Author Topic: Angel By My Side~Chapter 22 Updated 9 January 2011~  (Read 50547 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
hufh,,, dasar mami mempermainkan drikuw saja  [head break] [head break] [head break] [head break] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]
yeee masa di [head break] [head break] balik hammer2 hammer2

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Aku pikir aku belum memberikan cast sebagai Kang Na Young aka Ibu Min Ho. Jadi, ini dia… [biggrin]

LEE MI SOOK.

Maaf gak bisa OL lama"... so... gak ada gambar...
untuk lee mi sook sendiri tolong cari gambar nya di google...  [sweat] [sweat] [sweat]
Dia yang jadi ibunya Song Eun Joo di Cinderella's Sister.

Silakan menikmati... Semoga tidak membosankan... [biggrin] [biggrin] [biggrin] [biggrin]
Tolong dikomentari... [laughing] [laughing]

CHAPTER 17

   Na Young berada di lorong yang menghubungkan pintu kamar dan kamar rumah sakit itu. Di sebelahnya terdapat sebuah kamar mandi kecil. Dari tadi, ia mendengarkan percakapan antara putra dan menantu perempuannya. Ia sakit hati karena telah dibohongi oleh pernikahan palsu ini. Kehadirannya masih belum dirasakan oleh pasangan suami istri palsu itu.

   Jadi—jadi—Min Ho sudah ingat tentang Geun Seuk. Dari percakapannya tadi dengan Hye Sun, ia sepertinya sudah mengingat semuanya. Ia sudah mengingat tentang masa lalunya.

   Dari dulu, Na Young selalu bersyukur atas amnesia parsial yang dialami Min Ho. Karena amnesia itu, anaknya tak perlu mengingat hal yang memang tidak perlu ia ingat. Kepedihan itu. Masa remaja yang menyakitkan. Rasa skit yang luar biasa. Orang itu.

    Na Young kemudian melangkah keluar dari kamar VIP rumah sakit itu. Ia harus memikirkan cara untuk menjangkau kedua orang itu. Rumah mereka terpisah. Na Young tidak mungkin bisa mengawasi mereka berdua terus-terusan. Sedangkan, kalau dibiarkan begini terus, tak akan ada kemajuan dari hubungan mereka. Pasti akan stuck di situ-situ saja. Hubungan mereka mungkin akan tambah erat, tapi hanya sebagai sahabat, sedangkan Na Young tahu apa yang diinginkan putranya dari remaja.

   Harus ada rencana. Kang Na Young, ayo berpikir.

   Untung tak memerlukan waktu yang lama, ia sudah tahu apa yang harus dia lakukan.
***
   Keesokan paginya.

“Hello?”Dahi Min Ho agak berkerut ketika melihat caller ID-nya. Adrianna Romano.

   “Hello? Min Ho? Are you fine?”tanya Adrianna bertubi-tubi.

   Min Ho sekarang benar-benar keluar dari kamar rumah sakit itu, meninggalkan Hyo Joo—sahabat Hye Sun—dan Hye Sun di kamar rumah sakit itu berduaan, ketika ia menerima telepon dari Adrianna.

   “Kenapa waktu itu sambungannya terputus?”tanya Adrianna khawatir.

   “Keadaanku baik-baik saja, Adrianna—“jawab Min Ho. “Dan waktu itu terputus karena low-bat—“

   “Bagaimana keadaannya akhir-akhir ini?”tanya Adrianna lagi.

“Lukanya membaik, hanya saja dia masih agak demam—“jawab Min Ho sambil tersenyum. “Dia sudah tidak begitu labil—“

   “Tapi, pasti ada suatu titik di mana dia bisa kalap dan bisa tidak labil tiba-tiba—“Adrianna menerkanya dengan cepat.

“Yes.”jawab Min Ho lirih. “Pasca meninggalnya Geun Seuk ia sempat ingin bunuh diri beberapa kali. Ia sempat mimpi yang aneh-aneh tentang Geun Seuk. Waktu itu di New York, dia sempat mengira aku Geun Seuk. Tapi, setelah semua kejadian itu, ia bisa kembali normal.”

“Yang mengkhawatirkan itu jika dia sedang labil—“Adrianna melanjutkan perkataan Min Ho. “Apa saja hal yang kira-kira bisa membuatnya labil?”

“Geun Seuk.”jawab Min Ho pendek, singkat.

“Hanya dia?”

“Yes.”

“Sejak kapan Jang Geun Seuk meninggal?”

“Januari 2006.”

“Astaga!”pekik Adrianna kaget. “Tidak ada yang berusaha membawanya ke psikolog sampai sekarang ini?”

“Nope.”jawab Min Ho singkat. “Hye Sun bukan tipe orang yang mau-mau saja dibawa ke psikolog.”

“Kau butuh bantuanku di sana?”tanya Adrianna dengan suara keibuan. “Maksudku, Min Ho, kupikir Hye Sun sudah membutuhkan psikolog.”

   “Sebenarnya aku dan keluarganya sudah lama ingin membawanya ke psikolog. Dokter yang menanganinya sekarang juga sempat menyarankanku membawanya ke psikolog. Tapi—“Perkataan Min Ho berhenti. Tangannya yang satu dimasukkan ke dalam saku trenchcoat-nya yang berwarna coklat. “Aku takut Hye Sun jadi tambah parah dari sekarang ini jika ia dibawa ke psikolog. Tapi, sebelumnya, terima kasih telah ingin membantu.”

   “Kau yakin bisa meng-handle-nya?”tanya Adrianna sekali lagi.

   “Bisa.”jawab Min Ho yakin.

   “Min Ho, ada sesuatu yang ingin kutanyakan sekarang, dan tolong jawab dengan jujur—“Suara Adrianna sekarang terdengar lebih serius dari sebelumnya. “Ini memang privasimu. Tapi—“

   “Ada apa?”potong Min Ho cepat-cepat.

   “Kau sudah memberitahunya sejelas-jelasnya tentang Geun Seuk?”

   “Maksudnya?”

   “Kau sudah memberitahunya hal-hal yang waktu itu kau sempat ceritakan padaku kira-kira enam atau tujuh tahun lalu?”tanya Adrianna.

   “Belum. Aku takut ia malah akan tambah terguncang.”jawab Min Ho pendek, ia agak kurang bersemangat jika berbicara soal ini.

   “Min Ho—“panggil Adrianna halus. “Mungkin setelah menceritakan soal itu, pandangannya pada Geun Seuk dapat berubah.”

   “Dia tidak perlu tahu—“Min Ho memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku tidak mau aku menodai kenangan antara mereka berdua.”

   “Kalau begitu, bagaimana denganmu?”tanya Adrianna bertubi-tubi.

   “I’m fine.”jawab Min Ho, tapi suaranya kecil sekali.

   “Jangan merasa baik-baik saja kalau kau tahu kau tidak baik-baik saja.”Adrianna menukas perkataan Min Ho.

   “Aku sudah biasa seperti itu. Kau tenang saja.”Min Ho menjawab Adrianna lagi.

   “Ini tidak baik bagimu—“Adrianna menjawab dari seberang sana. “Min Ho, cepat atau lambat, kau juga harus memberitahu ini pada Hye Sun—Seharusnya, bicara jujur padanya itu akan menjadi yang terbaik baginya.“

   “Aku memutuskan untuk tidak memberitahu Hye Sun soal hal ini—“jawab Min Ho datar. “Please, jangan ungkit-ungkit lagi—“

   Adrianna menyerah pada akhirnya. “Oh. Oke. Sebentar. Aku ingin mengingatkanmu untuk medical check up. Sebentar lagi pergantian tahun, jangan sampai lupa.”
Min Ho mengangguk. “Yes. I won’t forget that.”

   Hanya basa-basi kecil saja, akhirnya percakapan itu diakhiri juga oleh mereka berdua.
***

   “Apa? Tinggal di rumah kita?”Min Ho terbelalak. Kaget.

   “Ya. Omma pikir, Omma tidak mempunyai pekerjaan di rumah dan Omma ingin tinggal di rumah kalian untuk menjaga Hye Sun.”jelas Na Young sejelas-jelasnya.

   Hye Sun tak mengeluarkan reaksi, ia hanya bengong menatap ibu mertuanya itu.

   “Kalian punya dua kamar, kan?”tanya Na Young lagi, sejujurnya, tak perlu menanyakannya pun, rumah itu pas mempunyai dua kamar. Yang satu kamar Min Ho, yang satu kamar Hye Sun. Na Young tahu persis itu. “Kalian, kan, pasti tidur sekamar. Jadi, Omma tinggal tidur di kamar yang satu.”
   “Omma—“Min Ho mencoba membantah permintaan ibunya.
   “Shhhh… Sudah jangan membantah.”Na Young tersenyum keibuan pada Min Ho. “Omma tahu kau bisa masak, tapi, masakannya belum tentu sehat untuk Hye Sun. Kan, kasihan, dia. Pulang dari rumah sakit, makanannya harus diatur dengan baik.”
   “Omma—“Giliran Hye Sun yang ingin membantah secara halus.
   “Hye Sun—“Ibunya mengelus puncak kepala Hye Sun dengan pelan. Hal itu cukup untuk membuat Hye Sun terdiam saja. Min Ho juga tidak berkomentar.
***
   Wajah Hye Sun masih pucat ketika ia pulang dari rumah sakit. Ia diapit oleh Min Ho dan ibu mertuanya sekarang di kursi penumpang mobil Mercedes Benz itu.
   
Na Young hanya memperhatikan pasangan itu dengan hati-hati selama perjalanan menuju rumah mereka. Ia sedang menyelidiki pasangan ini dengan baik-baik. Mereka memang tidak harmonis seperti pasangan suami istri lainnya. Mereka berdua agak kaku.

   Ketika mereka sampai di tempat tujuan pun, mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

   “Ini kamarmu, Omma—“Min Ho tersenyum sambil memperlihatkan kamar yang mestinya adalah kamarnya. Kemarin ia sudah beres-beres dan memindahkan seluruh barang-barangnya ke kamar Hye Sun.

   “Kamarnya rapi sekali—“Ibunya tersenyum. “Padahal tidak ada yang tidur di sini—“

   Ya iyalah rapi. Sebelumnya kan kamar ini adalah kamar Min Ho dan Min Ho bukan tipe yang bisa tidur di tengah keberantakan kamar.

   “Hari ini sedang liburan. Please treat Hye Sun well—“Ibunya kemudian meraih bahunya, mengelus-ngeluskannya. Min Ho hanya mengangguk sambil tersenyum.

   “Min Ho, kau tidak keberatan jika mengajak dia keluar?”tanya Na Young hati-hati.

   “Dia, kan, baru keluar dari rumah sakit, Omma—“Min Ho mencoba menolak ibunya dengan cara yang lain.

   “Dia kelihatan tidak senang.”Ommanya mengeluarkan pendapat dengan terus terang.

   “Itu hanya perasaan Omma saja. Dia senang, kok—“Min Ho membantah pendapat ibunya, walaupun ia pun tidak begitu yakin kalau perempuan itu senang-senang saja.

   “Bawa dia keluar. Lotte World cukup bagus. Namsan Tower juga—“usul Na Young. “Han Gang? Teddy Bear Museum?”

   “Oh.Oke. Aku akan membawanya keluar.”Min Ho pada akhirnya menyerah dengan Na Young, ia pusing dengan segala pilihan yang dikeluarkan ibunya. “Tapi, hanya ke pantai saja.”

   “Kenapa tidak begitu dari tadi—“Ibunya tersenyum puas, ia mengacak-ngacak rambut Min Ho. “Ajak jalan-jalan sekitar pantai saja. Siapa tahu dia senang—“

   “Ne.”Min Ho menjawab singkat.

   Ibunya sangat amat menyayangi Hye Sun. Kadang-kadang, Min Ho bingung dari mana rasa cinta dan sayang itu berasal. Tapi, Ibu Min Ho memang menyayangi Hye Sun dari dulu.
***
   Min Ho berjalan di sebelah Hye Sun. Mereka memakai pakaian yang cukup tebal mengingat hari ini masih musim dingin.

   “Dengan adanya Omma, aktivitas kita tidak bisa seperti yang direncanakan—“Min Ho memulai pembicaraan di tepi pantai itu, tidak, bukan tepi pantai. Mereka hanya menikmati pemandangan pantai, bukan berjalan di atas pasir. Tidak seromantis yang dipikirkan.

   “Aku tahu—“Hye Sun menjawab dengan agak acuh tak acuh.

   “Kita sekamar nanti.”

   “Aku tahu, kok.”

   “Setempat tidur?”

   Hye Sun segera menoleh ketika mendengar perkataan itu. Min Ho segera menggigit bibir bawahnya.

   “Sorry. Tapi, kamarmu hanya punya satu master bed. Tidak ada sofa.”Min Ho mencoba menjelaskan. “Tapi, kalau kau mau aku tidur di bawah. Juga tidak masalah—“

   Sekarang giliran Hye Sun yang menggigit bibirnya. “Asalkan tidak melakukan apa-apa, kupikir sah-sah saja satu kamar dan—“Hye Sun ragu sebentar. “Satu ranjang?”

   Min Ho memejamkan matanya erat-erat. “Kau tidak masalah?”

   “Min Ho. Pernikahan kita palsu, kan?”tanya Hye Sun hati-hati. “Jadi, kau tidak punya hak untuk menyentuhku.”

   Min Ho agak ragu-ragu sebentar sebelum akhirnya menjawab. “Ya.”

   “Consolidation merger antara Seoul Sun dan Lee Corporation telah berjalan. Dan aku yakin akan berjalan lancar—“Min Ho menjelaskan. “Mungkin, kau tidak butuh waktu lama untuk bercerai denganku. Bulan April 2007—Kemungkinan bulan itu, kau bisa menggugat cerai.“

   Min Ho pikir rasanya percuma saja. Toh, usahanya ingin membuktikan diri sebagai malaikat Hye Sun sudah hancur seutuhnya. Hye Sun sudah tahu kalau kelemahannya adalah ketika ia ingin memperlakukan Hye Sun sebagai orang asing. Hye Sun tahu apa pun yang terjadi, Min Ho pasti ada, tak mungkin menghilang. Rencananya yang di awal sudah hancur. Sepertinya, yang perlu dilakukannya adalah menunggu waktu yang tepat sampai Hye Sun menggugat cerainya.

***

   “Min Ho—Suapi dong, istrimu. Masa harus Omma yang melakukannya?”Ibunya tersenyum menggoda ke arah Min Ho. Min Ho salah tingkah. Sedangkan Hye Sun hanya menunduk ketika Na Young berkata seperti itu.

   Aku benci mengakuinya. Tapi memang tak ada pasangan suami istri seperti ini.

   “Ini.”Ibunya berusaha tersenyum lalu menyerahkan semangkuk sup ginseng ke tangan Min Ho. Min Ho menyuapi Hye Sun sup ginseng itu sambil tersenyum. Hye Sun menjadi pihak pasif yang kerjaannya hanya membuka mulutnya saja.

   Ketika sup ginseng itu habis, Na Young juga sudah menghabiskan makanannya. Hanya Min Ho yang makanannya belum habis sama sekali. Tapi, setelah itu Min Ho segera menghabiskan makanannya dan Hye Sun ijin ke kamar untuk tidur.

   “Min Ho—“Ketika Hye Sun tidak ada, Na Young segera membuka pembicaraan dengan putranya itu.“Kau susul saja istrimu ke atas.”

   “Eh?”

   “Biar lantai bawah ibu yang urus, kau ke lantai atas dulu. Temani Hye Sun.”perintah ibunya seraya mendorong Min Ho halus menuju tangga.
Ketika Min Ho baru menaiki satu anak tangga saja, Na Young berkata lagi.“Tebak tadi kau makan telur apa.”

   “Aku? Telur apa memangnya?”

   “Telur bebek.”

   Min Ho terbelalak. Bingung.

   (Telur bebek dapat membuat system reproduksi laki-laki lebih tokcer menurut yang kutonton di Bajaj Bajuri… LOL)
***
   Min Ho pertama-tama belum berani memasuki kamar itu. Tirai kamar itu tertutup. Min Ho takut kalau Hye Sun sedang melakukan sesuatu yang sifatnya privasi. Tapi, setelah beberapa lama, ia akhirnya memberanikan diri dan masuk ke dalam kamar itu.

   Kamar itu berantakan. Album foto berserakan di lantai kamar itu. Hye Sun berada di atas ranjangnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Min Ho perlahan mendekati Hye Sun dan ikut melirik album foto itu.

   “Saat kita liburan ke Skotlandia—“gumam Hye Sun sambil tersenyum.

   Percayalah pada Min Ho. Saat di mana Hye Sun bisa tersenyum adalah saat paling membahagiakan
baginya. Ketika Hye Sun tersenyum, ia pasti tak akan bisa mengingkari dan menghindari keinginannya untuk tersenyum juga.

   “Kau lucu sekali di sini—“Hye Sun mulai mendongakkan kepalanya ke arah Min Ho. “Kalau tidak salah, kita masih kelas 2 SMP ketika pergi ke Skotlandia.”

   Min Ho perlahan berlutut di samping ranjang itu, memandangi foto-foto di album foto itu dengan cermat. “Aku ingat sekali foto ini—Saat malam tahun baru.“ Min Ho mulai menunjuk sebuah foto yang di dalamnya terdapat tiga orang anak. Dua laki-laki dan seorang perempuan. Mereka bertiga saling berpelukan. Tangan anak laki-laki yang satu memegang tangkai kembang api kecil. Itu si Min Ho kecil. Min Ho kecil yang masih innocent, polos.

   “Geun Seuk—“Tangan Hye Sun menyapu sebuah foto yang mengabadikan moment ketika Min Ho dan Geun Seuk sedang mencium kedua sisi dari pipi Hye Sun.

   “Ciuman di malam tahun baru adalah symbol dari kasih sayang dan kedekatan yang akan berlangsung selama setahun ke depan.”Min Ho berkata sambil tersenyum sendiri.

   “Aku merindukannya. Kau merindukannya?”Perlahan sebutir air mata jatuh di atas album foto itu. Min Ho langsung tahu itu air mata siapa. Dengan ragu-ragu, ia meraih bahu Hye Sun, mendekapnya.

   “Aku sangat amat merindukannya.”bisik Min Ho pelan. “Kita bertiga belum bertemu lagi setelah aku pindah ke London.”

   “Kau tidak tahu bagaimana perasaanku.”Hye Sun berkata sambil menggeleng-geleng. Tangannya sekarang melingkari pinggang Min Ho, wajahnya terbenam di dalam dada bidang Min Ho. “Aku sudah pernah kehilanganmu. Lalu harus kehilangan Geun Seuk—“

   “Aku tidak akan pernah menghilang lagi. Aku janji.”bisik Min Ho. “Aku akan selalu ada. Sebagai sahabatmu—“

   Terdengar suara Hye Sun menghela nafasnya dengan panjang. Ia hancur ketika Min Ho meninggalkannya tujuh tahun lalu. Ia juga hancur ketika Geun Seuk meninggalkannya. Ia tak bisa lagi merasakan yang namanya ditinggalkan. Namun, yang harus dipikirkan sekarang, apakah Min Ho tak akan hancur jika ia tidak meninggalkan Hye Sun? Pria itu hanya sahabatnya.

   Hye Sun memperketat pelukannya. Ia sesengukan dalam pelukan itu. Tapi, hal itu tidak berlangsung lama. Dering ponsel mulai terdengar dan Min Ho dengan sigapnya mengambil ponsel miliknya itu dari atas nakas di samping tempat tidur.

   Sejenak, dahi Min Ho berkenyit, namun pada akhirnya, ia mengangkat ponsel itu.

   “Yeoboseyo? Dara?”

   “Halo. Halo.”Suara di seberang sana mulai terdengar, suara itu terdengar sangat tergesa-gesa. “Tuan, Nona Dara pingsan di Bar Charmeleon.”

   “Hah?”

   “Sekarang kami dalam perjalanan menuju Seoul International Hospital. Tolong datang secepatnya.”

   Sekian saja. Percakapan itu berakhir. Min Ho segera menoleh ke arah Hye Sun yang memandanginya dengan pandangan agak heran.

   “Goo Hye Sun, aku harus pergi—“
***
   Motor Harley Davidson itu membelah kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalanan Seoul yang masih belum kelihatan sepi pada saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

   Ketika sudah sampai tujuannya, ia memarkir motornya dan segera berlari ke Unit Gawat Darurat rumah sakit itu, ia segera disambut seorang pria berbadan tegap dan berpakaian safari. Pria itu membungkuk.

   “Anda Tuan Lee Min Ho?”

   “Ne. Kenapa Anda bisa menelpon saya? Kenapa juga Dara bisa pingsan?”Min Ho bertanya bertubi-tubi. Perasaannya, jujur saja, tidak tenang sama sekali.

   “Anda orang yang mengkontak dan dikontak Nona Dara terakhir kali. Jadi, saya menelpon nomor Anda—“Pria itu menjawab dengan sopan dan patuh. Sebelum ia menjawab alasan Dara pingsan secara tiba-tiba, seorang dokter magang keluar dengan stetoskop yang melingkari lehernya.

   “Kerabat pasien bernama Sandara Park?”Dokter itu bertanya pada Min Ho. Min Ho tanpa sadar menganggukkan pertanyaan itu.

   “Nona Park menderita diabetes. Hari ini ia sungguh kelelahan, makanya ia pingsan.”Dokter itu menjelaskan. “Kami butuh pendonor dengan golongan darah B dan yang tidak memiliki hubungan darah dengan Nona Park.”

   “Golongan darahku B dan aku tidak punya hubungan darah dengan Nona Park. Ambil darahku saja.”Min Ho berkata pada dokter itu. Dokter itu hanya tersenyum kecil. Ia membawa Min Ho ke ruangan tempat akan dilaksanakannya transfusi darah.
***
   Hye Sun berada di dalam kamarnya dalam kegelisahan yang sangat amat. Dia tidak sedang menonton pertandingan sepak bola antara Argentina dan Brazil. Dia juga sedang tidak menonton sebuah sinetron atau apalah itu. Tapi, setiap sel-sel dalam tubuhnya tak henti-hentinya memintanya untuk khawatir dan cemas akan Lee Min Ho yang sekarang entah berada di mana itu.

   “Lelaki itu ke mana sih—“Hye Sun menggumam. Tadi baru saja, Na Young baru saja masuk ke kamarnya dan bertanya ke mana Min Ho pergi, padahal Hye Sun sendiri juga tidak tahu menahu tentang hal itu.

   Min Ho, kau ke mana, sih? Dara? Siapa Dara?

   Telepon genggam yang dari tadi dipegangnya tiba-tiba berdering nyaring. Ketika Hye Sun mengangkatnya, suara seorang perempuan terdengar.“Halo. Ini dari Seoul International Hospital.”

   Hye Sun mendadak tak dapat bicara. Tenggorokannya tercekat. Ia sedang bersiap dengan kemungkinan terburuk.

   “Ini benar kediaman Tuan Lee Min Ho?”tanya suara itu.

   “Ya. Benar. Saya istrinya.”Kalimat itu meluncur dari mulut Hye Sun. Ia gugup, firasatnya buruk.

   “Nona, Tuan Lee sekarang sedang dalam keadaan sangat lemah setelah melaksanakan pendonoran darah.”Suara itu melanjutkan, membuat jantung Hye Sun berdetak tak karuan. Hye Sun tak dapat bicara lagi.
“Tolong Anda bisa ke rumah sakit ini secepatnya. Terima kasih—“

   “Yaaa... Ya….”Hye Sun menjawab linglung padahal sambungannya sudah terputus dari tadi. Suaranya mendadak serak dan tercekat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

   Hye Sun, tenang sekarang. Dia tidak apa-apa! Hei, bodoh! Dia tidak apa-apa! Dia hanya habis transfusi darah dan lemah, ini sudah biasa. Jangan khawatir lagi!

   Hye Sun segera memerintahkan dirinya sendiri untuk tidak panik dan cemas. Tapi, setiap sel dalam tubuhnya tidak pernah mau mematuhi perintah itu.

   Pendonoran darah. Transfusi darah. Untuk si Dara itu kah? Sudah. Cukup, Goo Hye Sun! Transfusi darah hanya hal kecil, tak akan bereaksi apa-apa! Siapa pun orang yang menerima transfusi darah dari Min Ho. Toh, tidak perlu dimasalahkan dan memang tidak penting!

   Hye Sun berpikir dengan lambat, sebelum akhirnya ia mengetuk-ngetuk pintu kamar ibu mertuanya. “Omma—Omma—Omma—“

   Ketika Na Young keluar kamar dengan piyama tidurnya, Hye Sun segera dihujani dengan berjuta pertanyaan. “Ada apa? Kau sudah dapat kabar dari Min Ho atau bagaimana?”

   “Dia—sedang dalam keadaan lemah di Seoul International Hospital—“Hye Sun menjawab dengan suara lemas.

   “Lemah? Memang dia kenapa? Goo Hye Sun, beritahu Omma—“Ibu mertuanya mengguncang-guncang tubuh Hye Sun yang lemas semua.

   “Dia—Dia habis transfusi darah—“Hye Sun menjawab dengan suara lemas dan bergetar sekarang.

   “Transfusi darah?”Na Young mengulangi. Rambutnya yang berantakan di wajahnya ia angkat dengan tangannya yang kurus dan sudah keriput.

   “Hanya transfusi darah. Seharusnya ia tidak apa-apa, kan?”Hye Sun butuh seseorang untuk meyakinkannya sekarang, karena ia tidak bisa berpikir lagi. Ia sudah kelewat panik.

   “Bagi Min Ho, transfusi darah seharusnya berbahaya—“jawab ibu mertuanya. Itu jawaban yang sama sekali tidak diharapkan Hye Sun.

   Hye Sun mendongak. Air matanya mengalir pelan di pipinya. “Berbahaya? Maksud Omma—“

   “Kita ke rumah sakit—Segera.”
***
   “Mana anakku? Mana anakku?”tanya Na Young berulang-ulang. Pikirannya kacau sekali sekarang ini. Hye Sun ada di sampingnya, hampir menangis lagi sekarang.

   “Nyonya tenang—Tenang dulu—“Dokter magang di UGD itu mulai menenangkan Na Young.

   “Kau! Kau yang mengambil darahnya? Iya?”Na Young tiba-tiba murka.

   “Nyonya—Saya tadi sudah sempat bertanya padanya soal riwayat kesehatannya. Dia bilang dia tidak punya penyakit apa-apa yang membahayakannya untuk melakukan transfusi darah.”jelas dokter perempuan itu panjang lebar. “Ia juga tidak melakukan transfusi darah akhir-akhir ini. Jadi, kami hanya melakukan apa yang dikehendaki Tuan Lee.”

   “Tapi, ia pernah melakukan transfusi secara gila-gilaan bertahun-tahun lalu!”bentak Na Young lepas kendali. Hye Sun yang berada di sampingnya hanya bisa memegang lengan ibu mertuanya itu dengan pikiran kosong dan tak dapat berpikir lagi. “Ia pernah bergantung dengan darah orang lain selama hampir satu minggu! Ginjalnya sempat tak berfungsi hampir setengah jam! Hal itu membuat dokter tidak merekomendasikan ia menerima, apalagi memberikan transfusi darah kepada siapa pun!”

   “Omma. Tenanglah—“kata Hye Sun dengan nada yang bergetar. Ia sendiri sebenarnya tidak bisa tenang dengan suasana seperti ini. Perkataan ibu mertuanya barusan membuatnya terguncang. Hye Sun mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

    Berbahaya. Bergantung dengan darah orang lain selama hampir satu minggu. Ginjalnya sempat tidak berfungsi selama hampir setengah jam. Dokter tidak merekomendasikan ia menerima, maupun memberikan transfusi darah kepada siapa pun.

   “Tenang?”Na Young mengulangi kata itu dengan nada yang meninggi. “Aku tak bisa tenang, Hye Sun! Di saat seperti ini Omma tidak bisa tenang!”

   “Nyonya, lebih baik Anda bicara dengan saya sebentar—“Dokter perempuan muda itu menyarankan ketika ia melihat kekalapan wanita paruh baya itu terhadap Hye Sun.

   “Saya tidak mau bicara dengan dokter semuda Anda! Sama sekali tidak berkualitas dan berpengalaman! Saya mau bicara dengan pembimbing Anda!”bentak Na Young bertubi-tubi.

   “Baik. Saya antarkan—“Dokter muda itu akhirnya menyerah dan diikuti Na Young dari belakang, mereka berdua meninggalkan Hye Sun di UGD rumah sakit itu. Hye Sun sempat bingung selama beberapa saat. Namun, ketika seorang suster lewat di hadapannya, dicegatnya suster itu dengan pertanyaannya. “Tuan Lee Min Ho, suster tahu?”

   “Ya.”jawab suster itu sambil menganggukkan kepalanya. “Kami baru saja memindahkannya ke ruangan perawatan. Ruangannya tepat di sebelah Nona Sandara Park. Kamar VVIP.”

   “Lantai berapa? Nomor kamarnya berapa?”Hye Sun mulai bertanya lagi lebih lanjut, tanpa sadar tangannya mengguncang lengan suster itu.

   “Di gedung utama. Lantai 2, Nona. Kamar nomor 223.”Suster itu menjawab Hye Sun. “Saya permisi dulu.”

   Hye Sun segera berlari ke lorong yang menghubungkan Unit Gawat Darurat ke gedung utama rumah sakit itu. Buru-buru masuk lift. Gemertak-gemertuk sepatunya membuatnya tambah gelisah. Tapi, anehnya, ia bukan hanya menggelisahkan keadaan Min Ho sekarang.

   Nona Sandara Park? Seharusnya dia perempuan, kan?

   “Ya Tuhan! Apa yang aku pikirkan? Hal tidak penting seperti itu!”gumam Hye Sun dalam hati. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras. “Itu tidak penting, Goo Hye Sun! Sungguh, demi Tuhan, hal itu sangat tidak penting!”

   Mungkin, Hye Sun memang sedang kacau sekarang. Tapi, kenapa? Buat apa kacau? Toh, Min Ho hanya sahabatnya. Sekalipun Dara itu adalah kekasih Min Ho sungguhan. Seharusnya Hye Sun tak perlu seperti ini dan bukankah seharusnya ia bahagia atas kebahagiaan Min Ho yang telah menemukan orang yang lebih baik darinya? Bukankah dia sendiri yang menyuruh Min Ho untuk mencari perempuan lain? Lalu, kenapa dia sendiri yang merasa kacau ketika, sepertinya Min Ho telah menemukan perempuan selain dirinya?
***
   Hye Sun segera menerobos masuk ke kamar 223 itu. Bibirnya gemetaran. Wajahnya pucat ketika melihat pria yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit itu. Pemuda itu lemas, tak berdaya. Wajahnya pucat. Selang infus terhubung dengan tangan kirinya.

   “Lee Min Ho—“Suara Hye Sun yang memang sudah menghilang dari tadi tambah menghilang sekarang.

   Diraihnya tangan Min Ho dengan lembut ketika Hye Sun sudah berada tepat di sampingnya. Lelaki itu tentu tidak sedang baik-baik saja. Tangannya dingin. Wajahnya pucat seperti kapas.

   “Hey, bangun—“Hye Sun berbisik pelan. Perlahan tapi pasti, mata hitam lelaki yang terbaring di hadapannya ini mulai terlihat, kelopak matanya membuka sedikit demi sedikit.

   “Min Ho, gwenchanayo?”Hye Sun berkata lagi.

   Min Ho balas menggenggam tangan Hye Sun, diremasnya tangan Hye Sun itu, sekalipun dirinya masih lemah. “Gwenchana.”

   “Ommamu tadi bilang kalau kau seharusnya tidak boleh melakukan transfusi darah.”Hye Sun berbisik pelan lagi. “Kau telah bergantung dengan darah orang lain selama hampir satu minggu. Ginjalmu sempat tidak berfungsi selama hampir setengah jam. Jadi, kau seharusnya tidak boleh menerima, apalagi memberikan darahmu kepada orang lain.”

   “Aku pikir tak akan apa-apa.”Min Ho menjawab dengan lemah. “Sungguh. Aku pikir tak akan jadi seperti ini.”

   “Hal mengerikan seperti itu, apakah terjadi ketika kau masih di Seoul? Kenapa tidak pernah memberitahukannya padaku? Dan kenapa aku juga tidak tahu?”Hye Sun menanyakannya bertubi-tubi dengan suara pelannya, tidak berusaha mempersuasi, hanya ingin sebuah jawaban.

   “Aku ingin menemui Dara—“Min Ho mencoba melenceng dari topik pembicaraan, ingin mengalihkan pembicaraan itu. Ia mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya.

    “Hei, Lee Min Ho—“Hye Sun memanggil nama Min Ho dengan lirih. “Kau belum cukup kuat. Setidaknya tunggu besok.”

   “Aku baik-baik saja sekarang—“Min Ho membantah perkataan Hye Sun. Ia ingin menghindar dari pertanyaan Hye Sun. Dengan hati-hati ia menyingkapkan selimutnya dan turun dari tempat tidur itu, lalu tangannya membawa botol infus yang tergantung itu turun dari tempatnya.

   “Lee Min Ho.”panggil Hye Sun dengan tegas, namun masih tetap pelan.

   “Ne?”

   “Dara—Dia itu siapa?”Hye Sun bertanya lagi, tapi ketegasannya sudah hilang, yang ada hanya suara yang pelan.

   “Temanku—“Min Ho menjawab dengan singkatnya dan ia benar-benar sudah berdiri di atas lantai yang dingin itu tanpa ada sesuatu yang mengalasi kakinya yang telanjang. Pembicaraannya sudah teralih. Bagus.

   “Temanmu atau kekasihmu?”tanya Hye Sun, ia sekali lagi meminta penjelasan dari Min Ho. “Kau tadi baru saja membahayakan dirimu sendiri. Kau tak akan melakukan hal ini jika dia bukan siapa-siapamu. So , beritahu aku siapa Dara sebenarnya.”

   Min Ho segera , menatap Hye Sun lekat-lekat. Matanya bertemu dengan mata Hye Sun masih merah akibat menangis. Ini hanya perasaannya saja atau memang benar Hye Sun sedang cemburu?
***
END OF CHAPTER
   



MAMI LOVE... GUE BELOM NGOMELIN ELU GARA" BELUM UPDATE BENGKOK..
JADI INI YANG HARUS DI UPDATE DULUAN... [head break] [head break]

POKOKNYA, CEPETAN UPDATE BENGKOK!!!!


it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
PERTAMAAAAAAAAAAAA  Emoticons0424 Karin makasih udah diupdate  Emoticons0426 tapi kurang puanjaaaang neh... [AddEmoticons04258]

Asikk nih si HyeSun dah mulai cembokur tuh... [AddEmoticons04263]

besok-besok updatenya jangan lama-lama ya... [AddEmoticons04263]

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] cihuyyyy thanks karin udah diupdate [hug] [cheekkiss]

Ketika Min Ho baru menaiki satu anak tangga saja, Na Young berkata lagi.“Tebak tadi kau makan telur apa.”

   “Aku? Telur apa memangnya?”

   “Telur bebek.”

   Min Ho terbelalak. Bingung.

   (Telur bebek dapat membuat system reproduksi laki-laki lebih tokcer menurut yang kutonton di Bajaj Bajuri… LOL)


 [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] ngakak guling2 dah [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] kenapa ga daging kambing rin wkwkwk kesukaan nya si bleh **** bleh [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing]

ia pernah melakukan transfusi secara gila-gilaan bertahun-tahun lalu!”bentak Na Young lepas kendali. Hye Sun yang berada di sampingnya hanya bisa memegang lengan ibu mertuanya itu dengan pikiran kosong dan tak dapat berpikir lagi. “Ia pernah bergantung dengan darah orang lain selama hampir satu minggu! Ginjalnya sempat tak berfungsi hampir setengah jam!

ini berhubungan sama luka nya yg itu ya rin

yuhuuuuuuuuuuuuuu hyesun udah mulai cembokur ye bagus de makin seru nih [jumpy] [jumpy] [jumpy]

update secepatnya lg ye kariiiinnnnnn whistling whistling whistling




ADAM COUPLE SELCA

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile

yeah.......................... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
Up date juga. thnx karin...
" Telur BEbek??????""""""", oh, oh,oh,.......... bikin tokcer yach, xixixix.. tp sayang min ho malah masuk Rumash Sakit abis transfusi darah buat si dara, argh.......... padahal suasana dah mendukung tuch, euh.... gagal lagi gagal lagi....
Gya..... Hye Sun dah mulai cemburu tuch ama si dara, mmm... tp waktu baca Hye Sun sedih waktu Min Ho meninggalkannya 7 thun yag lalu ke London, kyknya Hye Sun dulunya pernah naksir Min Ho dech, cuma Min Ho nya gak cekatan, kalah ama Geun Suk yg lebih dulu ngungkapin perasaan ke Hye Sun, bener ga Karin tebakanku, heheheh


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Kariiin,, good job euy,... Tmbah brhasil bkin aq nyesek ni,mkin dalem ni kisah minsun. Hyesun dah mulai sdar ni, km jgo bkin perubahan prsn hyesun ini ga maksa n mengalir aja gt.kren2,, tmbah cinta m ni ff aq karin...n mkin ga bs nunggu lma update'anya euy.bis mami update bengkok, chp 18 rilis ya.hehe.ok
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Kariiin,, good job euy,... Tmbah brhasil bkin aq nyesek ni,mkin dalem ni kisah minsun. Hyesun dah mulai sdar ni, km jgo bkin perubahan prsn hyesun ini ga maksa n mengalir aja gt.kren2,, tmbah cinta m ni ff aq karin...n mkin ga bs nunggu lma update'anya euy.bis mami update bengkok, chp 18 rilis ya.hehe.ok
setuju [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
wew tumben si mami komen seiprit doank [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
wew tumben si mami komen seiprit doank [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing]
whistling whistling whistling

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile

yeah.......................... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
Up date juga. thnx karin...
" Telur BEbek??????""""""", oh, oh,oh,.......... bikin tokcer yach, xixixix.. tp sayang min ho malah masuk Rumash Sakit abis transfusi darah buat si dara, argh.......... padahal suasana dah mendukung tuch, euh.... gagal lagi gagal lagi....
Gya..... Hye Sun dah mulai cemburu tuch ama si dara, mmm... tp waktu baca Hye Sun sedih waktu Min Ho meninggalkannya 7 thun yag lalu ke London, kyknya Hye Sun dulunya pernah naksir Min Ho dech, cuma Min Ho nya gak cekatan, kalah ama Geun Suk yg lebih dulu ngungkapin perasaan ke Hye Sun, bener ga Karin tebakanku, heheheh

hyesun dulu malah benci sm minho. baginya minho itu anak tengil, polos, ya bloon dah...
bukannya gak cekatan. minho mengungkapkan dengan cara yang salah, gak salah juga sih, cuma caranya itu gak bisa buat hyesun mudeng kalo dia itu suka sm hyesun..
tapi soal nyatain perasaan, jelas geunseuk duluan dong...

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
wew tumben si mami komen seiprit doank [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing]
whistling whistling whistling

SETUJU!!!! ITU KOMEN PANJANGIN DIKIT KEK~~~
PELECEHAN NIH, MESTINYA UPDATE BENGKOK DULU JUGA,,, MALAH INI DULUAN YG UPDATE... [hmpfh] [hmpfh]
PANJANGAN DIKIT!!!! KAGA MAU TAU...
*merasa kangen sm komen mami yg pedes, nyelekit, panjang, lebar, de el el itu*

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mau koment yg panjang ya? ok klu gitu ... bersiappppp!!!!!!!!!!!!!

PANJANGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG!!!!!!

cukup panjang ga [goodgrief] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Aurel " lusy" Aurellya

  • Junior
  • **
  • Posts: 227
  • kyaaa jun pyo sexy bgeth
  • Location: padang, indonesia
    • View Profile
Kariiinnn
Gumawooo saeng (boleh pgil dongsaeng ya?)
hehe
ini nih yg bkin aku slalu ga sbr nunggu update.an ff niy. Tiap chap sllu bkin pnsaran ma chap slnjutny. Udh gt km gambarin critany bagus bgt. Gak lebay, natural n nancep bgt (aduh, ga bs nyri kta yg tpat, hehe) pkok ny bner2 kerrenn dah.. Trharu aku, bkin mewek (ok, mgkin aku lebay,hihi)
Yg aku tggu akirny mulai dbkin ma karin, hyesun udh mulai cmbru ma mino, n next aku tbak mino blg kalo dara itu cwe nya ya?? Tul gak? Next chapp, aku mau sama kyak yg lain, stlah bgkok si mami, chap 18 uwd update yah, mmpung km liburan saeng..
only u in my bottom heart, no body else, but u in over the world...

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
mami ada titpan dari karin niy tadi,,,, suruh kasih ini ke mami  [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] karna komen'nya mau2 engga gtu ktnya  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]..

jah c karin minta dritik tp tar klo dah kena kritik langsung down n hiatus lma kya kmrn lg,, mnding jgn dah klo bgno mah bsa2 chp 18 update tahun depan lg  [hmff] [hmff] [hmff] [hmff] [hmff]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
rin mami minta di [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [hammer] [guns] [guns] [guns] [guns] [guns] [guns] [guns] [guns] [guns] [guns] [guns] [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] [ranting] [whip] [whip] [whip] [whip] [whip] [whip] [whip] [whip] [whip] [whip] hammer2 hammer2 hammer2 hammer2 hammer2 [hammer3] [hammer3] [hammer3] [hammer3] [hammer3] [hmpfh] [hmpfh]


ADAM COUPLE SELCA