“Tadi itu kau dan Ji Hoo hanya pura-pura berpacaran bukan? Entah apa alasan kalian tapi aku tidak mau ambil pusing. Yang jelas kau sudah resmi jadi milik ku. Jika ada yang berani ngaku-ngaku sebagai pacar mu, tidak akan berlaku karena hak paten atas dirimu ada sepenuhnya di tangan ku” vonis doronim dengan pandangan menusuk.
“Ma … maksud doronim?” tanya ku.
“Pacar mu itu hanya aku” jawab doronim dengan 1001 keyakinan.
“Se … sejak … kapan … kita pacaran?” tanya ku lagi.
“Sejak kau membalas ciuman ku” jawaban doronim meronakan sepasang pipi ku.
“Ne?” aku berlaga lupa.
“Saat pertama kali aku mencium mu, kau tidak menolak bukan? Kau bahkan membalas ciuman itu” ujar doronim.
“Itu … itu … karena …” aku kehabisan kata-kata.
“Waeyo? Mau mengelak? Ingin membantah perasaan mu sendiri?” cecar doronim.
“…” aku sungguh kehabisan kata-kata.
“Akan ku buktikan kalau kau suka pada ku” ucap doronim.
Dengan cepat doronim merangsek maju menuju bibir ku. Ku palingkan wajah ke kiri, doronim tetap berusaha mendekati. Ku buang wajah ini ke kanan, doronim pun masih gigih mencumbui.
“Doronim … andwe …” pekik ku di sela-sela gempuran doronim.