Author Topic: My Everything II (That's My Promise), chapter 5 FINAL updated 7 Agustus 2010  (Read 20979 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile





Kilasan chapter lalu ....

Janpyo memutar kursi menghadap pemandangan laut luar yang terhalang jendela kaca besar sekeliling ruang kantornya yang luas.

Kemudian dia berdiri dari kursinya, masih dengan pandangan terarah keluar jendela, dia menyelipkan sepasang tangan ke dalam saku celana.

"Lee Jae Min,,, mengapa saya merasa begitu mengenalmu?", gumamnya pelan.


****************



Limabelas menit kemudian, Mr. Choi memasuki ruang kantor Janpyo dengan tergesa-gesa. Di tangannya tergenggam sebuah map file berwarna coklat tua.

"Doronim ..."

Janpyo mengangkat wajah yang sedari tadi tertumpu di kedua tangan. Perlahan dia memutar kursi yang didudukinya, menghadap ke Mr. Choi.


"O, bagaimana?" tanyanya datar.

"Selesai doronim. Uang tunai yang kita kumpulkan berhasil diberikan tepat pada waktunya."

"Bagus," Janpyo menyandar di sandaran kursinya yang tinggi. "Ada yang dia katakan?"

"Siapa?" tanya Mr. Choi. "Maksud doronim—tuan muda Geunsuk?"

Janpyo mengangguk.

"Tidak." jawab Mr. Choi. "Tuan muda Geunsuk tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya tertawa-tawa mengejek. Doronim—apakah ... apakah tidak khawatir tuan muda Geunsuk akan melakukan strategi ini lagi?"

Janpyo mengambil pen yang terletak di atas meja dan memutarnya. Dia berpikir sejenak, kemudian mengeleng pelan. "Tidak. Saya rasa tidak. Sebenarnya strategi mereka ini tidak praktis. Bisa saja mereka membahayakan J.M. sendiri dengan mencairkan semua investasinya dalam bentuk tunai hanya untuk menguncang tubuh Shin-Hwa. Saya yakin mereka sadar—paling tidak Lee Jaemin sadar—kalau kekayaan mereka tidak bisa dibandingkan dengan Shin-Hwa. Yang mereka lakukan hanya berdampak sedikit bagi Shin-Hwa. Tapi tidak bagi J.M. Jika mereka masih mengulangi perbuatan tersebut, J.M. tidak akan mampu menahan arus dari luar."

"Agashimida doronim ...," Mr. Choi menganggukkan kepalanya.

"Mr. Choi ..," panggil Janpyo setelah membisu selama beberapa detik.

"Ne?"

"Orang itu—saya merasa begitu mengenalnya." katanya pelan.

"Siapa, doronim? Tuan muda Geunsuk?" tanya Mr. Choi sambil bergerak sedikit dari tempatnya. Reaksi Janpyo yang tidak biasanya, membuat dia keheranan.

"Lee Jae Min!" jawab Janpyo pendek. Kursinya kembali diputar menghadap deretan jendela di belakangnya. "Kamu bisa meletakkan file itu di atas meja Mr. Choi. Saya akan memeriksanya nanti."

"Ne doronim." Mr. Choi mengangguk kemudian meletakkan map file yang dari tadi dipegangnya ke atas meja.

"Kamu boleh keluar sekarang. Lanjutkanlah pekerjaanmu!" perintah Janpyo tanpa berbalik kearah pria itu.

"Ne ...," terdengar jawaban yang sama keluar dari bibir Mr. Choi. Dia berbalik dan berjalan ke arah pintu.

"Tunggu sebentar Mr. Choi!"

Panggilan tersebut menghentikan langkahnya. Mr. Choi berbalik kearah Janpyo. Tuan mudanya ini sudah memutar kursi yang didudukinya menghadapi dia.

"Iya doronim?"

"Siapkan sebuah ruang VIP di hotel Shin-Hwa buatku! Beserta makanan-makanan istimewa buat makan siang. Hari minggu nanti. Ingat jangan makanan Jepang! Jilly tidak suka makanan mentah."

Mr. Choi tersenyum. "Ne, agashimida doronim." sahutnya bersemangat.

Janpyo melirik sekilas ekspresi Mr. Choi dari sudut matanya. Keningnya agak berkenyit tapi dia tidak berkata apa-apa. Dengan kibasan tangan kanannya, dia memberi perintah ke Mr. Choi untuk keluar dari ruang kerjanya.

****************


"APA-APAAN INI?!! Kalian mau menikah? Se .. sejak kapan kalian merencanakan ini—maksudku sejak kapan kalian pacaran? Ini bukan lelucon kan?" teriak Junpyo dengan sepasang mata terbelalak lebar.

Jandi segera menyentuh lengannya. "Tenanglah Junpyo-a! Dengarkan dulu apa perkataan anak-anak ini ..," kemudian dia menghadapi Janpyo dan Edys yang duduk di hadapan mereka, sedangkan Jihoo dan Lily hanya bisa mengangga di kursinya—sama sekali tidak mampu mempercayai pendengaran mereka sendiri. " .. nah anak-anak, sekarang bisa jelaskan pada kami bagaimana ini bisa terjadi? Sejak kapan kalian merencanakan ini? Mengapa tidak memberitahukan dulu pada kami?" lanjut Jandi.

Janpyo mengangguk dengan sikap tenangnya. Dia tidak kelihatan terpengaruh dengan keterkejutan para orangtua ini. Sedangkan Edys yang berada di sampingnya hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam—tidak mampu membalas pandangan kedua orangtuanya.

"Omong kosong apa ini?!" geram Junpyo sebelum Janpyo memberikan penjelasannya. "Kenapa kamu selalu mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapat orangtua?" dia menatap tajam pada Janpyo, yang tidak bergeming sama sekali. Dibalasnya pandangan ayahnya tanpa berkedip.

"Junpyo-a .. ," Jandi menarik tangan suaminya. "Jangan emosian begini!"

"JANGAN EMOSIAN BAGAIMANA?" Junpyo mengibaskan tangan Jandi. "Anak ini sudah keterlaluan. Memangnya dia hidup di dunianya sendiri hahh?"

Jandi mengembuskan nafas perlahan. Junpyo sangat marah—dia sadar ini! Wajahnya sangat garang sehingga Jandi tidak mampu mengatakan apa-apa lagi. Mungkin tindakan Janpyo kali ini sudah di luar batas. Pernikahan—bukanlah permainan anak kecil. Seharusnya dia mendiskusikannya dulu dengan keluarga kedua belah pihak sebelum mengambil keputusan sendiri.

"Janpyo-a ...," Jandi berpaling pada Janpyo, " ... benar kata appa, seharusnya kamu mendiskusikan dulu rencana ini dengan kami. Lihatlah bagaimana terkejutnya paman Jihoo dan bibi Lilymu!"

Janpyo tidak bergerak. Pandangannya masih bertaut dengan pandangan penuh amarah dari Junpyo.

"Saya hanya mengabari berita ini pada kalian—bukan meminta keputusan kalian. Dengan atau tanpa persetujuan kalian, pernikahan ini tetap akan dilaksanakan." katanya tenang tanpa melepaskan pandangan dari Junpyo.

"ANAK BERENGSEK!". Tangan Junpyo hampir melayang ke pipi Janpyo kalau saja tidak segera ditahan oleh Jandi.

"JUNPYO-a!!" teriak Jandi. "Jaga emosimu!! Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan!!"

"Dia sudah keterlaluan!," hardik Junpyo. "Apa kita dianggapnya sudah mati?"

BRAKKK ...

Semua langsung berpaling ke asal suara itu. Edys berdiri dari posisinya dengan bibir digigit kuat-kuat. Sepasang matanya memerah.
"Pa .. paman Junpyo ti .. tidak ... menyetujui pernikahan ini?" tanyanya dengan suara gemetar.

"Sayang ...," Lily bergerak, menyentuh lengan putrinya halus. “Bukan begitu … Omma yakin bukan begitu maksud paman Junpyo .. “

"Paman Junpyo ... tidak menyukaiku? .. ti .. tidak menyetujui hubungan kami?" Lalu Edys mulai terisak halus.

Jihoo yang melihat itu, segera mendorong pundak Junpyo. "Apa yang kamu lakukan? Lihat, kamu membuat putriku menanggis!", kemudian dia berjalan kearah Edys. "Sayang ... "

Edys menanggis kesenggukan dalam pelukan Jihoo.


Dia bukan gadis cengeng—sesungguhnya dia termasuk gadis tangguh yang tidak mudah meneteskan airmata. Tidak mudah membuatnya menanggis. Tapi entah mengapa, melihat kemarahan Junpyo mendengar pernikahannya dengan Janpyo membuat hatinya hancur. Dia takut dipisahkan dari Janpyo. Dia sudah jatuh sangat dalam pada pemuda ini.

"Yaa yaa ..," Junpyo ikut gugup melihat kehisterisan Edys. "Edys sayang, .. bukan .. bukan begitu maksud paman! Paman tidak marah padamu. Kamu tahu paman sangat menyayangimu, bahkan sejak kecil! Paman hanya kesal pada anak ini. Bukan padamu." dia segera mengelus kepala Edys yang dinaungi rambut coklat lebatnya. "Yaa, jangan menanggis. Hati paman jadi galau kalau kamu sudah menanggis seperti ini." lanjutnya serba salah. "Sudah! Sudah! terserah kalian saja. Paman setuju! Paman setuju seratus persen dengan pernikahan ini, jadi paman mohon ... jangan menanggis lagi!"

Edys mengangkat kepalanya dari dekapan Jihoo. "Chinja?!" tanyanya di sela-sela isak tanggisnya yang belum reda.

"Ne ..," jawab Junpyo sambil menganggukkan kepala keras-keras.

"Tidak bohong?"

"Kapan paman pernah bohong padamu?" Junpyo melebarkan senyumannya.

Edys menghapus airmatanya dengan saputangan yang disodorkan Janpyo. Dia tersenyum dan mengenggam erat-erat tangan pemuda itu.
"Tidak pernah!" jawabnya pasti. "Paman tidak pernah bohong padaku!"

"Bagus, kalau begitu masalah ini beres kan?" kata Jihoo. Dia berpaling pada Janpyo, "Kalau begitu apa rencana kalian? Kapan pernikahan tersebut dilaksanakan? Atau ... apa perlu diadakan pertunangan terlebih dahulu?"

Janpyo membantu Edys duduk kembali ke kursinya sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan Jihoo.
"Tidak, paman. Kami tidak bermaksud mengelar acara pertunangan. Cukup pesta pernikahan saja. Dan akan dilaksanakan SEGERA setelah Jilly lulus dari kuliahnya. Sekitar tiga bulan mendatang."

"Tiga bulan?" Jandi mengenyitkan alisnya. "Apa tidak kecepatan Janpyo-a? Banyak yang mesti dipersiapkan buat acara pernikahan itu. Omma takut waktunya terlalu mendesak."

"Kami tidak bermaksud mengelar pesta besar-besaran, omma." jawab Janpyo. "Cukup dengan mengundang saudara-saudara dekat, teman-teman dan partner-partner kerja penting saja."

Jandi akhirnya mengangguk. "Kalau begitu terserah kalian saja. Lalu .. ,” dia berpaling pada Junpyo, “ .. bagaimana menurutmu Junpyo-a?"

Junpyo mengangkat bahunya. "Sudah direncanakan semuanya kan?"

Jandi tersenyum. Agak geli juga dia melihat keterpaksaan Junpyo mengikuti keinginan Janpyo. Beruntung pilihan Janpyo adalah Edys, pikir Jandi. Jika tidak—dia tidak bisa membayangkan bagaimana kerasnya pertentangan antara ayah dan anak ini tentang rencana pernikahan yang mendadak ini.

"Kalau begitu, besok kita berangkat ke New York untuk menjemput appa dan omma kemari. Mereka pasti bahagia mendengar pernikahan cucunya ini." kata Jandi. Lalu dia berpaling pada Edys. "Bibi—oh salah! mulai sekarang kamu harus memanggilku omma .."
Edys langsung tersipu malu-malu mendengar permintaan Jandi. “Apa harus?” tanyanya pelan.

“Tentu saja,” jawab Jandi dengan nada pura-pura tersinggung. “Jika kamu ingin menjadi menantuku, kamu harus memanggilku OMMA. Sekarang juga. Ayo panggil omma!”

Sepasang pipi Edys merona merah mendengar desakan Jandi. Lalu perlahan dia berkata, hampir tidak terdengar, “Omma .. “

Jandi tertawa bahagia mendengarnya. “Bagus. Ayo panggil paman APPA! Paman Junpyomu pasti tidak bisa tidur malam ini saking bahagianya .. ha .. ha .. “

Edys berpaling ke Junpyo. Dan seperti memanggil Jandi dengan sebutan omma tadi, dia memanggil pelan Junpyo dengan panggilan appa. “Appa .. “

Tanpa sadar Junpyo menepuk keras dada Jihoo saking bahagianya.
“BAGUS! BAGUS!” teriaknya tak karuan.

“Auwww!! Goo Jun Pyo berengsek, kamu ingin membunuhku ya?!!” protes Jihoo yang langsung disambar gelak tawa yang lain.

Ruang VIP tersebut langsung berubah seperti pasar malam oleh suara ketawa mereka.

“Sudah! Sudah! Sekarang waktunya makan siang. Semua makanan yang tersedia di atas meja sudah akan semakin dingin jika tidak segera disentuh ..” Jandi meredakan suasana mengelegar dengan kebijakkannya. “Sebaiknya kita makan dulu. Urusan yang lain dibicarakan nanti saja. Masih banyak yang mesti kita diskusikan.” Dia berpaling pada Lily, “Sehabis ini, kita ke desainer-desainer ternama buat mendapatkan model baju pengantin yang cocok buat sepasang pengantin baru ini ya, onnie?” katanya bersemangat.

“Tentu saja! Itu tidak masalah!” sahut Lily tidak kalah kerasnya. Jempolnya terangkat ke atas, memberi isyarat kalau dia sangat setuju dengan ide Jandi.

“Saya jadi ingin tahu apakah noona Endree Kim masih eksis dalam dunia model ini?” kata Jandi pelan seperti bertanya pada diri sendiri.

“Mwo?” Lily memandanginya heran.

“O aniyo!” sahut Jandi. “Saya hanya berpikir, akan sempurna kalau Edys dan Janpyo memakai pakaian pengantin hasil rancangan noona Endree. Waktu pernikahan kami dulu, semua busana yang kami pakai juga hasil rancangan tangannya dan, semua mata langsung memandang takjub pada kami saat acara tersebut. Rancangannya berbeda dengan rancangan-rancangan para desainer yang lain. Noona Endree mempunyai gaya sendiri. Tidak kuno dan tidak berlebihan. Semua kelihatan sederhana tapi begitu terbalut di tubuhmu, kamu akan kelihatan istimewa. Dia punya aura itu. Aura yang mampu menciptakan sebuah gaun atau tuxedo menjadi luar biasa .., “ puji Jandi terkagum-kagum.

“Omma ..,” terdengar suara Janpyo berdeham halus. “Saya tahu omma sangat antusias terhadap rencana pernikahan ini. Tapi .. jika boleh saya meminta, bisakah omma membiarkan kami yang mengaturnya? .. Saya ingin pesta yang istimewa, HANYA BUATKU DAN JILLY!”

Ruangan tersebut menjadi hening setelah perkataan itu. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing, mencerna kembali apa yang dikatakan Janpyo.

“Kamu yakin?” tanya Jandi kemudian.

“Ne.” jawab Janpyo tegas.

Akhirnya Jandi mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu kami akan menerima hasil utuhnya saja.”

Yang lain ikut mengangguk dan tersenyum lebar. Kebahagiaan tersungging di wajah mereka masing-masing. Bahkan bagi yang tuna netra sekalipun, begitu memasuki ruangan itu, pasti bisa menangkap kalau dua keluarga terbesar di Korea tersebut sedang menyambut upacara terbesar bagi keluarga mereka.

****************


Selama sebulan penuh Janpyo sibuk menyiapkan sendiri semua keperluan pernikahannya dengan Edys. Mulai dari rancangan-rancangan busana pengantin, tempat penyelenggaraan pesta-yang akhirnya diputuskan akan digelar di Goo’s mansion-, dekorasi-dekorasi ruangan, menu-menu istimewa yang akan dihidangkan, daftar para tamu yang akan diundang, sampai pengacara dan pendeta yang akan memimpin acara sakral tersebut. Dia mengurus semuanya dengan sepenuh hati. Tidak ada yang terlepas dari perhitungannya.

Karena .. hanya ini yang bisa dia lakukan buat Edys yang sedang berjuang dengan kuliahnya. Ujian-ujian semester terakhirnya yang memusingkan pikirannya. Janpyo tahu Edys sangat sibuk jadi dia tidak ingin Edys dilibatkan dalam persoalan lain selain pelajaran-pelajaran tersebut, oleh karena itu dia melarang keras Edys ikut memikirkan atau mengambil bagian dalam urusan-urusan buat persiapan pernikahan mereka.

Selain kesibukan-kesibukan tersebut, sebenarnya, Janpyo masih dipusingkan masalah lain. Dia mengkhawatirkan rencana-rencana tersembunyi yang mungkin disiapkan J.M. atau Geunsuk untuk membalasnya. Tentang Shin Hwa, dia tidak terlalu khawatir karena dia tahu sekeras apapun usaha J.M., Shin Hwa tidak mungkin dijatuhkan oleh mereka. Bagaimanapun, Shin Hwa berada di atas mereka--dalam bentuk apapun! Baik modal maupun namanya di market Asia bahkan dunia.

Hanya satu yang dirisaukan Janpyo dari Geunsuk selama ini. Dia sangat mengenal Geunsuk. Tindakan-tindakan pemuda itu kadang-kadang sangat brutal dan tidak bisa diramalkan. Dia mewarisi sifat-sifat tidak normal dari ayahnya. Artinya besar kemungkinannya dia juga mengidap penyakit gila warisan dari keluarganya.

Tapi sebulan berlalu dalam ketenangan. Angin bertiup datar dan ombak mendayu senyap. Tidak ada sesuatupun yang terjadi. Bahkan kabar-kabar mengenai Geunsuk juga sangat jarang diberitakan media massa. Kalau dipikir ulang, semua kekhawatiran dan kewaspadaannya mungkin tidak beralasan.    

****************


”DORONIM!!” pintu ruang kantor Janpyo didorong dengan keras. Mr. Choi memasuki ruangan dengan terburu-buru. Dia mendekati Janpyo yang kelihatan sedang berkutat dengan tumpukan file-file di atas meja.

“Doronim, kabar mengemparkan!” kata Mr. Choi dengan nafas terengah-engah.

Janpyo mengangkat wajah dari pembukuan Shin Hwa Group yang mesti ditandatanganinya. Keningnya agak berkenyit begitu melihat penampilan asisten pribadinya yang berantakan. Pria yang biasanya terlihat sempurna ini rambutnya awut-awutan sedangkan ekspresinya terlihat tidak mampu mempercayai kabar yang baru diterimanya.

“Ada apa? tanya Janpyo dengan tenang.

“Mengenai J.M. …,” sahut Mr. Choi cepat.

Jidat Janpyo berkenyit semakin dalam begitu mendengar nama J.M. disebut Mr. Choi. “J.M.? Ada apa dengan J.M.?”

“J.M. ambruk .. “

“MWO?!” Janpyo terlonjak dari posisinya, “Mengapa bisa? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya bertubi-tubi. Dia yang biasanya tenang terpengaruh juga oleh berita mengejutkan ini.

Sejujurnya dia bisa meramalkannya. Umur J.M. tidak akan panjang di tangan Geunsuk tapi dia tidak mengira akan secepat ini terjadinya. J.M. memiliki seorang Lee Jae Min. Walaupun Geunsuk yang mengendalikan perusahaan tapi kalau semua kebijaksanaan-kebijaksanaan dari perusahaan tersebut berada di tangan orang misterius itu, tetap saja J.M. merupakan ancaman besar bagi Shin Hwa. Pikirnya waktu itu.  

“Mr. Choi!” tegur Janpyo ketika dua menit berlalu dan pria di hadapannya belum juga memberikan penjelasannya.

Mr. Choi agak bergerak sedikit. “Tidak begitu jelas doronim. Berita yang saya dapat katanya berkaitan dengan korupsi-korupsi dan permainan-permaian gelap yang dilakukan tuan muda Geunsuk .. “

Janpyo menghempaskan diri ke sandaran kursi di belakangnya. “Seperti yang saya perkirakan sebelumnya … Dia tetap saja tidak berbeda dari ayahnya dalam hal ini .. “

“Apel jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, doronim.”

Janpyo mengangguk. “Ya. Mungkin pribahasa itu cocok buat Geunsuk. Lalu … berita apa lagi yang anda peroleh Mr. Choi?”

“Menurut sumber berita .. para investor sekarang sedang menuntut pertanggungjawaban J.M. Ternyata selama ini tuan Geunsuk menjalin hubungan tersembunyi dengan para mafia dari gang Timur untuk merampok perusahaannya sendiri. Para mafia ini mengunakan berbagai cara mendongkrak harga saham yang diincar J.M., kemudian J.M. dengan perantara tuan muda Geunsuk akan melancarkan strateginya ke para investor. Mereka diberi janji-janji manis kalau saham-saham tersebut akan naik berkali-kali lipat. Tapi begitu para investor tersebut menanamkan modalnya, harga saham-saham tersebut langsung anjlok. Doronim tahu mengapa? Karena kerja kotor dari gang Timur. Semua saham yang mereka beli, mereka tarik kembali. Secara bersamaan. Karena itu harga saham-saham tersebut anjlok seketika dan Geunsuk meraih keuntungannya. Semua transaksi jual-beli yang dilakukan di bawah tangannya PALSU. Semua dokumen-dokumen tersebut palsu. Geunsuk tidak pernah menginvestasikan dana-dana tersebut.”

“Begitu?” Janpyo mengetuk-ngetukkan pen di tangannya ke meja. “Lalu mengapa bisa terbongkar?”

“Berita ini sangat samar doronim. Tapi menurut beberapa sumber berita, katanya ketahuan Lee Jae Min. Dia yang membongkarnya.”

Janpyo langsung menatap Mr. Choi dalam-dalam. “Lee Jae Min yang melakukannya?”

“Iya doronim.” Jawab Mr. Choi. “Sebenarnya saya juga tidak mengerti mengapa dia melakukannya. Bukankah itu berarti bunuh diri? Dia akan menghancurkan perusahaannya sendiri .. Bodoh sekali!”

Janpyo mengelengkan kepala dan kembali mengetukkan pen di tangannya. “TIDAK. Dia tidak bodoh. Seperti yang sudah saya katakan, saya merasa begitu mengenalnya. Dia mungkin ingin menyudutkan, atau menjatuhkan Shin Hwa dan saya tidak tahu mengapa dia memiliki ambisi sebesar ini--Shin Hwa tidak pernah menjatuhkannya, dan saya juga tidak mengenalnya … dia tidak mempunyai alasan melakukan semua ini. Tapi bagaimanapun juga, dia bukan tipe seperti itu. Dia bisa membedakan segala sesuatu dengan jelas. Bisnis bersih dan bisnis kotor. Saya rasa dia termasuk orang yang menjunjung tinggi kebersihan bisnis. Dia rela menanggung resiko apapun demi pegangannya ini.”

“Termasuk menghancurkan perusahaannya sendiri?” tanya Mr. Choi tidak percaya.

“Iya.” Jawab Janpyo. “Tapi .. mungkin juga ada alasan yang lain .. “ lanjutnya sambil mengangkat bahu.

“Orang aneh ..,” kata Mr. Choi pelan. “Tapi … kenapa saya merasa dia mirip dengan seseorang?” tanyanya pada diri sendiri. Pandangannya terangkat dan jatuh ke kepala Janpyo yang tertunduk menghadapi pembukuan di tangannya. Dia tersenyum perlahan. Saya tahu sekarang dia mirip siapa, ujarnya dalam hati.

****************


brakkkkkkkk …………

“Janpyo-a .. “

Seseorang menghambur ke arah Janpyo dengan wajah dan tangan bersimbah darah.

“Tuan Michael .. tunggu sebentar ..,” Ga In mengejarnya dari belakang. “Pak direktur, .. tuan Michael .. dia .., “ lanjutnya serba salah begitu bertemu pandangan Janpyo.

“Ada apa?” Janpyo berdiri dari kursinya dan segera membantu Michael duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerjanya. “Mengapa kamu jadi begini?”

“Jundi .. ,” Michael menelan keras-keras, berusaha mengeluarkan suara tapi tidak berhasil.

“Ga In-ssi, ambilkan segelas air!” perintah Janpyo tegas.

Wanita berkacamata tebal itu mengangguk cepat. “Ne .,” setengah berlari dia meninggalkan ruangan itu.

“Apa yang terjadi?” tanya Janpyo lagi. Ekspresi tenangnya sudah hilang begitu tidak mendapatkan keberadaan Jundi bersama pemuda ini. “Mana Jundi?” lanjutnya tajam.

“Jundi .. Jundi diculik segerombol orang .. ,” sahut Michael dengan susah payah.

Mata Janpyo terbelalak lebar. “MWOO?!!!” Tangannya segera menarik kerah kemeja Michael yang sudah dirembesi darah. “MENGAPA BISA BEGITU? KAMU BERTUGAS MENJAGANYA-KAN? KAMU BERJANJI AKAN MENJAGANYA BAIK-BAIK, JADI MENGAPA BISA DICULIK?” ruang kantor yang sangat luas tersebut hampir meledak oleh suara Janpyo. Michael menyusut ketakutan. Untuk pertamakalinya dia melihat sahabat sekaligus majikannya ini semurka sekarang.

“Sa .. saya juga tidak tahu mengapa ..,” jawabnya terbatah-batah. “Jun .. di … mengajakku .. ke .. ke arena balap mobil yang sering didatanginya. Lalu .. lalu muncul sekelompok orang. Sa .. saya sudah berusaha mati-matian melindunginya tapi … mereka .. mereka terlalu banyak .. Jundi dipaksa naik ke mobi mereka .. kemudian dibawa pergi .. “

Janpyo terhenyak di kursi di sebelah Michael. Tampangnya sangat lesu. Habis sudah. Apa yang ditakutkannya akhirnya terjadi juga.

“Miane …,” sesal Michael. “Saya tidak bisa menjaganya sesuai janjiku .. Miane Janpyo-a … “

Janpyo mengeleng pelan. Tidak menjawab.

“Tapi .. siapa sebenarnya orang-orang itu? Mengapa menculik Jundi?” tanya Michael pelan.

“Jang Geun Suk .. “ jawab Janpyo, hampir tak terdengar.

“Mwo, Geunsuk? Tapi Jundi tidak berhubungan apapun dengan Shin Hwa jadi mengapa harus Jundi?” lanjut Michael tidak mengerti.

“Untuk membalas dendam padaku. Menjadikannya alat untuk membuatku bertekuk lutut. Dia tahu kelemahanku ..” Janpyo menunduk perlahan.

Michael mengikutinya. Diliriknya Janpyo lewat sudut matanya. Cowok di sebelahnya ini kelihatan lemah. Lain sekali dengan Janpyo yang dikenalnya. Janpyo yang kuat dan tangguh. Yang tidak pernah terusik oleh apapun. Bahkan dunia runtuh--menguburnya sekalipun. Tapi kali ini, karena Jundi, karena kecerobohannya, dia menjadi tidak berdaya. Bisa dibayangkan bagaimana besar cinta Janpyo pada Jundi, adik semata wayangnya itu. Michael meringis, merasakan nyeri di tubuh dan hatinya.

Tok .. tok .. tok …

Pintu kantor dibuka dan Ga In memasuki ruangan dengan segelas air tergenggam di tangannya.

****************


”Bagaimana?” tanya Janpyo GELISAH pada Mr. Choi.

Pria itu mengeleng. “Sosoengheyo doronim .. “

Janpyo menghembuskan nafas keras-keras dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Matanya terpejam, menengadah ke langit-langit ruangan.


“Orang-orang kita sudah mengeledah semua tempat yang mungkin didatangi tuan muda Geunsuk tapi tidak ketemu. Sekarang kami beserta para pengikut tuan Song, dibantu tuan muda Jaebin mencoba menyusup ke markas gang Timur, mudah-mudahan mereka mengetahui keberadaan tuan muda Geunsuk, “ Mr. Choi menghentikkan laporannya sebentar. Diperhatikannya tuan mudanya ini. Janpyo masih tetap pada posisi semula. “A .. apa tidak sebaiknya kita lapor ke polisi, doronim?” tanyanya ragu-ragu.

Janpyo segera membuka mata dan menegakkan tubuhnya. “TIDAK!” jawabnya tegas. “Jangan sekali-kali melakukan itu Mr. Choi!” suaranya terdengar semakin tajam. “Saya tidak ingin jenazah Jundi yang kita temukan.”

Mr. Choi mengangguk dalam-dalam. “Ne, agashimida doronim .. “

“Satu hal lagi, “ lanjut Janpyo. “Jangan sampai omma dan appa mengetahui penculikan Jundi ..”

“Ne .. “

“Untung saja mereka sedang berada di New York saat ini, jika tidak … tidak bisa dibayangkan bagaimana reaksi mereka … “ gumam Janpyo lirih. Bersyukur untuk sesuatu yang tidak seharusnya disyukuri? Dia tersenyum kecut.

****************


Dua puluh empat jam berlalu sudah. Para mafia yang berkaitan dengan Geunsuk, terutama yang berhubungan dengan penculikan Jundi berhasil dibekuk oleh gang Song, gang pimpinan Song Woobin yang paling besar dan berkuasa di Korea. Semula orang-orang tersebut tidak mengakui hubungan mereka dengan Geunsuk. Setelah diberi pelajaran, mereka baru mengakui dengan mati-matian kalau Jundi sudah dilarikan Geunsuk, dan sekarang mereka tidak mengetahui keberadaan mereka.

Janpyo langsung lunglai di kursinya begitu mendengar berita tersebut. Harapan satu-satunya, dengan berhasil dibekuknya gang Timur Jundi akan terselamatkan musnah sudah.

“Doronim .. “

Janpyo mengangkat tangan ke arah Mr. Choi. Dia tidak ingin dihibur. Untuk saat ini, bukan itu yang diperlukannya. Janpyo bangkit dari kursi. Tampangnya sangat kusut. Maklum, dia tidak melakukan apapun selama dua puluh empat jam terakhir ini selain menunggu kabar baik tentang Jundi dari orang-orang yang ditugaskannya. Dia Tidak makan, tidak tidur, bahkan tidak membersihkan diri. Dia merasa tubuhnya sudah bau bangkai.

Telepon dari Edys juga tidak begitu digubrisnya. Saya sibuk. Begitu alasan yang berulangkali dikeluarkannya begitu Edys minta bertemu.

Tok .. tok .. tok …, terdengar ketukan dari pintu.

“Masuk!” teriak Janpyo kesal.

Ga In masuk ke dalam ruangan dan menghampirinya dengan sepucuk surat tergenggam di tangan. “Pak direktur .. ,” sapanya hormat sambil menyodorkan surat tersebut.

“Apa ini?” tanya Janpyo menyelidik.

“Surat buat pak direktur.” Jawab Ga In.

“Saya tahu ini surat.” Sahut Janpyo dengan mata melebar. Bisakah wanita tolol ini mengatakan sesuatu yang masuk akal? Dengusnya dalam hati. “Yang ingin saya ketahui, ini surat apa dan dari siapa?”

“O ..,” Ga In mengangga. “Tidak tahu pak .. “ jawabnya gugup. “Seorang pemuda ingusan memberikannya padaku. Dia mengatakan ini sangat penting dan berhubungan dengan agashi .. jadi .. jadi saya berpikir mungkin surat ini sangat penting .. sehingga .. saya menerimanya. Sosoengheyo .. “ Ga In membungkukkan badannya dalam-dalam.

Tampang Janpyo semakin gelap. Disambarnya surat dalam genggaman Ga In tanpa bertanya lebih lanjut. “Kamu keluarlah!”

Ga In mengangguk. Dia keluar dari ruangan itu dengan ketakutan.

Janpyo kembali ke kursinya. Dibukanya sampul surat berwarna biru laut itu, kemudian mengeluarkan selembar kertas surat yang ditulisi tinta warna hitam.

“Surat apa ini doronim?” tanya Mr. Choi.

Janpyo mengelengkan kepalanya. “Entahlah!” jawabnya sambil mulai mengikuti kalimat-kalimat yang tertera agak tak beraturan dalam surat itu. Tulisan-tulisannya sangat indah walaupun dapat tertangkap jelas kalau penulisnya sedang diburu waktu sewaktu menulis surat tersebut.

Anyong,,,

Jika anda percaya padaku, Goo Jun Di-ssi disekap di sebuah pondok dekat dermaga tua pantai selatan pulau Jeju. Datanglah segera! Saya tidak tahu bisa bertahan sampai berapa lama lagi.

Unknown


“Doronim percaya pada penulis surat ini?” tanya Mr. Choi yang ikut membaca surat di tangan Janpyo.

“Cuma ini harapan kita.” Janpyo melempar surat dalam genggamannya ke atas meja. “Kerahkan orang-orang kita dan perintahkan mereka berangkat ke pulau Jeju sekarang juga, Mr. Choi. Saya sendiri yang akan memimpin pengeledahan ini!”

“Ta .. tapi .. kita tidak mengenal orang ini .., “ Mr. Choi memperingati sambil mengikuti Janpyo. “Apa ini tidak berbahaya doronim? Mungkin saja ini hanya bagian dari permainan tuan muda Geunsuk?”

“Saya merasa mengenal orang itu!” Janpyo membuka pintu dan berjalan keluar.


“Maksud doronim, siapa?”

Janpyo berpaling padanya. “Si penulis surat. Lee Jae Min.”

“Mwo?!” Mr. Choi tertegun. Lee Jae Min lagi, Lee Jae Min lagi. Siapa sebenarnya orang itu? Apa peranannya dalam semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini? Mr. Choi mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.          

****************


Janpyo beserta bawahan-bawahannya—termasuk Michael, begitu juga Jaebin, Gajeong dan pengikut-pengikutnya sampai di depan pondok tua dekat dermaga di bagian selatan pulau Jeju seperti yang dimaksud orang misterius dalam surat yang diterima Janpyo.

Saat itu hari sudah malam. Matahari sudah kembali ke peraduannya. Samar-samar terdengar suara jangkrik dan binatang-binatang malam lain yang sudah keluar dari sarang buat mencari makan. Angin bertiup cukup kencang, menjatuhkan daun-daun dari pohon-pohon pantai yang tumbuh di sekitar pondok tersebut ke kepala mereka. Keadaan sangat hening. Tidak terlihat kapal atau sinar apapun di sekitar dermaga—limabelas meter di depan mereka, kecuali berkas buram yang memantul keluar dari celah pintu pondok.

Janpyo memberi isyarat kepada yang lain untuk tidak bersuara. Dia mendengarkan. Tetap keheningan mewarnai tempat itu.

“Apa yang mesti kita lakukan?” bisik Jaebin.

Janpyo berpikir untuk beberapa saat. Sejujurnya, dia juga tidak tahu apa yang mesti dilakukan. Apakah seharusnya dia mendobrak pintu itu atau menunggu Geunsuk keluar dari pondok? Janpyo mengelengkan kepalanya kuat-kuat begitu sadar waktu yang mereka miliki sangat terbatas.

“Dobrak saja!” perintah Janpyo akhirnya.

Jaebin mengangguk, begitu juga Gajeong dan Michael. Jaebin mengangkat tangan ke atas. Semua langsung mempersiapkan dirinya. Begitu hitungan ketiga, mereka mendobrak pintu itu bersama-sama.


Daun pintu terayun ke dalam dan bergantung lemah di engsel-engselnya yang berkarat. Semua orang yang bersiap di luar langsung menghambur ke dalam pondok.

Di dalam sangat sepi dan suram. Penerangan sekadarnya hanya diperoleh dari lentera kecil yang bergantung di tiang dekat jendela kecil dari kayu di sudut kanan pondok kecil itu. Walaupun begitu, mereka bisa menangkap dua sosok anak manusia yang berjongkok di atas jerami tebal dekat perapian yang tidak menyala. Agak di pinggir pondok. Salah satunya, pemuda yang sangat dikenal Janpyo. Ya, dia JANG GEUN SUK. Sosok satunya lagi—dengan mata dan mulut, beserta kedua tangan terikat seutas kain lusuh, membuat lutut Janpyo langsung lemas.


“Jundi-a!!!” panggil Janpyo keras. Dia bermaksud berlari ke arah mereka tapi langsung dihentikan Michael.

“Jaga emosimu Janpyo-a! Kamu bisa membahayakan Jundi! Mungkin saja Geunsuk sudah mempersiapkan segala sesuatunya, “ Michael mengeleng perlahan.

Janpyo memandangi Michael, kemudian mengangguk TERPAKSA.

“Ha .. ha .. Goo Jan Pyo, akhirnya kamu datang juga … ,” Geunsuk tertawa mengelegar sedangkan Jundi mengeluarkan suara gemerasak-gemerisik dari mulut dan tangannya yang terikat. “Saya tidak tahu bagaimana kamu mengetahui tempat ini. Tapi biarkan saja. Saya tidak peduli!” teriak Geunsuk.

“Lee Jae Min yang mengabariku tentang keberadaanmu .. ,” jawab Janpyo dengan nada dibuat setenang mungkin.

“LEE JAE MIN?!” mata Geunsuk melebar—seakan tidak mempercayai pendengarannya. “Ha .. ha …,” dia tertawa lagi. Kali ini lebih keras. “
Seharusnya saya tahu dia tertarik pada gadis ingusan ini!” pandangannya terarah pada Jundi—penuh kebencian, kemudian beralih kembali pada Janpyo, “Dia sama saja dengan kamu,“ teriaknya sekeras-kerasnya. “SOK BERKUASA, SOK MENGETAHUI SEGALANYA! Menjalani J.M. bukan untuk mencari keberuntungan sebanyak-banyaknya, tapi hanya untuk memuaskan diri sendiri. ORANG BODOH ITU!! Saya sudah capek padanya, saya sangat membencinya! SAMA SAJA DENGAN SAYA MEMBENCIMU! Dia mengira bisa mengendalikanku? Ha .. ha … ha …. Sekarang lihatlah! Saya hancur, dia juga hancur! Ha .. ha .. ha ..” Seperti orang yang sudah tidak waras, Geunsuk tertawa, terus dan terus. Tidak berhenti walaupun sudah beberapa menit berlalu.

Janpyo bergerak perlahan. Kali ini Michael tidak mencegahnya. Semua mengikuti langkah Janpyo. Sampai di dekat Geunsuk yang masih tertawa-tawa, Janpyo memelintir tangannya ke belakang.

“Mana Lee Jae Min? Katakan padaku, kemana dia?” Janpyo mendorong Geunsuk ke dinding. Suaranya bergetar dan giginya bergemeratuk. Dia memandang Geunsuk tajam-tajam.

“Lee Jae Min?” Geunsuk tertawa lagi setelah keterkejutannya yang sesaat akibat bekukkan Janpyo. “Pemuda berengsek itu ha .. ha .. ha .. seharusnya dia mati saja ..”

“Bukan itu yang ingin saya dengar!” Janpyo kembali menekan tubuh Geunsuk keras-keras. “Siapa dia? ITU YANG INGIN SAYA KETAHUI!”


“Ha.. ha .. ha .. ,” Geunsuk tidak menjawab. Dia hanya tertawa. Semakin lama semakin keras sambil memengangi perutnya erat-erat—seakan pertanyaan Janpyo sungguh mengelikan. “Lee Jae Min … Goo Jan Pyo .. Kalian sama-sama berengsek ha .. ha .. “

Sedangkan di sebelahnya, ikatan Jundi di bagian mata, mulut dan tangan sudah dilepaskan Michael. Gadis remaja itu langsung menghambur ke pelukan pemuda itu. Dia menanggis tersedu-sedu. Pengalaman selama duapuluh empat jam ini sangat menakutkan dan tidak mungkin terlupakan olehnya seumur hidup.

“Cup cup sudah berlalu .. jangan menanggis lagi .. ,” hibur Michael. Dipeluknya gadis itu erat-erat. Wajah Jundi terbenam di dadanya.

“KATAKAN PADAKU!! JANG GEUN SUK, KAMU TIDAK BOLEH BEGINI! SADAR DAN JELASKAN PADAKU SEKARANG JUGA!” teriakan-teriakan Janpyo masih terdengar, diiringi ketawa mengelegar dari Geunsuk yang tidak kunjung berhenti.

“Sudah Janpyo-a!” Jaebin menarik Janpyo ke belakang—dibantu oleh Gaejong. “Percuma. Dia sudah kehilangan akal sehat .. “


Tubuh Janpyo melorot ke lantai. Dia sadar. Dia tahu. Geunsuk sudah gila seperti ayahnya. Karena itu dia berteriak keras untuk menyadarkannya. Tapi percuma! Percuma saja usahanya. PERCUMA!

Janpyo memandangi Geunsuk. Mengapa bisa begini? Bukan ini yang saya inginkan. Sungguh BUKAN INI! Kenapa mentalmu selemah ini? Tidak seharusnya kamu mengikuti jejak ayahmu! Ini salah. Kepala Janpyo menunduk, menyapu lantai berpasir yang kotor dan kelam.

****************


Janpyo dan Edys duduk di serambi belakang Goo’s mansion. Bintang-bintang bergemerlapan di atas kepala mereka. Malam itu sangat cerah. Bahkan bulan yang hanya separuh terlihat sangat indah dan terang. Tidak ada segumpal awanpun yang menghalangi pandangan ke arah bintang-bintang dan bulan di atas langit tinggi.

“Miane …,” kata Janpyo pelan. Kepalanya masih terarah ke langit kelam.

Edys menarik pandangannya ke arah Janpyo. Dia mengeleng perlahan. “Gwencanayo. Jundi dan yang lain sudah menceritakan segalanya padaku .. “

Janpyo menunduk lambat-lambat, kemudian beralih pada Edys. “Kamu tidak kecewa saya tidak menghubungimu?” tanyanya.

Edys kembali mengeleng. “Tidak .., “ tangannya terangkat, menyentuh wajah Janpyo. “Dua hari terakhir ini sangat berat ya?”

Janpyo tidak menjawab. Kepalanya kembali tertunduk ke lantai serambi yang berkilat tertimpa cahaya bulan dan bintang.


“Apa kamu menyesal Janpyo-a?”

Janpyo mengangkat wajahnya, “Mwoga?”

“Untuk apa yang telah kamu lakukan? Terhadap keluarga Geunsuk dan Geunsuk sendiri?”

“Jika yang kamu maksud, keputusanku membongkar permainan gelap paman Jang ..,” pandangan Janpyo beralih ke depan. “ ..TIDAK. Saya tidak menyesalinya. Walaupun waktu berputar balik dan saya diberi kesempatan untuk memilih lagi, SAYA TETAP AKAN MELAKUKANNYA. Ini prinsipku. YANG SALAH TETAP HARUS MENDAPATKAN HUKUMAN YANG SETIMPAL. Dunia akan semakin tidak adil jika orang-orang bersalah dibiarkan merajarela .. “

Edys mengangguk. Dia merasa semakin mengenal pemuda ini. Walaupun tidak seluruhnya. Paling tidak untuk saat ini, dia merasa semakin dekat dengan dunianya. Dunia pemuda yang akan menjadi suaminya dua bulan lagi.

“Lalu .. mengapa kamu kelihatan sedih?” tanya Edys lagi.

Pandangan Janpyo kembali jatuh ke lantai.


“Meskipun saya tidak menyesali tindakan tersebut … SAYA MEMBENCI AKIBAT DARI TINDAKAN ITU… Geunsuk gila gara-gara saya. SAYA yang menyebabkannya .. saya …, “ kepala Janpyo menyandar perlahan ke pundak Edys. Matanya terpejam. Tanpa terasa dua butir air bening mengalir dari pelupuk matanya.

“Janpyo-a .. ,” Edys sangat terkejut. Disentuhnya wajah pemuda itu. Untuk pertamakalinya dia melihat Janpyo mengeluarkan airmata. Pemuda yang biasanya dingin dan tampak tidak berperasaan ini .. bagaimana mungkin?


“Ijinkan saya menanggis ..,” mohon Janpyo dengan suara gemetar. “ … saya mohon, untuk malam ini saja. Ijinkan saya lemah … Saya hanya manusia biasa .. Saya juga punya perasaan … Geunsuk, sahabat satu-satunya yang kumiliki di New York .. “

“Iya .. ,” kata Edys lirih. “Kamu boleh lemah. Kamu boleh menanggis di hadapanku Janpyo-a … Jangan berlagak tegar jika kamu memang tidak mampu … Saya tidak akan menyalahkanmu .. Menanggislah dan .. tidurlah. Besok, setelah bangun dengan pikiran segar—semuanya akan terlupakan. Percayalah padaku ….” Edys belum menyelesaikan perkataannya ketika dengkuran halus terdengar di telinganya.

Edys tersenyum. Tangannya kembali menyentuh wajah yang kelihatan sangat lesu itu. “Kamu pasti sangat lelah …, “ dikecupnya kening Janpyo. “Miane. Seharusnya saya yang mengatakan ini, bukan kamu. Saya tidak bisa membantumu. Semua kamu lakukan sendiri. Tidak hanya masalah Geunsuk tapi juga persiapan buat pernikahan kita … Gumawo sayang …”

Dia menunduk perlahan. Menempelkan bibirnya ke bibir Janpyo. Dikecupnya lembut bibir yang terasa dingin itu—hanya sepersekian detik karena dia takut membangunkan pemuda itu, kemudian dia kembali mengarahkan pandangannya ke langit. Malam ini benar-benar indah, katanya sambil tersenyum.

****************


Dua bulan kemudian, acara pernikahan pewaris Shin Hwa dan Yoon’s Foundation, Goo Jan Pyo dan Edelweiss Yoon, diselenggarakan besar-besaran di Goo’s mansion. Maksud semula Janpyo tidak ingin membesar-besarkan pernikahannya ini tidak terlaksana karena ternyata haraboji dan halmonienya secara diam-diam mengundang para tamu dari berbagai kalangan yang mereka kenal. Baik dari pihak pemerintah berbagai negara yang telah menjalin hubungan kerjasama dengan Shin Hwa, maupun rekan bisnis yang jumlahnya tidak terhitung. Di tambah keagresifan para wartawan dalam meliput berita fenomenal tersebut—menjadikan Goo’s mansion yang besar dan megah sesak oleh orang-orang yang berdatangan terus-menerus.

Sorotan lampu-lampu blitz dari kamera-kamera para wartawan tidak henti-hentinya menyapu setiap sudut ruangan. Segala yang ada dalam pesta itu sangat megah dan sempurna. Baik dari dekorasinya yang glamour dengan lampu-lampu kristal besar dan bunga-bunga lili dan mawar warna putih yang kelihatan sakral, ataupun hidangan-hidangan lezat dan anggur-anggur mahal yang tersedia di  atas beberapa meja panjang yang tersebar hampir di seluruh ruangan rumah besar itu.

Begitu juga gaun dan tuxedo yang membungkus tubuh sepasang pengantin tersebut—membuat semua mata tidak mampu beralih darinya. Sepasang pengantin tersebut terlihat sangat indah. Seperti ciptaan maha sempurna.

Edys dengan sepasang mata hijau besar dan rambut lebat warna coklat lembutnya. Digulung ke atas, menaungi wajahnya yang putih mulus—agak kemerah-merahan dengan keriting-keriting kecil jatuh di bagian telinga. Pinggangnya sangat ramping, terikat pita dari kain sutra yang dilingkari pernak-pernik dari kristal kecil-kecil. Bagian bahunya terbuka, dilengkapi sebuah kalung berlian yang memantulkan cahaya menyilaukan. Sedangkan gaun itu sendiri memanjang, hampir satu setengah meter ke belakang, lengkap dengan kerudungnya yang teransparan.      

Sedangkan Janpyo yang berdiri di sebelah Edys, tidak kalah menariknya. Wajahnya yang tampan dan tak terbaca, terpoles bedak tipis. –Sebenarnya dia tidak suka dengan semua bahan-bahan kimia tersebut tapi karena didesak terus oleh noona riasnya, kata wanita itu, untuk kesempurnaan pesta ini Goo Jan Pyo-ssi .., dia terpaksa mengikutinya. Rambutnya yang kriwil dicatok lurus selama dua jam, membuat penampilannya terlihat lain. Juga tuxedo warna putih bersih yang dikenakannya, menyempurnakan penampilannya. Sepatu kulit berkilat juga tampak sempurna di kakinya.



Sekitar jam 12 siang, acara mengikat janji dilaksanakan di gereja kecil dekat Goo’s mansion.

“Pengantin wanita Edelweiss Yoon, apakah anda bersedia menerima pengantin pria Goo Jan Pyo sebagai suami anda? Menemaninya dalam suka dan duka, sampai maut memisahkan kalian berdua?” tanya pak pendeta.

“Ne. Saya bersedia.” Jawab Edys tanpa berpikir panjang. Yang langsung disambut senyuman terkulum dari Janpyo dan tertawa lebar dari para undangan.

“Pengantin pria Goo Jan Pyo, apakah anda bersedia menerima pengantin wanita Edelweiss Yoon sebagai istri anda? Menemaninya dalam suka dan duka, sampai maut memisahkan kalian berdua?” pak pendeta beralih pada Janpyo.

“Saya bersedia ..,” jawab Janpyo tenang. Para undangan langsung berseru riuh.

Pak pendeta tersenyum. Entah mengapa pasangan ini membuatnya nyaman. Mereka akan menjadi pasangan paling berbahagia di dunia ini. Pikirnya yakin.

“Sekarang anda boleh mencium istrimu, Goo Jan Pyo-ssi .. “, ujar pak pendeta dengan senyuman masih tersungging di bibir.

Janpyo ikut tersenyum. Dia mengangguk perlahan, kemudian memutar tubuh menghadapi Edys. Dibukanya kerudung yang menutupi wajah istrinya perlahan-lahan. Dia tertegun. Tanpa mampu ditahan, pujian meluncur dari bibirnya.
“Yeppoyo … “

Wajah Edys memerah. Dia bermaksud menundukkan wajahnya tapi ditahan oleh Janpyo. Pandangan mereka bertemu.

“Sarangheyo ..,” kata Janpyo pelan.

Kepalanya menunduk perlahan. Semakin dekat. Mata hijau botol milik Edys terpejam. Dan dia merasakan bibir lembab Janpyo melumat bibirnya. Teriakan langsung membahana dalam gereja kecil itu. Edys membalas ciuman Janpyo. Semakin lama semakin memanas. Teriakan-teriakan juga semakin keras. Tangan Janpyo melingkar ke pinggang Edys, menariknya semakin dekat padanya. Menempel dan mengesek halus di dadanya. Nafas mereka semakin memburu ketika ciuman panjang tersebut berakhir.



“Ghamsamida telah menyisihkan waktu menghadiri acara pernikahan kami … “ perkataan tersebut berulangkali keluar dari mulut sepasang pengantin.

Penandatanganan surat pernikahan yang dipimpin pengacara besar Kim selesai dilaksanakan sepuluh menit yang lalu. Sekarang sudah pukul 7 malam. Sebagian dari undangan sudah meninggalkan Goo’s mansion. Ruang gerak menjadi lebih bebas.

Janpyo mengamati Jundi dari seberang ruangan. Dongsengnya itu terlihat gelisah. Bahkan sejak permulaan acara tersebut. Gaun pendek warna putih yang membalut tubuhnya sudah terlihat kucel karena seringnya diremas-remas.


Dia melihat Michael mendekati Jundi. Membisikkan sesuatu di telinganya. Mata gadis remaja itu melebar.

“Jeongmal?”

Janpyo bisa menangkap pertanyaan tersebut dari tempatnya berdiri.

Michael mengangguk, lalu mengatakan sesuatu yang tidak berhasil didengarnya. Jundi langsung berdiri dari sofa dan berjalan ke pintu keluar satunya—yang berseberangan dengan ruangan Janpyo.

“Ikut saya Mike .., “ Jundi berlari dari ruangan tersebut, diikuti Michael.

Janpyo bergerak, bermaksud menyusul mereka. Tapi tertahan oleh tangan halus dan mungil yang menyentuh lengannya.
“Biarkan mereka Janpyo-a .., “ Edys hadir di sampingnya.

“Tapi .. ,” bantah Janpyo ragu-ragu.

“Jundi bukan anak kecil lagi .., “ Edys tersenyum. “Setelah kejadian dua bulan yang lalu, saya yakin dia tahu apa yang pantas dilakukan dan apa yang tidak …,” kemudian dia pura-pura cemberut. “Lagipula, hari ini hari pernikahan kita. Apa kamu bermaksud meninggalkan istrimu seorang diri, begitu saja?”

Janpyo mengganga. Tidak tahu harus berbuat apa-apa. Dia melihat ke ruangan luar dimana Jundi dan Michael sudah tidak kelihatan bayangannya. Kemudian dia menoleh pada Edys. Tampang istrinya ini masih cemberut. Perlahan Janpyo menarik Edys ke arahnya. Dia tersenyum.
“Tentu saja tidak ..,” jawabnya. “Saya akan menemanimu. SELAMANYA … “    

****************


Desahan-desahan dan erangan-erangan terdengar dari kamar itu. Terus-menerus sampai ke satu titik di mana si wanita memekik tertahan.

“Perawan?” Janpyo menghentikan kegiatannya.

Edys tersenyum kemudian menarik pemuda yang kebingungan itu ke dekatnya.


“Kamu mengetahui semua mantanku tapi .. kamu tidak pernah bermimpi saya masih perawan kan?” bisiknya di telinga Janpyo.

Pemuda itu menarik badannya. “Mengapa?” ditatapnya gadis itu TIDAK MENGERTI

“Hadiah untukmu suamiku .. “ Edys melingkarkan lengannya ke leher Janpyo dan menarik tubuh polos itu kembali ke arahnya. “Apa kamu suka?”

“Saya menyakitimu?” tanyanya ragu-ragu.

“Tidak. Saya tidak apa-apa ..,” jawab Edys.

“A .. apa .. diteruskan atau .. berhenti saja?” tanya Janpyo lagi. Terlihat semakin bingung. Tampangnya membuat Edys tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini dia melihat Janpyo kebingungan setengah mati.

“Tentu saja terus. PABO-YA …,” dengan gemas dilumatnya bibir Janpyo.



Sesaat pemuda itu semakin terguncang. Tidak tahu harus berbuat apa. Tapi permainan-permainan Edys semakin menganas, membawanya hanyut semakin dalam dan dalam. Perlahan-lahan tubuhnya yang berada di atas tubuh Edys mulai bergerak. Erangan-erangan dan desahan-desahan diselingi pekikan tertahan kembali terdengar dari mulut mereka.

***** The End *****
« Last Edit: August 07, 2010, 07:00:10 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
akhirnya selesai juga ff yg atu ini [sweat] [hmpfh] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

ayo ayo komentarnya [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Huaa mami...thanks dah diupdate
Baca dulu ah..punk punk punk punk punk

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Huh mamiii..thanks yaaa.. Akhirnya my promise masuk ke final jugaaaa.. Aku suka bgt deeehh.. Aku kira gun suk bakal ngelakuin hal" yang menantang mii.. Sampe bunuh gituuu.. Tapi untungnya ngga yaa.. Hehe
Tapi kok scane terakhirnya dikit bgt c mii ehem"nyaa :p
Apa mau ada mvers ia mi 'o' ia kan? Ia dong? Pasti kan? Pasti dong :p


Tapi mii kenapa ga bikin my everything 3 si mii.. Ceritanya tentang anaknya si janpyo :p biar kayak sinetron TERSANJUNG mi :p

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
asyik asyik asyik... i lop u pull mi  [jumpy] [jumpy] [jumpy]

akhirnya di updet juga ma mami  [clap] [clap] [clap] [clap]

 [heh] [heh] [heh] selesai sudah...

thenk u mi buat updetannya yah...  [arms] [arms] [cheekkiss] [cheekkiss] [huglove] [huglove]

pertanyaan pertama mi... ada m verz nya gak mi...? [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [on] [on] [on] mau dunk kalo ada...

ada my everything yang ke 3  gak mi....? adain dunk mi...  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

kaget juga waktu jun pyo marah-marah...aku pikir gak setuju...tapi apa iya ...eh...ternyata enggak...  [laughing] [laughing] [laughing]

sapa sih mi lee jae min itu... apa yang unknown dulu itu...yang tanpa nama...? yang ngembaliin tas atau dmpetnya si Jun di dulu itu...? siapa sih mi... penasaran ...  [chin] [chin] [chin]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Huh mamiii..thanks yaaa.. Akhirnya my promise masuk ke final jugaaaa.. Aku suka bgt deeehh.. Aku kira gun suk bakal ngelakuin hal" yang menantang mii.. Sampe bunuh gituuu.. Tapi untungnya ngga yaa.. Hehe
Tapi kok scane terakhirnya dikit bgt c mii ehem"nyaa :p
Apa mau ada mvers ia mi 'o' ia kan? Ia dong? Pasti kan? Pasti dong :p


Tapi mii kenapa ga bikin my everything 3 si mii.. Ceritanya tentang anaknya si janpyo :p biar kayak sinetron TERSANJUNG mi :p
no mvers [nono] part terakhir jg tambahan dari gw. sebenarnya scene itu ga ada [laughing] [laughing]

mungkin ada my everything  3 tp bkn cerita anak2nya jandys tp cerita jundi and unknown aka jaemin [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Mamii!!! Kau tega sekali KENTANG BUANGETT...
Mam bikin m-vers nya dong..wah edys dah lihai ya mam,wkwkwk
Oia mam bkalan ada me 3 tah?

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
asyik asyik asyik... i lop u pull mi  [jumpy] [jumpy] [jumpy]

akhirnya di updet juga ma mami  [clap] [clap] [clap] [clap]

 [heh] [heh] [heh] selesai sudah...

thenk u mi buat updetannya yah...  [arms] [arms] [cheekkiss] [cheekkiss] [huglove] [huglove]

pertanyaan pertama mi... ada m verz nya gak mi...? [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [on] [on] [on] mau dunk kalo ada...

ada my everything yang ke 3  gak mi....? adain dunk mi...  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

kaget juga waktu jun pyo marah-marah...aku pikir gak setuju...tapi apa iya ...eh...ternyata enggak...  [laughing] [laughing] [laughing]

sapa sih mi lee jae min itu... apa yang unknown dulu itu...yang tanpa nama...? yang ngembaliin tas atau dmpetnya si Jun di dulu itu...? siapa sih mi... penasaran ...  [chin] [chin] [chin]
iya si jaemin tuh unknown yg ngembaliin dompetnya jundi [hmpfh]

virna, apanya yg kentang. wong udah sampai ke adegan puncak itu [laughing] [laughing]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Kentang mi,abis bentar..mana kecepetan gitu dah sampe puncak wkwkwk
Ayo mi bikin mvers...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Kentang mi,abis bentar..mana kecepetan gitu dah sampe puncak wkwkwk
Ayo mi bikin mvers...
sebenarnya ga kecepatan. mereka melakukannya udah sampai satu jam  kok cuma ga gw ceritain aja [hmpfh] [hmpfh]

 [nono] [nono] mvers whistling

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline aisshin

  • Senior
  • ****
  • Posts: 875
  • cute LEADER SNSD ! ^^taeyeon^^
  • Location: sidoarjo
    • View Profile
yah, kok cuma spoiler mi ? [dry] [dry]
update donk..
udah gw blg lum selesai,, gimana sih [head break] [head break]
wakakakakakak [laughing] [laughing]
piis mi  [sweat]
tp, kpn updatenya mi ?
*moga2 aja malem ini* [hmpfh]

BAIFERN & MARIO [lovestruck]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
yah, kok cuma spoiler mi ? [dry] [dry]
update donk..
udah gw blg lum selesai,, gimana sih [head break] [head break]
wakakakakakak [laughing] [laughing]
piis mi  [sweat]
tp, kpn updatenya mi ?
*moga2 aja malem ini* [hmpfh]
yeee kan udah diupdate di atas [sweat] elu gimana sih hammer2 udah tamat masih diminta updatean [dry]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
horeeeeee  [clap] [clap] [clap]

mami selamat, ada jg ff mu yg tamat  [biggrin]

mam, kok ga diceritain kelanjutan hubungan edys ama shin hye? bukannya 2 sahabat ini lagi cekcok  [chin]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
horeeeeee  [clap] [clap] [clap]

mami selamat, ada jg ff mu yg tamat  [biggrin]

mam, kok ga diceritain kelanjutan hubungan edys ama shin hye? bukannya 2 sahabat ini lagi cekcok  [chin]
ga say. mereka udah berbaikan kok. kan shinhye blg kalau dia ga marah lg ama edys. dia cuma perlu waktu utk menenangkan diri. jd mereka udah berbaikan kok. ga usah diceritain deh, kalian kan udah bisa menangkapnya. bener ga [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
 [clap]akhirnya di update juga. Yaaahhhh da final toh mi. Setuju ama virna, kentang bgt si mi, ms da ampe puncak, kyknya emang butuh mverz mi, hehehe biar lebih afdol gt. My everything mo ada yg season 3 ya wah di tunggu yo, cerita jae min ama jundi ya, hehe. Segera direalisasikan ya mi, hehehe. Wdh hr ini para author lg baik hati, flowerpot juga da up date yg fabh,hehege.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho