Author Topic: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update  (Read 23220 times)

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Jung Min-Hye Na lancar ye honeymoonnya?? lol  [hmpfh]
bisa jadi tar Eun Kyu nikah, emak ama babenya masi tetep lancar produksi dedenya  [on] [laughing]
btw, thanks ai..  [huglove]

Love you more than I can say

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Kyaaaaaa akhirnya update jg...
gomawo sista ^^
Jadi itu alasan knpa eun kyu & si kembar ga akur...
Trharu deh hye na sedih takut anak2nya meninggalkanya krna harus menikah, jung min malah ngajak bikin anak lg. ck LOL
Penasarn klanjutannya...
Pengen baca yg scene jungmin-hyena yg lebih sweeetttt lg.

gomapta sista untuk komentnya  [hug] [hug]

yup, salah satu alasannya itu... jung min bisa ngehiburnya itu sist, belum berlatih cara ngehibur yang lain... di chapter selanjtnya ada sedikit bagian yang nunjukin scene yang sweet dari Jung min ma Hye na... kalau dimungkinkan Seung gi juga, tapi seperti yg ai tulis sebelumnya, di chapter berikutnya itu pintu gerbang masalah Hye na ma Jung min, jadi mungkin diawal bagian mereka bakal sweet  [heh] [heh]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Jung Min-Hye Na lancar ye honeymoonnya?? lol  [hmpfh]
bisa jadi tar Eun Kyu nikah, emak ama babenya masi tetep lancar produksi dedenya  [on] [laughing]
btw, thanks ai..  [huglove]

gomawo buat komentnya sist  [hug] [hug]

yup, pasangan itu mang gak ada bosen-bosennya sist  [on] [on] [laughing] [laughing] [hmpfh]

Offline Rya

  • Newbie
  • *
  • Posts: 47
    • View Profile
ini kapannn d updateeeee??? [censored]

Offline sun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 26
    • View Profile
Kak Aii.. udapte lagi dong..!!! [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]
Kangen banget sama Jung Min & Hye Na.. beserta anak- anak mereka yang lucu lucu [arms] [lovestruck] [lovestruck]

Offline sun

  • Newbie
  • *
  • Posts: 26
    • View Profile
Kak Aii.. update lagi dong.. [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
kangen banget sama Jung Min & Hye Na beserta anak-anak mereka yang lucu-lucu.. [lovestruck] [lovestruck]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
sedang salam masa pembuatan sist  [hmpfh] [hmpfh] sabar ya... sedang diusahakan cepet sist  [lovestruck] [heh]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Chapter 14

Additional Cast



 Park Si Hoo as Cha In soo

Angin terasa berhembus perlahan, memberikan kesejukan menjelang fajar menyingsing. Hye na merasakan angin yang membelai tubuhnya lembut dan rambutnya yang berkibar halus di sisi wajahnya. Hye na tersenyum merasakannya, kemudian dengan perlahan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, untuk lebih merasakan kesejukannya.

Perlahan Jung min membuka matanya, sambil meraba bagian ranjang disisinya mencari seseorang, namun ia tidak mendapatii siapapun disisinya. Sisi ranjangnya kosong. Jung min mengangkat tubuhnya,  merasakan hawa dingin yang berhembus dari pintu yang terhubung dengan teras kamarnya. Jung min mengedarkan pandangannya, mencari dan kini pandangannya tertuju pada pintu teras yang terbuka dengan tirai yang berkibar seiring angin yang berhembus “sayang…”panggilnya yang kemudian bangkit dengan selimut yang menyelubunginya, Jung min melangkah kearah pintu terasnya. “sayang…”panggilnya lagi ketika ia menatap seseorang dengan kemeja putih kebesaran miliknya yang membungkus tubuhnya.

“sayang…”ujarnya lagi, sambil melingkarkan lengannya di pinggangnya dan membawanya kedalam dekapannya. Hye na tersenyum merasakan kehangatan suaminya dan mulai bersandar di dadanya “…kau bangun…”ujarnya lirih “…apa aku membangunkanmu…”tambahnya lagi, mengangkat wajahnya dan menatap Jung min yang masih memeluknya dari belakang, sekaligus menyelubungi tubuh mereka dengan selimut yang dipakainya. “ahni… hanya…” Jung min mendesah pelan di telinga Hye na, tersenyum kemudian perlahan mulai membenamkan wajahnya di leher hangat Hye na dan mengecupnya dalam “…hanya…” ujar Hye na menunggu, hingga Jung min selesai dengan setiap aktivitasnya.

Jung min diam, mengambil napas panjang, menghirup aroma tubuh istrinya itu, membuat Hye na tersenyum geli merasakan apa yang dilakukan suaminya  “…hanya.. terkejut kau tidak ada disampingku ketika aku membuka mata…”tambah Jung min, berbisik di telinga Hye na lembut dan kemudian tiba-tiba meniup lembut lubang telinga Hye na hingga membuatnya bergidik geli “…say…sayang…”ujar Hye na
“ehhhmmmm…”

“jangan…”

Jung min lagi-lagi mulai mengecup lembut leher Hye na “apa…”bisiknya lagi.

“ahhhh… hen…” desah Hye na ketika ia merasakan bibir Jung min yang mengecup lembut bahu dan leher belakangnya hingga punggungnya, memberikan sensasi yang berbeda padanya.

“mwo…?” ujar Jung min sambil menatap Hye na lembut, merasakan kemenangan yang hampir diraihnya, atau kini bisa dibilang sudah diraihnya karena tiba-tiba Hye na membalikkan tubuhnya, mendekap Jung min dan mendekatkan wajahnya kemudian mulai mencium bibirnya penuh gairah. Jung min tersenyum diantara ciumannya kemudian mendekap Hye na, melingkarkan lengannya di pinggang Hye na dan mengangkat tubuh Hye na hingga Hye na berjinjit di kedua kaki Jung min, menumpukan kakinya di kaki Jung min.

Hye na tersenyum, ciuman keduanya semakin bergairah ketika Jung min mulai membuka mulut Hye na untuk memberi jalan lidahnya masuk kedalam, dan mengecap sisi manis Hye na. Hye na mulai membalas, mengaitkan lidahnya dengan lidah suaminya itu dan menambah gairah keduanya, hingga saat Jung min menurunkan tangannya hingga menyentuh pantat Hye na dan menepuknya pelan. Hye na terkejut sesaat, kemudian tersenyum, hal itu membuat Hye na semakin dekat padanya, Hye na dapat merasakan gairah suaminya itu yang mulai membara di bagian bawah tubuhnya.

Hye na tersenyum, “aku menginginkanmu…”desah Hye na sesaat ketika Hye na melepaskan ciumannya, kemudian menarik ujung selimut yang menyelubungi tubuh Jung min yang memang polos dan menariknya masuk kedalam kamar. Hye na menatap Jung min sesaat ketika keduanya sudah masuk kedalam kamar keduanya terlindung dari hawa dingin yang berhembus lembut.

“aku membutuhkanmu…”ujar Hye na melangkah mendekat dan kemudian mulai melepaskan selimut yang menyelubungi tubuh polos suaminya itu hingga selimut itu jatuh teronggok di bawah kakinya, memperlihatkan tubuh berotot suaminya itu.

Hye na diam, menatap suaminya, menutup satu matanya dan memandang suaminya dengan pandangan menilai. “sayang…”panggil Jung min yang terdengar mendesah dan juga menggigil. “kau menggigil sayang…”ujar Hye na ketika menangkap suara Jung min bergemelutuk karena menggigil di telinganya.

“ya… aku menggigil… aku tidak bisa menunggu lagi… aku sudah…”

“ahni…”ujar Hye na tiba-tiba, menghentikan langkah Jung min lebih dekat lagi padanya saat ia mendaoati Jung min yang merentangkan kedua tangannya dan berjalan mendekatinya “sayangg…”ujar Jung min dengan tatapan memohon.

“sebentar… aku mencoba mengingat sayang…”

“apa?!?”ujar Jung min tidak sabar, frustasi dan membuat Hye na tersenyum lebar “mengingat apa…?”tanya Jung min lagi, menatap istrinya penasaran sekaligus kesal. Hye na tersenyum menatap wajah suaminya itu yang mulai memerah, menahan hasratnya. Hye na mengedarkan pandangannya disekujur tubuhnya kembali, mencari kembali “…aku mencoba mengingat dimana kau memberikan tanda merah ditubuhku beberapa saat yang lalu…” Hye na mulai mencari di kedua pergelangan tangannya, bermaksud mengulur waktu
“ayolah sayang…. Tidak mungkin disitu…”

“ahhh… kau benar…”ujar Hye na, tersenyum semakin lebar karena berhasil menggoda suaminya itu “…mungkin disini…”ujar Hye na yang kemudian perlahan mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakannya dan membukanya lebar, menunjukkan pada suaminya itu tubuhnya yang sama sekali tidak mengenakan apapun di balik kemeja putih yang dikenakannya.

Jung min diam, dia merasakan darah ditubuhnya mengalir semakin cepat ke bagian bawah tubuhnya, memberikan rasa hangat di sana ketika menatap tubuh polos Hye na yang terpampang dihadapannya. “akhhhh… ini dia…”ujar Hye na sambil menunjukkan bagian atas dadanya dan tidak menyadari Jung min yang melangkah cepat dan menyergap Hye na hingga ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang keduanya.

“kau benar-benar berhasil menggodaku sayang… kau membuatku benar-benar gila…”ujar Jung min menatap Hye na yang kini berada di bawah tubuhnya, penuh gairah. Hye na tersenyum kemudian melingkarkan kedua lengannya di leher Jung min, membawa Jung min semakin mendekat dan kemudian mengecup dalam bibirnya. Saling berbagi gairah yang menyelimuti mereka, dan kembali merasakan gairah cinta keduanya.

**********

Min jae terlihat diam ditempatnya, menatap kakinya kosong. Rasa bersalah mulai mengahantuinya, membuatnya semakin merasa tidak enak karena sikapnya pada kakak laki-lakinya, saat itu, hingga kejadian semalam yang ternyata sudah menyelesaikan segalanya, termasuk tingkah ketus saudara kembarnya pada kakak laki-laki mereka yang sebelumnya tidak dimengerti Min jae sendiri, kenapa saudara kembarnya itu bisa begitu kesal dan marah pada kakak laki-lakinya itu.

Flashback

En kyu menatap Min jae diam, penasaran kenapa ia memanggilnya untuk berbicara, mereka bisa berbicara ihadapan orang tua mereka bukan, tapi kenapa…? Apakah sebegitu rahasianya hingga Min jae tidak ingin kedua orang tuanya mengerti. Kini En kyu sudah menunggu hampir 10 menit melihat adiknya itu menghela napas panjang setiap beberapa menit “…ada apa…?”tanya En kyu akhirnya, tidak sabar menunggu.

Min jae diam ditempatnya tetapi kemudian perlahan mengangkat wajahnya dan menatap En kyu dalam penuh penyesalan “…mianhe…”ujar Min jae, membuat En kyu diam, menatap Min jae terkejut.

En kyu tersenyum “… yya… untuk apa kau minta maaf… kau…”

“Jae sudah salah paham pada hyung… Jae benar-benar tidak tahu saat itu Hyung memang tidak bisa pulang karena kecelakaan itu, dan Jae menyalahkan Hyung atas semua yang terjadi…” walaupun Jae juga sangat merindukan hyung ketika Hyung di New York, tapi…,Min jae menghentikan pemikirannya.
En kyu diam, menatap Min jae semakin terkejut “…ba..bagaimana…”

“appa…dan Hyun woo yang mengatakannya… walaupun akhirnya aku sendiri yang menebak karena mereka terlalu banyak basa basi dan kalimatnya terlalu berputar-putar yang akan membuat pusing jika semakin lama didengar…”ujar Min jae. En kyu diam, tersenyum “…yah, mereka memang seperti itu…”tambah En kyu yang kini terlihat mulai tertawa lirih.

Min jae diam, menatap En kyu “…aku benar-benar minta maaf untuk sikapku hyung… dan untuk Jae min… entahlah… aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya sampai membuatnya kesal padamu… tapi aku yakin ia semakin kesal bukan karena Dong woo… melainkan lain hal…”

En kyu tertawa singkat “…ne… sepertinya aku tahu… adikku itu sepertinya sudah mengenal apa yang disebut cinta…”ujar En kyu, menatap Min jae tersenyum.

“ne…”tambah seseorang, yang berhasil menarik perhatian dua laki-laki dihadapannya, hingga membalikkan tubuhnya, menatap orang yang baru saja datang dan bergabung dengan keduanya, dengan langkah yang cepat dan berdiri diahdapan En kyu.



 “tapi hyung sudah mematahkannya berkeping-keping…”ujar Jae min lemah, sambil menundukkan kepalanya.

Min jae diam, terkejut ditempatnya, menatap kembarannya. Sebelumnya ia hanya menebak-nebak kenapa perasaan kembarannya itu begitu suram dan sering sekali kesal jika –walaupun hanya- menatap En kyu, dan ternyata ini hanya karena seorang… “…Hong Mi na…?”ujar Min jae, menebak, walaupun sebenarnya sudah tidak dianggap menebak lagi, karena ia yakin saudara kembarnya itu sudah lama menyukai Mi na, bahkan beberapa bulan yang lalu, Jae min sempat marah pada dirinya ketika Min jae menjawab pertanyaan dan perlu dicatat, hanya sebuah pertanyaan yang dijawabnya dengan terlalu ketus –menurut Jae min-

“yya!!! jangan sebut nama itu lagi… aku benar-benar muak dengannya…”ujar Jae min, melipat tangannya di dada kesal “… aku benar-benar marah… dia mendekatiku hanya karena ingin lebih dekat dengan Hyung… dan setelah tahu hyung memiliki kekasih, apa yang dia katakan padaku…?!?!?” Jae min menghentikan ucapannya sesaat, kemudian mulai melanjutkan kalimatnya dengan sedikit berseru “…dia meninggalkanku dan mengatakan jika dia tidak mengenalku…AUUUSHHH!!!”

En kyu tersenyum sedangkan Min jae tertawa keras, mendengar ucapan saudara kembarnya itu hingga membuat kedua laki-laki yang ada dihadapannya, menatap takjub kearahnya dan bukan hanya itu, omma dan appa mereka pun beranjak dari tempat keduanya dan menghampiri pintu yang menghubungkan ruangan mereka dengan tempat dimana dirinya, Min jae dan Jae min berada. Dan berhasil membuat takjub keduanya.

“sayang… anak pendiam kita sekarang tertawa lepas… dan dia benar-benar terlihat tampan… seperti dirimu…”celetuk Hye na tersenyum lebar, Jung min menatap Hye na dengan penuh kebanggaan "... apa kau baru menyadari kharismaku sayang..."ujarnya, membanggakan diri, membuat senyum Hye na hilang dan menatap Jung min sinis. Jung min mengetahui tatapan itu dan membawa Hye na kedalam dekapannya "...tentu saja karena ibunya juga cantik...”katanya dan mengecup bibir Hye na singkat  “…auushhh… kau ini benar-benar…” Hye na berhasil dibuat kesal oleh tingkah suaminya itu dan membuat Jung min ikut tertawa, kemudian disusul Jae min dan En kyu yang ikut tertawa mengikuti keduanya.

“tawa kalian benar-benar sama…”tambah seseorang yang berdiri tak jauh disisi Hye na. Hye na mengalihkan pandangannya, dan tersenyum pada Yoo rae yang mungkin akan menjadi menantunya suatu saat nanti. “ne… tentu saja… mereka ayah dan anak bukan… like father… like son…”ujar Hye na, tersenyum kemudian membalikkan tubuhnya, menatap Jung min dan dengan cepat menarik kepala Jung min hingga menatapnya dan mengecup bibirnya cukup lama hingga membuat Yoo rae terpekik terkejut dan juga membuat En kyu, Min jae dan Jae min menghentikan tawanya menatap orang tuanya itu.

End Of Flashback

Min jae tersenyum mengingat segalanya. Sepertinya keluarganya akan lebih baik lagi dan lebih harmonis dari sebelumnya.
*********

Hye na terlihat tengah menyibukkan dirinya sendiri dengan beberapa bahan masakan yang disiapkannya untuk sarapan keluarganya dan 2 orang tamu yang sudah beberapa hari menginap di Kediaman Lee. Keheningan didapur yang hanya pecah oleh suara pisau, air yang mendidih dan bunyi gemericik minyak ketika bahan-bahan masakan yang mulai dimasukan kedalam wajan penuh minyak atau kedalam air yang mendidih dan itu semua tiba-tiba terganggu oleh suara seseorang yang berhasil menarik perhatian Hye na dan beberapa pelayan yang membantunya.

“ada yang bisa saya bantu ahjumma…?”tanya Yoo rae, menatap Hye na penuh harap. Hye na terdiam ditempatnya menatap Yoo rae sesaat, kemudian senyum manis menyusul diwajahnya.

“kemarilah sayang… kau bisa membantu banyak hal disini…”ujar Hye na, sambil melambaikan tangannya kemudian memberikan sebuah apron kotak-kotak berwarna merah yang sama yang dipakai Hye na pada Yoo rae. “khamsamnida…”ujar Yoo rae sambil kemudian memakai celemek itu dan menatap Hye na sesaat, menunggu sebuah perintah darinya. “…ini… kau bisa memotong ayam filet ini memanjang…”ujar Hye na, sambil memberikan sebuah pisau pada Yoo rae “… hati-hati… jangan sampai terluka…” ujar Hye na.

Yoo rae tersenyum lebar menatap Hye na kemudian mulai menggerakkan pergelangan tangannya untuk melakukan apa yang diminta Hye na padanya. Yoo rae terlihat menyibukkan dirinya dan membuat Hye na tersenyum kagum ketika Yoo rae mengerti apa yang akan dibuat Hye na dan kemudian melanjutkan membuat apa yang Hye na inginkan walaupun sesekali bertanya pada Hye na

“kau sudah terbiasa memasak nak…”tanya Hye na, menatap Yoo rae yang terlihat tengah memotong beberapa sayuran, dan terlihat sangat rapi seperti benar-benar sudah mahir. Yoo rae tersenyum, sesaat mengalihkan pandangannya pada Hye na sebelum kembali melanjutkan tugasnya “…ne ahjumma… sedikit... tapi tidak sehebat ahjumma... "ujar Yoo rae, menatap Hye na yang kini sudah tersipu malu karena pujiannya. "...ketika di New York, aku dan eomma selalu bergantian memasak setiap hari… dan kadang kami memasak bersama dirumah jika omma tidak ada kegiatan diluar dan ketika aku memiliki banyak waktu dirumah…”

“panggil aku eommonie sayang… kau harus memanggilku itu…”ujar Hye na. “dan aku memaksa…”tambah Hye na dengan tatapan sedikit mengancam yang lucu. Bahkan Yoo rae tidak melihatnya sebagai mengancam, seperti mengancam dan sekaligus bercanda. Yoo rae tersenyum, “ne eommonie…”jawab Yoo rae.

 Hye na mulai sibuk kembali dengan pekerjaannya, tanpa menghilangkan senyum diwajahnya “omma…? Aku pikir kau seperti En kyu, sekolah disana dan orang tuamu di Seoul…”

“iya dan tidak eommonie… eommaku ada di New York, sedangkan appa ada di Seoul, dan hanya ketika hari libur saja, appa akan pulang…”

Hye na terdiam, tidak menyangka dengan apa yang didengarnya “…orang tuamu…” Hye na menghentikan kalimatnya, ragu

Yoo rae tersenyum, seakan mengerti arah dan anggapan Hye na “ahni… mereka tidak bercerai… ini karena kantor eomma berpusat di New York, sedangkan appa tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di Seoul…lagipula rumah mereka memang di New York eommoni… Mereka sepertimu dan Jung min ahjussi, saling mencintai satu sama lain… bahkan aku sangat iri pada mereka dan berharap jika hubunganku dengan suamiku kelak akan seperti eomma dan appa atau seperti kalian…”

Hye na tersenyum mendengar ucapan Yoo rae “… aku yakin En kyu dapat mewujudkannya…”ujar Hye na, yang membuat pipi Yoo rae memerah, tersipu malu. Hye na menghela napas panjang dan mulai kembali berkonsentrasi dengan sarapan mereka dan sama sekali tidak merasakan tatapan penuh arti yang terlihat di mata Yoo rae kemudian disusul senyum lebar Yoo rae yang terlihat menyimpan sesuatu.

**********

“kau sudah pulang…”ujar seseorang tiba-tiba, membuat Seung gi membalikkan tubuhnya cepat, menyadari pemilik suara itu. Seung gi tersenyum menatapnya.



 “ne dokter Min… Hanya berlari-lari pagi merasakan hawa pagi disini, juga berkeliling…”

“indah ya…”ujar Hyun ah, sambil menatap Seung gi. Pernyataan atau pertanyaannya itu berhasil membuat Seung gi terdiam ditempatnya, menatap Hyun ah terkejut.

“mak…”

Hyun ah tertawa salah tingkah “…ahhh… ahni… maksudku pemandangannya…”terang Hyun ah sambil menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Seung gi.

Seung gi diam, tersenyum dan menundukkan kepalanya. “ahhh… jika kau ingin mandi… silahkan… dan aku sudah menyiapkan sarapan dimeja makan… aku…”

“mau kemana…?”

Hyun ah tersenyum “…aku harus berkeliling… mencari tahu mungkin ada yang membutuhkanku pagi ini…”ujar Hyun ah yang kemudian melangkah mendekati Seung gi dan berdiri dihadapannya masih dengan senyum yang sama. Menatap Hyun ah dan mendengar perkataannya, ingin sekali Seung gi menjawabnya “aku… aku membutuhkanmu pagi ini… aku ingin melihatmu sepanjang waku pagi ini…” kemudian membawanya ke pelukannya, namun itu hanya angannya saja, karena ia hanya dapat menatap Hyun ah yang melangkah pergi dengan jas putih dan sebuah stetoskop yang menjadi cirinya dan sebuah tas yang sudah pasti berisi peralatannya. Seung gi diam menatap itu, kemudian sesuatu mendorongnya. Seung gi melangkah berlari dan mendekati Hyun ah. “biar aku bawakan…”ujar Seung gi sambil mengambil tas peralatan Hyun ah dan mendekapnya di dada, seakan tas itu adalah barang berharga miliknya.
Hyun ah tersenyum menatap Seung gi “…apa kau tidak lelah…”tanya Hyun ah

Ahni, jika bisa berada didekatmu, selelah apapun tidak akan terasa, jawab Seung gi dalam pikirannya.Seung gi tersenyum aneh “…Seung gi…”panggil Hyun ah, menatap Lee Seung gi bingung dengan senyum yang terlukis diwajahnya.

“ah..de?!?!”

“gwenchana…?”

“ahni…”jawab Seung gi cepat “..ah maksudku… ne… semuanya baik…”ujar Seung gi lagi, ketika menatap pandangan Hyun ah padanya. Hyun ah tersenyum kemudian keduanya melanjutkan perjalanan untuk datang kesetiap rumah didaerah itu.

Keduanya melangkah dalam diam, hingga… “…kenapa kau yang datang ke rumah-rumah didesa ini sementara mereka dapat datang keklinik, jika mereka membutuhkan pengobatan… dan lagipula klinik tidak terlalu jauh dari pemukiman…?”

Hyun ah tersenyum “…ne… masyarakat disini belum mengenal dokter saat aku datang… dan mereka hanya menggunakan obat-obat yang berasal dari dalam untuk menyembuhkan penyakit mereka tanpa mengetahui terlebih dahulu sakit apa yang mereka idap…”ujar Hyun ah “…saat aku datang…”lanjutnya, dan sesaat ia menghela napas panjang “… aku harus menunggu hampir 1 hari untuk mendapatkan pasien… dan hari berikutnya Jun suk datang… dia seorang mahasiswa yang sedang mempelajari ilmu pengobatan alam… dia menggunakan obat herbal untuk mengobati…”

Seung gi diam, menatap Hyun ah “…dan saat itu dia datang, dia bingung, ada klinik baru ditempat itu… aku menjelaskan padanya siapa aku… dan dia terlihat terkejut, karena ada dokter yang bersedia datang ke tempat terpencil seperti ini, untuk mengobati… dia menjeleskan semuanya, kenapa orang-orang tidak datang walaupun aku sudah menyebar beberapa pemberitahuan tentang klinik ini…” Hyun ah, melangkah perlahan dan duduk di sebuah kursi panjang dipinggir taman, tempat beberapa anak terlihat bermain dan beberapa orang tua berolah raga. Seung gi dapat melihat diantara mereka terlihat tersenyum menatap Hyun ah, namun sebagian yang lain terlihat acuh ketika Hyun ah menyapa mereka dan tersenyum pada mereka.

“Jun suk mengatakan kalau orang-orang disini memang belum mengenal dokter… tapi memang sebelumnya ada tabib yang mengobati mereka, bahkan mengajari mereka bagaimana mengobati suatu penyakit dengan obat-obat yang ada di alam, hanya saja, tabib itu tidak memberitahukan bagaimana mendeteksi penyakit dalam atau bagaimana membantu seorang ibu melahirkan… semua itu mereka lakukan atas dasar pengetahuan yang sedikit, dan aku merasa sangat salah… aku mengatakan padanya untuk membantuku disini, dan dia menyetujuinya, dan saat itu lah Jun suk mulai menjadi asistenku, memberi tahu jika ada seseorang yang membutuhkan dokter atau memberi tahu orang itu untuk datang ke klinik jika membutuhkan pengobatan…”

Hyun ah, menarik napas panjang kembali “…tapi seperti yang kau lihat, tidak semua orang menerimaku… dan aku akan melanggar janji seorang dokter jika mengetahui ada orang yang sekarat tapi aku tidak dapat membantu… mulai saat itu aku berkeliling ke setiap rumah untuk memeriksa apakah di rumah itu ada yang sakit dan membutuhkan seorang dokter..”terang Hyun ah.

“tapi apa Hye na…”

Kalimat Seung gi terhenti ketika menatap tawa lepas Hyun ah “…tentu saja Hye na sudah mengatakan segalanya… dia sudah mengatakan kalau ditempat ini belum mengenal dokter… aku menerimanya, karena ini adalah tantangan untukku, tapi aku tidak tahu kalau ketidak tahuan masyarakat disini tentang dokter sampai sedalam itu…”ujar Hyun ah, menatap Seung gi tersenyum.

Seung gi diam ditempatnya, menatap senyum yang terlukis diwajah Hyun ah, sekaligus takjub dengan apa yang ada dihadapan matanya. Seakan matahari terbit tepat dihadapan matanya dengan sinar yang indah. Tiba-tiba Seung gi, membawa Hyun ah masuk kedalam pelukannya, dan memeluknya dalam, lama. Teringat segala yang dikatakan Hye na sebelumnya. Dimana Hye na meminta janjinya untuk tidak mengatakan atau mengungkit apapun tentang Joo Ji hoon. Lee Seung gi sudah mengetahui segalanya.

Flashback

Seung gi mengetuk pintu sebuah ruangan. Terdapat sebuah nama yang menunjukkan pemiliknya di pintu itu. Han Hye na. Seung gi tersenyum sesaat, sebelum ia kembali mengetuk pintu dihadapannya lagi, namun lama tidak terdengar jawaban dari dalam ruangan itu. Seung gi mengetuknya sekali lagi, dan akhirnya seseorang terlihat memutar ganggang pintu dihadapannya dan akhirnya pintu itu terbuka

Ditatapnya sebuah senyuman hangat milik seseorang. Seung gi tersenyum membalas senyuman Hye na.

“…ahhh… maafkan aku Seung gi-ssi… aku terlalu sibuk dengan laporan-laporan itu…” Seung gi hanya tersenyum menjawab ucapan Hye na. Hye na diam, ia tahu apa yang ada dipikiran Seung gi. Hye na menundukkan kepalanya, menatap berkas ditangannya.

“ini…”ujar Hye na sambil menyerahkan berkas ditangannya.

“apa…”

“buka dan bacalah kau akan mengerti…”ujar Hye na lagi, tersenyum menatap Seung gi. Seung gi diam ditempatnya, menatap Hye na bingung. “bawalah… dan lakukan apa yang menurutmu benar… baca dengan hati dan tanyakan pada hatimu apa yang harus kau lakukan… tidak usah memikirkan ucapan orang lain… hanya lakukan saja apa yang hatimu anggap benar…”ujar Hye na.

Seung gi masih diam, kemudian terdengar dehaman dari Hye na yang melangkah mendekati Seung gi dan duduk tak jauh dari sisinya. “…aku sangat mempercayaimu Seung gi-ssi… bukan hanya sebagai orang kepercayaan suamiku, tapi juga sahabat dan keluarga untukku… begitu juga dengan dokter Min… dia sudah bersmaku sejak kami menempuh pendidikan di Inggris bersama… dan dia sangat mempercayaiku sama seperti aku mempercayainya, jadi ketika aku mengajaknya untuk bekerja denganku, dia bahkan sama sekali tidak bertanya atau menolak… dia juga memiliki pemikiran yang sama dengan ku… jadi aku mempercayakannya padamu Seung gi-ssi… jangan pernah sakiti dia, jangan pernah membuatnya menangis… banyak hal yang sudah terjadi padanya… Ji hoo salah satunya… itu masa lalu, dan aku ingin kau juga menganggapnya begitu… jangan pernah mengungkit atau mengatakan apapun tentang masa lalu padanya… itu akan menyakitinya… kecuali sebaliknya…”ujar Hye na, sambil menatap Seung gi serius, dan baru kali ini Seung gi menatap keseriusan yang sangat serius diwajah Hye na yang ayu.

Seung gi diam, ia menyadari sesuatu. Ia tersenyum menatap Hye na kemudian secara reflek ia membawa Hye na kedalam pelukannya.

“gomawo…”ujar Seung gi senang.

“ne… tak masalah… hanya tolong lepaskan aku… aku sesak…”

Seung gi segera melepaskan pelukannya “oh… mianhe…” Seung gi menatap Hye na tersipu.

End Of Flashback

Mengingat itu semua, membuat sebuah pertanyaan muncul dikepalanya “…Hyun ah-ssi…”panggil Seung gi, yang terdengar ragu. Min Hyun ah menatapnya menunggu, masih dengan senyum yang terkembang diwajahnya “…apa… apa kau bahagia…”tanya Seung gi akhirnya. Min Hyun ah terlihat diam ditempatnya, menatap Seung gi, kemudian senyum diwajahnya yang sesaat yang lalu hilang, kini terlihat kembali, seindah matahari yang menyinari bumi saat itu.

***********

Jung min diam ditempatnya menatap 2 orang wanita yang tengah disibukkan dengan aktivitas pagi, membuat sarapan. Perasaan bangga dan bahagia menyelimutinya. Tatapannya mengiringi setiap gerakan dan setiap langkah yang dilakukan salah seorang dari wanita itu. Ya, wanita yang memiliki separuh hatinya, separuh tubuhnya dan separuh pikirannya. Wanita yang menjadi ratu dihatinya dan wanita yang memberinya kebahagiaan yang tidak mampu ia syukuri lagi hanya dengan ucapan. Tidak ada kalimat syukur pada Tuhan yang dapat dibandingkan dan diucapkan atas kebahagiaan yang sudah diraihnya. Bahkan ia bingung bagaimana bersyukur dengan kebahagiaan yang didapatnya saat itu.



 Jung min tersenyum diam, duduk menatap itu semua hingga…

“sayang…”panggil Hye na tiba-tiba sambil tersenyum tanpa membalikkan tubuhnya, masih disibukkan dengan apa yang dilakukannya saat itu “… jika kau hanya duduk diam disitu dan hanya menatap kami, bukankah lebih baik kalau kau membantu kami membangunkan anak-anak…”tambah Hye na, membuat Jung min tersenyum semakin lebar ditempatnya, menatap Hye na. Jung min sudah terbiasa dengan kemampuan Hye na untuk mengetahui keberadaan suaminya itu dalam jarak beratus meter sekalipun. Entah apa yang dilakukannya, hingga ia sangat mengenal dan memahami suaminya itu.

Jung min bangkit dri tempatnya, berjalan kearah Hye na yang terlihat masih sibuk dengan sarapan mereka dan Yoo rae yang menatap takjub pada Hye na dan Jung min yang kini mulai melangkah mendekat “baik sayang… tapi beri aku ciuman selamat pagi dulu…”ujar Jung min, yang melingkarkan lengannya di perut Hye na kemudian mengecup singkat pipinya. Hye na membalikkan tubuhnya, dan masih dalam lingkaran lengan Jung min, Hye na menatapnya penuh kasih, kemudian mengusap pipinya lembut “…sayang…”

“eommonie… mianhe… sepertinya aku harus membawa masakan-masakan ini ke meja makan…”ujar Yoo rae tiba-tiba, menatap Jung min dan Hye na malu. Namun ia juga sudah terbiasa dengan hal itu. Sikap Jung min dan Hye na, dan kasih sayang keduanya sama dengan sikap dan kasih sayang yang ditunjukkan orang tuanya, namun ia masih malu dan jengah jika menatap keduanya yang mengumbar keromantisan dihadapannya.

“ahhh… ne… maaf Yoo rae dan terima kasih…”ujar Hye na yang masih dalam pelukan Jung min yang saat itu itu mulai menundukkan kepalanya ke leher Hye na, menyesap aroma wangi tubuhnya kemudian mengecup lembut lehernya hingga bahunya.

“sayang… para pelayan…”

“mereka sudah pergi…”jawab Jung min masih sambil mengecup leher Hye na. Hye na tersenyum, menatap Jung min kemudian melingkarkan lengannya di leher suaminya itu “…aku benar-benar merindukanmu…”ujar Jung min, menatap Hye na lembut.

“YYA!!! memang aku kemana…? Aku masih disini dan hanya di dapur untuk menyiapkan sarapanmu dan anak-anak…”jawab Hye na.

“tapi terasa aneh saat aku bangun kau tidak ada disampingku…”jawab Jung min yang kemudian kembali menundukkan kepalanya, mengecup leher Hye na kemudian berjalan hingga rahangnya. Hye na tersenyum “…apa belum cukup…?”tanya Hye na, merasakan setiap kecupan Jung min di leher dan rahangnya.

“kau sudah sangat lebih dari cukup sayang, namun semua itu tidak dapat mencukupi dahagaku… kau membuatku merasa lebih lebih lebih dan lebih haus, hingga harus terus berada disisimu, menciummu, mengecupmu, merasakanmu…”ujar Jung min

Hye na tersenyum, kemudian mengecup bibir Jung min singkat “…sama halnya denganku sayang…”ujar Hye na yang kemudian dijawab Jung min dengan sebuah ciuman panjang dibibirnya, hingga tidak menyadari beberapa orang yang tengah menatapnya diam, dan sebagian diantaranya terlihat terkikik lucu menatap itu. “YYA!!! appa omma… disini banyak anak dibawah umur…”ujar Jae min tiba-tiba, menatap orang tuanya dengan kesal. Rasa sakit hati masih merajainya ternyata.

Mendengar ucapan itu, Hye na segera melepas pelukan Jung min dan melangkah keluar dari dapur, menghampiri En kyu dan Yoo rae yang terlihat menahan tawanya, Min jae yang hanya menatap orang tuanya diam, tampak tak peduli dan Jae min yang menatap orang tuanya kesal. “mianhe sayang…”ujar Hye na, melangkah mendahului ke 4nya ke arah meja makan karena rasa gugup yang menghinggapinya.

Jung min terlihat tersenyum menatap istri tercintanya menjauh dan melangkah kearah meja makan. Kini senyum Jung min berubah menjadi senyuman yang penuh dengan maksud.

“kemari sayang… kita makan sama-sama”ujar Hye na, menatap keluarganya yang mulai duduk ditempat masing-masing “… ahhh… mana Hyun woo…?”tanya Hye na lagi, menatap En kyu bingung. Dan berhasil membuat senyum diwajah Jung min menghilang ketika mendengar Hye na menyebut nama itu.

“ahh… mianhe omma tidak mengatakan sebelumnya… semalam dia pergi karena ada pekerjaan yang harus dikerjakannya… tapi katanya dia akan kembali lagi nanti malam… jadi…”

“gwenchana… tak apa… ada pekerjaan yang memanggil bukan…”jawab Hye na, yang merasakan Jung min dibelakangnya kemudian melangkah kekursinya dan duduk disana. “itu lebih baik jika dia segera pergi dari sini…”ujar Jung min, dingin

“sayang…”ujar Hye na, berusaha mengingatkan dan menghentikan apa yang ada dipikiran Jung min “apa sayang… bukankah memang seperti itu…”jawab Jung min tidak ingin kalah.

“baiklah kalau begitu… kau ingin makan dengan apa…?”tanya Hye na, menatap sang suami lembut. Jung min tersenyum menatap Hye na, kemudian perlahan mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu “…aku ingin memakanmu sekarang…”ujar Jung min berbisik.

Hye na tersenyum, malu mendengar ucapan Jung min hingga dehaman seseorang menghapus senyuman itu “…kalian ini benar-benar pasangan yang selalu mengumbar keromantisan… hentikan!!! Jangan pengaruhi kemenakanku dengan hal-hal negatif saat sarapan…”tegur Jung moon.

“ahhh… hyung, kau selalu menggangguku…”ujar Jung min kesal, kemudian menerima piring mangkuk yang diulurkan Hye na padanya. Jung moon tersenyum, menatap kebahagiaan adiknya. “oppa… mau aku ambilkan…”tawar Hye na

“YYA!!! hyung kau bisa melakukannya sendiri bukan..” ujar Jung min, merasa terganggu dengan tawaran Hye na

***********

Jung min menatap Hye na diam, yang tengah memandikan Ha na pagi itu, setelah keduanya sarapan. Mendengar tangis Hana ketika sarapan pagi tadi, membuat Hye na segera menghentikan sarapannya dan berlari, masuk keruangan Hana “ahhh… sayang kau sudah bangun… gwenchana…? Kita mandi…? Omma sudah menyiapkan air hangat untukmu…”ujar Hye na, sambil mendekap Hana dalam pelukannya dan mengecup pipi tembemnya lembut kemudian mulai menghujani wajahnya dengan ciuman. Tak lama Jung min terlihat menyusul dan berdiri di bingkai pintu menatap interaksi itu. Jung min tersenyum, kemudian perlahan melangkah masuk “…Hana… sebentar lagi kau akan berumur 1 tahun… apa yang kau inginkan sayang…?”tanya Jung min tiba-tiba, membuat Hye na yang sudah selesai memandikan Hana, membalikkan tubuhnya, menatap Jung min kemudian bangkit dan membawa Hana ke ranjangnya, mengenakan pakaian padanya.

“ahhh… iya… aku baru ingat… Hana kita akan berumur 1 tahun… apa yang kau inginkan nak…?”tanya Hye na sambil mengangkat Hana dalam pelukannya dan membawanya mendekati Jung min, ayahnya.

“bagaimana kalau sebuah perayaan sayang…”ujar Jung min, mengambil Hana kedalam pelukannya dan menatapnya penuh kasih.

Hye na menatap Jung min diam, “… tidak sepertti perayaan ulang tahun pertama sikembar sayang… itu terlalu berlebihan… membawa mereka berkeliling dunia, beberapa minggu sebelum ulang tahun mereka kemudian membuat perayaan besar-besaran di hari ulang tahun mereka… itu sama sekali tidak bijaksana… dan kau sudah membuat hotel tempat kita mengadakan perayaan ulang tahun sikembar kalang kabut karena desakanmu untuk membuat pesta yang sangat meriah, yang tidak akan ada yang menandingi…”

Jung min tersenyum mendengar ucapan istrinya “…tapi aku berhasil bukan sayang… tidak ada yang menandingi pesta itu sampai sekarang…”potong Jung min sambil menunjukkan senyum penuh kemenangannya “…dan aku…” kali ini kalimat Jung min yang terpotong “…itu tidak bijaksana… dan aku tidak suka dan tidak setuju sayang…”potong Hye na, melipat tangannya didada, pura-pura menatap Jung min dengan ekspresi marah dan kesal.

Jung min menatap Hye na memohon “…tapi sayang…”

“tidak…”

“ayolah… anggap sebagai gabungan antara ulang tahun Hana dan Dong woo… kita bahkan belum sempat merayakan…” Jung min menghentikan kalimatnya seketika saat ia menatap perubahan diwajah istrinya itu. Muram dan sedih. Jung min merasa ia telah mengatakan kalimat yang salah, seharusnya ia tidak menyebut anak laki-lakinya yang meninggal sesaat sebelum ia berumur 1 tahun. Ia tidak berhasil memohon Hye na tapi dia berhasil membuat istrinya itu kembali bersedih “…mianhe sayang…”ujar Jung min sambil membawa Hye na masuk kedalam pelukannya bersama Ha na yang masih berada dalam gendongan Jung min.

Kemudian diantara isaknya, Hye na mencoba mengeluakan suaranya “kita tidak akan kehilangan Dong woo jika aku dapat bertindak cepat dan…”

“ahni sayang…”ujar Jung min dengan wajah memelas, menatap Hye na yang dirundung kesedihan mengingat kenangan lama yang terbuka kembali dan melukainya. Jung min membawa Hye na masuk kedalam pelukannya, memeluknya erat, berharap dapat mengusir kesedihannya.

Jung min diam. Ia merasa isakan itu perlahan mulai mereda dalam pelukannya, Jung min tersenyum “…kau akan ke Jeju besok bukan…”tanya Hye na masih dalam pelukan Jung min.

“ne…”

“apa kau harus pergi…?”

Jung min tersenyum, memikirkan sesuatu dan perlahan mendorong bahu Hye na dan menatapnya dengan kedua tangan yang masih berada di bahunya. Jung min mengusap air mata yang masih menggantung di pipi putih istrinya itu “…ada apa sayang…?”tanya Jung min

Hye na menghela napas panjang, menundukkan kepalanya “…ahni… hanya saja…”

“ah!!”seru Jung min tiba-tiba yang kemudian meraih Ha na dalam pelukannya, menatapnya lembut, tersenyum lebar “untuk ulang tahun pertama Ha na yang tinggal 3 hari lagi, bagaimana kalau kita ke Jeju, dan menginap beberapa hari disana… lagipula aku mendapat ini sayang…”ujar Jung min yang kini mengalihkan pandangannya pada Hye na, sambil menunjukkan sebuah surat yang ditulis oleh seorang teman yang kini berada di Jeju. Teman yang memang saat itu sangat dinantikan kabar dan sangat dirindukan oleh istri tercintanya. “ahhh…Yuu ri eonnie..?!?!”

“ne…”

“jinja…?!? Apa benar kita akan kesana… jinja?!? Jinja?!? Jinja?!?”tanya Hye na tidak percaya yang membuat Jung min gemas akan sikapnya. “ne sayang…” jawab Jung min, sambil mednekap Hye na masuk kedalam pelukannya ‘aku juga ingin menunjukkan sesuatu disana…’ batin Jung min, yang membuat senyumnya semakin melebar. Sebuah kejutan memang sudah ia siapkan disana untuk istrinya seorang.

***********

Malam kembali hadir. Bulan kembali menggantikan sang mentari ditemani oleh gelapnya malam dan kerlip bintang yang terlihat saling menyapa dengan kerlingannya. Hye na menatap sesaat pada cermin dihadapannya. mematut dirinya kembali, menatap dirinya yang terlihat menawan dengan gaun yang dikenakannya untuk acara malam itu. Acara penggalangan dana yang diadakan oleh Yayasan Han untuk anak-anak pednerita kanker di seluruh bagian dunia. Acara yang diharapkannya dapat membantu semua anak penderita kanker dan meringankan penderitaan mereka. Hye na sangat mengharapkan pencapaian yang besar dari acara ini.

Hye na menghela napas panjang sebelum kemudian bangkit, tersenyum dan merapikan dirinya sesaat. Malam ini ia terlihat sangat cantik dengan gaun yang dipilihnya dan lolos seleksi oleh sang suami. Hye na tersenyum mengingat beberapa saat sebelum Jung min pergi ke Je ju

Flashback

“acara penggalangan dana itu… mala mini bukan sayang…”tanya Jung min tiba-tiba ketika Hye na tengah membantunya mengenakan jas hitamnya dan tengah merapikannya saat itu.

Hye na menatap sang suami tersenyum “…ne malam ini… ada apa… kau merubah rencanamu dan ingin menemaniku…?”tanya Hye na yang terdengar antusias

Jung min tersenyum mendengar nada antusias dalam kalimat Hye na “…mianhe sayang karena aku tidak bisa menemani… tapi…”

“apa…”

Jung min diam sesaat ditempatnya menatap Hye na “…hanya ingin tahu gaun apa yang ingin kau kenakan malam ini…”

Hye na tersenyum lebar, menatap Jung min namun segera menyembunyikan senyumannya dengan membalikkan tubuhnya membelakangi Jung min “…tenang saja… aku asudah menyiapkannya…”

Jung min menatap istrinya yang tengah merapikan beberapa pakaian Jung min yang akan dibawanya, karena Jung min memang berencana untuk berada disana selama 3 hari kedepan dan akan menyiapkan pesta ulang tahun Ha na sampai istri dan anak-anaknya datang menyusul. “aku lihat…”ujar Jung min dengan nada sedikit memerintah. Mednengar kalimat Jung min, Hye na tersenyum semakin lebar, kemudian menghapus senyuman itu sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya menatap Jung min “…untuk apa… aku tidak akan mengenakan gaun yang aneh-aneh sayang… aku sudah terlalu tua untuk tampil seksi…”ujar Hye na sedikit menggoda Jung min

“YYA!!! gaun apapun yang kau kenakan akan membuatmu tampak seksi… jadi aku tidka ingin kau mengenakan gaun yang terlihat seksi dan akan membuatmu semakin seksi hingga semua orang yang meneteskan air liur jika menatapmu… sekarang tunjukkan padaku gaun yang sudah kau siapkan…”ujar Jung min, menatap Hye na tajam.

“baiklah…” Hye na melangkah ke lemari pakaiannya dan mengambil sebuah gaun berwarna merah yang mencolok dengan potongan dada yang rendah, dimana Jung min yakin ia dapat menatap belahan dada sang sitri jika Hye na mengenakan gaun itu “ANDWE!!!”seru Jung min keras, membuat Hye na terlonjak pelan ditempatnya, terkejut dengan seruan tiba-tiba Jung min. “YYA!!! kau ingin menghadiri acara penggalangan dana untuk anak-anak atau ingin ke klub malam… yaisssshhh!!! Andwe!!! Jangan pakai gaun itu…”ujar Jung min kesal, memalingkan wajahnya dari Hye na sambil melipat kedua tangannya didada, kesal. Hye na tersenyum menatap itu.

“baiklah…”ujar Hye na yang kemudian berbalik dan mengambil sebuah gaun yang lebih baik dari sebelumnya “bagaimana dengan ini…”

Jung min memalingkan wajahnya sedikit untuk melirik gaun yang ditunjukkan sang istri padanya. Sebuah gaun putih dengan panjang selutut yang manis. Ini lebih baik dari sebelumnya “… bagus…”ujar Jung min singkat, mengulum senyumnya, membuat Hye na tersenyum semakin lebar. “…baiklah aku pergi… jaga dirimu dan anak-anak sayang… aku akan menunggu kalian di Jeju… pesawat pribadi Lee akan menjemput dan mengantar kalian besok…”ujar Jung min, menatap Hye na kemudian menangkupkan kedua tangannya di wajah Hye na, membawanya semakin dekat dan mencium dalam bibir Hye na “…sarange…”ujar Jung min. Hye na tersenyum “…aku juga… hati-hati sayang…”ujar Hye na

End of Flashback

Dan dengan gaun putih itulah, Hye na pergi. Sesuai dengan ucapan Jung min, ia memang terlihat seksi dengan gaun apapun yang ia kenakan, namun untuk gaun yang satu ini, ia tidak terlihat seperti itu, tapi tetap saja terlihat sangat cantik. Mungkin jika Jung min melihatnya saat itu, Jung min akan membuatnya tidak pergi keacara itu dan hanya dirumah bersamanya. Hye na tersenyum, malu menyadari apa yang dipikirkannya.



 “kau sudah akan berangkat omma…”tanya seseorang tiba-tiba, membuka pintu kamar Hye na, dan menatapnya, menilai.

“ne sayang…”jawab Hye na menatap anak laki-lakinya lekat, penuh kasih. Tak lama tiba-tiba ia mengangkat kameranya dan mengambil gambar Hye na yang tengah menatapnya bingung “ada apa Min jae…”tanya Hye na, menatap Min jae yang masih terlihat memotret Hye na dengan kameranya. Min jae masih diam ditempatnya dan masih memotret Hye na dengan gaun yang dikenakannya.

“YYA!!! sayang…”

“perintah appa, omma… Min jae harus memotret omma sesaat sebelum omma berangkat dan mengirimnya pada appa… apa bilang jika omma mengenakan gaun yang tidak semestinya, Min jae harus mengurung omma dikamar hingga kita pergi ke Jeju…”

Hye na tersenyum mendengar penjelasan anak laki-lakinya “lalu… apa menurut penilaianmu omma harus dikurung…?!?”

Min jae menatap Hye na, meletakkan tangannya didagu dan memandang Hye na dengan pandangan menilai “…sepertinya tidak perlu…”ujar Min jae, masih menatap Hye na dengan padangan menilai.

Hye na melangkah mendekatinya kemudian mengacak rambutnya gemas “aiiishhhh… kau ini…” ujar Hye na yang kemudian segera berlalu dari tempat itu, kabur, sebelum mendapat kejutan yang lain dari anak laki-lakinya itu.

“YYA!!! OMMA!!! Jangan seperti itu…”ujar Min jae kesal dengan apa yang sudah diperbuat ommanya.

*********

Hye na tersenyum menatap bangunan megah yang berdiri tak jauh disisinya. Mobil yang mengantarnya berhenti dan pak Kim terlihat membukakan pintu untuknya. “…silahkan nyonya…”

“terima kasih pak Kim… anda bisa kembali ke Mansion dan tidak perlu menjemputku… aku akan minta Joon oppa untuk mengantarku pulang…”ujar Hye na.

“tapi…”

“Hye na…”Seru seseorang tiba-tiba, membuat Pak Kim menghentikan kalimatnya dan membuat Hye na mengalihkan pandangannya. “ahhh… oppa…”ujar Hye na, ketika mengetahui siapa yang memanggilnya.
Hye na tersenyum menatap Park Joon, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Pak Kim “…aku akan mengatakan tentang ini pada suamiku itu pak Kim… kau tenang saja… Joon oppa yang akan mengantarku pulang…”ujar Hye na, meyakinkan sesaat sebelum mendapati Park Joon telah berdiri di sisinya, melingkarkan lengannnya di pundak Hye na.

“ne pak Kim… tenang saja… aku yang akan bertanggung jawab atas Hye na… lagipula aku kakaknya… apa yang akan terjadi pada Hye na…”ujar Park Joon, menatap pak Kim, menenangkan

Pak Kim tersenyum “…baiklah kalau begitu… saya pamit…”ujar pak Kim, yang kemudian beranjak pergi, meninggalkan kedua majikannya.

“kau datang oppa… mana Eun jo eonnie…?”tanya Hye na

“dia dimansion… dia tidak bisa datang Jae joon rewel sekali akhir-akhir ini…”

“apa dia sakit…”

“ahni… dia manja sekali akhir-akhir ini… sudahlah… ayo kita masuk…”ujar Park Joon yang kemudian memberikan lengannya untuk kemudian digandeng Hye na masuk kedalam.

Acara dimulai, tak lama seetlah Hye na dan Park Joon masuk kemudian melangkah kearah pembawa acara yang sesaat kemudian mengumumkan kehadirannya. Ia meminta Hye na untuk memberikan beberapa patah kata sebelum acara penggalangan dana dibuka. Acara itu mendapatkan respon yang baik dan Hye na sangat senang dengan hasil yang didapat. Dengan hasil itu ia yakin dapat membantu semua anak didunia dan membuat semua anak itu mendapat penangan atas penyakit mereka. Hye na tersenyum manis menatap Park Joon yang berdiri disisinya, merasa bangga dengan apa yang sudah dilakukan adiknya itu. Tidak mempercayai dengan apa yang sudah dilakukan sang adik.

“…ahhh… Hye na-ssi… Park Joon-ssi…”panggil seseorang tiba-tiba, membuat Hye na dan Park Joon memalingkan wajahnya, menatap orang yang sudah memanggilnya “ahhh… tuan Yang… terima kasih banyak sudah hadir dan memberikan banyak bantuan pada Hye na…”ujar Park Joon tiba-tiba, menatap laki-laki paruh baya yang kini berdiri dihadapan Park Joon dengan seseorang yang tiba-tiba menarik perhatian Hye na dan Park Joon karena terlihat lebih tinggi dan muda dari laki-laki yang berdiri dihadapan Park Joon. “ahhh… hampir lupa…kenalkan… ini Cha In soo…”ujar tuan Yang yang kemudian terlihat mencondongkan tubuhnya pada Park Joon dan membisikkan sesuatu padanya “…dia penyumbang terbesar diacara ini…”bisiknya, namun masih dalam jarak pendengaran Hye na dan In soo sehingga keduanya masih dapat mendengar apa yang dibisikkan oleh Tuan Yang.



 “ahhh… terima kasih banyak… tuan Cha…”

Hye na tersenyum menatap laki-laki itu. “…ne… tak masalah… lagipula ini adalah keinginan dan pesan haraboji untuk menyumbangkan dana di acara ini sebelum ia meninggal…”

Senyum Hye na menghilang mendengar itu. Teringat seseorang yang juga sudah pergi meninggalkannnya. Orang yang sangat disayanginya “…mianhe…”ujarnya kemudian, menatap laki-laki itu sedih. Dia dapat merasakan kesedihan itu, dan ikut merasakan kesedihan diwjah laki-laki yang berdiri dihadapannya. Cha In soo terlihat tersenyum, mendengar permintaan maaf Hye na dan menatap Hye na lembut “…gwenchana Hye na-ssi…”ujarnya. “ahh… aku ingin membicarakan beberapa hal denganmu… apa kita bisa bertemu lagi kapan-kapan jika anda ada waktu luang…”tambah In soo, menatap Hye na penuh harap. Hye na terdiam ditempatnya, menatap Cha In soo sedikit terkejut dan segera tersadar saat mendapati tatapan menunggu In soo padanya “…ah ne… tentu saja… anda bisa menghubungiku kapan saja tuan Cha…”jawab Hye na, tersenyum menatap Cha In soo.  Park Joon terdiam menatap itu, merasakan sesuatu dihatinya yang ia pikir tidak seharusnya. Hye na tersenyum membalas senyumannya.

**********

Malam semakin larut, bulan terlihat mulai tenggelam, tertutup awan dan bintangpun terlihat enggan memberikan kerlingannya, seakan merasa lelah. Dan keheningan meraja, menyadari bahwa ia tidak sendiri diruangan itu, ia tersenyum.

“tinggal satu langkah lagi… satu langkah lagi dan dia akan hancur…”ujar orang itu tiba-tiba memecah keheningan itu, sambil menatap fajar yang hampir merekah di ufuk. Orang itu terlihat menegak kembali segelas wine ditangannya, mencoba menghangatkan tubuhnya yang hanya mengenakan celana tanpa kemeja yang sebelumnya ia kenakan.



“benar tuan… anda sudah mendapat kartu As nya dan tinggal satu langkah lagi, anda akan menang…”

Orang itu tersenyum senang mendengar ucapan asisten pribadinya itu, kemudian dialihkan pandangannya pada seseorang yang tengah terlelap tidur di ranjang tak jauh dari sisinya. Ia menatapnya sesaat, kemudian melangkah mendekatinya setelah memerintahkan asisten pribadinya itu untuk pergi. Dengan perlahan, dan tidak ingin membangunkan seseorang yang terlihat terlelap itu, ia naik ke ranjang itu, merebahkan tubuhnya disisinya kemudian menopang kepalanya dengan satu tangannya, menatap kearahnya, tersenyum “…kau sangat cantik malam ini sayang…” ujarnya dan kemudian mengecup keningnya singkat.

End Of Chapter


« Last Edit: February 14, 2013, 03:08:45 pm by ai_yuki »

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
mianhe kalau kurang menarik dan ngebosenin...  [heh] [heh]

kritik dan sarannya ditunggu ya  [hug] [hug]

kayaknya bukan long chap  [heh] [heh] mianhe

Offline Roxanne

  • Full
  • ***
  • Posts: 259
    • View Profile
yeayyyyyyy 1st comment.... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

ane suka dengan chap ini...sebenarnya suka sih semua FFnya sis Ai.. [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

tapi feeling ane kok gak enak ya,itu cha in soo mau ngapain tuh?? [dry] [dry] [dry]

jangan macem2 deh sama bininya si Jung min,diamuk baru tau tuh orang.. [guns] [guns] [guns]

suka sama couple Yoo rae dan En kyu mereka bisa nerusin jejak kemesraan orang tuanya gak ya??? [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]


penasaran sis,UPDATE ASAP ya.. im waiting.. [clap] [clap] [clap] [clap]

Offline el_minoz

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
  • upssss.....
    • View Profile
Sisstttt ai......thank u dah update...
Pas denger hyena bilang "Nak" ke Yoo rae berasa tua gt si hyena hahahah sebnarnya umur berapa sih hye na?n enkyu jg umur berapa kok kayaknya siap nikah gt wakakakka (kepo banget reader y)
Omo..omo.. Who's cha in soo?kenapa dia mo balas dendam?trus d akhir chapt ce yg tidur lelap n dicium kening nya sapa?bukan hye na kan?klo benar bisa2 perang dunia n cetarrr membahana..wakakkak btw pake nama cha in soo gara2 liat park shi hoo di CDDA y wakakakka

Ditunggu lanjutannya sista...gumawooo

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
yeayyyyyyy 1st comment.... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

ane suka dengan chap ini...sebenarnya suka sih semua FFnya sis Ai.. [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

tapi feeling ane kok gak enak ya,itu cha in soo mau ngapain tuh?? [dry] [dry] [dry]

jangan macem2 deh sama bininya si Jung min,diamuk baru tau tuh orang.. [guns] [guns] [guns]

suka sama couple Yoo rae dan En kyu mereka bisa nerusin jejak kemesraan orang tuanya gak ya??? [smiley-dance013] [smiley-dance013] [smiley-dance013]


penasaran sis,UPDATE ASAP ya.. im waiting.. [clap] [clap] [clap] [clap]

terima kasih untuk komentnya sist  [AddEmoticons04225]

Cha In soo kayaknya bakal jadi biangnya masalah...  [AddEmoticons04254]

yoo rae - ma En kyu... he he he he kita lihat aja perkembangannya

diusahakan cepet sist... terima kasih untuk komentnya ya  [hug] [hug]

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Sisstttt ai......thank u dah update...
Pas denger hyena bilang "Nak" ke Yoo rae berasa tua gt si hyena hahahah sebnarnya umur berapa sih hye na?n enkyu jg umur berapa kok kayaknya siap nikah gt wakakakka (kepo banget reader y)
Omo..omo.. Who's cha in soo?kenapa dia mo balas dendam?trus d akhir chapt ce yg tidur lelap n dicium kening nya sapa?bukan hye na kan?klo benar bisa2 perang dunia n cetarrr membahana..wakakkak btw pake nama cha in soo gara2 liat park shi hoo di CDDA y wakakakka

Ditunggu lanjutannya sista...gumawooo

terima kasih juga untuk komentnya sist  [huglove] [huglove]

udah tua sist Hye na nya... kalo di itung- itung  [AddEmoticons04259]waktu nikah ma Jung min umurnya 20 tahun, selisih 2 tahun ma Jung min (Jung min umur 22 tahun) sekarang (dari yang terakhir di Chapter 11 mereka baru aja ngerayain ulang tahun pernikahan yang ke 14) jadi sekarang umur Hye na hampir masuk 34 tahun sist [AddEmoticons04254], Jung min mau 36 tahun..

umur En kyu mau 20 tahunan  [hmff] umur sikembar mau 14 tahun... kalo Ha na baru mau masuk 1 tahun [AddEmoticons04254] emang sih jaraknya umur si kembar ma Ha na jauh banget, sebelumnya ada Dong woo juga ( Hye na ma Jung min giat banget  [AddEmoticons04231]

tentng Cha In soo di chap selanjutnya mungkin ai buka masalah yang bakal dia buat, tapi belum tahu bakalan kebuka gak alasan kenapa dia kayak gitu... kalau menilik lagi di Chapter 8, mungkin ada bayangan sist  [heh] [heh]

 ai malah belum sempat sist lhat CDDA, dan juga sebenernya nama Cha In soo udah ada di chap sebelumnya (chap 8) belum sempat nonton... [AddEmoticons04254] Btw bagus gak sist tuh drama...? [AddEmoticons04224] lumayan, dua tiga pulau terlaumpaui  [hmff] [hmff]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Makasih updatenya sist ai aku senang kalau ff ini update apa lagi bagian kemesaraan Suami istri yang tiada hari tanpa kemesaraan yg bikin orang iri melihatnya , sipat posisif jung min engga pernah hilang, resiko punya istri yg super cantik hehhe.... engga bisa melihat istrinya ada kaki tangannya jung min yg selalu ada yaitu anak "nya akhirnya kesalah pahaman antara si kembar dan hyung nya udah selesai, tapi.... masalah besar sepertinya akan menimpa keluarga meraka ya???  siapa yg ada di samping tempat tidur tuan Cha itu ??? jangan bilang hyenaaaa ??? ANDWEEEEEE engga relaaaa ini pastor jebakan supaya mau menghancurkan keluarga jung min, jadi takuttt baca nextnya hikhikhik nangis duluan aku bayangin kalau itu hyena.

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Makasih updatenya sist ai aku senang kalau ff ini update apa lagi bagian kemesaraan Suami istri yang tiada hari tanpa kemesaraan yg bikin orang iri melihatnya , sipat posisif jung min engga pernah hilang, resiko punya istri yg super cantik hehhe.... engga bisa melihat istrinya ada kaki tangannya jung min yg selalu ada yaitu anak "nya akhirnya kesalah pahaman antara si kembar dan hyung nya udah selesai, tapi.... masalah besar sepertinya akan menimpa keluarga meraka ya???  siapa yg ada di samping tempat tidur tuan Cha itu ??? jangan bilang hyenaaaa ??? ANDWEEEEEE engga relaaaa ini pastor jebakan supaya mau menghancurkan keluarga jung min, jadi takuttt baca nextnya hikhikhik nangis duluan aku bayangin kalau itu hyena.

terima kasih juga untuk komentnya sist...

yup, seperti dugaan dirimu sist  [lovestruck] di chap berikutnya masalah mulai muncul... tapi pasti tenang lagi kok sist... tenang aja  [AddEmoticons04225]

terima kasih untuk komentnya sist  [huglove] [huglove]