Author Topic: Strawberry, Lovers or Haters?--#CHP 15 PART II# 6 Nov' 11  (Read 27884 times)

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
mau nanya, ada yg punya ide lagu buat ff ini ga [what] gimana klu strawberry fields forevernya the beatles [hmpfh] [hmpfh] cocok ga ya [heh]


lagunya jaman lagu papaku banget mam... [hmpfh] [hmpfh]
gwnya malah kepikiran "SHAPE OF MY HEARTnya Backstreet Boys buat si Rath (ga nyambung [laughing] ).. [sweat] [sweat] tiap dengerin brasa Rath bgt... [heh] [heh]

Love you more than I can say

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Ada kalanya, hidup adalah hidup. Takdir sudah digariskan sejak lahir, mungkin pula .. sejak dalam kandungan. Walaupun, sekuat bagaimanapun untuk menolak atau berpaling darinya, tetap dia akan kembali padamu.

Beginilah kira-kira nasibnya wineku tercinta [hmpfh] [hmpfh]

Ingat,, jangan melihat orang hanya dari luar. Terkadang, buah yang paling baik tersimpan paling dalam dan sulit digali [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
Ada kalanya, hidup adalah hidup. Takdir sudah digariskan sejak lahir, mungkin pula .. sejak dalam kandungan. Walaupun, sekuat bagaimanapun untuk menolak atau berpaling darinya, tetap dia akan kembali padamu.

Beginilah kira-kira nasibnya wineku tercinta [hmpfh] [hmpfh]

Ingat,, jangan melihat orang hanya dari luar. Terkadang, buah yang paling baik tersimpan paling dalam dan sulit digali [biggrin]
tanda-tanda mau update berrywine.. [hmpfh] [hmpfh]

Love you more than I can say

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Ada kalanya, hidup adalah hidup. Takdir sudah digariskan sejak lahir, mungkin pula .. sejak dalam kandungan. Walaupun, sekuat bagaimanapun untuk menolak atau berpaling darinya, tetap dia akan kembali padamu.

Beginilah kira-kira nasibnya wineku tercinta [hmpfh] [hmpfh]

Ingat,, jangan melihat orang hanya dari luar. Terkadang, buah yang paling baik tersimpan paling dalam dan sulit digali [biggrin]
tanda-tanda mau update berrywine.. [hmpfh] [hmpfh]
enak aja hammer2 hammer2 sehurufpun lum ada [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline moow

  • Senior
  • ****
  • Posts: 854
    • View Profile
 [AddEmoticons04280] [AddEmoticons04280] sehuruf blom ada?? tapi diatas udah ada beberapa kalimat tuh mam [hmff] [hmff]

Love you more than I can say

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
[AddEmoticons04280] [AddEmoticons04280] sehuruf blom ada?? tapi diatas udah ada beberapa kalimat tuh mam [hmff] [hmff]
kalimat itu cuma sbg gambaran [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
lagi bikin yang ini [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
lagi bikin yang ini [hmpfh] [hmpfh]
berarti bentar malem update dong. yey..
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME


Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
lagi bikin yang ini [hmpfh] [hmpfh]
berarti bentar malem update dong. yey..
mungkin [biggrin] tp mungkin jg sebentar lagi [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER THREE
Benarkah ini benih-benih cinta .. atau .. ?



"STRO!!!" Pear menarik kerah kemejaku hingga membuatku hampir terpelanting. "Bagaimana?" tanyanya dengan menempelkan bibirnya di telingaku. Tangan satunya melingkari leherku.

"Yaish!!" Aku yang kaget setengah mati, langsung mengibaskan tangannya dan mendelik. "Bagaimana apanya?"

"Pura-pura bodoh?" Pear mendengus.

"Apanya?!!" pekik-ku. Lalu kembali kuarahkan tanganku menarik lengannya yang masih betah bertengger di atas pundak dan melingkari leherku. "Lepas!!"

"Kau ... " Pear menarik tangannya dan mengusap-ngusapnya. Pipinya memerah karena menahan rasa kesal. " .. masih saja pura-pura bodoh ... ," omelnya sambil memonyongkan bibir ke depan. "Tentu saja WINE. Apa yang dikatakannya?"

"Oh--" Aku membuka mulut lebar-lebar. Perasaan yang agak enakan setelah kejadian dengan Wine kemarin sore menjadi buram kembali. Tidak! Bukan buram! Tapi sangat murka. Wajahku merah padam ketika menatap Pear.

"Tidak menyinggung tentang dia, aku masih baik-baik saja. Sekali menyinggung namanya, emosiku langsung meledak!"

"Mwo?" tanya Pear tidak mengerti. "Apa maksudmu?"

"Maksudku?" suara ku meninggi. "Aku tidak mau dijadikan mak comblang lagi!"

"Siapa yang menjadikanmu mak comblang?" Pear membuatku makin geregetan dengan sikap tidak mengertinya. Sekarang, dia sedang mengaruk-garuk kepalanya sambil mengejap-ngejapkan sepasang mata sipitnya.

"Tentu saja kau, bego!!" umpatku keras. "Kau menjadikanku mak comblang dalam hubungan kalian. Pokoknya mulai dari sekarang yang berhubungan dengan Wine, aku tidak mau tahu. Titik!"

"Mwo?" Pear membelalakan matanya. Tapi usaha berlebihan itu tidak berhasil membuatnya semakin lebar. "Kau bermaksud ingkar janji?"

"Aku tidak .. ," ujarku, tapi segera terputus oleh selaan Pear ..

"Kau iya!" celanya dengan nada mencibir. "Kau bermaksud ingkar janji karena kau memang seorang pengecut di hadapan Wine!"

"Saya tidak!!" jeritku sekeras-kerasnya.

"Kalau begitu, buktikan!" ejek Pear.

"Aku .. " Tanganku terkepal menahan hati yang mulai memanas. Namun, .. itu hanya untuk sesaat. Detik berikutnya, aku menarik nafas dalam-dalam. Berusaha menenangkan diri. Pear ingin memanfaatkan kelemahanku. Tidak! Aku tidak boleh terpancing. Perlahan-lahan aku tersenyum sinis. "Aku orang yang sangat berlapang dada .. ," ujarku lambat-lambat agar setiap kata dan huruf yang keluar dari mulutku tertangkap jelas olehnya. "Aku tidak mudah marah .. ," lalu kata-kataku mulai meluncur cepat. "Pokoknya yang berhubungan dengan Wine tidak ada urusannya denganku!!" Aku segera memutar tubuh dan berlari dari hadapan Pear.

"Yaa!!" teriak sahabatku itu. "Mau kemana?!!"

Tapi aku tidak menghiraukannya. Terus saja berlari sampai menghilang dari hadapannya.

"Sejak kapan anak itu menjadi pintar begini?" Tanpa kuketahui, Pear berbicara sendiri di tempatnya. "Biasanya dia paling mudah terpancing .. ," segera saja dia mengaruk-garuk kepala untuk kesekian kalinya. "Mungkinkah sindiranku kurang pedas? Yaishh--gimana dengan hubunganku dengan Wine?!!! Huhh--" Kembali dia mengacak-ngacak rambutnya sampai berantakan.


*******



Aku baru menyelesaikan putaran terakhir ketika pintu ruangan balet ini diketuk orang. Aku segera mengatur keseimbanganku dan berpaling ke sana. Seseorang tampak menonggolkan wajahnya dari balik pintu.

"Apa aku menganggu?"

Aku langsung membelalakan mata, tidak percaya.

"Music?"  

"Ohh--Berry!" Dia kelihatan tidak kalah terkejutnya denganku. Aku menatapnya. Pipiku perlahan memerah mendengar panggilan itu. Setelah pertemuan pertama kami beberapa hari yang lalu, panggilan Berry ini tergiang kembali. Walaupun agak risih, karena untuk pertamakalinya aku mendapat panggilan seperti ini, hatiku berdebar-debar juga karenanya. "Kau berada di sini?" Music memasuki ruang balet dengan langkah ringan. Di tangannya tergenggam sebuah gitar yang masih baru dan kelihatan mahal. "Apa kau gabung dalam grup balet juga?"

Aku mengangguk. "Ne. Emangnya ada keperluan apa kau ke sini?"

"Aku diminta beberapa anggota grup balet sekolah untuk mengarang musik sebagai irama pengiring buat teater balet penyambutan Paskah minggu depan .. , tapi sepertinya ... " Music lalu menoleh kesana kemari. "Ruangan ini kosong .. "

Aku agak memiringkan kepala ke samping. "Siapa yang memintamu?" ujarku selanjutnya, memberanikan diri untuk bertanya.

Music mengelus-ngelus dagu .. kemudian berkata ... "Kalau tidak salah .. , mereka menamakan diri .. F3 ... "

"F3? O--ha .. ha .. " Aku langsung ngakak mendengar nama itu.

Music mengerutkan alisnya. "Weeyo?" tanyanya sambil memandangiku.

Aku segera mengeleng. "Aniyo .. ," jawabku di sela-sela tawa lebar yang berusaha kutahan. "Kalau Mango dan Apple, ada latihan buat upacara hari senin .. ," lanjutku. "Sedangkan Pear, lagi marahan dengan ku .. "

Alis Music berkenyit semakin dalam. "Tapi kudengar .. anggota F3 ada 4 orang .. "

Aku mengangguk. "Ne. Satunya lagi, aku."

"O--kau?!" Music menunjuk ku. Lalu dia memandangiku dari atas ke bawah, kembali lagi dari bawah ke atas. Aku tidak mengerti apa maksud dari pandangannya ini. Yang jelas aku merasa agak risih. "Lalu kenapa kau tidak ikut dengan kegiatan-kegiatan mereka?"

"Maksudmu?" tanyaku kebingungan.

"Kenapa tidak ikut kegiatan-kegiatan sekolah seperti mereka? Misalnya, Lembaga Perlindungan Lingkungan Sekolah? Saya dengar mereka juga tergabung dalam lembaga itu. Begitu juga organisasi-organisasi sekolah lainnya .. "

"O--itu .. " Aku manggut-manggut. Akhirnya mengerti juga apa maksudnya. "Aku tidak sebebas mereka. Sepulang sekolah, aku harus membantu perkebunan strawberry milik ayahku .. "

"Perkebunan strawberry?" Music tiba-tiba meluruskan badannya. "Milik ayahmu?" tanyanya dengan nada ditekan.

"Ne .. ," jawabku.

"Jadi .. kau anak gadis dari pemilik perkebunan strawberry di Dream High ini?"

"Ne . .," sahutku sekali lagi. "Weeyo? Kau kelihatannya .. tertarik ... ?"

"Aniyo .. " Music tertawa lebar. "Aku hanya terlalu senang bertemu kembali denganmu, Berry."

Dia mengulurkan tangan padaku. Dan dengan linglung aku menerima dan menyalaminya. Setelah perkenalan kami beberapa waktu yang lalu? Yang benar aja? Aku merasa bodoh sendiri -.-

"Apa kau masih bermaksud .. meneruskan latihannya?" tanyaku ragu-ragu.

"Tentu saja . .. " tiba-tiba Music menarik tanganku. "Kacha!"

"Tapi .. hanya kita berdua .. "

"Tidak masalah ... " Music berpaling dan tersenyum padaku.

"Kau main dengan apa? Piano?" tanyaku gugup. "Tapi di sini tidak ada piano?"

"Tidak!" sahut Music. Lalu dia mengangkat tangan dan mempertunjukan gitar yang sedari tadi dipengangnya. "Saya bermain dengan ini .. "

"Gitar?" Aku melonggo. Mengiringi teater balet dengan gitar? Bukankah kedengarannya sangat janggal?

"Iya .. " Music lalu mengendong gitar tersebut dan mulai memetik beberapa nada. "Gimana?" Dia mendongak dan menaikan sebelah alisnya padaku. "Memang kedengarannya agak aneh. Tapi kurasa .. " Dia tersenyum. Memperlihatkan barisan giginya yang putih bersih. " ... seni memerlukan variasi ... Benar kan?"

Seperti tersihir, aku mengangguk. Tidak mengerti perkataannya tapi alam bawah sadar memaksaku untuk menyetujuinya.

"Kalau begitu kacha .. "

Music kembali menarik tanganku dan membawaku ke tengah ruangan. Sebentar saja dia sudah duduk di lantai dan memetik gitarnya. Kepalanya dianggukan sebagai tanda untuk ku memulai latihannya. Aku kebingungan sendiri. F3 lainnya tidak berada di sini jadi latihan apa yang mesti kulakukan? Tapi melihat semangat Music, aku jadi tidak tega menolaknya. Perlahan tanganku bergerak, .. makin lama makin lancar. Beberapa saat kemudian kami berdua hanyut dalam gelak dan tawa, .. latihan diikuti canda.

Ternyata murid pindahan ini orangnya sangat enak diajak ngobrol. Aku menekuk bibir dan mengerling kearahnya. Sepertinya anggapan 'Idola Sekolah Bukan Tipe ku dan Mereka Bakal Menyakiti ku' harus kubuang jauh-jauh. Music Jung lebih dari semua itu. Dia sangat sweet dan baik. Lebih dari lumayan menjadikannya seorang teman. Aku yakin, kalian juga berpendapat begitu kan?


********



"Wine!! Masih berdiri di situ?! Ayo, kita sudah terlambat nih!" Coffee Song berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya dari jalan kecil dalam ladang anggur.

"Apa yang kau lihat?"

Pertanyaan halus di dekat telinga, sukses membuat Wine terperanjat kaget.

"Yaish!!"

Segera dipelototinya Chocolate Son yang saat ini sedang tertawa terbahak-bahak di tempatnya.

"Kau menyebalkan!!" dengus Wine.

"Habis, .. kau kelihatan serius banget .. ha .. ha ... ," ujar Chocolate tanpa menghentikan tawanya.

"Ada apa?" tanya Coffee yang sekarang sudah berada di antara mereka. Chocolate masih saja tertawa terpingkal-pingkal sehingga mau tidak mau dia mengalihkan perhatiannya pada Wine yang saat ini kembali mengarahkan pandangannya ke kebun sebelah. "Apa yang kau tunggu?"

"Kita bisa terlambat, Wine. Kau lupa ada pertandingan bola hari ini?" lanjut Coffee.

"Aku mesti memastikan si bengal itu tidak melanggar batas ladangku lagi!" gumam Wine pelan.

"Dhuga?" Chocolate menghentikan tawanya dan ikut melayangkan pandangan kearah yang sama.

"Siapa lagi kalau bukan Strawberry Im ... ," tandas Coffee. Dia mengulum senyum ketika menatap Wine. "Benar kan?"

"Aku tidak akan mengijinkannya menginjakan kaki di sini!" dengus Wine.

"Aku heran ... " Chocolate maju ke depan dan berbalik menghadapi Wine. " .. hanya sebuah jalan, .. mengapa kau begitu ngotot?"

"Apanya yang 'hanya sebuah jalan'?!" teriak Wine. "Jalan ini milik ku, keluarga ku. Aku berhak terhadapnya. Siapapun yang melalui jalan ini harus seijinku!" tandasnya mantap.

"Tapi .. kenapa hanya Strawberry Im?" sela Coffee.

"Mwo?" Wine berpaling padanya keheranan. "Maksudmu?"

"Maksudku, .. kenapa hanya Strawberry Im yang tidak kau ijinkan menggunakan jalan ini?"

Wine mengepalkan tangannya. "Because I hate strawberry!" Hening sejenak, lalu ..

"Hey--!!" Mendadak Chocolate melingkarkan tangannya ke leher Coffee. "Apa kau ingat kejadian beberapa tahun yang lalu?" tanyanya dengan mata berbinar.

"Beberapa tahun yang lalu?" Coffee memicingkan matanya, kemudian .. dia mengeleng perlahan. "Kejadian apa itu?"

Chocolate tersenyum misterius. "Waktu kita masih duduk di bangku SD kelas lima, di kantin sekolah. Bagaimana muka Wine membengkak dan mengeluarkan bintik-bintik merah ... "

Coffee berpikir keras, lalu ... matanya melebar. Dia mengangkat jari dan menjentikannya, "Strawberry milkshake!!!"

"Yup!" Chocolate tertawa. "Sejak saat itu kita tahu kalau si Wine ternyata ... alergi terhadap strawberry .. ha .. ha .. "

"Benar!" Coffee ikut tertawa.

Wine mendengus dan berjalan lebar ke pagar pembatas. Tangannya diletakan di situ. Kemudian dia membalikan badan. "Itu tidak lucu!"

"He .. he .. menurutku sangat lucu .. " Chocolate memegangi perutnya. "Pertama kali aku mendengar orang alergi terhadap strawberry ... "

"Sudah kubilang tidak lucu!!" jerit Wine. "Dan itu salah kalian karna memesan minuman yang ada strawberrynya!!"

"Mwo?" Coffee berpaling pada Chocolate. Dan kedua sahabatnya ini kembali tertawa keras. "Kau ini benar-benar aneh. Apa yang kami minum tidak ada urusannya denganmu. Lagian, siapa yang suruh kau salah ngambil minumanku?"

"Huhh--" Wine memalingkan wajahnya. Yang saat ini sudah memerah biru antara menahan gejolak amarah dan perasaan malu yang melanda  hatinya.

"Tapi ... " Coffee mencondongkan badannya ke depan dan memiringkan kepalanya. "Apa hubungannya alergimu dengan Strawberry sehingga kau begitu membencinya?" tanyanya tidak mengerti. "Apa memang cuma karna nama Strawberry itu? Tapi .. tidak-kah kau rasa semua itu rada tidak masuk?"

Wine mengepalkan tangannya. "Karna aku muak dengan aromanya. Kalian puas?!!"

"Aromanya?" Chocolate mengenyitkan alisnya. "Aroma strawberry?"

Wine mengangguk. Sekali lagi Chocolate dan Coffee saling melempar pandang. Dalam pikiran mereka terpental kata 'Anak ini benar-benar sudah gila!'

"Hey--kurasa kau tidak perlu menunggu lagi!" Coffee menunjuk dengan mulutnya. "Itu--Strawberrymu punya tumpangan sendiri!"

Wine menoleh ke belakang. Matanya dipicingkan. Jauh di depan, sekitar sepuluh meter di jalan besar yang berseberangan langsung dari kebun strawberry, tampak sebuah mobil sedang dibukakan seorang pemuda kepada Strawberry.

"Jadi karena itu, dua hari ini tidak kelihatan batang hidungnya?" Wine bergumam pelan. "Siapa dia?" tanyanya dengan nada ditinggikan.

"Siapa?" Coffee balas bertanya. "Maksudmu, cowok itu?"

Wine mengangguk.

"Apa kau tidak tahu?" tanya Coffee heran.

"Tidak!" jawab Wine dingin. "Kalau tahu buat apa saya menanyakannya?"

Chocolate tertawa. "Kau sih bawaannya cuek melulu." Kemudian dia menunjuk ke depan. Cowok yang mereka bicarakan sudah masuk ke dalam mobilnya. "Dia murid kelas sebelah, kelas 2 B. Anak pindahan dari Seoul. Menurut kabar, keluarganya sangat kaya dan berpengaruh di Korea ... "

"Benar kah?" ujar Wine cuek. Dia maju beberapa langkah, kemudian menghempaskan tubuhnya di atas hamparan rumput kering. "Segitu berpengaruh, kenapa pindah ke sini?"

Coffee dan Chocolate mengangkat bahunya secara bersamaan.

"Kau masih betah di sini?" tanya Coffee. "Kita benar-benar akan terlambat!"

"Kalian pergilah dulu!" Wine mengibaskan tangannya. Lalu dia memejamkan mata dan, ..  tersenyum perlahan. "Akhirnya aku tidak perlu dipusingkan lagi oleh segala tingkah laku gadis bengal itu!" ujarnya sambil menyelipkan sepasang tangan di belakang kepala. "Jalan ini seutuhnya terhindar dari yang namanya 'Strawberry!'" ujarnya puas. Kemudian dia menghirup udara dalam-dalam. Tapi sebentar saja alisnya sudah berkenyit. Dia meloncat bangun dan berpaling ke kebun strawberry di sebelahnya. "Sial! Aroma strawberry itu masih tercium juga!" dengusnya sambil menyepak rumput-rumput kering di bawah kakinya. "Kuharap musim panas segera datang! Aku paling benci musim semi, huh!!"

Wine menyambar ranselnya dari batang pohon yang tumbuh di situ kemudian beranjak lebar-lebar kearah jalan kecil. "Berangkat guys!!"

"Mwo?" Coffee dan Chocolate berpandangan bego. "Yaish--anak ini selalu seenak perutnya!!" teriak mereka sambil berlari mengejar Wine.


********



Peringatan hari Paskah hari itu berjalan lancar. Cuaca yang beberapa hari lalu cukup dingin, ajaib berubah hangat. Sepertinya musim panas mulai menunjukan kehadirannya dengan menyapa bumi dengan sinar mentarinya yang lumayan terik. Membawa pengharapan baru bagi semua makhluk di dunia.

Semua murid beserta guru yang menghadiri acara Paskah itu terlihat begitu menikmati. Apalagi acara puncaknya yang berupa teater balet kecil yang disumbangkan grup balet sekolah. Semua bertepuk-tangan meriah ketika para balerina mulai mengerak-gerakan badan dengan gemulai mengikuti iringan musik yang berasal dari gitar yang dipetik sang idola sekolah. Musik yang riang, mengambarkan musim semi yang hangat dan memberi pengharapan baru, seperti saat-saat panen yang begitu dicintai para penduduk Dream High.

Musik perlahan memelan dan akhirnya berhenti, diselesaikan dengan putaran terakhir dari para balerina. Tepuk tangan meriah kembali terdengar, diikuti siulan-siulan keras. Music meletakan gitarnya dan turun dari panggung, sedangkan para balerina melangkah ke depan dan membungkukan badannya sebagai tanda terimakasih kepada para penonton.

"Ghamsamida .. ," kata mereka. Kemudian mereka mundur ke belakang, kembali ke belakang panggung.

Dua pembawa acara naik ke panggung dan memberi kata-kata terakhir sebelum layar akhirnya benar-benar ditutup. Acara hari ini berjalan sukses. Para penonton perlahan bubar dari aula sekolah yang lumayan luas itu, sampai tinggal segelintir orang saja.


*******



"Stro, kau langsung pulang?" tanya Pear ketika kami berganti pakaian dalam ruang ganti.

"Tidak .. ," sahutku. "Aku masih ada keperluan sedikit .. "

"O--" Pear mengangguk, lalu mengalihkan perhatiannya. Memasukan baju baletnya ke dalam ransel.

"Kau .. tidak marah lagi?" tanyaku lambat-lambat. Takut kalau pertanyaanku mengobarkan kembali api amarahnya. Maklum, selama dua hari setelah peristiwa itu, Pear tidak mau bicara denganku.

"Tidak!" ujar Pear. "Percuma minta bantuanmu." Dia mengangkat ranselnya kemudian menyampirkannya ke punggung. "Aku akan melakukannya sendiri!"

"Melakukan apa?" Apple tiba-tiba melibatkan dirinya dalam pembicaraan kami. "Emangnya Pear marah padamu ya?" Dia lalu menoleh padaku. "Ada apa?"

"Terjadi sesuatu?" celetuk Mango dari belakang. "Kalian agak aneh akhir-akhir ini .. "

"Gwencana!" ujar Pear cepat. "Saya harus pergi, sobat. Ommaku ada arisan jadi saya harus segera pulang buat jaga dongsengku. Anyong, girls .. " Beberapa langkah dia berhenti. Menoleh dan menatapku. "Lupakan semuanya, Stro. Miane, saya yang salah .. "

"Anhi .. " Aku mengeleng, kemudian tersenyum padanya. "Gwencanayo .. ," sambil mengacungkan tanganku ke atas.

Pear mengangguk, lalu berlalu dari hadapan kami.

"Ada apa sebenarnya?" tanya Apple.

Aku mengangkat bahu. Tanpa menjawab pertanyaannya, aku mengambil tas selempang dari dalam laci dan memakainya. "Saya juga harus pergi sekarang. See you, girls!" Aku menepuk bahunya dan Mango.

"Yaa!!" teriak Apple begitu aku sudah sampai di ambang pintu. Untuk terakhir kalinya, aku berpaling pada mereka. "Anyong .. ," ujarku sambil melambaikan tangan pada mereka.


********



Aku keluar dari ruang ganti, menyelusuri lorong pendek sampai tiba di atas panggung. Di situ agak gelap karna terhalang oleh layar lebar yang sudah diturunkan. Aku menyibak layar itu dan agak terkejut mendapatkan Music masih berdiri di situ. Dia sedang memandang keluar jendela, ... tapi begitu mendengar bunyi langkahku dia berpaling.

"O--sudah selesai?" tanyanya sambil tersenyum. "Aku menunggumu sejak tadi .. "

"Menungguku?" Aku menyentuh dada dan memandanginya keheranan. "Weeyo?" tanyaku sambil menuruni panggung.

"Ada yang ingin kubicarakan .. ," kata Music. Dia berjalan kearahku. Sampai di sebuah bangku panjang yang berjajar rapi dalam aula ini, dia berhenti dan meraih seikat bunga mawar segar yang entah sejak kapan sudah terletak di situ. "Untuk mu ... ," kata Music sambil menyodorkan bunga tersebut padaku. "Selamat atas pertunjukannya. Sangat sukses .. "

"Ohh--ghamsamida .. ," kata ku gugup. Dengan tangan gemetar aku menerima mawar dari Music. Untuk pertama kalinya aku menerima bunga dari seorang cowok. "Ini sangat indah ... ," ujarku pelan, menatap kagum mawar-mawar merah yang masih terselimut lapisan embun di setiap helai kelopak-kelopaknya.

"Berrya ... "

Panggilan lembut dari Music membuatku mengangkat wajah. "Dhe?"

"Maukah kau menjadi pacarku?"

"DHE?" Aku tersentak. Bunga dalam tanganku hampir terjatuh ke lantai. "Mak .. maksudmu .. ?" tanyaku gemetar.

Music tersenyum. "Jadi pacarku .. ," katanya sambil menyentuh tanganku yang sudah sedingin es. "Ya?"

Tanpa sadar apa yang kulakukan, aku mengangguk. Getaran-getaran dalam dadaku melaju makin cepat, berdegup keras dan bernyanyi dengan irama yang tidak beraturan, .. apalagi ketika Music tiba-tiba memeluk ku.

"Gumawo ... ," ujarnya di sela-sela telingaku. Begitu lembut dan menyentuh sampai ke kalbu. "Sarangheyo, Berry .. " Mataku berkejap. Demi omma, pertama kalinya aku merasakan getaran seperti ini. Getaran yang membuatku hampir kehilangan nafas. Aku tidak mengerti dan tidak tahu harus menamakannya apa. Getaran ini begitu kuat. Inikah yang dinamakan orang 'getar-getar asmara'?

Tiba-tiba tawa keras terdengar dari ujung panggung. "Ya--si gadis apek akhirnya laku juga!"

Aku mengenyitkan jidat. Suara sengau dan rada berat itu tidak asing bagiku. Aku berpaling dengan cepat. "WINE?!!!" Benar dia adanya. Aku melirik dengan liar. Sejak kapan dia berdiri di situ? Mengapa aku tidak melihatnya? Berarti .. dia melihat semuanya? OH--NOOO!! Saat ini aku ingin menyembunyikan wajah ke kolong meja.

"Kenapa?" ejek Wine. Dia menghampiri kami, .. lalu menatapku dengan matanya yang bersinar licik laksana kucing. "Malu?"

"WINE SO!!!"

"Aku berada di sini sejak tadi, jadi tidak bisa disalahkan karna telah mendengar semuanya ... ," lanjutnya tak berperasaan.

Aku mempelototinya. "Kau mau apa?" Perlahan kukepal sepasang tangan ini. Sebelahnya kumasukan ke dalam saku seragam sekolah dan meremas kertas yang entah sejak kapan kumasukan di situ menjadi bulatan kecil.

"Hanya turut bergembira buatmu .. " Wine mengangkat bahu dengan tampang mencemooh. "Akhirnya ladang anggurku terlepas dari baumu .. "

Plok!! Ucapan Wine tidak berlanjut oleh lemparan bola kertas yang sukses mengenai jidatnya.

"Yaish!!" Cowok itu berteriak dan menyentuh jidatnya yang meninggalkan bekas merah. "Strawberry Im!!!"

"Rasakan!!" Aku menjulurkan lidah kesal.

"KAU!!" Wine menunjuk dengan nada mengancam.

"Sekali lagi kau berani mengejek ku, kau akan mati!!" Aku berteriak padanya. Ingin melangkah lebih dekat, tapi terhenti oleh sentuhan Music di tanganku.

"Berry .. "

Deg, .. sial! Aku melupakan keberadaan Music di sini! Dia .. melihat kegalakan-kegalakan ku? OH--TIDAK!!!

Aku berpaling dengan gerak lambat, ... sangat-sangat lambat. "Music ... ," ujarku pelan dan memelas.

"Kau lihat, man?" celetuk Wine, membuatku segera melirik dan mempelototinya. "Beginilah pacarmu. Kasar, egois dan urakan ... ," ejek Wine sambil mencibir.

"Tidak masalah .. ," sahut Music, tersenyum sabar. "Saya senang dia bisa menjaga diri sendiri. Jadi tidak mudah disakiti .. "

"Mwo?" Wine melonggo. "Kau tidak keberatan punya pacar seorang berandal?"

"Tentu saja tidak jika hanya sikapnya yang mirip .. " Kemudian Music merangkul pundak ku. "Aku bangga memiliki seorang pacar kayak Berry .. "

"Kau gila .. ," desis Wine. Dia mundur selangkah, lemas. Wajahnya pucat pasi. Layaknya sudah mendapat pukulan telak dari kekalahan yang tidak mungkin terjadi sepanjang hidupnya.  

Mendengar perkataannya barusan, aku mengesek-ngesek gigi geram. Bagaimana mungkin dia bilang Music gila? Aku lalu mengacung-acungkankan kuntum-kuntum bunga dalam tanganku.

Melihat gelagat tidak baik dari ku, dia mundur semakin ke belakang. "Yaa--kau tidak boleh melakukan itu!!" serunya. "Itu bunga dari pacarmu .. "

"Memangnya kenapa?" balasku mengancam. "Jika kau tidak pergi juga, mawar-mawar ini akan menjadi makananmu!!"

"Yaishh!!" Wine memutar tubuh jangkungnya dan berlari lingkang pukang ke arah pintu aula. "I HATE YOU STRAWBERRY!!"

"I DON'T NEED YOUR LOVEEE!!!" jeritku sekencang-kencangnya. Nafasku tersengal-sengal setelah menghabiskan teriakan itu. "WINE GEBLEK!!" lanjutku sambil meninju udara.

"Kau hebat ... "

Music? Yaa--kenapa aku melakukan ini lagi? Apa pandangannya sekarang terhadapku? Berandalan beneran seperti perkataan Wine?

"Music ... , aku .. aku biasanya tidak begini .. "

Music tertawa. "Tidak apa. Saya tidak keberatan kau menjadi diri sendiri .. "

"Aku tidak begitu .. " Aku berusaha membantah tapi terputus oleh genggaman tangannya di tanganku.

"Kacha! Kita makan bersama. Aku yakin kau sudah lapar . ."

"Mwo?"

"Kau sudah lapar kan?" katanya, melirik perutku yang memang sudah bernyanyi sejak tadi.

Aku mengangguk malu-malu. "Ne . ."

"Kalau begitu, kacha!!"

Aku tidak menolak lagi. Sambil bergandengan tangan kami keluar dari aula sekolah, menuju kantin yang sudah agak sepi.

Music resmi menjadi pacar ku? Aku tersenyum perlahan. Diam-diam, tanpa sepengetahuannya, aku melirik wajahnya yang terlihat sempurna oleh siraman sinar mentari siang yang jatuh tepat mengenai parasnya yang menawan. Ini sudah seperti mimpi saja. Sejenak aku termangu. Tapi .. bagaimana reaksi F3 lainnya, terutama Mango dan Apple yang juga tertarik pada Music, setelah mengetahui hubungan ini? Aku menghela nafas berat. Persetan,, Tidak usah dipikirkan dulu. Yang penting sekarang. Aku ingin menikmati permulaan kebersamaan ini. Tanpa diganggu oleh siapapun! Aku mengambil keputusan bulat.



*******
« Last Edit: March 05, 2011, 02:06:37 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
ga periksa ulang jadi mohon maaf buat segala kekurangannya [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
belom baca-- tapi  [cheekkiss] buat my beloved mommy yg sama2 cute kaya gue  [hmff]

kayanya chapter kali ini seru  [hmpfh]

wine, straw & music hahaha  [laughing]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
WINE U'RE JEALOUS HUH, ADMIT IT BOY EVEN JUST A LITTLE BIT,HEHEHH. Oh jd gara2 minum stroberi milkshake wine jd bentol2*syukurin*. Tp kyknya wine kangen tuh ga ketemu berry 2 hari,eh muncul2 da py cowo,xixiii. Lah temennya aja heran ama tingkah wine yg alergi stroberi,ckckckk. MUSIC JUNG u are so sweet belain pacarmu di dpn wine geblek. Si wine lgsg jiper and mati kutu,wkwkkk. Palingan jg lama2 kangen ama aroma berry, jealous and jatcin deh ama si stroberi. Mami tengkyu da di update.


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Diamond of Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 714
  • Your smile make me cool..Your love around me,,
    • View Profile
Gumawo mi..
Kok aq ngerasa mereka cpt banget pacaran??apa iya, uda samasama suka??klo udah sih, aq nepisin anggapan burukku tentang music..
Si wine mati kutu deh diperlakukan music kyk gitu..hanya dengan kata2 bisa membuat wine malu telak..udah pucat pasi gitu..ya ampun, ckck
tp, aq seneng deh sifat berry aslinya diliat music..berasa gimana gitu..strawberry and music..*sebenarnya kagak nyambung*wkwk
tapi, aq udah jatuh cinta sama ff ini..ngebaca ini, bikin aq pengen ngemil..makanan sama minuman semua..
Si pear cuma memanfaatkan kelemahan si berry toh..apa yg akan dilakukannya sama wine??
Ditunggu lagi mi..
From the bottom of my heart,,
i wish you here with me ever and forever..
Become a real couple..

Aza aza hwaiting!!!

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Gumawo mi..
Kok aq ngerasa mereka cpt banget pacaran??apa iya, uda samasama suka??klo udah sih, aq nepisin anggapan burukku tentang music..
Si wine mati kutu deh diperlakukan music kyk gitu..hanya dengan kata2 bisa membuat wine malu telak..udah pucat pasi gitu..ya ampun, ckck
tp, aq seneng deh sifat berry aslinya diliat music..berasa gimana gitu..strawberry and music..*sebenarnya kagak nyambung*wkwk
tapi, aq udah jatuh cinta sama ff ini..ngebaca ini, bikin aq pengen ngemil..makanan sama minuman semua..
Si pear cuma memanfaatkan kelemahan si berry toh..apa yg akan dilakukannya sama wine??
Ditunggu lagi mi..
iya pacarannya emang cepat banget. and yg nembak tuh si music .. menurutmu gimana [chin] apa ada udang dibalik batu [what] semula gw udah bilang, sifat seseorang tidak bisa nilai hanya dari luarnya saja. wine mungkin kelihatan sangar and tak berperasaan, tapi dia emang alergi stroberry total jadi tidak bisa disalahkan jika dia begtiu membenci stroberri [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun