Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 102815 times)

Offline virna yuniar

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1152
  • ♥KangDan♥
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #600 on: September 21, 2010, 07:27:17 am »
 [rofl] [what] [rofl] lo lucu ketinggalan bangettt

Offline neiya

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1006
  • Location: depoook
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #601 on: September 21, 2010, 08:29:10 am »
mamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii..spoilernya bikin [drool] [drool] [drool] [drool] [drool] [bav] tau nggaaa.. kenapa sii spoilernya pas bgt si sayipul lagi buka seletingg gituu... belom keluar tuh uler sucinyaaaaa [on] [on] [on] [hmpfh] [laughing] [laughing]

Offline vvah

  • Newbie
  • *
  • Posts: 90
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #602 on: September 21, 2010, 08:35:57 am »
bru bca spoilernya, mkin penasaraaan. ayo mi buruan update.

Offline oqyoiko

  • Superintendent
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1265
  • just be Ur SeLf & bE thE bEsT,,,,
  • Location: indonesia
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #603 on: September 21, 2010, 09:21:10 am »
 [head break] [head break] [head break] [head break] mamiiii apa2n tuh spoiler dah bikin sesek napas  [rofl] [rofl] [rofl] [rofl] [rofl],,, dah lama bgt niy kita menanti rathawt update,, ayolah mi kan bengkok udah, jdi sekarang ini dong mi... bsok yaa miy..oke  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
"MinSun & YongSeo is Sweet & Cute Couple "


Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #604 on: September 21, 2010, 10:49:38 am »
Mam kpn nih ff si RANJANG diupdate uda ngiler nih baca spoilernya..

Offline Lupminozzz

  • Newbie
  • *
  • Posts: 3
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #605 on: September 21, 2010, 11:07:34 pm »
Hi... Love ;D

Dari sekian ff kamu ini yang palllliiiiiiiiinnnnnnnggggg HOT... *O*
kapan d UPDATE..

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #606 on: September 22, 2010, 08:33:42 am »
mommy. kok belom diupdate sih? aku udh nungguin dr kemarin. tp dari kemarin juga kamu belum ol -.- cepetan ya mam... kamu kok gk ada tanda2 kehidupan di sini, cepetan ol yaaa...  [img] [img] [img] [img] eerrrr... btw, mami gwenchana? kok gk nungul terus, jgn2 sakit ya? atau sibuk ? *aku anak yang baik dan sangat perhatian. lol  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]*

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #607 on: September 22, 2010, 09:45:35 am »
mian belum bisa diupdate,, sibuk abis nih [sweat] [sweat]

lupminozzz, selamat gabung di forum ini,, tunggu aja ya, ga lama kok [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 7 update 8 Sept' 10
« Reply #608 on: September 22, 2010, 12:36:56 pm »



Song of the Story :
http://www.youtube.com/watch?v=FL0bjwez8mg&feature=player_embedded#!

Everytime We Touch--Lyrics

I still hear your voice, when you sleep next to me.
I still feel your touch in my dreams.
Forgive me my weakness, but I don't know why.
Without you it's hard to survive.

Cause everytime we touch, I get this feeling.
And everytime we kiss I swear I could fly.
Can't you feel my heart beat fast, I want this to last.
Need you by my side.
Cause everytime we touch, I feel this static.
And everytime we kiss, I reach for the sky.
Can't you hear my heart beat so.
I can't let you go.
Want you in my life.

Your arms are my castle, your heart is my sky.
They wipe away tears that I cry.
The good and the bad times, we've been through them all.
You make me rise when I fall.

Cause everytime we touch, I get this feeling.
And everytime we kiss I swear I could fly.
Can't you feel my heart beat fast, I want this to last.
Need you by my side.
Cause everytime we touch, I feel this static.
And everytime we kiss, I reach for the sky.
Can't you hear my heart beat so.
I can't let you go.
Want you in my life.

Cause everytime we touch, I get this feeling.
And everytime we kiss I swear I could fly.
Can't you feel my heart beat fast, I want this to last.
Need you by my side.


--------


 
Daze uring-uringan di tempat tidurnya. Untuk kesekian kali dia meraih jam weker yang ada di meja sebelahnya—sudah hampir pukul sepuluh malam. Dihempaskannya jam weker malang tersebut ke tempat semula sehingga menimbulkan bunyi keras. Kembali dia bolak-balik di pembaringan—seperti ular kepanasan.

“Belum pulang juga?!” dengusnya. “Katanya pulang sore, buktinya … ,” kembali dia marah-marah tak karuan.

Tubuhnya bergerak-gerak dan menendang-nendang selimut sampai meluncur ke lantai. Dia tersentak bangun, sesaat kemudian terhenyak ke ranjang lagi. Dia menarik-narik rambutnya hingga awut-awutan.

“Saya bisa gila kalau terus-terusan begini .. “

Daze menurunkan sepasang kakinya ke lantai. Setelah berpikir sebentar dia menariknya kembali. Tubuhnya dihempaskan lagi ke pembaringan di belakang. Lalu dia mengambil selimut dari lantai dan menariknya sampai menutupi seluruh tubuh—termasuk wajahnya. Dia tidak bergerak. Menahan nafas untuk beberapa saat kemudian menghembuskannya keras-keras. Dia berusaha menenangkan diri, tapi duapuluh menit berlalu dan usahanya sia-sia saja.

Daze menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan … dia langsung tersentak ketika seraut wajah hampir menabrak wajahnya. Rathyan sedang menatapnya dengan kening berkerut--hanya berjarak seinci dari wajahnya.

“Apa yang kau lakukan?”

Daze menyusut ke belakang. “Ti .. tidak ada .. ,” jawabnya terbatah-batah. “Ka .. kamu .. sejak kapan … berada di sini?”

Rathyan tidak segera menjawab. Dia berdiri dan melepas mantel ketat yang dipakainya waktu keluar rumah tadi pagi. Jadi benar dia baru kembali malam-malam begini? Dasar pembohong! batin Daze.

“Saya masuk lima menit yang lalu. Dan tubuhmu tertutup selimut semua.” Setelah menyampirkan mantelnya ke sandaran kursi, Rathyan menjatuhkan diri di sebelah Daze. “Ada apa?”

“Tidak apa-apa!” Daze membuang muka ke arah lain. Pura-pura tidak tahu? Atau .. sama sekali tidak menganggap janji itu? dia benar-benar tidak tahu. Terlalu sulit membaca pikiran anak ingusan di hadapannya ini.

“Heyy … ,” mendadak Rathyan melingkarkan tangan di pundaknya. “Miane saya pulang terlambat. Pameran yang kuhadiri hari ini terlalu menarik dan waktu pulang ada sedikit hambatan. Jalanan terselimut salju sehingga sulit dilalui. Beberapa kendaraan saling bertabrakan .. “

“MWO?!” kata TABRAKAN itu membuat Daze tersentak dan segera berpaling. “Kamu .. gwencana?”

“Ne.” Rathyan merangkulnya. “Saya tidak apa-apa. Bersyukur bisa bertemu kembali denganmu .. “

Sebuah pikiran melintas dalam otak Daze. “Gwenthee … ,” Didorongnya pemuda itu sehingga pelukannya terlepas dari tubuhnya, “Apa kamu tidak bisa mengabariku dulu?”

Alis Rathyan berkerut perlahan. “Weo?” wajahnya sengaja dicondongkan ke depan. “Kamu menungguku?”

“Anhi!” Daze mengeleng cepat. “Saya hanya tidak bisa tidur!” jawabnya mantap. Seakan memaksa Rathyan menerima kenyataan ini—bahwa dia sama sekali tidak menunggunya, tidak mengharapkannya dan … tidak merindukannya.

“Jeongmal?!” tanya Rathyan agak kecewa. “Kalau begitu apa perlu saya tidur di gudang malam ini?” dia bangkit dari tempat tidur.

“Mwo?!” mata Daze terbelalak lebar. “Anhi!! Saya juga tidak bermaksud begitu!”

Rathyan menoleh padanya. “Jadi?”

“Ka .. kamu .. boleh tidur di sini .. ,” kata Daze lemas. Sepasang matanya terpejam. Sejak kapan aku memasuki perang batin ini? Sejak kapan aku menginginkan sesuatu tapi sulit mengutarakannya? Ini tidak seperti diriku. Daze yang dulu sudah kemana? Sejak kemunculan pemuda ini aku sering marah-marah tak karuan. Rasa benci ketika melihatnya bersama wanita lain dan perasaan rindu jika tidak melihatnya sedetik saja. Ataupun tidak merasakan sentuhan-sentuhannya di kulitku. Perasaan ini sungguh menyiksa!

“Are you sure?”

Pertanyaan itu membuat Daze membuka matanya. “Ne .. ,” jawabnya berupa desahan.

Rathyan mengangguk dan menatapnya lekat-lekat.

“Apa kamu akan tidur sekarang?” sambung Daze guna menghilangkan kerisihannya.

Tubuh Rathyan menegak. “Tidak!” sahutnya. “Aku akan mandi dulu .. badanku lengket semua .. ,” dia berbalik ke arah kamar mandi, tapi tak sempat melangkah dia memutar tubuh lagi. “O ya, apa kamu tertarik pada seni?”

Daze mengangguk—sedikit keheranan. “Ne. Aku tidak begitu mengerti tentang seni tapi aku menyukai lukisan-lukisan dan hasil karya yang indah. Memangnya kenapa?”

Rathyan mengangkat bahu acuh. “Lain kali aku akan mengajakmu ke sana. Maksudku pameran-pameran lukisan yang biasa kuhadiri .. “

Daze mengangga. Belum sempat menjawab, Rathyan membuka kaos berkerah tinggi yang membalut tubuhnya. Dada bidangnya langsung terlihat oleh Daze, membuat matanya terbelalak lebar.

“Yaa—kamu … “

Protesnya terputus ketika wajah pemuda itu bergerak ke depan dengan cepat, sehingga hampir menyentuh wajahnya. “Bisa pinjami kaosmu? Saya takut membangunkan Dave jika memasuki kamarnya .. “

Wajah Daze langsung diteguk. Tangannya diangkat pelan-pelan dan menunjuk lemari dekat pintu.  

“Gumawo … ,” secara kilat bibir kenyal itu menyapu bibirnya. Daze tersentak, tapi hanya sesaat karena Rathyan sudah sampai di depan lemari dan mengeledah pakaiannya. Suara berisik terdengar di kamar yang sunyi itu.  

“Apa ukurannya cocok denganmu?” tanya Daze ragu-ragu.

“Tidak apa .. “

Rathyan menarik sebuah kaos lengan panjang warna abu-abu dan membawanya ke kamar mandi. “Saya akan selesai limabelas menit lagi .. ,” teriaknya dari kamar mandi. Yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Daze.

“DAZE?!”

“Ne.” sahut Daze dengan nada yang dibuat sepelan mungkin. “Aku mendengarmu!”

Syurrrr … bunyi shower dinyalakan beberapa saat kemudian.      

    
~~~~~ ^^^^^^~~~~~



Rathyan dan Daze berbaring dalam kebisuan. Punggung mereka saling menempel dan bergesekan ketika salah seorang dari mereka mengerakkan badannya. Mereka belum terlelap tapi tetap tidak ada yang berinisiatif mengeluarkan suara terlebih dahulu. Sekali lagi kecanggungan tercipta di antara mereka seperti malam sebelumnya—ketika mereka tidur bersama.

“Ehmm--,” Rathyan berbalik sambil berusaha membersihkan tenggorokannya. Dia heran sendiri mengapa bisa sekaku ini. Selama pengalamannya dengan wanita-wanita lain, dia tidak pernah merasakan perasaan ini. Kalau ingin bermesraan ya bermesraan. Kalau tidak mood, dia akan pergi begitu saja.

“Sudah tidur?” tanyanya—memulai pembicaraan di antara mereka.

Daze tidak bereaksi. Matanya masih terpejam rapat. Rathyan menghela nafasnya kemudian memperbaiki selimut yang agak terpisah dari tubuh Daze. Menyelimuti tubuhnya sampai ke bagian leher. Gadis itu bergerak sedikit. Perlahan Rathyan menyisipkan rambut Daze ke telinga sehingga wajah sebelah kanannya terlihat jelas. Rathyan mengecup pipinya. “Mimpi yang indah ya.. ,” ucapnya halus.

Mata Daze terbuka perlahan-lahan. Dia memutar tubuh sampai menghadapi Rathyan.

“Aku membangunkanmu?”

Daze mengeleng lambat-lambat. “Tidak.” Jawabnya dengan suara agak serak. “Saya belum tidur .. “

Mereka saling menatap. Untuk kesekiankalinya Daze merasakan hatinya berdesir setiap ditatap seperti ini. Tatapan Rathyan begitu hangat. Sepasang mata yang biasanya bersinar tajam ini begitu menawan. Tanpa sadar Daze mengangkat tangannya dan mengelus wajah sempurna di atas tubuhnya.

Rathyan menyentuh tangan Daze. Belaiannya terhenti sampai di bagian bibir.

“Kamu …. Jangan marah-marah lagi .. ,” kata Rathyan dengan suara sumbangnya. “Hatiku sakit melihatnya … ,” suaranya memelan dan wajahnya bergerak semakin dekat, “Araso?”

Daze memejamkan mata dan mengangguk. “Ne .. ,” dia mendesah.

Seperti yang diharapkannya, bibir kenyal dan padat itu menyapu bibirnya yang sedikit terbuka. Melumatnya dengan sangat perlahan. Tubuh Daze menegang. Setiap kali disentuh Rathyan, dia merasakan perasaan ini. Keahliannya dalam memainkan bibir dan lidah mampu membawanya ke lapisan langit sembilan. Membuat tubuhnya melayang seringan kapas, berenang di langit biru dan tidak ingin kembali lagi.

Daze mendesah dan melingkarkan lengannya ke leher Rathyan. Ciuman mereka mulai memanas. Rathyan menekan bibirnya lebih dalam ke bibir Daze dan juga mengerak-gerakkan lidahnya yang sudah berada dalam rongga mulut gadis itu. Tangannya juga tidak tinggal diam. Mulai menyusup lewat daster panjang yang dipakai Daze.  

Dielusnya paha mulus itu dari atas ke bawah. Desahan dari bibir Daze makin keras. Dia melenguh ketika tangan Rathyan sampai di bagian tubuhnya yang paling sensitive. Dasternya sudah tersibak sekarang. Celana dalam warna putih bersih yang transparan di bagian tengah terpampang di hadapan Rathyan. Daze mengangkat tangannya ketika Rathyan membuka daster tersebut kemudian membuangnya ke lantai. Bra warna senada juga terlihat sekarang.

Rathyan memperdalam ciumannya. Tangannya meremas bukit dada Daze dari balik bra yang dikenakannya. Sehingga menimbulkan lenguhan panjang dari mulut gadis itu. Tangan Daze bergerak menarik kaos yang dipakai Rathyan.

“Lepas … ,” pintanya di sela-sela suaranya yang memburu.

Rathyan membuka kaosnya dan mencampakkannya begitu saja di atas ranjang. Daze menahan nafasnya. Dada bidang itu terlihat sempurna di matanya. Disentuhnya dada berisi itu, kemudian dielusnya dengan berirama.

Rathyan menunduk dan melumat bibirnya lagi. Kali ini lebih bernafsu dari tadi. Tangannya bergerak dari dada bagian kanan ke kiri. Kemudian menurun ke perut Daze yang rata dan sampai di bagian paling sensitive. Ditekannya bagian itu sampai Daze agak tersentak.

“Ohh .. ,” teriaknya tertahan.

Tubuh Daze mulai bergerak liar. Tangannya menarik resleting celana Rathyan. Setelah terbuka dia mencongkel kancing yang masih tersisa. Berhasil dibuka. Dengan nafas terengah-engah ditekannya celana jeans tersebut ke bawah.

Sudah terbuka sebagian ketika Rathyan tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.

“Mwo?” Daze menatapnya dengan mata redup.

Rathyan tidak menjawab. Dia menyingkirkan lengan Daze—nafasnya yang memburu diaturnya dengan susah payah—kemudian ditariknya selimut sampai menutupi seluruh tubuh gadis yang hampir polos itu.

“Mwo?!” tanya Daze lagi.

Rathyan mengeleng. “No .. Tidak bisa dan tidak boleh .. “

“Mengapa?” tanya Daze tidak mengerti. “Kamu tidak suka?” nadanya terdengar kecewa.

“Bukan begitu!” jawab Rathyan cepat. “Hanya saja .. ini tidak benar .. “

Daze mengangga. Dia menarik nafas kemudian membuang muka ke arah lain. Rathyan merasa menyesal. Disentuhnya selimut yang membalut tubuh gadis itu.

“Dazya .. “

Daze tidak menjawab. Rathyan menghela nafas perlahan. Seharusnya aku tidak memulainya tadi. sesalnya dalam hati. Tapi apa boleh buat, dia tidak mampu menahan diri setiap berada di dekat gadis ini. Keinginan untuk menyentuh dan menciumnya begitu kuat. Rathyan menghempaskan tubuhnya ke ranjang.

“Boleh saya menanyakan sesuatu?”

Rathyan berpaling. Daze tidak melihat ke arahnya. Gadis itu memandang ke atas dengan ekspresi hampa.

“Ne?!”

Daze beralih padanya lambat-lambat. “Apa kamu pernah melakukannya?”

“Mwo?”

“Tidur dengan seorang wanita?” sambung Daze terus terang.

Rathyan tak mampu mehanan senyum terhadap pertanyaan polos itu. “Menurutmu bagaimana?”

Daze mengeleng keras-keras. “Aku tidak tahu! Dan aku tidak ingin menebak!”

“Kamu tahu kehidupanku dulu?” Rathyan balas bertanya.

Daze mengangguk perlahan.

“Apa kau percaya jika aku bilang tidak pernah melakukannya?”

Mulut Daze terbuka. “Jadi … ?”

Rathyan mengalihkan perhatian ke langit-langit kamar. “Kehidupanku sangat bebas dan gelap waktu dulu. Wanita-wanita berpindah silih berganti dari tanganku.” Dia tersenyum kecut. “Mereka datang jika kuminta. Kutiduri jika kuinginkan.” Dia perpaling pada Daze. “Begitulah .. “

“Lalu tadi .. mengapa kau berhenti?” tanya Daze ragu-ragu. Apakah dia menawarkan diri pada Rathyan? Dia tidak tahu.

“Jangan samakan dirimu dengan mereka!” seru Rathyan tiba-tiba. Matanya memancarkan api amarah.

“Rath … ,” Daze tercekat.

Rathyan menguncang tubuhnya keras-keras. “DENGAR DAZE HAN! Kamu lain dari wanita-wanita itu. Bagiku kamu seperti permata. Permata murni yang belum diasah. Jadi .. jangan samakan dirimu dengan mereka. Jangan rendahkan martabatmu sendiri!!”

“Mi .. miane ..,” kata Daze surprise.

Perkataan Rathyan menyadarkannya dari pikiran-pikiran gila tadi. Pikiran-pikiran ingin disetubuhi anak muda ini dengan resiko apapun berani ditanggung. Ya, dia salah. Benar kata Rathyan. Mahkotanya paling berharga. Sebagaimanapun tertariknya dia pada pemuda ini, dia bukan apa-apanya. Hubungan mereka tidak jelas. Pemuda ini tidak pernah mengatakan apa-apa.

Rathyan kembali menjatuhkan diri di atas ranjang. “Tidurlah .. “ matanya terpejam perlahan.

Daze mengangguk. Matanya juga dipejamkan. Tapi pembicaraan-pembicaraan tadi masih terbayang dalam benaknya. Dia tidak bisa tidur. Tidak dengan pemuda ini di sampingnya. Daze membuka matanya. Dia mendengar nafas halus Rathyan terhembus.

“Rath .. “

Rathyan membuka mata dan menoleh padanya. “Ne?”

“Saya tidak bisa tidur .. ,” kata Daze dengan tampang memelas.

Rathyan menghela nafas. “Ne. Saya juga …”

“Boleh saya memelukmu?” tanya Daze beberapa saat kemudian. “Saya .. saya akan merasa lebih terlindungi .. ,” lanjut Daze pelan. Apa permintaannya keterlaluan? Kayaknya tidak. Iya kan?[/i]

Rathyan tersenyum. Tangannya bergerak menarik Daze ke dalam pelukkannya. Kemudian dikecupnya kening gadis itu.

“Tidurlah .. “

Daze ikut tersenyum. Bahkan sangat lebar. Tangannya melingkar ke leher Rathyan kemudian turun dan diletakkan di dada bidang Rathyan yang polos. “Selamat malam .. ,” katanya sambil memejamkan mata. “Semoga mimpi yang indah .. “

Mendadak dia merasa sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

“Selamat tidur, Dazya .. ,” bisik Rathyan di sela-sela telinganya.

Daze tersenyum. Kali ini dia bisa tidur nyenyak—pasti. Tak sampai lima menit dia sudah pulas dalam dekapan hangat Rathyan.

  
~~~~~ ^^^^^^~~~~~



Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat jendela. Daze bergerak perlahan. Matanya dikucek-kucek dalam keadaan setengah sadar. Dia berbalik. Ruang kamarnya kosong.

Daze bangkit dari pembaringan. Sekali lagi disapunya seluruh ruangan dengan matanya yang sembab. Tetap saja tidak didapati keberadaan Rathyan di sana.

“Apa dia sudah keluar?” tangannya mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Rambutnya awut-awutan—hampir menutupi seluruh wajahnya. Diliriknya jam weker di atas meja. “Sepagi ini?” gumamnya sekali lagi.

Daze menguap dan merengangkan otot-otot tubuhnya. Walaupun agak lelah, dia merasa puas telah tidur pulas semalaman. Sejak beberapa bulan terakhir, kemarin malam merupakan jam tidur terpanjangnya. Beban beratnya terangkat begitu saja ketika mendengar penjelasan Rathyan. Meskipun hatinya agak pedih dengan keterus-terangan pemuda itu, paling tidak dia merasa aman berada di sisinya. Dekapannya yang lembut dan menenangkan masih terbayang-bayang di pelupuk matanya.

Daze menyibak selimut yang menyelimuti tubuhnya dan turun dari ranjang. Daster panjang yang dipakainya semalam masih tergeletak di lantai. Dan tubuhnya hanya terbalut bra dan celana dalam. Dia menyambar selimut dari atas ranjang dan menutupi tubuh setengah telanjangnya. Bergegas dia berlari ke lemari. Dengan asal-asalan dikeluarkannya sebuah sweater longgar warna putih dan celana jeans biru kemudian berlari ke kamar mandi.

Sepuluh menit kemudian dia keluar lagi dengan tampang segar. Rambut sepinggangnya yang lebat dan hitam pekat dibiarkan tergerai begitu saja—menjuntai indah menaungi parasnya yang ayu. Dan poninya yang dipotong pendek membuat parasnya terlihat lebih muda dari usia sesungguhnya. Kulit wajahnya seperti memancarkan cahaya ketika sinar mentari pagi jatuh tepat ke kulitnya yang putih halus dan agak kemerah-merahan itu.

Daze menyibak rambutnya ke belakang kemudian keluar dari kamar. Dia turun ke lantai bawah dan melongok ke ruang makan. Keningnya berkenyit. Meja makan kosong. “Sarapan belum siap? Kemana Ye Jin?”

Daze tidak jadi memasuki ruangan tersebut. Dia menuju ke dapur. Samar-samar didengarnya suara peralatan masak yang saling beradu dari ruangan di dalam. Dia tersenyum perlahan. “Jadi masih sibuk di dapur?”

Daze sampai di ambang pintu. Langkahnya tercekat seketika itu juga. Sosok jangkung yang memunggunginya di depan membuat mulutnya mengangga. “Rath!!” tak tertahankan seruan itu terlontar dari mulutnya.

Sosok itu berbalik. Benar—dia adalah Rathyan Jang. Penampilannya sangat aneh pagi ini. Terlihat lucu dan mengemaskan. Gaya coolnya hilang berkat celemek kotak-kotak merah yang melingkari tubuhnya. Pemuda itu tersenyum sambil mengangkat tangannya yang memegang sendok besar. “Anyong!”

“Apa yang kau lakukan?” Daze mendekatinya--keheranan.

“Seperti yang kau lihat!” Rathyan melebarkan tangannya. “Membuat sarapan .. “

“Tapi .. kamu tidak perlu melakukannya .. ,” Daze berhenti cukup dekat di depan Rathyan—hanya terpisah sebuah meja panjang. “Ini tugas Ye Jin .. “

Rathyan mengangkat bahunya lalu berbalik menghadapi wajan dadar yang sedang dipanaskan di atas api kecil. Tangannya meraih mangkuk berisi telur yang sudah dikocok kemudian menuangkannya di atas wajan. Suara cisss cisss langsung terdengar.

Daze melirik kesibukan tersebut lewat punggung Rathyan. “O ya, apa kau tak takut ketahuan Ye Jin telah merusak dapurnya?” tanyanya sekedar basa-basi. “Dan dari mana kau dapatkan celemek itu? Kepunyaan Ye Jin?”

“Anhi,, saya membelinya sendiri kemarin pagi. Di toko kecil dekat gedung penyelenggaraan pameran seni itu …,” jawab Rathyan tanpa berbalik. “Saya tidak mau memakai celemeknya.” Lanjutnya sambil mendesah, “Cukup dapur ini saja yang kupinjam dari Ye Jin-ssi.” Rathyan menoleh sedikit, “Saya bertemu dengannya di taman tadi .. Katanya halmonie merasa lelah dan tidak ingin keluar dari kamarnya. Ye Jin-ssi bermaksud membuatkan sarapan buat kalian tapi segera saya cegah. Saya ingin memasak sendiri buatmu pagi ini. Jadi akhirnya dia hanya membuatkan porsi halmonie dan Dave, kemudian membawanya ke kamar mereka .. “ Rathyan mengangkat telur dadar yang sudah matang dari atas wajan ke piring di sebelahnya. “Halmonie sarapan di kamarnya .. ,” lanjutnya sambil menaruh piring yang sudah terisi penuh di hadapan Daze. “Cobalah!” dia tersenyum. “Semula ingin membuat sesuatu yang istimewa tapi ternyata Ye Jin-ssi belum belanja. Stok keperluan rumah tangga sudah habis. Hanya ada telur dan roti .. ,” tangannya menunjuk ke telur dadar dan beberapa iris roti bakar yang ada dalam piring. “Sekedarnya saja .. “

Daze mengambil sendok yang disodorkan Rathyan. Ditatapnya pemuda itu sesaat kemudian menyendok telur dadar tersebut. “Apa yang dilakukan Ye Jin di taman—sepagi ini?”

“Memangkas tanaman rambat.” Jawab Rathyan dengan senyum dikulum. “Mungkin dia ingin memastikan jalan masukku ke rumah ini tertutup untuk selamanya .. “

Daze menghentikan kesibukkannya. Sendok yang dipenuhi telur dadar di tangannya hanya sejengkal mencapai mulutnya. Dipandanginya pemuda itu tak berkedip. “Apa .. ini lelucon?” tanyanya ragu-ragu.

Rathyan termangu. “Tidak lucu?”

Daze mengeleng. “Tidak!”

“Ohh .. ,” mulut Rathyan terbuka. “Mian.” Sesalnya. “Saya tidak biasa bercanda Hmm—lain kali akan kuperhatikan point ini .. “

Daze mengangguk dengan ekspresi dibuat seserius mungkin. Padahal dalam hatinya dia sudah terbahak-bahak melihat tampang memelas dari pemuda ini. Perlahan dimasukkannya telur dadar dalam sendok ke dalam mulutnya. Kemudian dikunyahnya lambat-lambat.

“Bagaimana?” tanya Rathyan dengan mata melebar.

Daze tidak segera menjawab. Ditatapnya Rathyan lekat-lekat. Dia tersenyum perlahan. Kemudian mengangkat jempolnya ke atas.

“O, ha .. ha .. ,” tawa Rathyan meledak saat itu juga. “Kalau begitu makan yang banyak .. “

Daze mengangguk. Kembali dia menyendok telur dadar dari piring. Dimakannya separuh kemudian menyodorkan setengahnya pada Rathyan. “Kamu juga cobalah .. “

Rathyan mencondongkan tubuh ke depan dan memasukkan telur dadar dalam sendok yang dipegang Daze ke dalam mulut.

“Enak?” goda Daze.

Rathyan mencubit pipinya yang mengelembung. “Apa ini lelucon?”

“Anhi .. ,” Daze memanjangkan bibirnya. “Saya tidak biasa berlelucon .. “

Mereka tertawa berbarengan. Jarak mereka sangat dekat saat itu. Daze kembali menyodorkan sendok di tangannya dan Rathyan menyambutnya. Mereka saling menatap. Rathyan mencondongkan tubuh semakin ke depan. Meja yang memisahkan mereka tidak menjadi halangan. Daze memejamkan matanya perlahan-lahan. Seperti biasa, tubuhnya menegang ketika bibir Rathyan sampai ke bibirnya. Perlahan dirasakannya bibir itu terbuka—melumat bibirnya. Daze membalas. Lidah mereka saling bertaut. Lenguhan terdengar dari mulut Daze. Rathyan menekan tenguknya dan ciuman mereka semakin dalam. Sampai deringan nyaring dari ponsel Daze menyadarkan mereka dari kehanyutan yang panjang.

Kringgg … kringgg … kringgg …

Daze merogoh ke dalam saku celana dengan nafas terengah-engah. Rathyan melepaskan ciumannya perlahan, dan ikut melirik ke ponsel Daze. “Dhuga--Siapa?!” Mungkin itu pertanyaan yang terisyarat dari pandangannya.

Daze tak merespon. Dia mundur ke belakang. Setelah tersenyum kecil pada Rathyan, dia mengangkat teleponnya.

“Yeoboseyo omma .. ,” sapanya pada orang di ujung telepon dengan suara dibuat setenang mungkin. Tapi yang keluar malah berupa desahan.

Dia mendengarkan sesaat, kemudian mengeleng keras-keras. “Anhi,, aku baik-baik saja. Suara? Hmm—ya, memang agak parau. Tidak! Tentu saja saya tidak kekurangan suatu apapun. Mungkin tenggorokanku sedikit kering. Iya, araso. Aku akan minum air yang banyak .. ,” katanya sambil mendelik pada Rathyan yang tersenyum simpul di tempatnya.

“Apa?! Iya, pertemuannya hari ini. Omma dan appa tidak usah khawatir. Kami akan membicarakannya baik-baik.” Lanjut Daze setelah orang di seberang selesai berbicara. “Ne, Dave ikut juga. Tidak, tidak,, halmonie tidak ke sana. Kesehatannya tidak begitu baik pagi ini.”

Tiba-tiba dia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Tanpa disadari olehnya, rupanya Rathyan sudah berpindah tempat ke belakangnya. Daze menoleh dan tersenyum pada Rathyan. Dirasakannya wajah yang hangat itu menempel ke wajahnya.

“MWO?! Apa katamu?!” tanya Daze setelah tersadar bahwa dia masih ditelepon. “Ohh, ya araso, omma .. Jadi kalian akan tiba besok? Sekitar pukul 12 siang. Ne, saya dan Dave akan menjemput kalian. Soal perundingan hari ini jangan khawatir. Saya mampu menanganinya. Ne,, … anyong .. “

Daze meletakkan ponselnya, kemudian berbalik ke arah Rathyan. “Kamu mengangguku, tahu?!” katanya dengan nada memprotes. Bibirnya meruncing--hampir seinci ke depan.

Rathyan tertawa. Lesung pipi yang sangat dalam menghiasi kedua belah wajahnya. “Miane .. “ Tangannya bergerak cepat--menepuk halus bibir Daze, membuatnya tersentak.

“Yaaa--,” protesnya lebih keras lagi. “Mengejutkan saja!”

Kembali Rathyan terbahak-bahak. Tak tertahankan, Daze tersenyum perlahan. Pertama kalinya dia melihat tampang serius itu tertawa selebar ini. “Kamu kelihatan lain pagi ini?”

Tawa Rathyan terhenti seketika. “Mwo?” alisnya berkerut.

Daze tidak menjawab. Senyuman masih tersungging di bibirnya. Dia terlihat mengoda sehingga Rathyan hanya bisa mengangkat bahu tanda menyerah. “Ok, never mind.” Katanya, “O ya, saya sudah memeriksa keadaan Dave. Dia sudah sembuh total .. “

“Saya tahu .. ,” jawab Daze. “Dan saya percaya padamu. Kemarin-kemarin kamu bilang dia akan sembuh kan?”

“Ne,” Rathyan membalasnya sambil tersenyum. "Satu hal lagi. Saya sudah menceritakan pada Dave bahwa kamu sudah mengetahui keberadaanku di sini .. "

"Mwo?!" mata Daze terbelalak. "Lalu .. lalu bagaimana reaksinya?"

"Tidak ada!" jawab Rathyan. "Biasa-biasa saja. Sepertinya dia sudah menerima kemungkinan ini ... "

"O .. ," Daze mengangguk. Dia ingin bertanya apakah Dave juga mengetahui tentang hubungan mereka tapi tidak jadi diutarakannya begitu mengingat hubungannya dengan Rathyan belum sampai ke situ.

Rathyan beralih ke makanan di atas piring. “Kalau begitu diteruskan sarapannya! Waktu kita sangat terbatas. Saya akan menemani kalian ke kediaman Park.”

“Kamu?” mata Daze melebar.

“Ne. Kenapa?”

“Tapi .. apa perlu? Maksudku, kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan masalah ini.”

“Dave sahabatku.” Jawab Rathyan tenang. “Lagipula .. ,” ditatapnya Daze lekat-lekat. “ .. saya tidak mau kau dipermainkan gadis bengal itu lagi .. “

“O .. ,” Daze menunduk dan mengigit bibirnya. Pandangan tulus itu, gerakan tangan yang sekarang berada di atas telapak tangannya, dan desahan nafas yang terdengar sangat halus tersebut—kembali membuat hatinya berdesir. Berdesir hebat kali ini.


~~~~~ ^^^^^^~~~~~



Daze yang mewakili Dave mendengarkan dengan seksama semua penjelasan Mr. dan Mrs. Park--orangtua Gretchell Park--yang mewakili Natalie mengenai rencana pernikahan Dave dan Natalie. Sudah satu jam Mrs. Park mengajukan persyaratan-persyaratannya yang sesekali ditimpali oleh suaminya. Mulai dari tempat dan waktu penyelenggaraan pernikahan tersebut, berikut biaya-biaya yang diperlukan dan mengingat Dave dan Natalie masih kuliah pembahasan siapa yang akan merawat bayi mereka setelah lahir juga dilakukan.

Natalie menundukkan wajahnya sepanjang pendiskusian tersebut. Sedangkan Dave turut mendengarkan sambil sesekali meliriknya. Rathyan diapit di antara Daze dan Dave, memasang tampang tidak ikut campur dalam urusan ini. Tugasnya hanya menjaga Daze agar tidak disakiti Gretchell lagi. Gadis yang dibahas terakhir duduk berhadapan dengan ketiga tamunya--paling ujung di sebelah Natalie. Perhatiannya hanya tertuju pada satu orang, yaitu Rathyan--yang tidak mempedulikannya sama sekali.

"Hanya itu persyaratan-persyaratan yang kami ajukan, nak Daze .. ," kata Mrs. Park. "Maaf jika menurutmu berlebihan ... ," parasnya yang masih cantik itu tersenyum perlahan. "Natalie adalah keponakanku satu-satunya. Kami sangat menyayangi dan ingin yang terbaik baginya, apalagi ini menyangkut pernikahannya .. ," Mrs. Park berpaling pada Natalie dan menyentuh punggung tangannya dengan lembut. "Kebahagiaannya seumur hidup .. "

"Bibi .. ," desah Natalie terharu.

Tangan Mrs. Park bergerak ke atas menepuk pundaknya. "Kami mengerti sayang .. "

"Nyonya Park .. ," perkataan Daze mengalihkan perhatian mereka. "Saya memahami apa yang nyonya pikirkan. Semua orangtua ingin yang terbaik buat anak-anaknya. Dan permintaan kalian juga tidak keterlaluan. Kami bersedia menerimanya .. ," dia berpaling pada Dave. "Benarkan Dave?"

Dave mengangguk pasrah. "Ne .. "

Mr. Park tersenyum. "Bagus!" ujarnya keras. "Kalau begitu masalahnya beres. Lalu bagaimana dengan orangtua kalian?"

"Omma dan appa akan tiba besok. Mungkin kita bisa merundingkan waktu yang cocok buat makan malam bersama beberapa hari lagi .. ," kata Daze.

"Tentu saja." kata Mrs. Park. "Kami akan sangat menyukainya .. ," kemudian tangannya bergerak ke depan. "Silahkan diminum tehnya nak Daze .. ," dia berpaling pada Dave dan Rathyan. "Nak Dave dan nak Rath juga. Jangan sungkan-sungkan begitu!"

Ketiga tamunya meraih cangkir dari atas meja dan menyeruput teh yang sudah dingin itu. Tiba-tiba Gretchell berdiri dari tempatnya. "Sekarang giliran masalahku kan?"

Semua dalam ruangan itu langsung menoleh padanya. "Apa maksudmu Gret?" tanya Mr. Park keheranan.

"Masalahku!" ulang Gretchell.

"Apa masalahmu?" balas appanya.

"Saya .. ," telunjuk Gretchell mengarah ke depan, bergerak dari Daze kemudian berhenti tepat di wajah Rathyan. "minta ijin appa dan omma untuk berhubungan dengannya!"

"MWO?!!" teriak Mr. dan Mrs. Park secara bersamaan. Begitu juga Rathyan dan Daze. Mata mereka terbelalak lebar saking terkejutnya. Sedangkan Dave dan Natalie saling berpandangan dengan kening berkerut--tidak mengerti dengan kegilaan Gretchell.

"Jangan main-main, Gretchell Park!" teriak Mr. Park marah. "Kamu sadar apa yang kamu katakan barusan?"

"Tentu saja!" sahut Gretchell dengan sikap menantang. "Saya sangat serius."

"OMONG KOSONG!" suara Rathyan terdengar sangat keras di ruangan itu. "Tuan dan Nyonya Park, saya tidak punya hubungan apapun dengan putri anda!"

"Kamu dengar itu?!" ketus Mr. Park pada putrinya. "Dia sudah menolakmu." tangannya menunjuk ke Rathyan tapi pandangannya tetap terarah pada Gretchell. "Jadi jangan kekanak-kanakan lagi. Sunny pria paling cocok buatmu. Dia mencintaimu lebih dari segalanya."

Gretchell mengeleng keras-keras. "TIDAK!! Saya tidak mau menerima Sunny oppa. Tidak mau ditunangkan begitu saja! Nat bisa memilih jalan hidupnya. Mengapa saya tidak?!"

"GRETCHELL PARK!!"

Brakk!! Bunyi cangkir dihempaskan dengan keras ke atas meja. Daze bangkit dari tempat duduknya dengan kaku. Wajahnya merah padam saat itu. "Sosoengheyo tuan dan nyonya Park. Saya ada urusan lain. Permisi .. ," tanpa menunggu reaksi dari tuan rumah dia berbalik ke arah pintu dan berlari dari situ.

Dave dibuatnya terkejut. Terburu-buru dia mengejar Daze sambil menoleh dan membungkuk ke arah orang-orang dalam ruang tamu itu. "Sosoengheyo,, saya juga permisi sekarang .. Heyy noona!! Tunggu saya ... "

Rathyan ikut berbalik tapi segera tertahan oleh tangan Gretchell yang terjulur dari seberang meja. "Kamu tidak boleh pergi dulu!!" teriaknya tegas.

"Mwo?!"

"Masalah kita belum selesai!"

"GRETCHELL PARK!!" seruan Mr. Park kembali terdengar. "Kamu sudah keterlaluan tahu? Apa kekurangannya Sunny?!"

"Tidak ada!" ujar Gretchell. "Dia bahkan terlalu perfect menurutku. Karena itu aku tidak tertarik padanya. Oppa selalu mengikuti keinginanku. Dia terlalu membosankan!"

"Gretchell,, sudah cukup sayang .. ," desah Mrs. Park lemah.

"Alasanmu tidak masuk akal. Appa tidak akan menerimanya!"

"Terserah!" Gretchell menghadapi appanya dengan sikap menantang. "Yang jelas, saya menolak pertunangan ini. Selain Rathyan, saya tidak mau yang lain!"

"Sorry nona. Tapi saya tidak pernah menjanjikan apa-apa padamu!" celetuk Rathyan sinis. Kemudian dia berpaling memandang Mr. dan Mrs. Park. "Permisi tuan dan nyonya Park .."

Rathyan melangkahkan kakinya ke pintu.

"SUDAH KUBILANG KAMU TIDAK BOLEH PERGI!!" seru Gretchell. Rathyan tidak mempedulikannya. Dia sampai di depan pintu yang tidak tertutup ketika teriakan itu terdengar lagi. "RATHYAN JANG!! KAMU TIDAK BOLEH MELAKUKAN INI PADAKU. TIDAK ADA SEORANGPUN YANG ..." PLAKKKK!!! Tamparan keras terdengar jelas begitu dia sampai di ambang pintu. Rathyan menoleh perlahan.

Gretchell berhadapan dengan Mr. Park dengan tangan kanan memegang pipinya. Sikap mereka terlihat tegang. Tidak perlu ditebak Rathyan tahu kalau gadis itu baru ditampar pria di hadapannya.

"Appa!!! Ohh my godddd!!! Kenapa kamu menamparnya?! KENAPA? Belum pernah kamu melakukan ini padanya!!" paras Mrs. Park sangat pucat ketika menyentuh lengan Gretchell. "Sa .. sayang .... bagaimana .. keadaanmu? Sakit?"

"SAYA BENCI APPA!!" Gretchell mendorong Mr. Park. Tanggisnya meledak saat itu juga.

Rathyan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena dia sudah berada di luar ruangan. Mungkin gadis itu kembali ke kamarnya. Atau meneruskan pertengkaran itu. Dia tidak ingin menebak. Yang harus dilakukannya sekarang adalah mengejar Daze. Perasaannya tidak enak. Entah apa yang terjadi pada gadis itu. Dia kelihatan sangat marah tadi. Apakah karena perkataan-perkataan Gretchell tadi? Lagi-lagi masalah itu? Huhhh!!

Rathyan sampai di halaman depan. Dapat dilihatnya dua sosok berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Mereka sedang memunggunginya. Si cewek sedang menanggis tersedu-sedu sedangkan si cowok berusaha menghiburnya. Mereka adalah Daze dan Dave.

"Wegude?" tanya Rathyan begitu sampai di dekat mereka. Ditariknya lengan Daze tapi segera dikibaskan gadis itu. "Heyy,, what's wrong?"

Daze tidak menjawab. Sekali lagi dikibaskannya tangan Rathyan yang kembali menyentuhnya. "Daze Han!!"

Tanggis Daze semakin keras. Kali ini dia tidak menghindar. Tangannya yang dipegang Rathyan memukul membabi-buta kearah dada bidang pemuda itu.

"Hey Hey,, Dazya!!" Rathyan menarik Daze kearahnya. Didekapnya erat-erat. "What's going on?"

"Kami mendapat kabar dari Ye Jin. Halmonie .. halmonie tidak sadarkan diri di tempat tidurnya .. ," Dave menjawab pertanyaan Rathyan dengan sangat lemah.

"Mwo?!" mata Rathyan melebar. Perlahan perhatiannya berbalik lagi ke Daze. Pukulan-pukulan di dadanya terasa semakin keras. Dan tanggisan itu terdengar begitu menyayat hati. "Sssttt ... ," bisik Rathyan di telinga Daze. "Gwencanayo,, Dazya .. tenanglah. Tidak apa-apa. Halmonie akan baik-baik saja .. percayalah ... "

"Hu .. hu .. mengapa .. mengapa peristiwa .. menyedihkan ini .. terjadi .. terjadi berturut-turut? .. Mengapa?" Pukulan-pukulan terhadap Rathyan perlahan-lahan memelan dan akhirnya Daze menyusupkan kepalanya di dada bidang pemuda itu.

Tanpa mereka sadari, Dave menatap peristiwa di hadapannya dengan kening berkerut. Hatinya bertanya-tanya. Dia mengucek matanya berkali-kali. Apakah dia bermimpi? Bukankah noonanya baru mengenal Rathyan? Mengapa mereka terlihat akrab begini? Berpelukan seperti itu--apa tidak melebihi batas seorang noona dan dongseng? Dave mengaruk kepalanya yang tidakk gatal. Tampangnya terlihat bego.


~~~~~ ^^^^^^~~~~~
« Last Edit: November 14, 2010, 11:17:52 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 8 update 23 Sept' 10
« Reply #609 on: September 22, 2010, 02:41:37 pm »
Pertamaaaa  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 8 update 23 Sept' 10
« Reply #610 on: September 22, 2010, 06:39:42 pm »
Mamiii..thanks uda update,aduh itu si gratel pengen di kutuk jdi tape kayanya,dia tu rada eror ya mam jdi setengah psikofat gitu..mam memang bener ya nga ada niat buat jebolin sidaze?? Jebolin dong mam,jdi makin suka ma siranjang,ditunggu next chap ya mam n satu lgi jebollllllin dong oke..oke..oke

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 8 update 23 Sept' 10
« Reply #611 on: September 22, 2010, 06:43:30 pm »
 [clap] [clap] [clap] thanks mami udah diupdate [hug] [hug] [cheekkiss] [cheekkiss]

 [ohmy] [ohmy] [ohmy] jiaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh blon jebol2 jg kpn neh mam bikin golnya [hmpfh] [hmpfh] [laughing] [laughing] ane ampe deg2 ser td kirain ude mulai bobol [hmpfh] [hmpfh] [rofl] [rofl] [rofl]

wew kalo appa ommanya daze ke dtg ke perth si rath ntar tinggal dimane ye mam mmm tinggal dirumah ane jg gpp ane trima dgn senang hati [love eyes] [love eyes] [love eyes]

gretchell emang bener2 ga tau malu ga tau diri ckckck ngebet amir siy [head break] [head break] [head break] hammer2 hammer2 hammer2 hammer2

mam mantannya si daze *lupin namanya* kagak nungul lg tu ga ada niatan mo nyusul ke perth gt *halah kalo ini mah cari masalah aja* [hmpfh] [hmpfh]


ADAM COUPLE SELCA

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 8 update 23 Sept' 10
« Reply #612 on: September 22, 2010, 07:08:30 pm »
Lagi-lagi, lagi-lagi harus bilang lagi. Lagi-lagi...fuih... *apa maksudnya nich* btw tq dah update.

Offline vvah

  • Newbie
  • *
  • Posts: 90
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 8 update 23 Sept' 10
« Reply #613 on: September 22, 2010, 08:16:27 pm »
asix2 gomawo mami ud update .

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: from Seoul to ... Perth, chapter 8 update 23 Sept' 10
« Reply #614 on: September 23, 2010, 12:08:53 am »
mami gomawo dah di up date.
baca  si rathot ama daze sambil dengerin lagunya nendang bangt mam, berasa lagi liat adegan bed scene nya, hehehehe walaupun gagal maning, tp gw suka ama tindakan si rath. dia begitu mencintai daze sampe berusaha menahan nafsunya yg udah di ubun2 [hmff] [hmff] [hmff]
" kau adalah permataku " duh so sweet banget si rath [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

lah si dave melohok bego ya mam, liat noonanya dipeyuk2 ama rath, ya gimana ga akrab dah sering kissu2an and bobo bareng  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho