Author Topic: Approach for three days update TODAY!!  (Read 3194 times)

Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: More Than Friend
« on: July 30, 2011, 11:16:31 pm »
Approach For Three Days
[/size][/color]

Namaku Goo Hye Sun. Aku tinggal bersama orangtuaku ya.. bisa dibilang tidak peduli. Maksudku, mereka peduli dan merasa penting yang namanya BISNIS daripada aku putri mereka sendiri, mereka lebih cemas dan khawatir kalau perusahaan mereka mengalami masalah, sedangkan ketika aku sakit mereka cuek saja, para pelayanlah yang merawatku.

Awalnya, aku berusaha bersabar dan berpikir positive akan sikap orangtuaku. Tapi, lama kelamaan aku tidak sanggup lagi tinggal bersama mereka. Apa arti kehidupan kalau hanya diisi dengan kesepian, kebencian. HIDUP HANYA SATU KALI!!
Hari ini, aku putuskan. Aku kabur dari rumah, dan menginap dirumah So Eun, satu-satunya sahabatku. Hanya Keluarga So Eun yang mengetahui keadaan keluargaku. Dan aku bersyukur Keluarga So Eun mengizinkan aku untuk tinggal dirumah mereka selama yang aku mau.

Day 1

Hari ini aku dan So Eun duduk ditepi kolam, kami berbincang-bincang, bercanda bersama dan juga menggosip. Orangtua So Eun tidak dirumah, mereka pergi keluar negeri untuk bisnis.

“ Sun-a! Ceritakan padaku! Kenapa kau kabur dari rumah dan menginap disini? ”

“ Kau tidak suka aku tinggal disini? ”

“ Bukan begitu Sun-a.. Aku yakin, orangtuamu saat ini pasti mengkhawatirkanmu.. ”

“ Yang mereka khawatirkan hanyalah bisnis ”

Huhh!! Aku tau, So Eun selama ini berusaha memperbaiki keluargaku. Aku jamin, dia tidak akan pernah berhasil.

“ Oh ya sun-a, dulu aku pernah cerita tentang sepupuku yang bernama Lee Min Ho yang kuliah di Australia. Kau ingatkan? ” Aku berpikir sebentar lalu menganggukkan kepala.

“ Kata omma ia akan pulang hari ini. Dan menginap disini bersama kita. Kau tidak keberatan kan sun-a? ” Tanya So Eun padaku.

“ Aku tak keberatan kok. Kau bilang, Lee Min Ho itu baik. ” Jawabku dengan senyuman manis.

Setelah itu, kami berbincang lagi, tema kali ini mengingat masa sekolah dulu. Tentang namja-namja yang dulunya mendekati kami sekarang sudah menjadi suami karena menghamili yeoja yang menurut kami imannya kuat. Tapi ternyata…

Perbincangan kami terputus oleh deringan ponsel So Eun.

“ Oh Omma? ”

So Eun me-loudspeaker supaya Hye Sun bisa mendengarnya juga.

“ Eun-a kau dimana nak? ” Tanya omma So Eun lembut

“ Lagi di kolam bersama Hye Sun ” Jawab So Eun sambil menoleh kepadaku.

“ Ada apa omma? ” Tanya So Eun setelah menyadari ada yang ganjal pada ommanya.

“ Begini nak, kau sekarang ke Bandara sekarang. Sejam lagi MinHo tiba di Seoul, setelah itu kau langsung ke Jepang
mengantarkan bahan rapat untuk besok diruangan kantor appa ” Jelas omma So Eun panjang lebar.

“ MWO!!! ” Teriakku dan So Eun serentak.

“ Tapi omma. Bagaimana dengan Hye Sun. Ia masih tidak berani pulang kerumah. Bagaimana kalau hye sun ikut Eun ke Jepang? ”

“ TIDAK BISA! ” Tolak omma So Eun segera. “ Bagaimana dengan Minho.. Kau tega membiarkannya di Seoul sendirian? ”

“ Aku suruh saja Minho ke Jepang langsung, bagaimana? ”

“ TIDAK BISA! Mino baru pulang, masa kau bawa ke Jepang. Ia pasti capek So Eun-a.. ”

“ Tak ada jalan lain? ” Tanya Eun lemas

“ Tidak ada Eun-a.. Sekarang bergegaslah. ” Kata omma So Eun memelas dan memutuskan mengakhiri pembicaraan.

“ Ottoke? ” Tanya Eun khawatir

“ Gwenchana Eun-a. Kau kan hanya 1 hari disana. Lagian aku bisa menjaga diri, jika Lee Min Ho itu macam-macam
padaku. ” Kataku dengan maksud menghiburnya. Dan yah, So Eun tersenyum.

“ Kude.. ” Tiba tiba Eun mencondongkan tubuhnya padaku.. “ Hubungi aku segera jika kau merasa tidak nyaman atau merasa aneh dengan tingkah laku Minho. Ok! ” Eun mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku terkekeh mellihat tingkah Eun yang satu ini.

@---+---@

“ Eun-a.. Mana Lee Min Ho itu, sudah 1 jam 30 menit 59 detik. Oh sekarang sudah 1 jam 31 menit 3 detik Eun-a!! ” Ujarku kesal.

“ Jangan berlebihan sun-a.. ” Balas Eun dengan sabar.. “ Jangan-jangan kau tidak sabar bertemu dengannya ya? ” Goda Eun menunjuk hidungku.

“ Eun-a!! Bukan begitu, 10 menit lagi pesawat menuju Jepang akan lepas landas. ”

Eun menepuk jidatnya keras hingga sedikit memerah. Tuh kan!

“ Kau benar sun-a.. hehehe.. Kau memang teman terbaikku! ” Kata Eun sambil menepuk pundakku dan tersenyum semanis mungkin.

“ Annyeong… ” Tiba-tiba pemuda jangkung yang tak ku kenal muncul dihadapanku dan Eun. Aku menoleh pada Eun.

Kulihat Eun menunjukkan senyum centilnya. Lalu pandanganku beralih ke pemuda itu. Pemuda itu memakai kaca mata
hitam besar, baju putih dan cardigan hitam, celana hitam sedikit ketat #mo kemane bang? Mo kekuburan ye?

“ Eun-a!! ” Aku tersentak, pemuda ini mengenali Eun? Eun sama seperti ku, terkejut tapi Eun berusaha menyembunyikannya.

“ Kau mengenaliku? ”

“ Apa kau sudah lupa padaku? Tega sekali! ” Kata pemuda itu dan melepas kacamatanya.

“ Omo!!! Mino-a..! Miane, aku tidak mengenalimu. ” Aku menoleh pada Eun, ternyata ini yang namanya Lee Min Ho..
OMG!!! Ganteng banget… Saat diam aja membuat ku meleleh, apalagi saat tersenyum?

“ Ck.. Apakah aku begitu mempesonamu setelah 3 tahun tak bertemu? ”

Yah aku mengakui itu.. Ucapku dalam hati

“ Hey,,, siapa nona cantik ini? ” Tanya Mino tiba-tiba sambil menatapku. Aku gugup dibuatnya.

“ Goo Hye Sun-imnida.. Aku temannya So Eun. ” Aku mengulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya.

“ Lee Min Ho imnida.. Oh.. ini yang namanya Goo Hye Sun. So Eun sering menceritakan tentangmu. Senang bisa berkenalan denganmu Hye Sun ” Mino membalas uluran tanganku dengan senyuman yang mampu membuatku jatuh
padanya.

Aku menyenggol lengan So Eun sedikit keras. Ia meringis sambil menatapku tajam. Aku tak memperdulikannya.

“ Apa saja yang kau bicarakan tentangku kepada Mino hah? ” Bisikku supaya Mino tak mendengarnya

 “ Hehe.. tidak ada kok sun-a, hal-hal biasa saja. Jangan dipikirkan. Oh ya Sun-a.. aku pergi dulu ya.. Hati-hati Ok! ” Kata
Eun kemudian dan meninggalkanku dengan Mino di sini.

“ Mino-a!! Hye Sun sementara tinggal  di rumah ku. Kau menginap di sana. Jaga Hye Sun baik-baik, jangan melakukan hal yang macam-macam, jangan pernah memberinya sushi.. Arraseo! ”

“ Ne, halmonie.. ” Kata mino sambil cekikikan.

“ Aush kau! ” Eun berjalan mendekati mino, tapi mino menunjuk jam tangannya, mengingatkan Eun pada waktu.

“ Aush.. ”

@---+---@

Aku dan Mino saat ini makan siang bersama. Ternyata, mino pemuda yang asyik dan nyambung di ajak bicara, dia juga mudah bergaul dengan siapa saja. Sempat aku berpikir, yang selama ini berteman dengannya, pasti betah..

“ Goo Hye Sun ” Panggil Mino..

“ Hm… ” Jawabku. Aku tak terbiasa bicara saat makan.

“ Kenapa kau menginap di sini? Kemana orangtuamu? ” Pertanyaan mino membuat nafsu makanku hilang, aku meletakkan garpu dan pisau. Mengambil air dan meneguknya. Aku tau, mino menatapku penuh tanda Tanya.

“ Orangtuaku ada, tapi aku malas pulang. Itu saja. ”

“ Apakah kau kabur dari rumah? ” Tanya mino hati-hati.

“ Aku… aku ke kamar dulu. ” Aku berdiri dan meninggalkan mino, hatiku sakit ketika mino menanyakan tentang orangtuaku. Aku tidak bisa juga menyalahkannya karena ia memang tidak tau apa-apa tentangku. Kami baru kenal beberapa jam yang lalu.

“ Ada apa dengannya? ” Tanya mino pada dirinya sendiri..
HP mino bergetar, mino melihat siapa yang menelponnya dan ternyata So Eun.

“ Yeobseyo? ”

“ Mino-a! Aku lupa memberitaumu. Kalau bisa kau jangan pernah pernah menanyakan tentang orangtua hye sun Ok. Jika kau melakukannya, ia akan sedih atau menangis. ”

“ Memangnya ada yang salah? ”

“ Tentu! Hye sun bisa dibilang Broken Home. Omma Appa Hye Sun sama sekali tak memperdulikan hye sun, menurut
mereka bisnis yang paling penting. Hanya bibi Kyong, pembantu keluarga Goo yang mengerti Hye Sun. Tapi sekarang Bibi Kyong sudah tak bekerja lagi karena dipecat. Setelah kepergian Bibi Kyong, hye sun tidak betah tinggal di rumah. Lalu, ia memutuskan kabur dari rumah dan menginap di rumahku. Satu lagi! Hye Sun bisa saja berbuat nekad, seperti bunuh diri. Hye Sun pernah melakukannya tapi gagal, karena ketahuan bibi Kyong. Jadi ku harap kau jangan pernah membicarakan ini.  ” Jawab Eun panjang lebar.

“ Aku tutup. Bye! ” Karena Mino tak membalas ucapannya, Eun memutuskan mengakhiri pembicaraan..

“ Ottoke? ” Mino mulai panic. Ia mengacak rambutnya. Sesekali, mengelilingi meja makan hingga membuatnya pusing.
15 menit sudah, dengan tekad bulat, mino melangkahkan kakinya menuju kamar hye sun. Sesampainya di depan pintu, keraguan menghinggapinya, tangannya yang sudah terulur untuk mengetuk pintu, ia tarik kembali. Seperti itu terus menerus. Mino dengan kepanikannya, menempelkan telinga ke pintu. Berusaha mencari suara.

Bukkk….

Mino tambah panic, perkataan Eun ‘Satu lagi! Hye Sun bisa saja berbuat nekad, seperti bunuh diri. Hye Sun pernah melakukannya tapi gagal, karena ketahuan bibi Kyong. ’

Tanpa membuang waktu lagi, mino membuka pintu yang ternyata tak terkunci itu, ia tak menemukan hye sun didalam. Suara isakan perlahan terdengar, mino mengikuti suara itu, dan menemukan hye sun yang duduk di bawah ranjang, memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya diantara lututnya. Bahunya bergetar, mino merasa bersalah sekarang, telah membuat hye sun sedih.

“ Hye Sun-a.. ” Panggil mino lembut, aku meliriknya sebentar, lalu menangis lagi.

Aku bisa merasakan mino mendekat dan berjongkok dihadapanku.. Aku tak memperdulikannya, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.

“ Sun-a!! ” Panggil mino lagi sambil mencengkram kedua bahuku..

“ Miane.. ” Ujar mino dengan nada menyesal..

Aku beranikan diri menatapnya, wajahnya begitu dekat denganku, tapi aku tak memperdulikan itu. Aku hapus air mata yang masih mengalir, aku tak mau membuatnya merasa menyesal lebih lama lagi.

“ Gwenchana… Kau tak mengetahui apa-apa, jadi aku tak bisa menyalahkanmu.. ” Ujarku dengan senyum yang dipaksakan.

“ Aku tau semuanya..  Tentang orangtuamu! Aku tau! ” Balas mino cepat dan keras.

“ Bagaimana bisa? ” Tanya ku bingung sekaligus tak percaya.

“ So Eun.. Aku tau dari So Eun! ”

Aku memanyunkan bibirku… Kenapa So Eun memberitahukan mino! Itukan merupakan aib bagiku. Orang-orang selalu berpikiran keluarga kami sangatlah harmonis. Anak dari Mr. Goo? Siapa yang tak mau! Semua orang menginginkan itu. Tapi mereka tidak tau bagaimana rasanya menjadi anak orang kaya.

“ So Eun memberitahuku mungkin karena takut aku menanyakan orangtuamu. ” Kata mino setelah terdiam cukup lama.

“ Aku takut, kau bunuh diri seperti cerita Eun di telepon tadi. ” Aku menangkap nada khawatir dari perkataan mino.

Apakah ia mengkhawatirkan aku?

“ Ahhh… aku tak akan melakukannya disini. Jika ia, kau bisa saja dituduh telah membunuhku. ” Kataku dengan maksud bercanda.

“ Haha.. kau lucu juga ternyata.. ” Balas mino mencubit kedua pipiku gemas.

Ini pertama kalinya bagiku, seorang namja mencubit pipiku dengan jarak yang begitu dekat! Aku bisa merasakan pipiku memerah, bukan karena sakit, tapi rasa gugup dan juga malu.

“ Kenapa pipi mu memerah? Padahal aku mencubitnya tak terlalu keras. ” Kata mino sambil melihat pipiku yang memerah.

“ Bohong! Kau mencubitnya terlalu keras.. ” Elakku sambil meraba-raba pipiku yang memerah.

“ Ahh.. kau malu ya.. ” Dengan penuh percaya diri, mino mengatakan itu padaku. Pipiku semakin memerah.. Ottoke?

“ Ti..tidak! Kau saja yang kege-eran! ” Alasanku yang satu ini emang masuk akal.

Aku mendengar deringan ponsel yang berada di atas kasur , aku mengambil ponselku dan melihat siapa yang menelpon.

“ So Eun!! ” Teriakku semangat. Masalah yang baru saja terjadi terlupakan oleh ku

“ Besok kau pulang kan! Jam berapa? Besok akan ku jemput. ”

“ Itulah masalahnya.. ” Ujar Eun lemas. Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Sepertinya ada yang terjadi.

“ Wegude? ” Tanyaku penasaran.

“ Aku tidak pulang besok, mungkin.. ”

“ Mwo!! ” Ucapan Eun terpotong oleh jeritanku.

“ Dengarkan aku dulu sun-a!! Aku belum selesai. Aku akan pulang 3 hari lagi.. Mendadak Appa sakit, rapat yang dipimpin
Appa tidak bisa ditunda, jadi omma yang menggantikan appa besok. Dan aku ditugaskan menjaga Appa.. ” Aku mendengar penjelasan eun sambil cemberut. Aku tak menyadari adanya Mino disana.

“ So Eun-a!! ” Suaraku terdengar manja.

“ Miane Sun-a.. ”

“ Tanpa kau Eun-a.. Aku kesepian!! ” Kata ku yang tidak 100% benar, aku mengatakan ini agar Eun pulang besok.

“ Aku tau itu. Nanti aku akan menghubungi mino untuk mengajakmu jalan-jalan selama 3 hari. Kau tenang saja Ok. ”
Mino? Aku menatap mino yang emang sudah dari tadi di hadapannya.

“ Tidak usah repot-repot menghubunginya. Toh orangnya ada di sini. ” Kataku dan langsung memberikan ponselku ke Mino.

“ Yeobseyo? ”

“ Mino-a! Kau bersama hye sun? Astaga, aku tak percaya kau dan hye sun akrab dengan cepat! ” Aku bisa mendengar
dengan jelas apa yang dikatakan So Eun. Bagaimana tidak, ia bicara dengan volume full.

“ Yya! Bisa bicara dengan lembut tidak sih! Gendang telingaku seperti mau pecah! ”

“ Miane.. begini aku tidak pulang selama 3 hari. Jadi, aku minta tolong padamu mengajak hye sun jalan-jalan. Terserah mau ngajak kemana. Aku tak mau sahabatku itu mati kebosanan di rumah. ”

“ Ne Ne.. Arasseo! ” Jawab Mino Pasrah..

“ Ok! Aku tutup dulu. Bye ”

Mino mengembalikan ponselku, setelah itu berdiri dan beranjak keluar dari kamarku. Sebelum Mino benar-benar pergi, ia menoleh padaku.

“ Besok, temani aku jalan-jalan. ” Setelah mengatakan itu, ia menutup pintu kamarku.

Aku menatap pintu itu dalam diam. Ucapan mino sepertinya salah. Seharusnya aku yang memintanya menemaniku jalan-jalan bukan dia.

Kreekk…

Kepala mino muncul dari balik pintu, ia menatapku khawatir. Benarkah?

“ Apa keadaanmu sudah baikkan? ”

“ Ne… Gomawo! ” Ucapku sambil menundukkan kepala.

“ Gomawo untuk apa? ” Tanya mino bingung. Ya ampuun.. suaranya begitu lembut.

“ Perhatianmu.. ” Jawabku pelan

“ Ah.. Tidak apa-apa, aku memang seperti itu. ” Balas Mino dengan senyuman yang membuat jantungku berdegup
kencang.

@---+---@

Mino membaringkan tubuh jangkungnya di atas ranjang. Sejenak, ia perhatikan kamar yang biasa ia pakai kalau
menginap disini. Kamar itu sama sekali tidak berubah, masih sama seperti dulu. Setelah puas memandangi kamarnya, mino teringat sesuatu.

Pikirannya melayang ke 3 tahun yang lalu. Saat itu, Mino dan So Eun pergi jalan-jalan bersama, mereka sama-sama bosan dirumah. Selama di perjalanan, So Eun sepupunya menceritakan seorang gadis. Awalnya Mino sama sekali tidak tertarik, tapi setelah ia melihat foto gadis yang dibicarakan So Eun, perasaan ingin tau tentang gadis itu menjadi-jadi.
Mino memperhatikan dengan seksama foto itu. Mino sangat mengagumi senyum Hye Sun serta kulit putih Hye Sun. Bahkan pada saat pertama kali melihat foto itu, Mino sudah menaruh hati pada gadis itu yang ternyata Goo Hye Sun.




Puas dengan foto yang pertama, Mino mengambil satu foto yang berada di dompetnya, foto ini semakin membuatnya menyukai Hye Sun.



Waktu itu So Eun menceritakan, ia mengambil foto hye sun diam-diam saat hye sun mencari inspirasi untuk melukis. Ternyata, Hye Sun menggemari melukis. So Eun juga bercerita hasil karya Hye Sun membuat orang berdecak kagum.

“ Akan aku pastikan. Ia akan menjadi milikku dalam waktu 3 hari. ”

Tiba-tiba mino menjentikkan jarinya bertanda bahwa ia memiliki ide cemerlang. Mino keluar dari kamarnya dengan semangat.

 @---+---@

Tok Tok Tok…

Mino mengetuk pintu kamar ku cepat dan keras. Tidak ada jawaban dariku, ya iyalah, saat ini aku berdiri dibelakangnya.
Mino mengulangi lagi hingga 3 kali, tetap tidak ada jawaban. Ketika mino akan membuka pintu, mino merasakan dingin di
belakang lehernya. Tiba-tiba mino merinding, mino meraba-raba belakang lehernya.

“ Apa yang kau lakukan? ” Tanya ku sambil menepuk bahu mino, menyadarkan mino akan adanya aku yang sedari tadi berdiri dibelakangnya.

“ Aaaaaaa!!! ” Mino menjerit histeris, sedangkan aku tertawa terbahak melihat ekspresi lucu mino.

“ Mino-a!!! ” Karena mino tak henti-hentinya menjerit, aku menarik mino sehingga berhadapan denganku. Setelah mino tau bahwa akulah yang menjahilinya, raut wajah mino berubah. Tatapannya padaku amat tajam. Aku yang pada awalnya tertawa terbahak-bahak terdiam didetik itu juga.

“ Kau! ” Mino menunjukku dengan jari telunjuknya. “ Kau dihukum! ” Aku yang mendengarnya kaget.

“ Kenapa aku harus dihukum? ” Tanyaku dengan tampang polos

“ Kau hampir membuat jantungku copot tau! ” Bentak mino yang masih menunjuk-nunjuk wajahku.

“ Yya! Aku hanya bercanda! ”

“ Tidak ada bercanda dalam kamusku! ”

“ Tapi… ”

 Aku masih ingin membantah tapi mino menarikku memasuki kemar. Mendorongku hingga terduduk ditepi ranjangku, mino berjongkok didepanku memandangi mataku lekat.

Aku yang dipandanginya seperti itu berubah gugup.

“ W..weo?? ”

“ Kau harus di hukum.. ”

“ Ap..pa hukumannya? ” menuruti perkataannya adalah pilihan yang benar. Dengan begini, aku akan terlepas dari
tatapannya. “ Yya! Jangan memandangiku seperti itu! ”

Mino bergerak mendekati wajahku. Aku yang tau apa yang akan dilakukannya menjadi panic, mau kabur tidak bisa karena kedua tangan mino menekan kedua kakiku. Sepertinya mino tau kalau aku mau kabur.

Aku merasakan nafas mino dipipiku, terus ke telingaku.

“ Kau mau melakukannya untukku kan? ” Oh Gosh! Suara mino begitu lembut dan eerr.. seksi? Ya ampun.. apa yang harus aku lakukan.

“ Apa? Melakukan apa? ”

 “ Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kau hanya.. melukis wajahku! ”

WHAATT!! Segera saja aku dorong mino dengan kepalan tanganku. Kesal! Itu yang aku rasakan sekarang. Hanya minta dilukis saja harus dengan cara seperti ini. Emangnya aku cewek apaan!

“ Yya! Kalau mau minta dilukis bilang saja! Membuatku takut saja. ”

“ Hehehe.. Mian ”

“ Duduk disana! ” Perintahku ketus. “ Aku tak punya banyak waktu! ”

“ Oke! Oke! Jangan marah seperti itu.. Aku harus memasang wajah seperti apa? ”

“ Terserah kau saja! ”

Aku menggelengkan kepalaku, Mino kelihatannya antusias sekali. Aku menyiapkan peralatan lukisku.

“ Baiklah, bagaimana kalau seperti ini… ” Mino memasang wajah tersenyum andalannya.




Akupun mulai melukis. Aku sama sekali tidak memperhatikan ekspresinya. Aku lebih suka mino yang serius. Sesekali aku meliriknya untuk menyempurnakan lukisanku saja.

20 menit kemudian, aku selesai melukis.

“ Nih, aku sudah selesai! ”

“ Jongmalyeo? ” Mino sepertinya tidak percaya. Ia melangkahkan kakinya kearahku dan duduk tepat disampingku.

“ Yya! Kenapa kau melukis wajahku dengan wajah yang seperti ini? ”




“ Terserah aku dong. Aku lebih suka tampangmu seperti ini daripada senyummu itu. ”

Mino tidak memprotes lagi. Dia hanya mengangguk sambil memandang lukisan yang aku buat. Dari pandangannya, ia suka hasil lukisanku.

“ Bayarannya.. ” Pintaku sambil mengulurkan tanganku padanya.

“ Kau meminta upahnya? ” Tanya mino balik.

“ Ne! Palli! Kau menyuruhku melukis, berarti kau membeli waktuku. Terserah kau mau bayar berapa. ”

Mino mengelus dagunya, tandanya ia berpikir. Tidak lama kemudian ia tersenyum.

“ Kalau begitu… ” Perlahan mino merangkul pundakku..

“ Bagaimana kalau bayarannya dengan ini.. ”

Cuupps!




Note: hehehe.. aku buat ff lagi.. ckckck
Setelah baca komen ya!
Kalau ada kesalahan kasih tau
Mian, kalau membosankan
« Last Edit: August 11, 2011, 10:25:45 am by zHIe_rIsa »