Author Topic: Angel By My Side~Chapter 22 Updated 9 January 2011~  (Read 52143 times)

Offline Shanty_minsun

  • Hero
  • *****
  • Posts: 2262
    • View Profile
Re: Angel By My Side
« Reply #270 on: April 09, 2010, 01:34:19 am »
CAST:
GOO HYE SUN


LEE MIN HO


JANG GEUN SEUK


ADDITIONAL CAST:
LEE HYE YOUNG-GOO HYE SUN'S MOTHER


KIM TAE HEE as GOO HYE JUNG-GOO HYE SUN'S BIG SISTER


ANGEL BY MY SIDE
[/b]

Chapter 1
   
Wajah Goo Hye Sun hari ini sama sekali tidak ceria, wajahnya pucat dan tak bertenaga.

“Katakan padaku kalau ini semua mimpi.”ucap Hye Sun lemas. Lee Min Ho, sahabatnya yang baru kembali dari London segera membekap Hye Sun dalam pelukannya. “Dan ketika aku bangun, dia akan di sini.”

Hye Sun menangis sekeras-kerasnya dalam pelukan Min Ho.

“Dia sudah pergi, Hye Sun-a.”bisik Min Ho, tapi Hye Sun malah memukul-mukul tubuh Min Ho, ia menolak untuk mencerna perkataan Min Ho. “Dia tak akan kembali—“

Hye Sun tambah menangis sejadi-jadinya. Semua orang di ruangan itu menoleh ke arah Hye Sun dengan tatapan prihatin, namun, Hye Sun tak benar-benar peduli.

“KAU BOHONG!”seru Hye Sun dalam suara yang amat kedengaran frustasi. “Dia tak akan pergi meninggalkanku sedetik pun juga. Dia mencintaiku!”

Hye Sun lalu mendorong dan melepaskan diri dari pelukan Min Ho. Ia berjalan sempoyongan ke arah peti jenazah tunangannya—atau sekarang lebih cocok dipanggil mantan tunangannya, yang masih terbuka. Hye Sun memperhatikan tubuh Geun Seuk yang pucat pasi dengan jas hitam yang terbalut di tubuhnya. Namun, Hye Sun masih saja ingin mempercayai kalau Geun Seuk hanya tertidur pulas, bukan meninggal.

   “Jang Geun Seuk?”panggil Hye Sun dengan sangat halus, ia menyentuh permukaan kulit Geun Seuk yang pucat dan dingin. “Aku mencintaimu. Aku tak akan membiarkanmu pergi. Araso?”

   Min Ho berjalan ke arah Hye Sun dengan tatapan yang amat sangat kasihan. Tiba-tiba, sepasang tangan hangat mendarat di pinggang Hye Sun, tapi Hye Sun tak peduli.

   “Kau bilang kau mencintaiku, kan?”tanya Hye Sun sambil menggenggam tangan dingin Geun Seuk. “Kalau begitu, jangan pergi! Aku bilang JANGAN PERGI!”teriak Hye Sun dengan isakan keras. Seluruh ruangan itu bergetar mendengar suara Hye Sun yang sangat histeris dan membuat siapa saja dapat merasakan rasa pilu.

   “Hye Sun-a, jangan begitu. Ia sudah pergi sekarang.”bisik Min Ho sambil berusaha menenangkan Hye Sun.

   “Bangun, Geun Seuk-a!”teriak Hye Sun, Min Ho berusaha menghentikan Hye Sun yang sekarang mengguncang-gucangkan tubuh Geun Seuk. Diraihnya kedua bahu Hye Sun dan ditatapnya mata coklat Hye Sun yang berlinang air mata, namun, tak ada kata-kata yang bisa dikeluarkan Min Ho ketika ia melihat wajah sahabatnya ini. Sejak Hye Sun dan Geun Seuk bertunangan, rasanya hampir tak pernah mereka dapat menghabiskan waktu bertiga, tapi, ketika kesempatan itu datang sekarang, Geun Seuk sudah tiada.

   “Kau tak mengerti karena kau bukan tunangannya!”teriak Hye Sun di depan wajah Min Ho. “Kau tak akan pernah mengerti bagaimana hancurnya harapanku sekarang! Aku ingin menjadi satu-satunya perempuan yang ia cintai! Aku ingin menjadi ibu dari anak-anaknya! Aku ingin dia juga menjadi satu-satunya laki-laki yang aku cintai seumur hidupku!”

   Hye Sun menumpahkan rasa amarahnya di hadapan Min Ho, ruangan itu akhirnya sepi sama sekali. Orang-orang yang tadi mengobrol dengan balutan pakaian hitam sekarang terdiam. Seluruh ruangan hening. Tapi, sepertinya, inilah batas kemampuan akhir Goo Hye Sun, sambil meremas lengan Lee Min Ho dengan sangat erat, ia terjatuh ke lantai.

***

   “I Love You, Geun Seuk-a.”

Dalam bahasa inggris, Hye Sun membisikkannya ke batu nisan yang bertuliskan nama tunangannya sendiri.

Min Ho ada di belakangnya, berdiri dan memandang Hye Sun beserta makam sahabatnya itu lekat-lekat. Min Ho sulit sekali percaya bahwa Geun Seuk telah meninggal tepat ketika Min Ho baru kembali dari London.

“Bogoshipeo, Geun Seuk-a. Jawab aku, apakah kau merindukanku juga?”tanya Hye Sun dalam bisikan sehingga tak mungkin ada yang bisa mendengar itu, termasuk juga Min Ho.

Hye Sun mengecup batu nisan itu, layaknya batu nisan itu adalah Geun Seuk sendiri.

“Kau tak perlu menggerakkan mulut untuk menjawabnya. Aku tahu itu. Saranghae, Geun Seuk-a.”bisik Hye Sun pada batu nisan itu. “Angel always by my side.”

Setelah itu, Hye Sun bangkit berdiri, ia layaknya seseorang yang baru mendapat jalan pencerahan. Dengan pakaian serba hitam dan wayfarer-nya, ia berbicara pada Lee Min Ho.

“Ayo kita pulang.”ajak Hye Sun pada Min Ho, yang juga memakai pakaian serba hitam.

“Kau sudah mau pulang?”tanya Min Ho, melihat jam tangannya. Pukul 3 siang sekarang. Berarti, setidaknya, semakin lama Hye Sun semakin dapat mengurangi waktunya untuk menangisi makam Geun Seuk. Pertama kali mengunjungi pemakamannya, ia menghabiskan 5 jam lebih di sini dengan menangis ditemani Lee Min Ho. Tapi, hari ini hanya 15 menit saja. Kemajuan yang pesat.

“Mana tega aku membiarkanmu menemaniku selama 5 jam lagi. Aku tak mau memberatkanmu. Ayo pulang.”ajak Hye Sun sambil menyeret lengan Min Ho dengan paksa.

Sebelum benar-benar meninggalkan pemakaman itu, Hye Sun menoleh lagi sebentar ke makam Geun Seuk, Geun Seuk-a, apakah aku dapat melupakanmu?

Jika memikirkan jawabannya, Hye Sun tahu, jawabannya adalah tak akan pernah bisa.

***
   Hari-hari telah berlalu setelah sepeninggal Geun Seuk. Hye Sun lebih baik akhir-akhir ini, ia menunjukkan sikap bahwa ia  sudah melupakan Geun Seuk, walaupun sebenarnya tidak.

Sebenarnya, ini karena kesibukannya di Seoul Sun,perusahaan milik keluarganya. Saham Seoul’s Sun di pasaran terus menurun. Hye Sun mau tak mau harus turun tangan dalam menangani perusahaan yang telah ayahnya wariskan padanya ini.

Suatu hari, pada pagi hari yang muram di kota Seoul, ibu Hye Sun tiba-tiba membuka pintu ruangan kerja Hye Sun.
 

“Omma mau bicara denganmu.”kata ibunya. Hye Sun mendongak dan berhenti sejenak dari pekerjaannya, ia memperhatikan ibunya yang berwajah congkak itu, ia presiden direktur  perusahaan ini, tapi, akhir-akhir ini, ia memilih cuti.

“Omma,”kata Hye Sun. “Masalah apa lagi?”

 Hye Young menatap Hye Sun lekat-lekat. Dengan ekspresi tak dapat ditebak, ia melemparkan beberapa file di atas meja kerja Hye Sun dengan wajah penuh amarah.

“Sejak Geun Seuk-ssi meninggal, kerja sama kita dengan perusahaan keluarganya tak berlaku lagi. Dan lihat apa yang terjadi pada perusahaan kita?”kata Hye Young dengan murka. “Pemasukan kita sekarang tak lebih besar dari pengeluaran kita. Bagian accounting kacau. Dan setiap menit di Seoul Sun, bisa saja terjadi kebangkrutan.”
 
“Lalu itu salahku?”tanya Hye Sun sambil menatap ibunya dengan wajah lelah. Sudah beberapa hari ini Hye Sun lembur dan matanya sangat kuyu. “Sudahlah, Omma. Lagipula perusahaan suami Unnie Hye Jung juga akan membantu kita.”

“Perusahaan suami kakakmu itu tak bisa membantu sama sekali!”bentak Hye Young.

“Perusahaan kita sedang diambang krisis, jadi satu perusahaan kuat saja tak bisa membantu kita.”kata ibu Hye Sun dengan nada terus meninggi.

“Lalu ibu mau apa? Kita akan mengadakan kerja sama lagi dengan perusahaan lain? Itu malah akan menjadi bahaya besar bagi perusahaan kita yang sekarang sedang krisis.”kata Hye Sun sambil berusaha tetap tenang, walaupun dalam hatinya ia tak kalah panas dari ibunya.

“Kerja sama dengan perusahaan lain di atas surat kontrak memang akan membuat perusahaan ini dalam bahaya.”kata Hye Young, kali ini ia sudah bisa mengendalikan emosinya. “Tapi, Hye Sun-a, jika kita mempunyai satu ikatan keluarga lagi, bukan hanya di atas surat kontrak, dengan perusahaan raksasa akhir-akhir ini, perusahaan kita akan selamat. Percaya pada Omma.”

Hye Sun mengerutkan keningnya. Ingin mencerna perkataan Omma-nya ini. Ketika krisis melanda Seoul Sun untuk pertama kalinya waktu itu, Unnie Hye Jung telah berkorban untuk menikah dengan pewaris perusahaan raksasa di Seoul, dengan begitu, Seoul Sun selamat dari krisisnya. Apa ini yang dimaksudkan Omma-nya sekarang?

“Maksud Omma, ikatan keluarga itu apa?”tanya Hye Sun sambil mengernyitkan alis.

“Kau harus menikah dengan pewaris perusahaan raksasa di Seoul untuk menyelamatkan perusahaan kita lagi. Seperti yang dilakukan Unnie-mu. Kau mau, kan, menikah untuk menyelamatkan Seoul Sun?”

“Apa?!”Hye Sun berkata keras pada ibunya.

“Kau harus ingat janjimu pada Appa-mu. Kau berjanji akan melindungi Seoul Sun apa pun caranya.”lanjut ibunya. Hye Sun memijat-mijat kepalanya. Ia tak tahu harus berbicara apa sekarang, bisa saja ia membentak Omma-nya sekarang, tapi, ia tak bisa melakukan itu pada Omma-nya.

“Dan tahukah kau, lelaki yang akan menjadi calon suamimu adalah sahabatmu sendiri.”kata Hye Young pada Hye Sun, ia meraih tangan Hye Sun yang ada di atas mejanya dengan tatapan keibuan sekaligus tatapan tamaknya. “Lee Min Ho-ssi. Dialah orangnya.”
***
    Selama beberapa saat, Hye Sun terdiam sambil memijat kepalanya sendiri.

Percakapannya tadi pagi dengan ibunya nyata. Itu bukan mimpi. Dan itulah yang disesalkan Hye Sun.

“Arghh..”desah Hye Sun sambil menyingkirkan setumpuk file kerja dari atas mejanya. Ia baru menyelesaikan pekerjaannya, namun, ia juga baru saja membuatnya berantakan.

Tapi, ia tak peduli. Ia memutar kursinya dan dapat melihat langit malam Seoul yang masih sangat muram melalui jendela. Kepalanya sangat berat dan terasa pening. Sekali lagi ia memijat-mijat kepalanya.

Kenapa setelah kau meninggal pasti ada saja hal yang tidak beres?, batin Hye Sun dalam hati.

Handphone-nya di atas meja tiba-tiba berdering nyaring. Sekilas ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 23.30, lalu diputarnya lagi kursi kerjanya untuk melihat siapa yang menelponnya tengah malam begini.

Ketika ia meraih handphone keluaran terbarunya, nama ‘Lee Min Ho’ tertera di handphone-nya. Hye Sun menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan, menutup telponnya, membiarkan telponnya berdering, atau menerima telponnya. Hye Sun memilih yang pertama, ia menekan tombol ‘reject’ dan sambungannya langsung terputus.

 Handphone itu berdering lagi sehingga muncul keinginan Hye Sun untuk menyingkirkan handphone-nya juga. Namun, ia hanya membiarkan ponselnya berbunyi begitu saja hingga akhirnya deringnya berakhir.

Hye Sun memijat lagi kepalanya, mungkin aku butuh hiburan dan liburan.

Sekali lagi, ponselnya berbunyi, akhirnya, dengan perasaan kesal Hye Sun mengangkatnya.

“Hye Sun-a,”panggil suara yang Hye Sun ketahui pasti Lee Min Ho.

“Iya, Min Ho-a? Aku sedang sibuk sekali. Nanti saja, ya, telponnya.”dusta Hye Sun pada Min Ho. Hye Sun merasakan kepalanya masih terasa berat sekali, sepertinya ia sedang melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya.

“Kau lembur, ya, Hye Sun?”tanya Min Ho dengan suara lembutnya. “Sudah makan belum?”
“Sudah.”jawab Hye Sun singkat, di bagian sini, Hye Sun juga berbohong, terakhir kali ia makan adalah tadi pagi. Setelah percakapan dengan ibunya, Hye Sun sudah tak bernafsu makan lagi.

“Hye Sun-a, maaf kalau aku tidak memberitahu sebelumnya, tapi, sebentar lagi aku sampai ke kantormu.”kata Min Ho. Hye Sun yang sedari tadi memijat-mijat kepalanya tanpa memperhatikan pembicaraan Min Ho segera menegakkan kepalanya.

“Mwo?”tanya Hye Sun dalam keterkejutannya.

“ Min Ho-a, tak perlu. Aku sudah makan, sungguh. Pekerjaanku juga sudah akan selesai sebentar lagi. Kalau soal pulang, aku akan memanggil supirku, aku tak akan menyetir sendiri.”jelas Hye Sun panjang lebar untuk menghalangi Min Ho datang ke kantornya.

“Tapi aku sudah sampai di depan ruang kerjamu.”kata Min Ho, membuat Hye Sun tambah terkejut lagi. Ketika pintu ruang kerjanya terbuka, sosok jangkung Min Ho masuk ke dalam ruangan itu dan menutup ponselnya.

“Aku tahu sekali kau belum makan, Hye Sun-a. Ini aku bawakan.”kata Min Ho dengan lembut.

“Lee Min Ho-ssi—“desah Hye Sun dengan penuh rasa lelah. “Aku bilang, kan, jangan ke sini. Sungguh, aku ingin sendiri.”

“Kau kenapa lagi?”tanya Min Ho, ia tak bisa menyembunyikan rasa prihatin dalam suaranya.

“Gwenchana. Gwenchana.”ucap Hye Sun berulang kali. “Ini sudah larut. Lebih baik kau pulang saja. Aku masih akan di sini dalam waktu yang cukup lama.”

Hye Sun memijat lagi kepalanya dengan ekspresi lelah.

“Pintu keluarnya ada di situ. Tak perlu kuantar, kan?”

Sebelum Hye Sun meledak, Min Ho melangkah keluar ruang kerjanya.

“Min Ho!”panggil Hye Sun dari dalam kantornya. Min Ho berbalik lagi dan membuka pintu ruang kerja itu, berharap Hye Sun akan berlari padanya dan menceritakan segalanya yang terjadi. Tapi, ketika ia membuka pintu itu, Hye Sun masih duduk di kursi kerjanya.

“Mianhae.”kata Hye Sun dengan ekspresi lelah. Min Ho mengangguk pasrah dan keluar dari gedung Seoul Sun dengan ekpresi muram.

***
   Ruangan itu serba putih, muram, tapi dalam saat yang bersamaan sangat indah.

Hye Sun membuka matanya perlahan di tempat asing itu.

Seseorang mengelus pipinya berkali-kali, seperti meminta Hye Sun untuk lebih cepat lagi bangun dari tidur nyenyaknya.

Ketika Hye Sun bangun, ia terasa lahir kembali. Dan, dari sudut matanya yang mulai membuka, terlihat sosok Geun Seuk. Ini pasti mimpi

“Seuk-a!”teriak Hye Sun sambil memeluk Geun Seuk dengan erat, sudah hampir sebulan ia tak melihat Geun Seuk. Tapi, ia masih tetap tampan.

“Sun-a, my sun.”bisik Geun Seuk pelan sambil membalas pelukan tunangannya ini.

“Masih ingat janjimu padaku tidak?”tanya Geun Seuk tiba-tiba. Hye Sun melepaskan pelukannya. “Mwo? Janji yang mana?”

“Aku mau kau yang mengucapkannya, Hye Sun-a.”kata Geun Seuk lembut. Hye Sun mencoba mengingat-ngingat, tapi, pikirannya serasa tak bisa dikendalikan, ia layaknya individu baru dalam tubuhnya yang sama ini.

“Aku—“kata Hye Sun. “Aku berjanji akan mengejar kebahagiaanku sendiri dan tak akan peduli pada apa yang dipikirkan orang.”

“Merasa ada yang kurang?”tanya Geun Seuk dengan suara malaikatnya.

“Suatu hari nanti, jika kau pergi, aku tetap harus melindungi persahabatanku dengan Min Ho”jawab Hye Sun ragu.

“Angel by your side, Hye Sun-a.”ucap Geun Seuk lagi, kali ini ia tak menatap Hye Sun tapi menatap ke arah lain . Dan segalanya menjadi gelap.


***
END OF CHAPTER

hai sista, karin ....
pantes aja aq tunggu2 kelanjutan cerita " angel by my side" di BBF, rupanya di post disini,
ceritanya makin bagus sist, bikin aq takut kalo min ho dah ga mau nunggu hye sun lagi, hikshiks.....
bt sista Prisilia, thn dah dkash info bout site ini....


    #Goo Hye Sun,U were meant to be #Lee Min Ho