CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Short Fanfic
»
September's blue : My Rainy Days ~CHP 5 Part (iii) FINAL~6 Feb'11
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #14084
« previous
next »
Print
Pages:
1
...
10
11
[
12
]
13
14
...
35
Go Down
Author
Topic: September's blue : My Rainy Days ~CHP 5 Part (iii) FINAL~6 Feb'11 (Read 20614 times)
Be my self
Admin
Hero
Posts: 7360
that winkkkk!!! *fainted
Re: September's blue : My Rainy Days ~chapter two, part (ii) update @18 Juli
«
Reply #165
on:
August 13, 2010, 08:07:22 am »
Jung-Min mengibas-ngibaskan mantel yang membalut tubuhnya. Butir-butir air beterbangan seiring gerakan-gerakan tangannya. Mantelnya basah, walaupun tidak basah semua. Lain dengan celana jeans ketat yang membalut kakinya, benar-benar basah semua. Payung yang dipinjam paksa dari Seung-Gi tidak mampu melindungi dirinya dari terpaan hujan deras.
Jung-Min menengadah. Pintu gerbang Everlasting sudah di depan mata. Dia mempercepat langkahnya. Setengah berlari dia menuju ke sana.
Nafasnya ngos-ngosan begitu sampai di pintu gerbang dari kayu itu. Jung-Min menutup payungnya dan menyandarkannya di pinggir pintu. Sekali lagi dia mengibaskan air yang melekat di tubuhnya. Hujan belum berhenti saat itu. Deru dan terpaannya terasa sangat keras di telinga dan kulitnya.
Jung-Min berbalik dan mengamati sekeliling pemukiman tersebut. Terasa sunyi dan mati.
Yea, siapa yang akan berkeliaran dalam cuaca seperti ini?
tanyanya dalam hati.
Jung-Min menghembuskan nafasnya. Entah apa yang dilakukan pemilik pondok di belakangnya sekarang ini! Jung-Min memutar tubuh kembali ke pintu gerbang tersebut. Ragu-ragu sejenak, akhirnya dia memutuskan mengetok pintu yang terlihat kokoh itu.
tok .. tok .. tok ...
Dia mendengarkan selama beberapa lama. Tidak terdengar suara. Hanya hembusan angin dan suara guntur mengelegar di angkasa luar yang terdengar. Suasana di tempat itu juga mulai kelam. Bukan karena hari sudah malam ataupun sore, tapi karena matahari tertutup gumpalan-gumpalan awan tebal nan gelap yang menumpahkan hujan lebat ke bumi.
krekkk .....
Pintu gerbang dari kayu itu terbuka perlahan. Jung-Min menajamkan penglihatannya. Seraut wajah yang sangat diharapkan kemunculannya, hadir di depan mata. Sepasang mata besar yang kelabu itu melebar melihat keberadaannya di situ. Bibir mungilnya terbuka--mengangga, seakan tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Payung di tangannya agak goyah. Hampir terlepas dari tangannya.
Dengan gugup gadis itu memperbaiki posisinya dan bertanya dengan suara terbatah-batah. "A .. ada .. apa?"
Jung-Min tersenyum. Maksudnya untuk menenangkan gadis di hadapannya. Tapi usahanya tidak membantu. Gadis itu malah kelihatan semakin gugup.
"Hi .. ," sapa Jung-Min. "Masih ingat padaku?"
Gadis itu menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang seperti tercekik. Dia mundur selangkah. Wajah yang sudah pucat itu semakin pucat. Seperti tidak berdarah.
"Apa saya mengejutkanmu?" tanya Jung-Min khawatir. "Saya tersesat lagi di sini." alasannya. "Dan juga tidak membawa payung ... ," lanjut Jung-Min sambil tertawa pendek. Kebohongan yang untuk kedua kali diucapkannya terdengar mengelikan. Dia tidak kuasa menahan tawanya walaupun dia yakin ini bukan saatnya untuk tertawa. Gadis di hadapannya terlihat tidak nyaman.
"Lihat pakaianku basah semua .. ," sambung Jung-Min setelah berhasil mengendalikan dirinya. "Saya berusaha mencari tempat berlindung dan tanpa sengaja terlihat olehku pondok ini ... ," dia tersenyum, ".. tidak kukira akan bertemu kembali denganmu .. "
Gadis itu semakin gelisah. Payung dalam genggamannya dipindahkan ke tangannya yang lain. Dari kanan ke kiri. Kemudian dia menoleh ke belakang, selanjutnya berbalik lagi pada Jung-Min.
"Lupa ya?" Jung-Min melebarkan senyumnya. "Saya Lee Jung-Min. Ingat?"
Gadis itu tidak bersuara. Dia mengangguk perlahan.
"Dan kamu ... ," Jung-Min menunjuk ke arahnya. "Goo Jie-Ah .. "
Mulut Jie-Ah mengangga. "Ka .. mu ingat?!" pertanyaan itu terlontar begitu saja. Terdengar sangat polos. Bukan pertanyaan yang memerlukan jawaban, tapi pertanyaan yang memastikan sesuatu.
Jung-Min mengangguk. "Tentu saja!" jawabnya mantap. "Nama seindah itu tidak mudah dilupakan .. " Dia tahu jawabannya terdengar gombal. Tapi dia tidak peduli karena jawaban itu benar adanya. Dia benar-benar merasa nama Jie-Ah adalah nama terindah yang pernah didengarnya.
Jie-Ah tidak bereaksi. Jawaban tersebut membuat sekujur tubuhnya membeku. Untuk pertama kali dia mendengar pujian dari seseorang yang bukan keluarganya. Bukan omma, aboji maupun oppanya. Tapi dari seorang asing yang ditemuinya baru untuk kedua kali.
"Boleh saya masuk ke dalam?"
Pertanyaan itu mengejutkan Jie-Ah. Semua lamunannya buyar seketika itu juga. Jung-Min terlihat agak menyusut ke pintu. Menghindari gulungan air hujan yang semakin menggila.
Jie-Ah mundur selangkah dengan kepala tertunduk. Tubuhnya menempel ke daun pintu. Dengan suara pelan dia berkata, "Silahkan .. "
Jung-Min mengosok-gosokkan sepasang tangan ke lengannya yang terbalut mantel basah. Sekali loncat dia memasuki gerbang pembatas--pemisah jalan kecil di luar dengan pondok tua di dalamnya. Perlahan dia melangkahkan kakinya ke pondok yang pertama kali dilihatnya ini. Pondok tersebut terlihat kelam dan suram. Walaupun cat-cat yang terpoles di dinding-dindingnya berwarna putih polos, tetap saja kekelaman itu sangat terasa. Mata Jung-Min bergerak semakin lebar. Setiap sudut di luar pondok itu tidak lepas dari pengamatannya.
Jie-Ah mengikuti Jung-Min dari belakang. Rok panjangnya bergerak-gerak menyapu air yang mengenangi sepanjang jalan kerikil ke pondok kecil di hadapannya. Payung di tangannya teracung tinggi-tinggi. Berusaha menaungi tubuh jangkung Jung-Min. Tapi tidak begitu berhasil. Payung itu menempel ketat di batok kepala pemuda di depannya.
***********
Jung-Min mengangga setelah berada di dalam pondok. Lukisan-lukisan yang terpajang di beberapa kaki penyangga, yang tergeletak begitu saja di atas meja kayu di tengah ruangan, dan di atas lantai, bersama segala peralatan lukis--dari kanvas-kanvas, kuas-kuas dan tinta-tinta, berikut kertas-kertas gambar yang berserakan ke mana-mana membuatnya takjub. Dia berdiri kaku di depan pintu.
Jie-Ah menyandarkan payung di tangannya ke dinding dekat pintu, tanpa mengetahui keadaan pemuda itu. Dia berjalan ke satu-satunya meja di ruangan itu. Segala sesuatu di atas meja disingkirkan dengan tangannya. Kemudian dia mengambil sebuah gelas dari nampan yang hampir tertutup segala peralatan lukis di atas meja dan menuangkan air dari cerek ke dalamnya. Setelah itu, dia menyambar handuk yang tersampir di sandaran kursi. Dua menit kemudian dia mendekati Jung-Min yang masih terpaku di posisinya.
"Air .. ," kata Jie-Ah pelan sambil menyodorkan gelas di tangan kanannya. "Dan ... handuk ... ," diikuti handuk di tangan kirinya yang agak bergetar.
Jung-Min tersentak. Pandangannya beralih pada Jie-Ah. "Thanks .. ," dia mengambil gelas itu, begitu juga handuk yang tersodor padanya. Kemudian dia tersenyum.
Jie-Ah terlihat kaku. Sesaat dia berbalik kembali ke dalam ruangan. Jung-Min mengikutinya. Pandangan pemuda itu merajarela di seputar ruangan tersebut.
"Kamu ... mengerjakan semua ini?" akhirnya dia berhasil mengeluarkan pertanyaan yang memenuhi otaknya.
Dia mendekati meja dan meletakkan gelas berisi air di tangannya, begitu juga handuk yang telah digunakan membilas tubuh sekedarnya--disampirkan ke tempat semula.
Jie-Ah yang sudah berkutat dengan salah satu lukisan di tangannya menengadah. Dia tidak menjawab. Hanya mengangguk halus.
Mulut Jung-Min kembali mengangga.
Luar biasa!![/b] Pujinya dalam hati. Kemudian dia berbalik ke lukisan-lukisan yang terpajang di atas kaki-kaki penyangga. Dihayatinya lukisan-lukisan tersebut satu-persatu. Langkahnya terayun seiring pandangannya yang tak terlepaskan dari hasil-hasil karya tangan Jie-Ah.
Lukisan-lukisan tersebut kebanyakan adalah lukisan-lukisan abstrak. Lukisan kasat mata yang belum tentu bisa tertangkap maknanya oleh orang awam. Warna-warna yang digunakannya sangat kelam dan cenderung gelap. Dari hitam, coklat, sampai kelabu. Ada juga warna merah dan biru. Tapi itu juga berkesan tua dan menyedihkan. Hati Jung-Min tersengat. Entah mengapa dia merasa bisa menangkap kepiluan-kepiluan dan teriakan-teriakan kesakitan yang ditumpahkan lewat sepasang tangan pelukisnya--Goo Jie-Ah.
Lalu langkah Jung-Min terhenti. Lukisan yang sekarang terpampang di hadapannya berbeda dengan lukisan-lukisan sebelumnya. Lukisan ini bukan lukisan abstrak. Juga tidak gelap. Warna-warna yang terpoles di lukisan tersebut termasuk atraktif. Penggunaan warna-warnanya sangat berani.
Lukisan itu menampakkan seorang pria yang sedang melindungi gadisnya dari siraman air hujan. Hanya terlihat punggung-punggung mereka, tapi efek-efeknya terekpos jelas. Lekuk-lekuk tubuh, beserta kecerahan suasananya menimbulkan nuansa lain bagi Jung-Min. Perlahan mata pemuda itu menurun ke bawah. Nama yang tertera di sana langsung membuat tubuhnya tersentak. Bukan hanya kata
Goo Jie-Ah
penyebabnya, tapi yang terutama dan yang paling penting judul yang diberikan buat lukisan tersebut--
DREAM.
"Dream?" Jung-Min membaca kata itu.
Jie-Ah mengangkat wajahnya. Dia berpaling ke arah pemuda jangkung itu dengan kepala dimiringkan sedikit. "Ada apa?" tanyanya pelan. Tindakan yang segera menciptakan keanehan pada dirinya sendiri. Sejak kapan dia tertarik dengan urusan orang lain?
"Ini nama yang kamu berikan buat lukisan ini?" tanya Jung-Min sambil menunjuk lukisan di hadapannya.
Jie-Ah melirik
Dream
, kemudian mengangguk.
"Aneh sekali .. ," gumam Jung-Min.
"Memangnya kenapa?" tanpa sadar, pertanyaan terlontar lagi dari mulut Jie-Ah.
"Judul yang sama dengan manga terbaruku .. ," jawab Jung-Min, yang langsung disambut pandangan bertanya dari gadis di hadapannya. "O saya seorang penulis manga .. " jelas Jung-Min cepat, " .. dan tidak kusangka kamu memberi judul yang sama untuk lukisanmu ini .. ," dia tersenyum.
Jie-Ah tertegun. Kembali dia melirik lukisan di atas kaki penyangga di hadapan Jung-Min. "Jeongmal?"
Jung-Min mengangguk. "Kelihatannya selera kita tidak jauh berbeda .. ," candanya. "Atau .. mungkinkah pemuda dalam lukisan ini saya?" dia tertawa. "Lihat! Dia juga begitu jangkung .. ," sambungnya, " .. saya jadi berpikir. Gadis ini, mungkin juga kamu adanya .. " tawa Jung-Min semakin lebar.
Jie-Ah membisu selama beberapa detik. Pandangannya beralih dari
Dream
ke Jung-Min. Kemudian, perlahan-lahan, senyuman tersungging di bibir mungilnya.
***********
Tiga hari berlalu sudah. Jung-Min tenggelam dalam kesibukkan-kesibukkannya. Sketsa-sketsa manga yang pembuatannya diburu waktu dan juga rencana pembuatan film animasi buat manga tersebut.
Matahari bersinar terik selama dua hari terakhir. Sinarnya menerobos masuk lewat jendela kaca dalam ruang kantor Jung-Min. Terasa panas dan menyengat. Sekalipun dalam ruangan ber-AC seperti ruang kantor Jung-Min.
Pensil di tangan Jung-Min terlepas dan mengelincir ke atas meja. Pemiliknya bergerak perlahan. Pemuda itu melepaskan beberapa kancing kemejanya. Dia merasa gerah. Keasyikannya terganggu akibat reaksi kecil dari alam itu.
Jung-Min berdiri dari kursinya. Mendadak perasaannya tidak enak. Dia berputar-putar dalam ruangan itu dengan gelisah. Usahanya untuk menenangkan diri dengan cara itu ternyata tidak berhasil. Perasaan tidak enak itu semakin kuat.
Jung-Min membuka pintu ruang kantornya dan berjalan keluar. Diamatinya keadaan di luar sambil lalu. Para bawahannya tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Seung-Gi tidak kelihatan.
Mungkin ada pekerjaan lain di luar.
Pikir Jung-Min.
Kemudian, perasaan tidak enak itu kembali mengerogotinya. Seperti firasat buruk yang membayang-bayangi dan mematikan daya pikir serta gerak-gerik tubuhnya. Tergesa-gesa Jung-Min berlari ke pintu depan.
Semoga tidak terjadi sesuatu dengannya!
Doanya dalam hati. Dalam sekejap, bayangannya sudah lenyap dari kantor kecil itu.
***********
"Gi oppa!!"
Hye-Mi melambaikan tangannya begitu melihat kemunculan Seung-Gi di cafe itu.
"Hi Hye-Mi .. ," Pemuda bertampang chubby tersebut membalas lambaian tangan Hye-Mi dan mendekatinya. Tubuhnya dihempaskan ke kursi di depan gadis itu. Dia tersenyum cerah. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik .. ," jawab Hye-Mi. "Oppa minum apa?"
"Latte saja .. ," Seung-Gi memperlebar senyumnya.
Hye-Mi mengangguk, kemudian meneriakkan pesanan Seung-Gi pada seorang pelayan muda yang berada di dekat situ. Pelayan tersebut terburu-buru menuju meja bar dan melakukan pesanan mereka.
"Lalu .. apa sebenarnya maksud undanganmu ini?" tanya Seung-Gi halus.
Hye-Mi tidak menjawab. Dia meraih cangkir kopi dari atas meja dan menyeruput isinya dengan nikmat.
"Jung Hye-Mi ... ," panggil Seung-Gi, masih dengan nada lembut.
Hye-Mi meletakkan cangkir kopinya. "Oppa ini tidak sabaran aja .. ," semburnya. Tampang imut itu berubah cemberut. Bibirnya panjang ke depan hampir satu senti.
Seung-Gi tertawa. "Tidak. Bukan begitu Hye-Mi-a .. ," dia berusaha membela diri. "Oppa hanya ada pekerjaan penting yang mendesak .. "
"Jadi oppa diburu waktu?" selidik Hye-Mi.
"Ne .. "
Hye-Mi mengangguk. "Kalau begitu, langsung ke pokok masalah saja." katanya. "Saya ingin oppa menyelidiki Min-oppa untukku .. "
Mata Seung-Gi terbelalak. "Menyelidiki Jung-Min?" tampangnya terlihat tidak percaya. "Tapi .. untuk apa?"
"Saya curiga Min-oppa ada wanita lain .. , " kata Hye-Mi. "Omma memang tidak mengatakannya. Tapi saya mempunyai perasaan yang kuat itu. Karenanya, saya ingin mengetahuinya .. Siapa wanita itu dan bagaimana dia bisa membuat Min oppa tergila-gila padanya .. "
"Apa .. ini tidak keterlaluan?" tanya Seung-Gi lagi--ragu-ragu.
"Tentu saja tidak." sahut Hye-Mi tegas. Tampangnya langsung mengeras. "Oppa tidak bersedia menolongku?" tanyanya curiga.
Pemuda itu segera mengeleng keras-keras. "Tentu saja bukan, Hye-Mi a .. ," katanya memelas, "Kamu tahu oppa bersedia melakukan apa saja demi kamu ... "
Hye-Mi tersenyum. Dia mengangguk puas. "Tidak usah dikatakan juga, saya tahu oppa menyayangiku .. ," ujarnya sambil meraih cangkir di hadapannya. Dihirupnya dalam-dalam aroma kopi yang menyembur keluar dari dalam cangkir. Matanya terpejam. "Jadi jangan lupa melakukannya untukku, oppa ... "
Seung-Gi menghembuskan nafasnya
berat.
"Ne .. ," apalagi yang bisa dikatakannya selain kata itu.
Sebentar kemudian, pelayan tadi mendekati mereka dengan secangkir latte pesanan Seung-Gi.
***********
Jung-Min sampai di depan pintu gerbang Everlasting. Diketuknya pintu tersebut berulangkali. Tujuh menit berlalu dan tidak ada yang membukakan pintu buatnya. Jidat Jung-Min berkenyit. Tangannya bergerak lagi--mengetuk pintu itu, lebih keras dari tadi.
tok .. tok .. tok ...
"Jie-Ah!!!" teriaknya. "Buka pintunya!! Saya mohon,,, GOO JIE-AH!!"
tok .. tok .. tok ...
Masih tidak ada reaksi dari dalam pondok. Jung-Min semakin gelisah.
"GOO JIE-AH!!"
tok .. tok .. tok ...
"APA KAMU ADA DI DALAM?" teriaknya. "KAMU BAIK-BAIK SAJA KAN?!! BUKA PINTUNYA,,, GOO JIE-AH!!"
Hati Jung-Min campur-aduk. Firasat buruk yang dirasakannya sejak dari kantor 'Sketch Your Dream' semakin kuat saja. Jung-Min memperkeras ketukannya. Pintu dari kayu tua yang masih kokoh itu bergoyang-goyang hebat akibat perbuatannya.
tok .. tok .. tok ...
"GOO JIE-AH!!!"
drekk .... pintu di hadapannya terbuka perlahan-lahan. Tangan Jung-Min hampir mengenai kepala orang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Wajah pucat Jie-Ah tampil dengan ekspresi menderita. Wajahnya lebih pucat dari yang dilihatnya tiga hari yang lalu. Bibirnya digigit keras-keras. Sedangkan mata bulatnya
redup
. Tidak bercahaya sedikitpun.
"Rumah ... sakit ... KimSeoul ... ," gumam gadis itu pelan. Hampir tak terdengar oleh Jung-Min.
Lalu tubuhnya ambruk dalam dekapan pemuda yang terlihat kaget setengah mati itu.
"Goo Jie-Ah!! Heiiii ,,, bangunlah!!" Jung-Min menguncang keras tubuh Jie-Ah. "Ada apa? Apa yang terjadi?!! Goo Jie-Ah?!!"
Jie-Ah membuka mata perlahan. Wajahnya semakin pucat. Dengan nafas terengah-engah, dia berkata, "Rumah .. sakit .. KimSeoul .... Dok .. dokter ... Kim .. Dae .. Won ... " Tangannya terkulai ke lantai. Begitu juga kepalanya--terkulai dalam dekapan Jung-Min.
"Goo Jie-Ah!!"
Jung-Min menepuk-nepuk pipi Jie-Ah. Berulangkali. Dari pipi kanan ke pipi kiri dan berbalik lagi. Begitu seterusnya. Tapi usahanya untuk menyadarkan Jie-Ah sia-sia. Gadis itu seperti orang mati saja. Kaku dan dingin. Beruntung dia masih bisa mendengar bunyi jantungnya yang berdetak lemah. Dengan ketakutan Jung-Min menaikkan Jie-Ah ke punggungnya.
"Saya mohon ... bertahanlah! Jangan sampai terjadi apa-apa pada-mu!" kata Jung-Min kalang-kabut. Dia berlari ke jalan kecil tanah yang terpentang di sepanjang pemukiman sepi itu. "Kamu dengar saya, Goo Jie-Ah?!!" teriaknya. "Kamu tidak boleh pergi begitu saja!! Kamu berhutang padaku! Kamu harus melunasinya ... GOO JIE-AH!!"
Jung-Min menuju mobilnya. Sinar terik mentari mengenai kulitnya. Panas, seperti membakar seluruh tubuhnya. Tapi Jung-Min tidak peduli. Yang dikhawatirkannya saat ini adalah gadis dalam gendongannya. Tidak ada yang lebih berarti dari keselamatan Jie-Ah. Jung-Min mempercepat langkahnya. Perjalanan tiga menit yang ditempuhnya laksana bertahun-tahun. Tanpa terasa, beberapa butir airmata mengalir turun, membasahi mantel dan celana jeans yang dikenakannya.
***********
Mobil Jung-Min berhenti di depan rumah sakit KimSeoul. Tergesa-gesa dia keluar dari mobil. Berjalan lebar ke bangku di sebelahnya dan mengendong Jie-Ah keluar.
Seperti orang yang kehilangan akal sehatnya, Jung-Min melesat masuk ke rumah sakit.
"Dokter!!! .. Suster, tolong! ... tolong temanku!! .. tolong dia,, saya mohon!!" teriak Jung-Min histeris.
"Selamatkan dia ... Saya .. saya mohon ... ," Jung-Min tersungkur ke lantai dengan Jie-Ah yang masih terpeluk erat dalam dekapannya.
Orang-orang dalam rumah sakit mulai menaruh perhatian pada Jung-Min begitu melihat pemuda jangkung itu menanggis tersedu-sedu. Beberapa suster mendekatinya.
"Ada apa?" tanya salah seorang dari mereka. Tangannya menyentuh lengan Jung-Min.
"Selamatkan dia ... ," hanya perkataan ini yang mampu dikeluarkan Jung-Min. "Dokter Kim .. ," tiba-tiba nama itu teringat olehnya. Jung-Min mengumam lagi. "Dokter Kim Dae Won .. Saya mencari dokter Kim Dae Won ... "
"Telepon dokter Kim .. ," seru seorang suster pada suster yang lain. Suster yang mendapat perintah itu segera meninggalkan mereka.
"Tuan .. ," suster muda tadi kembali menyentuh lengan Jung-Min. Kali ini dia mengoyangnya agak keras. "Sebaiknya nona ini serahkan pada kami ... ," sarannya.
Dengan linglung Jung-Min mengangguk. "Dia tidak apa-apa." katanya pelan. Suaranya terdengar bergetar hebat. "Tidak mungkin terjadi apa-apa padanya .. "
Para regu penolong pertama di rumah sakit itu mulai menangani Jie-Ah. Alat pembantu pernafasan dipasangkan di bagian bibir dan hidungnya. Jung-Min meliriknya putus asa. Salah seorang regu penolong membantunya bangkit dari lantai dan mendudukannya di kursi panjang yang terdapat di sana. Jung-Min menyandar ke sandaran kursi. Matanya terpejam perlahan. Dan airmata kembali mengalir dari kedua sudut matanya.
"Dia tidak apa-apa ... ," desisnya lirih. "Dia akan baik-baik saja .. Akan baik-baik saja ... Penyakitnya tidak parah .. tentu tidak parah ... "
Suster yang masih berdiri di samping Jung-Min menoleh padanya. Ekspresinya tidak mengisyaratkan harapan Jung-Min.
"Saya tidak yakin, tuan .. ," kata suster itu. "Anda tahu siapa dokter Kim Dae Won?"
Mata Jung-Min terbuka. Perlahan-lahan dia menoleh ke arah suster itu. Dia tidak menjawab. Ditatapnya suster muda itu dengan pandangan nanar.
"Dokter Kim Dae Won, dokter spesialis jantung di rumah sakit ini."
Jawaban itu laksana petir menyambar sanubari Jung-Min. Lututnya langsung lemah. Sekalipun dia duduk di kursi, badannya hampir tersungkur ke depan. Tak terkendali lagi oleh pikirannya. Agak sempoyongan dia menyandar kembali ke sandaran kursi. Matanya terbelalak lebar pada suster yang kelihatan agak menyesal dengan perkataannya barusan.
"Yoona!!" terdengar teriakan dari meja resepsion. Suster yang tadi diminta menghubungi dokter Dae Won melambai ke arah suster di sebelah Jung-Min. "Dokter Kim belum kembali dari luar kota." kata suster itu. "Dokter Song yang akan mengambil-alih kasus ini. Dia dalam perjalanan kemari ... "
Suster muda yang diteriakinya mengangguk. Sedangkan Jung-Min, begitu mendengar kabar itu semakin terpuruk di tempatnya. Tubuhnya lunglai.
Oh tuhan, Selamatkan dia! Aku mohon selamatkan dia! Aku rela membayarnya dengan umurku jika dia diberi kesempatan hidup, bernafas lagi.
***********
Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ...
keeps it strong!!!
Our MinSun
Print
Pages:
1
...
10
11
[
12
]
13
14
...
35
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Short Fanfic
»
September's blue : My Rainy Days ~CHP 5 Part (iii) FINAL~6 Feb'11
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #14084