Author Topic: The Little Coward --clueeeee!!! next banner and song ^^  (Read 47491 times)

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
Re: The Little Coward --spoiler LAGI??!!!! hahaha
« Reply #960 on: March 26, 2011, 12:28:55 am »
mami di update malam inikan [chin]
ya...ya...kan, mumpung CM lagi normal [hmpfh]
dah ileran noh nunggu sonsaengnimku tercinta [love eyes] [love eyes]
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: The Little Coward --spoiler LAGI??!!!! hahaha
« Reply #961 on: March 26, 2011, 03:56:51 am »




Additional Cast :


Aarif Lee as Lee Jae Won
-->sunbae yang bertabrakan dengan Hyesun di bus ^^




"Le .. lepas ... " Aku mendesah lirih.

Dengan gerakan lambat aku berusaha mendorong tangan Dongsae agar terlepas dari pergelangan tanganku. Mobil yang membawa kami sekarang sedang melaju di jalan raya, setengah perjalanan dari hotel yang dimaksud Dongsae.

Cowok di sebelahku itu melepaskan genggamannya, lalu menatapku khawatir. "Weeyo? Kau pucat sekali .. " Dia mengangkat tangan dan menyentuh jidatku. "Panas ... Kau masih demam ya?" tanyanya kembali.

"A .. aku .. gwencanayo .. " Agak risih kusingkirkan tangannya dari jidatku kemudian aku menyandarkan diri di sandaran kursi. Mataku terpejam dan berucap dengan lirih. "Aku hanya perlu makan obat ... "

"Obatmu?" tanya Dongsae dan mulai mengeledah tasku.

Segera kukibaskan tangannya. "Tertinggal di rumah .. "

"Mwo?" Dongsae menghentikan pencariannya dan beralih padaku. "Kenapa tidak dibawa?" tanyanya dengan nada menegur.

Aku mendesah dan memutar kepala ke arah jendela. Malas rasanya meladeni cowok ini. "Aku ingin pulang .. ," desahku akhirnya.

"Hyesun-a ... " Dongsae menghela nafasnya.

"Aku capek .. ," sambungku. Lalu ... tanpa terasa .. dan tanpa bisa dibendung lagi, aku terisak halus. Aku tidak tahu mengapa begini ... Mengapa aku menangis? Yang jelas saat ini, aku ingin kembali ke sisimu. Membayangkan sorot mata menyayat darimu beberapa waktu lalu membuatku terpuruk, lemah.

"Bagaimana dengan pestanya?" tanya Dongsae pelan.

"Aku ingin pulang ... " Aku mengulangi keinginan tadi tanpa menjawab pertanyaannya.

"Hyesun-a .. "

"Aku ingin pulang ... "

Kututup mata dengan sepasang tangan dan mulai menangis kesengukan. Pundak ku naik turun seiring guncangan perasaanku saat ini. Aku mulai merutuki diri kenapa secengeng ini? Biasanya aku hanya pengecut, mungkin juga pembohong kecil, tapi tidak cengeng. Aku hanya akan menangis jika sudah tidak mampu bertahan, dan kurasa--inilah pertahanan terakhirku. Batinku lemah. Selain sakit, juga karena melihat raut wajahmu. Kau kelihatan merana saat itu. Apa hanya perasaanku saja? Ya, mungkin. Yang jelas, entah mengapa aku merasakannya.

Dongsae yang melihat kesedihanku menjadi gelabakan sendiri. Segera saja dia menepuk pundak ku, buat menenangkan.

"Yaa--yaa--jangan menangis. Oke, oke, akan kuantar pulang .. " Lalu dia beralih pada sopirnya. "Balik ke apartemen tadi, pak Jung!!"

Porche hitam itu memutar dengan suara mendecit tajam. Lalu menderu-deru berbalik ke arahnya datang tadi. Aku menghembuskan nafas perlahan, lalu bergumam lirih, "Gumawo ... "

"Apapun untukmu Hyesun-a ... "

Dongsae berusaha memberikan senyumannya tapi aku sudah tidak memperhatikannya lagi. Apapun itu, aku tidak bisa melihatnya untuk saat ini. Seperti perkataanku tadi, aku ingin pulang ..


****



"Perlu kuantar ke dalam?" tanya Dongsae begitu kami turun dari mobil.

Aku mengeleng lemah. "Tidak. Hanya beberapa langkah .. aku bisa melakukannya sendiri ... " Sesungguhnya, aku tidak ingin dia muncul di hadapanmu kembali. Mengapa? Aku juga tidak tahu. Mungkin hanya perasaan saja. Aku merasa kemunculannya membuatmu sedih. Ya, hanya itu.

Perlahan aku melangkahkan kaki ke arah apartemen. Samar-samar aku mendengar deru mesin mobil dilajukan dari situ. Aku menghela nafas. Setelah berada di depan pintu, aku menoleh ke belakang. Porche hitam itu sudah meninggalkan halaman depan.


****



Aku membuka pintu dengan agak sempoyongan. Kutekan kepalaku, terasa pening. Sambil berpegangan pada dinding ruangan, aku melewati ruang depan, masuk ke ruang tengah buat kembali ke kamar ku. Dan di ambang ruang tengah aku mendapatimu sedang berbalik dari meja makan dengan sebuah nampan terisi penuh minuman.

"Sonsaengnim .... " Aku merapatkan mata dan ... bukk ambruk ke lantai.

Brakk!! Sangat samar aku mendengar dentingan barang-barang jatuh ke lantai. Dan sepasang tangan kekar menarik ku bangun.

"Goo Hye Sun!!"

Aku mendengarmu berteriak. Telapak yang terasa hangat mendarat di pipiku dan menepuk berulangkali.

"Gwencana?" Benarkah tersirat kegelisahan dalam suaramu? "Yaa--Goo Hye Sun!! Sadar!!"

Aku memicingkan mata dengan lemah. "Son .. saengnim .. ," gumamku, hampir tak terdengar.

"Yaa--paboya!! Belum sembuh benar, kenapa memaksakan diri keluar?!!" Aku melihat sinar amarah dalam bola matamu. "Bisa bangun?" kemudian suaramu melembut.

Aku mengangguk dan berusaha bangun dengan dibantu olehmu. Tapi keadaanku masih sangat lemah. Aku langsung ambruk kembali .. kali ini di dadamu.

"Goo Hye Sun!!!" Seruan khawatir itu terdengar lagi.

Tanpa sadar, aku tersenyum. Pabo? Ya, aku juga merasa begitu. Masih bisa tersenyum dalam keadaan begini memang kedengaran bodoh. Namun aku tidak perduli. Berada dalam pelukanmu, aku merasa nyaman. Seakan tidak ada lagi yang akan melukaiku, mencelakakanku .. aku ingin begini, selamanya ..

"Bisa jalan?"

Aku mengangguk pelan. Tapi begitu satu langkah, aku sudah goyah kembali.

"Yaa--kau ini keras kepala!" Kau mengomel.

Aku tersenyum kecut. "Miane ... "

"Huh--" Kau menghela nafas, kemudian .. "Biar kugendong saja!"

Apa aku tidak salah dengar? Perkataan itu terlalu jauh sehingga aku tidak yakin telah mendengarnya. Tapi ... tidak!! .. Aku merasakan tangan kekarmu melingkari pundak ku, sebelahnya lagi menyelip ke belakang pahaku dan .. aku sudah berada dalam gendonganmu sekarang.

"Setelah minum obat nanti, istirahat dulu. Jangan kemana-mana lagi ... " Suaramu terdengar begitu dekat .. mendayu-dayu di telingaku .. sangat merdu dan menenangkan .. bak nyanyian dari surga. "Sonsaengnim akan selalu berada di sini--di sisimu. Araso?" Apa kau mengatakannya dengan sepenuh hati? Aku berharap demikian. Karena aku menangkap sesuatu yang tulus dan ikhlas dalam suara itu.

Kau membawaku ke kamar kemudian membaringkanku dengan sangat hati-hati ke atas ranjang, seakan aku ini benda rapuh yang gampang pecah. Dan terus terang, aku tersanjung dengan perlakuanmu ini. Aku membuka mata pelan-pelan dan berkata halus. "Gumawo .. buat semuanya .. "

Kau menyentuh kepalaku, untuk kemudian mengucek rambutku. "Pabo .. Istirahatlah .. Sonsaengnim akan membawakan obatmu ... "

Aku mengangguk perlahan. "Ne ... "

Lalu kau keluar kamar, menutup pintu dengan sangat pelan.


******



Gukk, gukk, gukk ...

Aku mendengar anjing menyalak. Kemudian sesuatu yang lembut bak kapas menyentuh tanganku. Perlahan kubuka mata ini. Hal pertama yang tertangkap oleh mataku adalah bulu-bulu halus berwarna coklat muda, kemudian sepasang mata bola yang berkejap-kejap dengan cerianya. Tak kuasa, aku tertawa terbahak.

"Peanut!!"

Gukk ..

Peanut meloncat ke atas tubuhku, menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat wajahku.

"Yaa--yaa--cukup .. ha .. ha .. " Aku tertawa geli. Lidah kasarnya ini begitu mengelitik wajahku, apalagi bulu-bulunya yang membuatku pingin bersin.

Tiba-tiba sepasang tangan panjang mengangkat Peanut dari tubuhku.

"Jangan ngangguin omma yang lagi sakit, anak bandel!"

Itu suaramu! Aku melebarkan mata dan sekarang pandanganku jadi jelas. Pemilik sepasang tangan itu benar kau adanya. Peanut meronta-ronta dalam rangkulanmu, tapi kau tak melepaskannya. Setelah berdiri dari bangku, kau membungkuk dan meletakan Peanut ke lantai. Anak anjing bandel itu berputar-putar di tempatnya dan membuat gerakan siap meloncat ke atas ranjang lagi. Dengan sigap kau segera menangkapnya.

"Kau memang bandel!" decakmu seraya menepuk kepalanya.

Peanut mengangkat kepala dan memperlihatkan mimik tidak senang. Dia mengeram dan menatapmu bulat-bulat.

"Tidak, tidak, appa tidak melarangmu bermain dengan omma, sayang. Tapi tidak sekarang. Omma lagi sakit, jadi kau mesti jaga sikap antusiasmu itu .. jika tidak, kau bisa menyakiti omma, araso?" Seakan Peanut itu manusia, kau memberi kuliah panjang lebar padanya, sampai-sampai aku tidak kuasa menahan tawa. Sebentar saja ruangan ini gempar oleh suara tawaku.

Kau berpaling dengan alis berkerut. "Weeyo?"

"Ehh--" Tawaku terhenti. Dengan sekuat tenaga aku menahannya agar tak meledak lagi. Kututupi mulut ini dengan sepasang tangan. Bahkan bibirku kugigit keras-keras. “A .. apakah .. pestanya .. dilanjutkan?” tanyaku beberapa saat kemudian, berusaha mengalihkan perhatian ke arah lain.

Kau menarik badan ke belakang dan mengangkat bahu. “Makanan-makanannya sudah kubereskan. Begitu juga dengan dekorasi yang sudah dirancang. Hoon dan Eun-Hye juga—setelah mengira kau akan merayakan ulang tahun di luar, memutuskan date malam ini .. “ Kau meletakan Peanut ke lantai kemudian memutar kursi dan duduk di depanku.

“Oh—“ Aku menghela nafas. Kemudian kusandarkan kembali punggungku ke kepala ranjang. Ada penyesalan merasuki hatiku. Karena kedatangan Dongsae yang mendadak, akhirnya rencana pesta istimewa yang sudah kalian persiapkan berantakan.

“Tapi, meskipun begitu … “

Aku mengangkat wajah perlahan.

Kau tersenyum lalu memutar tubuh ke belakang. Sebentar saja sesuatu sudah berada dalam tanganmu.

“Kue ulang tahunnya masih utuh .. ,” katamu sambil menyodorkan kue ulang tahun yang kulihat beberapa waktu lalu di ruang makan. “Saengilchukae, my little coward .. “

“Sonsaengnim … ,” ujarku pelan. Aku tak percaya. Ternyata kau masih menantikan kepulanganku buat potong kue bersama.

“Make a wish .. ,” katamu sambil memandangiku.

“Hmm—“ Aku tersenyum. “Lilinnya belum dinyalakan .. ,” ucapku dengan nada .. apakah tidak terdengar sedikit manja?

Kau mengangguk lalu mengambil geretan dari atas meja. “Perlu kutambahkan lilinnya?” godamu.

Aku segera mengeleng cemberut. “Aniyo!!”

“Ha .. ha .. ha .. “ Kau tertawa. “Okay—sonsengnim hanya bercanda .. “

“Eh—“

Kau mulai menyalakan lilin-lilin yang terpasang di atas kue. Ada sekitar tujuhbelas batang. Setelah itu kau mematikan geretan dan menaruhnya kembali di atas meja, untuk kemudian menyorongkan kue tersebut ke hadapanku.

“Happy birthday to you .. happy birthday to you .. happy birthday, happy birthday .. happy birthday to you .. “ Suaramu yang serak-serak basah berkumandang dalam ruangan.

“Make a wish .. “ Perintahmu sekali lagi begitu melihatku terbengong-bengong di tempat.

“Oh—“

“Semoga kau bahagia selalu .. ,” tambahmu kemudian.

“Gumawo .. “

Aku tersenyum lalu perlahan memejamkan mata. I make a wish! Apa itu? Kurasa jika disebutkan akan tidak terkabul, karena itu biar kusimpan dalam hati saja. Kubuka mataku kemudian meniup seluruh lilin sampai padam.

“Apa yang kau harapkan?” tanyamu pelan.

Aku menatapmu kemudian mengeleng perlahan. “Apa sonsaengnim tidak tahu kalau pengharapan yang dikatakan akan tidak terkabul?”

“O—“ kau tertawa lalu mengangkat bahu. “Okay .. “

“Kita potong kuenya! Aku sudah tidak sabar lagi untuk mencicipinya .. ," seruku bersemangat. Lalu kuangkat pisau ke atas sambil mengamati kue di hadapanku. “Kue ini terlihat lain .. Apa sonsaengnim yang membuatnya sendiri?” tanyaku asal.

“Ne .. “

Jawaban itu membuat tanganku yang sudah bersiap memotong kue terhenti.

“Dhe?”

“Memang kue ini buatanku sendiri .. ,” jawabmu.

“Jeong .. mal?” tanyaku tak percaya.

“Ne .. “ Kau mengangguk. “Apa kau tak tahu kalau sonsaengnim juga pandai di dapur?”

Aku mengeleng perlahan-lahan.

Lalu kau melanjutkan. “Hanya saja, sonsaengnim tidak punya waktu melakukannya selama ini .. Sonsaengnim koki yang baik, tahu?“ Kau terkekeh pelan.

“O—“ Aku membuka mulut lebar-lebar. Tidak disangka seorang pria sekeren kau, pandai memasak ^^.

“Lain kali sonsaengnim masak buatmu .. ,” lanjutmu sambil menatapku dengan mata berbinar.

Apakah terkandung sesuatu dalam pandangan itu? Semoga saja!

“Sekarang ayo potong kuenya!”

Tambahanmu mengejutkanku. Aku tersentak kemudian mengembalikan cara duduk ke posisi wajar.

“NE!!”

Sebentar saja ruangan ini ramai oleh suara kita. Sambil sesekali diselingi salakan-salakan dari Peanut yang memojok malas di kaki ranjang. Aku memandangimu—puas melihat tawa lebarmu. Bagiku sekarang, hari esok tidak begitu penting lagi. Yang kuinginkan hanya menikmati kebersamaan saat ini. Kau menemaniku walaupun tidak ada kepastian dalam hubungan kita. Kau sonsaengnim ku, tidak lebih dari itu. Tapi, apa itu penting? Aku berpikir, lebih baik menghayati kebersamaan daripada mengkhawatirkan ending yang tidak pasti. Kurasa, aku mulai dewasa.


*******



Seminggu kemudian, ..
Aku berdesak-desakan dengan beberapa siswa kelas menengah menuju Universitas Seoul yang berada di sebelah gedung sekolah.  Aku celingak-celinguk dengan perasaan was-was.  Apakah acara pelantikannya sudah selesai? Namun, begitu berada di aula utama yang besar dan luas, aku sadar bahwa acara tersebut sudah berakhir. Itu dapat dilihat dari lengang dan sunyinya aula ini.

"Yaa--ternyata benar-benar terlambat!!" umpat seorang adik kelas ku pada temannya.

"Iya--huh!!" sahut temannya sambil mengerutu. "Gagal deh menyaksikan Minho sunbae diwisuda!"

Aku mengepalkan tangan lalu segera berbalik, berlari sepanjang lorong kampus sampai tiba di gerbang depan yang sudah dipenuhi murid-murid dari sekolahku dan dua sekolah di blok sebelah. Sebuah bus tampak merapat ke terminal. Tanpa memperlambat laju lariku, aku meloncat ke dalam bis ... sehingga tak sengaja terinjak olehku kaki siswa lain yang berdiri dekat pintu.

"Akh!!" teriak siswa cowok itu.

Aku mengangga. "Mi ... mia .. ne .. ," ucapku gugup.

Cowok itu mengangkat kepala dan aku segera mengenalinya sebagai kakak kelas yang duduk di kelas tertinggi dan terjenius, 3A.

"Aish, kau--!!" tunjuk sunbae yang tidak kuketahui namanya itu.

Aku semakin gugup. Segera saja aku membungkuk dalam-dalam. Tapi sialnya, .. tak kusadari tenyata sunbae ini berdiri dalam posisi yang begitu dekat dariku. Tak pelak lagi kepalaku terantuk di dadanya.

"AHHH!!!" Aku berteriak. Segera kututup mulut ini dengan tanganku.

Sementara itu, sunbae yang kutabrak itu mendengus. Dia mengelus dadanya yang mungkin sudah meninggalkan bekas merah akibat benturan tadi.

"Aku mengenalimu!" ucap sunbae itu tiba-tiba.

"Dhe?" Mataku membulat. Dia mengenaliku? Maksud dari pernyataannya? Sungguh-sungguh mengenaliku?--AKU?--yang benar aja, ..

"Little Coward!!" ungkapnya dengan mata mengatup hampir segaris.

MWO?!! Segitu terkenalnyakah aku?

"Su .. sunbae .. tahu dari mana?"

Cowok yang termasuk keren--tidak, maksudku SANGAT KEREN itu menyengir. "Saya rasa seantero sekolah juga tahu ... ," Lalu mendadak tubuhnya condong ke depan, hampir mengenai wajahku. Dia menyengir semakin lebar. "Termasuk .. kampus sebelah ... "

Gubrak, mampus deh! Memalukan sekali hikss ...

"Ha .. ha .. ha .. " Sambil tertawa renyah, sunbae keren tapi menyebalkan itu meninggalkanku terbengong-bengong sendiri. Dia menyeruak barisan beberapa murid dan menghilang ke dalam bus. Aku mendengar cekikikan dari yang lain. Dan satu hal lagi yang membuatku ingin segera menyembunyikan diri di kolong jembatan, meja atau apa dan di mana saja deh. Kok sopir bus ini ikut-ikutan menyengir lebar begitu mendengar ejekan sunbae tadi ><


*******



"Sonsaengnimmmm!!!!"

Teriakanku membahana begitu pintu depan kubuka. Brakk! Pintu tersebut kuhempaskan sampai terayun keras mengenai dinding. Aku menghambur ke dalam apartemen, melewati ruang depan sampai di ruang makan. Namun, langkahku segera terhenti oleh tatapan heran onnie yang berdiri di tengah-tengah ruang makan dengan tangan menyangga nampan yang terisi makanan.

"Wegude?" tanya onnie.

"Son .. sonsaengnim .. " Aku berkata dengan nafas tersengal-sengal. "Ma .. mana .. son .. saengnim ... ?"

"Ada di kebun belakang .. ," jawab onnie dengan alis berkenyit. "Weeyo?"

"Ke .. kebun belakang?" balasku heran.

"Ne," jawab onnie. Tangannya yang memegang nampan diangkat ke atas, lalu dia menunjuk ke belakang apartemen dengan bibirnya. "Kami mengadakan pesta ... "

"Pesta?" potongku cepat. "Pesta apa?"

"Tentu saja pesta peresmian Minho sebagai seorang psikolog .. ," ujar onnie. "Memangnya kau tidak tahu dia diwisuda hari ini?" katanya kemudian, .. balas bertanya dengan ekspresi terheran-heran.

"A .. aku tahu .. ," sahutku gugup. Bagaimana tidak jika sehabis bel tanda pulang berbunyi, aku sudah nyelonong ke kampus sebelah? >< "Ta .. tapi kenapa secepat ini? Maksudku--sore ini juga?"

"Ne .. ," jawab onnie sambil membalikan badannya, ... menghadap ke pintu dan berjalan keluar.

"Kenapa semendesak itu?" Aku segera mengejarnya. "Kenapa tidak dirayakan besok saja? Ini kan sudah sore, .. lagian persiapannya pasti kurang matang ... Masih banyak yang harus dikerjakan kan? Seperti dekorasi, dan .. "

Onnie menghentikan langkahnya dan menoleh padaku. "Tidak ada waktu untuk itu!" Dia memutus perkataanku. "Minho harus kembali ke New York malam ini .. ," lanjutnya kemudian.

"MWO?!!" Kurasa, teriakan ini sudah mengalahkan gemuruh guntur yang pecah di kala badai. Mataku--jika saja punya kemampuan untuk itu, mungkin akan meloncat keluar dari rongganya. 'Aku sangat terkejut--SUNGGUH'. Kenapa tidak ada yang mengabariku sebelumnya tentang berita ini? Kenapa?

Onnie mengangguk. Terlihat kemuraman tersirat di wajahnya. "Minho juga baru mengetahuinya tadi siang. Abojinya menelepon dan memintanya untuk segera kembali, .. katanya ada yang harus diurusnya, segera. Well, ... " Onnie mengangkat pundaknya. " .. mungkin berkaitan dengan perusahaan keluarganya .. "

"Perusahaan?" Okay, aku semakin kacau, .. semakin tidak mengerti dengan pembicaraan ini. Perusahaan keluarga? Apa yang dimaksud onnie dengan perusahaan keluarga? Bukankah kau kuliah di jurusan psikologi, yang dengan sendirinya kau merupakan seorang calon psikolog yang akan membuka praktek sendiri?

"Iya, perusahaan .. ," sahut onnie. Setelah terdiam sejenak dan mengamatiku lekat-lekat, dia melanjutkannya kembali. "Ada baiknya perihal itu, kau tanyakan sendiri. Biar Minho yang menjelaskannya padamu. Onnie rasa, tidak bijak rasanya jika onnie yang membeberkan semuanya .. " Lalu onnie menunjuk piring-piring yang terisi penuh yang masih bertaburan di atas meja. "Bantu onnie mengeluarkan makanan-makanan itu .. "

"Tapi onnie .. " Aku berusaha membantah buat mendapatkan penjelasan lebih lanjut. Tapi percuma saja, .. onnie sudah bergerak ke ruang belakang.

"Ke taman belakang, Hyesun-a!"

"Onnie!!" Aku berlari-lari kecil di belakang onnie, lalu menyentuh pundaknya.

Onnie menoleh, tapi dia tidak berusaha menjawab pertanyaanku. Dia tersenyum dan mengangkat bahu perlahan. "Onnie yakin Minho akan menjelaskannya padamu .. "


******



Langkahku terhenti di ambang pintu belakang. Suara-suara berisik segera mengusik pendengaranku. Beberapa, atau lebih tepatnya, sekelompok orang--baik cowok maupun cewek tampak sedang berkerumun di tengah taman. Mereka kukenali sebagai sunbae-sunbae yang kuliah di Universitas Seoul. Bahkan beberapa sunbae cewek di antara mereka pernah bertandang ke apartemen kita beberapa waktu lalu.

"Little Coward!!!!" Tiba-tiba salah seorang dari mereka bersorak padaku, yang tentu saja langsung diiringi pecahnya tawa sunbae-sunbae yang lain.

Aku memberengut, kesal. Dan tawa mereka semakin keras dan memekakan telinga. Beberapa di antaranya malah memukul-mukul paha saking gelinya. Samar-samar aku melihat cengiran mengejek dari wajah mereka. Perasaanku makin menciut kalau sudah diperlakukan begini. Mereka seakan bersorak di atas penderitaanku. Aku jadi bertanya, kenapa mereka setega itu?

Perlahan aku mengalihkan perhatian ke arah lain. Dan tertangkap olehku, kau yang duduk di barisan paling pojok, agak terselubungi oleh sunbae-sunbae yang lain. Aku mendapatimu sedang menatapku, .. dengan ... raut datar yang tidak mampu kutafsirkan artinya. Ada apa sebenarnya dibalik pandanganmu itu?

"Onnie yang mengundang mereka!" Onnie yang berada di depanku tiba-tiba bersuara.

"Dhe?" Aku terperanjat kaget. "Maksud onnie?"

Onnie tersenyum. "Pesta ini akan lebih ramai dan seru dengan kehadiran mereka .. Miane tidak mengabarimu, .. Namun, kau tak berkeberatan kan?"

"A .. aniyo ... " Bohong!! Bohong besar! Bagaimana mungkin aku tidak keberatan?!!

"Bagus kalau begitu .. ," kata onnie selanjutnya.

Aku tersenyum, .. kecut?

"Ayo, bawa makanan-makanan ini ke sana. Acara sebentar lagi dimulai .. "

Aku mengangguk dengan terpaksa. Akhirnya aku hanya bisa mengikuti onnie, bergabung dengan orang-orang yang bersenda gurau dalam taman.


*******



Dua jam berlalu sudah. Dengan malas kumasukan makanan-makanan dalam piring di pangkuanku ke dalam mulut. Sudah ketiga kalinya kutambahkan makanan-makanan ini. Perutku terasa penuh namun tidak kuhentikan kelakuan gila ini karna aku tidak ingin bergabung dengan mereka yang lagi tertawa-tawa keras dalam taman.

Para sunbae itu terus-terusan mengerumunimu, terutama yang cewek. Berulangkali kudengar pertanyaan-pertanyaan centil dari mereka, .. seperti--kapan kau kembali, apakah kau sudah punya pacar, apa tidak sebaiknya memilih salah seorang dari mereka, dan bla bla bla ... Aku mengeram--Ingin sekali kututup telinga ini rapat-rapat. Alih-alih tidak perduli, kupalingkan wajah kearah lain. Sambil menghela nafas, aku menumpukan dagu di atas telapak tangan. Lalu kuangkat garpu yang tertusuk sebutir strawberry dan memasukannya ke dalam mulut.

"Jangan makan terlalu banyak .. "

Aku tersentak, .. segera saja kupalingkan wajah. "Sonsaengnim ... "

"Kulihat sedari tadi kau makan terus ... ," katamu sambil menjatuhkan diri di atas bangku di sebelahku.

"Minho-a!!!" teriak salah seorang sunbae--menghentikan perkataan yang siap kuluncurkan.

Kau mengangkat tangan dan melambai padanya. "Bentar!!" Lalu kau berpaling kembali padaku. "Kenapa tidak bergabung dengan yang lain?"

Aku memalingkan muka ke arah lain. "A .. aku tidak suka .. ," ujarku lirih.

Kau mengangguk. "Okay, .. terserah kau saja ... "

Sebentar kemudian keadaan menjadi sunyi. Aku meremas jemari tangan sambil mengunyah pelan strawberry dalam mulutku. Sedangkan kau, memusatkan perhatian ke depan, dalam jangka waktu yang cukup lama. Entah apa yang kau pikirkan.

Aku melihatmu bergerak sedikit, lalu berdeham pelan. "Boleh kutanyakan sesuatu?" tanyamu pelan.

Aku berpaling. "Dhe?"

Kau mengatur nafas lalu menoleh padaku. "Apa kau menyukaiku?"

"DHE?" Aku tersentak kaget. Segera saja mataku membulat, terbelalak lebar--Kau sedang bercanda kan? Kenapa tiba-tiba menanyakan pertanyaan seperti ini? Aku tertawa kikuk, .. tanpa tahu harus berbuat apa, aku membuang muka kearah lain. "A .. aniyo ... tentu .. saja ... ," ujarku terbatah-batah. Ya, apalagi yang bisa kukatakan >< ..

"Tidak?" Kau mendesis.

Aku melirikmu. Sekilas kulihat kau mengangguk--tersenyum?

Tanganmu terangkat dan mengacak rambutku. "Dasar, si pengecut kecil .. " Lalu kau beranjak bangun dari bangku.

"Sonsaengnim!" panggilku cepat. Aku tidak tahu apa maksud dari reaksimu barusan, .. namun sungguh, bukan niatku menjawab seperti itu. Dan aku berharap kau mengerti. "Mau .. mau ke mana?"

Kau tak menjawab. Masih dengan senyuman tersungging di bibir, kau berbalik menghadapi para sunbae yang sekarang tampak sibuk membereskan sisa-sisa peralatan pesta.

"Aku masuk dulu!" katamu sambil menunjuk ke dalam apartemen. "Bersiap buat keberangkatan nanti malam. Maaf merepotkan kalian membereskan semuanya!"

Sunbae-sunbae tersebut mengangkat tangan. "Sip!! Thanks buat undangannya!"

Kau balas mengangkat tangan ke atas. "Sama-sama!"

Lalu kau mulai bergerak dari tempatmu.

"Sonsaengnim .. ," panggilku lirih. Tapi seolah tidak mendengar panggilanku, kau terus saja melangkah, sampai menghilang di balik pintu.

"Ada apa dengan mereka?"

Aku mendengar Hoon oppa bertanya. Aku menoleh ke belakang dan kulihat onnie mengeleng pelan.

"Bantu yang lain membereskan tempat ini. Akan kususul Minho!" kata onnie sambil menepuk pundak Hoon oppa.

Hoon oppa mengangguk. Kemudian, agak terburu-buru, onnie berlari ke dalam rumah.


******



"Sudah beres semuanya?"

Pertanyaan Eunhye membuat Minho berpaling. Pemuda itu kemudian mengangkat kopernya ke atas meja.

"Ne .. ," jawabnya pelan, sambil memasukan beberapa helai kaos yang sudah dilipat rapi ke dalam koper.

"Tak perlu dipertimbangkan lagi?" lanjut Eunhye.

"Mwo?" tanya Minho kemudian.

"Hyesun!" sahut Eunhye tegas. "Aku yakin kau tahu ke arah mana maksud pertanyaanku!"

Minho mengangkat pundaknya. "Kau tahu aku tak punya pilihan lain!" lalu dia tersenyum.

"Kau bisa!" tandas Eunhye cepat. Dia memasuki kamar Minho dan menjatuhkan diri di atas ranjang. "Asal kau mau mengutarakannya .. "

Minho mendesah. Dia memasukan tumpukan pakaian terakhir ke dalam koper dan menutupnya, kemudian berjalan ke arah Eunhye. Dia ikut menjatuhkan diri di sebelah cewek itu.

"Tadi aku menanyakannya pada Hyesun .. ," ujar Minho pelan. Senyum tipis tergantung di wajahnya.

"Dhe?" tanya Eunhye tak mengerti.

"Aku bertanya padanya, apakah dia menyukaiku .. ," jelas Minho.

"Mwo?" Eunhye terperanjat. "La .. lalu, a .. apa jawabannya?"

"Menurutmu?" Minho balas bertanya.

"Di .. dia menghindar?" Eunhye menebak.

Minho mengangguk. Anehnya, dia tidak kelihatan kecewa dengan tebakan jitu Eunhye. "Ne!"

"Oh--" Eunhye membuka mulut--Seperti perkiraannya! "Lalu apa rencanamu? membiarkannya begitu saja? Kau tahu sendiri kan, Hyesun selalu labil?"

"Aku tahu!," jawab Minho cepat. Sambil beranjak bangun dari ranjang, dia melanjutkan, "Tapi aku tidak ingin mendesaknya, .. Kurasa dia perlu waktu untuk berpikir .. "

"Berpikir?" Eunhye mengangguk. "Ya, mungkin kau benar. Dia butuh waktu berpikir .. "

"Karna itu, tolongin aku menjaganya ya .. ," kata Minho. Dia menjatuhkan koper ke lantai, lalu berbalik menghadapi Eunhye. "Lagipula .. ," lanjutnya ragu-ragu. Dia terdiam sesaat, sebelum akhirnya tersenyum kembali. " ... lagipula, kau tahu ada yang harus kuselesaikan. Sebelum semuanya jelas, aku tidak ingin mengisyaratkan apa-apa terhadapnya. Itu akan sangat tidak adil baginya .. "

"Iya .. " Eunhye mengiyakan. "Semua perlu proses .. "

"Aku akan kembali .. ," ujar Minho kemudian. "Aku pasti kembali!"

"Bagus kalau begitu .. " Eunhye tersenyum.

"Selama kepergianku, kuharap semuanya baik-baik saja .. "

"Tenanglah!" Eunhye bangun dari ranjang dan menyentuh pundaknya. "Kami akan memastikan segala-galanya baik-baik saja. Sampai kau kembali nanti, kau akan mendapatkan kalau Hyesun sudah berubah, lebih cantik dan dewasa dari sekarang .. "

Minho tertawa. "Semoga saja .. " Lalu dia melihat jam tangannya. "Baiklah, sudah waktunya berangkat .. " Dia meraih Eunhye ke dalam pelukannya. "Aku juga akan merindukanmu .. "

"Ne, me too .. "

Minho menyeret kopernya ke arah pintu, dengan diikuti Eunhye. Tapi kemunculan seseorang menghentikan langkahnya.

"Kau sungguh-sungguh akan pergi?" tanya Hoon.

Minho mengangguk.

"Lalu bagaimana dengan Hyesun?"

Minho tersenyum, untuk kemudian menepuk pundak Hoon. "Kuserahkan Hyesun dan Eunhye ke tanganmu, bro .. Jaga mereka baik-baik .. "

"Mwo?" tanya Hoon heran.

Minho tidak menjawab, malah menunjuk jam tangannya. "Saya harus pergi sekarang! See you .. " Dia merangkul Hoon sekilas lalu melanjutkan menyeret kopernya keluar kamar. "Kalian tidak perlu mengantarku!!" serunya dari ruang depan.

Hoon mengenyitkan alis terheran-heran. "Ada apa ini?" tanyanya tidak mengerti. Lalu dia menoleh pada Eunhye. "Bukankah katamu Minho menyukai Hyesun?"

"Memang . . ," jawab Eunhye enteng.

"Lalu kenapa dia pergi begitu saja?"

Eunhye membalas tatapan Hoon. Sebentar kemudian dia tersenyum. Ditepuknya pundak pacarnya itu. "Saya yakin Minho tahu apa yang dilakukannya ... "

"Benarkah?" tanya Hoon tidak yakin.

Tapi Eunhye langsung meyakininya dengan anggukan tegas. "Ne!"

"Tapi bukankah cinta mesti dipertahankan? Bukan membiarkannya begitu saja?" Hoon masih tidak mau kalah.

Eunhye mendesah, lalu berkata lirih, "Untuk kasus Minho ini lain. .. Dia sudah berusaha .. Saya yakin dia akan melakukan yang terbaik .. "

Hoon mengamati Eunhye sejenak. Sampai akhirnya dia hanya bisa mengangkat bahu--menyerah.


******



Semua sudah pergi, .. meninggalkan meja, bangku dan taman yang sudah dibersihkan dari peralatan-peralatan bekas pesta. Sementara aku, masih terpaku di tempat. Duduk dengan wajah menengadah ke langit. Memandangi angkasa kelam yang tidak dihiasi bintang dan bulan, ... hanya ditemani suara-suara jangkrik malam yang mulai bernyanyi ria.

Aku mendesah, .. tidak berani melangkahkan kaki masuk ke dalam, apalagi menghantarmu pergi. Aku sadar, semuanya sudah terlambat, .. kau sudah meninggalkan apartemen ini, .. mungkin saja--sudah berada dalam pesawat yang akan membawamu ke New York, kembali ke tempat asalmu.

Aku bergerak sedikit, lalu menunduk memandangi rumput-rumput pendek yang mengalasi taman.

Aku tahu semua ini bakal terjadi--suatu saat nanti, kau akan meninggalkanku. Aku tahu, .. mestinya mempersiapkan diri--ya, mestinya begitu. Namun .. yang tak kukira, moment ini datangnya begitu cepat. Aku belum siap ... Sungguh, aku belum siap ditinggalkan olehmu. Masih banyak yang ingin kulakukan bersamamu. Jawaban atas pertanyaanmu tadi--juga hanya kebohongan semata. Aku ingin menjelaskan padamu! Kenapa tidak diberi kesempatan untuk itu? Kenapa?!!

Tanpa terasa, airmata menitik turun .. dan bercucuran dari pelupuk mataku. Aku menelungkupkan diri di atas meja, lalu menangis tersedu-sedu.


******
« Last Edit: March 26, 2011, 04:05:26 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Saya kembali dengan id baruuu.huohohoho
Mamiiii kasian bener terakhirnyaaa..
Haaaaa ga relaaa mi :'(
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline itaraya

  • Senior
  • ****
  • Posts: 722
  • ~can' t take my eyes off you~
    • View Profile
mami gumawo  [hug] [hug]
sweet chapter mam, minho dah berani nunjukin perasaannya ke hyesun punk punk
jyaah,,minho pake tanya ama hyesun suka ato nggak, namanya juga littlet cowardlah gak bakal ngaku dia [nono] [head break]
Jae Won akan jadi temannya hyesun ya selama minho pergi, iya kan [what] [chin]
gak rela sonsaengnim pergi, hiks...hiks...  [heh] [heh], kembalikan sonsaengnimku... gunsmilie gunsmilie
[lovestruck][lovestruck]
saggy credit to mami love

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ita dan aii, kepergian minho tuh harus [sweat]  masih ada yg hrs dilakukan/dikerjakannya selain menjaga little cowardnya terus-menerus [heh] harap dimaklumi ya [hmpfh] [hmpfh] perkembangan cerita selanjutnya, diikuti aja terus ya [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline dafa yuvi

  • Junior
  • **
  • Posts: 202
  • love is trust
  • Location: surabaya
    • View Profile
omooo,,, mami ini first koment di litle coward , tapi selalu setia bca,, alias pembaca rahasia,, hehe mianhae,,,
aku mewekkk [what] [ohmy] sonsaengnim,, kenapa sih cepet bgtz ninggalin litle coward... hiks hiks,,,, hang gak tega liat coward,,,,, cinta harus dipertahankan,,, [cry] [cry] [cry]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
omooo,,, mami ini first koment di litle coward , tapi selalu setia bca,, alias pembaca rahasia,, hehe mianhae,,,
aku mewekkk [what] [ohmy] sonsaengnim,, kenapa sih cepet bgtz ninggalin litle coward... hiks hiks,,,, hang gak tega liat coward,,,,, cinta harus dipertahankan,,, [cry] [cry] [cry]
hi welcome dear,,,
bukan maksud sonsaengnim meninggalkan little cowardnya, ada yg hrs diurusnya, berkaitan dgn permintaan ortunya dan [chin] msh ada sesuatu,, apa itu? elu tunggu aja ha [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline revynska

  • Police
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1639
    • View Profile
Mommyyyyyyyyy tengkyu udin diupdate ^^
so sweeeeeettttttt chap yg ini bener2 care bgt sm si little coward senengnya tau sonsaengnim mengakui dy jg suka sm hyesun paling enggak itu diucapkan walaupun sm sahabatnya bukan hyesun
Yah waktu yg dinanti akhirnya dtg jg sonsaengnim pergi de hiks hiks T.T smoga nanti kalo sonsaengnim balik hyesun bs ksh surprise ke dy cengo de tu liat hyesun udin jd wanita yg jauh lebih cantik dewasa n ga pengecut lg kyk dulu hihi


ADAM COUPLE SELCA

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Mommyyyyyyyyy tengkyu udin diupdate ^^
so sweeeeeettttttt chap yg ini bener2 care bgt sm si little coward senengnya tau sonsaengnim mengakui dy jg suka sm hyesun paling enggak itu diucapkan walaupun sm sahabatnya bukan hyesun
Yah waktu yg dinanti akhirnya dtg jg sonsaengnim pergi de hiks hiks T.T smoga nanti kalo sonsaengnim balik hyesun bs ksh surprise ke dy cengo de tu liat hyesun udin jd wanita yg jauh lebih cantik dewasa n ga pengecut lg kyk dulu hihi
gw kok ga yakin hyesun bisa berubah [hmpfh] and ingat perjodohan yg dipaksakan ommanya [sweat] [sweat] konflik selanjutnya bakal lebih rumit lagi [goodgrief]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline dafa yuvi

  • Junior
  • **
  • Posts: 202
  • love is trust
  • Location: surabaya
    • View Profile
hehehe iya mami love,, *jiah sok knal*
aku akan kembali, aku pasti kembali,,, uhhhhh [jumpy] tapi kasiannn tuh cowardnya nangis,,, ckckck
tetep salut am mami,,, [clap]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
benar2 lemas tbhq baca lo min ho mau pergi ke new york.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
benar2 lemas tbhq baca lo min ho mau pergi ke new york.


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
mami chap ini bikin nyesek gw aja bacanya jdi terharu apalagi pas bagian2 akhir...mam berarti ada jumping timenya dong? brp tahun mam?

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mami chap ini bikin nyesek gw aja bacanya jdi terharu apalagi pas bagian2 akhir...mam berarti ada jumping timenya dong? brp tahun mam?
no no,, no jumping time [nono] [nono] minho perginya ga lama kok. dia kan udah berjanji akan kembali. setelah urusannya beres, dia akan kembali sesuai janjinya. DIA PASTI KEMBALI [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline goo meei

  • Full
  • ***
  • Posts: 404
  • i love MINSUN
  • Location: denpasar
    • View Profile
mami [cheekkiss] makasih dah di update....
awalnya sweet banget...tapi akhirnya kok tragis [cry] [cry]???
mi jangan biarin minho pergi lama donk....ya mam....sekali lagi makasih dah update [cheekkiss]