Author Topic: *LOVE & CAREER* (Lovelyn, Miny and Luveliprincess) ~ chp 30 (final) '20 Nov 10  (Read 19475 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
CHAPTER 23 ~Luveliprincess

"Bolehkah .. saya ... saya mengajukan sebuah .. sebuah permintaan?", Hye Jin membalas tatapan Jae Won. Kedua anak muda itu saling berpandangan. Sangat lekat, seakan tidak bisa berpaling lagi satu sama lain.

“Permintaan?” Tanya Jae Won bingung.

Hye Jin menganggukan kepalanya.”O”

“Apa itu?”

“Bisakah kau luangkan satu hari saja untuk bersamaku?”

“Ne? Untuk apa?” Jae Won makin merasa bingung dengan pertanyaan yang diajukan Hye Jin

“Kencan..” Ujar Hye Jin sambil menundukan wajahnya yang mulai memerah.
Jae Won menatap Hye Jin dengan setengah percaya. Mulutnya sedikit menganga sakit kagetnya.

“Ke..kencan..?”

Hye Jin mengangguk lagi. Matanya diam diam menatap mata Jae Won dengan malu – malu. Perasaannya tidak karuan. Malu, sekaligus takut. Takut karena Jae Won menolak ajakannya. Hye Jin membalikan badannya sebentar. Sehingga dia membelakangi Jae Won. Lalu dia mengetuk ngetuk kepalanya dengan tangan.

“Pabo..Pabo.. Song Hye Jin, kau benar – benar bodoh. Mengapa tiba – tiba mengajak kencan?”

Tiba – tiba saja terdengar jawaban Jae Won di belakangnya. “OK”

Hye Jin membalikan badannya lagi dengan cepat, lalu ia menatap Jae Won yang kini tengah tersenyum manis ke arahnya. “Mworaguyo?”

“O-Ke.. Mari kita kencan..” Kata Jae Won mantap. Senyuman langsung mengembang di bibir Hye Jin. Keduanya lalu tersenyum.


*******

Keesokan harinya.
Eun Ho, Yong Chan, Choi Yoon dan Yong Na tengah makan siang bersama di sebuah restaurant dekat YT entertainment. Mereka berbincang – bincang riang sambil menyantap hidangan mereka.

“Bagaimana masalahmu Yong Chan-a.. Apakah sudah selesai?” Tanya Yong Na sambil memotong daging steaknya dengan anggun.

“Tentu saja belum. Aaahh entahlah, keadaannya menjadi semakin rumit. Mr. Bae tidak mengijinkan aku untuk keluar dari dunia Entertainment” Jawab Yong Chan sedikit kesal.

“Muo? Kau ingin keluar dari dunia yang membesarkan namamu?” Yong Na terperangah kaget, begitu pula dengan Choi Yoon.
Yong Chan sudah mengira reaksi kakaknya akan seperti ini. Lalu dia melanjutkan perkataannya.

“Kenapa? Aku memang sudah muak dengan semua ini. Mereka memang membesarkan namaku, tapi mereka juga yang menghancurkan hidupku”
Eun Ho terdiam dan meneguk minumannya perlahan. Dia tahu Yong Chan sangat keras kepala. Maka dia tidak akan membantah perkataan Yong Chan. Yong Na menatap adik lelakinya itu dengan kasih sayang.

“Tapi Yong Chan-a.. Kau tidak bisa begitu saja pergi dalam keadaan seperti ini..”

“Kenapa?” Potong Yong Chan cepat

“Jika kau seperti ini, sama saja seperti kau lari dari kenyataan. Masalah ini harus dihadapi Yong Chan-a.. bukan dihindari. Jika kau berhenti karena hubunganmu dengan Eun Ho, kau sama saja melepas tanggung jawabmu. Harusnya kau tunjukkan pada mereka bahwa hubunganmu dan Eun Ho, tidak akan mempengaruhi ke-professional-an kalian dalam bekerja…” Nasehat Yong Na

“Kakakmu benar Yong Chan-a..” Sahut Choi Yoon “Apakah kau mau hasil kerja kerasmu sekarang ini hancur dalam sekejap mata hanya karena keegoisanmu semata?”

Yong Chan terdiam. Eun Ho menatap pamannya itu dengan sungguh – sungguh.

“Aku tahu kalian sangat mencintai, tapi pikirkanlah lagi. Aku setuju dengan Yong Na, tunjukkan pada mereka bahwa cinta kalian tidak akan mempengaruhi pekerjaan kalian”

Yong Chan ingin membantah, namun kali ini Eun Ho angkat bicara. “Benar kata paman Yoon dan Kakakmu Yong Chan. Kita tidak bisa meninggalkan masalah ini begitu saja. Kita harus tunjukkan bahwa kau dan aku memang benar – benar serius”

Yong Chan langsung terdiam sambil menatap Eun Ho sebal. Eun Ho hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku Yong Chan.

“Ah, lebih baik kita bicarakan yang lain. Aku ada kabar gembira untuk kalian..” Ujar Choi Yoon mencoba untuk merubah suasana.

“Benarkah? Apa itu?” Tanya Eun Ho antusias.

Choi Yoon mengambil tangan Yong Na kedalam genggamannya, lalu dia memamerkan jari manis tangan kanannya dan tangan kanan Yong Na yang sudah terhiasi oleh cincin emas putih yang berkilauan kepada Eun Ho dan Yong Chan.

“Omo..? Jangan bilang……” Eun Ho menutup mulutnya kaget. Sementara Yong Na berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“O.. Kita akan menikah..” Sahut Choi Yoon.

Mata Yong Chan terbelalak menatap Kakak perempuannya. “Noona.. Kau…”

Yong Na menatap adiknya dengan tatapan bingung. “Wae?”

“Kau tidak hamil kan?” Lanjut Yong Chan polos.

Tawa Choi Yoon dan Yong Na langsung meledak. Yong Chan masih memandangi mereka dengan raut wajah yang kaget.

“Tentu saja tidak Yong Chan-a.. Kau ini gila ya…?” Jawab Yong Na.

“Tapi mengapa ini… begitu tiba – tiba?” Tanya Yong Chan lagi.

“Kami sudah memutuskannya, Usia aku dan Yong Na sudah sangat cukup untuk meneruskan ke jenjang pernikahan..” Choi Yoon mencoba menjelaskan.

“Lagipula, sepertinya Ayah dan Ibumu memang sudah tidak sabar ingin menggendong cucu..”

“Yoon-a…” Yong Na memukul bahu Choi Yoon pelan. Choi Yoon tertawa dan malah makin menggoda Yong Na. Eun Ho tersenyum melihat tingkah laku mereka.

“Chukae Noona.. semoga kau berbahagia dengan pamanku..”

“Gomawo Eun Ho-ya.. Kau juga harus berbahagia dengan Adikku..”

Eun Ho tersenyum. Sementara Yong Chan mengerutkan keningnya sambil berpikir keras.

“Berarti, Kakak perempuanku adalah istri dari paman dari kekasihku? Waahh.. ini benar – benar rumit..” Katanya

Eun Ho, Yong Na dan Choi Yoon pun tertawa melihat tingkah laku Yong Chan yang kebingungan.


*****

Sore itu Dam Ah sedang dirias untuk melakukan pemotretan. Dia mendapatkan tawaran untuk menjadi model catalog sebuah brand yang cukup terkenal. Koleksi baju yang dimiliki brand tersebut memang sangat populer.

“Bagaimana, sudah siap?” Tanya Sang Fotografer pada Dam Ah.

Dam Ah yang baru saja selesai dirias mengangguk mengiyakan.

“Baiklah,mari kita mulai”

Dam Ah berpose di depan kamera. Lampu blitz menyinarinya berkali kali. Sementara sang Fotografer memotret setiap gerakan yang Dam Ah lakukan dengan natural.

Setelah 2 jam kemudian, akhirnya pemotretan itu selesai. Dam Ah tengah memakai model pakaian untuk musim dingin sekarang. Senyuman puas
mengembang dari bibirnya.

“Ya, selesai. Terima kasih atas kerja samanya.” Kata si Fotografer pada Dam Ah. Sementara Dam Ah menganggukan kepalanya.

“Kamsamnida..Kamsamnida..” Ujar Dam Ah pada kru lain.

“Kerja yang bagus..” Ujar seseorang. Dam Ah menoleh kaget melihat si pemilik suara itu. “Dillon-ssi..”

Dillon, yang ternyata daritadi berada disitu tersenyum kepada Dam Ah.

“Mengapa kau ada disini?” Tanya Dam Ah bingung.

“Aku ingin melihatmu..”

“Melihatku..?”

Dillon mengangguk sambil tersenyum manis. Wajah Dam Ah mulai memerah. Entah kenapa, lubang di dadanya kini mulai kembali pulih perlahan. Itu semua berawal dari saat ia berjumpa dengan Dillon. Dan dia kini tahu, mungkin Dillonlah penawar rasa sakit itu.

“Kenapa melamun?” Tanya Dillon

“Ah.. Tidak.. Aku hanya.. kaget melihatmu disini..”

“Jangan kaget.. lain kali kau harus terbiasa atas kehadiranku di sampingmu..”

“Ne?” Pernyataan Dillon membuat Dam Ah bingung. “Tidak.. “ Sahut Dillon. Lalu dia tersenyum dan merangkul bahu Dam Ah,”Ayo kita minum teh..”

Dam Ah kembali tersenyum. “Sebentar, aku ganti baju dulu..”


*****

Matahari mulai hilang di kegelapan malam. Lampu – lampu berpijar menerangi pusat kota Seoul. Membentuk sebuah bintang – bintang yang gemerlapan seperti bintang di langit.

Jae Won mengemudikan mobilnya, membelah jalan raya yang bising dengan bunyi kendaraan. Atap mobilnya dibiarkan terbuka, sehingga angin malam berhembus menyapu rambutnya yang berkibaran. Wajahnya tersenyum, namun entah kenapa raut duka di wajahnya tidak bisa ditutupi. Dia merasa akan kehilangan sesuatu. Sesuatu yang tidak sadar telah dia rindukan selama ini.

Di sampingnya, Hye Jin sedang menikmati udara malam dengan memejamkan matanya. Tangan kirinya terulur ke samping seakan – akan ingin merasakan wujudnya angin.

“Waaahh.. Aku pasti akan merindukan udara malam di Seoul..” Katanya masih dengan mata terpejam.

“Kau suka dengan kencan kita hari ini?” Tanya Jae Won. Hye Jin membuka matanya, lalu mengangguk senang. “Tentu saja..” Katanya

Mereka memang habis berkencan, sesuai dengan permintaan Hye Jin pada pesta perpisahan itu. Mereka pergi ke berbagai macam tempat, dari Taman
Hiburan, Pertunjukkan Film, dan makan malam di sebuah Restaurant mewah.

“Pergi kemana lagi kita?”

“Apa? Kau masih ingin pergi..?” Tanya Jae Won.

“Tentu saja, Bagaimana jika kita ke Gedung 63?”

“Gedung 63? Untuk apa?”

“Tentu saja untuk melihat pemandangan malam kota..”

“Baiklah..” Jae Won mengalah. Dia pun menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilnya menuju kesana.


******




(ki) 63 Building (ka) Han River at night from 63 building

“Waaaahhhhh cantiknyaaaaa…..” Teriak Hye Jin senang. Beberapa orang sampai menoleh karena teriakannya.

“Sssssttt.. Jangan teriak – teriak.. “ Sahut Jae Won. Namun Hye Jin tidak mendengarkan. Dia sibuk berkeliling ruangan untuk melihat pemandangan malam Seoul dari ketinggian. Dia mencoba sebuah teropong yang telah tersedia disana dengan senang. Sementara Jae Won memperhatikannya dari jauh sambil tersenyum melihat tingkah Hye Jin yang kekanak-kanakan.

Setelah kurang lebih setengah jam berada disana. Jae Won pun mengajak Hye Jin pulang. Pengunjung yang ada disana pun hanya tinggal beberapa orang saja.

“Ayo kita pulang, disini sangat membosankan..”

“Tunggu.. masih ada 1 Jam lagi sampai jam 12 malam” Sahut Hye Jin bersemangat.

“Cih..kau pikir kau Cinderella yang jam 12 malam harus kembali pulang?” Ejek Jae Won.
Hye Jin yang masih memandangi sungai Han yang berada di bawahnya dengan sedih.

“Ya, Aku mungkin seperti Cinderella. Bedanya dia akan menemukan cinta sejatinya setelah itu, tetapi aku tidak. Aku tidak akan pernah menemukan cinta sejatiku..”

“Wae? Kenapa tidak?

“Karena aku harus pergi kan.. Jadi tidak ada lagi orang yang akan mencariku untuk mengembalikan sepatuku yang hilang, atau orang yang mencariku untuk menjadikanku pendamping hidupnya”

Jae Won menatap Hye Jin yang kini kelihatan bersedih. Entah kenapa perasaannya pilu melihat Hye Jin yang seperti itu. Tapi disisi lain dia merasakan suatu kekuatan baru, suatu kekuatan untuk menahan Hye Jin pergi, karena dia tahu rasa kehilangan yang dia rasakan adalah karena Hye Jin akan pergi.

“Hye Jin-a…Aku…”

Tiba – tiba datang seorang wanita ke arah mereka, “Maaf Tuan, waktu berkunjung sudah habis. Kami akan segera tutup” katanya sambil tersenyum ramah.

“Ah, Baiklah..” Jawab Jae Won. “Ayo kita pergi..” Ajak Jae Won. Kali ini Hye Jin menurut. Mereka pun segera menuju Lift untuk turun.
Sesampainya dibawah, Jae Won langsung menggenggam tangan Hye Jin erat. Hye Jin sempat kaget dengan perlakuan Jae Won padanya, namun dia diam saja. Membiarkan langkahnya mengikuti langkah Jae Won menuju pinggir sungai Han yang memang berada di sekitar Gedung 63.

“Baiklah, 1 jam lagi kita habiskan disini..” Ujar Jae Won.

Mereka berjalan perlahan menyusuri sungai. Angin bertiup cukup kencang saat itu, sehingga Hye Jin memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan. Jae Won yang melihat itu langsung membuka blazer hitamnya dan mengenakannya di tubuh Hye Jin.

Mereka duduk duduk di pinggir sungai, membiarkan waktu mengalir begitu saja. Saling terdiam menatap sungai yang tertimpa oleh kilauan cahaya sehingga memantulkan cahaya keemasan seperti bintang – bintang.

Waktu terus berjalan tak kenal lelah. Tidak terasa jam sudah menujukkan pukul 12 malam tepat.

“Nah, sudah jam 12 malam. Waktunya telah habis. Aku harus pulang” Kata Hye Jin seraya beranjak berdiri. “Terima kasih telah mengabulkan permintaanku Jae Won-a.. Aku akan selalu mengingat hari ini..”

Hye Jin menatap Jae Won dengan sedih. “Aku pergi…”

Hye Jin pun berbalik meninggalkan Jae Won. Namun tiba – tiba tangannya di tahan oleh Jae Won.

“Kajima..” Katanya lirih. Hye Jin menghentikan langkahnya. Dia terpaku sesaat mendengar perkataan Jae Won.

“Kajima Hye Jin-a…” Ujar Jae Won lagi.

Hye Jin membalikan tubuhnya perlahan. Matanya mulai berkaca – kaca. Jae Won menatap Hye Jin dengan sungguh – sungguh. Keduanya beradu dalam sebuah perasaan yang tidak mampu dilukiskan dengan kata – kata.

“Kau.. bilang apa?” Tanya Hye Jin pelan.

“Aku mohon jangan pergi…”

Air mata menetes lembut di pipi Hye Jin. Dia tahu, hal itulah yang ingin di dengar dari mulut Jae Won. Di tahu, bahwa sesungguhnya dia pun tidak ingin meninggalkan Jae Won.

“Aku.. aku…” Hye Jin tidak sanggup mengatakan apapun.

Tiba – tiba Jae Won meraih tubuh Hye Jin ke dalam pelukannya. Di dekapnya Hye Jin dengan erat. “Aku menyukaimu..Aku tidak ingin kau pergi…” bisiknya

Air mata Hye Jin mengalir deras. Sepertinya dia baru saja meluapkan perasaannya. Dia meraih tangannya untuk memeluk Jae Won juga.. “Aku juga menyukaimu..sungguh menyukaimu…” katanya.


*****

Keesokan harinya. Di bandara.

“Kau yakin tetap ingin pergi?” Tanya Choi Young.

Hye Jin mengangguk. “Aku juga tidak ingin, tapi aku kan harus kuliah”


“Lalu bagaimana dengan.. Well, Jae Won?” Masih ada perasaan canggung pada diri Choi Young ketika menyebutkan nama Jae Won.

“Dia mau mengerti, lagipula aku akan sering menghubunginya. Dia juga berjanji untuk mengunjungiku jika dia sedang libur”

“Lalu dimana dia sekarang? Mengapa dia tidak mengantarmu?”

“Tidak, aku tidak mengijinkan dia mengantarku. Aku takut dia sedih..”

“Waaaah wahh.. sepertinya hubungan kalian berkembang dengan cepat” Goda Choi Young. Hye Jin hanya tersenyum mendengarnya.

“Lalu bagaimana dengan kalian?” Tanya Hye Jin sambil melirik kea rah Nathan yang kebetulan menemani Choi Young untuk mengantar Hye Jin.

“Bagaimana apanya?” Choi Young malah balik bertanya.

“Jangan pura – pura. Kelihatannya kalian serasi..” Goda Hye Jin.

Nathan yang mendengar itu tersenyum senang. “Benar kan Hye Jin-ssi? Sayang, Nona Choi Young ini tidak menyadari betapa tampannya diriku..” Canda Nathan sambil merangkul bahu Choi Young.

Choi Young langsung melepaskan rangkulan Nathan sambil cemberut. Sementara Hye Jin hanya bisa tertawa melihat tingkah Nathan dan Choi Young.

“Dengar Young-a.. Sudah saatnya kau mencari orang yang bisa menjagamu. Dan aku rasa Nathan benar – benar pasangan yang tepat..” Hye Jin menasehati Choi Young.

“Cih, Nathan-ssi.. kau membayar temanku berapa hah, sampai dia memuji mujimu seperti itu?” Cibir Choi Young.
Mata Nathan membesar ketika mendengar itu. Lalu dia tertawa terbahak – bahak. “Hahaha, sepertinya rencana kita ketahuan Hye Jin-ssi..”


*****

Yong Sae mempercepat langkahnya. Tangannya sibuk memegang ponsel, mencoba menghubungi ponsel kakaknya, Yong Chan. Namun berkali – kali ia menelpon tapi tidak di angkat juga. Oppa pasti sedang latihan. Pikirnya.

Hari ini Yong Chan sedang syuting film “The Sword” untuk beberapa adegan terakhir. Film itu memang sebentar lagi selesai. Walaupun sempat mengalami penurunan rating ketika skandal Yong Chan – Eun Ho mencuat. Namun akhirnya kembali menjadi stabil.

Yong Sae mempercepat langkahnya lagi. Dia memang harus mengantarkan sebuah kostum untuk Yong Chan, kebetulan Yong Chan lupa membawanya. Padahal itu akan dipakai untuk syuting nanti.

Lokasi syuting berada di sebuah studio sebuah rumah produksi yang tidak jauh letaknya dari rumah Yong Chan. Namun karena Yong Chan harus latihan, maka ia tidak sempat mengambilnya sendiri. Jadi ia menyuruh Yong Sae untuk mengantarkannya.

Yong Sae kebingungan mencari studio yang digunakan untuk syuting. Kepalanya celingukan melihat seseorang yang barangkali saja dia kenal. Tiba – tiba saja ada yang menepuk bahunya dari belakang.

“Kenapa kau ada disini?” Tanya seseorang. Yong Sae berbalik cepat. Ternyata orang itu adalah Dong Wo.

“Dong Wo oppa? Apa yang oppa lakukan disini?” Yong Sae balik bertanya.

“Itu pertanyaanku..”

“Aaahh.. iya.. aku harus mengantarkan kostum ini kepada kakakku, tapi aku tidak tau studio mana yang dia gunakan untuk syuting..” Jawab Yong Sae

“Ooh..” Dong Wo mengangguk. “Sini ku antar..” Ujarnya lagi.

Yong Sae mengikuti Dong Wo dari belakang. Dia memperhatikan punggung laki – laki di depannya itu dengan seksama. Dia memiliki punggung yang indah. Pikir Yong Sae.

“Oppa.. Oppa belum jawab pertanyaanku. Oppa sedang apa disini..” Tanya Yong Sae penasaran.

“Aku…”

“Dong Wo-ssi?” tiba – tiba seorang perempuan memanggil Dong Wo. Yong Sae menoleh, ternyata dia Eun Ho. “Aah.. Yong Sae-ya.. kenapa kau ada disini?” Tanya Eun Ho lagi.

“Dia mengantarkan kostum Yong Chan.. “ Kata Dong Wo cepat.

Yong Sae yang dipotong pembicaraanya langsung menatap Dong Wo heran. Dilihatnya laki – laki itu memandang Eun Ho dengan pandangan yang tidak biasa. Seolah matanya memancarkan sinar yang begitu hangat.

“Aah, begitu.. Mari, kita kesana bersama..” Ajak Eun Ho

Sesampainya di studio yang dimaksud, Eun Ho langsung menghampiri Yong Chan, membisikkan sesuatu padanya. Dong Wo membuang mukanya ketika ia melihat itu.

“Aaahh, , uri dongsaeng Yong Sae.. kau sudah datang?” Seru Yong Chan menghampiri Yong Sae dan Dong Wo.

Yong Sae mengangguk. “mm.. ini pakaianmu Oppa..”

“gomawo Yong Sae-ya..” Yong Se mengangguk lagi. Lalu Yong Chan melanjutkan perkataannya. “Yong Sae, 2 jam lagi aku akan selesai. Apakah kau
mau menungguku? setelah itu kita bisa pulang bersama..”

“hmm..Aku..” gumam Yong Sae sambil berpikir.

“Tunggu saja Yong Sae-ya.. Aku akan menemanimu..” Kata Dong Wo.

Yong Sae melihat Dong Wo ragu, lalu melihat Yong Chan. “Baiklah..”

“Dong Wo-ssi, tolong jaga adikku. Aku harus mulai syuting” Pinta Yong Chan pada Dong Wo

“Tentu saja..”

Yong Chan mengusap kepala Yong Sae sebentar, lalu ia dan Eun Ho pun segera menuju lokasi untuk memulai syuting.
Studio sudah disulap menjadi sebuah istana pada jaman kerajaan dan Rumah – rumah tradisional korea.

Sementara syuting dimulai, Dong Wo dan Yong Sae duduk di sebuah bangku sambil menonton adegan demi adegan. Yong Sae sangat antusias melihat kakaknya. Dia memang jarang melihat syuting kakaknya langsung seperti ini.

“Wah, Oppa benar – benar hebat..” Katanya

Dong Wo tersenyum. Lalu kembali melihat jalannya syuting. Kini mereka sedang mengambil adegan sedih Eun Ho dan Yong Chan. Atau lebih tepatnya Su Ah dan Yeong Jae.

Yeong Jae harus pergi untuk berperang, sedangkan Su Ah, harus rela melepaskannya.

“Aku harus pergi Su Ah-ya.. “ Ujar Yong Chan sambil menggenggam tangan Eun Ho.

“Baiklah, aku akan melepaskanmu. Tapi kau harus janji padaku, kau harus kembali dengan selamat..” Kata Eun Ho

Yong Chan mengangguk. Lalu dia mencium kening Eun Ho dan memeluknya erat.

Sementara itu, Dong Wo yang melihat adegan itu, merasa sangat sedih. Wajahnya terlihat sendu. Diam – diam Yong Sae memperhatikannya. Dan entah
kenapa, dia pun merasa sedih. “Oppa.. apa kau benar – benar menyukai Eun Ho Onni?” Tanya Yong Sae dalam hati.


*******
END CHAPTER

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun