Author Topic: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~CHAPTER 18, ENDING, update 27 Mar'12~  (Read 44693 times)

Offline Tir_@

  • Newbie
  • *
  • Posts: 84
    • View Profile
mamiiii... Yang ni kapan d update *o*/
Penasaran ni... :-p
Update...
Update...
Update...
Update...
Update...
PISSSSsss ^^V

Offline yazmin

  • Newbie
  • *
  • Posts: 16
    • View Profile
ff ini dah 1bln lbh ga diupdate  [sweat]

kira2 kpn bs diupdate mam  [chin]


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
yg ini lg diusahakan [sweat] [sweat] minsun belum bertemu jd belum bisa diupdate [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Additional Cast :


Kenneth Ma as Kenneth Ma


Canada, .. Toronto, pukul 10 pagi, tanggal 22 Desember, waktu setempat …

Goo Hye Sun ...

Pandanganku terhalangi oleh dua pria yang berdiri di depan jendela kaca geser yang menghadap ke laut di hadapanku. Mereka berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti, saling sahut-menyahut sambil sesekali diselingi beberapa patah bahasa inggris yang samar-samar berhasil kutangkap. Aku termangu. Hampir setengah jam sudah aku berada di sini. Perlahan kualihkan perhatian ke sekeliling. Berpuluh-puluh lukisan berupa desain-desain ruangan beserta miniatur-miniatur berbentuk bangunan-bangunan kecil yang sangat sentrik mendominasi ruangan tersebut. Sesaat kemudian aku mengalihkan perhatian kembali ke dua pria tadi.


"Bagaimana?", tanya salah satu pria tersebut. Ia mengenakan jaket kulit warna hitam dengan rambut tersisir rapi ke belakang. Beberapa helai rambutnya menjuntai di sekitar alisnya. Sepasang matanya berbinar-binar ketika mengajukan pertanyaan itu.

Pria satunya lagi meliriknya. "Bagus!", pujinya sambil tersenyum. "Aku tidak menyangka kamu punya ide sehebat ini. Galeri pribadi merangkap cafe santai menghadap laut. Kolaborasi yang sangat istimewa, Kenneth Ma," ditepuknya pundak pria bernama Kenneth itu. "Dan pemandangannya juga luar biasa .. ," lanjutnya.

"Thanks!," Kenneth ikut tersenyum. "Sebenarnya Fenny yang mengeluarkan ide ini. Melihat banyaknya karyaku yang tersia-siakan, dia menganjurkan aku membuka galeri pribadi ini. Dan kebetulan dad juga menyetujuinya."

"Saya iri padamu." pria di sebelah menekan perkataannya. "Sungguh!"

Kenneth tertawa. "Jangan bercanda Sam. Saya tahu kamu juga bisa melakukannya jika kamu menginginkan ini."

Sammul ikut tertawa. "Maybe!," jawabnya tidak begitu yakin.

"Tapi .. ," Kenneth menoleh padaku. " .. dia - Are you sure?"

"Maksudmu?" Sammul mengenyitkan alisnya.

"Don't pretend you did'nt understand my question Sam. I know you did!"

Sammul tersenyum. "Just friend!," jawabnya singkat.

"Really?!," tanya Kenneth. " .. i don't believe you ... ," ujarnya.

Sammul mengangkat bahunya. "Up to you. Just to you know, dia mencintai seseorang .. ," ia tersenyum kecut.

"Oh ..," mulut Kenneth mengangga. "I'm sorry," sesalnya.

"Ha .. ha .. ," Sammul tertawa sumbang. "That's ok. Yang penting dia bahagia. Itu sudah lebih dari cukup buatku."

Kenneth kemudian melingkarkan tangannya ke pundak Sammul. "Kamu selalu begitu. Untuk Fenny begitu, dan sekarang untuk dia .. ," Kenneth kembali melirikku lewat sudut matanya, " .. juga begitu ..," lanjutnya. "Kapan kamu memperhatikan dirimu sendiri?"

Sammul kembali tertawa. Kali ini terdengar geli. "Ha .. ha .. Saya tidak pernah membiarkan diri sendiri menderita, Kenny. Dulu saya melepas Fenny karena saya tahu kalian saling mencintai. Sedangkan untuk dia .. ," Sammul memutar badannya sehingga menghadap ke arahku. " ... saya tahu tidak akan berhasil. Paling tidak untuk sekarang, hatinya tidak padaku. Mungkin di kemudian hari, .. hmm entahlah."

Mendadak Sammul berpaling pada Kenneth. Disodoknya pelan dada sahabatnya itu. " ... tapi lihat, keputusanku melepas Fenny benar kan? Dia bahagia setelah menikah denganmu."

Kenneth tertawa lepas. Dia mengangguk dan sepasang matanya berbinar-binar. "Yes," jawabnya pasti.

"Itu lebih penting dari segalanya. Buat apa mempermasalahkan siapa menyerah pada siapa?" Sammul mengedipkan sebelah matanya.

Lalu ia menoleh padaku. "Hyesun-a," panggilnya sambil melambaikan tangannya. "Apa kamu ikut denganku menikmati udara segar laut di taman di luar sana?" tanyanya. "Pemandangan di sana terlihat bagus."


Aku berdiri dari bangku yang kududuki. "Ne!," aku mendekatinya. Agak gugup aku mengangguk pada Kenneth yang tersenyum padaku. Pemuda itu juga mengangguk pelan.

"Saya akan menyiapkan makanan dan minuman ringan buat kalian. Sepuluh menit lagi aku bergabung dengan kalian, " katanya pada Sammul.

"Ok," Sammul mengangguk. "Kami akan menunggumu di luar, tuan rumah yang baik," godanya sambil tersenyum kecil.

Tawa Kenneth langsung meledak. "Tidak. Saya bukan tuan rumah yang baik. Setelah sarapan kalian harus membantuku membereskan semuanya. Masih banyak lukisan-lukisan dan miniatur-miniatur yang belum dikeluarkan dari lantai atas. Saya masih bingung dengan cara penataannya, karena itu kalian harus memberikan saran-saran terbaik padaku. Waktuku sangat sempit. Pameran ini sudah akan dibuka besok siang."

Sammul menepuk dadanya. "Beres. Serahkan pada kami," dia menoleh padaku, "Benar begitu, Hyesun-a?"

Mataku melebar, "DHE?!" tanyaku tak mengerti.

"He ... he .. ," Sammul menyentuh ringan lenganku sambil membuka jendela geser di hadapannya. " .. tidak apa-apa. Nanti saja kujelaskan .. ," kemudian ia melangkah keluar, ke tanah berumput halus dan tebal yang terbentang sampai ke tepi laut yang dilindungi pagar pembatas setinggi pinggang.

Aku mengaruk kepala yang tidak terasa gatal. Kemudian mengikuti langkahnya. Angin laut segera menerpa wajahku, menerbangkan rambutku ke udara. Kuhirup udara segar laut dalam-dalam dan mulai menikmati pemandangan indah yang terhampar di depan mata. Aku tersenyum. Sepertinya keputusanku ke negara ini tidak salah. Aku bisa melupakan semua yang telah terjadi, juga perasaanku pada Lee Min Ho, walaupun hanya sesaat.

***********


Lee Min Ho ...  

Aku berdiri dengan tangan terangkat ke pintu apartemen berbentuk house yang bersebelahan dengan house yang kutempati. Rumah yang didominasi warna putih ini merupakan tempat tinggal Raymond cs. Rumah ini, beserta rumah yang kutempati disediakan oleh Florest Capital buat kelancaran pekerjaan kami.

Tok .. tok .. tok ..

Untuk kesekian kalinya aku mengulangi perbuatan yang kulakukan dari dua menit yang lalu. Aku mengetuk pintu tersebut berulangkali, tidak ada jawaban. Sepertinya kelima pemalas penghuni rumah sudah terlelap dalam alam mimpi.

Aku menghela nafas dalam-dalam, menariknya kuat-kuat, kemudian menghembuskannya ke atas. Menyebabkan poni lebat yang menjuntai menutupi jidatku bergerak-gerak halus laksana terhembus angin. Aku merogoh ke dalam saku celana dan mengeluarkan seuntai kunci. Setelah memilah di antara kumpulan kunci tersebut, aku memasukkan kunci yang tepat ke lubang kunci yang terdapat di pintu. Aku memutar kunci tersebut, dan klik .. pintu itu terbuka dalam satu putaran. Anak-anak ini benar-benar,,, bagaimana mungkin mereka tidur tanpa mengunci pintu?!!!


Aku memasuki ruangan. Pemandangan yang terpampang di depan mata langsung membuatku mengangga. Koper-koper berserakan di lantai. Begitu juga pakaian-pakaian dan bahan-bahan pekerjaan yang kami bawa. Bahkan pakaian dalam, berupa celana dalam dan piyama berserakan ke mana-mana.

“Kapal pecah?!!”, dengusku kesal.

Dengan asal-asalan, aku memasukkan semua pakaian ke dalam koper-koper di lantai. Setelah itu membereskan denah-denah, beserta peralatan-peralatan penting lainnya ke atas meja. Menjadikannya satu dengan hasil-hasil pekerjaan lain yang bertaburan di salah satu sudut meja.

Aku mengamati keadaan sekeliling. Agak lumayan sekarang. Walaupun tetap tidak sedap dipandang mata, tapi paling tidak sudah tidak sekacau tadi. Kemudian aku beranjak ke kamar paling depan yang tempati Raymond.

Tok .. tok .. tok .., Aku menanti beberapa lama. Klik, pintu dibuka dua menit kemudian. Wajah Raymond muncul dihadapanku dengan sepasang mata merah yang berair.

“Leader?!”. Matanya berkejap-kejap ketika melihatku. Seakan-akan tidak mempercayai penglihatannya sendiri.

“sudah saya katakan Cuma memberi waktu dua jam buat kalian beristirahat.. waktu kita sangat sempit, kita harus ke Florest Capital secepat mungkin. Tuan Lau dan tuan Ma sudah menunggu kita di sana …“, cecarku.  “Sekarang cuci mukamu, bangunkan yang lain. Kita berkumpul di tempat parkir sepuluh menit lagi. Ingat jangan terlambat!”

Raymond menegakkan badannya. Mendengar perkataanku, dia sudah tersadar penuh sekarang. “Yes, boss!!”, sahutnya keras.

Aku berdecak pelan. Kemudian berbalik kearah pintu, bermaksud keluar dari rumah itu. Di ambang pintu, aku berhenti. Agak ragu aku berpaling ke arah Raymond. “ .. barang-barang yang berserakan itu, aku tidak ingin melihatnya lagi!!!”

“Siap boss!!!”

Brakkk …
Teriakan Raymond tersaingi oleh kerasnya bunyi pintu ditutup.
 
*************


"Bagaimana menurutmu tuan Lee?" Tuan Ma, pemilik Florest Capital, mengajukan pertanyaannya ketika kami tiba di batas pendirian Florest Hotel. Sekarang kami berdiri di depan menara bersejarah yang dilarang peruntuhannya oleh pemerintah. Menara bermasalah yang menyebabkan penundaan pendirian hotel yang telah terencana dengan baik itu. Tiang dari batu tersebut tingginya sekitar satu setengah meter. Terlihat kokoh dan dipahat halus dengan lukisan-lukisan abstrak yang tidak mungkin dimengerti orang awam.

Tuan Lau, presiden Great Building, beserta Raymond cs dan juga beberapa orang-orang dari Florest Capital beralih padaku. Mereka menanti jawaban dariku. Aku tidak menjawab. Tangan kananku meraba-raba dagu sambil mengamati menara tua tersebut dengan seksama.

"Tuan Lee?!" tegur tuan Ma.

Aku tersentak. "Yes?!" tanyaku linglung.

"Bagaimana menurut anda?" tuan Ma mengulangi pertanyaannya.

Aku membalas pandangan tuan Ma. Kemudian beralih pada tuan Lau. Atasanku itu terlihat tidak senang. Wajahnya berkerut. Mungkin ia menganggap aku tidak menaruh perhatian pada pertanyaan tuan Ma. Lalu aku menoleh pada Raymond cs dan orang-orang yang mengelilingiku. Pandangan mereka sama saja. Bertanya-tanya dan kelihatan penasaran.

"Ehmmm .. ," aku membersihkan tenggorokan yang terasa kering. "Sebenarnya saya sudah memikirkannya sebelum datang ke sini. Yang saya perlukan hanya melihatnya dengan mata kepala sendiri. Saya rasa lebih baik menara ini dipertahankan."

"Saya tahu itu tuan Lee," kata tuan Ma. "Kita tidak punya pilihan lain karena pemerintah tidak mengijinkan peruntuhannya. Yang ingin saya ketahui bagaimana cara penyelesaiannya! Saya tetap menginginkan laut buatan itu jadi pembuatannya tidak boleh terbengkalai .. "

Aku meraba-raba dagu kembali. "Jangan khawatir," aku berpaling ke belakang, " .. mungkin- ," tidak lebih dari lima detik aku berbalik kembali ke tuan Ma. "Apa tuan berpikiran mengolaborasi tempat ini?", tanyaku mendadak.

"Kolaborasi?" tuan Ma kelihatan terkejut. "Maksudmu?"

"Untuk bagian depan menara ini, kalau tidak salah akan didirikan tempat sauna dan spa .. ," aku mempelajari denah di tanganku. "Benar," aku mempertegas perkataan tadi. "Sauna dan spa modern. Bagaimana kalau dirubah gaya klasik Jepang?"

"Jepang?" tuan Ma semakin bingung dengan ide-ideku. "Bagaimana mungkin? Ini hotel modern!" tekannya.

"Saya tahu. Karena itu saya mengajukan pertanyaan tadi. Apa tuan punya rencana mengolaborasi tempat ini?"

"Lee Min Ho," tuan Lau yang dari tadi membisu, mengeluarkan suaranya. "Jelaskan kata-katamu tadi!"

Aku mengangguk. Mungkin perkataan-perkataanku agak membingungkan sehingga orang-orang yang mengelilingku ini mengerutkan wajah semua.

"Menurutku cukup menarik menambahkan pameran terbuka di sini," kataku.

"Pameran terbuka?" tanya mereka bersamaan.

"Iya," jawabku. "Kita bisa menambahkan barang-barang antik lainnya di sekeliling menara tua ini. Mungkin keramik-keramik peninggalan dinasti-dinasti Cina dulu, atau arca-arca dari Indonesia dan negara-negara Malaya lainnya. Juga peninggalan-peninggalan sejarah lainnya. Yang bisa dipamerkan di alam terbuka. Yang tahan banting dan tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca, baik hujan maupun teriknya sinar matahari."

Tidak ada yang menyahut. Semua memperhatikanku dengan tampang melongo. Apa aku terlihat aneh? Mungkin tidak. Mungkin aku lebih terlihat bodoh karena ide gila ini daripada aneh.

"Tanaman-tanaman langka juga tidak kalah menariknya dimasukkan di sini," aku tidak perduli. Biar saja mereka menganggapku bodoh. Ide ini sudah terlanjur diutarakan jadi harus kulanjutkan. "Keterangan-keterangan mengenai benda-benda kuno dan tanaman-tanaman langka tersebut bisa kita tambahkan di bawah barang-barang tersebut sehingga para tamu bisa lebih mengenal asal-usul peninggalan-peninggalan bersejarah yang dipamerkan di sini."

Masih tidak ada yang mengeluarkan suaranya. Aku mengedarkan pandangan berkeliling. Apa kulanjutkan saja penjelasan-penjelasan ini?

"Di depan pameran terbuka ini seharusnya didirikan tempat sauna dan spa bergaya modern. Kalau dipikir-pikir, ini tidak cocok dengan konsep pameran bergaya kuno. Karena itu saya menganjurkan untuk merubahnya ke gaya klasik Jepang. Dengan dekorasi dari kayu-kayu wangi, kolam-kolam terbuka yang mengepulkan asap dan jendela-jendela panjang dari kaca yang menghadap langsung ke pameran ini. Pasti akan sempurna," jelasku sejelas-jelasnya sambil memperhatikan reaksi mereka.

Tuan Ma menghembuskan nafas yang sedari tadi ditahannya. Begitu juga tuan Lau, yang segera diikuti yang lain.

"Lalu .. bagaimana laut buatan itu?" tanya tuan Ma setelah agak tenang.

Aku tersenyum. "Tenang saja tuan. Laut buatan itu tetap akan terlaksana. Mungkin .. ," aku mengedarkan pandangan berkeliling. "Tempat sauna dan pameran terbuka tersebut tidak menyita banyak tempat. Semula daerah ini dikhususkan buat laut buatan tersebut jadi pasti tersisa tempat buat ditambahkan dalam pembuatan laut buatan yang kita rencanakan."

"Di mana? Di sini? Apa tidak bertabrakan dengan konsep kuno yang anda canangkan?" tanya tuan Ma bertubi-tubi. Ia terlihat semakin penasaran.

"Mungkin tidak ... ," jawabku agak ragu. " .. atau mungkin ... ," aku melemparkan pandangan ke atas bukit. Daerah itu mulai dibuka. Tanahnya mulai diratakan buat pendirian lapangan golf. "Saya rasa daerah perbukitan itu cukup luas buat sambungan laut buatan dari sini ..." kataku sambil menunjuk ke atas bukit.

"Apa tidak memperkecil ruang gerak para pemain golf?" tanya tuan Ma sangsi. "Saya tidak ingin mendapat keluhan-keluhan tidak berarti yang seharusnya bisa dihindari dari para tamu." lanjutnya tegas.

"Tentu saja tidak." jawabku tidak kalah tegasnya. " Saya yakin daerah itu lebih dari cukup buat sebuah lapangan golf."

Tuan Ma mengangguk. "Bagus!" katanya. "Lalu apa bagian depan hotel perlu dirubah?" tanyanya.

Aku mengeleng. "Tidak. Bagian itu tidak perlu dirubah. Makanya saya bilang kolaborasi. Mempersatukan hal bersifat modern dan kuno." Aku menatap tuan Ma lekat-lekat. "Saya minta pendapat tuan. Jika tuan setuju, kami bisa merubah denahnya secepat mungkin."

Tuan Ma terdiam sejenak. Selama beberapa menit dia menjejahi setiap inci wilayah itu dari sudut matanya, tanpa terkecuali. Dari barat sampai timur dan dari selatan sampai ke utara. Dari daerah perbukitan sampai tanah yang kami pijak. Dan dari jalan kecil yang berjarak beberapa ratus meter sampai batas laut di ujung sebelah kiri sana.

"Kelihatannya menarik." katanya sambil beralih padaku. "Ok. Siapkan denahnya segera padaku. Batas waktunya sampai akhir bulan ini. Saya ingin proyek ini segera dimulai setelah tahun baru. Tidak ada kata tidak! Atau tidak bisa. Jika anda kekurangan tenaga kerja, minta saja padaku. Saya akan menyediakan sebanyak apapun permintaanmu. You get it Mr Lee?"

"Yes." jawabku cepat.

"Kamu membutuhkannya?"

"No." jawabku segera. "Untuk sementara tenaga kami lebih dari cukup."

"Bagus." sahut tuan Ma puas. "Kalau begitu saya dan tuan Lau pergi sekarang. Kami masih ada lunch meeting dengan beberapa kolega lainnya. Dan sebaiknya kalian juga segera meninggalkan tempat ini. Sebentar lagi mobil-mobil berat tersebut akan mulai bekerja. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di sini."

Semua menganggukkan kepalanya. Orang-orang dari Florest Capital berlalu duluan. Setelah mengucapkan salam pada atasannya, mereka meninggalkan tempat itu. Begitu juga tuan Ma dan tuan Lau bersiap meninggalkan tempat itu.

Baru beberapa langkah ketika tuan Ma menoleh kembali padaku.
"Tuan Lee .. "

Aku yang sedang menghitung jarak-jarak setiap jengkal tempat itu segera berpaling padanya.
"Iya tuan Ma. Sebaiknya tuan memanggilku Minho saja." kataku sambil tersenyum.

Tuan Ma ikut tersenyum. "Baiklah Minho." katanya. "Besok siang kamu dan bawahan-bawahanmu beristirahatlah. Aku mengundang kalian ke galeri putraku. Dia akan mengelar pameran interior ruangan di sana. Tuan Lau juga akan menghadirinya. Begitu juga desainer-desainer berbakat lainnya. Saya rasa pameran tersebut bermanfaat bagi kalian. Putraku mungkin tidak sehebat kalian dalam soal dekorasi. Dia hanya mendesain dekorasi dalam ruangan tidak seperti kalian yang mendesain bangunan-bangunan besar seperti hotel-hotel dan gedung-gedung tinggi. Tapi desain-desainnya cukup nyentrik dan berbeda dari yang lain. Cukup bermanfaat bagi kalian untuk mengenalnya. Tidak ada salahnya mengenal sesuatu yang berlainan dengan style kalian kan?" senyumnya.

"Thanks Mr Ma. Kami berjanji akan menghadirinya." sahutku mewakili Raymond cs.

"Bagus. Apa kalian pergi sekarang? Saya bisa menyuruh sopir mengantar kalian."

"Tidak perlu tuan Ma." tolakku halus. "Raymond dan yang lain akan kembali ke kantor lima menit lagi. Sedangkan saya akan menjelajahi tempat ini dulu."

"Baiklah kalau kalian tidak perlu diantar. Kami pergi sekarang." dia berpaling pada tuan Lau. "Ayo tuan Lau!"

Kami membungkukkan badan secara bersamaan pada tuan Ma dan tuan Lau. Kedua orang besar itu memasuki Mercy hitam yang terparkir di jalan tanah dekat pepohonan rindang. Sebentar saja mobil itu menderu meninggalkan daerah terpencil tersebut.

*************


Hari keduapuluh satu, .. rabu, 23 Desember 2009, tanggal Korea ...

Goo Hye Sun ..

"Apa diletakkan di sini?" tanyaku pada Sammul yang sedang menjinjing sebuah lukisan dengan kedua tangannya.

"Iya, di situ saja," jawab Sammul ringan.

Aku mengangguk kemudian meletakkan lukisan tersebut. Menyandar di dinding bersebelahan dengan dua lukisan yang tergantung di sisi kiri dan kanannya. Aku memperhatikannya beberapa saat. Lukisan tersebut memperlihatkan interior sebuah ruangan sederhana. Mungkin kamar bayi atau kamar gadis kecil. Tidak terlalu besar. Warna pink mendominasi ruangan itu.

Di dua buah sisinya, dekat jendela dan berhadapan dengan ranjang kecil, terdapat dua lemari tinggi yang tidak begitu lebar. Lemari-lemari tersebut digunakan untuk memisahkan kamar itu menjadi dua ruangan berbeda. Dekat pintu berfungsi sebagai ruang tidur, sedangkan dekat jendela berguna sebagai ruang main. Sebuah lemari hias kecil dan rak buku juga memadati kamar tersebut. Menyandar di dinding yang ditempeli kertas dinding dari bunga-bunga kecil berwarna pink dan putih.



Aku tersenyum. Akan berbahagia sekali gadis kecil yang tinggal di dalamnya. Kamar yang tergores dari sketsa tersebut terlihat sempurna. Lembut dan hangat. Aku memejamkan mata perlahan. Kemudian menghirup udara dalam-dalam. Samar-samar aku seperti bisa mencium wangi musim semi memenuhi ruangan itu.

"Hyesun-a, wegude?"

Pertanyaan itu menyandarkanku. Mataku terbuka. Kudapati Sammul sedang memandangiku khawatir.

"Gwencana?" tanyanya lagi.

Aku tersenyum sambil mengangguk pelan.

"Jeongmal? Jangan membohongiku! Pekerjaan menata ruangan ini tidak gampang. Jika kamu capek, beritahu aku! Beristirahatlah!"

Aku mengangguk lebih keras dari tadi. "Jeongmal. Saya baik-baik saja."

"Tapi mengapa kamu memejamkan mata?" selidik Sammul.

"Saya hanya menghayati sketsa ini." aku menunjuk lukisan yang menyandar di dinding. "Dia terlihat sempurna .. "

Sammul ikut mengarahkan pandangannya ke lukisan tersebut. "Kamu menyukainya?"

"Ne."

"Weo? Hanya karena sempurna? Mian, saya tidak begitu mengerti tentang sketsa-sketsa yang sedikit abstrak seperti ini."

"Bukan hanya karena sempurna," jawabku sambil mengembalikan pandangan ke lukisan yang sudah menyita perhatianku itu. "Tapi aku merasa bagian dari ruangan itu. Aku bisa mencium wangi yang menyebar dari bunga-bunga kecil di kertas dinding. Bisa merasakan lembutnya kasur dan bantal di atas ranjang, begitu juga seprai dan selimut yang menyelubungi ranjang. Juga rak buku dan lemari hias itu. Seperti tertata rapi oleh buku-buku bacaan favoritku dan parfum-parfum wangi stroberi yang sangat kusukai."

Sammul menyipitkan matanya. Berusaha menangkap gambaran-gambaran yang kulukiskan dari sketsa tersebut. Tapi segiat apapun usahanya, ia tetap tidak mampu meraihnya.

"Lukisan itu terlihat hanya sebuah kertas yang digores dengan garis-garis lurus dari pengaris buatku."

Aku tertawa pendek mendengar perkataannya. "Itu karena kamu tidak mengerti tentang sketsa ruangan."

"Kamu mengetahuinya?" tanyanya.

Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk pendek sambil mengulum senyum.

"Sebenarnya saya sudah ingin bertanya sejak pameran perlombaan bandara itu. Dari mana kamu ketahui tentang desain ruangan?"

Aku memperlebar senyumku. Tapi tetap tidak menjawab pertanyaannya.

"Apa rahasia?" selidiknya.

Aku mengeleng perlahan. "Tidak. Hanya saja ... "

"Kamu tidak ingin saya mengetahuinya." potong Sammul, menjawab pertanyaan yang ditanyakannya sendiri.

Kembali aku tersenyum. Mungkin benar katanya. Aku tidak ingin dia mengetahuinya. Tidak! Tidak tepat! Aku hanya tidak ingin memberitahu siapapun kecuali .. Minho. Aku mengigit bibir. Lagi-lagi nama Minho berkelebat di otakku. Tapi ini benar. Cuma pada Minho aku bisa berterus-terang. Tentang kesukaanku. Kegemaranku. Bahkan cita-citaku yang tidak terwujud.

"Sudahlah!"

Suara Sammul menyadarkanku. Aku mengangkat wajah padanya.

"Sebaiknya kita teruskan pekerjaan ini sebelum dilabrak Kenny. Dua setengah jam lagi acaranya akan dimulai. Saya akan mengeluarkan miniatur-miniatur dari ruang bawah tanah ke ruangan ini. Kenny bilang lantai atas juga dipakai Hyesun-a. Tiga lukisan itu bawa ke atas saja. Kamu tunggu saya, jangan membawanya sendiri."

Sammul berlalu ke ruang bawah tanah yang jalan masuknya terletak di pojok dekat tangga menuju lantai atas. Lima menit kemudian ia keluar lagi dengan dua miniatur di tangannya. Diletakkannya miniatur-miniatur tersebut di balok penyangga yang terdapat di sudut ruangan.

"Mana Kenny?" aku mendekati dan membantunya menata dua miniatur berbentuk ruangan itu.

"Dia pamit untuk menjemput Fenny ke sini. Fenny sedang hamil muda jadi dia tidak lega membiarkannya datang sendiri."

"O ...," aku mengangguk.

Setelah itu kami tenggelam dalam kesibukan menata ruangan itu dalam kebisuan.

************  


Lee Min Ho ..

Pukul satu lewat seperempat, sehabis makan siang, aku dan Raymond cs tiba di Kenneth's Studio. Agak malas aku turun dari mobil. Diikuti Raymond dan kawan-kawan yang terlihat bersemangat. Aku tidak mengerti mengapa mereka sesemangat ini. Mungkin liburan setengah hari yang diberikan tuan Ma penyebabnya.

Kami memasuki galeri yang terbentuk dari kaca-kaca besar dari langit-langit sampai lantai itu. Di dalam ruangan sudah cukup ramai. Aku melihat tuan Ma dan tuan Lau sedang berbincang dengan seorang pemuda berpostur tinggi, dan juga seorang wanita muda berkulit putih yang mengenakan gaun longgar di sudut ruangan sebelah kanan.

"Leader, kami berkeliling dulu .. ," Raymond menyentuh lenganku.

Aku mengangguk. Sebentar saja kelima cowok bebal itu meninggalkanku menuju lantai atas. Aku mengeleng perlahan. Sesaat kemudian kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Barang-barang yang dipamerkan di sini terlihat menarik. Aku mulai melangkahkan kaki ke depan. Sampai di sebelah sebuah lukisan yang menyandar di dinding, agak di tengah ruangan, langkahku terhenti. Ada sesuatu dalam lukisan itu yang menahan langkahku.

Kuamati lukisan itu. Hanya lukisan sederhana. Tidak ada yang lebih atau kurang dari lukisan sketsa kamar itu. Dahiku berkenyit. Pesona apa yang mengikatku sehingga bertahan selama ini di sini? Sekali lagi kuteliti lukisan tersebut. Sama saja. Hanya lukisan sederhana. Mungkin sketsa kamar gadis kecil.

"Minho, kamu sudah datang?"

Itu suara tuan Ma. Aku menoleh. Dia, tuan Lau beserta muda-mudi yang tadi terlihat berbincang akrab dengannya sudah berada di sebelahku.

Aku membungkuk pada mereka. "Selamat siang tuan Ma dan tuan Lau .. dan ... ," agak sungkan aku menoleh ke pasangan di sebelah mereka.

Tuan Ma tersenyum lebar. "Kenalkan - ini putraku, Kenneth Ma. Dan dia menantuku, Fenny Wu."

Aku mengulurkan tangan yang segera disambut Kenneth dan Fenny. "Lee Min Ho." kataku.

"Kenneth Ma."

"Fenny Wu.". Kata mereka bersamaan.

"Dad ..," seru Kenneth tiba-tiba. Tangannya menunjuk ke sebelah kanan, sedikit mengarah ke atas. "Itu Sam!" sambungnya.

Tuan Ma dan tuan Lau mengangkat wajahnya. Tanpa sadar aku mengikuti gerakan mereka. Dan .. badanku langsung membeku. Orang itu - pemuda yang selalu sukses membangkitkan aura panas dalam diri yang biasanya bisa kukendalikan dengan baik. Dia sedang menuruni tangga dari lantai atas. Dia, Sammul Chan.


Mataku semakin melebar begitu menangkap siapa yang mengikuti langkahnya. Agak di belakang, sekitar sepuluh langkah, wanita muda berkulit mulus dan berparas malaikat yang begitu kukenal. Bahkan sudah memenuhi duniaku lebih dari setengah bulan ini. Dia, Goo Hye Sun.

"SAM!! KEMARILAH!" Kenneth mengayunkan tangannya. "DAD INGIN BICARA DENGANMU!"

Aku melihat mereka menoleh pada kami. Maksudku Sammul dan Hyesun. Mereka terlihat tidak kalah terkejutnya denganku. Wajah Hyesun pucat seketika. Bibirnya terbuka perlahan-lahan. Lambat tapi pasti mereka menapakkan langkah terakhir di lantai bawah, kemudian mendekati kami.

"Paman Ma dan .. Lee Min Ho-ssi .. ," sapa Sammul lemah.

Tuan Ma tersenyum riang, dan menepuk lengannya. Sedangkan aku hanya mengangguk pendek. Pandanganku tidak terlepas dari Hyesun. Wanita itu tertunduk dalam-dalam. Tidak berani membalas pandanganku.

"O kalian saling mengenal?" Kenneth yang mengeluarkan pertanyaan ini.

"Iya." jawabku dan Sammul bersamaan.

"Kami mengenal waktu di Korea." lanjut Sammul.

"O begitu," sahut Kenneth mengerti.

"Tuan Ma, bagaimana kalau kita melihat-lihat hasil karya putramu?" tuan Lau mengeluarkan suaranya.

Tuan Ma menoleh padanya. "Tentu saja tuan Lau!" sahutnya. Kemudian dia beralih pada Sammul. "Nikmatilah liburanmu nak. Mungkin minggu depan saya bisa mengunjungi ayahmu .."

Sammul tersenyum. "Saya akan mengabari daddy tentang ini."

Tuan Ma mengangguk, kemudian berlalu dari situ bersama tuan Lau.

Kenneth menyenggol dada Sammul. "Saya dan Fenny akan bergabung dengan dad dan tuan Lau. Mereka membutuhkan penjelasan-penjelasanku tentang pajangan-pajangan tersebut. See you."

Kenneth bermaksud menyusul tuan Ma dan tuan Lau yang sudah berada di ujung ruangan tapi segera dihentikan Sammul.
"Saya ikut denganmu."

"Tapi ..," Kenneth terlihat ragu. " .. bukankah banyak yang harus kalian bicarakan?"

"Saya ikut denganmu!" Sammul kembali menekankan perkataannya.

Dahi Kenneth berkenyit. Ia melirikku. Keheranan tergambar jelas di wajahnya.
"Baiklah!" akhirnya ia mengangkat bahu menyerah.

Sepeninggal mereka, kekakuan menyelimuti kami. Kepala Hyesun masih tertunduk. Ia tidak mengangkatnya satu-kalipun walaupun aku yakin ia merasakan tatapanku.

"Mengapa kamu bisa berada di sini?" aku membuka kekakuan di antara kami.


Hyesun mengangkat wajah pelan-pelan. Aku terkejut. Matanya memerah dan mulai berair. Ia mengigit bibir bawah kuat-kuat.

"We .. wegude?" tanyaku gugup. Aku mendekatinya. "Mengapa menanggis?"

"Mengapa, ... setelah saya berusaha menghindarimu,, mengapa ... hu hu .. mengapa kamu hadir lagi di hadapanku?" ia mulai terisak-isak. Tanggisan yang membuat lututku lemah. Tanggisan yang membuatku ingin mengutuk diri sendiri karena tidak mampu melindunginya. Selalu membuatnya sedih. Bahkan sekarang membuatnya menanggis.

Aku bergerak semakin dekat ke arahnya. Meraih tangannya yang menutupi wajah, dan menariknya ke dalam pelukan. Aku tidak perduli lagi dengan pandangan orang-orang sekitar. Begitu juga lirikan Sammul dan orang-orang yang bersamanya di ujung sana.

"Miane ..," ujarku lemah. Tekadku untuk melupakan Hyesun dan Angel begitu tiba di negara ini musnah sudah. Aku memeluknya semakin erat. Wajahnya tenggelam di dadaku yang terbungkus kemeja tipis.

"Miane ...," aku mencium rambutnya. Isakan itu masih terasa di dadaku.

"Saya tidak bisa melepaskan diri darimu .. tidak bisa .. ," ia mendaratkan kepalan tangan ke dadaku. Berulangkali, tidak keras. Hanya mendarat pelan. "Selalu kembali lagi padamu. Mengapa takdir mempermainku seperti ini? Mengapa?"

"Miane ..," ya, hanya perkataan maaf itu lagi yang meluncur dari mulutku. Selain itu, tidak ada lagi yang bisa kukatakan.

Sementara itu di ujung ruangan,Kenneth menempelkan tangannya ke lengan Sammul.
"Orang itu - Dia .. "

"What?" Sammul menoleh padanya linglung.

"Pemuda yang dicintainya .. "

Sammul tersenyum kecut. Perlahan ia menanggukkan kepalanya.

"Menyesal?" tanya Kenneth.

Sammul kebingungan setengah mati. "Maksudmu?"

"Melepaskannya .. " sahut Kenneth pendek.

Bibir Sammul terbuka perlahan. Tanda mengerti. Kemudian ia mengeleng sambil tersenyum halus. "Selama dia bahagia, semua sudah tidak berarti lagi .. "

Kenneth segera mendorongnya gemas. "Yeah,, Ini Sam yang saya kenal!!"

************


Pameran tersebut berakhir sekitar pukul 5 sore. Para pengunjung mulai meninggalkan Kenneth's Studio satu persatu. Tuan Lau sudah meninggalkan galeri duluan bersama Raymond cs, sekitar dua puluh menit yang lalu. Tuan Ma juga bersiap meninggalkan tempat itu. Ia akan mengantar Fenny pulang lebih dahulu sedangkan Kenneth akan tinggal sampai semua urusan di galeri ini selesai.

Sammul dan Hyesun akan tinggal bersamanya. Sedangkan aku, tidak terpikir apa yang mesti kulakukan tanpa Hyesun di sampingku.

Tuan Ma mendekati kami. "Besok akan diadakan pesta penyambutan natal oleh Florest Capital di Grand Hotel. Water Party tahunan biasa jadi saya harap kalian bisa menghadirinya."

"Pesta air?" tanya Hyesun tak mengerti.

"Pesta kolam renang. Semua diharuskan memakai pakaian renang dan main tembakan-tembakan dengan pistol air dalam kolam." terang Sammul.

"O ..," bibir Hyesun terbuka membentuk huruf O. "Tapi saya tidak bisa berenang. Jadi maaf kalau saya tidak bisa menghadirinya .. "

"Jangan khawatir. Saya akan mengajarimu."

Mataku melebar mendengar perkataan ini.

Hyesun menyadari ketidaksenanganku sehingga ia segera menolak halus.
"Tidak usah. Saya .. saya tidak tertarik."

"Jika kamu tidak terima berarti kamu tidak menghargai tuan Ma."

Hyesun membungkam. Ia semakin serba salah. Aku memandanginya iba. Apa yang dikatakan Sammul memang benar. Orang Cina paling pantang ditolak tawarannya. Mereka akan tersinggung dan merasa tidak dihargai jika ditolak mentah-mentah kebaikan hatinya.

"Kami akan hadir di pesta itu tuan Ma. Tepat waktu." aku mengambil keputusan ini. Walaupun tidak suka, aku tahu kami tidak punya pilihan lain.

Tuan Ma mengangguk puas. "Bagus. Saya menantikan kehadiran kalian, anak-anak."

Setelah basa-basi sebentar tuan Ma beserta Fenny meninggalkan tempat itu. Aku termangu beberapa saat, berhadapan dengan Sammul dan Hyesun. Kenneth sudah menghilang ke dalam studio sepeninggal ayah dan istrinya.

Hyesun terlihat gugup. Sedangkan Sammul cukup mampu meredam perasaannya. Mungkin saja ia juga gugup tapi tidak terlihat sama sekali. Aku beralih pada Hyesun.
"Saya akan menjemputmu besok .. "

"Tidak perlu," Sammul menyahut perkataanku. Membuatku segera berpaling padanya. Tampangku berubah dingin. "Kami tinggal bersebelahan jadi kami akan datang bersama." lanjut Sammul.

Aku melirik Hyesun. Gadis itu mengangguk pelan. Aku terhempas. Ringan laksana kapas. Kalah dalam perang yang belum dimulai.

****************
« Last Edit: July 31, 2010, 11:22:50 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
[AddEmoticons04274] tdnya udah mau sleep1 sleep1  tp ga jd si mami udah update thanks mami [hug] [cheekkiss]

 [clap] [clap] [clap] horaayyyyyyyy minsunnya udah ketemu [lovestruck] [lovestruck] hyesun kalo diperhatiin tiap kali ketemu sama mino slalu malu2 meong gt ye sukanya nunduk2 trs wuuuaaaaa di kanada bs ketemu trs tanpa ada gangguan dr si angel yahuyyyy minsun pasti kan bs lbh deket lg kan mam [kiss] [kiss] [kiss] si sam baek bgt ya kirain ga bakal rela nglepas hyesun punk punk punk


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
[AddEmoticons04274] tdnya udah mau sleep1 sleep1  tp ga jd si mami udah update thanks mami [hug] [cheekkiss]

 [clap] [clap] [clap] horaayyyyyyyy minsunnya udah ketemu [lovestruck] [lovestruck] hyesun kalo diperhatiin tiap kali ketemu sama mino slalu malu2 meong gt ye sukanya nunduk2 trs wuuuaaaaa di kanada bs ketemu trs tanpa ada gangguan dr si angel yahuyyyy minsun pasti kan bs lbh deket lg kan mam [kiss] [kiss] [kiss] si sam baek bgt ya kirain ga bakal rela nglepas hyesun punk punk punk
dr semula gw udah blg karakter sam tuh plg perfect di ff ini. dia selalu ada buat hyesun. baik suka maupun duka [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
[AddEmoticons04274] tdnya udah mau sleep1 sleep1  tp ga jd si mami udah update thanks mami [hug] [cheekkiss]

 [clap] [clap] [clap] horaayyyyyyyy minsunnya udah ketemu [lovestruck] [lovestruck] hyesun kalo diperhatiin tiap kali ketemu sama mino slalu malu2 meong gt ye sukanya nunduk2 trs wuuuaaaaa di kanada bs ketemu trs tanpa ada gangguan dr si angel yahuyyyy minsun pasti kan bs lbh deket lg kan mam [kiss] [kiss] [kiss] si sam baek bgt ya kirain ga bakal rela nglepas hyesun punk punk punk
dr semula gw udah blg karakter sam tuh plg perfect di ff ini. dia selalu ada buat hyesun. baik suka maupun duka [biggrin]

weleh lupin mam terlalu banyak ff yg diinget jd ketuker2 smua [sweat] cuman bengkok yg apal [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] lah ini kok session II kamsudnya crita minsun di canada gt mam [what] [what]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
sesion II artinya ?  [what]
udh hr ke 21 nih berarti 9 hr lg minsun merit dong mam  [clap]

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Season 2 ??

Pesta air .... Aiiih ... Si mami bakal cuman make bikini doang dong mi ... Trus si papi boxer .... *ngehayalin dada sixpack papi*

ngileeeer .... [hmpfh]

oke mi, tak usah berlama lama ria. Langsung tancap. Update secepatnya y
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Echyn MinHo LeeSun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 635
  • gaya ala RATHOT + CASSAMINONG.. haha
  • Location: manado
    • View Profile
Akhrx dtg jga.
Haha
t'q mami udah d updte nyo..
:-* cuUpzZ akh
xixi
bgus sangad, sih minho tekad mw lupain hyesun gk jd.
Malah + cinta dirix.
Mkin seru nih...
Hmmmm
ad bau2 M'VERZ gk yah??
Haha :D
sesi0n dua Mi?
Udah kya Cinta Fitri aj. Pke sesi0n2x segala....
Xixi 'hmpf
http://i54.tinypic.com/2w30vac.jpg[/img]

favorite couple
MinSun
KhunToria :D [/center]

Offline gantang ricky prabowo

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • i know you so well
  • Location: JAKARTA
    • View Profile
Hidup sukses, bahagia dunia khirat, membahagiakan orang banyak, bermanfaat untuk agamaku amin ya allah..

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
  [bye]
payah lu om hammer2 hammer2 [hmff]

session II berhubung ceritanya pindah ke kanada [hmpfh] [hmpfh]

voldi, ngebayangin aja udah ngiler ya [drool] [drool] pesta di kolam pasti pakai baju renang dong, klu soal pakai bikini atau kagak sih ga tahu jg, kyknya sih tdk, mengingat sifat hyesun yg rada tertutup [laughing]

echyn, [guns] [guns] udah gw blg ga ada Mvers buat ff ini, adegan ranjang aja gw ga janji kecuali hmmm .. adegan ranjang raymond and angel itu [laughing]

liko, [nono] [nono]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
miiii ... makasi uda di update  [cheekkiss] yuhuuuu mereka uda ketemu di canada, berarti next chapter ada yang  [on]  [bav] donk mi ??? next chapter jangan lama-lama donk mi...  [bye]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
miiii ... makasi uda di update  [cheekkiss] yuhuuuu mereka uda ketemu di canada, berarti next chapter ada yang  [on]  [bav] donk mi ??? next chapter jangan lama-lama donk mi...  [bye]
udah diblg no hot buat ff ini, gimana sih hammer2 hammer2 [hammer3] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile

session II berhubung ceritanya pindah ke kanada [hmpfh] [hmpfh]

voldi, ngebayangin aja udah ngiler ya [drool] [drool] pesta di kolam pasti pakai baju renang dong, klu soal pakai bikini atau kagak sih ga tahu jg, kyknya sih tdk, mengingat sifat hyesun yg rada tertutup [laughing]

echyn, [guns] [guns] udah gw blg ga ada Mvers buat ff ini, adegan ranjang aja gw ga janji kecuali hmmm .. adegan ranjang raymond and angel itu [laughing]

liko, [nono] [nono]

owwwhhh... jadi session 2 tu karena udah pindah ke kanada... bukan di korea lagi ya mi...  [chin] [chin] i see i see....
ya ya ya ya... tahu sekarang... sempet penasaran juga kayak yang lain  [hmff] [hmff]

tapi...

mamiiiiiiii!!!! thenk u buat updetannya...  [clap] [clap] [clap] [clap]

 [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [huglove] [huglove] [huglove] semua deh buat mami...

i lop u pull deh mi... [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

 [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

miiii ... makasi uda di update  [cheekkiss] yuhuuuu mereka uda ketemu di canada, berarti next chapter ada yang  [on]  [bav] donk mi ??? next chapter jangan lama-lama donk mi...  [bye]
udah diblg no hot buat ff ini, gimana sih hammer2 hammer2 [hammer3] [hmff]

yah mi... kok gak ada  [goodgrief] [goodgrief] [goodgrief]

 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
tapi ada yang nyerempet2 ke sana kan mi  [on] [on] [on] [bav] [bav] [bav]

 [hmpfh] [hmpfh]