Author Topic: I CAN’T CALM MY HEART ″ending super LONG″  (Read 38571 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
next chap mereka diam diaman lg nih..ini akibat perbuatan si duet maut.btw weep apaan ya??
ff HOTnye MinSun niQ... [hmpfh] [hmpfh] wild fire [on]
  [on] [on] [on] [on] mana moow sistaaa di page brpa,authornya sapa..mami kah?????ubek kebelakang lagi ahh.. [hmpfh] [hmpfh] jadi nih ff bakalan hott ya #toel2 author
wildfire tuh ff di soompi. colab antara migs, jen and beth. ff ketiga mereka 'Midnight Phantom',, ga kelar2 n kyknya dah dinganggurin. semua ff soompi dlm bhs inggris [biggrin]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline mbah dukun

  • Junior
  • **
  • Posts: 142
  • My Name Is JangKelin
    • View Profile
UPDATEEE... [briggin]

Offline mbah dukun

  • Junior
  • **
  • Posts: 142
  • My Name Is JangKelin
    • View Profile
oh ff di forum lain ya mami?pantes wkt itu gw ubek2 cm nya g nemu ta pikir punyanya author my rath.yah kuciwa....(nangis bareng jandi)

Offline Namutz

  • Junior
  • **
  • Posts: 197
  • nona goo is inspiring women
    • View Profile
udeteeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
 [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] [concert] Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 Emoticons0424 [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [AddEmoticons04234] [emoticon-object-097] [emoticon-object-097] [emoticon-object-097] [emoticon-object-097] [emoticon-object-097] [emoticon-object-097] [emoticon-object-097] [emoticon-object-097] [emoticon-object-097] [emoticon-object-097] [emoticon-object-097] [emoticon-object-097] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04285] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262]

updettttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt

eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
[AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262] [AddEmoticons04262]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
update donks!!!kangen ma pasangan aneh bin hot JunpyoJandi.
[/size][/color][/b]

siti minsun

  • Guest
KAPAN NE DI UPDATE....... [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
 [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc] [2vil3jc]
 [wave] [wave] [wave] [wave] [wave] [wave] [wave] [wave] [wave] [wave] [wave] [wave]

 [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile
Miaaaaaaaaaannnn all agak terlantar nih  [heh] [heh] [heh]
Niatnya mau upadate sebelum puasa, tp ntah bisa ntah engga..
Berhubung autor mau sidang, mohon do'a nyaaaaaaa  [hmpfh] [hmpfh] [smiley-dance013]
Jangan didemo yeee ntar autor engga konsen  [hmff] [hmff] [hmff]
 [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin]
 [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin]
 [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin] [briggin]

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
okey,sukses ya sidangnya.
[/size][/color][/b]

Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile

Junpyo menyandarkan kepalanya di kursi kerja, matanya terpejam, berkali-kali menarik dan menghembuskan nafas yang berat. Dahinya terhenyit berusaha menahan kelopak matanya agar tak terbuka dan menumpahkan air dari pelupuknya. Bayangan wajah jandi yang histeris berurai air mata terus memenuhi pikirannya, begitu terasa sesak di dada dengan rasa bersalah sekaligus kecewa. Setelah pertengkaran hebat barusan, junpyo berjam-jam diam seperti itu di kantornya. Kepalanya pusing, terlihat berantakan. Tidak ingin berfikir tentang apa yang baru saja terjadi sebenarnya, tapi hatinya tak berhenti merasa gundah. Menyakiti jandi hanya karena dirinya juga kalut oleh semua kata-kata jihoo, bukanlah hal yang bisa junpyo kendalikan. Ditambah lagi gadis itu terang-terang terus saja menolaknya. Tapi si sisi lain, merasa seperti pecundang, lelaki macam apa yang sukses membuat seorang gadis begitu ketakutan. Ia pun yakin setelah ini jandi akan sangat membencinya.

Jujur saja, bukan urusan dana yang hilang, atau seperti apa sifat jandi yang sebenarnya. Meski jandi sama saja seperti wanita lain yang menginginkan dirinya hanya karena apa yang ia miliki, meski jandi adalah gadis yang memperdayanya sekalipun, meski jandi adalah gadis seperti itu, mungkin hatinya tak akan se-terluka ini. Yang paling menekannya saat ini adalah kecemburuan.

“AAAARRRGGGGHHHH……….”

Lengan junpyo berhasil menyapu habis seluruh barang yang ada di atas meja kerjanya-menjatuhkan apa saja yang ada disana. BRAAAKKK….

Junpyo berkali-kali meneriakkan kekesalanya, jari-jarinya meremas geram apa saja yang didapatnya termasuk rambut lebatnya sendiri, tetap tak terasa sakit. Tubuhnya seakan lemah tak berdaya, terdampar begitu saja di sandaran kursi. Matanya tertutup rapat-rapat, mati-matian menahan titik-titik air di dalamnya.



------------------------------------------



Ponselnya berdering, junpyo tidak perduli. Dia tidak dalam suasana yang baik untuk menjawab telpon. Pikiranya kacau dan galau. Tapi ponsel itu tetap bandel tidak berhenti berdering, sampai junpyo mau tidak mau–terpaksa meliriknya, mendapati serketaris jung menghubunginya.

Junpyo :   “Ada apa?”

Serk.Jung :   “Tuan muda, kami baru saja mendapatkan informasi kemana dana itu digunakan..”

Junpyo :   “Kemana?” jawabnya pelan, dia agaknya tidak tertarik dengan hal itu untuk saat ini. Tak perduli jandi menggunakan uang itu untuk apa, sama sekali bukan itu yang ia pertanyakan. Tapi…….

Serk.jung :   “Ke beberapa yayasan di Korea. Nona Geum menyumbangkan dana sebesar itu untuk yayasan, awalnya pengurus yayasan tidak ingin memberi tahu, karena nona tidak ingin ini diketahui media.”

Blap, junpyo merinding mendengarnya, terdiam.

Junpyo :   “M…mwo?” Nadanya benar-benar seperti bisikan orang ketakutan.

Ya, baru saja dia marah pada jandi, berbuat kasar padanya karena emosi. Namun sebenarnya dalam hal ini jandi sama sekali tidak salah, dia tidak melakukan suatu keburukan apapun.

Serk.jung :   “Ne, Tuan muda. Menurut informasi, nona sudah sejak lama menjadi donatur tetap untuk banyak yayasan dalam jumlah besar. Saya rasa ini karena nona tidak bisa menggunakan uangnya sendiri, mengingat yayasan itu sudah terlantar selama dua bulan.”

Junpyo :   “Jincaa?”

Junpyo mulai terkelu dengan tatapan kosong, merasa bodoh. Benar, dia yang melarang jandi menggunakan uangnya sendiri sejak mereka menikah, waktu itu dia tak menemukan cara lain untuk menundukkan jandi. Sekarang,  bagaimana bisa ia menuduh jandi yang tidak-tidak sementara hati gadis itu begitu indah. Bahkan dia bicara sangat kasar, menyamakanya dengan  wanita lain. Apa masih termaafkan?
 
Junpyo :   “Apa yang sudah ku lakukan?” gumamnya lirih, seperti tak bernyawa. Seolah tak ingin merasa lebih salah lagi, ia langsung memutuskan sambungan telpon itu. Matanya berkedip bingung berkali-kali, bibirnya tergetar ingin berkata-kata, tapi tak mampu. Hanya menarik nafas dalam-dalam, tapi itupun tak mampu sedalam itu. Semuanya tak ada yang berjalan sesuai keinginannya, dia sungguh menyesal.

Tapi tetap saja, kesimpulanya malah….
 “Tidak heran kenapa jihoo tidak menginginkan wanita manapun lagi selain jandi. Dan ternyata memang sahabatnya itu lebih mengenal istrinya dibanding dirinya sendiri..” Kenapa begitu terlambat mengenal jandi? Bagaimanapun, cemburu masih mendominasi dirinya.

Junpyo berlama-lama menyembunyikan dirinya di kantor itu, tapi tetap tidak menemukan kelegaan di hatinya. Dia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, seolah kehilangan kepercayaan diri menghadapi jandi. Jandi begitu pasti menolaknya, walaupun setelah ini memohon maaf padanya, mungkinkah hati jandi akan berubah? Mungkinkah jandi akan melihatnya? Kenapa begitu membingungkan? Kenapa dirinya sekarang terlihat begitu lucu? begitu menyedihkan?



            =====================




Junpyo malah menghabiskan sisa malam ini di sebuah bar. Lagi-lagi ditemani jaekyung yang sedari tadi menunggunya cemas, meski junpyo sama sekali tak menghiraukan keberadaannya. Bergelas-gelas bir habis ditegukknya tanpa ampun, matanya sayu-memerah, begitu pula hidungnya. Kepalanya tak sanggup ditegakkan lagi, tertunduk ke kanan dan ke kiri.

Matanya tak bisa berhenti berkaca-kaca, air mata yang melambangkan kesepian mendalam. Ia bahkan tidak bisa membedakan rasa sakit dan bersalah yang terus muncul.

Jaekyung :   “Junpyo-yaa… ayo kita pulang.” Memperhatikan junpyo yang sudah hampir tak sadarkan diri.

Junpyo :   “Kemana?” jawabnya sambil terkekeh seperti orang bodoh.

Jaekyung :   “Yah, tentu saja ke rumah mu. Ayo.. aku akan mengantar mu.”

Jaekyung berusaha membantu junpyo beranjak dari sana, tapi junpyo buru-buru menghempas tangannya.

Junpyo :   “Anyi.... aku tidak mau pulang.”

Jaekyung putus asa menghadapinya, ia menatap junpyo lekat-lekat, menebak-nebak apa yang sudah terjadi antara mereka. Kenapa kali ini junpyo seolah tersiksa dengan pernikahanya. Junpyo bahkan sampai tak mau pulang ke tempat dimana ada jandi.
 
Jaekyung :   “Apa kau semenderita itu?” bisiknya pelan. Dia hanya tidak tahu kalau junpyo saat ini mendadak merasa menjadi seorang yang sangat  berdosa.




            =========================



Pukul 4.00 am
Kediaman Goo


Lengan junpyo melingkar kuat di leher jaekyung, sedangkan tangan jaekyung kuat-kuat melilit di pinggang junpyo. Gadis itu tertatih-tatih menopang tubuh junpyo untuk masuk ke kediaman Goo yang sudah sangat senyap meskipun ada beberapa pelayan dan penjaga rumah yang menyambut mereka.

Jandi-yang dari tadi tidak bisa tidur-langsung bangkit dari sofa ketika mendengar suara mobil. Dia tau, itu pasti junpyo. Jandi berhambur menyusuri anak tangga bermaksud menemui junpyo, mulanya ia merasa lega karena junpyo akhirnya pulang. Tapi perasaan itu langsung luntur ketika melihat suaminya yang sudah sama sekali tidak sadarkan diri itu pulang bersama seorang gadis.
 
Jandi :   “Onnie…” tertegun.

Jaekyung :   “Oh, jandi-yaa.. Ayo bantu aku membawanya ke kamar. Dia mabuk berat.”

Jandi langsung sadar dari keterpakuanya menatap mereka berdua, kemudian bersama seorang pelayan membantu jaekyung memapah tubuh berat junpyo menaiki tangga dan mengantarnya ke kamar. Keadaan ini sungguh di luar akal sehat, bagaimana bisa seorang istri membiarkan wanita lain membawa pulang suaminya dalam keadaan mabuk? Bahkan mengantarnya sampai ke kamar? Jandi benar-benar merasa bodoh.

Jandi dan jaekyung menjatuhkan tubuh junpyo ke ranjang, tapi saat keduanya hendak bangkit tiba-tiba junpyo malah meraih tangan jaekyung.

Junpyo :   “Mianhe…. Jeongmal mianhe….” Matanya masih terpejam, suaranya sangat pelan.

Dug.. dug… hati jandi berdesir tak karuan, matanya berkedip berkali-kali, refleks langsung memalingkan wajahnya ke sisi dimana tidak ada seorangpun boleh melihatnya, menghindari pemandangan yang sama sekali tak layak itu.

Jaekyung sendiri pun sebenarnya shock, dia bahkan tidak tau kenapa junpyo minta maaf. Tapi, melihat reaksi jandi, dia sadar mungkin saja junpyo salah orang. Jaekyung berusaha menyembunyikan perasaannya meski hatinya tidak kalah gundahnya. Perlahan melepaskan tangan junpyo untuk kemudian berpamitan.

Jaekyung :   “Jandi-yaa, aku pulang dulu.. Sampai bertemu besok..”

Jandi :   “Dhe ? Besok?” jandi tak mengerti kenapa mereka akan bertemu lagi besok.

Jaekyung :   “Apa junpyo tidak mengatakanya padamu? Yijung mengajak kita ke kediaman ommanya di Busan. Anggaplah liburan...” Tersenyum puas seolah berhasil mempertegas bahwa jandi tak berarti di hati junpyo.

Jandi :   “Oh, ne... sampai bertemu besok. Gomawa onnie-yaa, junpyo pasti selalu merepotkan mu.”

Jaekyung :   “Kkkkk….”

Jaekyung tertawa geli, sedangkan jandi tidak tau apa yang ditertawakan gadis ini. Apanya yg lucu?

Jaekyung :   “Jandi-yaa, dia memang selalu begitu. Aku sudah terbiasa.” Kembali tersenyum.

Jandi tersenyum paksa, merasa harga dirinya sebagai seorang istri kali ini benar-benar teranjak. Matanya sayunya menoleh pada junpyo yang sudah tertidur pulas, kemudian menghela nafas berat.


            =======================




Busan,
Di sebuah perdesaan.

Junpyo dengan mobil sport merah miliknya berada paling depan bersama jaekyung, woobin dan yijung dengan mobil mereka masing-masing, kemudian jihoo berada di paling belakang bersama jandi melaju kencang menyusuri jalan beraspal yang bisa dibilang sepi. Mereka sedang menuju ke kediaman omma yijung di sebuah perdesaan di Busan. Ibu yijung sudah lama berpisah-meski tak bercerai- dengan ayah yijung. Tapi sebagai anak yang sangat mencintai ommanya, yijung selalu mengunjungi wanita paruh baya ini setiap tahun. Sejak kecil, teman-temannya selalu ikut bersamanya, seperti agenda wajib mereka tiap tahunnya. Pemandangan indah terhampar luas di sisi kanan dan kiri jalan, disolek oleh warna-warni bunga serta bukit-bukit hijau yang penuh dengan sayur-sayuran dan buahan, juga banyak terdapat air terjun di lereng-lereng bukit.

-Setiba di kediaman Omma yijung-

Jandi :   “Wah…. Indah sekali….” Matanya berbinar-binar memandang sekelilingnya. Diam-diam junpyo melirik jandi, menyembunyikan senyum simpul, seolah puas bisa membawanya ke tempat ini.

Omma yijung keluar dari rumahnya, menyambut mereka di halaman depan. Ia tersenyum hangat dan langsung memeluk yijung. Bibi So –begitu dia biasa disapa- masih terlihat cantik di usia senjanya. Meskipun dia berasal dari keluarga kaya, namun sikap sederhananya inilah yang membuat dia berpisah dengan appa yijung dan memilih tinggal di perdesaan seperti ini.

Woobin :   “Anyeong bibi… kau telihat sangat sehat?” Mereka semua membungkuk memberi hormat, kemudian omma yijung memeluk mereka satu per satu.

Bibi So :   “Anyeong woobin-aa, seperti yang kau lihat, bibi bertambah tua. Ah, kau semakin gagah.” Menepuk-nepuk punggung kekar woo bin.

Woobin :   “Anyio, aku lihat sepertinya keriput bibi tidak bertambah.” Sambil memperhatikan wajah bibi So sampai membuatnya tersipu.

Omma yijung memukul punggung woobin pelan, semuanya tertawa geli melihat tingkah mereka.

Bibi :   “Kau ini berani mengejek bibi huh? Ah, junpyo, jaekyung... kalian baik-baik saja?”

Keduanya membungkuk, memberi salam, sementara si bibi datang memeluk junpyo dan jaekyung bergantian.

Jaekyung :   “Ne, bibi... Bibi tambah cantik kok.” Jaekyung menggoda bibi so, membuatnya lagi-lagi tersipu malu.

Kemudian perhatian omma yiijung terarah pada jihoo yang dari tadi mematung tanpa ekspresi, bibi so langsung memeluknya penuh rasa rindu –mengingat hanya jihoo yang selama dua tahun terakhir ini tidak ikut mengunjunginya.

Bibi :   “Aigoo, Jihoo-yaa, kau sudah pulang? Oooh.. bibi sangat merindukan mu. Kau semakin tampan...”

Jihoo hanya tersenyum, tapi kemudian kehadiran jandi di sisi jihoo mengundang perhatian si bibi, matanya berbinar-binar menatap jandi.

Bibi So :   “Oh, Siapa gadis cantik ini? Kekasih mu? Omo… dia cantik sekali…” Bibi so tersenyum takjub sambil menggenggam tangan jandi yang langsung membungkuk-memberi hormat.

Jandi :   “Anyeong bibi... aku Geum jandi.” Senyumnya semakin berseri-seri.

Bibi so kelihatannya sangat menyambut baik kehadiran jandi, tapi semua orang disana mendadak kaku. Bagaimana tidak? Kekasih jihoo? Junpyo apa kabar ?

Mulut junpyo sudah terbuka-berniat menghela, tapi bibirnya terkelu. Ingin sekali mengatakan “Bukan, dia istriku.” tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan begitu saja hanya karena gengsinya yang setinggi langit.

Bibi :   “Aigoo, Jihoo-ya kau sangat beruntung. Ayo jandi, kau jangan sungkan ya disini.” Bibi So menggoda jihoo, mencubit pipinya kuat. (^.^) -c =.=) Jihoo sedikit meringis, pipinya memerah-ntah karena cubitan atau karena malu, ia tersenyum ragu pada si bibi.

Woo bin dan yijung saling melirik penuh isyarat, pertanda mereka harus segera mengakhiri situasi ini.

Yijung :   “Omma…. Aku lapar…” langsung memboyong ommanya kembali ke rumah.

Woo bin :   “Ne, bibi… disini anginnya kencang, kau bisa sakit. Ayo cepat masuk.” Ikut nyengir tak jelas, berlagak perhatian-sambil ‘menyeret’ si bibi meninggalkan keempat teman mereka.

Bibi :   “Yah, kaliaaan…. Pelan sedikit!”

Junpyo kesal, lagi-lagi tak ada satu pun yang mengakui pernikahan mereka. Sekilas ia melirik jandi, mereka bahkan sama sekali belum saling menyapa sejak kejadian semalam.



            ======================



--Di dapur--


Omma :   “Hah?? Jincaa?”

Mulutnya terbuka lebar, menganga tak percaya mendengar ‘pengakuan’ yijung.

Yijung :   ”Ne. “ jawabnya malas.

Plaaaaak…. Sebuah getokan mendarat di kepala yijung.

Yijung :   “Aw… aaaahh….ommaaaa” yijung grasak-grusuk menahan sakit, menggosok-gosok kepalanya.

Omma :   “Kenapa kau tidak memberi tahu ku sebelumnya? Aiiish, aku malu sekali.” Komat-kamit memandang kesal pada yijung.

Yijung :   “Omma, berhenti memukul ku.”

Omma :   “Yah, Bagaimana kau ini? Bagaimana bisa sepasang suami istri berkencan bersama dengan kekasih masing-masing?”

Bibi so jadi gerah tak menentu, mondar-mandir dengan tangan terlipat di dada. Yijung jadi risih melihat reaksi ibunya yang dianggapnya berlebihan.

Yijung :   “Aiissh.. omma… pelankan suara mu.” Memohon sambil memelas.

Omma :   “Andwe.. Seharusnya kau sebagai temannya bisa menyelamatkan pernikahan mereka. Arasso??”

Yijung :   “Kau sendiri, membiarkan pernikahan kalian berantakan, apanya yang menyelamatkan?” Suaranya hampir tak terdengar.

Kata-katanya sih cuek, tak bermaksud menyinggung, tapi ommanya malah terdiam. Membuat yijung jadi serba salah.

Omma :   “Karena itu, omma tidak ingin kalian mengalami kejadian seperti omma.” Mendadak ommanya memamerkan wajah murung.

Yijung :   “Aiish, anyi omma.. mianhe... jangan hiraukan kata-kata ku. Aku tak bermaksud...” Belum selesai usahanya membujuk, si omma mendadak jadi semangat lagi.

Omma :   “Karena itu, MEREKA HARUS SEGERA PUNYA ANAK.”

Wajahnya mendadak antusias, tersenyum penuh muslihat. Yijung memicingkan matanya seolah ngilu melihat ommanya benar-benar akan beraksi.

Omma :   “Dengan memiliki anak, maka ikatan pernikahan akan terasa lebih kuat.” o:)

Yijung :   “Huuufhh...” +_+’

“Kau berpisah dengan appa setelah memiliki ku. Ikatan apa yang menjadi lebih kuat?” batin yijung dengan rasa putus asa.



            ========================



Waktu makan malam hampir tiba, mereka semua mempersiapkan pesta untuk nanti malam di halaman rumah bibi So. Junpyo dan jaekyung menyiapkan meja, woo bin dan yijung membantu bibi mencicipi menu makanan, jihoo dan jandi menyiapkan tempat duduk senyaman mungkin. Meski semuanya bekerja sama, tapi tetap saja kelihatan berantakan, tidak ada di antara ke empat pria itu yang melakukan perkerjaannya dengan baik.

Jaekyung :   “Yah, junpyo-yaa, berhenti memainkan sayuran-sayuran ini.”

Junpyo tidak perduli, dia tampak tidak tertarik dengan apapun, sepertinya masih kesal. Apalagi melihat jandi dan jihoo yang lagi-lagi seolah mempermainkan dirinya.

Jandi :   “Oppa, sepertinya kau tidak membawa anggur.” Teriaknya pada yijung sambil mengangkat bungkusan besar dari mobil yijung.

Jihoo :   “Berikan padaku.”

Jihoo langsung mengambil bungkusan yang tampak berat itu dari tangan jandi, lagi-lagi mata junpyo menangkap pemandangan yang membuatnya gerah.

Yijung :   “Benarkah? Aku sudah menyuruh pelayan meletakkanya di mobil.”

Jandi menggelengkan kepalanya pertanda tidak ada.

Bibi :   “Tak apa, kita minum soju saja... Jandi-yaa, kau mau kan menolong bibi membeli soju di minimarket dekat pasar?”

Jandi :   “Dhe? Tapi aku…”

Bibi :   “Junpyo-yaa, berhenti memainkan sayuran itu, kau ini… cepat temani jandi ke pasar, sebelum semua sayuran itu rusak.”

Junpyo melongo tak membantah, yijung benar-benar tepukau dengan muslihat ommanya ini. Dia benar-benar melakukanya   -__-


         
             ===========================



Jandi dan junpyo berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju pasar yang tidak terlalu jauh, udara sore menjelang malam itu sangat dingin, angin bertiup kencang. Mereka masih berdiam diri tanpa mengeluarkan sepatah katapun meski berjalan berdampingan. Hanya suara kerikil-kerikil batu yang memecah kebisuan ketika sesekali kaki mereka tidak sengaja menendangnya.

Setelah membeli beberapa botol soju, junpyo dan jandi berniat langsung kembali ke rumah bibi so. Tepat di pintu keluar minimarket terdapat seekor anjing penjaga yang sedang tidur, jandi yang berjalan sambil menatap kesal punggung junpyo yang sudah duluan meninggalkannya tidak sengaja malah menginjak ekor anjing itu.

“aaarrrrggghhhh... huk....”

Jandi terdiam, perlahan melirik anjing di bawah kakinya yang sedang memamerkan deretan gigi tajam. Jandi terbelalak, jangankan melangkah, ia bahkan tak berani menelan ludah. Langkah junpyo terhenti, meliirik ke belakang memastikan keberadaan jandi. Tapi gadis itu malah terdiam kaku.

Junpyo :   “Yah, waeyo?” tanyanya heran.

Mata jandi berkedip berkali-kali, tak berani bersuara. Junpyo meliirik ke bawah kaki jandi, perlahan tapi pasti matanya ikut melotot. Serentak.....

“Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..... Lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii”

“Guk Guk Guk Guk Guk”


Keduanya lari kalang kabut tanpa berani menoleh ke belakang, junpyo langsung meraih tangan jandi, menggenggamnya erat dan terus berlari tak tentu arah. Mulanya suara anjing itu sangat keras, tapi semakin jauh mereka berlari, suara “Guk Guk” nya semakin hilang. Tentu saja, sebenarnya anjing itu diikat di tiang listrik, mana mungkin bisa mengejar mereka.

Huh..huh...huh.... keduanya ngos-ngosan, bersembunyi di sela-sela lorong sempit, sangat sempit. Bahkan mereka harus saling berhimpitan untuk bisa masuk. Junpyo menoleh ke sekelilingnya, mencari keberadaan anjing itu, tapi tidak menemukan tanda-tanda apapun. Jangankan gung-gungan anjing, suara jangkrikpun hanya terdengar samar. Hanya gelap yang semakin datang dan malam yang semakin senyap.

Junpyo ragu-ragu memperhatikan jandi yang sedang meremas kaosnya kuat, menggunakan dada junpyo untuk menutupi wajahnya, ia terlihat sangat ketakutan. Tubuhnya gemetaran.

Junpyo :   “Kau tidak apa-apa?”

Perlahan jandi mengangkat kepalanya, mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Sejenak merasa kaku ketika jandi menyadari posisinya, ia pun langsung melepas pelukanya dari junpyo dan tak berani menatap suaminya. Junpyo pun buru-buru keluar dari lorong sempit itu, kemudian menarik tangan jandi untuk keluar dari sana.

Keduanya menoleh kesana kemari, tak ada anjing, tak ada orang, tak ada apapun. Keduanya melongo, saling menatap satu sama lain dengan pandangan tak percaya begitu menyadari kalau anjing itu ternyata tidak mengejar. Merasa sudah dibodohi seekor anjing.

Jandi :   “Kita ada di mana?”

Junpyo memperhatikan sekelilingnya, tapi ia pun tidak mengenali tempat ini. Sedangkan jandi terus bertanya karena merasa tak yakin dengan sikap junpyo.

Jandi :   “Yah, dimana rumah bibi?” menatap junpyo penuh harap.

Junpyo :   “Aku tidak tahu!” mengangkat bahunya, acuh.

Jandi :   “Mwo? Yah, eotthoke?” Jandi jadi panik, memandangai lingkungan sekitarnya yang cukup gelap.

Junpyo :   “Mana ku tahu. Jalan saja, ini desa kecil, berjalan sebentar pasti ketemu.” Langsung melangkah.

Jandi :   “Yah, junpyo-yaa, tapi tidak ada orang disini.”

Mau tak mau ia mengekori junpyo sambil tetap was-was-menoleh kesana-kemari, memandang ngeri pada sekelilingnya, takut. Jalan setapak tak beraspal itu terlalu sunyi, sementara junpyo terus berjalan tanpa menghiraukan ketakutan jandi, membiarkan jandi mengekorinya sambil mengoceh tak jelas.

“Yah, goo jun pyo, tunggu!”  junpyo tidak menoleh.

“Ah, kita hubungi yijung oppa saja.” Suaranya antusias, langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya. Tapi kali ini junpyo langsung bereaksi, ia buru-buru merampas ponsel dari tangan jandi.

Junpyo :   “Andwe! Kau mau bilang kalau kita tersesat di desa super kecil ini? Atau kita dikejar anjing? Oh, atau dikerjai oleh seekor anjing? Huh?” meruncingkan bibirnya sambil memelototi jandi.

Jandi :   “Waeyo? Lagian ini salah mu.” Jawabnya ngotot.

Junpyo :   “Mwo?”

Jandi :   “Siapa suruh kau berlari kesini. Pabo-ya..” mencibir, balik memelototi junpyo.

Junpyo :   “Yah, siapa suruh kau menginjak anjing itu?”

Brrrrr…. Tidak ada yang mau mengalah. -________-“

Jandi :   “Sini, kembalikan ponselku.”

Jandi mencoba meraih ponsel di tangan junpyo yang diangkatnya tinggi-tinggi, tentu tubuh jangkung junpyo bukan saingannya.

Junpyo :   “Harga diriku tidak akan membiarkan itu terjadi. Lupakan!” junpyo kembali melanjutkan jalanya, meninggalkan jandi yang kesal bukan main.

Jandi :   “Harga diri kata mu? Yah, Goo Jun Pyo! Aiiisshh...”

Jandi melongo tak percaya dengan apa yang didengarnya, lelaki ini masih bisa memikirkan harga diri disaat tersesat seperti ini. Jandi berteriak sambil menghentak-hentakkan kakinya keras ke tanah sakin kesalnya.

Junpyo :   “Kau cerewet sekali.” Jawabnya acuh tanpa menoleh.

Bruuuk….

“aawwww…..”

Suara aneh itu berhasil menghentikan langkah junpyo, ia langsung menoleh ke belakang. Benar saja, gadis itu sudah tersungkur di tanah, junpyo merasa dia selalu melakukan kecerobohan yang tak perlu. Untuk kesekian kalinya kakim jandi terpelekok, dan ya-dia terjatuh. Memang selalu seperti itu, kakinya selalu menjadi korban highheels nya.

Junpyo :   “Yah, kau ini, selalu begini.” *ingat kejadian saat pertemuan kedua mereka saat di restoran*

Jandi :   “Siapa suruh kau…. Yaah mana boleh kau meninggalkan seorang gadis di tempat seperti ini” terduduk di tanah sambil meringis.

Junpyo :   “Siapa yang mau meninggalkan mu?” Tukasnya kesal.

Jandi :   “Hikz, junpyo, help me…” Merengek dengan wajah memelas. 

Junpyo menghela nafas kuat-kuat, pertanda kali ini jandi merepotkannya lagi dan lagi. Dengan malas ia berjongkok memberikan punggungnya pada jandi.

Junpyo :   “Ayo naik.” *seperti saat pertama kali junpyo menggendong jandi di jalan raya yang sepi*

-------------------------------------------

Sepanjang jalan setapak yang tidak jelas ujungnya, junpyo berjalan pelan sambil menggendong jandi yang masih menenteng bungkusan belanjaanya tadi. Tanganya melingkari leher junpyo, mendekapnya erat. Malam semakin gelap, udara dingin menusuk ke tulang. Di sisi kiri terhampar bukitan sayuran yang hampir tak terlihat karena disembunyikan oleh gelap malam. Di sisi kanan terdapat rumah-rumah berjejer namun sangat sepi. Junpyo dan jandi menyusurinya dalam kebisuan, sampai jandi tidak tahan dengan situasi kaku ini. Akhirnya suaranya memecah keheningan malam.

Jandi :   “Kenapa disini sepi sekali?”

Junpyo :   “Kau takut?”

Jandi :   “Ummm......”

Junpyo :   “Tapi di sini sangat tenang.”

Jandi :   “Ne, juga sangat indah, aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini.”

Junpyo :   “Ada beberapa desa di Korea yang sangat indah, pemandangannya sangat bagus.”

Jandi :   “Benarkah? Dari kecil aku selalu berpindah-pindah dari satu Negara ke Negara lain, justru tidak tau ada keindahan yang tersembunyi di Negara ku sendiri. Tapi, bagaimana kau bisa tau?”

Junpyo :   “Aku sibuk di luar negeri untuk urusan bisnis, karena waktu yang sangat sedikit, kami hanya di korea untuk berlibur.”

Jandi :   “Kami?”

Junpyo terdiam, ia tidak langsung menjawab pertanyaan jandi ini. Yang ia yakini jandi juga sudah tau jawabannya, tapi ntah kenapa kali ini junpyo seolah harus melindungi perasaan jandi. Tapi jandi terus mendesaknya untuk menjawab.

Jandi :   “maksud mu dengan jaekyung onnie?”

Blap, junpyo seolah dicekokin makanan pahit penuh ke dalam mulutnya, terdengar kecemburuan dari suara jandi, ntah itu hanya perasaannya saja, yang jelas membuatnya segan menjawab, tidak tau harus menjawab apa, dan ya, memang benar. Gadis pintar.

Junpyo :   “A.. aku.. tempat-tempat seperti ini justru aku sangat menyukainya, bahkan tidak akan membiarkan satu perusahaanpun menjadikanya objek bisnis. Kelak aku akan membawamu ke tempat-tempat indah lainnya.”

Ping.... ntah kenapa kata-kata ini keluar begitu saja dari mulut junpyo, meski tak terlalu jujur tapi seolah membela perasaan jandi.

Jandi :   “Benarkah?” diam-diam ia tersenyum, tersipu.

Junpyo :   “Ne.”

Senyum jandi yang semula lega, perlahan luntur, mendadak mengingat kejadian malam itu. Ya, ini pertama kalinya mereka bicara lagi setelah malam itu. Apalagi kata ‘cerai’ masih mendayu-dayu indah di telinganya.

Jandi :   “Meskipun kelak kita berpisah?” bisiknya ragu.

Langkah junpyo tiba-tiba terhenti, yang juga membuat jandi mengehentikan kata-katanya.

Junpyo :   “Mianhe... jeongmal mianhe..”

Lidah jandi terkelu, meski jandi tak mengerti arti ucapan maaf itu, ia bahkan tidak dapat melihat wajah junpyo yang terus menatap lurus ke depan, namun suaranya terdengar sangat serius.

Jandi :   “Junpyo-yaa...” panggilnya pelan, tidak menyangka junpyo bisa berkata maaf.

Junpyo :   “Jangan pedulikan kata-kata ku semalam. Percayalah padaku!”

Kata-katanya datar, terdengar kepanikan dan ketulusan secara bersamaan. Namun bagai sebuah sabda yang menghipnotis jandi, gadis itu terpana mendengarnya. Kemudian junpyo melanjutkan jalanya pelan.

Jandi :   “Gomawo Goo Jun Pyo.”

Ntah keberanian itu datang dari mana, tapi refleks jandi mengencangkan dekapannya pada junpyo, mendudukan dagunya di pundak junpyo, wajah mereka sangat dekat. Jandi dapat melihat senyum pahit menghias di wajah  junpyo yang sebenarnya merasa sangat bersalah pada jandi, lebih baik gadis ini memakinya atau menjitak kepalanya, dari pada harus mendengar jandi berterimakasih, semakin membuatnya merasa berdosa karena ucapannya semalam.

Akhirnya, setelah satu jam berjalan -mencari arah yang benar yang sebenarnya dekat, namun berputar putar karena tersesat- akhirnya mereka menemukan minimarket tempat awal dari kejadian bodoh ini. Hanya berjalan lima menit, akhirnya mereka sampai di rumah omma yijung. Jandi sudah tertidur nyaman di punggung junpyo.

Mereka semua yang dari tadi mencari keduanya lansung berlari kearah junpyo dan jandi dengan wajah cemas sambil meneriakkan nama mereka.

Bibi :   “Omona, kalian baik-baik saja?” matanya hampir berair sakin cemasnya.

Junpyo :   “Ne, bibi. Gwenchana…”

Jihoo :   “Jandi? Apa yang terjadi?” Sumpah, jihoo jauh lebih histeris. Sebenarnya junpyo tidak senang dengan reaksi jihoo, sekilas junpyo melirik wajah jandi yang tertidur di pundaknya, hatinya jadi damai.

Junpyo :   “Anyi, dia baik-baik saja.”

Tiba-tiba hati jihoo dan jaekyung mendadak dingin, terasa menusuk.

Bibi :   “Junpyo-yaa, cepat bawa jandi ke kamar.” Tanpa basa-basi langsung mengiring mereka.

Junpyo :   “Ne.” tanpa ragu junpyo membawanya ke kamar mereka yang sudah bibi so sediakan.

Junpyo meletakanya di ranjang perlahan takut membangunkan malaikatnya.


Bibi :   “Istirahatlah, kau pasti lelah menggendong istri mu” ;) bibi so tersenyum nakal, kemudian berlalu meninggalkan junpyo yang melongo melihat tingkah omma yijung ini. Bibi so menutup pintu kamar sambil tersenyum puas, seolah muslihatnya berjalan dengan lancar. Ia kembali bergabung bersama yang lainya yang masih menunggu junpyo di halaman. Tapi yang muncul justru bibi so seorang diri sambil nyengir-nyengir tak jelas, membuat jihoo dan jaekyung gundah bukan kepalang. Yijung malah menatap ommanya dengan tampang putus asa. ==’




--Di dalam kamar--

==Song of this scene : “My Everything by Lee Min Ho”==
Junpyo tersenyum menatap wajah malaikatnya yang sedang tertidur pulas, cantik, membuat jantungnya berdebar-debar. Sesekali dia mengusap pipi mulus jandi perlahan. Tapi tiba-tiba ponsel junpyo berdering, nyaring suaranya sampai membangunkan jandi.

Junpyo segera menjawab teleponnya, bermaksud menghentikan keributan akibat nada dering ponselnya itu. Jandi menatap sayu pada junpyo yang duduk di sisi ranjang, kesadaranya perlahan kembali utuh. Apalagi setelah mendengar nama seseorang.

Junpyo :   “Yeoboseyo.. jaekyung-yaa….” Juga menatap jandi ragu. “Ne, aku kesana.”

Mendadak detak jantung jandi berdegup cepat, hampir saja ia lupa dengan keberadaan jaekyung di antara mereka. Junpyo menatap jandi dengan perasaan tidak enak, ntah kenapa ia merasa bersalah.

Junpyo :   “Mianhe, aku membangunkan mu…” suara junpyo membuyarkan lamunan jandi.

Jandi :   “Ah, de?”

Junpyo :   “Gwenchana? Bagaimana kaki mu? masih sakit?”

Jandi ;   “Oh, sudah tidak sakit.”

Junpyo :   “Jandi-yaa… tidurlah, mereka menungguku.” katanya ragu, menatap penuh arti pada jandi, seolah meminta izinnya.

Jandi tidak bereaksi, dia memang tak rela. Tidak mau menatap junpyo yang mulai bangkit dan beranjak pergi, hati jandi dipenuhi kegundahan. Apa yang harus ia lakukan untuk menahan junpyo? kepalanya dipenuhi pikiran yang menghalanginya melakukan sesuatu untuk mencegah junpyo pergi.

Tepat ketika junpyo nyaris membuka pintu kamar, tiba-tiba saja jandi berlari ke arahnya, berdiri tegak di hadapannya, menghalangi langkah junpyo. Ia merentangkan kedua tangannya dan menatap junpyo dengan serius. Dahi junpyo terhenyit, menatap jandi bingung.

Junpyo :   “Jandi-yaa? Kaki mu???” menatap jandi dari kepala sampai kaki, pandangan tak percaya.

Jandi :   “Aku tidak peduli ! Jangan… pergi… Goo… jun… pyo…”

Suara serak terbata itu terdengar penuh pengharapan, –memaksa- memberanikan diri. Ia tidak peduli meskipun kali ini terlihat sangat bodoh. Ia tidak peduli meski kakinya harus patah karena melompat dari tempat tidur, ia tidak peduli meski bila junpyo mendorongnya, setidaknya untuk saat ini, dia tidak sanggup berfikir terlalu banyak. Cinta sudah membuatnya mabuk. Jandi tidak ingin junpyo bersama wanita lain, ia tidak ingin junpyo menemui jaekyung.

Junpyo :   “Jandi-yaa.. a..apa yang kau lakukan?” junpyo masih tak mengerti, sedangkan saat mata mereka bertemu, ia ragu harus bagaimana sementara mata coklat indah itu mulai berkaca-kaca.

Jandi :   “Jangan pergi! Goo jun pyo, aku mohon jangan pergi!” Kali ini air menetes dari sana, lembab, terselip pengharapan yang dalam.

Junpyo :   “A…aku... Kaki mu…” sialnya junpyo terlalu mencemaskan kakinya, harusnya ia lebih waspada dengan apa yang akan jandi lakukan setelah ini. Harusnya, dia mendorong jandi karena berani menghalangi langkahnya.

Jandi :   “Apa yang bisa membuatmu tidak pergi?” Konyol, tapi gadis ini serius, pertanyaan itu keluar megitu saja dari bibirnya. Pipinya mulai basah, junpyo shock mendapati jandi seperti ini, ia tidak yakin dengan sikapnya.

Junpyo :   “An… anyi… Jandi-yaa… akuuu…”

Belum sempat junpyo menyelesaikan kata-katanya, jandi melompat dalam pelukan junpyo, memeluknya erat-erat. Sedikit terdorong, junpyo pun refleks melingkarkan tangannya di pinggul jandi, karena takut jandi kehilangan keseimbangan mengingat tubuh junpyo yang tinggi, selain itu kakinya pun masih sakit. Jandi memeluknya sangat erat, seolah tidak ingin lepas. Junpyo terhenyak dengan sikap jandi yang sangat aneh.

Perlahan jandi menarik tubuhnya, menatap junpyo lekat dalam jarak yang sangat dekat. Tatapan itu semakin memilukan hati junpyo tanpa alasan yang jelas, seperti menanti sebuah pengertian.

Junpyo :   “Waeyo jandi-yaa? Apa yang terjadi?”

Tanpa basa-basi, jandi langsung menjawab pertanyaan junpyo dengan sebuah kecupan di bibir lelaki itu, ia berjinjit mengimbangi tinggi junpyo, matanya terpejam menikmati ciuman yang belum terbalas itu. Tangannya melingkari leher junpyo yang sedang terbelalak kaget. Belum sempat junpyo membalas, jandi sudah melepas ciumanya itu, membisikkan sesuatu sambil menatap junpyo penuh perasaan.

Jandi :   “Jangan pergi junpyo…” lagi-lagi hanya ini yang ia katakan, bisikannya begitu lirih.

Junpyo tenggelam dalam tatapan jernih itu, lidahnya kelu tak mampu berkata, ada getaran hebat saat hatinya berusaha menangkap maksud dari semua ini. Sebelum ia mampu menafsirkan, bibir penuh itu kembali menempel begitu saja di bibirnya, perlahan menjadi lumatan-lumatan lembut seiring mulut junpyo yang masih terkelu. Bagaimana mungkin junpyo bisa menolak, bahkan jangan biarkan apapun menghentikan ini. Meski ia masih diliputi kebingungan, demi tuhan ia membalas ciuman itu lebih ganas lagi, ‘melahap’ habis mulut jandi. Meskipun bila saat ini geledek menggelegar -yakinlah- mereka tak akan mendengarnya.

Lidah junpyo mendorong, menabrak kesana kemari setiap sudut mulut jandi, engap, terkadang tersengal. Tanganya melingkar di pinggul jandi, semakin merapatkan tubuh jandi ke tubuhnya, juga berusaha meringankan beban di kaki jandi yang sakit. Junpyo dapat merasakan dada jandi menempel lekat di tubuhnya, tubuh mungil ini dengan mudah menyesakkan junpyo dengan gairah yang tak sanggup dibendung lagi.

Desahanya semakin menjadi-jadi menyambut jari-jari liar junpyo yang meremas-remas bagian tubuh jandi, bibirnya bergriliya menyusuri lekuk wajah jandi hingga ke leher. Aroma tubuh keduanya meleleh bercampur satu sama lain seiring atmosfir yang semakin panas dan oksigen yang menipis. Tapi junpyo tiba-tiba  melepaskan lumatanya, sedangkan jandi masih menginginkannya.

Junpyo :   “Aku tidak akan pergi. Kau tidak harus....”

Jandi benar-benar tidak mengizinkan junpyo bicara, ia kembali melumat bibir junpyo lebih dalam dari sebelumnya. Ntah bagaimana junpyo mengajarinya melakukan ini, tapi sepertinya junpyo guru tersukses di dunia. Mulanya junpyo putus asa setengah mati menahan gairah dalam dirinya, takutnya lagi-lagi jandi menolaknya ditahap ia tak mampu mundur. Tapi kali ini ada apa dengan jandi? Ia sendiri yang datang pada junpyo.

Junpyo :   ”Jangan menyerah, karena kali ini aku tidak akan melepaskamu lagi.” suaranya serak, dengan nafas yang masih memburu.

Junpyo membawa tubuh jandi ke dalam gendongan, mengiringnya menuju ranjang, membaringkan jandi ke tempat tidur tanpa melepas ciuman mereka. Sekarang tubuh junpyo berada tepat di atas jandi, menekanya, menindihnya, dalam dekapan tubuh kokoh junpyo.

Jandi :   “aaaah…”

Di sisi lain……

--Di halaman rumah bibi so--

Yijung dan yang lainnya berpesta dengan kambing malang yang sudah diguling, ditusuk, dibakar pula. -lezat-

Sementara jaekyung mondar–mandir gelisah, ada air di pelupuk matanya, tak ada yang bisa ia lakukan selain menggigit-gigit kuku, menunggu junpyo yang dari tadi tidak muncul-muncul. Jihoo memperhatikanya penuh ketenangan, walau sejujurnya ia tak kalah terguncang. Mungkin keduanya sama-sama menakuti ‘sesuatu’, mencemaskan mereka –junpyo dan jandi- yang sedari tadi berduaan di kamar, takut terjadi sesuatu yang ‘baik’ antara mereka. Jihoo sendiri tertunduk layu, dadanya sesak setengah mati.

Jaekyung tidak tahan lagi, ia berlari memasuki rumah, penuh kepanikan menyusuri setiap ruangan, mencari sebuah ‘kamar panas’ dengan hati sakit bagai tertusuk belati. Ia membuka pintu kamar di rumah bibi so ini satu per satu, merazia setiap isinya tanpa ragu, namun ia terguncang ketika menemukan sebuah kamar –yang di yakininya- jandi dan junpyo berada di dalamnya, pintunya tertutup rapat. Mendadak ia ragu, kepercayaan dirinya luntur, semangatnya hilang -untuk mendobrak  lancang-.

Tepat di hadapan pintu, tangan jaekyung mengapal sekuat-kuatnya, seolah mengumpulkan kekuatan untuk memberanikan diri mengetuk pintu sialan itu, dan mengusik kedua orang yang berada di dalamnya.

Tangannya mengayun, namun tiba-tiba seseorang menahannya.


--Di dalam kamar--


Kamar ini membara, -maaf saja- bisa dibilang mirip kapal pecah, pakaian berserakan dilantai, berantakan, tanpa ada tersisa sehelai benangpun ditubuh junpyo dan jandi.

Dasahan penuh gairah tak berhenti mengiringi gerakan jari-jari junpyo yang semakin liar, menyusuri lekuk tubuh jandi. Keduanya basah dimana-mana, bercampur menjadi satu. Diikuti remasan nakal junpyo di beberapa bagian tubuh jandi yang membuatnya memekik tertahan. Tangan jandi meraba-raba punggung junpyo hingga sesekali mencengkramnya kuat dan meninggalkan bekas merah disana. Salah sendiri, siapa suruh junpyo berkali-kali memainkan lidahnya di dada jandi, membuatnya menggeliat geli.

Sejenak mereka berhenti-mengatur nafas, saling bertatapan sementara tangan jandi masih melilit di leher junpyo yang berada di atasnya. Rambut keduanya mulai basah oleh keringat, tak ada yang menghalangi pandangan junpyo menyusuri tubuh mulus istrinya ini.

Junpyo :   “Jandi-yaa… Bolehkah?”

Belum selesai junpyo menyampaikan  maksudnya, jandi langsung menghela.

Jandi :   ”Bukankah tadi kau bilang tak akan melepasku lagi? Untuk apa bertanya sekarang?”

Junpyo :   ”Kau percaya padaku? Oh, tidak.. Aku mohon percayalah padaku kali ini.”

Bukan karena jandi menghalanginya keluar menemui jaekyung, bukan karena ia memaksa jandi menerimanya, bukan karena kewajiban seorang istri. Hanya saja, masih terlihat keraguan di mata jandi, keraguan seorang gadis yang akan menyerahkan dirinya seutuhnya pada seorang lelaki, yang meskipun adalah suaminya tapi tak pernah ada kata cinta diantara keduanya. Belum pernah.

Junpyo menatap penuh harap pada jandi, tak disangka, gadis itu tersenyum.


--Di balik pintu--

Jihoo menahan jaekyung sebelum ia nyaris mengetuk pintu kamar itu, jaekyung terperanjat, menatap jihoo dengan berbagai macam kegalauan. Kali ini air matanya tak terbendung lagi, mengalir deras sepilu-pilu nya, hatinya tersayat-sayat oleh tatapan tajam jihoo. Meski jihoo tak mengeluarkan sepatah kata pun, meski tatapannya seolah ingin mendobrak pintu ini, meski ia terlihat tidak kalah terlukanya, namun nyatanya jihoo menahannya. Jaekyung sedapat mungkin mengendapkan isakkannya, menangis deras tanpa suara sedikitpun, menggenggam dadanya, seolah berusaha menghilangkan sakitnya namun gagal. Hati mereka berteriak sejadi-jadinya.


--Di dalam kamar--



Jandi :   “Oooh…. Junpyo… Sakit…”

Junpyo tiba-tiba menghentikan aktivitasnya, ia terhenyak. Rasanya ia memasuki jandi dengan pelan, hanya sedikit hentakan. Junpyo menatap bingung pada jandi yang masih meringis.

Jandi :   ”Yah, bisakah pelan sedikit, ini pertama kalinya untukku.”

Jandi meruncingkan bibirnya pertanda protes, junpyo sendiri terperanjat, menatapnya bingung, sungguh tak bisa mengatakan kalau ia benar-benar tak tahu ini adalah yang pertama bagi jandi.

Junpyo :   “Mianhe” Jawabnya pelan, hanya bisa berkedip bingung berkali-kali.

Sejujurnya tidak semuanya salah junpyo tak mengenali masih ada gadis yang perawan, ia bahkan tidak masalah dengan hal itu. Pertama, jandi tinggal bersama jihoo yang dikiranya sepasang kekasih. Kedua, sungguh ia tahu, Jihoo-sahabatnya, tak ‘secemen’ itu. Tapi benarkah meski ia bukan orang pertama yang merawat jandi saat sakit, meski bukan dirinya yang lebih dulu mengenal jandi, -nyatanya- Jandi tercipta untuknya. Bukan jihoo.

Junpyo tiba-tiba senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh, jandi menatapnya heran. Kemudian ia berbinar-binar menatap jandi yang masih berada dibawahnya, senyumnya seumeringah seperti orang yang baru memenangkan sesuatu.

Junpyo :   ”Gomawo istriku..” tersenyum lebar memamerkan lesung pipi yang dalam.

Tatapannya tulus menusuk hati jandi, begitu teduh dan gelap. Benar-benar tak ada alasan untuk lari dari seorang Goo jun Pyo. Tak bisa dipungkiri, hatinya memilih junpyo sebagai labuhan akhirnya. Hatinya, menyuruhnya memberikan segalanya pada junpyo. Hatinya, tak ingin memungkiri lagi, sungguh ia menginginkannya. Keduanya tersenyum seolah hanyut dalam cinta yang ingin diselami selamanya.

Junpyo kembali mencoba memasuki tubuh jandi lagi, perlahan, kali ini tanpa hentakan. Beberapa kali jandi memekik tertahan, menggeliat seiring guncangan  yang semakin cepat. Tapi lambat laun yang terdengar tinggal desahan-desahan halus dari keduanya. Cukup lama, sebelum akhirnya junpyo berhasil menumpahkan benihnya ke dalam rahim jandi. -untuk pertama kali dalam seumur hidupnya-


-- di halaman --


Woobin :   ”Dimana junpyo?”
 
Ia menoleh kesana-kemari mencari sosok junpyo, mengingat suasana yang menjadi sangat sepi. Bagaimana tidak, jaekyung terdiam seribu bahasa dengan wajah pucat yang terus tertunduk. Sementara jihoo ntah bersembunyi dimana. Jelas suasananya jadi sangat membosankan. Bibi so tersenyum penuh muslihat.

Bibi :   “Kau pikir apa? Tentu saja dia bersama istrinya di kamar” ;)
Ntah apa yg terjadi di dalam sana, tak ada seorang pun yang berhak bertindak.
Sungguh tragis, ada satu hati yang luar bisa tersayat oleh kata-kata omma yijung.

Yijung :   “Omma....” yijung melotot pada ommanya, mencemaskan jaekyung.

Woobin :   “Ah kau payah goo jun pyo, seharusnya ini saatnya pesta.” Berbisik pelan pada dirinya sendiri sambil melirik yang lainnya.


-- Di kamar --


Junpyo memperbaiki posisinya, ia menarik jandi ke atas tubuhnya, memeluk istrinya erat. Tanganya meraba-raba punggung mulus gadis ini, sementara jandi membenamkan wajahnya di dada kokoh junpyo.

Junpyo :   “Gomawo… jandi-yaa…”

Junpyo perlahan mengecup rambut jandi lembut, terasa nyaman menikmati wangi tubuhnya yang selalu ia rindukan.

Jandi :   “Ini malam pertama kita. Sepertinya terlalu terlambat.” Samar-samar junpyo melihat lesung pipi jandi dibalik senyum yang dikulumnya.

Junpyo :   “Aku akan menyesal jika menunggu lebih lama lagi. Jandi-yaa, mianhe..” tiba-tiba topiknya berubah, suara junpyo terdengar berat, penuh penyesalan.
 
Jandi :   “Waeyo?” menatap junpyo penuh Tanya.

Junpyo :   “Aku menyakitimu dengan banyak sekali kata-kata buruk malam itu. Jeongmal Mianhe….”

Jandi hanya terdiam menatap wajah junpyo yang menggambarkan penyesalan, lalu senyumnya perlahan mengembang, Ia menyentuh setiap relief wajah junpyo dengan jari telunjuknya. Dari kening, hidung, bibir. Tatapan junpyo begitu menusuk, penuh perasaan, membuat dada jandi kembang kempis.

Jandi :   “Aku pikir kau akan minta maaf karena telah merenggut sesuatu yang paling berharga dari seorang gadis.” Nadanya sedikit menggoda, ia hanya bermaksud mengalihkan pembicaraan junpyo, karena sepertinya junpyo merasa sangat bersalah.

Junpyo :   “Mwo? Soal itu… aku juga minta maaf”

Wajah junpyo memerah, ia memalingkan wajahnya-malu menatap jandi yang juga menatapnya dengan pandangan penyidik.

Jandi :   ”Rupanya seorang Goo Jun Pyo sudah begitu pandai minta maaf huh?”

Jandi terus memojokkan junpyo dengan senyuman nakal, menertawai reaksi junpyo yang berbeda dari biasanya.

Junpyo :   ”Kalau begitu nanti saja minta maaf, kita kan belum selesai.”

Satu alisnya terangkat, balik menggoda jandi dengan senyum mengintimidasi. Jandi mengantisipasi apa yang akan junpyo lakukan, belum sempat ia bergerak junpyo langsung membalikkan tubuhnya, membuat jandi tersengal ditimpa bobot tubuh junpyo.

Jandi :   ”A..apa.. yang kau lakukan? Yah, kita baru selesai.”

Tidak perduli jandi protes atau menggeliat kesana-kemari, junpyo langsung menyerangnya dengan ciuman bertub-tubi. Dan benar saja, mereka ’melakukanya’ sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali. Lagi dan lagi.



End Of Chapter
======================


Offline Cud na

  • Junior
  • **
  • Posts: 100
  • Love Minsun
    • View Profile

Offline Unique_Mirror

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1061
    • View Profile
sistaaa thank u 4 update yg sweet buangettt,like it 1001jempol..walau diawal chap gw berasap gara2 cewe itu.tp pas mereka ke desa t4 bibi so udh mulai manis.gw suka bibi so bijaksana n pengertian bgt ma pengantinbaru.ngakak guling2 wkt ngebyangin jundi dikejar anjing,konyol bgt tu anak dua,kegeeran wong anjing diikat ditiang listrik.wkwkwkwkk.Untung jandinya ngalah jd bs lu2h tuh dewa gengsi,lgs deh mp hot bgt.btw coba aj tuh kalo jk masuk n gangguin yg lg mesra2n..bkal jd kambing guling..nextchap jgn lama ya.longchap puas bgt.maaf lahr btin ya
[/size][/color][/b]

Offline Mawar Jingga

  • Full
  • ***
  • Posts: 397
    • View Profile
Yaaaayyy...akhirnya Jandi dan Junpyo berdamai juga....Dan akhirnya JD jebol juga.... [clap] [clap]...Tapi sebaiknya JD dan JP menyelesaikan urusan yang tertunda ama Jihoo dan Jekyung. Terutama sih si Jaekyung...dia masih berharap banget kalau Junpyo itu bakalan akan kembali ama dia...idiiiihhh...get a life Jae Kyung. Pria kan ga cuma junpyo doang...Apalagi Junpyo dah punya Jandi.... [censored]...

Lanjut ya siist...

Offline Alin

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1002
    • View Profile
ncuddddd....suka.suka.suka.suka.suka.suka.suka.suka bnget chap ni bener2 sweet n hot ya walaupun di awal kesel ma jahekeong,gw ngakakak pas mrk lari dikejar anjing,berarti next hub jundi uda mulai baik n pastinya mkn mesra dong,oke cud thank da update long chap next chap jgn lama2 ya alias 3hr lg,.. [biggrin]

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Uwooooo akhirnya bersatu juga
Sempet suebel banged waktu awal ih masa jandi ama jihoo junpyo ama jaekyung #devil
Huuuii onni puas ama endingnya,untung update sekarang jangan ntar malem kan dah prepare hati wat puasa nyahahaha

Betewe gomawo onn udah update.next chap mereka bakal bareng terus kan??
Udah ga ada pasangan jihoo-jandi nd junpyo-jaekyung #hammer klo ada
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
wah, akhirnya mereka MP jugqa... bibi so memang hebat.
 [bav] [bav]

jae kyunmg. ke laut aja, lah kau  [whip] [whip]


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]