SECRET RAINBOW
A 2011 MinSun Fanfiction Colaboration by Lovelyn, Voldy, Itaraya
Green : Part 3
Pesta pertunangan mereka tentu saja diadakan secara besar-besaran, mewah, dan penuh dengan relasi bisnis dari dua keluarga. Tema yang dipakai adalah garden party, jadi sekarang semua tamu telah berkumpul di taman depan kediaman Kim. Ashley—yang memakai tuxedo hitam mengkilap sedang berbicara dengan beberapa orang yang bermuka ehmsangarehm. Sedangkan Eros dan Joe juga sedang berbicara dengan beberapa orang—agak sedikit terpojok dari pusat acara. Bergelas-gelas wine disusun membentuk piramid ditengah-tengah taman, dikelilingin bermacam-macam orang dengan watak dan busana yang berbeda.
Eryn memandang pemandangan dibawahnya dengan datar. Agak dibelakangnya berdiri dengan gestur kaku Gavin. Mata elangnya terkunci pada punggung Eryn (yang mengekspos punggung putihnya yang sempurna) tapi bukan itu yang ada didalam pikirannya.
Eryn berbalik, menatap langsung ke dalam mata onyx Gavin. “Aku sudah siap,” bisiknya pelan. Gavin mengangguk. Keduanya kemudian beranjak pergi.
Ramai celoteh para tamu mulai samar terdengar di telinga keduanya. Eryn berhenti sejenak. Ditariknya nafas dalam-dalam, dan kemudian ia menengok ke belakang. Sekali lagi ditatapnya mata onyx Gavin. Beberapa detik keduanya saling menatap dalam keheningan.
“Ern?”
Suara Joe membuyarkan semuanya. Eryn berbalik. Joe berdiri dihadapannya dengan kening berkerut. “Sedang apa? Ayo. Ashley sudah menunggu.” Dan tanpa menunggu konfirmasi Ery, Joe langsung menarik tangannya. Keduanya melangkah pergi, meninggalkan Gavin dengan rahangnya yang semakin mengeras.
...
“Kau cantik sekali, sayang,” bisik Ashley ketika Eryn telah berada dalam pelukan posesifnya. Ia menyeringai ke arah Gavin yang memandangnya datar, seolah berkata; ‘Ia milikku, jerk.’
Eros yang menyadari kedatangan Eryn langsung mendekati keduanya. Ia merangkul bahu Eryn dengan erat dan kemudian berkata, “Kaulah yang paling cantik hari ini, anakku. Tidak ada yang secantik kau. kau benar-benar mirip ibumu.”
Eryn tersenyum hambar.
Eros kemudian mengambil sebuah sendok kecil dan kemudian mengetukkannya ke gelas wine ditangannya. “Perhatian,” katanya. Para tamu yang tadinya sibuk sendiri kini mulai berkumpul disatu titik—tepat dihadapan Eryn, Ashley, dan Eros.
“Karena putriku sudah berada disini,” lanjutnya, ia menoleh ke arah Eryn sambil tersenyum, “acara pertunangan Eryn dan Ashley akan segera dimulai.”
Para tamu bertepuk tangan, sesekali mereka saling berbisik—yang diasumsikan memuji kecantikan Eryn.
Eros membuka kotak kecil yang berwarna merah, didalamnya langsung terlihat sepasang cincin berlian. Eros memberikan cincin yang lebih kecil kepada Ashley untuk dipasangkan di jari tengah Eryn, begitupun dengan Eryn.
Tepuk tangan penonton mengakhiri semuanya. Eryn menatap wajah Asley yang tengah tersenyum sumringah. Ia tak sadar Ashely sudah menariknya ke pelukannya. Dari sudut tempat pesta, Gavin berdiri dengan kaku. Tak ada ekspresi apapun diwajahnya.
Eryn dan Ashley menyalami para tamu dengan senyum diwajah mereka. Bedanya, Ashley dengan wajah sumringah plus senyum lima jari, sedangkan Eryn lebih ke senyum hambar.
“Kalian pasangan paling serasi didunia.” Oh jelas perkataan itu bohong. Apa tamu itu tidak pernah menyaksikan pernikahan Prince William dan Kate Middleton?
“Aku tidak pernah sebahagia ini, kau tahu.” Eryn tersenyum hambar—lagi. Ia tak mengomentari perkataan Ashley, ia hanya memandang kosong para tamu dihadapannya.
Perlahan dirasakannya rasa dingin dan lembab merayap dilehernya. Ia menoleh dan mendapati Ashley yang tengah mencumbui lehernya. Dengan keras ia mendorong Ashley hingga pemuda itu hampir terjungkal ke belakang.
“APA YANG KAU LAKUKAN?” raung Eryn. dan sekarang para tamu mulai memperhatikan keduanya.
“Hei hei...aku berhak melakukan itu kan? kau tunanganku sekarang, ingat?”
Eryn mendengus. Dengan gusar ia meninggalkan tempat itu, masuk kedalam rumah. Eros yang tadinya hanya diam segera mendekati Ashley. “Ada apa?”
Ashley hanya tersenyum kikuk, “Ti-tidak ada apa-apa, paman. Aku hanya bilang aku sangat mencintainya, lalu ia marah dan mendorongku.”
Eros menghela napas pelan, “Maafkan Eryn, Ashley. Ia tidak bermaksud seperti itu. Mungkin ia hanya malu,” ujar Eros seraya menepuk pelan pundak Ashley. Ashley mengangguk sekali. Pandangannya kemudian dialihkan ke arah Eryn menghilang tadi.
...
Eryn membuka pintu kamarnya dengan keras, dan sedetik kemudian ia membanting tubuhnya di atas sofa putif tunggal yang ada disitu. Tak disadarinya Gavin sudah memasuki kamarnya.
“Agashi baik-baik saja?”
Eryn terperanjat. Tapi setelah dilihatnya Gavin yang sedang menatap cemas ke arahnya, ia tersenyum lemas. “Aaa. Aku baik-baik saja.”
“Apa yang dilakukan tuan Ashley pada nona tadi?”
Mendengar pertanyaan Gavin membuat Eryn kembali teringat perlakuan Ashley tadi. Ia mendengus, tak menjawab pertanyaan Gavin.
TOK TOK
Keduanya mendongak melihat siapa yang mengetuk pintu. Ashley. Eryn mendengus lagi. “Mau apa kau?” tanyanya ketus.
Ashley hanya tersenyum mendengar bentakan Eryn, “Paman memerintahkanku memanggil pengawalmu ini. Katanya ada yang ingin dibicarakan,” ujarnya seraya melirik Gavin yang masih setia berdiri ditempatnya.
Tak mendapat tanggapan dari Gavin, Ashley semakin kesal, “Hoi bodyguard. Paman Eros memanggilmu. Kau tidak dengar?”
“Pergilah, Gav. Appa mungkin membutuhkanmu,” ujar Eryn. Gavin membungkuk pelan, ia lalu berjalan ke arah pintu. Matanya tajam menatap Ashley yang menyeringai.
Sepeninggalan Gavin, suasana menjadi sunyi. Eryn kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah jendela besar. Ia mengacuhkan Ashley yang sedang menatapnya dengan intens.
GREP
Eryn tersentak. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Ashley tengah memeluknya dengan erat. “Ap-apa yang kau lakukan? Lepaskan! Lepaskan aku!”
Tapi Ashley tak bergerak. “Maaf atas perlakuanku yang tadi,” ujarnya pelan.
Eryn terdiam. Tangannya yang tadinya memberontak kini terkulai lemas disamping tubuhnya. Mendapati Eryn yang diam, Ashley melanjutkan ucapannya. “Aku mencintaimu, Ern. Aku sangat mencintaimu.”
Perlahan di tenggelamkannya kepalanya ke lekukan leher Eryn, dihirupnya aroma lavender yang menguar dari tubuh mungil itu.
Perlahan rasa dingin dan basah kembali dirasakan Eryn. Eryn mendongak. Matanya tajam menatap Ashley yang kini sedang menikmati lehernya. “Apa yang sedang kau lakukan idiot! Lepaskan aku!” eryn memberontak, tapi pelukan Ashley di pinggangnya sangat kuat.
Ashley semakin liar mencumbui leher dan bahu Eryn. Dengan kasar ia mendorong tubuh Eryn ke tempat tidur dan menindihnya. Bibirnya dengan paksa menciumi bibir Eryn. teriakan Eryn terhenti seketika. Puas dengan bibirnya, Ashley kembali ke leher. Dengan beringas dibuatnya tanda kemerahan disitu. Hisap, gigit, jilat. Begitu seterusnya. Eryn memberontak, ia kembali berteriak memanggil nama Gavin.
“Kau tahu, Ern. Kau sangat cantik. Dan aku sangat mencintaimu,” bisiknya tepat ditelinga Eryn. Tangannya membelai rambut Eryn dengan lembut.
“Lepaskan aku! Lepaaaaas!” raung Eryn lagi.
Dengan sekali sentak, gaun putih Eryn robek. Memperlihatkan dengan jelas dua gundukan Eryn. Kedua bola mata Ashley membulat melihat pemandangan indah dihadapannya. Dengan pelan ia membelai dua gundukan itu seraya berbisik, “Indah sekali.”
Eryn merinding, sekuat tenaga ia berusaha mendorong Ashley, tapi Ashley mencengkarm tangannya dengan kuat. Eryn menutup matanya, perlahan air mata mulai turun. Ia terisak. “Hiks hiks...lepaaaas! GAVIIIIN!”
BUK
Seperti di film-film eksyen, sang pahlawan datang. Ashley jatuh tersungkur setelah dengan keras Gavin memukulnya. Belum sempat Ashley berdiri dan membalasnya, Gavin kembali melancarkan pukulannya secara membabi buta. Sedangkan Eryn telah menyingkir, ia memeluk tubuhnya sendiri yang gemetaran di sudut tempat tidur.
Keadaan Ashley semakin parah jika Eros dan Joe tidak memasuki kamar saat itu juga.
“Gavin!” Joe membantu melerai perkelahian sepihak (?) itu dengan cara menahan Gavin agar tidak memukuli Ashley lagi, sedangkan Eros membantu Ashley berdiri.
“Apa yang kau lakukan!” bentak Eros.
Gavin diam tak bergeming. Isak tangis Eryn menyadarkan keempatnya. Eros membelalak, Ashley ketakutan, Joe menatap bingung, sedangkan Gavin langsung mendekati Eryn. Dilepaskannya jas hitamnya dan disampirkan ke tubuh Eryn.
“Apa yang terjadi disini?” tanya Eros lagi.
...
TBC____________________