Author Topic: A Face Over The Windows--CHAPTER 4--update 15 Mar'12  (Read 10134 times)

iiuuu

  • Guest
Re: A Face Over The Windows--SOP ILER LARRRRR~~~~
« Reply #135 on: December 30, 2011, 06:05:34 pm »
maaaaaaaaaaaaaaamiiiiiiiiiiiiiiiii.... akhirnya balik lagiiii.....  [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [huglove] [arms] [arms] [arms] [arms] [arms] [arms] [arms]kemana aja mam?????? [arms] [arms] [arms] [arms] [arms]
update mam... dari pada ane penasaran... [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SOP ILER LARRRRR~~~~
« Reply #136 on: December 30, 2011, 09:15:41 pm »
ga usah kebanyakan spoiler mom !  [guns] langsung update aja !!!!!  [clap] [clap] [clap]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
SPOILER :




Jonathan menatap Mary untuk beberapa lama. Dia tidak mengeluarkan suara. Mungkin sudah tiga menit lamanya ketika pandangannya perlahan-lahan beralih pada Stan dan Em yang berdiri beberapa meter agak di belakang mereka.

“Terserah kau saja!” Jonathan mengeram dengan nada pelan dan tanpa memandang Mary. “Tapi asal kau tahu saja, … ,” lanjutnya sambil bergerak lambat tapi pasti kearah Em dan Stan. Tiba-tiba dia menyambar tangan Em yang masih berdiri mematung memperhatikan perdebatan kecil di depannya tadi. “Saya tidak pernah pergi dengan tangan kosong!!”

“Hey!! Mau apa?!!” teriak Em kaget begitu tangannya tiba-tiba disambar pria tidak dikenal, yang sekarang malah menarik dan memaksanya untuk mengikuti langkahnya. “Lepaskan saya!! Apa-apaan ini?!!”

“Kau mau apa?!!”

Sebuah tangan berkelebat dan bermaksud menarik Em kembali. Stan menatap Jonathan dingin.

“Jangan seenaknya, tuan!!”

Jonathan melirik tangan Stan yang menempel di punggung tangannya.

“Singkirkan tanganmu!” ujarnya dingin. Dengan agak kasar, dia mengibas_lepas tangan Stan dari punggung tangannya, dengan tanpa melepas cengkramannya pada pergelangan tangan Em. Kemudian dengan sedikit menyeret, dia memaksa Em ikut dengannya. Berjalan ke mobilnya yang terparkir melintang di halaman depan.



owh akhirnya si ONAT-EM mo up date [smiley-gen013] [smiley-gen013] ONAT maen nyamber tangan EM segala, kebiasaan buruk nih, ntar besok2 bukan cuma tangan yg disergap tp BIBIR, LEHER, D***A, dll nya [hmpfh] [hmpfh]

eh si MARY udah muncul tuch  [head break] [head break] jangan ampe toel2 STAN ye bisa gw [guns] [guns] [head break] [head break] [hmpfh]

MAMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII, jangan sopiler mulu ye, up dateeeeeeeeeeeeeeeeeeeee RANTANG, SONSAENGNIM, BERYWINE jugaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekalian ama TDC yg udah nganggur beberapa bulan [hmpfh]


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SOP ILER LARRRRR~~~~
« Reply #138 on: January 02, 2012, 04:57:48 am »
belum bisa update [hmff] [hmff]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SOP ILER LARRRRR~~~~
« Reply #139 on: January 02, 2012, 06:26:18 am »
Kapan bisa.nya mom

Offline Namutz

  • Junior
  • **
  • Posts: 197
  • nona goo is inspiring women
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SOP ILER LARRRRR~~~~
« Reply #140 on: January 03, 2012, 05:35:46 am »
yaaaaa allah mamy aku rindu karya karya dikau mam misss you  ayo mam berkarya lagi  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]
wujudkan updetan terpanjang buat RANTANG JG wkwkwwkwkwwkwkwwkw

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SOP ILER LARRRRR~~~~
« Reply #141 on: January 06, 2012, 11:22:42 pm »
pinginnya update weekend ini, tp anjritttttt dah ... sibuk terussssss [sweat] [sweat] [sweat]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--SOP ILER LARRRRR~~~~
« Reply #142 on: January 07, 2012, 12:33:19 pm »
CHAPTER 3






Mary Fair berlari menuruni anak tangga aula kampus dengan kecepatan tidak seperti biasanya. Beberapa kali, dia hampir tergelincir oleh anak tangga yang licin karna hujan tadi pagi, ..  dia menginjakkan kaki di lantai semen dengan nafas terengah-engah. Hanya sepersekian detik ketika dia mengatur nafas dan sudah berlari kembali dengan terburu-buru, .. mengitari taman kecil belakang kampus menuju ke gerbang depan yang sudah dipadati para mahasiswa yang berlomba-lomba meninggalkan tempat menimba ilmu tersebut.

Mary mencengkram pundak seseorang yang berada di depannya.

“Bob, … “ Dia bernafas terengah-engah. “Stan … Stanley—a .. apa .. kau melihat Stanley .. ?”
 
Mahasiswa yang dipanggil Bob berpaling cepat. Alisnya berkenyit begitu mendapati wajah Mary yang bersemburat merah. “Wah—apa yang terjadi denganmu?” Bukannya menjawab pertanyaan Mary, cowok itu malah balas bertanya dengan heran.

Mary mengibaskan tangan_berulangkali .. sambil mengatur pernafasannya agar lebih teratur. “Stanley .. ? Ma .. mana Stanley? .. Apa kau melihatnya?” Mary mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab Bob.

Bob masih menatap Mary heran ketika menunjuk ke gedung sebelah dengan ragu-ragu. “Tadi … saya melihatnya berbelok ke sana. Mungkin … menjemput gadis kecilnya, seperti biasa .. “

Raut Mary berubah dongkol ketika mendengar kata ‘Gadis Kecilnya’ terlontar dari mulut Bob.

“Thanks!” tandas cewek itu agak ketus. Dengan cepat, dia memutar tubuh, setengah berlari ke pintu gerbang—berdesakan dengan para mahasiswa lainnya yang sudah berada di situ.

Mary berpaling kepada Bob ketika sudah sampai di ambang gerbang depan. “Perlu kuingatkan—“ lanjut Mary keras, sambil menunjuk ke cuping hidung Bob, yang berada beberapa meter di belakangnya. “Mereka tidak punya hubungan apa-apa!”

Bob membulatkan matanya.

“Siapa maksudmu?”

Namun, Mary sudah tidak memperdulikan Bob lagi. Dengan sangat tergesa-gesa, cewek itu menyelip di antara kerumunan orang-orang dan menyelinap ke gedung sebelah lewat pintu gerbang yang terpentang lebar.



******




Em menerima helm yang disodorkan Stan padanya.

“Kita langsung pulang?” tanyanya pada Stan sambil mempermainkan tali helm di tangannya.

“Tidak!” jawab Stan pendek tapi terdengar tegas.

Cowok itu terlihat ingin berkata lebih, namun tidak dilakukannya. Diliriknya jemari Em yang bergerak lincah di atas helmnya, lalu kembali ke wajah mungil yang sekarang sedang menatapnya heran.

“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Em sambil membulatkan sepasang mata bolanya.

“Hn—“ Stan bergumam pelan. “Sebenarnya … “

“Ya?” Em menaikkan alis tinggi-tinggi.

 “Memang ada …” Stan menghembuskan nafas panjang-panjang begitu melontarkan kata-kata itu. Dia tidak menyangka, … dan juga tidak mengerti, .. mengapa untuk mengutarakan perasaannya kepada Em, akan terasa seberat ini.

“Ya?” Em terlihat penasaran dan sedikit memaksa. “Ada apa? Katakan saja!”

“Hn—“

Stan mengalihkan perhatian ke titik pandang di belakang Em.

“Stan?” tegur Em yang tiba-tiba saja menjadi tidak sabar. “Ada apa sih?!!”

Stan meluruskan badan, … dan memakai helm yang sejak tadi digenggam erat-erat di kedua tangannya. Dia naik ke atas motor dan mengerakkan tangan, menyuruh Em naik dan duduk di belakangnya.

Em memberenggut kesal menatap cowok itu. “Kau ini kenapa sih? Tidak biasanya bertele-tele seperti ini!!”

Ditatap dengan sorot mata setajam itu oleh Em, tidak membuat Stan merubah keputusannya, yang tidak ingin membicarakan perasaannya maupun hubungan mereka di tempat terbuka seperti itu. Bukannya menjawab, dia malah mengulangi perintahnya pada Em. Kali ini, dengan kata-kata.

“Naiklah!”

Em mengerutkan alis, .. bingung dan tidak mengerti. “Tidak ada yang ingin kau katakan padaku?”

“Nanti malam temui aku di atas atap gudang. Sekarang naiklah, akan kuantar kau pulang!”
Stan menjawab dengan jawaban yang lain, yang kelihatannya—tidak berhubungan dengan pertanyaan Em barusan.

Em mencengkram bibir helmnya, dan menatap Stan dengan dongkol. Dia tidak mengeluarkan suara ketika mengangkat kaki kanannya, berniat naik ke motor yang dibawa Stan. Namun .. kakinya baru diangkat setengahnya ketika teriakan keras yang agak melengking seperti tercekik terdengar dari belakang.

“STANLEYYY!!”

Em dan Stan menoleh secara bersamaan kearah teriakan tersebut.

Stan menaikan alis_heran, melihat seorang cewek yang sudah berdiri di pintu gerbang dengan nafas tersengal-sengal. Tubuh cewek itu agak membungkuk sambil menekan perutnya yang mungkin terasa sakit karna terlalu banyak berlari.

Em menyipitkan mata dan melirik pakaian yang dikenakan cewek tersebut. Bukan siswa sini, pikirnya. Pasti mahasiswi sebelah? .. Teman kuliah Stan? Em menoleh pada Stan, .. sebelum perhatiannya dialihkan kembali kepada cewek tersebut.

“Fair?”

Em mendengar Stan mendesis halus.

Benar! Stan mengenalnya .. Em menoleh cepat, dan melihat Stan sudah turun dari motornya dan mendekati cewek itu.

“Kau mencariku?”

Mary Fair melihat sepintas kearah Em setelah itu berbalik kembali pada Stan yang sudah sampai di depannya.

“Ya,” jawab Mary. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Kau punya waktu?”

Stan mengerutkan alis dan melihat ke jam tangannya. “Sekarang?”

Mary mengangguk.

“Penting?”

Kembali, … Mary menganggukkan kepalanya. Sikapnya yang sejak tadi sudah terlihat ragu-ragu dan gelisah, makin gelisah saja.

“Di sini?”

Kali ini, Mary mengeleng sambil mengigit bibir bawahnya. “Saya tidak ingin pembicaraan kita … didengar orang .. “

“STAN!!”

Sebelum Stan menyahut kembali, terdengar teriakan tidak sabar dari Em.

“Saya terburu-buru nih!!”

“YA!” Stan mengangkat tangan tanpa menoleh pada Em. Dia tersenyum pada Mary ketika melanjutkan, “Bagaimana kalau kita bicaranya besok saja? Hari ini saya tidak bisa … “

“Hmm—“ Mary bergumam datar. Diliriknya Em yang berada beberapa meter di depannya dengan tidak senang. Terlihat benar dia merasa terganggu akan keberadaan Em di situ--bersamanya dan Stan. Walau Em sudah berada di situ duluan dengan Stan tapi kalau bisa, dia ingin Em lenyap sekarang juga dari hadapan mereka.

Mary membuka mulut, bermaksud membantah ketika suara mendecit tajam dari ban mobil yang direm mendadak mengejutkannya. Suara itu melengking tinggi dan nyaring, tajam mememakkan telinga ketika berhenti dengan kecepatan kilat tidak jauh dari tempat mereka berada.

CRITTTTTTTTT KLINGGGGGGGGG

Mary memutar tubuh dengan cepat kearah datangnya suara tersebut. Begitu juga Em dan Stan, mengarahkan pandangan ke halaman depan.

Sebuah Ferrari perak keluaran muktahir terparkir dengan posisi agak melintang di depan mereka sekarang. Kapnya yang berkilat-kilat tertimpa mentari siang perlahan-lahan mengarah ke atas, terbuka dengan gerakan yang sangat berirama.

Mula-mula, .. jas biru navy yang terpoles rapi itu yang terlihat. Lalu … pelan-pelan, … ketika kap mobil tersebut semakin mengarah ke atas, … kemeja putihnya yang terbuka di bagian dada, diikuti kulit lehernya yang kecoklatan terbakar sinar matahari … mulai mengelitik pandangan.

Terakhir … , ketika kap mobil tersebut sudah terbuka sempurna, … seraut wajah dingin dan angkuh_yang dinaungi rambut lebat berombak dengan warna keoranye-oranyean, menatap mereka lewat sepasang matanya yang terlindungi dibalik kacamata hitamnya yang trendi.

Mary Fair mengenyitkan alisnya, “Dia …. “ Kerutan di wajahnya semakin menjadi-jadi ketika dia seperti mengingat-ngingat.

Namun, dia tidak diberi kesempatan untuk berpikir lebih lama. Pria dalam mobil mewah tersebut membuka sabuk pengamannya, mendorong pintu dengan agak keras lalu melangkah keluar. Dia menuju kearah mereka dengan langkah lebar-lebar dan tanpa ragu-ragu, walaupun di tempat yang asing baginya, .. dia tidak terlihat gentar, ... seolah tidak ada sesuatupun yang dapat menahannya. Sekalipun oleh pandangan bertanya yang agak menyelidik dari tiga pasang mata yang sedang menatapnya saat ini.

Pria muda dengan postur jangkung itu berhenti di depan Mary.

“Mom menyuruhku mengajakmu makan siang hari ini … ,” katanya, … dengan nada rendah yang tidak dilebih-lebihkan.

“Kau … “ Mary terlihat masih berkutat dengan pikirannya. Lalu .. matanya melebar ketika mengingat sesuatu. “Kau!!!” katanya sambil menunjuk pria itu. “Ternyata kau!!” teriaknya kaget, bercampur heran.

“Benar. Ini aku!” jawab pria itu datar. “Jadi, ikut denganku sekarang!”

Pria itu berbalik dan mulai melangkahkan kakinya.

“Tapi .. kenapa?”

Pertanyaan Mary membuat pria itu menghentikan langkahnya.

“Bukankah kau juga sudah menolak keinginan mereka?” tanya Mary kembali. Dia bergerak selangkah, .. menatap punggung tegap pria jangkung di depannya dengan perasaan tertekan. “Atau kau … hanya besar mulut, tapi tidak punya kemampuan … seperti yang kau tunjukkan .. malam itu .. ?”

Sementara itu, .. Em dan Stan memperhatikan adegan-adegan tersebut dalam bingung. Beberapa kali mereka saling melirik, .. mengenyitkan alis, lalu mengangkat pundak tidak mengerti.

“Saya tidak perlu memberi penjelasan terhadap apa yang bisa dan akan saya lakukan.” Pria itu berkata dalam posisinya yang memunggungi Mary. “Yang perlu kau lakukan sekarang ‘hanya mengikutiku!’ Dan semuanya bisa diatur … “ Pria itu kembali mengerakkan kakinya.

“MARS!!” Teriak Mary nyaring.

Pria muda itu, Jonathan Mars, menghentikan langkahnya. “Ada masalah lagi, Nona Fair?”

“Saya tidak akan ikut denganmu!” sahut Mary dengan suaranya yang bergetar. “Apapun yang kau katakan, … saya tetap tidak akan ikut denganmu!”

Jonathan membalikkan badannya. “Apa?”

“Saya tidak akan ikut denganmu!” ulang Mary.

Mata elang pria di depannya mengecil. “Kau serius?”

Mary mengangkat dagunya. “YA!” sahutnya dengan nada dibuat setegas mungkin.

Jonathan menatap Mary untuk beberapa lama. Dia tidak mengeluarkan suara. Mungkin sudah tiga menit lamanya ketika pandangannya perlahan-lahan beralih pada Stan dan Em yang berdiri beberapa meter agak di belakang mereka.

“Terserah kau saja!” Jonathan mengeram dengan nada pelan dan tanpa memandang Mary. “Tapi asal kau tahu saja, … ,” lanjutnya sambil bergerak lambat tapi pasti kearah Em dan Stan. Tiba-tiba dia menyambar tangan Em yang masih berdiri mematung memperhatikan perdebatan kecil di depannya tadi. “Saya tidak pernah pergi dengan tangan kosong!!”

“Hey!! Mau apa?!!” teriak Em kaget begitu tangannya tiba-tiba disambar pria tidak dikenal, yang sekarang malah menarik dan memaksanya untuk mengikuti langkahnya. “Lepaskan saya!! Apa-apaan ini?!!”

“Kau mau apa?!!”

Sebuah tangan berkelebat dan bermaksud menarik Em kembali. Stan menatap Jonathan dingin.

“Jangan seenaknya, tuan!!”

Jonathan melirik tangan Stan yang menempel di punggung tangannya.

“Singkirkan tanganmu!” ujarnya dingin. Dengan agak kasar, dia mengibas_lepas tangan Stan dari punggung tangannya, dengan tanpa melepas cengkramannya pada pergelangan tangan Em. Kemudian dengan sedikit menyeret, dia memaksa Em ikut dengannya. Berjalan ke mobilnya yang terparkir melintang di halaman depan.

“STAN!!!”

Em berteriak ngeri.

“Tolongggg!!” Em menjerit sekeras-kerasnya ketika tenaga pria asing tersebut tidak mungkin dilawannya. Jonathan sudah hampir ‘membawanya’ ke dalam mobil. “STANNNN!!!”

Stan membulatkan mata lebar-lebar. Dia sangat kaget dan tidak percaya. Seumur-umur, dia tidak pernah bertemu orang ‘setidak-tahu-diri’ ini. Merasa yang dihadapinya ini orang gila, Stan mengepalkan tangan dan dengan setengah berlari—menerjang kearah Jonathan yang agak membungkukkan badan ketika membuka mobil.

Namun tanpa disangka-sangka, … Jonathan berbalik dan mengunakan tangan kirinya yang bebas, karna tangan kanan masih mengenggam erat tangan Em, menekan dan mendorong Stan dengan keras, hingga Stan yang tidak menyangka balasan mendadak tersebut terjengkang.

“STANNNNN!!!” Em menjerit ketakutan.

Jonathan mendorong Em masuk ke dalam mobil. Menarik dan memakai paksa sabuk pengaman pada tubuhnya. Tanpa menunggu Stan untuk mengatur keseimbangan badan dan mengambil tindakan lebih lanjut, dia menekan pinggir pintu, meloncat tinggi melangkahi Em yang duduk ketakutan di bangkunya hingga mendarat di bangku kemudi dan menghidupkan mesin melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, .. keluar dari kawasan sekolah menengah tersebut.

Stan menghambur ke depan. Mengejar dengan sempoyongan. “EMMMM!!!” Namun hanya sampai di ambang depan, dia sadar semua sia-sia saja. Ferrari perak tadi .. sudah lenyap dari pandangan.

Stan berpaling cepat pada Mary. “Sahabatmu?!! Akan dibawa ke mana si Em?!!” teriaknya dengan nafas tersengal.
 
Mulut Mary terbuka perlahan, … mengangga di tempatnya. Dia mengangkat pundak, .. mengeleng layaknya orang dungu.

“Ti … tidak … tahu …. “



*****




Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, … membelah lalu lintas kota London yang tidak begitu ramai siang itu. Sesekali, mobil tersebut terlihat agak oleng, .. sebentar ke kanan dan sebentar lagi menjurus ke kiri. Beberapa kali badan mobil hampir menyerempet mobil lain, namun .. dengan gesit_segera dapat dihindari. Beruntung pengemudi Ferrari perak tersebut termasuk sangat mahir dalam menangani ‘ketidak-beresan’ yang terjadi dalam mobil yang dikendarainya, jika tidak ..mungkin—akan terjadi kecelakaan yang tidak diingini dari ‘pergolakan’ kecil yang dimulai sejak keluar dari lingkungan Sekolah Menengah Lambeth itu.

“Berhenti!!!! Turunkan saya sekarang juga!!! Siapa kau?!! Mau apa sebenarnya?!!!!”

Teriakan-teriakan tersebut terus terulang dan mengema keras dari dalam mobil yang dikemudikan Jonathan.

“Jika kau tidak berhenti, maka .. saya … akan AAAHHHH!!!”

Em mencengkram tangan Jonathan yang memegang stir dengan kuku-kuku tangannya yang runcing keras-keras, kemudian mengigitnya sekuat tenaga.

“Sssttt—“ Jonathan meringgis tajam. Namun dia tidak sampai berteriak. Alisnya bertaut ke atas ketika berkata dengan nada rendah yang terdengar mengancam. “Sekali lagi kau bertingkah, aku tidak akan segan-segan melemparmu keluar!”

Em mendongak dari posisinya yang masih menempel di lengan Jonathan. Dia melihat pria itu meliriknya, menatap tak berkedip. Alis tebal itu sekarang membujur kaku, dengan sepasang mata elangnya yang berkilat-kilat menusuk sampai ke jantung.

Tiba-tiba saja Em berubah takut dan segan padanya. Gadis remaja itu menarik sepasang tangannya, menempelkannya di dada. Menyusut sampai menyentuh sandaran kursi dan meringkuk seperti selimut yang terlipat rapi.

“Kau … kau .. mau membawaku .. ke … ke mana?” tanya Em tersendat-sendat dan gemetar. “A .. aku ingin pulang …. “ Dia sudah hampir menangis tapi dengan sekuat tenaga memaksa untuk tidak terlihat lemah di hadapan pria asing ini.

Jonathan mengembalikan perhatiannya ke jalan yang sedang ditempuhnya dan berucap dengan tenang.

“Aku tidak akan melakukan sesuatu padamu jadi tenanglah … “

Em membuka mulutnya yang bergetar, “Ke … kenapa … “

“Anggap saja kau kurang beruntung karna terlibat dalam urusan kami!” tukas Jonathan sambil membanting stir dan membelokkan mobilnya masuk ke dalam sebuah area gedung perkantoran yang luas dan mewah.

Em melebarkan mata dan menajamkan pandangannya. Ada beberapa puluh bahkan ratus mobil mewah terparkir di lapangan gedung perkantoran tersebut. Em menoleh perlahan-lahan pada Jonathan. Pria itu mematikan mesin mobil kemudian membuka pintu di sebelahnya. Agak mendorong pintu tersebut dan melangkah keluar.

“Turunlah!” kata Jonathan pada Em dengan nada memerintah.

Em melirik bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Terus terang saja, dia merasa takut dengan pria ini. Apalagi sekarang, dia tidak tahu tempat yang dipijaknya. Dimana sebenarnya dia berada?

“Apa yang kau tunggu?!”

“Eh?!!”

Em tersentak kaget. Teguran Jonathan yang tajam, sukses membuatnya tersadar dari lamunannya yang hanya sesaat itu. Em mendongak cepat kearah Jonathan, .. tapi Jonathan sudah melangkahkan kakinya, .. mengarah ke pintu masuk yang terdiri dari kaca-kaca besar otomatis yang bergerak-gerak lincah membuka dan menutup di depan mereka.

“Hey!!”

Em berseru gugup. Dengan terburu-buru, dia membuka pintu mobil. Tanpa sadar apa yang dilakukannya, dia sudah keluar dari mobil dan berlari dengan kecepatan tinggi mengejar Jonathan yang sudah berada cukup jauh di depannya.

“Tung … Tunggu!!!!”

TAK   TAKK   TAKKK


******



TING!!

Pintu lift yang ditumpangi Jonathan dan Em membuka kemudian tertutup dengan perlahan-lahan. Jonathan berdiri di depan, menghadap ke pintu yang terbuat dari kaca dengan sepasang tangan tertancap di saku celana, .. tenang dan tanpa mengeluarkan suara. Sedangkan Em yang berada di belakangnya, yang semula hampir ketinggalan ‘tumpangan’, … membungkuk sambil memegangi perutnya, .. bernafas tersengal-sengal. Dia mengambil nafas dalam-dalam, .. berusaha memenuhi paru-parunya dengan udara yang hampir habis.

“Kau, … di .. di mana … ini .. ?” Em bertanya dengan nada terputus-putus.

“ … “

Em tidak mendapat jawaban, karna pria yang berdiri di depannya hanya membujur kaku, menatap pintu lift dengan tatapan nanar.

“A …. “ Em melirik Jonathan dari kaca besar di depannya. Pria itu masih dalam posisinya semula. Tidak bergerak maupun mengejapkan mata ..  sekali-pun.

Em menghembuskan nafas dan memanyunkan bibirnya. Sepertinya percuma saja bertanya pada pria ini. Yang akan didapatkannya kemudian, pastilah hanya kebisuan seperti tadi. Em menempelkan punggungnya di dinding lift, .. memperhatikan nomor-nomor yang berloncatan di depannya, silih berganti—semakin mengarah ke atas. Bibir mungil Em meruncing semakin panjang.

Lalu .. perhatiannya berbalik kembali kepada Jonathan. Pria itu masih berdiri pada posisinya semula. Sepasang tangan tertancap di saku celana, sedangkan pandangan mengarah ke pintu lift yang terbuat dari kaca. Em menyipitkan matanya. Selama hampir satu setengah jam ini, .. jujur saja, baru untuk pertama kalinya ini dia melihat jelas rupa pria ini. Sebelumnya, dia hanya berkutat dengan seribu satu cara bagaimana untuk melarikan diri dari Jonathan, tanpa memperdulikan … atau ingin tahu .. siapa sebenarnya pria ini.

Untuk pertama kali .. Em menganggakan mulut dan melebarkan matanya. Dia tinggi sekali … Tanpa sadar, .. Em mengembangkan telapak tangannya. Seolah ingin mengukur tinggi badan Jonathan dengan telapak tangannya tersebut. Kira-kira … berapa tingginya? .. 180? Em mengelengkan perlahan-lahan. Tidak!! Pasti lebih dari itu! Dia pasti lebih tinggi dari Stan! Berapa? … Hm—186? Mungkin 187? Em mengangguk-angguk bijak, .. seolah apa yang ditebaknya itu memang benar.

Lalu pandangan Em berpindah ke wajah Jonathan yang terpantul dari kaca. Dagu pria itu sedikit terangkat, dengan tatapan tidak terpusat, hampa tertuju pada kaca besar di depannya. Seperti banyak masalah menghantui pikirannya. Dia terlihat angkuh, .. namun menawan. Em membulatkan matanya perlahan-lahan. Dia sama sekali tidak menyangka, pria yang terkesan menakutkan dan angkuh ini ternyata … memiliki rupa ‘menarik’ yang tidak pernah dibayangkannya.

Hidungnya mancung sekali … Em sedikit mengeser posisinya hingga dapat melihat jelas rupa Jonathan. Sepasang mata itu begitu … begitu jernih walau terkesan suram. Sama sekali tidak terlihat kalau dia ... , orangnya akan sedingin ini. Pancaran matanya itu menyiratkan kalau dia sedang dihadapi pada masalah atau keputusan yang .. mungkin sulit untuk diambilnya. Tapi, … benarkah?[/i] Em mengeleng tidak mengerti akan kesan yang didapatinya dari Jonathan. Atau itu .. hanya perasaanku saja .. ?

TINGGG

Tubuh Em membujur tegak seketika. Pintu lift dari kaca tersebut terbuka, .. dan terlihatlah sebuah lobby kantor yang sangat luas terpampang di depan mereka. Em mendongak dan melihat ternyata mereka telah sampai di lantai tertinggi.

Jonathan keluar dari lift tanpa berkata apa-apa. Seolah dia sendirian kala itu, .. seolah dia telah melupakan keberadaan Em bersamanya di situ. Dia berjalan dengan langkah tenang kearah seorang wanita cantik berpostur tinggi yang sedang bertugas di tempatnya. Tempat penerima tamu yang berada tepat di depan ruang kantornya.

“Sir .. ?” Gadis cantik itu menyapa gugup ketika melihat majikannya tiba-tiba sudah muncul saja di depannya.

“Pesankan makanan untuk ku, Cloris! Aku tidak jadi lunch di luar!” tukas Jonathan, tanpa memberi kesempatan pada sekretarisnya itu untuk bertanya lebih lanjut.

“O—“ Cloris Jones membuka mulutnya, terperangah, … seolah kejadian kali ini baru pertama kali dihadapinya. “Sir … mau .. makan apa?” tanyanya kemudian, dengan pandangan yang menyiratkan kebingungan yang mendalam.

“Terserah!” Jonathan mengibaskan tangan lalu memutar tubuh, mengulurkan tangan bermaksud membuka pintu ruang kantornya yang tidak terkunci.

“Tapi, sir … “

Seruan Cloris menghentikan langkah Jonathan. Pria itu menoleh dan alisnya terangkat. Namun dia tidak memberi jawaban terhadap pertanyaan Cloris yang terpotong tersebut.

“Nona ini .. apa …. “ Cloris mengarahkan telunjuknya bingung pada Em yang berdiri di belakang Jonathan.

“Nona?” Jonathan memindahkan pandangan ke belakangnya. Dan dilihatnya sekarang, Em sedang menatapnya dengan tidak kalah bingungnya.

Apa orang ini benar-benar telah melupakan kehadiranku di sini? Mungkin pertanyaan itu yang tersirat dari mata Em.

“O—“ Jonathan membuka mulut, .. seolah baru diingatkan pada sesuatu yang telah terlupakan olehnya. Dia berpikir sejenak, sebelum bola matanya yang seperti elang itu berputar kearah Cloris yang sedang berdiri mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau pesankan juga makanan buatnya. Terserah, apa saja. Mungkin yang cocok dimakan buat anak seusianya.” Jonathan menarik gerendel pintu dan membukanya.

Em yang masih tidak bergerak di tempat, membulatkan matanya. Anak seusianya? Apa maksud perkataan orang ini?! Tidak sopan sekali!

Em mengepal tangan, melewati Cloris begitu saja dan memasuki kantor Jonathan dengan langkah lebar-lebar. Dia sudah membuka mulutnya, bersiap protes buat perkataan yang diucapkan Jonathan barusan. Tapi mulutnya langsung terkunci. Bukan hanya pria jangkung itu yang tiba-tiba berbalik menghadapinya yang menjadi penyebabnya, tapi juga … keadaan ruang kantor tersebut yang membuatnya terperangah.

Ruangan tersebut sangat luas. Seluruh dindingnya yang berhadapan dengan pintu masuk terbuat dari kaca besar yang mencakar dari langit-langit ruangan sampai lantai. Karpet tebal dari bulu mengalasi lantai ruangan tersebut. Pemandangan laut terhampar luas, dapat dilihat langsung dari kaca-kaca jendela.

Sebuah meja kerja besar yang sangat panjang dan berbentuk agak melengkung terpasang di dekat jendela. Sekali saja pemiliknya duduk dan memutar kursi kerja empuk yang terletak di depan meja, maka dia akan dapat menikmati secara langsung pemandangan indah di belakangnya.

Ada tangga pendek yang hanya terdiri dari tiga anak tangga menurun ke tempat Em berdiri sekarang. Dua lemari kaca yang dipenuhi hiasan dan sebuah rak buku besar menempel di dinding sebelah kiri dan kanan. Sebuah sofa besar dan meja teh pendek berada di dekat pintu, menempel di dinding. Sedangkan beberapa lukisan abstrak yang terkesan mahal tergantung di dinding mengelilingi ruang kerja tersebut.

“Kau boleh duduk di situ!”

“Hah?!” Em tersentak dari lamunannya yang terasa berkepanjangan.

“Duduk di situ!”

Jonathan menunjuk sofa di dekat pintu.

“Dan ingat, jangan mengusik ku!”

“Apa?” Em membulatkan matanya. Tidak menangkap perkataan Jonathan.

“Jangan mengusik ku! Kau dengar itu!” Jonathan mengulangi perkataannya dengan agak tidak sabar. Dia berjalan menaiki anak tangga pendek hingga sampai di meja kerjanya. “Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Dan aku paling tidak suka diganggu saat bekerja!”

“Kau .. “

Em membuka mulut, tapi terputus begitu mendapati pandangan menusuk dari Jonathan.

“Aku tidak akan mengulangi kembali apa yang sudah kukatakan. Setelah Miss Jones membawa makanannya kemari, kau habiskan dengan tenang dan jangan mengusik ku. Di sana .. “ Jonathan menunjuk rak buku yang berada di sebelah kirinya. “ … banyak buku. Kau boleh mengambil dan menghabiskan waktumu dengan membaca buku!”

Em memajukan bibir hampir seinci. Mendadak, dia merasa dongkol setengah mati kepada Jonathan. Kembali, dia membuka mulut_ingin membantah, .. namun lagi-lagi .. terbungkam begitu melihat postur jangkung itu sudah terhempas di kursi kerja dan tenggelam dalam pekerjaannya.

Em mencibir. Dia menarik tangannya yang memegang tas sekolah dan memeluknya erat-erat kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ditunjuk Jonathan. Dia menghembuskan nafas keras-keras, merasakan emosinya yang mulai naik sampai ke ubun-ubun. Namun semenit kemudian, dia memberengut seolah merasakan tekanan berat di dadanya. Ingin memberontak namun dia tidak berani. Tampang serius Jonathan yang saat ini sedang berkutat dengan dokumen-dokumen di tangannya membuat Em ngeri untuk membantah lebih lanjut. Mungkin …. , akan lebih bijak jika dia berdiam diri saja … ?


****



Setengah jam berlalu ketika pintu kantor Jonathan diketuk dari luar.

“Masuk!”

Perintah Jonathan tanpa berpaling dari kertas-kertas yang sedang ditanganinya.

Pintu ruang kantor dari kayu berat itu terbuka. Cloris Jones melangkah masuk dengan dua kantong kertas tergenggam di tangannya. Em yang saat itu sedang terkantuk-kantuk dengan sebuah buku yang dibacanya, yang tadi diambilnya secara asal dari rak buku, melirik malas dari balik celah-celah tangannya.

Cloris melangkah berirama menaiki anak tangga ke meja kerja Jonathan. Dia sampai dan dengan sangat pelan, dia meletakkan kantong kertas di tangan kanannya ke depan Jonathan.

“Beef steak burger, sir .. ,” ujar Cloris pelan, .. seolah takut perkataannya yang sangat pelan itu akan menganggu konsentrasi Jonathan yang saat ini sedang mencoret sesuatu di berkas di tangannya.

“Hn—“ Jonathan menyahut pendek yang berupa gumaman pelan. Dia mengangguk kecil, untuk kemudian melanjutkan kesibukannya kembali.

Cloris tersenyum kecil. Mungkin dia sudah sangat paham dengan kebiasaan majikannya ini jika sudah berkutat dengan pekerjaannya. Wanita itu mengangguk kemudian mengundurkan diri secara teratur dari hadapan Jonathan.

Cloris menuruni tangga dan berjalan kearah Em yang sedang mengikuti setiap gerak-geriknya dengan sorot matanya.

Cloris tersenyum dan mengangkat kantong kertas di tangannya, .. mengoyang-goyangkannya di depan Em.

“Burger and fries, .. kau suka?”

Em tersenyum hambar. Kenapa semua orang menganggapnya seperti anak kecil? Oh—come on, minggu depan umurku sudah 17 tahun!

“Nona .. “

Em merasakan tepukan di pundaknya.

“Are you okay?”

Cloris sudah berdiri di depannya sekarang. Tersenyum. Walau pertanyaan tadi menanyakan keadaannya, namun tidak tersirat kekhawatiran sedikitpun dari wajahnya. Sepertinya dia dapat menebak bahwa Em sedang kesal padanya karna telah memperlakukannya seperti anak kecil.

“Thanks!”

Em mengulurkan tangan, menyambar bungkusan dari tangan Cloris dengan agak keras, .. seolah merampasnya.

Senyuman kembali tersungging di wajah Cloris. Tapi kali ini disertai gelengan kecil yang tidak dilihat Em.

Em mengeluarkan sekotak burger dan sekantung kecil fries dari bungkusan kertas yang ditaruhnya di atas meja. Perhatiannya sekarang berpindah ke Jonathan begitu mengigit burgernya.

“Dia .. “ Em menunjuk dengan dagunya. “ .. selalu begitu .. ?”

“Siapa?” Cloris mengikuti arah pandang Em. “O—“ Dia mengangguk mengerti. Sejenak diperhatikannya Jonathan yang sekarang sedang mengigit burgernya. Tatapan pria itu tidak berpindah dari dokumen yang sedang dihadapinya, sekejap pun.

“Segala sesuatu yang ada di sini .. berjalan apa adanya .. ,” lanjut Cloris, “ .. hanya satu yang tidak biasa .. “ Dia tersenyum sambil menatap Em lekat-lekat.

“Apa?” Em mendongak dari burger yang sedang makannya.

“Kau!” jawab Cloris.

“Aku?!!” Em tersentak, kaget.

Cloris mengangguk, sementara senyuman tidak pernah hilang dari wajahnya. “Aku tidak pernah tahu kalau Tuan Mars punya adik perempuan .. “

Em tersenyum masam. “Aku bukan adiknya ..”

“O--“ Cloris membuka mulutnya lebar-lebar. Entah karna benar-benar terkejut atau hanya untuk mempermainkan Em. “Kalau begitu .. “ Cloris sedikit membungkukkan badannya kearah Em. “Itu lebih aneh lagi .. “

“Hah?!!” Em melebarkan matanya, semakin bingung dengan arah perkataan sekretaris pribadi ini. “Apa maksudmu?”

Cloris mengangkat pundaknya. Tubuhnya ditarik kembali hingga berdiri tegak. Dia melirik sekilas Jonathan yang masih saja disibukkan oleh pekerjaannya.

“Saya rasa, Tuan Mars sudah tidak memerlukan ku lagi sampai jam pulang kantor nanti .. “ Lalu, Cloris mengalihkan perhatiannya kembali pada Em. “Saya permisi, nona. Sampai ketemu lagi, ... nona … ?”

Em mendengus. “Winston! Emma Winston .. “

“Nona Winston .. “ Cloris mengangguk sambil tersenyum ramah. “Saya Cloris Jones. Mungkin Tuan Mars belum mengenalkan nama saya pada nona .. “

Em tersenyum kecut.

Cloris tertawa renyah. “Benar kan? Ya, Tuan Mars—saya mengerti kok .. “

Cloris beranjak ke pintu. Membukanya dengan pelan lalu melangkah keluar. Em memperhatikan semua itu dengan wajah diteguk. Setelah Cloris menghilang dari ruangan tersebut, dan pintu sudah ditutup, .. perhatian Em berbalik kembali pada Jonathan.

“Orang aneh .. ,” dengus Em. Dia mengangkat tangan dan mengigit burgernya keras-keras.


****



Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika Cloris mengetuk pintu ruang kantor Jonathan.

“Masuk!” perintah Jonathan sambil menghempaskan dokumen terakhir yang ditanganinya hari itu ke atas meja.

Pintu terkuak dengan pelan dan Cloris melangkah masuk.

“Sir, apa masih ada yang perlu saya lakukan?” tanya Cloris begitu sampai di depan Jonathan.

Jonathan mengangkat tumpukan dokumen dari atas meja dan menyodorkannya pada Cloris.

“Semua ini sudah selesai. Tolong kau bilah dan kerjakan seperti biasanya. Mengenai kontrak kerjasama yang diajukan Tuan Miles, saya rasa mesti dipertimbangkan dulu setelah rapat direksi minggu depan. Kau boleh pulang setelah menyelesaikan pekerjaanmu, Cloris .. “

Cloris menyangga tumpukan dokumen yang terlihat berat tersebut dengan sepasang tangannya.

“Kalau begitu, saya permisi dulu, sir .. “

Jonathan mengerakkan tangannya.

Cloris membungkuk dengan hormat lalu berlalu dari ruangan itu.

Jonathan mengangkat sepasang tangan dan mengerak-gerakkan sekujur badannya, dalam usaha mengendurkan urat-urat sarafnya yang terasa tegang. Tiga menit lamanya dia melakukan gerakan-gerakan tersebut sebelum berdiri dari kursinya. Jonathan menuruni tangga dengan sangat pelan. Namun, .. langkahnya terhenti begitu tatapannya bertemu dengan wajah seseorang yang tergolek, tertidur pulas di atas sofa.

“Dia … “ Jonathan mengerutkan alis dan menyipitkan matanya. Sejenak dia seperti berpikir. Sepasang tangannya ditancapkan ke saku celana ketika berjalan kearah Em.

“Hey—“ Jonathan mengoyang pundak Em yang terkulas lemas di sandaran sofa.

Perlahan-lahan, Em membuka matanya. Mengejapkannya sekali, .. seolah menyadarkan diri akan keberadaannya saat ini. Dua kali, .. tiga kali—dia benar-benar tersadar bahwa dia bukan lagi tidur di kamarnya.

“Kau masih di sini?”

Em mendengar suara berat itu bertanya padanya.

Em memicingkan matanya. “Hah?”

“Kenapa belum pulang?”

“Hah?” Em membuka mulut, .. bingung mau menjawab apa.

“Ah—sudahlah!” Jonathan mengibaskan tangannya. “Sekarang berdirilah! Saya akan mengantarmu pulang ..”

Masih setengah sadar, Em melebarkan matanya. Mengikuti langkah Jonathan yang sudah sampai di depan pintu. Dia melihat Jonathan menarik gerendel pintu dan membukanya.

"Hey .... "

Em meloncat bangun dari sofa dan menatap punggung Jonathan dengan bingung. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Berada di sini saja_masih membuatnya bingung, .. apalagi kalau harus mengikuti setiap perintah Jonathan yang dirasanya makin ke depan makin aneh saja.

"Kau belum dinner kan?" tanya Jonathan dari ambang pintu.

Em mendongak. "Be .. belum .... ," jawabnya gugup.

Jonathan mengangguk. "Kalau begitu, kita makan dulu. Setelah itu saya akan mengantarmu pulang .. "

"EH!" Em ingin membantah, namun Jonathan sudah keluar dari ruang kerjanya.

Untuk mengejar pemilik sepasang kaki panjang itu, kemudian menolak keputusannya, rasa-rasanya sangat mustahil. Karna itu Em terburu-buru menghambur keluar. Berlari sekencang-kencangnya. Sampai di sebelah Jonathan, bibirnya yang sudah bersiap mengajukan keberatan ... terbungkam, begitu mendapati ...... sepasang mata elang itu__kembali tergantung tak bercahaya,  ... tidak tertuju ke depan, ataupun pada satu titik tertentu. Kali ini ... bola matanya mencakar lantai marmer yang berkilat suram. Em mengigit bibir, mengatup rahangnya rapat-rapat.



*****




Keluar dari restoran tempat mereka menghabiskan makan malam, Jonathan membawa mobilnya ke jalan raya.

"Kau tinggal di mana?" tanyanya pada Em yang duduk di sebelahnya. Dengan perhatian yang tidak berpindah dari lalu lintas di depannya.

"Kembali ke Sekolah Menengah Lambeth .. ," jawab Em pelan.

"Lambeth?" Jonathan melirik dari sudut matanya.

"Ya!" Em mengangguk, .. tanpa mengalihkan pandangan pada Jonathan. "Setelah sampai, baru akan saya beritahu saya tinggal di mana ... "

Jonathan menatap Em, .. mengangguk. Dia tidak bertanya lebih lanjut. Setelah memperhatikan keadaan jalan lewat spion depan dan memastikan segala sesuatunya aman, dia memutar kemudi, .. berbalik kearah sebaliknya. Ferrari perak tersebut berputar tanpa menimbulkan suara, .. lalu melaju dengan kecepatan yang bisa dibilang sedang-sedang saja menurut ukuran seorang Jonathan Mars yang sudah terbiasa mengemudi cepat.



*******





Mobil Jonathan sampai di depan gedung Sekolah Menengah Lambeth.

"Sekarang akan kemana?" Jonathan menatap lekat gedung yang sudah terselimut dewi malam di depannya.

"Di situ!" Em menunjuk kearah jalan masuk desa yang terpisah oleh jalan besar yang melintang di depan sekolah.

Jonathan terlihat mengenyitkan alisnya. "Desa Lambeth?"

"Ya!" jawab Em.

"Kau tinggal di situ?" tanya Jonathan heran.

"Ya!" Em menganggukkan kepalanya. Menatap Jonathan, "Memangnya kenapa?"

Jonathan terlihat agak tersentak. Dia mengangkat pundak, lalu menginjak pedal gas mobilnya. "Tidak apa. Saya akan mengantarmu pulang sekarang ... "

Em mengerak-gerakan bibir seperti mengejek. "Rumah putih di ujung desa ... "

Jonathan mengangguk, dan tidak berkata apa-apa lagi. Mobilnya bergerak dengan pelan, keluar dari area kampus, .. berputar memotong jalan besar, lalu perlahan-lahan .. masuk ke jalan tanah yang memanjang ke dalam desa.



******




"Di sini?" Jonathan menghentikan mobilnya dan menatap rumah putih yang cukup besar di depannya.

"Ya--" Em membuka sabuk pengaman dan dengan terburu-buru mendorong pintu mobil hingga terbuka. "Thanks sudah mengantarku pulang ... " Agak seperti melesat ketika Em keluar dari mobil Jonathan, ... layaknya seorang tahanan yang berhasil melarikan diri dari penculiknya.

Jonathan memperhatikan tingkah-laku Em dalam diam. Dia tidak mengeluarkan suara, .. ataupun menyahut ucapan terimakasih dari Em. Setelah Em menghilang dari pandangannya, barulah dia menghela nafas dalam-dalam. Bola matanya kembali meredup seperti biasanya.

Jonathan menginjak pedal_memundurkan mobilnya, .. lalu perlahan-lahan dia membawa mobil tersebut keluar dari rumah keluarga Winston.



*******




"Em??!!"

Seruan tersebut menghentikan langkah Em, yang terburu-buru, di depan pintu. Em memutar kepalanya. "Glay!"

Gladys Shapland muncul dari pekarangan samping rumah.

"Kemana saja kau??! Tahu tidak, Stan mencarimu sejak tadi siang. Dia terlihat khawatir sekali. Katanya kau dibawa pergi pria tak dikenal dan kenapa ... ponselmu tidak kau jawab?"

Serentetan pertanyaan dari Glay membuat kepala Em berkunang-kunang. Ketika nama Stan terlontar dan juga ponselnya yang tidak diangkat, barulah kesadarannya terhadap apa yang telah terjadi hari ini kembali.

"Yah Tuhan!!" Em menepuk jidatnya. Terburu-buru dia merogoh ke dalam tas sekolahnya dan mengeluarkan ponselnya. Dia menghembuskan nafas keras-keras. "Ponselku mati, Glay." Dia mengangkat kepala dan menatap Glay memelas. "Di mana Stan sekarang? Apa dia sudah pergi?"

"Semula memang begitu .. " Glay mengangguk. "Tapi setengah jam lalu dia kembali lagi dan pesannya_jika kau sudah kembali, atau aku bertemu denganmu, ... dia menyuruhku memberitahumu kalau dia menunggumu di atas atap gudang. Dan sebelum kau datang, dia tidak akan pergi katanya ... "

"Oh--" Em menutup mulut dengan sepasang tangannya. Tak tertahankan, dia memeluk Glay erat-erat. "Thanks, Glay!!" Em berlari dengan kecepatan tinggi ke dalam rumah.

"EM!!" teriak Glay. "Awas kalau ketahuan orangtuamu kalau kau sering manjat-manjat tidak karuan seperti itu!!"

Em tertawa. "Kalau kau tidak bilang, mereka tidak akan tahu!!!" teriak Em sambil meleletkan lidahnya pada Glay yang hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala di tempatnya.


******
 

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Vay_za

  • Senior
  • ****
  • Posts: 917
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--CHAPTER THREE--8 JAN 2012
« Reply #143 on: January 07, 2012, 07:54:55 pm »
 [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [clap] [hmpfh]

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline viollet.koo

  • Full
  • ***
  • Posts: 371
  • I'm minsunner until the end of time ♥ minsun
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--CHAPTER THREE--8 JAN 2012
« Reply #145 on: January 08, 2012, 03:22:37 am »
ga ada kissnya  [dry]   [hmff]

 이민호 ♥ 구혜선

-Viollet Koo-

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--CHAPTER THREE--8 JAN 2012
« Reply #146 on: January 08, 2012, 03:46:14 am »
ga ada kissnya  [dry]   [hmff]
[head break] [head break] [head break]
heran,, yg komen di sini kok pd ga beres semuanya [wacko] [wacko] otaknya maksud ane [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Adinda lestari

  • Junior
  • **
  • Posts: 249
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--CHAPTER THREE--8 JAN 2012
« Reply #147 on: January 08, 2012, 06:45:41 am »
Ya' ampunn,,
ada apa dengan sikap jonathan ke em,apa yang menyebabkan jonath membawa em dengan paks..gumawo mam dah update,,,next jangan lama lama updatenya + update ff yang lain ya mam...

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--CHAPTER THREE--8 JAN 2012
« Reply #148 on: January 08, 2012, 06:56:51 am »
Ya' ampunn,,
ada apa dengan sikap jonathan ke em,apa yang menyebabkan jonath membawa em dengan paks..gumawo mam dah update,,,next jangan lama lama updatenya + update ff yang lain ya mam...
gw jg ga tau maksud jonathan membawa em dengan paksa ke kantornya [wacko] [wacko] [hmpfh] [hmpfh]

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: A Face Over The Windows--CHAPTER THREE--8 JAN 2012
« Reply #149 on: January 08, 2012, 07:34:49 am »
akhirnya update juga , makasih mami  [flowers] [flowers]
Mary lari ngosongsan  [bored] dari tempat ketempat lain hanya demi seorang stand  [sweat]  kira" apa yang mau di bicarakan Mary ke stand  [chin] apakah pernyataan perasaan  [drool] Jonath lagi kesurupan ya [dry] main serit anak orang sembarang aja  [smiley-dance013] apa si jonath punya penyakit pelupa juga ya  [chin] segampangnya aja lupa sama Em  [hmpfh] bisa di bayangkan seberapa kesalnya Em sama Jonath  [head break] dengan pertanyaan jonath (kenapa belum pulang  [what]) stand menunggu Em di atas atap ada apa  [what] benarkah mau mengungkapkan perasaannya ke Em  [chin]