BEHIND THE SHINNING STAR
SEASON I
Part 2
Sudah dua jam Mobil Mino berada di area parkir apartemen Sun, dan Mino masih saja duduk di balik kemudi, dia memandang ke tempat dimana Sun biasa memarkir mobilnya, tempat itu masih kosong, pertanda Sun memang belum pulang.”Apa benar dia ke rumah orang tuanya?” Mino jadi berpikir ulang,”Tapi sampai semalam ini? Apa dia menginap di sana?”
Wajahnya sumringah saat sebuah mobil akhirnya terparkir mulus di sana, dengan jelas Mino bisa melihat Sun keluar dari mobil itu dan memasuki apartemen. Mino tidak segera keluar dari mobil, tentu saja tidak semudah itu, dia harus memastikan keadaan aman dan tidak ada seorang pun yang melihat kehadirannya di situ. Dia memakai topi dan kaca mata hitam untuk menyamar, lalu turun dari mobil dan berlari menuju apartemen Sun.
Mino memutar ganggang pintu apartemen Sun. Terkunci! Dia merogoh saku celananya, sial! Kunci apartemen Sun ketinggalan di apartemennya. Tidak ada jalan lain, dia memencet bel. Tidak ada jawaban, aneh! Padahal dia yakin kalau Sun sudah memasuki apartemen, apa dia sudah tidur? Mino mencoba menghubungi ponsel Sun, tidak diangkat! Ayolah, angkat, Sun-a…
Seperempat jam berlalu, Mino masih berdiri di depan pintu apartemen Sun. Oke, untuk terakhir kali aku akan memencet bel itu, jika pintu ini tetap tertutup juga, berarti Sun masih marah, Mino memantapkan hatinya. Segera dia memencet bel itu. Entah kenapa perasaannya serasa tentram saat dia mendengar suara langkah kaki mendekat, itu pasti Sun, pikirnya. Benar, kini pintu telah terbuka dan Sun berdiri di sana, menyuruhnya segera masuk.
Sun duduk di sofa ruang tamunya sembari memandang serius ke arah laptopnya. Dia tidak memperdulikan Mino yang memperhatikannya sedari sepuluh menit tadi setelah dia menyuguhkan coklat panas pada kekasihnya itu. Mino tetap saja memperhatikan, dia tidak tahu apa yang membuat Sun sibuk, mengedit skenario lagi kah? Mino tahu proyek Sun selain drama Taiwan menyebalkan itu, apakah itu yang Sun lakukan saat ini? Mengedit naskah filmnya?
Sun masih saja berkutat dengan aktifitasnya, sesekali dia melirik ke kertas berserakan di samping laptopnya. Rambutnya yang basah disibakkan agar tidak menghalangi pandangan. Itulah kenapa dia tadi lama membuka pintu, rupanya sedang mandi.
“Baby..” Mino memberanikan diri memulai pembicaraan.
“Mwo?”
“Soal sms itu….”
Sun tersenyum, tangannya meraih tumpukan file yang tergeletak di samping kanan laptopnya lalu menyodorkannya pada Mino.
“Apa ini, Babe”
“Kontrak-kontrak kerja yang harus aku jalani tahun depan.”
Dahi Mino berkenyit, tidak seharusnya Sun membicarakan pekerjaan sekarang, demi tuhan Mino ingin berteriak,”Sun-a! Aku ingin membicarakan hubungan kita yang sudah di ujung tanduk!!!!”
Tapi tidak ada yang keluar dari mulut Mino, dia malah membaca satu persatu kontrak kerja itu. Taiwan, Taiwan lagi? Kertas ke tiga… Jepang? Kertas keempat…. Bali? Kertas kelima…. Holywood?
“Baby, kenapa… kenapa luar negeri semua?” protes Mino.
“Miane,” Hye sun menampakkan senyum malaikatnya lagi. Demi Tuhan, Mino tidak mengerti apa yang dipikirkan gadisnya itu sekarang? Sun mendekat ke arah Mino, dia menggapai tangan Mino, seakan memohon pengertian di sana, saat tangan mungil itu bertumpu diatas tangan Mino yang kokoh.”Filmku yang akan datang membutuhkan banyak dana, sponsor akhir-akhir ini sangat sulit didapat.”
Mata Mino berkedip-kedip mencerna penjelasan Sun. “Jadi, Min-a, aku harus bekerja keras untuk mendapatkan dana, itulah sebabnya aku menerima semua tawaran itu.”
“Lalu… lalu bagaimana dengan hubungan kita?”
“Soal itu…
Mino menahan nafas. Apa? Apa yang akan Sun katakan? Apa yang akan menjadi keputusan Sun? Mino memejamkan matanya.
“Itu terserah kamu.”
“Mwo?” Mino terkejut waktu mendengar kalimat Sun terakhir, matanya yang terpejam langsung melebar.
“Selama ini aku yakin, kalau dalam suatu hubungan itu, pria-lah yang memimpin, jadi….bagaimanakah jalan dari hubungan ini, kaulah yang menentukan, Min-a.” Sun menghembuskan nafas,”Yah… walau pun aku tahu, hatiku pasti akan sangat sakit dan tidak rela jika suatu saat kau memutuskan hubungan ini, min-a.”
Mino menarik tubuh Sun, dia memeluk Sun dengan erat seketika, “Tidak akan aku lepaskan! Selamanya aku tidak akan melepaskanmu, Sun-a. Miane karena mencurigaimu yang tidak-tidak, miane… aku hanya….
Ah, kenapa begitu sulit mengatakan kalimat itu, Mino….
“Cemburu pada Wu Chun?” tanya Hye Sun setelah melepaskan diri dari pelukan Mino. Wajah Mino jadi merah padam, Sun tertawa sekarang. “Aku tahu, Sayang.”
Mino memeluk Sun lagi, sekarang dengan perasaan lega. Semuanya telah jelas sekarang, mungkin inilah saatnya, inilah saatnya dia merasakan apa yang Sun rasakan setahun yang lalu saat dia membintangi personality taste, kecemburuan, ya…kecemburuan, dia harus mulai siap dengan perasaan itu sekarang. Tapi tunggu, dia jadi tidak lega saat suatu pikiran terlintas di otaknya, “Kenapa tidak langsung menghubungiku setelah pulang dari Taiwan?”
Sun terperanjat, Mino melepaskan pelukan begitu saja, “Kau mau menghindar dariku, Sun-a?”
“Ah.. kau ini! Baru saja kita baikan, kau sudah curigaan lagi.”
“Jawab pertanyaanku, Sun-a!”
“No.” Sun menutup telinganya erat-erat. Mino masih saja menanyakan hal yang sama. Sun masih tidak mau menjawab, dia malah berlari ke kamarnya untuk menghindari Mino. Dengan sigap Mino mengejar dan mencegah saat dia berniat menutup pintu kamarnya itu.
“Pulang sana, aku mau istirahat!” teriak Sun.
“Sido!” Jadilah mereka berdua rebutan pintu kamar, yang satu ingin menutup pintu, yang satunya lagi ingin membuka, siapa yang menang? Well, tentu saja yang bertubuh besar.
“Huuh!!” Sun mendengus sebal sambil menghentak-hentakkan kakinya.
“Jawab pertanyaanku, Sun-a!”
“Karena…. Karena… aku …. Aku kesal dengan ucapanmu di salah satu wawancara, kau memuji-muji hye jin. Oh, Hye Jin Noona selalu mengajariku, apalagi waktu bed scence, cih….” Sun menirukan gaya Mino di wawancara itu.
“Kau juga memuji Wu Chun, kau bilang, Oh…. Aku suka pria berotot, aku tahu Mino akan ngambek mendengar ini, tapi aku tidak takut dia cemburu, Puas!” Mino mengeluarkan kekesalannya. Sun memajukan bibirnya, kesal juga. Mino tiba-tiba bergerak ke ranjang dan menghempaskan diri di sana.
“Hai, siapa yang menyuruhmu, aku bilang pulang!” Sun menarik tangan Mino supaya beranjak dari ranjang, tapi malang baginya yang bertubuh kecil, alih-alih menarik, tubuhnya lah yang tertarik dan jatuh tepat di atas Mino saat Mino menariknya dengan satu gerakan.
Sun terdiam, begitu juga Mino, posisi mereka masih sama seperti tadi, Mino di bawah dan Sun diatas. Mata mereka bertaut satu sama lain. Keduanya tahu bagaimana akhir dari posisi ini nantinya, tapi aneh tidak ada yang segera memulai. Mino yang biasanya memulai ternyata masih mementingkan egonya, dia masih marah akan Wu Chun, dan Sun…. dia hanya menunggu.
“Aku tahu dia masih marah,” batin Sun.”Apa….apa..aku yang harus memulainya?” Sun menelan ludah kering.”Salahkah?... salahkah jika aku yang meminta?” Sun masih saja berkecamuk dengan pikiriannya.
“Apa yang akan dilakukan, gadis nakalku?” otak Mino menerka-nerka,”Jangan harap aku akan memulainya, Sun-a!”
“Oh, kenapa aku jadi seperti ini,” pikiran liar Sun menari-nari, “Kalau saja di restoran tadi, tidak ada Il Woo, Bum dan hye jin, aku pasti sudah menghambur ke pelukannya. Tapi tidak mungkin mengingat hubungan kami…. Dan kemarahan itu….tapi aku merindukannya, aku merindukan sentuhannya.”
“Kenapa kau masih mematung?” Mino bertanya dalam hati,”Aku ingin lihat bagaimana caranya kau memulai?”
“Sepertinya memang aku yang harus memulai.” Sun memantapkan hatinya. Jantungnya berdetak cepat saat itu dan Mino dapat merasakannya karena dada mereka saling menempel. Pandangan Sun beralih ke dada Mino. Dia agak bangkit dari tubuh Mino dengan tangan kiri menyangga tubuhnya, sementara tangan kanannya membuka kancing kemeja Mino satu persatu, saat semua kancing itu terbuka, dia bisa melihat dada bidang Mino, dia meletakkan telapak tangan kanannya ke dada Mino, sementara tangan kirinya masih dipakai menyangga tubuh. Mata Mino memejam, sungguh dia tak tahan lagi, hanya satu sentuhan dan itu hanya sentuhan telapak tangan, Mino sudah runtuh pertahanan, kemarahannya mencair, dengan sigap dia menggeliat sehingga posisi mereka berubah, kini Sun lah yang berada di bawah. Sun agak terkejut, tapi dia tersenyum, “Minoku telah kembali,”pikirnya.
Mino menurunkan wajahnya, dia berbisik pada Sun,”Merindukanku, Sayang?” Mata Sun memejam, perlahan bibirnya terbuka, dan bibir Mino mendarat lembut di bibirnya, tapi semakin lama ciuman itu semakin agresif, lidah panas mereka saling bertaut, mino tambah agresif digigitnya bibir bawah Sun, Sun agak kaget, tapi itu hanya sebentar, saat ciuman itu kini beralih ke pipi, dagu dan akhirnya ke leher, Mino agak menyesapnya hingga leher jenjang itu agak memar, dan Sun yang memekik semakin terbang ke awan.
Sun tidak protes saat Mino menarik paksa piyamanya hingga kancing-kancing piyama itu meloncat tak tentu arah, ya, mereka sudah kalap, pertemuan yang sangat jarang selama ini membuat kerinduan semakin meluap, dan kemarahan-kemarahan itu, kecemburuan…. Mereka ingin melampiaskannya malam ini, ya, malam ini mereka ingin membuktikan pada diri masing-masing bahwa cinta ini masih menyala. Dengan tergesa mereka melepaskan baju masing-masing, agak sebal dengan baju-baju yang merepotkan itu mengingat nafsu yang sudah di ubun-ubun.
Saat tubuh mereka sudah benar-benar polos, Mino merapatkan tubuhnya di atas Sun lagi, dia mencium bibir Sun lagi dengan lebih agresif, sementara tangan kirinya memijat dada Sun, tubuh Sun semakin menegang. Mino bisa merasakan itu, ciumanny turun ke dagu, ke leher dengan sedikit menyesap lalu turun lagi.
Mata Sun masih terpejam, dan pikirannya itu sangat liar, menikmati sentuhan demi sentuhan yang Mino berikan, dan menggigitnya pelan. Dia agak kesakitan saat Mino melakukan itu hingga agak menggigit bibir bawahnya, tapi desahan itu kembali terdengar, Dia melengguh, saat Mino menggigit lagi. “Min…MInnnooo..”
“Emmh…,” Mino masih saja mengulum.. Sun menggeliat. Mino tahu Sun sudah tak sabar, dia menurunkan ciumannya, kali ini perut Sun yang rata di ciuminya, perut yang akan menampung bayiku kelak, khayal Mino singkat.
Sun masih saja memejamkan matanya, dia bisa merasakan tangan Mino membuka pahanya, lalu sesuatu memasuki daerah paling sensitif itu, dia masih menerka dengan mata terpejam, apakah itu? Apa Mino sudah memasukkanya? Tidak, itu bukan seperti yang biasanya. Lalu apakah lidah? Mino memang sering menjilatnya, Sun agak merapatkan pahanya, tidak ada kepala Mino yang terjepit. Penasaran dia membuka mata, dan melihat ke bawah tubuhnya.
“Huft… huft… min… mino… apa yang kau …lakukan !”
Sun terkejut setengah mati, Mino mengorek-orek dengan jari tangannya. Sun memberontak ketakutan. Dia menarik tangan Mino agar tidak mengorek lagi. Tapi Mino hanya tersenyum, dengan tangan satunya dia menekan pundak Sun, hingga tubuh mungil itu kembali berbaring, dia merapatkan tubuhnya ke Sun lagi, “Itu hanya variasi, sayang, kau tidak suka?”
Mino melakukannya lagi, sentuhan-sentuhan itu membuat tubuh Sun menegang,”Aku…aku… tidak suka itu.” Sun menjawab dengan terbata-bata. Mino terkekeh diantara ciumannya,”Gadisku ini lebih suka cara konvensional rupanya, baik… siap-siaplah, baby.” bisik Mino. Mino segera mencondongkan tubuhnya agar lebih mudah memasukkanya pada Sun, Sun memekik keras saat bagian dari Mino memasuki tubuhnya, kedua tangannya mencengkram kuat di bantal yang dia pakai.
Mino keheranan, bukankah ini bukan pertama kali? Tapi kenapa jadi seperti yang pertama? Kenapa Sun sampai kesakitan begitu? Apakah? Apakah ini karena perbuatannya tadi yang katanya variasi, ya… Sun masih sangat takut hingga terjadilah seperti ini.
“Tahan, Sun-a, tahan…”bisik Mino. Nafas Sun semakin tenang saat bisikan menyejukkan itu didengarnya, peluh sudah memenuhi dahinya. Saat sesuatu itu menerobos lagi, sekali lagi dia tersentak, dia menjerit keras-keras, tangannya semakin kuat mencengkeram bantal. Sebentar lagi, Sun, sebentar lagi, Mino mulai putus asa, dan menyesali perbuatan bodohnya tadi.
Mino menghentakkan tubuhnya untuk terakhir kali, berhasil! Tubuh mereka sekarang benar-benar menyatu. Mereka tertawa puas, Mino mencium kening Sun, lalu bibirnya merapat ke telinga Sun, “Dengar, Baby,” Mino berbisik,”Kau boleh tersenyum pada siapa pun, kau boleh melakukan kiss scences beribu kali asalkan….
Mino menurunkan tangannya ke selangkangan Sun dan membelainya yang masih menyatu dengan miliknya itu,”Asalkan yang satu ini hanya milikku, araso….”
“Ne….” mata Sun masih memejam.
“Kau siap untuk permainan selanjutnya?”
Sun tidak menjawab, dia melingkarkan kedua kakinya ke pingggang Mino, dan kedua tangannya memeluk tubuh Mino. Mino menyadari isyarat itu. Dia mulai menggoyang-goyangkan tubuhnya hingga dirinya keluar masuk tubuh Sun, makin lama ritmenya makin cepat, tangan kiri Sun menuruni pinggang Mino, dia mencoba memegang batang yang keluar masuk itu, polos, tanpa pengaman. Sun sangat menikmati permainan Mino, hingga… semburan cairan terasa di dinding rahimnya, sangat hangat. Dan akhirnya permainan itu terhenti saat keduanya telah mencapai puncak bersama-sama.
Kini mereka saling tertawa, masih berbaring dengan posisi, kepala Sun yang bersandar di dada Mino.
“Kau bahagia, Baby?”
“Ne.”
“Kau lelah?”
Sun menghela nafas, “Sedikit.”
“Sekarang tidurlah, besok adalah hari sibuk kita.”
“Hm, ya..”
Mino tertawa mendengar jawaban Sun yang seperti tidak rela memejamkan mata. Mereka berdua memang ingin waktu berhenti, ya berhenti di titik membahagiakan ini. “Baby…”
“Waeyo?”
Mino menyadari sesuatu yang harus dia katakan,”Aku…aku harus ke Thailand lusa.”
Sun menatap Mino lekat-lekat.
“Ada FM di sana,” jawab Mino seakan tahu arti tatapan itu. Sun menyandarkan kepalanya ke dada Mino lagi,”Pergilah, puaskan Minozmu, asalkan kau kembali lagi padaku seperti malam ini.”
Mino terkekeh, dia mencium ubun-ubun Sun,”Gomawo, Baby, sekarang kita tidur, ya?”
Dan akhirnya mereka berdua tidur dengan tersenyum.
TBC PART 3