My Oxygen, My Life, My Everything
-- T E A S E R --
01 Maret 2012, Apartement Hye Sun
Terlihat tubuh tinggi menjulang memasuki lorong apartement dengan wajahnya yang berseri memancarkan rasa ketidaksabarannya untuk melihat kekasih mungilnya. Beberapa jam yang lalu Min Ho sudah sampai di Korea, sebentar mengunjungi kantor managementnya dan tanpa menunggu waktu lagi ia langsung menuju ke apartement Hye Sun atau bisa dibilang apartement mereka lebih tepatnya.
Dibukanya kenop pintu dengan hati-hati, takut mengganggu seseorang yang berada di dalam. Gamja menyambutnya dengan gongongannya yang khas. Mendengar itu Hye Sun yang sedang asyik menonton TV sontak menengokan kepalanya menuju sumber suara itu datang.
“Sudah pulang?” Tanya Hye Sun dingin. Ingat rencananya, tidak mengacuhkan Min Ho.
Wajah berseri Min Ho seketika berubah menjadi sendu. “Ada apa dengannya?” Katanya dalam hati. Min Ho berjalan mendekati Hye Sun sambil menuntun Gamja di sebelahnya.
“Kau tidak senang?” Min Ho bertanya pada Hye Sun seraya duduk di samping gadis mungilnya itu. Gamja yang sedari mengikutinya berlari-lari kecil mengitari sofa yang diduduki kedua majikannya itu.
“Menurutmu aku harus senang atau bagaimana?” Alih-alih menjawab pertanyaan Min Ho, Hye Sun malah –lagi-lagi melontarkan pertanyaan.
“Kau ini kenapa?” Pertanyaan lagi. Sebenarnya mereka ini artis atau wartawan?
“Tidak apa. Hanya sedikit lelah. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, jadi makanlah dulu..” Akhirnya kali ini bukan pertanyaan. Sepertinya rencana Hye Sun berhasil. Lihatlah wajah Min Ho sekarang –semakin gelap, sendu, dan serasa tidak berguna.
“Dia bahkan tidak merindukanku..” Batin Min Ho. Dada kirinya terasa sakit. Kekasih yang hampir membuatnya mati karena tidak memberi kabar sama sekali selama empat hari, kini dia tidak mengacuhkannya.
Min Ho menyandarkan tubuh lemasnya ke sofa saat Hye Sun sudah meninggalkannya sendiri. Setelah menyuruh Min Ho untuk makan Hye Sun tanpa basa-basi langsung pergi menuju kamarnya. Min Ho terdiam mematung. Menatap langit-langit apartement mereka dengan tatapan kosong. Berusaha mengoreksi diri, apa yang salah atas dirinya saat ini. Dia tau kalau Hye Sun bukanlah tipe wanita yang mudah marah hanya karena dia meninggalkannya untuk beberapa hari. “Belakangan ini di terlalu sensitif..” Min Ho menggerutu pelan. Begitu pelan tanpa semangat.“Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, jadi makanlah dulu..” Sontak Min Ho bangun dari duduknya saat ia mengingat perkataan itu. “Menyiapkan makan untukku? Dia memasak?” Min Ho langsung menuju meja makan dan melihat semua makanan yang telah Hye Sun sajikan untuknya. Lagi-lagi Min Ho terpaku dalam diam.
“Setidaknya dia masih mengkhawatirkanku.” Sedikit kelegaan Min Ho rasakan. Lega karena Hye Sun telah menyiapkan makanan untuknya. Secara tidak langsung ini membuat Min Ho merasakan kalau Hye Sun masih mengkhawatirkannya, masih memperhatikannya.
“Apakah tangannya tidak terluka saat menyiapkan semua ini?” Min Ho bertanya pada dirinya sendiri. **********
![[bye]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/bye.gif)