Author Topic: Be Strong, Jan Di ~ masih bukan chapter masih bukan spoiler..OMG ~  (Read 53412 times)

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler ~
« Reply #675 on: June 20, 2011, 11:23:28 am »
wesss gausah kesuen ndang update wae #lik lik pasti bingung  [laughing]

nii anak sengaja ya pake bahasa sangsekerta  [head break] [head break] [head break] [head break]

ndang ndang opo iku, kenalnya mba endang tukang pecel lele  [sweat]
[laughing] [laughing] [laughing] hahaha gak g4ul b4ng3t sihh #alay made on

Update donk sist lili komandan malin9....

ini lagi komandan maling  [guns] [guns] [guns]  pd demen ye parodiin nama indah ane  [hammer]
[laughing] [laughing] [laughing] [laughing] [laughing] 100 persen cocok

cocok dari hongkong  [ranting] [ranting] [ranting]

mpirr rayuan maut mu aku timbang2 dulu  [hmff]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #676 on: June 20, 2011, 01:35:32 pm »
AYO  CIUM [smiley-gen013] CIUM [smiley-gen013] CIUM [smiley-gen013]  CIUM [smiley-gen013] CIUM [smiley-gen013]

UPDATE [clap] [clap]
[/size][/color][/b]

Offline Namutz

  • Junior
  • **
  • Posts: 197
  • nona goo is inspiring women
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #677 on: June 21, 2011, 08:40:19 pm »
uooooo update [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] likooooo ayo updete tk sabar nie sopppp iler nya jangan bergelobang2 haaaaa LANGSUNG AJA UPDATEEEEEEEEEEEEEEEEEEE [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #678 on: June 21, 2011, 08:46:49 pm »
yee ni anak kemana [what] masi enak tiduran diperaduan bang uh din ye?? UPDATEEEE.... [guns] [guns]

Love you more than I can say

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #679 on: June 22, 2011, 06:58:31 am »
Baca sopiler gel.1 nampak ada perseteruan Jihoo & Jaekyung yg memanfaatkan keberadaan Jp & Jd. Baca sopiler gel.2 bakalan ada gempuran tusami bibir JP ke JD,hmf. Kyknya ni tusami bibir bklan ampe berapa skala ritcher ya?,lol. Liko update update kalo perlu JP melakukan serangan fajar aja ke JD biar lebih paten,lol


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #680 on: June 22, 2011, 09:33:58 am »
CHAPTER 10


Pakaian dan barang pribadi ku sudah terpacking jadi satu. Ku pastikan paling lambat malam ini, aku angkat kaki dari rumah Goo. Hari ini aku mau berpamitan dulu pada sunbae. Terus terang aku tidak enak meninggalkan pekerjaan yang baru genap 1 bulan. Habis mau bagaimana lagi. Tidak mungkin kan kalau aku hengkang dari rumah Goo tapi tetap bertahan di Shinhwa.

Saat sunbae datang aku langsung buat janji makan siang. Sunbae lumayan terkejut menerima ajakan ku. Untungnya dia tidak curiga kalau ini adalah makan siang dalam rangka berpamitan. Habis dengan sunbae, giliran Nyonya Besar yang aku pamiti. Sepulang dari Shinhwa, rencananya aku akan menemui beliau. Setelah itu akan kutinggalkan rumah Goo lalu pergi ke rumah Ga Eul. Aku belum bilang apa-apa pada Ga Eul. Ini akan jadi kejutan buat dia.

*******

Tidak ada aktivitas berarti yang ditunjukkan sebuah ruang kerja di gedung berdinding kaca. Ruangan yang banyak dihiasi foto berbackground bangunan khas luar negeri itu tampak mati. Penghuninya tidak melakukan apa-apa selain memandangi sebingkai foto. Memang banyak sekali foto di ruang kerja tersebut. Kesemuanya bernuansakan manca negara. Orang yang pertama kali menginjak ruangan ini pasti berkesimpulan pemiliknya sering melancong ke berbagai negeri.

Jangan heran kalau koleksi foto Jae Kyung lebih didominasi pemandangan negara orang. Pekerjaan-lah yang menuntut demikian. Tapi tumben-tumbenan pagi ini otak Jae Kyung tidak terisi pekerjaan. Sejak datang sampai sekarang, yang Jae Kyung lakukan hanyalah mengamati sebuah foto. Bukan foto berlatar White House. Juga bukan foto bersetting Istana Buckingham. Foto usang yang masih terpelihara berada dalam genggamannya. Ia dan seorang pria tersenyum lebar di foto cetakan lama itu.

Setelah 30 menit terdiam bersama foto kesayangan, Jae Kyung akhirnya mulai bergerak. Dimasukannya foto itu ke dalam laci. Ponsel yang sedari tadi dinon-aktifkan kini dihidupkan kembali. Sebuah nomor yang jarang dihubungi, dipilih Jae Kyung sebagai target bicaranya.

“Goo Jun Pyo, bisa makan siang dengan ku?” tanya Jae Kyung pada pria di ujung sana.

*******

Aku dan sunbae memasuki sebuah restoran berkelas. Ku turuti keinginan sunbae untuk makan siang di restoran mewah ini demi memberikan salam perpisahan yang berkesan. Masalah uang ku cukup atau tidak untuk bayar bill restoran, itu urusan belakangan. Yang penting keinginan sunbae dapat kupenuhi.

Salah ku yang tak buat janji. Karena masih amatir jadi aku kurang mahir kalau harus booking dulu agar dapat kursi. Alhasil tidak ada tempat untuk kami. Sunbae pun membawa aku keluar lagi. Ketika tiba di ambang pintu, langkah kami terhenti saat memergoki pasangan serasi. Yang wanita terlihat elegan dengan blazer creamnya. Sementara yang pria tampak gagah dengan stelan jas hitamnya. Stelan jas itu tidak asing bagi ku karena akulah yang menyiapkannya tadi pagi.

Tepat sekali! Yang ada di depan ku adalah doronim. Dia tidak datang sendiri. Ada nona diplomat menyertai. Kehadiran doronim dan agashi membuat lutut ku tak berenergi. Mimpi apa aku semalam hingga harus menelan pil pahit seperti ini. Bukan hanya aku yang terlihat shock. Doronim pun ikut terkejut. Air mukanya mengeras ditambah tatapan tajam yang ganas. Tangan doronim yang terkepal seolah ingin merampas ku dari sisi sunbae.

Keterkejutan aku dan doronim masih terbilang normal. Yang tidak wajar adalah reaksi nona diplomat begitu melihat aku bersama sunbae. Wajah cantiknya sedikit lumer oleh bias amarah sarat rasa iri. Agashi tampak tidak rela kalau aku berdampingan dengan sunbae. Sinar matanya menusuk tepat ke biji mata ku.

Doronim dan agashi membuat ku mati kutu. Aku sudah seperti papan target latihan tembak bagi mereka. Doronim membidik ku tanpa berkedip. Sementara agashi mengincar ku hingga aku tak bisa berkutik. Cuma sunbae yang masih terkontrol emosinya. Dia sempat terlihat kaget tapi hanya sesaat.

“Kalian … di sini …” doronim buka suara lebih dulu.

“Ne, aku dan Jan Di ingin makan siang di dalam. Tapi sayangnya kami tidak dapat tempat” sahut sunbae.

“Kau kenal mereka, babe?” nona diplomat segera bergelayut mesra pada lengan doronim saat tersadar doronim mengenal aku dan sunbae.



“BABE???” doronim terlonjak dengan panggilan sayang itu. Dia menggerak-gerakkan tangan agar terbebas dari lilitan nona diplomat.

Jadi ini yang dimaksud tidak bersedia dijodohkan. Pergi makan siang berdua sambil pamer kemesraan apa bisa disebut bukti kalau mereka menolak dinikahkan. Huh, yang benar saja!

“Aku tanya pada mu, honey. Apa kau kenal mereka?” ulang agashi.

“Tentu saja kami saling kenal” sambar sunbae.

“Jun Pyo adalah bos ku sekaligus bos pacar ku. Bukan begitu, chagiya?” giliran sunbae yang main mesra-mesraan dengan ku.

Pacar?? Chagi?? Kenapa sunbae jadi genit begini. Tiba-tiba iseng ngaku-ngaku sebagai pacar ku. Ingin dibantah takut menjatuhkan image sunbae. Tidak dibantah takut sama pelototan doronim. Jadi serba salah.

“Yya! Yoon Ji Hoo jangan bercanda. Leluconnmu tidak lucu. Mana mungkin kalian pacaran” bukannya aku yang marah justru doronim yang naik darah.

“Aku tidak bercanda. Ini serius, Jun Pyo-a. Kami memang sedang berkencan, benar kan chagiya?” sunbae menuntut pengakuan ku.

“Ne …” otak ku sudah pindah ke dengkul. Dengan santainya aku malah mengiyakan bualan sunbae. Dasar Geum Jan Di bodoh!

“MWO! ti … ti … tidak mungkin!” bentak doronim.

“Kenapa tidak mungkin?” tantang sunbae.

“Karena kalian baru kenal 1 bulan” balas doronim.

“Satu bulan sudah lebih dari cukup. Jun Pyo-a, apa kau tahu … cinta sejati bahkan bisa tumbuh dalam kurun waktu 2 minggu” mendengar jawaban sunbae, agashi langsung pucat pasi. Tampaknya ada kata-kata sunbae yang membuat nona diplomat tersindir.

“Omong kosong!” sambung doronim.

“Jadi kau tidak percaya?” ulang sunbae tertuju pada doronim.

“TIDAK!” jawab doronim tegas.

“Bagaimana dengan anda, nona?” sunbae beralih pada agashi.

“Ne?” agashi terlihat gugup.

“Apa anda percaya cinta sejati dapat bersemi dalam waktu 14 hari?” uji sunbae.

“Tidak ada yang tak mungkin di dunia ini” jawab agashi.

“Anda benar. Apapun bisa terjadi, termasuk berpindah ke lain hati” cecar sunbae.

“Tidak ada yang berpindah ke lain hati! Semua terjadi di luar kendali” bela agashi.

“Kalau yang bersangkutan punya kemauan, masalah pasti terselesaikan” tuding sunbae.

“Masalah justru semakin runyam berkat hadirnya wanita idaman lain” balas agashi.

“Jangan coba mengalihkan masalah kalau tidak paham ujung pangkalnya” kilah sunbae.

Jujur. Aku tidak mengerti arah pembicaraan sunbae dan agashi. Mereka seolah punya dunia sendiri. Doronim juga sama seperti aku. Kami tidak bisa menangkap arti di balik pembicaraan ini.

“Sunbae … kita … jadi makan siang tidak” ku kumpulkan keberanian untuk memotong perdebatan sunbae dan agashi.

“Oh, miane Jan Di-a, membuat mu lama menunggu” akhirnya sunbae sadar juga akan keberadaan ku.

“Tentu saja jadi. Makan siang ini kan untuk merayakan resminya hubungan kita” bahu ku dirangkul sunbae.

“Kita cari restoran lain saja. Di sini banyak orang plin-plan” sunbae membawa ku meninggalkan doronim dan agashi.

“Bergabunglah bersama kami” tahan agashi.

“Ne?” sunbae berpaling.

“Meja yang kupesan bisa untuk 4 orang” jawab agashi.

“Kau tidak keberatan kan?” agashi minta persetujuan doronim.

“Terserah mereka” ucap doronim cuek.

“Kalian lihat, calon suami ku tidak keberatan jika harus berbagi meja dengan kalian. Jadi tunggu apa lagi … mari bergabung dengan kami” tawar agashi.

“Tidak perlu repot … kami cari restoran lain saja” tolak sunbae.

“Aish, tidak ada yang merasa direpotkan. Justru aku senang bisa bergaul dengan bawahan calon suami sendiri … ehmm siapa namamu?” agashi mencoba berinteraksi dengan ku.

“Ne?” diajak bicara agashi, aku jadi kikuk.

“Aku tanya siapa namamu?” ulang agashi.

“Ohh … Agashi bisa panggil saya Jan Di. Marga saya Geum” jawab ku.



“Aku Ha Jae Kyung calon istri Goo Jun Pyo” dengan angkuhnya agashi mengulurkan tangan pada ku mengajak bersalaman.

“Dan aku Yoon Ji Hoo, kekasih Geum Jan Di” sunbae menyabar uluran tangan agashi. Mereka berjabat tangan lumayan lama disertai adu pandang penuh kilatan.

Menit berikutnya kami berempat sudah duduk di depan meja makan. Sunbae menarikkan kursi untuk ku, hal yang tidak dilakukan doronim kepada agashi. Aku duduk di samping sunbae. Doronim mengambil tempat di depan ku sementara agashi di sisi kiri doronim. Formasi seperti ini membuat aku berhadapan dengan doronim dan sunbae berhadapan dengan agashi.

Saat pelayan datang mengantarkan daftar menu, sunbae menjelaskan satu per satu jenis makanan yang bisa dipesan. Karena tidak terlalu paham kuliner di restoran ini, aku cari aman saja dengan menuruti pilihan sunbae. Acara pilih-memilih makanan membuat aku dan sunbae terlihat dekat. Kami sudah seperti pasanganan kekasih sungguhan. Aku sampai lupa tujuan awal makan siang ini. Aku juga jadi tidak sadar ada dua pasang mata yang memandang horror ke arah kami.

Liur ku hampir menetes begitu sepotong beef steak tersaji. Tidak aku pedulikan pandangan horror yang masih menyoroti. Garpu dan pisau makan sudah aku genggam di tangan kanan dan kiri. Saat aku hendak memotong steak, tangan sunbae terjulur ke piring ku. Tapi sayangnya gerakan doronim lebih cepat. Piring berserta steak incaran ku diserobot doronim. Doronim menukar dengan piring berisi steak yang terlebih dulu sudah ia potong.

“Makanlah …” ucap doronim.

“Gerakan mu lambat. Potong steak saja lama” gerutu doronim.

Tanpa berterima kasih atas kebaikan doronim, steak menggiurkan ini langsung ku lahap. Pandangan menyelidik dari sunbae dan agashi aku abaikan saja. Pokoknya urusan ku cuma sama steak. Yang lain tidak aku pedulikan.

“Nanti malam kita ke bioskop” di tengah kenikmatan menyantap steak, tiba-tiba sunbae menawarkan usul menarik.

“Bioskop?” tanya ku. Bukannya menjawab sunbae malah tersenyum. Sunbae mengambil sehelai tisu lalu menyeka sudut bibir ku.

“Kau seperti anak kecil. Makan belepotan ke mana-mana” goda sunbae sambil terus membersihkan bibir ku dari lumuran kecap. Aku ingin mengelak tapi terhadang tangan sunbae yang menahan dagu ku.

PRANGG!!! Suara nyaring menghentikan aktivitas bersih-bersih sunbae. Aku, sunbae, agashi dan beberapa pengunjung restoran langsung menatap ke sumber bunyi. Garpu dan pisau makan dihempaskan doronim beradu dengan piring.

“Aku selesai …” ucap doronim dengan santainya tanpa peduli kegaduhan yang ia buat.



“Pelayan, berikan bill nya” doronim menyerahkan credit card pada pelayan. Ia bersiap meninggalkan restoran padahal makanan yang dipesan baru habis seperempat bagian.

“Aku duluan” pamit doronim singkat. Tidak ada kesan ramah sama sekali. Yang ada justru aura hitam penuh kegelapan.

*******

BRAKK!!! Jae Kyung menutup pintu kantornya dengan kasar. Sampai di dalam ruangan, Jae Kyung tidak bisa duduk tenang. Ia mondar-mandir tak karuan. Wajar saja jika Jae Kyung sampai seperti ini. Tujuan utama makan siang dengan Jun Pyo tidak tercapai. Tadinya Jae Kyung ingin buka kartu di depan Jun Pyo. Mengakui kalau ada pria lain yang ia cintai. Mengajak Jun Pyo bahu membahu menggagalkan pernikahan tanpa pondasi.

Namun yang terjadi justru di luar prediksi. Kehadiran Ji Hoo dan Jan Di mengacaukan semua strategi. Api cemburu yang lebih mendominasi. Jae Kyung merasa dikhianati. Ia percaya saja bahwa Ji Hoo adalah kekasih Jan Di. Perasaan yang dipupuk Jae Kyung selama bertahun-tahun ternyata hanya membuahkan sakit hati.

“Yoon Ji Hoo! Berani-beraninya kau mempermainkan aku” maki Jae Kyung.

Foto usang yang senantiasa dirawat, jadi sasaran kemarahan. Jae Kyung merobek-robek foto kenangannya. Potret indah di masa lalu jadi tidak berharga lagi. Kisah manis itu berakhir sebagai kenangan tak berarti.

Jae Kyung beralih mendekati telepon. Sambungannya terjawab pada dering ke dua. “Ada tugas untuk mu. Selidiki gadis bernama Geum Jan Di. Dia bekerja di Shinhwa. Hasilnya harus sudah ada di meja kerja ku maksimal sore ini” perintah Jae Kyung.

*******

Aku menumpang mobil sunbae untuk kembali ke kantor. Sepanjang jalan kami duduk manis dalam diam. Sebenarnya aku ingin protes atas tindakan sunbae yang ngaku-ngaku jadi pacar ku. Namun ketika melihat ada gurat kesedihan di wajah sunbae, niat itu aku urungkan.

Kring … Kring … Sunbae segera memasukkan earphone ke lubang telinganya.

“Yeoboseyo” sapa sunbae.

“Aku? … ehm aku baru selesai makan siang. Ada apa Sekretaris Park?” tampaknya yang menelepon sunbae adalah Sekretaris Park.

“Jeongmal? Tapi bukankah rapat itu seharusnya besok?” tanya sunbae. Ia diam sejenak guna mendengarkan penjelasan Sekretaris Park.

“Aish, arasso arasso. Aku akan segera ke sana” tutup sunbae.

“Jan Di-a, habis mendrop mu di kantor aku langsung ke Busan. Ada rapat dadakan di sana” selesai dengan Sekretaris Park, sunbae beralih pada ku.

“Kalau sunbae buru-buru turunkan aku di sini saja. Sudah dekat kok, aku bisa jalan kaki” usul ku.

“Tanggung, sampai depan kantor saja” tukas sunbae.

Lima menit kemudian mobil sunbae tiba di depan Shinhwa. Ku lepaskan sabuk pengaman lalu membuka pintu mobil setelah berterima kasih pada sunbae.

“Chakamanyo” tangan ku ditahan sunbae.

“Ne?” tanya ku.

“Aku ingin bicara sebentar” jawab sunbae.

Pintu mobil ku tutup lagi. Aku jadi menunda turun dari mobil.

“Miane buat kelancangan yang tadi” dengan wajah tertunduk sunbae meminta maaf ku.

“Tidak seharusnya aku katakan bahwa kau pacar ku” sesal sunbae.

“Kenapa sunbae berbohong seperti itu?” selidik ku.

“Karena aku marah pada Audrey” jawab sunbae.

“Audrey?” nama yang asing di telinga ku.

“Ha Jae Kyung adalah Audrey ku” ucap sunbae.

“Audrey-nya sunbae?” sejak kapan nama agashi berubah menjadi Audrey. Ada rahasia apa antara mereka.

“Audrey itu nama barat Jae Kyung. Aku memanggilnya dengan nama baratnya karena menurut ku nama itu lebih cocok untuk dia. Waktu pertama kali kami bertemu, logat inggrisnya sangat kental. Dia bahkan kesulitan mengucapkan nama Korea-nya sendiri. Maka dari itu aku lebih suka memanggil dia Audrey” papar sunbae disertai segaris senyum.



“Sunbae kenal Jae Kyung agashi?” tanya ku.

“Sangat kenal” jawab sunbae.

“Tapi … kenapa waktu di restoran kalian seperti orang asing?” tanya ku lagi.

“Karena aku merasa dikhianati” jawab sunbae lemas.

“Maksud sunbae?” tanya ku heran.

“Audrey cinta pertama ku. Kami sempat berkencan walau hanya sesaat. Ku kira dia akan setia. Tapi nyatanya Audrey sudah punya calon suami” raut sunbae berubah kecewa. Jadi ini penyebab pertikaian aneh sunbae dan agashi waktu di restoran tadi. Tak kusangka mereka punya kisah cinta.

“Kau masih ingat saat aku keluar menemui Jun Pyo di butik?” tanya sunbae.

“Ne, aku ingat” jelas saja aku ingat. Hari itu kan waktunya doronim fitting baju pengantin.

“Di butik itulah aku bertemu Audrey lagi setelah bertahun-tahun kami terpisah. Dari situ aku tahu kalau dia akan menikah. Aku berusaha menerima kenyataan, mungkin kami tidak berjodoh. Aku mulai belajar melupakan Audrey. Toh kemungkinan pertemuan kami terbilang kecil. Tapi begitu tadi aku tahu calon suami Audrey adalah Jun Pyo … luka itu semakin besar” urai sunbae.

Ternyata sunbae lebih menderita dari aku. Cinta pertamanya jatuh ke pelukan sahabat sendiri. Kenapa dunia tidak adil begini. Kalau sunbae mau, bisa saja ia merebut agashi dari doronim. Walau posisi sunbae di bawah doronim tapi kurasa sunbae layak jadi menantu keluarga Ha. Pendidikan sunbae tinggi. Karirnya juga bagus.

Aku jadi salut pada sifat legowo sunbae. Patut aku contoh. Sunbae saja yang kedudukannya sepadan undur diri dari persaingan, apalagi aku. Harusnya aku lebih tau diri karena jelas-jelas tidak masuk kualifikasi sebagai rival cinta nona muda Ha.

“Sekali lagi aku minta maaf kerena telah memanfaatkan mu untuk memanas-manasi Audrey” sunbae masih tidak enak atas sikapnya tadi.

“Anhiyo, sunbae jangan bilang memanfaatkan. Aku tidak merasa dimanfaatkan. Tadi itu aku hanya terkejut” elak ku.

Aku sungguh tidak marah. Sandiwara sunbae membawa simbiosis mutualisme bagi kami. Aku untung, sunbae juga untung. Jujur saja aku puas bisa memanas-manasi doronim. Waktu di restoran aku sempat kesal melihat doronim dengan agashi makanya aku turuti saja improvisasi dadakan sunbae. Biar doronim tau rasa.

*******

Jun Pyo terduduk dalam mobil. Lotus merah itu terparkir tidak jauh dari mobil Ji Hoo. Jun Pyo terus mengamati tindak-tanduk Ji Hoo dan Jan Di dari kejauhan.

“Aish, kenapa Ji Hoo belum juga pergi ke Busan” omel Jun Pyo.

“Jangan-jangan Sekretaris Park lupa memberi tahu Ji Hoo” duga Jun Pyo.

Nomor Sekretaris Park didial Jun Pyo. Ia ingin memastikan apakah sekretarisnya itu sudah menjalankan tugas dengan baik.

“Yoboseyo … Sekretaris Park, kau sudah menelepon Ji Hoo untuk segera pergi ke Busan?” tanya Jun Pyo.

“Sudah saya lakukan doronim” jawab Sekretaris Park.

“Tapi kenapa Ji Hoo masih ada di Seoul?” cecar Jun Pyo.

“Tuan Yoon bilang baru selesai makan siang. Sebentar lagi Tuan Yoon pasti akan bertolak ke Busan” jelas Sekretaris Park.

“Cepat kau telepon Ji Hoo lagi. Suruh dia segera menghadiri rapat” perintah ulang Jun Pyo.

“Arasso doronim” jawab Sekretaris Park.

Jun Pyo menyudahi sambungan telepon. Dia kembali mengamati mobil Ji Hoo. Berharap yang punya mobil segera menuju Busan agar ia bisa leluasa menemui Jan Di.

*******

“Kau tidak marah kan? Kalau marah juga tidak apa-apa. Aku memang bersalah” ujar sunbae.

“Anhi. Aku tidak marah dan sunbae juga tidak bersalah” hibur ku.

“Gomawo …” sambung sunbae.

“Gwenchana. Aku tidak melakukan apa-apa jadi tidak perlu berterima kasih” jawab ku.

“Kalau kau tidak bekerja sama jatuhlah image ku” gurau sunbae.

“Lain kali kita makan siang lagi, biar aku yang traktir. Akan ku bawa kau ke …”

Kring … Kring … perkataan sunbae tersela deringan handphone.

“Mian, aku terima telepon dulu” izin sunbae.

“Yeoboseyo … Ada apa lagi, Sekretaris Park?” sunbae mulai menerima telepon yang ternyata lagi-lagi dari Sekretaris Park.

“Arasso, aku akan segera ke sana” jawab sunbae yang dilanjutkan dengan menekan tombol merah. Sambungan telepon kali ini berjalan singkat. Sunbae terlihat kesal. Mungkin karena Sekretaris Park terlalu cerewet menyuruhnya ke Busan.

“Sunbae pergilah, aku masuk dulu” dapat ku tebak kalau sunbae sedang buru-buru.

“Ok, aku jalan sekarang. Terima kasih telah bersedia menjadi tempat curhat ku” ucap sunbae.

“Gwenchana, aku senang bisa menjadi teman curhat sunbae” setelah itu aku turun dari mobil. Ku pandangi mobil sunbae hingga hilang di tikungan. Semoga rapat berjalan lancar. Kasihan sunbae, sedang patah hati masih saja disibukkan dengan pekerjaan.

*******

Aku berjalan tertunduk mendekati pintu masuk. Cerita sedih sunbae terus saja mengiang-ngiang. Lamunan kisah itu buyar begitu pergelangan tangan ku ditarik paksa.

“Lepaskan” ronta ku.

Doronim seperti hantu yang bergentayangan di mana-mana. Baru saja kami tak sengaja bertemu di restoran. Lalu sekarang tiba-tiba doronim muncul lagi dan langsung membawa ku tanpa permisi.

“Doronim, lepaskan! Saya harus bekerja …” ronta ku lagi.

Mau berontak seperti apa percuma. Doronim tutup mata dan telinga. Rontaan ku tidak digubrisnya. Aku dibawa paksa ke dalam mobil doronim.



“Masuklah … Tidak usah pikirkan pekerjaan, bos mu sudah ku lempar ke Busan” doronim mendudukanku di samping kursi kemudi. Membawa ku pergi ke tampat yang tak pasti.

Sepanjang jalan aku dan doronim punya kegiatan masing-masing. Aku tak henti memandang ke luar jendela. Sedangkan doronim serius dengan stir kemudinya. Mulut kami terkunci mati. Ingin aku bertanya mau kemana mobil ini. Tapi aku malas bersuara karena kesal akan sikap doronim yang seenaknya memasukkan aku ke dalam mobil ini.

Selang 30 menit, aku dan doronim sudah berada di tepi sungai Han. Kap mobil kami jadikan sandaran. Dua gelas coklat hangat pengusir dingin menemani aku dan doronim.

“Tadi pagi Jae Kyung menelepon mengajak makan siang. Dia bilang punya tawaran menarik yang bisa menggagalkan pernikahan. Karena itulah aku makan siang dengannya” ternyata doronim membawa ku ke sini hanya untuk klarifikasi.

“Begitu?” tanya ku.

“Ne, alasan ku menerima ajakan makan siang itu semata hanya untuk mendengar tawaran Jae Kyung” tegas doronim.

“ooo …” mulut ku membulat.

“Kalau aku makan siang dengan sunbae untuk merayakan resminya hubungan kami” bual ku kesal.

“Yya! Jangan memancing emosi ku” peringat doronim.

“Aku tidak memancing apa pun” kilah ku enteng.

Doronim menenggak habis coklat yang masih lumayan panas. Diremasnya gelas plastik yang sudah kosong hingga remuk untuk selanjutnya dihempaskan kuat-kuat. Doronim beranjak dari kap mobil yang kami sandari. Ia mendekat lalu memagari tubuh ku. Dijadikannya kap mobil sebagai tumpuan tangan. Membuat aku tersudut hingga punggung ini terbaring beralaskan kap mobil.

“Aku tahu kau berbohong” tuduh doronim.

“a … anda bicara tentang apa?” gelas plastik berisi coklat hangat aku gunakan untuk menghadang doronim yang semakin mendekat.



“Tadi itu kau dan Ji Hoo hanya pura-pura berpacaran bukan? Entah apa alasan kalian tapi aku tidak mau ambil pusing. Yang jelas kau sudah resmi jadi milik ku. Jika ada yang berani ngaku-ngaku sebagai pacar mu, tidak akan berlaku karena hak paten atas dirimu ada sepenuhnya di tangan ku” vonis doronim dengan pandangan menusuk.

“Ma … maksud doronim?” tanya ku.

“Pacar mu itu hanya aku” jawab doronim dengan 1001 keyakinan.

“Se … sejak … kapan … kita pacaran?” tanya ku lagi.

“Sejak kau membalas ciuman ku” jawaban doronim meronakan sepasang pipi ku.

“Ne?” aku berlaga lupa.

“Saat pertama kali aku mencium mu, kau tidak menolak bukan? Kau bahkan membalas ciuman itu” ujar doronim.

“Itu … itu … karena …” aku kehabisan kata-kata.

“Waeyo? Mau mengelak? Ingin membantah perasaan mu sendiri?” cecar doronim.

“…” aku sungguh kehabisan kata-kata.

“Akan ku buktikan kalau kau suka pada ku” ucap doronim.

Dengan cepat doronim merangsek maju menuju bibir ku. Ku palingkan wajah ke kiri, doronim tetap berusaha mendekati. Ku buang wajah ini ke kanan, doronim pun masih gigih mencumbui.

“Doronim … andwe …” pekik ku di sela-sela gempuran doronim.



Aku tidak mau dicium lagi. Doronim sudah keterlaluan. Habis bersama agashi, sekarang datang pada ku dan ingin mencium ku. Doronim pikir aku ini apa. Aku masih kesal melihat doronim tampil berdua agashi di restoran. Katanya menolak dinikahkan, nyatanya saling sayang-sayangan.

Semakin gencar doronim meraih bibir ku, semakin lincah aku menggerakan wajah. Aku berpaling ke kanan lalu ke kiri. Sampai akhirnya coklat hangat dalam genggaman ku tumpah membasahi kemeja doronim.

“AKH!” teriak doronim seraya mengangkat tubuhnya yang menindih ku.

“Mi … miane …” aku membantu doronim yang terlihat mengibas-ngibaskan kemeja putihnya.

“Gwenchana?” tanya ku khawatir.

Doronim tidak menjawab. Ia segera beranjak tanpa memberi kesempatan pada ku untuk membantu membersikan kemejanya.

“Kita pergi …” ajak doronim sambil ngeloyor masuk ke dalam mobil.

Aku pun menyusul duduk di samping kemudi. Doronim mengembalikan aku ke kantor. Jarak tempuh dari sungai Han ke Shinhwa habis buat berdiam diri. Doronim tampak kesal. Aku mau minta maaf tapi tidak berani angkat suara. Lagi pula untuk apa minta maaf. Salah doronim sendiri yang main paksa.

*******

“Begitu?” tanya Jae Kyung pada pria berperawakan tinggi besar yang berdiri tegap di depan meja kerjanya.

“Ne, agashi” jawab bawahan Jae Kyung tersebut.

“Ok, kau boleh pergi” perintah Jae Kyung.

Sebelum undur diri, pria dengan stelan jas hitam ini membungkuk dalam pada majikannya. Jae Kyung tidak menanggapi. Ia sibuk menelaah fakta-fakta seputar Geum Jan Di yang baru saja diketahui.

“Jadi gadis ini tinggal di rumah Jun Pyo hanya karena telah menolong Goo haelmoni” ucap Jae Kyung seorang diri.

“Dia juga bekerja dengan Ji Hoo hingga mereka akhirnya jatuh hati” begitu kesimpulan Jae Kyung.

“Ji Hoo-a, kau berpaling dari ku demi dia …” lirih Jae Kyung sembari memandang sendu pada foto usang yang penuh tambalan solasi perekat.

*******

Sehabis mengantar Jan Di, Jun Pyo tidak kembali ke Shinhwa. Mobil Jun Pyo terparkir di depan bar mewah. Semenjak datang hingga sekarang, berbagai minuman memabukkan mengaliri tenggorokan Jun Pyo. Botol-botol bekas minuman saling tumpang tindih di meja yang Jun Pyo pesan.

Minuman keras jadi pelarian Jun Pyo atas sikap Jan Di padanya tadi. Sandiwara Jan Di – Ji Hoo ternyata mengusik ketenangan Jun Pyo. Di depan Jan Di boleh saja Jun Pyo percaya diri menyatakan kejadian di restoran hanya rekayasa semata. Namun di dasar hati Jun Pyo, ada rasa galau yang tumbuh perlahan. Rasa galau itu benar-benar menyiksa hingga Jun Pyo mengadu pada alcohol yang bukan teman akrabnya.



“Biarkan aku mabuk, Geum Jan Di … enyah kau dari pikiran ku” botol beserta gelas dihempaskan Jun Pyo dari atas meja. Barang pecah belah itu hancur berkeping-keping. Menimbulkan suara nyaring di tengah suasana bising.

“Anda baik-baik saja, Tuan Goo?” seorang pelayan bar menghampiri Jun Pyo.

“Saya mohon hentikan menenggak minuman lagi. Anda sudah cukup mabuk” saran si pelayan.

“Aish! Biar saja aku mabuk … aku memang ingin mabuk supaya gadis itu tidak membayangi ku terus …” oceh  Jun Pyo.

“Yya, ambilkan lagi sebotol bir … ppalli!!” teriak Jun Pyo.

Pelayan berdasi kupu-kupu itu melirik managernya yang berjalan mendekat. Manager bar menggeleng dua kali. Mengisyaratkan tidak ada minuman lagi untuk Jun Pyo.

“Sebentar lagi sekretarisnya datang, aku baru saja meneleponnya” bisik manager pada pelayan bar.

Lima belas menit kemudian, tubuh sempoyongan Jun Pyo sudah terduduk dalam mobil. Sekretaris Park tiba pada waktu yang tepat. Jun Pyo dibawa paksa Sekretaris Park saat coba berbuat onar di bar. Minuman yang ia pesan tak kunjung datang. Jun Pyo jadi naik pitam dan bersiap memporak-porandakan bar itu. Untungnya Sekretaris Park bisa mengatasi suasana. Jika tidak, dapat dipastikan wajah mabuk Jun Pyo terpampang bebas di harian ibu kota.

*******

Tekad ku sudah bulat. Malam ini aku tidak mau tidur di kamar ini lagi. Aku ingin segera pindah ke rumah Ga Eul. Berkat makan siang tadi aku jadi sadar bahwa doronim dan agashi adalah sejoli yang paling serasi. Aku hanya akan jadi borok jika bertahan di sini. Maka ku susuri lorong istana Goo. Tujuan ku adalah kamar Nyonya Besar. Untuk apa ke sana? Tentu saja ingin pamitan dengan beliau.

Prangg!! Suara benda pecah membuat ku menahan langkah. Aku berbalik arah. Berjalan menuju suara itu. Pecahan gelas bergelimpangan di lantai. Ku dapati doronim seorang diri di tengah bar mini milik pribadi. Bau alcohol terhirup dengan mudah dari sekujur tubuh doronim. Ia belum ganti pakaian. Bekas tumpahan coklat yang tadi siang masih tersisa.

“Doronim … gwenchana? Kenapa anda mabuk begini?” aku mengambil paksa gelas berisi cairan bening dari tangan doronim.

“Cukup. Anda sudah mabuk” tahan ku begitu doronim bersiap menenggak bir langsung dari botolnya.

“Waeyo? Memang apa peduli mu kalau aku mabuk” seketika aku menjauh. Bau alcohol dari mulut doronim membuat ku pusing.

Ini kali ke dua aku melihat doronim dikendalikan minuman keras. Waktu pertama kami bertemu, doronim mabuk berat. Setelah itu tidak pernah sekalipun aku memergoki doronim dekat-dekat dengan alcohol. Baru malam ini ku lihat lagi doronim bergaul dengan botol anggur.

“Kemari … temani aku minum. Jam segini waktunya kau melayani aku” doronim menarik tangan ku. Aku yang tadinya berhasil menjauh jadi berdekatan lagi dengan tubuh doronim yang bernuansakan alcohol.

“Sa … saya … tidak kuat minum …” tolak ku.

“Mau aku ajari?” tawar doronim dengan pandangan menggoda.

Aku bergidik dipandangi doronim tanpa berkedip. Sorot mata itu kembali menunjukkan kekuatan magisnya. Tatapan redup tapi menusuk. Pandangan mematikan yang membuat wanita bertekuk lutut. Lalu aku? Masukkah aku ke dalam daftar wanita yang terbius? Ingin berlari dari sorot mata ini tapi aku terlanjur masuk perangkap. Kalau doronim sudah melancarkan tatapannya, aku mudah dibuat terpedaya. Desiran itu berlomba-lomba merusak kestabilan hati ku.

Glek … Glek … minuman punya doronim, aku tenggak habis.



Begini cara aku menyelamatkan diri dari panah mata doronim. Aish … baru minum satu gelas pandangan ku sudah berkunang-kunang. Aku berkedip berkali-kali. Mencoba fokuskan bayangan yang masuk ke mata.

Doronim tersenyum melihat aku mengejap-ngejapkan mata. Senyum tipis itu meluluhkan pertahanan yang susah payah ku bina. Aku kembali terjerembab dalam daya pikatnya. Rupa sempurna doronim terlihat semakin lengkap dengan hiasan seulas senyum tipis nan manis.

Glek … Glek … aku kembali menenggak cairan memabukkan ini. Bersembunyi dari pesona doronim di balik minuman beralkohol tinggi. Kepala ku langsung pening begitu minum gelas ke dua. Apa yang aku lihat terasa berputar. Alis ku berkerut karena pandangan mulai kabur.

“Saranghae …” ujar doronim dengan senyum andalannya.

Walau mata ku mulai error tapi telinga ku masih terhubung dengan baik. Dapat terdengar jelas ucapan cinta doronim. Pernyataan cinta yang melambungkan hati ku. Menerbangkan jiwa raga hingga lapisan langit ke tujuh. Tapi aku tidak mau. Aku ingin tetap berpijak pada realita.

Aku tidak kuat berlama-lama di sini. Ku putuskan berdiri dengan tubuh sempoyongan. Tangan ku berpegangan pada tepi meja. Lantai yang aku pijak terasa bergoyang seperti ada gempa. Aku berjalan melipir di samping meja. Menerobos benda yang tertata rapi di atasnya termasuk sebotol anggur keluaran lama. Isinya pun tumpah membasahi baju ku.

“Yya, gwenchana?” tanya doronim yang sedari tadi membuntuti.

“Saya … hekk … mau … hekk … ke kamar … “ ucapan ku tidak beraturan. Layaknya anak kecil yang cegukan.

“Duduk di sini dulu, kau sudah mabuk” doronim memapah ku ke sebuah sofa. Ia mengambil tisu guna mengeringkan baju ku.

“Anhi … hekk … “ aku menolak doronim yang ingin menyeka kemeja ku dari tumpahan bir.

“Aku … hekk … tidak mabuk … ” geleng ku.

“Aku … hekk … masih kuat … hekk … minum … 10 botol lagi” kesepuluh jari ku direntangkan semua. Doronim hanya geleng-geleng kepala saja.

“Mana … hekk … mana birnya … aku mau minum lagi …” mata ku jelalatan ke mana-mana. Apa yang aku cari ternyata ada di depan meja.

Glek … Glek … dengan tangan gementar, aku minum lagi. Kali ini aku minum terburu-buru. Akibatnya minuman yang terbuang lebih banyak dari pada yang ku telan. Minuman itu tumpah dari sudut gelas lalu mengalir di samping dagu hingga membasahi baju. Pakaian ku bersimbah bir seharga jutaan won. Tambah basah saja kemeja ku.

“Jangan minum lagi” doronim merampas gelas dari tangan ku.

“Anhi … hekk … biarkan aku mi ……………….. “

Brukk!! Akhirnya aku KO di gelas ke tiga.

*******

Tubuh Jan Di jatuh ke dalam pelukan Jun Pyo. Gadis itu sudah mabuk berat. Kesadarannya hilang sama sekali setelah minum 3 gelas.

“Gadis bodoh, sudah tau tidak kuat malah nekat minum juga. Jangan berani-berani minum tanpa aku di dekat mu. Camkan itu” Jun Pyo mengangkat Jan Di ke dalam gendongannya. Walau tubuhnya sempoyongan, Jun Pyo tetap menggendong Jan Di memasuki kamar.

Langkah Jun Pyo terantuk-antuk. Beberapa kali ia menabrak kursi atau keserimpet kaki sendiri. Sampai di dalam kamar Jan Di, giliran koper yang ditabraki. Jun Pyo menendang koper itu hingga menimpa ransel yang ada di sampingnya. Karena kesadaran yang tersisa tinggal setengah, Jun Pyo mengabaikan saja barang-barang bawaan Jan Di tanpa rasa curiga. Ia tidak mengira akan niat Jan Di yang ingin meninggalkan rumah.

Jun Pyo membaringkan Jan Di dengan hati-hati. Sambil berdiri sempoyongan di samping ranjang, Jun Pyo memandangi wajah terlelap Jan Di tanpa henti. Sepasang rona merah terbias di pipi Jan Di. Efek minuman keras membuat wajah Jan Di tidak seputih biasanya. Puas menatap wajah, bola mata Jun Pyo turun ke dada. Kemeja putih Jan Di yang basah menyeplak bra hitam di dalamnya.

“Kalau tidur mu begini, bisa-bisa masuk angin” ucap Jun Pyo.

Kancing kemeja Jan Di dibuka Jun Pyo. Semua kancing terlepas dari lubangnya. Jun Pyo melucuti kemeja Jan Di. Dihempaskan sembarangan kemeja basah itu. Jan Di yang tak sadarkan diri dengan balutan bra, memancing naluri laki-laki seorang Goo Jun Pyo.

“Andwe Jun Pyo-a” kepala Jun Pyo menggeleng berulang.

Jun Pyo beralih menuju lemari buat mencari baju ganti. Lemari pakaian Jan Di terkunci. Jun Pyo jadi tidak bisa mengambil piyama Jan Di. Jun Pyo kembali mendekati ranjang. Sambil berjalan sempoyongan, Jun Pyo membuka satu per satu kancing kemejanya sendiri. Jun Pyo melepaskan kemeja agar bisa dikenakan pada Jan Di.



Saat membungkuk untuk menopang Jan Di, kepala Jun Pyo tiba-tiba menjadi berat. Rasa pening sebenarnya sudah menyerang dari tadi. Jun Pyo berusaha menahan tapi kali ini tidak ada lagi kompromi. Tubuh jangkung Jun Pyo akhirnya tumbang menimpa Jan Di.

*******

Pagi sudah datang dan sarapan pun telah matang. Goo haelmoni duduk sendiri di ruang makan bermeja panjang. Mr Goo sedang di Bali menghadiri undangan peresmian resort rekannya. Mrs Goo pun ikut menemani sang suami. Walau putra dan menantunya tidak ada di Korea bukan berarti Goo haelmoni sarapan seorang diri. Ia masih punya Jun Pyo. Namun cucu semata wayangnya itu belum juga muncul di ruang makan.

“Kemana Jun Pyo?” tanya Goo haelmoni.

“Doronim belum bangun” jawab pelayan Jung.

“Mwo? Sudah siang begini Jun Pyo belum bangun, memangnya pulang jam berapa dia semalam?” selidik Goo haelmoni.

“Doronim pulang jam 11 dan … “ ucapan pelayan Jung mengantung.

“Dan apa?” Nyonya Besar menuntut kelanjutan penjelasan.

“Doronim pulang dalam keadaan mabuk” ucap pelayan Jang penuh rasa takut.

“MWO! Ternyata anak itu belum jera juga. Padahal sudah ribuan kali aku peringatkan agar jauh-jauh dari alcohol” omel Goo haelmoni sambil menaiki anak tangga menuju kamar Jun Pyo.

*******

Sedikit demi sedikit kesadaran ku kembali. Meski sudah terjaga mata ku belum mau terbuka. Kepala ku terasa berat. Apalagi badan ku. Sekujur tubuh terasa amat sangat berat. Seakan ada beban puluhan kilo yang menindih aku semalaman. Ku coba bergerak ke kanan tapi tidak bisa. Bergerak ke kiri juga tidak kuasa. Beban di atas tubuh ini mengunci pergerakkan ku. Sebenarnya apa sih yang menindihi aku?

Pelan-pelan mata ku mulai terbuka. Hangat sang surya menyapa ceria. Sinar mentari mengintip dari jendela. Kelopak mata ku sudah terbuka sempurna. Langit-langit kamar yang digantungi lampu kristal yang terlihat pertama. Ku hirup udara pagi dalam-dalam. Tulang rusuk ku tak bisa kontraksi sepenuhnya. Dada ku sesak sulit bernapas dengan leluasa. Dan kini napas ku benar-benar tercekat begitu melihat seonggok tubuh semi polos terkulai nyenyak menindih ku. Rambut keritingnya menggelitik dada ku.

“AAAAAA!!!!!!!” teriakan histeris ku membangunkan doronim.



Wajah doronim mendongak sementara aku menunduk. Jadilah mata kami saling bertaut. Menyadari posisi yang tidak patut, serta merta doronim beringsut.

“Te … te … tenang Jan Di-a” doronim menyuruh tenang tapi dia sendiri tegang.

“APA YANG ANDA LAKUKAN?!” tanya ku kasar seraya menutupi tubuh dengan kemeja. Aku main ambil saja kemeja terdekat. Sepertinya bukan milik ku. Dilihat dari ukurannya pasti punya doronim.

“a … a … aku tidak … melakukan apa-apa” jawab doronim.

“Bagaimana bisa anda tidur di kamar saya?” tanya ku dengan mata mulai berair.

“Aku … aku tidak sengaja tidur di sini. Semalam … kau mabuk, lalu aku membawa mu ke kamar … setelah itu …”

“Setelah itu anda muncuri kesempatan!” potong ku.

“Anhiyo … Akh … “ doronim meringis sambil menekan pelipis.

“Begini Jan Di-a …” doronim bicara lagi setelah bisa mengendalikan rasa sakit di kepalanya.

“Semalam baju mu basah kena tumpahan minuman. Lalu aku berniat menggantikan dengan piyama tapi lemari mu terkunci. Jadi kuputuskan memakaikan mu dengan kemeja ku” doronim menunjuk kemeja yang menyelimuti tubuh ku.

“Saat hendak memakaikan kemeja, kepala ku pening tak terkira. Tanpa bisa ditahan, aku roboh dan menimpa tubuhmu” lanjut doronim.

“Apa hak anda melepaskan baju saya?” tanya ku sewot.

“Sebab aku khawatir kau jatuh sakit jika tidur dengan pakaian basah” jawab doronim.

“Lebih baik saya sakit dari pada jadi korban anda” sahut ku.

“Korban apa Jan Di-a? Aku tidak melakukan apa-apa. Sepanjang malam aku tertidur pulas sama seperti mu” ucap doronim memelas.

“Jinja?” rasa percaya mulai timbul di hati ku.

“Ne, selain melihat bra hitam mu, aku tidak melihat yang lain” aku doronim jujur.

“Keluar!!” pengakuan polos doronim justru membuat aku semakin marah.

“Jan Di-a, ku mohon percaya pada ku” bujuk doronim

“KELUAR SEKARANG JUGAAA!!!” teriakan ku membahana membuat siapa saja di luar sana dapat mendengar jelas.

“Ada apa, Jan Di-a?” tanya Nyonya Besar yang tiba-tiba masuk. Teriakan ku sudah mengundang Nyonya Besar ke dalam kamar.

*******

“Siapa yang mau menjelaskan apa yang telah terjadi pada kalian?” Nyonya Besar mensidang aku dan doronim. Kami dibawa ke ruang baca guna menjelaskan kronologis peristiwa semalam.

Semoga jantung Nyonya Besar tidak bermasalah. Pagi-pagi sudah melihat aku sekamar dengan doronim. Ditambah penampilan kami yang tidak lulus sensor. Doronim bertelanjang dada. Lalu aku dengan bra berselimut kemeja.

“Semalam Jan Di menemani aku minum. Jan Di ikut minum tapi karena tidak kuat akibatnya Jan Di tak sadar” jelas doronim.

“Lalu?” Nyonya Besar tampak tidak puas dengan penjelasan itu.

“Lalu apa, haelmoni?” doronim malah balik tanya.

“Lalu apa yang kau lakukan di saat Jan Di tak sadarkan diri?” cecar Nyonya Besar.

“Semua tidak seperti yang haelmoni pikirkan. Aku tidak melakukan apa-apa” jawab doronim.

“Dasar pengecut!” tuding Nyonya Besar

“Haelmoni, jangan bilang begitu” doronim tidak terima dengan julukan Nyonya Besar.

“Kalau bukan pengecut lalu sebutan apa yang cocok buat mu?” tantang Nyonya Besar.

“…” doronim diam tak membantah.



“Jelas-jelas sudah merugikan Jan Di tapi tidak mengakui” sindir Nyonya Besar.

“Apa yang harus aku akui, haelmoni? Aku memang tidak melakukan apa-apa” sahut doronim. “Bukan begitu, Jan Di?” doronim minta dukungan ku.

“Ne…” jawab ku pelan. Melihat kegigihan doronim membela diri, aku jadi luluh. Aku mulai percaya bahwa semalam tidak terjadi apa-apa. Kami hanya tidur bersama tanpa ada kejadian lainnya.

“Jan Di-a, apa yang kau rasakan, nak?” sekarang giliran aku yang ditanya Nyonya Besar.

“Maksud anda?” aku malah balik nanya.

“Apa kau merasa nyeri? Tubuh mu ada yang terasa perih tidak?” Nyonya Besar bertanya lebih terperinci.

“Entahlah Nyonya … saat ini aku merasa sakit di sekujur tubuh” tukas ku.

“Lihat akibat perbuatan mu, Goo Jun Pyo!” Nyonya Besar memarahi doronim lagi.

“Jelas saja tubuh Jan Di sakit semua, semalaman aku kan menindihnya” ucap doronim.

“Bagus! Akhirnya kau mengaku juga!” jawab Nyonya Besar.

“Mwo? Aish … Haelmoni, maksud ku bukan memindih yang seperti itu … aku cuma …”

“CUKUP! Tidak usah berkelit lagi! Semuanya sudah jelas sekarang!” Nyonya Besar tidak memberi kesempatan doronim membela diri.

“Haelmo…” rengek doronim.

“Kau harus bertanggung jawab, Jun Pyo” perintah Nyonya Besar.

“Tanggung jawab bagaimana?” tanya doronim.

“Kalian harus menikah!” Nyonya Besar berultimatum.

“MWO!!” aku dan doronim teriak bersamaan.

“Waeyo? Masih mau mengelak? Tidak berani bertanggung jawab?” Nyonya Besar tambah kesal pada doronim.

“Bu … bukan begitu … “ sanggah doronim.

“Maksud healmoni aku harus menikahi Jan Di?” doronim mencari kepastian.

“Tentu! Memangnya setelah meniduri anak gadis orang, kau mau lepas tangan begitu saja. Jangan bikin malu keluarga Goo!” jawab Nyonya Besar.

Omo, kenapa kasusnya jadi rumit. Sampai-sampai berkembang ke pernikahan. Aku harus bantu meluruskan biar masalah tidak melebar. “Nyonya Besar, anda salah paham. Doronim tidak …”

“Baiklah aku mengaku” doronim memotong ucapan ku.

“Semalam aku meniduri Jan Di. Karenanya aku akan menikahi Jan Di sebagai bentuk tanggung jawab ku” ujar doronim.

PLAKK! “Akhirnya kau mengaku juga” tamparan keras Nyonya Besar mendarat di pipi doronim.

Aku terkejut melihat Nyonya Besar menampar doronim. Tapi aku lebih terkejut mendengar pengakuan terbaru doronim. Mulanya ia mati-matian menjelaskan tidak terjadi apa-apa semalam. Tapi begitu Nyonya Besar menyuruh kami menikah, ucapan doronim langsung berubah.

“Nyonya Besar, ku mohon jangan marah. Apa yang dikatakan doronim di awal kurasa benar adanya. Tidak terjadi apa-apa di antara kami. Doronim sendiri yang meyakinkan itu padaku sewaktu anda belum masuk kamar” jelas ku.

“Tadi itu aku berbohong supaya kau tidak panik” sambar doronim.

“Doronim, jangan bikin Nyonya Besar tambah salah paham” pinta ku.

“Gwenchana, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya” jawab doronim.

“Nyonya, anda tidak serius kan menyuruh kami menikah?” tanya ku.

“Aku sangat serius” tidak ada tanda-tanda bercanda pada raut Nyonya Besar.

“Jan Di-a, cucu ku ini memang bukan pria sempurna. Banyak sifat buruknya yang mungkin akan menyusahkan mu. Tapi ku mohon, terimalah dia” pinta Nyonya Besar.

“Ne? ta … tapi … bukannya doronim akan segera menikah dengan Jae Kyung agashi” aku berlindung di balik perjodohan itu.

“Pernikahan mereka batal!” ucap Nyonya Besar tegas.

“MWO?!” lagi-lagi aku dan doronim sama-sama terkejut.

“Anhi, bukan batal” ralat Nyonya Besar.

“Pernikahan akan tetap berlangsung sesuai rencana. Waktu dan tempat tidak berubah. Yang berubah hanya mempelai wanitanya saja” pungkas Nyonya Besar yang diiringi senyum kecil doronim.



Ini cuma mimpi kan? Semuanya hanya bunga tidur saja kan? Kejadian ini mustahil ada di alam nyata. Nyonya Besar ada-ada saja. Masa aku dan doronim disuruh menikah. Harusnya masalah ini diselidiki dulu. Belum tentu doronim telah berbuat lancang pada ku.

Bukankah doronim bilang bahwa ia tidur pulas sepanjang malam. Jika memang demikian, doronim tidak mungkin melakukan macam-macam. Namun kalau mengacu pada posisi dan kondisi kami tadi pagi, aku jadi ragu sendiri. Aish, aku bingung harus percaya yang mana. Di tengah kebingungan, ada satu hal yang tidak aku perhatikan. Doronim tersenyum kecil. Senyum misterius dengan sejuta arti.

Aku masih berharap semua cuma mimpi. Aku belum sanggup mempercayai. Dalam sekejap aku menggeser posisi agashi. Dalam waktu sesaat aku disandingkan dengan doronim sebagai calon suami-istri. Ternyata ucapan doronim terbukti. Memang benar ada jalan untuk kami. Tapi haruskah aku mengambil jalan ini??? Tunggu aja di chapter selanjutnya  [laughing]

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #681 on: June 22, 2011, 09:37:33 am »
jalan nyatuin jundi terkesan maksa ya [heh] [heh]

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ spoiler gelombang 2 ~
« Reply #682 on: June 22, 2011, 10:47:00 am »
jalan nyatuin jundi terkesan maksa ya [heh] [heh]
menurut gw ga maksa kok yg penting jundi bersatu,hmf. Liko tengkyu udinan di update. Bukan JP namanya kalo kgk bs nyingkirin orang yg bs jadi penghalang hub. Jp ama JD. ampe kirim JH ke busan,ckckck. Jaekyung Jihoo sama2 terluka tp Jundi lg sama2 keenakan mo kawin ups Junpyo maksudnya yg hepi kawin ama Jandi. Lgan jp kok seenak jidatnya aja maen buka bj JD pdhl bskan minta tlg pelayan cewe laen bt gantiin bj JD dsr doronim mecum mana mendaratnya pas banget ye diantara dua bukit JD,lol.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ chapter 10, 22 June 2011 ~
« Reply #683 on: June 22, 2011, 12:11:14 pm »
liko...liko ding..ding..ding [hmpfh]
mian belum sempet baca, komennya nyusul ya..ya..boleh..bolehkan [hug]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ chapter 10, 22 June 2011 ~
« Reply #684 on: June 22, 2011, 01:01:55 pm »
JH &JK merana krn sama2 merasa dikhianati,sdgkan JP &JD kebingungan sendiri dg sikap Jh and jk,lol. Junpyo junpyo enak aje maen hak paten cuma gara2 jd bls ciuman hot jp tp gw suka kalo jp da cemburu gini apalg sampe kirim jh ke busan,lol. Yey,jundi kawinan akhrnya tp jp yg keenakan dunk coz nanti makin seneng aja dia menghakpatenkan jandi jadi miliknya seutuhnya,xixixi. Lgan junpyo ada2 aja maboknya pake buka bj jandi segala mana enak bener si junpyo rebahan diantara bukit kembar jandi,hmf. Mdh2n jaekyung kgk lakuin hal2 yg bikin jandi nelangsa . Liko tengkyu udinan diupdate


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ chapter 10, 22 June 2011 ~
« Reply #685 on: June 22, 2011, 04:34:22 pm »
  akhirnya jalan yang selalu di ucapkan junpyo datang juga [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04254]

 halmoni jun pyo benar" dewi penolong bagi hubungan jun pyo & jandi  Emoticons0427 Emoticons0427
 walau pun masih belum ada kejelasan pasti apakah pernikahan itu benar" akan terjadi
tapi... setidaknya sudah dapat satu pendukung dari hubungan jun pyo dan jandi [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262]

 jun pyo benar" polos mengakui menindihi jandi [drool] [drool] [drool] makanya pemikiran halmoni nya menindihi dalam artikan lain  [kiss] [kiss] [kiss] , tambah lagi jandi menguatkan pemikiran itu dengan ungkapan sakit keselurahan tubuhnya  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

jun pyo dan jandi jalan kalian sudah mulai terbuka  [AddEmoticons04272] [AddEmoticons04272] [AddEmoticons04272]

tinggal menunggu reaksi kedua orang tua junpyo dan nona diplomat aja neh  [AddEmoticons04269] [AddEmoticons04269] [AddEmoticons04269] mendengar rencana halmoni jun pyo  [heh] [heh]

Offline septi

  • Newbie
  • *
  • Posts: 10
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ chapter 10, 22 June 2011 ~
« Reply #686 on: June 22, 2011, 08:24:45 pm »
[clap] [clap] [clap] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-dance013] aku suka aku suka....jujur aku suka banget chapter ini.... [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck] seru aja akhirnya ada jalan juga utk mereka bersatu tp aku yakin omma JP pasti gak setuju atau intinya dia rada ilfil ama jandi karna caranya ditiduri doronim spya bs merid  [sweat] [sweat] [sweat]

 [lovestruck] [lovestruck] gak sabar pengen liat chap slanjutnya...gumawo liko  [hug] [hug] [hug]

Offline dalbyeol

  • Senior
  • ****
  • Posts: 803
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ chapter 10, 22 June 2011 ~
« Reply #687 on: June 22, 2011, 11:36:50 pm »
sist.Liko...gumawo dh update ya [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

i like this chap...lucu + asyik [lovestruck]...sist.Liko [AddEmoticons04246]

Jae Kyung + Ji Hoo...ternyata pasangan kekasih ya (baru nyadar [hmpfh])

adegan d restoran asyik,sist...lucu,pd main sandiwara smuanya (kcuali si doronim [hmpfh])

tp yg paling mengasyikkn dr chap ini adalh keputusan halmonie yg memaksa Jan Di-Jun Pyo menikah...kagak sia2 mabuk + badan sakit akibat semalaman dtindih ama doronim,Jan Di...akhirnya kau bakaln nikah jg ama doronim-mu [clap] [hmpfh]

next chap bakaln seru nih,sist...gw mo liat reaksinya Mrs.Goo ama keputusan halmonie [chin]

HWAITING!!! [AddEmoticons04262]

And I'll never promise to
be true to anyone,unless it's you...The Day I Fall in Love

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ chapter 10, 22 June 2011 ~
« Reply #688 on: June 22, 2011, 11:48:33 pm »
like this chap..thx ya.gak maksa kok sist,nyonya besar yg maksa pst dh lama nyari2 alasan.kocak jg tuh adegan cemburu2n jk n jh,palg persidangan jp n jd bkin senyvm2 sndiri,doronim doronim.btw next chap dh nikahkan?
[/size][/color][/b]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: Be Strong, Jan Di ~ chapter 10, 22 June 2011 ~
« Reply #689 on: June 23, 2011, 12:23:18 am »
Woww byk sekali updatean, jd binun mesti baca yg mana dulu [clap] [hmpfh] thanks but updateannya, liko malang melintang di twngah ladang wine [laughing]
I like this chp. Very much. Mau maksa pa kagak cara nyatuin jundi, gw ga perduli. Yg penting jundi bersatu [lovestruck] next chp lgs nikah and ML ya [what] maunya gw sih [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun