Author Topic: Song of life last update chapter 20 (13 December 2010)  (Read 48256 times)

Offline goo meei

  • Full
  • ***
  • Posts: 404
  • i love MINSUN
  • Location: denpasar
    • View Profile

hai sist ai [bye] [bye] [bye] [bye]
kapan mau di update? jangan lama2 ya aku kan setia menunggu [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
oya sist gimana ya caranya nambahin foto profil? maklum gaptek hehehehe [on] [on] [on] [heh] [heh] gomawo

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

hai sist ai [bye] [bye] [bye] [bye]
kapan mau di update? jangan lama2 ya aku kan setia menunggu [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
oya sist gimana ya caranya nambahin foto profil? maklum gaptek hehehehe [on] [on] [on] [heh] [heh] gomawo
profile-->forum profile information-->i have my own pic (apabila kau punya link piku yg udah diupload)/i will upload my own pic (upload langsung dari kompi mu [biggrin] ) ..
selamat mencoba [bye] [bye]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline gantang ricky prabowo

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • i know you so well
  • Location: JAKARTA
    • View Profile
kak ai.....
update donk.  [sweat]
Hidup sukses, bahagia dunia khirat, membahagiakan orang banyak, bermanfaat untuk agamaku amin ya allah..

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
kak ai.....
update donk.  [sweat]


 [arms] [arms] [arms] [arms] kangen juga ma dirimu om... [hmpfh] [hmpfh] ok om...diusahakan segera...  [biggrin] [biggrin]... untuk semuanya...ai sedang usahakan segera... tinggal dikit lagi...epilognya... [lovestruck] [lovestruck]


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
kak ai.....
update donk.  [sweat]


 [arms] [arms] [arms] [arms] kangen juga ma dirimu om... [hmpfh] [hmpfh] ok om...diusahakan segera...  [biggrin] [biggrin]... untuk semuanya...ai sedang usahakan segera... tinggal dikit lagi...epilognya... [lovestruck] [lovestruck]


berarti update hari ini dong [hmpfh] [lovestruck]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
betul...betul...betul.... [smiley-dance013] [clap] [clap] [clap] [flowers]

fara

  • Guest
Uyeay ai mau update song of life [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Offline gantang ricky prabowo

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • i know you so well
  • Location: JAKARTA
    • View Profile
kak ai...
i miss you too  [arms] [arms] [arms] [hmpfh]
so miss your FF too.  [smiley-dance013] [smiley-dance013]
Hidup sukses, bahagia dunia khirat, membahagiakan orang banyak, bermanfaat untuk agamaku amin ya allah..

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Sengaja ngalong nungguin ni fanfic diupdate [sweat] ternyata blom diupdate [sweat] [sweat]

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Akan tetap setia menunggu [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Sengaja ngalong nungguin ni fanfic diupdate [sweat] ternyata blom diupdate [sweat] [sweat]

ya ampun say... dirimu menanti ampe ngalong gitu... maaf banget ya say belum bisa untuk minggu ini... tapi kalau bisa segera... waduhh... mami juga salah sangka ternyata... maaf ya mi... di  [guns] [guns] ma mami *piisss mi* [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]  [hmpfh] [hmpfh]

tapi ai janji... ai usahakan segera say... tinggal dikit lagi... bneran dikit lagi... cuman gak diminggu ini... mian...mian...

makasih banyak...  [cheekkiss] [cheekkiss]

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
ai salam kenal ya.... [hug]
aku kira hari ini akan di update [chin]
kira2 kapan ya sist dah kangen nih mau baca kelanjutan ceritanya...daku kangen ama En kyu [hmpfh]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Chapter 19


Gelap malam masih menyelimuti. Hye na membuka matanya perlahan, terbangun dengan senyum terkembang di wajahnya. Ditatapnya seseorang yang tidur disisinya, lelap, memeluknya, mendekapnya dalam dada bidangnya. Hye na tertidur dalam pelukannya. Di balikkan tubuhnya, menghadap orang itu.

“Lee Jung min… suamiku…milikku…”kata Hye na pelan, tersenyum menatap Jung min, menyentuh wajah Jung min dengan telunjuknya, dan menelusurinya hingga akhirnya mencapai bibir padat Jung min. Dirasakannya kelembutan dan kepadatan bibir Jung min. Rasa gemas menyelimutinya, Hye na mengangkat wajahnya perlahan kemudian di kecupnya bibir yang padat itu pelan, tidak ingin membangunkan pemiliknya, namun setelahnya, Jung min terlihat tersenyum, sambil terus memejamkan matanya dan tiba-tiba menarik Hye na, memeluknya lebih mendekat kepadanya.

Hye na tersenyum, membalas pelukan Jung min padanya. “kau sudah bangun…”tanya Hye na dalam pelukan Jung min “ahni… aku tidak akan bangun… aku tidak ingin semua ini berakhir…”jawab Jung min, tersenyum dan masih memejamkan matanya.

“ausssshhh…”Hye na mengeluh pelan “tapi bukankah kau harus bekerja pagi ini…”

“iya… itu masih nanti… ini pukul 3 pagi sayang…”

Hye na diam, menatap Jung min tersenyum“… kalau begitu tidurlah… mau aku buatkan sarapan…?”
Jung min membuka matanya tiba-tiba menatap Hye na, senang. “benarkah…?!? baiklah… sudah lama kau tidak masak…”

Hye na tersenyum, menatap Jung min aneh “mwo…? Lama… benarkah…? kapan tepatnya…?”

“2 bulan… 2 bulan yang melelahkan dan menyedihkan…”jawab Jung min menatap Hye na dalam

“benarkah…selama itu…”

“ne… saat itu kau benar-benar membuatku sangat sedih…”

“ooowww…” Hye na menatap Jung min prihatin dan mengusap kepalanya lembut. “maafkan aku kalau begitu… “

“saat itu kau benar-benar…ahhh…aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.. tapi saat itu kau hanya diam tanpa ekspresi dan terkadang tiba-tiba menangis dalam diam…dan itu yang membuatku semakin sakit…”

Hye na diam, menatap Jung min, mendengarkan. Jung min mengalihkan pandangannya, menatap Hye na. “…aku benar-benar merindukan senyumanmu… dan aku bahkan berjanji akan melakukan apapun untuk mendapat senyum itu lagi…”

“lalu… kau mendapatkannya…?”

“…ne…aku sudah mendapatkannya…dan ternyata harus dengan bantuan laki-laki itu…”

“siapa…?’

“laki-laki yang kau bawa bersamamu…”

“siapa…” Hye na tersenyum menatap Jung min

“laki-laki itu…”

“laki-laki itu punya nama sayang…”kata Hye na, tersenyum manis menatap Jung min lembut, mengusap kepalanya penuh kasih.

Jung min menghela napas berat sesaat “hyu…hyu…hyung ku…” jawab Jung min. Hye na tersenyum menatap Jung min. “mianhe… jeongmal mianhe…”kata Hye na lirih, memeluk Jung min erat, yang kemudian dibalas sebuah pelukan tak kalah eratnya oleh Jung min.

“sekarang kau harus menggantikan hari-hari yang hilang dulu…kau harus memasak makanan kesukaan ku setiap hari…dan tidak!... ada !... bekerja dirumah sakit…”kata Jung min dengan menekankan beberapa kata yang harus Hye na tepati.

“mwooo…??? Aku harus tetap ke rumah sakit…”

“anhi…antwe… sebelum kesehatanmu benar-benar pulih… dan maksudku… benar-benar 100% persen baik…”

“tapi…”

“titik!!” Jawab Jung min tegas, tidak dapat di ganggu gugat lagi. Hye na mengerucutkan bibirnya sesaat, kemudian senyum terkembang diwajahnya. Hye na menghela napas pelan sesaat “baiklah…asal kau berjanji akan menerima Jung moon oppa di sini…”

Jung min diam sesaat, menatap langit-langit kamarnya. “tidak bisa secepat yang kau inginkan…”
Hye na tersenyum “akan ada banyak waktu sayang…”jawab Hye na, yang kemudian membenamkan kepalanya di dada bidang Jung min. keduanya terdiam sesaat “…jadi…apa yang kau inginkan untuk sarapanmu pagi ini…”tanya Hye na kemudian.

Jung min bangkit dari ranjangnya, dan duduk di sisi Hye na, bersandar di sandaran tempat tidur, berpikir, seperti anak kecil yang ditawari beberapa mainan untuk dipilihnya salah satu.

“aku ingin….eerrrrmmm….” Jung min diam, berpikir. Hye na menunggu “ahhhh!!!” Jung min berseru tiba-tiba, menatap Hye na tajam “waeyo…?”

“aku ingin…. Memakanmu…”seru Jung min yang tiba-tiba menelungkupkan selimut mereka, menutupi tubuh keduanya.

“aussshhh… kau…”Hye na tiba-tiba membuka bagian selimut yang menutupinya “ kita baru saja…” kata-kata Hye na terhenti karena tiba-tiba Jung min menariknya kembali masuk kedalam selimut

“auuussshhh… kacha… kau yang membuatku begitu rindu ingin menyentuhmu… dan sekarang akan kulakukan…sampai aku puas…”menatap Hye na yang sudah berada di bawahnya, berjanji.

“tapi…”

“aiissssshhhh… kacha…”kata Jung min, menatap Hye na bergairah dan membuat bagian sensitive  dada Hye na menjadi korbannya pertama kali. Hye na melenguh keras saat dadanya di terkam Jung min, dijilati dan digigitnya pelan, gemas.

“akkhhh!!! Jung…apho…” baru saja beberapa jam yang lalu Jung min membuatnya memerah dan Hye na masih merasakan sakitnya.

“apho…?”

“ne… sangat… “

“kalau begitu aku ketempat lain saja…”

“tapi… akhhhhh!!!” desah Hye na kemudian saat tiba-tiba Jung min menelusupkan kepalanya di antara paha Hye na dan mulai menjamah daerah sensitivnya yang masih terasa sangat sensitive karena perlakuan Jung min pada daerah itu beberapa jam sebelumnya.

“aku… akhhhh… Jung… hent… akhhhh… cukup….” Desah Hye na saat Jung min mulai menjilati bagian sensitive itu

“mwo…? Aku belum selesai… jadi aku tidak akan menghentikannya…”

“tapi… akkhhhhh…. Aku mohon… aku akkkkhhhh…”Hye na sudah tidak sanggup mengatakan apapun lagi, hanya desah keras yang tercipta saat dia mulai berkata-kata. “akkkhhhh…. Aku mohon… “

Jung min mengangkat wajahnya menatap Hye na yang memejamkan matanya, menahan gairahnya. “ ada apa sayang…”kata Jung min menatap Hye na dan memberinya kecupan ringan dibibirnya. Hye na mendesah lirih saat Jung min mengecupnya. Perlahan Hye na membuka matanya dan ditatapnya Jung min sayu. Jung min mengrcup seluruh bagian tubuh Hye na, menurun hingga ke bagian dimana semua kenangan buruknya berada. “lukamu…”gumam Jung min pelan namun masih dalam batas pendengaran Hye na.
Hye na diam, menatap Jung min, ditariknya tubuh Jung min mendekat hingga keduanya saling menatap. “gwenchana…?”tanya Jung min.

“ne… gwenchanayo…”

“melihat luka ini membuka kenangan lama yang baru saja terlewat…”tambah Jung min, yang kemudian menurunkan wajahnya dan mengecup luka Hye na lembut.

“…kita punya tanda luka yang sama sayang…”kata Hye na kemudian, menggigit bibirnya menahan rasa saat Jung min mengecup lembut lukanya dan menelusurinya. Jung min tersenyum menatap Hye na, kemudian bangkit, dan menunjukkan lukanya pada Hye na “luka ini…yah… karena kecerobohanku… maafkan aku sayang… maaf…”kata Jung min kemudian, memeluk Hye na, membenamkan kepalanya di tengkuk Hye na hangat.

“boleh aku lanjutkan…”tanya Jung min menatap Hye na dalam, berharap

Hye na menatap Jung min diam, kemudian perlahan  Hye na menganggukkan kepalanya, menyetujuinya.
Jung min tersenyum senang, kemudian dengan cepat ia mendaratkan ciumannya lagi ke bibir mungil Hye na dan mulai bertindak lebih agresif lagi. Jung min mulai menjelajahi kedalam mulut Hye na dengan lidahnya, mengecap lidah Hye na kuat, membawanya masuk kedalam mulutnya. “akkhhhhh…” Hye na berdesah, menahan kenikmatan yang menerjangnya.

“hmmm… sayang…”

Hye na membuka matanya, menatap Jung min. “benarkah tidak apa-apa… kita baru saja melakukannya…”tanya Jung min lagi.

Hye na tersenyum “bukankah kau yang menginginkannya… aku hanya menurut, tapi jika kau tidak mau… aku tidak memaksa… aku juga akkkhhhhh!!!” seru Hye na tiba-tiba saat Jung min menyurukkan kepalanya ke dada Hye na, dan menjelajahi tempat yang masih sangat sensitifnya bersamaan antara meremas dan menjilatnya.

“baiklah… aku lakukan…. sekarang…”kata Jung min terbata-bata, menahan gairahnya yang semakin memuncak.

“akkkhhhh...” desah Hye na dan Jung min bersamaan saat keduanya merasakan kenikmatan itu merajai diri mereka lagi. kenikmatan yang baru saja di rengguk keduanya beberapa jam yang lalu

********
3 bulan kemudian…

Pagi yang indah dan cerah kembali datang. Hye na terlihat tengah menata banyak makanaan yang tertata diatas meja makan seperti biasanya. Hampir semua yang ada disana Hye na yang memasaknya. Hampir 4 bulan terlewati sejak Hye na keluar dari rumah sakit dengan membawa bekas luka panjang di perutnya. Sejak saat itu Hye na sudah dapat melakukan tugas-tugasnya kembali. Ia masih dapat menyiapkan segalanya sebagai seorang ibu, menemaninya sebagai seorang istri, memberi berbagai saran sebagai seorang teman dan bermanja padanya bagai adik baginya. Hanya saja dalam batasan tertentu, karena Jung min memberi batasan padanya, untuk semua yang dilakukannya.

Kegiatannya dirumah sakit, tidak sama dengan yang dilakukan di rumah. Jung min melarang Hye na untuk bekerja sebelum keadaannya benar-benar pulih, tapi sekali lagi, Jung min kalah terhadap kekerasan hati Hye na bila berhubungan dengan rumah sakit ataupun orang lain. Terkadang Hye na mencuri waktu untuk kembali kerumah sakit, dan setelahnya bila Jung min marah, maka Hye na akan mengeluarkan jurus andalannya, dan Jung min akan segera memaafkannya. Jung min tidak akan sanggup marah lama pada Hye na saat Jung min menatap senyum manis terbentuk di wajahnya.

Jung min tersenyum. Pagi tiba dan sarapan pagi yang tidak pernah bosan dan selalu dirinya tunggu akhirnya datang. Saat itu Jung min sama sekali tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya. Saat itulah dimana ia dapat merasakan kehadiran keluarga yang sebenarnya. Keluarga yang ia buat sendiri. Keluarga kecil miliknya dan Hye na. Jung min tersenyum menatap Hye na yang tengah menyibukkan dirinya dengan berbagai hal untuk menyiapkan sarapan mereka.  Namun senyum itu hanya beberapa saat muncul di wajahnya, dan kemudian senyum itu musnah.

Jung min menatap diam, marah pada seseorang dihadapannya, dimana Jung moon dan En kyu duduk bersisian di meja makan. Hye na diam menatap Jung min bingung dan menatap kearah kemana Jung min menatap.



Hye na diam, kemudian senyum tersungging di wajahnya.

“ayo duduk… kau sudah berjanji padaku…” ajak Hye na, menatap Jung min serius. Jung min mengalihkan pandangannya menatap Hye na. Keduanya terdiam. Tak lama Jung min beranjak dari tempatnya berdiri meninggalkan Hye na. “YYA!! Lee Jung min!!” panggil Hye na berseru, dan berhasil menghentikan langkah Jung min, namun tidak berhasil membuat Jung min membalikkan tubuhnya ataupun kembali ketempatnya. Jung moon tersenyum lebar menatap itu.

Hampir 3 bulan Jung moon tinggal bersama keduanya dan En kyu. Dengan sikap dingin yang ia dapatkan dari Jung min, ia mencoba untuk bertahan karena Hye na memintanya untuk bertahan. Dan bujukan Hye na berhasil. Jung moon bertahan. Dan terus mencoba bertahan di tengah sikap dingin dan ketus Jung min. Tapi dia tahu, dia tidak akan pernah melupakan bagaimana tingkah dan sikap Jung min dulu.

Hampir separuh hidupnya, Jung moon tinggal dengan Jung min, jadi apapun itu, hal sekecil apapun tentang Jung min, dia memahaminya. Dan senyum itu masih terlihat di wajahnya saat menghadapi Jung min. Ia semakin terbantu saat ia melihat senyum manis Hye na kapanpun ia inginkan, tepat saat ia merasa akan menyerah. Senyum itu berhasil membuat dia melupakan semua hal yang menyakitkan bagi dirinya. Dan kesehatannya… berangsur membaik.

 “auussshhh… sampai kapan kau akan begini… 2 bulan yang lalu… sebulan…dua minggu… dan seminggu yang lalu kau sudah berjanji.. dan semalam kau berjanji lagi tapi…” kalimat Hye na terhenti, Hye na tiba-tiba menyentuh kepalanya, menopang tubuhnya di sandaran kursi, dan menatap Jung min, bingung terhadap keadaan dirinya yang tiba-tiba berubah drastis.

“gwenchana…?”tanya Jung moon tiba-tiba, berlari menghampirinya dan menatapnya, menopang tubuhnya.
Kali ini Hye na berhasil membuat Jung min membalikkan tubuhnya, membuat Jung min terdiam ditempatnya, menatap semua itu kesal. Jung min menatap Hye na yang menekan perutnya dan menutup mulutnya. “gwenchana…?”tanya Jung min berjalan mendekat, begitu pula En kyu, menatap Hye na khawatir. Jung min memegang lengan kanan Hye na sedangkan Jung moon di lengannya yang lain. Jung min diam menatap itu, rasa kesal semakin merajainya.

“lepaskan…”seru Jung min tiba-tiba menatap Jung moon marah, namun Hye na yang mengalihkan pandangannya, menatap Jung min marah.

“ahni… tak apa…”kata Hye na, Jung min dapat melihat dan merasakan napas Hye na yang berderu cepat. Hye na mencoba bangun dan menyeimbangkan dirinya, namun tiba-tiba Hye na jatuh, pingsan., tak sadarkan diri. Jung min dan Jung moon dengan cepat menangkapnya dan menopang tubuhnya.

“Hye na..!!! gwenchana…?”tanya Jung min, meraih tubuh Hye na dari dekapan Jung moon, dan dengan cepat Jung min membopong Hye na dalam pelukannya dan membawanya ke kamar. Setelah dibukanya pintu kamarnya dengan keras, Jung min masuk dan dengan perlahan Jung min meletakkan tubuh Hye na diranjang.
Jung moon dan En kyu mengikuti langkah cepat Jung min, menatap Hye na khawatir “gwenchana..?”tanya Jung moon yang sama sekali tidak mendapat jawaban dari Jung min

“appa… ada apa… omma sakit lagi…? appa ada apa…?” tanya En kyu takut, menatap Hye na yang tengah tertidur dan diselimuti Jung min. Jung min mengalihkan wajahnya menatap En kyu “gwenchana… omma tak apa…”jawab Jung min lembut, dan mengacak rambut En kyu lembut. En kyu diam, menatap Jung min takut sekaligus sedih. Lama keduanya saling terdiam, hingga kemudian Jung min berdiri “bisakah… hyu…hyung… membantuku…”kata Jung min pada Jung moon tanpa menatap kearahnya.
Jung moon diam, menatap Jung min ti dak percaya. Keduanya diam. Jung moon tidak percaya sedangkan Jung min diam menunggu jawaban dari Jung moon.

“yya!!! Bisakah!!!???” seru Jung min kesal

“ne… tentu saja… apapun…”

“tolong hubungi dokter Kim segera…”kata Jung min cepat, tanpa menatap Jung moon yang berdiri tak jauh di belakangnya, menatap Hye na khawatir. “baiklah…” Jung moon berlalu pergi meninggalkan ketiganya.
Jung min diam menatap Hye na yang masih tertidur di tempatnya. En kyu merebahkan tubuhnya di ranjang, disisi Hye na, dan terus menatap kearahnya. “omma… bangun… gwenchana…?”tanya En kyu khawatir, mengusap kening Hye na yang berkeringat. Jung min tersenyum menatap itu “tak apa En kyu-aa… semuanya akan baik… jangan khawatir…”sahut Jung min mengusap kepala En kyu lembut.
 
En kyu mengalihkan pandangannya menatap Jung min. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca sekarang. “omma….appa…”ucap En kyu pelan, diantara isak tangisnya.

 *********

Park Joon diam menatap kosong jendela kaca ruangannya. Senyum terlihat terus terkembang di wajahnya setelah pertemuan itu. Ditatapnya ponselnya yang sedari tadi selalu menyita perhatiannya. Benar, ia tengah menunggu seseorang. Seseorang yang ternyata berhasil menggantikan posisi Hye na dihatinya sebelumnya. Posisi Hye na sebelum benar-benar menjadi seorang dongsaeng di hatinya.

Park joon diam, tersenyum kembali, tanpa menyadari kehadiran 2 orang yang juga menatapnya tersenyum, sampai akhirnya salah satu diantaranya berdeham.

“selamat pagi doronim…”sapa Pak Jeong kemudian membuat Park Joon membalikkan tubuhnya cepat, terkejut.

“oowww…. Aboji… pak Jeong….”

“apa yang kau lakukan…?”

“aaa….ahni…”

“…lalu apa yang membuatmu tersenyum seperti itu…”tanya tuan Han

Park Joon menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyumnya.



“ada apa sebenarnya…pak Jeong bisakah anda menjelaskannya padaku…”tanya Tuan Han lagi, menatap pak Jeong yang berdiri di belakangnya, mendorong kusir dorongnya maju lebih mendekat pada Park Joon.
Pak Jeong mengulum senyumnya sesaat, menatap Park Joon dan kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Tuan Han, untuk memberikan jawabannya lewat bisikan.

“ahhhh… ternyata… tapi bukankah hari ini ada rapat dengannya…”kata tuan Han kemudian setelah mendapat kejelasan dari pak Jeong

“nee… sepertinya tuan Park sangat antusias karenanya…sehingga…”

“pak Jeong…”Park Joon menghentikan perkataan pak Jeong, mendelikkan matanya menatap pak Jeong. Pak Jeong tersenyum, menundukkan kepalanya.

“baguslah kalau begitu… jadi… kau sudah siapkan materi rapat nanti…?”

“ne… semuanya sudah di siapkan…”

“bagus… karena appa akan ikut dalam rapat nanti…”

“mwo!!!???”

“ne…”

“tapi…”

“tak apa bukan…?”

Park Joon menundukkan kepalanya, menatap tuan Han dan pak Jeong bergantian sebelum akhirnya ia menghembuskan napasnya dan menyetujui keputusan appanya itu dan berarti membatalkan semua rencana yang sudah disusunnya.

Tuan Han tersenyum menatap Park Joon, menyimpan berjuta pemikiran dan satu rencana disana.

*********

Jung min menatap Hye na yang masih memejamkan mata di hadapannya. Hanya dirinya sekarang. Setelah dokter Kim datang dan memeriksa keadaan Hye na. Jung min meminta hyungnya untuk membawa En kyu pergi. Jung min tidak mau kehadiran En kyu akan mengganggu Hye na ataupun keadaan Hye na yang akan membuat En kyu semakin khawatir dan terus menangis.

Flashback

Jung min diam, menatap dokter Kim yang tengah memeriksa keadaan Hye na. Suasana hening saat itu. En kyu juga mencoba untuk bersikap tenang setelah banyak kalimat keluar dari mulutnya karena rasa khawatir. Jung min diam, menatap En kyu kemudian hyungnya. Di hembuskan napasnya pelan “hyu…hyung…”panggil Jung min tiba-tiba. Jung moon diam di tempatnya, belum menyadari panggilan Jung min.

“hyung…”panggil Jung min lagi. dan kali ini berhasil membuat Jung moon mengalihkan pandangannya  menatap Jung min diam sekaligus terkejut.

“ne…kau memanggilku..?”tanya Jung moon tidak percaya
Jung min diam “bisakah kau membawa En kyu jalan-jalan… aku tidak ingin membuatnya khawatir…”kata Jung min, pelan.

Jung moon diam, menatap Jung min sesaat kemudian senyum terlihat terkembang di wajahnya “ya… aku akan membawanya keluar…”

“gomawo…” jawab Jung min lirih, hampir tidak terdengar dan kembali berdiri disisi dokter Kim.
Jung moon pergi membawa En kyu “kita mau kemana… En kyu ingin menemani omma… En kyu…”

“kita beli es krim En kyu…

“ahni… En kyu ingin menunggu omma disini…”

“kita beli untuk omma juga… bagaimana…?” bujuk Jung moon, menatap En kyu, tersenyum, menunggu

“…appa juga…”

“ne… appa juga…” kata Jung moon, yang kemudian menggandeng tangan En kyu dan membawanya keluar.

Jung min diam, menatap dokter Kim, menunggu apa yang akan dikatakannya dan kemudian senyum terlihat terkembang di wajah dokter Kim. “bagaimana keadaanya dok…?”tanya Jung min, khawatir sekaligus penasaran dengan senyum yang terlihat di wajah dokter Kim

“semuanya baik… tidak ada masalah… lukanya juga tidak apa-apa… luka itu sudah hampir benar-benar sembuh… hanya…”

“…hanya apa dok… kenapa… apa yang terjadi…”tanya Jung min khawatir

Dokter Kim terlihat terdiam menatap Jung min, bingung “…bukankah ini pengalaman kedua mu… kenapa kau belum mengerti juga…”

Jung min diam, masih bingung dengan perkataan dokter Kim “ada apa dok…aku… sebenarnya… apa…” Jung min menghentikan perkataanya, menatap dokter Kim tidak percaya, dan mulai mengerti maksud dokter Kim “oohh…benarkah…?!?”tanya Jung min tidak percaya.

Dokter Kim tersenyum, menatap Jung min tersenyum, menganggukkan kepalanya, seakan mengetahui apa yang belum Jung min ucapkan dan membenarkan apa yang dimaksud oleh Jung min “..ne… benar… Hye na… hamil… dia hamil…dan kemungkinan usianya sudah hampir 12  minggu”tambah dokter Kim, meyakinkan Jung min.
Jung min tersenyum menatap Hye na. Ia tidak menyangkanya “terima kasih banyak dokter Kim… terima kasih banyak…”

Senyum Dokter Kim tiba-tiba menghilang. Jung min mencium sesuatu yang salah disana “kenapa dok…?”tanya Jung min, menatap serius dokter Kim.

Dokter Kim menarik napasnya dalam “…kali ini kau benar-benar harus menjaga kandungannya… jangan biarkan Hye na melakukan pekerjaan yang berat dan membuat dirinya kelelahan… jangan biarkan dia tertekan dan berpikir terlalu keras… karena semua itu dapat mempengaruhi janinnya…”

Jung min diam mendengarkan “…setelah kejadian yang lalu… kandungannya lebih lemah dari sebelumnya… tapi itu tidak akan banyak mempengaruhi janinnya…jika emosi ibunya terjaga dengan baik…buat dia senang… jangan sampai dia bersedih…”

“baik dokter…”

“dan satu pesan untukmu… emosinya akan lebih labil dari sebelumnya… jadi bersabarlah dan tetap bertahan… jangan sampai membuat Hye na tertekan dan sedih…turuti apapun yang kau pikir tidak berat untuknya dan akan membuatnya senang…”

End Of Flashback

Jung min tersenyum menatap Hye na, mengusap kepalanya lembut “bangun sayang… bangun…ada kabar yang menggembirakan untuk kau dengar… ayo bangunlah…”kata Jung min lirih. Namun Hye na masih memejamkan matanya. Jung min menggenggam jemari Hye na lembut dan menempelkannya ke pipi Jung min

“bangun sayang…”panggil Jung min lagi.

Ketukan cepat terdengar, membuat Jung min mengalihkan pandangannya, namun Jung min masih diam ditempatnya, tidak menghiraukannya.

“Jung min-aa…Hye na…”panggil seseorang itu kemudian. Jung min bergegas bangkit kemudian setelah menyadari siapa yang datang.

“ooohhh… nak… benarkah semua itu… benarkah…? omma baru dengar…”ucap Kang Hye Young sedih, menatap sang anak prihatin kemudian mengahmbur ke dalam pelukannya. “maafkan omma dan appa… tidak bisa bersamamu saat itu… sekarang bagaimana keadaan menantu omma… apa baik…dia baik-baik saja…oh… pasti tidak… dia sangat terpukul bukan…? Bagaimana keadaaannya…? Ohhh… omma mengerti… pasti tidak baik… omma tahu bagaimana rasanya kehilangan buah hati yang sudah lama ditunggu…. Omma…huhuhuhu…” omma Jung min menangis dalam pelukan Jung min yang masih diam di tempatnya.

“tenanglah omma…semuanya sudah membaik… Hye na tak apa…”

 “lalu dimana menantu omma…?” kata Kang Hye Young mengusap air matanya yang muali menetes
Jung min mengarahkan pandangannya pada Hye na yang masih tertidur diranjang, dan kemudian Kang Hye Young mengikuti arah pandangannya. Dengan cepat Kang Hye Young berjalan mendekat, menatap Hye na penuh kasih dan mengusap kepalanya lembut “…ada apa dengan Hye na… kenapa dia…?” ibu Jung min menatap sang anak, takut sekaligus penasaran.

“dia tak apa omma… dokter Kim baru saja memeriksa keadaannya…”

“jeongmalyo…?”

“ne omma… semuanya baik… bahkan dia akan memberikan cucu lagi pada omma…”jawab Jung min, tersenyum lembut menatap Hye na.

“benarkah…?”tanya omma tidak percaya, menatap Jung min.

“ne… dokter Kim baru saja mengatakannya…”

“ohhh… syukurlah… omma senang mendengarnya…dan…”

“halmooniiiii…..!!!!” panggil En kyu tiba-tiba menghentikan kalimat Kang Hye Young yang kemudian mengalihkan pandangannya, menatap En kyu tersenyum. “ooohhh… cucu halmoni…”kata Kang Hye Young tersenyum lebar senang menatap En kyu dan membentangkan tangannya lebar, memeluk En kyu erat.

“En kyu rindu sekali…”

“halmoni juga… “

“ahhh… halmoni…En kyu sedih…”

“mwola…kenapa..apa yang membuat En kyu sedih…?”

“omma… dia sakit lagi…”jawab En kyu menundukkan kepalanya.

“tak apa sayang… omma baik-baik saja…dan darimana cucu halmoni ini…? Dan apa yang…”

“…omma…” panggil seseorang tiba-tiba, membuat Kang Hye  Young  mengalihkan perhatiannya dari En kyu dan menatap seseorang itu. Keterkejutan yang sangat terlihat di wajahnya, ketika ditatapnya seseorang yang sangat dirindukannya, walaupun tidak pernah ia katakan kerinduannya itu namun tidak dapat dipungkiri air mata mulai jatuh perlahan, mengalir dipipinya.

“…Jung…Jung moon…”kata Kang Hye Young lirih, membekap mulutnya, tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya, dan sama sekali tidak menyangka.

“…omma… aku pulang…”sapa Jung moon, tersenyum menatap ibunya itu.



“ooohhh… nak… benarkah ini dirimu…? Jung moon… Lee Jung moon ku… benarkah…ooohhh…”
Jung moon tersenyum menatap ommanya itu. “ ne omma… ini aku…”kata Jung moon yang kemudian membentangkan lengannya, menatap ommanya.

“ooohhh….omma sangat merindukanmu…”kata Kang Hye Young, menghambur, memeluk Jung moon. “omma sangat rindu… rindu…rindu sekali…” tambah Kang Hye Youg dalam pelukan Jung moon.

“…ne omma… begitu pula denganku… maafkan aku omma… selama ini pergi tanpa memberi kabar dan…”

“tak apa sayang… tak apa… omma yang minta maaf tidak bisa membuatmu bertahan di rumah…maafkan omma…”

Jung moon diam, tersenyum dan membawa sang ibu kembali ke pelukannya dan memeluknya erat. Jung min diam menatap itu, kemudian senyum tipis tersungging di bibirnya.

Hanya sesaat adegan itu berlangsung. Kembali utuhnya sebuah keluarga, tiba-tiba terpecah oleh seseorang.
“uuuhhhh…” gumam Hye na pelan, terbangun dari pingsannya dan membuat semua orang diruangan itu menatapnya, dan menghambur mendekat. “Hye na… kau bangun!!!”seru Jung min, duduk disisi Hye na dan menggenggam jemarinya kuat.

“ahhh…apa yang terjadi…?”tanya Hye na, menatap Jung min “…omma…kapan…akkhhh…” kata Hye na yang berusaha bangkit dari ranjang setelah ditatapnya sang mertua tengah di sana, menatapnya tersenyum.
“tenang dulu sayang… tak apa… berbaringlah…”kata Kang Hye Young kemudian menyentuh pundak Hye na, membuatnya merebahkan tubuhnya lagi.

Hye na kembali tidur, ditatapnya semua orang diruangan itu, rasa penasaran muncul di hatinya “ada apa…? Semuanya baik bukan…?”

“…omma tak apa…? Omma membuat En kyu khawatir…”kata En kyu yang kemudian berlari ke ranjang dan memeluk Hye na erat.

Hye na tersenyum “maaf kan omma sayang… bukan maksud omma…tapi…apa semuanya baik… kenapa…?”kata Hye na sambil mengusap kepala En kyu sayang, penuh penyesalan, kemudian ditatapnya semua orang lalu berhenti pada  Jung min. Hye na menatapnnya dengan sebuah pandangan penasaran, bingung.

 Semua terdiam, menatap Hye na, tidak ada yang berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Membuat Hye na terdiam, dengan sejuta rasa penasarannya “ada apa…?”tanya Hye na lagi yang kini menatap Jung min.
“ayo…En kyu ikut halmoni… halmoni membawakan banyak mainan dari haraboji…”

“jeongmalyo…?”

“ne… ayo…dan…Jung moon…banyak yang ingin omma dengar dari dirimu…”

**********

“anyong…”sapa seseorang, tersenyum dan masuk kedalam sebuah ruangan dimana sudah dipenuhi oleh beberapa orang yang mengelilingi sebuah meja panjang dengan sebuah berkas dihadapannya. Semua orang mengalihkan padangannya menatap wanita cantik yang berdiri di pintu dan menunggu wanita itu masuk kedalam, tak terkecuali seseorang yang tiba-tiba bangkit dari tempatnya saat wanita itu beranjak masuk dan duduk dihadapannya. Orang itu terlihat menatap wanita itu diam, tak berkedip.

“maaf tuan Han… tuan park dan semuanya karena saya terlambat…”

“ne… tak apa nona Goo… duduk lah… rapt akan segera kita mulai…”

“khamsamnida…” jawab Eun Jo, tersenyum lebar menatap pak Jeong yang saat itu akan membuka rapat itu.



“silahkan duduk tuan Park… kita akan mulai rapatnya…”kata pak Jeong, menyentuh pundak Park Joon yang berada disisinya membuatnya terkejut dan dengan cepat duduk kembali ke tempatnya.

Rapat dimulai, saat itu tuan Han dapat melihat segalanya. Park Joon terlihat sangat berbeda saat itu. dihadapan Goo Eun Jo, Park Joon tidak dapat menyembunyikan semuanya. kegugupan dan rasa gelisah terlihat jelas di wajahnya, membuat tuan Han menyimpan senyumnya. Tuan Han tersenyum. Dia harus melakukan sesuatu. Kebahagiaan juga harus didapat oleh anaknya itu.
Tuan Han menatap Park Joon dan Goo Eun jo bergantian, menyusun rencana.

*******

“makan malam…?”

“ne… tuan Han mengundang anda untuk makan malam bersamanya akhir pecan besok di mansionnya… dia juga akan mengundang Hye na dan menantunya…” kata pak Jeong, mengutarakan maksudnya, setelah rapat selesai.

“ Hye na… berarti ini makan malam keluarga… apa tidak apa-apa…?”

“ne… tuan sendiri yang meminta anda untuk hadir…”

“tapi…”

“Han Boung Yo-nim sangat mengharapkan kehadiran anda Goo agashi…” tambah Pak Jeong semakin menegaskan.

Eun Jo diam, ditempatnya berpikir, dan sesekali menatap pak Jeong, mencari sesuatu disana. entah sebuah keseriusan atau maksud yang lain. Apapun itu, tapi…

“baiklah…aku akan datang… tapi benarkah tak apa… bukankah semua yang diundangnya adalah keluarganya… apa kehadiranku tidak akan mengganggu…”

“ahni… bukankah saya sudah bilang… tuan Han sangat mengharapkan kehadiran anda… jadi saya mohon anda untuk datang…”

Eun Jo diam lagi, ditatapnya pak Jeong diam, dan… “…baiklah…aku akan datang…”

“ne… terima kasih banyak…” kata Pak Jeong, kemudian, tersenyum senang

Eun Jo membalas senyumannya dan membungkukkan tubuhnya sesaat “…kalau begitu saya pamit pak Jeong…”

“ne… terima kasih banyak agashi…”kata pak Jeong lagi, senang

“ne…”tambah Eun Jo, menatap pak Jeong aneh, sesaat sebelum akhirnya Eun jo benar-benar meninggalkan tempat itu.

*******

Hye na menatap Jung min yang duduk dimeja kerjanya, menatap dan membaca berkas dihadapannya satu persatu dengan  serius. Keheningan tercipta diantaranya, yang terdengar hanya bunyi lembaran kertas yang terbuka beradu dengan lembaran yang lain, menciptakan bunyi. Sudah hampir 2 jam Hye na di ranjang, menatap Jung min. Sudah 2 jam pula Jung min tidak memperbolehkan dirinya melakukan apapun bahkan hanya sekedar bangkit dari ranjang. Hye na hanya dapat membaca buku ringan yang diberikan Jung min padanya, yang kini sudah habis ia baca. Hye na menarik napas dalam dan menghembuskannya. Rasa bosan menyerangnya. “sayang… aku ke yayasan ya…”kata Hye na kemudian, memecah keheningan diantara keduanya.

Jung min menghentikan pekerjaannya dan menatap Hye na tajam, dengan cepat Hye na menundukkan kepalanya, mengerti maksud Jung min. Hye na mengerucutkan bibirnya, dan semakin menundukkan kepalanya, tanpa mengetahui senyum lebar yang terkembang di wajah Jung min. “…aku…bosan…”gumam Hye na pelan. Jung min mendengarnya, namun ia masih diam, dan kembali melakukan pekerjaannya.

“sebenarnya ada apa…kenapa kau melarangku untuk melakukan apapun… apa yang terjadi…? Dan…” Hye na terdiam sesaat, mencari sebuah pembelaan yang lain untuk dirinya .“…kau…kau… kenapa tiba-tiba membawa pekerjaanmu ke rumah. Suatu hal yang tidak pernah kau lakukan…” keluh Hye na, menatap Jung min tajam, mencari dan menanti sebuah alasan.

Jung min mengalihkan pandangannya lagi pada Hye na, menatapnya dalam, dan kemudian senyum terlihat diwajahnya. Jung min meletakkan berkas ditangannya dan dengan langkah pelan ia berjalan mendekati Hye na.

“…kau bosan sayang…?”tanya Jung min yang dengan anggukan cepat dan lebih dari sekali dari Hye na “…jika kau merasa bosan…maka…aku takut…”kata Jung min.

“takut…? Waeyo…?”

Jung min diam, menatap Hye na dan membelai kepalanya lembut, kemudian tatapannya beralih ke perut Hye na, membuat Hye na menatap bingung Jung min “…ada apa… lukaku sudah membaik dan kau tidak perlu khawatir tentang itu…”

Jung min tersenyum, mendengar perkataan Hye na. Hye na memang belum tahu tentang kehamilan dirinya. Jung min tahu, Hye na akan sangat senang mendengar kehamilannya namun Jung min ingin membuat Hye na bahagia terlebih dahulu sebelum mengatakan semuanya. Sebuah cara yang akan Jung min lakukan di kehamilan Hye na yang kedua yang belum pernah Jung min lakukan di kehamilan Hye na yang pertama.

“waeyo… kau kenapa…”tanya Hye na lagi.

“…apa kau belum menyadarinya…?”

Hye na memiringkan wajahnya, menatap Jung min bingung.  “apa…?” Jung min membalas tatapan Hye na diam “…ahh sudahlah… “kata Jung min akhirnya

Hye na diam, bingung dengan sikap Jung min. Jung min terlihat membereskan semua berkas di meja kerjanya “kau bosan bukan…? Kalau begitu… kita ke yayasan…” kata Jung min akhirnya. Hye na tersenyum lebar mendengar itu, menatap Jung min dan menghambur dalam pelukannya.

“gomawo sayang… gomawo…”kata Hye na

“…tapi…” kata Jung min kemudian, membuat Hye na melepaskan pelukannya, menatap Jung min “apa…”tanya Hye na, tidak menyangka ada tambahan syarat dari suaminya itu.

“tidak melakukan apapun… tidak ada main-main atau melakukan sesuatu dengan anak-anak itu…”

“mwo?!?! YYA!!!...”

“titik… bersiaplah… En kyu juga selalu mengajakku untuk mengantarkannya kesana…”

“tapi…”

“titik”

“auussshhhh…”

“mau tidak…?”

Hye na diam, menggembungkan mulutnya sebal, kemudian segera bergegas untuk bersiap.



**********

Jung min menatap En kyu dan Hye na yang sudah duduk di tempat masing-masing, tersenyum. Hari itu ia serasa memiliki 2 anak. Satu anak yang sangat lucu dan terkadang merepotkan bila sudah mulai penasaran dan banyak bertanya dan satu anak yang membutuhkan pengawalan ketat darinya. Kali ini Jung min yang menjabat sebagai supir untuk keduanya. Dan kali itu, mereka pergi tanpa adanya Jung moon. Jung moon masih ingin menghabiskan waktunya bersama ommanya. Ia sangat merindukan ommanya itu.

“En kyu… pakai sabuk pengamanmu…”kata Jung min, menatap En kyu yang duduk di kursi belakang.  “dan kau…”kata Jung min yang tiba-tiba menjulurkan tubuhnya, dan mengaitkan sabuk pengaman di perut Hye na, pelan dan lembut.

“nah… begini lebih baik…ayo kita berangkat…”

“tunggu…”cegah Hye na tiba-tiba, menghentikan kaki Jung min yang akan menekan gas mobilnya.

“kita harus berhenti di supermarket sebentar… banyak yang harus aku beli…”kata Hye na, menatap Jung min serius.

“apakah harus…”

Hye na menjawabnya dengan anggukan kepalanya cepat.dan penuh keyakinan. Jung min menghela napas cepat. “baiklah…”jawab Jung min menyerah.

Mobil melaju cepat membelah angin, menembus dan melewati setiap jalan, tak lama mobil yang mereka tumpangi sudah berbelok ke sebuah supermarket besar di kota Seoul. Hye na dan En kyu turun tak lama Jung min menyusulnya dan segera berjalan menjajari Hye na, mengawalnya, menjaganya.

“kau kenapa…”tanya Hye na bingung, saat menatap Jung min berjalan cepat di sisinya.

“ahniyo… tak apa… En kyu kemari… gandeng tangan appa…”kata Jung min kemudian menatap En kyu yang berjalan disisinya, berusaha menjajari langkahnya dengan Jung min. Jung min mengambil kereta dorong dan bersama Hye na, ia mulai membeli banyak barang dan makanan yang mereka butuhkan.

 “yya!! Kenapa banyak sekali… siapa yang akan menghabiskannya…” cegah Hye na saat kereta dorong yang di bawa Jung min di berhentikannya di sebuah rak makanan cepat saji dan dengan cepat tanpa pikir panjang, Jung min mengambil banyak sekali mi ramen dari sana.

“ssttt… aku…aku yang akan menghabiskannya…”jawab Jung min, yang kemudian beranjak pergi dan meninggalkan Hye na yang terdiam, bengong menatap Jung min.

“auussshhh…dasar…”keluh Hye na, yang kemudian tersenyum manis, dan mengikuti langkah Jung min bersama En kyu. Kemudian, saat mereka mencapai bagian sayuran, Hye na mengambil  banyak sayuran sebagai bahan dasar pembuatan kimchi dan juga daging.

“apa yang akan kau lakukan dengan semua daging dan sayuran itu…?”

“…memasaknya…”

“auuusshhh… ternyata kau sama saja..”

Hye na mendengus kesal dengan perkataan Jung min, kemudian senyum terlihat terbingkai di wajahnya.

********

Jung min tersenyum menatap kekasihnya yang  tersenyum di tengah lelap tidurnya. Jung min mengalihkan pandangannya menatap kursi di bagian belakang di mana En kyu berada. Anak itu ternyata juga sudah terbuai dalam mimpi indah. Senyum terhias di wajahnya.

“selamat malam semuanya…” kata Jung min lirih.

Jung min mengerti walaupun Hye na ia batasi untuk tidak melakukan banyak hal yang melelahkan, Jung min yakin Hye na sangat kelelahan di tengah kebahagiannya. Ia tidak berhenti tertawa bahagia setelah ia bertemu dengan semua orang diyayasan itu, Nyonya Yoon dan terutama anak-anak yang ada diyayasan. Rupanya ia benar-benar merindukan semuanya.

Jung min memutar stir nya dan melajukan mobilnya pelan masuk kedalam halaman Lee’s Mansion. Perlahan Jung min membuka pintu disisinya dan keluar memanggil beberapa orang pelayan yang datang bersama Jung moon dan ommanya.

“omma…?”

“semuanya baik sayang…?”tanya omma Jung min, terlihat khawatir

“kapan omma datang…”tanya Jung min, tanpa menjawab pertanyaan sang omma terlebih dahulu sambil sesekali memerintahkan beberapa pelayan utnuk mengambil semua barang yang dibelinya tadi bersama Hye na.

“bawa semuanya masuk…dan…hyu…hyung… bisakah kau membawa En kyu masuk… dia tertidur di kursi belakang…”

“mwo…?!?”seru Kang Hye Young dan Jung moon bersamaan, namun keduanya menyiratkan keterkejutan yang berbeda “apa dia tak apa…” tanya Jung moon kemudian

“ne… dia tertidur saat perjalanan pulang tadi…”

“sejak kapan…”tanya Kang Hye Young terkejut, menatap Jung min dan Jung moon bersamaan.

“mwo…?”tanya Jung min dan Jung moon bersamaan, bingung.

Kang Hye Young tersenyum diantara air mata yang mulai mengalir jatuh dipipi “peluk omma sayang… omma sangat merindukan kebersamaan ini…”kata Kang Hye Young yang kemudian mendekap kedua anak laki-laki nya itu. Rasa haru dan senang menyergap ke dalam dirinya.

Lama ketiganya saling berpelukan hingga “cukup omma… malu di lihat para pelayan… dan Hye na juga En kyu bisa sakit jika terus tertidur di mobil.

“ah… mianhe… jeongmal mianhe…bawa keduanya masuk… dan biarkan keduanya istirahat…”kata omma Jung min

“ne…” jawab Jung min, mengangkat Hye na ke dalam pelukannya dan membawanya yang masih tertidur lelap. Jung min membawanya masuk dan naik ke lantai 2 dimana kamar keduanya berada, sedangkan Jung moon membawa En kyu masuk kekamarnya yang berada di lantai 1.

Jung min membuka pintu di hadapannya perlahan, tidak ingin membangunkan bidadarinya itu dan menidurkannya perlahan di ranjang sebelum akhirnya menyelimuti tubuhnya.

“selamat malam sayang…” sapa Jung min dan dengan lembut mengecup kening Hye na. Jung min bangkit dan ketika ia benar-benar berdiri dari tempatnya, tiba-tiba Hye na meraih tangannya dan menariknya, menahannya
“…jangan pergi… tetap disini…”kata Hye na pelan, dengan masih dalam keadaan memejamkan matanya, tertidur. Jung min diam, menatap Hye na, kemudian senyum terlihat di wajahnya. Diusapnya lembut dan sayang kening Hye na, melelapkan Hye na. Jung min diam, menatap senyum Hye na, yang dapat membuat ia akhirnya merebahkan dirinya di sisi Hye na, membawa tubuh Hye na tidur dalam dekapannya hangat.

Pelan Jung min kembali mengecup kening Hye na, dan membawa Hye na semakin dalam, mendekapnya erat, memberi kehangatan.

**********

Pagi kembali menjelma. Hye na membuka matanya pelan dan ditatapnya Jung min yang masih menutup matanya, tidur. Hye na tersenyum, kemudian perlahan di telusurinnya wajah Jung min dengan jemarinya dari dahi hingga dagu Jung min. Saat Hye na mencapai dagu Jung min, tiba-tiba Jung min membuka matanya pelan, tersenyum merasakan kelembutan jemari Hye na yang menelusuri wajahnya. “sudah bangun sayang…”tanya Jung min, menatap Hye na yang terlihat menatap dirinya tersenyum

“ne… baru saja… “ jawab Hye na tersenyum, menatap Jung min “…apa yang heeeekkk…”kalimat Hye na terhenti, tiba-tiba rasa mual menyergapnya. Hye na membekap mulutnya kuat dan ditatapnya Jung min yang menatapnya tak kalah terkejut.

“kenapa…”tanya Jung min, bangkit dari pembaringannya, menatap Hye na yang perlahan bangkit sambil terus membekap mulutnya.

“entahlah.. rasanya… heeeekkkk…”kata Hye na, yang semakin membekap mulutnya menahan sesuatu disana, namun kemudian dengan cepat dan tiba-tiba Hye na bangkit dan berlari masuk kekamar mandi.
“pelan saja sayang… tidak usah berlari…”kata Jung min ketika menatap Hye na berlari masuk kedalam kamar mandi dan menyusulnya cepat.

“gwenchana…?”tanya Jung min, ketika ditatapnya Hye na sudah membasuh mulutnya dengan air, dan perlahan diusapnya dengan handuk kering yang tergantung tak jauh disisinya

“nee… gwenchana…”kata Hye na lemah bangkit dan menatap Jung min yang tersenyum. Hye na membalas senyumnya walaupun lemah. Hye na mengusap mulutnya pelan, kemudian keterkejutan dan rasa tidak percaya menyergap dirinya “…sayang… apa aku…”

“kenapa…?”

“ini… itu…apa aku…”

“hamil…”jawab Jung min kemudian, menatap Hye na enteng

“ne…”jawab Hye na yakin, tegas

“apa kau yakin sayang… apa kau yakin bukan karena masuk angin saja…kemarin kau terlalu lama di luar ruangan dan terlalu lama juga tertidur didalam mobil… jadi…”kalimat Jung min terhenti sesaat, ia menatap Hye na yang terdiam dihadapannya. Wajahnya terlihat bersedih.

Hye na diam, menatap Jung min “apa kau tidak ingin..?”kata Hye na, cemberut mendengar perkataan Jung min

“ahniya… bukan itu maksudku…”

“lalu…”kata Hye na lagi, menatap Jung min sedih sekaligus marah

“yya…yya… jangan menangis… bukan itu maksudku…”

“tapi…memang seperti itu bukan…”kata Hye na lagi yang terlihat mulai meneteskan air mata.
Jung min menatap itu dan mengacak kepalanya bingung. “aauuussshhh… bukan itu… sayang…sa…”

Kata-kata Jung min terhenti ketika ditatapnya Hye na sudah berlari masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya.

“yya… yya…sayang… Hye na…”panggil Jung min memohon, namun Hye na masih diam di tempatnya tidak melakukan apapun.

“mianhe… jeongmal mianhe…aku benar-benar tidak bermaksud untuk itu… tapi kau dokter… kau lebih tahu bukan…”
Hye na masih diam, tidak memperdulikan Jung min yang masih berusaha untuk membuka pintu kamar mandi dan masuk kedalamnya.

Jung min diam, menghela napas berat dan menyerah “baiklah… terserah kau saja sayang… kalau kau tidak yakin… bagaimana kalau kita panggil dokter Kim…”usul Jung min.

Hye na diam, menatap pintu, mendengarkan perkataan Jung min “jeongmal…?”

“ne…”

“jigeum…”

“ne…aku akan menghubunginya sekarang… “kata Jung min, menatap pintu dihadapannya dan menunggu Hye na keluar dari dalamnya.

“jeongmal…?”tanya Hye na lagi dengan wajah sumringah seperti anak kecil yang dijanjikan banyak mainan bagus yang diinginkannya.

“ne…” kata Jung min, menatap pintu di hadapannya, menunggu pintu terbuka Tepat seperti perkiraannya, tak lama Hye na keluar dari kamar mandi, menatap Jung min tersenyum.

“bagus… aku sudah menghubunginya…sekarang kita sarapan… omma sudah membuatkan beberapa makanan untuk kita…”

“omma…?!?!” seru Hye na terkejut

“ne… semalam omma datang…”

“benarkah…? kenapa kau tidak membangunkanku…”

“..tidak mungkin sayang… kau sudah terlalu lelah… tidurmu bahkan sangat lelap…”
Hye na menghela napas berat, mendengar perkataan Jung min “tapi kan tidak baik…”

“tak apa…sekarang kita makan…”

“antwe… tunggu dokter Kim… “ cegah Hye na, saat Jung min menarik tangannya, mengajaknya keluar. “mwo…? Kenapa tunggu dokter Kim…?”

“ne…aku ingin dokter Kim sekarang…”

“tapi…”

“sekarang ya sekarang…”kata Hye na ngotot, melipat kedua lengannya didada tidak mau tahu. Seperti anak kecil yang ngotot untuk di belikan mainan yang ia inginkan. Jung min diam, tersenyum menatap Hye na, kemudian menghela napas pelan “baiklah… kau berbaringlah dulu… aku meneleponnya sekarang…”

“bagus…” Hye na tersenyum mendengar jawaban Jung min.

Jung min menekan beberapa nomer di ponselnya, sesuai dengan janjinya. Namun penantian keduanya tampaknya belum berujung hingga satu jam berlalu. Jung min memegang perutnya, menahan laparnya. Jung min mengalihkan pandangannya menatap Hye na yang terlihat tengah membaca majalah sambil bersandar di sandaran tempat tidur.

“ayo sayang kita makan dulu… sudah lapar…”kata Jung min memohon.

“anhiya… kau makan duluan saja… aku menunggu dokter Kim…”

“aiissshhh… kau ini aneh sayang… kau dokter tapi tidak mengerti tanda-tandanya…”

“aussshhh…dokter juga manusia… jadi pasti punya kekurangan dan kelemahan… auuusshhh… kau ini…”
Jung min tersenyum “baiklah…aku akan menghubungi dokter Kim lagi…kau tunggu saja…”kata Jung min yang kemudian bangkit dari sisi Hye na dan berjalan ke pintu. Jung min membuka pintunya dan tepat saat itu dokter Kim akan menekan ganggang pintu kamar keduanya.

“omo..sudah datang dokter…”kata Jung min, terkejut sesaat

“ne…apa semuanya baik… kenapa kau memanggilku sepagi ini…”

“maafkan saya dokter… Hye na meminta saya untuk memanggil anda dan… sepertinya sifat manjanya mulai muncul dok…” Dokter Kim tertawa mendengar perkataan Jung min “…itu baru permulaan nak… tunggu yang lebih gawat lagi…”

Jung min menghela napas berat dan menundukkan kepalanya “…dokter Kim… boleh aku minta sesuatu pada anda…”

Dokter Kim diam, menatap Jung min. laki-laki yang hampir seumur appa Jung min terdiam bingung dengan permintaan Jung min padanya “…apa…apa yang kau inginkan…”kata dokter Kim akhirnya.

*******

Flashback

Park Joon menatap sang ayah yang diam dihadapannya tersenyum. Park Joon diam, bingung menatap senyuman itu.

“ada apa appa… kenapa kau…”

“ahni… tak apa… hanya…bisakah kau menjemput seseorang… ia appa undang ke acara makan malam kita… dan aku ingin kau menjemputnya…”

Park Joon terdiam sesaat, menatap bingung sang ayah “…siapa…?”

Tuan Han tersenyum, menatap Park Joon penuh maksud. Park Joon diam ditempatnya. Ditatapnya dengan semakin bingung “kau akan tahu nanti… sekarang pergilah…”kata Tuan Han “kealamat ini…”tambahnya, menyerahkan secarik kertas kepada Park Joon.

Park Joon menurut dan menerimanya dalam diam, dan hanya dapat diam, menatap kertas di tangannya bergantian dengan sang ayah yang masih berdiri dihadapannya, tersenyum.

“lakukan sekarang…”

“tapi aku harus bersiap…?”

“tak apa… begini saja kau sudah sangat tampan…”

Park joon tersenyum, menatap penampilan dirinya sendiri yang saat itu baru saja pulang bekerja. Dengan jas dan dasi yang memang sengaja ia longgarkan ternyata memang masih membuat dia sangat tampan.



“yya…appa…aku seharusnya curiga dengan sikapmu ini…”

“cih…kau memang tampan…”

“auuussshhh…darimana kau belajar menggoda…”

“aiiisshhh…lakukan saja…jemput orang itu sekarang…”kata sang ayah akhirnya, yang kemudian pergi meninggalkan Park Joon, yang masih diam tersenyum lebar di tempatnya, beserta rasa bingung yang masih menyertainya

End Of Flashback

Dan disinilah ia sekarang, menatap diam, rumah besar di hadapannya. Senyum yang semula hadir di wajahnya terhapus hilang.

“silahkan masuk doronim… agashi sudah menunggu…”kata seorang pelayan, membuyarkan keterdiaman Park Joon. “mwo?!?! Agashi…?”

“ne… agashi…silahkan masuk…”ajak pelayan tersebut lagi.

Park Joon diam, menatap pelayan itu dan kemudian menurut masuk kedalam rumah itu, dan duduk si salah satu sofa yang ditunjuk oleh pelayan tersebut.

“khamsamnida..”jawab Park Joon, ragu, sambil terus menatap dan mengitarkan pandangannya menatap semua bagian ruangan itu, hingga tanpa menyadari kedatangan seseorang yang menatapnya diam, sedikit terkejut.

“tuan Park…”sapa orang itu, lirih namun Park Joon masih mampu mendengarnya, karena dengan cepat Park Joon mengalihkan pandnagannya menatap orang itu, lalu terdiam lama, terkejut.

Keduanya terdiam, saling menatap, namun hanya Park Joon yang terlihat sangat terkejut dengan apa yang berdiri dihadapannya.

“tuan Park …”panggil orang itu menyadarkan keterdiaman Park Joon.

“ah..de…”

“apa kita bisa pergi sekarang…”

“ahh…ne…”jawab park Joon terkejut, tersadar dan kemudian beranjak dari tempatnya melangkah cepat melewati orang tersebut. Orang tersebut terlihat diam, bingung dengan tingkah park Joon yang berjalan terus masuk, melewati dirinya.

“ahhh... Park Joon..pintunya disana…”kata orang itu dengan senyum tertahannya, menunjukkan arah sebaliknya dari arah yang dituju oleh park Joon. “ahhh…de… mianhe…”jawab park Joon menundukkan kepalanya malu, sangat malu bahkan, dan kemudian melangkah pergi, mendahului langkah orang itu yang tersenyum menatap tingkah Park Joon.

********

“sayang…”panggil Jung min, menatap Hye na yang terdiam di ranjang menatap kosong hadapannya. Hye na diam, ditempatnya kosong, tidak menggubris panggilan Jung min. Jung min mengenakan jasnya dan membalikkan tubuhnya. Ditatapnya sang kekasih diam, sedikit kesedihan hadir dihatinya menatap sang kekasih yang diam lesu ditempatnya, tidak bertenaga terlihat sangat sedih.



“sayang…”panggil Jung min lagi, berjalan mendekat dan duduk disisi Hye na yang masih diam, membisu dengan pandangan kosong. “Hye na…”panggil Jung min lagi lirih. Dirangkulnya bahu Hye na dan dibawanya ke pelukannya “gwenchana… tak apa… kita hanya harus menunggu…”hibur Jung min. Hye na diam, membenamkan kepalanya di dekapan Jung min. Jung min mengusap lembut kepalanya dan mengecup lembut keningnya. Isak Hye na mulai terdengar. “hey…jangan nangis… kita bisa berusaha lagi… tenanglah…”

“…ta…tapi…” ujar Hye na, diantara isak tangisnya yang pelan.

“tak apa sayang… tak apa..” hibur Jung min, mendekap semakin erat Hye na.

“tapi…ak…aku…sudah lama…menunggu…”

“ne… aku tahu… tapi kita hanya dapat berusaha bukan… semuanya diluar kuasa kita… mungkin belum saatnya kita mendapatkan pengganti yang sudah hilang…”

Hye na diam, terisak. Jung min menatapnya, mengangkat wajah Hye na, hingga keduanya saling menatap. “masih banyak waktu dan cara untuk mendapatkannya… lagipula…”

Jung min menghentikan kalimatnya sesaat dan tersenyum “kita masih punya En kyu bukan… biarkan semuanya berjalan alami…pasti akan ada saatnya…”

Hye na menatap Jung min diam. Jung min menghapus air matanya pelan “sudah…sekarang bersiaplah…”

“…de…?”Hye na menatap Jung min bingung “kita mau kemana…?”tanya Hye na

Jung min tersenyum. “aku yakin kamu akan sangat senang…”

“jeongmal…?...errrmmm…apa kita akan ke taman ria…”

“ahni…”

“lalu…”

“…pokoknya kamu akan sangat senang… sekarang bersiaplah…”

Hye na diam, menatap Jung min kemudian bergegas bangkit dan bersiap, sesuai kata Jung min.

********

“haraboji!!!!”seru En kyu senang dan berlari ke pelukan sang kakek senang saat ketiganya sampai kekediaman Han.

“appa…!!!”seru Hye na tak kalah senangnya dari En kyu “bogoshipo…”kata Hye na, bersamaan memeluk sang ayah dengan En kyu.

“En kyu juga…”

Tuan Han tertawa keras, senang menatap dengan mengalami semuanya. “de…haraboji dan appa juga sangat rindu dengan kalian…”

Hye na mengangkat tubuhnya dan menatap sang ayah, penuh kerinduan “bagaimana kabar appa…?”tanya Hye na, menggenggam tangan En kyu yang berdiri di sisinya.

“sangat baik…sangat baik… tapi… kau terlihat sangat pucat sayang… apa yang terjadi…”tanya Tuan Han, yang kemudian mengalihkan pandangannya menatap Jung min.

“ahni appa… Na tak apa… hanya sedikit lelah…”kilah Hye na

“ahni… tidak seperti yang appa lihat… kau terlihat tidak baik…”

Hye na diam ditempatnya menundukkan kepalanya. Hari itu Hye na memang terlihat sangat pucat, ditambah syal dan pakaian tebal yang menutup tubuhnya menegaskan jika Hye na memang sedang tidak baik.



“tak apa appa… semuanya baik…”

“tapi…”          

“benar aboji…semuanya baik… tidak perlu khawatir… itu karena kulit Hye na yang seputih salju bukan…”tambah Jung min.

Hye na tersenyum menatap Jung min. “ne… benar appa… tenang saja…” tambah Hye na, mendekap pinggang Jung min, memeluknya erat.

“ehemmm…”deham seseorang tiba-tiba, membuat semua orang diruangan itu mengalihkan pandangannya menatap kearah pintu.

“…kau sudah datang Hye na sayang…”sapa orang itu, menatap Hye na lembut

Hye na dan Jung min diam menatap orang itu, sedikit terkejut dengan perkataannya. “yya!! Oppa…sejak kapan kau memanggilku seperti itu…”keluh Hye na.

“YYa!!! Park Joon…dia sudah menjadi milikku…jadi tidak ada seorangpun yang boleh memanggilnya seperti itu kecuali aku..!! auussshhh”seru Jung min kesal, mendekap Hye na lebih erat lagi di pelukannya.

“appa juga tidak boleh…”sambung Tuan Han tiba-tiba

Jung min diam, menatap Tuan Han “…ne…termasuk aboji…”

“oowwwhhh…. Begitu ya…”

Hye na tersenyum senang melihat itu “oppa…siapa wanita cantik yang kau bawa itu…sepertinya….tidak asing…”

Park Joon tersadar dan terdiam di tempatnya, terkesiap dan teringat seseorang yang berdiri diam di sisinya.

“anyong… Chonun Eun Jo..Goo Eun Jo imnida…”sapanya memperkenalkan diri, membungkukkan tubuhnya, yang dibalas dengan hal yang sama oleh Hye na.

“ahhh… Eun Jo onnie…aku sering mendengar namamu dari appa dan oppa…”

“jeongmal…?”

“ne… “

“masuklah Eun Jo… kita ngobrol didalam..”ajak tuan Han

“ne…” Eun Jo masuk, mengikuti langkah tuan Han, En kyu dan Jung min. Sedangkan Hye na, berjalan perlahan mendekati park Joon sambil terus menatap Eun Jo yang berjalan masuk ke ruang keluarga mansion tersebut.

“oppa…Eun Jo onnie cantik ya…”kata Hye na

“ne..selalu… selalu cantik… dan malam ini ia terlihat lebih cantik…”jawab park Joon, menatap Eun Jo tanpa berkedip, mengikuti langkahnya yang masuk dan sepertinya tidak menyadari ucapannya.

Hye na tertawa pelan di tempatnya mendengar perkataan Park Joon. Hye na menatap Park Joon, tersenyum senang karena berhasil menangkap kejujuran dari Park Joon.

Eun Jo memang terlihat cantik malam itu. Dengan gaun bermotif kotak-kotak, berwarna hijau dan hitam dan bermodel kemben. Eun jo terlihat sangat manis dan berbeda dari biasanya yang selalu memakai setelan jas dan celana panjangnya.



“ahhh.. Hye na mendengar lagu-lagu cinta yang bergema… sepertinya ada cinta yang sedang bersemi disini…”goda Hye na yang kemudian dengan cepat berlalu dari hadapan Park Joon yang diam ditempatnya, namun kemudian senyum terlihat diwajahnya.

Makan malam dimulai. Semua orang terlihat sudah duduk di tempatnya masing-masing dan mengitari meja dengan berbagai macam makanan. Keceriaan dan kebahagian menyelimuti mereka hingga akhir sisa makanan.

“sudah kenyang…?”tanya Jung min, duduk di sisi Hye na, memberikan segelas air putih padanya.

“ne…”

“aiissshhh.. tentu saja… kau makan banyak sekali malam ini… seakan kau belum makan selama seminggu…”goda Jung min.

“auussshhh…” dan Hye na mulai meneguk palan air putih di tangannya, “…errmmm… gomawo sayang… tapi…heyyy…ada yang aneh… biasanya kau membawakanku segelas kopi.. tapi kenapa… heekkk…” Hye na menghentikan ucapannya, dan membekap mulutnya kuat. Rasa mual menyerangnya setelah appa, Park Joon dan Eun Jo datang bersama Jang halmoni yang membawa beberapa cangkir kopi. Hye na berlari masuk kedalam kamar mandi dan mulai menyelesaikan rasa mualnya, namun tidak ada yang keluar disana. Hanya ada rasa mual yang sangat yang menyerang perutnya. Hye na menarik napas panjang setelah merasa lebih baik. Jang halmoni terlihat diam berdiri di sisinya.

“kau hamil lagi nak…”ujar Jang halmoni tiba-tiba, memberikan handuk kering pada Hye na, dengan wajah yang terkejut, tidak percaya.
Hye na diam, menatap Jang halmoni terkejut “de…?!? Ahni halmoni…aku hanya masuk angin…”jawab Hye na

“tapi…seperti yang lalu…kau mual setelah mencium bau kopi, atau susu..”

“tapi nek… dokter Kim sudah memeriksaku tadi pagi dan katanya…”

“tapi… ibu hamil… bisa seperti itu… jadi…”

“tapi nek… tidak mungkin…”Hye na terdiam sesaat di tempatnya, mengingat segalanya kembali dan menyadari segalanya. “…kecuali..Jung min bersekongkol dengan dokter Kim…”

Jang halmoni diam ditempatnya, menatap Hye na bingung sesaat, tidak mengerti dengan yang dibicarakannya. “apa maksud anda agashi…?”

“ahh…ahni…” Hye na terdiam sesaat “…errmmm Jang halmoni…bisakah kau mengantarku ke rumah sakit…”

“malam ini agashi…?”

“ne… malam ini…”

“jigeumyo…?”

“ne… jigeum…”

“tapi… “

“bantu aku memberikan alasan…”

“tapi agashi…”

“ayolah Jang halmoni…?”pinta Hye na, memohon.

********
Pagi menjelma, matahari kembali hadir memancarkan sinar dan kehangatannya. Sinar matahari terlihat menerpa wajah putihnya, membuatnya memejamkan matanya, karena silau. Jung min diam menatap sang bidadari yang masih terbuai dalam mimpinya, terlelap tidur. Kemudian senyum terpancar diwajahnya. Jung min melangkah mendekat dan mengusap pelan wajah Hye na, setelah ia menutup tirai jendela kamar keduanya. membuat senyum Hye na terlukis inddah di wajahnya, bagai matahari pagi, yang kini tengah menyinari bumi. Hangat ….

“bangun sayang” ucap Jung min lirih, sambil terus mengusap pipi Hye na. Tak lama senyum semain terkembang di wajahnya saat ia menyadari senyum Hye na yang lebar terlihat di wajahnya, namun Hye na masih menutup kedua matanya.

“bangun sayang…”ujat Jung min lagi, pelan, sambil mengusap bibir mungil Hye na yang tersenyum. Namun Hye na terlihat masih menutup kedua penglihatannya. “YYA!! Bangun pemalas… aku ingin kau menyiapkan pakaianku pagi ini…” ujar Jung min tak sabar.

Hye na membuka matanya perlahan mentapa Jung min diam. Saat itu ia menatap wajah Jung min sangat dekat dengannya, membuat jantungnya berdegup kencang. “kau sudah bangun…?”tanya Jung min pelan, tersenyum, mendekatkan wajahnya.

“auussshhh… bisakah lebih lembut lagi…”keluh Hye na

Jung min diam, menatap Hye na, penuh maksud “waeyo…?”tanya Hye na bingung

Jung min tersenyum, masih menatap Hye na, dan semakin mendekatkan wajahnya menatap Hye na. “yy..yya..yya!! apa yang mau kau lakukan…?!?” seru Hye na semakin keras dan dengan cepat bangkit dari ranjang dan berlari masuk ke kamar mandi. Jung min tersenyum, ia berhasil, namun senyumnya hanya sesaat, setelahnya senyum itu berubah menjadi sebuah kekhawatiran.

“…gwenchana sayang… kau tak apa…?”

Hye na diam, mengusap mulutnya pelan “ne… tak apa… sepertinya aku masih masuk angin…”

“benarkah…? kalau begitu istirahatlah…”

“ahni…aku ingin kerumah sakit…”

Jung min diam, menatap Hye na terkejut “bo…!?!? Untuk apa…? Kemarin dokter Kim sudah memeriksamu bukan…? Jadi…”

“hanya untuk memastikan…aku akan memeriksakannya pada Dokter Choi…”

“mwo…?!?!? YYA!! Kalau begitu aku ikut…”kata Jung min, menatap Hye na cemas dan takut seakan rahasia terbesarnya akan terbongkar dalam hitungan detik. Hye na diam menatap Jung min, senyum terlihat di wajahnya.

“kenapa…”

“apa…?”

“kau terlihat sangat khawatir…?” tanya Hye na tersenyum “tak apa sayang… tenang saja…semuanya akan baik…”hibur Hye na, tersenyum, menenangkan Jung min, menepuk bahunya pelan. “ahni sayang…aku hanya khawatir…?”

“tak apa…”

Jung min diam menatap Hye na, rasa takut dan kesal merasuk di dirinya “ahhh…gagal sudah rencanaku…”pikir Jung min, menyesal dalam hati.

“benarkah…?....atau ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku…?”tanya Hye na, tersenyum aneh, seakan telah memenangkan sesuatu

“ahni… tak apa… dan tak ada…

***********
« Last Edit: December 06, 2010, 05:01:31 pm by ai_yuki »

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Lanjutan


Park Joon diam. Menatap kosong meja kosong dihadapannya, dengan – sesekali -  senyum terlihat merekah diwajahnya. Senyum aneh yang memancarkan rasa cinta. Hingga tidak menyadari hadirnya seseorang dihadapannya.

Orang itu berdeham, setelah beberapa lama Park Joon hanya diam dan menatap kosong makanannya.
“ahhh…aboji…”seru park joon terkejut dan bangkit dengan cepat dari tempatnya. “sejak kapan…?

Tuan Han diam, menatap park Joon sesaat, kemudian duduk di hadapannya “sejak kau tersenyum aneh seperti itu…kau belum berangkat..”

“ahh…sudah…ahni maksudku…belum…aku belum berangkat aboji…masih menunggu pak Jeong…”jawab park Joon gugup.

Keduanya terdiam, melakukan kembali aktivitas sebelumnya, termasuk park Joon yang kembali terdiam, menatap kosong meja di hadapannya dengan senyum merekah di wajahnya. tuan Han terlihat membuka Koran paginya, mencari berita-berita yang menarik baginya

“sebenarnya apa yang kau bayangkan hingga tersenyum seperti itu…? apa…Goo agashi…?”tanya Tuan Han dengan pandangan masih tertuju pada Koran paginya.

“ne…ahhh..ahni… bukan aboji…”

Tuan Han tersenyum, menatap korannya “kalau begitu kenapa kau tersenyum seperti itu…?”

“ahni… tak apa…hanya…” Park Joon terdiam bingung, terlihat gugup, menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Tuan Han.

“kenapa…?”tanya Tuan Han

“ahni… tak ada aboji…”jawab park Joon, mengambil segelas teh yang baru saja dibawa oleh Jang halmoni di meja, tepat dihadapannya.

“apa …senyummu itu berhubungan dengan Goo agashi…?”tanya tuan Han tiba-tiba yang berhasil membuat Park Joo tersedak.

“mwo..? ahn…ahniya…”

“…mulutmu bisa mengatakan itu…tapi reaksimu… tidak… tuan park…”ujar tuan Han, tersenyum lebar menatap Park Joon yang duduk di hadapannya, tersenyum

Park Joon diam, menundukkan kepalanya, menyimpan malu. Terbayang kembali di kepala semua yang terjadai setelah makan malam itu.

Flashback

Park Joon menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah rumah. Jantungnya terasa sakit saat itu, dan ia tahu kenapa jantungnya begitu sakit. Jantungnya berdegup sangat cepat saat itu. memompa darah dengan begitu cepatnya, membuatnya terasa sakit.

“gomawo…” kata Eun jo tiba-tiba setelah Park Joon menghentikan mobilnya di depan kediaman Goo.

“ahn…ahni… tak apa… ini sudah menjadi kewajibanku…”jawab Park Joon
Eun Jo diam, menatap Park Joon, kemudian senyum terkembang di wajahnya. Eun jo menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyumnya.

“ahhh.. maksudku…aku…aku yang menjemputmu…jadi aku yang harus mengantarmu pulang…”jawab Park Joon.

Eun jo tersenyum lebar “…ne aku mengerti tuan Park… gomawo…”

Park Joon diam, menundukkan kepalanya, tersenyum “tak masalah…”

Eun jo membuka pintu mobil Park Joon pelan dan turun, “…satu permintaan…agashi… jangan memanggilku pak jika kita tidak berada di kantor… cukup park Joon saja…”ujar park Joon sebelum Eun jo menutup pintu mobilnya. Eun jo tersenyum “…baiklah…asal anda juga berjanji jangan memanggilku agashi lagi…cukup Eun jo saja… baik di kantor atau di luar kantor… tak apa…”sahut Eun jo kemudian yang di jawab dengan sebuah senyum lebar di wajahnya.

Dan saat itulah, nyanyian cinta bergema di hatinya. Bunga-bunga bersemi dan angin musim semi berhembus.meniupkan setiap bunga dan menyebarkan harumnya.

End of Flashback

Lagi-lagi senyum lebar terkembang di wajahnya. Rasa cinta semakin berkembang di hatinya. Kali ini ia benar-benar berharap tidak akan mengalami kegagalan cinta untuk kedua kalinya, seperti yang ia alami pada Hye na.

“dan…sekarang aboji mulai yakin…”kata tuan Han, membuyarkan sneyum yang terkembang di wajah Park Joon

Park Joon diam, menatap sang ayah dan bangkit dari tempatnya “…aboji…saya berangkat dulu…”

“..tapi pak Jeong belum datang…”

“tak apa aboji… biar dia menyusul nanti..”

Tuan Han tersenyum diam, menatap sang putra yang kemudian segera beranjak pergi dari hadapannya. Dasar…batin tuan Han.

*********

Jung min terdiam, menatap kertas di hadapannya kosong. Setumpuk pikirannya berhasil mengalihkan setumpuk kertas berkas penting di hadapannya. Sesekali helaan napas terdengar darinya. Banyak yang ada dipikirannya saat itu. Dan yang sangat menyita pikirannya adalah rencana yang ia ingin dia lakukan untuk kekasih hatinya. Bidadarinya dan ibu dari anaknya. Ia ingin melakukan sesuatu untuk Hye na. sesuatu yang membahagiakannya. Tapi, rencana itu gagal sebelum ia melakukannya.

Jung min kembali menghela napas dan terdiam, menundukkan kepalanya. Lagi-lagi ia melamun. Pikirannya kembali melayang terbang, mencari cara yang lain untuk melakukan rencana itu. Namun, buntu… tak ada ide yang datang menghampirinya bahkan terbersit pun tidak. Lagi-lagi helaan itu terdengar, pikirannya kembali melayang, hingga akhirnya jatuh tersadar ketika ia mendengar ketukan di pintu ruangannya. Ketukan keras yang lama karena lamanya ia terbang.

“masuk…”seru Jung min kemudian, ditatapnya seseorang yang berdiri di pintu lesu.

“anyong Lee Jung min…”serunya. Jung min mengangkat wajahnya kembali, ditatapnya seseorang yang berdiri tersenyum di hadapannya.

“Lee Seung gi…”jawab Jung min, bangkit dari tempatnya dan berjalan menghampiri Seung gi yang masih berdiri diam dengan senyum yang merekah dihadapannya.



“apa kau tidak merindukanku saeng-aa…”tanya Seung gi, membentangkan kedua lengannya untuk memeluk Jung min, namun ternyata gayung tidak bersambut. Jung min membanting setirnya berbelok dan duduk di sofa ruangannya tak jauh dari pintu ruangannya.

 “aiisshhh… tidak berubah…”gumam Seung gi pelan, namun masih dalam batas pendengaran Jung min.

kenapa kau pulang…? Liburanmu belum selesai bukan…?”tanya Jung min ketus

“sama saja…”gumam Seung gi lagi.

Keduanya terdiam sesaat, salig menatap dan mengalihkan pandangan, kemudian saling tersenyum. Rasa rindu ternyata juga terbersit di dalam diri mereka. Walaupun hanya terrucap tidak namun hati mereka mengatakan iya.

“yya!! Jung min-nim…aku dengar Hye na hamil ya…?”tanya Seung gi, menatap Jung min

“cih… darimana kau tahu…apa kabarnya ada di Koran pagi yang kau baca saat kau liburan… wah… benar-benar hebat… aku bahkan belum mengatakannya pada Hye na…” kata Jung min yang setelahnya, ia terdiam menundukkan kepalanya. Teringat kembali semuanya.

“mworagu…?”tanya Seung g bingung sekaligus khawatir

Jung min diam ditempatnya, tidak menjawab pertanyaan Seung gi “aiiisshhh… kau benar-benar masih sama…aku tahu…semua ini pasti berhubungan dengan Hye na…”

Perkataan Seung gi berhasil membuat Jung min mengangkat wajahnya, menatap Seung gi. “aiiissshhh…aku tahu itu…”kata Seung gi lagi, tanpa mendengar perkataan Jung min dan dengan hanya melihat raut wajahnya, ia mengerti.

“ada apa lagi sekarang…?”tanya Seung gi

Jung min menghela napas berat dan diam. Keterdiaman keduanya terganggu oleh ketukan di pintu. Ketukan pintu yang cepat dan terdengar sangat penting.

“masuk…”seru Seung gi, tidak ingin menunggu Jung min lagi.

Sang sekretaris membuka pintu dan masuk dengan napas cepat, menderu “ada apa…”tanya Seung gi, berjalan mendekat pada sang sekretaris.

“…agashi…hah…agashi… dia…aku…tuan…” sang sekretaris tampak masih belum dapat menenangkan dirinya. Dan ini berhasil membuta Jung min mengalihkan perhatiannya pada sang sekretaris.

“ada apa…? Ceritakan pelan-pelan…”desak Jung min akhirnya, mengikuti langkah Seung gi bangkit dan berdiri di sisi Seung gi. Ditatapnya tajam sang sekretaris. “… tenangkan dirimu dan katakan pelan-pelan…perlahan…”kata Seung gi menenangkan.

 Sang sekretaris menarik napas dalam, menenangkan dirinya, setelahnya ia menatap Jung min dan Seung gi tajam, bergantian.

“ada apa…?”

“ahhh…Jung min-nim… Hye na agashi… dia berada di rumah sakit…”

“MWO!!! Aissshhh… kenapa kau tidak segera mengatakannya…”seru Jung min cepat dan segera berlari meninggalkan Seung gi dan sekretaris cepat.

“apa saya akan di pecat… seosonghaeyo… aku…’

“tak apa… tidak ada yang akan memecatmu…”hibur Seung gi, membawa sang sekretaris kedalam dekapannya.

“yya!! Lee Seung gi!!!” panggil Jung min tiba-tiba, menahan pintu lift yang akan tertutup.

“ahh…de…”jawab Seung gi yang kemudian berlari menyusul Jung min, masuk kedalam lift tepat saat Jung min melepaskan pegangannya..

“aiissshhhh… untung saja…”gumam Seung gi. Ditatapnya Jung min yang berada di sisinya. Terlihat sangat cemas duduk berdiri di sisinya. Seung gi menatapnya tersenyum “…tenang saja… tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi pada Hye na… ia wanita yang kuat dan penuh keberuntungan…”kata Seung gi. Jung min masih diam disisinya, sepertinya kalimat menghibur Seung gi tidak berhasil membawanya keluar dari rasa khawatir.

Seung gi menatapnya, diam, namun tak lama kemudian senyum terlihat di wajahnya. Ditatapnya Jung min lama dan dihelanya napas, tenang.

**********

Seung gi menghentikan laju mobil Jung min dan sebelum benar-benar berhenti Jung min berlari cepat keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah sakit. Seung gi keluar tanpa mampu menghentikan laju lari Jung min. Jung min sudah sangat tergesa ketika mendengar kabar tentang Hye na. Perlahan Seung gi keluar dan berjalan keluar ke sebuah toko bunga yang tak jauh dari tempatnya berada. Ia membeli beberapa ikat bunga mawar putih yang di bungkus apik dan diberi pita. Benar-benar menarik. Setelahnya ia masuk kedalam rumah sakit.

Jung min masih berlari masuk ke dalam lift dan segera menekan  tombol 3. Lift berdebtang tertutup dan mulai bergerak perlahan. Jung min sangat khawatir saat itu. Banyak hal berkelebat di kepalanya. Ketakutan merajai.

“aiiissshhh… sudah aku bilang istirahat di rumah…tapi kau…”gumam Jung min pelan. Pintu lift berdentang terbuka dihadapannya, membuat Jung min segera berlari keluar dari sana dan melaju cepat ke sebuah ruangan. Jung min menghentikan langkahnya saat tiba-tiba sebuah pintu terbuka dari dalam. Jung min menatap seseorang dihadapannya yang diam sama terkejutnya dengan dirinya.

Keduanya terdiam sesaat, saling menatap. “mana Hye na…”tanya Jung min cepat begitu tersadar dari keterdiamannya.

Orang itu hanya diam, menundukkan kepalanya, dan diam. “yy..yya…yya…apa yang terjadi…”tanya Jung min lagi, semakin khawatir. Orang itu masih diam ditempatnya, hanya helaan napas yang berat yang terdengar.

“aaiiissshhh..!! apa yang terjadi!!”seru Jung min akhirnya tak sabar

“…dia…ada di atap…”jawab orang itu akhirnya. Jung min diam, menatap orang itu. rasa bingung kembali menguasai dirinya.

“ayo…”

Jung min diam sesaat kemudian segera berlari pergi menaiki tangga. Ia tidak ingin berlama-lama menunggu lift yang begitu lama berdentang terbuka dihadapannya, namun ketika ia membuka pintu darurat, langkahnya terhenti, ditatapnya sekuntum mawar merah yang tergeletak di lantai. Jung min menatapnya sesaat, kemudian memungutnya. Ditatapnya sekuntum  mawar itu ditangannya sebelum akhirnya ia melanjutkan langkahnya lagi. Jung min kembali berlari naik ke tangga berikutnya dan lagi-lagi langkahnya terhenti. Ia kembali memungut sekuntum mawar yang mulai ia sadari sengaja di letakkan oleh seseorang. Dan itu terjadi hingga akhirnya ia sampai di tangga terakhir menuju atap. Jung min diam, menatap sekuntum bunga terakhir ditangannya. Sebuah foto hitam putih diantara bunga-bunga terakhir yang ia temukan di sana. Sebuah foto yang tidak jelas tentang apa, yang ia tahu foto itu memperlihatkan titik kecil di tengah dengan latar belakang foto hitam. Jung min tersenyum, ketika mulai menyadarinya.

Perlahan Jung min membuka pintu, cahaya terang matahari mulai menyinari dirinya dan kedua penglihatannya. Jung min diam sesaat, di carinya sebuah sosok di antara sinar matahari yang menyilaukan. Dan sosok itu terlihat tengah berdiri dengan tangan membentang terbuka dan mata tertutup. Jung min berjalan cepat menghampiri, ketika rasa takut mulai menghantui dirinya.

“yya!! Apa yang kau lakukan!!!” seru Jung min, memeluk Hye na dari belakang, seakan menghentikan langkah Hye na yang akan terjun dari atap rumah sakit.

Hye na tersenyum, di bukanya kedua penglihatannya perlahan “kau sudah datang…”kata Hye na, mengusap pelan tangan Jung min yang melingkar di perutnya.

“sebenarnya apa yang kau lakukan…” bisik Jung min, bertanya.

“ahni… tak ada… hanya menunggumu…”

Jung min diam, di benamkan kepalanya di tengkuk Hye na, menghirup aromanya “…jadi semua bunga itu…?”

Hye na tersenyum geli “apa…sudah romantis…?”tanya Hye na, melepaskan dekapan Jung min, memutar tubuhnya.

“…eerrrmmmm…. Hampir…”

Hye na menundukkan kepalanya, sedih “… masih belum ya…”

Jung min tersenyum “…hampir… hanya kurang ini…” ucapnya, yang kemudian mengangkat dagu Hye na perlahan, dan ditatapnya Hye na dalam, penuh cinta kemudian seperti yang Hye na diga, Jung min membenamkan bibir padatnya di bibir Hye na. Jung min menciumnya dengan penuh kelembutan.

Hye na tersenyum menatap Jung min lembut setelah Jung min melepaskan ciumannya. Jung min membalas tatapan Hye na, tersenyum. “…foto ini…”tanya Jung min, menunjukkan foto yang ia temukan diantara bunga-bunga.

Hye na tersenyum,  “kau sudah tahu…”tanya Jung min kemudian, menatap Hye na.

Dan tanpa menjawab pertanyaan Jung min, Hye na membawa Jung min duduk di sebuah kursi yang sudah ia sediakan, yang menghadap ke sebuah dinding atap dimana sudah terpasang layar besar. Hye na menyalakan laptopnya dan hanya dalam hitungan detik, sebuah film terlihat di hadapannya. Jung min diam, menatap layar itu takjub. Dari film, itu ia hanya melihat sebuah video kabur yang bergerak perlahan dan menunjukkan gambar yang sama dan tidak berubah hanya memperlihatkan gerakan-gerakan yang berbeda, seakan hanya diambil dari satu tempat. Jung min terdiam, ia bangkit dari tempatnya dan menajamkan pendengarannya saat ia mendengar degupan jantung yang terdengar lirih namun cepat disana, seperti jantungnya saat itu.

Hye na tersenyum. Dilangkahkan kakinya perlahan mendekati Jung min, dan dipeluknya Jung min dari belakang. “….anak kita…”bisik Hye na, yang kemudian disusul senyum lebar dari Jung min

***********

Malam menjelma kembali. Menunjukkan kecantikannya dengan kerlip bintang dan sinar bulan sabit yang menyertainya. Hye na diam menatap mawar putih di sisinya yang sudah ia pindahkan ke sebuah pot cantik di kamarnya yang ia letakkan di meja disisi ranjang tepat di sampingnya. Di pandanginya terus tanpa menyadari tatapan Jung min dengan senyum terkembang di wajahnya.

“kok belum tidur…kenapa…?”tanya Jung min kemudian

Hye na mengalihkan pandangannya dan tersenyum menatap Jung min “…bunga pertama yang kau berikan padaku…”kata Hye na

Jung min diam, ia kalah. Ia benar-benar tidak pernah bersikap romantis pada Hye na, dan hari itu, Hye na yang mendahuluinya. Memberikan sesuatu yang romantis untuknya dan membuatnya bahagia hingga berjanji tidak akan pernah melupakan hari ini. “benarkah…?”tanya Jung min kemudian, menatap Hye na, dan dalam hati berterima kasih pada Seung gi. Ia benar-benar kalah dari Seung gi. Ia sama sekali tidak pernah memikirkan apa yang membuat Hye na senang dan bahagia. Dan ternyata hanya dengan seikat bunga, Hye na sudah sangat bahagia hingga tidak dapat memejamkan matanya.

“kau senang…?”

“sangat… “jawab Hye na tersenyum lebar menatap Jung min “gomawo sayang…”tambah Hye na, melingkarkan lengannya di leher Jung min. Keduanya diam saling menatap lembut. Hanya berlangsung beberapa detik, kemudian Hye na tersenyum lebar di hadapannya.

“…ada apa…? Kenapa kau tersenyum seperti itu…”tanya Jung min, menangkap sesuatu yang aneh dari Hye na, seperti senyum anak kecil yang menginginkan sesuatu.

“… aku ingin sushi…”kata Hye na, menatap Jung min dengan tatapan rayuannya.
Jung min diam, bingung “…sushi…?!?”

Hye na menganggukkan kepalanya “ne.. sushi…”

“tapi… sudah jam berapa sekarang… apa masih ada restoran Jepang yang buka…”
Hye na diam, mengerucutkan bibirnya “…aku tidak pernah bilang kau harus membelinya… kau bisa membuatnya…”

“tapi…aku…”

Hye na diam, membalikkan tubuhnya, melipat kedua tangannya didada dan semakin mngerucutkan bibirnya. Jung min diam, menatapnya, kemudian senyum terkembang di wajahnya.

“…baiklah… untuk istriku tersayang…”kata Jung min menyetuh dagu Hye na dan memutar kepalanya hingga kembali menghadap padanya, dan dengan lembut Jung min mendaratkan ciuman di bibir mungil Hye na, sesaat dan kemudian bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar.

Hye na diam, menatap kepergian Jung min dan menunggu, menunggu…menunggu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dari ranjang, mengambil mantel hangatnya dan membuka blakon kamarnya.

Akhirnya penantiannya berakhir. Pintu dibelakangnya menjeblak terbuka disertai aroma sushi yang ia tunggu.
“aku datang…”seru Jung min, menutup pintu di belakangnya.

“ahhh!! Sushi!!”seru Hye na, menerima sepiring sushi dari tangan Jung min.

Hye na mengambil sebuah dan ia celup ke saus kecap yang sudah disediakan Jung min kemudian mulai memakannya. Jung min diam, menatap Hye na, khawatir, dan cemas, menunggu. Hye na menghentikan makannya dan menatap Jung min bingung “kenapa…?”tanya Hye na

“ahni…”

Hye na menatap Jung min sangsi “benarkah…?” tanya Hye na “…tenang saja… enak…”sambung Hye na, ketika menatap Jung min yang menundukkan kepalanya.

Jung min mengangkat kepalanya, menatap Hye na “jeongmal…?”

“ne…kalau tidak percaya…ini…”kata Hye na, yang kemudian menjejalkan sebuah sushi ke mulut Jung min “…hambar…”kata Jung min kemudian

Hye na tertawa pelan, meatap Jung min yang terlihat malas untuk untuk menguyah sushi buatannya sendiri. “…sekarang…”tanya Hye na yang kemudian mengecup bibir padat Jung min. Hye na tersenyum menatap Jung min yang terkejut dihadapannya setelah Hye na melepaskan ciumannya yang sesaat.

“bagaimana…?”tanya Hye na, menatap Jung min

Jung min tersenyum “…lebih enak…”kata Jung min, yang tiba-tiba menyerang Hye na hingga tertidur di sofa di mana mereka duduk. “yya…!!”seru Hye na

“ada apa…?”tanya Jung min, menatap Hye na yang ada di bawahnya. Hye na hanya diam, menatap Jung min, ia begitu terpana dengan tatapan tajam nan kembut dari Jung min “…ahni…”

Jung min tersenyum, menatap Hye na, lalu perlahan ia menurunkan kepalanya, dan mengecup kening Hye na pelan. “…bisakah aku meminta sesuatu…”bisik Jung min.

Hye na diam, ditatapnya Jung min, sedikit takut “…ap…apa…?”tanya Hye na

“…buatkan aku jeruk dingin…”

“dingin…?”

“ne…”

“tapi ini sudah terlalu malam dan dingin untuk minum minuman dingin…”

“…tapi…”

“…aku buatkan susu gimana…?”

“susu…?”

Hye na mengganggukkan kepalanya “ne… sebentar ya…” Hye na keluar dari kamar, meninggalkam Jung min yang diam menatapnya, tersenyum.

Tak lama Hye na datang dengan segelas susu yang ia janjikan “datang…”seru Hye na, memberikan segelas susu yang ia buat pada Jung min.

“ayo minum…”pinta Hye na, menatap Jung min menunggu. Jung min diam ditempatnya, ditatapnya susu ditangannya, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Hye na yang menatapnya, berharap. Perlahan Jung min meminum susu yang Hye na buat untuknya, namun hanya satu kali teguk, Jung min meletakkan gelas itu dihadapannya “kenapa…?”tanya Hye na bingung

“..asin sayang…”

“benarkah… tapi aku memberikan gula tadi…bukan garam”

“asin… coba kamu rasakan…”

“tapi… masa aku salah memasukkan garam alih-alih gula…”

“entahlah…kalau tidak percaya…. Coba saja rasakan…”

“tapi…”

“rasakan saja…”

Hye na diam, ditatapnya Jung min, kemudian perlahan menjulurkan jemarinya, masuk ke dalam gelas, untuk merasakan susu yang dibuatnya. “enggak kok…”jawab Hye na kemudian, menatap Jung min meragukan.
“jeongmal…?!?!”kata Jung min tidak percaya “tapi… coba aku rasakan lagi…”kata Jung min lagi dan kemudian kembali meneguk susu dihadapannya lagi. “…asin sayang… mungkin karena pengaruh sushi yang kau makan…”

“masa… tapi…”

“coba kamu minum sedikit…”pinta Jung min kemudian, memberikan gelas susu di datangannya pada Hye na. Hye na menerimanya dan ditatapnya Jung min sesaat sebelum akhirnya ia menjulurkan lidahnya untuk lebih merasakan, dan… “enggak sayang… gak asin…”jawab Hye na kemudian

“jeongmal…? Coba berikan padaku…” Hye na memberikan gelas susu itu pada Jung min dan kemudian dengan cepat Jung min mulai menghabiskan susu itu, hingga tetes terakhir. Hye na menatapnya bingung “…kok…?”

“setelah kau memasukkan lidahmu…rasanya jadi manis… bahkan lebih manis dari karamel…”ucap Jung min, membuat wajah Hye na memerah mendengarnya. Dan Jung min tersenyum, ia berhasil kali ini.

***********

Hye na diam, ditatapnya laki-laki yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya di hadapannya. Keduanya terdiam lama, sangat lama bahkan. Hingga akhirnya laki-laki dihadapannya menyerah.

“soesongheyo Hye na… maafkan aku…aku tidak bermaksud mencelakai dirimu…aku hanya…”

“cukup oppa… aku tidak pernah menyalahkan dirimu…”

“tapi…”

“tapi jika kau ingin aku menyalahkanmu…aku akan melakukannya…”sambung Hye na dan berhasil membuat laki-laki dihadapannya mengangkat wajahnya, menatap Hye na.

“mianheyo…jeongmal mianhe…”

Hye na diam, menarik napas dalam, karena tiba-tiba rasa mual menyerang dirinya, namun ia menahannya.

“…apa kau benar-benar ingin aku memaafkanmu…”tanya Hye na kemudian

Laki-laki dihadapannya menatap Hye na penuh harap “tentu saja… apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan maafmu…”

“apapun…oppa…”

“ne…”

Hye na diam, menatap laki-laki dihadapannya, lalu senyum terkembang di wajahnya.

********

Hye na tersenyum menatap wanita dihadapannya, “bisakah aku menemui suamiku…ah… maksudku tuan Lee…”

Wanita dihadapannya tersenyum “ne… tentu saja… tapi beliau sedang rapat… anda bisa menunggunya didalam Han agashi…”

“terima kasih banyak nona Kang…”

Hye na membuka pintu dihadapannya dan masuk. Perlahan ia duduk di sofa dan menghabiskan waktunya menunggu Jung min dengan membaca beberapa majalah ekonomi di sana, namun hanya sesaat, kemudian rasa bosan merajainya. Hye na meletakkan majalah ditangannya dan mencari bacaan yang lain yang lebih menarik yang dapat ia temukan, dan ia benar-benar terkejut saat ia menemukan sebuah buku tentang kedokteran dan tentang ibu dan anak. Hye na tersenyum menatap itu dan kemudian ia mulai membacanya. Ia sama sekali tidak menyangka Jung min tertarik dengan hal-hal tentang kedokteran dan tentang ibu anak.

Tak lama, pintu di hadapan Hye na menjeblak terbuka, dengan cepat Jung min masuk, diedarkan pandangannya mencari sebuah sosok yang sangat ia rindukan.

“Hye na!!”seru Jung min, berjalan cepat menghampiri Hye na, lalu memeluknya erat “ada apa…kenapa kau kemari…?”

Hye na melepaskan pelukan Jung min dan ditatapnya sang kekasih di hadapannya. “ahni… hanya rindu…”kata Hye na, tersenyum menatap Jung min

Jung min tersenyum mendengar perkataan Hye na “…oh syukurlah…aku pikir terjadi sesuatu denganmu…” ucap Jung min, menundukkan kepalanya pelan.

“bukankah kau sedang rapat…?”tanya Hye na, menatap Jung min bingung.

“ahh…” perkataan Jung min terputus. Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan Jung min, dan berteriak padanya. “YYA!! Lee Jung min!! rapat kita belum selesai!!”seru Seung gi tiba-tiba

Jung min diam ditempatnya “aaiiissshhh…”

“….YYA!! kau ini!!”

“tapi…”Jung min menatap Hye na

“cepat kembali!!”seru Seung gi

“tapi…”

“pergilah…”sambung Hye na, menatap Jung min tersenyum.

“tapi…”

“tak apa…atau aku pergi…”

Jung min diam, menatap Hye na, mencari sebuah kesungguhan disana, dan ia mendapatkannya “…baiklah…aku pergi… tapi kau…tunggu aku…”kata Jung min. Hye na tersenyum dan mengganggukkan kepalanya, kemudian secepat kilat Jung min mengecup bibir mungil Hye na.

“auuushhh…pergilah…”

Jung min tersenyum, kemudian beranjak pergii dengan Seung gi yang mengikuti Jung min, namun langkah Seung gi tiba-tiba terhenti “…Seung gi-ssi… terima kasih untuk bunganya…”kata Hye na kemudian setelah Jung min menghilangm berbelok di ujung lorong. Seung gi diam, setelah ia menatap senyum Hye na, senyum terkembang di wajahnya.

“..Jung min yang memintaku untuk membelinya…”kilah Seung gi. Hye na tersenyum

“..sama saja bukan… kau juga yang keluar, memilih dan membeli…”

Seung gi diam, menyerah. Tidak ingin mendebat apapun lagi, karena ada rapat yang lebih penting dari hanya sekedar berdebat dengan Hye na “…ne… traktir saja aku kapan-kapan untuk terima kasih mu itu Hye na-ssi… dan sekarang… aku harus menemani Jung min… rapat sudah dimulai…”kata Seung gi tersenyum menatap Hye na.


Hye na tersenyum, membalas senyum Seung gi, menatap Seung gi dan mengganggukkan kepalanya.

***********

Matahari semakin beranjak pergi. Semburat merahnya terlihat indah menghiasi ufuk barat. Perlahan sang surya menghilang hingga tergantikan oleh bulan.
Seorang laki-laki terlihat terdiam, menopang dagunya. Banyak hal yang berputar di kepalanya. Banyak pikiran yang sangat perlu ia pikirkan, dan itu membuatnya bingung sekaligus bimbang. Kini pikirannya kembali melayang, sebuah sosok yang sangat ia rindukan namun juga sangat ia takutkan datang, menemuinya dan menawarkan suatu hal padanya.

Flashback

“soesongheyo Hye na… maafkan aku…aku tidak bermaksud mencelakai dirimu…aku hanya…”

“cukup oppa… aku tidak pernah menyalahkan dirimu…”

“tapi…”

“tapi jika kau ingin aku menyalahkanmu…aku akan melakukannya…”sambung Hye na dan berhasil membuat laki-laki dihadapannya mengangkat wajahnya, menatap Hye na.

“mianheyo…jeongmal mianhe…”

Hye na diam, menarik napas dalam, karena tiba-tiba rasa mual menyerang dirinya, namun ia menahannya.

“…apa kau benar-benar ingin aku memaafkanmu…”tanya Hye na kemudian

Laki-laki dihadapannya menatap Hye na penuh harap “tentu saja… apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan maafmu…”

“apapun…Ji hoon-ssi…”

Ji hoon diam, keterkejutan terlihat di wajahnya. Ia benar-benar tidak menyangka Hye na akan memanggilnya seperti itu “…ne…”jawab Ji hoon pelan, menundukkan kepalanya

Hye na diam sesaat, ditatapnya laki-laki dihadapannya diam, lalu senyum terlihat terkembang di wajahnya dan semakin lebar. Ji hoon diam menatap Hye na. ia sudah mengertu tentang Hye na. hampir separuh hidupnya ia bersama Hye na, dan ia mengerti apapun itu. Wajah Hye na menyimpan sesuatu, sesuatu yang besar.

“… aku ingin kau keluar dari Seoul…”ujar Hye na pelan, menatap Ji hoo yakin. Ji hoon mengangkat kepalanya cepat mendengar perkataan Hye na.

End of Flashback

Ji hoon menundukkan kepalanya semakin dalam. Ia benar-benar tidak menyangka Hye na akan sebenci itu padanya. Hye na tidak mau melihat dirinya lagi. Hye na benar-benar membenci dirinya, bahkan Hye na tidak ingin melihat dirinya berada di kota yang sama dengannya, Hye na tidak menginginkan dirinya berada di Seoul.

Ji hoon membenamkan dirinya. Kegelapan malam mulai menyelimuti. Cahaya sang bulan kembali menyusup masuk, menerangi ruangannya yang hanya berukuran 3x4m.

*********

End of Chapter


maaf kalau jelek...  [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
« Last Edit: December 06, 2010, 05:03:50 pm by ai_yuki »

fara

  • Guest
Gomawo ai udh diupdate [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]
ak baca dulu ya...