CHAPTER 16 ~ Lovelyn
Keesokan harinya, matahari bersinar terik di pagi yang sudah beranjak siang hari itu. Sinarnya yang keemasan menyerembet masuk ke kamar yang ditempati Eun Ho dan Yong Chan melalui jendela kamar yang hanya dihalangi kain transparan tipis. Waktu itu sudah jam 11 pagi. Yong Chan bergerak di ranjangnya. Matanya agak disipitkan ketika sinar menyilaukan jatuh tepat ke matanya. Tangan Yong Chan bergerak ke atas dan menepuk kepalanya yang terasa pusing. Pandangannya diedarkan ke seluruh ruangan, tapi dia tidak mendapatkan apa yang dicarinya.
Yong Chan berpaling kearah pintu ketika didengarnya suara halus terdengar dari sana. Eun Ho memasuki ruangan dengan nampan yang berisi makanan di tangannya. Dia agak kaget ketika mendapatkan Yong Chan sudah bangun dari tidur dan sekarang sedang memperhatikannya dengan kening berkerut.
"Ohhh .. apakah saya terlalu ribut sehingga membangunkanmu?", tanya Eun Ho dengan perasaan menyesal.
"Tidak, saya sudah bangun dari tadi kok ..lalu .. kamu dari mana saja? mengapa pergi tidak bilang-bilang? saya sangat mengkhawatirkanmu tadi, kamu tahu tidak?", Yong Chan mengajukan pertanyaan bertubi-tubi dengan tampang kesal yang tidak dibuat-dibuat.
Eun Ho tidak segera menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Yong Chan. Dia berjalan kearah ranjang satu-satunya yang ada di kamar itu dan duduk di samping Yong Chan. Nampan yang dibawanya ditaruh di meja kecil kumal yang ada disamping, kemudian dia menghadapi Yong Chan.
"Miane ..saya tidak bermaksud membuatmu khawatir ..", kata Eun Ho pelan.
Yong Chan menghembuskan nafasnya. Dia merasa menyesal. Tidak seharusnya dia memarahi Eun Ho dengan alasan yang tidak jelas. Pandangannya perlahan jatuh ke tangan Eun Ho yang saling meremas. Yong Chan tertegun. Sepasang tangan Eun Ho yang putih mulus itu terlihat beberapa luka goresan panjang yang baru kali ini dilihatnya. Dengan cepat Yong Chan meraih tangan Eun Ho. Suara teriakan tertahan terdengar dari mulut Eun Ho ketika tangan Yong Chan mengenai luka goresan di tangannya.
"Akhhhhh ... sakit ..."
Yong Chan menatap tajam ke Eun Ho. Perasaannya berkecamuk antara marah dan sedih.
"Ada apa ini? .. apa yang terjadi dengan tanganmu?"
Eun Ho mengigit bibirnya. Dia merasa segan melihat tampang murka Yong Chan.
"Saya .. saya tadi membantu ahjumma memindahkan beberapa kardus yang berisi makanan ke gudang belakang dan ... tanganku tidak sengaja tergores sudut-sudut kardus yang tajam itu ...", jawab Eun Ho polos.
"Mengapa kamu tidak menyuruhku melakukannya? mengapa harus melakukannya sendiri?", tanya Yong Chan dengan nada suara yang belum hilang dari kekesalannya.
"Karena kamu masih sakit .. lagipula kita tidak mempunyai uang untuk membeli makanann .. karenanya saya harus bekerja membantu ahjumma memindahkan barang-barang itu untuk mendapatkan makanan buat kita ..", jawab Eun Ho polos.
Yong Chan langsung memejamkan mata mendengar penjelasan Eun Ho. Tangannya bergerak menutupi wajahnya. Perasaan menyesal merasuki hatinya. Dia menunduk perlahan.
"Miane ... tidak seharusnya saya marah padamu .. miane Eun Ho a ..", katanya pelan.
Eun Ho mengeleng perlahan.
"Tidak .. kamu sama sekali tidak bersalah .. saya sangat berterimakasih padamu karena telah menolongku, jika tidak ada kamu .. saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku .. karena menolongku pula kamu menderita demam ... saya sangat menyesal ..."
Yong Chan memperhatikan Eun Ho dengan cinta yang mendalam. Sedangkan Eun Ho sama sekali tidak menyadarinya. Dia meraih nampan yang ada di atas meja dan menyodorkannya ke Yong Chan.
"Makanlah ini .. kamu belum sembuh benar, jadi harus makan yang banyak .. hari ini tidak ada kendaraan yang bisa dipakai untuk keluar desa .. ahjumma bilang besok pagi baru ada truk tukang daging yang akan datang ke sini ..."
Yong Chan mengambil nampan dari tangan Eun Ho, tapi dia tidak memakan makanan yang ada diatasnya. Dia menaruh nampan itu kembali ke meja kecil di sampingnya. Yong Chan menatap Eun Ho dengan serius. Perasaan yang mendalam terpancar dari sepasang matanya yang bening.
"Kamu tidak perlu berterimakasih apalagi minta maaf padaku .. semua yang kulakukan itu ikhlas untukmu .. saya akan melindungimu dari bahaya apapun, kamu harus percaya itu Eun Ho ... saya mencintaimu .. sarangheyo Eun Ho a ....."
Perkataan Yong Chan diucapkan dengan penuh perasaan. Sepasang matanya yang mengarah lurus ke mata Eun Ho mengatup perlahan. Wajahnya semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat dan akhirnya menyentuh wajah Eun Ho yang masih tidak bergerak di tempat. Hidungnya menempel di hidung Eun Ho. Yong Chan memperhatikan reaksi Eun Ho dari balik bulu matanya. Eun Ho memejamkan matanya perlahan. Yong Chan membuka bibir dan dengan lembut melumat bibir Eun Ho yang agak bergetar.
Nafas Eun Ho mulai memburu ketika bibir Yong Chan menempel di bibirnya. Ini yang menjadikan Yong Chan semakin berani dalam permainannya. Lidahnya menjulur masuk ke mulut Eun Ho dan mulai bertaut dengan lidah Eun Ho yang panas. Tubuh Eun Ho agak menegang ketika lidah Yong Chan memasuki mulutnya. Dia tidak pernah merasakan yang seperti ini. Tapi jujur dia menikmatinya. Yong Chan mempererat pelukannya di tubuh Eun Ho. Tangannya menyusup masuk ke punggung Eun Ho dan mengelusnya pelan. Eun Ho dapat merasakan tangan hangat Yong Chan mengenai kulit bagian punggungnya. Nafas mereka semakin memburu.
Eun Ho mulai membalas lumatan-lumatan Yong Chan di bibirnya ketika permainannya mulai menganas. Eun Ho membuka bibirnya dan berusaha memasukan semua bibir penuh Yong Chan ke dalam mulutnya. Yong Chan agak terpaku dengan keagresifan Eun Ho. Tapi dia tidak menghentikan kecupan-kecupan dan lumatan-lumatannya di bibir Eun Ho. Selesai dengan bagian bibir, Yong Chan mulai menurunkan ciumannya ke bagian dagu dan leher Eun Ho. Dengan lembut lidahnya menyelusuri leher jenjang Eun Ho. Suara mendesis terdengar jelas dari mulut Eun Ho. Dia sangat menikmatinya. Tangannya menjambak lembut rambut lebat Yong Chan yang masih saja melanjutkan kecupan di lehernya.
Eun Ho baru saja menarik wajah Yong Chan ke atas dan melumat bibirnya dengan ganas ketika pintu kamar di buka dari luar. Suara teriakan tertahan menyebabkan mereka yang sedang kasmaran itu memalingkan wajahnya yang masih menerawang.
tampang menerawangnya yong chan
cap by me
"Ohhhhh ... miane .... saya ... saya .. tidak bermaksud menganggu ...."
Si ahjumma berdiri di sana dengan tampang bersalah. Dan sebelum Yong Chan dan Eun Ho dapat berkata apa-apa, si ahjumma sudah menghilang dari hadapan mereka. Yong Chan dan Eun Ho saling berpandangan setelah itu. Wajah Eun Ho memerah. Dengan tangan kanannya dia mendorong Yong Chan sehingga tersungkur ke ranjang.
"Lihat!! apa yang telah kamu lakukan??"
***********
Hari kedua setelah menghilangnya Yong Chan dan Eun Ho di lokasi syuting, membuat semua kru semakin gelisah. Semua orang sudah berusaha mencari keberadaan mereka berdua tapi tidak seorangpun yang menemukannya. Adegan -adegan yang tidak berhubungan dengan Yong Chan dan Eun Ho juga sudah diambil semua dan sekarang tidak ada yang dapat mereka lakukan lagi.
Beberapa dari mereka menganjurkan untuk menelepon polisi tapi Mr. Bae tidak setuju. Dia tidak ingin masalah ini membesar. Lihat satu hari lagi, katanya. Dam Ah semakin gelisah dengan semua masalah ini. Perasaan takut selalu menghinggapi hatinya. Hingga akhirnya dia tidak tahan lagi dan menemui Mr. Bae di kamarnya.
"Mr. Bae .. ada yang ingin saya bicarakan .."
Mr. Bae yang sedang sibuk dengan naskah di tangannya berpaling kearah Dam Ah. Keningnya agak berkerut tapi tangannya terjulur mempersilahkan Dam Ah duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Saya ... saya .. sangat menyesal ..", Dam Ah memulai pembicaraannya dengan terbatah-batah.
Kerutan di kening Mr. Bae semakin dalam. Dia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Dam Ah.
"Menghilangnya Yong Chan dan Eun Ho ada hubungannya dengan saya ..... saya .. saya yang menyuruh orang menculik .. Eun Ho dan .. saya rasa ..Yong Chan.. mengetahuinya sehingga mengikuti ... orang-orang tersebut .."
Mr. Bae sangat terkejut mendengar pengakuan Dam Ah. Naskah yang ada di tangannya terjatuh ke lantai. Dia tersentak bangun dengan mata terbelalak lebar.
"Apaaaaaaaaaaa kamu serius, Dam Ah? .. ini bukan main-main, kan?"
Dam Ah mengeleng dengan isak tanggis yang mulai terdengar.
"Saya serius Mr. Bae .. saya sangat takut .. apa yang harus kulakukan? Yong Chan mengetahui semuanya .. tolonglah saya Mr. Bae ..."
Mr. Bae meledak amarahnya. Sinar mata menusuk terarah ke mata Dam Ah.
"Kamu harus bertanggungjawab dengan perbuatanmu, Kang Dam Ah Ssi ..... setelah kami menemukan Yong Chan dan Eun Ho, saya akan melaporkan semua perbuatanmu kepada pihak polisi .. biar mereka saja yang menyelesaikan masalah ini ... lalu dimana tempat yang kamu sediakan untuk menampung Eun Ho?"
Dam Ah menyebutkan nama tempat yang dimaksud dengan suara pelan. Wajahnya tertunduk dan perasaan menyesal semakin merasuki hatinya. Mr. Bae mengelengkan kepalanya. "Cinta yang tidak tersampai selalu saja mengundang malapetaka ..", umpatnya dalam hati.
*********
Choi Young yang baru saja selesai dengan rapat perpanjangan kontraknya dengan YT Entertainment keluar dari ruang rapat dan berlari sepanjang lorong gedung. Dia ada janji makan siang dengan Hye Jin hari ini dan dia sudah terlambat selama satu jam. Tapi kecepatan larinya langsung dikurangi dan berhenti sama sekali ketika tertangkap oleh pandangannya seseorang yang tidak asing di matanya.
"Kamu .... ?? Apa yang kamu lakukan disini?"
Tangan Choi Young mengarah ke pemuda jangkung di hadapannya. Yang ditunjuk memperhatikannya dengan kening berkerut. Sepertinya dia tidak begitu ingat dengan Choi young.
"Ponsel! .... kamu tidak ingat dengan ponselku yang terinjak olehmu?", tanya Choi Young kesal.
Mata pemuda yang tidak lain adalah Nathan itu membesar. Kejadian kemarin malam di restoran Cina yang didatanginya dengan Dong Wo memasuki pikirannya.
"oooo .. iya, bener .. ponsel .. ha..ha..ha..", kata Nathan terbahak-bahak.
"Kamu masih bisa tertawa ?", tanya Choi Young dengan pandangan mendelik.
Nathan segera menutup mulut dengan tangannya ketika melihat kemurkaan Choi Young.
"Mian .. saya tidak bermaksud begitu .. tapi kemarin malam kamu pergi begitu saja sehingga saya tidak sempat menanyakan alamatmu .. saya berniat menganti ponselmu yang terinjak olehku itu .."
Choi Young mengibaskan tangannya. Kekesalannya belum hilang.
"Lupakan itu .. saya tidak ingin berurusan lagi denganmu ... heiii .. kamu belum menjawab pertanyaanku, mengapa kamu ada di sini?"
"Oh .. itu .. saya ada urusan sedikit dengan iklan NB II .."
"NB II ...?", mata Choi Young terbelalak lebar. "Jadi kamu pasangan Eun Ho di iklan NB II?", tanyanya lagi.
"Benar ... hmmm .. kamu mengenal Eun Ho Ssi?", Nathan balas bertanya.
"Tentu saja .. Eun Ho adalah keponakanku ..", jawab Choi Young dengan bibir mencibir.
"Keponakanmu? ..", Nathan menghentikan perkataannya ketika dengan cuek Choi Young berlalu dari hadapannya.
******
Hye Jin dan Choi Young keluar dari restoran Jepang pada pukul 1:30 siang. Mereka baru saja menyelesaikan makan siang di restoran tersebut. Choi Young berpamitan kepada Hye Jin karena dia masih mempunyai sedikit pekerjaan yang belum diselesaikannya di YT Entertainment. Kedua sahabat itu berpisah di perempatan jalan, tidak jauh dari gedung mewah YT Entertainment.
"Nonaaaaaaaaaaa !!!",
Teriakan itu menghentikan langkah Hye Jin yang bermaksud menyeberang jalan ketika rambu-rambu lalu lintas sudah hijau. Hye Jin berpaling dan .. dia terkejut sekali ketika melihat siapa yang memanggilnya itu. Hye Jin berlari ke seberang jalan dan tidak memperdulikan panggilan tersebut. Tapi ketika dia berpaling ke belakang dia sangat terkejut karena ternyata orang itu ikut menyeberang dan berlari kearahnya.
"Mengapa kamu melarikan diri?", tanya orang itu dengan nafas terengah-engah.
"Saya tidak mau mempunyai urusan denganmu .... kamu .. kamu telah menyakiti hati sahabatku ..", bela Hye Jin ketika melihat pandangan menyalahkan dari orang yang ternyata Jae Won tersebut.
"Maksudmu .. Young? .... ahhh itu sudah masa lalu, si Young saja yang masih tidak bisa melupakannya .."
Hye Jin menatap pemuda di depannya dengan seksama. Sebenarnya dia tidak percaya kalau pemuda ini seberengsek yang dikatakan Choi Young. Tapi dia juga tidak mau berpihak ke Jae Won.
"Masalah kalian tidak ada kaitannya denganku ..", akhirnya Hye Jin mengeluarkan kata-kata bijak ini.
Jae Won tersenyum. Wajah chubbynya semakin mengemaskan ketika dia tersenyum seperti itu.
"Benar .. semua itu tidak ada sangkutpautnya denganmu .. jadi .. bisakah kita berteman? namaku Jae Won .. Kim Jae Won .."
Jae Won mengulurkan tangannya kearah Hye Jin. Ada keraguan ketika Hye Jin menjabat tangan Jae Won.
"Saya tahu namamu ... nama saya Hye Jin .. Song Hye Jin .."
Jae Won semakin memperlebar senyumnya ketika mendengar Hye Jin mengucapkan namanya.
"Nama kamu bagus ..", pujinya tanpa basa-basi.
Wajah Hye Jin memerah. Pujian itu membuatnya serba salah. Jae Won memperhatikan tingkah laku Hye Jin dari tempatnya dengan senyum yang masih melekat di bibir.
**********
Malam harinya ...
Dong Wo mengundang Nathan makan malam bersama di rumahnya yang mewah. Meja panjang dengan deretan kursi yang tertata rapi di sampingnya itu penuh dengan makanan khas Perancis yang mahal dan lezat. Beberapa botol anggur berkelas tinggi tersampir dengan anggun di tempatnya. Dong Wo mengangkat gelas yang telah terisi anggur dan mengangkatnya ke atas diikuti oleh Nathan.
"cheersss ..... ", kata Dong Wo dan Nathan hampir bersamaan sambil membenturkan gelas yang ada di tangan masing-nasing. Suara tinggggggg ... terdengar ...
Setelah menghirup sedikit anggur dari gelas masing-masing, mereka berdua mulai memakan hidangan yang ada diatas meja tanpa bersuara. Dua puluh menit kemudian mereka menyelesaikan makan malamnya dan memindahkan pembicaraan ke ruang tamu yang luas.
"Kamu kelihatan tidak begitu sehat, dongsaeng a ..", Nathan memperhatikan wajah Dong Wo yang sedikit pucat.
"Saya tidak apa-apa ...hanya saja .. ada sesuatu yang mengelisahkanku, itu saja ...", kata Dong Wo sambil tersenyum ke hyungnya.
"Masalah perusahaan? .. tidak biasanya ada masalah yang tidak bisa diselesaikan olehmu ...", canda Nathan.
"Bukan, bukan masalah perusahaan .. mungkin ada sedikit kaitannya tapi itu masalah sepele, saya dapat menyelesaikannya dengan segera ...", jawab Dong Wo serius.
Nathan menatap adik sepupunya dengan pandangan bertanya. Tidak biasanya Dong Wo bersikap seserius ini terhadapnya kecuali yang berkaitan dengan masalah pekerjaan.
"Saya rasa .. saya sedang jatuh cinta ...", Dong Wo akhirnya mengeluarkan rahasianya ini.
"Apa? .. jatuh cinta? .. siapa gadis yang beruntung itu? .. anak gadis dari pemilik perusahaan mana?", Nathan langsung memberondongi Dong Wo dengan semua pertanyaan ini setelah hilang dari rasa kagetnya.
"Bukan anak orang kaya .. dia hanya gadis biasa .. tapi kalau sudah bersamanya, saya merasa ada suatu perasaan yang lain .. tenang dan nyaman.. itu tidak pernah saya rasakan jika bersama dengan gadis lain ....", jawab Dong Wo dengan wajah tertunduk.
"Bukan dari golongan sendiri? ... ohhh tapi itu tidak jadi masalah, kan? ... tidak ada yang akan menentang hubunganmu .... ", Nathan berusaha memberikan semangatnya.
"Memang tidak ada yang akan menentang hubunganku dengan gadis itu .... tapi ..saya tidak tahu apakah gadis itu punya perasaan yang sama denganku atau tidak .."
Nathan menepuk bahu Dong Wo dan tersenyum kepadanya.
"Tidak akan menyerahkan, dongsaeng?"
Dong wo membalas senyuman Nathan. Jawabnya dengan tekad bulat.
"Tentu saja saya tidak akan menyerah .. yang gampang menyerah itu bukan So Dong Wo namanya .. hyung juga tahu itu, kan? ..."
***********
Pada waktu yang sama,Yong Na dan Choi Yoon baru saja pulang dari menonton film di sebuah bioskop terkenal di tengah kota Seoul. Film tentang percintaan itu terasa begitu indah bagi keduanya yang sedang dimabuk cinta. Choi Yoon mengantar Yong Na pulang dengan mobilnya. Setelah sampai di gerbang depan Choi Yoon menghentikan laju mobilnya. Keduanya masih tersenyum bahagia sejak keluar dari bioskop tadi.
"Bye .. Yoon sayang ...", Yong Na mendaratkan ciuman di pipi Choi Yoon.
"Tidak perlu kuantar masuk?", tanya Choi Yoon.
Yong Na mengelengkan kepalanya. Senyumnya belum hilang dari wajahnya.
"Kamu sudah capek dan perlu beristirahat .. besok pagi kamu harus keluar kota, kan? .. saya bisa masuk sendiri kok .."
Choi Yoon mengangguk sambil menatap Yong Na dengan penuh kasih sayang. Dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Yong Na. Mata Yong Na terpejam dan mulutnya agak mengangga ketika bibir Choi Yoon mendarat lembut di bibirnya. Choi Yoon melumat bibir Yong Na perlahan. Yong Na membalas lumatan itu dengan desahan tertahan. Tiba-tiba ketukan di kaca jendela mengejutkan mereka. Yong Sae sedang berdiri di luar dengan sepasang mata polos yang memandang lurus kearah mereka.
*************
bersambung ke chapter 17 ......