Author Topic: The Little Coward --clueeeee!!! next banner and song ^^  (Read 48864 times)

Offline Diamond of Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 714
  • Your smile make me cool..Your love around me,,
    • View Profile
untuk sementara cuma bisa update ini [heh] ,, but besok ye [hmpfh]

cihuyy..mo di update..

Ditunggu yoo mam..wlpn next chap pnuh dgn eun hye, tp minsun msh sweet moment kn mi??

Py new year ye mam..
From the bottom of my heart,,
i wish you here with me ever and forever..
Become a real couple..

Aza aza hwaiting!!!

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
untuk sementara cuma bisa update ini [heh] ,, but besok ye [hmpfh]

cihuyy..mo di update..

Ditunggu yoo mam..wlpn next chap pnuh dgn eun hye, tp minsun msh sweet moment kn mi??

Py new year ye mam..
sweet minsun ga banyak, cuman secuil doang, mian [heh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Diamond of Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 714
  • Your smile make me cool..Your love around me,,
    • View Profile
Jeongmal??
Benarkah??
Really??

Tp gpp deh..
Yg penting diupdate mam..
From the bottom of my heart,,
i wish you here with me ever and forever..
Become a real couple..

Aza aza hwaiting!!!

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Jeongmal??
Benarkah??
Really??

Tp gpp deh..
Yg penting diupdate mam..
mungkin dini hari atau besok [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile

mungkin dini hari atau besok [hmpfh]
ok, mom setia menanti kentang juga gak pa2 deh [hmpfh] [hmpfh]
mumpung masih libur sehari lagi  [biggrin]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
mungkin dini hari atau besok [hmpfh]

kalo dini hari gue tungguin lo mom, masih beberapa jam lagi  [hmpfh]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mungkin dini hari atau besok [hmpfh]

kalo dini hari gue tungguin lo mom, masih beberapa jam lagi  [hmpfh]
oki [hmpfh] [hmpfh] (maksudnya ok, bukan oki member callminsun [laughing] [laughing] )

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
mungkin dini hari atau besok [hmpfh]

kalo dini hari gue tungguin lo mom, masih beberapa jam lagi  [hmpfh]
dasar kalong [hmpfh]
vie jangan di tungguin besok pagi baru di update ama mommy
btw vie kemarin tepar diluan ya [hmpfh]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
nunggu updatan.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile




Untuk kedua kalinya aku mengintip lewat lubang kecil di pintu. Siapa orang itu? Sangat asing, dan rasanya, aku tak mengenalnya. Apa dia kesasar ya? Berulangkali pertanyaan tersebut bermain-main dalam pikiranku. Bibirku kumajukan ke depan, setelah itu memutar tubuh, berniat kembali ke kamar.

Ting ... tong ...

Lagi-lagi bunyi bel menyebalkan itu terdengar kembali.

"Huhh--berengsek bener!! Nggak tahu orang lagi sibuk ya??!!" (Sibuk apaan? Yang dikerjakannya cuma nyuri-nyuri pandang ke Minho yang lagi sibuk mendengarkan musik di kamarnya, lewat celah pintu yang dibukanya sedikit lol) Aku mendengus kemudian berlari ke pintu depan yang sudah dua kali kuhampiri. Kupengang handelnya kuat-kuat kemudian menariknya sampai terbuka lebar.

"Ya?" sapaku dengan senyum terkembang di bibir. Susah deh kalau menyuruhku marah-marah nggak karuan ke orang asing. Apalagi orang asingnya seganteng ini ^^V (Lagi-lagi, keganjengan haha )

Pria di depanku tersenyum lebar. Tas dan koper besar yang digenggamnya dijatuhkan ke lantai. Lalu tiba-tiba dia menekan pipiku dengan kedua tangannya.

"Goo Hye Sun!!! Kau pasti Goo Hye Sun!! Benarkan?" teriaknya gemas.

"Dhe ...  dhe?!!!" tanyaku heran bercampur nggak suka. Sumpah, aku tak mengenalnya!!! Dan .. kurang ajar sekali dia,, kenapa memegang pipiku? Huhh--pipiku kan hanya buatmu seorang!!!

"Ha .. ha .. kau pasti heran bagaimana aku bisa mengetahui namamu?" Pria menyebalkan itu tertawa lebar dan kembali, dia melakukan sesuatu yang sangat kubenci =.=", mendadak dia mencolek daguku huhh--jangan sok akrab, man!!!

"Memangnya anda siapa?" Sepasang mataku meredup. Selain kesal, aku juga tak bersemangat mengetahuinya.

"He .. he .. Eunhye pasti belum menceritakannya padamu ... ," pria itu mengulurkan tangannya. "Kenalkan, aku Joo Ji Hoon, pacarnya Eunhye--onniemu!!"

"MWO??!!" jeritku keras-keras. Pernyataan barusan sangat mengejutkan. Jadi tidak heran jika aku langsung keceplosan. "Pacarnya onnie bukan Minho sunbae?"

"Minho?!!" alis Hoon oppa berkerut. "Maksudmu?"

"HOON-A!!"

Panggilan kaget dari belakang membuat kami mengalihkan perhatiaan secara bersamaan. Kau sudah berdiri di belakangku, dengan sepasang mata terbelalak lebar dan raut tak percaya.

"Kenapa tak mengabariku kau pulang hari ini? Kan bisa kujemput di bandara .."

"Tak perlu!!" sahut Hoon oppa dingin sekaligus ketus. Sikap bersahabatnya yang riang tadi, hilang seketika. "Aku tak memerlukan bantuanmu!!"

"Ada apa ini?" Kau mendekati kami, melewatiku begitu saja seakan aku ini benda transparan yang kasat mata, melangkah lurus menuju ke posisi Hoon oppa berada. Aku hanya bisa melongo laksana orang bego diperlakukan begitu olehmu. Benda--ehh, orang segede ini kok tak terlihat?! Lagian, ini aku,--si little cowardmu??!! dari melongo, aku cemberut. Emang enak dicuekin?!!

"Apa telah terjadi sesuatu?" tanyamu kembali sambil meletakan tangan di pundak Hoon oppa.

Tapi Hoon oppa langsung menepisnya. "Tak perlu perhatianmu!! Dasar sahabat tak tahu diri!!!"

"Mwo?! Apa maksudmu?" tanyamu tak mengerti.

"Huh--jangan berpura-pura lagi, Lee Min Ho-ssi! Aku sudah mengetahui segalanya!!" sahut Hoon oppa sinis.

"Mengetahui segalanya? Mengetahui apa?"

"Masih berpura-pura juga?!" Hoon oppa mencibir. "Aku bertemu Yoon dua hari yang lalu, dan .. dia sudah menceritakan segalanya ... "

"Yoon?"

"O--lupa pada Yoon?" Hoon oppa tertawa keras. "Kau hebat, Minho-a. Untuk mengingkari semua, kau berlagak tak mengenalnya?"

"Aku tak bermaksud mengingkari apapun. Tapi sungguh, aku tak ingat pada orang itu. Apakah dia teman sekolah kita? Dan apa yang telah dikatakannya padamu sehingga membuatmu berubah begini?"

"Baik. Sekarang dengar baik-baik, Lee Min Ho-ssi--Yoon atau Choi Yoon itu teman kita waktu di Junior High School dulu. Dia sekelas dengan kita. Duduknya dekat jendela. Tapi dia hanya setahun sekolah di situ karna di tahun berikutnya dia harus ikut ayahnya pindah ke Jepang. Ingat?!"

"Oh--"

Aku melihatmu menepuk jidat.

"Ne, aku ingat sekarang. Lalu apa yang diceritakannya padamu? Seingatku, tak ada rahasia yang diketahuinya tentangmu dariku?"

"O ya?" Hoon oppa menyindir. "Kalau begitu, lupakan saja. Sekarang, cuma satu permintaanku darimu ... pergi dari sini secepat mungkin!"

"MWO??!!!" teriakan keras ini berasal dariku. Karna keterkejutan yang teramat sangat ditambah guncangan hebat membuatku tak mampu menahan diri. Mataku terbelalak lebar menatap Hoon oppa dan kau silih berganti. Hoon oppa mengusirmu? Oh--NO!!! Hal ini tak boleh terjadi! Jangan hiraukan perkataannya. Kau tak boleh pergi dari sini, tak boleh!!

Kalian berpaling padaku secara bersamaan. Alis berkerut dan tampang tak senang. Mungkin karna aku sudah seenaknya saja melibatkan diri dalam pembicaraan kalian >.<. Ditatap seperti itu aku langsung menunduk dalam-dalam. Dasar, siapa suruh kau banyak mulut, Hyesun bego!!

 "Aku tak ingin melihatmu lagi, apalagi berdekatan dengan Eunhye!!" suara Hoon oppa kembali mengelegar dalam ruangan itu.

Aku mengangkat kepala sedikit, kemudian mengintip takut-takut lewat ekor mata.

Kau membuka mulut dan bersiap bersuara tapi terputus oleh teriakan dari belakang.

"JOO JI HOON, APA YANG KAU KATAKAN PADA MINHO?!"

Aku melihat kalian berpaling. Dengan ragu-ragu (takut dimarahi olehmu) aku ikut berpaling. Ternyata yang berteriak itu onnie.

"Eunhye-a .. "

Hoon oppa mengembangkan tangannya. Dia bermaksud menarik onnie kepelukannya tapi segera ditepiskan onnie.

"Jangan menyentuhku!!"

"Hey--kenapa?" protes Hoon oppa.

"Mengapa kau perlakukan Minho seperti ini?" tanya onnie dengan mata mendelik.

"O--kau membelanya?" sindir Hoon oppa. "Sudah kuduga apa yang diceritakan Yoon benar adanya!"

"Emangnya apa yang diceritakan orang itu?!! Apa yang diketahuinya?!!" teriak onnie.

"Kau ingin tahu?!" Hoon oppa melirikmu. Kau membalas tatapannya dalam kebisuan. Hoon oppa kemudian beralih kembali pada onnie. "Baik. Buka lebar-lebar telinga kalian! Yoon bercerita bagaimana Minho mengejarmu waktu di sekolah menengah dulu, dan kalian juga sempat pacaran selama tiga bulan, tanpa sepengetahuanku. Puas??!!"

"MWO?!!" mata onnie terbelalak lebar. "Apa yang kau katakan?!! Semua itu tidak benar?! Aku ... "

"Eunhye-a!!!"

Aku melihatmu segera menarik onnie kearahmu, kemudian mengeleng perlahan.

"Jangan, .. jangan lakukan sesuatu yang bakal membuatmu menyesal ... ," katamu dengan nada pelan. "Jika ini yang diinginkan Hoon, biarlah saya keluar dari sini ... tak apa-apa, sungguh .. "

"Minho-a ... tapi ... "

Kau mengeleng lagi, sementara senyum menenangkan tetap terhias di wajahmu. "Sungguh, percayalah padaku. Hoon yang terpenting dalam hidupmu ... "

"Tapi ... "

"Bagus jika dia tahu diri ... ," sela Hoon oppa ketus.

Kau menunduk. Wajahmu terlihat sendu walaupun senyuman tadi tetap kau pertahankan. Kau memutar tubuh kemudian berjalan menuju kamarmu.

"Eunhye .. "

"Kau keterlaluan!"

Onnie menepis tangan Hoon oppa yang mendarat di pinggangnya, kemudian mendorongnya keras-keras sampai terpelanting ke sofa.

"Aku tak ingin melihatmu lagi!!!" Onnie menghapus airmata dengan punggung tangannya kemudian menghambur ke dalam kamar. Membanting keras-keras pintu sampai menimbulkan bunyi berdebam keras. Brakkkk!!!!

"EUNHYE-A!!"

Teriakan Hoon oppa tak membuahkan hasil. Onnie tak memperdulikannya. Pintu tersebut tak dibukanya walaupun Hoon oppa mengulangi teriakannya berkali-kali.

Perlahan-lahan aku menjatuhkan diri di sofa, di sebelah Hoon oppa. Kuperhatikan dia dengan seksama. Keringat dingin bercucuran dari wajah dan lehernya. Wajahnya juga terlihat pucat. Dia menundukan kepala dengan pandangan nanar tertuju ke lantai.

"O .. oppa .. gwencana?" tanyaku terbata-bata.

Hoon oppa mengangkat wajah kearahku. Dia tak menjawab. Setelah mengeleng lemah, kepalanya tertunduk kembali.


********



Tok .. tok .. tok ...

"Masuk!!" terdengar sahutan dari kamar Minho.

Eunhye membuka pintu perlahan dan dilihatnya Minho sedang mengemas pakaian-pakaiannya ke dalam koper, sementara berbagai peralatan memotret dan melukis masih tergeletak di atas ranjang, bersebelahan dengan sebuah tas selempang besar. Dengan langkah pelan didekatinya pemuda itu.

"Benar kau akan pergi dari sini?"

Minho menghentikan kesibukannya. Diliriknya cewek itu kemudian tersenyum.

"Kau tak perlu melakukannya! Hoon tak tahu apa-apa!" lanjut Eunhye dengan agak keras.

Minho tak menjawab. Dimasukannya tumpukan pakaian terakhir ke dalam koper kemudian menutupnya.

"Kau tak usah memperdulikannya, Minho-a. Ini apartemenku dan tak kubiarkan dia berlaku seenaknya!!"

Minho mengeser kopernya ke samping kemudian menepuk pinggir ranjang di sebelahnya.

"Duduklah ... ," katanya pada Eunhye.

Cewek itu terlihat ragu-ragu sejenak. Setelah mempertimbangkan sesaat, akhirnya dia menjatuhkan diri di tempat yang ditunjuk Minho.

"Kau mencintainya kan?" tanya Minho tiba-tiba.

"Mwo?!" Eunhye menatap Minho tak mengerti. Tak mengerti mengapa pemuda ini tiba-tiba bertanya seperti itu. Yang mereka bicarakan sekarang adalah perbuatan Jihoon yang sangat keterlaluan terhadapnya, jadi mengapa dia begitu tenang? malah bertanya apakah dia mencintai Jihoon, orang yang telah menfitnahnya dengan tuduhan-tuduhan tak benar.

"Kau benar-benar mencintainya kan?"

Eunhye tak menjawab.

"Itu lebih penting dari segalanya." Minho tersenyum. "Kehilangan dia akan membuatmu menderita, sedangkan kepergianku tak akan berdampak besar terhadapmu. Percayalah .. "

"Kau selalu begitu .. ," kata Eunhye dengan nada menyalahkan. Suaranya terdengar serak. Perlahan, dua butir air bening mengalir keluar, menuruni sepasang pipinya. "Kenapa kau selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu? Dulu begitu, sekarang juga begitu ... "

Minho mengangkat pundaknya. Senyuman masih terukir di wajahnya ketika menghapus air bening dari wajah Eunhye. "Kau harus berjanji untuk berbahagia selalu. Kau merupakan sahabat terbaik-ku. Aku tak ingin melihatmu sedih, jadi berjanjilah, jangan menangis lagi. Ini untuk terakhir kalinya, ok?"

Eunhye terisak halus. Dia berusaha tersenyum walaupun terlihat dipaksakan. "Kenapa kau tak membiarkan-ku berterus-terang padanya? Kenapa?" kepalanya perlahan menyandar di dada Minho. "Kenapa kau merelakan dirimu disalah-pahami olehnya? Itu tak enak kan?"

Minho tak menjawab. Dielusnya rambut Eunhye dengan gerakan lamban.

"Untuk melindungiku kan?" Tiba-tiba Eunhye menarik wajahnya. "Benar kan? Semuanya demi aku? Karna kau nggak mau aku sampai dipermalukan di depan orang, apalagi di depan Hoon sendiri, orang yang kucintai?"

Minho tersenyum. Dia meletakan kedua tangannya di pundak Eunhye kemudian menekannya lembut.

"Jangan berpikir terlalu banyak. Semua sudah berlalu. Yang perlu kau pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya membuat Hoon merasa nyaman di sini. Aku tak apa-apa--sungguh ... "

Minho berdiri dan kemudian kembali membereskan barang-barangnya. Peralatan-peralatan di atas ranjang dimasukannya dengan hati-hati dan rapi ke dalam tas selempang besar yang tadi, sebelum Eunhye masuk, diambilnya dari lemari.

"Beberapa minggu lagi aku juga harus keluar dari sini, jadi lebih awal pergi juga tak apa-apa .. ," Minho terkekeh pelan. "Hey--tampangmu jangan begitu, .. tersenyumlah biar aku perginya lebih ikhlas ... "

"Minho-a ... ," desah Eunhye. Dia sedih melihat Minho didakwa seperti ini. Namun, dia sungguh tak bisa berbuat lain, kecuali ....

Eunhye memusatkan perhatian kearah Minho. Adilkah ini? Setelah begitu banyak yang dilakukan Minho terhadapnya? Eunhye mengeleng. Setelah mendesah berat, dia menundukan kepala, menatap semu lantai dari kayu yang terlihat gelap dan dingin.


*******



Brakkk!!!

Eunhye membuka pintu dengan satu hentakan. Tampangnya terlihat garang. Jihoon yang sedang bermalas-malasan di atas ranjang langsung terlonjak bangun, duduk dengan posisi menghadap Eunhye.

"Ada apa?" alisnya berkenyit.

"Bangun!!" sahut Eunhye kasar. Ditariknya tangan pemuda itu hingga berdiri. "Ikut denganku!!"

"Ke mana?" tanya Jihoon tak mengerti.

"Nanti juga kau tahu sendiri ... ," kata Eunhye. Tarikannya pada tangan Jihoon semakin keras sehingga mau tak mau pemuda itu terpaksa mengikutinya.

"Hey--pelan-pelan sedikit kenapa sih!!! Emangnya kita mau ke mana? Kalau makan, nggak usah deh. Aku sudah makan di pesawat tadi!!"

"Aku tak mengajakmu makan!" dengus Eunhye.

"Jadi?"

"Sudah kubilang nanti kau tahu sendiri!!"

Mereka keluar dari kamar. Eunhye mengajak Jihoon menyeberang ke kamar yang berhadapan dengan kamarnya. Alis Jihoon berkerut. Dia ingat, Minho tadi memasuki kamar ini.

"Kau mau apa?" segera dikibaskannya tangan Eunhye dari pergelangan tangannya.

Eunhye menatapnya. "Kau harus minta maaf pada Minho!!" sahutnya tegas.

"Mwo?!" Jihoon melebarkan matanya. "Bullshit!!! Apa aku tak salah dengar?" dia tertawa hambar. "Bukankah seharusnya dia yang minta maaf padaku? Menyeleweng di belakangku?!"

"Siapa yang menyeleweng?!" teriak Eunhye. "Kau tak tahu apa-apa!!"

"Siapa bilang aku tak tahu?! Yoon sudah menceritakan segalanya padaku, kalau bukan, aku masih seperti orang bodoh--dibohongi oleh sahabatku sendiri!!"

"Yoon!! Yoon!! Yoon!! Sejak kedatanganmu ke sini hanya Yoon yang kau sebut-sebut!!" Eunhye mendorong Jihoon sampai menempel ke dinding. "Yoon bilang begini la, begitu la!! Emangnya, apa yang diketahuinya tentang kita?! Hanya setahun kita mengenalnya, mengapa kau begitu mempercayai DIA--si berengsek itu?!" teriak Eunhye bertubi-tubi. Sungguh tak dapat dipercayai, dalam waktu kurang dari dua jam, dia sudah meneteskan airmata untuk ketiga kalinya. "Lalu bagaimana dengan Minho!!! Berapa lama kau mengenalnya? Tidak kah kau tahu orang seperti apa dia? Kenapa kau tak memberinya kesempatan untuk berterus-terang! Kenapa? Kenapa kau tak mempercayainya?"

"Apalagi yang mesti dijelaskan?" cetus Jihoon. "Dia sendiri membisu ketika kutanya. Jadi sudah jelaskan?! Karna dia memang bersalah!"

"Bukan begitu!!" jerit Eunhye. "Semua itu tidak benar!!"

"Mwo?"

"Dia melakukan itu karna ingin menjaga perasaanku!! Melindungiku dari dilukai oleh siapapun juga!!"

"Apa maksudmu?!" Jihoon bergerak mendekati Eunhye. "Mengapa dia harus melindungimu? Aku bisa melakukannya buatmu, tak perlu dia!!"

"Kau tak bisa!!" Eunhye memukul dada Jihoon. "Kau tak bisa!! Kau malah melukai perasaanku. Seperti saat ini--kau tak mempercayaiku. Kau malah mencurigaiku pernah pacaran dengan Minho, padahal itu tak benar. Cuma Minho yang memahami perasaanku. Cuma dia ... "

"Katakan padaku apa sebenarnya yang terjadi?" Suara Jihoon jadi bergetar. Kehisterisan Eunhye berdampak jua terhadapnya. Belum pernah dia melihat Eunhye seperti saat ini. Kalau bukan peristiwa tersebut begitu menyakiti perasaannya, tentu kekasihnya tak akan memperlihatkan emosi sebesar ini.

"Aku yang mengejarnya, bukan dia ... " Eunhye terisak-isak lemas. Dia segera bertumpu ke tubuh Jihoon agar tak tumbang.

"Yoon Eun Hye .. ," seru Jihoon kaget. Dia tak mengira kenyataan ini yang didengarnya dari Eunhye.

"Aku yang mengejarnya, .. aku ... " Eunhye menangis tersedu-sedu. "Bukan Minho ... " dia mengeleng sambil memukul-mukul dada Jihoon. "Jadi jangan menyalahkannya ... aku mohon, Hoon-a, jangan menyalahkannya ... Dia sahabat terbaikmu. Tidak kah kau tahu bagaimana sifatnya? Dia tak akan melakukan sesuatu yang bakal merusak hubungan persahabatan kita ... "

"Kau yang mengejarnya?" kata Jihoon pelan. "Lalu kenapa kalian tak bersama? Jika benar kau yang mengejarnya, kenapa akhirnya kau memilihku?" lanjutnya tak mengerti.

"Karna dia menolak-ku ... ," jawab Eunhye sambil mengangkat wajahnya. Kemudian dia memegang wajah Jihoon dengan kedua tangannya. "Dia menolak-ku secara halus, dengan menceritakan bagaimana sempurnanya dirimu. Bagaimana kau mencintaiku selama ini dan bagaimana kau sudah melakukan banyak hal di belakangku. Dia berkata, orang yang paling cocok denganku adalah kau. Sampai aku sadar sudah jatuh cinta padamu, benar-benar jatuh cinta padamu. Dia sangat bahagia begitu mengetahuinya. Sahabat kita itu--kau tak tahu bagaimana lebar senyumnya begitu kuceritakan dimulainya hubungan kita ... "

"Aku salah ... ?" tanya Jihoon sambil memejamkan matanya. "Aku salah menyalahkannya?"

"Aku tak tahu dari mana Yoon mendengar kabar ngawur itu .. ," Eunhye terisak halus kemudian dielusnya pipi Jihoon. "Hanya satu yang kuharapkan sekarang, yaitu kepercayaanmu, Hoon-a. Miane karna aku tak menceritakannya dari semula, rahasia kecil ini. Aku malu--Malu ketahuan bahwa aku pernah ditolak Minho. Aku tak mau termasuk dalam deretan cewek-cewek yang pernah ditolak Minho dan sepertinya Minho juga tak bermaksud mengungkit masalah itu .. Sungguh maafkan aku, Hoon-a .. "

"Sudahlah .. ," desis Jihoon di telinga Eunhye. "Kau tak perlu minta maaf. Sikapku yang keterlaluan. Seharusnya aku mempercayai Minho, terutama kau. Jika begitu, pertengkaran tak perlu ini tak akan terjadi ... ," dia terdiam beberapa saat. Penyesalan datang semakin dalam ketika sebuah kenyataan membuka mata hatinya. "Aku telah membuka aib itu kan? aib yang tak ingin kau ungkit? Miane .. "

"Tidak ... " Eunhye mengeleng sambil tersenyum. Kepalanya kemudian disandarkan ke dada Jihoon. "Aku merasa lega sekarang, seperti sebuah batu besar yang menimpa dadaku selama ini terangkat sudah ... ," mendadak dia berhenti. Tampangnya perlahan menjadi sendu. "Cuman satu yang kusesalkan, .... ketika kalian bertengkar dan Minho tak mau menceritakan yang sebenarnya terjadi, aku jadi sadar kalau dia melakukan semua itu karna berniat melindungiku--tak ingin aku dipermalukan depanmu. Ternyata selama ini dia begitu menjaga perasaanku ... "

"Minho--dia benar-benar sahabat sejati ... ," desis Jihoon.

"Ne .. " Eunhye mengangguk sambil memejamkan matanya.

"Dan aku menuduhnya begitu saja ... Sungguh keterlaluan!" Jihoon mengigit bibir, kemudian mengambil tekad. Dia harus minta maaf sama Minho! Harus!


******



Aku memperhatikan adegan antara onnie dan Jihoon oppa dari balik pintu kamar. Bukan bermaksud menguping atau mengintip! No, no, sama sekali bukan! Aku hanya tak sengaja melihatnya ketika membuka pintu kamar ini. Mereka berdiri tepat di depan pintu kamarmu, yang letaknya sedikit menyamping di depan kamarku. Dan mereka berbicara sambil teriak-teriak jadi tak heran jika aku mendengar semuanya. Kalau yang agak berbisik-bisik itu sih, aku menajamkan pendengaran dengan susah payah sampai mengeluarkan daun telinga keluar pintu, baru terdengar.

Ternyata masalahnya seperti itu. Semua cuma kesalahpahaman, syukur deh .. Setelah mendengar penjelasan tadi, aku semakin mengagumi. Kau rela dituduh, bahkan difitnah melakukan sesuatu yang tidak kau lakukan demi menjaga harga diri seorang sahabat. Aku salut padamu. Jujur saja, jika aku berada di posisimu, aku tak yakin sanggup melakukannya. Aku tak sebesar hati itu. Sebenarnya bagaimana kau melakukannya? Difitnah itu kan nggak enak?

Aku menyusut ke balik pintu dan segera mengelus kepala Peanut begitu dia menunjukan reaksi akan menyalak ketika onnie dan Hoon oppa mulai bergerak dari posisinya. Peanut tak jadi bersuara. Anjing kecil tersebut memejamkan matanya dan kembali mendengus malas dalam rangkulanku. Aku menghembuskan nafas lega dan mengintip keluar. Onnie dan Hoon oppa sudah masuk ke dalam kamarnya.

Perlahan aku membuka pintu ini dan melangkah keluar. Keadaan di luar sangat sunyi. Aku sampai bertanya-tanya, kemana dirimu? Onnie dan Jihoon oppa tadi kan berbicara sambil berteriak-teriak, masa kau tak mendengarnya?

Aku berjalan ke sofa depan dan menjatuhkan diri di sana. Kuusap pelan kepala Peanut. Keadaan sepertinya makin hening aja ... Aku mengigil perlahan. Kupertajam pandangan ke depan. Lewat kaca-kaca jendela, aku melihat rintik-rintik hujan mulai dijatuhkan ke bumi. Pantesan terasa dingin banget ... grrr ... Aku segera menarik selimut dari sandaran sofa dan membungkus tubuh rapat-rapat.

Tiba-tiba di sebelah kananku ada yang bergerak. Aku terperanjat kaget dan segera berpaling.

"Sonsaengnim!!!" jeritku dengan sepasang mata terbelalak lebar.

Kau meletakan tas selempang besar ke atas meja teh, kemudian menyandarkan koper ke dinding.

"Sonsaengnim dari mana aja?!" tak sabar, aku segera mengajukan pertanyaan. "Apa sonsaengnim tak tahu telah terjadi sesuatu?" aku melirik koper dan tasnya. "Sonsaengnim ... bersungguh-sungguh akan pergi dari sini?" suaraku berubah sendu.

"Jangan begitu!" mendadak kau mengetok kepalaku. "Aku bukan pergi selamanya. Lagipula, ajaranku belum selesai. Sonsaengnim akan mencarimu lagi kapan-kapan .. "

"Jeongmal?" tanyaku tak bersemangat. Emangnya kapan-kapan itu, kapan? Seminggu tiga kali? Dua kali? Atau sekali? Jangan-jangan dua minggu sekali. Oh--tidak, aku tak bisa terima ini!!

"Ngelamun lagi!!" Kau berteriak begitu keras di telingaku hingga aku tersentak sadar dan langsung menarik diri ke belakang.

"Yaa--sonsaengnim!!!"

"Ha .. ha .. miane," kau tertawa sambil berdiri dari sofa. Kau mengambil tas dari meja, begitu juga koper. Setelah itu kau berbalik kembali padaku. Sesaat, kulihat ... ya, aku pasti ini, rautmu berubah muram. "Aku harus pergi sekarang. Tadi aku habis dari gudang belakang. Sepedamu yang katanya bermasalah, sudah kubetulkan. Cuma rantainya yang agak tersendat, sudah kuminyaki jadi kau bisa mengunakannya tanpa perlu khawatir lagi .. "

Kau terdiam, dan menatapku lekat-lekat. Aku jadi risih diperhatikan begini. Mataku melirik kesana kemari sementara tubuhku bergerak-gerak tak karuan di atas sofa. Sesekali aku meremas bulu Peanut. Untung saja si nakal ini tak terusik dari tidurnya. Aku semakin gelisah ketika hampir tiga menit lamanya kau tak bergerak dari tempatmu, bahkan melirik kearah lainpun tidak.

"Gu ... gumawo ... " Keterlaluan! Ini sih ucapan terimakasih yang sangat terlambat!! Aku membayangkan sebuah palu besar dihantamkan ke kepalaku. Bummm!!!

"Si pengecut kecil .. "

Kau menyentuh pipiku. Sangat pelan. Entah mengapa aku merasakan sesuatu yang lain. Pandanganmu begitu lembut, seakan mengandung makna yang sangat dalam. Apakah karna perpisahan ini? Tapi kan, kau bilang hanya sementara. Kapan-kapan kau akan menemuiku lagi. Bibirku langsung manyun. Yaa--kapan-kapan lagi? Emangnya kapan? Huhh--nggak ngerti ama pemikiran sendiri!

"Sampai ketemu lagi ... "

Perkataan lembut dan menyayat itu menyadarkanku. Sebenarnya nggak menyayat-nyayat amat sih. Mungkin di perasaanku aja, perkataan itu terdengar menyayat ... -.-'

"Sonsaengnim ... "

Kau tersenyum. Lima menit ke depan kita tenggelam dalam kebisuan. Setelah itu kau melingkarkan tas selempang ke badan sembari mengenggam koper erat-erat. Kau membungkuk perlahan.

"Anyongheseyo, Hyesun-ssi ... "

"Kau tak perlu pindah dari sini, Minho-a .. "

Hoon oppa dan onnie muncul begitu saja dalam ruangan ini. Aku dan kau berpaling secara bersamaan. Hoon oppa terlihat tersenyum pada onnie kemudian menghampirimu. Dia menepuk pundakmu dengan gaya bercanda.

"Miane telah menyalahkanmu .. "

"Hoon--maksudmu?!" tanyamu kaget.

"Jangan berpura-pura lagi, Minho-ssi. Aku sudah mengetahui segala-galanya. Eunhye yang menceritakannya padaku ... "

"Mwo?!!" kau segera beralih ke onnie. "Kenapa ... ?" tanyamu pelan.

Onnie mengangkat bahunya. "Karna sudah banyak yang kau lakukan." Dia tersenyum. "Sudah saatnya, masalahku, kuselesaikan sendiri. Kau tak perlu membungkam lagi demi aku, dan kau juga tak perlu lagi menelan semua tuduhan tidak-tidak yang ditujukan padamu. Cukup sudah, Minho-a. Aku bisa mandiri sendiri .. ditambah Hoon .. ," onnie mengenggam tangan Hoon oppa erat-erat. "Aku yakin bisa melakukannya ... "

Kau mengangguk, kemudian tersenyum teduh.

"Namun, walaupun begitu, aku harus berterimakasih padamu. Gumawo buat semuanya, Minho-a .. " Onnie mengembangkan tangannya kemudian memelukmu erat-erat.

Dalam keadaan biasa, mungkin aku sudah marah-marah tak karuan. Melihatmu dipeluk oleh cewek lain? Ho--jangan sampai deh!! Tapi, entah mengapa, tidak untuk saat ini. Peristiwa yang disuguhkan di depan mataku sangat menyentuh. Walaupun aku tak dianggap oleh kalian, tak apa-apa. Aku sudah puas melihat masalah ini terselesaikan dengan baik.

"Miane, Minho-a .. " Hoon oppa menepuk lenganmu.

Kau mengangguk kemudian membalasnya. Mendaratkan tinju di dada Hoon oppa. "Lain kali mikir-mikir dulu, man!!"

"Ha .. ha .. ne, arasoyo .. "

Kemudian kalian tertawa berbarengan. Aku hanya bisa tersenyum-senyum di posisiku. Sepertinya aku sudah benar-benar terlupakan oleh kalian. Tak seorangpun melirik-ku.

"Gimana kalau lunch di luar?" Hoon oppa tiba-tiba mengajukan idenya.

Onnie langsung menyetujui, begitu juga denganmu. Lalu apa yang kulakukan? Tentu saja hanya membisu di tempat. Kalau nggak diajak, nggak mungkin bersuara kan? =.="

"Bagaimana denganmu?"

"Dhe?" Aku tersentak kaget. Khayalan-khayalanku buyar semua.

"Apa kau ikut?" Wajahmu hanya berjarak beberapa inci dariku. Aku terperanjat, terkejut setengah mati, dan langsung mundur dengan sempoyongan.

"Hey--ikut nggak?!"

"N ... e .... a .. aku .. ganti baju ... dulu ... "

Tentu saja itu hanya alasan saja. Oh--tuhan, jantungku berdegup sangat kencang. Hampir saja--ya, hampir saja, bibir itu hampir ... hampir menyentuh wajahku. Apa jadinya jika hal itu sampai terjadi? Bibir itu benar-benar mengenai wajahku? Sumpah, aku pasti sudah tergeletak memalukan di lantai--PINGSAN--

Aku berlari lintang pukang, melindas dan menjatuhkan barang-barang, berbenturan beberapa kali dan hampir menabrak dinding juga beberapa kali karna selalu menoleh ke belakang sampai masuk ke dalam kamar. Kemudian .. brakkk!! kuhempaskan pintu kamar keras-keras.

Aku tak melihat bagaimana tiga orang yang kutinggal di belakang memandangiku terbengong-bengong.

Apa yang terjadi padanya? Mungkin pertanyaan itu yang terlontar dari pikiran masing-masing -.-''''' .... [/b]


*******
« Last Edit: January 01, 2011, 12:04:05 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Surie_Riri

  • Full
  • ***
  • Posts: 297
  • i'm silent reader, mian...
    • View Profile
diupdate juga akhirnya, makasih mam  [cheekkiss]
[lovestruck]

fara

  • Guest
Gomawo mi udh diupdate [flowers] [flowers] [flowers] [flowers] [flowers]
minho baik bgt sampe ngga mau bilang ke hoon kalo ternyata eunhye pernah bilang cinta ke minho, padahal kan hoon udh keterlaluan bgt nuduh minho sbg tmn ngga tau diri [hmpfh] [hmpfh]
berhubung eunhye sendiri yg udh nyeritain semuanya ke hoon dan mereka udh baikan, berarti minho ngga jadi keluar dari apartemen eunhye kan mi? Hmpfh

iiuuu

  • Guest
mami... makasi uda update.. %)

woa.. keren bgd dah ntu minho...
si hyesunna jga tmbh lucu ajah.. lari2 gag ktulungan..
mi.. sihoon tau gak kalo minho cnta ama sun??
hwaiting mi... next update weekend lgi kan mi??
aq selalu menantimu mam.. hohohoho =))

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
wah keren banget mi update'an y he9
t'ryta euh hye pernah naksir minho,secara g d yg bisa nolak pesonanya minho wkwkwkwk
kayaknya minho semakin nunjukin klo dia d perasaan ma hye sun....

ditunggu lanjutannya

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
[hmpfh] kasian hye sun, pake hampir nabrak tembok lagi [hmpfh] Wah makin asyik nich, penghuni apartment eun hye nambah satu. Brarti tu apartmen luas jg ya [what] Kok aku ngerasa Min Ho bakal tetep pergi dari apartmen ya? Gmn nantinya nasib si chiken (read :coward) kalau gak da sosaengmin [what]