampiriku.

“Jangan takut, Sun-a”, begitu ia menguatkanku.

Hye Kyo menggenggam erta tanganku, dan dengan gagah berani kami melewati ruang tengah yang dimana kakak-kakakku masih tertawa. Dalam dukungan Hye Kyo aku tidak takut menghadapi cemoohan-cemoohan yang dilontarkan para luntung itu.

Dan bencana datang lagi. Ibuku baru saja sampai dari pasar, dan ketika melihatku ia seperti orang yang terkena serang jantung. Oh, oke, mungkin ibuku memang sudah terkena serangan jantung. Matanya membelalak seperti ingin keluar dari tempatnya, mulutnya menganga lebar. Kurasakan genggaman Hye Kyo semakin kuat. Dan tanpa bisa ditahan lagi sabda ibuku mengalun lembut dan membuat kami bungkam, sedangkan dibelakang kami berdua, dua ekor luntung semakin keras tertawa.

Kalian ingin tahu sabdanya seperti apa? Ini dia :

Preambule : “Ya Tuhaaaan, apa yang sudah kalian lakukan pada rambut kalian?”

Latar belakang masalah : “Pernahkan kalian melihat orang-orang di desa ini punya model rambut seperti kalian? Dicat tidak beraturan! Memalukan!”

Kesimpulan : “Cepat bersihkan cat-cat itu atau ku gunting hingga botak kepala kalian”

Rekomendasi : “Daripada uang yang sudah susah payah kalian tabung kalian hambur-hamburkan hanya untuk hal-hal tidak penting seperti ini, lebih baik kalian belikan aku minyak goreng!”

tbc
[smiley-whacky103] [smiley-whacky103]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME