Author Topic: *When a Gay met a Young Mom (in love again)* ~chp 22 (ending), 22 Jan'2011  (Read 99444 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER ELEVEN

SONG OF THE DAY :




ADDITIONAL CAST :





Pukul 7:15 pagi, Hyesun keluar dari dapur dengan dua buah piring terpegang di tangannya.

"Baby, kamu mau jus jeruk atau susu segar?", kepala Minho terjulur dari balik pintu dapur.

"Mwo??"

"Mau jus jeruk atau susu segar?", ulang Minho.

"Kata pertama??!!!", teriak Hyesun.

"Baby?", tanya Minho polos.
 
"Yaaaaa Jangan memanggilku dengan panggilan mendirikan bulu roma itu!!!!"

"Memangnya kenapa?!", Minho memanjangkan bibirnya cuek, "Saya suka panggilan itu,,, .. lagipula panggilan tersebut cocok untukmu, baby ... atau .. kamu lebih suka dipanggil 'BEBEK JELEK'? ha .. ha .. ha .."

"LEE MIN HOOOO!!!!!", Hyesun hampir melemparkan piring di tangannya ke wajah Minho.

"Eitssss .....!!!!", Minho segera mengangkat tangan ke atas, berusaha melindungi wajah gantengnya dari gelagat tidak baik Hyesun. Tidak sampai sedetik kepalanya menghilang dari pandangan.

Hyesun berlari kembali ke dapur, "Mampus kalau kamu masih memanggilku dengan panggilan yang tidak-tidak!!!!", dengus Hyesun.

Minho dengan nampan terdiri atas sebuah piring terisi penuh makanan, dua gelas kosong dan segelas susu segar di tangan berbalik kearahnya. "Kamu minum apa?", tanyanya tanpa terusik bentakan Hyesun tadi.

"Jus ... ", jawab gadis itu pendek. Kekesalannya tadi menguap begitu saja.

Minho meletakkan nampan di tangannya ke meja kecil dekat wastafel, kemudian agak membungkuk dia membuka lemari es dan mengeluarkan sekotak jus jeruk. Perlahan ia menuangkan isi kotak tersebut ke dalam gelas yang masih kosong.
"Hmm saya juga .. ", gumamnya pendek sambil meneruskan kegiatannya menuang jus jeruk ke gelas satunya lagi.

"Kenapa kamu tidak membawa makanan-makanan tersebut keluar baby? ... San pasti sudah bersiap dengan suara melengkingnya kalau kamu masih berdiri saja di sini .. ", lanjut Minho tanpa berpaling pada Hyesun.

"O my god!!", Hyesun langsung menepuk jidatnya, "Saya keluar dulu, tolong bawakan minuman-minuman itu sekaligus ... ", setelah mengatakan itu Hyesun bergegas keluar dari dapur, tapi baru saja sampai di ambang pintu ia berbalik kembali pada Minho, "Yaaaaaaaaa sudah kubilang jangan memanggilku baby!!!!"

"Ok, ok, ... ", Minho mengangkat tangan ke atas dan mengerakkannya berkali-kali, kemudian dia berjalan kearah Hyesun, memutar tubuh gadis itu kemudian mendorongnya keluar, "Araso, kamu sarapanlah dulu dengan San ... "

Hyesun memanjangkan bibirnya, cemberut , .. kemudian berlalu dari situ dengan terpaksa. Kata terakhir dari Minho tidak sempat tertangkap indera pendengarnya kalau tidak dia pasti sudah kalap lagi.

"Baby ... ", Minho tersenyum nakal.


****************


Minho meletakkan nampan berisi makanan dan minuman-minuman ke atas meja dan mulai membagikan minuman-minuman berupa jus jeruk dan susu pada Hyesun dan Kangsan, "Punyamu ba .. ", kerlingan tajam dari Hyesun segera memutuskan perkataannya. Sambil mengulum senyum dia meletakkan segelas jus jeruk di hadapan Hyesun.

"Dan ini untuk San .. ", segelas susu segar diletakkan ke tangan Kangsan, yang segera disambut dengan bibir monyong anak itu.

"Weo?", tanya Minho begitu melihat tampang cemberut Kangsan.

"San tidak mau susu! San mau jus!!", rengeknya.

"Begitu?", Minho meletakkan piring di nampan dan gelas jus jeruk terakhir di depannya. "Apakah perlu hyung menukarnya dengan San?"

"Tidak boleh!!", tukas Hyesun tiba-tiba, kemudian dia berpaling pada Kangsan, "San harus minum susu karena susu sangat baik buat pertumbuhan San!".

"Tapi San mau jus!", ulang Kangsan keras. Bibirnya semakin dipanjangkan ke depan.

"NO!!", tukas Hyesun lagi.

Agak kesal ia menyambar sendok kecil dari piring Kangsan dan memberikannya pada anak itu. "San tidak boleh memilih makanan terus-menerus, itu tidak baik. Lihat wortel yang San singkirkan ke pinggir piring, San bermaksud tidak memakannya kan?".

"San tidak suka wortel .. ". Kangsan memandang jijik ke tumpukan wortel-wortel kecil di tepi piring.

"Wortel mengandung vitamin A yang sangat diperlukan buat kesehatan mata San jadi San harus memakannya!". Hyesun menyendok wortel dari piring Kangsan dan mengarahkannya ke mulut anak itu.

"Tapi San suka itamin D, tidak suka itamin A .. ", protes Kangsan.

"Buhha .. ha .. ha ...", tawa Minho yang sejak tadi dipendam dengan susah payah akhirnya meledak juga ketika mendengar jawaban polos dari Kangsan, dia tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya, ".. ha .. ha ... ".

"LEE MIN HO!!", teriak Hyesun penuh ancaman. Sendok berisi wortel hampir melayang dari tangannya dan sepasang matanya melotot tajam seakan sepasang bola mata tersebut bersiap meloncat keluar dari rongga mata. "Jika kamu tidak diam juga, kamu akan mampus di sini!".

"Ha .. ha .. miane baby, tapi kamu juga aneh ha .. ha .. anak sekecil San mana tahu istilah vitamin .. ha .. ha .. ".

"Omma, apa itu mampus?", tanya Kangsan tiba-tiba.

"Ha .. ha ... ha ... ", tawa Minho semakin kencang mendengar pertanyaan Kangsan. "Jawab baby, apa itu mampus?!!".

Hyesun mengatupkan rahangnya rapat-rapat sedangkan matanya menyipit perlahan. "Makan sekarang juga San-a .. ", katanya sambil mulai menyantap makanan dihadapannya. Ekspresi melongo Minho mendapat perlakuan cuek dari dia tidak diperdulikan sama sekali.

"Yaaa baby, ... marah benaran? Saya hanya bercanda, miane ... ". Minho menyenggol tangan Hyesun tapi gadisnya itu tetap tidak menghiraukannya, masih menunduk sambil menyantap hidangan dari piring di atas meja. "Baby ... ", percuma saja, teguran lembut itu tidak menimbulkan reaksi apa-apa dari Hyesun.

"Mampus kamu!!", senyum Hyesun dalam hati. "Rasakan pembalasanku, .. emang enak dicuekin?"

Minho berusaha  menarik perhatian Hyesun dengan cara meniup-niup dan membisik-bisikan permohonan maaf di telinga gadis yang dikiranya sedang marah itu tapi tetap tidak membuahkan hasil. Setelah percobaan yang entah keberapakali akhirnya dia menyerah. Agak malas dia menarik piring di depannya dan mulai sarapan dengan perasaan tidak menentu. "Hyesun marah padaku, apa yang harus dilakukan sekarang? Tapi bukankah Hyesun sering marah padaku? Mengapa kali ini aku merasa sangat lain? Aku tidak ingin dicuekin Hyesun. Mengapa? Takut perkataan Hyesun 'akan meninggalkanku tanpa pemberitahuan terlebih dahulu', itukah? Tapi .. itu tidak ada hubungannya! Tidak ada yang aku sembunyikan dari Hyesun, jadi mengapa harus takut?".

Minho menghembuskan nafas perlahan, tanpa sadar .. Hyesun yang duduk di sebelah,  meliriknya lewat sudut matanya. "Apa tindakanku sudah keterlaluan? Dia kelihatan tertekan sekali. Mungkin saya harus menyapanya setelah sarapan nanti!", pikir Hyesun.

****************


Selesai sarapan .....

Hyesun menyingkirkan semua peralatan makan, termasuk piring dan gelas yang dipakai Minho, dari meja ke wastafel dapur. Minho berusaha membantunya merapikan meja makan tapi semua peralatan yang disentuh olehnya segera direbut Hyesun.

"Baby-ya ... ", desah Minho putus asa.

Hyesun berlalu begitu saja ke dapur tanpa memperdulikan kelesuan Minho.

"Pakai sepatumu San-a dan jangan lupa dengan tas di sofa itu ...", perintah Hyesun dari dapur.

"Ne omma!!!".

Minho menjatuhkan diri ke sofa dengan lemas. Air keran yang mengalir terdengar dari dapur ketika Hyesun mulai mencuci piring. Tujuh menit kemudian Hyesun keluar dari dapur. Minho meliriknya sebentar tapi kepalanya segera tertunduk lagi ketika mendapati Hyesun tidak memandang kearahnya. Dimain-mainkannya jari-jemarinya yang terpelihara baik dengan tampang memelas.

"Berangkat sekarang San-a .. ",  suara Hyesun terdengar, diikuti bunyi pintu terbuka, klekk ....

Minho menghembuskan nafas berat, "Hyesun benar-benar marah padaku!". Kepalanya tertunduk semakin dalam.

"Kamu tidak bermaksud mengantar kami, Minho-a?".

Minho tersentak, pertanyaan tiba-tiba itu begitu mengejutkannya. Spontan dia berpaling kearah Hyesun, "De??"

Hyesun tersenyum dari ambang pintu depan, "Jika kamu tidak ada kegiatan lain, bersedia mengantar kami kan?".

Minho segera meloncat dari sofa, "Sure baby!!", dia berlari ke Hyesun, "Kamu tidak marah lagi?".

"Tentu saja tidak! Saya hanya mempermainkanmu tadi he .. he .. ", Hyesun terkekeh pelan, kemudian dia meraih tangan Kangsan yang berdiri di sebelahnya, "Berangkat sekarang San-a .. ".

"Yeahhh .... ", mendadak Minho mengangkat Kangsan ke atas, kemudian mendudukkan anak itu ke pundaknya, membuat Hyesun terkejut setengah mati sehingga pegangannya di tangan Kangsan terlepas , "Yaaa .....", protes Hyesun.

"Ha .. ha ... ", Minho tertawa lebar melihat tampang kesal Hyesun, setelah itu dia menengadah ke atas, memandangi Kangsan yang sedang mencakar erat kedua sisi rambutnya, saking takutnya terlempar ke lantai. "San-a, dengarkan pertanyaan hyung ini!!".

"Ne .. e .. ", sahut Kangsan gelisah. Sepasang mata beningnya berputar-putar ke sepanjang lantai di bawah kakinya. ~kasihan si Kangsan dianggap mainan oleh Minho fuihhh ....

"Bagaimana kalau hyung menjadi abojimu?".

"LEE MIN HO!!!!", sebelum Kangsan berhasil menangkap arti dari pertanyaan Minho, teriakan Hyesun sudah mengetarkan gendang telinganya.

"Yaaa apa salahnya baby?", sambar Minho polos.

"Appa San? Weo?", terdengar pertanyaan dari atas kepala Minho.

Minho mengangkat wajahnya. "Tentu saja karena .. hyung ingin omma menjadi istri hyung ..".

"Istri hyung? berarti San bakal punya dongseng?", Kangsan agak memiringkan kepalanya.

"Yeahhh you got it, San-a!!! .. San emang anak pintar ... yuhuuuuu .... ". Minho menurunkan Kangsan dari pundaknya, kemudian menjinjing anak itu ke depan, lalu berputaran dalam ruangan tersebut diiringi teriakan-teriakan kegirangan.


"Ha .. ha ... ". Kangsan ikut tertawa, ketakutannya tadi hilang sudah setelah sekarang Minho menyangganya dengan sangat erat. "San mau dongseng ... ".

"Lee Min Ho, kalau kamu masih setia dengan lelucon-lelucon memuakkan itu, jangan salahkan aku jika melakukan sesuatu yang tidak terbayangkan olehmu!!!", ancam Hyesun dengan nada tenang, matanya terpejam perlahan.

Mengapa dia bisa setenang ini setelah reaksinya yang mengemparkan tadi? ya, karena dia sudah capek teriak-teriak. Dia sadar semua itu percuma. Lee Min Ho terlalu kekanak-kanakan, sifat yang tak terlihat olehnya dahulu. Lee Min Ho yang dikenalnya beberapa waktu lalu, waktu pertemuan pertama, kesannya sangat dingin dan menakutkan. 'Atau ..  mungkinkah sifat-sifat itu sengaja ditunjukkan untuk menutupi sifat dia yang sebenarnya? Sifatnya yang kekanakan?'.

Perlahan, sinar mata Hyesun meredup. Baru disadarinya sekarang, betapa sedikit pengetahuannya tentang Minho. 'Bagaimana kehidupannya dulu? Bagaimana hubungannya dengan keluarganya? Setidaknya dengan abojinya?! Kelihatannya hubungan mereka tidak begitu baik. Lalu mengapa dia bisa menjadi seorang bartender? Mengapa harus hidup tidak beraturan seperti itu? Dan ... mengapa ... mengapa dia menjadi gay?' Berpikir sampai di sini, Hyesun mengigit bibir kuat-kuat. 'Apakah dia masih merisaukan kenyataan Minho dulu seorang gay? Masih belum bisa mempercayainya seratus persen? Entahlah ....'. Hyesun menghembuskan nafasnya.

Tanpa sadar, Minho sudah berada di hadapannya, "Baby, kamu .. kamu tidak bermaksud melakukan ancaman itu kan?", tanyanya khawatir.

"Mwo?"

"Kamu akan meninggalkanku tanpa pemberitahuan terlebih dahulu .. ", ujar Minho lirih.

Hyesun tersenyum perlahan, "Lalu .. apakah ada sesuatu yang kamu rahasiakan padaku?"

"Aniyo ..", sahut Minho cepat. "Tidak ada yang saya sembunyikan darimu!!", tapi setelah berpikir sebentar dia berkata lambat-lambat, "Emm mungkin .. mungkin hubunganku dengan appa, .. peristiwa yang terjadi malam itu .. "

"Itu tidak ada sangkutpautnya dengan hubungan kita!", Hyesun langsung mengibaskan tangannya. Tapi, begitu menyadari reaksinya yang besar bisa disalahartikan oleh Minho, dia segera melanjutkan perkataannya lagi, "Maksudku, ..  masalah itu tidak akan mempengaruhi hubungan kita. Aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena rahasia itu. Tapi walaupun begitu .. aku tidak keberatan kamu menceritakannya padaku, aku bersedia menjadi tempat curahan perasaanmu. Aku ingin mengetahui segala sesuatu tentang kamu, Minho-a .. ".

Minho menurunkan Kangsan ke lantai, kemudian merangkul Hyesun erat-erat. "Gumawo baby ... ".

Mata Hyesun melebar, "Yaaa San sedang memperhatikan kita .. ", protesnya, berusaha melepaskan diri dari rangkulan Minho.

Tapi Minho tidak melonggarkan pelukannya sedikitpun. Bahkan dia makin mempererat lingkaran tangannya di tubuh Hyesun. "I will. Saya akan menceritakan semuanya padamu, tapi tidak sekarang. Saya butuh waktu untuk merangkai kata-kata yang baik. Cerita masa laluku sangat panjang .. ", ujar Minho lirih di sudut telinga Hyesun.

"Araso .. ", Hyesun menganggukkan kepalanya.

"Ok ..". Minho melepaskan pelukannya, "Sekarang waktunya sekolah buat San .. ", kemudian dia menyentil cuping hidung Hyesun, " ... dan kerja buat kamu, baby ... "

"Berangkat sekarang San-a!!". Minho mengangkat Kangsan ke dalam pelukannya.

"Ne appa ... ", sahut Kangsan.

"KANGSAN!!!", seru Hyesun kaget. Dia tidak menyangka Kangsan akan menganggap serius permintaan Minho. "A .. apa yang kamu katakan tadi?".

"Ha .. ha .. bagus! San belajarnya cepat ha .. ha ... ", Minho tertawa kesenangan. Dipeluknya Kangsan erat-erat. Ia sangat bahagia hari ini. "Apa salahnya baby?".

"Appa yang meminta San memanggil begitu ... ", jawab Kangsan dengan suara beningnya.

"Ne .. ". Minho mengelus sayang kepala Kangsan. "San harus memanggil hyung appa!!".

"Tidak boleh begitu!!", protes Hyesun. "Apa jadinya didengar orang lain?".

"Apa perduliku?!", sahut Minho cuek. Setelah mempererat pelukan di tubuh Kangsan, dia beranjak dari rumah, "Jika masih berada di situ, kamu akan terlambat ke klinik my baby .. ", serunya dari halaman depan.

"Yaaaa ......", teriak Hyesun, dia berlari keluar - mengikuti langkah Minho, "Kamu tidak boleh secuek itu Lee Min Ho-ssi!!! Saya tidak mau dikeroyok dengan pertanyaan-pertanyaan tajam akibat dari panggilan itu, lagipula .... ", seruan-seruannya semakin samar dan, .. bakkk ... menghilang bersamaan tertutupnya pintu depan.

****************


Sepanjang perjalanan menuju 'Happy Heart Kindergarden', sekolah Kangsan, Hyesun cemberut terus. Ia menyandar ke bangku jok depan, di sebelah Minho, tidak mengeluarkan suara dan juga tidak berpaling sedikitpun pada pemuda yang sedang menyetir itu. Dia sangat kesal, kesal dan kesal karena Kangsan tidak mau mendengar perkataannya, anak itu memanggil Minho dengan sebutan appa terus-menerus sedangkan yang dipanggil appa kelihatannya santa-santai saja, malah kesenangan sendiri. Sepanjang sejarah, ini senyuman terlama seorang Lee Min Ho.

Setelah menurunkan Kangsan di sekolah, mereka meneruskan perjalanan ke klinik 'Kim's Health'. Berulangkali Minho menyenggol lengan Hyesun guna mendapatkan perhatiannya. Sudah sepuluh menit gadisnya ini tidak mengeluarkan suara sehingga dia menyadari kalau situasi sudah menjadi gawat.

"Babe .. ".

Hyesun membuang wajah ke jendela di sebelahnya.

"Masih marah?".

Gadis itu tidak bergerak sedikitpun.

"Miane .. ", ujar Minho pelan.

Hyesun kukuh di posisinya, kepalanya miring sedikit tapi dia tetap tidak berpaling pada Minho.

"Baby .. ", suara Minho semakin pelan dan lemah. "Saya salah lagi ya?".


Perlahan Hyesun memutar badannya. "Kamu tahu apa akibat dari keisenganmu itu?".

"Saya tidak iseng Hyesun-a! Saya sangat serius!", sahut Minho cepat. "Saya sungguh-sungguh ingin menjadi aboji San. Saya mencintaimu dan saya sangat menyayangi San. Jika kamu setuju saya bisa menikahimu sekarang juga!".

"Lee Min Ho!!", seru Hyesun kaget. "Kamu bisa hentikan lelucon ini tidak? Kita baru memulai hubungan ini kemarin malam dan sekarang kamu .. kamu sudah menyinggung pernikahan?!".

Minho mengalihkan perhatian dari jalanan Seoul di depan ke Hyesun. "Ini bukan lelucon, baby! Saya sangat yakin dengan perasaan saya sendiri. Sejak memutuskan memasuki kehidupan baru bersamamu, saya sudah memikirkan semuanya, tentang hubungan kita dan masa depan kita ..".

"Awasssss!! Lihat ke depan!!", teriak Hyesun tiba-tiba. Sepasang matanya terbelalak lebar dan jemarinya menunjuk ke depan.

Minho sangat kaget, ia segera berpaling ke depan. Sebuah taxi yang dijalankan dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan hampir mencium mercy merah yang dikemudikannya. Minho langsung membanting stir, strechhhhhhhhh ................. decitan keras terdengar dari roda-roda yang berputar tajam. Cittttttttt ............ kemudian mobil tersebut berhenti sama sekali di pinggir jalan setelah Minho menginjak break.

"AHHHH ....!!!". Tubuh Hyesun terhenyak ke belakang.

"Baby, gwencana?", seru Minho cemas. Wajahnya sangat pucat, begitu juga Hyesun yang belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya.

"Baby .. ", Minho menyentuh pundak Hyesun dan menguncangnya, cukup keras untuk membuat gadis itu tersentak bangun dari ketergoncangannya.

"Ohhh .. ".

"Gwencana?"

"Ne .. sa .. saya baik-baik saja .. ", Hyesun menelan ludah dengan susah payah.

"Miane baby ... ", desah Minho menyesal. "Saya terlalu ceroboh .. ".

"Su .. sudahlah, .. jalankan mobilnya sekarang, sa .. ya sudah terlambat .. ", sahut Hyesun terbatah-batah.

Minho mengangguk perlahan, lalu mulai menjalankan mobilnya kembali. Mercy merah yang mereka tumpangi membelah jalan kota Seoul yang lumayan ramai pagi itu. Kecelakaan kecil yang tadi terjadi rupanya tidak menghentikan kesibukan para penghuni kota Seoul.

Minho menghentikan mobilnya di depan klinik 'Kim's Health' sekitar sepuluh menit kemudian. Selama beberapa detik Hyesun tidak bergerak dari posisinya, agak ragu dia berpaling pada Minho, begitu juga pemuda itu. Mereka saling menatap, Hyesun mendesah perlahan.
"Saya .. kerja .. sekarang .. ", dia melepas sabuk pengaman, lalu bermaksud keluar dari mobil.

"Hyesun-a, kamu masih tidak mempercayaiku?"

"Saya ingin .. ", Hyesun menoleh padanya, " .. ingin, ingin percaya padamu, tapi saya belum bisa melakukannya, .. beri saya waktu Minho-a, saya perlu waktu .. ".

"Baiklah. Saya tidak akan memaksamu .. ", ujar Minho halus.

"Gumawo .. ". Hyesun kembali meraih gagang pintu mobil tapi terhenti oleh perkataan Minho selanjutnya.

"Kamu tidak bermaksud memberiku goodbye kiss, baby?"

"Mwo?"

Minho mengangkat bahunya, dia tersenyum perlahan, "Lupakan saja, .. anyong baby  .. ". Minho menjulurkan tangan ke gagang pintu di sebelah Hyesun dan membukakan pintu buat gadis itu.

Tapi badannya langsung kaku ketika Hyesun tiba-tiba mendaratkan ciuman ke pipi kirinya.
"Anyong .. ", ujar Hyesun halus.

"Baby ... ".

"Chu-ae ... ", sambung Hyesun sambil tersenyum manis.


Minho ikut tersenyum, "Chu-ae? not saranghe?".

Hyesun mengeleng pelan. "Tidak, belum sampai ke situ! Saya perlu waktu Minho-a .. ", dia mengelus lembut wajah Minho.

"Ok .. ", Minho menarik badannya kembali ke depan kemudi, "Saya akan bersabar menunggu sampai saat itu tiba .. "

"Gumawo ..."

"O ya .. ", Minho menoleh pada Hyesun lagi. " .. nanti malam saya mulai bekerja. Makan malam akan saya siapkan sebelum berangkat ke bar '2X' dan akan kutaruh ke dalam kulkas. Kamu bisa memanaskannya kalau sudah lapar .. ".

"Gumawo, Minho-a .. ".

Minho tidak menyahut. Dia bergerak kearah Hyesun, lalu dengan lembut dia mengecup bibir gadis itu. "Sarangheyo baby .. "



****************


ting .. tong ...., bel pintu masuk berbunyi ketika Hyesun memasuki klinik 'Kim's Health'. Kim joon dan Eunhye yang asyik berkutat dengan menu sarapan di tengah ruangan berpaling padanya.

"Anyong Hyesun-a ..", sapa mereka hampir bersamaan.

"Anyong .. ", sambut Hyesun lemah.

"Wegude?". Kim Joon bergegas mendekatinya ketika melihat kelesuan terpancar dari sikapnya. Wajah Hyesun terlihat pucat.

"O hanya kecelakaan kecil .. ", jawab Hyesun pendek.

"Mwo? Lalu .. bagaimana keadaanmu? Gwencana?", tanya Kim Joon khawatir. Dia memutar tubuh Hyesun dan menyelusuri seluruh badannya dengan kecermatan pandangannya. Dia baru bisa bernafas lega begitu mendapati Hyesun tidak kekurangan suatu apapun.

"O gwencana oppa. Saya hanya terguncang sedikit, itu saja .. ", sahut Hyesun, berusaha tersenyum.

"Jeongmal?"

"Ne .. ".

"Tapi mengapa sampai terjadi kecelakaan itu?", tanya Kim Joon lagi.

"Itu .. ", Hyesun kelihatan ragu-ragu mengeluarkan jawabannya.

"Hyesun-a .. "

"Minho .. agak kehilangan konsentrasi saat menyetir .. ", jawab Hyesun akhirnya.

"Mwo??!! Mengapa bisa seceroboh itu?!!!", seru Kim Joon kesal.

"Oppa .. ". Hyesun segera meletakkan tangan ke pundak Kim Joon guna menenangkan emosinya. "Aniyo. Itu bukan kesalahannya ... Tadi, ada sedikit perselisihan antara kami sehingga mempengaruhi perasaannya .. ".

Lalu Kim Joon menatapnya lekat-lekat. "Kalian .. serius?"

"Ne .. ", jawab Hyesun cepat.

"Sudah memulainya? Maksudku hubungan kalian?"

Hyesun menunduk perlahan, wajahnya mulai memerah tomat. "Ne .. ", jawaban yang sama terlontar dari mulut mungilnya.

"Oh .... ", nafas Kim Joon berhembus, sangat berat, yang tidak tertangkap oleh Hyesun.



"Dokter Kim!!", teriakan Eunhye tiba-tiba terdengar dari kejauhan, membuyarkan kebisuan yang sempat terjadi di antara mereka. "Apakah saya boleh memasukkan pesanan sekarang?".

Kim Joon menoleh pada Eunhye, kemudian mengangkat tangan ke atas sebagai tanda ok.

"Ada penambahan lagi tidak?"

"Tidak!!", sahut Kim Joon.

"Sun gimana? Mau makan apa?", teriak Eunhye lagi.

"Tidak usah, ... saya sudah makan di rumah tadi .. ", jawab Hyesun sambil meletakkan tas selempangnya ke laci bawah meja dan memulai kesibukannya pagi itu.

Kim Joon yang masih mengamati Hyesun dari tempatnya, tidak berkomentar lebih lanjut. Setelah melirik gadis itu untuk terakhir kali, dia masuk ke ruang prakteknya.

****************


Dua jam kemudian ..., kring .. kring ... kring ...
Hyesun meletakkan data-data pasien dihadapannya ke atas meja. "Sosoengheyo Ha ajussi .. ", katanya pada pasien itu, kemudian dia berpaling pada Eunhye yang sedang menata botol-botol obat ke lemari kaca di belakangnya, "Hye-a, tolong tangani Ha ajussi buatku, .. aku mau mendengar telepon dulu .. "

"Arasso ..", Eunhye segera mengambil-alih tugas Hyesun.

kring .. kring .. kring ..., ponsel Hyesun masih berteriak-teriak minta diangkat. Tergesa Hyesun berlari ke laci paling pinggir meja panjang yang mengelilinginya, membuka laci paling bawah kemudian mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya.

kring .. kring .. kring ..., deringan ponsel semakin keras ketika sudah berada di tangan Hyesun. Nama 'So-Eun' terpampang di layar ponsel. Hyesun tersenyum, kemudian membawa ponsel itu ke telinga setelah memencet tombol terima terlebih dahulu.


"Anyong Soeun-a ... "

"Hyesun-a!!!!"

Teriakan Soeun membuat Hyesun menjauhkan ponsel dari sudut telinganya, "Ne .. "

"Bagaimana keadaanmu?"

"Baik, dan bagaimana denganmu?"

"Baik-baik juga. Oh ya Hyesun-a, hari minggu nanti kamu ada acara tidak?"


Hyesun berpikir sebentar, kemudian menjawab, "Sepertinya tidak ada, memangnya kenapa?"

"Bagus kalau begitu! Pacarku akan kembali dari Paris besok dan saya ingin mengenalkannya padamu. Bagaimana kalau kita keluar bersama hari itu, maksudku hari minggu nanti?"

"Pacarmu?",
kening Hyesun berkenyit perlahan. Dia tidak pernah tahu kalau Hyesun punya pacar.

"Ne, dia teman kuliahku waktu di Paris. Kami putus secara baik-baik ketika kepulanganku ke Korea beberapa waktu lalu. Dia tidak bisa ikut balik ke Korea karena karirnya yang mulai menanjak di bidang model di negara itu. Tapi kemarin dia memberitahuku kalau dia akan kembali, dan .. kami merasa hubungan ini bisa diteruskan jadi .. ya ... " , Soeun mengantung kata-katanya.

"Segampang itu?", tanya Hyesun tak percaya. Bagaimana mungkin sebuah hubungan bisa putus dan bersambung semudah itu?

"Ha .. ha .. ha ..", ketawa Soeun terdengar dari seberang. "Saya orangnya sangat easy going Sun-a. Saya hanya mempercayai perasaan, jika saya merasa siap dengan sebuah hubungan, saya akan menerimanya walaupun orang itu mantan pacarku sekalipun. Saya bukannya memandang enteng cinta tapi .. bagiku cinta bukan segala-galanya, begitu juga dengan Jae. Kami menghargai cinta tapi kami tidak akan diperbudak olehnya, yang penting kami menikmati dan juga bahagia karena memilikinya, itu sudah lebih dari cukup .. "

"Begitukah?"

"Ne. Jadi bagaimana? Kamu bersedia pergi dengan kami kan? Kamu sahabat baik-ku Sun-a, karena itu saya ingin kalian saling mengenal .. "

"Ok, tapi .. saya ... ingin membawa serta seseorang .. "

"Ha .. ha .. Ne, arasso. Saya rasa Jae tidak keberatan keluar dengan San .. "

"Bukan! Bukan San!"
, sahut Hyesun cepat.

"Mwo?!"

"Maksudku, tentu saja aku akan membawa San, tapi ... juga ... ada seseorang yang lain .. ehmmm .. Minho ... "

"O my god, Hyesun-a!!!"
, Soeun terdengar sangat terkejut dari seberang. "Kamu sudah menerimanya? Mempercayainya?"

"Saya belajar mempercayainya ... "
, tekan Hyesun.

"Ho .. good! Saya berharap kamu akan bahagia dengan keputusan ini .. "

"Saya harap juga begitu. Saya berusaha mempercayainya dan saya rasa .. saya mulai mempercayainya walaupun .. ya belum seratus persen. Saya masih menghimpun kekuatan itu, mungkin waktu yang akan melancarkan semuanya .. "

"Kamu pasti bisa Hyesun-a. Saya percaya padamu .. hwaiting!!"

"Gumawo ... "

"Ok, kalau begitu - mari kencan bersama .. double date!!"

"Double date??"

"Ne. Saya dan Jaejoong. Kamu dan Minho-ssi, .. dan tentu saja San sebagai lampu listrik ha .. ha .. "

"O ... "
, hanya huruf itu yang terlontar dari mulut Hyesun ketika berhasil menangkap maksud Soeun.

"Kalau begitu sesuai kesepakatan ya Sun-a? Jangan lupa waktunya, minggu-lusa nanti. Sekarang saya mau kerja dulu, ada rancangan gaun pengantin yang harus diselesaikan. Anyong Goo Hye Sun ..... "

"Anyong Soeun-a .. "
.

tutttt ... , hubungan telepon terputus. Hyesun menaruh ponselnya kembali ke dalam tas, kemudian dia tersenyum lebar.

****************


Jam makan siang telah tiba. Tergesa-gesa Hyesun membereskan semua peralatan dari meja kerjanya. Terlambat dua puluh menit menyebabkan ia harus merelakan Kim Joon dan Eunhye pergi makan siang terlebih dahulu.

Setelah memakai tas selempang di pundaknya, Hyesun berlari keluar dari klinik. Sampai di luar, seseorang yang berdiri tepat di depan pintu masuk membuat langkahnya terhenti. Orang itu dikenalnya, .. ya, laki-laki yang bersama ayah Minho, laki-laki yang pernah datang ke rumahnya, tapi juga laki-laki yang tidak diketahui namanya. Minho tidak menceritakan tentang laki-laki ini padanya, tapi kalau dilihat dari sikap dan tindak-tanduknya, dia pasti mempunyai posisi penting dalam keluarga Lee.

"Anyongheseyo Goo Hye Sun-ssi .. "

Hyesun  mengangguk lambat-lambat, "Anyongheseyo ... "

"Ada seseorang yang ingin bertemu agashi, apakah agashi punya waktu?", tanya pria itu sambil tersenyum.

"Bertemu denganku?", Hyesun menepuk dada sendiri, keheranan. "Dhugu?"

Pria itu tidak menjawab, masih dengan senyuman tersungging di bibir telunjuknya menunjuk ke mercy perak yang terparkir di belakang, sekitar enam meter dari tempat mereka berdiri. Jendela mobil itu terbuka dan Hyesun segera mengenali orang yang dimaksud. Ya, dia Mr. Lee, aboji Minho.

Mr. Lee menganggukan kepalanya pada Hyesun, agak gugup gadis itu membalasnya.

"Jadi, kita bisa berangkat sekarang?", tanya pria di hadapannya.

"Ne .. ", sahut Hyesun pendek. Dia tidak tahu mengapa menyetujui permintaan ini. Mungkin keinginan untuk mengetahui yang lebih banyak tentang Minho penyebabnya.

"Agashi tidak perlu kaku begini. Pak direktur hmmm .. agashi sudah tahu beliau abojinya Minho kan?"

"Ne .. "

"Beliau hanya ingin mengetahui kehidupan Minho selama ini, hanya itu, jadi agashi tenang saja. Oh ya, saya Jo In Sung .. ", pria itu membungkuk dengan hormat, "Kalau saya tidak salah ingat, kita belum berkenalan secara resmi .. "

"Ne .. ", Hyesun mengangguk lagi.

Insung mempersilahkan Hyesun berjalan mendahuluinya dengan mengerakkan tangan ke depan. Sikapnya sangat sopan dan hormat, membuat Hyesun berpikir 'pria ini pasti orang terpelajar!'. ~pdhl bengkok alias gay hahaha -lgs dikill ama noona b fuhhh ...

Sepuluh menit kemudian, mereka memasuki restoran Suki yang terdapat di lantai dasar gedung Lee's Corporation milik keluarga Lee. Makanan-makanan khas Jepang, berupa sashimi, sushi dan sup miso tofu dihidangkan dalam waktu beberapa menit, rupanya Mr. Lee sudah mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu.

"Bagaimana mungkin dia mengetahui saya akan ikut dengannya?", tanya Hyesun dalam hati.

Mereka memulai makan siang tanpa mengeluarkan suara. Tidak termasuk Injung, karena pria jangkung itu menunggu Mr. lee di luar ruangan. Hyesun sedikit gugup berhadapan dengan ayah Minho. Beberapa kali dia melirik pria setengah baya ini lewat sudut matanya. Tanpa diberitahu juga dia dapat menebak kalau Minho mempunyai hubungan darah dengan pria ini, wajah mereka termasuk mirip walaupun kulit Mr. Lee sudah keriput.

Hyesun dan Mr. Lee menyelesaikan makan siang sekitar duapuluh menit. Waktu itu sudah pukul satu lewat lima menit. Hyesun melirik jamtangannya dengan gelisah. Dia sudah terlambat lima menit dari waktu kerja setelah lunch time.

"Agashi mengejar waktu?", tanya Mr. Lee tenang sambil mengelap mulut dengan serbet.

"O aniyo .. ", dusta Hyesun.

"He .. he .. agashi tidak perlu sungkan begitu. Saya tahu jam kerja agashi dimulai pukul satu .. ", pria setengah baya dihadapannya tertawa lembut.

Hyesun menunduk perlahan, "Sosoengheyo .. ", dia merasa risih karena ketahuan telah berbohong.

Mr. Lee tidak berkomentar lebih lanjut. Pria itu tetap setia dengan senyumannya yang menenangkan.

"A .. apakah ada yang ingin tuan tanyakan?". Hyesun memberanikan diri bertanya setelah kediaman selama dua menit.

"Tentang Minho .. ", jawab Mr. Lee, "Saya tahu dia tinggal bersama agashi, ... dan mengapa bisa begitu, saya juga mengetahuinya. Tentang kesalahan penandatanganan kontrak jual-beli itu dan juga kehidupan kalian sekarang. Dia, sebagai bartender di 2X dan agashi, sebagai suster di klinik Kim's Health ... "

"Tu ..an .. mengetahui segalanya?", tanya Hyesun tak percaya. 'Apakah alasan ini yang membuat hubungannya dengan Minho jadi renggang? Karena dia selalu mencampuri urusan Minho? Selalu membuntut kemanapun Minho pergi?'

Tapi pria itu segera mengibaskan tangannya, "Tidak, tidak .. saya tidak mengetahui semuanya! ... karena itu saya mengundang agashi ke sini, .. saya ingin mengetahui kehidupan Minho selama ini. Bagaimana hubungannya dengan agashi dan ... apa pandangannya terhadap saya -jika agashi mengetahuinya .. ".

"Sosoengheyo, tapi ... Minho tidak pernah menceritakan tentang anda pada saya .. ", ujar Hyesun pelan.

"Begitu?", Mr. Lee terdiam. Dia berpikir sebentar, setelah itu berkata lambat-lambat, "Lalu .. apakah agashi bersedia membantuku?".

Mata Hyesun melebar, "Saya?"

Mr. Lee mengangguk, kemudian tersenyum perlahan, "Ne, hanya agashi yang bisa membantu saya .. "

"Weo?", tanya Hyesun tidak mengerti.

"Karena Minho kelihatannya mempercayai agashi. Saya tidak pernah melihat dia begitu akrab dengan seseorang, bahkan dengan Injung sekalipun, walaupun dia sudah dianggapnya seperti hyung sendiri .. "

"O .. "

"Jadi, bersediakah agashi membantuku?", tanya Mr. Lee lagi.

Akhirnya Hyesun hanya bisa menganggukkan kepalanya.

"Ghamsamida .."

"Tapi ... bagaimana .. saya bisa membantu tuan?", tanya Hyesun ragu-ragu.

"Ada kesalahpahaman antara saya dan Minho. Dan mungkin ini juga sebagian alasan mengapa dia menghindariku, tidak mau memaafkanku. Dia mengira saya masih berhubungan dengan gang Blackcross .. "

"Gang Blackcross?", jidat Hyesun berkenyit. 'Gang apa itu?'

Mr. Lee tersenyum kecut. "Iya, gang Blackcross, aliran hitam yang paling berkuasa di Korea bahkan di Asia dan juga aliran yang paling dibenci Minho."

Hyesun hanya bisa mengangga mendengar jawaban Mr. Lee. 'Keluarga Minho mempunyai hubungan dengan aliran gelap? Sungguh tidak bisa dipercaya. Apalagi pria dihadapannya, kelihatan sangat lembut dan tidak mungkin melakukan sesuatu di luar batas atau melanggar aturan-aturan hukum.

"Dia salah-paham. Maksudku, Minho salah-paham .. ", pernyataan Mr. Lee selanjutnya menyadarkan Hyesun dari lamunan, "Saya sudah melepaskan diri dari gang itu ... sudah lama, hampir tujuh tahun yang lalu, ketika Minho meninggalkan rumah di usianya yang keenambelas ... "

"Lalu .. mengapa masih ada kesalahpahaman itu?", tanya Hyesun halus. "Maksudku, .. dia tidak mungkin mengira begitu jika .. jika dia tidak melihatnya sendiri kan?"

"Benar!", badan Mr. Lee menegak perlahan. "Malam itu, dua hari yang lalu, .. dia mendengar asal-usul Wonbin... Wonbin adalah salah seorang karyawanku dan dia juga pewaris dari gang Blackcross .. "

"MWO??!!", mata Hyesun terbelalak lebar, 'bagaimana mungkin .. ?'

Melihat reaksi Hyesun, Mr. Lee tersenyum lagi. Kali ini lebih kecut dari tadi.
"Iya, tidak masuk akal kan? .. Saya keluar dari gang itu tujuh tahun yang lalu tapi tetap saja saya tidak bisa melepaskan diri dari takdir dengan gang itu .. Wonbin merupakan putra semata-wayang dari ketua gang Blackcross, tuan Won. Tiga bulan yang lalu saya menolongnya ketika dia dikeroyok gang lawan, waktu itu saya tidak tahu dia dari gang Blackcross apalagi putra dari tuan Won .. setelah peristiwa itu, tuan Won sangat berterimakasih, kemudian dia memintaku menerima putranya belajar di Lee's Corporation ... Sesungguhnya tuan Won tidak ingin putranya meneruskan usaha keluarga itu ... "

"O ..". Hyesun mengangguk-angguk tanda mengerti. "Tapi .. mengapa tuan tidak menceritakannya sendiri pada Minho? Mengapa harus melaluiku?"

"Karena dia tidak memberi kesempatan padaku menjelaskan padanya ..", jawab Mr. Lee, yang segera disambut anggukan kepala dari Hyesun lagi. "Bagaimana agashi?"

Selama beberapa saat, mungkin hampir tiga menit, Hyesun berpikir dengan serius. Apakah dia mampu melakukannya? Apakah Minho akan mendengarkan perkataannya? dan yang paling penting ... apakah dia berhak mencampuri masalah ini? Ini masalah pribadi Minho dan dia belum sepenuhnya masuk ke dalam hubungan dengan pemuda itu. Dia merasa sebagai orang asing, jadi apa haknya?

"Agashi .. "

Panggilan pelan itu menghentaknya dari lamunan, "Ya, ne .. ", jawabnya tanpa sadar.

Mr. Lee tersenyum perlahan, "Gumawo ... "

Mau tidak mau, Hyesun ikut tersenyum. "Gwencana-yo .. "
 


****************


Sekitar pukul enam sore, Hyunjoong menginjakkan kakinya di Kim’s mansion. Dia mengerakkan badan berkali-kali guna melepaskan otot-otot tubuhnya yang tegang akibat berkutat seharian dengan pekerjaan-pekerjaan yang belum pernah terjamah olehnya. Hari ini merupakan hari pertama dia mulai belajar menangani ‘Paradise Capital’, perusahaan keluarga yang sudah dirintis presiden Kim, abojinya, sejak tigapuluh tahun yang lalu. Pekerjaan yang benar-benar berat bagi seorang anak yang hanya mengenal kata bermain seperti Hyunjoong.

Keadaan Mr. Kim yang masih lemah dan peringatan keras dari dokter So supaya beliau beristirahat yang banyak membuat Hyunjoong terpaksa menyemplungkan diri dalam usaha keluarga yang tidak begitu disukai, bahkan boleh dikatakan sangat dibencinya sejak dulu. ‘Paradise Capital’ tidak mungkin berjalan tanpa pemimpin karena itu di sinilah dia sekarang, mengurus segala sesuatu yang benar-benar asing dan tidak dipahaminya. Bagaimana memberi perintah, menyeleksi rencana kerjasama yang berguna bagi perusahaan, bahkan … masalah kecil seperti memilih kostum untuk kerja saja sudah membuatnya pontang-panting. Untung saja selama itu tuan Song, asisten pribadi appanya, senantiasa membantunya menyelesaikan segala sesuatu yang diperlukan, termasuk memberi rekomendasi bagaimana berpakaian formal, maklum selama ini Hyunjoong hanya bisa berdandanan casual dengan kaos dan jeans belel.

Sampai di rumah, seorang pelayan melaporkan padanya kalau sekarang Mr. Kim sedang ditemani seseorang. Tanpa bertanya lebih lanjut siapa tamu itu, dia bergegas ke kamar Mr. Kim yang berada di lantai atas.

Begitu pintu dibuka, seraut wajah yang sangat dikenal dan begitu dirindukannya selama ini berpaling padanya.

"Noona ... ", seru Hyunjoong.


Kim Seon-Ah, kakak perempuan Hyunjoong satu-satunya, berdiri dari kursi di samping ranjang Mr. Kim dan berlari kearah pemuda itu. "Anyong dongseng-a ... ". Dipeluknya Hyungjoong erat-erat, "Miane karena noona baru bisa tiba hari ini .. Salju hebat ditambah penyakit halmonie Dongwook oppa menunda kepulangan noona beberapa hari lalu ..."

"Noona, bogoshipoyo ... ", sahut Hyunjoong, isakan halus terdengar dari mulutnya.

"Yaaa yaaa dongseng-a!!!". Seon-Ah mengetok halus jidat Hyunjoong, "Kenapa secengeng ini, kamu punya kelainan ya?"

"KIM SEON-AH!!", tegur Mr. kim keras dari ranjangnya.

Seon-Ah lalu berpaling pada appanya, "Ne, ne .. araso. Hyunjoong laki-laki sejati dan jantan. Harapan keluarga Kim, benar begitu kan appa?"

"SEON-AH!", tegur Mr. Kim lagi. Dia melirik cemas kearah Hyunjoong, tapi pemuda itu tidak memperlihatkan perasaan apapun terhadap lelucon Seon-Ah sehingga dia bisa bernafas lega. Seon-Ah memang tidak mengetahui kelainan dongsengnya ini.
"Oh ya Hyunjoong-a, bagaimana kerjamu hari ini?", tanyanya, berusaha mengalihkan pembicaraan ke masalah lain.

Tapi, pertanyaan itu belum dijawab Hyunjoong, sudah dipotong Seon-Ah lebih dahulu.
“Ho ho!! Jika appa masih ingin menghadiri acara wisuda Mai dan juga melihat si kecil Miko, appa harus melupakan semua masalah perusahaan! Serahkan semua pada Hyunjoong, saya yakin dia bisa menanganinya apalagi dengan bantuan tuan Song .. “

"Mai?", celetuk Hyunjoong. "Maksud noona, .. Maiko?"

"Ne .. ", Seon-Ah menganggukkan kepalanya.


"O .. ".

Maiko Katada adalah sepupu mereka. Putri tunggal dari adik perempuan Mr. Kim, dan Kohei Katada, orang Jepang itu. Bibi Kim meninggal enam tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan pesawat, .. setelah lewat empat tahun, paman Kohei menikah lagi dengan seorang wanita Jepang yang usianya berbeda jauh dengannya.

"Mai akan diwisuda minggu depan dan paman Kohei mengundang kita menghadiri acara itu sekalian menengok bayi Miko yang lahir dua hari lalu ..", sambung Seon-Ah.

"Saya perlu ikut?"

"Tidak dongseng-a. Kamu harus mengurus 'Paradise Capital'. Biar saya dan appa saja yang ke sana. Dongwook oppa akan berangkat dari London setelah halmonie sudah agak baikan, sekitar empat hari kemudian, dan bergabung dengan kami di Jepang setelah itu. Kamu jangan khawatir, kami akan menjaga appa .."

Hyunjoong mengangguk dengan terpaksa. Mengurus 'Paradise Capital'? Dia tidak suka ide ini.

"Gwencana dongseng-a?", Seon-Ah menepuk lengannya.

"Ne .. ", sahut Hyungjoong, dan sekali lagi dengan TERPAKSA.

****************


"Hottie, bagaimana keadaan malam ini?", Jessica Gomez, yang baru saja menginjakkan kaki di bar '2X', menjatuhkan tubuhnya ke kursi di hadapan Minho.

Dia mengamati situasi bar yang kelihatan sepi dari pengunjung, hanya ada beberapa orang yang dapat dihitung dengan jari. Beberapa di antara mereka sedang berdansa di lantai dansa, -mengikuti alunan musi disko yang cukup keras, sedangkan beberapa lagi memojok di sudut yang lebih gelap dan dua orang wanita berpakaian sexy duduk di depan meja bar sambil memelototi Minho. Jess menghembuskan nafas perlahan. Dia muak dengan pandangan para wanita tersebut.

Sedangkan Minho, ikut melayangkan pandangan ke sekeliling bar. "Masih sepi .. Mungkin para langganan belum tahu kalau 2X sudah dibuka .. ". Dia menyodorkan sebotol bir yang langsung diterima Jess.


"Mungkin juga .. karena mereka sudah gentar dengan peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu .. ", sambung Jess, disambut desahan berat dari hidungnya. Bir di tangannya langsung diteguk beberapa tegukan sekaligus.

"Miane .. ", ujar Minho, merasa bersalah.

Jess segera mengibaskan tangannya, "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan .. Itu bukan kesalahanmu! Saya berharap si Geunsuk berengsek itu tidak akan muncul lagi .. "

"Bukan hanya karena Geunsuk saya meminta maaf, noona .. ", Minho segera menyambung perkataannya yang tadi dipotong Jess, " .. tapi juga karena gang Blackcross! Semua ada hubungannya denganku .. "

Kening Jess berkenyit perlahan, "Apa maksud perkataanmu?"

"Gang Blackcross mempunyai kaitan dengan Lee's Corporation, perusahaan yang dipimpin abo ... "

LEE MIN HOOOO!!! ...., teriakan yang sangat keras dan mendadak membuat Minho terlonjak kaget, perkataannya terputus di tengah jalan dan gelas yang baru saja diambil dari rak kecil dekat wastafel hampir melayang dari tangannya.

LEE MIN HOOOOO!!! .., teriakan itu terdengar lagi, makin lama makin keras.

Masih dalam keadaan linglung Minho menunduk, berusaha mencari asal teriakan tersebut. Ponselnya yang terletak di atas meja layan bergetar hebat dan berteriak lagi. LEE MIN HOOOOOO!!!.

Minho langsung menepuk jidatnya. Benar! dia hampir lupa sudah menganti ringtone ponselnya dengan teriakan Hyesun, yang direkamnya secara diam-diam tadi pagi, dan tentu saja itu tanpa sepengetahuan Hyesun.

Tak pelak lagi Minho tertawa terbahak-bahak, "Ha .. ha .. ha .. ha .. "


"Suara apa itu?", tanya Jess sambil menjulurkan leher dari seberang meja. Dia sangat penasaran dengan teriakan yang mengemparkan tadi dan terutama kegelian Minho.

Pemuda itu meraih ponsel dari atas meja dan mengangkatnya ke atas, "Ponselku .. ", jawabnya, masih dengan suara ketawanya yang keras. ".. ha .. ha ... "

"Oh ... ". Mulut Jess terbuka lebar, membentuk huruf O besar, -tidak dapat dipercaya pemuda cool ini akan sebegitu isengnya. "Kamu sungguh .... "

LEE MIN HOOOOOOOO!!!! ...,

"O tuhan ... ", Jess langsung menempelkan tangan ke mulutnya, kaget. Begitu juga Minho, gelas yang tadi sudah ditaruh diatas meja tersenggol oleh tangannya sehingga bergulir ke bak cuci,  ... prang ... gelas tersebut pecah berkeping-keping.

"Ha .. ha .. ha .. ". Minho kembali terbahak-bahak setelah insiden kecil tadi. "Permisi noona Jess .. saya dengar telepon dulu ... "

Sebelum Jess memberikan tanggapan, Minho sudah beranjak dari situ menuju lorong luar yang terpisahkan oleh pintu belakang bar 2X yang kelam.

LEE MIN HOOOO!!!, .. klik, Minho memencet tombol terima ...

"Anyong baby ..", sapanya lembut dengan senyuman yang dikulum.

"Appaa!!!", suara bening Kangsan menyahut dari seberang.

"O san-a .. ", sahut Minho, agak terkejut juga ditelepon Kangsan, karena ini pertamakalinya dia mendapat telepon dari anak itu.

"San baru selesai makan .. "

"Jeongmal? Bagaimana rasanya?"

"Lezatttttttt!!!!!"
, sahut Kangsan keras-keras.

"O ha .. ha .. San kalau sudah selesai makan, cepat mandi dan tidur ya. Ingat jangan menyusahkan omma .. ", pesan Minho dengan senyuman tersungging di bibir.

"Ne!!!"

"Sekarang, kasih teleponnya ke omma! Omma ada di sana kan?"


"OMMAAAA!!!!", terdengar teriakan Kangsan memanggil Hyesun. " .. dicariin appa!!!!"

Selama dua menit tidak terdengar suara dari seberang, sampai ...

"Yeoboseyo ... "

"Baby, bogoshipoyo ... "
, goda Minho.

"Yaaa Lee Min Ho!!!"

"He .. he .. jangan marah dong baby! O ya, sudah selesai makan?"

"Ne ... "
, hening sejenak, kemudian, "Minho-a .. "

"Ne, ada apa baby?"

"Hari .. minggu nanti, kamu ... kamu ada waktu luang tidak?"

"Saya libur hari minggu, memangnya ada apa baby?"

"Ehmmm ... Soeun, ... kamu masih ingat Soeun kan?"

"Ne ... "
, jawab Minho dengan kening berkenyit. 'Sebenarnya apa yang ingin dikatakan Hyesun?'

"Dia ingin mengenalkan pacarnya padaku, dan .. saya ... saya mengikut-sertakan kamu dalam acara itu .. ", jelas Hyesun susah payah.

"Ho .. ho .. apa ini undangan kencan, baby?", bibir Minho menyunggingkan senyum puas yang tidak terlihat Hyesun.


"Mwo? hmmm .. anggap saja begitu. Jadi, .. bagaimana .. kamu jadi pergi tidak? .. Jika kamu tidak tertarik, batalkan saja. Saya bisa pergi sendiri!!"

"O aniyo baby. Saya sangat senang bisa menemanimu ... "

"Hmm ok, kalau begitu, .. sesuai perjanjian. Nanti kita bicarakan lagi di rumah .. "


tutttttttt ....... , sambungan diputus sebelum Minho sempat mengucapkan apa-apa.

"Yaaa baby!! Yeoboseyo! Yeoboseyo, Baby??!!!", percuma, hanya suara tuttttttt panjang yang terdengar dari seberang sana. Dengan lemas, Minho masuk ke dalam bar 2X. Dentuman musik keras langsung menyambut kedatangannya.

"Hottie, suara siapa tadi? Yang kamu jadikan ringtone itu, mengagetkan saja .. ", tanya Jess bertubi-tubi begitu Minho tiba di hadapannya.

"Itu ... "

"Minho-a!!", tepukan di pundak memutuskan jawaban Minho. Dia berbalik, seorang pria berpipi chubby tersenyum padanya. "Boleh tukar liburan denganku? Aku ada keperluan penting hari minggu nanti?", tanya pria itu.

Minho segera tersenyum dan mengangkat tangannya, "Miane Seunggi-a, tapi .. tidak bisa!!"

"Mwo? Sejak kapan kamu menolak permintaanku?"

"Biasanya memang tidak, ... tapi minggu nanti saya ada kencan jadi saya tidak bisa mengantinya denganmu .. ", jawab Minho.

"MWOO??!!", teriak Seunggi dan Jess hampir bersamaan. "Kencan? Saya tidak melihat kamu dekat dengan seorang pria akhir-akhir ini. Bukan .. Geunsuk kan?", sambung Jess kesal.

"Bukan! Bukan Geunsuk! Saya tidak menyukainya sama sekali. Orang itu adalah .... "

"Beer please!!".

Seorang wanita berambut pirang, sepertinya orang Inggris, memutuskan pembicaraan mereka. Wanita itu mengambil tempat tepat di hadapan Minho dan tersenyum padanya dengan gaya dan kerlingan mengoda. Gaun yang dikenakannya sangat ketat dan pendek. Jess berdecak pelan, agak terpaksa dia, bersama Seunggi, berlalu dari hadapan mereka.

Minho meraih sebotol bir dari rak di belakang dan menaruhnya di hadapan wanita asing itu.
"Your beer .. miss.. ", ujar Minho dengan senyuman lebar yang memperlihatkan sepasang lesung pipi tajam di kedua belah pipinya.

"Thanks ... ". Wanita itu menyambut bir yang disodorkan Minho. Dia ikut tersenyum, gigi-giginya yang rata dan putih mengigit sudut bibir bawahnya, terlihat sexy dan sangat menantang "Handsome, want to join me tonight?"

"Ha .. ha .. ", Minho tertawa perlahan, "Sorry, but i was taken ... "

"O so honestly .. ", komentar wanita itu sedikit kecewa.

Minho mengangkat bahu cuek, .. kemudian berlalu dari hadapan wanita tersebut.

****************
« Last Edit: July 02, 2010, 09:43:23 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun