Author Topic: The Curse - Chapter Sixteen, Updated 30 Mar'13  (Read 21430 times)

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse (Spoiler)
« Reply #360 on: December 15, 2012, 09:31:14 am »
Additional Cast :





Mr. Goo—Goo Bin Woo


 





Mrs. Goo—Goo Kae Hwa


 




Mr. Lee—Lee Joon Shik







Mrs Lee—Lee Hyun Min







Pak Jang







Song by Christina Perri Feat. Steve Kazee - Thousand Years Pt.2






“Joon Sung”


Bisik Kae Bi dengan suara lirih dan semakin membuat Joon Sung membujur kaku. Pemuda itu tak bergeming dan tak punya keinginan untuk mencoba menatap kembali ke arah Kae Bi. Hatinya berkecamuk dan sejerat sembilu mulai menghadang disana sebab apa yang di ucapkan Kae Bi, dan bagaiamana prilaku gadis itu saat akan berbicara tentang hal tersebut, sesungguhnya bukanlah kemauan yang ingin ia dengar dan tanggapi. Joon Sung tahu jikalau dirinya bukan yang pertama membuat gadis itu bahagia dan menjadikan Kae Bi sebagai wanita seutuhnya, bukan seseorang yang di pertemukan dengan keadaan baik—ya, semua karena keterpaksaan dan Joon Sung sangat membencinya! Di tempatkan pada takdir yang begitu keji—membuatnya seperti akan terus mendapatkan kepedihan. Tak pernah sekalipun bahagia—walaupun bersama seseorang yang ia cintai. Joon Sung benci itu.


“Mianhe, Joon Sung” Untuk yang kesekian kali ia masih dapat mendengar suara itu, namun lain halnya seperti intonasi tadi. Kali ini suara itu terdengar tengah menahan isakkan. Kae Bi menangis. Joon Sung tahu itu.


“Aku bersumpah—” Kae Bi tercekat mati saat menatap Joon Sung yang meneloh serta menusuk tajam lewat iris gelap yang sedikit tertutup oleh beberapa helai rambut yang menjuntai di kening pemuda itu. “Aku tidak pernah menyesalinya! Tidak saat ku tahu kenyataan pahit yang akan ku jalani—tidak ketika aku di emban tanggung jawab untuk melindungimu, kulakukan karena aku benar-benar tulus. Aku tidak akan menuntut lebih dan berupaya membuatmu dalam kejanggalan. Tapi hanya satu ..., Aku mohon percaya padaku! Yakini bahwa aku tak akan pernah berpaling, tak pernah ingin kita berada dalam keterpurukan lagi. Aku mohon—” Kalimat terakhir yang di ucapkannya terasa begitu pilu dan berat. Joon Sung segera berpaling lagi dan menunduk sejenak di hadapan Kae Bi. Membuat wanita itu mematung dengan sejuta perasaan yang bergejolak tak menentu. Mengapa selalu seperti ini? —selalu saja tak pernah mengerti dengan keinginan yang dirasakan Joon Sung. Kae Bi paham jika mungkin suaminya akan berpikir bahwa dirinya meragukan kesungguhannya. Tapi, bukan itu! Sungguh, ia ingin berteriak saat ini—Bukan keraguan akan kesungguhan Joon Sung yang meliputinya untuk menanyakan kembali.


“Mianhe, Joon Sung—Mianheyo” Joon Sung menghela nafas dalam hening. Kedua matanya mulai terpejam rapat, begitu rapat sehingga bayang Kae Bi memaksa masuk walaupun ia tidak menghendaki.


“Apa yang harus ku benci, Kae Bi-aa? kenyataan? Kepadanya aku harus melampiaskan, begitu?” Kae Bi membatu saat mendengar ucapan kaku yang terlontar dari bibir Joon Sung begitu saja. Sepasang mata pemuda itu masih terpejam dan berhenti memandangnya.


“Tak dapatkah kau mampu untuk sedikit mempercayaiku ..., walaupun sedikit—Hanya sedikit asa mu yang kau tuai kepadaku”


“Joon Sung—”


“Aku juga ingin membuatmu bahagia”
Suara gelap, dan keluh milik Joon Sung kini bagai menggerogoti jiwa kecil dalam tubuh Kae Bi. Sebenarnya, tak lebih dari sekian waktu sejak tadi saat mereka memulai perdebatan yang ia butuhkan untuk dapat meyakini hati pria itu. Sungguh, sedapat mungkin Kae Bi ingin agar seseorang yang ia cintai ..., seseorang yang ada di hadapannya kini dapat kembali lagi menatapnya. Bukan tidak mengindahkan dan sama sekali tak nampak mencoba bergeming seperti saat ini. Perasaan-perasaan akan kenangan kelam itu sudah mati. Kae Bi tak berniat sekali pun untuk terjerat kembali. Ia bersumpah
“Aku percaya—Aku bahagia hidup dalam kendalimu” Paparnya dalam seribu kekakuan yang menjelma. Tersirat jelas bahwa Joon Sung nampak sedikit terpaku setelah mendengarnya. Namun, ia kembali membisu lagi. Membenahi kepingan hati yang sudah tak menentu sebab keputus-asaan mulai datang sejak saat Kae Bi memberikan pernyataan menyakitkan itu.


“Dalam menjalin cinta, aku selalu membutuhkan sesuatu yang lain untuk melengkapi ku dengan pasangan. Aku harus
nampak terlihat sedemikian rupa dan berujung pada mengorbankan sesuatu demi perasaan semu yang tak jelas. Tapi— Aku tahu cara menjadi sederhana saat kau bersikeras pada sikap dan cara berbicara. Kesedarhanaan yang cukup mengandalkan keyakinan serta pengorbanan” Tangan yang sedari tadi hanya menggengam satu sama lain, kini mulai merenggang. Kae Bi mengayunkannya ke arah wajah Joon Sung, membingkai dengan perlahan hingga membuat pemuda itu mulai menatapnya dengan sejumput tanya.


“Aku mencintaimu, Joon Sung. Adilkah jika kau akan menjadikan ku yang pertama? Ini tidak benar—karena kau terberkati dan layak untuk mendapat yang lebih baik, —Maafkan aku”
Mata Joon Sung membelak, nyaris keluar dari tempat dengan suara hati yang mulai berbisik seolah membodohi atas ucapan yang ia dengar tadi. Jadi, selama ini ..., hal itu yang ada di pikiran Kae Bi? Ketidak pantasan untuk berada di sisinya menjadi alasan kuat untuk memberikan pernyataan menyakitkan itu. Di menit berganti, Joon Sung mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Ia merajai tengkuk leher Kae Bi agar mendekat ke arah wajahnya. Sebelah tangan yang tersisa, kini berusaha merangkul pinggang dari badan mungil itu dengan kekuatan lebih.
Joon Sung mulai membawa bibir padatnya, ciuman dengan lumatan bergairah pada bibir bawah Kae Bi. Disana Joon Sung bagai seorang yang piawai dalam menjalankan kegiatannya, ini terbukti dengan adanya tanggapan Kae Bi pada perlakuan suaminya itu. Ia mulai memejamkan sepasang mata dan turut memberi Joon Sung sedikit kerenggangan untuk memasuki bagian dalam dari bibirnya.


“Jangan pernah berkata seperti itu. Karena, hanya kau wanita yang kucintai” Selanya pada Kae Bi yang terus merintih lirih. Joon Sung mulai mengambil alih untuk semua gerakan yang Kae Bi buat. Tubuh wanita itu telah terbujur kaku di bawah tubuhnya. Joon Sung mengenggam Kae Bi begitu kuat —seolah tak sedikit pun membiarkan Kae Bi memberi jarak untuk mereka.


“Aku belum pernah mengatakannya—” Suara Joon Sung bagai alunan syahdu yang mendawai dalam pendengaran Kae Bi. Hingga ia membuka mata perlahan, dan mendapati bahwa sepasang mata tajam itu telah berubah teduh saat memandangnya.


“Ada apa?”


“Kau begitu indah—” Joon Sung mengecup bibir Kae Bi sedikit cepat. Amat terburu-buru dalam lumatan kali ini. Hingga di mana Kae Bi akan membalas semua yang di berikan Joon Sung untuk dirinya, kini harus urung —sebab, Joon Sung mulai mengamati seluruh partitur-partitur yang berada di lekuk paras ayu itu. Menjangkau Kae Bi dengan rasa takjub. Masih sama —saat dimana mereka pertama kali bertemu. Istri cantiknya yang anggun. Seulas senyum yang mampu membuatnya bergidik ngilu, tangis pecah yang membuat rusuknya hancur. Hanya gadis ini —gadis ini yang membuat dunia Joon Sung berubah.


“Rasanya seperti bermimpi jika aku dapat menjangkaumu dengan jarak sedekat ini” Rona wajah Kae Bi sekarang lebih memerah dari sebelumnya. Bibirnya terkatup dan matanya berdusta kala Joon Sung kembali menaruh perhatian padanya. Di detik berikutnya, Tangan kekar itu mulai membingkai wajah Kae Bi, memainkan ibu jarinya pada pipi mulus nan lembut.


“Sekalipun dalam mimpimu, kau harus selalu bersamaku ...” Sebuah kecupan dihadiahkan lagi untuk wanita yang amat Joon Sung cintai. Lalu ia beralih pada bagian lain, menjangkau telinga Kae Bi, dan berbisik halus disana. ”Dan juga, dengan jarak sedekat ini —Di dalam mimpi” Sasarannya beralih, ia mulai menurun hingga menepis beberapa helai rambut pada bagian ceruk leher jenjang tersebut.
Kae Bi sengaja berpaling pada pandangan berlawanan agar Joon Sung dapat lebih leluasa melakukan keingingannya. Decapan menggelitik membuat kaki Kae Bi menendang sedikit. Responnya tak siap saat bibir Joon Sung mulai mencumbu bagian kulit sensitifnya. Ia menghela nafas tak menentu manakala Joon Sung berbuat lebih intim dari yang lalu. Ia yakin tanda merah itu telah terlukis di sana. Dan saat pemuda itu mulai menengadah, pandang mereka bertemu kembali. Joon Sung menyergap Kae Bi lagi dengan ciuman liar yang teramat cepat. Membuat Kae Bi kewalahan sendiri saat harus membalas tindakan suaminya itu.


“Ah..., Joon Sung —” Desah Kae Bi saat Joon Sung melumat bibir bawahnya begitu kuat. Menyebabkan sepasang tangan Kae Bi mencengkram erat kaos bewarna biru yang dikenakan Joon Sung. Pemuda itu tak merespon, ia malah terus menjalankan kegiatannya. Kali ini, mencoba membuka satu-persatu kancing piyama Kae Bi. Lalu kembali mengecup bagian-bagian halus di sekitar dada istrinya.


“Katakan, Seberapa besar kau menginginkanku?” Kae Bi tidak langsung menjawab. Ia cukup tersendat dan tergelonjak malu. Wajahnya bersemu kembali dan terus menghindar dari pandangan Joon Sung.


“Aku —”


“Apa susahnya menjawab, Nona manis?” Ia mulai mendekat, membuat Kae Bi semakin kikuk dengan pemikiran yang semakin melemah. Ia nyaris ingin mengakhiri kegiatan tersebut karena dirasanya tak akan kuat berada dalam waktu lama bersama Joon Sung —bertahan lebih lama dan terjerat dalam pesona pemuda ini. Degupan jantung Kae Bi semakin terasa manakala Joon Sung mendekat, mengarah turun, menatap segumpal daging berisi yang tertutup cup berukuran sedikit besar. Nafasnya tercekam dan sulit, ia tak pernah melihat Joon Sung menatap pada bagian lekuk tubuhnya seperti itu. Tatapan penuh gairah —memaksanya untuk tidak menutupi segala keindahan yang tersembunyi disana.


“Joon Sung—” Kae Bi memejakan mata kembali saat hembusan nafas membara tersebut mulai terasa di sekujur tubuhnya. Joon Sung berpaling nampak melihat Kae Bi yang sedikit cemas serta turut meremas permukaan alas kepala.


“Aku tidak boleh berupaya lebih menyentuhmu, Kae Bi-aa?” Pertanyaan itu sontak membuat Kae Bi menolehkan pandangan ke arah Joon Sung.


“Tidak—” Sanggah Kae Bi cepar-cepat. “Bukan begitu. Aku —” Perkataannya tak lagi tersusun baik. Kae Bi menghela nafas dan menyembunyikan wajahnya tepat di dada bidang Joon Sung. Ia mendekap pemuda itu dengan erat.


“Aku hanya takut. Tidak —seharusnya tidak begini. Aku tidak tahu harus berbuat apa, dan setiap kali kau menyentuhku, ... Mengapa —mengapa aku ..., Hatiku, Semuanya berdetak lebih cepat. Aku berkecil hati karena kau lebih tampan dari yang ku dustai saat kita pertama kali bertemu”


“Saat pertama kali bertemu?” Ulang Joon Sung yang langsung memutar kembali piringan hitam yang tersusun rapi tepat di dalam pikirannya. Di Goo Seoul Corp. Saat dimana Kae Bi terhempas jatuh di hadapannya.


“Saat kau mengamatiku —Saat matamu tak henti menatapku” Bisiknya pelan, terjerat kembali dalam bola mata bewarna hitam legam yang terus mengarah padanya.


“Dan saat itu Aku yakin —Aku telah mencintaimu, . . .”
Mata Joon Sung berarah kembali. Detakan dan hembus nafas Kae Bi mengiringnya untuk menyusuri paras ayu itu. Membuat Kae Bi semakin terkepung mati, tak sanggup melakukan gerakan lebih dan tak nampak bergeming manakala Joon Sung menyungging tersenyum tipis.


“Jantungmu berdebar” Bisiknya yang dengan seketika kembali memberi lumatan liar. Lidah kasar dan basah miliknya memasuki celah bibir Kae Bi dengan gerakan lihai, hingga wanita itu tersengal-sengal dengan memejamkan kedua mata, merasakan gerakan yang di berikan Joon Sung dengan seksama. Belaian lembut mulai berdermaga pada bagian tubuh bawah Kae Bi, ia tahu tangan Joon Sung kini mengarah pada bagian kaki putihnya. Kae Bi tercekat saat tangan lain dari Joon Sung berarah membuka penutup dadanya.


“Indah—” Gumam Joon Sung yang di balas helaan nafas gugup dari Kae Bi. Saat dimana mata elangnya menatap gumpalan daging berbentuk gundukan itu, Ia bersumpah—tak akan pernah berpaling walau hanya sepersekian detik. Joon Sung harusnya telah menduga ini dari awal ..., apapun yang dimiliki istrinya itu memang suatu anugerah..., sesuatu yang dapat membuatnya tertegun seperti saat ini, Kae Bi sesuatu yang menakjubkan untuknya.
Pendingin di ruang kamar mereka bekerja dengan baik namun peluh tak henti mengalir dari sepasang kekasih yang tengah berbaring di atas ranjang tersebut. Kae Bi melengkungan tubuh rampingnya saat bibir Joon Sung menuntut lebih, melumat semua bagian yang ada pada tubuhnya dengan bergairah, bergejolak tak tertahankan seperti ingin menikmatinya tanpa henti. Lengan kekar Joon Sung melingkari pinggangnya kini, membuat Kae Bi mengerang panas saat pemuda itu menyesap bibirnya begitu dalam dan amat menuntut. Tangan pemuda itu mulai berjalan, ke bagian punggung dan setelah itu tepat mendarat di bagian dada Kae Bi, remasan pelan yang berpacu bersama pekikannya kini semakin cepat hingga Kae Bi tak kuasa mengalungkan erat kedua tangannya pada leher Joon Sung. Pakaian mereka sudah berserakan dimana-mana. Kae Bi dapat merasakan kembali gigitan dan esapan yang semakin menggila di bagian dadanya. Joon Sung terlalu menikmati kegiatan mereka tanpa membiarkannya untuk sekedar menghirup pasokan udara.


“Ahhh Joon Sung!” Kae Bi tersentak bangun saat Joon Sung mencumbu bagian perutnya yang rata dan bagian sensitif lainnya. Sensasi kenikmatan secara tanpa sengaja mulai bermunculan di dalam tubuh. Kae Bi menjerit saat Joon Sung memutar lidahnya pada bagian tersebut. Membuatnya mengerang keras bersama cairan lengket dan pekat yang keluar dari sana.


“Kau —” Baru saja akan membuka suara dengan nafas terengah, kini Kae Bi harus mengurungkannya sebab Joon Sung mulai menyerang buah dadanya tanpa ampun. Menjilat dan terkadangan menyesapnya dengan memburu, hingga desahan Kae Bi semakin terdengar begitu nyaring. Ia nyaris menjerit saat bagian kewanitaannya di tindih sesuatu yang keras dan besar. Bergerak semakin dalam menuju selangkangannya.


“Sakit?” Tanya Joon Sung yang memandang Kae Bi dengan raut wajah tegang. Sempat terpikir menghentikan penetrasi tersebut karena wajah Kae Bi begitu gugup.


“Tidak—Aku baik-baik saja” Kae Bi memberikan seulas senyum tipis bersamaan dengan peluh yang terus mengalir dari dahinya. Ia nampak begitu rentan dan terlihat indah. Lalu Joon Sung memulai permainannya lagi, Pemuda itu mengangkat bobot tubuhnya menjauh sejenak kemudian memberikan dorongan kembali saat 'barang miliknya' memaksa masuk ke dalam bagian kewanitaan Kae Bi.


“Akh!” Tangannya mengerat pada Bahu Joon Sung. Hujaman kilat itu meremukkan bagian pada tubuh Kae Bi. Hingga saat dimana keperkasaan Joon Sung telah memasukinya dengan sempurna, barulah mereka berhenti sesaat ..., memandang satu dengan yang lain bersama hembusan nafas yang bergelora dan di penuhi nafsu.


“Saranghe” Bisik lembut Joon Sung terdengar begitu syahdu di telinga Kae Bi, suara sumbang yang agak gelap dengan iris mata tajam mampu membuatnya tak berdaya. Dan saat gerakan-gerakan yang berawal lamban dan lama-kelamaan semakin cepat, kini membuat Kae Bi tak mampu merespon ucapan yang Joon Sung paparkan tadi. Akal sehatnya berganti dengan sensasi kenikmatan dan keinginan untuk merasakan kegiatan ini lebih lama lagi. Ketika berjuta-juta cairan cinta itu menyembur di dalam rahimnya, Kae Bi melemah —Samar melihat Joon Sung dengan nafas tersengal diatas bagian bahunya. Ia tersenyum dan menutup kedua mata saat kontak tubuh mereka dilepaskan Joon Sung dengan perlahan.


***


Joon Sung mengecup puncuk kepala Kae Bi. Sepasang tubuh itu saling mendekap erat dan ketat. Kae Bi tersenyum samar, meresapi kebahagiaan yang terus datang bersama Joon Sung di dalam hidupnya. Cinta sederhana yang di berikan pemuda itu mampu merubahnya menjadi kepribadian yang lebih baik. Kasih tak tertara yang Joon sediakan untuknya kini terus meletup seperti tak dapat di akhiri. Ia berpaling, diliriknya seprei yang menjadi alas tubuh mereka sudah sangat berantakkan tak menentu arah. Ia tertawa kecil saat membayangkan bagaimana kuatnya tubuh Joon Sung hingga membuat ranjang mereka berdecit keras saat gerakan-gerakan liar yang mereka buat semalam.


“Ada apa?” Tanya Joon Sung


“Tidak ada, hanya gurauan dan aku rasa tidak penting” Katanya kemudian. Membuat Joon Sung sedikit termenung sesaat dan Kae Bi mulai menyadarinya. Ia mengamati Joon Sung dan mulai meraih jemari pria itu.


“Aku punya sesuatu” Bisik Kae Bi dengan senyuman. Joon Sung nampak sedikit bergeming dari gerakannya dan ikut mengamati Kae Bi. Wanita itu terdiam, seakan mengumpulkan semua suhu yang menjalar di tubuh mereka.


“Tutup matamu” Perintah Kae Bi. Joon Sung mulai memejamkan kedua mata. Kae Bi sedikit menghela nafas dan menyemat tangannya begitu erat pada jemari Joon Sung.


The day we met . . .,
Frozen I held my breath


"Maaf" Ucap Joon Sung datar, sambil berdiri di hadapan gadis itu.
Kae Bi mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara lelaki yang ada dihadapannya. Ia menatap wajah pria itu, lalu tersenyum begitu manis sambil berusaha lagi merapikan penampilannya yang sedikit berantakkan

"Seharusnya aku yang minta maaf. Mianhe telah mengganggu" balas Kae Bi dengan senyum ramahnya
Joon Sung mengamati itu semua. Ia memandang Kae Bi lekat-lekat. Ada sesuatu yang merasuki relung hatinya. Saat matanya memandang lekat sesosok gadis yang baru dilihat untuk pertama kali, lalu dicerna dan terlukislah wajah cantik itu di dalam berbagai memori di dalam otaknya, membuat dentuman jantung tercipta.....detakan nya begitu cepat, membuat Joon Sung kalah telak, tak bisa berdaya upaya lebih. Ia seperti terjerat.....seperti terhipnotis.... Ia tak mampu mengendalikan dirinya lagi. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Mata itu, mata coklat itu begitu memerah sembab. Apakah ia menangis? Untuk apa dia menangis? Apakah ia tidak bahagia hari ini? Pikir Joon Sung. Entah kenapa, tanpa bisa dikendalikan. Joon sung mengatupkan rahangnya, mengepal erat menahan perasaan sakit. Saat melihat mata Kae Bi yang terus saja di pandangnya.

Right from the start
I knew that I’d found
a home for my heart, beats, fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I’m afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow


"Bagian mana yang sakit!? Beri tahu aku! Sesakit apa luka itu!? Beri tahu aku!" Jerit Kae Bi, runtuh sudah air mata dan segala perasaanya. Ia menangis pilu sambil terisak tak terhingga.

"Jangan... Jangan masuk kedalam masalah ini lagi. Keluarlah....keluarlah selagi bisa aku menyelamatkanmu" Ujar Kae Bi dengan isakannya. Joon Sung terdiam, saat melihat kejadian dan membayang kan hal-hal yang akan di hadapi Kae Bi selanjutnya, membuatnya semakin enggan untuk meninggalkan gadis iti sendirian

"Tidak" Jawaban Joon Sung yang datar dan itu membuat Kae Bi terperangah.
-Chapter One-



One step close

“Aku tak pernah bertemu dengan-mu sebelumnya. Apakah kita saling mengenal satu-sama lain? Entahlah.....mungkin saat di masa lalu?”

“aku tidak mengenalmu sama sekali....tidak sebelum kejadian itu.....tidak setahun atau dua tahun yang lalu.....dan tidak di masa lalu....."
[/ left ]  
-Chapter two-


I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I’ll love you for a thousand more


Kae Bi berjalan pelan, ia menangis mengiring langkahnya. "Maafkan aku Joon Sung-ssi... Maafkan aku" Bisiknya lirih. Ia semakin mendekat, menuju daun pintu Apartement. Tapi sebuah pelukan mencegahnya. Hatinya di lumuri cairan panas, ketika sebuah tangan kekar membalut dadanya.

"Jangan pergi"
Suara parau itu menghias di gendang telinganya. Joon Sung menopangkan wajah di bahu kiri Kae Bi. Memeluk erat tubuh wanita itu. Sekarang apa yang di perbuatnya, ia sudah tidak perduli! Hati kecilnya bernista, ia tak mau kehilang Kae Bi. Sungguh, ia menolak akan hal itu.

"Aku tidak akan membiarkanmu terpuruk sendiri"
 
-Chapter Four-

Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away


Joon Sung berbalik cepat, menancapkan pandangan sigap ke arah Kae Bi. Jantungnya berdetak ketika peluru silver melesat cepat untuk menembus tubuh sang istri. Ia segera berlari, seluruh anggota tubuhnya digerakkan gesit berusaha menjangkau tubuh Kae Bi.
Kedua mata sendu itu masih terpejam rapat. Joon Sung mengerjap melihat wajah yang seakan terlukis 'mati' di atas tubuhnya. Meremas keras kedua bahu kecil Kae Bi, memberi pertanda dan keyakinan agar kedua mata itu terbuka kembali. Tapi pengharapan tersebut semakin jauh untuk menjadi sebuah kenyataan. Kae Bi masih terpejam seperti tidak sadarkan diri, membuat Joon Sung meletup.

"Joon Sung... Joon Sung..."
Bibir itu bergumam kecil. Menelusupkan satu nama di dalam penglihatan jiwanya. Kae Bi bergetar di pembaringan, tubuhya terkulai lemah di sofa hitam ruangan Presdir Goo. Wajahnya berpeluh deras, membuat Mr.Goo berdecak pinggang berjalan kesana-kemari. Melirik Kae Bi sebentar, lalu membuang pandangan. Seakan berusaha menahan perasaan cemas yang kian meletup.

"Kae Bi-aa"

Joon Sung datang, menghantarkan tubuhnya ke arah Kae Bi yang mulai membuka mata perlahan. Tapi cengkraman tangan menahan, membuat Joon Sung terseret ke belakang. Mr.Goo bertajam sinis, menampar pipi Joon Sung dengan keras.

"Suami macam apa dirimu?!" Hardik Mr.Goo seketika, lumuran darah meningkat di dalam otaknya. Ingin sekali menghancurkan manusia di depannya ini. "Bagaimana bisa kau meninggalkanya begitu saja! Lihat, ia hampir mati!" Sentaknya lantang bak suara petir menyambar. Joon Sung menahan rasa sesak atas cengkraman tangan sang mertua di kerah kemejanya. Ia menepis kasar, manakala dilihatnya Kae Bi yang berusaha beranjak dari posisi.

"Minggir!" Ucap Joon Sung yang kehilangan kesabaran. Melihat Kae Bi tergopoh seperti itu, membuatnya berontak keras.

"Saya berhak atas dirinya dan tak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun, Tuan Goo. Dia ISTRI KU! Kau dengar, bukan? Dia akan tetap menjadi ISTRI KU!"


What’s standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this


Kae Bi merangkulkan tangan pada leher jenjang milik Joon Sung, suaminya. Menatap wajah dingin yang terus memandang ke depan tanpa berbalik untuk melihatnya. Entah keinginan dari mana, Kae Bi tersenyum dengan lemah semakin bersandar pada dada bidang Joon Sung. "Terima kasih" Bisik Kae Bi lembut dan memejamkan mata

One step closer

"Dingin.. Aku kedinginan, Joon Sung... Aku kedinginan" Ia berucap lirih, nada suaranya mendayu lemah di dalam pendengaran Joon Sung.

"Kau kedinginan?" Ulang Joon Sung yang masih menerka. Kae Bi mengangguk pelan. Membuat Joon Sung semakin erat memeluknya. Meraih jemari tangan Kae Bi, hingga gadis itu menangis. Joon Sung menghembuskan nafas hangatnya pada kedua tangan Kae Bi.
-Chapter five-


I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I’ll love you for a thousand more


"Beri aku satu kepastian... Beri aku satu keyakinan... Apapun yang bisa membuatmu untuk bertahan bersamaku... Alasan apapun yang bisa membuatku untuk menggenggammu selama-lamanya. Aku mohon..."

Kae Bi menangkup wajah Joon Sung dengan kedua tangannya. Ia memejamkan mata perlahan, menuntun bibir kecilnya menghinggap kedalam bibir Joon Sung yang lebih padat. Kae Bi mengecupnya sesaat. Membuat Joon Sung membelakan mata lebar-lebar. Aliran darah menjalar bagai sengatan listrik, seakan-akan menciptakan sisi agresif pada dirinya muncul.

"Pergilah... Aku mohon pergilah..."

"Aku mencintaimu Kim Joon Sung! Oh tuhan, Kenapa aku menjadi seegois seperti ini!? Aku tidak menginginkan semua ini! Aku... Aku benar-benar terbebani. Bantulah aku... Bantulah aku lagi seperti dahulu... Ketika kau menjadikan tubuhmu sebagai sanggahankku... Ketika aku terpuruk, kau menopangku dalam lindunganmu"
-Chapter Six-


And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I’ll love you for a thousand more

“Berpikir setidaknya aku harus bertanggung jawab, mengembalikanmu ke dalam kehidupan yang lebih baik. . . Seperti saat pertama dimana sebelumnya. . . Kita tidak pernah saling mengenal”

“Jangan lagi berpura-pura kuat, kembalilah seperti Goo Kae Bi yang ku kenal” Tubuh Kae Bi lemas mendengar ucapan Joon Sung. Raut muka yang datar sedari tadi kini berubah begitu menyedihkan. Ia butuh sanggahan kali ini. Untunglah Joon Sung seperti bisa membaca pikirannya, pria itu menghantarkan Kae Bi kedalam dekapan hangat.
-Chapter Seven-


One step closer


“Jangan menangis” Kae Bi segera menjauh. Suara Joon Sung menghias dalam pendengarannya. Apa ini hanya ilusi? Tapi . . .
“Jangan menangis, Kae Bi-aa” Tatapan mata keduanya saling bertemu. Joon Sung begitu dalam membalas pandangan Kae Bi. Mereka terdiam sejenak, menyelam dalam keheningan. Mata Kae Bi semakin berkaca-kaca. Ribuan pisau menusuknya begitu cepat. Ia tak kuasa, sungguh. Perasaan siapa ini?

One step closer


“Kau harus bahagia”

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I’ll love you for a thousand more

“Tatap aku” Sebuah tangan menyentuh sebagian wajahnya. Kae Bi menelan ludah, tubuhnya lemah dari pergolakannya sendiri. Degupan jantung Kae Bi terasa begitu besar, lebih-lebih dari apa yang ia rasakan seperti biasanya. Ia membuka kedua mata perlahan. Keterpanahannya membuncah kala menatap Joon Sung. Ribuan karam terkikis dalam hati, menyebabkannya membisu. Sesakit apapun ia terjatuh, rasanya tidak akan lebih sakit saat merasakan kenyataan ini. Perlahan air mata mulai menghias lagi. Ini semua perasaan Joon Sung.

“Itu perasaanku” Tegas Joon Sung yang membuat Kae Bi terisak begitu memilukan. Ia tak kuasa lagi menahan semua. Joon Sung menghantarkan tubuh itu ke dalam pelukannya. Dekapan erat untuk menutupi semua tubuh Kae Bi dalam kehangatan.
-Chapter Eight-

And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I’ll love you for a thousand more

"Lama tak bertemu" Bisik Kae Bi pada Joon Sung. Pelukan hangat membuat pemuda itu membujur kaku. Kae Bi mendekap Joon Sung begitu kuat.
"Jangan pernah pergi" Kata Joon Sung dengan raut wajah kesungguhan. "Aku sulit tanpamu" Kae Bi membuncah dengan segala rasa yang ada. Butiran mega terlukis dengan rangkaian hati. Kae Bi semakin dalam membalas pelukan Joon Sung.

"Aku juga" Desis Kae Bi pelan.
-Chapter Ten-

Keduanya membuka mata perlahan. Memori-memori kenangan indah tersebut tersaji begitu saja dalam bayangan mereka. Joon Sung tertegun sejenak, nyaris tak menyangka begitu kuat perasaannya dengan Kae Bi. Bagian-bagian dimana mereka pertama kali bertemu, saat mereka berduka ..., bahagia, semua terputar begitu saja.
“Bagaimana kau melakukannya?” Tanya Joon Sung yang dibalas Kae Bi dengan dekapan.

“Menyatukan perasaan kita. Aku membuat ingatan-ingatan saat dimana kita pertama kali bertemu dan semua kejadian yang kita alami. Aku menggambarkannya dalam perasaan agar mampu kau baca. Terima kasih untuk semuanya, Joon Sung-ssi”

“Kini kau tahu, aku akan mencintaimu untuk waktu yang lebih lama—untuk waktu yang lebih lama lagi”
Dan saat dimana Kae Bi dan Joon Sung bertemu untuk kali pertama, dari saat itulah mereka ditakdirkan untuk bersama, selamanya


***


Pagi menjelang. Suasana dia Apartement Joon Sung dan Kae Bi nampak sepi. Bukan tidak berpenghungi, hanya saja pemilik tempat tinggal ini begitu sibuk dengan kegiatannya hingga tak menyadari bahwa matahari sudah setengah terbit saat pagi-pagi buta tadi. Waktu menunjukkan pukul delapan saat itu. Ruang kamar Joon Sung dan Kae Bi terlihat sangat kacau, pakaian-pakaian yang mereka kenakan semalam masih berserakan di sekitar ranjang. Bantal dan guling terhempas saja di atas lantai, begitupun dengan selimut. Serta Sofa yang terletak di ujung ruangan, kini sedikit bergeser dari posisi awalnya.

Samar namun pasti, dibalik pintu kamar mandi yang berdiri kokoh, terdengar suara pekikan Kae Bi yang menggema keras. Selang menit berganti, bunyi keran air dimatikan dan gerakan handle pintu dibuka dari dalam. Sosok Kae Bi menjulang disana seraya berjalan tertatih. Berulang kali menahan rasa sakit yang menghinggap di bagian tulang selangkanya. Sudah tiga kali sejak semalam ia bercinta dengan Joon Sung, namun masih saja sakitnya terasa. Ia berjalan, mematut diri dicermin. Sedikit tak percaya dan terhenyak saat menemukan begitu banyak tanda kemerahan disekitar leher dan bagian dadanya. Ia mulai menyentuhnya dengan hati-hati, membelainya pelan hingga suatu lengan kekar dapat dirasakan memeluknya dari belakang.

Pandangan Joon Sung dan Kae Bi saling bertemu dalam pantulan cermin. Kae Bi dapat melihat raut wajah suaminya berubah serius dan memandangnya dingin. Menciptakan sorot tajam dalam kebisuan. Takut dengan apa yang akan terjadi, kini ia menatap Joon Sung tepat dihadapan bola mata hitam legam itu.
“Ada yang salah?” Tanya Kae Bi memastikan.

“Aku menyakitimu” Jawabnya dingin. Membuat Kae Bi terkecoh dengan senyum simpul yang tak habis percaya dengan perkataan Joon Sung.

“Ini hal yang wajar. Aku yakin—bukan hanya diriku yang mengalami hal seperti ini setelah mereka melakukan hubungan intim dengan pasangannya” Jelasnya mengamati Joon Sung dengan berbinar.

“Setidaknya dengan kau berjalan seperti tadi membuatku berpikir—Mungkin, aku patut disalahkan”

“Joon Sung —” Kae Bi membingkai wajah tampan itu dengan penuh kehangatan. Senyum tulus terpancar dari parasnya sehingga membuat Joon Sung sedikit terhenyak. “Percayalah, ini tidak akan bertahan lama”

“Jika kau merasakan hal lain, segera beritahu” Joon Sung mengecup singkat pipi Kae Bi yang merona memerah, lalu ia berjalan ke arah lain. Meninggalkan Kae Bi sendiri, yang masih setia mengamati sosoknya hingga menghilang di balik pintu kamar mandi.


***


Kae Bi memasang alis mengernyit saat ditemukannya keadaan dalam ruang tamu. Biasanya bibi Yoon dan Gae In sudah
datang pagi ini. Namun, tak ditemukannya mereka dalam sosok penglihatannya. Membuat Kae Bi berjalan pasti ke arah dapur, dan lagi hanya angan-angan yang tak terwujud sebab ruangan itu begitu sunyi.

“Kau mencari sesuatu?”
Ia menoleh sejanak saat mendengar samar suara Joon Sung dari belakang. Suaminya itu kini tengah bersejajar pandangan padanya dan menyembunyikan kedua tangan dalam saku celana. Ia mulai berjalan kearah Kae Bi.

“Dimana Bibi Yoon dan Gae In? Mereka harusnya telah tiba disini dari sepuluh menit yang lalu” Tanyanya pada Joon Sung.

“Mereka tidak akan datang” Sahut Joon Sung cuek

“Dhe?” Ulangnya yang masih tidak mengerti. Hingga Joon Sung bertampang sinis dan mulai sedikit mendengus kesal.

“Aku meliburkan mereka” Jelasnya yang kali ini menggunakan nada Dingin. Sementara Kae Bi masih tidak menangkap kata-kata Joon Sung dengan sempurna.

“Untuk apa? Ini bukan hari libur dan lagi kau juga harus berangkat ke kantor”

“Tidak—” Jawab Joon Sung. “Hari ini hanya ditugaskan untuk rekan tim marketing saja. Mereka menyusun laporan observasi yang telah kubuat”
Kae Bi manggut-manggut mengerti mendengar penjelasan Joon Sung. Ia membuang pandangan sejenak dan mulai berpikir menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Melihat Kae Bi yang nampak terus berpaling seperti orang kebingungan, membuat Joon Sung tersenyum kecil.

“Lagi pula—” Ia mengayunkan sepasang kaki jenjangnya untuk mendekat ke arah Kae Bi, hingga tepat kedua tangannya mendekap tubuh mungil itu begitu erat.

“Kita butuh Privasi” Bisiknya membuat Kae Bi membujur kaku seperti organ-organ dalam tubuhnya tidak berkontraksi dan berelaksasi dengan baik. Ia mengerjapkan mata berulang kali tak percaya jika Joon Sung mulai mencumbu bagian ceruk lehernya begitu dalam.

“Joon Sung—" Desis Kae Bi yang mencoba menghindar. Haruskah melakukannya lagi? Jika terjadi, maka sudah empat kali sejak kejadian semalam mereka bercinta. Kae Bi baru tahu jika suaminya itu memiliki keinginan yang tinggi. Ia seperti tercandu zat adiktif sejak dimana mereka menjalankan kewajiban yang sudah sewajarnya di lakukan pasangan suami-istri.

“Joon Sung— tidak seharusnya begini” Kae Bi berujar frustasi saat jari-jamari Joon Sung yang mempunyai gerakan baik, membuka kemejanya. Disusul dengan lumatan bergairah yang menggetarkan seluruh sukma dalam diri Kae Bi. Joon Sung membawa tubuh mungil itu dalam detakan langkahnya, tepat menjatuhkan Kae Bi diatas sofa yang menghadap kaca jendela Apartemen.

“Joon Sung dengarkan aku sejenak ...,” Kae Bi mematahkan ciuman mereka saat lidah kasar Joon Sung hendak menjelajahi bagian dalam bibirnya. Semburat merah mulai terlukis jelas dikedua pipi Kae Bi. Joon Sung berpaling dan memberikan tatapan datar.

“Baik. Sepuluh detik dari sekarang”

“Mwoga!?”Sahut Kae Bi tak percaya.

“Satu ..., Dua ..., Tiga ..., Empat —” Joon Sung mulai menghitung dengan suara sumbangnya. Membuat Kae Bi membelak dan mendengus kesal.

“Lima ..., Enam ..., Tujuh ..., Delapan” Hitungan semakin cepat. Kae Bi yang sudah habis kesabaran, langsung saja membekap bibir Joon Sung dengan esapan keras. Sedikit mengigit bibir bagian bawah Joon Sung yang padat, hingga pria itu sempat meringis dan kembali membawa Kae Bi dalam dekapannya. Mereka masih berciuman liar pagi itu. Hingga Joon Sung mulai berarah pada bagian dada Kae Bi, dentingan bel dari balik pintu tak membuat mereka mengakhirinya. Kae Bi dan Joon Sung telah terbuai pada kegiatan mereka tanpa menyadari bel tersebut telah berdenting lebih dari dua menit.

“Kae Bi ..., Joon Sung—” Suara decapan dan rintahan keras tadi kini berubah hening. Wanita anggun yang berdiri di belakang Joon Sung dan Kae Bi nyaris bernafas tersengal tak terkendali. Kedua mata yang setengah mengkerut itu membelak tak habis percaya.

“Ibu—” Gumam Kae Bi takut-takut. Selanjutnya, mau ditaruh dimana wajahnya jika dihadapkan pada ibunya itu? Ia mendilik tajam pada Joon Sung yang telah memperbaiki posisi mereka. “Ini semua karenamu!” Tuduhnya berkilah kesal.
Ketiga orang di dalam ruang itu nampak terlihat canggung. Kae Bi menundukkan kepala sangat dalam, Kae Hwa hanya memainkan jemari tangannya dengan berpandang kosong, dan Joon Sung yang melipat kedua tangannya di dada, mulai merasa bosan dengan keadaan yang ada.

“Aku akan meninggalkan ruangan ini supaya kalian lebih leluasa berbicara” Saran Joon Sung yang mulai membuka suara. Membuat Kae Bi dan Kae Hwa serempak memberi pandangan padanya.

“Tidak. Ibu kesini juga ingin bertemu denganmu, Joon Sung-aa. Jadi tidak akan ada yang kemana-mana. Baiklah, ibu minta maaf jika tadi ibu telah lancang melihat kegiatan kalian” Sekarang Kae Bi nyaris jatuh dari tempatnya. Wajahnya lebih memerah padam dari sebelumnya. Ia meremas ujung kemejanya dengan kuat dan memandang sang Ibu.

“Ibu, Beritahu apa yang terjadi?” Kilah Kae Bi seolah mengganti ucapan yang dikatakan Kae Hwa tadi. Ia melirik Joon Sung yang masih nampak tenang dengan posisinya.

“Tidak perlu cemas, sayang. Tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Ibu datang kesini untuk mengundang kalian menghadiri masa kejayaan perusahaan Ayahmu. Apakah Joon Sung belum memberitahu jika Goo Seoul Crop akan merayakan masa kejayaannya lusa depan?” Tanya Kae Hwa berpandang silih berganti pada Kae Bi dan Joon Sung.

“Rencanaku, malam ini akan memberitahu hal tersebut pada Kae Bi” Sanggah Joon Sung yang mendapat anggukan kepala dari Kae Hwa.

“Jika begini, maukah kalian menghadiri acara tersebut? Karena kau juga bagian dari Goo Seoul Corp, Joon Sung-aa, Ibu ingin kau juga hadir. Bagaimana?” Tanya Kae Hwa penuh harap. Kae Bi termenung sejenak dan membuat sang ibu mengerti.

“Kae Bi-aa” Panggilnya lembut. Kae Bi segera berpaling dan melihat sang ibu yang tengah tersenyum kearahnya. “Tidak perlu cemas jika kau memikirkan tentang Ayah— karena ia yang menyuruh ibu kesini untuk mengundang kalian”

“Benarkah?” Tanya Kae Bi ragu-ragu. Ia memberi pandangan serius, menangkap pernyataan yang rasanya sulit untuk di terima akal. Kae Hwa mengangguk dan disusul dengan membuka suara

“Ne sayang. Ayahmu telah berbicara kepada ibu— Ia ingin Kau dan Joon Sung hadir sebagai bagian dari keluarga Goo” Joon Sung yang sedari tadi hanya mengamati pembicaraan kedua wanita tersebut, kini mulai menoleh kepada Kae Bi. Wanita itu terlihat gusar ditempatnya, Joon Sung mulai memberi pikiran-pikiran kecil dalam otaknya. Ia membaca perasaan Kae Bi yang seperti menyimpan sejuta keraguan dan ketakutan. Joon Sung tahu apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.


***


“Kau terlalu banyak memikirkan sesuatu”
Kae Bi berpaling cepat pada Joon Sung yang sibuk berjalan di Besment Apartement, mencari kendaraan mereka. Siang itu udara diluar terlihat sangat dingin dan menusuk, langit berubah kelabu. Kae Bi berencana pergi ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa bahan makanan.

“Joon Sung —Tentang acara perayaan itu, aku—” Kalimatnya terhenti karena Joon Sung telah membuka pintu mobil untuknya. Kae Bi perlahan berjalan.

“Kita bicarakan nanti” Jelas Joon Sung yang membuat Kae Bi menghentikan gerakan saat akan memasuki mobil. Ia melihat Joon Sung memutar arah berjalan untuk membuka pintu kemudi. Kae Bi hendak melanjutkan gerakan, namun suara keras membuatnya berpaling.

“Kae Bi-aa”

Hyun Woo muncul dari arah yang berlawanan. Kae Bi yang sudah membungkukkan tubuh, kini urung ia lakukan. Hyun Woo berjalan ke arahnya dan mereka saling memandang satu sama lain. Joon Sung menilik tak senang saat melihat sosok Hyun Woo berdiri di balik tubuh mungil Kae Bi. Ia berjalan keluar dari mobil dan berdiri tepat di samping wanita itu.

“Bagaimana kabarmu?” Sapa Hyun Woo dengan senyum yang terlukis di bibir. Kae Bi membalas tersenyum tipis dan mulai menjawab.

“Baik. Oh ya— untuk saat dimana kau menolongku beberapa hari yang lalu..., aku ucapkan terima kasih”

“Ne, aku senang bisa membantu” Balas Hyun Woo yang tak mengalihkan pandangannya pada Kae Bi. Membuat Joon Sung meruncing tajam. Masih segar dalam pikiran pria itu saat terakhir kali mereka bertemu.

“Jelas karena kau sering berada di sekitar kami—” Kali ini Joon Sung membuka suara dingin. Ia menoleh ke arah Hyun Woo dan memberikan tatapan tajam.

“Jelas kau mampu menolongnya saat itu karena kau salalu mengikuti kami dari kejauhan” Hyun Woo langsung membatu saat mendengar kalimat Joon Sung yang terakhir. Kae Bi merasa suasana mulai tak senyaman tadi saat kedua pria ini saling menatap satu sama lain. Ia merasa canggung dan tersenyum ala kadarnya pada Hyun Woo.

“Kurasa—aku harus segera pergi” Kae Bi memberikan salam terakhir sebelum dia memasuki mobil. Tinggal Hyun Woo dan Joon Sung yang tersisa, mereka saling bertatapan menilik dengan iris gelap masing-masing dan tak henti bertumpu sampai sosok Joon Sung berjalan begitu saja mendahului Hyun Woo. Deru mobil membuyarkan lamunannya sejenak, Hyun Woo tersenyum sinis seakan meletup kala bayang Joon Sung yang terus mengusiknya.

“Bahkan untuk sekedar bertegur sapa dengannya, kaupun tak mengizinkanku” Bisik Hyun Woo menerawang jauh. Saat tersadar ia mulai mengayunkan langkah kaki menuju tempat dimana kendaraannya terparkir melintang. Hyun Woo segera memasuki mobil dan menancap pedal gas dengan kecepatan tinggi.



***



Mansion Lee terlihat sunyi. Sama seperti biasanya dan selalu membuat Hyun Woo merasa kesepian. Andai Jae Hyun tak pernah menghilang dari hidupnya, andai saudara sekandungnya itu tetap mengingat status yang ia sandang sebagai putra bungsu keluarga Lee, mungkin Hyun Woo tidak akan merasa sesepi ini. Ia menjatuhkan diri begitu saja di atas sofa padat. Membuang mantel hitamnya ke sembarang tempat. Hyun Woo menengadah dan mulai menghela nafas panjang. Pejaman mata seakan memberinya sedikit kerengangan. Ia akan memasuki alam bawah sadar jika saja sebuah suara berat tidak diindahkannya saat itu.

“Siapkan dirimu. Kita harus bergerak cepat” Mr.Lee berjalan tegap dari anak tangga atas. Membuat Hyun Woo terhenyak dari posisinya dan menatap sang Ayah dengan pandangan tak biasa.

“Mwo?” Tanya Hyun Woo tak mengerti. Perasaannya mulai tak tenang, perintah sang Ayah untuk mengharuskannya bergerak, itu bukanlah pertanda baik. Mata Hyun Woo membulat dan menjadi jeli. Ia mulai berjalan kearah Mr.Lee.

“Lusa Goo Seoul Corp memperingati masa kejayaan. Aku ingin si Goo keparat itu mati disana!” Tekanan keras terdengar dalam intonasi suara tersebut. Seperti menyimapan berpuluh sembilu untuk melenyapkan seseorang. Hyun Woo tercekat dan berubah pucat saat sang Ayah berjalan begitu saja tanpa menoleh lagi ke arahnya.

“Oh ya, Tentang Joon Sung—” Beliau membuka suara kembali. Hyun Woo menoleh cepat saat nama Joon Sung disebut. Ia menilik Mr.Lee dengan seksama. “Adikmu itu perlu tahu siapa kita sebenarnya. Ayah ingin secepatnya kau segera bertindak” Habis sudah kata demi kata yang akan Hyun Woo pertanyakan kepada Mr.Lee. Ia membeku dan berjalan lesuh. Jika saja memang Joon Sung akan kembali kesisinya, bukan dengan cara ini yang ia pinta. Bukan dengan cara merenggut kebahagian Adiknya itu.

“Doronim—” Pria yang setengah mendudukan tubuhnya di hadapan Hyun Woo kini membuka suara. Pak Jang sedikit tersenyum sungkan saat melihat tuan mudanya menoleh kearahnya. “Siang nanti Tuan Besar mengharuskan anda latihan menembak, Disusul sore hari dengan berlatih Judo” Tuturnya dengan santun. Hyun Woo merespon tak bersemangat lalu berjalan mendahului Ajudannya itu.

“Terima Kasih, Pak Jang. Jika ada sesuatu yang lain, segera beritahu” Ucapan terakhir sebelum Ia benar-benar menghilang di balik tikungan tangga. Pak Jang memperhatikan Hyun Woo dengan prihatin. Sedikit rasa Iba menjalar pada sebagian hatinya. Ia paham dan telah bekerja untuk keluarga Lee dalam waktu yang tak singkat. Majikannya itu merasakan kesepian, sejak Nyonya Lee pergi, semua tak berjalan dengan baik.
Tuan Lee yang ia kenal sebagai CEO pada sebuah perusahaan ternama, karirnya kandas begitu saja. Sejak kematian Nyonya Lee dan kehilangan putra bungsunya, Beliau mengalami depresi berat dan terkadang harus menjalani berbagai pemeriksaan medis. Hyun Woo juga mengalami hal serupa. Tak jauh berbeda dengan sang Ayah, berduka atas kematian sang Ibu dan memilih bungkam sepanjang hari. Hingga sampai dimana Harta benda dan seluruh Aset milik Keluarga Lee akan disita, barulah Mr.Lee bangkit kembali. Mendapat semangat menggebu-gebu dan berupaya mengumpulkan kembali Harta dan segala haknya. Namun sayang, Beliau melakukannya dengan cara yang bisa dibilang tidak wajar. Mr.Lee bekerja sama dengan beberapa Direktur dari perusahaan Asing untuk menyabotase segala bidang Industri, Personel perusahaan serta beberapa Aset berharga dari pihak lawan. Dan dalam waktu yang relatif singkat, Ia mendapatkan kembali penghidupan yang layak. Bahkan Jauh lebih baik dari sebelumnya, Ia mendapatkan keuntungan besar dari kegiatan tersebut. Hingga mampu mendirikan perusahaan terselubung yang Berada Di Korea dan beberapa negara lainnya.


***


Kae Bi menjatuhkan Pandangan kosong pada layar I-Phonenya. Entah sudah beberapa kali ia berkeluh kesah seperti ini.
Sebagian dari relung hati berdetak tak tenang dan berujung bimbang. Hanya dugaan atau ketakutan, Namun Kae Bi merasakan sesuatu yang tak baik. Saat dimana sang Ibu memberitahu tentang Acara Perayaan masa kejayaan Goo Seoul Corp, berbagai pikiran mulai merayap membawa rasa kalut datang tanpa permisi. Lamunannya buyar saat melihat Joon Sung yang sudah menjulang dihadapannya. Pemuda itu nampak menilik setiap gelagat yang Kae Bi buat.

“Ada sesuatu yang membuatmu dalam kejanggalan?” Kae Bi lantas menoleh cepat ketika pertanyaan Joon Sung terlintas begitu saja dalam pendengarannya. Bibir tipis itu terkatup rapat, mencoba menghindari tatapan mata Joon Sung yang tak pernah lepas darinya.

“Kau lupa jika aku dapat membaca perasaanmu” Tegas Joon Sung yang semakin menyudutkan Kae Bi.

“Aku—” Keraguan terselip di sela nadanya. Joon Sung hanya diam, semakin memperhatikan tingkah istrinya itu. Ia tahu sesuatu telah membuat Kae Bi tak tenang, dan yang ia inginkan hanyalah penuturan dari wanita itu. “Entahlah, Aku hanya takut jika harus mempertemukanmu dengan Ayah” Gumam Kae Bi selanjutnya.

“Begitu?” Joon Sung mulai terdiam. ”Kau tahu bahkan sekalipun Ayahmu, pasti menginginkan orang-orang yang penting didalam hidupnya berada pasa saat momen tertentu” Ucapannya berhasil membuat Kae Bi membeku.

“Aku terima dan menganggap wajar jika Ayahmu membenciku. Sebab kebenciannya adalah salah satu pernyataan bahwa ia sangat mencintaimu” Kata Joon Sung bersungguh-sungguh. Membuat Kae Bi berpandang tak mengerti ke arahnya.

“Dhe?”

“Kau tidak sadar? Atas dasar kebenciannya itu menunjukkan bahwa ia tidak rela kau berada dalam kehidupan kelam. Ia ingin yang terbaik untuk dirimu” Kae Bi menunjukkan senyum enggannya setelah Joon Sung mengatakan hal tersebut.

“Jika memang layaknya seperti itu—Untuk Apa Ayah membuangku begitu saja? Menganggapku tidak bermakna lagi sejak kejadian itu. Untuk apa, Joon Sung-ssi!?” Kae Bi meluap. Sedikit Amarah terdengar dari nada suaranya. Air hendak mengalir dari sudut mata berbentuk bulat, yang bewarna bening milik Kae Bi.

“Karena Ayahmu juga manusia, Kae Bi-aa. Karena beliau juga mempunyai rasa kecewa dan terpuruk. Percayalah, saat dimana ia memintaku untuk meninggalkanmu..., Ayahmu telah menyadari bahwa ia tidak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kali” Lengan kekar milik Joon Sung mulai mendekapnya erat. Bersentuhan dengan suhu tubuh Kae Bi yang terasa hangat. Hawa dingin menyelemuti Joon Sung. Persaaan Kecewa, Frustasi, Sakit, dan Juga kesedihan perlahan membayang. Ia tahu Kae Bi tidak akan bertahan lama dari pergolakannya saat ini.

“Menangislah jika kau ingin menangis—” Belaian lembut merasuki rusuk Kae Bi. Bola mata cokelat itu dipenuhi air yang mendesak keluar. Kae Bi semakin mendekap Joon Sung erat, seolah tak ingin membiarkan pemuda itu mengetahui keadaannya. Selama ini ia menderita. Ya—kenangan kelabu itu menekannya dalam gelap. Membuatnya kehilangan kasih sayang dan segala yang telah dimiliki. Jika saja Joon Sung tidak berada seperti saat ini disisinya—entah apa yang akan Kae Bi perbuat. Mungkin mengakhiri hidup lebih baik, jika ia tak dipertemukan dengan pria itu. Bahunya masih sesenggukan. Sesekali Joon Sung meliriknya lewat sudut mata, sekilas melihat lekuk wajah Kae Bi yang tertutup beberapa helai rambut di bagian tertentu. Lama berdiam pada posisi itu, membuat Kae Bi bergerak dari keheningannya. Matanya memerah sembab, serta sebagian pipi yang masih terlihat agak basah membuat perhatian Joon Sung tak luput darinya. Dengan sekuat tenaga Kae Bi mulai memberanikan diri menatap suaminya kini.

“Maaf—Aku harus ke kamar”

Ucapan terakhir sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan itu ternyata membuat Joon Sung sedikit bergeming. Dilihatnya Kae Bi yang telah berpaling dan berjalan memunggunginya. Dan, apa lagi ini? Perasaan sakit berkecamuk kembali, rasa kesepian, ketakutan yang tidak bisa di ungkapkan kepada orang lain. Ini tidak benar, Joon Sung tahu Kae Bi tengah menahan jeritan pedih itu. Tak ingin membuang waktu banyak, dengan segera ia mengambil alih Kae Bi dalam dekapannya. Sontak membuat gadis itu terkejut dan berubah cemas. Tubuh mungil Kae Bi dibawa Joon Sung dengan kedua lengan kekarnya. Ia berjalan tegap dan memasuki wilayah ruang kamar mereka. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Joon Sung membawa Kae Bi keatas pembaringan berukuran besar yang kini telah dijamah mereka. Kae Bi menjadi gugup saat sepasang mata elang itu mengamatinya begitu dalam dan mematikan. Joon Sung memincingkan matanya saat Kae Bi berpandang ragu dan mencoba menghindar.

“Jika kau merasakan hidupmu tak seberuntung seperti apa yang kau harapkan. Namun—” Joon Sung mulai mendekat, membunuh jarak yang tercipta di antara keduannya sehingga kini Kae Bi tak dapat mengelak sebab kedua bola matanya telah terkunci untuk berbalik pandang pada Joon Sung. “Setidaknya kau harus bersyukur karena aku merasa begitu beruntung untuk bisa memilikimu”

“Aku sudah pernah melakukannya—Dan itu selalu kulakukan tanpa kau ketahui” Senyum kecil mulai tercipta di sudut bibirnya. Kae Bi mengalungkan lengannya pada ceruk leher Joon Sung. Membuat suaminya itu semakin dekat kearahnya.

“Perasaanmu membaik” Ujar Joon Sung dengan halus. Ia dapat membaca perasaan yang tersirat kini. Kae Bi mengangguk sejenak dan mengecup pipi Joon Sung singkat.

“Gomawo—” Katanya dengan agak malu disusul rasa canggung. Joon Sung tersenyum tipis menanggapi.
“Jadi—” Ia sedikit bergerak dari posisinya dan menindih tubuh Kae Bi semakin ketat. Matanya berbinar tidak seperti biasa, kebahagian nampak terpancar dari sana. “Apa hadiah yang bisa kuperoleh, sekarang?” Tak lama setelah ucapan itu, tawa hangat terdengar dari keduanya. Malam itu Joon Sung dan Kae Bi terpaut kembali menjadi satu. Terlebih untuk Kae Bi—sekarang ia tahu, diantara sekian banyak orang yang bersama Joon Sung, hanya dirinyalah yang mampu membuat pemuda itu tersenyum ..., sebab, Joon Sung mencintainya.


***


Ruang makan itu terasa sunyi. Beberapa pelayan membujur kaku di setiap sudut ruangan. Kae Hwa mengelap bibirnya dengan napkin dan menoleh sejenak kearah suaminya. Mr.Goo masih sibuk dengan hidangannya sampai ia rasa cukup, barulah ia segera meneguk air dari gelas. Kae Hwa mengalihkan pandangan lagi dan menatap jengah pada piring yang masih tersisa sebagian makanan yang ia santap tadi.

“Mungkinkah—” Guraunya bimbang sambil melipat tangan dengan anggun. Mr. Goo memperhatikan sejenak seraya mengambil kacamatanya. “Kae Bi akan datang—” Sejumput rasa penasaran menyerang beberapa pikirannya. Mrs. Goo itu menoleh seakan ingin mengetahui respon suaminya.

“Dia pasti akan datang” Ucap Mr. Goo enteng lalu meraih napkin yang masih terlipat rapi.

“Dari mana kau tahu?”

“Kau sudah memberitahunya, bukan? Kali ini aku bertaruh—Ia pasti akan datang dan membawa suami kesayangannya itu” Nada Mr. Goo pada bagian terakhir perkataanya terdengar begitu dingin dan menusuk.

“Apa maksudmu, Bin Woo?” Kae Hwa berpandang curiga pada suaminya.

“Saat acara nanti—Aku ingin berbicara dengan pria itu” Mengerti siapa yang dituju Mr. Goo, Kae Hwa hampir tercekat. Pria itu adalah Joon Sung. Jadi, ini semua jebakan? Tidak ada kesungguhan dari suaminya itu untuk menerima Kae Bi dan Joon Sung sebagai keluarga Goo. Keterlaluan! Pikir Kae Hwa.

“Kau jahat, Bin Woo! Tidakkah kau lihat, Joon Sung adalah tumpuan hidup Kae Bi sekarang. Puteri kita benar-benar mencintainya” Sanggah Kae Hwa sedikit keras. Membuat Mr. Goo menilik tak senang.

“Persetan!—” Sungutnya menekan. Ia mendelik tajam pada Mrs. Goo. “Sekalipun harus melenyapkannya, akan kulakukan
asal puteriku kembali!” Kae Hwa tercekat mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan suaminya. Ya tuhan! Apa harus ia lakukan? Kae Bi dan Joon Sung tidak boleh menghadiri acara itu—Tidak!

“Aku bisa melakukan apa saja, Kae Hwa—Bahkan jika kau mengatakan hal ini pada Kae Bi dan Pria laknat itu, aku tidak akan tinggal diam” Seperti mengetahui apa yang ada didalam pikiran istrinya itu, Mr. Goo berkata dengan sungguh-sungguh.

“Kau mengancamku? Kau—” Kae Hwa tak habis percaya. ”Kau berani mengancamku?”

“Jika kau seorang ibu yang baik, kau pasti akan menyetujui tindakanku ini. Pikirkan, Kae Hwa! Ini semua demi kebaikan Puteri kita—Kae Bi”

“Kau tidak akan mengerti, Bin Woo. Kae Bi sangat mencintai Joon Sung, begitu pun sebaliknya. Aku mohon—aku mohon, puteri kita telah bahagia ..., jangan pisahkan mereka berdua” Kali ini permohonan begitu banyak terucap di sela nadanya. Mrs. Goo memandang Mr. Goo dengan penuh harap— Berharap suaminya itu mau merubah keputusannya.

“Kata-katamu pun tak bisa menjamin, Kae Hwa. Aku hanya ingin Kae Bi kembali bahagia bersama kita, Ingatkan selalu di dalam hatimu” Selepas ucapan itu, Mr. Goo telah berpaling dan beranjak dari posisinya. Meninggalkan Kae Hwa dengan beberapa pelayan yang sejak tadi hanya diam tidak ingin mencampuri urusan majikannya. Jika Mr. Goo berpikir melenyapkan Joon Sung adalah menciptakan kebahagiaan puterinya kembali—maka hal itu akan menjadi kesalahan besar yang akan ia lakukan.


***


Kae Bi menghentikan pagutan bibir Joon Sung secara tiba-tiba. Wanita itu perlahan menghembuskan nafas panjang dan mengubah raut wajah menjadi serius. Perasaan itu datang lagi—Ketakutan yang mencekam serta sejumput gundah berdatangan semakin membuatnya tak tenang. Joon Sung menyibak sebagian rambut halus Kae Bi yang menempel dikulit putih berpeluh milik istrinya itu. Ia menatap dalam-dalam kedua bola mata Kae Bi.

“Ada apa?” Bisiknya halus. Menggerakkan bibirnya di daun telinga Kae Bi hingga wanita itu mendekapnya agak erat.

“Sesuatu— Aku tak tahu apa. Namun kurasa bukan hal baik” Kae Bi memejamkan kedua matanya saat berada dalam pelukan Joon Sung. Pria itu mengubah posisi mereka, hingga kini ia dapat melihat Kae Bi begitu dekat.

“Belakangan ini kau banyak berpikiran negatif. Apakah aku harus merasa senang dengan segala pemikiranmu itu?”

“Joon Sung—” Kae Bi memberi pandangan memohon pada pria itu. “Sekali ini, berilah kepercayaan itu padaku. Aku merasa—aku tidak baik-baik saja” Raut wajahnya berubah pucat. Joon Sung bisa melihat itu.

“Aku selalu mempercayaimu, Kae Bi. Setiap detik dimana aku bisa menyerap perasaanmu, tidakkah kau tahu betapa yakinnya aku tanpa ada keraguan sedikit pun” Joon Sung menarik selimut tebal yang sedikit menyingkap dan memperlihatkan punggung tubuh Kae Bi.

“Aku ingin tidur” Kata Kae Bi yang langsung mengambil tempat memunggungi Joon Sung. Membuat lelaki itu cukup terkejut dan sedikit kewalahan saat istrinya baru saja memberikan sikap dingin padanya.

“Kae Bi-aa” Bisik Joon Sung yang tengah membungkuk untuk dapat melihat paras Kae Bi dari jarak dekat. ”Kau tidak ingin melanjutkan?” Nadanya terdengar seperti memohon, dengan perlahan ia mulai menggenggam jemari tangan Kae Bi.

“Mianhe, Joon Sung” Ucap Kae Bi datar tanpa intonasi. Joon Sung menghela nafas sedikit kecewa. Ia mulai menjatuhkan tubuhnya di sisi Kae Bi seraya memeluk tubuh Istrinya itu.

“Baiklah— Apapun pemikiranmu, aku berharap semuanya akan baik-baik saja” Katanya yang kemudian lekas hendak memejamkan kedua mata.

“Ya— semoga” Batin Kae Bi tanpa mengucapkannya pada Joon Sung. Ia memegang lengan kekar yang mengunci punggungnya itu dalam pelukan. Perasaannya semakin bertambah kalut, serat-serat dari aliran darahnya bergerumuh cepat dan sesak. Kae Bi menelan ludahnya pahit. Ia menyentuh degup jantungnya dengan hati-hati. Sebuah perasaan membayang disana. Sulit diungkapkan, tapi ia tahu bagaimana rasa yang kini menjalar dalam hatinya. Kehilangan—kenyataan buruk. Ia tak tahu makna ini namun sepertinya ia pernah merasakannya. Dan itu seperti sebuah—Perpisahan.




END CHAPTER
« Last Edit: December 15, 2012, 09:51:57 am by Winda Minsun »

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]