Author Topic: Full Of Love (Song of Life 2) Chapter 17, update  (Read 22922 times)

Offline ai_yuki

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1235
  • Location: Indonesia
    • View Profile
maaf kepotong... ini lanjutannya


Min Hyun ah menghela napas sesaat, setelah pasien terakhir keluar dari ruang pemeriksaannya. Ia mengalihkan pandangannya menatap jendela diruangannya. Semburat warna merah sang mentari terlihat, seakan memberitahukan padanya untuk segera menyelesaikan segalanya dan bersitirahat.

Matahari terlihat sudah berada di ufuk barat. Ia terlihat sudah tidak sabar untuk segera beristirahat dan bersembunyi di bawah selimut langit, memberikan kesempatan bagi sang rembulan untuk menggantikannya.

Hyun ah menatap perjalanan matahari yang perlahan akan menenggelamkan dirinya. Ia tersenyum menatap itu. Lamunannya buyar saat tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangannya cepat “…apa kita bisa pulang sekarang… matahari akan segera tenggelam…”ujar orang itu, menatap Hyun ah menunggu.

Min hyun ah mengalihkan pandangannya  menatap orang itu. Ia merasakan sesuatu yang berbeda saat ia menatap orang itu. Tampaknya semburat merah sang mentari semakin menegaskan ketampanan wajahnya, memberikan efek yang berbeda di pandangannya. Hyun ah tersenyum. Teringat kembali ucapan orang itu beberapa saat yang lalu, yang sempat membuatnya terkejut, namun ingatan itu tidak berlanjut. Orang itu sudah mengambil tas peralatan Hyun ah dan menariknya keluar dari ruangan itu cepat. “ada apa…? Kenapa terburu-buru…”tanya Hyun ah menatap orang itu bingung.

Orang itu masih diam, namun tetap menarik tangan Hyun ah cepat, mengunci klinik itu dan beranjak pergi dari tempat itu, dan tidak mempedulikan pertanyaan Hyun ah “…Seung gi-ssi…”seru Hyun ah dan dengan kuat menarik lepas tangannya dari cengkraman Seung gi.

“kita harus…”

“kalian mau kemana…?”ujar seseorang tiba-tiba, membuat Seung gi memutar tubuhnya menatap orang itu. Ada 3 orang laki-laki yang kini berdiri dihadapannya dan Min Hyun ah, semuanya mengenakan jaket kulit dan menatap keduanya dengan pandangan yang sangar dan mengancam. Seung gi menyadari adanya bahaya dan melangkah mendekati Hyun ah, mencoba melindunginya. “apa mau kalian…”tanya Seung gi menatap ketiganya marah dan tidak kalah bengis.

Salah satu laki-laki itu, yang Seung gi anggap sebagai ketuanya maju perlahan, menatap Seung gi tajam. Orang itu, menekan kuat bahu Seung gi, dan menatapnya semakin tajam, seakan mengirimkan ancaman dan pukulan melalui tangan dan tatapannya.

“kami ingin kalian pergi dari sini…”ujar laki-laki itu, keras.

Seung gi diam, tawa mengejek keluar dari mulutnya dan dianggap sebagai sebuah panggilan tantangan untuk ketiganya. Min Hyun ah berteriak terkejut, membekap mulutnya ketika laki – laki itu melemparkan bogemnya ke perut Seung gi, membuatnya jatuh berlutut dihadapannya Hyun ah.

Seung gi menahan rasa sakit diperutnya. Ia merasakan sebuah ancaman berbahaya ketika laki-laki itu melangkah melewatinya kearah Hyun ah yang masih berdiri terkejut di belakangnya. Hanya beberapa langkah sebelum laki-laki itu mendekati Hyun ah, Seung gi menarik tangan laki-laki itu dan memelintirnya ke belakang, membuat kedua laki-laki yang lain melangkah mendekatinya. Seung gi, dengan masih menelikung dan mengunci tangan laki-laki pertama, dengan langkah cepat ia juga segera memposisikan dirinya, dengan berdiri dihadapan Hyun ah, melindunginya dari 2 laki-laki yang lain. Hyun ah seakan memahaminya dan segera menempel ketat di balik tubuh Seung gi.

Seung gi dapat merasakan tubuh Hyun ah yang gemetar di balik punggungnya, dan Seung gi sangat tidak menyukai itu. Ini sebuah pengalaman yang akan menimbulkan trauma yang cukup dalam dikemudian hari.

Seung gi menghela napas panjang, dan memejamkan matany sesaat, berpikir. Hingga ia tidak menyadari seseorang yang memukul kepalanya cukup keras dengan sesuatu, dan membuatnya jatuh tersungkur, menahan sakit di kepalanya. Laki-laki itu terlepas sambil memegang belakang kepalanya. Seung gi menyadari bukan alat yang memukul kepalanya, namun tengkorak kepala laki-laki yang ditahannya yang cukup keras membentur kepalanya. Seung gi merintih lirih, menahan sakit kepalanya yang membuatnya merasa kepalanya seakan pecah karena benturan antar kepala dengan kepala. Seung gi menahannya, ia harus bertahan, Min Hyun ah berada disisinya, dan dia harus melindunginya. “gwenchana…?”tanya Min Hyun ah tiba-tiba sambil membantu Seung gi bangkit. Kepalanya terasa berputar dan pandangannya menjadi berlipat ganda.

Seung gi merentangkan kedua lengannya kembali, membuat sebuah pertahan atas Hyun ah sambil sesekali mengibaskan kepalanya untuk mengembalikan penglihatannya, namun tampaknya kepala laki-laki itu lebih keras dari pada batu, sakit dikepalanya dan pandangannya belum juga kembali normal. Seung gi hampir akan menyerah, namun sesuatu membuatnya kembali. Teriakan Hyun ah memekakkan telingannya dan berhasil membawanya kembali. Seung gi berjuang kembali walaupun pukulannya selalu meleset dan hanya menghantam udara karena pandangannya yang masih kacau. Seung gi kembali terpukul saat itu, ia dapat merasakan tulang-tulangnya remuk. Dan ia merasa sudah tidak sanggup.

Ia sudah merasakan lelah dan lemah ditubuhnya, ia bahkan tidka dapat merasakan pijakan dikakinya. Ia pun jatuh. Saat itu, sesekali ia dapat mendengar beberapa teriakan kemudian sebuah suara, dan disusul suara yang lain dan suara tangisan, kemudian semua itu hilang, segalanya gelap dan segalanya terasa sunyi, Seung gi pingsan…

*********

Matahari perlahan mulai terbenam, memberikan tugasnya pada sang rembulan yang terlihat telah bersiap-siap di posisinya. Jung min tersenyum menatap semburat merat itu di ufuk barat. Teringat kembali pembicaraan dan godaannya pada sang istri yang saat itu dapat ia bayangkan semburat warna merah yang sama dengan sang mentari saat itu di wajah istrinya.

Membuat istrinya lebih cantik dan lebih manis. Jung min tersenyum semakin lebar. Perlahan ia bangkit dari mejanya, sesaat melupakan semua dokumen yang tengah dipelajari dan menatap sang mentari yang perlahan mulai tenggelam.



 Jung min terlihat masih diam ditempatnya, menatap sang mentari seakan ia melihat wajah sang kekasih disana. Perasaan rindu kembali hadir. Ia benar-benar sudah tidak sabar ingin bertemu. Terpikir untuk kembali pada pelukan sang kekasih saat itu juga, namun ia segera mengurungkannya saat ia menatap semua dokumen penting di mejanya. Paling tidak ia harus menyelesaikan 70 % dari semua dokumen itu. Ia harus menyelesaikan segalanya. Semua yang dialami perusahaannya dan yang dialami orang kepercayaannya.

Kesenangan Jung min yang tengah menatap sang mentari terganggu oleh ketukan di pintu ruangannya. Jung min memutar tubuhnya “…masuk…”ujarnya

Sang sekretaris terlihat menatap Jung min sesaat “…ada kiriman tuan…”ujarnya

Jung min diam sesaat, “letakkan di mejaku…”katanya terdengar ketus, membuat sang sekretaris sedikit bergetar ditempatnya. Jung min melangkah kembali ke mejanya, duduk, dan menatap amplop coklat dan cukup tebal dihadapannya itu, namun sesuatu mengingatkannya, dan dengan cepat ia menghentikan langkah sang sekretaris tepat saat ia akan menutup pintu ruangannya “…tolong panggilkan En kyu… suruh dia menemuiku dan minta dia untuk membawa hasil inspeksinya…”ujar Jung min, serius

“baik tuan…”

“kamsamnida…”ujar Jung min, yang berhasil membuat sang sekretaris diam ditempatnya, menatap Jung min tidak percaya “…apa masih ada yang lain…?”tanya Jung min ketika menyadari sekretarisnya masih bergeming ditempatnya “ahni tuan… mianhe…”ujar sekretaris itu dan segera beranjak dari tempatnya menutup pintu ruangan Jung min.

Jung min menghela napas panjang dan kembali berkutat dengan dokumen-dokumennya, sejenak melupakan amplop yang sesaat tadi ia singkirkan di ujung meja untuk memberikan sedikit ruang untuk dokumen-dokumennya.

Sesaat kemudian Jung min kembali meletakkan dokumen yang tengah dibacanya di meja. Ia memijat tengkuknya lembut dan mengambil air mineral disisi mejanya. Ia merasa sangat lelah. Dan saat itulah, ia menatap amplop coklat cukup tebal itu. Pandangannya terpancing untuk mengambil dan mencari tahu apa isinya. Jung min mengambil pisau kertasnya dan mulai membuka amplop coklat itu pelan. Hingga akhirnya amplop itu terbuka, Jung min segera mengeluarkan semua isinya di tangannya. Kertas foto, ia menaydarinya saat ia menyentuhnya sebelum ia mengeluarkannya.

Jung min diam, kertas foto itu cukup tebal dan dalam jumlah yang banyak, namun Jung min belum mengetahui foto apa yang dikirimkan untuknya. Jung min membalik tumpukan kertas itu, hingga akhirnya ia dapat melihat sebuah gambar. Pandangannya nanar, rasa terkejut menyerangnya, hingga membuat kepalanya pening dan tulang-tulang di tubuhnya seakan menghilang, membuat tubuhnya lemas dan tidak berdaya.

Jung min kembali menatap foto yang lain dari tumpukan foto-foto itu, dan hal itu cukup meyakinkannya. Ia marah, matanya terlihat memerah, giginya bergemelutuk kencang berusaha menahan amarah yang hampir keluar. Hatinya terasa sakit, luka lamanya kembali terbuka, menganga semakin lebar.

“appa…kau mencariku…”ujar En kyu sambil melangkah masuk keruangan Jung min,“ahhh… aku sempat bertemu dengan Ji hoon hyung dan Yuu ri noona saat aku melihat bangunan itu… En kyu sempat bilang pada mereka tentang kedatangan omma besok… dan mereka akan membantu menyiapkan acaranya…” ujar En kyu lagi belum menyadari perubahan yang terjadi pada diri sang ayah, namun tak lama ia menyadarinya ketika pandangannya menatap sang ayah. En kyu diam, ia khawatir juga takut dengan gurat-gurat kemarahan yang terlihat diwajah sang ayah, namun ia berusaha memberanikannya “…appa…”panggil En kyu yang mendapat jawaban dari Jung min dengan pukulan keras dimeja kerja nya kemudian ia mengayunkan tangannya untuk menjatuhkan hingga semua benda dan dokumen yang ada dimejanya termasuk foto-foto yang membuat En kyu tercengang ditempatnya.

En kyu menatap foto-foto itu, kemudian mengalihkan pandangannya pada sang ayah sebelum kemudian ia mengambil salah satu foto itu.

Di foto itu ia dapat melihat 2 orang, laki-laki dan perempuan, terlihat tengah berciuman mesra di depan sebuah pintu di lorong yang dapat En kyu tahu lorong itu adalah lorong sebuah hotel. En kyu diam. Sesaat, ia mengenali sang wanita di foto itu. Kulit putih, rambut yang bergelombang cantik dan terlihat agak pendek, serta gaun yang ia kenali sebagai gaun milik… “omma…”bisiknya lirih, masih menatap foto itu tidak percaya. En kyu diam, menatap foto itu semakin lekat. Ia sama sekali tidak mengenal pria itu atau lebih tepatnya postur tubuh orang itu. En kyu tidak dapat melihat wajahnya, tapi En kyu yakin ommanya tidak pernah mengenal pria lain kecuali, suaminya, Seung gi, Jung moon, dan Hyun woo juga orang-orang dirumah sakitnya, itupun hanya sedikit tidak semua pekerja dirumah sakit dekat padanya dan En kyu mengenal semua orang itu, sangat mengenalinya, tapi kali ini, En kyu tidak pernah melihat orang dengan postur tubuh seperti ini, siapa dia…?

En kyu mengambil foto-foto yang lain, yang tampak lebih intim dan parah dari sebelumnya. Ia menatap
sebuah foto dengan laki-laki itu, disisi seorang wanita yang terlihat tidur terlelap diranjang dengan posisi menelungkup dan telanjang. Hanya sebuah selimut yang menutupi wajahnya. Di foto ini juga tidak ditampakkan wajah pria itu. En kyu masih belum dapat menerka siapa laki-laki ini. Bahkan wajah sang wanitapun tidak terlihat jelas. En kyu semakin menyadari ada sesuatu yang salah, dan ketika En kyu mengambil foto yang lain dimana saat sang laki-laki mengecup pundak sang wanita, keyakinan semakin merasukinya. En kyu mengambil foto-foto yang lain dan mengamatinya satu persatu, semuanya, ciuman, kecupan dan tetap sama, wajah sang wanita selalu tidak tampak jelas dan wajah sang pria terpotong, atau hanya memperlihatkan tubuhnya. Kalaupun terlihat mukanya hanya sebagats hidungnya. En kyu tidak dapat melihat seluruh wajahnya. En kyu benar-benar tidak mengenalinya.

Pikiran jernih mulai merayap di benak En kyu, ia kembali memikirkan segalanya, menghilangkan amarah yang sebelumnya hadir dan menggantikannya dengan sebuah ketenangan. Ketenangan untuk memikirkan apa yang tengah di tatapnya, dan sebuah kesimpulan hadir.

En kyu kembali menatap foto pertama yang dilihatnya sebelumnya. Foto ciuman mesra antara si wanita dan si pria, ia memandangi foto itu lekat, dan ketika pandangannya jatuh di bagian bawah foto yang memperlihat seluruh badan 2 orang itu, dan dengan wajah yang hampir 70 % tertutupi oleh lengan, tangan atau rambut keduanya . En kyu menyadari sesuatu “…ini bukan omma… omma tidak setinggi ini dan omma tidak suka menggunakan sepatu lebih tinggi dari 5 cm” En kyu terlihat menatap foto itu lebih dalam lagi, dan ia menemukan sesuatu yang ganjil “stoking…!!! omma juga tidak pernah menggunakan stoking apapun dibalik gaunnya… omma selalu berdandan sederhana dan apa adanya… ini bukan omma…” ujar En kyu dalam hati

En kyu segera mengalihkan pandangannya menatap sang ayah yang kemarahannya sudah memuncak, “appa… omma tidak akan melakukan ini… ini bukan omma… apa kau tidak menyadarinya… kau harus mempercayainya dan menyelidikinya terlebih dahulu…”

Jung min mengalihkan pandangannya cepat, dan menatap En kyu tajam, masih terlihat kemarahan di sorot matanya “…mwo?!?!? Bukan dia… ini jelas-jelas dia!! DIA!!! ISTRIKU!!! IBU DARI ANAK-ANAKKU!!!”seru Jung min keras, membuat mata En kyu terasa panas dan kemudian ia dapat merasakan bulir air hangat jatuh membasahi pipinya. Ayah nya tidak pernah semarah ini…

“tapi appa…”

“aku sangat mengenalnya!!! Aku sangat mengenal dia!! Aku sudah hidup bersamanya selama 14 tahun!! Dan aku sangat yakin itu adalah dirinya!!! Hal apa yang membuatmu berpikir itu bukan dia!!!” seru Jung min, semakin membuat En kyu pasrah ditempatnya, tidak tahu harus melakukan apapun lagi. Semuanya sudah tertutupi oleh kemarahan. Pikiran jernih, rasa kasih, rasa sayang, rasa percaya dan…cinta, telah tertutupi oleh kemarahan. Bahkan mungkin semua itu sudah hilang dari dalam diri Jung min.

En kyu diam, tubuhnya terasa lemah, kakinya tidak mampu berpijak lagi, ia jatuh terduduk ditempatnya, menatap nanar foto-foto yang bertebaran di lantai ruangan sang ayah dihadapannya. Ia bingung, ia tidak mampu melakukan apapun. En kyu sangat yakin itu bukan ibunya, namun laki-laki yang berdiri dihadapannya, yang telah hidup bersama ibunya selama 14 tahun, ternyata meragukannya, bahkan kepercayaan yang seharusnya ada hilang entah kemana tanpa jejak.

“kita pulang!!! SEKRETARIS SEO!!!”panggil Jung min yang tak lama kemudian ia dapat menatap seorang wanita yang terlihat terkejut dengan apa yang terjadi didalam ruangan itu, dokumen-dokument yang berserakan, beberapa foto yang bertebaran, gelas air, telepon dan sebuah bingkai foto yang rusak dan kacanya terlihat retak. Sekretaris Seo dapat menyadari foto apa didalam bingkai itu. ia sudah sering melihatnya saat ia membersihkan ruangan bosnya itu. ia mengenali foto itu. Foto dalam bingkai itu memperlihatkan pemandangan yang tidak kalah indah dan menyenangkan. Foto itu memperlihatkan banyak senyum bahagia dan pancaran mata dan aura penuh cinta dari setiap orang yang ada didalam foto itu, tetapi  kini foto itu hampir tidak dapat dikenali lagi, karena kacanya yang retak dan memburamkan orang-orang dalam foto itu. Foto keluarga yang sangat bahagia 14 tahun ini, terlihat teronggok dilantai dengan bingkai dan kacanya yang rusak.

Ia merasakan sesuatu yang salah dengan apa yang terjadi di ruangan bosnya itu, dan semakin yakin ketika ia mendapati En kyu sang anak, tengah terisak ditempatnya, berlutut menatap nanar semua dokumen, dan foto yang bertebaran dihadapannya.

“KAU MENDENGARKU TIDAK!!!”seru Jung min yang membawa pikiran sang sekretaris kembali ke alam nyata, semakin menyadari bahwa telah terjadi sesuatu yang besar di keluarga harmonis itu. “n..n-ne tuan…”

“CEPAT!! DALAM WAKTU 5 MENIT AKU INGIN SEGALANYA SUDAH SIAP!!! AKU HARUS PULANG SEGERA!!!”seru Jung min keras, membuat sang sekretaris segera berlari cepat ke mejanya, mengambil ganggang telepon dan menghubungi seseorang.

En kyu masih diam ditempatnya. ia tidak tahu harus melakukan apa. Jung min terlihat menatapnya nanar, dan semakin marah ketika ia menatap foto-foto itu. Foto-foto yang menggambarkan pengkhianatan. Foto-foto yang melunturkan rasa kepercayaannya. Foto-foto yang membuatnya kehilangan rasa kasih, sayang dan cinta yang dalam. Foto-foto yang membuat luka lamanya kembali hadir, namun kini lebih besar, lebih sakit dan lebih banyak mengeluarkan darah dari sebelumnya. Ketika itu Jung min dapat merasakan bulir-bulir hangat mulai berjatuhan dan mengalir ke pipinya.


Sementara itu ditempat berbeda…

“apa sudah sampai…?”tanya seseorang menatap laki-laki yang kebih tua dihadapannya, dengan pandangan datar. “ne tuan… saya baru saja sudah mendapatkan pesan dia sudah mendapatkannya, bahkan keadaan sangat kacau disana… dia langsung meminta pesawat pribadinya untuk mengantarkannya pulang kembali ke Seoul, malam ini tuan…”

Cha in soo tersenyum senang, ia berhasil. Ia berhasil, ia sudah berhasil melakukannya, “bagus…”ujar Cha In soo tersenyum senang. “terima kasih banyak tuan Yang…”ujar Cha In soo lagi.

Cha In soo bangkit dari tempatnya, menatap pemandangan malam dengan lampu dan bintang yang berkerlip melalui jendela kaca ruangannya “…setelah ini… segalanya akan berjalan dengan sendiri… seperti air yang mengalir…”ujarnya lagi “…ahhhh… ahni… air terlalu tenang… bagaimana jika bola salju yang bergulir dan semakin menebal dan membesar seiring berjalannya waktu, hingga akhirnya bola salju yang sudah membesar itu akan pecah saat terjatuh di jurang yang terdalam dan mengubur apapun yang ada disana…”ujar Cha In soo, yang membuat senyumnya semakin lebar, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“kita lihat Lee Jung min-ssi… apa yang akan kau dapat… dan apa yang kan kau lakukan...”tambahnya lagi disusul tawa nyaring yang menyesakkan bagi siapa saja yang mendengarnya.

**********

EnD of ChAPter
« Last Edit: February 27, 2013, 05:41:43 pm by ai_yuki »