Author Topic: "Beautiful Life" *Chapter 4* 15 Juni 2012  (Read 8459 times)

Offline lluluMH

  • Newbie
  • *
  • Posts: 79
  • I like her style boyish but still beauty love it
    • View Profile
Re: "Beautiful Life" *Chapter 3 Part 1* 26 Oktober 2010
« Reply #60 on: September 26, 2010, 03:25:27 am »
yuhuuuuuuuuuuuuuuu akuuuuuuuuuuu dataaaaaaaaannnngg..  [clap] [clap] [clap] [clap]

mianhae semuanya aku lama update..  [heh] [heh] soalnya dokumen chapter 3 nya hilang, padahal sdh ada 10 halaman MS Word..  [cry] [cry]

di chapter 3 ini aku bikin banyak bagian minsun nya.. kebanyakan cast jadi bingung.. wkwkwk  [jumpy] [jumpy] *author gak bener*  [laughing] [laughing]

terus menurut aku chapter 3 ini kurang gimana gituuuuu.. jadi nanti chap 3 akan aku bikin 2 part..  [biggrin] [biggrin]

okeeee selamat membacaaaa..  [heh] [heh]


Chapter 3 Part 1


“KAAAAUUU SEDANG APA KAU DI SINI” Minho teriak kaget melihat sosok mungil Hye Sun di depannya.

“OMO!” Hye Sun tidak kalah terkejut saat ia melihat dada mino yang polos.

“Ada apa? Mengapa kau menutup wajahmu? Memang kau kira aku hantu?” Mino bertanya dengan polosnya, ia lupa bagaimana keadaan dadanya yg polos sekarang.

“Ke..kee..ke mana kemeja mu? Cepat pakai” Jawab Hye Sun gugup sambil menunjuk-nunjuk kearah Mino.

“OMO! OMO!” Kata Mino baru sadar, dan ia langsung menutup dada bidangnya dengan selimut putih yang menyelimuti kakinya. Lalu ia lanjut lagi bertanya pada Hye Sun.
 
“Heeyy, kau kah yang membuka kemeja ku?” Tanya Mino pada Hye Sun. Ia mengira kalau yang membuka kemejanya adalah Hye Sun.

“Hah? Enak sekali kau menuduhku sembarangan” Jawab Hyesun kaget dengan nada agak kesal.

“Lalu siapa lagi? Di dalam sini hanya ada aku dan kau? Mana mungkin hantu kamar ini yang membukanya.” Jawab Mino tidak percaya.

“Tsssshh” Hye Sun menghempaskan wajahnya kearah jendela. “Mungkin saja kau sendiri yang membukanya, karena semalam kau mabuk dan banyak keringat keluar dari tubuh mu atau mungkin karena semalam kerjaanmu hanya mengigau dan mengigau dan mungkin kau sedang bermimpi sesuatu hal yang “dewasa” makanya kau membuka kemejamu” Jawab Hye Sun dengan nada tidak kalah kesal.


Flashback

Terlihat tubuh jenjang seorang pria tampan yang penuh dengan keringat dingin di atas ranjang yang dilapisi seprai putih bersih. Ia terlihat sangat gelisah, di putarnya tubuh jenjangnya ke kiri dan ke kanan mencari posisi tidur yang nyaman. Wajahnya tampannya di penuhi dengan butiran-butiran bening yang terus mengalir.
 
“Omo.. mengapa panas sekali? Apakah AC nya tidak berfungsi?” Mino terbangun dari tidurnya masih dalam keadaan setengah sadar. Entah apa yang membuatnya kepanasan seperti ini, mungkin efek dari minuman keras tadi, ia terlalu banyak minum semalam.

“Akkkhhhh, kalau seperti ini aku benar-benar tidak bias tidur.” Mino mulai melepas satu per satu kancing kemejanya, ia tidak menyadari sosok mungil Hye Sun yang lelap tertidur di bawah sebelah ranjangnya.

“Aahh.. begini lebih baik.” Setelah melepas kemejanya dan merasa lebih baik Mino kembali tidur dan raut mukanya menunjukkan kalau Mino merasa lebih nyaman sekarang.

End Of Flashback


“Hai…kau masih sadar?” Tanya Hye Sun pada Mino yang sedari tadi diam mengingat apa yang terjadi semalam pada dirinya.

“Ohh, yaa..yaa…yaa.. aku ingat” Kata Mino gugup setelah tersadar dari lamunannya dan mengingat semuanya.

“Ingat? Sudah ingat apa yang kau lakukan semalam?” Tanya Hye Sun dengan wajah sedikit kesal.

“Yaa, aku ingat. Kau bisa pergi sekarang.” Mino menyuruh Hye Sun untuk pergi, dan ia mulai beranjak dari tempat tidur dan memakai kemejanya.

“Baiklah.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Hye Sun, lalu ia langsung beranjak pergi dari kamar Mino. Saat ia sudah sampai dekat pintu ia baru ingat sesuatu “Oh ya, mobilmu akan di antar oleh pelayan bar.”  Tapi sepertinya Mino tidak merespon apa yang dikatakan Hye Sun, ia terlihat sedang sibuk mencari sesuatu di saku jasnya.

“Di mana?” Mino bertanya pada Hye Sun.

“Apanya yang di mana? Mengapa kau bertanya seperti itu padaku?” Hye Sun tampak sangat bingung dengan pertanyaan Mino.

“Sudahlah kau tak perlu pura-pura tidak tau. Cepat kembalikan.” Mino mengulurkan tangannya menagih sesuatu pada Hye Sun.

“Mwo? Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bi..” belum juga Hye Sun selesai, Mino langsung memotong “SUDAHLAH KEMBALIKAN CINCIN ITU” Mino berteriak saking kesalnya.

“Cincin?” Hye Sun menatap Mino dengan tatapan penuh dengan kebingungan.

“YA, CEPAT KEMBALIKAN ATAU KAU AKAN MATI” Kali ini wajah Mino benar-benar terlihat sangat marah dan nada suaranya juga terdengar sangat tinggi. Sepertinya cincin itu sangat berharga bagi Mino.

“MATI” Jawab Hye Sun yakin.
 
“Tsssshh” Mino menghempaskan wajahnya kea rah pintu, sambil menggeretakan giginya.

“Kenapa? Ayo bunuh aku ! lagipula apa yang harus ku kembalikan pada mu jika memang cincin itu tidak ada padaku.” Hye Sun benar-benar tampak sangat marah karena Mino seenaknya saja menuduhnya tanpa bukti.

“KAAAAAUUUU..BERANI-BERANINYA KAAUU..” Mino menunjuk ke arah Hye Sun.

“Apalagi?” Hye Sun mengadahkan kepalanya ke arah Mino. “Kau masih yakin kalau aku pencurinya? Hah? Baiklah, kalau begitu temui aku di restoran dekat Seoul Magazine Centre siang ini.” Setelah selesai mengatakan semuanya Hye Sun beranjak pergi dari kamar itu, pagi ini interview nya berlangsung, jadi tidak mungkin jika Hye Sun menyia-nyiakan waktunya hanya untuk berdebat dengan Mino.

“Tsssshh, gadis itu benar-benar akan ku tagih janjinya nanti.” Mino bicara pada dirinya sendiri sambil memakai pakaiannya dan merapikan barang-barangnya. “Tapi tunggu sebentar..” saat Mino sedang serius merapikan sema barang-barangnya tiba-tiba terlintas omongan Hye Sun barusan.
“Temui aku di restoran dekat Seoul Magazine Centre siang ini.”
 


“Seoul Magazine Centre? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya di daerah kantor ku. Aahh entahlah kita lihat saja siapa dia sebenarnya nanti siang.” Setelah memikirkan oongan Hye Sun dan ia tidak juga menemukan jawabannya Mino kembali melanjutkan aktivitasnya, lalu setelah 10 menit semua telah rapi ia pergi meninggalkan kamar dan Mino memutuskan untuk langsung pergi menuju kantornya karena waktu menunjukkan pukul 7 lebih, jadi tidak mungkin jika ia pulang dulu.

---o0o---

Pukul 07.30 di Kamar Hye Sun

Setelah kurang dari 30 menit akhirnya Hye Sun sampai di kamarnya. Ternyata Namdong Hotel letaknya tidak begitu jauh dari hotel yang ditempatinya.

“Huh, untung saja hotel itu tidak jauh dari sini, jadi aku tidak banyak membuang waktu. Jam sembilan ya tinggal beberapa saat lagi interview dimulai sedangkan aku masih repot sendiri seperti ini. Aakkkhh ini semua karena pria sial itu.” Hye Sun menggerutu sendiri sambil merapikan semua barang-barang yang harus ia bawa untuk interview. Kalung yang diberikan bibinya tak pernah lepas dari leher jenjangnya sejak kemarin malam. Sekarang yang ia rasakan nervous sekaligus kesal. Ia masih kesal dengan kejadian dirinya dengan Mino tadi di Hotel, dan sekarang ia juga nervous akan menghadapi interview yang selama ini ia tunggu-tunggu.

“Ckleek” tiba-tiba pintu kamar Hye Sun terbuka.

“Omo.. kalian ini mengagetkan saja.” Kata Hye Sun kaget, ternyata yang membuka pintu kamarnya Donghae dan Eun Hye juga ikut bersamanya.

“Sun-a mengapa kau memakai baju itu? Kemana kemeja hitam yang kau beli kemarin?” Eun Hye heran melihat Hye Sun tidak memakai kemeja hitam yang Hye Sun beli kemarin, padahal ia terlihat sangat menyukai kemeja hitam itu kemarin.

“Oh, ini aku tadi buru-buru jadi ya sudahlah aku ambil saja pakaian yang ada di depan mataku, lagipula sudah tidak ada waktu lagi.” Tangannya masih sibuk dengan semua barang-barangnya tetapi mulutnya komat-kamit menjelaskan semua pada Eun Hye.

“Memangnya ke mana saja kau sejak pagi tadi? Ku telepon ponselmu juga tidak aktif.” Donghae bertanya pada Hye Sun.

“Sudahlah jangan bertanya terus, sekarang ayo kita berangkat.” Hye Sun sedikit kesal karena kedua temannya sejak tadi sibuk mengeluarkan pertanyaan untuknya. Dan sekarang semua sudah siap mereka siap berangkat.

“Anni tunggu sebentar.” Cegah Donghae. “Hari ini aku dan Eun Hye sudah mulai belerja di studio, jadi hari ini aku dan Eun Hye tidak bisa mengantarmu.”

“Ya, Sun-a mianhae kami tidak bisa mengantarmu, kau bisa pakai mobilku pagi ini.” Lanjut Eun Hye.

“Oh, baiklah jika begitu. Aku berangkat naik taksi saja, lagipula hari inikan hari pertama kalian bekerja jadi tak perlu mengkhawatirkan ku dan bekerjalah dengan baik. Ayo sekarang kita berangkat.” Hye Sun menolak tawaran Eun Hye, walaupun Eun Hye pernah mengatakan padanya kalau jarak antara SMC (Seoul Magazine Centre) jauh dari penginapannya tetapi Hye Sun tetap tidak ingin merepotkan Eun Hye, ia memutuskan naik taksi sendiri, lagipula dia juga belum terlalu hapal jalan menuju SMC.

Sekarang Hye Sun, Donghae, dan Eun Hye sudah menuju parkiran dan siap mengerjakan aktivitas mereka masing-masing
.

---o0o---

Seoul Magazine Centre pukul 08.30

“Hyung, semua sudah siap.”
 
“Oke, selamat bekerja mian hari ini saya tidak bisa membantu mu.”

“Oo, gwenchana hyung baiklah kalau begitu aku kembali bekerja.”

Saat Hyun Jin sudah membalikan badannya dan siap keluar dari ruangan Mino, Mino baru ingat di mana adiknya yang akan menjadi model pagi ini “Tunggu Hyun Jin-a di mana Hyorim?”

“Hyorim? Ooo dia sedang di make up di bawah, ada apa hyung? Perlu ku panggilkan dia?” Jawab Hyun Jin.

“Oh, tidak perlu ku kira dia belum datang. Ya sudah kembalilah bekerja, jika terjadi sesuatu cepat beritahu saya.” Mino mempersilahkan Hyun Jin kembali bekerja.

“Baik Hyung.” Hyun Jin membungkukan tubuhnya ke arah Mino lalu pergi meninggalkan Mino dan siap memulai interview.


---o0o---

Hye Sun POV

Akkkhh akhirnya aku sampai. Benar kata Eun Hye jarak antara SMC dengan hotel yang aku tempati sangatlah jauh. Sepertinya jika aku diterima di kantor ini aku harus mencari tempat tinggal yang dekat dengan SMC.

Setelah aku turun dari taksi, langkah ku langsung tertarik untuk masuk dan mencari di mana ruang interview nya. Setelah bertanya pada salah seorang karyawan di dalam akhirnya aku menemukan ruang interview yang aku cari. Ku buka daun pintu yang menutup ruang interview ternyata sudah lumayan banyak orang di dalamnya.

Satu per satu peserta interview mulai memasuki ruangan. Semakin nervous saja aku sekarang. Ku lihat ada beberapa orang yang mengusap-usapkan telapak tangannya karena terlalu nervous, ada yang tiada henti mengipas-ngipas dirinya, dan ada juga yang sibuk mencoba kamera yang dia punya.

Setelah menunggu sekitar setengah jam sekaranglah saatnya giliranku. Keringat dingin semakin deras mengalir dari tubuhku.
 
Satu detik, dua detik, satu menit, dua menit.. hampir sekitar kurang dari satu jam aku berada di dalam ruang interview. Dan sekarang selesai sudah interview nya. Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, waktunya aku untuk makan siang. Kaki ku melangkah mencari sebuah restoran di dekat sini.

Dan tidak lebih dari 100 meter aku menemukan restoran yang aku cari. Setelah memesan semua makanan dan minuman yang aku inginkan pada seorang pelayan aku mengingat peristiwa tadi pagi dengan pria sial itu
. “Temui aku di restoran dekat Seoul Magazine Centre siang ini.” Ya itulah janjiku pada pria sial itu.

Tangan kananku membuka tas yang ada di atas meja. Ku ambil ponselku lalu mencari nomor si pria sial itu.

“Yeoboseyo.” Sapa ku padanya.

“Ne, yeoboseyo.” Balasnya padaku.

“Kau ada waktu sekarang? Jika iya, cepat temui aku di restoran dekat SMC.” Tanpa basa-basi lagi aku langsung menyuruhnya untuk segera ke sini.

“Ne?” Tanya Mino bingung.

“Kau ingat janjiku tadi pagi?” aku memperjelas perkataanku padanya.

“Janji?” Mino mengeriyitkan alisnya sambil berfikir. “Oh ya..ya.. baiklah aku segera menemimu.” Mino langsung memutuskan hubungan teleponnya denganku.


---o0o---

Restoran dekat SMC

“Hey kau.” Hye Sun memanggil Mino yang terlihat bingung mencarinya.

“Oh.” Mino mengangguk lalu menghampiri Hye Sun.

“Sudah kau temukan cincin itu?” Tanya Hye Sun pada Mino. Suara Hye Sun terdengar sangat halus, ia tidak ingin mencari masalah lagi sekarang.

“Sudahlah lupakan.” Jawab Mino pasrah. “Sekarang katakan apa maumu.”

“Ini.” Hye Sun menarik tangan Mino. Lalu diletakannya kalung pemberian bibinya di atas tangan Mino.

“Apa ini?” Tanya Mino bingung.

“Ini kalung pemberian bibi ku.” Kata Hye Sun dengan wajah sendu. “Ini untuk mengganti cincin mu yang hilang. Karena sepertinya aku lihat cincin itu sangat berharga bagimu.” Wajah Hye Sun terlihat makin sendu, sebenarnya ia ragu untuk memberika kalung itu pada Mino, hanya saja ia tidak nyaman dituduh seperti ini oleh Mino.
 
“Baiklah aku permisi.” Hye Sun berpamitan pergi meninggalkan Mino. Hye Sun sudah tidak kuat mengingat semua perkataan bibinya untuk menjaga dan jangan sampai menghilangkan kalung itu yang membuat ia ingin menjerit sekarang. Sedangkan Mino hanya diam dalam posisi duduknya, ia tidak menyangka kalau Hye Sun seorang gadis yang ia kenal bisa bersikap seperti ini. Lalu dilihatnya kalung yang Hye Sun berikan padanya. “M & H ?” Mino kaget melihat inisal nama yang terukir di kalung itu. Mino menaikkan bahunya tanda tak perduli lalu memasukan kalung pemberian Hye Sun ke dalam saku jas nya dan beranjak pergi meninggalkan restoran dan kembali bekerja.


---o0o---

Seoul Magazine Centre

Mino sudah berada di dalam ruangannya.
 
“tok..took..ttookkk.” Terdengar seseorang mengetuk pintu ruangan Mino. “Masuklah.” Mino mempersilahkan orang itu masuk.

“Hyung.” Ternyata itu adalah Hyun Jin. Hyun Jin terlihat membawa semua berkas hasil interview tadi siang. “Hyung, bisa kita mulai rapatnya sekarang?” Hyun Jin bertanya pada Mino.

“Ya baiklah, tunggu sebentar.” Mino membereskan mejanya, lalu pergi beranjak menuju ruang rapat bersama Hyun Jin. Mereka akan menentukan siapa yang akan menjadi photographer di SMC dari hasil interview tadi.

Satu menit..dua menit..satu jam.. hampir dua jam Mino dan Hyun Jin mencari seorang photographer yang akan bekerja di SMC. Dan mereka sangat tertarik oleh hasil gambar yang diambil oleh Hye Sun. dan mereka memutuskan Hye Sun menjadi salah satu photographer yang akan bekerja di SMC. Tetapi sepertinya Mino tidak terlalu memperhatikan identitas seorang Hye Sun yang akan bekerja nanti. Mungkin kalau Mino mengetahui Hye Sun adalah gadis yang selama ini membuatnya kesal Mino tidak ingin menerimanya di SMC. Tetapi sepertinya dewi keberuntungan sedang memihak pada Hye Sun.

“Hyun Jin-a suruh Hye Sun menemui saya besok.” Perintah Mino pada Hyun Jin.

“Besok? Bukankah kau mneyuruhnya lusa?” Tanya Hyun Jin bingung.

“Ya, tapi aku ingin cepat dia bekerja di sini, karena saya lihat dari hasil gambarnya sepertinya ia akan bekerja sangat baik di sini.” Jawab Mino.

“Oh oke, baiklah Hyung.”  Jawab Hyun Jin mantap. Lalu mereka kembali ke ruangan masing-masing dan kembali menyelesaikan pekejaan mereka.


---o0o---

“Ciiiittttt..” Mino menginjak rem mobilnya saat ia sudah sampai di depan rumahnya.

Mino merapihkan semua berkas yang ia letakan di atas kursi mobil di sampingnya. Saat ia sudah ingin membuka pintu mobilnya, kedua matanya melihat suatu benda yang sejak tadi dicarinya
.

“Tuan, semalam anda meninggalkan kotak cincin ini di bar.” Begitulah bunyi notes yang diletakan kotak cincin Mino yang hilang.

“Hah? Omo aku sudah menuduh gadis itu.”

“YA, CEPAT KEMBALIKAN ATAU KAU AKAN MATI” kata itu terngiang di telinganya.

“Kasihan gadis itu, dia sampai memberika kalung dari bibinya karena aku.” Kata Mino menyesal.

Lalu Mino keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya.

“Ye Eun-a appa pulang..” Nama putri tercintanyalah yang pertama Mino sebut saat ia memasuki rumahnya.

“Oh, kau sudah pulang.” Omma Mino menyapanya.

“Ne, omma di mana Ye Eun?” Mino tidak melihat sosok peri kecilnya di setiap sudut ruangan.

“Oh, dia ada di kamarnya. Dia kesal karena kau tidak pulang tadi pagi.” Jawab omma Mino dengan nada sedikit khawatir.

“Benarkah? Baiklah omma aku ke atas dulu.” Mino langsung pergi menemui Ye Eun.

“Ckleeeeek” Mino membuka pintu kamar Ye Eun.

“Ye Eun-a” Mino memanggil Ye Eun yang terlihat sedang asik berkutat dengan tugas-tugasnya.

“Ooo appa.” Ye Eun memandang wajah appanya sejenak lalu kembali meneruskan tugasnya.

“Kau marah pada appa Ye Eun-a?” Tanya Mino khawatir, ia mulai mendekati peri kecilnya.

“Anni-a sudahlah appa, aku sudah melupakannya.” Jawab Ye Eun sedikit ketus.

“Mi..” baru saja Mino ingin meminta maaf tetapi kata maafnya sudah dipotong oleh Ye Eun “Sudahlah appa, tak perlu minta maaf, Ye Eun tau kau sangat sibuk. Sampai-sampai tidak bisa melihat anaknya memakai baju pembeliannya.” Kata Ye Eun sedikit menyindir Mino.

“Mianhae Ye Eun-a. Appa tau kau pasti cantik sekali tadi pagi.” Mino sedikit menghibur Ye Eun.

“Aku bilang sudah appa. Lagipula bagaimana kau tau kalau aku cantik tadi pagi, jika kau saja tidak ada di sampingku appa.” Jawab Ye Eun dengan muka sendu. Ia tidak memandang wajah appa nya sedikit pun, matanya serius melihat huruf-huruf yang terdapat di bukunya.

“Apa yang harus appa lakukan agar kau tidak bersedih lagi?” Tanya Mino dengan nada menyesal.

“Tinggalkan Ye Eun sendiri appa.” Jawab Ye Eun singkat.

“Baiklah.” Tanpa berbasa-basi lagi Mino pergi beranjak meninggalkan Ye Eun sendiri.


---o0o---

Kamar Mino

“Akkkhhh, aku lelah hari ini.” Mino mengeluh lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.

“Sepertinya Ye Eun sangat marah padaku.” Kata Mino menyesali perbuatannya.
 
“Lagi, sekarang Min Jung sudah tidak penting untukku mengapa aku harus seperti ini karena dia. Mino-a kau pabo..pabo..” Mino memukul kepalanya, lalu langkahnya tergerak menuju meja kerjanya. Tangannya merogoh saku jasnya dan mengambil kalung yang di berikan Hye Sun. Dilihatnya dengan teliti kalung itu, lalu tangan Mino kembali merogah sesuatu dan ia mengambil kotak cincinnya yang sempat hilang itu. “Kasihan gadis itu..” Mino berkata pelan disela-sela keseriusannya membandingkan kedua benda itu.


“Sekarang saatnya kau untuk melupakan Min Jung, dan memulai hidup yang baru untuk Ye Eun.” Mino berkata dalam hati.

Lalu ia letakan kedua benda tadi ke dalam laci kerjanya. Wajahnya terlihat sangat stress, sepertinya jalan satu-satunya adalah ia harus
MELUPAKAN MIN JUNG si gadis sial itu.

---o0o---

“Donghae-a sepertinya aku harus mencari tempat tinggal yang dekat dengan SMC jika aku diterima bekerja nanti.” Hye Sun bicara pada Donghae saat mereka sedang asik mengobrol.

“Waeyo? Apakah jarak dari sini ke SMC sangat jauh?” Tanya Donghae.

“Ne, setelah aku pergi ke SMC tadi ternyata jarak dari sini ke sana sangat jauh. Jadi aku piker lebih baik aku mencari tempat tinggal yang dekat dengan SMC.”

“Ooo baiklah aku akan ikut pindah bersamamu.” Kata Donghae ingin tetap menemani Hye Sun.

“Mwo?” Hye Sun kaget. “Tidak perlulahh.. percuma saja aku pindah jika begitu. Sudah kau diam saja di sini dan bantu Eun Hye mengurus studionya.” Hye Sun mencegah Donghae.

“Benar aku tak perlu ikut?” Tanya Donghae memastikan.

“Iya, kau tak perlu khawatir. Aku akan selalu memberi kabar nanti.” Jawab Hye Sun mantap.

“Baiklah. Oo ya bagaimana tadi interviewnya?”

“Ooo, tadi semua berjalan lancar.” Jawab Hye Sun dengan senyum manis di wajahnya.

“Baguslah jika begitu. Lalu apa yang harus kau lakukan selanjutnya?”

“Hmm, mereka bilang jika aku diterima mereka akan menghubungiku besok pagi.”

“Ooo..” Donghae menganggukan kepalanya. “Baiklah sekarang sudah malam, istirahatlah.” Donghae menyuruh Hye Sun untuk istirahat dan ia beranjak pergi menuju kamarnya.

“Ne, jal jayo Donghae-a” Hye Sun mengantar Donghae ke pintu kamar, lalu ia kembali masuk dan siap untuk memasauki alam mimpinya.

Hye Sun menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan siap menyambut hari esok dengan senyuman indah yang tersungging manis di wajah cantiknya
.

---o0o---

END OF CHAPTER

mohon komen semuanyaaaa..  [heh] [heh]
[lovestruck]
EUNHAE IS SAME LIKE MINSUN !!!!!!!!!! LOL