Author Topic: *LOVE & CAREER* (Lovelyn, Miny and Luveliprincess) ~ chp 30 (final) '20 Nov 10  (Read 19470 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER 22 ~Lovelyn


Mr. Bae berdiri dari tempat duduknya. Menatap lurus kearah Yong Chan. Matanya bersinar tajam. Yong Chan membalas tatapan itu tanpa berkedip. Dia tidak gentar sama sekali.

"Apa-apaan ini?", tanya Mr. Bae dengan suara khasnya yang dalam dan tenang. Matanya melirik sekilas ke Eun Ho. Yang dilirik langsung menundukkan wajahnya dalam-dalam.

"Seperti yang saya katakan tadi, setelah menyelesaikan syuting 'The Sword', saya akan mengundurkan diri dari dunia hiburan ini .. saya sudah muak dengan semua kebohongan ini ... ", jawab Yong Chan, masih dengan sikapnya semula.

Semua orang yang berada di ruangan itu menghentikan kesibukannya masing-masing. Perhatian mereka tertuju kearah ketiga orang yang sudah kelihatan tegang itu.

"Saya sangat mengerti bagaimana perasaanmu sekarang, Yong Chan a..... tapi saya berharap kamu dapat berpikir dengan kepala dingin, masalah ini tidak segampang perkiraanmu ... hmmm ... apakah kalian sudah mengatakan ini kepada Mr. Kim?", Mr. Bae berusaha memendam perasaannya. Dan dia dapat melakukannya dengan sempurna karena dia memang sudah terlatih untuk itu.

"Belum Mr. Bae .. kami ... kami belum .. mengatakannya kepada Mr. Kim .... ", Eun Ho menjawab pertanyaan ini dengan suara gemetar.

"Bagus!! ..", kata Mr. Bae, kemudian dia melanjutkannya lagi ...
"saya menganggap tidak pernah mendengar keputusan kalian ini .. kembalilah ke tempat yang seharusnya kalian berada dan pekerjaan yang seharusnya kalian lakukan ... "

Yong Chan mengeleng keras ...
"Tidakkkk!! sudah saya katakan saya sudah bosan dan muak dengan semua kebohongan ini .. yang saya ingankan sekarang hanyalah Eun Ho, yang lain saya tidak mau dan saya juga tidak perduli!! ... "

Mr. Bae tidak menaruh perhatian terhadap perkataan Yong Chan. Dia menyambung lagi perkataannya tadi ..
"Tentang 'The Sword', saya sudah membicarakannya dengan Mr. Kim, syutingnya akan dilanjutkan dua hari lagi dan saya juga tidak bermaksud menganti Eun Ho dengan aktris yang lain .. "

Yong Chan dan Eun Ho melebarkan matanya. Mereka saling berpandangan dengan perasaan tidak percaya.

"Saya tidak ingin memperkeruh masalah .. dengan menganti Eun Ho, sama saja dengan memberitahu dunia luar bahwa manajemen kita memang berusaha menutupi hubungan di antara kalian ... kami ingin membuktikan kepada dunia luar bahwa berita itu tidak benar dan juga masalah itu tidak akan mempengaruhi cara kerja kalian .... ", lanjut Mr. Bae lagi.

Yong Chan mengelengkan kepalanya lagi. Dia membuka mulut bersiap untuk membantah, tapi dengan cepat Eun Ho menarik tangannya. Yong Chan berpaling kearah Eun Ho. Gadis itu mengeleng perlahan.

"Kami mengerti Mr. Bae ... kamshamida ..... ", kata Eun Ho cepat.

Yong Chan kelihatan tidak puas. Dia membuka mulutnya lagi, tapi sebelum suaranya keluar, Eun Ho sudah membekap mulutnya.
"Kami permisi dulu Mr. Bae ...",
Eun Ho membungkuk kearah Mr. Bae. Dengan susah payah dia menyeret Yong Chan keluar dari ruangan itu. Tangannya masih membekap erat mulut Yong Chan.


***********


Choi Yoon dan Yong Na berada dalam mobil yang terparkir di gerbang depan kediaman Goo. Keduanya membisu dalam waktu yang cukup lama. Saling melirik tanpa ada yang berinisiatif mengeluarkan suara terlebih dahulu. Keheningan membuat nafas berat mereka terdengar jelas.

Yong Na menarik nafas panjang dan berpaling kearah Choi Yoon lima menit kemudian. Dia sudah mengambil keputusan bulat. Memulainya saat ini juga atau tidak sama sekali.
"Sudah siap?", tanyanya dengan nada tegas.

Choi Yoon membalas pandangan Yong Na dan mengangguk perlahan.

"Apapun yang akan dikatakan appa, tidak akan membuat hubungan kita merenggang, kan?", tanya Yong Na dengan penuh pengharapan.

Sekali lagi Choi Yoon menganggukkan kepalanya. Kali ini reaksinya lebih menyakinkan. Yong Na tersenyum. Begitu juga dengan Choi Yoon. Dia berpaling ke samping kemudian membuka pintu mobil di sebelah kanannya. Choi Yoon keluar dari mobil dan membukakan pintu buat Yong Na. Mereka kemudian bergandengan tangan  memasuki gerbang depan yang tidak terkunci.


*************


Dengan tergesa Yong Sae memasukan buku pelajaran ke dalam tasnya. Seorang gadis berseragam yang berdiri di depan sedari tadi memperhatikan segala tindak tanduknya. Yong Sae sudah bermaksud keluar dari ruang kelas setelah semua barang berhasil dimasukkan ke dalam tasnya, ketika gadis yang mengawasinya itu menghalangi jalannya.

"Goo Yong Sae .... apakah benar Yong Chan oppa mempunyai hubungan khusus dengan Lee Eun Ho?"

Pertanyaan itu dilontarkan dengan keras. Beberapa murid yang belum meninggalkan ruang kelas segera mengalihkan perhatian kearah mereka. Yong Sae mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kemudian menjatuhkan tatapan lekat ke teman sekelasnya itu.

"Ada apa ini!! Han Chae In?"

"Saya bertanya kepadamu, apakah benar gosip tentang hubungan Yong Chan oppa dengan Lee Eun Ho?", gadis remaja yang bernama Han Chae In itu menjadi histeris. Wajahnya memerah. Air bening bergantung di pelupuk matanya. Perlahan wajah itu mengeras, seperti sudah mengambil keputusan bulat.

"Apa .. apa .. yang ingin kamu lakukan .... ?", tanya Yong Sae gugup. Dia sangat mengenal sifat Chae In yang keras. Jika sudah mengambil keputusan, gadis ini tidak bisa dianggap remeh.

"Lihat saja nanti ..  saya tidak akan membiarkan cewek tidak tahu diri itu merebut Yong Chan oppa dari kami, para fansnya ...", kata Chae In dengan nada suara yang sangat dingin dan datar.

Yong Sae mengangga. Dan sebelum dia mengeluarkan protesnya, Chae In sudah berlari keluar dari ruang kelas.

"Yaaaaaa .. Chae In .. tunggu dulu, kamu tidak bisa berbuat begitu .... yaaaaaaaaaa ...."

Yong Sae berteriak keras. Dia berlari keluar, bermaksud mengejar Chae In yang sudah lenyap dari hadapannya. Tetapi setelah sampai di lorong luar, dia tidak mendapati Chae In di sana. Gadis itu sudah benar-benar lenyap dari pandangannya.


**************


"Sebenarnya apa maumu? mengapa mengikutiku terus?", Choi Young bertanya dengan nada keras.

Sepasang matanya mendelik kearah Nathan yang berdiri termangu di hadapannya. Pemuda jangkung itu sama sekali tidak menyangka reaksi Choi Young akan sebesar itu terhadap tindakannya. Bibirnya bergerak tanpa ada suara yang terucap. Orang-orang di sekitar ruang rias itu mulai tertarik dengan pembicaraan mereka.

"Sebaiknya kamu menjelaskannya sekarang juga kepadaku ... setelah pertemuan pertama kali di restoran itu, kamu selalu seperti bayangan yang mengikutiku terus .. mengapa begitu? .. dan malam itu, mengapa juga kamu tiba-tiba memaksaku menemanimu ke pesta ulang tahunnya YT Entertainment? .. apa sebenarnya yang kamu inginkan? .. kamu jangan berharap bisa memperalatku, melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan?", pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Choi Young.

Matanya memancarkan kecurigaan besar. Nathan agak bergeser dari tempatnya. Sikapnya berubah dari terkejut menjadi kecewa. Kecurigaan Choi Young yang membuatnya kecewa. Nafas berat terhembus dari hidungnya yang mancung.

"Bisakah kita bicara di tempat lain?", akhirnya pertanyaan itu yang terucap dari bibirnya.

Dahi Choi Young berkerut. Diperhatikannya keadaan di sekelilingnya. Baru disadarinya kalau berpuluh pasang mata sedang memperhatikan gerak gerik mereka saat itu. Perlahan Choi Young mengangguk. Nathan kemudian memutar badannya kearah pintu dan berjalan keluar, diikuti oleh Choi Young dari belakang.


*************


"Lee Eun Hooo!! ... apa-apaan ini? ... bukankah kita sudah bersepakat untuk melakukannya bersama? mengapa sekarang kamu mengingkarinya?", Yong Chan mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu ke Eun Ho setelah berhasil menyingkirkan tangan Eun Ho dari mulutnya.

Eun Ho mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Kegelisahan dan perasaan bersalah mulai merasuki hatinya.
"Karena saya ... saya .. merasa apa yang dikatakan Mr. Bae ada benarnya ... ", jawabnya lemah.

Eun Ho tidak berani mengangkat wajah kearah Yong Chan. Dan selain jawaban itu, dia juga tidak bisa memberikan jawaban yang lain. Wajah Yong Chan mulai mengeras. Sinar matanya yang tajam terarah lurus ke wajah Eun Ho yang tertunduk. Perlahan matanya terpejam. Hembusan nafas yang sangat berat keluar dari hidung dan bibirnya.

Dia merasa putus asa dan tidak berdaya. Tenaganya sangat terkuras. Dengan gontai dia berbalik ke arah  berlainan dan berlalu dari situ.

Eun Ho memperhatikan gerak gerik Yong Chan dari sudut matanya. Kepalanya masih tertunduk. Perlahan dua butir air bening jatuh mengenai sneaker merahnya.


***************


Sepasang mata Dam Ah menyipit. Pandangannya dipertajam ke depan. Untuk ketiga kalinya dia baru mempercayai apa yang tertangkap oleh pandangannya. Tidak salah lagi, pemuda asing yang berada di depan pintu masuk cafe' kecil itu adalah Dillon Eyre. Pemuda tersebut tersenyum padanya.Ini merupakan pertemuan mereka yang ketiga kalinya setelah pertemuan terakhir.

"Miss Dam Ah ... ", sapa Dillon dengan senyum manisnya yang mempesona.

Dam Ah agak tersipu. Kedua pipinya mulai memerah. Entah mengapa jantungnya berdegup kencang.
"Hi .. ", balasnya pelan.

"Kamu kenapa? kepanasankah?", tanya Dillon. Keningnya berkerut dan kepalanya agak tertunduk sehingga wajahnya berada dalam jarak yang dekat dengan wajah Dam Ah.

Dam Ah mengeleng cepat dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Tidakkkk !! saya... saya baik-baik saja ..... dan ... bagaimana kamu bisa berada disini?"

Dillon masih tetap memperlihatkan senyumnya yang mempesona ketika menjawab pertanyaan Dam Ah.
"Saya tinggal di apartemen sana .... ", jawabnya sambil menunjuk ke apartemen bertingkat yang berada di sebelah gedung dimana cafe' tadi terdapat.

Tanpa mengeluarkan suara, Dam Ah mengikuti arah yang ditunjuk Dillon. Dillon kemudian mengembalikan perhatiannya lagi ke Dam Ah.
"Bagaimana denganmu? Apa yang kamu lakukan disini?", tanyanya lebih lanjut.

Dam Ah menghela nafas perlahan. Jawaban yang keluar dari mulutnya terdengar lemah dan tak bertenaga.
"Entahlah ....... saya hanya mengikuti kata hati, pikiranku sangat ruwet .. banyak sekali masalah yang terjadi akhir-akhir ini .... "

Dillon menatap Dam Ah dengan seksama. Ingin dia menanyakan masalah yang merisaukan gadis ini, tapi karena dia bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain maka pertanyaan itu tidak keluar dari mulutnya.
"Kamu ingat saya pernah mengatakan bahwa saya sedang mengikuti audisi yang dilakukan YT Entertainment dan StarVision buat pemeran Steve di drama terbaru 'My Love'  ... saya ingin memberitahukan ini kepadamu bahwa saya sudah lolos audisi buat peran itu .... ", Dillon berusaha mengalihkan perhatian Dam Ah dengan perkataannya ini.

Dam Ah terbelalak ...
"Ohhh benarkah? .. berarti ... kita akan bekerja di tempat yang sama .... "

Dillon mengangguk.
"Iya .. walaupun peran ini hanya peran pembantu, saya rasa tidak apa-apa .. ini akan merupakan awal yang bagus buat karirku .... oh ya kalau tidak salah, semula YT dan StarV bermaksud memberikan peran utamanya ke ... hmmm ... Yong Chan, ya namanya Goo Yong Chan .... tapi karena akhir-akhir ini banyak berita negatif tentang dirinya maka peran itu akan diberikan kepada aktor lain .... Dam Ah ssi, apakah kamu mengenal Goo Yong Chan?"

Wajah Dam Ah langsung menjadi buram ketika mendengar pertanyaan Dillon.
"Ya, saya mengenalnya ... saya mengenalnya dengan baik, bahkan baik sekali ... semuanya kesalahanku .. yang terjadi padanya adalah kesalahanku ..."

Kembali Dillon merasa hatinya seperti terhimpit batu besar. Usahanya untuk mengalihkan pembicaraan tadi sia-sia saja. Wajah Dam Ah meredup lagi.
"Oh ya,.. apakah kamu sudah makan?", tanya Dillon dengan suara yang dibuat seriang mungkin.

Dam Ah melebarkan matanya. Untuk sesaat kesedihannya tadi terlupakan.
"Hahhh ?", tanyanya dengan mulut mengangga lebar.

"Ayo, kita makan siang bersama ... ", ajak Dillon. Tawa perlahan keluar dari mulutnya. Melihat tampang ceria pemuda itu, Dam Ah langsung tersenyum simpul.


**************


Mr dan Mrs. Goo duduk berhadapan dengan Choi Yoon dan Yong Na. Mereka saling bertatapan untuk waktu yang cukup lama. Kedua orang tua Yong Na itu memperhatikan Choi Yoon dengan seksama.

"Kami rasa kamu tahu maksud undangan kami ini, nak Yoon ... ", Mr. Goo memulai pembicaraan mereka.

Choi Yoon menjadi tegang. Keringat dingin mulai mengalir keluar dari keningnya. Yong Na memperhatikan kedua orangtuanya dengan gelisah.

"Sebaiknya kami berterus-terang saja .... kalian juga menyadari kan kalau usia kalian sudah cukup untuk memulai suatu kehidupan yang lebih serius ... ", Mr. Goo melanjutkan perkataannya. Matanya menatap lekat ke Choi Yoon. Kemudian berpindah ke Yong Na.

Choi Yoon menelan ludah dengan susah payah. Sambil mengepalkan tangannya, dia mengambil keputusan bulat...
"Saya  tahu apa yang dimaksud anda, paman Goo .... dan sebenarnya masalah ini sudah saya pikirkan sejak  dulu .. hmm saya juga merasa sudah saatnya bagi saya dan Yong Na untuk memasuki kehidupan rumah tangga .. saya bersedia menikahi putri anda jika dia memang bersedia menikah denganku ...... "

Yong Na sangat terkejut. Matanya terbelalak lebar ke Choi Yoon. Dia sadar masalah ini yang akan dibicarakan appa dan ommanya dengan mereka.  Yang tidak disangkanya adalah Choi Yoon yang mengeluarkan itu terlebih dahulu.

"Bagus nak Yoon ! .. kami bahagia karena kamu mengetahui apa yang kami inginkan dan bersedia untuk melakukannya ... ", Mr dan Mrs. Goo saling berpandangan dengan senyum lebar tersungging di bibir.

"Tapi .. Yoon aa .... saya ... saya tidak ingin memaksamu dan ... "

Choi Yoon langsung mengenggam erat tangan Yong Na sehingga gadis itu tidak mampu meneruskan protesnya.
"Saya tidak merasa terpaksa ... saya sungguh ingin melakukannya .. sejak dulu saya sudah memikirkannya dan sekaranglah saatnya .. semuanya sudah kusiapkan, jadi Yong Na aa... maukah kamu menikah denganku? menjadi istriku?"

Bahu Yong Na terguncang. Airmata kebahagiaan mengalir keluar dari sudut matanya. Kepalanya terangguk perlahan. Mr dan Mrs. Goo memperhatikan adegan itu dengan terharu.


***************


"Sekarang jelaskan padaku apa maksud tindakanmu selama ini?", tanya Choi Young kepada Nathan, ketika mereka sudah berada di tempat yang cukup aman.

Nathan terdiam untuk beberapa saat. Kebingungan melandanya. Tapi beberapa menit kedepan, dia menyadari bahwa dia harus mengatakannya sekarang juga atau tidak sama sekali.
"Hmmmm .. sejujurnya sejak pertemuan pertama di restoran itu ... saya ... saya mempunyai suatu perasaan kepadamu ... saya tidak mengerti mengapa bisa begitu ... yang jelas bayanganmu selalu mengikutiku ... "

Choi Young sangat terkejut. Protes yang tadi hampir keluar dari mulutnya tertahan di tenggorokan.
"A ... a .. pa lagi maksud dari .. dari perkataan ini? ... saya ... saya tidak ... saya tidak mempunyai perasaan .. apa-apa .. ter .. terhadapmu .... ", jawab Choi Young terbatah-batah.

Nathan mengigit bibirnya dan tersenyum perlahan. Sudah disangka jawaban ini yang bakal keluar dari bibir Choi Young. Tapi satu hal yang tidak disangkanya. Ternyata jawaban itu tidak memberikan pukulan berat seperti yang dibayangkannya selama ini.
"Saya tahu .. saya tahu itu .. kamu .. kamu mencintai Yong Chan .. bukankah begitu?"

Sekali lagi Choi Young merasa terpukul dengan pertanyaan Nathan.
"Bagaimana .. bagaimana kamu bisa mengetahuinya?", tanyanya dengan sepasang mata terbelalak lebar.

"Waktu kamu mabuk di bar beberapa waktu yang lalu .. ", jawab Nathan cepat, kemudian dia melanjutkan lagi perkataannya, "Kamu mengatakan semuanya kepadaku .. bagaimana kamu menyukainya dan bagaimana kamu mulai jatuh cinta padanya ... "

Nathan memperhatikan reaksi Choi Young terhadap perkataannya. Sedangkan gadis di hadapannya menundukkan wajahnya. Sikap keras dan liarnya tadi hilang seketika. Semangatnya seakan runtuh saat itu juga. Gumaman pelan keluar dari bibirnya yang bergetar hebat.
"Yong Chan ... adalah milik Eun Ho ... bagaimanapun .. saya menyukai dan mencintainya .. saya .. saya tidak akan merebutnya dari tangan Eun Ho .... ", kemudian Kepala Choi Young terangkat ke Nathan. Dia melanjutkan perkataannya dengan sepasang mata redup, "Saya ingin kamu berjanji kepadaku untuk tidak membongkar rahasia ini .."

Nathan mengangguk. Apapun akan dilakukan untuk Choi Young. Karena dia sadar dengan melihat penderitaan Choi Young, hatinya juga akan merasa gulana.

Choi Young tersenyum melihat anggukan Nathan. Walaupun senyumnya terlihat terpaksa, paling tidak hatinya sudah agak baikan sekarang.
"Gumawo, Nathan aa ... maaf kalau saya menolakmu, .. untuk saat ini saya tidak ingin memikirkan semua masalah ini .... dan....sekarang saya merasa haus, bisakah kamu membelikan minuman buatku?"

Sekali lagi Nathan menganggukan kepalanya. Senyum ceria menghias bibirnya. Hatinya sudah bertekad untuk menunggu Choi Young. Dia akan melakukan semuanya bagi Choi Young, sampai gadis itu benar-benar siap menerima dia disisinya.
"Beres nona Young yang manis hehehe ... bagaimana pendapatmu dengan secangkir coklat panas ?"

Choi Young tertawa renyah.
"Ha .. ha .. ha... its perfect, Nathan Ssi ... "


****************


Eun Ho menyusuri lorong belakang gedung YT dengan kepala tertunduk setelah ditinggalkan Yong Chan tadi. Hatinya sedih dan terpukul. Semua peristiwa yang terjadi selama ini kembali bermain di pikirannya. Dia terus menerus menyalahkan dirinya dengan semua keputusan yang dilakukannya selama ini.

"Heiiii .. nona cantik di depan!! mengapa tampangnya seperti itu?"

Eun Ho menghentikan langkahnya dengan cepat. Kepalanya segera diangkat. Suara itu begitu dikenalnya. Dan benar saja, Jae Won sudah berdiri di depannya dengan jarak yang cukup dekat dan sambil tersenyum lebar kearahnya.
"Sunbae ...... ", panggil Eun Ho pelan.

"Ha .. ha ... ha .. mengapa si cantik jadi begini?", Jae Won mendekati Eun Ho dan mengetokkan tangannya ke jidat gadis itu.

"Sunbae .. mengapa ada disini?", Eun Ho balas bertanya. Sinar matanya memancarkan keheranan besar.

"Hari ini saya libur jadi ya .. datang menjenguk muridku yang manis ini dan  memberikan CD rekamanku yang sudah diliris ... tapi saya lihat sedang ada masalah yang terjadi denganmu ... ". Jae Won mengulurkan sekeping CD yang terbungkus rapi dengan tulisan "Kim Jae Won, the first best Golden Songs" yang besar tercetak di cover CD tersebut. Sedangkan pandangannya tidak lepas dari wajah Eun Ho.

Wajah Eun Ho langsung berseri. Diraihnya CD itu dari tangan Jae Won. Matanya bersinar ketika melihat tulisan yang tercetak di sana.
"Hebat .. sunbae memberikan ini padaku? ... ohhh chukae, Jae Won sunbae .... "

"Ahhh .. ini bukan apa-apa .... Eun Ho a, kamu belum jawab pertanyaanku ... masalahmu dan Yong Chan?"

Eun Ho langsung terdiam. Matanya yang bersinar perlahan meredup.
"Kami baik-baik saja .. "

"Kamu jangan berbohong padaku, Eun Ho aa ... saya sudah melihat semuanya tadi .... Jika kamu masih menganggap saya sebagai sunbae maka dengarkan nasehatku .... sifat Yong Chan gampang meledak, dan saya tahu bahwa kamu mengetahuinya, maka tugasmu untuk menjaganya, jangan sampai dia melakukan sesuatu yang akan membuatnya menyesal di kemudian hari ... ",

Eun Ho sedikit terpana dengan nasehat Jae Won. Bagaimana mungkin sunbaenya ini bisa mengenal Yong Chan dengan begitu baiknya? Kepala Eun Ho mengangguk perlahan. Senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Gumawo sunbae ... saya akan berusaha melakukan yang terbaik .. oh ya, bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama .. ya sebagai hadiah selamat dariku terhadap kesuksesan dilirisnya Golden CD ini .... ", Eun Ho mengangkat tangannya yang memegang CD ke Jae Won.

"He .. he .. i love it, Eun Ho ya ... but i can't .... saya sudah ada janji makan malam, tepatnya saya akan ke undangan perpisahan dengan sahabat baik ... ", jawab Jae Won.

Eun Ho agak kecewa mendengar jawaban Jae Won,
"Yaaaa .. kenapa waktunya bisa pas begini ... tapi wajah sunbae memperlihatkan kalau sunbae tidak begitu senang dengan acara itu ... "

Jae Won menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. Kepalanya mengeleng perlahan.
"Entahlah .... mungkin benar saya tidak menyukai acara itu .... "

Jae Won berusaha tersenyum ke Eun Ho. Tapi tidak berhasil. Eun Ho tahu ada sesuatu yang menganjal di balik senyum itu. Jae Won kemudian menepuk pelan bahu Eun Ho. Setelah pamitan, dia berlalu dari hadapan Eun Ho dengan langkah gontai.


**************


Yong Sae menyusuri jalan setapak taman kecil yang terdapat di samping sekolah dengan pikiran ruwet. Dia sangat khawatir. Apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh Chae In? Apa yang mungkin dilakukannya? Dia tahu jawabannya bahwa apapun itu, Chae In mampu melakukannya dan mungkin melakukannya.

Yong Sae mengeluarkan ponselnya. Diperhatikannya deretan nomor telpon lengkap dengan nama yang tersimpan di ponsel itu. 'Yong Chan oppa', Yong Sae mengeleng. Tidak!! tidak mungkin dia memberitahukan masalah ini ke oppanya. Kalau sudah mendengar ada orang yang akan mencelakai Eun Ho, oppanya itu pasti akan kehilangan kendalinya.

Yong Sae menyeret anak panah ke atas. 'Eun Ho unnie', kembali Yong Sae mengeleng. Ini lebih tidak mungkin lagi. Eun Ho onnie pasti akan ketakutan setengah mati jika mendengar kabar ini, seperti juga dirinya yang sudah ketakutan dan khawatir setengah mati.

Yong Sae menyeret anak panah di list itu lagi. 'Dong Wo oppa', Yong Sae tertegun. Nomor dan nama itu baru kemarin dimasukkan ke dalam ponselnya. Haruskah dia menelpon Dong Wo? Sebenarnya dia tidak ingin melakukannya, tapi saat ini selain Dong Wo tidak ada lagi orang yang tepat buat dimintainya untuk membantu dia mendiskusikan masalah ini.

Akhirnya Yong Sae mengambil keputusan bulat. Ditekannya nomor itu. Perlahan didekatkan ponsel itu ke telinga. Hubungan tersambung. Beberapa saat kemudian terdengar suara Dong Wo dari seberang.

"Yeoboseyo .... "
"Dong Wo oppa? .. ini Yong Sae, bisakah oppa menjemputku sekarang juga? saya ada masalah yang perlu diselesaikan dan selain oppa, saya tidak tahu harus membicarakannya dengan siapa lagi ... "
"Tapi sekarang saya sedang rapat ... "
"Jadi oppa tidak bisa datang sekarang juga .... saya .... huhhhhuhhhu ..... ", airmata dan isak tanggis mulai terdengar dari Yong Sae.
"Tunggu sebentar ..... heiii kamu jangan menanggis dulu ... saya akan datang sekarang juga ... kamu ada di mana?"
"Oppa bisa datang ..., benarkah? ... bagaimana dengan rapatnya?"
"Itu gampang, saya bisa menundanya .... jika tidak, bisa diwakili oleh yang lain, kamu tunggu saya ... kamu ada dimana?"
"Saya .. saya ada di taman dekat sekolah ... "
"Baiklah .. jangan kemana-mana .. saya akan tiba sepuluh menit kemudian ..."
"Gumawo, oppa ... ".[/i]

Yong Sae memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia mengambil tempat yang lebih nyaman sambil menunggu Dong Wo. Akhirnya dia menjatuhkan diri di bangku panjang yang terdapat di tengah taman itu.


***********


Dong Wo tiba sepuluh menit kemudian. Tepat seperti yang dijanjikannya ke Yong Sae. Dia mendapati Yong Sae sedang duduk tertunduk di bangku panjang di tengah taman itu.
"Adik kecil .... ", sapa Dong Wo pelan.

Yong Sae mengangkat wajahnya. Kelegaan langsung tersirat dari wajahnya yang sendu.
"Dong Wo oppa .... ". Yong Sae tidak bisa menahan kegundahannya lagi. Dia bangkit dan memeluk Dong Wo erat-erat. Isak tanggis meledak dari mulutnya.

"Heiiii ... ada apa? ... haaa... dongseng a .... ", Dong Wo menepuk pelan punggung Yong Sae tanpa tahu harus berbuat apa. Wajahnya berkenyit. Dia hanya bisa membiarkan Yong Sae melampiaskan semua perasaan yang bekecamuk lewat pelukannya.

Setelah perasaannya agak terkendali Yong Sae melepaskan pelukannya dari Dong Wo. Dihapusnya aimata yang masih mengalir dengan punggung tangannya. Melihat itu Dong Wo memberikan saputangan ke Yong Sae.
"Rumit, oppa aa ... saya sangat takut ... ", Yong Sae menerima saputangan dari Dong Wo sambil menceritakan semua masalah yang telah terjadi termasuk ancaman dari Chae In.

"Maksudmu .. teman sekelasmu itu mengancam akan melakukan sesuatu terhadap Eun Ho ... ?", tanya Dong Wo. Sepasang matanya menyipit.

"Iya. .... huhhhhuhhh lalu .. apa yang harus saya lakukan?", Yong Sae seakan bertanya kepada dirinya sendiri.

"Berdasarkan semua penjelasanmu, berarti benar gosip dari oppamu yang berkencan dengan Eun Ho?", Dong Wo mengajukan pertanyaan lagi. Pandangannya terarah ke Yong Sae. Ada tekanan dari pertanyaan itu yang tidak tertangkap oleh Yong Sae.

Yong Sae tidak menjawab. Dia hanya bisa mengangguk. Isak tanggis masih terus terdengar dari mulutnya. Dong Wo menghela nafas panjang. Hatinya sangat tertekan. Ini untuk yang kesekian kalinya. Dan kali ini dia tahu perasaannya harus dimatikan. Dia tidak mungkin berharap bisa mendapatkan Eun Ho. Demi kebahagiaan Eun Ho, dia harus mampu melakukannya.

"Jangan khawatir dongseng aa ... saya tidak akan membiarkan sesuatu terjadi dengan oppamu, begitu juga dengan Eun Ho dan yang lebih penting lagi, saya tidak ingin melihatmu bersedih terus seperti ini .... saya akan menyuruh orang mengikuti dan mencegah tindakan tidak diinginkan dari teman sekelasmu itu .... "

Mendengar perkataan Dong Wo, Yong Sae tertegun. Dipandanginya pemuda itu dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan, seperti juga perasaan yang dirasakannya saat itu, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Dong Wo tersenyum. Senyuman yang menenangkan.

Kemudian ditariknya tangan Yong Sae sehingga berdiri dari tempat duduknya.
"Sekarang sebaiknya kita makan siang bersama ... setelah sarapan tadi pagi, saya belum makan apa-apa, saya tidak mau lagi mengunjungi onniemu dengan sakit maag yang memalukan ... "

Yong Sae langsung tertawa terbahak mendengar perkataan Dong Wo. Pemuda di depannya mengerutkan alisnya. Perkataannya tadi sangat serius. Dia tidak menyangka akan ditertawakan sebegitu hebatnya oleh Yong Sae. Dong Wo mengangkat tangan dan membekap mulut Yong Sae. Suara tawa yang keras masih terus terdengar walaupun Dong Wo sudah membekap erat mulut gadis remaja itu.
"Hentikan tawamu atau saya akan meninggalkanmu sekarang juga .... ", ancam Dong Wo dengan tampang cemberut.

Yong Sae mengangguk cepat. Dia berusaha menahan ketawanya dengan susah payah. Pipinya sampai mengembung karena usaha tersebut. Melihat itu, tawa Dong Wo langsung meledak.  Butiran air sampai menyemprot keluar dari mulutnya.

"IIIiiiiiiiiiiii ..... oppa, kamu menjijikkan .... ", teriak Yong Sae. Dong Wo semakin memperkeras tawanya.


**************


Malam harinya ...............
Jae Won memisahkan diri di pojok ruangan. Acara perpisahan itu cukup ramai. Tuan rumah, Song Hye Jin tampak mempesona dengan gaun panjang dari sutra hitam. Choi Young datang dengan seorang pemuda berperawakan tinggi yang tidak asing baginya. Tadi Choi Young menyapanya. Jae Won agak kaget dengan tindakan Choi Young itu. Tidak disangkanya gadis itu akan memulai itu terlebih dahulu. Malam ini dia terlihat berseri. Mungkin semua masa lalu itu sudah terlupakan olehnya.

Jae Won mengamati anggur di tangannya dengan pikiran menerawang. Detak sepatu berhak tinggi samar-samar terdengar mendekatinya. Kepala Jae Won terangkat. Song Hye Jin berdiri tepat di hadapannya. Gaun tipis berwarna hitam yang membalut tubuhnya semakin memperlihatkan kulit mulusnya.
"Kamshamida, Jae Won aa ..... ", kata Hye Jin pelan. Sinar matanya tidak sepadan dengan dandanannya yang menarik. Sinar mata itu begitu redup dan suara itu begitu mengetarkan hati.

"Hmmmm  .... untuk apa?", tanya Jae Won dengan suara serak.

"Karena .... karena kamu ... bersedia .. meluangkan waktu ... menghadiri pesta perpisahan ini .... ", jawab Hye Jin. Perkataannya terputus-putus. Ada sesuatu yang merisaukan hatinya.

"Sama-sama ....., sebenarnya hari ini saya libur jadi ... kamu tidak perlu berterimakasih kepadaku, .... saya tidak meluangkan waktu dengan sengaja .... "

Hye Jin mengangguk pelan. Dia agak kecewa dengan perkataan Jae Won.
"Liburan semesterku sudah selesai jadi saya harus kembali lagi ke Australia ... mungkin bakal lama bagiku untuk  menginjakan kaki lagi di Korea .... "

Jae Won hanya bisa membisu mendengar penjelasan Hye Jin.

"Won aa .... ", panggilan Hye Jin begitu mengetarkan jiwa.

Jae won mengalihkan perhatiannya ke Hye Jin, ..
"Apa .... ?', tanyanya.

"Bolehkah .. saya ... saya mengajukan sebuah .. sebuah permintaan?", Hye Jin membalas tatapan Jae Won. Kedua anak muda itu saling berpandangan. Sangat lekat, seakan tidak bisa berpaling lagi satu sama lain.


~Ending Chapter~


EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun