Author Topic: My Everything II (That's My Promise), chapter 5 FINAL updated 7 Agustus 2010  (Read 21556 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ps : chp ini kepanjangan lagi [hmpfh] [hmpfh] jd dibawah ini sambungan dari chp di atas [biggrin] [biggrin]

-----------------------------------------------------------------


"Selama janjiku tidak berhasil dilakukan, selama saya tidak bisa kembali dan mencarimu, saya tidak akan mencampuri urusan-urusanmu, termasuk hubungan-hubungan cintamu. Saya tidak pernah bermimpi atau berharap memiliki pernikahan murni yang tidak tersentuh noda, selama pasanganku kamu, aku tidak perduli. Mau pernikahan perawan atau bukan, saya benar-benar tidak perduli .. ".

"Goo Jan Pyo ... "

Mereka saling menatap dengan sinar mata mendalam.

"Karena janji masa kecil itu kamu mempertahankanku sebagai calon istrimu sampai sekarang? Apa kamu sudah gila? Pabo-ya?"

"Karena itu, bertunanganlah denganku, .. jadilah istriku..", ujar Janpyo dengan suara beratnya, "Maukah kamu Jilly-a?"

Edys tidak mampu menjawab. Apa yang bisa dikatakannya kalau semua ungkapan Janpyo sudah menancap tepat di sudut hatinya yang terdalam?

Perlahan Janpyo mengeluarkan sesuatu dari saku cardigannya kemudian menyodorkannya pada Edys. Gadis itu langsung tertegun. Sebuah kotak beludru warna merah dengan sepasang cincin yang terpahat huruf 'J&J' di lingkaran dalam dan sebutir berlian yang bertengger di tengah-tengah sepasang cincin tersebut terpampang dihadapannya.




"Maukah kamu menerimanya Jiily-a?"

Edys mengigit bibir bawahnya kemudian mengangguk perlahan. Janpyo tersenyum. Dia meraih cincin yang lebih kecil dan memakaikannya ke jari tengah Edys.

"J&J?"

"Janpyo & Jilly .. ", jawab Janpyo sambil menyodorkan cincin yang lebih besar untuk dipakaikan Edys di jarinya. Edys melakukan seperti yang dimaksud Janpyo. Mereka tersenyum bahagia setelah itu.

"Miane karena saya tidak bagus dalam kata-kata, kamu jadi kebinggungan dan tidak mengerti maksudku. Mungkin hari ini perkataanku yang terbanyak .. ", Janpyo tersenyum simpul.

"Ne, saya percaya itu .. ", goda Edys dengan mengiyakan perkataan Janpyo.

"Ha .. ha .. ha ..", mereka tertawa berbarengan.

"Ada rahasia kecil yang belum kuceritakan padamu .. ", kata Janpyo tiba-tiba, setelah mereka menghentikan ketawanya.

"Apa itu?", tanya Edys ingin tahu.

"Bahwa .. saya merebut ciuman pertamamu .. "

"MWOO?!", tanya Edys tidak mengerti, "Bagaimana bisa? Jangan bercanda lagi Goo Jan Pyo-ssi!!"

"Saya tidak bercanda. Tigabelas tahun yang lalu, waktu kepulanganku yang terakhir kalinya, ketika kamu ketiduran di sofa ruang keluarga setelah kecapekan bermain dengan Gajeong dan kawan-kawan, .. tanpa sadar saya mencium bibirmu .. "

"Mwo?? Kamu serius?"

Janpyo mengangguk, "Iya. Saya tidak tahu mengapa melakukannya, mungkin ekspresi tidurmu yang lelap dan nyaman bak bidadari kecil itu penyebabnya ... ".

"Goo Jan Pyo!!"

"Kamu jangan khawatir, saya tidak menceritakan rahasia ini pada siapapun, bahkan omma juga tidak mengetahuinya .. "

"O .. ", desah Edys.

" .. hanya Mr. Choi seorang yang mengetahuinya .. ", sambung Janpyo membuat Edys terkejut setengah mati.

"YAAAA GOO JAN PYO!!!", teriak Edys.

"Ha .. ha .. miane,,, waktu itu saya masih kecil dan cuma Mr. Choi yang dekat denganku jadi saya menceritakan semua padanya ... "


Edys langsung mendaratkan pukulan bertubi-tubi ke dada Janpyo. Pipinya memerah, dia sangat malu, 'bagaimana dia harus bersikap kalau bertemu Mr. Choi? Dasar si Janpyo berengsek!!'

"Heyyy .. ", Janpyo menangkap tangan Edys. Dia masih tertawa-tawa kecil saat itu, pertama kalinya dia tertawa selebar ini. Dia sangat bahagia dan semua itu karena Edys.         

Pandangan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Janpyo menghentikan suara ketawanya, begitu juga wajah garang Edys berubah perlahan. Kepala mereka bergerak lambat-lambat, semakin dekat dan dekat. Edys memejamkan matanya, diikuti Janpyo. Akhirnya bibir mereka menempel lembut. Janpyo membuka bibir dan mulai melumat bibir Edys. Gadis itu membalasnya. Ciuman mereka dari pelan menjadi semakin bergairah. Bibir mungil Edys tenggelam seluruhnya dalam bibir penuh Janpyo.




****************


Tiga hari kemudian di perusahaan pusat Shin Hwa Group ..

tok .. tok .. tok ...

"Masuk!!", perintah Janpyo tanpa berpaling dari berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya.

brak .., pintu dibuka dalam satu hentakan yang cukup keras. Mr Choi, setengah berlari mendekati meja kerja Janpyo. Nafasnya agak terengah ketika sampai di hadapan pemuda yang kelihatan sibuk mempelajari beberapa dokumen di hadapannya.

Seperti mendapat firasat buruk atas kehadiran Mr. Choi di situ, firasat yang biasanya memang sangat manjur dan ampuh dari Janpyo, ia mengangkat wajah dan keningnya langsung berkenyit begitu melihat tampang pucat pria itu.
"Wegude?"

 

"Masalah besar doronim ..", jawab Mr. Choi dengan nafas terputus-putus. Sebuah map file yang dipegangnya disodorkan pada Janpyo. Kerutan di wajah Janpyo semakin mendalam, dokumen-dokumen yang tadi digelutinya disingkirkan ke pinggir meja, kemudian dia memandangi Mr. Choi dalam-dalam, meminta penjelasan lebih lanjut.

"Sekitar setengah jam lalu, seseorang membuka rekening dalam jumlah yang sangat besar di bank Shin Hwa, dan .. dia ingin menariknya dalam bentuk tunai, sekarang juga .. ", sahut Mr. Choi.

"Luruskan ..", perintah Janpyo.

"Tidak bisa doronim .. ", tukas Mr. Choi putus asa.

"Wee?"

"Dana itu sudah beredar ke masyarakat. Persediaan cash Bank Shin Hwa tidak cukup untuk membayar jumlah sebanyak itu, dan nasabah tersebut berkeras ingin uang tunai, dia menolak cek .. atau dana berbentuk apapun .. "

Janpyo menghembuskan nafas perlahan, "Berapa kekurangannya?"

"Seperempat dari jumlah seluruhnya doronim,, keterangan selengkapnya bisa doronim lihat di formulir ini .. ", sekali lagi Mr. Choi menyodorkan map file yang tadi tidak dihiraukan Janpyo.

Janpyo menerima map file itu dan membukanya. Seperti perkiraannya semula, nama 'J.M. Corporation' dan tandatangan Jang Geun Suk tertoreh di formulir tersebut.

     


"Hubungi para direktur dari bidang-bidang yang lain sekarang juga. Saya ingin dana tersebut terkumpul dalam waktu sepuluh menit. .. dan perintahkan tuan Kim untuk menahan Geunsuk, jangan sampai dia melakukan yang tidak-tidak, saya tidak ingin masalah ini sampai mengemparkan masyarakat luar, .. katakan pada tuan Kim kita perlu waktu sepuluh menit, hanya sepuluh menit, tidak lebih dari itu! Jalankan sekarang juga Mr. Choi!"

"Ne doronim .. ", Mr. Choi bergegas meninggalkan ruang kantor Janpyo begitu mendapat perintah tersebut.

Janpyo memutar kursi menghadap pemandangan laut luar yang terhalang jendela kaca besar sekeliling ruang kantornya yang luas.



Kemudian dia berdiri dari kursinya, masih dengan pandangan terarah keluar jendela, dia menyelipkan sepasang tangan ke dalam saku celana.

"Lee Jae Min,,, mengapa saya merasa begitu mengenalmu?", gumamnya pelan.

****************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun