Author Topic: The Curse - Chapter Sixteen, Updated 30 Mar'13  (Read 21037 times)

Offline tatah

  • Newbie
  • *
  • Posts: 22
  • Location: surabaya
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Thirteen, Updated 15 Dec'12
« Reply #390 on: January 06, 2013, 10:46:59 pm »
mantapppp dah nih sistttt...si joon sung...ternyata  [drool] [drool] [drool].......hohohohoho  Hface Hface Hface Hface
kayakx lama nih bakal punya dedek nya.... [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04254]
ceritax dah mulai muncul klimaksx nih sisittt...penasaran lebih...dan lebih lagi....'
GOMAWO UPDATENYA....HWAITING.....AH JA...SEMANGATTTTTTT  [AddEmoticons04237] [AddEmoticons04237] [AddEmoticons04237] [AddEmoticons04237] [AddEmoticons04237]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Thirteen, Updated 15 Dec'12
« Reply #391 on: January 09, 2013, 09:22:57 am »
mantapppp dah nih sistttt...si joon sung...ternyata  [drool] [drool] [drool].......hohohohoho  Hface Hface Hface Hface
kayakx lama nih bakal punya dedek nya.... [AddEmoticons04254] [AddEmoticons04254]
ceritax dah mulai muncul klimaksx nih sisittt...penasaran lebih...dan lebih lagi....'
GOMAWO UPDATENYA....HWAITING.....AH JA...SEMANGATTTTTTT  [AddEmoticons04237] [AddEmoticons04237] [AddEmoticons04237] [AddEmoticons04237] [AddEmoticons04237]

mungkin buat masalah momongan kayaknya masih lama nih sista  [biggrin] [biggrin],, ya bener dikit lagi udh mencapai konflik akut jadi mungkin bakal betapa dulu yak utk melanjutkan next chap jadi mohon bersabar [hmpfh]. Terima kasih atas semangat nd dukungannya [lovestruck], makasih juga udh dibaca nd di reply tentunya, gomawo [lovestruck] [lovestruck] [lovestruck]

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Thirteen, Updated 15 Dec'12
« Reply #392 on: January 09, 2013, 09:25:24 am »
Eon.. kapan nie di update lg.. ayo dong update lg.. rindu sm moment romantis Joon Sung & Kae Bi.. [lovestruck] [lovestruck]
Jangan lama2 ya hiatusnya.. bentar lg udah  Happy New Year.. [hmpfh] [hmpfh]

Lah kalo dikit lagi Happy new year, terus apa hubungannya ma ff gue-_-? Ckckck
Masih lama sista sayang, next chap butuh persiapan yg matang soalnya udah mau menuju ke inti permasalahan. Makasih ya dah dibaca nd dikomen. Makasih juga buat partisipasinya^.^

Ya..pupus deh harapannya.. [AddEmoticons04268] truz semangat ya sis buat berkarya! [smiley-gen013]

 [hmpfh][hmpfh][hmpfh] sabar ya

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline chizumi

  • Junior
  • **
  • Posts: 132
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Thirteen, Updated 15 Dec'12
« Reply #393 on: January 22, 2013, 02:30:20 am »
wow... tengkyu winda udah di up date....
kenapa bapanya Kae Bi ga bisa juga nerima Joon Sung ya... takutnya bakal ada pertumpahan darah dan perpisahan nie

kae bi sama joon sung lagi Hot2nya ya... senangnyaaa...  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

ditunggu next chapternya ya...

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Thirteen, Updated 15 Dec'12
« Reply #394 on: January 25, 2013, 02:18:24 am »
wow... tengkyu winda udah di up date....
kenapa bapanya Kae Bi ga bisa juga nerima Joon Sung ya... takutnya bakal ada pertumpahan darah dan perpisahan nie

kae bi sama joon sung lagi Hot2nya ya... senangnyaaa...  [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]

ditunggu next chapternya ya...


kemana aje lu jarang keliatan skrng  [sweat]
knp bokap kae bi ga bisa nerima joon sung ya, baik gue jelasin deh lol, krena menurutnya masa depan kae bi ga bakal bisa aman ditangan joon sung. asal usul keluarga pemuda itu ga jelas nd yg mr.goo tau joon sung cuman hidup sebatang kara, lebih-lebih kepribadian dia yg pendiam, itu semua membuat mr.goo takut, makanya ia ingin secepatnya kae bi nd joon sung berpisah.
Hot gimaneeee-___-
Makasih yak dah di baca nd di komen  [lovestruck]

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline chizumi

  • Junior
  • **
  • Posts: 132
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Thirteen, Updated 15 Dec'12
« Reply #395 on: January 25, 2013, 04:59:49 am »
masuk sini kan sempet susah win, makanya gw jadi males...
tiba2 buka ehhh "the Curse" dah ada  [hmpfh]

Ooo... begono..
gw kira joon sung diundang karena bokapnya kaebi udah bs nerima

kira2 besok dah ada chapter 14-nya dong ya...  [AddEmoticons04231]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Thirteen, Updated 15 Dec'12
« Reply #396 on: January 25, 2013, 05:56:42 am »
masuk sini kan sempet susah win, makanya gw jadi males...
tiba2 buka ehhh "the Curse" dah ada  [hmpfh]

Ooo... begono..
gw kira joon sung diundang karena bokapnya kaebi udah bs nerima

kira2 besok dah ada chapter 14-nya dong ya...  [AddEmoticons04231]



ckckckck  [hmpfh] [hmpfh] chap 14 tiga bulan lagi  [AddEmoticons04224] gue mau hiatus byebye  [AddEmoticons04227]

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline Lee Hye Rhiie

  • Newbie
  • *
  • Posts: 8
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Thirteen, Updated 15 Dec'12
« Reply #397 on: January 25, 2013, 11:18:57 am »
3 bulannya windakan biasanya 3 hari hehe yaahh wiinnn update yoonbi di minggu" ini yahhh

Offline chizumi

  • Junior
  • **
  • Posts: 132
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Thirteen, Updated 15 Dec'12
« Reply #398 on: January 26, 2013, 12:03:07 am »
Haaaaaaa... lama bener win 3 bulan lagi  [cry] [cry]
tegaaaa....  [AddEmoticons04241]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Thirteen, Updated 15 Dec'12
« Reply #399 on: January 26, 2013, 03:53:10 am »
Mood gue lagi gabagus, males mikirin nih ff  Hface

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

Offline chizumi

  • Junior
  • **
  • Posts: 132
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Thirteen, Updated 15 Dec'12
« Reply #400 on: January 28, 2013, 11:31:38 pm »
Hadehhhh... bakal lama nie kayanya  [goodgrief]

Offline Winda Minsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 679
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Thirteen, Updated 15 Dec'12
« Reply #401 on: February 02, 2013, 03:21:35 am »
CHAPTER FOURTEEN






“Pernahkah kau merasa sebahagia ini?” Helaan nafas merasuk kedalam tubuh. Kae Bi menaikkan kedua sudut bibirnya saat melihat Joon Sung dari posisinya sekarang. Ia terbaring diatas sofa yang cukup memenuhi bobot tubuhnya, bersama kepala yang berada diatas pangkuan Pria itu.


“Perlukah aku menjawab? —Jika saja kau tahu dengan siapa aku bisa merasa sebahagia itu” Gelaknya dengan tawa, Joon Sung meraih ponselnya lagi dan mulai mengetik sesuatu disana.


“Joon Sung—” Kali ini panggilan Kae Bi terdengar berbeda. Joon Sung menoleh sejenak dari kegiatannya.


“Ne”


“Bagaimana jika waktu berputar—tepat berhenti disaat ..., kita belum saling mengenal. Saat terjadi sesuatu padaku, kau hanya berdiam—tak memedulikan ...” Kae Bi menerawang pada langit-langit atap setelah mengatakannya. Membuat Joon Sung tersendat dengan sejumput pemikiran serta—ketakutan.


“Akan kubuat kita saling mengenal” Ucapnya tanpa main-main.


“Jika aku menolak untuk melakukannya—” Hawa dingin berada disana. Seketika keduanya berubah hening dan menaruh perhatian pada pemikiran masing-masing. Kae Bi memalingkan pandangan, menatap hampa dinding putih tak berhias. Sementara Joon Sung, ia bergelut keras pada bagian otaknya dan berkemas, menuju nalarnya—mencari alasan untuk dapat menjawab argumen Kae Bi.


“Tidak akan—” Ia berkata dingin. Kae Bi berpaling dan beranjak dari posisinya. Ia masih mengawasi Joon Sung dengan sepasang mata.


“Apa yang mampu membuatmu begitu yakin?” Joon Sung menusuk penglihatannya seketika. Mata tajam dan berkilat itu membuat Kae Bi tersendat sendiri. Perasaan takut, sakit, dan marah merasuk dan diserapnya dengan hati-hati. Ini perasaan Joon Sung.


“Karena kita—” Kata Joon Sung kemudian. ”Sebab, kali pertama kita bertemu— Aku yakin saat dimana aku dibutuhkan ...” Kalimatnya terputus. Joon Sung mengepal tangan erat. Giginya bergemelatuk keras saat kata-kata yang telah terangkai sedemikian rupa kini hanya menggantung di udara tanpa bisa ia cerna.


“Disitulah ..., kau berada dalam—” Ia benci. Sangat benci saat dimana mengingat lagi masa-masa tersulit itu.


“Keterpurukan” Bisik Kae Bi samar seolah dapat membaca pikiran Joon Sung. Ia beringsut dari posisinya.


“Kau tahu, Bukan hanya itu yang kuinginkan—” Tutur Kae Bi kini. ”Aku membutuhkanmu untuk kebahagian, aku membutuhkanmu untuk hidup dalam kedamaian, dan juga ... Aku membutuhkanmu untuk menjadi bagian dari dalam diriku— Selamanya. Bukan hanya keterpurukan, Joon Sung”


“Karena aku ingin berbagi segalanya bersamamu. Tidak perlu menyalahkan lagi keadaan, sebab—Ini berkah Tuhan. Dengan adanya penderitaan itu, membuatku mengerti—sampai dimana kita bertahan, Aku mencintaimu” Air mata sudah tak terbendung lagi. Kae Bi terisak sedikit dan masih membujur kaku dihadapan Joon Sung. Membuat pria itu tertegun dan tersenyum—membawa Kae Bi kedalam pelukannya.


“Aku cukup terkesan. Sejak kapan otakmu berjalan dua kali lebih cepat saat mencerna pemikiran?”


“Yya! Mwoga!?” Kae Bi lantas menghempaskan lengan kekar milik Joon Sung dari tubuhnya.


“Aku bertanya—Apa tidak terlihat begitu jelas?” Ulang Joon Sung dengan tampang sinisnya, tidak tahu jika Kae Bi telah berbuih dengan kepingan darah yang bergerumuh tinggi.


“Baik. Aku tahu—” Sekuat tenaga ia bertahan dengan senyum yang terkesan seperti dipaksakan. “Kemampuan otakmu memang diatas rata-rata” Nada suaranya terkesan menekan.


“Ne—dan juga sangat tampan dan cerdas tentunya” Joon Sung tersenyum sekilas dan mulai membaca koran paginya. Mengacuhkan Kae Bi yang tak habis percaya dengan prilaku yang ditunjukkan suaminya itu.


“Benar-benar menyebalkan!” Dengus Kae Bi yang meringis sendiri saat beranjak dari tempat. Bahkan sampai Joon Sung menyeruput secangkir kopinya, Ia tak henti menggerutu tepat di belakang pria itu. Namun di menit berganti, Kae Bi dapat melihat Joon Sung yang memalingkan pandangan, mencari keberadaannya.


“Waeyo?” Asal suara itu membuat penglihatan Joon Sung berpaling. Ia menemukan Kae Bi tepat saat gadis itu memandanganya.


“Kopi dengan gula empat sendok lagi?” Ia menghela nafas. Sudah dua hari memang Kae Bi yang membuatkan kopi untukknya. Joon Sung tidak tahu jika isterinya itu suka rasa manis atau suka melakukan kesalahan yang sama. Namun yang jelas—menggoda Kae Bi pagi ini mungkin sedikit menghilangkan kepenatannya.


“Mianhe—” Gumam Kae Bi pelan sambil meremas jari-jemarinya. Melihat itu, Joon Sung pun tersenyum kecil.


“Ceroboh” Bisiknya yang masih dapat didengar Kae Bi. Hingga wanita itu serasa meluap dengan kekesalan yang sudah mencapai batas—ia sudah cukup bersabar.


“Ne! Aku memang ceroboh! Dan—Apa masalahmu sekarang!?” Kae Bi menjerit keras. Kali pertama Joon Sung melihat Kae Bi seberingas ini. Wanitanya itu bernafas dengan menggebu—seperti telah berada di titik paling dalam. Membuat Joon Sung menahan tawa.


“Apa masalahku? Bukankah otakmu sangat transparan, kau tanyakan apa masalah bagiku ketika kau tahu kopi yang kau buat untukku mempunyai rasa yang aneh”


“Arraseo! Arraseo!” Kae Bi menyanggah cepat ucapan Joon Sung seraya menutup kedua telinganya. “Urus saja kopimu sendiri! Aku tidak akan membuatkannya lagi”


“Yya! Kae Bi-aa, aku belum selesai bicara” Joon Sung berdiri hendak menyusul Kae Bi yang sudah berjalan cepat ke ruang kamar mereka. Tapi—baru akan mengayunkan kaki, gadis itu berbalik dan meniliknya secara tidak senang.


“Jangan mengikutiku dan jangan pernah memanggilku!” Tekannya yang membuat Joon Sung membeku di tempat. Setelah itu suara pintu di tutup dengan keras. Joon Sung berkacak pinggang dan terkekeh pelan. Ia mengenal Kae Bi dengan baik, Isterinya itu benar-benar wanita perasa—sensitif. Kae Bi tidak suka di beri komentar atau sedikit kritikan dengan menggunakan kata-kata ketus—dan juga tak ingin diabaikan ketika ia berbicara. Joon Sung tersenyum seakan menertawai sikap Kae Bi saat menanggapinya tadi. Ia menghembuskan nafas perlahan tanpa menghilangkan senyum yang mengembang di pipinya. Joon Sung menatap pintu kamar mereka dengan mata berbinar.


“Kau benar—Ini berkah Tuhan” Katanya kemudian.





***





Fajar menggantikan senja. Matahari akan segera terbit merona memerah dari ufuk timur. Keadaan langit setengah gelap berpancar kelabu tergambar sedemikian rupa di pusat Seoul. Gedung-gedung setinggi pencakar langit terlihat nampak teduh dan sunyi. Ini masih jam empat subuh dan belum ada tanda-tanda kehidupan manusia akan beraktifitas pada saat ini. kecuali— pada ruang kamar Kae Bi dan Joon Sung.


“Kau terbangun?” Ia menatap Kae Bi sejenak, mengalihkan pandangannya dari buku bacaan yang kini berada tepat dalam genggaman. Kae Bi hanya sedikit mengangguk saat mencoba untuk beranjak dari pembaringan dan— Jangan lagi. Ia lupa jika dirinya tidak mengenakan pakaian saat Joon Sung melucutinya entah sejak kapan. Tubuh menggiurkan itu hanya berbalut selimut tebal yang kini tersingkap melihatkan bentuk dadanya yang padat. Ia sedikit terkejut namun bisa diatasi, dengan segera menarik selimut tersebut hingga menutupi batas dadanya.


“Lain kali—Gunakan sesuatu saat kita usai melakukannya. Kau terlihat kedinginan” Joon Sung mulai mendekat. Ia mengambil tempat disisi ranjang—berhadapan dengan Kae Bi. Senyum tipis terlukis di wajah tampannya.


“Apakah kau benar-banar yakin—saat aku merasa kau akan melakukannya lagi dan lagi tanpa ingin berhenti?” Pertanyaan menyudutkan. Joon Sung terkesiap kaku dan memberi sedikit komentar dengan tersenyum sumringah. Raut mukanya bersemangat dan berubah cerah.


“Benarkah? Dua kali bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan 'kegemaran'ku untuk melakukannya. Selama masih bisa dihitung dengan kesepuluh jari, kenapa harus dipermasalahkan” Kae Bi menunjukkan raut wajah tercengang saat ini. Apa yang Joon Sung katakan? Apakah dia sudah gila? Dua kali setelah mereka bercinta dan belum di hitung sejak pertama mereka melakukannya. Oh, dan bagaimana ia bisa melupakan saat setiap kali lelaki itu akan bergerak kembali untuk memenuhinya, walaupun malam-malam setelah mereka bercinta memakan waktu yang tak cukup singkat.


“Aku rasa— Kau” Ia menelan ludah gugup.


“Aku?” Seringai tipis dapat Kae Bi lihat dari wajah suaminya. Joon Sung semakin dekat dan mulai menempatkan diri disisinya. Lengan kekar terasa menjalar di bagian punggung tanpa sehelai benang itu. Mata mereka saling memandang—melebur, menaut menjadi satu hingga kini Kae Bi dapat merasakan bagaimana Hasrat serta gairah Joon Sung yang telah memasuki celah-celah tubuhnya. “Kau merasa aku perlu untuk melakukan ini—”


Jemari tangannya mulai menyingkap selimut yang Kae Bi gunakan untuk menutupi sebagian lekuk tubuh wanita itu. Bibir tipis Kae Bi mulai mendapat pagutan mesra dari Joon Sung. Gairahnya telah menggebu dan tak terbendung. Kae Bi tidak akan tahu— Jika bersentuhan dengannya dapat membuat Joon Sung benar-benar gila. Tersiksa menahan rasa sesak yang bergerumuh, Nafsu yang berjalan dan berakar di sekujur tubuhnya tak bisa dikendalikan sampai Kae Bi benar-benar dapat disentuh dan di jamah olehnya. Joon Sung sangat menginginkan Kae Bi.


“Joon Sung—” Sebut Kae Bi bercampur lenguhan saat merespon jemari tangan Joon Sung yang berada di pusat dadanya. Sedikit geteran merajai bagian-bagian tersensitif dari tubuhnya. “Ini bukan tujuan awalmu saat terbangun. Aku ingatkan itu” Dengusnya dengan sedikit menarik nafas.


“Oh ya? —” Bisik Joon Sung bersama tawa. ”Tapi aku lebih suka melakukan ini dari pada tujuan awalku” Selanjutnya, respon apapun yang akan Kae Bi berikan, Joon Sung sudah tak peduli. Ia semakin bergelut dengan perbuatannya pada ceruk leher Kae Bi yang terbuka. Menyesap sesekali menggunakan lidahnya untuk bermain di daerah sensitif tersebut. Kae Bi sedikit tersentak saat gigitan kecil terasa disana, lambat-lambat gerakan Joon Sung turun hingga ia dapat melihat wajah tampan suaminya itu menunduk, berada tepat di depan kedua gundukan dadanya.


“Suatu kesedihan. Sejak kapan kau menjadi tidak berpendirian seperti ini” Ia tersenyum penuh arti bercampur erangan saat mengatakannya pada Joon Sung.


“Dan sejak kapan kau mulai berani mencoba menegurku dengan tujuan menyudutkan seperti itu!?” Geramnya sedikit kesal. Tangannya berpindah menyentuh permukaan kulit halus pada bagian pinggang Kae Bi, terus turun hingga nafas wanita itu mulai tercekat saat dirasa jemari tangan Joon Sung merayap pada celah selangkangannya. Kae Bi jelas kalah. Sangat kalah. Gerakan tangan itu terasa memenuhi bagian kewanitaannya sekarang. Sial. Ia tidak bisa menolak semua ini. Tubuhnya menentang dengan apa yang ingin ia katakan pada Joon Sung.


Mereka berhenti sejenak setelah Kae Bi mendapatkan puncak kenikmatannya. Ia tampak rentan dan lemah. Deru nafas terdengar masih tak stabil dan Joon Sung sedikit memberi toleransi dengan membantu mengusap peluh yang agaknya mengalir pada dahi wanita itu. Ia melakukannya dengan hati-hati sampai menunggu Kae Bi menghirup udara dengan cara yang lebih tenang.


“Kau belum menjawab pertanyaanku” Joon Sung memperingati. Rupa-rupanya ucapan Kae Bi begitu membekas sehingga sulit ia lepas dari pikirannya.


“Perlukah?”


“Kau harus bertanggung jawab pada setiap perkataan yang kau buat” Ia mengambil alih tubuh itu dalam pelukan. Lumatan kilat diberikannya pada Kae Bi saat bibir ranum berukuran mungil itu hendak membuka suara.


“Itu tidak penting” Ia melenguhkan tubuh saat lidah Joon Sung mendesak semakin dalam, tanpa disengaja membuat tubuh mereka bergesekan dengan arah tak beraturan. Tubuh Kae Bi yang lembut menempel pada kejantanan Joon Sung yang terasa mulai mengeras hingga gairah tak terbendung itupun mulai terlukis dari wajahnya. Hal serupa terjadi, Sekujur tubuh Joon Sung semakin sakit jika hasrat tak tersalurkan ini tidak segera dapat diatasi. Mereka sama-sama membutuhkan di detik ini. Saat ini.


“Demi tuhan itu tidak penting, percayalah” Kae Bi meyakinkan ditengah sensasi nikmat pada bagian kewanitaannya yang hendak dimasuki sesuatu. Joon Sung terdiam seolah tak memedulikan lagi jawaban yang diberikan Kae Bi. Sesuatu yang hebat dibawah bagian tubuhnya memerintahkan untuk bergerak cepat. Kae Bi dapat menyimpulkan jika suaminya itu sedang mengalami ereksi. Joon Sung sudah lepas kontrol. Sulit jika harus bersikap seperti biasa saat dorongan untuk bercinta dengan Kae Bi serasa memengaruhi segalanya.


“Akh!” Kae Bi mencengkram pundak Joon Sung dengan sekuat tenaga saat benda keras dan besar terasa memenuhinya dengan hentakkan cepat, Ia menahannya dengan memejamkan kedua mata. Joon Sung menatap wajah istrinya dengan amat lekat. Menyentuh bibir ranum Kae Bi dengan usapan Ibu jari hingga mereka saling menatap dalam diam.


“Kini kau tahu, aku benar-benar tersiksa jika tidak menyentuhmu, bahkan sedetik pun” Ucap Joon Sung yang memang benar adanya. Ia bisa menjadi tak berakal ketika hendak melihat Kae Bi. Istrinya dengan sejuta pesona itu membuat Joon Sung tak henti untuk dapat melihat Kae Bi melenguh dibawah gerakannya—Mendengar suara desahan Kae Bi saat menyebut namanya. Semua membuat Joon Sung tersiksa. Ia mengecup punggung tangan Kae Bi dengan perlahan. Menatap kembali wanita yang nampak terpaku melihat prilakunya itu.


“Gomawo—” Kata Joon Sung yang diselingi senyum tampan, membuat dada Kae Bi bergerumuh tak tertahankan manakala kini
tubuh kekar itu mulai melumat bibirnya secara lembut dengan amat perlahan.


“Aku mencintaimu” Sela Kae Bi dengan nafas tersengal.


“Boleh aku bergerak sekarang?” Tanya Joon Sung dengan suara seraknya yang tentu saja membuat Kae Bi memberi anggukan. Ia mulai mendorong tubuhnya dengan ritme gerakan perlahan, hingga dimana Kae Bi mulai mendesah— Menyebut namanya tanpa ampun, barulah Joon Sung mempercepat gerakannya diselingi ciuman beserta lumatan pada bibir Kae Bi. Lidah kasarnya menjalar, memasuki dan merasakan seutuhnya kedalaman bibir tersebut. Mereka berpagut semakin cepat ketika Joon Sung merasakan gelombang kenikmatan berada dibawah bagian tubuhnya. Kae Bi memekik keras ketika sesuatu memenuhi dirinya. Ia tersenyum samar melihat Joon Sung dengan nafas tersengal, bertumpu pada bahunya dengan wajah mereka yang saling berpandang satu sama lain. Hanya lima detik mereka bertahan seperti itu. Selanjutnya Joon Sung menempatkan diri, berbaring disisi Kae Bi dan membuat kepala wanita itu bersandar pada dada bidangnya.


“Kau memikirkan sesuatu?” Pandangannya tak berpindah pada langit atap. Ia menerawang menunggu Jawaban Kae Bi. Sudah cukup lama mereka terdiam setelah meredam sisa-sisa kenikmatan tadi.


“Aku hanya merealisasikannya” Kae Bi menatap Joon Sung. “Bisakah kita memiliki bayi pada waktu dekat ini?” Nada keraguan terselip pada perkataan Kae Bi. Joon Sung memang sempat berpikir jika Isterinya itu pasti akan membicarakan hal ini kepadanya. Ia cukup mengerti dan telah belajar banyak pada kejadian lalu saat dimana Kae Bi mengalami keguguran. Dan sekarang, mungkin menambah kebahagian isterinya itu dengan mengandung darah dagingnya akan terasa menyenangkan.


“Peluangnya besar. Kita bisa” Katanya kemudian. Kae Bi nyaris tersentak dan beranjak dari posisinya dengan menindih tubuh Joon Sung. Mereka saling menatap.


“Kau tidak keberatan?” Tanya Kae Bi mengantisipasi dengan antusias yang membuat Joon Sung mengembangkan senyum.


“Tidak sama sekali” Kata-katanya mampu membuat Kae Bi terhenyak haru. “Harus kukatakan, bahkan aku ingin lebih dari satu” Keheningan tadi serasa dipenuhi tawa saat Joon Sung bergurau asal seperti itu. Ia membingkai wajah Kae Bi lalu memerintahkan wanita itu untuk melanjutkan tidurnya kembali. Mungkin membayangkan sesosok makhluk kecil yang menyerupai dirinya dan Kae Bi, membuat Joon Sung bergidik sendiri. Nikmat tuhan yang manalagi yang hendak ia dustakan, Jika saja ia akan mendapatkan satu figur keluarga bahagia bersama Kae Bi dan calon buah hatinya. Sungguh, ia tak habis membayangkan—bayi mungil yang akan mengikuti tingkah lakunya dan Kae Bi. Apakah ia akan memiliki postur tubuh sepertinya atau seperti Kae Bi? Apakah ia anak laki-laki atau perempuan? Pemikiran itu berkelebat sendiri dalam otaknya. Membuat Joon Sung tersenyum tanpa Kae Bi ketahui apa arti dari senyumannya itu.





***





Kae Hwa lagi-lagi memandang Kae Bi dengan penuh resah. Putri cantiknya itu tengah memejamkan kedua mata karena sentuhan eyeliner dengan garis panjang di sudut mata indahnya. Kini, Kae Hwa memulaskan shading pertama di bawah tulang pipi Kae Bi, mulai dari pipi dekat telinga hingga menuju bibir. Kemudian pada bagian dahi dan sedikit pelipisnya.


“Sepertinya kulitmu terlihat sedikit pucat, Ibu akan membaurkan Blush On agar tampak merona” Warna-warna yang di berikan Kae Hwa dalam hiasan Make Upnya tidak begitu mencolok, terkesan natural tetapi terlihat sempurna disisi lainnya. Ia tahu dengan benar bagaimana membuat Kae Bi terlihat cantik dengan polesan Make Up sederhana.


“Aku menyukainya—” Kata pertama yang diucapkan Kae Bi setelah memandang wajahnya sendiri dalam pantulan cermin. Kae Hwa melingkari lengan panjangnya pada bahu Kae Bi. Ia merangkul putri kesayangannya itu dengan penuh kasih.


“Terima kasih, Ibu” Bisik Kae Bi samar yang mulai mengecup pipi Kae Hwa dengan sayang. Wanita tengah baya itu hanya tertawa melihat prilaku yang diberikan Kae Bi untuknya. Ia mengelus puncuk kepala Kae Bi lalu tersenyum.


“Sama-sama, Sayang. Lihatlah, Kau begitu cantik” Kae Hwa menuntun penglihatan Kae Bi untuk mengamati kembali bagian-bagian dari paras ayu yang terpancar sangat indah. Ia berdecak kagum melihat putri semata wayangnya itu—Tidak diragukan, Kae Bi memang memiliki kecantikan yang alami. Hampir semua tampilan yang dikenakan wanita itu bisa sepadan dengan paras dan lekuk tubuhnya. Jadi, tidak perlu bersusah payah untuk menambahkan polesan-polesan tertentu agar terlihat sempurna.


“Kae Bi—” Panggil Kae Hwa lembut. Membuat gadis cantik itu mengalihkan perhatiannya dan memandang sang Ibu dengan penuh senyum.


“Ne”


Kae Hwa memutuskan pembicaraan. Ia terhenti dengan rasa takut saat hendak membuka suara. Tuhan, Kae Bi sangat bahagia sekarang—Tolong jangan lagi merampas kebahagian itu dari putri kecilku, Pikir Kae Hwa. Perayaan itu akan dimulai beberapa jam lagi. Ia memang menyempatkan diri terlebih dahulu mampir ke Apartement Kae Bi untuk menghias penampilan putri cantiknya itu.


“Joon Sung pasti akan tertegun melihatmu secantik ini, Nak” Kae Hwa mengembangkan senyum usai mengatakannya. Kae Bi lantas tertawa kecil dan mengalihkan pandangan dari cermin.


“Mungkin dia harus bekerja keras untuk itu” Timpalnya mengangkat bahu tak mau ambil pusing. Kae Hwa tersenyum samar menanggapi. Ketika Kae Bi beranjak dari tempat untuk mengambil gaun malam di dalam lemari, wanita paruh baya itu mencegahnya.


“Kae Bi—” Kae Hwa memegangi lengan putrinya. Kae Bi menatap gelagat sang Ibu yang terlihat aneh. Sebenarnya bukan kali ini saja, sejak Kae Hwa sampai di Apartement mereka, Kae Bi telah menaruh perhatian kepada ibunya itu.


“Ibu, Ada apa?” Balas Kae Bi yang menggenggam jamari tangan ibunya.


“Percayalah pada Joon Sung” Kae Hwa menghela nafas. “Apapun yang terjadi—Percayalah pada Joon Sung” Kemudian ia terdiam sesaat. Membuat Kae Bi dilanda tanda tanya besar. Tidak ada rahasia diantara Ia dan Kae Hwa selama ini. Hubungan mereka sangat dekat. Namun entah mengapa, malam ini Kae Hwa tampak berbeda.


“Ada sesuatu yang Ibu sembunyikan?” Tanya Kae Bi yang langsung berterus terang. Kae Hwa hampir gugup, tapi di detik berikutnya ia bisa menutupi kegugupan itu dengan baik.


“Anhiyo—Mengapa kau berpikir seperti itu?”


“Karena aku rasa Ibu terlihat aneh” Kae Bi bergumam pelan membuat Kae Hwa meringis.


“Perasaanmu yang berkata seperti itu—Tapi lihatlah, Ibu tidak meyembunyikan apapun”


Kae Bi tersenyum kecil dan mengangguk pelan, mencoba mempercayai ucapan Ibunya. Kae Hwa mengelus pelan bahu ringkih Kae Bi lalu mereka berjalan beriringan ke lemari pakaian. Ia mengambil salah satu gaun istimewa yang dimiliki putrinya malam itu. Gaun pendek bewarna hitam legam dengan leher berbentuk V, terkesan Feminim dan Glamour tapi terlihat simple. Gaun yang hanya sampai sebatas paha mulusnya itu, mempunyai aksen di beberapa titik tertentu dengan dihiasi sebagian batu intan.


Setelah Kae Bi mengenakannya, Ia nampak terpukau. Benar-benar sempurna dan memperlihatkan sebagian besar lekuk tubuh Kae Bi yang begitu indah dan semampai.


“Kau cantik sekali, Sayang” Kae Hwa menutupi mulutnya yang hampir menganga. Ia mulai mendekat kearah Kae Bi.


“Lihatlah, Nona muda Goo Kae Bi telah kembali” Kae Bi tercekat sendiri mendengar penuturan itu. Kembali menjadi Nona muda Goo—mungkin ucapan itu tak sengaja terlontar dari mulut sang Ibu. Tapi, untuknya, ucapan itu mempunyai makna tersendiri yang mengundang kekalutan dalam hati. Senyum yang dipahat sejak tadi pada bibirnya kini perlahan menghilang. Kae Bi sibuk sendiri dengan pikirannya tanpa mengindahkan Kae Hwa yang masih memandangnya penuh takjub.


“Ayo perlihatkan ini pada Joon Sung” Kemudian mereka keluar dari ruangan. Kae Bi mulai melangkahkan kaki untuk menghampiri Joon Sung yang sejak tadi menunggunya di ruang depan.





***




Suara pintu dari ruang kamar mereka terbuka. Joon Sung menahan nafas manakala melihat sosok wanita di hadapannya kini, itu Kae Bi—dengan gaun malam yang sungguh membuat dadanya terkoyak dipenuhi sesak. Indah—itu kata pertama yang hendak ia ucapkan ketika melihatanya. Kae Bi sangat cantik malam ini, lebih-lebih cantik dari hari biasanya. Membuatnya terpanah dan tak ingin berpaling walau hanya sebentar saja. Sementara itu, Kae Bi malah tersenyum gugup. Dipandangi Joon Sung justru membuatnya mati kutu. Kae Hwa menggelak tawa kecil. Dan saat itu pula kesadaraan Joon Sung kembali utuh.


“Joon Sung-aa, Kae Bi terlihat cantik, bukan?” Joon Sung membeku dan mengalihkan pandangan pada Kae Hwa.


“Ya—memang begitu” Katanya kemudian. Joon Sung mulai mengayunkan sepasang kaki saat Kae Bi hendak tersenyum kearahnya. Membuat gadis itu seketika terdiam, melihat respon Joon Sung yang begitu acuh. Kae Hwa dapat melihat kesedihan putrinya.


“Dia wanita tercantik—sama seperti saat aku melihatnya untuk pertama kali” Kae Bi segera menoleh ketika bisikan pelan terdengar dari arah belakang tubuhnya. Joon Sung sudah tersenyum tipis manakala pandangan mereka mulai menyemat menjadi satu. Kae Bi balas tersenyum—Joon Sung, pria yang benar-benar membuatnya gila. Kae Bi merona, tak bisa ia dustakan jika cara Joon Sung bertutur kata sedingin memberi respon pertama tadi justru adalah hal yang paling ia sukai. Ia lupa jika Joon Sung lebih tampan saat menampakkan wajah dinginnya itu.





***





Mobil Joon Sung kini terparkir mulus di Lobby hotel berbintang lima—Tempat dimana perayaan masa kejayaan Goo Seoul Corp berlangsung. Ia membuka seat belt lalu keluar dari mobil. Sementara itu, Kae Bi masih duduk manis di jok samping kemudi—berpikir Joon Sung akan membukakan pintu mobil untuknya, sebab itulah ia menunggu. Namun, ketika dirasa pemuda itu tak kunjung menghampiri, ia kemudian mengalihkan pandangan. Kae Bi dapat melihat tatapan mata Joon Sung yang tajam, suaminya itu tengah berdiri mengamatinya sambil melipat tangan didada. Lantas saja ia mendengus sebal. Di malam istimewa ini, bisakah Joon Sung sedikit bersikap romantis?


Kae Bi membanting pintu mobil cukup keras, membuat beberapa pasang mata disana menatapnya hingga tak bersuara. Ia berjalan mendahului Joon Sung dengan wajah angkuh. Detakan High Heelsnya menggema keras. Ia masih kesal, Joon Sung selalu saja seperti itu—nampak dingin dan benar-benar mengacuhkannya. Saat hendak memasuki Ballroom hotel tempat dimana acara berlangsung, Kae Bi menahan nafas serta memperlambat langkah. Ia menoleh—menatap Joon Sung yang kini berdiri tegap disampingnya. Kae Bi semakin berdebar saat jemari tangannya mencela di jemari tangan Joon Sung.


“Kau tidak ingin berjalan disamping suamimu?” Kata-kata Joon Sung cukup membuat Kae Bi terhenyak. Ia menghentikan gerakan dan terpaksa membuat Joon Sung juga menghentikan langkahnya.


“Anhiyo—” Kae Bi berucap serius. “Jangan pernah berpikir seperti itu” Kemudian ia mulai melepas genggaman tangan Joon Sung. Kae Bi kini mengunci lengan kekar suaminya itu dengan gerakan posesif. Membuat Joon Sung menahan tawa sebab apa yang dilakukan Kae Bi semata hanya untuk menunjukkan rasa ketidaksetujuan atas pertanyaannya tadi. Dalam pemikiran lain, Kae Bi pun tidak ingin mendapati Joon Sung dengan prasangka seperti itu padanya. Ia bersikap acuh seperti tadi bukan karena tidak ingin berjalan bersisian dengan suaminya itu, Lebih-lebih disebabkan karena Joon Sung tak membukakan pintu mobil untukknya.


Mereka memasuki ruangan megah berasiktektur mewah tersebut dengan perlahan. Pasangan yang sempat menjadi buah bibir dikalangan karyawan hingga petinggi Goo Seoul Corp ini terus berjalan, mengacuhkan banyak pasang mata yang mengamati dengan pandangan bertanya-tanya. Kae Bi tersenyum dengan cantiknya saat beberapa bisikan menyudutkan didengarnya walaupun samar. Joon Sung segera saja menatap Kae Bi saat dirasa istrinya itu semakin erat mencengkram lengannya. Ia tahu Kae Bi sangat gugup. Mereka mengarah pada Mr dan Mrs Goo yang juga tersenyum—seolah menyambut kedatangannya bersama Joon Sung.


Kae Bi terenyuh saat dilihat raut wajah sang Ayah penuh kehangatan saat menatapnya. Kae Bi rindu tatapan itu—ia sangat merindukannya. Perlahan ia mulai berjalan, melepaskan rangkulan tangannya pada lengan Joon Sung. Ia mengayunkan sepasang kaki jenjangnya untuk mendekat pada kedua orangtuanya. Air mata semakin tak terbendung saat dirasa hatinya berdegup kencang.


“Ayah—” Kae Bi berbisik menahan isak tangis. Bin Woo tersenyum lalu membuka kedua tangan lebar-lebar untuk menyambut Kae Bi kedalam pelukannya.


Ia menyunggingkan senyum manakala tak kuasa melihat tanggapan yang Mr.Goo beri saat jarak diantara mereka semakin dekat. Dengan setengah berlari kecil—Kae Bi mulai mengarah, memeluk erat tubuh tengah baya itu dengan gerakan cepat. Mr.Goo terkekeh pelan saat dirasa rusuknya akan remuk akibat ulah putri tercintanya itu.


“Ayah—aku mencintaimu..., Selamanya— Aku mencintaimu” Ia menangis didalam pelukan Mr.Goo. Kae Bi meresapi harum tubuh sang ayah yang sangat ia sukai—Ya tuhan, ia benar-benar merindukan tubuh ini. Pelukan itu mewakili segenap perasaan mereka selama ini. Kae Hwa tersenyum haru seraya mengelus sayang punggung Kae Bi. Mr.Goo masih tersenyum dan semakin mendekap Kae Bi erat.


“Kae Bi-aa, kau membuat Ayah sulit bernafas” Beberapa orang tergelak tawa ketika tak sengaja mendengar celoteh canda Mr.Goo pada putrinya. Kae Bi segera saja melepaskan pelukannya seraya menghapus air yang hendak mengalir lagi disudut mata, ia memandang sang Ayah dengan tatapan seperti seorang gadis kecil yang menginginkan sesuatu yang ia sukai. Membuat Mr.Goo berdecak tawa dan kini membawa Kae Bi kedalam dekapannya lagi. Semua tersenyum bahagia menyaksikan adegan mengharukan sang Ayah bersama putri kesayangannya itu—Termasuk Joon Sung.


Dalam tawanya, Kae Bi memandang Joon Sung yang masih mengamati dari kejauhan, lantas saja ia mengganti tawa itu dengan seulas senyum menawan. Joon Sung sedikit terpanah saat Kae Bi menyunggingkan senyum kepadanya. Kali pertama ia melihat Kae Bi sebahagia ini. Rupanya—keluarga adalah dasar dimana isteri mungilnya bisa tersenyum cantik seperti itu. Perlahan Joon Sung menaikkan kedua sudut bibirnya keatas, ia membalas senyuman Kae Bi. Sedikit iri mungkin, Joon Sung berdusta sendiri dalam hati—kelak jika Tuhan mempertemukannya dengan orang-orang yang ia sebut sebagai 'keluarga', apakah pertemuan itu akan diselingi dengan pelukan hangat dan tawa bahagia seperti Kae Bi?




***




“Kau tahu—” Dong Bin menghela nafas. “Terkadang aku iri denganmu” Joon Sung segera mengalihkan pandangan dari Kae Bi saat mendengar suara itu, kini ia beralih pada Dong Bin yang masih meneguk segelas champagne.


“Ne?” Tanya Joon Sung


“Putri tuan Goo—” Joon Sung dan Jung Min langsung mengarah pada pandangan Dong Bin. Dilihatnya Kae Bi yang berdiri
semampai menyambut sapaan para tamu disekitarnya. “Kurasa kau harus banyak bersyukur, Joon Sung-ssi” Dong Bin menepuk bahu Joon Sung dan meringis pelan. Jung Min mencibir menanggapi kata-kata Dong Bin yang sok serius.


“Terima kasih” Jawab Joon Sung datar. Pandangannya masih tertuju pada Kae Bi. Kini wanita itu tengah berdiri sendiri dan melipat kedua tangan di dada, Joon Sung mengamatinya. “Tapi manusia tidak bisa memilih takdirnya sendiri dan—berhati-hatilah dengan apa yang kau inginkan” Dong Bin dan Jung Min langsung terhenyak mendengar perkataan Joon Sung.


Kae Bi mengerahkan pandangan dalam resah. Ia mencari sosok Joon Sung tetapi tidak ditemukannya pria itu sedari tadi. Kae Bi hendak menoleh lagi namun seorang wanita lebih menarik perhatiannya saat ini. Park Ah Ra telah menjulang dihadapannya seraya memberi senyum—yang entah mengapa, namun terkesan seperti menyeringai. Kae Bi menahan nafas saat detakan dari sepatu gadis itu terasa semakin mendekat kearahnya.


“Senang berjumpa denganmu, Goo Kae Bi” Keadaan mulai memanas. Nadanya terdengar tidak ramah, lebih-lebih terkesan dingin. Ia melipat kedua tangan didada seraya menatap Kae Bi begitu angkuh.


“Ne—saya..., Juga merasa seperti itu” Kae Bi balas berucap gugup padanya.


“Oh ya—aku ingin memberi ucapan terima kasih kepada Joon Sung, karena suamimu itu telah menyelamatkanku” Kae Bi masih teringat jelas—saat dimana Joon Sung mendekap perempuan ini dengan sangat erat ketika ia hendak terjatuh. Ah Ra tentu saja serasa seperti diatas angin, membuat Kae Bi sedikit cemburu mungkin dapat memenuhi kesenangannya. Dengan masih diselimuti perasaan gugup, Kae Bi mencoba tersenyum dan mulai memandang Ah Ra.


“Kurasa Joon Sung tidak keberatan dengan hal itu—Jika begitu, saya permisi terlebih dahulu, Nona Park” Ucapnya dengan santun dan tenang. Perasaan takut yang menghantui sengaja dibuangnya begitu saja. Kae Bi berjalan mendahului Ah Ra, membuat wanita itu nampak sedikit terkejut oleh perbuatannya. Ia menatap kepergian Kae Bi dengan pandangan tajam.




***



Salah satu ruang yang berada dihotel mewah tersebut terlihat redup. Beberapa lampu hanya menyela dari sudut tempat itu dan selebihnya dimatikan. Mr.Goo berdiri menjulang dihadapan meja kayu yang diamplas mulus dan mengkilat. Ia menyentuh letak kacamata yang kini bertengger di sela hidungnya. Helaan nafas bisa terdengar jelas dalam suasana sunyi itu. Ia menoleh keambang pintu—tempat dimana seseorang yang ia tunggu kedatangannya, akan muncul.


Samar—suara helaian kertas yang digerakkan masuk kedalam pendengarannya. Mr.Goo beralih ke asal dimana suara itu berada. Dengan cahaya remang ia mendapati sesosok pria berstelan jas dan celana hitam nampak terlihat memunggunginya. Ia bertanya-tanya dalam hati, gerangan siapa yang dilihatnya kini. Di detik berikutnya, ia tercekat—tenggorokannya keruh saat memandang raut wajah yang pernah dilihatnya beberapa tahun silam, kini muncul kembali.


Lutut Mr.Goo terasa lemas manakala pria itu semakin dekat kearahnya. Sesuatu yang keras menyadak dada saat dirasa suaranya tertahan. Mr.Goo memundurkan langkah perlahan ketika sosok tersebut kini mengarahkan sebuah pistol yang kamar pelurunya menyatu dengan laras, kearahnya. Pria misterius itu menyeringai jelas. Ia menatap Mr.Goo dengan raut wajah mencela.


“Apakah kau pikir—kau masih bisa hidup dengan damai?” Ucapan yang keluar dari bibir pria itu bagai sebuah lahar panas yang menghinggapi tubuh Mr.Goo. Ia membeku saat Mr.Lee mulai mendekat dan membuat senjata api itu bersentuhan dengan kepalanya. Seakan menekan tulang kerangka dibagian tersebut dengan keras.


“Maafkan aku” Mr.Goo menahan nafas ketika mengucapkannya. Ia memandang Mr.Lee yang semakin menujukkan tatapan mata menikam—menyudutkannya dengan bara api hingga menjadi abu.


“Tunggu sampai aku membunuhmu dengan kedua tanganku!” Bisiknya yang hendak menarik pelatuk pistol.




***



Joon Sung berjalan tegap menyusuri lorong sunyi yang terletak disisi kiri gedung hotel. Lima menit yang lalu ia mendapat panggilan jika seseorang tengah menunggunya di sebuah ruangan yang terletak ditempat ini. Sebenarnya ia sedikit curiga—lebih-lebih saat pelayan tadi tidak menyebutkan seseorang yang menunggunya di tempat tersebut. Dengan masih mengayunkan sepasang kaki jenjangnya, Joon Sung terlihat mengarah pada sebuah pintu yang nampak sedikit terbuka.


Ia hendak meraih handle pintu itu saat sosok Hyun Woo menepuk bahunya dengan cukup keras. Pria itu menatap Joon Sung dengan raut wajah dingin—berbeda dari biasanya. Mereka masih terdiam sampai Joon Sung berniat menghempaskan cengkraman tangan Hyun Woo pada bahunya.


“Apa masalahmu?” Tanya Joon Sung yang kini mendorong lengan Hyun Woo. Saat dirasa tak ada jawaban yang akan keluar dari bibir pemuda itu, ia segera berjalan memasuki ruang gelap tersebut, Namun ...


Hyun Woo membuka gerakan dengan menjegal bagian dada Joon Sung lalu menyeretnya hingga punggung sang adik bersentuhan pada dinding kokoh. Ia menarik kerah kemeja Joon Sung agar pria itu tidak melakukan perlawanan apapun. Joon Sung hanya mendelik karena Hyun Woo tak nampak memberi serangan padanya. Hembus nafas menggebu jelas terdengar diantara mereka. Joon Sung dan Hyun Woo saling menatap dengan pandangan mematikan.





***




Suara Hyun Woo dapat di dengar Mr.Lee dari sebuah benda kecil bewarna hitam yang melekat pada bagian telinganya. Ia masih memandang Mr.Goo dengan penuh dendam membara saat mencerna kata-kata anak sulungnya itu. Selang detik berikutnya ia terdiam, menurunkan lengan yang sedari tadi mengenggam pistol bewarna hitam itu dari kepala Mr.Goo sehingga pria itu bisa sedikit bernafas lega.


“Jangan mengira jika kau akan berada dalam waktu yang lebih lama untuk bisa menghela nafas seperti itu” Itulah ucapan terakhir ketika Mr.Lee benar-benar menghilang tanpa jejak dari hadapan Mr.Goo.


Pusat pikirannya mulai tak bekerja dengan baik. Mr.Goo menatap nanar dengan pandangan kosong saat bayang-bayang akan dosanya seperti merayap perlahan pada bagian otaknya—mengumpulkan kenangan pada kejadian empat belas tahun yang lalu.




***



Mr.Lee dengan sikap tenangnya keluar dari pelataran lobby hotel. Pandangannya tertuju pada Mobil Buggati Veyron milik Hyun
Woo yang hanya beberapa jarak terparkir melintang dihadapannya. Joon Sung terbujur kaku—membelakkan mata tajam saat pria paruh baya yang diyakininya sebagai salah satu pelaku dari percobaan pembunuhan Kae Bi, kini memasuki mobil Hyun Woo.


Mr.Lee sedikit terkejut saat melihat sosok Joon Sung sudah berada dijok samping kemudi yang diduduki Hyun Woo. Pandangan mata yang terlihat dingin, kini tergantikan saat ia memandang Joon Sung dengan jarak sedekat ini untuk pertama kali—untuk pertama kali saat mengetahui bahwa Joon Sung, adalah putra bungsunya.


Sedangkan Joon Sung mengalihkan pandangan dari pria asing yang berada dibangku belakang kemudi dan berhasil membuat dadanya bergerumuh sesak, lalu kepada Hyun Woo yang kini berada dalam kilatan matanya. Joon Sung terus memandang Hyun Woo tajam seolah meminta penjelasan.


“Dia ayahku” Dan juga ayahmu, batinnya. Hyun Woo hendak menancap pedal gas saat Joon Sung berniat membuka pintu mobil.


“Jika kau ingin tahu siapa dirimu yang sebenarnya, maka jangan pernah mencoba untuk membuat gerakan lain” Ucapan itu membuat Joon Sung terdiam. Setengah dari hatinya berdesir, sekelebat pertanyaan merasuk dalam pemikirannya. Dirinya—Siapa ia yang sebenarnya? Kini Joon Sung menatap Mr.Lee dengan raut wajah gelap. Lalu ia berdalih, menghela nafas seraya menatap lurus ke arah jalan yang amat sunyi.


“Permainan macam apa ini?” Joon Sung mengatakannya dengan nada dingin. Hyun Woo hanya membeku, melirik Joon Sung dari kaca spion mobil. Diam-diam Mr.Lee tersenyum sekilas, kini ia memandang Joon Sung yang memunggunginya.


“Ini Bukan permainan—” Jawab Mr.Lee. Joon Sung dan Hyun Woo saling bungkam saat sang Ayah hendak melanjutkan ucapannya lagi.


“Tapi sebuah takdir untukmu...”






END OF CHAPTER



PS: sebelumnya mianhe jika ada kata-kata yg kurang berkenan, mohon maaf atas kekeliruannya [sweat]
« Last Edit: February 02, 2013, 03:23:46 am by Winda Minsun »

[lovestruck] and in another life, we believe... love never die [lovestruck]

iiuuu

  • Guest
Re: The Curse - Chapter Fourteen, Updated 2 Feb'13
« Reply #402 on: February 02, 2013, 03:58:00 am »
waaaahhh... hot bgd... brati mr.goo ga berhasil ama rencananya yg mo misahin kaebi... smoga pas joon sung tau yg sebenernya dia ama kaebi bahagia... awas aja dibikin mewek lgi authornya gua terror lil
gomawo uda update ;*

Offline Imahminsun

  • Senior
  • ****
  • Posts: 544
  • sweet momen's minsun
  • Location: seoul
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Fourteen, Updated 2 Feb'13
« Reply #403 on: February 02, 2013, 05:51:51 am »
makasih updatannya ny. yochun aku kira chap kali ini ennga bakal ketemu sweet moment joonbi tapi... nyatanya engga hehe.. ..suka banget kalau kebersamaan mereka saat bersama aja ciri khas mereka tetap engga hilang ber'argumen tapi... tetap tidak mengurangi keinginnan joong su yg menggebu " sampai membuat  lemas kae bi, aku jg berharap semoga akan segera hadir si kecil joonbi yg cantiik atau tampan dengan tatapn tajam sepertii harapan kae bi dan joon su nanti nya, dan moga renncana tuan Go atau tuan Lee buat misahin kae bi dari joonh su tidak akan pernah berhasil dan kea bi harus selalu percaya ke joong su seperti ucapan ibunya, joong su kesal lihat istri cantikknya dandan yg cantik dengan gaun yg memperlihatkan kaki indahnya hehe... sipat posisf nya joong su, sepertinya msr. Go  harus berterma kash ke joong su krna dia selamat dri tembakan, berharap nextnya terungkap semuanya baik kesalahn msr.Go atau kejelasan terpisahnya joong su dari keluarganya, next jjangan lama yya 

Offline vhia_minsuners

  • Full
  • ***
  • Posts: 411
  • saranghae MinSun.... saranghae Joondi...
    • View Profile
Re: The Curse - Chapter Fourteen, Updated 2 Feb'13
« Reply #404 on: February 02, 2013, 06:49:24 am »
Joonsung tak akan puas cuma hanya 2 ronde....
Lagi dan lagi... Demi memenuhi permintaan kaebi yg ingin punya lebih dari 1 anak...lol. Kurang hoot niiih.....plak!
Meski dah hampir punya anak kaebi tetep kencang ya.....

Joonsung iri melihat keluar kecil kaebi... Dan berharap ia memiliki keluarga seperti itu, tp kenyataan akan bertolak belakang dari yg ia harapkan... Yg ada keluarga itu akan menghancurkannya...
Tapi moga hyunwoo dan mr lee tak menyakiti kaebi, apalagi kemungkinan terburuk jika kaebi balas membenci joonsung.... Gak tega ngebayanginnya!
Akhir kata.... Thanks buat updateannya win... Yaaah mungkin bisa dibilang cepat ini... Wassalam!


kissing you baby... muaaaccchhh ^^