Author Topic: THE SARANG  (Read 7858 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #45 on: June 15, 2010, 09:19:15 am »
gomawo mi buat updetannya...  [hug] [hug] [hug]

 [jumpy] [jumpy] [jumpy]

 [laughing] [laughing]

 [rofl] [rofl] [rofl]

 [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #46 on: June 15, 2010, 04:45:33 pm »
datang lagi... minta updet-an...

ha hay...

 [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy] [jumpy]

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #47 on: June 16, 2010, 06:44:18 am »
mami...mami..  [hug]
ayo di update lagi mi.... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
gak sabar liat mino n hyesun baikan lagi.. [lovestruck] [lovestruck]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #48 on: June 16, 2010, 08:14:04 am »
CHAPTER 17

 

Sebulan kemudian ...
Mino duduk di ranjang dengan posisi menghadap kearahku. Kedua tangannya memegang kaos bagian depan yang dikenakannya, yang tergulung sampai ke dada. Aku sedang memeriksa luka di bagian perutnya dengan teliti. Seperti kata dokter Hyunbin, luka itu sudah sembuh total dan aku sangat bahagia melihatnya. Tapi ada satu yang kusesalkan. Luka itu telah meninggalkan bekas yang sangat panjang di bagian pingang sampai bagian tengah perutnya. Aku sedang sibuk dengan kegiatan itu sehingga tidak sadar kalau Mino memperhatikanku sejak tadi. Kepalanya tertunduk dan matanya tertuju ke wajahku. Suara hembusan nafasnya yang berat membuatku mendongak.

"Apakah .. kamu masih merasa sakit ..?", tanyaku cemas.

Mino mengeleng perlahan. Pandangannya yang tajam masih terarah kepadaku.

"Kemana kalung yang kuberikan kepadamu dua minggu yang lalu? .... Mengapa kamu tidak memakainya?", tanya Mino dengan sinar mata yang mulai meredup.

Aku langsung terpaku mendengar pertanyaan itu. Sepasang tanganku yang masih bertumpu di pahanya mulai basah oleh keringat. Sedangkan mataku tidak sanggup untuk membalas tatapannya. Aku menjadi salah tingkah.

"Itu ... itu .. saya taruh .. di .. kamar ..", jawabku gugup.

"Kamu tidak menyukainya?", tanya Mino lagi.

"Tidak!! .. bukan ... hmmm ... bukan itu maksudku .. aku takut menghilangkannya .. kalau .. kalau sampai hal itu terjadi .. kamu .. pasti akan membunuhku ...", jawabku terpatah-patah tapi dengan maksud serius.

Mino terdiam sejenak. Wajahnya mulai terlihat ceria setelah mendengar jawabanku. Aku tidak mengerti mengapa bisa begitu. Jawaban yang kuberikan bukanlah jawaban yang menyenangkan tapi dia terlihat bahagia begitu mendengarnya.

"Sebenarnya kamu tidak perlu berbuat begitu .. kalung itu hanya kalung biasa .. saya tidak akan membunuhmu jika kamu sampai menghilangkannya ...ha ..ha.."

Aku semakin binggung ketika melihat Mino tertawa terbahak-bahak sehabis mengatakan perkataan itu. Keningku berkerut. Aku mulai merasa kesal kepadanya. Melihat perubahan wajahku, Mino sadar bahwa yang dikatakannya telah menyulut api kemarahanku. Dengan segera dia berpaling kearah lain dan mengalihkan pembicaraan ke masalah yang lain.

"Besok saya akan bekerja kembali .."

"Saya tahu itu ..", jawabku pendek.

Mino menoleh lagi kearahku ketika mendengar jawabanku yang tidak bersemangat. Dari raut wajahku dia tahu bahwa aku masih kesal kepadanya.

"Jadi .. karena itu pula sudah saatnya saya mengajukan permintaan kedua ..", kata Mino kemudian sambil menatap lekat ke mataku.

Mendadak kecemasan merasuki hatiku. Apa yang akan dikatakannya?, apa pula yang diinginkannya?, pasti tidak ada yang benar ....Pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti bermain dalam pikiranku.

"Apaaa ... apa yang ingin kamu lakukan sekarang ?", tanyaku curiga.

"Berhentilah dari pekerjaanmu dan pindahlah ke LKH Group sebagai sekretaris pribadiku ..", jawab Mino tenang seakan menjawab semua pertanyaan dalam pikiranku.
 
"Apaaaaa ...?"
 
Mataku terbelalak lebar. Aku sangat terkejut mendengar permintaan keduanya itu. Berpuluh-puluh bintang tiba-tiba berputar-putar dan menari-nari dalam kepalaku. Mataku agak berkunang-kunang. Kupertajam pendengaranku, takut kalau yang kudengar itu hanya halusinasi saja. Tapi melihat keseriusan tampang Mino, aku yakin bahwa tidak ada yang salah dengan indra pendengarku itu.
 
"Tidak bisa begitu ... masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan di Goo Group .. lagipula papa tidak akan mengijinkannya ...", teriakku sengit.
 
Mino tidak mempedulikan reaksiku yang luar biasa itu. Melihat bantahanku tampangnya langsung cemberut dengan bibir yang agak dimonyongkan. Dia tetap berkeras dengan keinginannya.
 
"Mengapa tidak bisa? kamu sudah berjanji untuk memenuhi tiga permintaanku ...", katanya dengan nada memaksa.
 
Aku terdiam sejenak. Perkataannya ada benarnya, tapi aku tetap tidak mau mengalah begitu saja.
 
"Kamu ajukan permintaan yang lain saja ... pokoknya yang ini tidak bisa!!"
 
"Saya tidak mau permintaan yang lain .. sekarang saja kita sudah jarang bertemu, apalagi kalau saya sampai bekerja lagi .. jadi kamu harus bekerja di perusahaan yang sama denganku ...", Mino berkeras dengan permintaannya.
 
Penjelasan Mino membuatku terpaku. Apakah hanya perasaanku saja, ataukah .. memang benar dia masih menginginkan aku terus berada di sisinya? Dipandang seperti itu olehku, Mino menjadi serba salah. Mendadak dia sadar bahwa dia telah keceplosan dalam perkataannya.
 
"Apapun .. apapun .. alasannya .. yang jelas kamu harus memenuhi permintaanku .. kamu sudah berjanji untuk itu .. kamu tidak bermaksud mengingkarinya, kan?", kata Mino gelisah. Dia berusaha menutupi kesalahannya tadi.
 
Mendengar pertanyaannya itu, gantian aku yang menjadi salah tingkah.
 
"Tentu saja saya tidak akan mengingkarinya .. tapi, permintaan yang satu ini ...", perkataanku terputus oleh sinar mata yang menyorot tajam dari Mino.
 
"Tapi apa ? .. jika kamu tidak mau melakukannya tetap saja menghindar namanya .."
 
Suara Mino mulai mengeras. Dia tidak akan menyerah. Aku tahu itu. Aku terlalu mengenalnya. Kalau dia sudah seperti ini, tidak ada seorangpun yang dapat mencegah keinginannya.
 
"Huhhhh .. huhhhh ... araso ..... saya ... saya akan mencoba membicarakannya dengan papa ..", jawabku, akhirnya menyerah juga.
 
Mino langsung tersenyum. Sudut bibirnya tertarik keatas sehingga memunculkan sepasang pipi yang dalam di pipinya yang terpahat sempurna. Aku tidak bergerak di tempat. Hatiku masih kesal. Tapi ketika mataku melirik kearahnya dan melihat senyumnya, entah mengapa, ada perasaan sejuk yang merambat  masuk kedalam hatiku.
 

***************

 
Papa memandangiku dengan tampang berkerut. Aku baru saja mengajukan permintaan untuk pindah ke LKH Group kepadanya. Papa tidak setuju dengan tindakanku itu, begitu juga dengan Mrs. Goo. Menurut papa, aku sudah melakukan apa yang terbaik dan itu sudah lebih dari cukup. Tapi aku tetap berkeras. Janjiku kepada Mino tidak bisa kuingkari. Aku tidak ingin menjadi orang yang tidak bertanggungjawab.
 
"Kamu masih kukuh dengan pendirianmu?", tanya papa dengan nada tajam.
 
Aku mengangguk perlahan, tidak berani membalas pandangan papa. Aku merasa bersalah. Keegoisanku tentu akan menimbulkan sedikit kesulitan kepadanya.
 
"Jadi apapun kata papa, tidak ada gunanya?", tanya papa lagi. Keputusasaan mulai terdengar dari suaranya.
 
"Miane .. appa ..", jawabku dengan penyesalan yang mendalam.
 
Papa menghembuskan nafas panjang. Kepalanya digelengkan perlahan. Beliau memahami kalau aku sudah memutuskan sesuatu pasti tidak bisa diganggugugat. Melihat tampangku yang memelas, hatinya juga tidak tega.
 
"Baiklah .. papa tidak akan mendesakmu lagi .. kamu pasti sudah pusing dengan semua masalah Mino ... "
 
Perkataan papa yang lembut membuatku mengalihkan pandangan kearahnya. Mata papa memancarkan sinar kasih sayang. Hatiku terasa tenang melihatnya. Perlahan aku menghampiri beliau dan menyentuh tangannya.
 
"Gumawo appa ..... "
 
"Anak bodoh ... papa akan mendukungmu .. apapun yang kamu lakukan, papa akan selalu berada di pihakmu .."
 
Papa tersenyum lembut. Tangannya terangkat dan menyentuh rambutku. Mataku terpejam perlahan. Kusandarkan kepalaku didada beliau yang masih bidang.
Mrs. Goo yang sejak tadi tidak mengeluarkan suaranya ikut tersenyum bahagia melihat kedekatanku dan papa. Hari ini merupakan hari yang paling membahagiakan bagiku setelah semua peristiwa tidak menyenangkan yang aku alami selama ini.
 

******************

 
Tangan Soeun yang mengenggam ponsel bergetar hebat. Wajahnya sedikit pucat. Dia baru saja mendapat telepon dari mamanya yang ada di Australia. Papa dan mamanya menginginkan dia pulang ke Australia dan melanjutkan kuliah semestar akhirnya disana setelah mengetahui kegagalan pertunangannya dengan Mino.  Hati Soeun sangat kacau. Ada sesuatu yang menganjal di hatinya. Hal ini sudah diduganya semula. Tapi tetap saja dia merasa tidak rela. Mengapa bisa begitu? Perlahan tapi pasti bayangan Joongie muncul dalam pikirannya.
 
Soeun menatap ponsel yang masih tergenggam dalam tangannya. Dia memencet beberapa nomor, tapi kemudian keraguan menghinggapinya. Apakah pantas jika dia melakukan ini? Untuk beberapa lama dia terdiam di tempat dengan nomor telepon yang setengah terpencet di ponselnya. Lima menit berlalu setelah dia mengambil keputusan nekat itu. Soeun melanjutkan memencet nomor telepon yang tersisa, kemudian mendekatkan ponsel itu di telinganya. Suara telepon yang terhubung terdengar.
 
"Yeoboseyo ...", suara Joongie terdengar dari seberang.
 
"Joong .....", Soeun memulai dengan ragu.
 
"Ya ... oh, nona ? .. ada apa?"
 
"Ada yang ingin saya bicarakan .... bisakah ... bisakah kita makan siang bersama ?", tanya Soeun serba salah.
 
"Hmmm .... baiklah ... apakah kamu perlu saya jemput?", tanya Joongie.
 
"Ya, kamu dapat menjemputku jam 12 siang nanti ....", jawab Soeun. Dia agak heran dengan Joongie yang segera memenuhi permintaannya.
 
"Ok, saya jemput nanti .. sudah ya, saya sibuk sekarang ..", Joongie memutuskan pembicaraan mereka dengan segera.
 
"Ok, bye .. hei joong ... hello? Joong .... ", Soeun berteriak ketika sadar dia belum memutuskan restoran mana yang akan dijadikannya tempat makan siang oleh mereka,  tapi Joongie sudah menghilang dari sambungan telepon.
 
"Dasarrrrrrrrr ......". Dengan kesal Soeun melempar ponsel dalam genggamannya ke atas ranjang.
 

*****************

 
Restoran Cina dengan dekorasi klasik itu menimbulkan perasaan tenang dan nyaman bagi siapa saja yang makan di sana. Soeun dan Joongie sedang menikmati makan siang mereka di salah satu meja di pojok ruangan dekat jendela yang terdiri dari kaca dengan bingkai yang terbuat dari kayu berwarna merah tua yang terpahat bunga teratai. Mereka makan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Joongie sedang menunggu Soeun mengutarakan maksud dari permintaan makan siangnya hari ini. Tapi Soeun tidak mengatakan apapun. Dia terus dengan kesibukannya menghabiskan makanan yang ada di atas meja.
 
"Hei, nona ... apakah kamu sudah dapat mengutarakan maksudmu dari makan siang ini sekarang? Jangan hanya asyik dengan makanan-makanan ini ..."
 
Akhirnya Joongie yang tidak sabar terlebih dahulu. Pertanyaannya meluncur begitu saja tanpa dapat dicegahnya. Soeun mengangkat wajah dari makanan yang ada di depannya. Ditatapnya Joongie dengan pandangan sendu. Joongie agak terkejut melihat sinar mata Soeun. Mulutnya langsung terkatup rapat.
 
"Kamu selalu tidak sabar menghadapiku ya, Joong? .... dan .. bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan nona? .... saya tidak suka mendengarnya ..", suara Soeun terdengar sedikit serak.
 
Joongie menjadi serba salah menghadapi sikap Soeun yang tidak biasanya. Ditatapnya Soeun dengan pandangan bertanya.
 
"Saya .. tidak bermaksud begitu .. kamu jangan salah paham ... hmmm dan soal panggilan itu ... saya memanggilmu nona karena saya hormat kepadamu .."
 
Soeun mengeleng cepat. Dia menjadi agak emosi mendengar jawaban Joongie.
 
"Saya tidak memerlukan sikap hormat darimu  .... yang saya inginkan kita dapat berteman dengan perasaan bebas, tanpa ada perasaan sungkan dan segan  ... saya ingin kamu memanggilku dengan panggilan yang lebih akrab supaya hubungan kita bisa lebih baik dari sekarang .."
 
Joongie tertegun. Dia tidak menyangka gadis di depannya ini dapat mengeluarkan perkataan sebebas itu.
 
"Lalu .. kamu ingin saya memanggilmu dengan sebutan apa?", tanyanya ingin tahu.
 
"Eun Eun!! ... sudah lama saya ingin ada orang yang memanggilku Eun Eun ...", jawab Soeun ceria.
 
"Omong kosong!!! ", teriak Joongie cepat, kemudian melanjutkan lagi perkataannya dengan keras ,"Panggilan itu terlalu kekanak-kanakan dan .. jangan berharap saya akan melakukannya ... saya tidak ingin ditertawakan oleh orang lain..."
 
Soeun langsung cemberut. Kekecewaan terbayang jelas dari wajahnya.
 
"Kenapa tidak bisa? ... untuk terakhir kalinya, kenapa kamu tidak bisa melakukannya untukku?", tanya Soeun dengan mata yang mulai terlapis air.
 
"Terakhir kalinya? apa maksudmu?", tanya Joongie kaget. Matanya terbelalak lebar. Dia mengira telah salah dengar.
 
"Ya, terakhir kalinya .. karena saya akan kembali ke Australia dan meneruskan kuliahku di sana ... saya ... saya tidak akan pulang ke Korea lagi .. kecuali kalau ada libur ......", jawab Soeun dengan mata berkaca-kaca.
 
Joongie terdiam. Tubuhnya terhenyak di kursi yang di dudukinya. Matanya terpejam. Tapi, itu hanya sesaat. Waktu selanjutnya dia sudah bisa mengendalikan dirinya dari keterkejutannya tadi.
 
"Kapan kamu akan berangkat?", tanyanya pelan.
 
"Dua hari lagi ...", jawab Soeun dengan dua butir airmata yang mengalir keluar dari matanya.
 
Joongie mengangguk. Dia tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dia mulai melanjutkan makan siangnya tanpa memandang ke Soeun. Dia tidak menyadari bahwa Soeun terus memperhatikannya dengan perasaan berharap. Ya, berharap satu perkataan darinya. Berharap kata "tinggallah" terucap dari bibirnya. Tapi Joongie tidak mengucapkannya. Dia terus saja sibuk menghabiskan makanannya. Setelah selesai, dia berteriak ke seorang pelayan dan membayar bon yang disodorkan pelayan itu kepadanya.
 
Joongie masih tidak mengeluarkan suara ketika dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari restoran Cina itu. Soeun mengikutinya dari belakang dengan perasaan hancur. Dia tidak menanyakan apa-apa lagi kepada Joongie. Semuanya sudah jelas baginya. Joongie tidak mengingikannya tinggal dan dia harus meninggalkan semuanya, rela atau tidak rela hubungannya dengan Joongie tidak akan berjalan ke tingkat yang lebih lanjut.
 

*******************

 
Dua hari kemudian Soeun berangkat ke Australia dengan diantar oleh aku, Mino, papa dan Mrs. Goo. Aku sudah menelepon Joongie tapi dia tidak datang. Joongie bilang terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Dia baru saja bekerja untuk Mr. Lee dan dia ingin melakukan yang terbaik. Tapi Mr. Lee tidak berkata demikian. Hari ini jadwal kerja Mr. Lee sedikit jadi tidak mungkin kalau Joongie sesibuk itu.
 
Soeun tertunduk selama perjalanan dari rumah sampai bandara. Hatinya sangat sedih. Dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Wajahnya sudah pucat dari tadi pagi. Aku memperhatikannya dengan seksama. Tentu ada sesuatu yang terjadi. Aku menanyakannya tapi Soeun tidak mau menjawab. Pasti semua itu ada hubungannya dengan ketidakhadiran Joongie. Ada sesuatu yang terjadi dengan mereka. Aku membisikkan itu ke telinga Mino dan Mino sependapat denganku.
 
Setelah menunggu selama setengah jam akhirnya Soeun memasuki gate dengan gontai. Kami semua melambai kearahnya. Soeun berbalik dan membalas lambaian kami tanpa senyuman di bibir. Kemudian dia menghilang di balik tikungan pintu gerbang. Aku dan Mino saling berpandangan sambil mengelengkan kepala. ~masalah sendiri aja belum beres, sempat2nya memusingkan masalah orang lain hehehe ..   
 

*********************

 
Selama menjadi sekretaris Mino selama dua minggu ini hubungan kami sedikit berubah. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak mempunyai waktu untuk mempermainkanku. Kehidupanku menjadi lebih tenang dalam dua minggu terakhir. Hubunganku dengan Mino lebih mirip hubungan seorang majikan dengan bawahannya dan aku menyukai ikatan ini. Walaupun biasa tapi setidaknya kami tidak bertengkar lagi.

Minggu lalu kami mendapat kabar bahwa anak perusahaan di New York mendapat sedikit masalah. Para investor yang ada di sana sudah datang kemari dan sudah beberapa kali pembahasan kami lakukan, tapi pemecahan masalah itu belum kami temukan. Mino sangat dipusingkan dengan masalah ini. Dia sering pulang larut malam karena itu. Semua tanggungjawab perusahaan di New York sekarang sudah sepenuhnya berada di dalam tangannya.

Malam itu, malam minggu, aku baru saja pulang dari makan malam dengan papa, Mrs. Goo dan Joongie. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku memasuki kamar dan merebahkan tubuh ke atas ranjang. Badanku terasa capek. Tapi karena aku belum membersihkan diri, maka dengan perlahan aku bergerak dari ranjang. Baru saja aku bermaksud bangun dari tempatku, Mino sudah memasuki kamar dan berjalan kearahku. Dia meraih tanganku dan berkata dengan serius.

"Saya memerlukanmu sekarang juga !!"

Aku melongo di tempat. Seperti orang bodoh aku menatapnya. Mataku melebar dan mulutku terbuka.

"Apa ....?" tanyaku gugup.

"Ikut saya ....". Mino menarik tanganku yang masih dipegangnya sejak tadi.

Aku ingin membantah, tapi tarikannya terlalu kuat. Aku tersentak bangun dari ranjang dan terseret di belakangnya. Mino terus menarikku hingga masuk ke kamarnya yang ada di sebelah. Aku tertegun setelah sampai di sana. Pakaian-pakaian Mino berserakan di atas ranjang. Sebuah koper besar juga tertaruh di sana.

"Yaa ada apa ini? .. habis berperang ya?", tanyaku heran.

"Saya berusaha melakukannya sendiri tapi saya menemui kesulitan untuk memasukan semua pakaian itu ke dalam koper ..", jawab Mino polos.

"Kamu mau berpergian?", tanyaku lagi.

"Tidak  ... bukan seperti perkiraanmu ... saya akan berangkat ke New York besok .. pemogokan karyawan dan investasi yang bermasalah masih belum terselesaikan dan saya harus terbang ke sana untuk membereskan semuanya ...", jawab Mino lagi sambil memperhatikan tumpukan pakaian di atas ranjang dengan bibir berkerut.

Aku terhenyak mendengar jawabannya.
"New York? ... berangkatnya besok katamu? .... lalu ... lalu berapa lama kamu akan tinggal di sana?", suaraku terdengar mulai bergetar.

"Mungkin beberapa bulan .. mungkin juga bisa sampai setahun .. tapi entahlah, saya juga tidak tahu  .. itu tergantung berapa lama masalah itu terselesaikan ... sudahlah jangan banyak bertanya lagi .. hari sudah malam .. tolong bereskan semuanya untukku ..."

Aku mendekati ranjang Mino dan mulai memasukan pakaiannya satu persatu ke dalam koper. Aku melakukannya dengan airmata yang tertahan. Hatiku sakit ketika mendengar rencana kepergiannya yang begitu lama. Masihkah dia akan mengingatku setelah perpisahan kami yang lama ini? Telapak tanganku mulai berkeringat dan pandanganku mulai kabur oleh airmata yang sudah tidak terbendung lagi. Dengan cepat aku menghapus airmata itu dengan punggung tanganku sebelum dilihat oleh Mino. Setelah menyelesaikannya aku mundur ke belakang dan membungkuk ke arah Mino.

"Hebat! ... cuma kamu yang bisa melakukannya dengan baik ..", Mino mengacungkan jempolnya kearahku.

Aku berusaha tersenyum kepadanya, tapi tidak berhasil. Mino memperhatikan koper yang ada di atas ranjang dan tersenyum manis. Dia sangat puas dengan semua pakaiannya yang sudah tersimpan dengan rapi di dalam koper. Sesaat kemudian dia berbalik kearahku. Dahinya langsung berkerut.

"Mengapa kamu masih disini? .. sudah bereskah semua bawaanmu?"

Aku mengganga kearah Mino. Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari pertanyaannya.

"Bawaanku? .. maksud kamu apa?", tanyaku heran.

"Pabo yaa ... tentu saja persiapan untuk keberangkatan besok ..", jawab Mino kesal.

"Hahhhhh ....?", mataku terbelalak lebar oleh kejutan yang dikatakan Mino.

"Kamu tidak mengira saya akan pergi sendiri, kan? .. kamu adalah sekretaris pribadiku, tentu saja kamu harus ikut denganku ke Amerika ... cepat pergi sana! .. persiapkan semua keperluanmu .... "

Mino melangkah kearahku, yang masih terbengong di tempat. Dia membalikan tubuhku kearah pintu, kemudian mendorongku keluar dari kamarnya. Sesampai di luar aku berbalik kearahnya. Aku semakin binggung ketika melihatnya sedang tersenyum sambil meraba koper yang tergeletak di ranjang.


******************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #49 on: June 16, 2010, 08:59:13 am »
lanjut mi...
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #50 on: June 17, 2010, 02:44:01 am »
 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
asyik.....Mino pergi ke New York bareng Hye sun,.... [clap] [clap] [clap] [clap]
mami cepet up date chapter berikutnya, okeh okeh okeh.....


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #51 on: June 17, 2010, 07:04:58 am »
CHAPTER 18

 
Aku dan Mino tiba di New York, Amerika, pada pertengahan musim gugur. Mobil yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang di jalanan yang tidak begitu ramai. Daun-daun berwarna kuning kecoklatan mulai berserakan di sepanjang jalan yang kami lewati. Aku menjulurkan leher dan mengarahkan pandangan ke luar jendela mobil yang tertutup. Pemandangan di luar sangat luar biasa. Pepohonan dengan daun-daun kuning kecoklatan yang mulai menipis dipadu dengan cahaya matahari keemasan yang menimpa langsung, menimbulkan kesan romantis yang mendalam. Mataku melebar dan aku terpesona dengan semua keindahan alam ciptaan Tuhan ini.

Mino mengeser duduknya lebih ke dekatku. Kepalanya dijulurkan kesampingku, kemudian mengikuti arah pandanganku. Bibirnya agak dimonyongkan ketika tidak mendapatkan sesuatu yang menarik di luar sana.
 
"Ada yang aneh?", tanyanya sambil memutar sepasang mata beningnya ke depan dan belakang.
 
Aku mendelik dan mendorongnya ke samping. Posisinya tadi agak memojokkanku. Aku sampai tidak dapat bergerak gara-gara terhimpit oleh pintu mobil dan dia.
 
"Tidak ada yang aneh jadi jangan mendempetku seperti itu ....", jawabku kesal.
 
Mino semakin memperpanjang bibirnya begitu mendengar jawabanku.
 
"Jika tidak ada yang aneh mengapa kamu memandang keluar tanpa berkedip?", bela Mino.
 
Sekali lagi aku melotot kearah Mino. Dia selalu saja membuat perasaanku yang sedang senang menjadi kesal. Selalu saja begitu. Dan yang paling menyebalkan adalah dia sama sekali tidak merasa perbuatannya itu menyebabkan kedongkolanku.
 
"Ini untuk pertama kalinya saya keluar negeri dan begitu melihat pemandangan indah di luar tentu saja saya memandanginya tak berkedip ........ puas dengan jawabanku?", teriakku tanpa ingin berbasa-basi lagi.
 
Mino terdiam. Dia menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kutafsirkan. Dan seperti biasa, aku tidak bisa melanjutkan pelampiasan amarahku lagi jika sudah ditatap seperti itu oleh dia. Kami berpandangan tanpa bersuara. Suara musik klasik yang diputar sejak tadi mengalun lembut menyejukkan hati. Pemandangan di luar masih sama. Pepohonan di sana sini dengan warna yang sama, hanya saja sinar keemasan dari matahari pagi sudah terganti dengan sinar menyilaukan yang menyengat.
 
"Menjadi sekretarisku kamu akan bisa terbang ke mana saja .. saya tidak akan membiarkanmu sendiri di Korea ...", perkataan ini perlahan meluncur dari mulut Mino.
 
Aku sangat terkejut mendengar pengakuannya yang tiba-tiba itu. Mataku melebar dan memandang lurus kearahnya.
 
"Hahhhhh ...?", pertanyaan yang hanya berupa kata tak berarti itu meloncat keluar dari mulutku.
 
Mino tersentak. Dia baru sadar bahwa perkataannya tadi tidak pada tempatnya. Dengan cepat dia mengalihkan perhatianku dengan suara mengejek.
 
"Maksudku mana ada orang segede kamu yang tidak pernah keluar negeri .. di jaman sekarang bayi-bayi saja sudah pergi kemana ... akchhhhh ...."
 
Sebelum Mino menyelesaikan perkataannya, tinjuku sudah bersarang di dadanya. Mino berteriak kesakitan. Dia mendelik kearahku dengan bibir yang ditarik keatas. Aku mengalihkan pandangan ke depan seolah-olah tidak ada kejadian serius yang terjadi antara kami. Mr. Kang, sopir pribadi Mino yang dibawa serta dari Korea, hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah laku kami.
 

***************

 
Setengah jam kemudian, kami sampai ke tempat tujuan. Aku dan Mino turun dari mobil dengan dibantu oleh Mr. Kang. Apartement yang dibeli Mino membuatku terpana. Tempat dengan tingkat tiga itu sangat besar dan memiliki sarana yang lebih dari cukup.

Sebenarnya tempat itu bukan tempat tinggal impian buat Mino. Dia mengatakan bahwa dia menginginkan sebuah rumah berdekorasi klasik lengkap dengan kebun bunga yang luas di halaman depan. Tapi karena kota besar seperti New York tidak mengijinkan untuk itu dan juga karena alasan kemudahan menjangkau gedung di mana LKH Group berada, dia memutuuskan untuk tinggal di apartement di pusat kota, dekat dengan perusahaan LKH Group.

Ternyata, tanpa sepengetahunku, dia sudah memikirkan dan mempersiapkan semuanya sebelum pemberangkatan ke New York seminggu yang lalu. Kami akan menempati apartement yang sama. Aku tinggal di kamar lantai satu dan Mino menempati kamar lantai dua, sedangkan lantai tiga diperuntukkan bagi para pelayan.

"Bagaimana menurutmu ..?", tanya Mino dengan berkacak pinggang dan senyum cerah yang menggoda  setelah kami mengelilingi dan memeriksa seisi rumah.

"Bagus .. ini lebih bagus daripada idemu tentang rumah klasik dengan taman bunga luas itu ...", jawabku seenaknya.

"Yaaaaaaaa ... dapatkah kamu memberikan jawaban yang lebih menyenangkan dari itu?", tampang Mino langsung berubah melihat sikap cuekku.

Aku mengangkat bahu dan berlalu dari hadapannya. Mino mengangga. Kaget dengan sikapku yang berubah drastis.

"Yaaaaaaaa .......... mau kemana ... Hyesun yaa .......... yaaaaaaaaa .........?"

Aku tidak menghiraukan teriakkan Mino yang mengelegar itu. Seisi rumah dari Mr. Kang sampai beberapa pelayan asing berpaling ke arah kami. Aku berjalan ke kamarku yang berada di ujung lorong tanpa berpaling sekalipun kearah Mino. "Rasakan ..", batinku dalam hati. Aku masih kesal dengan perkataannya  waktu perjalanan dari bandara tadi. Hari ini aku tidak mempunyai mempunyai keinginan untuk memaafkannya.


****************


Bulan pertama merupakan hari-hari yang melelahkan bagi aku dan Mino. Berbagai masalah yang dihadapi LKH Group ternyata tidak seringan yang kami kira. Pemogokan yang dilakukan oleh para pegawai dari tingkat rendah sampai menengah yang tidak puas dengan bayaran yang diberikan masih terus berlanjut, ditambah lagi dengan kekukuhan para investor yang tidak mau menambah gaji sedikitpun sesuai dengan permintaan para pegawai tersebut. Belum lagi beberapa perhitungan pemasukan dan pengeluaran LKH Group yang tidak sesuai dengan data yang sudah ada. Semua itu membuat kami sama sekali tidak mempunyai waktu untuk melakukan kegiatan sendiri. Semua waktu kami habis untuk LKH Group.

Rapat buat semua pemecahan masalah terus dilakukan, tapi sampai akhir bulan belum juga didapat cara penyelesaian terbaik untuk semua masalah ini. Mino sering pulang larut malam karena kegiatan yang tidak ada batas waktunya itu. Kadang-kadang aku menemaninya menemui para partner bisnis di luar jam kerja. Tapi, itu hanya beberapa kali. Mino sering menolak kutemani kalau dia harus mendiskusikan masalah perusahaan sampai larut malam dengan para partner bisnisnya itu. Apalagi jika pembicaraannya dilakukan di pub atau bar malam yang banyak orang asing dan pemabuknya, dia lebih keras lagi menentangnya.

Hari itu pukul 7 pagi waktu New York, kami terkepung oleh kemacetan lalu lintas yang menyesakkan. Suara klakson yang dibunyikan dari berbagai arah [bigno]akkan telinga. Mino mengerutkan alis. Tangannya menyentuh dahi dengan tampang kesal. Kesabarannya sudah mulai diuji. Dia berpaling ke belakang, puluhan kendaraan berbaris tak beraturan di sana.

"Ada apa ini?", Mino mengalihkan perhatiannya ke depan, ke Mr. Kang yang memegang kemudi.

"Ada kecelakaan di depan, tuan muda ... harap tuan bersabar dulu .... ", jawab Mr. Kang dengan sikap hormat.

"Mau menunggu sampai kapan? .. saya sudah terlambat sekarang ..", Mino melirik jam tangannya. Dia mengumam perlahan. Kemudian diraihnya  tas hitam dari kulit yang ditaruh di pojok dekat jendela mobil  dan menarik tanganku sambil membuka pintu yang ada di sampingnya.

"Heiii!!! .. mau kemana?", teriakku begitu keluar dari mobil.

Mino tidak segera menjawab pertanyaanku. Dia mengetuk jendela mobil di samping Mr. Kang. Jendela dari kaca itu diturunkan dan Mr. Kang menatapnya, masih dengan sikap hormat yang sempurna.

"Kami akan jalan kaki ke kantor, Mr. Kang .... jarak dari sini ke sana sudah tidak jauh lagi .. kamu bawa saja mobil ini ke kantor, saya membutuhkannya nanti siang .."

"Baik, tuan muda Lee ...", jawab Mr. Kang sambil menundukkan kepalanya.

Mino termangu sebentar. Dia berputar di tempat dengan tampang binggung. Setelah semenit berlalu dia berbalik kearah kanan. Dengan satu tangan memegang tas dan tangan lain yang masih mengenggam erat tanganku, Mino berjalan dengan langkah lebar ke jalan kecil yang dikhususkan buat pejalan kaki.

"Yaaaaaaa .... benar mau jalan kaki ke kantor?", tanyaku dengan susah payah. Nafasku memburu karena harus mengikuti langkah lebar dari sepasang kaki panjangnya.

"Kamu ada ide yang lebih baik dari ini?", Mino balik bertanya dengan tampang cemberut.

Aku langsung terdiam. Memang ide ini lebih baik daripada menunggu di mobil, yang tidak diketahui pasti kapan jalannya dibuka lagi.


********************


Mino yang tidak sadar kalau langkahnya yang cepat dan lebar itu membuatku kesusahan mengikutinya, masih saja  menyeretku dari belakang. Nafasku hampir habis karena kelakuannya itu. Dengan kasar aku menepiskan tangannya. Kutarik nafas dalam-dalam untuk memenuhi paru-paruku yang sesak. Mino berbalik kearahku. Dia sangat terkejut melihat kepucatan wajahku.

"ohhh ada apa? ... baik-baik saja, kan?", tanyanya cemas.

"You .... berengsek  ... hhhh ...... kamu ...hhhh .. kamu  .. hampir membuatku ..hhh .. tidak bisa .. bernafas .. hhhh ..", jawabku dengan susah payah.

Mino tertegun. Wajahnya menunjukkan penyesalan. Dia mendekatiku dan menaruh tangan di punggungku. Dengan perlahan dia mengelus punggungku.
Dia memandangiku dengan tampang  bersalah dan khawatir.

"Agak baikan? ... miane ...  "

Aku mengangguk. Kumajukan tubuhku beberapa langkah kedepan sehingga tangan Mino terlepas dari punggungku. Wajahku bersemu merah. Aku merasa risih dengan perhatiannya yang tiba-tiba itu.

"Saya baik-baik saja .. sebaiknya kita berjalan lebih cepat jika tidak kita bener-bener akan sangat terlambat ...", kataku sambil melangkah ke depan, tanpa memperdulikan Mino lagi.

Beberapa detik kemudian aku mendengar langkah dari belakang dan .. Mino lewat di sampingku tanpa berkata apa-apa. Aku mendengus pelan. Tinjuku terangkat dan tertuju kearahnya. Tapi tentu saja dia tidak melihatnya karena dia tidak berbalik kearahku.

Aku menunduk dan mulai mengikuti langkah Mino dari belakang. Begitu sampai didepan sebuah toko berdinding dan beretalase kaca besar, entah apa yang mendorongku, secara reflek aku berpaling kearah itu. Dan ... aku tertegun. Sesuatu yang dipajang di sana menarik perhatianku. Aku mendekati toko dengan dekorasi dari kaca itu secara perlahan.

"Heiiii ... mengapa kamu berhenti disitu?"

Teriakan Mino membuatku berpaling. Dia berjalan kearahku dan ikut berdiri di sampingku. Pandangannya mengikuti arah pandangku.

"Tidak ada apa-apa ... ayo .. kita pergi ...", aku melangkah ke depan tapi mataku untuk terakhir kalinya melirik barang yang mempesonaku itu.

Mino manggut-manggut. Matanya menatap lurus ke barisan barang yang tertata rapi di etalase toko. Sesaat kemudian dia tersenyum. Lalu dia berbalik mengikuti langkahku sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

"Aaa .. Mr. Kang ...", sapa Mino begitu hubungan telepon tersambung.

*pembicaraan ini masih rahasia, silahkan menebaknya sendiri, tapi saya yakin kalian semua pasti sudah bisa menebaknya ....


******************


Soeun berdiri di belakang rumahnya yang menghadap laut. Dua bulan sudah sejak kepulangannya dari Korea. Hal yang dikira akan mudah dilupakan olehnya ternyata masih saja membekas di hati. Bahkan perasaan itu makin lama semakin dalam. Soeun menghembuskan nafas berat. Tangannya terangkat dan menghapus dua butir airmata yang mengalir keluar dari sudut matanya.

"Sayang ... apa yang kamu lakukan disitu? .. masuklah kemari .. angin laut terlalu kuat, itu tidak baik bagi kesehatanmu ..."

Teriakkan itu membuat Soeun berpaling. Omma sedang berdiri di gerbang belakang dengan pagar tinggi yang mengelilingi rumah besar keluarga Kim yang berwarna putih bersih. Soeun tersenyum sambil melambaikan tangannya kearah omma.

"Saya baik-baik saja ma ... nanti saya akan masuk kedalam .. sekarang saya ingin berdiri disini dan menyendiri .."

"Jangan keras kepala, nak .. masuklah kedalam .. paman Lee mu ingin berjumpa denganmu ... beliau baru saja tiba dari Korea dengan salah satu bawahannya ...", bujuk omma dari tempat berdirinya.

"Paman Lee??", Soeun sangat kaget dengan berita ini.

Dengan segera dia berlari kearah omma. Soeun menarik tangan omma untuk diajak masuk ke dalam rumah. Dia sudah rindu sekali dengan keluarga sepupunya itu. Makanya begitu mendengar nama paman Leenya disebut dia merasa bahagia sekali.


**************


Lima menit kemudian Soeun dan omma sampai di ruang tamu. Appa dan Mr. Lee sedang berbincang-bincang di sofa yang dilapisi kulit berwarna putih. Hampir semua isi ruangan itu  di dominasi oleh warna putih. Hanya ada beberapa lukisan dan karpet  yang berbeda dari warna aslinya. Warna krem lembut yang di kolaborasi dengan warna putih membuat ruangan itu menimbulkan suasana nyaman bagi yang berada di dalamnya.

Di sudut ruangan dekat jendela kaca yang menghadap laut, tampak seorang pria sedang asyik dengan kegiatannya mengamati beragam piala yang terpajang di lemari hias dari kaca. Orang itu memunggungi mereka semua. Soeun menyipitkan matanya. Dia merasa tidak asing dengan bentuk tubuh itu.

"Hyun Joong!! duduklah di sini .. jangan hanya asyik dengan piala-piala itu ..."

Panggilan dari Mr. Lee itu membuat pemuda di depannya berbalik. Dan mata Soeun langsung terbelalak lebar. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pemuda yang ternyata memang joongie itu menghadap kearahnya. Menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa dimengertinya. Kemudian perlahan tapi pasti Joongie tersenyum kepadanya.

"Annyong, nona ....."

"Joonggggggggg ...............!!!!!!!!!!", teriak Soeun.

Dia sangat bahagia. Senyuman yang selama ini hilang dari wajahnya langsung merebak. Soeun berlari kearah Joongie. Dia merentangkan tangannya. Tapi, begitu sampai di depan Joongie, kejadian dua bulan yang lalu berkelebatan dalam pikirannya. Soeun menghentikan langkahnya. Wajahnya langsung berubah keras.

"Mengapa kamu berada di sini? .... setelah dua bulan tidak ada kabar .... mengapa harus muncul di depanku lagi? mengapa? .. Kim Hyun Joong!! .. saya tidak ingin ketemu lagi denganmu ..", Soeun berkata dengan penuh tekanan, airmata yang sudah akan mengalir keluar dibendungnya dengan susah payah.

"Nonaaa .....", desah Joongie.

Joongie tidak mengira Soeun semurka itu. Dia tertegun di tempat. Sedangkan mata Soeun sudah sangat merah. Omma, appa dan Mr. Lee memperhatikan ketegangan di antara mereka dengan pandangan bertanya. Soeun berbalik kearah pintu dan menghambur keluar.

"Nonaaaaaaaaa !!!! ...."

 Joongie berteriak keras dan ikut menghambur keluar. Tapi sampai di ambang pintu dia teringat sesuatu. Joongie berbalik kearah mereka yang ada di dalam ruangan dan membungkukan badannya. Setelah itu dia berlari keluar rumah, mengejar Soeun yang sudah menghilang di tikungan depan.
"Ada apa dengan mereka?", tanya appa dengan kening berkerut..

"Ha..ha..ha.. biasa .. saya rasa hanya masalah anak muda .... kita juga pernah muda, kan?", kata Mr. Lee sambil tertawa. Matanya dikedipkan. Yang lain ikut tertawa setelah memahami maksud perkataannya.


**************


Soeun melintasi ruang belakang, membuka pintu kokoh bercat putih dan menghambur keluar rumah. Berlari sepanjang taman kecil di belakang rumah, melewati pagar besi bergerigi tajam dan menyeruak rumput-rumput liar yang tumbuh di sepanjang lereng terjal yang memisahkan laut dan rumahnya.  Teriakan-teriakan dari belakang tidak diperdulikannya. Joongie mengejarnya dari belakang dengan perasaan kacau. Dia sangat takut Soeun salah pijak. Lereng yang menjorok kelaut itu memang agak membahayakan. Bebatuan yang terdapat di sana tidak bisa dijadikan tempat berpijak yang aman.

"Nonaaaaaaaa ....."

Joongie menarik Soeun ke belakang setelah berhasil meraih tangannya. Diguncangnya tubuh Soeun untuk menenangkannya. Tapi Soeun sudah kehilangan kendali. Ditepisnya tangan Joongie dengan wajah yang basah oleh airmata.

"Lepaskan saya ... huhh .. huhh .. puas kamu sekarang? ... puas melihat pendiritaanku? huhhh .. huhhh ..."

Joongie menutup matanya rapat-rapat. Hatinya hancur melihat keadaan Soeun. Perasaan menyesal yang amat sangat merasuki hatinya. Dengan kilat ditariknya Soeun kedalam pelukannya.

"Miane .. saya tidak bermaksud menyakiti hatimu .. saya benar-benar menyesal .. menyesal sejak kepergianmu ... menderita sejak keberangkatanmu .. merana sejak kamu bilang akan pergi dariku ..."

Mata Soeun berkejap-kejap dalam pelukan Joongie. Ada perasaan sejuk merasuki hatinya. Tapi dia masih tidak mempercayai pendengarannya sendiri.

"Kamu .. bohong ... kamu sama sekali tidak memberiku kabar ...", kata Soeun pelan.

"Saya tidak berbohong ... waktu itu saya sungguh ingin memintamu tinggal di sisiku ... tapi saya tidak bisa ... tidak yang bisa saya berikan kepadamu .. saya hanya merupakan karyawan kecil, saya tidak pantas bersanding denganmu ... tapi sekarang saya sudah mencapai puncak, saya sudah bisa menegakkan kepala di hadapanmu ..."

Joongie melepaskan pelukannya. Diperhatikannya Soeun dengan seksama. Berharap pengertian darinya.

"Maksudmu?", tanya Soeun dengan sisa airmata yang tertahan.

"LKH Group akan membuka cabang perusahaan disini dan tuan besar mempercayakannya kepadaku ... jadi saya bisa tinggal disini .. menemanimu ..", jawab Joongie tegas.

Soeun melebarkan matanya. Ketidakpercayaan masih terlukis jelas di wajahnya. Tapi begitu melihat senyuman di wajah Joongie, dia percaya. Joongie tidak akan berbohong padanya. Soeun melingkarkan tangannya di leher Joongie dan berteriak bahagia.

"Yeahhhhh ............", karena kegembiraannya yang meluap, tiba-tiba Soeun mendaratkan ciuman di bibir Joongie.

Kekagetan Joongie segera menyadarkan Soeun dari kegilaannya. Joongie menatapnya dengan mata terbelalak lebar. Soeun tersipu malu setelah itu. Matanya berputar-putar dengan gelisah. Kedua pipinya berubah semerah tomat. Soeun sudah akan berlari dari sana ketika Joongie melingkarkan tangan di pinggangnya dan menariknya kedalam pelukan. Mata mereka bertemu. Joongie tersenyum perlahan. Dengan lembut dia mendaratkan ciuman di bibir mungil Soeun.

Tubuh Soeun menegang ketika Joongie melumat bibirnya. Mata Soeun terpejam. Dia mulai menikmati lumatan Joongie di bibirnya. Secara perlahan dia membalas ciuman Joongie. Desahan tertahan mulai terdengar dari sepasang kekasih yang dibuai asmara itu.


****************

 
Memasuki permulaan musim dingin.
Aku menuruni tangga dengan perasaan gelisah. Tidak kudapatkan Mino dimanapun juga. Baru saja aku dari kamarnya di lantai atas. Semua yang ada disana belum terjamah sedikitpun. Seprai di pembaringan masih rapi, perapian bata di tengah ruangan belum menyala, teh yang terhidang di atas meja juga belum tersentuh. Semuanya menandakan kalau dia belum pulang ke rumah sejak jam kerja selesai. Aku melirik jam dinding yang terdapat di ruang bawah. Sudah pukul 11 malam.

Di ruang bawah aku menghentikan seorang pelayan yang sudah bersiap untuk tidur.

"Joan, where is Mr. Lee?", tanyaku kepadanya.

Joan membungkuk kepadaku dan menjawab dengan hormat.

"Mr. Lee said he had a meeting with Mr. Heat from New Landers Corporation, Miss Goo .."

"Do you know where did he go?... did he tell that to you?", tanyaku lagi.

"No, Miss Goo ..", jawab Joan.

Aku mengangguk. Kemudian aku memberi isyarat kepadanya supaya meninggalkanku sendiri. Sekali lagi Joan membungkukan badannya. Dia menaiki tangga dengan lentera kecil terpegang di tangan. Sekali lagi aku melirik ke jam yang terpasang di dinding. Kuhembuskan nafasku. Hari ini Mino memberi liburan satu hari kepadaku. Setelah sebulan lebih keadaan perusahaan sudah mulai terkendali. Jadi sepanjang hari ini aku habiskan dengan berjalan-jalan di luar dengan ditemani Joan. Setelah pulang aku kecapean sehingga tertidur sampai jam setengah sebelas malam.

Baru saja aku akan memasuki kamarku ketika suara berisik di ruang depan menarik perhatianku. Aku berlari keluar. Mino sedang memasuki ruangan dengan dipapah oleh Mr. Kang. Dia kelihatan mabuk berat.

"Apa yang terjadi Mr. Kang?", tanyaku dengan suara tajam.

"Tuan muda minum terlalu banyak, nona Goo ..", jawab Mr. Kang dengan agak terengah. Dia kesusahan menopang tubuh Mino yang jangkung itu.

"Sebaiknya bawa dia ke kamarku saja, Mr. Kang ... akan keberatan kalau harus membawanya ke lantai atas ..."

Mr. Kang melakukan perintahku. Dengan susah payah kami membawa Mino ke kamarku. Setelah membaringkannya di ranjang, aku menyuruh Mr. Kang menyediakan handuk dan air hangat untuk mengompres kepala Mino. Lima menit kemudian Mr. Kang meninggalkan kami berdua di dalam kamar. Aku memasukan handuk ke dalam air hangat, kemudian mengeringkannya. Perlahan aku menaruh handuk yang sudah basah itu ke kening Mino.

Aku duduk di pembaringan sambil menatap wajahnya. Dia kelihatan tidak tenang. Mulutnya komat kamit tanpa suara yang keluar. Dia sangat menderita, saya tahu itu. Mino bukanlah peminum. Semenderita apapun dia, tidak pernah dia mau mabuk-mabukan seperti ini. Tapi kali ini lain. Yang dia hadapi adalah sebuah perusahaan yang menunjang hidup bermilyar karyawan beserta keluarganya. Dia harus melakukannya walaupun bagaimana tidak setujunya. Dan minum-minum sudah merupakan sarana bagi para pengusaha untuk menjalin hubungan kerja.

Aku sudah akan bangun dari tempatku ketika tanganku digenggam oleh Mino.

"Jangan pergi!! .. saya mohon .. jangan pergi .. tanpamu .. saya tidak dapat melakukan apapun  .. Hyesun aaa ..", Mino mengingau dalam tidurnya.

Aku terpana. Dia membutuhkanku? benarkah? bukankah dia membenciku setelah menyebabkan begitu banyak penderitaan dalam hidupnya? Aku menatap wajahnya. Mulut Mino masih bergerak-gerak.  Aku bermaksud bangkit dari tempatku lagi, ketika tiba-tiba Mino bangun dari tidurnya dan menjatuhkan diri kearahku. Sebelum dia benar-benar roboh di pundakku, wajahnya menabrak wajahku dan bibirnya mendarat tepat di bibirku.

Aku tersentak. Sangat terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu. Aku berpaling ke samping. Kening Mino berkerut. Dia kelihatan sangat menderita. Alkohol yang memasuki tubuh yang menjadi penyebabnya. Dengan sekuat tenaga aku membaringkannya lagi di ranjang. Kemudian kuperbaiki selimut tebal yang menyelimutinya. Aku memperhatikannya dengan seksama. Wajahnya yang menawan terlihat pucat. Kujulurkan tanganku dan menyentuh wajahnya dengan lembut.


**************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #52 on: June 17, 2010, 11:30:38 pm »
mamiiii lagiiii.....  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

iki kpn yg hwat2 nya mi??  [hmpfh] [hmff] [hmpfh] [laughing]

apa gak ada hwat2 nya ya mi??  [what] [what]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #53 on: June 18, 2010, 04:27:11 am »
mamiiii lagiiii.....  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

iki kpn yg hwat2 nya mi??  [hmpfh] [hmff] [hmpfh] [laughing]

apa gak ada hwat2 nya ya mi??  [what] [what]
cuma sedikit di endingnya [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #54 on: June 18, 2010, 06:10:00 am »
yahh kok dikit doang mi??  [angry] [angry] [angry]

owh aku tau dulu mami masih polos ye makanya bikin yg hwat2 nya dikit dong  [hmpfh] [laughing]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #55 on: June 18, 2010, 09:12:47 am »
yahh kok dikit doang mi??  [angry] [angry] [angry]

owh aku tau dulu mami masih polos ye makanya bikin yg hwat2 nya dikit dong  [hmpfh] [laughing]
sekrg jg masih polos [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #56 on: June 18, 2010, 09:37:24 am »
gyahahahhahahy mami polos??  [jumpy] [jumpy]  [rofl] [rofl]

fitnah itu kalo org bilang mami msh polos sekarang..  [hmff]

ya wes polos gak polos, update lagi mam..  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #57 on: June 18, 2010, 09:48:42 am »
CHAPTER 19


Salju pertama di musim dingin ...
Hari ini hari minggu. Setelah berkutat selama tiga bulan dengan pekerjaannya, akhirnya Mino meliburkan dirinya sehari. Masalah perusahaan sudah terselesaikan. Para investor dan para pegawai bersedia mengambil jalan tengah dalam menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi. Pembukuan yang bermasalah juga sudah beres semua.

Aku berdiri di luar apartement yang bersuhu di bawah 10 derajat celcius. Udara sangat dingin. Salju mulai turun. Tubuhku mengigil. Kusilangkan jaket yang kukenakan rapat-rapat di depan dada, berusaha untuk mengusir hawa dingin yang mengigit. Asap tipis mengepul dari hidung dan bibirku.

Aku berjinjit di tempat dan menajamkan pandangan ke dalam apartement yang terselibut kabut tipis. Aku tidak melihat Mino di sana. Kuhembuskan nafas kuat-kuat. Mino menyuruhku menunggunya di situ, sedangkan dia sendiri belum keluar dari dalam rumah. Aku melirik jam tangan kecil yang melingkar di tangan kiriku dan ..... 10 menit sudah berlalu, Mino masih belum menampakkan dirinya.

Mr. Kang menghampiriku setelah menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang berada di depan apartement. Dia membungkuk dengan sikap hormat.
"Tuan muda meminta nona menunggunya di dalam mobil ...."

Aku berpaling ke Mr. Kang. Kekesalanku mulai timbul.
"Mr. Kang .. apa yang dilakukan tuan mudamu di dalam sana?", tanyaku dengan suara yang cukup keras.

"Ada sesuatu yang tertinggal, Hyesun Ssi ... dan ..ohhh ... itu dia, tuan muda sudah keluar ...", Mr. Kang mengarahkan telunjuknya kearah depan. Aku mengikuti arah yang ditunjuk Mr. Kang. Mino tampak berlari keluar dari dalam rumah.

"Lee Min Ho!! .. kamu ingin melihat saya mati kedinginan, ya?", teriakku dengan suara parau. Udara dingin membuat pernafasanku agak tersumbat.

Mino tidak menghiraukan teriakanku. Dia terus saja berlari kearahku. Setelah dekat dia menyambar tanganku dan memaksaku memasuki mobil yang terparkir di pinggir jalan. Mr. Kang mengikuti kami dari belakang. Mino melepaskan pengangannya di tanganku setelah berada dalam mobil yang bersuhu hangat.

"Miane, tadi ada yang ketinggalan ..", kata Mino lembut, menjawab pertanyaanku yang belum dijawabnya tadi. Kemudian dia berpaling kearah Mr. Kang yang sudah berada di depan kemudi.
"Menuju Central Park, Mr. Kang ..."

"Ya, tuan muda ..", jawab Mr. Kang dengan sedikit menundukkan kepalanya.

Mesin mobil dihidupkan. Perlahan Cadilac hitam itu bergerak kedepan, membelah jalanan yang agak basah dan licin oleh salju.


**************


Aku duduk terdiam di samping Mino. Tanganku kugosok-gosokkan guna mengusir aura dingin yang masih terasa. Sedangkan Mino sendiri mengarahkan pandangannya keluar jendela.
"Salju pertama .... ", gumamnya pelan.

"Hahhh ??", pertanyaan tak bermakna itu langsung meluncur keluar dari mulutku begitu mendengar gumamannya yang lirih.

Mino mengalihkan pandangannya dari pemandangan di luar kearahku. Dia menatapku lekat-lekat.
"Salju pertama di musim dingin .. indah, kan? .. kamu lihat di sana, dedaunan belum gugur semua ditambah dengan hamparan salju putih .. berasa di dunia lain .."



Aku mengeser dudukku menjauhi Mino. Kegelisahan menyerangku ketika kusadari tatapannya masih tertuju kepadaku. Untuk meredakan perasaan serba salah yang menyerang, kuikuti telunjuk Mino yang terarah keluar jendela mobil. Memang benar pemandangan di luar sangat mempesona.

"Ini pertama kalinya .. saya .. saya menyaksikan salju di New York ..", kegugupan membuatku mengeluarkan perkataan yang terdengar bodoh itu. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya aku tinggal di New York, jadi tentu saja ini untuk pertama kalinya aku melihat salju di kota besar ini.

Mino tidak tertawa mendengar perkataanku. Tidak juga mengeluarkan ejekannya. Ini sangat aneh. Biasanya paling tidak dia akan mencibirkan bibirnya. Aku berpaling ke samping dan kulihat Mino sudah melemparkan pandangannya keluar jendela lagi. Ada yang sedang dipikirkannya.

Karena takut dia mendadak berpaling kepadaku, aku segera menundukkan kepala ke bawah. Dengan sudut mataku, aku meliriknya dengan sembunyi-sembunyi. Dia tetap terlihat sempurna. Mantel panjang berwarna putih yang dikenakannya dipadu dengan dalaman sweater hitam berkerah tinggi, celana ketat dari kulit, juga sepatu kulit yang berwarna senada, membuat badannya kelihatan semakin menjulang. Mino menghela nafas perlahan. Aku segera menunduk dalam-dalam, tidak berani meliriknya lagi.


**************


Mr. Kang memarkir mobil di depan Central Park yang sudah ramai oleh para pengunjung. Aku mengikuti Mino keluar dari mobil dengan terpaksa. Aku sudah mulai kesal padanya karena membawaku ke taman yang berhawa dingin. Aku lebih memilih menghabiskan liburan hari ini di dalam ruangan yang dilengkapi mesin penghangat.

Mino tidak memperdulikan keberatanku. Dia menarik tanganku dan memaksaku mengikuti langkahnya. Tangannya yang sebelah kanan menjinjing tas besar dari kulit berwarna hitam sedangkan tangan kirinya mengenggam erat tanganku. Aku sempat penasaran dengan isi dari tas yang dibawanya. Aku ingin membukanya tadi, tapi Mino melarang keras. Masih rahasia, katanya.

Jalanku terseok-seok di belakang Mino. Dia terus saja menarikku tanpa menyadari posisiku yang memprihatinkan. Dan terakhir, karena tidak tahan kutepiskan tangannya kuat-kuat.

"Yaaaa ... sakit ... ", teriakku dengan nada memelas.

Mino menghentikan langkahnya dan berbalik kearahku. Tampangnya berubah sendu ketika melihatku meringis kesakitan. Dia mendekatiku, meraih tanganku dan mengulung lengan jaketku keatas. Pergelangan tanganku terlihat memerah di bagian yang digenggamnya tadi. Dengan hati-hati dia mulai mengosok pergelangan tanganku. Aku agak terperangah dan jengah dengan yang dilakukannya. Dengan segera aku menarik kembali tanganku dan mundur beberapa langkah ke belakang.

"Saya .. saya baik-baik saja ...", kataku dengan nada gugup.

Mino tidak mengeluarkan suaranya melihat penolakanku itu. Dia masih saja menatapku dengan tatapan yang dalam. Aku semakin tidak mengerti dengan tingkah lakunya hari ini. Dia kemudian mendekatiku dan meraih tanganku sekali lagi. Kali ini dia  menyisipkan jemarinya di antara jemariku. Hawa hangat dari telapak tangannya mengalir masuk ke dalam hatiku melalui kontak tangan itu.

"Ayo kita lanjutkan lagi perjalanan ini ...", katanya dengan lembut sambil mengajakku mengikuti langkahnya.

"Mau kemana?", tanyaku penasaran.

"Kamu ikut saja ..", jawab Mino pendek.

Aku mengangkat bahu dan tidak bertanya lebih lanjut. Kuikuti langkahnya dengan jemari yang masih terselip di antara jemarinya. Tubuhku terasa hangat walaupun udara di luar sangat dingin. Aku memang belum memakai sarung tangan setelah keluar dari mobil yang berhawa hangat tadi. Sepasang sarung tanganku yang terbuat dari wol itu masih tersimpan di saku jaketku. Begitu juga dengan Mino.

Aku bergerak perlahan dan Mino menyelaraskan langkahnya di sampingku. Dia tidak menarikku lagi seperti tadi. Mungkin dia takut menyakitiku. Hal ini semakin membuatku tidak habis pikir. Apa sebenarnya maksud dari semua ini? Mengapa dia kelihatan begitu berbeda dari biasanya? Berbagai pertanyaan bercampuraduk dalam pikiranku. Aku sudah tidak memperhatikan keadaan di sekitar lagi. Kakiku hanya mengikuti kemana Mino membawaku. Lima menit kemudian dia menghentikan langkahnya.

"Lihat, itu tempat yang kita tuju .. ", kata Mino dengan nada gembira.

Aku berhenti disampingnya. Perlahan kuangkat wajahku, mengikuti arah yang ditunjuknya dan .... aku tertegun ... lapangan iceskating yang luas terhampar di depan mata. Cukup banyak orang yang sedang bermain di sana.

"Kamu .. kamu sudah gila, ya? .. kamu tidak bermaksud ikut bermain di dalamnya, kan?", tanyaku dengan suara keras. Kekagetan yang luar biasa membuatku tidak bisa mengendalikan emosi lagi. Mataku melebar dengan pandangan menusuk kearah Mino.

Mino tersenyum. Sekali lagi dia kelihatan lain dari biasanya. Dia tidak kesal melihat kemarahanku. Dia malahan menjawab pertanyaanku dengan nada ringan.
"Kamu jangan khawatir .. saya tidak akan melakukan gerakan yang membahayakan kakiku .. cukup meluncur saja .. kamu sudah lama tidak melihatku bermain iceskating, kan? .. ayo, kamu juga ikut bermain denganku .. sepatu skatemu sudah saya sediakan .."

Aku bersiap membantah, tapi Mino tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk mengeluarkan suara. Dia menarik tanganku dan membawaku ke pinggir lapangan, dimana terdapat beberapa bangku panjang yang disediakan bagi para pengunjung. Dia kemudian menekan pundakku sehingga aku terduduk di salah satu bangku tersebut. Aku bersiap memprotes lagi tapi tertahan ketika dia berjongkok di depanku. Dia mulai melepaskan boots yang kukenakan dan mengantinya dengan sepasang sepatu skates yang diambil dari tas besarnya. Aku langsung membisu. Mino tersenyum puas setelah sepatu skates tersebut terpasang di kakiku.

"Pas sekali ..", katanya dengan bangga.

Mau tidak mau aku dibuatnya tersenyum dengan sikap kekanak-kanakannya. Mino lalu menganti sepatunya sendiri. Setelah selesai dia meraih tanganku dan mengajakku ke lapangan.

"Ayo, ikuti gerakanku ... jangan takut, aku akan berada disampingmu ..."

Aku mengikuti Mino meluncur kedepan dengan perasaan takut. Aku tidak pandai dalam permainan ini, dan Mino mengetahuinya, karena waktu kencan pertama kami, aku bahkan tidak berani melakukannya sama sekali. Mino meluncur disampingku. Dia mengelilingi dan menjagaku. Ketika aku hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan, dia segera menyanggaku. Aku merasa aman berada disampingnya. Perasaan ini selalu ada jika dia ada.

Kami sangat menikmati liburan hari ini. Kami bisa tertawa lepas setelah ketegangan selama beberapa bulan terakhir. Dan keadaan Central Park sangat mendukung semuanya. Setelah bermain selama dua puluh menit, akhirnya kami menghentikan permainan kami.

"Bagaimana menurutmu?", tanya Mino dengan mata berbinar.

"Indah .. sangat indah .... terasa di dunia lain ..", jawabku dengan senyum di bibir.

Mino juga tersenyum. Matanya perlahan terarah ke tangan kananku.
"Ada sesuatu yang ingin saya berikan kepadamu ..."

Mataku melebar mendengar perkataan Mino.
"Untukku? .. apa itu ?", tanyaku penasaran.

"Hmmm .. berikan Sarang padaku dan tutup matamu ...", perintah Mino.

Aku terdiam. Apakah aku tidak salah dengar? Sarang .. benarkah yang dibicarakannya tadi adalah Sarang? Dia masih ingat kepada Sarang .......
"Kamu ... kamu ... masih mengingat Sarang ...?", tanyaku dengan suara bergetar.

Mino menatapku lekat-lekat. Dia meraih tanganku dan berkata dengan suara yang lembut.
"Tentu saja, dia akan selalu ada dalam hatiku ...."

"Tapi .. kamu .. kamu tidak pernah menyinggungnya lagi setelah .. setelah tersadar dari koma ...", kataku terbata-bata.

"Saya tidak menyinggungnya karena memang percuma saja saya menyinggungnya .. untuk apa? bukankah Sarang memang selalu bolak balik dari tangan kita berdua .. apapun yang terjadi  dia tidak pernah lari dari genggaman kita, kan?", kata Mino dengan nada suara yang sama.

Aku mengangguk. Memang benar yang dikatakan Mino. Untuk apa membahas sesuatu yang sudah pasti jawabannya. Perlahan aku melepaskan tali yang mengantung Sarang dan memberikannya kepada Mino. Dan sesuai permintaannya aku mulai memejamkan mata. Detik demi detik, menit demi menit berlalu. Entah sudah berapa lama aku menunggu, sampai akhirnya suara Mino menyadarkanku.

"Sekarang buka matamu ...."

Sedikit demi sedikit mataku terbuka. Perhatianku langsung tertuju ke tangannya. Dan .. sesuatu yang digengamnya, sesuatu yang mengantikan tali itu, sesuatu yang mengantung Sarang membuatku terpana.
"Itu ... bagaimana? .... bagaimana mungkin ...", aku tidak mampu meneruskan perkataanku lagi.

Mino menyodorkan tangannya yang memegang Sarang kepadaku. Sebuah rantai gelang yang tidak asing bagiku melingkari Sarang.
"Saya melihat kamu tertarik dengan sesuatu yang terpajang di toko dekat pinggir jalan itu sebulan yang lalu dan saya menebak gelang ini yang menarik perhatianmu .. hmm .. entah mengapa bisa begitu, mungkin ini yang dinamakan ikatan batin, entahlah ... yang jelas saya lalu menyuruh Mr. Kang membelikannya untukku, untung tebakanku benar  .... "

Aku memperhatikan gelang yang merantai Sarang yang sudah berada dalam tanganku. Mataku meredup antara sedih dan terharu.
"Gelang ini ... mama pernah memakai gelang yang sama persis dengan ini di fotonya  .. gumawo Mino aaa .. seperti juga Sarang, gelang ini sangat berharga bagiku, cuma dua barang ini yang mempunyai kaitannya dengan mama ... tidak kusangka akan menemukannya disini .."

Aku meremas kedua benda itu dalam gengamanku. Air bening mulai mengalir keluar dari sudut mataku. Aku mendengar langkah Mino mendekatiku. Dia meletakkan kedua tangannya di pundakku dan menatap lekat ke mataku.
"Jangan menanggis .. mulai sekarang tidak ada yang perlu untuk ditanggisi ... "

Mino menghapus airmataku. Dia berada begitu dekat denganku. Aku bisa merasakan nafas hangatnya mengenai wajahku. Mataku terpejam. Jantungku berdebar tak karuan. Pipiku mulai memanas walaupun udara di sekeliling begitu membeku. Aku bermaksud membuka mata ketika sesuatu yang lembut dan hangat menempel di bibirku. Badanku langsung mengejang. Ada apa ini?

Perlahan aku membuka mataku dan mendapati wajah Mino menempel di wajahku begitu juga bibirnya. Aku sangat terkejut. Mulutku tergangga. Dapat kurasakan bibir bawah Mino memasuki mulutku begitu juga dengan lidahnya. Nafasku langsung memburu. Apa yang harus kulakukan? Apa maksudnya semua ini? Apa arti dari hubungan kami? Masih sepasang kekasihkah?

Aku berdiri kaku di tempat, membiarkan bibir Mino melumat bibirku. Aku tidak membalas  tapi juga tidak menolaknya. Aku binggung, tidak tahu harus berbuat apa. Yang bisa kulakukan hanya membiarkannya saja. Mino menciumku hanya dalam waktu setengah menit. Dia kemudian menarik wajahnya ke belakang. Wajahnya memancarkan kekecewaan yang mendalam. Aku bermaksud mengeluarkan suara tapi tidak jadi. Aku hanya bisa berdiam diri dengan perasaan bersalah. Mino melemparkan pandangannya jauh ke belakangku. Dia menghela nafas panjang, kemudian menundukkan wajahnya. Kakinya mengores-gores timbunan salju tipis di tanah.



***************


Kediaman Soeun ....
Joongie berdiri di ruang tamu dengan kepala dijulurkan kedepan, mengarah ke lorong dalam, dimana kamar Soeun berada. Tidak ada reaksi dari dalam kamar. Joongie menarik nafas. Diliriknya jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Eun!! ... sudah selesai belum? .. kita sudah terlambat nih ...", teriak Joongie keras.

"Sebentar ...", balas Soeun dari dalam kamar.

Sesaat kemudian pintu kamar terbuka dan Soeun berlari keluar dari sana. Dandanannya membuat Joongie langsung terpana. Soeun kelihatan sangat lain dari biasanya. Anggun dan cantik. Gaun panjang berwarna putih dengan bagian bahu yang terbuka membalut ketat tubuhnya. Pita berwarna merah darah mengikat pinggang rampingnya sehingga mengambar jelas bentuk tubuhnya yang sempurna. Rambutnya yang hitam dan panjang tergulung keatas dengan beberapa untai rambut  yang agak keriting menjuntai indah disudut telinga. Pipinya merah merona. Mata Joongie semakin melebar dengan kecantikan Soeun.

"Joong ... apa yang kamu perhatikan? Ada yang aneh?", tanya Soeun dengan kening berkerut. Dia menunduk dan memperhatikan gaun yang dikenakannya.

"Ti .. tidak ... saya .. saya hanya memikirkan acara yang akan kita hadiri nanti ...", jawab Joongie gugup.

Soeun mengangkat bahu. Sebentar saja dia sudah melupakan keanehan sikap Joongie.
"Oh ya, apakah Joong tahu bagaimana kelanjutan hubungan oppa dan Hyesun onnie? ... maksudku ... masalah yang mereka hadapi belum selesai, kan?"

Joongie langsung tertawa mendengar pertanyaan Soeun. Matanya menatap lekat ke mata Soeun.
"Kamu jangan khawatir dengan hubungan noona dan tuan muda .. mereka akan baik-baik saja, ... sudah banyak rintangan yang mereka lewati dan cinta mereka juga sudah teruji, jadi mereka akan bersatu .. percayalah padaku ..."

Soeun mengangguk. Dia percaya penuh dengan perkataan Joongie. Bukan hanya karena penjelasannya keluar dari mulut Joongie tapi juga karena dia telah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

"Sudahlah ....jangan dipikirkan lagi .... kita harus berangkat sekarang, jika tidak kita akan terlambat menghadiri pesta pernikahan temanmu ... ", kata Joongie dengan senyum di bibir.

Soeun ikut tersenyum. Dia bermaksud melangkahkan kakinya ketika Joongie menghentikan langkahnya. Joongie menepuk pelan pundak Soeun. Ada sesuatu yang terlupakan olehnya.
"Tunggu sebentar ....", Joongie berbalik ke kamar Soeun.

Soeun memandanginya dengan kening berkerut. Tiga menit kemudian Joongie keluar dari kamar dengan jubah bulu berwarna putih halus tersampir di lengannya.
"Pakai ini .. diluar sangat dingin .. jangan sampai kamu terserang flu ...", kata Joongie lembut.

Sekali lagi Soeun tersenyum. Joongie membantu Soeun mengenakan jubah bulunya dengan penuh kasih sayang. Hati Soeun berbunga-bunga dengan semua perhatian Joongie. Sesaat kemudian Joongie menjulurkan tangannya ke Soeun. Mereka keluar dari ruang tamu dengan bergandengan tangan.


***************


Sehari sebelum natal ....
Aku berdiri di lantai tiga dekat jendela. Pandanganku terarah ke pemandangan di luar. Salju sedang turun dengan lebat. Jalan yang ada dibawah, beserta pepohonan dan atap-atap rumah berselimut salju tebal. Aku agak mengigil. Walaupun jendela di hadapanku tertutup rapat, angin dingin merambat masuk juga lewat celah kecil di antara bingkai dan jendela.

Apartement ini sangat sepi malam ini. Para pelayan sudah memulai liburannya dan mereka semua telah kembali ke keluarganya masing-masing guna menghabiskan liburan natal bersama. Mr. Kang juga sudah tertidur di kamarnya karena kecapekan setelah membantuku mempersiapkan segala sesuatu buat keperluan natal sejak dua hari yang lalu. Sedangkan Mino ada janji makan malam di luar dengan Mr. Maldrum dari perusahaan Sunrise.

Aku melirik sekilas jam kecil di atas perapian, waktu menunjukkan pukul 8 malam. Setelah kelelahan dengan semua dekorasi natal, aku sempat ketiduran tadi. Tapi belum sampai setengah mataku terpejam, aku sudah terbangun lagi. Sesuatu membuatku tidak bisa memejamkan mata kembali. Aku bermimpi. Mimpi yang sangat aneh.

Aku berada di sebuah taman yang indah. Bunga beraneka-ragam dan berwarna-warni mengelilingi hampir seluruh sudut taman. Cahaya terang menyilaukan mataku. Segala sesuatu terlihat sempurna di sini. Udara bersih, dan mengundang kebahagiaan bagi siapa dan apapun yang tinggal di dalamnya.

Aku tersenyum. Tempat ini membuatku betah. Kulayangkan pandanganku jauh kedepan. Semua yang terlihat sama saja. Sejauh mata memandang cahaya silau mengelilingi ladang bunga. Harum semerbak memasuki hidungku. Aku berpaling kesamping. Pemandangan yang tertangkap olehku sama juga. Kemudian aku berpaling ke belakang dan .... aku tertegun....

Kulihat dunia yang lain dihadapanku. Kesuraman menyelimuti sekitarnya dan .. seseorang duduk membelakangiku di bangku rapuh. Walaupun orang itu tidak menghadap kearahku, aku dapat menebak siapa dia karena aku hapal betul dengan bentuk tubuhnya, dia adalah Mino.

"Minooooo!!!!!", teriakanku membahana.

Aku berlari kearahnya, bermaksud memasuki dunianya. Tapi sebuah kaca besar menghalangi langkahku. Mino tidak berbalik. Dia tidak mendengar teriakanku. Aku mengarahkan pukulan secara bertubi-tubi ke kaca yang tidak tampak oleh mata itu, sambil terus meneriakkan namanya. Perbuatan itu aku lakukan berulangkali.

Mino berpaling ke samping. Wajahnya terlihat sangat sayu. Perlahan dia menunduk. Teriakanku masih tidak
terdengar olehnya.

"Minoooo aa ..", pukulanku pada kaca transparan di depan sudah memelan. Suaraku sangat serak.

"Percuma kamu berbuat begitu, sayangku ....", suara lembut yang penuh perasaan itu segera membuatku berbalik dan ... aku tertegun ....

"Junki ....", panggilan pelan keluar dari mulutku.

Junki tersenyum. Dia kelihatan sangat berbeda dari biasanya. Seluruh tubuhnya terbalut pakaian serba putih. Cahaya yang menyilaukan memancar keluar dari badannya. Dia terlihat sangat suci dan maya. Dia mendekatiku, tidak berjalan melainkan seperti melayang kearahku. Aku terpana. Entah mengapa melihat semua itu, tidak terbersit sedikitpun perasaan takut dalam hatiku. Junki menatapku dengan pandangan kasih yang tulus. Aku dapat merasakan perasaan nyaman dan sejuk merasuki hatiku.

"Dunia ini terpisah dari dunia yang dihuni Mino ..", kata Junki dengan nada lembut. Pandangannya sekarang terarah ke Mino.

Aku mengeleng dengan cepat. Aku tidak mempercayai kata-katanya. Teriakan histeris keluar dari mulutku.
"Tidakkk !! tidak mungkin begitu ... kami baru saja menghabiskan waktu bersama sepanjang hari ini dan dia hanya ada janji makan malam di luar, dia akan segera kembali ... dunia kami tidak mungkin terpisah ... tidak mungkin .... ", gelengan kepalaku semakin menjadi, dan suaraku terdengar sangat parau.

Junki mengembalikan perhatiannya kepadaku. Sinar matanya yang penuh kasih tidak berubah. Suara masih terdengar lembut di telingaku.
"Jika kalian memang tidak mungkin terpisah, mengapa harus menghindar? mengapa tidak berani menghadapi perasaanmu sendiri? ... cinta kalian sudah teruji, kan? jadi sekarang ada masalah apa lagi? kamu harus mengambil jalan keluarnya Hyesun aa .. kalian tidak bisa terus-terusan begini ...." 

Mataku meredup. Perlahan kualihkan pandangan ke Mino. Dia masih berada dalam posisi serupa. Aku melangkah kedepan dan menempelkan tangan ke kaca yang memisahkan dunia kami. Airmataku mengalir keluar.

"Saya tidak ingin begini .. sungguh .. saya tidak ingin seperti ini .... ", isak tanggis mulai terdengar dari mulutku. Sekali lagi aku berusaha menembus kaca maya itu tapi tetap saja tidak bisa.

Junki mendekatiku. Dia tersenyum. Tangannya diangkat dan ditempelkan ke punggungku. Dengan satu hentakan dia mendorongku ke depan. Aku terkejut. Karena kehilangan keseimbangan aku tersungkur ke depan dan menembus kaca tidak tampak yang menghalangiku dengan Mino. Pada saat yang hampir bersamaan aku tersentak bangun dari tidurku dengan keringat yang bercucuran dan wajah yang basah oleh airmata.

Dengan gugup aku mengarahkan pandangan ke sekeliling ruangan. Keadaan sekitar sangat buram. Aku memang mempunyai kebiasaan memadamkan lampu sebelum tidur. Penerangan satu-satunya hanya didapat dari perapian di tengah pojok ruangan. Itupun hanya sedikit, karena kayu yang dibakar sudah hampir habis.


***************


Deritan pelan dari pintu di belakang, membuatku berpaling. Keadaan sekitar ruang tamu ini agak buram. Cahaya lentera yang redup memantulkan bayanganku memanjang sampai ke tengah ruangan. Sebatang pohon natal yang cukup tinggi berkerlap kerlip  di pojok kanan dekat jendela. Pintu terbuka dan Mino memasuki ruangan. Dia kelihatan kedinginan. Tubuhnya mengigil dengan mantel panjang yang berlapis salju tipis. Mino mengibaskan serpihan salju putih itu dari longcoat hitamnya. Semakin dirapatkannya mantel itu ke tubuhnya.

Aku memperhatikan semua tingkahlakunya tanpa mengeluarkan suara . Mino mengalihkan pandangan kearahku, begitu selesai dari kesibukan dengan mantelnya yang berlepotan salju.

"Jangan berdiri terlalu lama di dekat jendela ..... udara di luar sangat dingin, nanti kamu bisa sakit .... kemarilah! .... akan kutambahkan kayu bakar untuk menghangati tubuhmu ..."

Mino mendekati perapian bata di pojok kiri dekat pintu. Dilemparnya beberapa batang kayu bakar ke perapian itu. Suara berkerak-kerik terdengar ketika api mulai melahap kayu di dalamnya. Mino menjulurkan sepasang tangannya ke perapian. Digosokannya sepasang tangan tersebut dengan maksud untuk  menghangatkannya. Dua menit kemudian Mino melepaskan mantelnya dan mengantungkannya ke tempat yang dipergunakan untuk mengantung jas dan mantel yang tersedia dekat perapian.

Aku masih berdiri kaku di tempat. Tidak kuturuti permintaan Mino tadi.  Kuhembuskan nafasku yang beruap setelah menariknya panjang-panjang. Aku berbalik lagi kearah jendela. Samar-samar terdengar olehku suara televisi yang dinyalakan. Cuaca di luar semakin memburuk. Sepertinya bakal ada badai salju. Angin berhembus kencang menerbangkan serpihan-serpihan salju ke udara.

Perhatianku terus tertuju ke luar jendela, sehingga tidak memperdulikan lagi apa yang dilakukan Mino. Beberapa waktu berlalu. Entah sudah berapa lama aku berdiri dalam posisi yang sama. Dan keheningan yang tiba-tiba mencekam itu menyadarkanku dari lamunan. Dahiku berkerut. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Tidak terdengar olehku suara televisi yang tadi dinyalakan Mino. Hening dan sunyi sekali.

Aku berbalik kearah Mino tadi berada. Tidak ada siapapun disana. Begitu juga seisi ruangan. Hanya bayanganku yang menemani di dalam kesunyian. Suara detak detik jam meja di atas perapian terdengar jelas ..tak .. tik .. tak .. tik ...

Kecemasan mendadak menghinggapiku. Mimpi aneh tadi berkelebat dalam pikiranku. Nafasku menjadi sesak. Aku takut. Sangat takut. Takut jika sesuatu terjadi padanya.

"Minooo aaa ...", maksudku ingin teriak, tapi yang keluar hanya panggilan tertahan.

Sepasang kakiku bergetar hebat. Dengan sekuat tenaga aku mengendalikan gerak kakiku dan menghambur keluar dari ruang tamu.


*************


Aku berhenti di depan pintu. Pandanganku berputar ke setiap sudut lorong diluar ruangan. Aku kebinggungan sendiri, tidak tahu harus berbuat apa. Kuperhatikan satu persatu pintu kamar yang berada di kanan kiri lorong dari tempatku berdiri. Aku mengeleng perlahan. Semua kamar yang berada di lantai tiga ini hanya diperuntukkan bagi para pelayan termasuk Mr. Kang, jadi tidak mungkin Mino berada dalam kamar-kamar tersebut.

Dengan segera aku berlari menuruni tangga menuju lantai dua. Kesuraman di sekitar membuatku sedikit merinding. Penerangan sekadarnya hanya di dapat dari dua bola lampu di ujung tangga. Sunyi dan mati.  Langkah kakiku terdengar nyaring mengema di sekeliling lorong kelam.

Aku sampai di lantai dua dengan nafas sedikit memburu. Kuperhatikan keadaan sekitar. Keheningan membuat telingaku mengiang. Aku menuju pintu kamar pertama di sebelah kanan, dekat tangga. Ini adalah kamar tidur Mino. Kuletakkan tangan di gagang pintu dan memutarnya. Pintu kamar ternyata tidak dikunci. Dengan satu hentakan pintu tersebut terbuka ke dalam.

Kamar itu sangat gelap dan dingin. Lampu tidak dinyalakan, begitu juga dengan mesin penghangat listrik yang terletak di dekat tempat tidur. Satu-satunya penerangan didapat dari lampu-lampu hiasan di luar apartement yang menyorot masuk lewat jendela kaca yang tirainya tidak tertutup rapat. Setelah terbiasa dengan cahaya yang terbatas itu, kuperhatikan seluruh pojok ruangan. Tidak ada bayangan seorangpun dalam kamar ini. Keadaannya menunjukkan kalau tidak ada yang memasukinya dalam waktu terdekat.

Perlahan aku mundur kebelakang dan menutup pintu. Aku berjalan ke kamar sebelah dengan perasaan campuraduk. Ini adalah kamar yang dijadikan ruang kerja oleh Mino. Kubuka pintunya yang ternyata juga tidak dikunci. Keadaannya sama dengan kamar sebelah. Dingin dan mati. Tidak ada tanda kamar ini pernah dijamah orang. Hatiku bertambah gelisah. Kemana Mino? Aku menghembuskan nafas panjang dan keluar dari kamar tersebut.

Kemudian aku berbalik ke belakang. Keraguan menghinggapiku. Ruangan di depan kedua kamar pertama itu merupakan satu-satunya kamar yang tidak terpakai. Aku cuma memasukinya sekali ketika pertama kali menginjakkan kakiku di sini. Ruang ini sebenarnya hanya dipergunakan untuk menampung semua barang yang tidak berguna lagi. Lebih tepatnya kalau disebut sebagai gudang. Tapi entah mengapa ketika kutaruh tangan di gagang pintu kegelisahan semakin merasuki hatiku. Ada perasaan ngeri yang membuatku segera berpaling ke samping.

Aku bermaksud berlari dari situ ketika mimpi itu kembali bermain dalam pikiranku. Tidakkkk!!! aku harus menyelidiki semua sudut apartement ini, tidak terkecuali. Mino harus kutemukan. Dengan tekad bulat aku berbalik lagi kearah ruangan yang kelihatan suram itu. Kuputar gagang pintu dan mendorongnya ke depan. Pintu kamar terbuka dan .. aku langsung tertegun.

Ruangan itu terang benderang oleh sinar lampu kristal di atas langit kamar. Mataku terpejam karena cahaya yang menyilaukan itu. Karena terlalu lama berada dalam kegelapan, sepasang mataku belum terbiasa dengan cahaya yang terlalu terang seperti itu. Setelah mataku bisa bekerja dengan baik, kuarahkan pandangan keseluruh ruangan.

Semua yang ada disana berbeda dari perkiraanku semula. Barang rongsokan yang semula tergeletak sembarangan sudah tersusun rapi di sudut ruangan. Sebuah meja panjang dari aluminium berkilat terkena cahaya lampu di tengah ruangan. Bermacam panci, piring, sendok dan lainnya, dari berbagai ukuran tertata rapi di atasnya. Begitu juga dengan sebuah oven dan kompor gas. Melihat semua itu dahiku berkerut. Semakin banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku. Kekhawatiranku semakin menjadi. Tanganku bergetar.
"Mino aaa ...", ujarku lirih.

Tiba-tiba ketakutan itu kembali merasuki hatiku. Aku berbalik dan menghambur keluar. Aku terus berlari menuju lantai bawah. Tetap saja kesunyian yang menyambutku. Aku menerjang masuk ke kamarku sendiri dengan airmata yang mulai mengalir keluar dari sudut mataku. Pandanganku beredar ke sekeliling ruangan setelah berada di dalam sana. Keadaan di kamar itu sama saja dengan ketika kutinggalkan setengah jam yang lalu. Aku mendesah. Perlahan aku mundur kebelakang, berbalik dan berlari keluar dari sana.

Beberapa saat kemudian aku sampai di dapur yang berada di sebelah kamarku. Dapur itu kelihatan bersih dan tidak dipakai lagi setelah ditinggal para pelayan tadi pagi. Nafasku memburu. Isak tanggis mulai keluar dari mulutku. Aku keluar dari dapur dengan lesu. Langkahku terhenti begitu tiba di ruang makan yang pintunya tertutup. Aku menarik nafas dengan isak tertahan. Ruangan ini merupakan harapan terakhirku. Kuputar gagang pintu dan membuka pintu yang tidak terkunci itu. Berpuluh kecil cahaya menyorot keluar begitu pintu kamar terbuka. Aku terpana. Mino berdiri di depanku dengan sebuah kue ulang tahun yang dihiasi berpuluh batang lilin di atasnya.
"Saengil chukae, Hyesun aaa  ...", kata Mino dengan senyum tersungging di bibir dan mata berbinar-binar.

Mataku terbelalak. Hanya sesaat aku melirik kue ulangtahun yang dipegangnya. Melihatnya berdiri di depanku lagi membuat tanggisku langsung meledak.


**************

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #58 on: June 18, 2010, 10:29:16 am »
mami lanjut...  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

tinggal satu chap lagi ya mi?

wahhh udah mau abis dong...

sekarang aja mi chap 20 nya di update..  [hmpfh] [hmpfh] di  [head break] sama mami..  [hmff]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: THE SARANG
« Reply #59 on: June 18, 2010, 10:33:19 am »
mami lanjut...  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

tinggal satu chap lagi ya mi?

wahhh udah mau abis dong...

sekarang aja mi chap 20 nya di update..  [hmpfh] [hmpfh] di  [head break] sama mami..  [hmff]
ini makan [head break] [head break] chp terakhir akan gw simpan ampe bln depan [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun