Masih ingat kah sama FF ini? Sudah lupa? Baca lagi deh dari awal LOL
CHAPTER 3 PART 2Cahaya oranye itu mulai masuk menerobos jendela menuju wajah polos seorang Goo Hye Sun yang sedang tertidur lelap. Hye Sun mengedip-ngedipkan matanya saat ia merasakan silaunya cahaya oranye itu memasuki alam tidurnya.
“Hooooaaaa” Hye Sun terbangun dari tidurnya. “Sudah jam tujuh.” Kata Hye Sun dengan santai saat melihat jam di samping tempat tidurnya. Tidak ada pekerjaan yang penting hari in untuknya, ia hanya tinggal menunggu kabar dari SMC tentang interview kemarin, apakah ia akan diterima atau tidak.
“Apa yang harus kulakukan hari ini?” Hye Sun bertanya pada dirinya sendiri, ia tidak pernah merasa sebebas hari ini. “Donghae, pasti ia sudah pergi ke studio, ya sudahlah aku mandi saja dulu.” Hye Sun beranjak pergi menuju kamar mandi, entah apa yang akan ia lakukan setelah mandi nanti.
---o0o---
Rumah Mino
“Masih marah pada appa?” Mino bertanya pada peri kecilnya yang sedang sibuk memasukan buku-bukunya ke dalam tas mungilnya.
“Anni.” Jawab Ye Eun dengan senyuman. “Ayo, appa kita pergi sarapan.” Ye Eun menarik tangan appanya, sepertinya Ye Eun sudah melupakan masalah yang kemarin. Senyuman bahagia tersungging di wajah Mino, inilah yang ia suka dari peri kecilnya. Ye Eun tidak pernah berlarut-larut marah pada seseorang. Ia hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya untuk melupakan semua masalah yang membuatnya kesal.
“Ne, kachaaaaaaa !” Mino dan Ye Eun pergi ke ruang makan dan siap untuk menyantap sarapan mereka.
---o0o---
Studio
“Donghae-a bagaimana dengan interview Hye Sun kemarin? Apakah lancar?” Eun Hye bertanya pada Donghae sambil membersihkan kameranya.
“Ya, dia bilang semua lancar-lancar saja.” Jawab Donghae dengan senyum.
“Ooo” Eun Hye mengiyakan. “Hei, Lee Donghae apakah kau masih menyimpan perasaan pada Hye Sun.” Eun Hye mengeriyitkan alisnya. Entah apa yang membuat Eun Hye tiba-tiba bertanya seperti itu pada Donghae.
“Ne?” Donghae kaget. “Mengapa kau bertanya seperti itu?” Tanya Donghae pada Eun Hye.
“Tidak, aku ingin tau saja.” Jawab Eun Hye singkat.
“Ooo” Donghae mengangguk. “Ya, dia selalu ada di tempat yang special di hatiku.” Jawab Donghae sambil membayangkan wajah manisnya Hye Sun.
“Lalu mengapa kau tidak mengungkapkan perasaan mu padanya?” Eun Hye mulai mengorek informasi dari Donghae.
“Na ddo molla” Donghae mengangkat bahunya. “Entah apa itu, ada sesuatu yang membuatku tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya. Entah mengapa aku merasa aku tidak pantas untuknya, dan aku lebih senang melihatnya hidup sebagai Goo Hye Sun sahabat terbaikku daripada Goo Hye Sun sebagai kekasihku.” Jawab Donghae dengan menatap dinding di depannya dengan tatapan kosong.
“Benarkah?” Eun Hye memiringkan kepalanya. “Mengapa bisa seperti itu?”
“Entahlah, aku juga tidak tau.” Jawab Donghae tidak peduli.
“Lalu sekarang apa yang ingin kau lakukan untuknya?” Tanya Eun Hye lagi.
“Selalu menjaganya, dan aku akan berusaha untuk membuatnya selalu tersenyum.” Jawab Donghae lagi-lagi dengan senyuman dengan tatapan kosong.
“Mmmm..” Eun Hye mengangguk mengerti.
---o0o---
Setelah setengah jam lalu mengantar peri kecilnya pergi ke sekolah, sekarang Mino sudah sampai di kantornya. Senyum manisnya selalu melekat di wajah tampannya.
“Hyung kau terlihat sangat bahagia pagi ini. Ada apa denganmu?” Hyun Jin ikut tersenyum melihat calon kakak iparnya terlihat begitu bahagia pagi ini.
“Haha, bisa saja kau. Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa lebih senang saja hari ini.” Jawab Mino dengan senyum bahagianya.
“Ooo ku kira kau habis bertemu wanita cantik barusan.” Hyun Jin menggoda Mino.
“Auuussshh kau ini. Ya sudah aku masuk dulu.” Mino menepuk bahu Hyun Jin lalu pergi menuju ruangannya.
“Yaaa Hyung cakaman.” Hyun Jin berlari menghampiri Mino. “Bagaimana dengan Hye Sun photographer yang terpilih kemarin, apakah harus sekarang aku meneleponnya?” Hyun Jin baru ingat dengan hal ini.
“Mwo? Kau belum menelepon orang itu? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk meneleponnya kemarin?” Senyuman yang tadi menghiasi wajah Mino sekarang menghilang, ia sedikit kesal dengan Hyun Jin karena Hyun Jin belum juga menelepon Hye Sun untuk datang ke SMC hari ini.
“Mianhae Hyung, aku harus memastikan dulu kapan pastinya kau bisa menemuinya hari ini, daripada nanti Hye Sun harus menunggumu karena waktunya tidak pas dengan jadwalmu.” Hyun Jin menjelaskan alasannya pada Mino.
“Ooo, baiklah. Ya sudah sekarang cepat kau menghubunginya, katakan padanya untuk datang ke sini pukul 09.30” Alasan Hyun Jin benar juga, lalu Mino menlanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Sedangkan Hyun Jin kembali ke meja kerjanya dan menelepon Hye Sun.
“Yeoboseyo..” Terdengar suara Hyun Jin dari ponsel Hye Sun.
“Ne, nuguseyo.” Tanya Hye Sun.
“Oo, aku Lee Hyun Jin dari Seoul Magazine Center. Apakah benar kau Goo Hye Sun?” Jawab Hyun Jin lalu kembali bertanya pada Hye Sun.
“Ya benar aku Goo Hye Sun. Seoul Magazine Center? Ada apa anda meneleponku?” Hye Sun tidak percaya kalau ia akan mendapat telepon dari SMC.
“Ada kabar baik untukmu. Kau diterima bekerja di SMC.” Hyun Jin ikut merasa senang memberitahu kabar ini pada Hye Sun.
“Ne? Joungmalyo?” Tanya Hye Sun tidak percaya, ini seperti mimpi baginya.
“Ya, untuk membuktikannya kau harus datang ke kantor kami hari ini pukul 09.30.” Perintah Hyun Jin pada Hye Sun.
“Baiklah aku segera ke sana. Joungmal gomaweo.” Hye Sun membungkukan dirinya, lalu segera bersiap-siap untuk pergi ke SMC.
Entah apa yang masuk dalam mimpi Hye Sun semalam, sampai-sampai ia mendapat kabar sebahagia ini.
“Bibi, iya dia harus tau tentang kabar baik ini.” Kata Hye Sun semangat. Tanpa basa-basi lagi ia langsung mencari nomor ponsel bibinya di dalam ponselnya.
“Hye Sun” Setelah melihat tulisan itu bibi Hye Sun langsung mengangkat teleponnya. “Ssssu..” baru saja bibi Hye Sun ingin memanggil Hye Sun tetapi sudah terdengar teriakan keras dari seberang sana. “Bibiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii..” Hye Sun berteriak memanggil bibinya dengan raut wajah yang terlihat sangat semangat. Mendengar teriakan keponakannya yang luar biasa kencangnya itu bibi Hye Sun langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya.
“Yaaaaaaa Sun-a waegude? Neo gwenchana?” Tanya bibi Hye Sun kaget ia menjadi sedikit khawatir mendengar teriakan keponakannya tadi, ia takut terjadi sesuatu pada keponakannya.
“Gwenchana bibi-a, aku punya kabar baik untukmu.” Senyum bahagia terukir di wajah Hye Sun.
“Kabar bahagia? Apakah begitu bahagianya kabar itu sampai-sampai kau berteriak seperti tadi?” Bibi Hye Sun terkejut, ia kira tadi adalah teriakan musibah, tetapi ternyata itu teriakan kebahagiaan seorang Goo Hye Sun.
“Hahahaha, apakah teriakan ku sangat membuatmu kaget bi? Ya sudah lupakan saja teriakan ku tadi, sekarang aku ingin memberitahu kabar baiknya padamu.” Kata Hye Sun sambil menarik nafasnya, ia terlihat sangat bahagia sampai-sampai ia bingung ingin mulai darimana ia memberitahu kabar bahagia ini.
“Yaaaa Sun-a cepat beritahu, jangan buat bibi penasaran seperti ini.” Bibi Hye Sun dibuat penasaran oleh Hye Sun yang sedari tadi hanya mengatakan akan dan akan memberitahu kabar itu padanya, tapi tidak juga kabar itu keluar dari mulut Hye Sun.
“Baiklah bi, sepertinya aku terlalu berlebihan. Ehmmm..ehmmmm..” Hye Sun bersiap-siap untuk mengatakan kabar ini.
“Akuuuuuuuuuuuuuu diterima bekerja di Seoul Magazine Center biiiiiiiiiiiiiiiiii..” Lagi-lagi teriakan super kencang itu keluar dari mulut Hye Sun.
“MWOOOOOOOO? Joungmalyo? Mengapa kau tidak mengatakannya daritadi Sun-a.” Bibi Hye Sun juga terlihat sangat bahagia, teriakan super kencang Hye Sun yang kedua tadi tidak dipedulikan olehnya, terkejut, terharu, dan bahagia pastinya itu yang bibi Hye Sun sekarang. Ia merasa berhasil menjaga dan merawat Hye Sun selama ini. Yang diinginkan Hye Sun selama ini sudah ia dapatkan sekarang, dan sekarang Hye Sun mempunyai tanggung jawab untuk menjaga apa yang ia dapatkan dan menjaga kebahagiaannya untuk ke depannya nanti. Semoga tuhan selalu menjaganya dan memberikan kebahagiaan untuknya, itulah doa bibi Hye Sun.
“Ne, bi. Aku harus ke Seoul Magazine Center sebentar lagi. Aku tutup ya teleponnya aku harus bersiap-siap. Kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku bi, jagalah kesehatanmu. Saranghae.” Dengan senyuman yang sejak tadi tidak lepas dari wajah Hye Sun, Hye Sun menutup teleponnya. Hatinya sungguh bahagia sekarang, semoga ini awal yang baik untuk Hye Sun memulai hidup di kota yang besar, jauh dari keluarganya, dan sebentar lagi ia akan benar-benar hidup seorang diri. Karena sekarang Hye Sun sudah diterima bekerja dan kembali pada kebutuhan awal, Hye Sun harus mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan SMC, dan ia juga sudah menyuruh Donghae untuk tetap di sini dan membiarkan dirinya pergi mencari tempat tinggal berpisah dengan Donghae.
Setelah semua siap, Hye Sun segera meluncur menuju SMC. Dengan wajah yang terlihat sangat bahagia dan jantungnya yang terasa berdegup lebih kencang Hye Sun melewati perjalanannya menuju SMC. Senyuman bahagia seorang Goo Hye Sun tidak pernah lepas dari wajahnya.
Setelah 30 menit lebih akhirnya Hye Sun sampai di SMC. Perlahan tapi pasti kaki mungil itu melangkah ke dalam SMC. Tersenyum dan tersenyum hanya itu yang Hye Sun lakukan sejak tadi, ia terlihat sangat bahagia. Sampailah ia sekarang di lantai dua, lalu Hye Sun mencari meja kerja seorang Lee Hyun Jin. Setelah berputar-putar di beberapa ruangan akhirnya ia menemukannya juga, dan terlihat seorang Lee Hyun Jin sedang berbicara dengan seorang model cantik yang sudah tidak asing lagi di matanya.
“Annyeonghaseyo.” Hye Sun membungkuk memberi salam.
“Ne, annyeonghaseyo.” Hyun Jin dan Hyorim berdiri membalas salam Hye Sun.
“Oh, kau Goo Hye Sun ya.” Hyun Jin keluar dari meja kerjanya dan menghampiri Hye Sun.
“Ne.” Hye Sun menganggukan kepalanya. “Baiklah kau ikut aku sekarang, atasan ku ingin menemuimu.” Perintah Hyun Jin pada Hye Sun untuk mengikutinya. “Hyorim-a tunggu sebentar aku harus mengantar Hye Sun ke ruangan Mino hyung.” Hyun Jin pamit pada Hyorim. “Ne..” Hyorim menganngguk lalu kembali duduk di kursinya dan memberi senyum manisnya pada Hye Sun. setelah membungkukan dirinya pada Hyorim lalu Hye Sun mengikuti Hyun Jin dari belakang menuju ruangan Mino.
“Tok..tokk…ttoookk..” terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruangan Mino.
“Ne, masuklah.” Mino mengizinkan orang itu masuk.
“Ckleeekkk..” Hyun Jin masuk ke ruangan Mino terlebih dahulu tanpa Hye Sun.
“Hyung, Goo Hye Sun sudah ada di sini. Apakah kau ingin bertemu dengannya sekarang?” Hyun Jin bertanya pada Mino yang sedang serius menandatangani beberapa berkas-berkasnya.
“Tentu saja. Suruh dia masuk ke ruanganku.” Mino menyuruh Hyun Jin untuk menyuruh Hye Sun masuk ke ruangannya.
“Baiklah.” Hyun Jin kembali keluar memanggil Hye Sun. “Masuklah” Hyun Jin menyuruh Hye Sun masuk. “Ne” Hye Sun mengangguk lalu menuruti perintah Hyun Jin dengan hati yang deg-degan.
“Hyung ini Goo Hye Sun, Hye Sun ini Lee Min Ho atasan ku dan akan menjadi atasanmu juga mulai sekarang.” Hyun Jin memperkenalkan keduanya.
“Ne, aaa..aaann..MWO?” Mata Hye Sun terbelalak lebar. Ia tidak percaya dengan siapa yang ia tatap di depannya yang akan menjadi atasannya nanti.
“KA..KAAA….KAUUUUUUUUUUUU !” Mata Mino tidak kalah besar terbelalak. Ia langsung berdiri dari duduknya. Sedangkan Hyun Jin hanya diam dalam kebingungan.
“Waegudae? Apakah kalian sudah saling mengenal?” Hyun Jin bertanya pada Mino dan Hye Sun.
“OMO.. aku tidak percaya ini. Kau Goo Hye Sun? Hyun Jin-a apakah kau tidak salah orang?” Mino masih tidak percaya, ia bertanya pada Hyun Jin untuk memastikan kalau Hyun Jin tidak salah orang.
“Tssssssssshhhhh..” Hye Sun menghempaskan wajahnya.
“Tentu saja tidak hyung. Ini di Goo Hye Sun, photographer yang kita pilih kemarin.” Jawab Hyun Jin memastikan.
“Baiklah kau boleh keluar. Aku ingin bicara dengannya.” Sambil menghembuskan nafasnya Mino menyuruh Hyun Jin keluar.
“Baik hyung.” Sambil menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi diantara Mino dan Hye Sun, Hyun Jin beranjak keluar.
“Fuuuusshhhh..” Mino menghembuskan nafasnya lagi. “Duduklah.” Mino menyuruh Hye Sun untuk duduk yang sedari tadi nampak pasrah dan diam saja. “Ne..” Hye Sun duduk tepat di depan Mino hanya meja kerja Mino yang memisahkan jarak diantara mereka.
“Ternyata kau Goo Hye Sun.” Mino menyapa Hye Sun dengan kata-kata itu.
“Ne.” Hye Sun hanya mengangguk dan menundukan kepalanya. Ia tidak habis pikir mengapa sudah tiga hari ia berada di Seoul selalu bertemu dengan pria yang ada di depannya sekarang.
“Hahaha.. apa kau salah makan tadi pagi?” Mino menggoda Hye Sun.
“Apa maksudmu?” Hye Sun bertanya pada Mino dengan sabar, Mino akan menjadi atasannya mulai sekarang, jadi ia harus bisa menahan dirinya untuk tidak kesal pada Mino.
“Kau tidak mengerti? Jika saja saya bertemu denganmu waktu itu dengan sikapmu yang seperti ini, sepertinya saya akan jatuh hati padamu.” Senyman jahil tampak di wajah Mino.
“Sudahlah Mino-ssi, sekarang katakan apa yang harus ku kerjakan hari ini aku tidak ingin membuang waktuku hanya dengan membicarakan hal yang tidak penting.” Kekesalan sudah merajai Hye Sun sekarang, tetapi ia tetap mencoba untuk sabar.
“Baiklah, ikut aku.” Mino berdiri dari duduknya, lalu mengajak Hye Sun keluar dari ruangannya. Hye Sun tampak mengikuti Mino dari belakang.
“Hyun Jin-a.” Mino memanggil Hyun Jin saat ia dan Hye Sun sudah keluar dari ruangannya.
“Ne, hyung. Waegudae?” Hyun Jin langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Mino dan Hye Sun.
“Tolong antarkan Hye Sun berkeliling melihat suasana di kantor ini. Lalu tunjukan juga meja kerjanya.” Setelah mengatakan semua perintahnya pada Hyun Jin, tanpa basa-basi dan tanpa melirik ke wajah Hye Sun sedikitpun langkah Mino langsung berbalik kembali menuju ruangannya.
“Baiklah hyung.” Hyun Jin dan Hye Sun membungkukan badannya saat Mino sudah berbalik menuju ruangannya.
“Hye Sun-ssi silahkan.” Hyun Jin mempersilahkan Hye Sun berjalan lebih dulu.
“Ooo.. baiklah.” Tanpa basa-basi lagi Hye Sun dan Hyun Jin berkeliling melihat suasana di SMC.
“Ke mana Hyorim onnie?” Hye Sun bertanya pada Hyun Jin saat mereka mulai berjalan mengelilingi SMC.
“Hyorim? Ooo, dia baru saja pergi. Dia ada pemotretan hari ini. Wae?” Hyun Jin kembali bertanya pada Hye Sun.
“Anniyo.. Sepertinya kau mempunyai hubungan khusus dengannya.” Hye Sun melirik ke arah Hyun Jin sambil tetap meneruskan langkahnya mengikuti Hyun Jin.
“Ne? ah kau ingin tahu saja urusan orang lain.” Jawab Hyun Jin sedikit kaget.
“Hahaha, wajahmu memerah berarti benar apa kataku.” Hye Sun menggoda Hyun Jin. Mereka berdua terlihat akrab satu sama lain, walaupun baru kali ini mereka bertemu.
“Yaaaa.. kau ini ! Sudah jangan menggodaku lagi, dan sekarang cepat aku akan menunjukan meja kerjamu.” Hyun Jin langsung berlalu jalan mendahului Hye Sun.
“Arasso” Hye Sun mengangguk lalu berjalan mengejar Hyun Jin.
“Ini meja kerjamu.” Hyun Jin menunjukkan meja kerja Hye Sun yang berada tepat di depan meja kerjanya.
“Di sini?” tanya Hye Sun. “Cukup nyaman.” Lanjutnya.
“Oke, selamat bekerja Hye Sun-ssi. Jika butuh sesuatu katakanlah padaku.” Hyun Jin menepuk pundak Hye Sun lalu kembali ke meja kerjanya.
“Ne, Gomawo Hyun Jin-ssi..” Hye Sun membungkukkan badannya, lalu ia menghampiri meja kerjanya.
“Goo Hye Sun, bekerjalah yang baik. Kau harus menunjukkan pada semua orang kalau kau memang pantas bekerja di sini.” Hye Sun bicara dalam hati.
---o0o---
Pukul 11.30
“Di mana Hye Sun?” Min Ho bertanya pada Hyun Jin yang sedang merapihkan berkas-berkas di mejanya.
“Hye Sun? Dia di studio, sedang melakukan pemotretan untuk majalah edisi minggu depan.” Jelas Hyun Jin pada Min Ho.
“Hmm, arasso.” Setelah mengatakan itu Min Ho langsung berlalu pergi.
“STUDIO” begitulah tulisan yang tertera di atas pintu yang Min Ho lewati. Niatnya ingin langsung pergi ke sebuah restoran untuk makan mengisi perutnya, tetapi setelah membaca tulisan itu, tiba-tiba ia berhenti. Sejenak terlintas perkataan Hyun “Hye Sun? Dia di studio” lalu ia miringkan kepalanya.
“Apa salahnya jika aku masuk, katakan saja kalau aku ingin melihat pekerjaannya.” Min Ho berkata dengan berbisik pelan, lalu dibukanya pintu studio itu.
Terlihat gadis cantik sedang memotret seorang model di depannya. Hye Sun tidak mengetahui keberadaan Min Ho. Perlahan tapi pasti kaki jenjang Min Ho semakin lama semakin mendekat pada Hye Sun. Lalu Min Ho duduk di satu kursi yang letaknya sangat pas untuk melihat wajah cantik Hye Sun ketika ia sedang memotret. “Cantik.” Katanya dalam hati. “Haha, apakah aku jatuh cinta padanya?” Tatapan cinta itu tampak pada wajah Min Ho. “Mungkin IYA!!” Ya. Hati seorang Lee Min Ho mengakui itu. Mengakui kalau ia telah jatuh cinta pada seorang Goo Hye Sun yang selalu membuatnya marah. Semua orang di dalam studio terlihat bingung melihat apa yang sedang Min Ho lakukan, tetapi Hye Sun masih saja asik dalam pekerjaannya.
Min Ho mulai berdiri dari duduknya “Hye Sun-ssi.” Min Ho memanggil Hye Sun.
“Ne.” Hye Sun menengokan kepalanya mencari dari mana suara itu berasal. “Kau..” Hye Sun tampak terkejut saat ia melihat siapa yang memanggilnya. “Ada apa?” Tanya Hye Sun pada Min Ho.
“Sekarang waktunya makan siang. Mengapa kau masih saja asik dengan kameramu?” Min Ho berkata pada Hye Sun sambil menunjuk kearah jam yang berada di atas pintu bermaksud memberi tahu Hye Sun jam berapa sekarang.
“Hahaha, kau mengkhawatirkan ku?” Hye Sun tertawa menggoda Min Ho. Lalu ia mulai membereskan semua alat-alat pemotretan yang ia pakai tadi.
“Siapa yang mengkhawatirkanmu? Aku mengkhawatirkan para model yang kau ambil waktu makan siangnya untuk memaksakan pemotretan ini selesai.” *Min Ho ngeles*
“Tsssshhhh. Sudahlah kau pergi saja sana, lagipula pemotretan juga sudah selesai. Dan semua model akan segera makan siang. PUAS?!” Hye Sun tampak kesal
“YAAAAA beraninya kau mengusir atasanmu.” Min Ho berteriak kesal pada Hye Sun.
“Aaaa iya iya kau atasanku.” Kata Hye Sun pasrah. “Baiklah. Mianhaeyo Tuan Lee.” Hye Sun minta maaf pada Min Ho dan membungkukan tubuhnya lalu ia langsung beranjak pergi.
“Mmmpphh..” Min Ho tersenyum puas.
---o0o---
Tidak terlintas dalam pikiran Hye Sun sedikitpun, kalau di dekat sebuah gedung yang besar terdapat taman bermain yang dipenuhi anak-anak kecil yang lucu.
Ya, Hye Sun menghabiskan waktu makan siangnya di sana, di taman bermain itu. Dia selalu sibuk dengan kameranya, memotret semua yang terjadi di sekitarnya. Terlihat sekumpulan anak perempuan cantik di depan sebuah ayunan. Hye Sun beranjak mendekati mereka untuk memotretnya.
“Kau itu anak yang tidak punya ibu. Jadi kau tidak pantas bermain dengan kami. PERGI SANA!” Hye Sun pun kaget melihat anak sekecil mereka mengatakan hal seperti itu. Dan terlihat gadis mungil yang sedang menangis karena perkataan itu.
“Yaaaa, apa yang kalian lakukan?” Hye Sun mendekati gadis kecil yang menangis, lalu memeluknya.
“Gwenchana?” tanyanya pada gadis itu. “Mmm..” gadis itu menjawab dalam isak tangisnya.
“Yaaa kalian, minta maaf.” Hye Sun menyuruh para anak kecil tadi untuk minta maaf.
“Tidak mau! Biarkan saja dia menangis, memang itu kenyataannya. Weeee.” Anak-anak itu memeletkan lidahnya pada Hye Sun dan gadis kecil yang masih menangis, lalu berlari meninggalkan mereka tanpa kata maaf.
“Yaaa Yaaaaaaa kaliaaaaaaaaaaaaannn!!!!!!!!!!” Hye Sun tampak sangat kesal. Bagaimana bisa anak sekecil mereka menindas temannya seperti ini.
“Gadis kecil, kau tidak apa?” Tanya Hye Sun khawatir pada gadis itu.
“Mmm, aku gapapa.” Jawab gadis kecil itu dengan senyum manisnya dan tangannya mulai menyeka air matanya.
“Di mana rumahmu? Biar aku antar pulang.” Hye Sun mengelus pipi gadis itu dengan lembut.
“…….” Gadis kecil itu tidak menjawab pertanyaan Hye Sun.
“Emm? Kenapa kau tidak menjawabku? Kau tidak ingin pulang?” Sejenak Hye Sun melirik jam tangannya. “Aku masih punya waktu 15 menit lagi, ingin makan kue beras denganku?”
“Mmm..” Gadis kecil itu mengangguk.
“Okee! Kachaaaaaaa..” Hye Sun menarik tangan gadis itu lalu berlari bersamanya.
---o0o---
“Aiiisssshh Min Ho! Kenapa di harus ada di depan meja kerjaku? Alasan apa yang harus ku katakan padanya?” Kata Hye Sun kesal dalam hati. Dia terlihat terengah-engah seperti habis dikejar anjing.
“Dari mana saja kau?” Tanya Min Ho singkat dengan wajah marahnya.
“Seosonghamnida Min Ho-ssi, tadi aku ada urusan mendadak.” Wajah Hye Sun terlihat takut, ia takut kalau Min Ho benar-benar marah.
“URUSAN APA? Tadi itu waktu makan siang, bukan waktu untuk mengurusi urusan lain.” Min Ho benar-benar tampak kesal. Bagaimana bisa Hye Sun telat seperti ini di hari pertamanya bekerja, seharusnya ia menunjukkan citra baiknya pada Min Ho.
“Min Ho-ssi aku sudah minta maaf tadi. Masih kurangkah?” Hye Sun sedikit mengadahkan kepalanya pada Min Ho.
“Hyung, sudahlah biarkan Hye Sun duduk. Mungkin urusan mendadak tadi memang penting untuk Hye Sun, sudahlah kau kembali bekerja sana.” Hyun Jin yang sedari hanya diam di balik meja kerjanya, tiba-tiba ia membela Hye Sun.
“Hhhhh..” Min Ho menghela nafasnya. “Baiklah. Kau boleh kembali bekerja Hye Sun-ssi. Tapi ingat jangan kau ulangi peristiwa seperti ini lagi. Arasso?” Akhirnya Min Ho membolehkan Hye Sun untuk kembali bekerja, dan ia menekankan pada Hye Sun untuk tidak mengulanginya lagi.
“Ne, arasso. Gomapseumnida Min Ho-ssi.” Hye Sun membungkukan tubuhnya lalu duduk di kursinya. Dan Hyun Jin hanya tersenyum melihat Min Ho dan Hye Sun.
“Namaku Ye Eun, Lee Ye Eun. Appa bilang padaku kalau eomma telah meninggal saat melahirkanku, dan teman-temanku selalu mempermasalahkan hal itu.” Hye Sun tampak melamun memikirkan kata-kata itu.
Hye Sun POV
Gadis itu terlalu manis itu dicibir oleh teman-temannya. Wajahnya seperti malaikat, pasti kedua orang tuanya cantik dan tampan. Hhhhh apakah ia selamat sampai rumah? Tadi aku meninggalkannya begitu saja. Seharusnya tadi aku menelepon orang tuanya dulu untuk menjemputnya.
---o0o---
Rumah Min Ho
“Appaaaaaaaaaaaaa..” Saat Min Ho baru saja membuka pintu kamar Ye Eun, Ye Eun langsung berlari menghampiri appanya, lalu memeluknya erat.
“Mmmm Ye Eun-a.” Min Ho mempererat pelukan mereka dengan senyum manis di wajahnya.
“Appa, kau harus menemui kakak cantik itu.” Ye Eun berkata disela-sela pelukan mereka.
“Kakak cantik? Nugu?” Min Ho tampak bingung dengan perkataan gadis kecilnya, lalu melepas pelukan mereka.
“Kemarilah.” Ye Eun menyuruh appanya duduk di tempat tidur bersamanya. “Tadi, saat aku bermain di taman ada seorang kakak cantik menolongku.” Ye Eun mulai menceritakan kejadian tadi siang pada Appanya.
“Menolongmu? Apa yang terjadi padamu sampai ia harus menolongmu?” Min Ho tampak khawatir.
“Kakak cantik itu menolongku saat teman-temanku mencibirku.” Ye Eun menatap Appanya dengan tatapan sendu.
“Mencibirmu?” tanya Min Ho kaget.
“Mmm..” Ye Eun mengangguk kecil. “Sudahlah lupakan saja masalah cibir-mencibir itu, sekarang yang penting adalah aku mau kau bertemu dengan kakak cantik yang menolongku.” Ye Eun kembali tersenyum dan ia ingin sekali Appanya bertemu dengan kakak cantik yang menolongnya.
“Haruskah? Kau mencoba menjodohkanku padanya?” Min Ho tersenyum dan memegang kedua pipi gadis kecilnya.
“NEEEE!” Jawab Ye Eun semangat. “Besok datanglah ke taman bermain di dekat kantormu yaa Appa. Aku akan menunggumu di sana.” Sepertinya Ye Eun ingin sekali menjadikan kakak cantik itu sebagai Eomma keduanya.
“Baiklah jika itu yang kau inginkan. Tunggu Appa di sana saat makan siang yaa. Tapi Appa tidak janji akan menerima perjodohan itu.” Min Ho hanya tersenyum sejak tadi melihat kelakuan putri kecilnya.
“Bertemulah dulu dengannya, jika Appa tidak suka aku tidak akan memaksa Appa.” Ye Eun memegang tangan Appanya lalu kembali memeluknya erat.
“Arasso, sekarang tidurlah.” Min Ho melepas pelukan mereka, lalu menyelimuti Ye Eun di ranjangnya. Min Ho mengelus lembut kening Ye Eun. Lalu diciumnya kening itu saat Ye Eun sudah mulai tertidur. Dimatikannya lampu kamar Ye Eun lalu pergi meninggalkan Ye Eun menuju kamar tidurnya.
---o0o---
Kamar Hye Sun
“Donghae-a datanglah ke taman bermain dekat kantorku besok, aku akan mentraktirmu kue beras.” Hye Sun berkata pada Donghae sambil merapihkan barang-barang yang harus ia bawa besok.
“Besok? Kenapa hanya kue beras?” Donghae menghentikan aktifitasnya lalu menatap ke arah Hye Sun.
“Yaaaaa masih untung kau ku traktir. Mau atau tidak?”
"Oke.. Oke.." Donghae mengangguk dengan senyum manis di wajahnya
"Oke.. aku menunggumu saat jam makan siang di sana." Hye Sun pun ikut tersenyum.
---o0o---[/color]
Yuhuuuuuuuuuu apa yang akan terjadi di taman bermain besok? tunggu di chapter selanjutnya ^^