Author Topic: September's blue : My Rainy Days ~CHP 5 Part (iii) FINAL~6 Feb'11  (Read 20754 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ff ini akan gw update [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
ff ini akan gw update [biggrin]

kapan?

-----------EDIT------------

aku udh ngantuk mam, bacanya besok aja deh  [bye]
« Last Edit: August 30, 2010, 08:46:15 am by Liko »

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
ff ini akan gw update [biggrin]

mana miii ??? cepet donk udah ga sabar nih...  [hmpfh] [laughing] btw ada yg sweet2 ya mii...  [hug]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Additional Cast :


Barbie Hsu as dokter Song Eun-Hye



Jung-Min terhempas di bangku di belakangnya.


Dia capek--sangat capek. Habis sudah tenaganya setelah mondar-mandir hampir setengah jam di depan pintu ruang gawat darurat tempat Jie-Ah menjalani pertolongan darurat dari dokter Song dan beberapa dokter dan suster berpengalaman. Dia mengangkat wajah dan berpaling ke samping--belum ada reaksi dari ruangan tersebut. Jung-Min menghembuskan nafas berat-berat. Matanya yang bengkak akibat terlalu banyak menanggis terpejam perlahan. Dia berdoa dalam hati--seperti doa-doa sebelumnya. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Jie-Ah. Asal dia membuka matanya, dia bersedia mengantinya dengan usianya sendiri.

drekkk .... pintu ruang gawat darurat di sebelahnya terbuka. Beberapa dokter dan suster yang berpakaian serba putih--lengkap dengan masker--keluar dari ruangan tersebut. Jung-Min segera berdiri dari tempatnya. Tubuhnya agak oleng. Untuk bertahan, tangannya menumpu ke dinding di sebelah pintu.

"Pekerjaan yang bagus dokter Song .. ." Seorang pria bertubuh kurus dan berkacamata--salah satu dokter specialis jantung yang bertugas hari itu--menepuk lengan dokter bertubuh mungil di sebelahnya.

Dokter Song tersenyum dan balas menepuk lengan dokter berumur tigapuluhan itu. "Thanks, dokter Park. Saya benar-benar berterimakasih buat bantuan anda." kemudian dia beralih ke rekan-rekannya yang lain. "Terimakasih buat semuanya." dia membungkuk dalam-dalam. "Hari yang melelahkan." katanya sambil menghela nafas. "Saya akan bergabung buat operasi jantung satu jam lagi dokter-dokter dan suster-suster sekalian. Masih ada keterangan yang harus kujelaskan pada keluarga Jie-Ah ssi, jadi saya tinggal sebentar di sini. Sekali lagi, thanks .. "

Petugas-petugas rumah sakit itu meninggalkan tempat itu satu-persatu. Dokter Song membuka maskernya. Seraut wajah manis yang putih mulus terkuak dari balik masker.


"Bagaimana dok?" tanya Jung-Min dengan suara gemetar setelah berhasil berdiri tegak di posisinya. "A .. apa sebenarnya yang terjadi padanya?"

Dokter Song mendekati Jung-Min dengan senyum menenangkan. "Dia tidak apa-apa." jawabnya. "Ya walaupun keadaannya tidak bisa dikatakan stabil, tapi .. paling tidak, tidak membahayakan." dokter muda itu berhenti dan mengamati Jung-Min. "Anda keluarga Goo Jie-Ah ssi?"

Dada Jung-Min tercekat--terpukul sakit. Pertanyaan tersebut membuatnya membisu tak mampu bersuara.

"Tuan?" dokter Song menyentuh lengan Jung-Min. "Gwencana?"

Jung-Min tersentak. "Ohh .. "

"Gwencana?" tanya dokter Song lagi.

Jung-Min mengatupkan rahangnya dan menjawab pelan. "Ne."

"Jadi .. apa anda keluarga Goo Jie-Ah ssi?"

Jung-Min mengeleng. "Tidak. Saya .. saya hanya temannya."

"O ...," dokter Song mengangguk. "Apa kita bisa menghubungi keluarganya? Ada yang ingin saya jelaskan tentang penyakit Jie-Ah ssi .. "

Jung-Min mendesah. "Keluarganya tidak akan datang ... ," katanya pelan.

"Mwo?" mata dokter itu melebar. "Tapi mengapa?" Kemudian dia menatap Jung-Min dengan ekspresi serius. "Jika anda ketahui penyakit Jie-Ah ssi sangat serius!"

"Saya menyadarinya." sela Jung-Min cepat. "Saya menyadarinya setelah tahu ada yang tidak beres dengan jantungnya." dia menatap dokter Song, "Tapi tetap saja mereka tidak akan datang."

Wajah dokter Song berkerut sangat dalam. "Mengapa?"

"Keluarganya meninggal dalam kecelakaan tragis sebulan yang lalu, tak terkecuali .. ," tubuh Jung-Min langsung lemas. Susah payah dia meraih bangku di belakangnya, dan menjatuhkan diri di sana. "Dia sendirian .. sendirian ... ," wajahnya tertunduk dan airmata kembali mengalir--tumpah di pangkuannya.

"Ohh ..," dokter Song menutup mulut dengan tangannya. Syok, ya dia tidak kalah syoknya dengan Jung-Min. "Tuhan ... ," tangannya turun dan mengelus-ngelus dadanya. "Di ... dia sendirian sekarang?"

Jung-Min mengangguk. Dokter Song menghembuskan nafasnya berat. Kemudian dia menjatuhkan diri di samping Jung-Min.

"Cuma kamu yang dimilikinya sekarang. Iya kan?"

Jung-Min menoleh padanya. Berusaha mendapatkan arti dari pertanyaan tersebut.

"Kamu pasti heran dan bingung?" kata dokter Song pelan. "Goo Jie-Ah ssi adalah pasien dokter Kim. Maksudku dokter Kim tua, bukan dokter Kim Dae-Won. Beliau adalah ayah dari dokter Kim Dae-Won."

"Maksud dokter?"

Dokter Song tersenyum getir. "Anda pasti menganggapku gila karena membicarakan sesuatu yang tidak berarti." dia berhenti beberapa detik, kemudian melanjutkannya lagi. "Tapi tidak. Penjelasan ini sangat berarti. Ini menyangkut penyakit Jie-Ah ssi."

Jung-Min memperhatikan dokter Song dengan seksama, tanpa berani mengucapkan apa-apa--apalagi menyelanya.

"Dokter Kim tua merupakan dokter pribadi keluarga Goo. Beliau tidak hanya dokter pribadi tapi juga dokter specialis jantung. Beliau juga pendiri dan pemilik rumah sakit ini." dokter Song melanjutkan ceritanya. Dia menatap Jung-Min, kemudian menekan kata-kata yang keluar selanjutnya."Goo Jie-Ah ssi divonis tidak dapat bertahan hidup sejak dalam kandungan."

Mata Jung-Min melebar. "MWO?"

Dokter Song menghela nafas. "Ya, jantungnya tidak tumbuh dengan normal. Karena itu kehidupannya selama ini merupakan keajaiban. Bayangkan, delapan belas tahun. Dia sangat istimewa."

Jung-Min menyandar di sandaran kursi dengan perlahan-lahan. Jadi ini asal-usul Jie-Ah? Asal-usul seorang Goo Jie-Ah--Gadis yang dianggapnya aneh sejak pertemuan pertama? Jung-Min menghembuskan nafasnya keras-keras.

"Dokter Kim Dae Won mengambil-alih tugas menangani penyakit Jie-Ah ssi begitu ayahnya pensiun empat tahun yang lalu." terdengar dokter Song melanjutkan ceritanya. "Selama ini, setiap Jie-Ah ssi melakukan check-up rutin selalu ditemani keluarganya. Kalau tidak salah--appa, omma dengan oppanya. Mereka sangat menyayangi gadis itu. Ya, karena dia sangat luar biasa--saya tahu itu." Dokter Song kembali menghela nafasnya.

Jung-Min menunduk perlahan.

"Tapi tidak kukira nasibnya akan lebih buruk dari itu ... ," kata dokter Song dengan nada menyesal. "Kehilangan orang-orang yang dicintainya hanya dalam sekejap? Menjadi seseorang yang tidak memiliki apapun di dunia ini--dengan tubuh yang digerogoti penyakit, yang siap merenggut nyawanya setiap saat? Jika aku menjadi dia, mungkin sudah lama mengakhiri hidupku  .. "

Jung-Min mengangkat wajahnya. "Dokter Song .. "

"Iya?" dokter Song menyahut samar-samar. "Sebaiknya anda memanggil namaku saja. Aku merasa sudah akrab dengan tuan." Dokter Song mengulurkan tangannya. "Aku Song Eun-Hye .. "

Jung-Min menyambut tangan Eun-Hye. "Lee Jung-Min." katanya dengan suara yang agak serak. "Boleh saya menanyakan sesuatu, Eun-Hye ssi?"

"Ne. Apa itu?"

"Bukankah dokter yang menangani penyakit Jie-Ah itu dokter Kim? Ke mana dia? Mengapa anda mengantikannya?"

Eun-Hye menegakkan tubuhnya. "Dokter Dae-Won ada tugas di luar kota selama seminggu. Besok dia akan kembali. Untuk sementara aku yang menangani tugas-tugasnya di sini. Terutama penyakit Jie-Ah ssi .. "

"O .. ," Jung-Min mengangguk kemudian menundukkan wajah lagi.

Keadaan jagi hening. Eun-Hye mengamatinya lewat sudut mata. Selama beberapa saat dia berusaha menilai pemuda itu. Apa sebenarnya arti pemuda ini bagi Jie-Ah? Lima menit berlalu dia bangkit dari bangku dan menepuk lengan Jung-Min.

"Saya harus pergi sekarang, Jung-Min ssi. Masih ada operasi yang harus kulakukan." kata Eun-Hye. "Anda juga, sebaiknya pulang saja. Jie-Ah ssi tidak akan sadar sampai besok."

Jung-Min berdiri dari tempatnya dan membungkuk dalam-dalam. "Araso. Terimakasih, Eun-Hye ssi."

Eun-Hye mengangguk dan kembali menepuk lengan Jung-Min. "Buat dia--bertahanlah!"

"Ne."

Setelah itu Eun-Hye meninggalkan Jung-Min yang segera menjatuhkan dirinya kembali di kursi. Dia menghabiskan waktu sepuluh menit menenangkan diri baru berani membuka pintu ruang rawat Jie-Ah dan masuk ke dalam.

Jie-Ah terbaring dengan tenang di ranjang. Sebuah alat bantu pernafasan terpasang di wajahnya. Begitu juga lengannya terpasang alat infus. Detak-detik dari alat pendeteksi jantung di sebelah ranjang membuat Jung-Min gelisah. Dia mendekati Jie-Ah. Meletakkan tangan di wajahnya--mengelusnya lembut. Wajah yang beberapa jam lalu sangat pucat sudah berwarna lagi. Bunyi nafasnya yang hampir tidak terdengar juga sudah berjalan normal.

Jung-Min menghela nafas. "Jangan khawatir, aku akan menjagamu. Apapun yang terjadi, kamu tidak akan sendirian."

Kemudian ditariknya selimut menyelimuti tubuh Jie-Ah, lalu dia keluar dari ruangan itu.

Tidak ada lagi yang bisa kulakukan! Semua yang terbaik sudah kulakukan. Sekarang, semoga ENGKAU mendengar doa-doaku. Semoga Jie-Ah dapat bertahan hidup. Tidak hanya delapan belas tahun seperti pemberian-Mu, tapi ... akan lebih dari itu. Bisik Jung-Min dalam hati.
    

***** >< >< *****



 
Tiga hari kemudian--Jung-Min melempar pensil di tangannya. Huhh .. dia tidak dapat berkonsentrasi. Kepalanya dipenuhi bayangan Jie-Ah. Dia menghembuskan nafas keras-keras, berdiri dari kursi kemudian keluar dari ruang kerjanya. Tiga menit kemudian dia kembali lagi dengan secangkir kopi pahit di tangannya.

Dia mereguk kopi tersebut. Huekk,, terasa sangat memuakkan. Ya, dia memang tidak biasa minum kopi pahit. Tapi dia tidak punya pilihan. Saat ini dia membutuhkan sesuatu yang merangsang otaknya buat melupakan bayangan-bayangan Jie-Ah.

kring .. kring .. kring .. , ponselnya berbunyi.

Jung-Min meletakkan cangkir di tangannya dan meraih ponsel tersebut.

"Yeboseyo ... Mwo? .. Keluar dari rumah sakit? .. Ba .. bagaimana mungkin? Keadaannya belum sehat benar-kan? .. Dia berkeras? .. O araso, aku akan segera ke sana."


Jung-Min menutup pembicaraan dan memasukkan ponsel ke saku jasnya. Tergesa dia mengambil tas yang tergeletak di meja dan menghambur keluar ruang kantornya.

Seung-Gi yang baru memasuki kantor 'Sketch Your Dream' hampir terpelanting ketika Jung-Min sukses menabraknya.

"Hey!!" protes Seung-Gi.

"Miane hyung. Saya sedang diburu waktu!" teriak Jung-Min sambil berpaling ke belakang. "Saya akan kembali agak siangan! See you!" dia melambai pada Seung-Gi, dan dalam sekejap sosoknya lenyap dari situ.

Seung-Gi terbengong-bengong di tempatnya. Dia mengaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian menoleh ke rekan-rekan kerjanya yang lain.

"Wegude?"

Semua dalam ruangan itu langsung mengangkat bahu.

Tiba-tiba Seung-Gi menepuk jidatnya. "Oh pasti ada sesuatu!" katanya.

Dia mengatupkan geraham. Setelah mengambil keputusan kilat, dia memutar tubuh dan berlari mengejar Jung-Min.  
    

***** >< >< *****



 
"Anda harus mencegahnya, tuan!" kata seorang suster yang bersusah-payah mensejajari langkah Jung-Min.

"Dia tetap berkeras keluar dari rumah sakit?"

"Ne." jawab suster itu di sela-sela nafasnya yang memburu.

Jung-Min berhenti kemudian berbalik padanya. "Di mana dokter Song?"

"Dokter Song dalam perjalanan kemari, tuan." jawab suster tersebut. "Tadi beliau ada operasi mendadak jadi tidak bisa langsung kemari."

Jung-Min mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya. Lima menit kemudian mereka sampai di ruangan Jie-Ah dirawat. Seorang suster tampak sedang menarik tangan Jie-Ah--melarangnya keluar dari kamar itu--sedangkan seorang suster muda lainnya susah payah memberi penjelasan yang sama sekali tidak didengar pasien itu.

"Apa yang kamu lakukan?"

Pertanyaan Jung-Min menghentikan atraksi tarik-menarik dalam ruangan tersebut. Jie-Ah dan kedua suster yang merawatnya segera berpaling kepada pemuda itu.

"Ada apa?" Jung-Min berjalan kearah mereka. Ditatapnya mereka satu-persatu dengan pandangan tajam.

Jie-Ah tidak menjawab. Dia menarik diri kembali--duduk di atas ranjang.

"Jie-Ah ssi berkeras keluar dari rumah sakit hari ini, tuan .. ," Salah seorang suster--yang tadi memberi penjelasan pada Jie-Ah--menjawab pertanyaan Jung-Min.

"Begitu?" Jung-Min berpaling pada Jie-Ah. "Benar begitu?" tanyanya. "Mengapa?"

Jie-Ah tetap membisu. Dia membuang wajah ke samping--menghadap ke dinding--ekspresi wajahnya sangat keras.

"Apa kamu tahu keadaanmu tidak baik?" tanya Jung-Min sambil menghela nafas. "Bisakah kamu mendengarkanku, .. kali ini saja?"

Jie-Ah mengigit bibirnya. "Saya tidak ingin berada di sini." sahutnya tegas. "Saya mau pulang."

Jung-Min berhenti di depan Jie-Ah. "Lalu apa yang akan kamu lakukan di rumah? Siapa yang menjagamu?"

Jie-Ah mengangkat wajah dan membalas pandangan Jung-Min. "Tidak ada urusannya denganmu!"

Mendengar itu, Jung-Min memejamkan mata dan menghembuskan nafasnya.


"Saya sahabatmu Jie-Ah ya ... ," katanya lirih. "Saya ingin yang terbaik buatmu. Penyakitmu tidak main-main. Kamu tahu itu."

Jie-Ah mengatupkan rahangnya. Pandangannya dilemparkan ke jendela. "Saya tidak perlu sahabat. Apalagi itu kamu--saya tidak perlu itu."

"Ada apa?" Eun-Hye muncul dari balik pintu. "Jie-Ah ssi, saya dengar kamu berkeras keluar hari ini .. "

Semua berpaling pada dokter cantik yang baru datang itu. Jie-Ah berdiri dari ranjang dan mendorong Jung-Min ke belakang.

"Saya mau keluar hari ini." katanya tegas.

"Tidak bisa!" Jung-Min menyelanya. "Sudah kubilang tidak bisa! Kesehatanmu tidak mengijinkan."

"Benar kata Jung-Min ssi, Jie-Ah ssi." Eun-Hye menyambung perkataan Jung-Min. "Tunggu beberapa hari lagi. Kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap penyakit anda."

"Saya mau keluar!" Jie-Ah tidak bergeming di tempatnya. Dia melangkah ke depan dan membalas pandangan mereka satu-persatu. "Apapun perkataan kalian, saya tetap akan keluar dari sini--dengan atau tanpa seijin kalian--"


***** >< >< *****



 
Karena kekerasan hatinya, akhirnya Jie-Ah diijinkan keluar rumah sakit oleh Eun-Hye.

"Saya akan mengantarmu." Jung-Min menawarkan diri.

Jie-Ah melewatinya. "Tidak usah." katanya dengan nada datar. "Saya bisa pulang sendiri."

"Tapi ... "

Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundak Jung-Min. Dia berpaling. Eun-Hye yang berada di sebelahnya mengeleng perlahan. "Biar saya saja."

"Tapi ... ," kata Jung-Min ragu-ragu.

"Dia sangat keras kepala." Eun-Hye menunjuk punggung Jie-Ah yang semakin jauh dari pandangan mereka dengan wajahnya. "Semakin kamu mendesak, semakin dia menjauh."

Jung-Min menghela nafas. Akhirnya dia mengangguk pasrah.


***** >< >< *****



 
Eun-Hye mengejar Jie-Ah. Sebentar saja dia sudah sampai di sebelah gadis yang memang berjalan tidak begitu cepat itu.

"Bagaimana kalau saya yang mengantarmu?"

Jie-Ah berpaling pada Eun-Hye--tidak menjawab.

"Kebetulan saya masih ada urusan lain di rumah sakit yang sejurusan dengan rumahmu." sambung Eun-Hye dengan senyum cerah. "Kamu tidak menolak penawaran kecil ini kan?"

Jie-Ah masih membisu sambil meneruskan langkahnya. Eun-Hye mengikuti di langkah Jie-Ah di sebelah.

"Mobilku ada di lapangan parkir di luar rumah sakit ini." Eun-Hye tidak menyerah. "Kita ke sana sekarang ya?"

Kedua wanita itu keluar dari pintu masuk rumah sakit KimSeoul menuju lapangan parkir yang ada di depan. Walaupun Jie-Ah tidak mengatakan apa-apa terhadap tawaran Eun-Hye, dia akhirnya menerima juga tawaran tersebut.


***** >< >< *****



 
Setelah kepergian Jie-Ah dan Eun-Hye, Jung-Min berjalan gontai ke luar dari rumah sakit tersebut. Dia sampai di sebelah mobilnya. Membuka pintu mobil tersebut dan masuk ke dalam. Tak berapa lama mobil itu sudah melaju di jalan raya--bergabung dengan kendaraan lainnya.

Tanpa disadari Jung-Min, adegan-adegan dalam rumah sakit KimSeoul tertangkap semua oleh Seung-Gi.

"Jadi gadis itu yang mencuri hati Jung-Min ... ," Seung-Gi melamun dalam mobilnya. "Tapi mengapa?" kepalanya bergerak ke kanan. "Mengapa gadis berpenyakitan seperti dia?"


Terbayang kembali pembicaraannya dengan salah seorang suster yang merawat Jie-Ah.

Flashback ...

Seung-Gi berdiri di lorong rumah sakit yang menghubungkan beberapa kamar darurat. Dia mendengar semua apa yang terjadi dalam kamar rawat Jie-Ah. Tentang kekhawatiran Jung-Min tentang keadaan gadis yang berkeras keluar dari rumah sakit itu.

Keadaan dalam ruangan masih memanas ketika dua orang suster yang merawat Jie-Ah meninggalkan ruang gawat darurat tersebut. Seung-Gi langsung memojok ke sudut lorong--takut terlihat oleh kedua suster tersebut.

Dua suster muda itu berhenti tepat di depan Seung-Gi sehingga pembicaraan mereka terdengar jelas olehnya.

"Pasien itu sangat keras kepala .. ," gerutu salah seorang dari mereka.

"Iya." suster satunya menyetujui. "Kasian dokter Song harus menangani pasien seperti dia."

"Lebih kasihan lagi dokter Kim." sahut suster pertama. "Beliau kan yang menangani penyakitnya dari empat tahun yang lalu."

"Iya benar." kata rekan kerjanya. "Sepertinya penyakit agashi itu semakin parah. Mudah-mudahan kasus ini tidak menunda pernikahan dokter Song dan dokter Kim."

Suster satunya langsung tertawa. "Tentu saja tidak. Walaupun agashi itu pasien yang sangat diistimewakan dokter Kim tua, tetap saja dia tidak punya pengaruh sebesar itu."

Rekannya mengangguk. "Kalau dipikir-pikir benar juga." dia ikut tertawa.

Tidak lama kemudian mereka berpisah. Si suster pertama masuk kembali ke ruang rawat Jie-Ah untuk berberes-beres sedangkan suster kedua bermaksud keluar dari rumah sakit bagian gawat darurat itu.

Langkahnya baru mencapai setengahnya ketika dihentikan Seung-Gi.

"Anyongheseyo .. "

Suster muda itu berpaling. "Dhe? Memanggilku?"

"Ne." Seung-Gi mendekatinya. "Anyong suster cantik .. "

Suster itu langsung tersenyum-senyum sendiri mendengar pujian Seung-Gi. "Ne. Ada apa?" tanyanya malu-malu.

"Boleh saya menanyakan sesuatu?" Seung-Gi berusaha tersenyum semanis mungkin.

"Iya?"

"Agashi yang dirawat di ruangan itu .. ," Seung-Gi menunjuk ke ruang Jie-Ah dirawat. "Dia sahabatku." katanya masih dengan senyuman tersungging di bibir. "Sudah lama kami tidak bertemu. Tadi saya habis menjenguk seorang sepupu dan kebetulan melihatnya di ruangan itu. Kelihatannya terjadi perselisihan kecil?"

"Iya." jawab suster tersebut. "Agashi itu berkeras keluar dari rumah sakit hari ini padahal kesehatannya tidak mengijinkan untuk itu."

"Memangnya dia sakit apa?" tanya Seung-Gi.

"Hmm--tuan tidak tahu?" si suster memandanginya dengan pandangan menyelidik. Alarmnya langsung berbunyi begitu mendengar pertanyaan yang menyangkut keprofesionalan pekerjaannya tersebut.

"O tidak ... ha .. ha .. ," Seung-Gi tertawa kaku. "Sudah saya katakan kami sudah lama tidak bertemu .. "

"Benarkah?" alis suster itu berkerut. "Aneh sekali."

"Memangnya kenapa?"

"Penyakit Jie-Ah ssi kan sudah dari dulu." jawab suster itu lambat-lambat. "Maksudku ... dia mengidap kelainan jantung sejak dalam kandungan."

"MWO?"

"Tuan tidak tahu." tanya suster itu--semakin curiga.

"Oh!" tiba-tiba Seung-Gi menepuk jidatnya keras-keras. "Sosoengheyo suster cantik ..," dia membungkukkan badannya. "Saya ada urusan penting. Harus pergi sekarang. Permisi ... anyongheseyo ... "

Tergesa-gesa Seung-Gi meninggalkan suster yang terbengong-bengong di tempatnya.

The End of Flashback ...

Seung-Gi menghela nafas, kemudian menstarter mobilnya.

"Mengapa wanita seperti dia yang kau pilih, Jung-Min ya? Bukankah Hye-Mi sudah yang terbaik, tapi mengapa .. ?"

Seung-Gi mengeleng perlahan. Dia menginjak pedal gas dan mobil itu kembali meluncur ke jalan raya.  
 

***** >< >< *****



 
Duapuluh menit lamanya Jie-Ah tidak bergerak dari posisinya. Dia menyandar ke sandaran kursi di sebelah Eun-Hye yang sedang memegang stir kemudi. Sedangkan pandangannya yang semu terlempar ke luar jendela.

"Hmm--pemuda itu .. ," Eun-Hye berusaha memulai pembicaraan di antara mereka setelah kebisuan yang berkepanjangan. "Maksudku--Jung-Min ssi, .. sepertinya dia menaruh perhatian terhadap kamu .. "

Jie-Ah tidak bereaksi. Bergerakpun tidak apalagi menyahut. Perhatiannya--atau dia berpura-pura menaruh perhatian--terpusat ke pemandangan di luar sana.

"Mengapa kamu tidak memberinya kesempatan?" Eun-Hye melirik Jie-Ah.

Umpannya berhasil! gadis itu bergerak perlahan. Dia menoleh ke arah Eun-Hye yang masih meliriknya. "Kesempatan?" kata Jie-Ah pelan--lebih seperti gumaman. "Apa saya punya kesempatan itu?" katanya pada diri sendiri. Dia mendesah, kemudian mengalihkan pandangan kembali ke luar jendela.


Eun-Hye tertegun. Pertanyaan tersebut begitu menyayat hati. Apalagi pandangan yang teramat sayu dan tak bercahaya itu, entah mengapa seakan mengoyak perasaannya menjadi serpihan-serpihan kecil.

"Jie-Ah ya ... "

"Saya bukan menyerah." kata Jie-Ah--yang begitu mengagetkan Eun-Hye, karena tidak mengira gadis murung ini akan menyahutnya lagi. "Tidak. Saya tidak menyerah! Jika saya menyerah, saya sudah mati sejak dulu." Jie-Ah menghembuskan nafasnya sehingga menghasilkan uap-uap halus di jendela mobil. "Saya hanya ... tidak ingin memberi harapan yang hampir mustahil." suaranya memelan. "Apa itu salah?"

Eun-Hye kembali tersentuh dengan perkataan-perkataan Jie-Ah. Walaupun penumpang mudanya ini tidak menatapnya, dia bisa melihat kesenduan lewat pundak yang terlihat kaku itu.

"Kalau begitu lupakan saja .. ," kata Eun-Hye tiba-tiba.

Jie-Ah menoleh perlahan dan memandanginya dengan sinar mata bertanya.

"Lupakan para pria." Eun-Hye tersenyum. "Mulai saat ini kita bersahabat, ok?" dia mengedipkan sebelah matanya. "Saya bangga bersahabat denganmu. Karena itu, kabulkan permintaanku! Maukan?"

"Sahabat?" Jie-Ah mengulang kata yang terasa asing baginya tersebut.

Pertama kali dia mendengar kata ini, ketika Jung-Min memintanya padanya--dan kali ini dokter yang pandai dan cantik ini juga mengutarakan maksud bersahabat dengannya? Mengapa?

"Ne, sahabat." Eun-Hye mengulurkan tangannya. "Dan sebagai sahabat-- apapun yang terjadi, kamu harus memberitahukannya padaku, araso?"

Jie-Ah tidak menjawab. Kepalanya tertunduk memandangi kuku-kuku jemari tangannya.

"Mulai besok dokter Kim akan mengambil-alih tugas memeriksamu." lanjut Eun-Hye begitu melihat gadis di sebelahnya membisu. "Ingat memeriksakan dirimu besok siang, gadis bengal!" dia mengelus halus kepala Jie-Ah sambil tersenyum lembut. Dia mengamati Jie-Ah sejenak, kemudian mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari tas kulitnya. "Ini obatmu." dia menyodorkan bungkusan tersebut. "Jangan lupa memakannya." katanya dengan nada mengancam. "Jangan sekali-kali melanggar perintahku ini, Jie-Ah ya. Saya tahu obat yang dokter Kim berikan padamu tidak kamu makan."

Jie-Ah memandangi bungkusan di tangan Eun-Hye. Agak lama dia tidak bergerak dari posisinya. Mobil yang dikemudikan Eun-Hye perlahan menanjak ke atas--memasuki pemukiman ter-pencil di sudut kota Seoul tersebut.

"Takut saya meracunimu?" goda Eun-Hye tanpa berpaling dari jalanan di depannya. "Tenang saja saya bukan dokter berhati hitam kok .. " dia tertawa.

Mau tidak mau Jie-Ah tersenyum--tapi hanya sesaat. Tangannya kemudian terjulur menerima bungkusan dari tangan Eun-Hye. "Ghamsamida .. ," katanya pelan.

Tak terasa mobil yang mereka tumpangi berhenti dengan decitan pelan di depan pintu gerbang Everlasting.


Jie-Ah membungkuk perlahan, "Ghamsamida .. "

Eun-Hye mengangguk. "Hati-hati Jie-Ah ya .. "

"Ne." jawab Jie-Ah.

Dia membuka pintu, kemudian keluar dari mobil--diiringi helaan nafas Eun-Hye.  

    
***** >< >< *****
« Last Edit: August 30, 2010, 09:24:22 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
sorry jika membosankan,, lg ga mood [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
mami gumawo udah diupdate  [cheekkiss] [cheekiss]
Komentnya nyusul mi...saya baca dulu.....[hmpfh]

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Mamiiii.. Si ji ah bersikeras keluar dr RS gara" ga punya biaya ya mi -_-

Fuuuhh kasihan bgt dia dari kecil divonis penyakit mematikan gtu T_T hiiiks..

Mi kalo aku saranin mending si seung gi aja yang jd pendonor jantungnya :p hmphhh

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
mii jie ah kasian bangett...
Tapi dia tu jutek sok nolak tawaran jung min buat jadi sahabatnya hammer2 hammer2
padahal si jungmin udah segenap hati mau menemaninya [AddEmoticons04261]
mi jangan dibuat metonk ya...[hmpfh]
oh iya seunggi juga musti di hammer2 hammer2 hammer2 masak jungmin g boleh suka ma jie ah

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Mamiiii.. Si ji ah bersikeras keluar dr RS gara" ga punya biaya ya mi -_-

Fuuuhh kasihan bgt dia dari kecil divonis penyakit mematikan gtu T_T hiiiks..

Mi kalo aku saranin mending si seung gi aja yang jd pendonor jantungnya :p hmphhh
kejam lu hammer2 hammer2 [hmpfh] jie-ah bukan ga ada biaya say, tp dia ga suka aroma rumah sakit. udah dari bayi dia keluar masuk rumah sakit mulu makanya dia berkeras keluar dari rumah sakit [cry]

virna, metonk atau tdk elu lht aja deh [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Mamiiii.. Si ji ah bersikeras keluar dr RS gara" ga punya biaya ya mi -_-

Fuuuhh kasihan bgt dia dari kecil divonis penyakit mematikan gtu T_T hiiiks..

Mi kalo aku saranin mending si seung gi aja yang jd pendonor jantungnya :p hmphhh
kejam lu hammer2 hammer2 [hmpfh] jie-ah bukan ga ada biaya say, tp dia ga suka aroma rumah sakit. udah dari bayi dia keluar masuk rumah sakit mulu makanya dia berkeras keluar dari rumah sakit [cry]

virna, metonk atau tdk elu lht aja deh [heh]
kalo metonk jungmin ama aku aja mi [laughing]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
virna, [guns] [guns] [head break] [fighting] hammer2 mampus lu [dry]
ye simami hammer2 hammer2 hammer2 pan daripada jungmin gak ada yang menemani  [smiley-dance013] [smiley-dance013] [hmff]

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Mamiiiii....
Jie ah benar2 keras kelapa ya mi... Si Jung min musti kerja keras nih untuk menaklukkan hatinya  [heh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Mamiiiii....
Jie ah benar2 keras kelapa ya mi... Si Jung min musti kerja keras nih untuk menaklukkan hatinya  [heh]

hiattciahhhhhhhhhhhh [guns] [guns] [head break] hammer2 menyindir gw ya [dry]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Jaah bukannya kejam miii.. Kan ji ah udah ga punya siapa".. Udah gitu ga kerja.. Dpt uang darimana dia -__-