annyeong semuanya....
mianhae, lulu baru update, sbenernya ni FF udah kelar dari kapan tau, cm d deket rmh aku warnetnya MS nya 2007 semua...
yaudah, gak lama-lama lagi... ayooo kita bac next chapnya...
![[biggrin]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/biggrin.gif)
CHAPTER 2
“Ccciiiittttttt....” mino menginjak rem mobilnya dan mobil mino sekarang sudah berada tepat di depan sekolah ye eun.
“Sampai.” Mino memutar kepalanya ke arah bidadari kecil nya.
“Ne, gomawo appa.” Ye eun menangguk sambil tersenyum halus pada appa nya.
“Iya sayang. Ayo kita turun.” Mino melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh mungil ye eun. Lalu turun dari mobil, sementara appanya turun ye eun mengambil tasnya yang ia taruh di kursi belakang.
“Cklekk.” Pintu mobil di samping ye eun terbuka. Tentu saja mino yang membukakannya.
“Ayo, kemarilah.” Mino merentangkan tangannya, menyuruh ye eun masuk dalam gendongannya.
“Ne.”
Huupp..hanya dalam sekali loncat ye eun sudah berada dalam gendongan mino.
“Ugghh, anak appa berat juga ya.” Mino menggoda ye eun.
“Huuhhmm, appa..” ye eun menarik kepalanya menatap wajah mino, lalu ia majukan bibirnya beberapa centi ke depan. Ye eun tidak terima di bilang berat oleh appanya
“Hehehe, bercanda sayang.” Jari mino terangkat menyentuh hidung bidadari kecilnya.
“Hehe, turunkan aku appa, aku harus masuk kalau tidak aku bisa telat.”
“Oiya appa lupa.” Mino menurunkan bidadari kecilnya dari gendongannya. “Masuklah.” Mino memegang punggung ye eun lalu mendorongnya pelan.
“Ne, oiya jangan lupa pesanan ku ya appa...annyeong..” ye eun membungkuk kearah mino lalu berlalu meninggalkan mino. “Siap tuan putri. Appa akan membelikannya nanti.” Mino teriak pada ye eun. Ia masih bertahan, tetap berdiri di tempatnya, mino ingin memastikan putri kesayangannya masuk ke dalam kelas dengan aman.
Langkah ye eun terhenti saat ia sudah sampai di depan pintu gerbang. Ye eun memutar tubuh mungilnya menghadap appanya, lalu tangan mungilnya terangkat dan melambaikannya ke arah mino. Mino menyambut lambaian tangan ye eun dengan senyuman lembut. Mino mengibaskan tangannya ke depan menyuruh ye eun melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam. Ye eun mengangguk dan ia kembali melanjutkan langkahnya. Setelah memastikan bidadari kecilnya masuk dengan aman mino pun beranjak pergi masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil mino selalu memikirkan ye eun. Ia sangat beruntung mempunyai seorang putri yang selalu ceria. Ye eun tidak pernah menanyakan lagi tentang ibunya setelah mino mengatakan kalau ibunya telah meninggal. Dan mino sudah berjanji pada dirinya sendiri jika min jung tiba-tiba pulang ke Korea dan ia tahu kalau ye eun masih hidup ia tidak akan membiarkan ye eun diasuh oleh min jung. Walaupun cinta mino besar pada min jung tetapi sekarang rasa benci itu juga tidak kalah besarnya. Ia kecewa pada min jung. Dan ia sudah bertekad akan melupakan dan menghapus min jung dari kehidupannya. Walaupun akan sulit ia melakukannya.
^^^^^^^^^^
[/color][/size][/font]
“Sun-a apakah nanti kau akan lama belanjanya?” donghae mengalihkan pandangannya dari jalan raya di depannya ke wajah hyesun. Lalu kembali lagi menatap jalan raya.
“Aku tidak tau, tetapi sepertinya akan lama, karena banyak yang harus aku beli. Waeyo?” sekarang hyesun yang memandang donghae.
“Benarkah akan lama? Semalam appa meneleponku, ia bilang hari ini ia ada pekerjaan di Seoul. Dan ia meminta kau dan aku untuk menemuinya saat jam makan siang” donghae menjelaskan semuanya dengan pandangan masih serius menatap jalan raya di depannya.
“Hmm bagaimana ya? Ya sudah kalau begitu akan ku usahakan lebih cepat.” Hyesun memberikan jawabanya sambil memamerkan senyum manisnya pada donghae.
“Gomawo sun-a.” Donghae mencubit pipi mulus hyesun.
“Yaaaaaa..apho..” hyesun meringis sambil mengelus-elus pipinya yang sakit dan sekarang memerah seperti tomat akibat cubitan donghae.
“Hehehe mian. Habis kau menggemaskan sekali kalau sudah tersenyum.” Donghae menggoda hyesun.
“Aaaiisssshhh..” hyesun menyikut pinggang donghae.
“Apho sun-a.” Kali ini donghae yang meringis kesakitan.
“Hahahha satu sama. Weekkkk..” hyesun menjulurkan lidahnya pada donghae.
“Yaaaaaa kau!! Mau ku cubit lagi pipimu?” donghae mengancam hyesun.
“Annniiii..” hyesun langsung memegangi pipinya melindunginya dari cubitan donghae.
“Hahahha, menggemaskan sekali kau ini.” Tidak bisa mencubit pipi hyesun, rambut hyesun pun menjadi sasaran kedua donghae. Ia acak-acak rambut halus hyesun.
“Kaaaauuuuu....” hyesun teriak matanya mendelik kearah donghae.
“Hahaha, mianhae. Makanya jangan mempunyai wajah yang menggemaskan. Itulah akibatnya.” Lagi-lagi donghae menggoda hyesun.
“Ya sudah-sudah jangan menggodaku lagi. Menyetirlah yang benar, kalau bercanda terus pintu rumah sakit menunggu kita.” Kali ini hyesun sudah kesal pada donghae.
“Iya..iya baik tuan putri.” Donghae berusaha meredakan kekesalan hyesun padanya.
Akibat candaan mereka yang berakhir membuat satu diantara mereka marah, akhirnya di dalam mobil mereka hanya diam sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Suasana menjadi tegang, tetapi tegang hanya bagi donghae, karena sekarang ia takut hyesun sangat marah padanya.
^^^^^^^^^^
[/color][/size][/font]
Rumah Mino
“Drrttttt...dddrrrtttt..” ponsel yesung bergetar.
Senyum manis terlukis saat ia melihat nama siapa yang meneleponnya.
“Yeoboseyo sunny-a.” Ya yang menelepon yesung adalah sunny.
“Ne, yesung-a.” Sunny membalas suara yang terdengar di seberang sana.
“Bogoshipo sunny-a.” Walaupun hanya sehari mereka tidak bertemu tetapi sepertinya yesung sangat merindukan sunny.
“Ne, bogshipo yesung-a. Hmm bisakah kau datang ke rumahku sekarang?” setelah meluapkan rasa rindunya pada yesung, sunny langsung mengatakan tujuannya menelepon yesung.
“Waegude? Lukisan?” yesung sudah tau apa yang akan di katakan oleh sunny, pasti masalah lukisan mereka untuk pameran nanti.
“Iya. Bisakah kau ke sini sekarang? Kita harus merapikan semua lukisan ini, agar nanti saat kita akan membawanya ke galeri tidak repot.” Sunny menjelaskan semuanya pada yesung, sambil menata beberapa lukisan di depannya.
“Oo, ne araseo. Aku akan segera ke sana tunggu aku di rumahmu.” Setelah mendengar penjelasan dari sunny langkah yesung langsung tertuju ke lemari di samping tempat tidurnya. Ia langsung memilih baju yang akan ia kenakan nanti, tetapi ponselnya masih tetap menempel di telinganya.
“Baiklah aku tunggu kau.” Sunny menganggukan kepalanya
“Oiya sunny tunggu. Kapan kita memindahkan lukisan-lukisan itu ke galeri? Dan apakah hanya kita berdua saja yang akan memindahkannya.” Yesung baru menyadari masalah ini. Tidak mungkin jika hanya dia dan sunny yang memindahkan semua lukisan-lukisan itu. Bisa-bisa remuk semua badan mereka.
“Tentu saja tidak. Kau kira kita ini apa? Aku sudah menyewa seseorang untuk membantu kita nanti. Dan lukisannya akan kita pindahkan besok dan lusa. Karena 3 hari lagi kan pameran kita akan di selenggarakan.”
“Oke.”
“Ya sudah cepatlah kemari.”
“Ya..ya..baiklah, kalau begitu aku tutup teleponnya.”
“Ne, annyeong.”
“Annyeong.”
“TTtuuuttt...tttuuuutttt..” suara itu sudah terdengar tanda telepon mereka sudah berakhir.
^^^^^^^^^^
[/color][/size][/font]
Seoul Magazine Centre
Mino keluar dari ruangannya lalu kakinya bergerak menghampiri hyun jin yang berada di belakang meja kerjanya. Hyun jin melihat mino mendekatinya ia langsung berdiri.
“Annyeong hyung. Waegude?” hyun jin membungkuk kearah mino.
“O, annyeong. Bagaimana apakah semua sudah siap?” mino menanyakan persiapan interview untuk besok.
“Tentu saja sudah. Semua sudah siap hyung. Apakah ada lagi yang perlu aku lakukan?”
“Tidak. Jika semua sudah siap kita hanya menunggu besok saja. Apa ada yang harus di beli untuk besok? Aku ingin ke Seoul Plaza ada yang harus ku beli, jadi agar sekalian.”
“Tidak hyung. Tidak ada yang harus di beli. Peralatan untuk pemotretan masih bagus.”
“Ooo, baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Jika ada yang mencariku katakan aku sedang keluar.”
“Ne, araseo hyung.” Hyun jin kembali membungkuk kearah mino. Setelah membalas bungkukan hyun jin mino berlalu meninggalkan kantor, dan pergi ke Seoul Plaza untuk membeli yang di minta ye eun tadi pagi.
Flashback
“Appa, besok sekolahku mengadakan festival. Dan semua orangtua atau keluarga semua murid di wajibkan untuk datang. Dan aku tau pasti besok appa sibuk, dan tidak mungkin kalau omma datang menemaniku karena omma sudah meninggalkan kita.”
“Mian ye eun-a. Besok appa banyak pekerjaan. Kau bisa datang bersama halmoni kan?”
“Ne, appa. Semalam aku sudah meminta halmoni untuk menemaniku.”
“Anak pintar.” Mino mengelus lembut rambut ye eun.
“Tetapi appa jangan senang dulu. Karena appa tidak bisa datang appa harus membelikan aku sesuatu.” Kata ye eun tidak mau rugi.hehe
“Apa itu? Katakan saja pada appa. Appa pasti akan membelikannya untukmu.”
“Belikan aku pakaian untuk festival besok.”
“Hanya itu saja?”
“Mmm.” Ye eun mengangguk kecil sambil menatap appanya
“Oke, kau tenang saja appa akan membelikannya utukmu.” Ibu jari mino terangkat dengan wajah pasti.
End Of Flashback
^^^^^^^^^^
[/color][/size][/font]
Rumah Sunny
“Sepertinya kau sangat sibuk ya..” yesung menyapa sunny, yang sibuk mengurusi lukisan dan sedari tadi tidak menyadari keberadaannya di sini.
“O, kau sudah sampai. Ayo cepat bantu aku.” Belum juga apa-apa sunny langsung menyuruh yesung yang baru saja sampai untuk segera membantunya.
“Yaaaa kauuu, aku baru saja sampai.” Jawab yesung protes.
“Yaa sudahlah cepat kerjakan, aku ingin semua ini cepat selesai.” Sepertinya sunny sudah mumet melihat lukisan-lukisan ini menumpuk di ruang lukisnya.
“Araseo..araseo aku akan mengerjakannya. Kau istirahat saja, biar aku saja yang mengerjakan semuanya.” Yesung mendorong sunny ke sofa menyuruhnya istirahat saja.
“Annii.. aku akan membantumu.” Sunny tidak ingin istirahat.
“Sudah, ku bilang kau istirahat saja. Kau pasti lelah setelah seharian mengurus lukisan-lukisan ini. Sekarang gantian, giliranku untuk mengurus lukisan ini.” Yesung menahan sunny untuk tetap menyuruhnya istirahat.
“Baiklah.” kalau sudah begini yesung memang tidak bisa di bantah.
“Kau mau ke mana?” yesung bertanya pada sunny saat sunny mulai melangkah meninggalkan ruang lukis.
“Ada sesuatu yang ingin aku kerjakan.” Jawab sunny pada yesung.
“Huuh, sudah ku bilang biar dia istirahat saja, malah mengerjakan sesuatu.” Yesung menggerutu pelan.
15 menit kemudian, setengah lukisan sudah rapi terbungkus kertas cokelat. Masih ada setengah lagi.
“Sudah selesai?” terdengar suara sunny memasuki ruang lukis.
“Belum, kau kira aku ini robot, dalam 15 menit bisa menyelesaikan semua ini.” Jawab yesung masih serius membungkus lukisan-lukisan itu. Yesung memajukan bibirnya beberapa mili ke depan.
“Ooo, kasihan.. ya sudah tinggalkanlah dulu pekerjaan itu. Sekarang istirahatlah dulu, dan makanlah ini.” Sunny meletakan nampan yang ia bawa. Ada 2 gelas orange jus segar dan beberapa toples berisi berbagai macam camilan di atas nampan itu.
“Waahhh, kau memang sahabat yang pengertian. Kau pergi ke supermarket tadi?” yesung mulai menghampiri sunny.
“Mmm, ini untukmu.” Sunny mengangguk lalu menyodorkan satu gelas orange jus untuk yesung
“Gomawo.” Yesung duduk di samping sunny.
“Ne, kau lelah?” sunny bertanya pada yesung.
“Anni..” yesung menggelengkan kepalanya.
“Benarkah?” tanya sunny tidak percaya.
“Ya, kemarin aku sudah seharian istirahat di rumah. Sekarang saatnya aku kembali bekerja membantu mu untuk pameran kita nanti.” Yesung menatap wajah sunny.
“Ooo, semoga pameran kita nanti sukses ya.” Sunny membalas tatapan mata yesung.
“Ya, semoga semua berjalan lancar nanti.” Yesung merangkul bahu sunny.
“Sudah puas minumnya? Kalau sudah ayo kita mulai bekerja lagi.” Kata sunny mengalihkan suasana. Entah mengapa jantung sunny berdegup dua kali lebih kencang jika sudah di tatap atau diperlakukan seperti ini oleh yesung. Jadi ia langsung mengalihkan suasana.
“Baiklah. Ayo kita mulai lagi.” Yesung mulai melanjutkan membungkus lukisan yang baru ia selesaikan setengah tadi. Dan sunny ikut membantunya.
“Yaaaaa, kau ini apa-apaan? Mengapa kau mengguntingnya?” sunny marah saat yesung menjahilinya dengan menggunting kertas cokelat yang ia pakai untuk membungkus lukisan di hadapannya.
“Hahhaha..” yesung tertawa puas.
“Kaaaaauuuuu, cari mati denganku?” sunny mengacak-acak rambut yesung. Yesung langsung berdiri menghindar dari serangan sunny. Dan sunny tidak begitu saja melepaskan yesung, ia pun ikut berdiri dan berlari mengejar yesung. Jadilah mereka kejar-kejaran seperti kucing dan anjing sedangkan lukisan mereka masih ada 4 lukisan lagi yang belum terbungkus.
^^^^^^^^^^
Seoul PlazaDonghae & Hyesun“Kau ingin menemani ku belanja atau ingin ke tempat lain?” hyesun bertanya pada donghae saat langkah mereka sudah memasuki Seoul Plaza yang sangat besar dan megah. Entah apa yang dilakukan donghae pada hyesun, sampai hyesun melupakan kekesalannya tadi di mobil.
“Aku ingin ke toko buku. Jadi kau belanja sendiri tak apa kan? Nanti kita bertemu lagi di depan toko buku saja bagaimana?” ternyata donghae juga ingin membeli sesuatu di sini.
“Oke, sampai bertemu lagi di toko buku.” Hyesun melambaikan tangannya. Sejak tadi matanya sudah tertuju pada butik yang berada di lantai dua dekat eskalator.
“Ne, ingat sebelum jam makan siang kau sudah harus selesai ya.” Donghae meingatkan hyesun.
“Oke.” Hyesun mengangkat ibu jarinya sambil tetap berjalan.
Mino“Hmm, nah itu dia tempatnya.” Mino menemukan toko pakaian anak balita yang sejak tadi ia cari.
Mino memasuki toko pakaian itu. Jari-jarinya mulai asik memilih pakaian yang cocok untuk ye eun. Akhirnya ia menemukan satu dress cantik yang sepertinya cocok untuk ye eun. Ia memilih satu dress abu-abu mungil yang cantik terdapat sedikit hiasan bordiran berbentuk bunga-bunga di bagian atasnya, lalu terdapat tali pita kecil di tengahnya. Ternyata mino tidak hanya memilih satu pakaian saja untuk ye eun. Ada dua lagi yang ia pilih, baju lengan panjang berwarna pink dihiasi dengan pita kuning besar di tengahnya dengan motif bunga-bunga menjadi pilihan keduanya. Pilihan ketiganya adalah semacam baju hangat berwarna merah, dipadukan dengan baju putih lengan panjang di dalamnya dan dihiasi dengan pita besar berwarna merah di bagian dada. Sepertinya itu juga cocok untuk ye eun. Setelah puas dengan pakaian-pakaian yang ia pilih untuk ye eun, mino menuju kasir untuk membayar pakaian-pakaian itu.
“Tunggu sebentar.” Mino menghentikan langkahnya saat melihat dua boneka teddy bear yang menarik perhatiannya.
“Pasti ye eun menyukai ini.” Di ambilnya dua boneka teddy bear itu. Lalu melanjutkan lagi berjalan menuju kasir.
“Bisa ku lihat itu?” mino menunjuk tiga bando yang di letakan di lemari besar di depannya, di belakang meja kasir.
“Yang ini tuan?” nona penjaga kasir mengambil tiga barang yang mino maksud.
“Ya.” Mino menangguk.
“Ini tuan.” Nona penjaga kasir memberikan bando itu.
Mino menyocokan bando-bando itu dengan pakaian yang ia pilih tadi. Bando berwarna ungu dengan pita di samping kiri cocok dengan dress ye eun yang mino pilih. Dan bando berwarna pink dihiasi dengan boneka berbentuk kucing di sisi kirinya cocok dengan baju pink satunya lagi. Dan yang terakhir bando putih dengan pita putih besar pasti akan membuat ye eun semakin cantik.
“Wah, sepertinya kau sangat sayang pada putrimu ya tuan.” Nona penjaga kasir kagum melihat mino. Jarang-jarang ada seorang ayah yang ingin membelikan pakaian untuk putrinya, apalagi mino masih dalam keadaan memakai jas.
“Hehehe iya. Aku ambil ini semua. Tolong bungkus semua ini dengan kotak hadiah yang paling bagus.” Mino mengangguk malu-malu, sambil menyodorkan pakaian-pakaian yang akan ia beli.
“Baik tuan. Pasti putrimu sangat lucu dan menggemaskan.” Nona penjaga kasir bicara pada mino sambil membungkus barang-barang yang mino beli. “Selesai. Ini tuan, terimakasih telah datang ke toko kami.” Nona penjaga kasir memberikan semua barang yang mino beli. Semua sudah rapi, ada tiga kotak hadiah yang di masukan ke dalam tiga tas belanjaan, dan dua boneka teddy bear yang sudah di hias sedemikian rupa.
Mino memang ayah yang sangat pengertian. Ye eun pasti senang, ia mendapat dua bonus pakaian dan dua bonus boneka. Rasanya mino ingin cepat-cepat pulang dan memberikan semua ini pada ye eun.
Hyesun“Terimakasih.” Hyesun keluar dari salah satu toko pakaian. Tangan kanan dan kirinya sudah penuh dengan tas belanjaan.
“OMO, jam 12..” hyesun kaget saat melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Ia terlalu asik berbelanja, sampai lupa waktu.
“Aku harus segera ke toko buku. Donghae pasti menungguku.” Hyesun langsung berlari menuju toko buku.
“Well you don’t don’t me..” terdengar lagu i’m yours dari kantong celana belakang hyesun.
“Adduuhhh, sepertinya aku repot sekali.” Hyesun langsung menaruh tas-tas belanjaannya di lantai dan mengambil ponselnya.
“Ne, donghae-a.” Hyesun dengan segera meangkat telepon dari donghae.
“Kau di mana? Aku sudah di depan toko buku.” Kepala donghae tidak henti-hentinya menengok ke kanan dan ke kiri mencari sosok hyesun yang sedari tadi tidak muncul-muncul.
“O, mian donghae-a aku masih di lantai dua. Aku segera menyusul mu tunggu aku di sana.” Hyesun mengapit ponselnya diantara bahu dan telinganya. Lalu meraih tas-tas belanjaan yang ia taruh di lantai tadi, dan langsung berjalan mencari toko buku tempat donghae menunggunya. Hyesun terlihat sangat kualahan menangani belanjaan-belanjaannya.
“Brrruuuukkkkk..” akibat hyesun kurang hati-hati dan ia sibuk mengurusi semua belanjaan yang ada di tangannya, di tambah lagi ia harus segera menemukan donghae karena ia sudah ada janji dengan donghae, hyesun tidak bisa lagi memperhatikan keadaan sekitar alhasil hyesun menabrak seseorang di depannya yang juga sibuk dengan belanjaannya. Ponsel dan tas-tas belanjaan terjatuh. Wajah pria di depan hyesun sudah seperti monster. Sepertinya pria itu marah sekali. Hyesn langsung membereskan semua barang-barangnya yang jatuh, dan pria itu tetap saja berdiri dengan tampang kesal. Untungnya ponsel hyesun tidak rusak.
“Sun..sun-a.. yaaa kenapa tiba-tiba terputus? Apa ada sesuatu terjadi pada hyesun.” Kaki donghae baru melangkah ponselnya sudah berdering lagi, tanda ada sesorang yang meneleponnya.
“Appa.” Donghae kira yang meneleponnya hyesun tapi ternyata appanya.
“Ne appa.” Donghae menyapa appanya pikirannya masih tertuju pada hyesun.
“Donghae-a kau di mana? Appa sudah ada di cafe dekat Seoul Plaza. Cepatlah kemari, appa hanya ada waktu sebentar. Dan ada sesuatu yang dititipkan oleh bibi hyesun pada appa untuk hyesun. Jadi cepatlah ke sini.”
“Ta..taa..taaa..pii..”
tapi hyesun bagaimana? Tapi ada yang dititipkan bibi hyesun pada appa untuk hyesun pasti itu sangat penting. Aduuhh bagaimana ini? Ooo aku tau, ku suruh saja eun hye untuk menjemput hyesun..“Dongahe?”
“O ne appa. Baiklah aku segera ke sana. Tunggu aku di sana.”
“Hey kau!! Apa-apaan kau ini? Hah?” Wanita cantik, imut, mungil dan mempesona menabrak Min Ho. Tubuhnya yang kecil tidak sebanding dengan belanjaan yang di bawanya. Terdapat banyak tas-tas belanjaan di kedua tangannya.
“Yaaa maaf sekali, tapi aku sedang buru-buru. Sekali lagi maaf” setelah meminta maaf Hye Sun langsung berlari meninggalkan tempat itu, tapi langkahnya tertahan pria yang di tabraknya tadi menarik tangannya.
“Yaaa enak sekali kau, main pergi begitu saja” Min Ho tambah marah pada Hye Sun. Ya yang menabrak Min Ho adalah Hye Sun.
[/color][/size][/font]
“oke baik, sekarang apa mau mu?” Tanya Hye Sun kesal, ia juga kesal dengan sikap laki-laki ini. Hye Sun sedang di buru waktu sekarang. Donghae sudah menunggunya.
“Kau harus bertanggung jawab, karena mu waktu ku terbuang sia-sia. Kau tau betapa pentingnya waktu bagiku. Time is money, you know?”
“Ya..ya.. aku tau, tapi kalau kau marah-marah seperti ini, kau makin membuat waktu mu terbuang sia-sia. Lagipula kau tidak apa-apa kan? Kau saja yang membuat masalah ini menjadi panjang. Jadi kau sendirilah yang membuang waktumu sia-sia. Sekarang apa mau mu?”
Min Ho membelalakan matanya lalu mengedip-ngedipkannya.
“Benar juga wanita ini, daritadi aku saja yang repot marah-marah. Padahal ia sudah meminta maaf, dan jika ia pergi selesailah semuanya. Pabo!! Bagaimana aku mengakhiri masalah ini, tidak mungkin jika aku minta maaf pada wanita ini. Oh baiklah aku punya cara” Min Ho berbicara dalam hati.
Hye sun mengibaskan tangannya di depan wajah Min Ho.
“Hello..kau tidak apa-apa?”
“Ah..eh.. ya..ya aa.. aku tidak apa-apa” jawab Min Ho gugup
“Ya sudah cepat katakan apa maumu sekarang, seseorang telah menunggu ku.”
“Baiklah, berikan nomor ponselmu”
“Mwo?”
“Ya, sudah cepat berikan nomor ponsel mu!”
“Aahhh ya..yaa.. baiklah, agar masalah ini cepat selesai oke akan ku berikan”
“Berapa?”
“Tunggu sebentar. 010-8547358. Itu nomor ponsel mu, kau puas sekarang?” Hye Sun langsung berlalri meninggalkan Min Ho. Donghae pasti akan marah padanya.
“Hey nona, aku akan menghubungimu nanti sore. Masalah ini kita selesaikan lagi nanti.” Saat Hye Sun sudah lari meninggalkannya, Min Ho berteriak memberitahu Hye Sun.
“Ya.. terserah kau saja” Hye Sun memberikan jawabannya dengan teriakan yang tidak kalah keras, membuat orang sekitar memperhatika Min Ho dan Hye Sun.
“Kau lama sekali. Tadi ayah ku menelepon ia punya waktu hanya sebentar dan bibi mu menitipkan sesuatu untukmu pada ayahku. Jadi aku harus pergi sekarang. Tenang saja aku sudah menyuruh eun hye untuk menjemputmu. Kebetulan ia memang sudah pergi menuju kemari, jadi sebentar lagi ia sampai. Kau tunggu saja di depan pintu keluar. Kita bertemu lagi nanti di hotel.” Begitulah pesan panjang dari donghae untuk hyesun.
“Gara-gara pria sial itu semua jadi berantakan. Mengapa aku harus bertemu dengannya? Baru kali ini aku bertemu pria seperti dia. Huhh... semoga aku tidak bertemu dengannya lagi.” Hyesun mengeluh. Ia sangat kesal pada mino. Karena mino ia tidak jadi pergi menemui ayah donghae, apalagi tadi donghae bilang bibi menitipkan sesuatu untuknya.
“Mana eun hye?” hyesun celingak-celinguk mencari sosok eun hye.
“Dooorr...” eun hye mengagetkan hyesun.
“Yaaa..” hyesun terkaget, detak jantungnya berdegup 2 kali lebih kencang akibat di kagetkan oleh eun hye.
“Omo.. eun hye-a kau bikin kaget saja.” Hyesun membalikan tubuhnya, ternyata eunhye yang mengagetkannya.
“Hehehe, mian. Habis kau terlihat sangat serius sekali. Wah banyak sekali belanjaanmu.” Eun hye mengamati satu per satu belanjaan hyesun.
“Hehehe, iya habis aku pikir aku pasti akan lama tinggal di sini. Sedangkan sekarang aku hanya punya beberapa pasang pakaian.”
“Ooo, ya sudah ayo sekarang kita pulang. Kau terlihat sangat lelah sekali.” Eun hye membantu hyesun membawakan belanjaannya ke dalam bagasi.
^^^^^^^^^^
Mobil mino“Baru saja aku merasa senang, sudah di buat kesal lagi oleh gadis itu.” Mino bicara sendiri di dalam mobil.
“Lihat saja kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu tadi nona manis.” Sepertinya mino sangat kesal pada hyesun.
“Sudahlah lupakan dulu masalah gadis itu. Akan ku buat perhitungan nanti padanya.” Entah apa yang dipikirkan mino. Padahal dalam kejadian tadi yang salah kan dia. Tapi mengapa jadi dia yang marah?
^^^^^^^^^^
Cafe“Donghae-a.” Ayah donghae melambaikan tangannya ke arah donghae saat ia melihat sosok donghae yang sibuk mencarinya.
“Appa.” Donghae menghampiri ayahnya lalu memeluknya erat.
“Bogoshipo.” Walaupun baru sehari donghae meninggalkan ayahnya, sepertinya donghae sangat merindukan ayahnya.
“Ne.” Ayah donghae menepuk punggung putranya. “Duduklah.” Donghae mengangguk lalu menduduki kursi di belakangnya.
“Mana hyesun?” ayah donghae baru menyadari, ia tidak melihat sosok hyesun sejak tadi.
“O hyesun masih berada di Seoul Plaza. Banyak yang harus dia beli, jadi dia tidak bisa kemari.” Donghae menjelaskannya pada appanya.
“Oo begitu. Sayang sekali padahal bibinya menitipkan sesuatu untuknya.” Ayah donghae mengangguk.
“Memang apa yang bibi hyesun titipkan pada appa?” donghae penasaran dengan barang yang bibi hyesun titipkan.
“Appa juga tidak tau. Ini berikanlah pada hyesun.” Sebuah kotak berbentuk persegi panjang yang dibungkus dengan kertas kado bermotif bunga mawar berwarna merah sekarang sudah di tangan donghae. Entah apa isinya, kita akan tau setelah hyesun membukanya nanti.
“O baiklah. masih ada waktu untuk mengobrol?” donghae bertanya pada appanya mengingat tadi appanya bilang ia hanya punya waktu sebentar.
“Masih ada 15 menit kita bisa minum kopi sebentar.” Ayah donghae melirik jam tangannya, ternyata masih ada waktu untuk mengobrol dengan putranya.
“Mmm bagus kalau begitu.” Donghae menganggukkan kepalanya dengan tersenyum halus pada appanya.
15 menit waktu yang sebentar itu mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ayah donghae menceritakan bagaimana keadaan di tempat tinggal donghae yang dulu. Dan donghae menceritakan sebaliknya, donghae menceritakan bagaimana kehidupannya di Seoul. Canda tawa menghiasi obrolan mereka sehingga waktu terasa sangat cepat. 15 menit sudah mereka lalui, dan tibalah waktunya untuk berpisah lagi. Dua mobil hitam itu meluncur. Ayah donghae kembali pergi bekerja dan besok ia sudah harus kembali. Sedangkan donghae pergi kembali ke hotel. Tidak sabar ingin memberikan hadiah bibi hyesun untuk hyesun.
^^^^^^^^^^
“Cccciiittttt....” di injaknya rem mobil oleh mino. Sekarang ia sudah berada tepat di tempat parkiran di kantornya. Sepertinya ia sudah melupakan masalah tadi walaupun hanya sementara. Ia turun dari mobilnya dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
Ia terlihat tidak membawa apa-apa. Semua belanjannya tadi sudah aman tersimpan di dalam bagasi mobilnya. Karena tidak mungkin jika semua barang-barang itu ia bawa semua ke dalam.
“Wah, sepertinya kau asik berbelanja ya hyung.” Hyun jin menggoda mino. Sekitar 2 jam ia pergi dan baru kembali sekarang. Banyak yang menanyakannya dan hyun jin begitu juga sekretaris mino harus berfikir keras untuk mencari alasan ke mana mino pergi.
“Hehe, mian hyun jin-a. Aku terlalu lama belanja ya? Apakah ada yang menanyakanku?” mino bertanya dengan polosnya.
“Tentu saja. Kau kan manager di sini.” Hyun jin menjawabnya dengan sedikit kesal.
“Mian sekali lagi.” Mino meminta maaf untuk kedua kalinya.
“Ya sudahlah. Sekarang kau masuk saja ke ruangan mu hyung. Banyak dokumen yang harus kau tanda tangani. Tadi sekretarismu sudah menaruh semuanya di mejamu.” Hyun jin menyuruh mino untuk memasuki ruangannya.
“Ya, baiklah.” mino membungkuk lalu masuk ke ruangannya.
^^^^^^^^^
Kamar Hotel“Bagaimana dengan ini?” hyesun mencoba pakaian yang ia beli tadi. Dan bertanya pada eun hye apakah itu cocok untuknya.
“Sempurna.” Eun hye meangkat dua ibu jarinya. Hyesun terlihat sangat sempurna. Pakaian yang di pakainya hanya tanktop hitam di tutupi dengan outfit yang juga berwarna hitam simple bukan? Tapi jika ia yang mengenakannya itu terlihat sangat sempurna, apalagi di tambah dengan topi fedora hitam yang melekat sempurna di kepalanya.
“Bagus tidak jika aku pakai ini saat interview nanti?” baju ini adalah salah satu pilihan hyesun yang akan ia pakai nanti saat interview.
“Bagus kok. Inilah goo hye sun yang sebenarnya. Simple tapi elegan.” Eunhye setuju dengan hyesun.
“Oke. Akan ku pakai ini besok.” Hyesun mengangkat ibu jarinya lalu kembali mengganti pakaiannya.
“Ckleekk..” pintu kamar hyesun terbuka.
“O, kau ku kira siapa.” Ternyata yang membuka pintu adalah donghae.
“Hahaha, memang kau kira siapa?” donghae tertawa melihat wajah eun hye seperti itu.
“KAU SUDAH KEMBALI DONGHAE-A?” terdengar teriakan dari kamar hyesun.
“O, NE AKU BARU SAJA SAMPAI.” Donghae teriak tidak kalah kerasnya, sampai-sampai eun hye menutup telinganya.
“Mengapa kau lama sekali tadi belanjanya?” donghae bertanya pada hyesun saat hyesun sudah keluar dari kamarnya dan mengganti bajunya.
“Tadi ada masalah saat aku ingin ke toko buku menemui mu.” Hyesun teringat kejadian tadi siang.
“Masalah? Masalah apa?” donghae khawatir pada hyesun.
“Iya ada apa sun-a?” eun hye juga khawatir.
“Tidak apa-apa. Hanya masalah kecil.” Hyesun menggelengkan kepalanya lalu duduk di sofa menghampiri dua sahabatnya.
“Benar hanya masalah kecil?” eun hye menegaskan jawaban hyesun, ia takut hyesun kenap-kenapa.
“Iya, kalian tidak perlu khawatir.” Hyesun mengangguk mantap.
“Baiklah. Kalau begitu ini untukmu.” Donghae mengeluarkannya kotak persegi panjang yang tadi di berikan appanya untuk hyesun.
“Igeo mwo?” hyesun mengambil kotak itu dengan wajah bingung.
“Ini yang bibimu titipkan pada appa ku untuk mu.” Sekarang kotak itu sudah berada di tangan hyesun.
“Mmm.” Hyesun menangguk sambil tetap mengamati kotak pemberian bibinya itu. “Ku buka nanti saja tak apa kan?”
Baru saja donghae membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan hyesun sudah di serobot oleh eun hye.
“Ya tentu saja. Itu kan milikmu, jadi terserah padamu. Iya kan donghae?” eun hye memutar kepalanya menghadap ke arah donghae.
“Ya benar kata eun hye.” Donghae menganggukan kepalanya.
“Baiklah, aku simpan dulu ya.” Hyesun memasuki kamarnya, lalu di buka laci meja dekat tempat tidurnya. Ia letakkan kotak berharga itu di dalam sana.
^^^^^^^^^^
Rumah Mino Pukul 20.30“Ye eun-a mengapa belum tidur? Besok kau harus bangun pagi kan, besok ada festival di sekolahmu.” Wajah ye eun terlihat sedang menunggu sesuatu. Nenek ye eun alias ibu mino menghampiri ye eun yang sedang cemberut di sofa.
“O, halmoni. Aku sedang menunggu appa. Halmoni belum ngantuk?” ye eun memutar kepalanya mengadah ke arah neneknya.
“Belum. Halmoni belum ngantuk. Mau halmoni temani menunggu appa?” nenek ye eun duduk di sebelah ye eun.
“Mmm.” Ye eun mengangguk manja senyum lembut menghiasi wajahnya.
“Uugghh, kau imut sekali kalau sedang tersenyum.” Nenek ye eun mengelus rambut cucu imutnya.
“Halmoni, boleh aku bertanya padamu?” ye eun membuka pembicaraan dengan tampang sendu.
“Tentu saja. Kau ingin bertanya apa pada halmoni?” nenek ye eun menatap wajah ye eun.
“Hmm, mengapa omma meninggalkan aku dan appa?” setelah lama pertanyaan ini ingin ye eun tanyakan akhirnya keluar juga dari mulutnya.
“Ne?” nenek ye eun kaget, pertanyaan yang ia tidak duga keluar dari mulut ye eun. Apa yang harus ia katakan?
“Apakah halmoni harus menjawabnya?” nenek ye eun sekali lagi bertanya pada ye eun sambil terus mencari jawaban, agar ye eun tidak curiga.
“Ya, aku ingin tau halmoni. Selama ini ye eun sebenarnya sedih dan iri melihat teman-teman ye eun pergi sekolah diantar oleh omma-omma mereka aku ingin seperti mereka, tapi sayang omma sudah pergi meninggalkan ku dan appa.” Tangan ye eun menyeka air matanya yang sudah menyentuh pipinya.
“Jangan menangis ye eun sayang.” Nenek ye eun berlutut di hadapan ye eun. Lalu mengangkat wajah ye eun yang tertunduk menutupi wajah sedihnya. “Omma ye eun meninggal dunia saat ia melahirkan ye eun. Dan kau tak perlu bersedih lagi, di sini masih ada appa, halmoni, haraboji, bibi, dan paman yang selalu ada di sampingmu. Kami akan selalu menemanimu dan menyayangimu ye eun-a. Jangan bersedih lagi ya.” Di sekanya air ye eun dengan telapak tangannya.
“Mmm.” Ye eun mengangguk. “Halmoni janji ya padaku akan terus menemaniku.” Ye eun menghambur ke pelukan neneknya.
“Pasti, halmoni pasti akan selalu menemani ye eun.” Nenek ye eun mengelus punggung ye eun halus.
“Ckklleeekkk...” terdengar ada seseorang membuka pintu.
“Itu pasti appa. Cepat hapus air mata mu.” Ye eun melepaskan pelukannya lalu cepat-cepat ia menyeka air matanya. Sedangkan neneknya pergi menghampiri appanya.
“Kau sudah pulang. Mengapa larut sekali pulangnya? Dan itu, pasti untuk ye eun.” Omma mino menunjuk belanjaan-belanjaan yang mino bawa.
“O, ne ini untuk ye eun. Banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan tadi. Di mana ye eun? Apakah putri kecil ku sudah tidur?” jawab mino pada omma nya.
“Dia ada di ruang tamu. Ye eun menunggumu sejak tadi. Temuilah dia, omma ke kamar dulu.” Omma mino menunjuk ke arah ruang tamu, lalu berjalan menuju kamarnya.
“Ne, baiklah.” langkah mino langsung tertuju ke ruang tamu.
Terlihat peri kecil yang sedang duduk manis di sofa putih. “Sepertinya ada yang sedang menunggu appa ya?” mendengar suara appanya ye eun langsung memutarkan kepalanya mengadah ke arah mino
“Appa, mengapa kau lama sekali?” ye eun langsung berlari memeluk appanya yang berjongkok di hadapannya.
“Miane sayang, banyak pekerjaan yang harus appa selesaikan tadi. Appa punya sesuatu untuk menghilangkan kekesalanmu pada appa.” Mino langsung mengambil sesuatu dari salah satu tas belanjaannya.
“Apa itu? Baju pesanan ku?” tanya ye eun penasaran.
“Bukan.” Mino menggelengkan kepalanya. “Ini untuk mu putri kecilku.” Boneka teddy bear berwarna cokelat dan ungu yang mino beli tadi sekarang sudah berada di tangan mungil ye eun.
“Wah, lucu sekali. Gomawo appa.” Ye eun terlihat sangat senang. Kesedihan yang ia rasakan tadi sekarang sudah meluap begitu saja. Mino memang selalu mengerti dengan apa yang ye eun butuhkan walaupun ye eun tidak mengatakannya pada mino.
^^^^^^^^^^
“Dan ini semua pesanan mu tuan putri.” Mino memberikan semua yang ye eun minta padanya tadi pagi.
“Mengapa banyak sekali appa? Bukannya aku hanya meminta satu pasang baju pada mu?” ye eun bingung mengapa banyak sekali belanjaan yang appanya beli untuknya.
“Hehe, iya tadi di sana appa melihat banyak baju dan beberapa accsesories yang lucu dan sepertinya cocok untukmu.” Jawab mino pada ye eun.
“Benarkah?” tanya ye eun tidak percaya.
“Tentu saja. Ayo kita ke kamarmu, kita lihat semuanya nanti di atas.” Mino menarik tangan ye eun, lalu mengambil belanjaan-belanjaannya juga.
^^^^^^^^^
Kamar Hye Sun 21.00“Apa ya yang bibi berikan padaku?” langkah hyesun bergerak menuju kamarnya. Lalu di bukanya laci di mana tempat ia menyimpan barang yang bibinya berikan.
“Sreeett...ssreeeett..” sedikit demi sedikit ia lepas kertas kado yang melapisi hadiah itu.
“Waaahhh, canti sekali.” Hyesun kagum melihat apa isi dari kotak itu. Kalung berbentuk bulan yang di kelilingi oleh bintang dan di belakangnya terdapat inisial namanya dan yang satu entah inisial nama siapa?
“M & H? M? Siapa m? H mungkin itu inisial nama ku Hyesun, lalu kalau M? Siapa dia?” hyesun bingung memikirkan inisial nama itu. Lalu ia ambil ponselnya dan menekan nomor telepon yang ia tuju.
“Bibi.” Hyesun menelepon bibinya selain ingin berterima kasih ia juga ingin menanyakan tentang si “M” itu.
“O, hyesun. Bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja di sana?” bibi hyesun sangat khawatir pada hyesun.
“Ne, bibi aku baik-baik saja kau tak perlu khawatir. Oiya aku sudah menerima kalung pemberian bibi. Cantik sekali.” Hyesun memberitahu bibinya kalau ia sudah menerima kalung pemberian bibinya.
“Benarkah? Kau menyukainya?” tanya bibi hyesun senang.
“Ne, aku sangat menyukainya. Tapi..” baru saja hyesun membuka mulutnya untuk bertanya sudah terdengar saja suara dari seberang sana.
“Tapi apa maksud dari M & H? Itukan, pasti kau bingung dengan inisial itu.” Bibi hyesun sudah mengetahuinya, pasti hyesun akan bertanya soal ini.
“Iya, apa maksud dari M & H bi?” hyesun makin bingung.
“M & H, itu adalah inisial namamu dan seseorang yang akan menjadi pendamping hidupmu. Entah mengapa bibi memilih huruf “M”. Kau simpan baik-baik kalung itu, jangan sampai hilang. Janji!” Begitulah penjelasan bibi hyesun pada hyesun.
“Hahaha, kau ada-ada saja bi. Berarti aku harus mencari kekasih yang berinisial M dong? Iya aku janji akan menyimpan kalung ini baik-baik” hyesun tertawa mendengar penjelasan bibinya.
“Hehhe, tidak juga. Tapi jika tebakan bibi benar itu bagus. Hahaha” entah apa yang di pikirkan bibi hyesun, mengapa ia bisa memutuskan kalau yang akan menjadi kekasih hyesun nanti berinisial huruf “M”.
“Baiklah, kita akan tau nanti. Hahhaha.”
“Ya sudah, tidurlah bukankah besok kau akan interview. Jadi istirahatlah, lakukan yang terbaik jangan kecewakan bibi. Bibi sayang hyesun.” Butiran-butiran bening sudah terlihat bermain di kelopak mata bibi hyesun.
“Iya bi, hyesun juga sayang bibi. Hyesun tidak akan mengecewakan bibi. Jaga kesehatan bibi, makanlah yang banyak. Jika bibi ingin sesuatu atau terjadi sesuatu cepatlah meneleponku. Araseo.” Kali ini butiran bening itu sudah jatuh menyentuh pipi halus hyesun.
“Araseo sun-a. Ya sudah tidurlah. Bibi tutup ya teleponnya annyeong.” Bibi hyesun menyuruh hyesun tidur. Sebenarnya masih ada yang ingin ia bicarakan pada hyesun, tapi air matanya sudah tidak terbendung lagi, jadi daripada hyesun khawatir dengannya sebaiknya ia sudahkan saja meneleponnya.
“Baiklah bi. Annyeong.” Hyesun menutup teleponnya.
^^^^^^^^^^
Waktu yang sama di kamar ye eun“Bagaimana appa?” ye eun keluar dari kamar mandi dengan dress abu-abu yang mino beli tadi.
“Sempurna.” Mino mengangkat kedua ibu jarinya. “Coba pakai ini.” Ye eun menghampiri appanya, lalu mino memakaikan bando ungu yang ia sudah cocokan tadi.
“Cantik tidak?” ye eun bergaya di hadapan appanya. Senyuman puas menghiasi wajah tampan mino.
“Makin sempurna.” Mino menggelengkan kepalanya. “Coba yang ini.” Mino menyodorkan baju lengan panjang yang berwarna pink. Lalu ye eun langsung mengambilnya dan langsung berlari ke kamar mandi untuk mencoba baju yang ini.
[/color][/size][/font]
“Ckckckkcck, anak appa pakai apa saja tetap cantik.” Lagi-lagi mino menggelengkan kepalanya, saat ye eun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju pink tadi dan tak lupa bando pimk dengan si kucing besar.
“Satu lagi.” Mino menyodorkan baju terakhir yang harus ye eun coba.
“Oke.” Ye eun kembali masuk ke kamar mandi.
“Ckleekk..” pintu kamar mandi terbuka, tetapi sosok mungil itu tidak terlihat.
“Taaaadddaaa..” ye eun meloncat membuat mino kaget. Mulut mino membetun huruf “O” melihat sosok ye eun terlihat sangat-sangat cantik. Beruntung ia mempunyai putri seperti ye eun.
“Yaaaa, appa mengapa kau seperti itu?” ye eun kesal melihat wajah appanya seperti itu.
“O, mian.” Mino tersadar dari lamunannya. “Kau cantik sekali ye eun-a. Besok kau pakai baju ini saja.” Mino menunjuk baju yang ye eun kenakan.
“Mmm. Aku setuju dengan appa.” Ye eun mengangguk mantap.
“Ya sudah, kalau gitu sekarang lepas bajunya lalu ganti dengan piyamamu.” Mino bermaksud untuk menyuruh ye eun untuk tidur.
“Oke.” Ye eun langsung berputar menuju pintu kamar mandi di belakangnya.
^^^^^^^^^
Kamar Hyesun Pukul 22.00“Rasanya sunyi sekali.” Hyesun bicara sendiri sambil membersihkan kamera kesayangannya yang akan ia bawa interview besok.
“Donghae pasti sudah tidur.” Ia masukan dengan hati-hati kamera kesayangannya ke dalam tas setelah selesai ia bersihkan. Lalu dibukannya laci tempat ia menyimpan kalung pemberian bibinya.
“Bibi-bibi ada-ada saja kau ini. Bagaimana bisa ia memikirkan inisial ini?” ia teriangat penjelasan bibinya tadi. Lalu ia lingkarkan kalung itu di leher jenjangnya.
Di pegangnya bintang yang mengelilingi bulan itu. “Cantik.” Hyesun memuji kalung itu. “Besok aku akan memakainya.” Senyum manis menghiasi wajah cantiknya.
“Well you don’ don’t me..” baru saja ia ingin melepas kalung itu, ponselnya berdering. Di lihatnya di layar ponselnya “010-22060911” nomor tanpa nama.
“Siapa ini?” raut wajahnya yang senang tadi sekarang berubah menjadi bingung. Lalu di tekannya tombol tanda terima.
“Hallo, nuguseyo?” hyesun menyapa orang yang meneleponnya.
“Hai gadis manis, kau harus membayar perbuatanmu tadi. Cepat temui aku di bar dekat Seoul Plaza.” Terdengar suara pemuda yang sedang mabuk di seberang sana.
“Ttttuuuttt.....ttttttuuuuttt...” teleponnya langsung di tutup oleh pemuda itu.
“Yaaaaa, pasti pria itu.” Ya yang menelepon hyesun adalah mino, lalu hyesun menelepon balik pemuda itu.
Ponsel mino berdering. Tetapi keadaan mino sudah sangat parah, ia sangat mabuk. Di telapak tangannya terdapat cincin yang ia pandangi sejak tadi. Kepalanya tergeletak di atas meja. Si bartender melihat ponsel mino berdering, tetapi mino tetap tidak menjawabnya. Si bartender khawatir dengan keadaan mino ia pasti tidak bisa menyetir dengan keadaan seperti ini. Jadi dengan terpaksa ia angkat telepon itu.
“Hey kauuuuu..” tanpa basa-basi hyesun langsung berteriak, ia tidak tau siapa yang bicara dengannya di sana.
“Hallo agashi, maaf pemuda yang anda maksud sedang dalam keadaan sangat mabuk sekarang. Anda kekasihnya kan? Cepatlah kemari nona kasihan pemuda ini, ia tidak bisa menyetir dalam keadaan mabuk seperti ini.” Si bartender menjelaskan semuanya pada hyesun.
“Mwo?”
“Bagaimana ini? Apakah aku harus ke sana? Besok aku ada interview, tapi kasihan pria itu. Ya sudahlah aku pergi saja ke sana.” Hyesun bicara dalam hati.
“Baiklah aku segera ke sana.” Hyesun langsung bersiap mengenakan sepatunya.
“Baiklah agashi.”
^^^^^^^^^^
Bar“Agashi.” Bartender itu langsung melambaikan tangannya ke arah hyesun.
“O..” hyesun mengangguk lalu langsung menghampiri bartender itu.
“Di mana pria itu.” Hyesun tidak sadar kalau di depannya adalah mino.
“Ini dia.” Si bartender menunjuk mino yang sedang tertidur dalam keadaan mabuk.
“uugghh, mulutnya bau alkohol.” Hyesun menutup hidungnya.
“Ke mana saya harus membawanya?” hyesun bertanya pada si bartender sambil membopong tubuh mino yang besar.
“Agashi bisa membawanya ke hotel dekat sini. Saya akan mengantarkan agashi ke depan dan memberitahu kepada supir taksinya letak hotel itu.” Si bartender langsung menghampiri hyesun lalu membantu hyesun membopong tubuh mino.
“Lalu bagaimana dengan mobil pria ini?” tanya hyesun bingung.
“Agashi tenang saja. Mobil tuan ini akan kami antarkan nanti ke hotel.” Jawab si bartender.
“Antarkan mereka ke Namdong Hotel ya ajuhssi.” Si bartender mengatakan tujuan mereka pada supir taksi.
“Baik.” Supir taksi mengangguk mantap.
“Masuklah agashi.” Hyesun masuk ke dalam taksi setelah mino.
“Brruukkkkk..” pintu taksi di tutup oleh si bartender.
^^^^^^^^^^
Namdong Hotel“Ini kamarnya agashi.” Kata seorang pelayan hotel
“O, araseo gomawo.” Hyesun memasuki kamar dengan susah payah karena ia masih membopong tubuh mino.
“Biar saya saja yang membawa tuan ini masuk.” Pelayan hotel itu membantu hyesun. Lalu di baringkannya mino di kasur.
“Gomawo.” Hyesun membungukuk ke arah pelayan hotel.
“Ne, sebaiknya kau jaga kekasihmu baik-baik agashi, ia sangat cocok untukmu.” Kata si pelayan hotel pada hyesun.
“Ne?” hyesun terkaget, mengapa bisa si pelayan hotel itu berkata seperti itu.
“Baiklah saya permisi agashi.” Pelayan hotel membungkuk ke arah hyesun lalu berlalu meninggalkan mino dan hyesun berdua saja.
Sekarang di dalam kamar hanya ada mino dan hyesun. Setelah membukakan beberapa kancing kemeja mino karena mino tampak sangat kegerahan sekarang ia sedang berdiri di depan jendela besar sambil sibuk dengan pikirannya. Wajah hyesun tampak sangat bingung. Ia bingung apakah ia harus menemani pria ini atau ia biarkan saja pria itu di sini. Tidak henti-hentinya kakinya melangkang bolak-balik seperti setrikaan. Lalu di tatapnya lekat-lekat pria tidak berdaya itu di hadapannya.
“Bagaimana ini? Besok aku ada interview, mana mungkin jika aku tidak pulang sekarang. Tapi kasihan pria ini. Aigooo.. aku harus bagaimana?” hyesun benar-benar bingung.
“Minjung-a...minjung-a...” nama itu terus keluar dari mulut mino. Sepertinya mino mengigau. Hyesun tampak semakin bingung. Siapa itu minjung?
“MINJUNG-AAAA” tiba-tiba mino teriak ia terbangun dari tidurnya mino masih dalam keadaan setengah sadar.
“OMO..” hyesun langsung memegang dadanya karena kaget.
“Waeyo?” ia bertanya pada mino. Lalu mino menengok ke arahnya.
“Minjung-a..minjung-a...” karena mino masih dalam keadaan setengah sadar, wajah hyesun semakin lama berubah menjadi wajah minjung dalam penglihatan mino.
“Yaaaaaaa..” hyesun teriak saat mino memeluknya dengan tiba-tiba.
“Minjung-a tolong jangan tinggalkan aku lagi. Kasihan ye eun ia membutuhkanmu.” Mino berkata pada hyesun, bukan..bukan hyesun tapi minjung dalam penglihatan mino di sela-sela pelukan mereka.
“Minjung? Nugu minjung? Aku hyesun bukan minjung, kau salah orang.” Hyesun mengguncang-guncang tubuh mino. Lalu menjatuhkannya ke tempat tidur. Lalu mino langsung terlelap lagi dalam tidurnya.
“Tidak mungkin aku membiarkannya sendiri dalam keadaan seperti ini. Terpaksa aku akan menemaninya.” Akhirnya hyesun mengambil keputusan setelah sekian lama ia memikirkannya.
Flashback
“Ye eun sudah tidur?” tanya ibu mino saat mino baru saja menutup pintu kamar ye eun.
“Ne, omma waeyo? Sepertinya ada sesuatu yang ingin kau bicarakan pada ku.” Wajah ibu mino terlihat sangat serius sekali.
“Ne, ada yang ingin omma bicarakan. Bagaimana kalau kita membicarakannya di kamar mu saja?” ternyata mino benar, ada yang ingin ibunya bicarakan padanya. Lalu mino dan ibunya pergi berjalan menuju kamar mino.
“Ada apa omma?” mino langsung bertanya pada omma nya saat mereka sudah memasuki kamar.
“Begini, tadi saat omma menemani ye eun menunggumu ia betanya pada omma.” Ibu mino mulai menceritakan tentang ye eun yang tadi pada mino.
“Apa yang ye eun tanyakan pada omma?” tanya mino penasaran.
“Ia tanya mengapa ommanya pergi meninggalkannya dan kau.” Tampak rasa keraguan dari wajah ibu mino untuk mengatakan ini.
“Benarkah ye eun bertanya seperti itu?” mino tampak tidak percaya, karena selama ini ye eun tidak pernah bertanya dan mengungkit-ngungkit masalah tentang ommanya pada mino.
“Ya, ia bilang ia sebenarnya sedih dan iri melihat teman-temannya pergi sekolah diantar oleh omma-omma mereka.” Ibu mino menjelaskan semuanya dengan raut wajah sedih, sambil menatap putranya yang menunduk, air bening itu mulai bermain-main di kelopak mata mino.

“Joungmal? Ye eun tidak pernah mengatakan itu pada ku omma. Pintar sekali anak itu menyembunyikan kesedihannya dariku. Semua ini adalah salahku, akulah yang membuatnya menderita seperti ini.” Pelan tapi pasti air bening itu mulai terjatuh dari kedua mata mino.
“Tidak sayang. Ini bukan kesalahanmu, semua ini sudah di takdirkan oleh tuhan. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kalian. Dan sebaiknya kau selalu menemani ye eun agar ia tidak kesepian. Dan cepatlah cari pengganti minjung untuk ye eun.” Ibu mino mengusap-usap punggung putranya lembut.
“Wanita itu.. ya wanita itu sangat tak tau diri. Setelah 5 tahun meninggalkan aku dan ye eun tidak ada sekata pun tentang dirinya. Ia tak tau betapa sedihnya ye eun sekarang. Sekarang ia malah pergi dan menikah dengan pria lain.” Ternyata mino sudah mengetahui kalau minjung sudah menikah dengan pria lain di Amerika. Ia tau informasi ini dari hyun jin, karena ayah hyun jin mempunyai hubungan bisnis dengan ayah minjung.
“MWO? Ia sudah menikah?” ibu mino kaget. Ia tidak percaya minjung melakukan ini.
“Ya, hyunjin mengatakannya padaku. Entah apa yang harus ku lakukan sekarang omma.” Di tatapnya langit-langit rumah di atasnya. Hati mino benar-benar sakit sekarang. Setelah seenaknya saja ia pergi sekarang ia malah dengan pria lain.

“Ya sudah sekarang kau lupakanlah dia. Carilah pengganti minjung yang lebih baik dari minjung. Pikirkan keadaan ye eun sekarang. Carilah ibu untuk ye eun yang selalu mengerti ye eun dan menyayangi ye eun. Sekarang kau pikirkanlah itu baik-baik omma keluar dulu.” Ibu mino keluar meninggalkan mino sendiri di dalam kamar. Ia tidak kuat melihat kesedihan putranya.
Satu per satu langkah mino bergerak mendekati meja kerjanya. Di dudukinya kursi di belakangnya, lalu tangan kanannya bergerak menarik laci di mana di dalamnya terdapat kotak merah berharganya. Lagi-lagi ia memandangi isi dari kotak itu.
“Kau..kau benar-benar menyebalkan.” Mino bicara sendiri, raut kekesalan sangat nampak dari wajahnya. Lalu ia mendongakkan kepalanya, ia pejamkan kedua matanya. Kepalanya terasa sangat berat. Hidung mancungnya sangat jelas terpampang. 
Lalu tiba-tiba ia berdiri dari duduknya. Semakin lama langkahnya semakin dekat dengan pintu kamarnya. Di putarnya gagang pintu kamarnya, lalu ia memulai langkahnya lagi meninggalkan kamar. “Dukk..dduukk..” satu per satu kakinya menyentuh anak tangga menuju lantai bawah. “Cklleeekk..” pintu depan terbuka. Mobil berwarna silver sudah siap membawa mino ke mana saja yang mino inginkan.
“Buuussshhhh.....” mobil mino meluncur sangat kencang. Semakin lama mobil itu meluncur semakin cepat. “2X Bar” mobil mino berhenti tepat di depan bar itu.
“Aku pesan bir.” Mino memesan bir saat ia sudah duduk di dalam bar itu. 
Ternyata mino ingin menghilangkan stresnya dengan cara ini. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Mungkin jalan satu-satunya ia harus mencari pengganti minjung.
“Ye eun-a maafkan appa, appa tidak bermaksud membuatmu sedih. Maafkan appa karena sudah berbohong padamu. Appa berjanji akan mencarikan omma yang sayang padamu. Dan kau minjung aku tidak akan memaafkanmu, kau tidak tau bagaimana jika kau jadi aku sekarang. Aku bukannya menyesal karena keberadaan ye eun, tetapi aku menyesal sudah mencintaimu. Kau, aku sudah mencarimu ke mana-mana tapi tetap tak bisa ku temukan. Dan aku tau dari hyunjin kau ada di Amerika sekarang. Saat itu aku bisa memaafkanmu dan mengerti keadaanmu karena aku tau pasti itu karena tuntutan bisnis, tetapi sekarang sudah tidak ada toleransi lagi untukmu. Sekarang kau malah menikah dengan pria lain, jadi mana mungkin aku bisa memaafkanmu. Dan sekarang aku sudah bertekad untuk melupakanmu dan menghapus semua kenangan-kenangan aku bersama mu.” Mino bicara dalam hati.
End of Flashback
[/i]
^^^^^^^^^^
“Hhhooooaaaa..” hyesun terbangun dari tidurnya. Ia tidur di lantai dengan sehelai selimut. Sedangkan mino masih terlelap di atas tempat tidur.
“Mwo? Sudah jam 7..!!” hyesun kaget saat melihat jam di meja kecil di depannya.
“Hmmm,, Hoooaaaa..” suara itu terdengar dari atas tempat tidur. Mino sudah bangun.
“Omo, dia sudah bangun bagaimana ini? Aku harus sembunyi.” Hyesun bingung. Kalau mino tau ia ada di sini mino pasti akan marah besar. Lalu hyesun sembunyi di bawah tempat tidur.
“Aku ada di mana?” mino terlihat bingung saat ia melihat sekitar kamar, ia tau ini bukan kamarnya.
“MWO!!!! SIAPA YANG MEMBUKA KEMEJAKU?????” mino teriak saat ia lihat bagian atas tubuhnya polos. Kemeja putih yang semalam ia kenakan sudah terlepas.
“Ada apa? Ada apa lagi denganmu???” hyesun langsung refleks meloncat lalu berdiri di hadapan mino.
“MWO!! KAAAAUUUUUUUUU...” mata mino langsung terbelalak lebar melihat keberadaan hyesun di sini.
END OF CHAPTER
[/color][/size][/font]