Author Topic: Be Strong, Jan Di ~ masih bukan chapter masih bukan spoiler..OMG ~  (Read 53164 times)

Offline Liko

  • Senior
  • ****
  • Posts: 893
    • View Profile
MASIH BUKAN CHAPTER MASIH BUKAN SPOILER


“Jan Di-a …” selesai sidang, doronim terus mengikuti aku yang berjalan dengan acuh.

Tampang doronim memohon belas kasihan. Berharap ada maaf yang aku lontarkan. Tentu saja tidak semudah itu maaf aku keluarkan. Sebab ulah doronim sudah sampai pada taraf keterlaluan.

“Jan Di-a …” doronim kembali memanggilku dari belakang, sementara aku terus saja berjalan.

“Jan Di-a …” panggil doronim lagi, kali ini dengan intonasi yang amat memelas.

“…” aku tidak menjawab. Hanya menoleh sebentar sambil menghentakkan kaki. Melototi doronim pertanda tidak mau diekori.

Saat aku pelototi, doronim memang berhenti mengikuti. Tapi begitu aku jalan lagi, doronim pun kembali membuntuti. “Jan Di-a …” panggil doronim ulang.

“APA?!” bentak ku galak. Aku berubah garang sama doronim.

“Jangan marah” rajuk doronim.

“Bodo amat” jawab ku pelan.

“Ne?” karena suara ku kecil, doronim jadi tidak menangkap apa yang aku katakan.

“Jangan mengikuti lagi!” semprot ku.

“Miane …” sesal doronim.

Begitu hampir sampai kamar, aku mempercepat langkah. Ku tarik gagang pintu lalu masuk ke kamar. Pintu ku tutup lagi dengan cepat. Namun karena ada yang mengganjal, aku jadi kesusahan merapatkan pintu. Doronim sengaja menyelipkan kakinya di sudut pintu.

“Biarkan aku masuk” doronim berusaha menerobos kamar ku.

“Tinggalkan saya sendiri” dari dalam aku dorong kuat-kuat daun pintu, sedangkan dari luar doronim menarik paksa pintu kamar ku.

Brakk!! Akhirnya aku yang kalah. Pintu kamar ku terbuka lebar hingga doronim bisa masuk dengan bebas.

“Anda mau apa lagi?” tanya ku ketus.

“Aku cuma mau kau percaya bahwa semalam itu benar-benar tidak terjadi apa-apa” ucap doronim.

“Katakan pada Nyonya Besar saja. Jangan pada saya!” jawab ku kasar.

“Aku tidak ingin kau salah paham” harap doronim.

“Yang salah paham bukan saya, tapi nenek anda” balas ku dingin.

“Biar saja haelmoni salah paham” dengan entengnya doronim berucap.

“Mwo?!” aku jadi semakin geregetan.

“Kalau haelmoni salah paham aku jadi bebas dari perjodohan itu” ucap doronim.

“Tapi kenapa anda libatkan saya” jawab ku tidak terima.

“Karena aku cuma mau menikah dengan mu” sambung doronim.

Egois! Doronim yang tidak ingin menikah kenapa aku yang jadi tumbalnya. Dasar, maunya menang sendiri.

“Yya, apa ini?” doronim menunjuk koper dan ransel milik ku yang tergeletak di tengah kamar.

“Itu punya saya” ujar ku.

“Untuk apa benda-benda ini?” tanya doronim.

“Bukan urusan anda” jawab ku singkat.

“Mulai sekarang segala sesuatu yang berhubung dengan mu menjadi urusan ku” sanggah doronim.

“Yya! Apa kau berniat kabur?” terka doronim.

“…” aku tidak menggubris tebakan tepat doronim.

“Aish, untuk apa kabur segala? Mau bikin aku pusing ya?” omel doronim.

Aku hanya buang muka sebagai jawaban. Sepertinya akan susah bagi ku untuk kabur kalau sudah ketahuan seperti ini.

“Ahh, biarkan saja koper dan ransel mu itu. Sebentar lagi kita bulan madu, jadi kau tidak perlu repot berkemas” ucap doronim.

Bulan madu? Nikah saja aku belum tentu mau, sudah mengajak bulan madu. Semakin hari doronim semakin bertingkah seenak hatinya.

“Mulai sekarang kau dikawal bodyguard” Lihat kan, doronim bertindak semaunya lagi. Aku langsung dijaga ketat gara-gara berniat minggat.

“Untuk apa?” aku tidak terima.

“Tentu saja supaya kau lebih aman dan tidak berani macam-macam” jawab doronim.

“Saya tidak mau!” tolak ku.

“Harus mau! Keamanan calon istri ku wajib terjaga 24 jam” ucap doronim sambil berjalan meninggalkan kamar.

“Chakamanyo” tahan ku.

“Tidak ada bantahan lagi” doronim berpaling. “Akan aku pilihkan bodyguard perempuan agar kau lebih nyaman” padahal bukan itu yang mau aku tanyakan.

“Doronim … “ aku ingin bertanya tapi ragu.

“Wae?” doronim menunggu pertanyaan ku tapi aku hanya diam memandang lantai sambil meremas jari.

“Yya, kau ingin bilang apa?” doronim menyilangkan tangan di depan dada.

“Ehm … itu … “ hal yang ingin ku tanyakan belum terutara juga.

“Itu apa?” doronim jadi penasaran.

“Anda … serius kan semalam tidak terjadi … apa-apa” meluncur juga ganjalan hati ku.

“Tentu saja aku serius” jawab doronim yakin.

“Jinja?” tanya ku memastikan.

“Ne. Waeyo? Kau kecewa?” doronim yang sudah sampai ambang pintu, berjalan lagi mendekati ku.

“Kecewa?” kenapa harus kecewa. Doronim ada-ada saja.

“Kau kecewa karena semalam tidak terjadi apa-apa” ledek doronim tepat di hadapan wajah ku. Doronim membungkuk sedikit. Matanya membulat memandangi aku yang menunduk.

“MWO?!” wajah tertunduk ku langsung terangkat hingga membuat kami saling tatap.

“Kelihatannya kau berharap terjadi sesuatu” gurauan doronim menyemukan sepasang pipi ku. Wajah ku yang masih beradu dengan doronim seketika terasa panas.

“Keluar!!” usir ku sambil mendorong doronim.

“Yya, kenapa jadi marah lagi. Jangan-jangan kau benar-benar kecewa. Tenang Jan Di-a, aku janji akan melakukannya setelah kita menikah. Sabar ya” doronim mengelus puncak kepala ku.

“KELUARRR!!!!” doronim sudah tidak waras rupanya. Enak saja menganggap aku kecewa. Aku bertanya karena ingin memastikan saja.

*******

Dua hari lagi harusnya Jun Pyo dan Jae Kyung menikah. Namun gara-gara malam beralkohol itu, Goo haelmoni mengganti Jae Kyung dengan Jan Di. Apa tidak ada yang menentang keputusan ini? Tentu saja banyak. Mr Goo mengingatkan Goo haelmoni untuk hati-hati mengambil keputusan. Kelangsungan keluarga Goo ada di tangan Jun Pyo. Oleh karenanya tidak bisa sembarangan gonta-ganti calon istri.

“Masa depan keluarga Goo memang sesuatu yang serius tapi tanggung jawab moral jauh lebih penting. Aku tidak bisa menelantarkan Jan Di atas perbuatan Jun Pyo. Jika aku mati, apa yang harus aku katakan pada orang tua Jan Di. Bagaimana pertanggungjawaban ku pada mereka” begitu alasan Goo haelmoni pada Mr Goo.

“Aku paham jalan pikiran omma. Tapi ku rasa bukan ini jalan keluarnya” demikian balasan Mr Goo untuk melawan argument ommanya.

Mrs Goo juga tidak tinggal diam. Ia menyelidiki sendiri kejadian sebenarnya. Sempat terbesit dugaan Jan Di yang menjebak Jun Pyo. Untungnya kesaksian Sekretaris Park membuyarkan tuduhan itu. Sekretaris Park mengakui bahwa Jun Pyo sudah mabuk berat saat tiba di rumah. Maka kecil kemungkinan kalau Jan Di yang merayu Jun Pyo. Walau faktanya telah jelas, Mrs Goo tidak terima begitu saja. Ia tak kenal lelah membujuk Goo haelmoni agar mengurungkan rencana mengganti mempelai wanita.

“Bayangkan seandainya Jan Di adalah putri mu”

“Bagaimana perasaan mu saat tahu keperawanan anak gadis mu direngut paksa?”

“Apa yang kau rasakan jika pria yang telah meniduri putri yang kau lahirkan akan menikah dengan wanita lain?”

Goo haelmoni menguji rasa keibuan Mrs Goo. Hasilnya tidak sia-sia. Mrs Goo mulai tergerak oleh ilustrasi tersebut. Apalagi dia juga wanita. Sesama kaum hawa, Mrs Goo bisa mengerti apa yang Jan Di rasakan. Namun semua kembali pada perbedaan derajat dan martabat.

“Kalian berdua harus belajar menerima Jan Di. Menyukai gadis itu bukan pekerjaan sulit”

“Sejak awal kami tidak pernah benci pada Jan Di. Dia gadis yang baik. Apalagi Jan Di telah menolong omma, kami sangat berterima kasih padanya. Tapi jika harus menerima Jan Di sebagai istri Jun Pyo …”

“Aku tidak pernah mendidik kalian menjadi pribadi yang berpikiran sempit. Kedudukan dan status sosial bukanlah nilai seorang manusia. Kalian membuat aku kecewa jika alasan penolakan Jan Di hanya karena perbedaan kasta” demikian nasihat Goo haelmoni pada putra dan mantunya.

Di antara anggota keluarga Goo, yang paling antusias terhadap keputusan Goo haelmoni adalah Jun Pyo. Pekerjaan di Shinhwa ia tinggalkan semua. Fokusnya hanya pada pesta pernikahan. Segala sesuatu Jun Pyo urus sendiri. Termasuk busana pengantin yang akan dipakai nanti. Untuk urusan yang satu ini Jun Pyo cerewetnya setengah mati. Beda sekali dengan fitting baju pengantin bersama Jae Kyung beberapa waktu lalu.

Dan yang paling tidak terima adalah keluarga Ha. Nama baik mereka tercoreng berkat batalnya pernikahan keturunan Ha dengan pewaris Goo. Mr Ha langsung memutuskan hubungan kerja. Ia tidak mau lagi campur tangan dalam urusan bisnis Shinhwa. Mr Goo yang bisa menebak pemikiran Mr Ha, sudah punya persiapan. Beberapa kandidat pengganti Mr Ha mulai diseleksi. Tapi sampai kini belum diputuskan siapa orangnya. Saat proses seleksi, Mr Goo dikejutkan dengan kunjungan Jae Kyung. Ia sudah siap mental jika Jae Kyung datang untuk mengamuk. Nyatanya tidak. Jae Kyung datang karena berminat dengan tempat kosong yang ditinggalkan appanya.

“Orang tua mu tahu?”

“Belum. Walau mereka tahu dan melarang ku percuma saja. Keputusan sepenuhnya ada di tangan ku”

“Maaf, Jae Kyung-a. Aku tidak bisa menerima mu. Aku tidak enak hati pada orang tua mu”

“Haruskah saya berganti marga baru anda terima?”

“Jangan memperkeruh keadaan. Orang tua mu pasti marah jika tahu kau bekerja untuk Shinhwa”

“Yang dimarahi adalah saya. Anda jangan khawatir”

“Boleh aku tahu alasan mu bergabung dengan Shinhwa?”

“Saya ingin menebus kesalahan appa. Karena ketidak profesionalan appa, Shinhwa jadi kena getahnya. Saya yakin Shinhwa pasti dirugikan dengan pemutusan bisnis sepihak. Izinkan saya yang membayar ulah appa” Jae Kyung hanya mengemukakan alasan penunjang. Alasan utamanya ia tutup rapat. Sosok Ji Hoo ada dibalik keputusan berani Jae Kyung. Kalau Jae Kyung terlibat dalam bisnis Shinhwa maka otomatis ia juga terhubung dengan Ji Hoo.

Sementara Jae Kyung berusaha masuk Shinhwa, Jan Di binggung harus ke mana. Saat minta pendapat Ga Eul, sahabatnya itu marah besar. Ia mendukung keputusan Goo haelmoni. Jun Pyo harus bertanggung jawab setelah meniduri Jan Di. Lari pada Ga Eul ternyata bukan jalan tepat. Yang Jan Di butuhkan adalah dukungan Ga Eul untuk membantunya menggagalkan pernikahan.

Jan Di pun memutuskan memakai cara sendiri. Beberapa hari yang lalu Jan Di memberanikan diri menolak usul Goo haelmoni. Tahu apa yang Jan Di dapat? Jantung Goo haelmoni kumat. Jun Pyo menggunakan penyakit haelmoninya buat mengikat Jan Di. Jun Pyo selalu saja menakut-nakuti Jan Di memakai penyakit Goo haelmoni. “Kau mau bertanggung jawab jika jantung haelmoni berhenti berdetak?” begitu ancam Jun Pyo pada Jan Di yang enggan dinikahi.

*******

Malam ini tidak ada taburan bintang. Hanya purnama menggantung sendirian. Aku terpaku menghadap kanvas di tengah kesunyian. Sejak kemarin kuas ku mulai bermain. Berpaling pada kuas dan tinta saat ada masalah adalah kebiasaan lama. Dengan melukis, beban hati ku jadi menipis.

Seorang wanita tercantik di dunia aku pilih sebagai model. Sebenarnya pengetahuan ku akan rupa wanita ini sangat minim. Aku tidak pernah bertemu dengannya. Tidak sekalipun. Acuan ku hanya sebuah foto lama yang sudah usang. Selebihnya imajinasi ku yang mengembangkan.

“Omma, aku harus bagaimana? Haruskah aku pakai cara ini?” ku ajak bicara wanita yang tersenyum manis dalam lukisan. Dia tidak menjawab. Tapi aku yakin dia berdoa dari surga. Memohon berkah Yang Maha Kuasa untuk ku, buah hati satu-satunya.

“Sudah ku putuskan omma, rahasia ini akan aku beberkan demi membuka mata mereka” aku pun beranjak meninggalkan kamar. Membawa serta foto tua sumber inspirasi lukisan ku. Foto kusam pengisi kesebatangkaraan hidup ku.

Tok … Tok … ruang baca Nyonya Besar ku ketuk dua kali.

“Masuk” bukan suara Nyonya Besar yang menyahut. Mr Goo-lah yang mempersilahkan masuk. Kebetulan sekali ada Mr Goo di dalam sana. Begitu aku masuk, tidak hanya Nyonya Besar dan Mr Goo yang ada di ruang baca itu. Mrs Goo juga berkumpul bersama mereka. Baguslah. Pentolan keluarga Goo hadir semua.

“Kau belum tidur, nak? Tidurlah lebih awal. Siapkan fisik mu, jangan sampai kau kurang fit di hari bahagia nanti” nasihat Goo haelmoni memaksa ku tersenyum kecut.

“Ada yang ingin aku sampaikan pada anda bertiga” ucap ku.

“Jinja? Duduklah di sini” Nyonya Besar menepuk-nepuk kursi di sampingnya.

“Apa yang kau bawa?” begitu aku duduk di sebelahnya, Nyonya Besar langsung tertarik dengan foto yang ku dekap erat.

“Anda tahu siapa saya?” bukannya menjawab seputar foto, aku malah mengajukan pertanyaan misterius.

“Tentu saja aku tahu” jawab Nyonya Besar yakin.

“Benarkah? Saya saja tidak tahu asal usul saya, bagaimana anda bisa paham siapa saya” jawab ku.

“Jan Di-a, maksud mu apa?” tanya Mrs Goo.

Aku menyerahkan foto lusuh yang senantiasa menamani hari-hari ku. Nyonya Besar menerimanya lalu memandang dengan seksama. Untuk kali pertama aku menunjukkan foto itu pada orang luar.

“Siapa dia? Omma mu?” karena wajah kami serupa, Nyonya Besar jadi gampang menerka.

“Ne, dia omma kandung saya. Namanya Geum Jan Hee” jawab ku seputar gadis berkepang dua itu.

“Tapi di sini tertulis In Hee” tanya Nyonya Besar seputar tulisan yang tertera di foto.

“In Hee adalah nama kecil omma” terang ku.

“Cantik, sama seperti mu” puji Nyonya Besar.



“Sayangnya saya tidak bisa melihat langsung betapa cantiknya wajah omma” sesal ku.

“Maksud mu?” Nyonya Besar mulai heran.

“Sejak lahir saya tidak pernah bertemu omma” jawab ku.

“Mwo? Kenapa demikian? Bukannya kau pernah cerita, sebelum kebakaran, kau hidup bersama orang tua dan seorang adik” ingatan Nyonya Besar rupanya tajam juga. Kisah hidup ku masih ia ingat sampai sekarang.

“Mereka bukan orang tua dan adik kandung saya” jawab ku.

“Be … benarkah …” Nyonya Besar tampak terkejut. Mr Goo dan Mrs Goo juga sama terkejutnya.

“Orang yang selama ini aku panggil appa sebenarnya adalah paman ku. Beliau kakak kandung omma” rahasia hidup ku mulai terbongkar.

“Omma kandung ku adalah wanita dalam foto itu” foto yang tadinya dipegang Nyonya Besar kini berpindah tangan ke Mr Goo lalu pindah lagi ke Mrs Goo.

“Lanjutkan cerita mu, nak. Haelmoni masih tidak mengerti” pinta Nyonya Besar.

“Benar Jan Di-a, lanjutkan sampai tuntas agar kami paham” sambung Mrs Goo.

“Aku dibesarkan paman dan bibi karena omma meninggal setelah melahirkan aku” mulai jelaslah latar belakang ku.

“Oh Tuhan …” Nyonya Besar berubah sedih. Mrs Goo juga tak kuasa menahan rasa ibanya.

“Lalu appa mu?” tanya Mr Goo.

“Aku tidak punya appa” jawab ku datar.

“MWO?” mereka bertiga lebih terkejut lagi.

“Aku bahkan tidak tahu siapa appa ku. Omma diperkosa entah oleh siapa” ucap ku.

“Ji … Jinja …” tanya Nyonya Besar.

“Omma adalah guru lukis di sebuah taman kanak-kanak. Sepulang mengajar, omma diajak menghadiri pesta ulang tahun perkawinan rekan sesama gurunya. Dari sinilah musibah bermula. Saat sendirian menempuh perjalanan pulang omma bertemu pria bejat itu. Selanjutnya bisa anda tebak sendiri” aku bercerita tanpa derai air mata. Aku berusaha kuat agar tidak mengundang simpati dan belas kasih keluarga Goo.

Setelah cerita ku selesai, anggota keluarga Goo tidak ada yang bersuara. Mereka bertiga masih belum percaya. Aib yang baru saja aku paparkan terlalu sulit untuk diterima. Semoga saja semua berubah. Aku berharap pengakuan ini bisa membuka mata mereka tentang siapa aku yang sebenarnya. Gadis tanpa asal usul yang pasti, tidak serasi dengan tuan muda di rumah ini.

“Kau sengaja bercerita untuk merusak image mu, bukan?” ternyata orang berumur memang bisa melihat apa yang tersembunyi.

“Maksud Nyonya Besar?” aku pura-pura tidak paham.

“Kau ingin meracuni pikiran kami agar pernikahan mu dengan Jun Pyo dibatalkan. Siasat mu tidak mempan. Justru aku semakin yakin menjadikan mu cucu mantu ku” papar Nyonya Besar.

“Ta … ta … tapi Nyonya …” aku coba membantah.

“Apa kau tahu, kau baru saja menunjukkan kilau mu, Jan Di” ucap Nyonya Besar.

“Kilau apanya Nyonya?” aku bertanya polos, disambung senyuman lembut Nyonya Besar.

“Gadis biasa pasti akan membungkus rapat rahasia ini. Tapi kau justru membeberkannya pada kami. Tandanya kau gadis luar biasa. Tidak salah aku memilih mu sebagai istri Jun Pyo” Nyonya Besar membelai pipi ku.

“Aku salut pada keberanian mu. Benar yang omma katakan, gadis pada umumnya kurasa akan menutup kisah pahit ini. Pilihan haelmoni tidak salah. Restu ku sudah kau kantongi” Mr Goo tersenyum teduh pada ku.

“Aku menyerah Jan Di-a, sulit untuk tidak menyukai mu. Ku serahkan Jun Pyo ku pada mu, jaga dia baik-baik” pesan Mrs Goo.

Loh kenapa jadi begini. Satu demi satu anggota keluarga Goo malah memberi wejangan guna mendukung aku. Apa mereka bertiga bukan manusia. Barangkali mereka jelmaan malaikat yang turun dari surga. Bagaimana tidak! Kebusukan ku mereka anggap sebagai kilau ku. Aib yang aku andalkan tidak mempan merubah keputusan. Jalan pikiran mereka bertolak belakang dengan apa yang aku perkirakan.

“Saya tetap akan dinikahkan dengan doronim?” tanya ku memastikan.

“Tentu” jawab Nyonya Besar.

“Anda bertiga tidak terganggu dengan asal usul saya?” tanya ku lagi.

“Tidak” jawab Nyonya Besar yang diiyakan Mr Goo dan Mrs Goo.

“Jangan kasihani saya” pinta ku.

“Maksudmu?” tanya Mr Goo.

“Anda bertiga tidak perlu iba pada garis hidup saya. Saya baik-baik saja. Suratan takdir akan masa lalu omma bisa saya terima dengan lapang dada” unggkap ku.

“Kami juga berlapang dada menerima mu apa adanya” balas Nyonya Besar.

“Tidak bisa begitu Nyonya. Gadis yang disandingkan dengan doronim tidak boleh sembarangan. Harus jelas asal usulnya. Sementara saya? Saya bahkan tidak tahu saya ini benih pria mana” tutur ku.

“Pentingkah tahu asal usul mu?” tanya Nyonya Besar.

“Kami tidak mau repot-repot menelusuri silsilah keluarga mu. Yang terpenting adalah kau sebagai pribadi yang utuh. Aku turut prihatin atas musibah yang menimpa omma mu. Perbuatan bejat pria itu tidak bisa dimaafkan. Yang aku kutuk adalah kelakuan pria amoral itu, bukan kelahiran mu” papar Nyonya Besar.

*******

“Boleh aku masuk?” tanya Mrs Goo dari balik pintu.

Aku kembali ke kamar setelah gagal memperdaya keluarga Goo. Sehabis nostalgia bersama luka lama, hati ku kembali porak poranda. Air mata berjatuhan di mana-mana. Isakan mengalun pilu mengiris suasana. Aku menangis sejadi-jadinya meratapi sejarah omma.



“Jan Di-a, gwenchana?” tanpa kupersilahkan, Mrs Goo sudah masuk duluan. Ia menghampiri ku yang terisak di depan lukisan omma.

“Anda tidak sopan, Nyonya. Masuk kamar tanpa izin pemiliknya” harusnya Mrs Goo menunggu, agar aku bisa berbenah diri. Aku tidak mau beliau melihat ku bersama derai air mata.

“Miane, aku khawatir saat kau keluar ruang baca dengan tergesa” jawab Mrs Goo sambil membelai rambut ku, persis seperti memperlakukan doronim saat sifat manjanya kambuh.

“Kau meninggalkan ini …” Mrs Goo mengembalikan foto omma. Saking kalutnya, aku sampai melupakan foto itu.

“Gomawo” ku ambil foto omma kemudian memandangnya dengan mata basah.

“Kau rindu padanya?” pertanyaan Mrs Goo tak perlu ku jawab karena sudah pasti aku sangat rindu pada omma.

“Mulai sekarang kau punya penggantinya” ucapan Mrs Goo membuat aku berpaling menatap wanita ayu itu.

“Pengganti omma?” tanya ku penuh harap.

“Aku bersedia menggantikan dia” Mrs Goo menunjuk foto omma. “Bolehkah?” izin Mrs Goo.

Aku binggung harus jawab apa. Tawaran Mrs Goo begitu menggiurkan. Sosok omma dambaan yang telah lama hilang kini hadir mengajukan kasih sayang.

“Aku tahu tidak ada yang bisa menggantikan dia di hati mu. Minimal aku bisa jadi payung untuk mu berteduh” ucap Mrs Goo.

“Nyonya …” bukan main herannya aku melihat perubahan Mrs Goo.

“Panggil aku omma” pinta Mrs Goo. “Lusa kau resmi jadi putri ku” Mrs Goo memeluk tubuh ku. Dekapan hangat yang hanya diperuntukkan bagi doronim, kini dapat kurasakan pula.

“Aku juga ingin dilukis oleh mu, Jan Di-a” Mrs Goo menatap lukisan omma yang kebetulan ada di depan kami.

“Ini gambaran ku tentang paras omma. Jika aku rindu, wajah omma-lah yang aku lukis” jawab ku.



Lukisan ku sarat imajinasi. Aku tidak puas dengan wajah omma di foto yang warnanya sudah mengabur. Rasa rindu yang tiada tara membawa daya khayal ku berimprovisasi akan wujud omma. Maka jadilah lukisan itu. Lukisan penampung angan ku tentang omma. Lukisan yang mencerminkan betapa rindunya aku ingin bertemu omma.

*******

Habis juga malam kelabu ku. Sinar purnama berganti hangat sang surya. Tubuh ku lumayan segar setelah 30 menit berendam dalam kubangan buih dan busa. Meninggalkan segala kesedihan dalam bak mandi. Kini aku terduduk di depan meja rias. Cermin berbentuk lingkaran menangkap bayang wajah ku yang masih terlihat sendu. Menangis semalam suntuk membuat mata ku sembab. Sepertinya aku butuh es batu buat mengompres mata bengkak ini.

Saat aku keluar kamar, doronim juga melakukan hal yang sama. Kami berpapasan di ambang pintu. Doronim langsung terpusat pada mata ku.

“Kau kenapa? Habis menangis ya” tebak doronim.

“Anhiyo” kilah ku sambil memalingkan wajah.

“Bohong” doronim meraih wajah yang aku palingkan. Kedua tangannya menangkup di sepasang pipi ku. Doronim memperhatikan mata sembab ku serta hidung merah ku.

“Mata bengkak begini pasti gara-gara menangis. Katakan, kenapa kau menangis?” tanya doronim.

“…” aku diam tidak menjawab.

“Ada yang jahat padamu?” duga doronim. “Siapa? Siapa orangnya? Apa yang dia lakukan? Biar aku …”

“Aku ingin bertemu omma” potong ku.

Doronim langsung diam mendengar jawaban ku yang tak terduga. Ia terlihat binggung harus menanggapi bagaimana. Meski sempat terkejut, doronim tetap putar otak buat meluluskan keinginan mustahil itu.

“Ambil mantel mu” doronim memutar tubuh ku menuju kamar lalu sedikit mendorong ku masuk.

“Untuk apa?” aku minta penjelasan.

“Cerewet” akhirnya doronim yang mengambilkan mantel. Dengan semangat 45, doronim menerobos kamar ku. Sampai dalam kamar, doronim malah diam saja. Ia terperanjat saat tak sengaja melihat lukisan omma.

“Aigoo, ternyata kau narsis juga” begitu komentar doronim terhadap lukisan omma. Mungkin doronim pikir itu adalah lukisan wajah ku.



“Nanti lukis wajah ku juga ya” pinta doronim seraya berpose bak model seorang pelukis terkenal. Aku cuma bisa terkekeh. Setelah semalaman bergumul dengan air mata, akhirnya aku bisa tersenyum juga.

*******