Author Topic: Approach for three days update TODAY!!  (Read 3197 times)

Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Approach for three days update TODAY!!
« on: May 27, 2011, 05:50:06 am »
More Than Friend

Miss Library… Itulah julukan yang diberikan teman-temannya kepada Geum Jan Di.

Kenapa?

Karena Jan Di setiap hari menghabiskan jam istirahatnya di perpustakaan.

Apa yang dilakukannya?

Tentu saja membaca dan mencari informasi yang berhubungan dengan pelajaran.

Apakah ia tidak makan siang?

Tidak!

Kenapa? Apakah ia miskin?

Tidak! Ia tidak miskin. Ia sangat kaya, bahkan perusahaan ayahnya terkenal se-Asia.

Alasan ia tak makan siang sangat sederhana, uang yang diberikan orangtuanya ia tabung. Katanya untuk masa depan.

Apakah ia siswa berprestasi?

Tentu. Selain ia rajin ke perpustakaan, ia juga menjadi siswa terpintar di seluruh kelas 3 di sekolahnya.

Apakah ia punya teman atau sahabat?

Hmm.. Jawabannya ada dua, antara ya dan tidak. Tidak bisa dipastikan. Jika mereka membutuhkan Jan Di, mereka akan
datang dengan sendirinya, biasanya mereka menemui Jan Di jika mengalami kesulitan dalam belajar. Jika tidak, mereka akan pergi begitu saja tanpa mengucapkan “ Gomawo ”

Sesungguhnya, Jan Di tidak akan pernah melayani mereka, tapi perkataan omma nya selalu terngiang di telinganya. “ Orang yang berilmu akan membagikan ilmunya kepada orang-orang yang membutuhkan ilmu.  ”

Jan Di memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya perlahan setiap kali ia mengingat perkataan omma nya.

“ Oh ya Jandi-a.. Nanti aku jemput pukul 4 sore di rumah mu Ok. Jangan lupa diselesaikan dengan baik, jangan sampai
ada yang salah, besok pagi harus di serahkan ke Mr. Joon, Arasseo! ” Ujar seorang siswi terpopuler di sekolah tersebut sambil melemparkan sebuah buku ke Jandi yang membuat sepasang mata Jandi terbuka dan menatap siswi tersebut tajam.

“ Aku tidak bisa menolongmu kali ini. ” Tolak Jandi lembut

“ Kenapa! ” Tanya siswi tadi

“ Aku lelah, aku butuh istirahat. ” Jawab Jandi selembut mungkin supaya siswi tersebut tidak tersinggung.

“ Tidak ada kata lelah untukmu! ” Siswi tadi mencengkram kerah baju Jandi “ Aku tidak mau tahu, tugasku ini harus selesai hari ini juga! ” Lalu siswi tadi melepaskan cengkramannya dan mendorong Jandi hingga Jandi terduduk di kursinya
yang terbuat dari kayu.

“ Tapi.. ” Jandi berusaha membantah tapi tidak bisa.

“ Tidak ada tapi-tapian..! ” Siswi tadi meninggalkan Jandi sendirian dan keluar dari kelas Jandi. Sesampainya di luar ia melihat namja incarannya. Siswi tadi tersenyum dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Setelah itu, siswi tadi menghampiri namja incarannya yang sejak tadi berdiri di hadapannya, menatap siswi itu tajam.

“ Anyeong Jun Pyo oppa. ” Sapa nya ramah.

Goo Jun Pyo, namja incaran siswi yang membentak Jan di tadi mulai melangkahkan kakinya kea rah siswi tersebut. Benar saja, siswi tadi senyum-senyum tak jelas, senyumannya semakin lebar saat Jun Pyo menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya masuk ke kelas Jan di tadi.

Jan di yang pada saat itu mengejarkan tugas pemberian siswi tadi mengangkat kepalanya ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Matanya yang bulat semakin membulat melihat siswi tadi bersama seorang namja yang ia tidak ketahui nama namja tersebut, yang ia ketahui, namja tersebut siswa terpintar kedua setelah ia dan ayahnya pemilik sekolah ini.

“ Serahkan bukunya. ” Kata Jun Pyo mengulurkan tangannya.

“ Ne? ”

“ Buku yang kau pegang itu. Serahkan padaku. ” Ulang Jun pyo lagi

“ Oh.. Tapi.. ini... ” Jandi sama sekali tidak berniat memberikan buku itu pada Jun pyo, setelah mendapat pandangan yang tak enak untuk dilihat dari siswi tadi.

Jun pyo tidak tahan lagi. Ia rebut buku tersebut dengan paksa dan memberikannya kepada siswi tadi.

“ Jun pyo oppa. Ini kan buku jan di, mengapa oppa berikan padaku? ” Tanya siswi tadi dengan manja.

“ Benarkah itu buku Jan Di? ” Tanya jun pyo pelan

“ N..ne.. i.tu buku Jan Di. Aku tak mungkin berbohong oppa. ” Elak siswi tadi dengan memalingkan wajahnya.

 “ Kau tahu aku ini siapa? ” Tanya jun pyo lagi

“ Anak pemilik sekolah ini. ” Jawab siswi itu pelan.

“ Kau tahu apa yang aku lakukan jika aku menangkap seseorang yang berbohong padaku? ”

Siswi tadi menundukkan kepalanya sambil menggelengkan kepalanya. Jan Di yang sejak tadi mendengar percakapan Jun pyo dan siswi tadi menelan ludahnya pelan. Walaupun bukan ia yang di Tanya jun pyo, tapi ia bisa merasakan apa yang siswi tersebut rasakan.

“ Aku akan mengeluarkan orang tersebut hanya dengan mengadu pada appa ku dan memberi bukti yang jelas. ” Bisik Jun pyo tepat di telinga siswi tadi.

“ Jadi, jawab dengan jujur. Ini buku siapa? ” Tanya jun pyo mengangkat buku yang sedari tadi ditangannya.

“ Punya ku Jun pyo oppa ” Jawab siswi tadi pelan.

“ Kenapa kau memberikannya padanya? ” Jun pyo menunjuk kea rah Jandi. “ Apakah ia meminjam buku ini? ”

“ Ne.. ” Jawab siswi tadi

“ BERBOHONG LAGI!! ” Bentak Jun Pyo

“ Ahh ne… miane Jun pyo oppa. Jeongmal miane. ” Ujar siswi tadi dengan suara bergetar

“ Aku tak butuh kata maaf mu! ” Teriak Jun Pyo pada siswi yang tengah ketakutan itu

“ Aku meminta tolong buatkan tugas padanya Jun Pyo oppa. ” Jawab siswi tersebut

“ Minta tolong? ” Tanya jun pyo tak percaya.

“ Ne… ” Jawab siswi tadi.

Huhh.. Jun Pyo menghela nafasnya. Gadi didepannya masih saja berbohong.

“ Baiklah kau boleh keluar. ” Jun pyo memberikan buku itu pada siswi tadi. “ Kerjakan tugasmu sendiri, jangan meminta
bantuan pada orang lain. ” Nasehat Jun Pyo. “ Dan bersiap-siaplah ” Kata jun pyo pelan pada siswi tadi. Siswi tersebut ketakutan dan berlari keluar kelas dengan mata yang sudah memerah.

Sepeninggal siswi tadi, Jun Pyo mengalihkan wajahnya kearah Jandi, Jan di langsung menundukkan kepalanya saat Jun Pyo menatapnya.

Jun Pyo mendekat dan duduk di sebelah Jan di.

“ Kenapa kau melakukan ini. ” Tanya Jun Pyo pelan

“ Dhe? ”

“ Kenapa kau mau menjadi budak mereka selama ini? ”

“ Itu.. ” Jan di tidak mampu menjawab pertanyaan Jun Pyo. Ia memutar bola matanya mencari jawaban yang pas. “ Dari mana kau tahu mereka selalu begitu padaku? ” Bukannya menjawab pertanyaan Jun Pyo, Jan di malah bertanya pada Jun Pyo.

“ Hm.. selama ini aku memerhatikan mu. ” Jawab Jun Pyo sambil memalingkan wajahnya. Wajahnya memerah ketika mengatakan itu pada Jan di.

“ Gomawo.. ” Ucap Jan di pelan

“ Mwo? ” Tanya Jun Pyo tak mengerti

“ Telah menyalamatkan aku. ” Jawab Jan di tersenyum pada Jun Pyo. Melihat senyuman Jan di, Jun Pyo jadi ikut-ikutan tersenyum.

“ Namaku Goo Jun Pyo ” Kata Jun Pyo mengulurkan tangannya

“ Aku Geum Jan Di ” Kata Jan Di sambil membalas uluran tangan Jun Pyo.

“ Kau sendirian di sini? Mana temanmu ” Tanya Jun Pyo sekedar basa basi

“ Aku tak punya teman. ”

“ Sama kalau begitu. Bagaimana kalau kita temenan atau lebih juga bisa. ” Kata Jun Pyo sambil tersenyum menggoda Jan
di.

“ Aku tak percaya kau tidak punya teman. ” Kata Jan di. Jun Pyo menanggapinya dengan senyuman. “ Dan apa maksud perkataan terakhir mu tadi. ”

“ Lebih juga bisa? ” Tanya jun Pyo. Jan di menganggukkan kepalanya. “ Lebih dari teman. ” Jelas Jun Pyo.

“ Lebih dari teman berarti.. ” Jan di mulai berpikir sejenak. Jun Pyo menatap Jan Di penuh harap.

“ Berarti sahabat! ” Jawab Jandi menyatukan kedua telapak tangannya sehingga menghasilkan suara tepukan yang tak
begitu keras.

Jun Pyo hanya tersenyum kecil setelah mendengar jawaban Jan Di. ‘ Katanya murid terpintar no. 1 di sini. Tapi mengapa ia tidak bisa menangkap maksudku. ’ Kata Jun Pyo dalam hati.

“ Oh ya, kenapa kau tak ke perpustakaan? Biasanya kan begitu. ” Tanya Jun Pyo menatap Jan Di. Jan Di mengangakan mulutnya tak percaya. “ Kau membuntuti aku terus ya! Kenapa kau mengetahui semuanya. ” Seru Jan Di membuat Jun Pyo gugup.

“ Itu… Yya.. bagaimana aku tak tahu. Kau kan Miss Library. ” Jawab Jun Pyo gugup.

“ Benar juga. Aku tak ke perpustakaan sekarang karena capek. Aku perlu istirahat sejenak. ” Kata Jan di menjawab
pertanyaan Jun Pyo.

“ Bagaimana kalau kau pergi berlibur. ” Usul Jun Pyo.

“ Aku tak punya waktu. Sebentar lagi mau ujian kelulusan. ” Tolak Jan Di lembut

“ Hei.. Kalau kau belajar terus, aku jamin, waktu ujian di mulai kau sakit. Aku akan mengatakan pada appa untuk memberikan liburan selama 2 hari. Nah, dalam 2 hari tersebut kau gunakan untuk liburan. Bagaimana?  ”

“ Tidak usah. ” Tolak Jan di lagi.

“ Kenapa? ”

“ Aku seperti memanfaatkan mu. Itu tidak baik bukan? ” Jawab Jan di

“ Tidak kok. Aku pantas melakukan itu. Kita kan teman ” Kata Jun Pyo

“ Aku mau lebih ” Ujar Jan Di. Perkataan Jan di membuat jantug Jun pyo berdetak lebih cepat. Ia berpendapat bahwa jandi mulai mengerti maksud ‘ Lebih dari teman ’

“ Sahabat Ok. Kita sahabatan. ” Kata-kata Jan di membuat Jun Pyo kecewa.

“ Ok, kita sahabatan. ” Balas Jun Pyo lemas.

“ Kenapa lemas begitu. Kau tak mau jadi sahabat ku? ” Tanya Jan Di sambil memanyunkan bibirnya.

“ Bukan Begitu. ” Jawab Jun Pyo cepat. “ Aku harus menghubungi appa sekarang. ” Kata Jun Pyo seraya berdiri dari duduknya dan berlalu.

~~~ *** ~~~

Kriiiinngggg…..!!!!

Bel berakhirnya sekolah telah berbunyi. Jandi meberekan bukunya, memasukkannya kedalam tas.

“ Tunggu dulu. ” Kata Mr. Park lantang, membuat aktivitas semua siswa terhenti

“ Sebelum pulang, kalian lihatlah pengumuman di mading. Arasseo! ”

“ Ne.. ” Jawab mereka serentak

“ Karena sebentar lagi mau ujian. Saya selaku guru Fisika kalian berdo’a supaya kalian berhasil dalam ujian. Kalian boleh
keluar sekarang. ”

Jandi tergesa-gesa keluar kelas. Perasaannya menjadi tidak enak.

Setelah sampai di madding sekolah, Jandi tidak dapat melihat apapun. Semua siswa sudah berkumpul di madding itu.

“ Inilah akibatnya badan mu mungil Jandi-a. ” Ucap Jandi pada dirinya sendiri.

Akhirnya Jan Di menyerah. Ia bertanya pada siswa disampingnya yang lebih tinggi darinya.

“ Apa isi pengumuman itu? ” Tanya jan di pada siswa tersebut

“ Oh itu, untuk seluruh kelas tiga, mulai 2 hari kedepan di liburkan. ” Jawab siswa tersebut.

“ Oh, Gomawo.. ” Kata Jan Di dan segera menerobos siswa yang berada di situ.

Setelah berhasil keluar, Jan Di duduk didekat madding, ia haus dan kakinya juga sakit, ketika tidak sengaja seseorang menginjak kakinya.

Jan Di melihat seseorang yang berdiri dihadapannya sambil mengulurkan tangan.

“ Mau ku bantu? ” Tanya pemuda itu yang ternyata Jun Pyo.

Jandi tersenyum dan membalas uluran tangan itu, tapi Jan Di tidak mampu berdiri dengan baik, karena kakinya masih
sakit.

“ Kakimu kenapa? ” Tanya Jun Pyo khawatir.

“ Tadi seseorang menginjak kaki ku. ” Jawab Jandi

“ Kita ke sana dulu. ” Jun Pyo menunjuk kursi yang terletak tidak jauh dari mereka. “ sini aku bantu ” Jun Pyo
melingkarkan tangan kirinya ke bahu Jan Di dan tangan kanannya memegang lengan kanan jandi.

Jun Pyo membantu Jan Di duduk. Lalu, membuka sepatu Jan Di tapi Jan Di menghalanginya.

“ Tidak usah, kaki ku hanya terinjak. Sebentar lagi sakitnya bakalan hilang kok. ”

Setelah itu mereka terdiam cukup lama. Hingga..

“ Jan DI ”

“ Jun Pyo ”

Panggil mereka berbarengan.. hanya berselang beberapa detik, mereka tertawa bersama, menyadari tingkah mereka sendiri.

“ Kau duluan. ” Kata Jun Pyo kemudian

“ Hmm.. Gomawo.. Hari ini kau sangat memperhatikanku. ” Kata Jan Di malu-malu

“ Ah.. tidak masalah. ” Balas Jun Pyo sambil menggaruk kepala bagian belakang

“ Sekarang giliranmu.. Apa yang mau kamu katakana? ”

“ Mulai 2 hari kedepan kita liburan bersama ya! ” Kata Jun Pyo.

“ Mwo? ” Tanya Jan Di tak percaya.

“ Kita keliling Korea bersama-sama. Ya.. sekalian merayakan hari sahabatan kita. ” Lanjut Jun Pyo.

“ Baiklah, besok pukul 2 siang. Kita bertemu di.. ”

“ Aku jemput. ” Potong Jun Pyo cepat.

“ Emangnya kamu tahu dimana rumahku? ” Tanya Jan Di tak percaya

“ Oh.. Ti…dak.. Aku tidak tahu. Maka dari itu. Kacha, aku antar kau pulang. ” Kata Jun Pyo cepat. Sejujurnya ia mengetahui
rumah Jan Di dimana. Tapi, Jun Pyo pura-pura tidak tahu di depan Jan Di.

~~~ *** ~~~

Tok… Tok… Tok…

Cklek…

“ Goo Jun Pyo, kau sudah sampai? ” Tanya Jan Di sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tepat
pukul 2 siang.

“ Menurutmu? ” Tanya Jun Pyo balik

“ Mian.. tunggu sebentar, aku mau ambil tas. Kau mau masuk dulu atau di luar? ” Tanya Jan Di sebelum balik ke
kamarnya.

“ Aku disini saja. ”

Tak sampai 1 menit. Jan Di sudah berdiri di depannya.

“ Kacha ” Ajak Jan Di

“ Ne.. Kau sendirian di rumah? ” Tanya Jun Pyo sambil membuka pintu mobil untuk Jan Di

“ Tidak! Pukul 7 pagi tadi, omma dan appa sudah berangkat kerja. ” Jawab Jan Di

“ Apakah mereka tahu bahwa kau pergi bersamaku? ” Tanya Jun Pyo lagi

“ Tentu! Oh ya kita mau kemana?  ” Tanya Jan Di

“ Keliling Seoul. ” Jawab Jun Pyo singkat.

Hanya “OH” tanggapan Jan Di. Ia tak lagi berbicara ataupun bertanya pada Jun Pyo, Jun Pyo pun sama.

30 menit mereka di perjalanan, akhirnya Jun Pyo memarkirkan mobilnya asal. Lalu mengambil ponsel dan menghubungi
seseorang. Setelah itu, Jun Pyo keluar dan membukakan pintu untuk Jan Di.

“ Kita mulai dari sini. ” Kata Jun Pyo pelan.

Jan Di turun dari mobil Jun Pyo. Setelah itu, Jun Pyo menggenggam tangan Jan Di dan membawanya jalan-jalan di antara pejalan kaki lainnya.

“ Kenapa kau menggenggam tanganku? ” Tanya Jan Di heran

“ Disini ramai, nanti kau malah hilang. ” Jawab Jun Pyo tenang.

“ Mobil mu bagaimana? ” Tanya Jan Di lagi

“ Tenang saja. Bodyguard ku yang membawanya pulang. ”

“ Kita di kawal? ” Tanya Jan Di lagi

“ Tidak. ” Jawab Jun Pyo, tenang.

Tiba-tiba langkah Jun Pyo berhenti di depan toko Aksesoris. Jun Pyo memasuki toko tersebut dengan Jan Di

“ Ada yang bisa kami bantu? ” Tanya penjaga toko tersebut sopan.

“ Apakah disini menjual Ring Couple? ” Tanya Jun Pyo

“ Ada tuan. Mohon Tunggu sebentar. ”

“ Yya.. Jun Pyo, untuk apa kau membeli cincin? ” Tanya Jan Di penasaran

“ Menurutmu? ” Tanya Jun Pyo balik, cuek.

“ Sepertinya begitu. Tapi untuk siapa? Pacarmu? ” Tanya Jan Di yang ingin tahu

“ Untuk kita. ” Jawab Jun Pyo santai

“ Mwo? ”

“ Ini tuan. Cincin-cincin ini baru datang dari Prancis. Silahkan dipilih. ” Kata penjaga toko.

Jun Pyo melihat cincin yang ada di depannya. Ia sedikit kebingungan.

“ Anda mau yang seperti apa? Biar saya bantu memilihkannya tuan. ”

“ Aku mau Ring couple untuk kami. ” Kata Jun Pyo pada pelayan itu. Pelayan itu melirik Jan Di dan tersenyum. Lalu, ia
mulai memilih cincin yang cocok untuk pasangan didepannya.

Jun pyo mengalihkan pandangannya “ Yya.. Geum Jan Di, kau tak berniat menolongku memilih cincin untuk kita?  ” Tanya
Jun Pyo pada Jan Di

“ Aku tak berniat membeli cincin. ” Kata Jan di acuh tak acuh.

“ Yya.. kau akan tahu apa alasan ku membeli cincin ini. ”

“ Bagaimana dengan ini tuan ” Suara pelayan toko mengalihkan pandangan Jun Pyo. Jun Pyo mengangkat cincin itu dan
memakaikannya pada jari Jan Di.

“ Pas sekali. ” Gumam Jun Pyo pelan. Lalu, mengambil Cincin yang satunya lagi dan memasangnya di jari telunjuknya.
Cincin itu terlihat indah di jarinya. Jun Pyo tersenyum dan membeli cincin tersebut.





Di perjalanan

 “ Kita mau kemana lagi? ” Tanya Jan Di yang kelihatannya capek. Sejak tadi mereka jalan kaki dan tidak ada jeda
sedikitpun.

“ Kau maunya kemana? ” Tanya Jun Pyo balik.

“ Kau selalu saja menanyakan pendapatku. ” Keluh Jan Di pelan. “ Aku mau ketaman. ” Kata Jan Di akhirnya.

“ Baiklah. Kacha ” Jun Pyo menarik Jan DI menuju taman.




Di Taman…

“ Ahh.. Akhirnya aku duduk juga. ” Kata Jan di sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Jun Pyo juga melakukan
hal yang sama dengan Jan Di.

“ Kau lelah? ” Tanya Jun Pyo

“ ooo.. lelah sekali. Sejak tadi kita jalan terus. ” Keluh Jan Di pada Jun Pyo.

“ Hmm.. mian. ”

Tak ada pembicaraan setelah itu. Mereka menatap lurus kedepan, tepatnya kearah pejalan kaki. Yang tertangkap oleh
Indera Penglihatan Jun Pyo adalah, ia melihat keluarga, sekelompok pria dan wanita dalam jumlah banyak, orang-orang kantoran, sepasang suami isteri, yang istrinya sedang hamil, dan yang terakhir adalah sepasang kekasih. Jun Pyo menatap sepasang kekasih dengan pandangan iri, terlihat olehnya, sang pria mencium mesra pipi kekasihnya. Setelah pasangan tersebut tak terlihat lagi, Jun Pyo mengalihkan pandangannya ke arah Jan Di.

“ Geum Jan Di.. ” Panggil Jun Pyo lembut

“ Hmm.. ” Balas Jan Di memandang Jun Pyo

“ Kau ingin tahu kenapa aku membeli Ring Couple? ” Tanya Jun Pyo menatap bola mata Jan Di.

Jan Di menggelengkan kepalanya pelan, masih memandang Jun Pyo.

“ Karena aku mau hubungan kita lebih dari teman. ” Kata Jun Pyo membalas pandangan Jan Di.

“ Sahabat ” Kata Jan Di menundukkan kepalanya.

Jun Pyo mengangkat wajah Jan Di yang tertunduk. Menatapnya penuh harap.

“ Lebih dari sahabat. ” Kata Jun Pyo lembut.

Perlahan-lahan Jun Pyo menundukkan wajahnya, mengarahkannya ke wajah Jan Di. Jan Di diam, ia tak tahu harus
berbuat apa. Jantungnya berdetak lebih cepat. Pandangan Jun Pyo yang mengharapkan sesuatu padanya menyadarkan Jan Di akan sesuatu. Jun Pyo berharap hubungan ini lebih dari teman, berarti bukanlah sahabat melainkan “ Kekasih”
Jan Di menyadarinya sekarang. Perasaannya tidak bisa berbohong, berada di dekat Jun Pyo membuatnya nyaman dan terlindungi.

“ Saranghae Geum Jan Di ” Kata Jun Pyo penuh degan kelembutan.

Jan Di menanggapi perkataan Jun Pyo dengan senyuman manis khas miliknya. Setelah itu, menutup kedua matanya, menunggu sentuhan Jun Pyo.

Jun Pyo tersenyum lebar. “ Jan Di telah menyadari kata ‘ Lebih dari teman ’ itu. ” Gumam Jun Pyo dalam hati.

Jun Pyo mendekatkan wajahnya lagi, lebih dekat dan akhirnya bibir Jun Pyo menyentuh bibir mungil Jan Di. Melumatnya
pelan dan lembut.

Jun Pyo tak merasakan apapun, Jan Di tidak membalas lumatannya. Perlahan Jun Pyo menyudahi ciumannya dan menatap
Jandi yang saat itu membuka kelopak matanya.

“ Miane… Aku belum pernah berciuman sebelumnya. ” Kata Jan Di dengan nada menyesal

Jun Pyo mengecup bibir itu cepat.

“ Tidak apa-apa. Aku memakluminya. ” Kata Jun Pyo menenangkan Jan Di.

“ Op..pa.. ” Suara seorang gadis membuat suasana kebahagiaan Jun Pyo dan Jan Di terusik. Siswi tersebut sepertinya memotret adegan ciuman Jan Di dan Jun Pyo, terlihat dari tingkahnya menatap Jun Pyo Jandi dan layar ponselnya berkali-kali. #bagian ini aku ambil dari Film 4 Periode Mysteri

Jun Pyo mencari sumber suara dan ternyata suara itu adalah, suara siswi yang menyuruh Jan Di menyelesaikan tugasnya.
Jun Pyo terkejut, Jan Di pun sama. Mereka memikirkan hal yang sama. Siswi tersebut melihat semua kejadian di antara mereka. Jun Pyo yang merasa pipinya mulai memerah, dengan cepat menarik Jan Di pergi dari situ, ketika ia melihat siswi tadi mendekati mereka.


THE END
 
« Last Edit: August 11, 2011, 10:25:58 am by zHIe_rIsa »

Share on Bluesky Share on Facebook


Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #1 on: May 27, 2011, 06:06:18 am »
Hoho..
aku buat FF yang langsung abis..
Moga aja suka
Ku tunggu komennya
  [biggrin]

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #2 on: May 27, 2011, 07:24:39 am »
Firsh coment! Sanranku dengerin lagu dari west life yg judulnya more than word aja pas bc ff ini. Ff nya asyik kok [lovestruck]

Offline kelinci_hilang

  • Senior
  • ****
  • Posts: 518
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #3 on: May 27, 2011, 07:25:47 am »
Firsh coment! Sanranku dengerin lagu dari west life yg judulnya more than word aja pas bc ff ini. Ff nya asyik kok [lovestruck]

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #4 on: May 27, 2011, 10:01:34 am »
 [briggin] [briggin] oh... ini one shoot, ya.... tapi kok  akhirnya nanggung banget?


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #5 on: May 28, 2011, 02:50:59 am »
   Suka sma ceritanya simpel Engga berbelit''
  Tapi... Tetap ada sisi romantisnya karna
Minho memebeli cincin couple & mengutarakan persaan sangat ketika itu juga .

 bikin aja lagi sist ff one shoort nya 

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #6 on: May 28, 2011, 02:52:21 am »
   Suka sma ceritanya simpel Engga berbelit''
  Tapi... Tetap ada sisi romantisnya karna
Minho memebeli cincin couple & mengutarakan persaan sangat ketika itu juga .

 bikin aja lagi sist ff one shoort nya 

Offline aii.d luffy

  • Full
  • ***
  • Posts: 301
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #7 on: May 28, 2011, 04:59:19 am »
Iya sist,tanggung.
Itu yang maen jepret2 aja dikemanain?wkwk
BELIEVE IN HAPPY ENDING--MINSUN

Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #8 on: May 28, 2011, 05:41:04 am »
Firsh coment! Sanranku dengerin lagu dari west life yg judulnya more than word aja pas bc ff ini. Ff nya asyik kok [lovestruck]

Thanks udah baca sista...  [lovestruck] [lovestruck]

Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #9 on: May 28, 2011, 05:42:40 am »
   Suka sma ceritanya simpel Engga berbelit''
  Tapi... Tetap ada sisi romantisnya karna
Minho memebeli cincin couple & mengutarakan persaan sangat ketika itu juga .

 bikin aja lagi sist ff one shoort nya 

Kapan-kapan aja ya sista.. kalo ada ide  [sweat] [sweat]

Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #10 on: May 28, 2011, 05:43:49 am »
Iya sist,tanggung.
Itu yang maen jepret2 aja dikemanain?wkwk

 tenang aja sis udah aku lempar  [hmpfh] [hmpfh]

Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #11 on: May 28, 2011, 05:44:20 am »
[briggin] [briggin] oh... ini one shoot, ya.... tapi kok  akhirnya nanggung banget?

Ya.. sengaja buat ending nanggung [hmpfh] [hmpfh]

Makacih dah baca [lovestruck]

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #12 on: June 12, 2011, 01:19:35 am »
wah... langsung ending?? [on] [on] [on]

ditunggu ff slanjutnya ya  [bye] [bye] [bye]

[/img]


kissing you baby... muaaaccchhh ^^

Offline zHIe_rIsa

  • Junior
  • **
  • Posts: 151
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: More Than Friend
« Reply #13 on: July 30, 2011, 11:16:31 pm »
Approach For Three Days
[/size][/color]

Namaku Goo Hye Sun. Aku tinggal bersama orangtuaku ya.. bisa dibilang tidak peduli. Maksudku, mereka peduli dan merasa penting yang namanya BISNIS daripada aku putri mereka sendiri, mereka lebih cemas dan khawatir kalau perusahaan mereka mengalami masalah, sedangkan ketika aku sakit mereka cuek saja, para pelayanlah yang merawatku.

Awalnya, aku berusaha bersabar dan berpikir positive akan sikap orangtuaku. Tapi, lama kelamaan aku tidak sanggup lagi tinggal bersama mereka. Apa arti kehidupan kalau hanya diisi dengan kesepian, kebencian. HIDUP HANYA SATU KALI!!
Hari ini, aku putuskan. Aku kabur dari rumah, dan menginap dirumah So Eun, satu-satunya sahabatku. Hanya Keluarga So Eun yang mengetahui keadaan keluargaku. Dan aku bersyukur Keluarga So Eun mengizinkan aku untuk tinggal dirumah mereka selama yang aku mau.

Day 1

Hari ini aku dan So Eun duduk ditepi kolam, kami berbincang-bincang, bercanda bersama dan juga menggosip. Orangtua So Eun tidak dirumah, mereka pergi keluar negeri untuk bisnis.

“ Sun-a! Ceritakan padaku! Kenapa kau kabur dari rumah dan menginap disini? ”

“ Kau tidak suka aku tinggal disini? ”

“ Bukan begitu Sun-a.. Aku yakin, orangtuamu saat ini pasti mengkhawatirkanmu.. ”

“ Yang mereka khawatirkan hanyalah bisnis ”

Huhh!! Aku tau, So Eun selama ini berusaha memperbaiki keluargaku. Aku jamin, dia tidak akan pernah berhasil.

“ Oh ya sun-a, dulu aku pernah cerita tentang sepupuku yang bernama Lee Min Ho yang kuliah di Australia. Kau ingatkan? ” Aku berpikir sebentar lalu menganggukkan kepala.

“ Kata omma ia akan pulang hari ini. Dan menginap disini bersama kita. Kau tidak keberatan kan sun-a? ” Tanya So Eun padaku.

“ Aku tak keberatan kok. Kau bilang, Lee Min Ho itu baik. ” Jawabku dengan senyuman manis.

Setelah itu, kami berbincang lagi, tema kali ini mengingat masa sekolah dulu. Tentang namja-namja yang dulunya mendekati kami sekarang sudah menjadi suami karena menghamili yeoja yang menurut kami imannya kuat. Tapi ternyata…

Perbincangan kami terputus oleh deringan ponsel So Eun.

“ Oh Omma? ”

So Eun me-loudspeaker supaya Hye Sun bisa mendengarnya juga.

“ Eun-a kau dimana nak? ” Tanya omma So Eun lembut

“ Lagi di kolam bersama Hye Sun ” Jawab So Eun sambil menoleh kepadaku.

“ Ada apa omma? ” Tanya So Eun setelah menyadari ada yang ganjal pada ommanya.

“ Begini nak, kau sekarang ke Bandara sekarang. Sejam lagi MinHo tiba di Seoul, setelah itu kau langsung ke Jepang
mengantarkan bahan rapat untuk besok diruangan kantor appa ” Jelas omma So Eun panjang lebar.

“ MWO!!! ” Teriakku dan So Eun serentak.

“ Tapi omma. Bagaimana dengan Hye Sun. Ia masih tidak berani pulang kerumah. Bagaimana kalau hye sun ikut Eun ke Jepang? ”

“ TIDAK BISA! ” Tolak omma So Eun segera. “ Bagaimana dengan Minho.. Kau tega membiarkannya di Seoul sendirian? ”

“ Aku suruh saja Minho ke Jepang langsung, bagaimana? ”

“ TIDAK BISA! Mino baru pulang, masa kau bawa ke Jepang. Ia pasti capek So Eun-a.. ”

“ Tak ada jalan lain? ” Tanya Eun lemas

“ Tidak ada Eun-a.. Sekarang bergegaslah. ” Kata omma So Eun memelas dan memutuskan mengakhiri pembicaraan.

“ Ottoke? ” Tanya Eun khawatir

“ Gwenchana Eun-a. Kau kan hanya 1 hari disana. Lagian aku bisa menjaga diri, jika Lee Min Ho itu macam-macam
padaku. ” Kataku dengan maksud menghiburnya. Dan yah, So Eun tersenyum.

“ Kude.. ” Tiba tiba Eun mencondongkan tubuhnya padaku.. “ Hubungi aku segera jika kau merasa tidak nyaman atau merasa aneh dengan tingkah laku Minho. Ok! ” Eun mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku terkekeh mellihat tingkah Eun yang satu ini.

@---+---@

“ Eun-a.. Mana Lee Min Ho itu, sudah 1 jam 30 menit 59 detik. Oh sekarang sudah 1 jam 31 menit 3 detik Eun-a!! ” Ujarku kesal.

“ Jangan berlebihan sun-a.. ” Balas Eun dengan sabar.. “ Jangan-jangan kau tidak sabar bertemu dengannya ya? ” Goda Eun menunjuk hidungku.

“ Eun-a!! Bukan begitu, 10 menit lagi pesawat menuju Jepang akan lepas landas. ”

Eun menepuk jidatnya keras hingga sedikit memerah. Tuh kan!

“ Kau benar sun-a.. hehehe.. Kau memang teman terbaikku! ” Kata Eun sambil menepuk pundakku dan tersenyum semanis mungkin.

“ Annyeong… ” Tiba-tiba pemuda jangkung yang tak ku kenal muncul dihadapanku dan Eun. Aku menoleh pada Eun.

Kulihat Eun menunjukkan senyum centilnya. Lalu pandanganku beralih ke pemuda itu. Pemuda itu memakai kaca mata
hitam besar, baju putih dan cardigan hitam, celana hitam sedikit ketat #mo kemane bang? Mo kekuburan ye?

“ Eun-a!! ” Aku tersentak, pemuda ini mengenali Eun? Eun sama seperti ku, terkejut tapi Eun berusaha menyembunyikannya.

“ Kau mengenaliku? ”

“ Apa kau sudah lupa padaku? Tega sekali! ” Kata pemuda itu dan melepas kacamatanya.

“ Omo!!! Mino-a..! Miane, aku tidak mengenalimu. ” Aku menoleh pada Eun, ternyata ini yang namanya Lee Min Ho..
OMG!!! Ganteng banget… Saat diam aja membuat ku meleleh, apalagi saat tersenyum?

“ Ck.. Apakah aku begitu mempesonamu setelah 3 tahun tak bertemu? ”

Yah aku mengakui itu.. Ucapku dalam hati

“ Hey,,, siapa nona cantik ini? ” Tanya Mino tiba-tiba sambil menatapku. Aku gugup dibuatnya.

“ Goo Hye Sun-imnida.. Aku temannya So Eun. ” Aku mengulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya.

“ Lee Min Ho imnida.. Oh.. ini yang namanya Goo Hye Sun. So Eun sering menceritakan tentangmu. Senang bisa berkenalan denganmu Hye Sun ” Mino membalas uluran tanganku dengan senyuman yang mampu membuatku jatuh
padanya.

Aku menyenggol lengan So Eun sedikit keras. Ia meringis sambil menatapku tajam. Aku tak memperdulikannya.

“ Apa saja yang kau bicarakan tentangku kepada Mino hah? ” Bisikku supaya Mino tak mendengarnya

 “ Hehe.. tidak ada kok sun-a, hal-hal biasa saja. Jangan dipikirkan. Oh ya Sun-a.. aku pergi dulu ya.. Hati-hati Ok! ” Kata
Eun kemudian dan meninggalkanku dengan Mino di sini.

“ Mino-a!! Hye Sun sementara tinggal  di rumah ku. Kau menginap di sana. Jaga Hye Sun baik-baik, jangan melakukan hal yang macam-macam, jangan pernah memberinya sushi.. Arraseo! ”

“ Ne, halmonie.. ” Kata mino sambil cekikikan.

“ Aush kau! ” Eun berjalan mendekati mino, tapi mino menunjuk jam tangannya, mengingatkan Eun pada waktu.

“ Aush.. ”

@---+---@

Aku dan Mino saat ini makan siang bersama. Ternyata, mino pemuda yang asyik dan nyambung di ajak bicara, dia juga mudah bergaul dengan siapa saja. Sempat aku berpikir, yang selama ini berteman dengannya, pasti betah..

“ Goo Hye Sun ” Panggil Mino..

“ Hm… ” Jawabku. Aku tak terbiasa bicara saat makan.

“ Kenapa kau menginap di sini? Kemana orangtuamu? ” Pertanyaan mino membuat nafsu makanku hilang, aku meletakkan garpu dan pisau. Mengambil air dan meneguknya. Aku tau, mino menatapku penuh tanda Tanya.

“ Orangtuaku ada, tapi aku malas pulang. Itu saja. ”

“ Apakah kau kabur dari rumah? ” Tanya mino hati-hati.

“ Aku… aku ke kamar dulu. ” Aku berdiri dan meninggalkan mino, hatiku sakit ketika mino menanyakan tentang orangtuaku. Aku tidak bisa juga menyalahkannya karena ia memang tidak tau apa-apa tentangku. Kami baru kenal beberapa jam yang lalu.

“ Ada apa dengannya? ” Tanya mino pada dirinya sendiri..
HP mino bergetar, mino melihat siapa yang menelponnya dan ternyata So Eun.

“ Yeobseyo? ”

“ Mino-a! Aku lupa memberitaumu. Kalau bisa kau jangan pernah pernah menanyakan tentang orangtua hye sun Ok. Jika kau melakukannya, ia akan sedih atau menangis. ”

“ Memangnya ada yang salah? ”

“ Tentu! Hye sun bisa dibilang Broken Home. Omma Appa Hye Sun sama sekali tak memperdulikan hye sun, menurut
mereka bisnis yang paling penting. Hanya bibi Kyong, pembantu keluarga Goo yang mengerti Hye Sun. Tapi sekarang Bibi Kyong sudah tak bekerja lagi karena dipecat. Setelah kepergian Bibi Kyong, hye sun tidak betah tinggal di rumah. Lalu, ia memutuskan kabur dari rumah dan menginap di rumahku. Satu lagi! Hye Sun bisa saja berbuat nekad, seperti bunuh diri. Hye Sun pernah melakukannya tapi gagal, karena ketahuan bibi Kyong. Jadi ku harap kau jangan pernah membicarakan ini.  ” Jawab Eun panjang lebar.

“ Aku tutup. Bye! ” Karena Mino tak membalas ucapannya, Eun memutuskan mengakhiri pembicaraan..

“ Ottoke? ” Mino mulai panic. Ia mengacak rambutnya. Sesekali, mengelilingi meja makan hingga membuatnya pusing.
15 menit sudah, dengan tekad bulat, mino melangkahkan kakinya menuju kamar hye sun. Sesampainya di depan pintu, keraguan menghinggapinya, tangannya yang sudah terulur untuk mengetuk pintu, ia tarik kembali. Seperti itu terus menerus. Mino dengan kepanikannya, menempelkan telinga ke pintu. Berusaha mencari suara.

Bukkk….

Mino tambah panic, perkataan Eun ‘Satu lagi! Hye Sun bisa saja berbuat nekad, seperti bunuh diri. Hye Sun pernah melakukannya tapi gagal, karena ketahuan bibi Kyong. ’

Tanpa membuang waktu lagi, mino membuka pintu yang ternyata tak terkunci itu, ia tak menemukan hye sun didalam. Suara isakan perlahan terdengar, mino mengikuti suara itu, dan menemukan hye sun yang duduk di bawah ranjang, memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya diantara lututnya. Bahunya bergetar, mino merasa bersalah sekarang, telah membuat hye sun sedih.

“ Hye Sun-a.. ” Panggil mino lembut, aku meliriknya sebentar, lalu menangis lagi.

Aku bisa merasakan mino mendekat dan berjongkok dihadapanku.. Aku tak memperdulikannya, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.

“ Sun-a!! ” Panggil mino lagi sambil mencengkram kedua bahuku..

“ Miane.. ” Ujar mino dengan nada menyesal..

Aku beranikan diri menatapnya, wajahnya begitu dekat denganku, tapi aku tak memperdulikan itu. Aku hapus air mata yang masih mengalir, aku tak mau membuatnya merasa menyesal lebih lama lagi.

“ Gwenchana… Kau tak mengetahui apa-apa, jadi aku tak bisa menyalahkanmu.. ” Ujarku dengan senyum yang dipaksakan.

“ Aku tau semuanya..  Tentang orangtuamu! Aku tau! ” Balas mino cepat dan keras.

“ Bagaimana bisa? ” Tanya ku bingung sekaligus tak percaya.

“ So Eun.. Aku tau dari So Eun! ”

Aku memanyunkan bibirku… Kenapa So Eun memberitahukan mino! Itukan merupakan aib bagiku. Orang-orang selalu berpikiran keluarga kami sangatlah harmonis. Anak dari Mr. Goo? Siapa yang tak mau! Semua orang menginginkan itu. Tapi mereka tidak tau bagaimana rasanya menjadi anak orang kaya.

“ So Eun memberitahuku mungkin karena takut aku menanyakan orangtuamu. ” Kata mino setelah terdiam cukup lama.

“ Aku takut, kau bunuh diri seperti cerita Eun di telepon tadi. ” Aku menangkap nada khawatir dari perkataan mino.

Apakah ia mengkhawatirkan aku?

“ Ahhh… aku tak akan melakukannya disini. Jika ia, kau bisa saja dituduh telah membunuhku. ” Kataku dengan maksud bercanda.

“ Haha.. kau lucu juga ternyata.. ” Balas mino mencubit kedua pipiku gemas.

Ini pertama kalinya bagiku, seorang namja mencubit pipiku dengan jarak yang begitu dekat! Aku bisa merasakan pipiku memerah, bukan karena sakit, tapi rasa gugup dan juga malu.

“ Kenapa pipi mu memerah? Padahal aku mencubitnya tak terlalu keras. ” Kata mino sambil melihat pipiku yang memerah.

“ Bohong! Kau mencubitnya terlalu keras.. ” Elakku sambil meraba-raba pipiku yang memerah.

“ Ahh.. kau malu ya.. ” Dengan penuh percaya diri, mino mengatakan itu padaku. Pipiku semakin memerah.. Ottoke?

“ Ti..tidak! Kau saja yang kege-eran! ” Alasanku yang satu ini emang masuk akal.

Aku mendengar deringan ponsel yang berada di atas kasur , aku mengambil ponselku dan melihat siapa yang menelpon.

“ So Eun!! ” Teriakku semangat. Masalah yang baru saja terjadi terlupakan oleh ku

“ Besok kau pulang kan! Jam berapa? Besok akan ku jemput. ”

“ Itulah masalahnya.. ” Ujar Eun lemas. Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Sepertinya ada yang terjadi.

“ Wegude? ” Tanyaku penasaran.

“ Aku tidak pulang besok, mungkin.. ”

“ Mwo!! ” Ucapan Eun terpotong oleh jeritanku.

“ Dengarkan aku dulu sun-a!! Aku belum selesai. Aku akan pulang 3 hari lagi.. Mendadak Appa sakit, rapat yang dipimpin
Appa tidak bisa ditunda, jadi omma yang menggantikan appa besok. Dan aku ditugaskan menjaga Appa.. ” Aku mendengar penjelasan eun sambil cemberut. Aku tak menyadari adanya Mino disana.

“ So Eun-a!! ” Suaraku terdengar manja.

“ Miane Sun-a.. ”

“ Tanpa kau Eun-a.. Aku kesepian!! ” Kata ku yang tidak 100% benar, aku mengatakan ini agar Eun pulang besok.

“ Aku tau itu. Nanti aku akan menghubungi mino untuk mengajakmu jalan-jalan selama 3 hari. Kau tenang saja Ok. ”
Mino? Aku menatap mino yang emang sudah dari tadi di hadapannya.

“ Tidak usah repot-repot menghubunginya. Toh orangnya ada di sini. ” Kataku dan langsung memberikan ponselku ke Mino.

“ Yeobseyo? ”

“ Mino-a! Kau bersama hye sun? Astaga, aku tak percaya kau dan hye sun akrab dengan cepat! ” Aku bisa mendengar
dengan jelas apa yang dikatakan So Eun. Bagaimana tidak, ia bicara dengan volume full.

“ Yya! Bisa bicara dengan lembut tidak sih! Gendang telingaku seperti mau pecah! ”

“ Miane.. begini aku tidak pulang selama 3 hari. Jadi, aku minta tolong padamu mengajak hye sun jalan-jalan. Terserah mau ngajak kemana. Aku tak mau sahabatku itu mati kebosanan di rumah. ”

“ Ne Ne.. Arasseo! ” Jawab Mino Pasrah..

“ Ok! Aku tutup dulu. Bye ”

Mino mengembalikan ponselku, setelah itu berdiri dan beranjak keluar dari kamarku. Sebelum Mino benar-benar pergi, ia menoleh padaku.

“ Besok, temani aku jalan-jalan. ” Setelah mengatakan itu, ia menutup pintu kamarku.

Aku menatap pintu itu dalam diam. Ucapan mino sepertinya salah. Seharusnya aku yang memintanya menemaniku jalan-jalan bukan dia.

Kreekk…

Kepala mino muncul dari balik pintu, ia menatapku khawatir. Benarkah?

“ Apa keadaanmu sudah baikkan? ”

“ Ne… Gomawo! ” Ucapku sambil menundukkan kepala.

“ Gomawo untuk apa? ” Tanya mino bingung. Ya ampuun.. suaranya begitu lembut.

“ Perhatianmu.. ” Jawabku pelan

“ Ah.. Tidak apa-apa, aku memang seperti itu. ” Balas Mino dengan senyuman yang membuat jantungku berdegup
kencang.

@---+---@

Mino membaringkan tubuh jangkungnya di atas ranjang. Sejenak, ia perhatikan kamar yang biasa ia pakai kalau
menginap disini. Kamar itu sama sekali tidak berubah, masih sama seperti dulu. Setelah puas memandangi kamarnya, mino teringat sesuatu.

Pikirannya melayang ke 3 tahun yang lalu. Saat itu, Mino dan So Eun pergi jalan-jalan bersama, mereka sama-sama bosan dirumah. Selama di perjalanan, So Eun sepupunya menceritakan seorang gadis. Awalnya Mino sama sekali tidak tertarik, tapi setelah ia melihat foto gadis yang dibicarakan So Eun, perasaan ingin tau tentang gadis itu menjadi-jadi.
Mino memperhatikan dengan seksama foto itu. Mino sangat mengagumi senyum Hye Sun serta kulit putih Hye Sun. Bahkan pada saat pertama kali melihat foto itu, Mino sudah menaruh hati pada gadis itu yang ternyata Goo Hye Sun.




Puas dengan foto yang pertama, Mino mengambil satu foto yang berada di dompetnya, foto ini semakin membuatnya menyukai Hye Sun.



Waktu itu So Eun menceritakan, ia mengambil foto hye sun diam-diam saat hye sun mencari inspirasi untuk melukis. Ternyata, Hye Sun menggemari melukis. So Eun juga bercerita hasil karya Hye Sun membuat orang berdecak kagum.

“ Akan aku pastikan. Ia akan menjadi milikku dalam waktu 3 hari. ”

Tiba-tiba mino menjentikkan jarinya bertanda bahwa ia memiliki ide cemerlang. Mino keluar dari kamarnya dengan semangat.

 @---+---@

Tok Tok Tok…

Mino mengetuk pintu kamar ku cepat dan keras. Tidak ada jawaban dariku, ya iyalah, saat ini aku berdiri dibelakangnya.
Mino mengulangi lagi hingga 3 kali, tetap tidak ada jawaban. Ketika mino akan membuka pintu, mino merasakan dingin di
belakang lehernya. Tiba-tiba mino merinding, mino meraba-raba belakang lehernya.

“ Apa yang kau lakukan? ” Tanya ku sambil menepuk bahu mino, menyadarkan mino akan adanya aku yang sedari tadi berdiri dibelakangnya.

“ Aaaaaaa!!! ” Mino menjerit histeris, sedangkan aku tertawa terbahak melihat ekspresi lucu mino.

“ Mino-a!!! ” Karena mino tak henti-hentinya menjerit, aku menarik mino sehingga berhadapan denganku. Setelah mino tau bahwa akulah yang menjahilinya, raut wajah mino berubah. Tatapannya padaku amat tajam. Aku yang pada awalnya tertawa terbahak-bahak terdiam didetik itu juga.

“ Kau! ” Mino menunjukku dengan jari telunjuknya. “ Kau dihukum! ” Aku yang mendengarnya kaget.

“ Kenapa aku harus dihukum? ” Tanyaku dengan tampang polos

“ Kau hampir membuat jantungku copot tau! ” Bentak mino yang masih menunjuk-nunjuk wajahku.

“ Yya! Aku hanya bercanda! ”

“ Tidak ada bercanda dalam kamusku! ”

“ Tapi… ”

 Aku masih ingin membantah tapi mino menarikku memasuki kemar. Mendorongku hingga terduduk ditepi ranjangku, mino berjongkok didepanku memandangi mataku lekat.

Aku yang dipandanginya seperti itu berubah gugup.

“ W..weo?? ”

“ Kau harus di hukum.. ”

“ Ap..pa hukumannya? ” menuruti perkataannya adalah pilihan yang benar. Dengan begini, aku akan terlepas dari
tatapannya. “ Yya! Jangan memandangiku seperti itu! ”

Mino bergerak mendekati wajahku. Aku yang tau apa yang akan dilakukannya menjadi panic, mau kabur tidak bisa karena kedua tangan mino menekan kedua kakiku. Sepertinya mino tau kalau aku mau kabur.

Aku merasakan nafas mino dipipiku, terus ke telingaku.

“ Kau mau melakukannya untukku kan? ” Oh Gosh! Suara mino begitu lembut dan eerr.. seksi? Ya ampun.. apa yang harus aku lakukan.

“ Apa? Melakukan apa? ”

 “ Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kau hanya.. melukis wajahku! ”

WHAATT!! Segera saja aku dorong mino dengan kepalan tanganku. Kesal! Itu yang aku rasakan sekarang. Hanya minta dilukis saja harus dengan cara seperti ini. Emangnya aku cewek apaan!

“ Yya! Kalau mau minta dilukis bilang saja! Membuatku takut saja. ”

“ Hehehe.. Mian ”

“ Duduk disana! ” Perintahku ketus. “ Aku tak punya banyak waktu! ”

“ Oke! Oke! Jangan marah seperti itu.. Aku harus memasang wajah seperti apa? ”

“ Terserah kau saja! ”

Aku menggelengkan kepalaku, Mino kelihatannya antusias sekali. Aku menyiapkan peralatan lukisku.

“ Baiklah, bagaimana kalau seperti ini… ” Mino memasang wajah tersenyum andalannya.




Akupun mulai melukis. Aku sama sekali tidak memperhatikan ekspresinya. Aku lebih suka mino yang serius. Sesekali aku meliriknya untuk menyempurnakan lukisanku saja.

20 menit kemudian, aku selesai melukis.

“ Nih, aku sudah selesai! ”

“ Jongmalyeo? ” Mino sepertinya tidak percaya. Ia melangkahkan kakinya kearahku dan duduk tepat disampingku.

“ Yya! Kenapa kau melukis wajahku dengan wajah yang seperti ini? ”




“ Terserah aku dong. Aku lebih suka tampangmu seperti ini daripada senyummu itu. ”

Mino tidak memprotes lagi. Dia hanya mengangguk sambil memandang lukisan yang aku buat. Dari pandangannya, ia suka hasil lukisanku.

“ Bayarannya.. ” Pintaku sambil mengulurkan tanganku padanya.

“ Kau meminta upahnya? ” Tanya mino balik.

“ Ne! Palli! Kau menyuruhku melukis, berarti kau membeli waktuku. Terserah kau mau bayar berapa. ”

Mino mengelus dagunya, tandanya ia berpikir. Tidak lama kemudian ia tersenyum.

“ Kalau begitu… ” Perlahan mino merangkul pundakku..

“ Bagaimana kalau bayarannya dengan ini.. ”

Cuupps!




Note: hehehe.. aku buat ff lagi.. ckckck
Setelah baca komen ya!
Kalau ada kesalahan kasih tau
Mian, kalau membosankan
« Last Edit: August 11, 2011, 10:25:45 am by zHIe_rIsa »

siti minsun

  • Guest
Re: Approach for three days
« Reply #14 on: July 31, 2011, 05:54:41 pm »
keren ffnya,,,minho baru kenal langsung cuuup [cheekkiss]
dasar,,, [hmpfh]
ne da lanjutan lagi kan?
aku pengen tau gimana reaksi ortu hyesun ketika tw hyesun lari dr rumah dan apa yg akan dilakukan minho pada hyesun  [what]
ditunggu lanjutannya... [briggin]