Author Topic: *SEARCHING MY DESTINY* ON HIATUS  (Read 8994 times)

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
lanjutkaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnn [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap]

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
FF ini aku publish di FB gk papa yaa...
Mami.. Minta ijinnnn..

Lagian di FB gk aku tag ke siapa" kok...
Cuma asal di post aja...

Mamiiiiiiii... jangan [head break] [head break] [head break] [head break]...

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
FF ini aku publish di FB gk papa yaa...
Mami.. Minta ijinnnn..

Lagian di FB gk aku tag ke siapa" kok...
Cuma asal di post aja...

Mamiiiiiiii... jangan [head break] [head break] [head break] [head break]...
ok deh ...

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
FF ini aku publish di FB gk papa yaa...
Mami.. Minta ijinnnn..

Lagian di FB gk aku tag ke siapa" kok...
Cuma asal di post aja...

Mamiiiiiiii... jangan [head break] [head break] [head break] [head break]...

 [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] [head break] whistling [hmpfh]

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^

Offline minyounglee

  • Admin
  • Junior
  • *****
  • Posts: 165
    • View Profile
"One of my top escapades is to dive through this infinite world of imagination." - Me

Just tweeting...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile





Keluar dari bandara internasional Incheon, Seung-Hyun menjulurkan lehernya, menoleh ke kanan dan ke kiri.  Pandangannya diedarkan ke seputar lapangan parkir di luar bandara. Air tampak mengenangi lapangan luas di luar sana. Kelihatannya hujan deras baru saja menguyur kota Seoul. Sepasang mata Seung-Hyun berputar kesana kemari, tapi tetap tidak terlihat bayangan orang-orang dan mobil yang menjemputnya. Seung-Hyun menghembuskan nafasnya keras-keras. Kemudian dia melirik jam tangan kulit yang melingkar di tangan kirinya. 'Hmm memang lebih awal sepuluh menit dari waktu yang ditentukan .. '. Dengan malas, Seung-Hyun melepaskan pengangan dari koper kecil yang sedari tadi diseretnya dan membiarkan koper tersebut tergeletak begitu saja di lantai yang sedikit basah.

Sepuluh menit berlalu dan kesabaran Seung-Hyun mulai menipis.
"kemana perginya para bawahan berengsek itu!!!", gerutunya. "Huhhh ... ". Dengan kesal ditendangnya salah satu pilar besar penyangga bandara yang berdiri kokoh di sekitar situ. "Akhhhh ....!!!!", teriakan keras langsung terdengar ketika kaki kirinya mendarat pelak di pilar besar itu. Walaupun kakinya terbalut sepatu sport Nike yang cukup tebal, tetap saja rasa sakit itu menjalar masuk dari jari kaki sampai sepanjang kakinya. "Brengsekkkkkkkk!!!", teriaknya lagi. Kali ini lebih keras dan mulai menarik perhatian para pengunjung bandara.

"Doronim ... "

Sapaan halus dari sebelah membuat Seung-Hyun mengalihkan perhatian dari kecelakaan kecil yang menimpa kakinya kearah suara tersebut. Seorang pria setengah baya dengan penampilan sempurna sudah berdiri di sampingnya. Pria itu tersenyum dan membungkuk hormat padanya.
"Sosoengheyo doronim. Saya datang terlambat. Jalan ke sini agak macet karena hujan deras .. "

Tampang Seung-Hyun menjadi kaku.
"Haruskah saya memperingatimu untuk berangkat lebih awal dari waktu yang kuberikan, tuan Song?"

"Sosoengheyo .. ", sekali lagi, tuan Song membungkukkan badannya.

"Ahh sudahlah!!". Seung-Hyung mengibaskan tangan dengan kesal.

Dia mulai bergerak dari posisinya, berjalan ke lapangan parkir yang basah. Tuan Song mengikuti dari belakang sambil menyeret koper yang tadi diletakkannya di lantai.

"Mana mobilnya?", tanya Seung-Hyun.

"Yang itu doronim ... ". Tuan Song menunjuk ke depan. Sebuah ferrari hitam dengan kap terbuka berdiri anggun di tengah lapangan parkir yang dipenuhi berpuluh-puluh mobil dengan jenis dan merk berbeda-beda.

Seung-Hyun berbalik pada tuan Song dan mengulurkan tangannya. Pria itu segera memandanginya dengan pandangan bertanya. Seung-hyun langsung berdecak halus.
"Ckk berikan kuncinya ... "

"Doronim ingin membawa mobil sendiri?", tanya tuan Song, tidak percaya.

"Memangnya kenapa? Saya sering melakukannya kan?", tanya Seung-Hyun kesal.

Tuan Song akhirnya mengangguk, kemudian merogoh ke saku celana dan memberikan sebuah kunci pada Seung-Hyun. Setelah menerima kunci tersebut, Seung-Hyun merampas koper dari pengangan tuan Song dan melemparkannya ke jok belakang. Dia melepaskan ransel dari punggung dan juga melemparkannya ke jok belakang. Kemudian tanpa membuka pintu terlebih dahulu, dia meloncat ke bangku kemudi.
"Kamu pulang saja dengan taxi. Tidak perlu mengikutiku!!", perintahnya pada tuan Song sambil menghidupkan mesin mobil. Ruuurrrmmmm ... raungan keras langsung terdengar dan asap tipis menyembur keluar dari bawah mobil.

"Tapi doronim .. tuan dan nyonya besar memerintahkanku membawa doronim ke rumah.". Sanggah tuan Song serba-salah.

"Sampaikan salamku pada omma. Katakan padanya saya sangat merindukannya. Saya akan menghubunginya, begitu juga appa, nanti. Untuk beberapa hari ke depan saya akan tinggal di balai taekwondo jadi kalian tidak perlu mencariku ... ".

Tanpa menunggu protes-protes lebih lanjut dari tuan Song, Seung-Hyun memasang kacamata hitamnya dan mulai melajukan ferrari hitam itu ke depan. Laju ferrari mewah dalam kendalinya semakin lama semakin kencang dan akhirnya lenyap dari pandangan tuan Song.


Pria itu mengeleng perlahan. "Keluarga yang memiliki segalanya, tapi mengapa komunikasinya seperti ini?"

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=


"Djia-Djia ce!!!!! Benar, itu Djia ce!!!!"

"DJIA CEEEE!!!!!!!!"

Teriakan-teriakan dari anak-anak panti asuhan Santa Maria membahana, mengelegar memekakkan telinga, begitu mengetahui kehadiran Djia-Djia di pintu gerbang gereja Santa Maria. Tangan-tangan kecil mereka menunjuk berulang-kali kearah Djia-Djia dan ekspresi tidak percaya terlukis jelas di wajah polos mereka.

Djia-Djia tersenyum sambil melambaikan tangan pada mereka. Dia meloncat-loncat kegirangan, layaknya anak kecil yang baru mendapat permen atau hadiah untuk pertama-kalinya.
"HYYYYY .... !!!", balasnya bahagia. Suaranya keras dan nyaring.

Sudah lebih dari setengah tahun Djia-Djia tidak menginjakkan kakinya di tempat ini. Karena kesibukkan yang seabrek, -latihan-latihan dan pertunjukkan-pertunjukkan menyebabkan dia tidak punya waktu bertemu dengan saudara-saudarinya di sini. Gereja dan panti asuhan Santa Maria, tempat dia dibesarkan dan mendapat kasih sayang murni. Sejak ditinggal pergi kedua orangtua beserta kakak kembarnya akibat kecelakaan pesawat tujuhbelas tahun yang lalu, Djia-Djia diasuh oleh suster Maria di panti asuhan ini, karena sepeninggal keluarganya tersebut anak itu sudah tidak mempunyai keluarga lain lagi.

Dari dulu suster Maria sangat menyanyangi Djia-Djia. Bukan hanya karena anak itu sejak kecil sudah memperlihatkan bakatnya yang besar di bidang nari, tapi dia juga sangat manis dan pandai. Walaupun kadang-kadang kebandelan dan kenekatannya membuat para pengurus panti asuhan Santa Maria, termasuk suster Maria, pusing tujuh keliling, Djia-Djia tetap merupakan bagian terpenting dan tak terlupakan dari panti asuhan ini.

Duabelas tahun yang lalu, Djia-Djia dibawa pergi pelatih Kuo dan bergabung dengan Beijing's Dance Ass. Pelatih Kuo merupakan kenalan suster Maria. Dia sering mengadakan pertunjukkan-pertunjukkan amal kecil-kecilan di gereja Santa Maria, dan juga memberikan kesempatan pada anak-anak berbakat di sana untuk menunjukkan kemahiran-kemahiran di bidang yang mereka kuasai. Semuanya bertujuan menghibur anak-anak panti asuhan di sana.

Ketika pertama kali bertemu Djia-Djia, pelatih Kuo sudah melihat bakat yang luar biasa dari anak gadis berusia sepuluh tahun itu. Dia tertarik pada Djia-Djia dan berniat melatihnya menjadi penari termasyur se-Cina, bahkan sedunia. Ini mimpi yang ingin diwujudkan pelatih Kuo dari dulu. Atas ijin dan restu dari suster Maria akhirnya dimulailah petualangan Djia-Djia di Beijing's Dance Ass.

"Ada apa kalian berteriak-teriak seperti ini? Dari tadi ribut sekali! Sekarang kan masih ada kebaktian di gereja!!"

Seorang wanita berusia sekitar tujuhpuluh tahun, berpakaian suster -lengkap dengan jubah dan kerudungnya yang panjang-, keluar dari dalam gereja dan menelusuri gerombolan anak-anak dihadapannya dengan sinar mata bertanya.

"Djia ce!! Djia ce datang!!", jawab salah satu anak dengan suaranya yang melengking tinggi.

"Apa??". Wanita itu segera mengikuti arah yang ditunjuk anak-anak tersebut. "Ohh tuhan!!", dia langsung menutup mulutnya dengan tangan.

"Mother Maria .....!!!!". Djia-Djia bersorak keras.

"O Djia-Djia!. Ini benar kamu?! .. O tuhan, mother mengira kamu tidak bisa pulang dengan jadwal sepadat itu ... "

Tergopoh-gopoh suster Maria menuju gerbang depan dan membuka pintu buat Djia-Djia. Yang lain mengikuti dari belakang. Masih dengan suara ribut yang berisik dan memekakkan telinga.

"Mother Maria!!!". Djia-Djia langsung memeluk suster Maria erat-erat. Air bening mengalir deras di sepanjang pipinya. "Saya sangat merindukan kalian ... ", katanya dengan suara serak.

"Kami juga, sayang ... ". Suster Maria mengelus sayang rambut Djia-Djia. "Bagaimana keadaanmu?"

"Baik .. hikss ... ". Djia-Djia melepaskan pelukannya dan mengamati dengan seksama wanita tua dihadapannya. Suster Maria sudah semakin tua. Rambutnya sudah beruban semua. Isakan Djia-Djia semakin menjadi-jadi. Dengan punggung tangan dia menghapus airmata yang terus mengalir keluar dari sudut matanya. "Saya .. saya menerima kartu ucapan selamat ulangtahun yang dikirimkan mother kemarin dan .. saya .. saya sangat merindukan mother. Juga saudara-saudara lainnya .. ". Djia-Djia kembali memeluk suster Maria. Matanya terpejam rapat-rapat, sedangkan wajahnya sudah basah semua oleh airmata.  

"Anak bodoh! Kalau memang terlalu sibuk, kamu tidak perlu menyempatkan diri menjenguk Mother dan saudara lainnya di sini. Mother akan selalu mendukung semua kegiatanmu. Doa mother selalu menyertaimu anakku ... ". Suster Maria melepaskan rangkulan Djia-Djia dari tubuh reyotnya. Mengamati wajah gadis itu. Tersenyum lembut dan menghapus airmata dengan tangannya yang keriput. "Selamat ulangtahun anakku. Semoga tuhan selalu menjagamu. Semuanya, -kesehatan, karir dan juga cinta .. "

"Terimakasih mother. Hiksss .. tempat ini dan kalian merupakan kebahagiaanku. Akan selalu begitu .."

"Anak bodoh!". Suster Maria mengetok pelan jidat Djia-Djia.

"He .. he .. ". Gadis itu tersenyum. Tanggisannya sudah reda dan wajahnya sekarang berseri-seri bahagia.



"Lalu mengapa kamu bisa kemari? Mana Kuo lao xi?". Suster Maria mengedarkan pandangan ke belakang Djia-Djia, tapi tidak terlihat seorangpun di sana.

Gadis itu tersentak. Dengan cepat dia memutar tubuh suster Maria. "Kita bicarakan di dalam saja!!", katanya dengan suara nyaring, seperti ingin menutupi sesuatu. Kemudian dia mulai mendorong tubuh suster Maria sehingga mau tidak mau wanita renta itu melangkahkan kakinya ke depan menuju gereja tua dihadapan mereka. "Hari ini saya datang sendirian motherku sayang .. Saya sedang liburan dan akan tinggal di sini sampai nanti sore, setelah itu saya akan terbang ke Shanghai ... ", sambungnya sambil mengelus lembut wajah suster Maria.

Lalu dia berpaling ke belakang. "Ayo anak-anak. Ikut ce-ce (kakak) ke dalam .. "

"HOREEEEEEE!!!!!!". Teriakan memekakkan telinga kembali terdengar. Djia-Djia dan suster Maria serentak menutup telinga erat-erat dengan kedua tangannya.

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=


Incheon Airport ......

Min-Hye menyeruput segelas kopi pekat yang baru dibelinya di suatu cafe di dalam bandara. Ia menghela nafas kesal.

"Bagus, terlambat sepuluh menit lebih tiga puluh detik," ia membatin sebal. Tidak ada hal yang dapat membuat dirinya menjadi sejengkel ini selain menunggu seseorang -- yang tak lain adalah tunangannya, In-Jung.

"Aduh..., aduh..., kakiku," gerutu Min-Hye menatap kedua kaki mungilnya yang mulai terasa sakit, mungkin karena ia berdiri terlalu lama diatas sepasang high-heels modis berhak lebih dari delapan centi. Sesungguhnya dari tadi , mata Min-Hye sudah menangkap jejeran bangku tunggu di ujung sana, namun....

"Ooh, tidak. No! No! No! Aku tak mungkin duduk disana," tolak Min-Hye dalam hati, jijik. Membayangkan segerombol orang 'kumuh' yang berlalu-lalang, bergantian menjadi 'penghuni' bangku tersebut. "Pasti banyak kuman dan kumpulan debu, aku tidak akan mengambil risiko," gumam Min-Hye dingin, tak rela gaun pendek mahal bewarna soft-brown yang dikenakannya dikotori oleh setitik nodapun. Walaupun rasa sakit pada kakinya semakin menjadi-jadi,  ia terus bertahan untuk tetap berdiri. Berdiri menunggu si In-Jung berengsek itu. Lagipula kenapa sih kepulangannya harus ditunggui segala? ia toh sudah bukan anak kecil lagi! Omelan Min-Hye didalam hati meluap-luap mengingat kemauan In-Jung untuk dijemput di Bandara. Masih banyak pekerjaan yang mengejar waktunya -- menyelesaikan tahap akhir gaun pengantin, mengerjakan sketsa rancangan coat musim dingin, menyeleksi kain-kain terbaik dari seluruh dunia yang akan diambil sebagai bahan dasar, bisa disimpulkan bahwa pekerjaan adalah 'segalanya' -- tetapi ia harus berdiri bak orang konyol disini.

Drrrtt..

"Ponsel sialan," kutuk Min-Hye. Kenapa harus ada orang yang menggangunya disaat suasana hatinya sedang buruk -- sangat, sangat buruk seperti ini? Min-Hye menjepit tas kecil bermerek Hermes diantara perut dan pahanya, lalu dengan susah payah salah satu tangannya merogoh-rogoh mencari ponsel didalam tas, sementara tangan yang lain memegang segelas kopi.

Drrrtt..

Ponsel itu terus menjerit minta diangkat padahal 'nona pemilik' kewalahan mencarinya diantara peralatan make-up yang memenuhi isi tas Min-Hye.

Drrrtt..

Tangan Min-Hye semakin kasar merogoh, tak sabaran ketika benda yang dicari tidak ditemuinya, bunyi nyaring ponsel tak kunjung berhenti. Keseimbangannya oleng, gelas kopi di tangan yang lain bergoyang tak karuan....

Drrrtt..

Brengsek, dan kedua kakinya bertambah nyeri sehingga...,

Drrrtt..

Sehingga...., tak mampu menopang lagi.

Dan...

BRAKKK..., tubuh Min-Hye beserta gelas kopi, juga segala isi tasnya jatuh terhempas ke lantai dan tepat pada saat itu ..., ponselnya berhenti menjerit. Orang-orang mulai memasang mata mereka tertuju pada seorang wanita mungil nan cantik yang menyedihkan sebagai 'hiburan'.

Min-Hye menutup mata dan mendengus. Sialan, sialan, sialan! Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika untuk pertama kalinya ia mempermalukan diri sendiri di depan umum -- karena ponsel tak tahu diri itu.

"Agashi," suara serak asing yang terdengar ramah menyapu gendang telinga Min-Hye. Mungkin ia ingin membantu? tetapi Min-Hye bukanlah seorang nenek paruh baya yang memerlukan belas kasihan seseorang. Min-Hye paling benci dibantu,- karena..., karena itu menandakan ia tidak mampu melakukannya sendiri. Dan Min-Hye yakin ia mampu menangani segalanya. Dalam hidup ini, tidak ada yang tidak bisa dilakukannya. Ia paling mengerti apa yang harus dilakukan. Garis hidup ada di tangan sendiri, -ini prinsip hidupnya.

Maka Min-Hye tidak menjawab, hanya diam membatu dengan hati mencelos karena tiba-tiba teringat kalau tubuhnya terbaring di lantai -- yang merupakan lautan kuman dan kumpulan debu. Ooh... tuhan ...

"Agashi," panggil suara itu lagi.

Min-Hye membuka mata, cepat-cepat bangkit, dan mulai membereskan isi tasnya yang berceceran. Ia menetapkan tekad untuk berpura-pura seakan tidak terjadi apapun ( juga mengabaikan suara itu).


"YYA..., AGASHI," suara itu berteriak sekarang.

Min-Hye menoleh kaget, begitu juga orang-orang disekitar yang mulai mengeluarkan bisikan-bisikan kecil.

"Kopimu...," seorang pemuda tampan berpostur tinggi menunjuk kearah sepatu converse putih yang dikenakannya. Seketika itu Min-Hye tahu ia telah salah sangka mengira pemuda itu berbaik hati ingin membantunya.

Min-Hye tetap diam, ia memandang sinis sejenak sebelum kembali merapikan sebagian isi tasnya yang masih tercecer.

"Agashi, saya yakin kau tidak tuli... atau tuna rungu... atau apapun itu, which I don't care..., tapi kopimu tadi tumpah tepat diatas sepatu converse putih milikku dan mengotorinya," jelasnya marah.

Setelah semua barang masuk kembali ke dalam tas, Min-Hye menutup dan menenteng tasnya dengan tangan kanan sementara tangan yang lain berkacak pinggang. Dia mendecak sekali, betapa sebal ia harus dirundungi serentetan hal-hal buruk, termasuk pemuda ini.

Min-Hye menegakkan badan mungilnya lalu bertukar pandang dengan pemuda itu.

Sedikit kaget melihat perlakuan Min-Hye yang tak kunjung meminta maaf, pemuda itupun tersenyum sinis.

"Kau, mau berapa?" tanya Min-Hye enteng.

"Excuse me,"

"Tidakkah kau mendengar, berapa uang yang kau mau untuk menggantikan sepatu itu? 2 kali lipat? 3 kali lipat? Katakan, aku sedang terburu-buru."

"Oh, Agashi, kau kira uang bisa menyelesaikan semuanya? Sebenarnya kau ini sekolah atau tidak? Apakah tidak ada yang mengajarimu kalau melakukan kesalahan pada orang lain harus meminta maaf daripada memandang sinis dan berdecak, juga berkacak pinggang tak sopan seperti itu? Aku kagum, kau pasti sudah jadi Tuan Putri kurang ajar seumur hidupmu bukan?"

Lontaran kata-kata itu membuat Min-Hye naik darah, tidak sekolah? Tidak diajar? Dasar pemuda sialan, ia belum tahu siapa Min-Hye rupanya.

"Jadi, kau mengharapkan kata maaf dariku?" tanya Min-Hye tegas tapi juga berusaha untuk bersikap tenang ditengah banyak orang yang sedang menatap perseteruan mereka. Ia tidak mau dan tidak boleh terlihat lemah sebagai seorang wanita. Goo Min-Hye memutar otak untuk membalas pemuda tersebut dan sebersit ide muncul. Dalam hati Min-Hye meyakinkan dirinya, tidak ada seorangpun yang dapat meremehkannya. Dan ia berjanji akan membuktikannya pada pemuda ini.

“Baik.” Kata Min-Hye singkat tapi dibalik persetujuannya itu, ia memiliki maksud yang serius dan sungguh-sungguh. Demi Tuhan, ia akan mempermalukan pemuda brengsek ini.

Kini tatapan pemuda itu melunak tanpa senyuman. Ia menunggu Min-Hye untuk menyampaikan maafnya. Namun selama setengah menit menunggu tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Min-Hye. Alih-alih meminta maaf, ia malah sibuk mengambil sesuatu didalam tasnya.

"Min-Hye. Sayang! Kau disini," suara ceria In-Jung tiba-tiba muncul dari balik punggung Min-Hye. Tapi Min-Hye tak perduli, ia sedang 'asyik' pada rencananya.

"Min-Hye?" panggil In-Jung mengecilkan suaranya, ia diabaikan dan itu tanda sesuatu telah membuat Min-Hye marah. Pasti karena keterlambatannya. Atau ada hal lain?

"Hey. Agashi! Kau jadi meminta maaf tidak?" seru pemuda tersebut tak sabaran.


"Tunggu! Aku sedang mempersiapkan sesuatu untukmu," komentar Min-Hye ringan.

In-Jung membelalak. Min-Hye? Meminta maaf? Mustahil!

"Min-Hye sayang, sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?" bisik In-Jung pada Min-Hye, karena ia tahu kekasihnya ini tak mungkin akan meminta maaf pada siapapun (walaupun sebenarnya yang bersalah itu dia). Pasti ada hal yang direncanakan Min-Hye. Dan dalam hati In-Jung tahu, itu hal yang buruk, sangat buruk malah kalau kau sampai melukai hati wanita ini.

Min-Hye mengeluarkan tangan dari dalam tas, dan semua orang membelalak, tergiur menatap apa yang sekarang digenggam tangan Min-Hye.

"Siapa namamu?" tanya Min-Hye dengan nada tak perduli.

"Apa?Apa perlu... Ahh, sudahlah! Jee-Han. Cepat minta maaf!"

Min-Hye tersenyum kecil sebelum mulai berkata-kata ,"Baik. Aku minta maaf."

Kini giliran In-Jung terkesiap, lain dengan Jee-Han yang tersenyum kelihatan menerima permintaan maaf Min-Hye.

Tapi permainan belum selesai.

"Dan... Jee-Han.... Ini untukmu..."

Min-Hye menghamburkan jutaan won yang ada di tangannya ke udara, disambut teriakan orang-orang, dan Jee-Han yang membeku tidak percaya.

"Untuk sepatu converse murahanmu yang kau perjuangkan....," gumam Min-Hye santai, menaikkan satu alisnya, merasa puas melihat reaksi Jee-Han yang tak bisa berkata-kata atau bergerak sedikitpun.

"Ayo In-Jung," Min-Hye menarik tangan tunangannya dan melesat pergi, meninggalkan Jee-Han yang berdiri terpaku disitu.

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=


"Min-Hye, kenapa tidak menjawab teleponku tadi?" tanya Jin-Ae atau Clementine, sahabatnya, dari seberang sana.

Min-Hye mempererat genggaman ponselnya, "Ya. Aku dalam perjalanan pulang dari bandara."

"Sekarang kau dalam perjalanan ke butik kan? Aku disini, sejak tadi menunggumu."

"Tidak. Aku lelah. Lain kali saja kita bicara."

"Eh! Tunggu! Tidak biasanya ada kata lelah? Ada sesuatu ya?"

"Tak apa! Hanya insiden kecil tadi."

"Apa itu?"

"Shh. Ada pemuda brengsek yang mengganguku."

"Hah! Seseorang berani mengganggu Goo Min-Hye? Aku takjub."

"Tak usah! Ia mendapat balasan setimpal. Sudahlah."

Min-Hye menutup flap ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Jin-Ae. Ia mendesah kecil dan menatap pemandangan yang berlari secepat mobil yang dikendarai In-Jung.

"Jadi?" In-Jung memulai pembicaraan.

"Jadi, stop menanyaiku macam-macam. Stop berbicara. Kita pulang!" perintah Min-Hye galak, lalu menutup mata dalam kekesalannya.

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=


Dua hari kemudian, di villa Boseong, desa yang sama, pulau Jeju ....

“Haraboji!” Jee-Han tersenyum lebar ketika melihat seorang kakek tua yang baru menepuk punggungnya.

“Han-a!! Aku tak tahu kau berada disini. Pantas saja semalam perasaanku berbeda,” seru kakek dengan suara serak yang berat. Ia terdengar lelah, maklum hari sudah senja dan melihat baju putih kakek yang sedikit basah juga gunting besar yang dibawanya, ia pasti baru pulang dari kebun teh.

“Bagaimana kabar haraboji?” Tanya Jee-Han bersemangat. Kakek telah mengenalnya sejak kecil, bahkan kakek sudah menanggapnya seperti cucu sendiri- (karena sebetulnya Jee-Han kecil sangat dekat dengan kakek begitupun sebaliknya).

“Baik…, walaupun dalam kesendirian.” Jawab kakek tersenyum. Istri kakek meninggal beberapa tahun lalu dan mereka tidak mempunyai anak, kakek mengabdikan seluruh hidupnya bekerja sebagai salah satu pekerja di perkebunan teh ini, tepatnya di desa Boseong, pulau Jeju.

“Kalau haraboji sendiri, berarti aku ini apa? Hantu?” Tanya Jee-Han pura-pura cemberut.

“Ah! Kau ini, masih sama seperti dulu.” Tawa renyah kakek memenuhi halaman villa kuno tempat Jee-Han tinggal.

“Memang aku pernah berubah? Rasanya sekalipun tidak.” Seru Jee-Han sambil melepaskan sarung tangan karet warna kuning yang dikenakannya. Tiba-tiba saja ia merasa menanam bunga matahari tidak menarik lagi dibandingkan dengan kedatangan kakek. “Haraboji, kenapa tidak duduk sebentar disini bersamaku?” Ajak Jee-Han. Halaman villa yang luas dengan pagar-pagar pembatas rendah terasa senyap tanpa kehadiran pihak kedua.

Kakek menghampiri Jee-Han dengan sigap. Walaupun sudah berumur, ia masih terlihat lincah. Kebanyakan penduduk desa seumur dia memang masih sehat dan bahkan mampu bekerja seharian. Jee-Han dan kakek duduk berdampingan di bawah pohon rindang tua yang sudah berdiri disitu selama hampir 10 tahun. Waktu berjalan sangat cepat dan perbedaan jaman semakin terlihat, Jee-Han sangat menyesalinya.

“Kenapa jaman semakin berubah buruk ya, haraboji?” Tanya Jee-Han datar, mengibas-ngibaskan satu tangannya kearah muka untuk mencegah lebih banyak keringat keluar. Sebersit ingatan buruk muncul dalam pikirannya, wanita di bandara tadi, ah jaman memang sudah gila. Jee-Han cepat-cepat menghilangkan ingatan itu dari pikirannya.

“Entahlah. Hukumnya memang begitu. Kamu merasa kepanasan?”

“Begitulah. Perasaanku dulu disini sangat, sangat sejuk. Oh ya bagaimana panen kebun teh akhir-akhir ini?”

“Tahun lalu semua berjalan mulus seperti biasa. Kelihatannya Tuhan memberkati kebun teh kita ha ha ha. Untuk tahun ini, lihat saja nanti. Setiap tahun penggemar teh semakin banyak, teh sudah menjadi minuman awam yang dikonsumsi sehari-hari, apalagi perkebunan teh ini adalah perkebunan teh nomor satu yang tak terkalahkan, jadi buat apa khawatir? Tidak ada hal gawat yang akan terjadi,” jelas kakek panjang lebar disambut senyuman Jee-Han.

“Betul. Ditambah perawat kebunnya orang-orang ramah seperti haraboji,” tawa Jee-Han.

“Ah kau ini! Jangan menggoda orang tua.”

“Ada-ada saja, haraboji. Siapa yang mau menggoda haraboji he he he?!”


“Han-a ... ”

“Mm..”

“Bagaimana kabar orangtuamu?”

Alis Jee-Han mengeriyit, hanya ada satu jawaban dari dulu sampai sekarang, “Sibuk.”

“Ah! Rupanya jaman berubah tetapi mereka tidak berubah.”

“Begitulah. Sibuk. Sibuk. Dan akan selalu sibuk. Entah apa yang mereka kejar dalam kehidupan yang sempurna ini." renung Jee-Han sedikit sedih.

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=


"Ya, apalah, ," jawab Min-Hye tak acuh ketika ayah dan ibunya memberitahukan bahwa Mr dan Mrs Lee akan ikut bersama mereka.

Limosine hitam yang dinaikinya berjalan semakin cepat menuju butik seiring matahari siang mulai menyembunyikan diri di tengah-tengah awan kota Seoul. Min-Hye menghela nafas, merasa aneh, besok hari pernikahannya dengan In-Jung. Tapi kenapa jauh dalam hati tidak ada gejolak kesenangan atau semangat layaknya seorang mempelai? Baginya, hari esok sama saja dengan hari-hari lain, hari-hari biasa yang dilewatinya. Goo Min-Hye pun tetap saja Goo Min-Hye yang memagari dirinya dengan duri-duri tajam nan berbahaya.

"Yya...," Jin-Ae yang duduk di sebelah Min-Hye menguncang pelan sikunya.

Dan Min-Hye langsung menatap garang sebagai jawaban, ia benci diganggu.

"Bisakah kamu bersemangat sedikit? Nanti kan hendak mencoba gaun pengantin?" bisik Jin-Ae mengeriyitkan dahi, mata bulatnya membesar.

"Dan..., bisakah kau diam?" sahut Min-Hye datar diikuti gelengan orangtuanya. Putri tunggal mereka ternyata tak berubah dan pernikahan yang penting sekalipun tidak membawa hawa apa-apa pada pribadi dinginnya.

"Tidak! Aku terlalu bersemangat, harusnya aku saja yang menjadi pengantin," seru Jin-Ae mengemukakan khayalan konyolnya, pacar saja belum punya, mau jadi pengantin.

Min-Hye tertawa sinis," Benar! Kau benar Jin-Ae. Seharusnya kau menggantikanku saja."

"Benarkah?" Jin-Ae meraih bahu Min-Hye, memandanginya dengan serius karena dia tahu jika sahabatnya yang satu ini menawarkan atau mengatakan sesuatu, ia tidak akan main-main. Tahu sendiri sifat Min-Hye yang tidak bisa diajak bercanda -- seumur hidupnya.

"Benar," jawab Min-Hye lagi, dalam hati ia bergumam kesal ," Benar, andai aku bisa pergi dari posisi ini."

"Goo Min-Hye .. ," tegur Nyonya Goo sedikit marah.

Min-Hye mendengus lalu membuang muka menghadap ke jendela yang berada di sebelahnya.  Mereka sudah hampir sampai, salah satu butik pribadinya (dari sekian banyak butik miliknya di Korea) 'GooCee's Boutique', sekarang berada di depan mata. Mereka turun dari mobil dan langsung menuju lantai 4.

Muka ramah Mr Lee adalah hal pertama yang dilihat Min-Hye ketika pintu lift terbuka. Entah kenapa, baru kali ini sebuah setruman kecil memasuki hati kecilnya.

"Sial! Perasaan aneh apa ini?" tanya Min-Hye dalam hati, berharap untuk kedepannya tidak akan ada yang terjadi.

Aroma orange-blossom semakin nyata menusuk hidung Min-Hye ketika ia berjalan ke tengah ruangan, mengekor di belakang orangtuanya -- dan diikuti oleh si 'kecil' Jin-Ae.

"Maaf kami terlambat," seru Tuan Goo menepuk bahu Mr Lee, begitupun dengan Nyonya Goo yang langsung sibuk berceloteh dengan Mrs Lee. Ya, dari pemandangan ini, bisa ditebak, kalau kedua pihak keluarga merupakan sahabat karib yang sangat dekat.

"Tak apa! Bisa bertemu juga sudah bagus. Jarang-jarang ada moment seperti ini, padahal dulu kita sering akhir pekan bersama," sahut Mr Lee ramah. Ia tersenyum hangat walaupun sebersit guratan lelah terpampang di wajah tuanya.

"Min-Hye bertambah cantik aja ya?" sahut Mrs Lee sambil menatap Min-Hye penuh kekaguman.

Min-Hye membungkukkan badannya, sedangkan si Jin-Ae bergegas memeluk Mrs Lee.
"Omma .. ".

Mrs lee tersenyum dan membalas pelukan Jin-Ae, "Anak bandel, kamu tidak tahu kepulangan omma dan appa ya?"

"He .. he .. miane ... "

"Dasar!!!". Mr Lee mendorong halus kepala putrinya.

"Ha .. ha .. ha .. anak-anak sekarang memang begini. Mana perhatian, ... mereka sama orangtua?!" tawa Tuan Goo. "Oh ya, sebaiknya kita duduk dulu, sebentar lagi Min-Hye akan mencoba gaunnya sementara kita berbincang."

Min-Hye dan Jin-Ae meninggalkan para orang tua duduk disana, sedangkan mereka memasuki sebuah pintu di ujung ruangan.

"Min-Hye mau kemana?" tanya Mrs Lee, seolah enggan berpisah dengan gadis cantik yang dikaguminya itu.

"Oh, itu 'tempat pribadinya'. Gaun Min-Hye disimpan didalam," jawab Nyonya Goo.

"Aduh, dia itu semakin cantik tahu! Ya ampun seperti boneka. Apa rahasianya?" puji Mrs Lee senang.

"Ah, rahasia apa ha ha ha! Oh ya, bagaimana kabar Lee kecil?" tanya Tuan Goo sambil menyeruput teh panas yang baru diantar seorang pelayan.

"Putra kami sudah tidak kecil lagi," sahut Mr Lee bangga.

"Oh ya? Aku masih ingat dulu itu, badannya kecil sekali, bahkan Min-Hye lebih tinggi daripadanya," ingat Tuan Goo akan masa lalu disambut gelak tawa Mr Lee dan istrinya.

"Pokoknya tidak bisa dipercaya deh, sekarang putra kami tinggi besar sekali, justru aku yang bingung mengapa Min-Hye bisa semungil itu ha ha ha." kata Mr Lee. "Seung-Hyun tidak kelihatan, kemana dia?"

Tuan Goo berdeham,"Ah, tidak tahu anak itu. Seenaknya sendiri." Hubungannya dengan putra tunggalnya memang tidak terjalin baik. "Pusing aku dengannya. Selalu gonta-ganti wanita, dan yang diurusinya taekwondo menerus. Permainan yang tidak menghasilkan untung sedikitpun!! Tidak tahu apa maunya si Seung-Hyun itu, benar-be...,"

"Papa, bicaranya di sini saja ya?", potong Nyonya Goo, "Nanti malam Seung-Hyun akan pindah dari balai taekwondo ke rumah. Saya harap papa bisa menjaga sikap, jangan sampai terjadi pertengkaran menjelang pernikahan Min-Hye ... Jangan membahas masalah perusahaan karena Seung-Hyun paling benci itu!!", Nyonya Goo memperingati suaminya.

"Ahem," Min-Hye berdeham menyadarkan mereka dari obrolan seru, lalu memutar bola matanya kearah Jin-Ae yang berada tepat disebelahnya, terlihat kikuk.

Semua pandangan tertuju pada Min-Hye, dan mau tidak mau sebuah rasa takjub dari mereka langsung muncul.

"Demi Tuhan, kau wanita yang sempurna," komentar Mrs Lee langsung, tak tahu harus berbicara apa lagi dengan pemandangan yang disuguhkan didepan matanya.

Gaun satin tipis bewarna putih membingkai tubuh mungil Min-Hye. Bunga-bunga kecil imitasi bewarna senada berjejer miring menjadi pembatas melingkari pinggang ke ujung paha, rambut lebat Min-Hye yang sedikit gelombang dibiarkan terurai menutupi punggung mulusnya, sebuah kalung permata yang dikenakan di leher mengkilat cemerlang layaknya setiap jengkal kulit susu Min-Hye yang halus, sentuhan rona merah pada kedua pipi Min-Hye menjadikannya sempurna.


"Bisakah aku berganti pakaian sekarang?" tanya Min-Hye datar pada orang-orang yang sedang menatapnya penuh kekaguman, seakan ia satu-satunya berlian yang tersisa di muka bumi.

"Baiklah. Baiklah. Kukira kau akan mengijinkan kami mengagumi sejenak lagi," gerutu Tuan Goo sambil mengibaskan tangannya pada Min-Hye.

"Oh ya. Min-Hye a!" panggil Mr Lee pelan sebelum Min-Hye sempat beranjak dari tempatnya berdiri.

"Ya, Paman."

"Kapan pernikahannya?" tanyanya ramah sambil tersenyum, membuat kedua matanya terlihat seperti bulan sabit terbalik.

"Besok, Paman."

"Oh! Paman kira itu bulan-bulan depan, ditambah melihat ekspresimu yang datar-datar saja ha ha ha."

"Eh? Bukankah kalian sudah terima undangannya?" tanya Tuan Goo penasaran.

"Mungkin di rumah. Kami baru sampai di Seoul tadi pagi," sahut Mrs Lee. "Aku mengira juga bulan-bulan mendatang, tak kusangka ternyata secepat ini."

"Lebih cepat lebih baik kan ha ha ha," Nyonya Goo tertawa. Memang Nyonya Goo mengharapkan Min-Hye cepat-cepat menikah, siapa tahu watak buruknya itu akan berubah kalau sudah menjadi istri orang, walaupun ia agak pesimis tentang perubahan yang diharapkannya.

“Aku bahkan tidak mempunyai perasaan apa-apa sampai sekarang, Paman benar,” Min-Hye membatin, sedikit cemas akan keputusannya sekarang.

"Wah, aku malah berharap ditunda saja, supaya Min-Hye bisa berkenalan dengan putra kami. Siapa tahu bisa cocok dan Min-Hye berubah pikiran! Apalagi anak itu masih saja sendiri, pandangannya terhadap 'menjalin hubungan' itu terkesan aneh menurutku, tapi dia orang yang ramah dan dewasa, Min-Hye pasti senang," canda Mrs Lee.

Min-Hye memaksakan sebuah senyuman. Pikirannya tiba-tiba saja berkelut. Hmm pemuda itu..., kelihatannya menarik. Ramah? In-Jung juga ramah, tapi ramah yang menyebalkan. Dewasa? Tentu saja Min-Hye lebih dewasa daripada In-Jung. Min-Hye jadi berpikir, apakah lelaki itu mampu membuatnya senang? Atau bahkan jatuh cinta? Andai ada waktu, entah mengapa ia merasa tertarik ingin menemuinya.

Aneh... Dua kali perasaan asing timbul menyergapnya siang ini. Ah! Otaknya memang sedang kacau.

“Tolol sekali kau,” bisik Min-Hye pada dirinya sendiri, bergidik.

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=


Acaranya hampir di mulai. Para tamu sudah berdatangan, tetapi Min-Hye mengurung dirinya di ruang rias, mencoba untuk mencerna omongan In-Jung lewat ponselnya selama 5 menit terakhir.

“Pokoknya aku tidak peduli, kau harus datang, cinta atau tidak kau padaku!!!,” tegas Min-Hye. Seperti biasa, ia tidak akan memikirkan semua risiko tetapi hanya satu, seorang Goo Min-Hye tidak boleh dipermalukan.

“Aku sudah bilang, Kita tidak bisa menikah Min-Hye a ... ,” seru In-Jung putus asa.

“WEE? Sebutkan alasannya?” teriak Min-Hye dingin. In-Jung benar-benar mempermainkan kesabarannya sekarang.

“Karena..., karena....,” suara In-Jung semakin menciut mendengar Min-Hye yang mulai marah.

“Karena apa? Cepat katakan, brengsek!!!,” desak Min-Hye tajam. Kedua pipinya memanas karena amarah yang memenuhi kepalanya. Oh, semakin jelas bahwa In-Jung akan mencampakkannya persis seperti drama-drama tolol menyedihkan yang ditonton Jin-Ae.

“Eun...., Eun-Young...” In-Jung bergumam tidak jelas.

“Ada apa dengan sektretarismu?” tanya Min-Hye cepat. Firasat buruk perlahan merayapi seluruh perasaannya.

“Eun-Young...., mengandung anakku,” bisik In-Jung pasrah.

"Di mana kamu sekarang?!!" , tanya Min-hye dingin, berusaha merendam emosinya dan memperlihatkan kalau dia tidak terpengaruh berita dari In-jung tadi.

"Emmm .... "

"Ok, cukup!! Kamu tidak perlu menjawab, saya tahu ... "

Min-Hye melepaskan ponsel dari telinga dan membantingnya. “Lelaki brengsek! Sial,” nafas Min-Hye memburu, seribu kata makian yang ditujukan untuk In-jung muncul didalam pikirannya.

"Bagus! In-Jung. Setelah sekian lama kita bertunangan, sekarang kau mencampakanku, tepat di hari pernikahan kita. Lihat saja! Kau tidak tahu sedang bermain dengan siapa? Aku tidak akan menyesal kau meninggalkanku, tetapi aku yang akan membuatmu menyesal telah meninggalkan seorang Goo Min-Hye," geramnya.

Hati Min-Hye terbuat dari batu yang menghasilkan kobaran api panas jika disulut, tak akan pernah hancur sekepingpun, tak akan ada kesedihan, tak akan ada penyesalan, yang ada hanyalah amarah bara api.

"Ada apa Min-Hye a?"

Pertanyaan Nyonya Goo tidak digubris Min-Hye, dengan langkah lebar dia berjalan kearah pintu dan, ... brakkk ....., tubuh Seung-Hyun terhuyung ke dalam ruang rias, "Yaaa .... ", protesnya. Rupanya tadi dia membuka pintu bersamaan dengan Min-Hye. "Dongseng a .. ", sapa Seung-Hyun dengan nada mengoda tapi Min-Hye berlalu begitu saja.

"Heii ada apa dengannya?", Seung-Hyun mengangkat tangan dan berpaling pada Nyonya Goo, keningnya berkenyit.


Nyonya Goo mengangkat bahunya, "Entah .. "

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=


BRAKKKKKKKKKK .....................

"Min-Hye a .... "

"SO IN JUNGGGGG!!!!!!!!!"

PLAKKKK ...., telapak tangan Min-Hye mendarat keras di pipi In-Jung dan meninggalkan bekas memerah yang sangat dalam.

"Min-Hye a .. ", In-Jung memegang pipi kanannya yang terasa panas dan nyeri akibat tamparan Min-Hye.


 "Bagaimana .. bagaimana kamu tahu .... "

"Apa sulitnya mengetahui keberadaanmu?!!", potong Min-Hye dengan mata terbuka lebar. "Kau laki-laki menjemukan!!"

"Miane .. saya tidak bermaksud, .. saya ... ", In-Jung kehilangan kata-katanya. Ingin sekali ia menjelaskan semua pada Min-Hye tapi tatapan tajam gadis ini membuatnya membisu, mulutnya terkunci rapat.

"Dengar baik-baik So In-Jung!! Bukan kamu yang mencampakkanku tapi aku yang membuangmu, melemparmu jauh-jauh ke laut!! Aku muak denganmu, dan aku tidak sudi menikah denganmu, .. kalau bukan karena kita sudah berteman sejak kecil, terus bertunangan beberapa tahun lalu, aku tidak akan menyetujui pernikahan di usia 22 ini!!! ... SATU HAL LAGI, sejak seminggu terakhir saya selalu berpikir melarikan diri dari posisi sebagai calon istrimu. Saya tidak merasa bahagia, tidak tertarik dan tidak antusias dengan pernikahan kita, bahkan saya membencinya. Kalau bukan karena harga diri dengan terkirimnya undangan-undangan tersebut, saya sudah lenyap dari hidupmu!! 'SEJAK DULU'"

Min-Hye mengangkat gaun dan kaki kanannya kemudian mengarahkan ke kaki In-Jung. "Akhhhh ...", pemuda itu berteriak kesakitan ketika hak sepatu Min-Hye yang setinggi 7 cm mendarat di punggung kakinya yang tidak terlindung sepatu.

"Sampai di sini SO IN-JUNG, Hubungan kita putus sampai di sini, Jangan mencariku lagi!!! Kamu tidak pantas!!! Dan jangan berharap saya akan menanggis dengan kegagalan pernikahan kita. Tidak akan pernah!!! Saya tidak akan pernah menetaskan airmata untuk pria tidak tahu diri sepertimu!!!"

Min-Hye memutar tubuhnya dan berjalan lebar kearah pintu. Gaun satin putih yang dikenakannya, panjang menyapu lantai dengan bagian depan yang terangkat tinggi-tinggi oleh sepasang tangannya. In-Jung memandangi kepergian Min-Hye dengan pandangan nanar.

"Mengapa bisa begini?", ujarnya lirih.

Alih-alih ingin mengejar Min-Hye, kakinya malah melekat erat di lantai. Galeri 'Princess' yang sengaja didirikannya buat Min-Hye, tempatnya melepaskan semua lelah, suka dan duka, seakan ikut menanggis melihat keretakan hubungannya dengan Min-Hye.

Perlahan-lahan In-Jung menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Kejadian ini sangat mendadak dan tidak dimengertinya, begitu juga kejadian malam itu, bagaimana ia bisa terbangun di ranjang Eun-Young? bagaimana wanita itu mengatakan kalau mereka telah tidur bersama? dan bagaimana Satu jam yang lalu dia menerima telepon dari Eun-Young yang mengatakan telah mengandung anaknya.

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=


Myeongdong Cathedral ...


"Mana Min-Hye? In-Jung juga tidak kelihatan batang hidungnya, padahal sudah saatnya acara dimulai ?", Nyonya Goo melirik jam tangannya, kemudian berpaling pada Tuan Goo yang segera mengelengkan kepala.

"Ada yang aneh dengan anak itu!", ujar Seung-Hyun pelan.

Tuan Goo segera melirik putranya, "Urusanmu sendiri belum beres jadi jangan memusingkan masalah Min-Hye! Kapan kamu akan berhenti dari petualangan tak bermanfaat itu?"

Seung-Hyun mendengus, kemudian membungkam di tempatnya. Hari ini ia malas meladeni abojinya ini.

"Tidak ada masalah serius kan?", tanya Mrs Lee, yang sudah hadir di antara mereka, diikuti oleh Mr Lee dan Jin-Ae. "Sudah waktunya acara dimulai tapi para mempelai belum kelihatan ..ada apa ini?"

"O Jin-Ae a, apakah kamu tahu kemana Min-Hye?", tanya Nyonya Goo harap-harap cemas.

"Aniyo, saya juga sedang mencarinya dari tadi ..."

Kegaduhan mulai melanda aula katedral Myeongdong yang luas. Para undangan saling berbisik dan suara mereka sangat berisik. Tuan dan Nyonya Goo saling berpandangan gelisah, begitu juga Mr dan Mrs Lee. Seung-Hyun melipat tangan di depan dada dan dahinya berkenyit, sedangkan Jin-Ae menjatuhkan diri ke kursi dengan desahan berat. 'Apa yang terjadi dengan Min-Hye dan In-Jung?'

tukkkk ... takkkk .... tukkkk ..... takkkk ....

Semua berpaling ke pintu depan katedral, detak hak sepatu diikuti Min-Hye lengkap dengan gaun pengantinnya muncul di hadapan mereka.

"PERNIKAHAN INI BATAL!! SAYA TIDAK AKAN MENIKAH DENGAN SO IN-JUNG KARENA DIA TIDAK PANTAS!!!"

"Mwoooo?"

"Weooo??!!"

"Min-Hye sayang, apa yang terjadi?"

Pertanyaan-pertanyaan yang berhamburan dalam waktu bersamaan tidak dihiraukan Min-Hye. Dengan langkah tegap dan mantap ia meninggalkan katedral Myeongdong.

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=



Djia-Djia menghempaskan tubuh ke sofa dengan pandangan nanar tertuju ke depan, menatap lekat laptop yang terletak di atas meja kecil dihadapannya. Butir-butir air jatuh dari ujung-ujung rambutnya yang basah. Sebuah handuk kecil berwarna putih bersih bertengger di kepalanya. Perlahan dia mengerakkan handuk itu, mengeringkan rambutnya yang basah, habis keramas.

Djia-Djia meniup nafas keras-keras dengan bibir bawah, sehingga poninya agak terangkat ke atas. Seminggu sudah dia berada di Shanghai. Dan sudah selama itu pula dia menjelajahi seluruh sudut kota tua ternama di Cina ini. Sudah cukup semua! Sudah saatnya dia keluar dari negara ini. Kemana? Djia-Djia tersenyum perlahan. "Semoga dia online saat ini ..", bisiknya halus.

Djia-Djia mengerakkan anak panah di laptop, membuka MSN dengan harap-harap cemas. Tapi harapannya langsung pupus ketika melihat tanda offline di salah satu list kontak yang ingin dihubunginya.

"Kemana dia? Mengapa akhir-akhir ini susah banget dihubungi?", gerutunya.

Djia-Djia berdiri dari sofa dan berjalan ke deretan jendela panjang dari kaca yang mengelilingi kamar itu. Pemandangan luar hotel Grand Hyatt yang ditinggalinya cukup menghayutkan malam ini. Pemandangan kota dengan lampu-lampunya yang berwarna-warni. Berkerlap-kerlip lembut dan menyebarkan sinar buram ke setiap sudut kota. Bintang-bintang juga terlihat bergantung di langit tinggi walaupun tidak banyak.


"Apa yang dilakukan Kuo lao xi dan rekan-rekan yang lain sekarang? Mereka pasti sibuk mencariku ..", gumam Djia-Djia pelan. "Maafkan saya Kuo lao xi .. Saya hanya ingin melepaskan diri dari kejenuhan-kejenuhan ini. Saya berjanji akan kembali dua minggu lagi. Tunggu saya ... ".

Djia-Djia memutar tubuh dan berjalan ke ranjang. Setelah melemparkan handuk yang membalut kepalanya ke kursi dekat situ, dia menjatuhkan tubuh ke ranjang. Sepasang matanya menatap semu ke langit-langit kamar berwarna krem lembut yang tinggi dan memancarkan garis-garis buram dari bayangan-bayangan perabotan yang memanjang dari pantulan lampu dinding dalam kamar. Apakah penyesalan dari semua kenekatan ini sudah merasuki hatinya? Djia-Djia mengeleng perlahan. Tentu saja tidak! Dia tidak bersalah. Dia butuh waktu santai. Butuh waktu menenangkan diri. Dia bukanlah robot yang bisa dikendalikan terus-menerus. Ada saatnya dia butuh hiburan. Latihan-latihan yang diterapkan Kuo lao xi terlalu berat. Dia tidak sanggup mengikutinya. Karena itu, dia butuh liburan panjang ini. Titik.

Djia-Djia bangkit dari pembaringan dan berjalan ke tas besar yang tergolek lemah di lantai. Setelah mengeledah sebentar dia mengeluarkan ponsel mungil dari dalam tas dan membawanya ke ranjang. Agak ragu-ragu ketika dia memencet nomor yang sudah terpasang di ponsel itu. Untuk keduakalinya, -kalau dihitung jumlah kontak dengan si empunya nomor-, dia menghubungi orang ini sejak hubungan terakhir mereka di New York tiga bulan yang lalu.  Perlahan dia membawa ponsel tersebut ke telinga.

"Hello, Saint's speaking .. ". Suara serak dan dalam terdengar menjawab dari seberang.

Djia-Djia segera berdeham pelan. Membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. "Hello Saint .. ", sapanya.

"Who is this?", suara itu terdengar lagi.

"Me, Liu Jing Djia! Bagaimana kabarmu?", jawab Djia-Djia dalam bahasa Korea.

"O my god!! Djia-Djia??!! Ini benar kamu?!", teriakan Jee-Han mengelegar dari seberang.

Otomatis Djia-Djia menjauhkan ponsel dari telinganya. "Ne ... ", jawabnya ketika ponsel itu sudah didekatkan kembali ke telinga.

"What are you doing now? With your horrible teacher? O my god, Djia-Djia, i miss you .."

"Ya, me too. But no, i'm alone now. On my long vacation he .. he .. "

"Really? Great!! I think you're a person that can't stop from the full schedule ..". Jee-Han terkekeh perlahan.

"No. I'm just a human, you know? I want some rest. Oh lupakan itu! Mengapa e-mail box mu offline terus akhir-akhir ini?". Djia-Djia mengakhiri pertanyaannya dalam bahasa Korea.

"Benarkah? Tidak juga. Dua hari lalu saya online kok? Astaga Djia-Djia, bahasa Koreamu sangat lancar sekarang .. ", sahut Jee-Han.

"O dua hari lalu saya tidak online. Saya sibuk berkeliling Shanghai. He .. he .. soal bahasa Korea, saya mendalaminya selama tiga bulan terakhir. Memang tidak buruk! Saya senang berkomunikasi denganmu dalam bahasa Hangul. Oh ya Saint, tiga hari lagi saya akan berangkat ke New York. Kamu jemput saya di bandara ya? Seperti kamu tahu saya tidak punya kenalan di sana .. "

"What??!!", teriakan Jee-Han terdengar dari seberang. "Sorry Djia-Djia, but i'm not in USA now. I've returned to my country. I'm in Korea right now .. ".

"MWo??!!! Korea?!!", Djia-Djia tidak kalah terkejutnya. "Bagaimana mungkin? Mengapa kamu tidak mengabariku?"

"Miane. Susah memperoleh jaringan internet di sini. Lusa lalu saja saya online ketika berada di Seoul .. "

"Memangnya kamu berada di mana kalau bukan Seoul?", tanya Djia-Djia penasaran.

"Saya pulang ke desa kelahiranku, yang pernah kuceritakan padamu .. ", jawab Jee-Han tenang.

"Desa Boseong? Pulau Jeju?"

"Ne .. "

Djia-Djia terdiam. Maksudnya memberi kejutan pada Jee-Han dengan mengujunginya ke Amerika, ehh ternyata pemuda itu malah mengejutkannya dengan berita kepulangannya yang mendadak ke desa Boseong.

"Djia-Djia??!!! Are you still there??!!"

Pertanyaan-pertanyaan keras dari seberang menyentakkan Djia-Djia dari lamunan.
"Ne. Saya masih di sini!", jawabnya cepat. "Kalau begitu saya akan mengunjungimu di pulau Jeju. Desa Boseong. Tunggu kedatanganku di sana .. ", sambungnya lagi.

"Mwo? Kamu serius? Bagaimana dengan jadwal latihan-latihan dan pertunjukkan-pertunjukkanmu?"

"Sudah kubilang lagi liburan panjang kan?", sahut Djia-Djia, pura-pura kesal.

"O baiklah kalau begitu. Apakah perlu kujemput? Kapan kamu tiba di sini?"

"Tidak. Kamu tidak perlu menjemputku. Kalau cuma Korea sih masalah kecil bagiku. Saya sudah sering kesana. Saya akan menghubungimu lagi begitu tiba di sana. Sampai di sini dulu ya, Saint? Sudah malam nih. Saya sudah mengantuk dan sangat capek. Ingin tidur sekarang .... See you .. "

[/b]"Ok, bye ... "[/b], ... tutttttttttttttttt ......... sambungan putus dari seberang.

Djia-Djia meletakkan ponselnya ke meja kecil di sebelah ranjang. Setelah itu dia menghempaskan tubuh ke kasur. Sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat. Sebentar saja, kasur empuk dan hembusan lembut dari AC di atas ranjang membuainya ke alam tidur.

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=


Tuuuuuuuttttttttt……….. Tuuuuuuuttttttttt………..

Min Hye melirik sekilas handphone yang ia letakkan di samping laptopnya. Nama Clementine/Lee Jin-Ae, sahabatnya, tertulis dilayar ponsel. Ia hanya memandang sekilas kemudian kembali fokus ke pekerjaannya, sama sekali tidak digubrisnya dering handphone yang terus meraung-raung minta diangkat. Agak lama ia biarkan, sampai dering handphone itu benar-benar mati.

Sejak kegagalan pernikahannya, ia menjadi pribadi yang semakin dingin dan kaku. Min Hye seakan tenggelam dalam pekerjaan dan dunianya sendiri, bahkan ia lebih parah dari workaholic sekalipun. Orang tuanya yang tahu sifat keras putrinya itu bahkan tidak berani mengganggunya. Saat ini Min Hye seolah-olah berubah autis.

Setengah jam kemudian terdengar suara pintu diketuk dari luar. Min Hye mendengus kesal sambil melirik kearah pintu kamarnya.

“Huh, siapa sih yang mengganggu disaat aku serius begini” dengusnya kesal. Namun ketukan itu tidak juga berhenti, membuatnya semakin kesal. Dengan setengah hati ia bangkit dari kursinya kemudian berjalan menuju ke pintu, dengan agak emosi ia membuka pintu kamarnya dan mendapati Jin-Ae yang tengah berdiri di depan pintu kamar dengan senyuman usil dan wajah tanpa berdosanya.



“Bangga.. Bangga… Surpriseeee” seru Jin-Ae ceria. Dia mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah Min Hye yang merengut kesal. Min Hye tidak menjawab malah bersikap acuh.

“YYa setidaknya senyumlah sedikit nona” seru Jin-Ae lagi, gadis itu tiba-tiba menyerobot masuk ke dalam kamar Min Hye dan duduk di tepi ranjang.

“Ada apa kamu kemari?” Tanya Min Hye datar tanpa ekspresi saat ia sudah berdiri di depan Jin-Ae. Kedua tangan gadis itu membekap dadanya.

“Karena kau tidak menjawab teleponku makanya aku kemari” jawab Jin-Ae santai. Dia tahu kalau sahabatnya ini orang yang tidak suka diusik ketenangannya. Namun sebagai seorang sahabat ia tidak ingin melihat Min Hye terlalu tenggelam dalam lukanya. Meskipun Min Hye tidak pernah mengakui kekecewaannya terhadap kegagalan pernikahannya dengan In-Jung, Jin-Ae sebenarnya mengerti apa yang dirasakan sahabatnya saat ini. Karena Min Hye orang yang kaku dan tidak mudah mengekspresikan diri makanya ia memilih menyibukkan diri untuk melupakan peristiwa yang “menghancurkan” harga dirinya itu.

“Lalu, apa ada keperluan lain yang penting?” tanya Min Hye, masih dengan sikapnya yang dingin. Wajahnya kaku dengan kacamata tebal bertengger di tulang hidung, menambah keangkeran dirinya.

“YYa, sampai kapan kamu mau mengurung diri dan tenggelam terus dengan pekerjaanmu” sahut Jin-Ae cemas. Dia agak seram dengan sahabatnya sekarang namun ia berusaha bersikap cuek karena kalau ia kalah sekarang, maka that's it -selesai! Min Hye selamanya akan selamanya menjadi Min Hye sekarang dingin, keras kepala dan kaku.

Min Hye tidak menjawab. Dia kemudian berjalan kembali ke meja kerjanya dan kembali menghadap laptopnya.

“YYAAA!!!” Jin-Ae kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan kearah Min Hye, ia tiba-tiba merangkul bahu Min Hye dari belakang.

“Aush, kau ini” protes Min Hye, ia setengah memberontak namun Jin-Ae semakin mempererat pelukannya.

“Yaish, lepaskan aku Big C!! Kalau ada orang yang melihat, mereka bisa salah sangka. Aku tidak mau dianggap punya kelainan hanya gara-gara kecewa dengan kegagalan pernikahanku ”

“Hahaha biar saja mereka salah sangka. Habis kau sudah membuatku kesal dengan mengacuhkanku” sahut Jin-Ae cuek “YYa, ayo kita pergi bersenang-senang dan melupakan semuanya ..” rayu Jin-Ae.

“No, thank you miss Jin-Ae! Aku masih punya banyak urusan dan pekerjaan yang harus aku selesaikan disini, kalau kau ingin senang-senang kau bisa pergi sendiri atau mengajak oppaku bersamamu ...”

“Mwo?? Seung Hyun oppa? Tidak mau, ogah.. pokoknya tidak” tolak Jin-Ae tegas. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya  berkali-kali. Min Hye yang melihat sikap sahabatnya itu menjadi agak geli namun ia terlalu gengsi untuk tertawa. Akhirnya dia hanya tersenyum kecil.

“Min-Hye-aaa ayolah temani aku jalan-jalan ya..ya..ya…” seru Jin-Ae dengan nada memohon.

“Miane, aku benar-benar tidak bisa” tolak Min Hye lagi.

“Oh Ok Ok baiklah kalau begitu” jawab Jin-Ae. Min Hye tersenyum karena mengira sahabatnya itu sudah terlalu capek untuk merayunya. Baru saja Min Hye berbalik ke layar laptopnya, tiba-tiba Jin-Ae kembali berseru.

“Goo Min Hye-aaaaaaaaaaa” seru Jin-Ae merajuk.

“Mwo?” sahut Min Hye datar. Ia mulai sibuk dengan laptopnya, sama sekali tidak terlihat tertarik dengan rajukan Jin-Ae.

“Ayo kita pergi berlibur. Berpetualang berdua!” seru Jin-Ae lagi. Kali ini gadis itu mencoba menarik perhatian Min Hye dengan berjongkok di depan meja Min Hye dan menyandarkan dagunya di atas meja Min Hye. Matanya yang bulat bersinar cerah.

“Once again sorry I said no” tolak Min Hye tegas.

“YYa… Goo Min Hye-aaaa”

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=


Dua Hari Kemudian ...

Min Hye terlihat sibuk mengepak barang-barang yang akan dibawa pergi dalam kamarnya. Akhirnya setelah cukup lama dirayu Jin-Ae, dia menyerah dengan kekukuhan gadis itu. Bukan mengikutinya dengan sukarela, tapi lebih karena terpaksa dan tidak tahan dengan ocehannya yang tiada henti. Saat Min-Hye tengah asyik mengepak barang-barangnya ke dalam tas, tiba-tiba Seung Hyun masuk ke dalam kamarnya.

“Kamu mau pergi? tumben!” tanya Seung-Hyun dengan cueknya.

“Tidak bisakah kamu mengetuk pintu dulu sebelum masuk?”Min Hye balas bertanya ketus. Dia tidak merespon ataupun menjawab pertanyaan tadi. Dengan cuek dia melanjutkan kesibukannya membereskan barang-barang. Memasukkan baju dan perlengkapan kosmetiknya ke dalam tas.

“Hey kau ini setidaknya bersikap lembutlah sedikit kepada oppamu! Aku sudah capek-capek pulang kemari tapi kamu sama sekali tidak berubah ..” sahut Seung Hyun masih dengan cueknya.

“Lagipula siapa yang menyuruhmu tinggal disini?” Min Hye masih berkata dengan ketusnya. Seung Hyun menggeleng-gelengkan kepala sembari terkekeh kecil, heran dengan sikap adiknya yang satu ini. Seun Hyung berkeliling kamar Min Hye, mengamati setiap sudut kamar adiknya itu kemudian pandangannya berhenti pada foto-foto masa kecil mereka yang terletak di meja kecil disamping tempat tidur Min Hye. Seung Hyun meraih foto itu dan memandangi foto masa kecilnya bersama Min Hye dengan senyuman tersungging di wajahnya

“Kalau kau tidak ada urusan lain, bisakah kau pergi oppa?” tiba-tiba Min Hye berseloroh dengan nada mengusir oppanya. Namun Seung Hyun tidak bergeming, ia malah membaringkan tubuhnya ke ranjang Min Hye membuat Min Hye melotot kesal.

“Yya, kalau oppa mau tidur pergilah ke kamarmu sendiri ARASSO”

“Ne” sahut Seung Hyung pendek. Namun ia masih tidak beranjak dari posisinya sehingga membuat Min Hye semakin kesal.

“YYa….” Bentak Min Hye.

“Aush kau ini masih saja tetap berisik seperti dulu, padahal aku kemari dengan niat baik untuk menghibur dongsaengku yang sedang sedih” Seung Hyun berpura-pura terganggu dengan menutup kedua telinganya, senyuman nakal tersungging dibibirnya.

“Aku tidak butuh hiburanmu. Simpan saja itu buat wanita-wanita oppa! lagipula siapa yang sedih? jangan bicara sembarangan oppa, sekarang pergi!!!” Seung Hyun tetap tidak bergeming “Oppa …. Aku hitung sampai tiga awas kalau kau tidak pergi!!!”

“Yya…..” seru Seung Hyun memelas.

“A….” baru saja Min Hye akan membuka mulutnya, Seung Hyun sudah bangkit dan berjalan tergesa-gesa menuju pintu kamar Min Hye. Dalam sekejap dia menghilang dari pandangan gadis itu. Sepeninggal Seung Hyun, Min Hye melanjutkan kegiatannya. Tapi tiba-tiba kepala Seung Hyun menyembul kembali diambang pintu.

“Yya, dongsaeng perlu kutemani? Aku tadi lupa menanyakan hal itu?” Tanya Seung Hyun dengan polos.

“OP….” Min Hye baru saja akan meneriaki kakaknya itu.

“Ok…Ok…arasso..arasso… aku pergi” masih dengan tampang polos dan isengnya Seung Hyun keluar dari kamar Min Hye.

"Padahal saat kecil dulu ia manis sekali kenapa sekarang jadi menyebalkan seperti ini yah?" gerutu Seung Hyun diluar kamar Min Hye. Pemuda itu menghela nafasnya berat sementara tangannya mengacak-acak rambutnya sendiri.

 Sementara itu, dalam kamar, Min Hye mendengus kesal. Setelah semua barang sukses dimasukkan ke dalam koper dan tas, dia menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Terkapar dengan nafas terengah-engah, dia mengerutu dengan mata terpejam rapat, "Seharusnya pekerjaan ini dikerjakan para pelayan huhhh ...!!!".


=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=



“Omma, aku berangkat” pamit Min Hye kepada ibunya saat dia akan berangkat ke bandara, dimana Jin-Ae sudah menunggunya di sana. Seperti perjanjian mereka semula.

“Hati-hati sayang dan nikmati liburanmu nak” sahut Nyonya Goo lembut, ia terlihat sangat khawatir dengan putri kesayangannya itu, terutama sejak kegagalan pernikahannya. Min Hye hanya tersenyum kecil, terlihat kaku. Dia kemudian masuk ke Mercy hitam yang akan mengantarnya ke bandara. Nyonya Goo mengantar kepergian putrinya itu sampai mercy hitam itu hilang dari pandangannya.

“Dia sudah berangkat ya ma?” seru Seung Hyun yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Nyonya Goo sedikit terkejut, namun ia tersenyum dan menjawab dengan gumaman pelan.

“Omma sangat khawatir dengan adikmu itu”

“Omma, don’t worry. She’ll be fine. I’m sure bout it. Aku jadi cemburu dengannya” Seung Hyun mulai merajuk kepada ibunya itu.

“Lagipula siapa yang menyuruhmu tinggal di Jepang, dasar anak nakal” sahut Nyonya Goo seraya mengacak rambut putranya itu.

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=


Gimpo airport.

Min Hye mulai gelisah ketika sampai sekarang Jin-Ae belum juga datang padahal waktu keberangkatan sudah dekat. Saat ia akan menghubungi sahabatnya itu, tiba-tiba handphonenya berdering. Dia melihat nama Clementine dilayar ponsel. Cepat-cepat ia menekan tombol penjawab.

“YYa, kau dimana sudah jam berapa ini??!!!”

“Mianeeeeeeeeeeeee Min Hye-aa, aku ada urusan mendadak”

“Urusan apa yang lebih penting daripada meninggalkan sahabatmu sendirian di airport seperti orang kurang kerjaan?” seru Min Hye agak ketus.

“Jeongmal miane dear, ini benar-benar urgent, kau berangkatlah dulu nanti aku menyusul kalau urusanku selesai okay?!”

“Yyaaaa…”

“Mianeeeeeeee Min Hye-aaa Jeongmal Mianeeeeeee aku terburu-buru, appa dan omma sudah menunggu. Bersenang-senanglah di villa kami. Aku janji akan menyusul secepatnya, okay? bye..bye…”

“YYAAA!!!” Baru saja Min Hye akan mengumpat, Jin-Ae sudah memutuskan teleponnya. “Aush, gadis itu, awas saja kau nanti!!” umpay Min Hye kesal. Sementara panggilan untuk penumpang pesawat telah diumumkan, Min Hye akhirnya pergi masih dengan perasaan yang kesal.

30 menit kemudian, pesawat yang ditumpanginya mendarat di kepulauan Jeju. Dengan diantar oleh supir keluarga Lee, yang menjemputnya dibandara, Min Hye menuju Villa Boseong. Sepanjang perjalanan gadis itu selalu menggerutu karena kesal. 45 menit kemudian, mobil yang ditumpanginya mulai memasuki gate Villa Boseong, milik keluarga Jin-Ae.

« Last Edit: June 18, 2010, 06:39:16 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ps: sorry chp ini kepanjangan jd ga bisa dipost dlm satu halaman [hmpfh] [hmpfh]
sambungan dari yg di atas [biggrin]

------------------------------------------------------------------------



Halaman depan sangat luas, dan lebih mirip hutan buatan daripada halaman sebuah rumah. Luasnya berhektar-hektar dengan jalan kecil berkelok-kelok yang sebelah kiri dan kanannya dikelilingi berbagai jenis pepohonan, bunga dan rerumputan. Saat turun dari mobil dan memandang ke sekitar, Min Hye mulai merasa seperti memasuki dunia dongeng. Dia berdiri membisu, menatap semu bangunan Villa yang menjulang tinggi dan megah dihadapannya. Bangunan tersebut berdiri kokoh dengan arsitektur bergaya eropa, lengkap dengan pilar-pilarnya yang tinggi mencakar langit dan agak lancip, memantulkan warna keperakan dari pancaran sinar mentari sore. Kaca-kaca panjang berwarna biru laut tampak mendominasi bangunan itu. Pagar-pagar pembatas mengelilinginya, tidak begitu tinggi tapi memberikan kesan nyaman dan mengundang. Tidak seperti bangunan-bangunan tua lainnya yang menciptakan kesan angker. Batu-batu besar, pohon-pohon rindang, rerumputan yang menghijau dan bunga-bunga kecil bertaburan di luar pagar-pagar pembatas, menciptakan nuansa lain dari villa Boseong, aroma musim semi yang sangat kental dan semerbak seiring bertaburannya benih-benih rumput ke udara. Tidak kelihatan kalau villa tua ini sudah berdiri lebih dari seratustahun lamanya.


“Agashi, sebelah sini .. ” seruan sopan pak Jang, supir keluarga Lee yang mengantar Min Hye, menyadarkannya dari keterpanaan. Pak Jang kemudian berjalan memasuki villa dengan membawa tas milik Min Hye keatas. Min Hye mengikutinya dari belakang. Mereka kemudian berjalan menuju ke lantai atas dan berhenti disebuah kamar tamu. Setelah meletakkan barang-barang milik Min Hye, pak Jang kemudian berpamitan.

Min Hye berjalan kearah jendela besar yang ada di dalam kamar itu, kemudian membuka jendela itu lebar-lebar. Angin sore yang sejuk berhembus menerpa wajah Min Hye. Min Hye menghirup udara dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Ia merasa sedikit lega. Perasaan kesalnya tadi tiba-tiba menguap begitu saja. Cukup lama ia menikmati udara villa yang bersih sampai ia merasa perutnya yang mulai keroncongan karena kelaparan akibat tidak makan siang tadi. Min Hye kemudian keluar dari kamar itu. Berusaha mencari pelayan villa untuk menghidangkan makanan untuknya. Ia berjalan memutari villa tersebut, namun belum menemukan seorang pelayanpun disana. Min Hye menjadi kesal.

“Huh, dimana sih semua orang! dasar, kenapa aku harus dibiarkan kerepotan mencari mereka?” dengus Min Hye kesal. Gadis itu terus berjalan berkeliling hingga sampai ke sebuah teras terbuka di belakang villa. Dia berhenti saat melihat seseorang tengah berjongkok di tengah taman kecil, membelakanginya, terlihat asyik dengan sesuatu ditangannya.

“Mungkin ia tukang kebun disini?!", pikir Min Hye. Dengan tergesa dia mendekati orang itu.

“Hey, bisakah kau panggilkan pelayan dirumah ini? Aku sudah lapar” ujar Min Hye tegas setengah membentak. Orang itu tidak bergeming dari tempatnya.

“Yya, apa kau ini tuli hah? aishh aku sungguh benci harus mengulang-ulang perintah!!” bentak Min Hye lagi, lebih keras dari tadi.

Orang itu kemudian menghentikan kegiatannya. Dia berdiri, sambil berbalik kearah Min Hye dengan wajah dan tangan berlepotan tanah dia menjawab,“Maaf kalau anda lapar, anda bisa memasak sendiri karena ini bukan jam makan siang .. ",

Tapi, .. bersamaan dengan itu, ....
“Ka…Kauuuuuu!!!!", teriak mereka hampir bersamaan.


Tangan mereka saling menunjuk. Mata Min Hye terbelalak lebar, begitu juga pemuda dihadapannya, tidak kalah terkejutnya mendapati kenyataan bahwa orang kurang ajar yang memerintahnya ini ternyata orang yang pernah dijumpainya, orang menyebalkan di bandara. Huhhhhh ..........

=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=♥=

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Hua thx dah update 4sekawan. Snenk update pnjang2 bgni..duh2 mrka slng benci y d awal2..kyna ktmu dsaat g tpat trs y,,.mkin pnsran m lnjujan ni.he.
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Yihaaaa...puas loh mi..panjang bgt ^^ hehe... Lama" pasti tumbuh cinta x) huweeehh....

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
cihuyyyyy kuartet sumsumerz [hmpfh] udah update [clap] [clap] [clap] mantafffff langsung puanjangggggg demen nih [hug] [hug] [hug] [hug] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss]

awalnya benci lama2 jg cinta stengah idup [hmpfh] [hmpfh] benci = bener2 cinta punk punk punk


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
cihuyyyyy kuartet sumsumerz [hmpfh] udah update [clap] [clap] [clap] mantafffff langsung puanjangggggg demen nih [hug] [hug] [hug] [hug] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss] [cheekkiss]

awalnya benci lama2 jg cinta stengah idup [hmpfh] [hmpfh] benci = bener2 cinta punk punk punk
tahu aja [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
update seminggu skali ye mam [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] itu ayank siwonku kok gt siy kan pengen ngliat in-jung ngekepin min-hye [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] *digetok kuartet sumsumerz* [hmff] [hmff]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
update seminggu skali ye mam [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] itu ayank siwonku kok gt siy kan pengen ngliat in-jung ngekepin min-hye [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] *digetok kuartet sumsumerz* [hmff] [hmff]
karakter siwon di sini sebenarnya pria yg teramat perfect, dia benar2 mencintai minye tp karena diperalat eun-yong dgn kehamilannya, dia ga bisa berbuat apa2 selain membatalkan pernikahan dgn min-hye [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
update seminggu skali ye mam [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] itu ayank siwonku kok gt siy kan pengen ngliat in-jung ngekepin min-hye [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] [laughing] *digetok kuartet sumsumerz* [hmff] [hmff]
karakter siwon di sini sebenarnya pria yg teramat perfect, dia benar2 mencintai minye tp karena diperalat eun-yong dgn kehamilannya, dia ga bisa berbuat apa2 selain membatalkan pernikahan dgn min-hye [biggrin]

owh gt si eun-yong tu nda bener2 hamil ye mam [chin] [chin] jahat ye karakter eun-yong disini jgn2 tu cuma pengen harta doank dr in-jung [chin] [chin]


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
si eun-young melakukan itu karena dia mencintai in-jung, menurutku sih sifatnya ga bener2 jahat, cinta yg memperalat semuanya [biggrin] [biggrin] hubungan mereka emang sedikit rumit [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun